Can’t Stop

Author            : Vikos Park
Judul               : Can’t Stop
Kategori         : NC21, Yadong, Oneshoot
Cast                 : Park Jung Soo
                            Park Eun Kyo

Jung Soo’s Side

Something happens when I see you don’t
know what I should do
I can’t explain it don’t know why I’m so caught up on you

Masih terngiang jelas saat bibir manisnya mengucap kata ‘Saya Bersedia’ di depan
semua orang yang hadir. Tidak tau pasti bagaimana semua ini terjadi, aku hanya
mengikuti alur skenario hidup yang membuatku sampai pada titik ini. Menikahi
seorang gadis yang membuat aku gila, aku katakan gila karena aku melakukan hal
yang tidak pernah terpikir sebelumnya, mengikatnya dengan berbagai cara. Dia
mungkin tidak mengetahuinya, semua perjodohan yang terjadi hanya bagian dari
rencana untuk membuatnya jadi milikku. Gadis manis berperawakan sedang langsing
yang berdiri dihadapanku ini mungkin tidak tau apa-apa, tapi bohong besar jika
dia tidak mengetahui tentang perasaanku. Gaun pengantin putih itu masih melekat
di tubuhnya, membuat lekukan tubuhnya tergambar jelas dimataku. Saat aku
bertemu dengannya di sebuah bangku tempat orang menunggu di sebuah stasiun itu,
mengubah hidupku dan semua perasaanku. Tidak bisa menjelaskan bagaimana semua
perasaanku berawal, yang pasti aku benar-benar terperangkap dalam pesonanya
yang entahlah, bagai medan magnet yang menarikku dengan kuat kearahnya.
“Kau atau aku yang mandi lebih dulu?” tawarnya, dia berpaling dan menoleh padaku.
Aku duduk dipinggir ranjang sambil mengamatinya dengan intens. Wajahnya
terlihat bingung saat menunggu jawabanku.
“Oppa..” panggilnya pelan, aku tersentak dari lamunanku, membenarkan tuxedo putih yang
juga masih melekat ditubuhku. Dia mulai mendekatiku, terus berjalan dan
mendekat, semakin dekat hingga membuat jantungku semakin cepat berpacu. Dia
terus mendekat dan berdiri di hadapanku, mencondongkan tubuhnya dan membuatku
refleks untuk memundurkan tubuhku.
“Permisi, bisa kau bergeser sedikit Oppa?” matanya mengerjap indah seiring dengan kata
yang keluar dari mulutnya. Aku masih terdiam. “Kau.. duduk diatas handukku
Oppa..” ujarnya kembali lirih. Aku langsung berdiri, membuat tubuhku sedikit
membentur tubuhhnya yang tepat berdiri dihadapanku. Aku meraih pinggangnya yang
sedikit terhunyung karena aku tiba-tiba berdiri. Kami terdiam sebentar dengan
posisi saling memegang, tanganku melingkar dipinggangnya, sedang tangannya
meraih lenganku, ada kecanggungan yang tercipta meliputi atmosfir ruangan ini,
sangat kental terasa. Sejenak aku terpaku, memandangi wajahnya dengan jarak
sedekat ini. Dia mungkin bukan tipe gadis yang sulit di dekati, keramahan yang
terpancar dari wajahnya mungkin bisa diartikan sebagai lampu hijau bagi semua
lelaki yang mendekatinya, tapi menyentuh hatinyalah  yang mungkin sedikit sulit. Saat orang mulai
mendekati dan memberikan sinyal ‘menyukainya’ dia mulai menjauh, dan itu yang
terjadi padaku dulu.
“Handukku..” ujarnya pelan, lagi-lagi menarikku dari alam bawah sadarku saat memandangi
wajahnya.
“Ah, mian.” Aku meraih handuk putih yang tadi aku duduki tanpa mengalihkan wajahku
darinya. Mataku masih menatap matanya dengan lekat.
“Aku, aku mandi dulu.” Jawabnya sambil menunduk, aku segera melepaskan satu tanganku
yang masih memegang pinggangnya. Dia berjalan menuju kamar mandi tak jauh dari
tempat kami berdiri. Saat dia menghilang di pintu kamar mandi, aku bisa
bernafas lega. Aku benar-benar tidak bisa bernafas saat dia berada di dekatku,
bagi orang yang tidak mengalaminya, mungkin itu adalah sesuatu yang mustahil.
Tapi bagiku, tidak ada yang tidak mungkin, berada didekatnya mengambil lebih
dari separuh oksigen yang harusnya aku suplai hingga ke paru-paru.
Aku kembali duduk diatas tempat tidur. Kupandangi tempat ukuran besar yang menopang
tubuhku. Bau harum bunga mawar menyengat indra penciuman. Kelopak bunga berduri
itu berserakan dimana-mana. Entah siapa yang menaburkannya, Sungie dan Rae Na
tidak mungkin melakukannya, ulah usil dari Hyunie? Atau memang ini adalah
layanan Hotel? Layanan spesial untuk orang yang berbulan madu?
CEKLEK!
Pintu kamar mandi terbuka, sosok yang tadi membuatku hampir kehilangan nafas keluar
dari ruangan kecil dengan dekorasi mewah. Mataku tidak bisa menghindar untuk
tidak menatapnya. Bau harum buah menyengat masuk kedalam hidungku menggantikan
aroma wangi mawar yang tadinya melesak dihidungku, kembali otakku berpikir diluar
kendali. Baju mandi yang dia kenakan memang tebal, tapi tak mampu mengalihkan
pikiran kotorku tentangnya. Pikiran kotor? Aku rasa setiap lelaki akan
berpikiran yang sama melihat istri yang paling dia inginkan berdiri
dihadapannya mengenakan seperti apa yang dikenakan Eun Kyo, Park Eun Kyo, gadis
yang membuatku kehilangan akal. Dia menunduk dalam, memandangi lantai dan
memainkan jemari lentiknya, entah apa yang dia pikirkan, aku tidak bisa
merabanya. Kecanggungan semakin berkuasa dibatas pikiran kami berdua. Kami
memang bukan pencinta yang menuai indahnya pernikahan setelah merajut hari
indah bersama. Kami berdua adalah pemula cinta yang baru saja melangkah dan
mulai mengenal, dia yang belum mengenalku. Tapi dia tidak menolak perjodohan
itu,  bagiku itu adalah sebuah lampu hijau.

I just want you to know
My feeling’s outta control
When you’re around me
I just lose it all

Aku meraih handuk dari dalam koperku, lalu berjalan cepat ke kamar mandi. Kututup
pintu kamar mandi dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara dentuman kecil.
Aku bersandar di pintu kamar mandi. Seperti tidak pernah merasakan jatuh cinta
sebelumnya, perasaanku benar-benar tidak bisa terkendali. Semua kerja jantung
dan seluruh organ tubuhku memang diluar kuasaku, bahkan perasaanku ini juga
mutlak adalah urusan Tuhan, tapi ini benar-benar membuatku gila, seperti baru
tersentuh cinta, aku tak bisa menghindar. Aku melepas semua pakaian yang melekat ditubuhku dan mulai mengguyur tubuhku dengan butiran air hangat, melepaskan
lelah setelah seharian menghadapi tamu yang terus berdatangan.

