My Sister’s Husband

Author : hyehoonssi
Cast : Choi Hye Hoon (OC)
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Choi Hye Rin (OC)
Genre: Romance
Rating : NC 17/ NC 21
Kategori : Yadong, Romance, Sad

ALERT : Mungkin ini gak hot ya, aku gak bisa bikin ff nc hehehe /plak
btw, kalau ada banyak yang suka sama FF ini, aku akan bikin sequelnya J
RCL yaa and NO BASH ^^

 

Author’s POV

Kamar itu sunyi.  Ruangan tersebut cukup remang karena hanya mengandalkan cahaya dari bulan yang ada di langit gelap itu, membuat gadis berparas cantik itu semakin menikmati kesempurnaan dari lekuk wajah yang dimiliki orang yang berada di sampingnya. Hye Hoon mengubah posisinya, menopang kepalanya dengan tangan kanannya sendiri. Setelah posisinya nyaman, dia menelusuri lekuk wajah yang dimiliki lelaki tampan itu dengan jemarinya, merasakan kelembutan ketika jari-jarinya bersentuhan dengan kulit lembut lelaki tampan itu.

Kilasan memori tentangnya terlintas begitu saja dalam pikiran Hye Hoon.  Lee Donghae, orang yang berada sekamar dengannya itu, adalah lelaki terpenting di hidupnya.  Hye Hoon telah mengalami berbagai hal menyenangkan bersamanya, walaupun kepedihan yang dikecap oleh gadis itu lebih mendominasi.

Mereka memaksakan keadaan sehingga membuat dirinya semakin terluka.

Kepedihan itu selalu menyiksanya.  Gadis bermata coklat itu terlalu sering mengeluarkan cairan tak berwarna yang berharga itu karena Lee Donghae.

Entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan semua kenyataan yang menimpa mereka sekarang.  Memang hal itu tidak bisa diubah, dan mereka berdua harus menerimanya.  Air matanya meleleh ketika ia mengingat semua takdir yang terjadi kepada mereka, sehingga Hye Hoon tidak bisa memiliki lelaki itu seutuhnya.

Donghae terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara isak tangis dari bibir wanitanya. Selalu seperti ini. Hye Hoon selalu menangis setiap kali wanita yang dicintainya itu tidur di sampingnya. Gadis itu selalu berkata kalau mereka melakukan kesalahan besar. Ya, Donghae juga menyadari kalau yang mereka lakukan itu tidak benar. Tetapi, itu semua karena takdir, kan? Dia juga ingin mengubah takdir itu hanya untuk bisa memiliki gadisnya dengan cara yang benar.

Egois? Ya. Donghae tidak menampik kalau dirinya juga termasuk ke dalam orang yang memiliki sifat tercela itu.  Dia beralasan, cinta juga membutuhkan sebuah keegoisan untuk mendapatkan kebahagiaan, jika memang semuanya itu tidak bisa tercapai dengan cara yang sewajarnya.

“Berhentilah menangis. Kau membuatku seperti orang terjahat di dunia”. Donghae berkata lirih.  Suaranya masih serak karena semenjak dia masuk ke ruangan ini beberapa jam lalu, dia tidak menghilangkan dahaganya sekalipun.  Dan mungkin saja suaranya habis karena aktivitas yang mereka lakukan tadi. Terlalu banyak mendesah, mungkin?

Suara lelaki berusia dua puluh enam tahun itu sangat lembut tetapi hal tersebut malah membuat tangisan sang gadis semakin keras. Dia membawa gadis itu ke pelukannya, dan dalam sekejap kulitnya merasa dingin karena dada bidangnya basah oleh air mata dari yeoja itu.  Donghae mengusap pelan rambut lurus Hye Hoon untuk menenangkan gadis berambut panjang itu.  Tetapi Donghae sangat mengetahui kebiasaan Hye Hoon.  Wanita itu tidak akan berhenti menangis sebelum dia kelelahan atau karena kehabisan stock air matanya.

Setelah tangisannya mereda, Hye Hoon mulai membuka pembicaraan sambil memainkan perut Donghae yang terbentuk, memberikan sentuhan hangat pada lelaki tampan itu.

“ Haruskah kita berpisah? Kurasa Eonnie sudah mulai mencurigaimu, Donghae~ya. Kita tidak mungkin selamanya seperti ini, kan?”

Donghae menahan rasa geli sekaligus nikmat yang dia rasakan karena sentuhan Hye Hoon. Dia mencoba mengendalikan dirinya. Hye Hoon tidak berniat menggodanya sepertinya, karena wanita itu sepertinya sedang serius sekarang.

“ Kenapa kau selalu melarangku untuk segera menceraikannya? Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu lagi, Hoon~ah”.

Hye Hoon menghentikan gerakan tangannya di perut Donghae. Dia menengadahkan lehernya untuk menatap mata teduh lelakinya itu dalam.

“ Aku tidak akan pernah tega untuk menghancurkan rumah tangga orang yang sangat kusayangi. Kau tahu itu, kan? Aku ………….”