***
Aku masih mengekori semua gerak-gerik yang dia lakukan sejak tadi melalui sudut
mataku, dia masih mengenakan baju mandi yang sama saat dia keluar dari kamar
mandi tadi. Dia mengacak seluruh kopernya dan terkadang memperhatikan barang
yang dikeluarkannya.
“Oppa, apa-apaan ini?” dia mengarahkan sebuah kain padaku. Lingerie tipis berwarna
putih yang terlihat transparan membuatku sedikit tersenyum. “Hanya ini yang
ada? Aku tidak mungkin memakai ini…” ujarnya setengah frustasi sambil
menurunkan lingerie itu.
“Lalu mau memakai apa?” tanyaku, akhirnya aku bisa mengeluarkan kalimat pertamaku
yang sejak tadi tercekat di tenggorokanku. Wajahnya berubah cemberut, membuatku
semakin gila. Aku pasti sudah gila karena sejak tadi pikiran kotor berkeliaran
di otakku. Tubuh indahnya akan tergambar jelas jika dia memakai itu.
“Aku tidak mau memakai itu!” serunya sedikit ketus bercampur kesal. “Oppa, ayo kita
keluar dan membeli piyama untukku.” Ujarnya manja, dia meraih tanganku dan
sedikit menarikku.
“Eun Kyo, Eun Kyo. Sebentar.” Aku meraih tangannya yang sedikit mencengkram lenganku
dan bergelayut manja. “Ganti baju dulu, kau mau pergi seperti ini?” dia
berhenti menarikku dan memandangi tubuhnya lalu tersenyum padaku.
“Kalau begitu aku ganti baju dulu!” dia melepasku dan mulai mencari baju. Aku menarik
kopernya, dan membuatnya terdiam dan bingung.
“Apa masih ada toko yang buka di jam seperti?” aku menunjuk jam dinding dan dia
menoleh mengikuti arah tunjuk jariku. Wajahnya kembali cemberut.
“Pakai bajuku saja.” Aku mengambil kemeja putih berukuran besar untuknya, dia
meraihnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Lima menit berlalu, dia keluar
mengenakan kemeja besarku yang terlihat longgar ditubuh kecilnya. Aku terus
memandangi tubuhnya, warna putih kemeja membiaskan lekuk tubuhnya dalam
bayangan. Neuron yang bekerja pada sistem sarapku mulai bereaksi menyampaikan
sinyal-sinyal aneh yang membangkitkan gairahku yang berusaha aku tekan sejak
tadi. Bukan sejak tadi, tapi sejak aku mulai mengenalnya.
“Apa terlihat aneh?” dia tersipu sambil mengalihkan wajahnya menyembunyikan guratan
merah mewarnai kedua pipi putihnya. Mataku kini beralih ke lehernya yang terekspos
jelas dengan kancing terbuka hingga pangkal dadanya. Saat dia menyadari aku
memandanginya dengan intens, dia segera meraih lengan kemeja dan meremasnya
kuat.
“Aku, aku, aku merasa panas.” Ujarnya gugup sambil melangkah meraih remote AC. Park
Eun Kyo, ini musim dingin dan AC tidak aku matikan sama sekali sejak tadi. Kau
kepanasan? Hormonmu mulai bekerja Yeobo?
“Tapi AC-nya tidak mati.” Gumamnya pelan sambil kembali meletakkan remote itu diatas
meja. Dia mengibaskan tangannya ke leher, membuat anak rambutnya yang mulai
mengering berayun oleh angin yang dihasilkan oleh kibasan jari-jarinya. Lama
kami terdiam dalam sebuah kecanggungan. Aku juga tak ingin beranjak dan
mengalihkan mataku darinya, hingga bahkan mengganti bajupun aku rasanya enggan.
Tak ingin fokusku pecah oleh aktifitas lain. Aku begitu menikmati kecanggungan
yang di gambarkan semua organ tubuhnya. Pelipisnya mulai berkeringat, tangannya
bergerak menjelma menjadi sebuah kipas bagi wajahnya, kaki putihnya mengetuk
pelan dan matanya tak pernah fokus untuk melihat sesuatu.
“Jika
kau kepanasan, mungkin kita bisa jalan ke pantai sebentar.” Ujarku menawarinya,
sepertinya dia begitu tersiksa dengan situasi seperti ini, aku ingin memberinya
sedikit ruang untuk bergerak sekaligus memberiku ruang untuk mengambil nafas.
“Boleh Oppa.” Jawabnya sambil menunduk. “Tapi apa kau tidak lelah?” tanyanya sambil
memainkan kukunya yang rapi, sesekali dia menggaruk kepalanya, berdiri ditepi
meja tanpa beranjak sedikitpun. Butiran air mulai turun dari rambutnya dan
membuat kemeja yang dia kenakan menjadi basah.
“Kajja, ganti bajumu.” Aku bersumpah kau tidak akan selamat jika kita berada lebih lama
disini Park Eun Kyo. Aku membalik tubuhnya dan mendorongnya pelan, memaksnya
untuk mengganti bajunya.
“Tapi kau belum menjawab pertanyanku, tidak lelah?”  mana mungkin aku bisa lelah Eun Kyo~ya, kita
bahkan belum memulainya. Aku mengusap wajahnya dengan tanganku, seulas senyum
maha manis terukir diwajahnya. Aku menggerakkan kepala membentuk sebuah
gelengan, kembali senyumnya mengembang. “Aku suka pantai.” Lanjutnya, kecanggungan
yang tadi tercipta perlahan mencair tergantikan oleh percakapan hangat yang
manis. Aku menunggunya diluar kamar mandi, dan aku juga mengganti bajuku dengan
kaos dan melapisinya dengan jaket serta selembar syal tebal. Beberapa saat
kemudian dia kelar dari kamar mandi dan aku menarik tangannya keluar, menyusuri
lorong hotel dengan karpet mahal sepanjang lobi.
Tangannya bertengger manis dilipatan sikuku. Meski tak bersentuhan langsung, tapi gesekan
tangannya benar-benar membuat produksi hormonku meningkat.

***
Berjalan menyusuri pantai Nai Thon bersamanya, menapaki pasir putih yang lembut serta
buih ombak yang menyapa telapak kaki kami membuat suasana dingin tidak begitu
menusuk ditelan perasaan kagumku. Seperti mempunyai pantai sendiri berjalan berdua
di senyapnya malam. Mungkin bagi orang yang baru menikah ini adalah tindakan
bodoh, tapi bagiku, aku begitu menikmatinya. Menikmati waktu bersamanya.
“Kenapa
mau menikah denganku?” tanyaku tiba-tiba membuatnya menghentikan langkah. Dia
menoleh padaku, aku melempar senyumku padanya. Wajahnya diterpa sinar rembulan
membuat lekuk bayangan yang begitu indah. Lampu sorot mercusuar yang ada
ditengah laut kadang menghampiri kami membuat bayangannya yang memudar kembali
jelas menjadi nyata.
“Molla.”
Jawabnya sambil menendang pasir membuat kecipak air ketika pasir itu berserakan
ditelan ombak. Kini aku yang berhenti saat aku memaksanya kembali berjalan.
“Tapi
jika aku menikahimu karena cinta bukan karena perjodohan apa kau percaya?”
tanyaku memancing reaksinya. Dua langkah maju, dia kembali berhenti.
“Oppa,
jangan bercanda, kita baru mengenal beberapa hari.” Dia memukul pelan lenganku
dan tertawa ringan. Kami kembali melangkah, dalam diam.
“Oppa,
aku lelah, dingin.” Dia mengeratkan pelukannya di lenganku. Ini sudah yang
kesekian kalinya aku tersentak dengan perlakuannya yang diluar dugaan. Kadang
dia bertingkah canggung tapi dalam sekejap bisa berubah menjadi manja.
“Ingin
kembali ke kamar?” dia mengangguk, lalu menarikku kembali ke Hotel tempat kami
menginap dengan berjalan kaki.

Sesampainya
di kamar hotel, kekakuan kembali menyelinap memasuki ruang gerak kami, dia
bahkan lebih canggung dari tadi.
“Mau
tidur sekarang?” tanyaku, dia mengangguk, melepas sweater tebalnya dan
menggantungnya.
“Masih
panas?” dia menggeleng. Kini aku yang aktif bertanya padanya. Dia mulai
merangkak di tempat tidur dan mengambil tempat di sisi kanan, menyibak selimut
lalu membungkus tubuhnya dengan rapi.
“Tidak
ganti baju dulu?” aku mengarahkan lingerie yang dia lempar ke sudut ruangan
tadi dan tersenyum.
“OPPA!”
teriaknya protes. Aku hanya tertawa. Wajahnya mulai cemberut dan melemparku
dengan bantal. “Itu enak buatmu tidak enak buatku.” Sambungnya. Aku melepas
jaketku dan meletakkannya disandaran sofa, berjalan mendekatinya dan berbaring
disampingnya. Dia membagi selimutnya denganku. Aku dan dia berbaring menatap
langit-langit kamar, tak ada suara lagi yang tercipta. Aku memiringkan tubuhku
dan menopang kepalaku dengan tangan, memandangi lekuk wajahnya. Matanya,
hidungnya, bibirnya, garis dagunya, nyaris sempurna meski tidak ada yang
sempurna di dunia ini, tapi bagiku dia karya yang fenomenal.
“Bagaimana
jika aku menginginkanmu?” sudut matanya melirikku. Dia tidak menjawab. “Eum?”
tanyaku meminta jawabannya. Dia menoleh padaku dan menatapku tidak percaya. Aku
mencondongkan wajahku mendekatinya, dan dia menatap mataku intens, saat bibirku
hampir saja menyentuh bibirnya, dia menyentuh bibirku dengan telunjuknya.

I Can’t Stop
I won’t stop
Ain’t stopping till you’re mine
Oh girl I need you by my side

Aku
merapatkan tubuhku padanya dan memaksanya untuk tidak menolak. Simpul-simpul
sarafku mulai kembali bereaksi dan menjalar ke otakku. Keinginan untuk
menyentuhnya tiba-tiba menguasaiku tanpa bisa aku hindari. Dia sedikit menjauh,
namun aku segera memposisikan tubuhku berada diatasnya. Kupandangi wajahnya
dengan cermat, lekukan sempurnanya begitu jelas dimataku dengan jarak tak lebih
dari satu jengkal.
“Oppa,
sebentar.” Dia mengalihkan wajahnya dari mataku. Tergambar jelas ketakutan
dimatanya. Aku tidak ingin mendengar penolakannya, karena aku sudah digerogoti
hasrat. Kembali kudekatkan wajahku dan menyentuh bibirnya.
“Oppa,
eum.. eum.. eum..” mulutnya menggumam karena bibirku yang tidak mengijinkannnya
berkata. Dia mulai mendorong tubuhku namun dengan arah berlawanan, aku juga
mendorong tubuhku semakin menghimpitnya dan mempertahanka posisiku. Jika
dipikir-pikir, ini memang terlalu cepat baginya, tapi bagi hasratku, aku sudah
memberinya waktu saat di pantai tadi.
“Oppa,
bukankah ini terlalu cepat?” tanyanya. Dan kembali aku tidak menghiraukannya,
semakin dia menolak, aku semakin menginginkannya. Kembali kuraih bibirnya dan
kali ini dengan lumatan kecil yang menimbulkan bunyi decapan halus ketika
bibirku mulai bermain dibibirnya. Dia benar-benar membuatku gila, aku memang
pernah mencium gadis sebelumnya, tapi tak pernah seperti ini.
“Oppa…..”
rengeknya ketika aku melepaskan ciumanku. Nafasku mulai memburu, nafsuku mulai
merangkak melalaui celah poriku dan ingin menyapanya.
“aku,
aku, aku bukan menolakku, tapi…” dia menatap mataku, terdiam sejenak. “Tapi
ini terlalu cepat jika kita melakukannya sekarang.” Ujarnya, saat mengucapkan
kata ‘melakukannya’ dia mengalihkan wajahnya dariku satu detik lalu kembali
memandangku, buka wajahku tapi leherku.
“Jika
aku menginginkannya?” aku menarik dagunya dan memaksanya untuk menatapku. Dia
masih mencoba menghindari tatapanku, tapi aku kembali menggerakkan dagunya,
memberitahunya aku tidak suka diacuhkan.
“Tapi
aku.. beri aku wak!” aku tidak ingin mendengar penolakannya meski dengan alasan
yang sehalus mungkin. Dia saja yang tidak tau tentang perasaanku, tapi aku rasa
dia mungkin bisa menduga apa yang aku rasakan. Kusapa kembali bibirnya dengan
bibirku, mengecapnya perlahan dan berlanjut pada lumatan yang lebih berhasrat.
Aku terbuai dengan aroma tubhnya yang mulai tercium di permukaan hidungku. Aku
tidak memberinya kesempatan untuk mengambil nafas hingga kini tangan lembutnya
memukul pelan dadaku, tapi pukulannya membuatku semakin ingin menyentuhnya.
Naluri lelakiku mendesakku untuk terus melakukan yang lebih terhadapnya.

I said I won’t stop
I Can’t Stop
So take my hand and come with me
Can’t you see
All I need is you oh baby

Aku
melepas ciumanku, silakan mengambil nafas sebentar Nyonya Park. Aku mengangkat tubuhku
darinya dan merangkak duduk diatas tubuhnya. Aku melepas bajuku dan melemparnya
ke sudut tempat tidur, kembali aku menyapa bibirnya.
“Oppa,
tolong hentikan, besok malam saja.” Dia memelas dihadapanku. Aku sudah
mengatakannya berkali-kali, dia benar-benar membuatku gila dan aku bertindak
egois kali ini, nafasku menderu, edrenalku semakin gencar memproduksi hormon
yang membuatku semakin bersemangat untuk menjamahnya.
“Aku
tidak mempunyai kesabaran yang banyak Park Eun Kyo.” Aku meraih dagunya dan
mengarahkannya untuk mendongak, kusapu lehernya dengan bibirku, dia berusaha
memberontak, tapi usahanya bagai sebuah belaian lembut bagiku.

Why you acting like you don’t even hear
me?
Can’t you see that without you girl my life has no meaning?
Need you in my life
Oh girl you make me better
Can’t we stay together?
I can’t help it baby

“Sebentar!”
dia meraih daguku dan menangkupkan tangannya diwajahku. Aku menatapnya dengan
seduktif, bibirku menarik seulas senyum nakal dimatanya, meski aku tidak
bermaksud seperti itu, namun itu yang aku tangkap dari matanya. Ada sedikit
kilatan tidak rela dari matanya, tapi aku tau dia sadar meski dia menolak
sekalipun aku tidak akan menghiraukannya, dia milikku dan aku berhak melakukan
apapun terhadap milikku. Terdengar egois memang, tapi diatas semua itu,
perasaan cintalah yang membuatku seperti ini.
“Sekarang
aku yang bertanya, kenapa kau menikahiku?” dia menatapku tajam, tepat di kedua
bola mataku. Aku terbius dengan tatapannya yang membuatku terpaku, tak mampu
untuk menjawab, jika aku menjawabnya karena aku mencintainya apa dia akan
percaya? Sejak pertemuan pertama kali di stasiun, kami tidak pernah bertegur
sapa, mungkin itu hanya sebuah pertemuan tidak penting, tapi tidak bagiku. Aku
terus membayanginya kemanapun dia pergi.
“Jika
kau menjawabnya aku akan menyerahkan semuanya, tubuhku.” Dia membuka dua buah
kancing bajunya. Apa yang kau lakukan Eun Kyo~ya? Aku menahannya untuk membuka
lebih banyak. Meski aku menginginkannya, tapi entahlah, saat dia ingin
menyerahkannya seolah aku hanya menginginkan tubuhnya, itu membuatku sedikit
emosi.
“Wae?
Bukankah lekukan tubuhku yang ada dalam birahimu?” dia menyentak tanganku dan
kembali membuka kancing bajunya. Matanya masih menatapku dengan matanya yang
tajam menembus jantung. Diam Park Eun Kyo! Bukan itu yang ada dipikiranku,
sungguh bukan itu yang ada dipikiranku, meski itu juga benar.
“Hentikan
saja kalau begitu.” Aku beranjak meninggalkan tubuhnya dan bergeser ke tepi
tempat tidur, tempat semula aku berbaring. Dia menghela nafas lega.

I Can’t Stop falling in love, love,
love
I said I Can’t Stop falling in love, love, love

Tidak
bisakah dia mengerti aku mencintainya? Tidak cukupkah sinyal yang aku kirimkan
untuknya? Angin dingin mulai berlomba menusuk seluruh permukaan kulitku.
“Aku
menikahimu bukan karena birahiku, meski mungkin itu adalah faktor. Tapi
keinginan untuk menjalani hidup denganmu yang membuatku sampai pada tempat ini.
Mungkin alasan cinta tidak tepat menurutmu, mengingat kau pernah terbodohi oleh
cinta.” Aku berbaring membelakanginya. Kehangatan itu mulai menipis disapu
dinginnnya suasana yang tercipta. “Aku tidak memintamu untuk mempercayaiku,
tapi aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan.” Aku mulai memejamkan
mataku dan mencoba untuk tenang dan mengerti.
“Mianhae.”
Ucapnya dengan nada yang sangat rendah, aku dengar dia menggeser posisinya dan
setelah itu tak ada suara sama sekali.

For you I’ll do whatever
It’s you I want forever
I just want to get closer
I Can’t Stop falling in love

Dan
ketika lembayung fajar membangunkanku, aku mencoba membuka kedua mataku, dalam
dinginnya gerimis hujan diluar sana, retinaku mencoba mencari secercah cahaya,
lalu pagi benar-benar menyapaku dengan berbagai riangnya namun terasa sepi dan
hambar bagiku. Bukan karena kejadian tadi malam, bukan sama sekali. Entahlah,
hanya saja merasa tersadar bahwa dia bukan seperti yang aku bayangkan.
“Ireona,
mau sarapan pagi diluar atau di dalam kamar?” tanya suara itu lembut menyapa
gendangku. Aku menoleh padanya, masih sama, yang berbeda hanya ada senyuman
diwajahnya, kekakuan dan ketegangan itu perlahan memudar. Aku balas
menyunggingkan senyumku ditengah kantuk yang masih bertaut di kelopak mataku.
Aku memang belum mendapatkannya, akuilah Park Jung Soo, kau belum
mendapatkannya, bukan mendapatkan tubuhnya, tapi kau belum menyentuh hatinya.
Bersabarlah. Paling tidak kau bisa belajar memahaminya dulu.
“Aku
mau makan dikamar saja.” Jawabku serak sambil sedikit berdehem, aku masih belum
bisa menetralkan pita suaraku. “Aku lelah Eun Kyo~ya.” Sambungku lebih jelas.
“Mau
kemana hari ini Oppa?” tanyaya riang. Dia kembali seperti gadis yang pernah aku
liat dulu, tak ada lagi Park Eun Kyo yang kaku seperti tadi malam. Dia kembali
memakai kemejaku dan duduk ditepi tempat tidur. Aku menggeser tubuhku mendekat
padanya, dan meletakkan kepalaku di pangkuannya yang tanpa balut karena hanya
memakai kemeja pendek diatas lutut, menatap wajahnya, leher dan dagunya lebih
tepatnya.
“Kau
sudah mandi? Jam berapa kau bangun?” kumainkan jemariku di paha mulusnya, dia
sedikit bereaksi dengan mengambil tanganku.
“Sudah,
sejak satu jam yang lalu, wae?” tanyanya sambil menunduk. Kedua retina kami
saling bertatapan dalam. Aku menggeleng.
“Hari
ini aku ingin istirahat, aku lelah.” Dia tersenyum padaku lalu mengangguk. Tak
ada jawaban dari matanya sama sekali, meski dalam senyumnya terdapat
kehangatan. Aku, lelaki normal, yang juga menginginkan kehangatan dalam awal
pernikahan, meski bukan itu yang aku utamakan.

TEEEETTT!