Donghae sudah bosan mendengar semua alasan yang dilontarkan gadis itu. Dia segera membungkam bibir Hye Hoon dengan bibirnya. Dia melumat bibir gadisnya kasar. Awalnya, Hye Hoon menolak dengan ciuman tersebut, tetapi lama-kelamaan akhirnya dia luluh juga. Hye Hoon membalas setiap lumatan Donghae yang semakin rakus dari sebelumnya.

Tangan Donghae tidak tinggal diam. Dia meraba seluruh permukaan kulit gadis itu yang bisa digapainya. Pekerjaannya itu lebih mudah karena sejak tadi tubuh gadisnya itu memang tidak terbalut apapun. Hye Hoon hanya bisa mendesah pasrah dan mulai melupakan masalah yang selalu mengganggu pikirannya.

Donghae tidak berniat untuk melakukan ‘itu’ lagi. Karena jujur, dia sudah sangat lelah. Tetapi dia harus melakukannya agar Hye Hoon lupa dengan masalah yang memenuhi seluruh bagian otaknya.

Hye Hoon tidak menyadari kapan tepatnya selimut yang sedari tadi menutupi tubuh mereka sudah tergeletak di lantai.  Dia terlalu terhipnotis dengan semua sentuhan dari kulit Donghae dan menikmati bibir lelaki itu yang sudah menjelajahi semua bagian dari tubuh ‘naked’ nya.  Dan sekarang mulut lelaki itu kembali menghisap dadanya seperti orang yang sedang kehausan.  Hye Hoon bergerak gelisah karena di saat yang bersamaan jemari lelaki itu juga menjamah organ vitalnya, mencoba memasuki titik rangsangnya.  Setelah beberapa saat, Hye Hoon merasakan euphoria yang berlebihan saat merasakan kembali puncak kenikmatan itu.  Dia mendesah memanggil nama lelaki yang berada di atasnya tersebut.

Donghae tidak tinggal diam.  Merasakan kalau Hye Hoon sudah mencapai ‘klimaks’ membuatnya mengeluarkan jarinya dari dalam sana.  Sebagai gantinya, dia menggesekkan ‘junior’nya ke organ kewanitaan Hye Hoon.  Mereka mendesah bersamaan.  Mendengar suara desahan wanitanya membuat Donghae semakin terangsang dan sedikit cairan kental keluar dari ujung kejantanannya.

Donghae kembali mencium bibir Hye Hoon untuk mengalihkan rasa nyeri yang dirasakan wanita itu.  Dia mencoba menyatukan tubuh mereka seperti sebelumnya.  Tetapi hal itu tidak mudah, karena milik gadis itu yang masih sempit.  Dia mencoba menyatukan tubuh mereka pelan, agar sakit yang gadis yang dicintainya itu rasakan tidak terlalu banyak.

Hye Hoon menahan rasa perih yang menyerang selangkangannya.  Dia menyalurkan rasa sakit itu dengan menggigit bibir Donghae dan mencakar punggung kekar lelaki itu.  Setelah beberapa saat, akhirnya Donghae berhasil memasukkannya dengan sempurna yang membuat keduanya mendesah lega.

Donghae mencium puncak kepala wanita yang dicintainya itu.

“ Saranghae”.

Setelah mendapat persetujuan dari Hye Hoon, akhirnya Donghae menggerakkan tubuhnya pelan.  Dia menaik turunkan tubuhnya dengan lembut, takut menyakiti gadis itu.  Tetapi sepertinya Hye Hoon tidak tahan untuk segera menyelesaikan permainan ini.

“ Oppaa…… ahh….bisakah… lebih….ohhh…cepaaat?”

Donghae tidak menjawab pertanyaan yeoja itu dan mempercepat temponya menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh Hye Hoon,  membuat gesekan antara dua benda itu menimbulkan suara.  Suara desahan memenuhi kamar apartemen itu.  Hye Hoon ikut menggerakkan tubuhnya berlawanan dengan gerakan tubuh Donghae membuat alat vital Donghae menyentuh titik rangsangnya lebih dalam.

“ Oppaaaa….. akuuuu…”

“ Tahan sebentar lagi sayang…”

Mereka berdua mempercepat hentakan di organ sensitif mereka dan kemudian mengeluarkan cairan masing-masing disertai lenguhan yang berasal dari bibir mereka.

Donghae masih berada di atas gadis itu. Dia mengusap keringat di dahi Hye Hoon yang keluar akibat aktivitas mereka tadi.

“ Gomawo, Hoon~ah”.

***

Hye Hoon membuka matanya perlahan setelah merasakan matanya silau karena sinar matahari yang masuk diantara celah-celah gorden di kamarnya. Seperti biasa, Donghae sudah tidak ada di sampingnya. Donghae memang selalu pulang sebelum dini hari, karena lelakinya itu harus tidur di rumahnya sebelum istrinya bangun.

Memikirkan lelakinya akan tidur di ranjang wanita lain membuat kepalanya pusing.