Kami
berdua langsung menatap pintu. Lalu saling berpandangan. “Layanan kamar.”
Ujarnya sambil mengalihkan kepalaku. Dia ingin beranjak namun aku bangkit
menahannya.
“Aku
saja.” Yang benar saja, aku membiarkan office boy mendapat tontonan gratis
pagi-pagi, hanya aku yang boleh melihatnya. Kuambil selimut dan menutupi kaki
jenjangnya. Aku berlari kecil menghampiri pintu dan membukanya.
“Sarapan
pagi Anda.” Ujar lelaki muda tegap berdiri dihadapanku. Aku menoleh ke
belakang, memastikan apakah Eun Kyo sudah benar-benar ‘tertutup’, atau belum.
Dia memegang selimut di pinggangnya, ‘aman’. “Mau diletakkan dimana Tuan?”
lelaki itu bertanya sambil mendorong sebuah rak berisi makanan.
“Disana
saja.” Jawabku sambil mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya.
“Terima
kasih, Tuan, semoga hari Anda menyenangkan.” Dia melirik Eun Kyo yang terpaku
berdiri di samping tempat tidur. Aish! Jika saja aku menuruti kemauanku, sudah
aku congkel kedua mata orang itu.
“Kita
sarapan.” Aku mengajak Eun Kyo ke sebuah meja kecil dan meletakkan makanan
disana. Dia berjalan mengikutiku, kutarik kusi dan menekan bahunya agar duduk.
Aku mengambil tempat di hadapannya dan mulai memakan sarapanku.
“Kau
belum sikat gigi.” Ujarnya pelan sambil memandang wajahku, aku menghentikan
tanganku yang bersiap memasukkan makanan.
“Aku
lupa.” Aku segera berlari dan membersihkan gigiku, lalu kembali padanya.
“Sudah
bersih kan?” aku memperlihatkan deretan gigi putihku padanya, dia tertawa geli.
Lalu kami memulai sarapan kami dengan obrolan hangat. Sekarang aku mengerti
kenapa dia menerima lamaranku, karena memang dia tidak ingin mengecewakan
Appanya. Dia menceritakan panjang lebar bagaimana Appanya memelas padanya agar
menerima lamaranku. Demi kelangsungan perusahaan yang hampir failed.
“Tapi
ternyata kau lumayan, jadi aku tidak terlalu sial menerima lamaranmu.” Ujarnya
dengan nada bercanda sambil tertawa.
“Kalau
aku lumayan, berarti tidak ada alasan untuk menolak malam ini.” Aku tersenyum
menggodanya. Dia menjulurkan lidahnya padaku dan melempar tissue ke mukaku.
“Kita
lihat saja.” Dia berdiri dan menuju kamar mandi. Namun sebelum membuka pintu
dan menghilang dibalik pintu, dia melirik penuh arti padaku.

***
Menikmati
pagi yang beranjak siang di balkon sambil menenggak kopi terasa sangat nikmat.
Meski hangatnya mentari sudah mulai menusuk permukaan kulit, aku masih bisa
menikmatinya. Sekilas bayangan melintas disampingku. Park Eun Kyo, dia
bersandar dipagar pembatas dan mempermainkanku. Dia menghalau sinar matahari
yag menerpa wajahku.
“Berjemur
bukan disini Oppa, dipantai.” Ujarnya terkikik geli.
“Disini
lebih nyaman.” Jawabku. Dia berdiri membelakangiku, aku bangkit dan
mendekatinya. Berdiri di belakangnya, tepat menempel dipunggungnya mengunci
tubuhnya dengan kedua lenganku yang aku letakkan dipagar pembatas.
“Saranghae.”
Bisikku pelan ditelinganya. Helaan nafasnya menjawab semua pernyataanku, tak
ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya.

You are the reason that I am existing
and I’m standing here to tell you my feelings oh baby

Aku
membalik tubuhnya menghadap kearahku dan dia menunduk sekilas, kuangkat
wajahnya dengan jari telunjukku di dagunya. Kudekatkan wajahku demi meraih
bibirnya lagi. Dia hanya terdiam, tidak menolak juga tidak membalasnya. Terserah
padamu Park Eun Kyo. Perlahan bibirku mulai bergerak, menyapa bibir bawah dan
atasnya secara bergantian. Tanganku mulai beralih pada pingggangnya dan
membelai lembut dengan jariku.
“Eumh.”
Lenguhan kecil mulai keluar dari mulutnya. Mulutnya kini tak hanya diam, mulai
memberi akses untuk lidahku dan memulai ekplorasi lebih lanjut.  Sebelum masuk lebih lanjut, aku menjilat
bibirnya dengan ujung lidahku. Sejenak dia kembali menunduk, kembali pula
kuangkat wajahnya dan meraup bibirnya lebih dalam, kelembutan yang tadi aku
tawarkan kini berubah sedikit hangat dengan deru nafas bercampur dengan decapan
pelan dari bibirku dan lidah yang saling bertaut. Lidahku mulai bermain dengan
lidahnya hingga suara decapan itu kian jelas terdengar di telingaku. Aku mengangkat
tubuhnya agar sejajar dan aku tak lagi menunduk untuk memgekpresikan ciumanku.
Dan perlakuannya melebihi apa yang aku harapkan, aku hanya berharap dia tidak
menolak, tapi semua diluar dugaanku. Kedua kakinya melingkar di pinggulku dan
wajahnya kini berada diatasku. Aku mengeratkan pelukanku agar posisinya lebih
kuat. Kedua tangan lembutnya menyentuh kulit wajahku, membuat sensasi berbeda
disekujur tubuhku. Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan kamar hotel agar
tak jadi tontonan gratis dan aku bisa melanjutkan ke permainan selanjutnya jika
dia mengijinkannya. Aku terus membawanya berjalan dengan tubuhnya dalam
gendonganku. Bibir kami terus bertaut meniupkan hembusan nafsu yang mulai
merasuk ke dalam otak, otakku lebih tepatnya, menciptakan sensasi nikmat yang
mulai menjalar ke setiap indraku. Hawa panas mulai terasa, dan aku melepaskan
ciumanku dibibirnya. Menatapa kedua bola matanya yang berada diatas wajahku
dengan lembut dan dia membalasnya dengan membelai wajahku, tangan lembutnya
bermain diwajahku. Kupejamkan mataku untuk menajamkan perasaanku oleh
sentuhannya. Mata, hidung hingga bermuara dibibirku. Cinta ini menghinggapiku
seperti kupu-kupu berlabuh di putik bunga. Aku membuka mataku dan memastikan
ini bukan mimpi, aku mendapatinya dengan wajah yang penuh dengan tatapan lembut
lalu tersenyum padaku. Setiap kali kita bertatapan, sejak kemarin, aku terjatuh
kedalam danau yang disebut dirimu dan tidak memikirkan hal lain lagi. Perlahan
dia mulai mendekat dan meraih bibirku.

Just come on over
Girl I’ll show ya
I’ll always love ya
Girl I’m here for you

Dia
mulai bermain di bibirku. Bibir tipisnya mulai bergerak menyusuri bibirku. Apa
yang terjadi dengannya? Kalimat ‘saranghae’ itu kah ynag ampuh membiusnya?
Tidak mungkin, meski terlihat bodoh, tapi aku tau dia tidak bodoh sama sekali,
aku masih mengangkatnya dalam dekapanku, dan perlahan membawanya duduk ditepi
ranjang dan memangkunya. Dia tetap tidak melepaskan ciumannya dan terus bermain
dengan bibirku selama kurun waktu beberapa detik.  Pelan-pelan
Baby, kau hampir menggigit bibirku. Dia melepaskan ciuman sambil terengah,
mengambil banyak oksigen dan menghirupnya dengan kasar, dadanya naik turun
seiring dengan ambilan nafasnya. Aku membalik posisi dan membaringkan tubuhnya
perlahan diatas peraduan.
“AH!
Tunggu sebentar!” dia mendorong tubuhku kuat hingga terpental dan kehilangan
keseimbangan. Aku mohon jangan mempermainkan perasaan dan keinginanku Park Eun
Kyo, kau menarik ulur nafsuku dan membiarkan perasaanku menggantung di tiang
asa.
“Aku,
aku, aku masih ragu.” Ujarnya sambil memandangiku yang terduduk dilantai dengan
wajah terlihat bodoh. Tatapannya sulit diartikan, antara ragu, iba dan rasa
bersalah. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan menuju lemari es, membuka
pintunya dan mematung disana. Kami kembali membisu, begitu sulit untuk
membuatnya percaya, yang aku lakukan mungkin terkesan tergesa-gesa baginya,
tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk merendahkannya dengan memintanya
menyerahkan tubuhnya demi kenikmatanku.
Aku
berjalan mendekatinya, perlahan berdiri di belakang punggungnya. Saat dia
menoleh ke belakang, wajahnya sontak terkejut dan sedikit oleng. Apa aku
terlihat seperti hantu dimatanya?
“Aku
juga ingin minum.” Aku menyelipkan tanganku diantara lengan dan pinggangnya
untuk mengambil sebotol air mineral, lalu menenggaknya hingga tersisa
setengahnya.
“Aku
tau, mungkin ini terlalu terburu-buru, tapi aku..” dia mengalihkan wajahnya
dariku. “Belajarlah menerimaku.” Sambungku lalu mengecup dahinya. Melangkah
mundur darinya dan mengambil handuk yang ada diatas tempat tidur. Memberikan
senyumku lalu melesat ke kamar mandi.

***
Aku
memutuskan untuk membawanya berjalan disekitar pantai lagi untuk mencairkan
kecanggungan yang terkadang menyelimuti tanpa terduga.
“Oppa,
kita kesini.” Dia menarik lenganku kuat. Memaksaku untuk mengikutinya. Sungguh
tak pernah bisa dibaca apa yang akan dia lakukan. Kadang terlihat dingin, tapi
juga terkadang bisa hangat seketika. Ditengah temaram senja yang menguning,
kami berjalan menyusuri pantai sepi yang indah. Bak sebuah pantai pribadi, dia
terus berjalan bertelanjang kaki sambil mempermainkan air yang menyentuh kakinya.
Tidak banyak orang yang melancong disini, sore yang sepi.
“Sudah
hampir malam, kita kembali ke hotel?” aku menarik tangannya untuk berhenti
berjalan. Tubuhnya tertarik ke arahku dan mendarat di dadaku.
“Shireo,
aku mau disini saja, menginap disini juga tidak masalah.” Jawabnya. Dia
mengambil ancang-ancang untuk kembali berjalan, aku menariknya.
“Jangan
takut, aku tidak akan menyakitimu atau menyerangmu seperti tadi malam.” Saat
mengatakan itu aku menerawang ke laut lepas. Dia terdiam, aku menunduk memandanginya.
“Gwaenchana,
aku bukan takut, tapi belum siap.” Ujarnya tersenyum.
“Tapi
aku benar-benar mencintaimu.” Aku meyakinkannya, bukan untuk menidurinya, tapi
lebih kepada pernyataan perasaan yang kian hari kian membuncah dan hampir
mengabiskan stok kesadaranku. Aku menatap matanya yang mengerjap indah dalam
dekapanku. Dahinya berkerut mengukir kebingungan. Pada matanya yang dipenuhi
berjuta manja yang bergelayut, aku tak menemukan jawaban sedikitpun. Jika
pepatah berkata mata adalah jendela hati, itu semua omong kosong bagiku, tak
kutemukan jawaban dimatanya, bahkan untuk sedikit ‘clue’ pun tidak bisa aku
raba.
Aku
mendekatkan wajahku, entah sudah yang keberapa kali ciuman ini aku lakukan,
tapi bagiku sensasinya tetap seperti pertama kali menyentuh bibirnya. Kali ini
dia tidak lagi kaku seperti tadi malam. Bibir kami berdua bertaut dan saling
mengecap bergantian atas dan bawah. Tak ada nafsu yang menyertai, aku hanya
ingin dia tau aku menginginkannya karena cinta, meski nafsu juga ikut andil.
Bukankah nafsu juga diperlukan dalam hubungan suami istri? Itu tidak bisa
dipungkiri, sudah naluri manusia, aku rasa dia juga mengetahui hal itu. Aku
melepaskan ciumanku setelah beberapa detik berlalu, saling menatap dan
tersenyum. Aku harap ini adalah awal yang indah.

***
“Mau
makan diluar atau disini saja Oppa?” dia memainkan rambut basahnya dengan
handuk selepas mandi melenyapkan keringat yang melekat dibadan.
“Aku
ingin makan disini saja, dan sebotol wine.” Jawabku, dia menghentikan tangannya
yang menyapu rambutnya dengan handuk.
“Ah,
ye.” Ujarnya mendekati telpon dan memesan makanan. Tak berapa lama pesanan kami
datang, dia masih betah memakai kemejaku dan malam ini kelincahan tubuhnya
terlihat seksi dimataku.
“Menu
spesial malam ini, steak bumbu spesial.” Komentarku saat memandangi makanan
yang ada dihadapanku.
“Sepertinya
enak.” Dia langsung memotong steaknya dan bergumam tidak jelas, lalu
mengacungkan ibu jarinya padaku. Aku tergiur karenanya dan melahapnya juga.
Kutuangkan sedikit wine ke dalam gelasnya dan mengangkat gelasku. Dia segera
melepaskan pisau dan garpu dari tangannya lalu meraih gelas dan balas
mengangkat. Dari sudut mataku, aku bisa melihatnya menenggak wine itu sambil
menengadah. Leher putihnya tampak jelas dimataku membuat sekresi air liurku semakin
meningkat dan memaksaku meneguk liur setelah wine habis aku minum. Dia
melanjutkan makannya dengan lahap, sedangkan aku tidak fokus sama sekali. Tidak
pernah aku merasa ‘sepanas’ ini di dekat seorang gadis. Dia menyelesaikan
makannya dan menyapu sudut bibirnya dengan serbet putih.
“Aku
sudah selesai.” Ujarnya sambil meletakkan serbet itu. Aku meletakkan pisauku
dan juga garpu, tanda aku juga mengakhiri makanku. Kami berdua bangkit dan aku
berjalan menuju tempat tidur, tapi tangannya menarik lenganku.
“Kita
gosok gigi bersama.” Senyumnya mengembang dan menarikku ke kamar mandi. Aku
mengambil sikat gigi putih dan dia meraih sikat gigi ungunya, menaruh pasta
gigi lalu membersihkan gigi kami bersama di depan cermin, sesekali kami saling
melirik bergantian. Hingga beberapa detik kemudian tawanya pecah.
“Kau
lucu sekali Oppa.” Tawanya meledak sambil mengambil air untuk berkumur dan
membersihkan sisa buih pasta. Aku juga mengakhiri aktifitasku.
“Wae?”
tanyaku bingung.
“Ani,
aneh, kita seperti anak kecil.” Jawabnya sambil menunduk. “Aku seperti pertama
kali mengenal lelaki.” Sambungnya masih menunduk.
“Kau
mau… yang sedikit dewasa?” tawarku sedikit memancing, dia langsung menoleh
padaku dan mengerutkan dahinya. Aku meliriknya sambil tersenyum.
“Apa?”
tanyanya balik sambil memanyunkan bibirnya.
“Yakin
mau?” kupandangi wajahnya di depan cermin.
“Katakan
dulu baru aku memutuskan mau atau tidak.” Rajuknya, merebut sikat gigiku dan
meletakkannya didalam cangkir dengan kasar. Aku berdiri di belakangnya dan
memandangnya dicermin.
“Dilarang
menolak.” Bisikku ditelinganya. Aku menyibak rambutnya yang sudah setengah
kering dan mengecup lehernya. Dia tersenyum, aku mengecupnya bergeser hingga
mendekati telinganya. Setiap kali aku memindah spotku, aku memandangnya dicermin,
terakhir kali aku melihatnya di cermin, dia memejamkan matanya. Tangannya
bertumpu kuat disisi washtafel. Aku semakin fokus pada kecapanku disetiap inchi
lehernya beberapa kali dan meninggalkan beberapa bercak merah keunguan disana.
“Oppa..”
panggilnya panjang, terdengar seperti lenguhan ditelingaku. Aku melingkarkan
tanganku dipinggangnya, merapatkan tubuhnya ke dadaku.
“Ah.”
Dia menjerit saat tubuhnya merapat ditubuhku. Aku menariknya keluar dari kamar
mandi berjalan mundur, kutarik tubuhnya ketempat tidur dengan cepat dan tergesa
agar tidak ada celah untuknya menolak. Aku sedikit menghempasnya diatas tempat
tidur membuatnya menjerit tertahan. Memposisikan tubuhku diatas tubuhnya.
“Jangan
menolak.” Aku membungkam mulutnya dengan bibirku, dia sedikit tersentak, namun
beberapa detik melumat dia mulai merespon ciumanku. Seperti pagi tadi, namun
lebih ‘terbuka’. Aku terus bermain dengan bibirnya, saling mengecap hingga
basah. Tanganku bergerak lincah membuka kancing kemeja yang dia kenakan satu
persatu dengan lihai. Setelah semua terlepas, otakku kembali memberi perintah
untuk menyusup dipunggungnya dan meraih pengait branya lalu melepaskannya.
Setelah semuanya terlepas, aku melepaskan ciumanku dan dengan cepat membuang
baju yang melekat di tubuhku. Aku kembali menindih tubuhnya. Dia sedikit
terhenyak, tapi aku tidak memperdulikannya. Kini tanganku meraih pinggangnya
dan melepaskan ‘underwear’nya, lalu menariknya dengan jari kakiku. Saat
semuanya benar-benar terlepas, dia mencengkram lenganku, kukunya membuat goresan
kecil dilenganku. Park Eun Kyo, belum apa-apa kau sudah setegang ini?
“Gwaenchana,
santai saja.” Bisikku ditelinganya, lalu meniupnya pelan membuat tubuhnya
bergidik pelan, aku kembali meraih lehernya, turun melalui daerah dadanya
hingga perut ratanya.
“Oppa..”
panggilnya lagi terdengar seksi, sekilas aku bisa melihat matanya terpejam,
semoga itu artinya dia menikmati sentuhanku. Seiringan dengan perlakuanku
terhadapnya, bagian sensitifku mulai menengang sempurna. Pemanasan seperti ini
memang menyenangkan tetapi aku lebih suka permainan inti. Aku mengangkat kedua
pahanya hingga menekuk, lalu aku meletakkan tubuhku diantara selangkangnya.
Tanpa dia sadari aku menuntun tanganku untuk memulai penetrasi, entah karena
terlalu menikmati sentuhanku atau karena matanya terpejam dan tidak melihat,
yang pasti saat aku mulai memasukkan ‘kemaluan’ku, dia masih belum berekasi,
matanya masih terpejam, tapi saat aku memasukkan belum seperempatnya, dia
langsung mencakar halus punggungnya.
“AH!
Oppa!” kakinya bergerak, membuatku sedikit kesulitan melakukannya. Kedua
kakinya benar-bena tegang. Aku menatap matanya, ada bulir air mata yang mencoba
melesak keluar. “Appo..” keluhnya serak, matanya kembali terpejam dan nafasnya
terhenti beberapa detik, lalu bersamaan dengan hembusan nafasnya, airmata
benar-benar menetes di kedua sudut matanya dan menghilang disela-sela
rambutnya.
“Aku
bisa pelan-pelan, eum?” tanyaku meyakinkannya. Dia menggeleng pelan lalu
isaknya terdengar sayup di telinga. “Ssstt… pertama mungkin memang seperti
ini.” Dia kembali menggeleng. Airmatanya satu persatu berjatuhan. Aku menarik
tubuhku lalu mendorongnya pelan, tidak bisa dikatakan pelan juga sebenarnya,
karena jika sangat pelan tidak akan sampai, dan akan semakin membuatnya sakit.
“AKH!”
dia menggeliat dibawah tubuhku, aku mungkin tidak bisa merasakan sesakit apa
yang dia rasakan, tapi mungkin aku bisa memahaminya, wajahnya mulai menegang
meski tak ada perlawanan darinya. Antara nafsu dan rasa tega berperang dalam
bathinku, tapi rasa cintaku menengahinya.
“Dengarkan
aku.” Aku merapikan anak rambut yang menerpa wajahnya akibat hembusan nafasku.
“Aku tidak akan menyakiti perasaanmu, aku berjanji.”
“Apa
ini yang kau inginkan selama ini dariku?” tanyanya dengan pelan karena isakan.
“Ani,
aku hanya ingin kita menikmatinya bersama.” Jawabku. “Menikmati setiap waktu
yang berjalan bersama.” Sambungku. Aku menekan pelan tubuhku. Dia mendongak
tanpa bernafas beberapa detik. “Ijinkan aku menyentuhmu lebih dalam, dan aku
akan tinggal disana selamanya tanpa meninggalkanmu.” Ku kecup mesra bibirnya.
Lalu kuhentak kasar hingga dia berteriak namun tertahan karena mulutku. Sebelum
dia tenang aku tidak akan melepaskan bibirku. Beberapa detik berlalu, tubuhnya
mulai lemas, baru aku melepaskan tempelan bibirku di bibirnya. Pertahanannya
kutembus dengan sukses.
“Saranghae.”
Bisikku ditelinganya. Aku menekuk kembali kedua kakinya agar aksesku ke ‘dalam’
lebih mudah. Aku mulai menggerakkan tubuhku maju mundur dibawah diatas
tubuhnya. Awalnya cengkramannya semakin kuat dipunggungku, tapi lambat-laun mengendur
seiring dengan gerakanku. Sebuah desahan pelan keluar dari mulutnya.
“Ah..”
dia mulai menikmatinya, tubuhnya bergerak erotis dibawah tubuhku. Membuatku
merubah tempo gerakanku menjadi semakin cepat dan teratur.
“Oppa…”
panggilnya, aku tidak mampu menjawabnya, terlalu fokus pada kenikmatan yang
menjalar melalui darahku berpacu dengan gerakanku. Saat gerakanku mulai cepat,
dia tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang tergambar jelas diwajah sayunya
yang memejamkan mata. Gerakanku semakin liar ‘memompa’, dia menggigit bibir
bawahnya. Hal itu bagaikan sebuah lampu hijau dijalan raya yang memberiku
isyarat untuk menembus jalanan dengan segera sebelum lampu kuning menyala lagi.
Tangannya kini tak lagi mencengkramku, tapi berubah menjadi sebuah belaian
lembut yang semakin meningkatkan adrenalinku.
“Oppa,
aku.. ah!” setelah lama bergelut dengan kenikmatan ini, akhirnya rasa itu
datang menghampirinya. Aku menghentikan gerakanku dan membiarkannya menikmati
rasa itu. Nafasnya memburu dan berat lalu berhembus keras menerpa wajahku. Aku
masih memandangi wajahnya yang memerah dilanda rasa itu. Nafasnya hangat
menerpaku, benar-benar merusak otak jika aku terus memandanginya.
“Geumanhae.”
Ujarnya terengah. Mwo? Apa yang dia katakan? Hentikan? Tidak bisa Baby. Aku
belum bisa menghentikannya. Kedutan itu perlahan berhenti dan dia mengatur
nafasnya dengan cepat.