Hye Hoon melirik meja tidurnya, dan menemukan ponselnya disana. Dia menghidupkan kembali ponselnya itu karena semalam dia sengaja mematikannya, dia tidak mau ada hal yang mengganggunya saat dia berduaan dengan ‘kekasih gelap’-nya. Setelah benda itu menyala, dia mendapati banyak pesan, voice mail, dan panggilan tak terjawab di home screen-nya.

Dan semua itu berasal dari satu nomor yang sama.

Wanita itu tidak ingin repot-repot membaca semua pesan yang dikirimkan kepadanya dan segera memencet speed dial 5. Dia meletakkan handphonenya di telinga dan mendengar bunyi nada sambung.

“ Hoon~ah. Semalam kau kemana? Aku mencarimu di gedung tempat pesta kemarin dan kau tidak ada. Ponselmu tidak bisa dihubungi dan apartemenmu kosong. Aku sangat khawatir, kau tahu?”

Hye Hoon terkekeh pelan. Kyuhyun memang berlebihan. Dia selalu menganggapnya sebagai anak kecil, padahal umur mereka sama.

“ Aku di apartemen. Dan aku tidak mungkin membuka pintu untukmu karena aku sedang sibuk tadi malam”.

Kyuhyun terdiam sebentar tetapi sedetik kemudian berteriak karena dia tahu apa maksud Hye Hoon, membuat Hye Hoon menjauhkan benda elektronik itu dari telinganya karena takut pendengarannya terganggu.

“ Kau meninggalkan pesta ulang tahun sahabatmu dan bersenang-senang dengan lelaki lain? Kau tega sekali Hye Hoon~ah”.

Kyuhyun merasakan perih itu lagi.  Dia tersenyum pahit.  Bahkan dia lebih mementingkan lelaki itu daripada hari special sahabat karibnya?

“ Aku minta maaf. Tadi malam aku benar-benar sangat merindukannya. Dia baru pulang dari Jepang. Kau tahu itu, kan? Emm bagaimana kalau aku memasakkan makanan kesukaanmu hari ini sebagai penebus dosaku kemarin malam?”

***

Hye Hoon memasak makanan kesukaan sahabatnya itu dengan serius. Hanya memasak jjangmyeon memang, tetapi rasanya sangat sulit bagi Hye Hoon karena dia jarang sekali berkutat dengan masalah dapur.

Kyuhyun duduk di meja makan, masih memperhatikan wanita di hadapannya dengan seksama. Gadis itu memang selalu terlihat ceria, tetapi sebenarnya banyak masalah yang harus dihadapinya. Dia memang pintar untuk menyembunyikan kesedihannya.

Dan Kyuhyun selalu ingin melindunginya, apapun yang terjadi.

Kyuhyun sendiri tidak menyadari bahwa langkah kakinya membawa dirinya dengan perlahan mendekati tubuh wanita itu dan dengan sekali gerakan mendekap wanita yang terlihat rapuh itu dari belakang. Dia mencium sekilas leher gadis itu, membuat Hye Hoon bergidik pelan.

Kyuhyun melihat tanda merah keunguan disana.  Ya, mereka melakukannya lagi.  Hye Hoon memang sudah buta akan pesona lelaki itu.  Hye Hoon rela merendahkan dirinya untuk menjadi wanita kedua bagi pria menyebalkan itu.  He is her sister’s husband for God’s sake.

“ Kyuhyun~ah, lepaskan. Kau menghambat pekerjaanku untuk membuatkan jjangmyeon enak untukmu”.

Hye Hoon masih sibuk mencampurkan mie itu dengan bumbu dan tidak menyadari kalau Kyuhyun sedang menenangkannya.

“ Katakan padaku, kau ada masalah lagi dengannya?”

“ Bukan masalah besar, Kyuhyun~ah”.

Seperti biasa, Kyuhyun memang selalu tahu apa yang sedang dirasakannya. Hye Hoon tidak bisa menyembunyikan apapun dari teman terdekatnya itu.

“ Tak apa. Katakan padaku”.

“ Eonnie mengetahui ada seseorang yang masuk ke hotel Donghae saat dia di Jepang bulan lalu. Aku tidak tahu siapa yang membocorkannya, tapi yang jelas sekarang Eonnie lebih protektif terhadap Donghae”.

Kyuhyun membalikkan tubuh Hye Hoon dan menatap wajah cantik gadis itu. Tiba-tiba dia teringat wajah gadis kecil yang selalu manja kepadanya dulu. Gadis yang sejak dulu dicintainya itu sudah banyak berubah sekarang.

“ Kau tak bisa selamanya menyembunyikan semua ini. Bagaimana kalau Hye Rin tahu? Orang tuamu pasti akan kecewa padamu. Aku takut semua orang menganggapmu wanita murahan. Aku takut semua orang membencimu, menyalahkanmu, mencaci maki dirimu. Aku tidak mau semua itu terjadi. Kumohon, berhentilah. Tinggalkan dia, Hoon~ah”.

Hye Hoon menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak bisa menahan air mata yang menetes di sudut matanya. Semua yang dikatakan Kyuhyun itu benar, kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi.  Tetapi sampai kapanpun dia tidak rela untuk melepas lelaki yang dicintainya itu.  Meninggalkan Donghae akan membuatnya merasakan sakit seperti dulu lagi. Tidak. Tidak untuk kedua kalinya.