Can‘t Stop, won’t stop till‘ we both
drop
Till the time stop ticking on my gold watch
Keep tryin‘ even though it‘s a long shot
You gotta new man he don‘t know your G spot
Gotta new chick
But she ain‘t you
Can we try again? Can I get a take 2?
Stay true I‘ll remain faithful whatever it takes to be face to face with you

Dia
kembali mendorong tubuhku, tapi aku malah menariknya dan membuatnya duduk
dipangkuanku tanpa melepaskan kontakku padanya. Dia ingin berontak tapi aku
menahannya dengan dekapanku. Dia tidak bergerak sama sekali, namun aku tidak
kehabisan akal. Kubawa dia ke tepi tempat tidur dan kakiku menjuntai kebawah,
dia masih dalam pangkuanku tanpa terlepas sedikitpun. Kugerakkan tubuh
lunglainya dengan tanganku. Dengan posisi seperti ini , aku bisa menyentuhnya
sangat dalam.
“Oppa,
geum! Akh!” dia kembali berteriak saat G spotnya tersentuh olehku. Badannya
menggeliat menghindariku, tapi tau kah kau Nyonya Park? Dengan begitu kau
semakin membuatku ingin berbuat lebih, dan kupastikan kau benar-benar tidak
bisa menolak rasa nikmat ini. Dia terus menghindariku dengan menekan bahuku
agar menjauh. Sekali lagi aku menyentuh G Spotnya, kau tau Nyonya Park? Secara
tidak sadar kau yang akan meminta lebih jika kau terus seperti ini. Badannya
mulai bergerak perlahan naik turun, aku mulai bisa tersenyum dalam hati, kini tanpa
bantuanku dia sudah memulai gerakan sendiri tanpa harus aku paksa atau arahkan.
“Eugh..”
dia kembali melenguh, badannya meliuk indah dipangkuanku. Aku membiarkanmu
memimpin kali ini, Baby. Dia mulai bergerak naik turun dalam pangkuanku dan aku
memegangi punggungnya agar tidak jatuh. Beberapa kali dia mengibas rambut panjangnya
dan itu benar-benar terlihat seksi dimataku.
“Oppa..”
bisiknya ditelingaku. Dia terus bergerak dengan menumpu tangannya dipundakku.
“Eum?”
sahutku sambil mengecup selangkanya yang menonjol.
“aahhh..”
desahannya mulai terdengar nyaring seiring dengan gerakannya yang semakin
‘menjadi’. Beberapa menit berlalu, akhirnya aku mulai merasakan ada sesuatu
yang ingin mendesak keluar. Aku mengangkat tubuhnya dan membantunya bergerak
lebih cepat. Senandung desahanpun keluar dari mulutku dan mulutnya saling bersahutan.
Bagai sebuah melodi orkestra paling romantis di belahan bumi. Aku melenguh  panjang saat merasakan kenikmatan itu
menghampiriku, juga dirinya. Tubuhnya perlahan lunglai, aku juga merasa lemas.
Seperti pertandingan marathon yang panjang, aku merebahkan tubuhku dan tubuhnya
diatasku untuk sekedar beristirahat.
“Gomawo.”
Bisikku disela desahan yang masih tersisa. Kulit tubuh kami saling bersentuhan,
keringat membuat kami menempel satu sama lain. Dia mendongakkan kepalanya
menengadah padaku. Tersenyum manis lalu kembali menunduk dan memelukku. Kutarik
selimut untuk menutupi tubuh kami tanpa melepaskan pelukannya. Sepertiga malam
masih tersisa. Gairah terhampar luas, perlahan merayap menghabiskan malamku
yang penuh gelombang cinta. Melukis birahi dibalut dengan tulusnya kesetian,
itulah yang aku tawarkan padamu, Park Eun Kyo.

You”re
so addictive
Can”t get enough of you.
You make me feel so good
When you’re by my side
Do you want me?

Eun Kyo’s Side

Disinilah
aku berada. Diruangan luas sebuah kamar hotel bersamanya dengan seorang lelaki
yang baru saja menikahiku. Kehidupan baru dengan status yang baru pula, menjadi
seorang istri dari suami seorang pengusaha real
estate terkenal, Park Jung Soo. Aku secara diam-diam memperhatikannya meski
tidak berani menatapnya. Memiliki sedikit rasa trauma dalam dasar hatiku
membuatku sedikit takut berhubungan kembali dengan perasaan yang disebut cinta.
Tapi entah mengapa aku mengatakan menerimanya dengan yakin, meski aku
menyembunyikan getar bahagia dalam alam bawah sadarku dengan rapi. Mencoba
berkompromi dengan ketakutanku agar terus bisa membentengiku.
Ciuman
hangat bibirnya menyentuhku tak ayal membuatku kehilangan akal sehatku.
Kenikmatan itu menyapaku, cinta itu sepertinya menjamahku kembali, tapi ini
berbeda, sangat berbeda, meski aku mencoba memungkirinya, tatapan matanya
memberikan damai yang siap menjagaku dengan sebuah tanggung jawab, aku bisa
merasakannya. Meski aku terkejut dengan sikapnya yang serba tiba-tiba tak
membuatku melepaskan benteng ketakutanku. Aku bahkan bertindak bodoh pagi
semalam.

Aku
memandangi wajahnya yang masih pulas terbuai mimpi di sebelahku. Peristiwa tadi
malam masih terekam jelas dalam ingatanku. Dan aku yakin aku tidak bisa
menghapusnya dari memoriku. Kusentuh wajahnya dengan lembut, menyusuri lekuknya
yang terukir sempurna. Aku mengaguminya saat aku mulai mempersiapkan perkawinan
dengannya, hanya saja aku tidak ingin terbuai. Tapi tadi malam, aku tak mapmu
untuk melawan, terdiam dalam pasrahnya sebuah kenikmatan yang menggerayangi
semua indra dan organ tubuhku akibat sentuhannya. Malam masih belum berakhir,
hanya sesaat aku terbang kealam mimpi, lalu terjaga. Pagi belum menjemput, aku
terombang-ambing dalam perasaan bimbang. Benarkah yang aku lakukan? Akankah dia
benar-benar menginginkan aku yang ada dalam balutan tubuhku? Benarkah dia
sungguh-sungguh mencintai jiwaku yang ada didalamnya? Nafasku teratur berhembus
menerpa wajahnya. Perlahan matanya mulai terbuka. Mendapatiku yang menatapnya,
dia memiringkan tubuhnya dan membelai wajahku.
“Wae?
Kau belum tidur?” tanyanya lembut setengah berbisik.
“Ani.”
Jawabku sambil membalik tubuhku membelakanginya. Aku terlalu malu karena
mengingat kejadian tadi malam. Dia bergeser dan merapat padaku, tangannya
melingkar manis dipinggangku. Bahkan kami tidak sempat memakai pakaian. Kulitku
dan kulit tubuhnya kembali bersentuhan. Gilakah aku? Kini aku menginginkannya
lagi.

Although I pretended I didn’t, I wanted you.
If you feel my gaze, will you come?

Aku
mencoba melepaskan pelukannya, namun tangannya menahan kuat tidak membiarkanku
untuk melepasnya.
“Aku
menginginkannya lagi.” Bisiknya ditelingaku. Deg! Mwo, mworago? Menginginkannya
lagi? Apa maksudnya dengan lagi? Omo! Kenapa bisa sama seperti yang aku
rasakan? Aku menoleh padanya dengan memutar wajahku perlahan, mendapati matanya
yang menatapku tepat pada retina mataku.
“Jika
kau mengijinkannya. Aku ingin melakukannya lagi.” Ujarnya. Aku tidak berani
menjawab, sekarang aku tidak bisa membedakan apa yang sebenarnya sedang
menyelimuti kami, gairah cinta yang tulus ataukah tuntutan nafsu yang semakin
mendesak?
“Tidak
akan aku lakukan jika kau tidak menginginkannya. Tadi malam memang lebih dari
cukup, namun jika ada bonusnya aku tidak akan menolak.” Ujarnya lagi, menatap
mataku dengan senyuman yang menggoda bagiku.
Memohonlah
maka niscaya aku akan mempertimbangkannya. Pujalah aku maka aku akan
memberikannya dengan senang hati, lagi.
“Bagaimana?”
dia mencium tengkukku. Membuat sebagian bulu halusku meremang dan seperti
dialiri ribuan volt listrik, tubuhku menegang seketika.
“Eum?”
kembali dia mencium tengkukku berkali-kali. Terpaan nafasnya memberikan
sentuhan lain dikulitku. Dia membalik tubuhku dengan cepat hingga aku tak ada
kesempatan untuk menghindar. Menindihku lagi dan meraih bibirku lagi. Gairah
ini ternyata belum memudar disapu malam. Masih tersisa dan tak ingin
menghilang. Bibirnya kembali melumat bibirku dan sialnya aku tidak bisa
menolaknya lagi. Tak mampu lagi kusembunyikan hasratku sendiri yang mulai
terbuai. Aku kini bahkan membalas ciumannya. Kembali lagi decakan kecupanku
bermain dengan bibirnya memecah kesunyian pagi seiring dengan merangkaknya
matahari menuju hari.
“Eungh..”
lenguhanku kini sukses keluar dari mulutku membuatnya semakin bersemangat
mengecupku. Tanganku kini diluar kendali mulai mengusap dadanya. Park Eun Kyo,
berhentilah berbuat gila, sudah cukup tadi malam dan jangan membiarkan dirimu
terlihat seperti gadis yang haus nafsu. Tapi kenyataannya aku benar-benar
menikmatinya. Tangannya lembut menyusuri lekuk tubuhku, mulai dari lengan turun
ke pinggang hingga bermuara di pangkal pahaku. Aku menggeliat geli merasakan
sentuhannya. Dia bagaikan steroid yang terus memompa sistem kerja jantungku dan
terus membuatku meminta tanpa ucap akan sentuhannya.
“Oppa..”
ucapku terengah disela ciuman kami. Dia melepaskan ciumannya dan memandangiku
dengan intens. Matanya tertuju pada bibir basahku membuat guratan malu
mencoreng mukaku dan memberiku rasa panas yang tiba-tiba menyerang.

Whisper in my ears,
I adore you (adore you)
Until the morning glow.

Nafasnya
seakan berbisik ditelingaku agar aku bisa memberinya jalan untuk bekerja.
Tangannya masih membelai paha dalamku dengan gerakan pelan.
“Bagaimana
Mrs. Park?” matanya beralih dari  bibirku
ke mataku. Memintaku sebuah jawaban. Aku mendekatkan wajahku perlahan, sangat
pelan, karena keraguan masih bertengger kokoh dalam otakku.  Beberapa detik, akhirnya bibirku sampai pada
bibirnya. Dia terdiam, sepertinya menungguku untuk bertindak. Tanganku mencoba
meraih wajahnya agar mendekat, namun tertahan di udara. Berkecamuk dalam dadaku
antara gengsi dan hasrat. Tapi sepertinya hasratku lebih besar. Tanganku meraih
wajahnya dan jariku mulai menyusup di rambut coklatnya. Menariknya kuat agar
tautan bibirku tidak terlepas. Melepaskannya beberapa detik untuk mengambil
nafas, lalu kuarahkan bibirnya ke leherku dan dia mulai menyapu tulang
selangkaku dengan bibirnya.
“Do
It.” Aku berbisik di telinganya. Susah payah aku menelan air liurku sendiri,
tak ingin terlewat menikmati sentuhannya meski demi menelan setitik cairan
hasil sekresi mulutku sendiri. Aku membalik tubuhku dan berada tepat diatasnya.
Tersenyum seduktif dengan menyibak rambut yang melilit leherku. Aku memberikan
gerakan sensualku untuk menggodanya.

I am waiting for love,
Don’t take too long
Waiting for love, Please hurry
I don’t know if i’ll change my mind

Aku
menggerakkan tubuhku menggeliat diatasnya, membuatnya terbelalak dan tersenyum
penuh arti. Rambutku tergerai menyentuh kulit dadanya. Aku yakin dia pasti
benar-benar dipuncak rangsang sekarang. Terbukti dengan menegangnya bagian
paling sensitif dari tubuhnya. Benar-benar gila, sentuhannnya mengubahku dalam
semalam. Sisi lain dari diriku kini bangkit dan sangat menguasaiku. Tangannya
lembut mengelus punggungku.
“Sekarang?”
tanyanya. Aku mengangguk. Tangannya beralih ke dadaku dan yang lainnya mulai
menuntun masuk.
“Biar
aku saja.” Aku mengambil alih kendali kali ini. Sudah kukatakan aku gila? Aku
tiba-tiba berubah liar dalam sekejap. Bukan dalam sekejap sebenarnya, aku
memang sudah menyukainya sejak mempersiapkan pernikahan, aku sudah bilang kan?
Dan sebenarnya aku sudah tau akan terjadi hal seperti ini, tapi untukku yang
berubah menjadi aktif layaknya zat korosif yang siap meledak jika dirangsang,
tidak pernah terduga sama sekali olehku. Tubuhku menyatu kembali, kali ini
tidak terlalu sakit, namun dalam posisi ini titik rangsangku benar-benar
terjamah olehnya. Aku menggeliat saat tangannya meremas pelan dadaku. Sejenak
kami sama-sama memejamkan mata, menikmati berbagai sentuhan. Tanganku bertumpu
di dadanya dan mulai mangangkat tubuhku perlahan, sedikit perih namun juga bercampur
sensasi nikmat yang menggairahkan. Aku mulai bergerak seiring dengan tempo
pijatannya di dadaku.

No matter when or where
Wanna be there for you
Could these feelings we have
Be honest, real…

Aktifitas
kami berpacu dengan mentari yang mulai menampakkan wajahnya di penghujung
fajar. Peluh kenikmatan mulai mengucur deras dengan segala kegiatan yang kami
lakukan. Aku masih menari diatas tubuhnya, bermain dengan nafsunya. Beberapa
kali aku mengibas rambutku dan memindah tumpuanku. Desahan dan erangan terus
berbicara bak bahasa lain yang kami ciptakan sendiri untuk berkomunikasi dalam
percintaan. Perlahan kenikmatan yang aku rasakan memuncak membuat tubuhku
sedikit menegang. Aku melenguh keras namun segera kututup dengan tanganku agar
tak terdengar seperti sebuah teriakan diserang gelombang nikmat yang bertubi.
Sesaat setelah aku sampai pada titik itu, dia menyusulnya, aku tak kuasa lagi
menahan tubuhku dan ambruk diatas dadanya. Aku beringsut turun dari tubuhnya
namun kemudian melingkarkan tanganku di dadanya. Dia menyusupkan tangannya di
kepalaku, mengecup dahiku dan kami terdiam menyongsong fajar. Tidak perlu
berucap lagi, aku rasa dia mengerti aku telah menjawab perasaannya. Lelap
malamku yang penuh dengan keterjagaan menjelma menjadi sebuah lagu cinta yang
penuh gejolak gairah. Padamu kupercayakan jiwa dan ragaku untuk mengudara,
mengarungi angkasa kehidupan. Sekarang kau pilotnya, Park Jung Soo.

FIN

Note : selesai akhirnya dan aku memberanikan diri mengirimnya.
Mungkin alurnya sedikit berbelit kali yah? Aku hanya mencoba agar tidak terlalu
cepat, dan juga, ratingnya mungkin tidak pas yah? Tergantung sudut pandang
masing-masing. Tidak banyak kata yang aku ucapkan *salting sendiri bikin
notenya*, bagi yang mampir selamat menikmati. Ini songfic, lagu Jung Soo aku
ambil dari Brian Joo dan Jay Park, Can’t Stop dan lagunya Eun Kyo aku ambil
dari Ga In ‘Esperando’. Semoga suka… terima kasih buat admin yang
publishin… :-)

About these ads

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 28/03/2012, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 58 Comments.