“ Tapi kau akan selalu ada di sampingku, kan? Itu semua cukup, Kyu. Aku hanya butuh kau di sampingku dan semuanya akan baik-baik saja”.

Kyuhyun mengusap pipi Hye Hoon lembut.  Dia sangat tersentuh. Ternyata dia adalah orang yang penting di hidup wanita itu sekarang.

“ Pasti. Aku pasti akan selalu ada di sisimu, Hoon~ah”.

***

Hye Rin tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Dia tersenyum setiap kali membayangkan apa ekspresi yang akan ditunjukkan suaminya nanti. Dia sangat tidak sabar untuk memberi tahu suaminya kabar baik itu.

Dia ingin suaminya yang pertama kali tahu tentang hal ini. Maka dari itu, yeoja bermarga Choi itu meminta suaminya untuk pulang lebih awal, sebelum orang tua dan keluarga mereka datang ke rumah ini.

Suara klakson mobil terdengar. Dan otomatis penjaga rumah membuka pintu gerbang tersebut karena melihat majikannya datang.

Senyuman Hye Rin melebar. Dia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya dan mengatakan semuanya.

Dia menunggu di pintu depan, dan suaminya pun masuk ke rumah mewah itu. Dia membawakan tas kantor yang dijinjing suaminya dan menggandengnya menuju kamar mereka.

Donghae tidak mencium gelagat yang aneh dari istrinya, karena hal ini memang terbiasa terjadi.

Setelah sampai di kamar, Donghae melepaskan jas yang terpasang di tubuhnya dan setelah itu Hye Rin membantu untuk melepaskan dasi yang terpasang di leher Donghae dan mulai tersenyum lebar kembali seperti yang dilakukannya sejak tadi.

“ Yeobo, aku punya kabar baik untukmu”.

Donghae tidak menjawab. Dia tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan istrinya karena dia lebih tertarik untuk membuka satu persatu kancing dari kemeja putih yang dipakainya.

“ Aku hamil”.

Mata Donghae melebar. Dia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan istrinya itu. Kepalanya berputar memikirkan apa yang akan terjadi di dalam masa depannya.

‘ Dia akan menjadi seorang Ayah, dari anak seorang wanita yang sama sekali tidak dicintainya?’

Dia menyembunyikan perasaannya dan mendekap wanita itu dalam  dekapannya. Dia harus terlihat bahagia,kan? Seperti yang Hye Hoon katakan, dia harus memperlakukan kakaknya sebagai seorang istri.

“ Gomawo, Hye Rin~ah”.

TING TONG

Hye Rin melepaskan pelukan mereka.

“ Mereka sudah datang”.

“ Siapa?”

“ Keluarga kita tentunya. Kita harus memberi tahu mereka secepatnya, kan?”

***

Keluarga besar yang sebagian besar bermarga Choi dan Lee itu masih menikmat hidangan di hadapan mereka dengan diam. Donghae tak henti-hentinya menatap Hye Hoon khawatir. Apalagi melihat Hye Hoon yang tersenyum padanya sejak tadi, membuat hatinya semakin tak tega.  Dia sebenarnya tidak ingin Hye Hoon tahu hal ini. Setidaknya biar dia sendiri yang memberi tahunya.

“ Aku punya kabar baik untuk kalian semua. Eomonim, kau akan segera mempunyai seorang cucu. Aku hamil”.

Suara teriakan terdengar sangat riuh di ruangan makan itu.  Nyonya Lee dan Nyonya Choi mengambil langkah seribu untuk mendekati menantu dan anak perempuan mereka.  Mereka memeluk Hye Rin dengan erat, serta mengelus perut Hye Rin yang masih datar.  Kepala rumah tangga mereka juga tidak kalah heboh.  Mereka tertawa bahagia sambil membicarakan tentang cucu yang berada di janin Hye Rin dan memikirkan nama yang cocok untuk anak itu.  Terlalu cepat memang, tetapi itulah tanda dari kebahagiaan yang mereka rasakan.  Cucu pertama dari kedua keluarga, tentunya ini menjadi hal yang sangat special.

Hye Hoon segera menundukkan kepalanya, berpura-pura berkonsentrasi kepada makanan yang ada di piringnya. Mencoba menghalau suara teriakan bahagia dari semua anggota keluarganya. Harusnya dia juga bahagia,kan? Sebentar lagi dia akan memiliki seorang keponakan. Tapi hatinya berkhianat. Dia tetap merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya. Matanya memanas, tapi dia mensugesti dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh menangis di depan semua orang.

Kyuhyun menatap tajam lelaki yang berada di seberang mejanya saat ini. Dia sangat ingin menghajarnya sekarang karena membuat gadis yang sangat dia cintai terluka. Apalagi setelah Kyuhyun melihat ekspresi Hye Hoon yang sama sekali tidak baik.

Kyuhyun mengelus punggung Hye Hoon perlahan. Dia berdoa dalam hati semoga Hye Hoon baik-baik saja.

“ Hye Hoon~ah, kau tidak akan mengucapkan selamat kepadaku?”.

Kalimat itu terdengar sangat lantang di telinga Hye Hoon. Dia mencoba menegakkan kepalanya yang terasa berat dan menarik sudut bibirnya ke belakang.

Hye Hoon bangkit dari duduknya dan menghampiri kakaknya. Dia memeluk kakaknya erat, seperti yang tadi anggota keluarganya lakukan.

“ Chukkae, Eonnie. Jaga keponakanku baik-baik. Dan berhentilah bersikap manja, aku tidak mau keponakanku menjadi anak manja sepertimu”.

Hye Hoon terkekeh pelan. Menggantikan isak tangis yang mendesak ingin keluar dari bibir mungilnya.

Hyerin melepaskan pelukan mereka.

“ Itu tidak akan terjadi, Hoon~ah. Aku yakin anakku kelak akan mewarisi semua sifat ayahnya”.

Kalimat itu membuat kepala Hye Hoon sakit. Ani, bukan hanya kepalanya, tapi seluruh tubuhnya.

***

Hye Hoon memejamkan matanya, membiarkan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Dia menggigit bibirnya keras, takut kalau dia mengeluarkan suara apapun yang akan membuat keluarganya curiga.

Dia mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya. Sedetik kemudian, dia membenamkan diri di dada bidang lelaki itu dan melingkarkan tangan mungilnya di pinggang lelaki itu. Hye Hoon menghirup nafas dalam-dalam, ingin merasakan wangi tubuh pria yang didekapnya. Pria itu selalu bisa membuatnya tenang. Pria itu hanya cukup diam untuk bisa membuat suasana hatinya lebih baik.

Kyuhyun membalas pelukan Hye Hoon dan mengelus rambut hitam gadis itu.  Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menenangkannya.  Mungkin ini saatnya Hye Hoon meninggalkan lelaki itu.  Lee Donghae selalu membuat Hye Hoon-nya menangis seperti ini.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Melihat mereka berpelukan membuat dadanya sesak. Dia mengepalkan kedua tangannya erat, menyalurkan semua emosinya pada kepalan tangannya itu.  Menahan keinginannya untuk memisahkan wanita yang dicintainya dari pelukan lelaki lain.

“ Mereka memang cocok, kan? Kyuhyun memang sudah mencintai Hye Hoon sejak lama, tapi adikku itu selalu menolaknya. Tetapi kurasa hubungan mereka semakin dekat sekarang. Adikku memang bodoh jika dia benar-benar menolak lelaki seperti Cho Kyuhyun. Benar kan, Yeobo?”

Laki-laki itu tetap diam. Tidak menggubris apapun perkataan yang dilontarkan istrinya.

‘ Apakah ini alasan sebenarnya kenapa kau ingin pergi dariku, Choi Hye Hoon?”

***

Kyuhyun masih belum mau beranjak dari posisinya. Dia tetap bersikeras untuk menunggui Hye Hoon di sofa yang terletak di kamar apartemen sahabatnya.  Sedangkan Hye Hoon sedang berbaring di ranjangnya.

Mata Hye Hoon terpejam. Tapi Kyuhyun tahu kalau dia belum terlelap.

“ Hoon~ah, apa perlu aku memelukmu sampai kau tertidur?”

Hye Hoon membuka matanya, tak menyangka kalau Kyuhyun tahu akan kepura-puraannya. Hye Hoon terkekeh pelan.

“ Aissh, kapan aku bisa membohongimu, Kyu?”

Kyuhyun mendekati tempat tidur yang ditempati Hye Hoon dan duduk di pinggir ranjang tersebut.  Dia menyentil dahi Hye Hoon dengan kedua jarinya.

“ Membohongiku? Coba saja kalau kau bisa”.

Kyuhyun menjulurkan lidahnya.  Menggoda yeoja itu memang menjadi kebiasaannya.  Apalagi saat suasana hatinya sedang buruk seperti ini.  Dia ingin selalu ada di samping gadis itu.

“ Kyuhyun~ah, aku seorang adik terjahat di dunia ini.  Bagaimana bisa aku sedih karena kakakku mempunyai seorang anak?  Dan aku…aku tidur dengan suaminya sendiri.  Sepertinya aku tidak pantas hidup di keluarga Choi. Aku….”

“  Kau tidak sepenuhnya salah dalam hal ini.  Kau sangat mencintainya, aku tahu itu.  Dan aku tahu bagaimana rasanya…..mencintai seseorang tanpa harus memilikinya”.

Hye Hoon tersenyum miris, dengan air mata yang masih menetes di pipinya.  Kyuhyun mengusap kedua pipinya untuk menghapus cairan itu.

“  Apakah sesakit itu, Kyu? Apakah aku melukaimu sedalam itu?”

Kyuhyun bungkam.  Hatinya membenarkan semua pertanyaan Hye Hoon.  Tetapi dia menyembunyikan semua itu dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya.

“ Kau harus segera tidur.  Aku akan tidur di sofa.  Cepatlah tidur atau aku akan tidur bersamamu di ranjang, memelukmu sampai kau tidur”.

Kyuhyun beranjak dari ranjang yang dia duduki tadi dan bergerak akan menuju sofa yang terletak di kamar itu.  Tetapi, tangan Hye Hoon menahannya.

“ Lebih baik kau pulang, Kyu. Ayolah, aku berjanji aku pasti akan baik-baik saja”.

Kyuhyun menghela nafas. Mungkin Hye Hoon butuh waktu untuk sendiri.

“ Arasso. Tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau akan baik-baik saja”.

***

Donghae memasuki apartemen gadisnya itu setelah memastikan bahwa Kyuhyun sudah meninggalkannya sendiri. Kyuhyun pasti akan marah besar jika mengetahui Donghae mengunjungi apartemen Hye Hoon malam ini, dan dia sedang tidak ingin cari masalah lagi.

Kamar Hye Hoon gelap. Tidak biasanya karena Hye Hoon selalu tidur dengan lampu menyala. Dia menaikkan saklar, membuat ruangan ini menjadi terang seperti biasanya.

“ Aku tahu kau belum tidur. Wae? Karena kekasihmu baru keluar dari sini, sedangkan kau sebenarnya ingin tidur dengannya, begitu?”

Nada itu terkesan sangat tajam di telinga Hye Hoon. Dia semakin mengeratkan genggaman pada selimut yang dipakainya dan menggigit bibirnya kuat.

Donghae menghampiri ranjang itu dan seketika menyibakkan selimut yang dipakai gadisnya itu kasar.

“ Hoon~ah, jadi kau ingin meninggalkanku karena laki-laki itu?”

Hye Hoon membuka matanya. Air matanya mengalir ketika melihat orang yang dicintainya ada di hadapannya.  Apalagi ketika mengingat kenyataan yang harus dihadapinya.  Dia…sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah dari anak yang dikandung istrinya.

“ Dia hanya temanku, Donghae~ya”.

Donghae tidak mendengarkan apa yang dikatakan Hye Hoon dan dengan gerakan cepat menindih tubuh gadis itu. Donghae masih marah dan cemburu ketika melihat kedekatan mereka berdua.

Donghae mencumbu bibir Hye Hoon kasar. Dia menggigit bibir bawah Hye Hoon keras sampai gadis itu berteriak karena kesakitan. Donghae melumat bibir Hye Hoon kasar tanpa menghiraukan yeoja itu yang sedang memberontak di bawah tubuhnya.

Setelah dia puas dengan bibir Hye Hoon, giliran leher jenjang gadis itu yang menjadi sasarannya. Dia mencium dan sesekali menggigitnya sehingga menimbulkan bercak merah disana.  Donghae meremas payudara Hye Hoon yang masih terbungkus pakaian dan bra yang dipakainya.

SRET

Dengan tidak sabar Donghae menarik piyama biru yang dipakai Hye Hoon yang menyebabkan bajunya itu menjadi dua bagian.  Setelah itu dia mencari pengait dari bra yang dipakai Hye Hoon dan membuangnya entah kemana.

Hye Hoon masih berteriak dengan isak tangis yang menyertainya.  Ini pertama kalinya Donghae bertindak sekasar ini.  Dia terbiasa dengan perlakuan Donghae yang lembut saat ‘berhubungan’ dengannya.  Dia sama sekali tidak menikmatinya.  Dia malah menjerit kesakitan saat Donghae menciumi dadanya.

“ Hentikan.  Lee Donghae,  kumohon hentikan.”

Donghae tersadar akan semua perlakuannya.  Dia membuat orang yang dicintainya terluka.  Beberapa saat tadi dia tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.

Donghae menghentikan perlakuannya di tubuh gadis itu. Dia menatap Hye Hoon dalam, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi paras cantiknya.

“  Mianhae, Chagiya.  Mungkin aku terlalu cemburu karena melihatmu dengan Kyuhyun tadi”.

Hye Hoon tersenyum.  Dia menganggukkan kepalanya, tanda kalau dia memaafkan lelakinya itu.  Dia membalas tatapan Donghae yang menatapnya penuh cinta, tidak ada kilatan amarah seperti yang dilihatnya tadi.

Yeoja itu menyembunyikan kesedihannya.  Dia merekam baik-baik wajah lelaki itu di dalam memorinya dan perlahan menarik tengkuk lelaki itu untuk kembali merasakan bibir manisnya.

Terakhir kali.  Hye Hoon berjanji jika malam ini adalah malam terakhirnya bersama lelaki yang paling dicintainya itu.

Hye Hoon mengecup bibir lelakinya itu pelan.  Donghae membiarkan Hye Hoon mengendalikan permainan, sehingga dia hanya diam menerima lumatan dari bibir gadis itu.  Hye Hoon menggigit pelan bibir pasangannya, Donghae mengerti dan membuka mulutnya.  Gadis itu membelitkan lidahnya dengan lidah Donghae membuat Donghae mendesah.

Hye Hoon berpindah untuk mengecup leher lelaki itu, menghisapnya dan melumatnya untuk membuat jejak di lehernya.  Namja itu semakin mendesah saat merasakan bibir lembut Hye Hoon menyapu lehernya.

Gadis itu sudah berhasil membuka kemeja Donghae, dan dia meraba perut berbentuk kotak-kotak milik lelaki itu. Setelah puas, dia menurunkan celana yang dipakai Donghae dan menyentuh benda tumpul milik lelaki itu dari balik boxer yang digunakannya.

Organ vital Donghae semakin menegang.  Ini pertama kali Hye Hoon bersikap agresif seperti ini dan ini membuatnya gila.  Hye Hoon menurunkan pakaian terakhir yang dipakai Donghae.  Dia menaikturunkan milik Donghae yang membuat benda itu membesar.

“ ahh… faster chagi…. ahhhhh”

Kali ini adalah pertama kali Hye Hoon memberikan ‘blow job’ untuknya.  Karena biasanya, Lee Donghae yang memimpin permainan.

Mendengar desahan Donghae membuat Hye Hoon menggerakkan tangannya lebih cepat.  Tentu saja membuat Donghae mendesah lebih keras.  Matanya terpejam menikmati ‘service’ yang Hye Hoon berikan.  Keringatnya membanjiri pelipis dan rambutnya, membuat wajahnya semakin seksi.

“ Bolehkah?”

Donghae meminta izin kepada Hye Hoon untuk segera menyetubuhi gadis itu.  Donghae ingin mengeluarkan cairan kental miliknya di rahim wanitanya.  Setelah mendapat persetujuan dari Hye Hoon, lelaki itu tidak membuang waktu dan segera melepaskan celana dalam yang dipakai Hye Hoon.

Karena sudah tidak sabar, Donghae memasukkan ‘junior’ nya sekaligus sehingga membuat Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri menahan perih.  Setelah mulai terbiasa, Donghae menggerakkan tubuhnya dengan cepat.  Hye Hoon juga mengimbangi gerakan lelaki itu.  Mereka berdua saling memberikan rangsangan lain di bagian tubuh lain pasangan mereka. Dan akhirnya mereka merasakan kenikmatan puncak itu lagi.  Donghae sangat menikmati saat-saat dimana dia menyemburkan cairannya di rahim Hye Hoon.  Mereka berdua memejamkan matanya merasakan sensasi dari persetubuhan mereka.

***

Nafas mereka berdua masih tersengal. Keringat membasahi tubuh polos mereka yang hanya tertutup selimut. Donghae mengelus rambut Hye Hoon dengan penuh sayang.

“ Mianhae, Hoon~ah. Aku sangat bodoh karena tidak mempercayaimu. Aku selalu menyakitimu”.

“ Gwenchana. Aku tahu perasaanmu. Aku juga sering merasakan hal itu”.

Hye Hoon terkekeh pelan.  Donghae menyentil hidung Hye Hoon membuat gadis itu memberengut kesal.

“ Ah, aku lupa memberi selamat kepadamu. Chukkae, sebentar lagi akan ada seseorang yang akan memanggilmu Appa”.

Hye Hoon mencoba tersenyum, walaupun hatinya terasa begitu sakit saat mengucapkan kata-kata itu.  Sedangkan Donghae hanya terdiam, ucapan itu seakan tamparan untuknya, untuk kembali ke dalam kenyataan yang sedang terjadi di hidupnya.

“ Donghae~ya, kurasa kita benar-benar harus berpisah. Hyerin Eonnie dan anak dalam kandungannya lebih membutuhkanmu dan kurasa aku juga akan baik-baik saja tanpamu”.

Donghae terperangah mendengar kata-kata yang diucapkan yeoja itu.  Apakah Lee Donghae sudah tidak berarti lagi dalam hidupnya?

“ Tapi aku tidak akan baik-baik saja tanpamu”.

“ Aku adik iparmu, Donghae~ya. Bagaimana kalau anakmu nanti tahu kalau Appa-nya menjalin hubungan dengan imo-nya sendiri?”

Tidak.  Donghae tidak mau kehilangan gadisnya lagi, dan dia akan melakukan segala cara untuk mempertahankannya.

“ Aku memperlakukan Hyerin seperti istriku sendiri karena perintahmu, dan aku tidak pernah mencintainya, Hoon~ah. Aku tidak ingin menyentuhnya, Hoon~ah. Bahkan aku membayangkan wajahmu saat  menidurinya”.

“ Dia kakakku, dan kau orang yang kucintai. Aku ingin kalian berbahagia. Kau berjanji akan menuruti semua keinginanku, kan? Tinggalkan aku dan belajar untuk mencintainya. Mencintai istrimu dan darah dagingmu sendiri”.

Donghae tidak kuasa menahan air matanya. Sampai kapan gadisnya itu akan mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sampai kapan gadisnya akan mengorbankan dirinya hanya demi kakaknya?

“ Aku tidak bisa, Hoon~ah.  Bagaimana aku bisa mencintainya jika hatiku hanya untuk dirimu? ”.

Hye Hoon tersenyum hambar. Cairan bening itu masih mengalir dari sudut matanya.

“ Saranghae, Lee Donghae”.

***

Semenjak kejadian itu Hye Hoon untuk sementara pindah ke rumah Kyuhyun. Awalnya Hye Hoon akan menyewa apartemen lain tapi Kyuhyun melarangnya. Dia beralasan bahwa Donghae tidak akan mencarinya kesana dan Eonnie-nya tidak akan curiga apapun kalau Hye Hoon tinggal di rumah Kyuhyun.

HUEKK

Sejak kemarin Hye Hoon merasakan mual setiap pagi hari. Mungkin karena dia masuk angin karena akhir-akhir ini dia sering keluar malam untuk menghibur diri, ditemani Kyuhyun pastinya. Kemarin Kyuhyun sudah membelikannya obat di apotek,tapi mengapa masih terasa pusing dan mual? Dia harus segera ke dokter sepertinya.

Tak sengaja dia melihat kalender yang berada di meja ranjang di kamar Kyuhyun yang telah ditempatinya beberapa bulan ini. Dia baru sadar, ternyata dia sudah melewatkan siklus bulanannya minggu lalu.

Hye Hoon menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya, mengusir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya.

Andwae. Tidak boleh ada bayi yang bersarang di rahimnya.

“ Kau Kenapa, Hoon~ah?”

Cho Kyuhyun menatap wanita yang sedang dalam posisi duduk di kasurnya itu dengan cemas. Tadinya dia berniat membangunkan gadis itu untuk menyuruhnya memakan sarapan yang telah dia siapkan. Tetapi saat membuka pintu, dia melihat raut wajah Hye Hoon sangat tidak baik.

Hye Hoon sedikit tersentak dengan kedatangan Kyuhyun. Tubuhnya bergetar. Di pikirannya masih tersimpan pikiran-pikiran buruk tentang sesuatu yang bisa saja menimpanya.

“ Gwenchana, Kyu. Ada perlu apa?”

Kyuhyun masih menangkap ada yang tidak beres dengan Hye Hoon. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, kan? Dia hanya bisa menunggu sampai sahabatnya itu menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.

“ Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama, kaja.”

***

Donghae sibuk menandatangani berkas-berkas yang ada di tangannya. Tetapi sebenarnya dia tidak fokus sama sekali dengan pekerjaan itu. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya bertemu dengan Hye Hoon-nya. Setelah kejadian itu, Hye Hoon sama sekali tidak bisa dihubungi. Gadis itu tidak mengangkat semua panggilannya sama sekali. Bahkan saat Donghae mengunjungi apartemennya, tidak ada seorang pun disana.

‘Jadi dia benar-benar menghindariku?’ batin Donghae.

Suara decitan pintu menghentikan lamunannya. Tak lama kemudian indra penglihatannya mendapati istrinya sedang tersenyum di ambang pintu.

“ Yeobo”.

Hye Rin mendekati meja kerja Donghae. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Dia sangat bahagia karena hari ini dia akan mengajak suaminya untuk memeriksa janinnya. Dia berdoa dalam hati agar Donghae tidak sibuk dan bisa mengantarkannya kali ini.  Setelah dua bulan ke belakang dia selalu ‘mangkir’ dari tugasnya mengantar istrinya ke dokter kandungan.

Dia mencium bibir Donghae sekilas.  Donghae segera menjauhkan kontak fisik yang terjadi antara keduanya. Donghae agak bingung mengapa Hye Rin datang ke kantornya. Karena Hye Rin hanya beberapa kali mengunjunginya di kantor, itu juga karena ada hal penting atau karena mengantarkan berkas Donghae yang tertinggal.

“ Kau masih sibuk? Bisa mengantarkanku check up sekarang?”

Donghae sebenarnya tidak sibuk. Tapi, mengingat soal bayi itu membuatnya jengkel. Bukan karena dia tidak menginginkan bayi itu, hanya saja bayi itu yang membuat Hye Hoon meninggalkannya.

“ Oh ya, nanti sehabis pulang dari rumah sakit aku mengajak Hye Hoon bertemu. Sudah lama kita tidak menemuinya, kan?”

Tadinya dia ingin menolak ajakan Hye Rin untuk menemui dokter dan beralasan kalau pekerjaanya sedang menumpuk dan tak bisa ditinggal. Tetapi tawaran Hye Rin tadi merubah segalanya. Dia sangat ingin bertemu dengan Hye Hoon, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

“ Arasso. Aku akan menyelesaikan berkas-berkas ini. Tunggu sebentar”.

***

Hye Hoon menuruti perintah sang kakak yang memintanya untuk bertemu di suatu restaurant langganan kakaknya. Semenjak Hye Hoon pulang dari Paris, mereka tidak pernah mengobrol berdua seperti dulu lagi, karena status Hye Rin sebagai seorang istri dan kesibukan Hye Hoon sebagai seorang editor yang menyita waktunya.

Hye Hoon mengedarkan pandangannya. Seketika hatinya pedih, ketika melihat ada keluarga kecil yang sedang duduk bersama di salah satu bangku. Sepasang suami-istri itu sedang bermain dengan anaknya yang berusia sekitar satu tahun. Mereka tertawa bersama, saat bayi kecilnya itu belajar mengucapkan kata dengan