  1. q suka cara peyampaian y n kata2 y jadi berasa lembut gt deh,,,, susah ngungkapin y….
    jadi feel y ngena bgt,,, kesan y ngak yadong bgt tp jadi lbih k so sweet y tu,,, manis,romantis gt deh….
    perfect……

  2. biarpun critax rda mmbingungkan,tpi isi n inti dri critax kna k’pmbca kok…
    Aq hrap d’kry2 slnjx akn jauh lbh baik gye…

  3. ini gak cuma narasi,,
    tapi juga deskripsi!!!
    dan sialnya, aku benar-benar terpesona ama penyampaian ceritanya!!!
    really great!
    I adore u, ur words!!

  4. Vio~sunshiners

    kata-katanya keren, aku suka :) gak sekedar asal nulis, tapi pake perasaan *bahasa gw -_-
    feelnya dapet banget, gak langsung asal ‘nyosor’ tapi perlahan-lahan, jadi bener-bener ngena di hati *asekkk :)
    di tunggu karya yang selanjutnya, fighting thor ! :D

  5. Q suka kta2nya……berlahan tp pasti…..romantis ,ga keburu2…..pokoknya q ska….

  6. uwaaaaaaa…. kren, romantis, setuju bgt ma koment2 sebelumnya. gomawo author, bikin lg yg sekeren ini ya =D

  7. Ayurian Cho HyeHwa

    Awalnya malu tapi mau ..
    FF nich buat aq merinding,,
    Penyampaiannya bgus thor,, hotnya jg dapet ..
    Rasanya aq ikut peran di sana(?)..
    ~nice ff..^^

  8. suka bgt deh ma kata kata nya, pas bgt ga terlalu puitiS gmna gthu, suka deh ^^

  9. kadang ngebayagin diri gue sama someone..
    agak bingung juga sih tp good job lah tthor ^^

  10. Author!!!!!Nama gw Park eun kyo jugaaaa
    Real loh thor gw gak ganti
    Adoooh gw bakal digaplak sora apa taeyeon niih

  11. Kak author,kak eun kyo,HYOMI disini…mau ninggalin jejak merah (?)
    Wesss kak eun kyo masukk sama leeteuk oppa aku irilah… XD
    Taeyeon dan sora berilah jiplakan spesialmu XD haahaha

  12. Vicky sarang him

    DAEBAKK, nc gni gk ada kta ksarnya,, bagus3 xixixi
    Readers baru, annyeong…. Victoria Sunny Park, can call me Vicky or Sunny ^^

  13. hwaaaaaaa
    beri tepuk tangan utk author#prokk prokk prokk
    ff.na sooooooo sweeeeeeeeeetttttttttt bgt kata”.na romantis dan mnurut aq ini g cocok utk jd NC cocok.na di ROMANCE thor

  14. Keren ceritany..suka banget dhe pokokny..sering” ya bikin ff seperti ini thor…gomawo ya thor 화이튕! (҂’̀⌣’́)9

  15. Wow.
    Love it. :3. Suka sama diksinya, ngga eksplisit. Nyastra gitu kalimat-kalimatnya. ^
    Eung, ceritanya emg rada susah dipahamin sih. Tp aku bisa nangkep kondisi perasaannya Eun Kyo sih, yg kurang aku pahamin si Teuk. –”

    Nice. Keep writing ne, author. Hwaiting! ^^

  16. Ga nyangka bakal lembut kayak gini :3 so sweet bangettttt….. walau awalnya ga ngerti sih. bingung ini cewek naksir juga apa ngga-_- tp keren eon! :3

  17. aish..kata2nya lembut bgt… yadong yg sweet bkin sequelnya dong!!!

  18. kikiki…ki ceritanya so cweet beuttt

  19. Wach keren bgt.
    Bikin sequel.a donk.
    Q suka bgt kalo cast.a park jung soo

  20. Wahhhh,, keren thor fell nya kena banget
    Gak bisa ngomong apa2 selain author daebak :D

  21. kang hyo won

    SATU KATA BUAT MU

    AMAAAAZZZZIIINGGG

  22. Bahasa nya… bak pujangga dalam bayangan gairah cinta…

  23. Ne lagu dicari yg mirip apa dari lagu menginspirasi cerita?
    Apapun jawabannya, author hebat.. :)

  24. aku suka yg ga terburu2 , pelan namun pasti
    Love it chingu

  25. huuuaaaaaa~
    kereeeeennn!
    NCnya bikin ngiler.. XD

  26. Kesan rmntisna mnglhkn kesan yadongnya. Alu suka crtina krna kta2na yg lmbt dn mnyntuh hti bngt.

  27. Reblogged this on ZE:A's World and commented:
    Fanfict about Park jungsoo (Can’t stop) re blog yadongfanficindo.com

  28. zhani°^°¢ho

    fufufu…aku suka aku suka….bhsa a enak d dngar ga trkesan vulgar tpi mlh bkin hot…kkk
    gud job chingu^^

  29. Aigo aigo kyaaaaaaaaa kereeennnnnn

    suveh dehhh keyen abisssssss
    squell dong thor jeballll*aegyo hyukkpa

  30. Huaaaa~
    Eun Kyo pintar bnget buat JungSoo turun naik #plakk

    Huaaaa~
    So sweet !!

  31. kyaaaaak….
    #ini super daebakkkkk….
    jempol cuma ada 4, gw kasih semua buat lu thor….
    #alurnya pelan tapi pasti. sweet momennya lebih ngena drpd ncnya,tapi itu yg paling suka thor…
    boleh loh d kasih squel !! (-^,^-)

  32. aku suka, aku suka, aku suka .
    aaa, jd naksir teuki samconi nih thor . :-D

    romance bgt . keren . bhsanya jg bgus .
    daebak dah .

  33. Demi apanyaaaa thorr!!! Sumpah thor bahasa lo keren bingit!!!! Daebak thor! Ajarin gw dong #plakkk xD

  34. ParkjijungcodeXxxxoon

    Aigoo,,,than nafas. But cwenya bukan jiyi yah,,,T_T

  35. bahasa’e bkin aq terhanyut,pelan tp pasti romantis deh pokok’e..
    I like this…

  36. weeni_leonnacker

    Ff ny bgus thor, trmasuk jg penyampaian kata2 ny….
    2 jempol uTK author, next ff ditunggu.

  37. cheon-sa lee

    syair

  38. kereeeeeeen :D
    feelnya kerasa sampe ke ubun2 (?)
    sampe panas dingin bacanya thor,
    ncnya hot sangat, malu2 tapi merong.. wkwk
    ditunggu karya lainnya thor (y)

  39. Wah congrat buat authornya, sy suka pemilihan kata yg di gnkn authir, ff ini terkesan romantis dan puitis, pemlhn ktnya tidak vulgar namun maksud dari si penulis tersampaikan dngn baik, dan reader oun tdk di suguhi dngn kt2vulgar yg kasar dan tdk nyaman di telinga, buat authir ayo lbh bnyk lg ff nya, di tunggu

  40. keren! Like it ,,,

  41. Bahasanya halus jd enak bc nya,,
    I like this :-)

  42. Wiwik love Eunhyuk So Much

    Aq suka bgt,,, bahasanya ga vulgar bgt,, cenderung ke romantis. Apalagi castnya Leeteuk Oppa,,, tmbh suka cenderung ke jatuh cinta!!!!!! Daebakkkk… :)

  43. wah daebak.panas.banget

  44. kta”nya romantis agak puitis thor ! aq suka.daebakk…….!!!!!~~

  45. Nurul Husna

    Keren min.. typonya berserakan tapi its okk..

    Mau kasih sarannich ya.. kalo bisa buat ceritanya yg blun ada truz dimasukin dech unsur yadong nya..aku jamin bakal bnyak yang baca..

    Aku tunggu karyamu lagi yach. Gommawo

  46. Wah daebak keren ff nya cmn memang agak kebelit sih ff nya

  47. okesip,kata2nya keren abis gile dah. kata2nya itu bagaikan puisi yg bersenandung saat bercinta(?) *apadah*

  48. Hahaha stlh ditarik ulur akhirx dpet jg pi pas dpet justru ketagihan haahaahaa

  49. Nyonya jong woon

    Ini baru yang di namain ff keren :) gak keburu buru ke permasalahan puncaknya(?) ada proses !
    kata katanya keren, kayak di novel² roman/ sad
    keep fighting!! :D

  50. maiianx honeys

    aahhhh aq suka ff mu thor , sumpah nie lembut bgt gg cepet alurnya dan aq suka bangettt >_<

  51. soft.. hot… feelnya dpt bgt.. like it

  52. really love this story!! thanks author, u make my day :D alurnya bagus bgt, nc ny pas bgt, timing ny pas bgt, prfect lah smuanya. tapi maybe teukppa harus sdkit lbih lama foreplay buat eunkyo. soalnya kan eunkyo msi prtma bgt jadi takutnya dy kaget & kurg nyaman kalo lgsung ke main part ^^ hehee udh sgtu aj dr aku. keep writing yaa author :)

  53. Perfect ↖(^▽^)↗

  54. vhya elfishyoonaddict pyrotechnic

    penyampaian bahasanya keren banget.
    Feelnya ngena banget.
    Mereka so sweet banget.
    Ffnya daebak banget.

    Dan kuharap ada sequelnya ya.

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 873 other followers

%d bloggers like this: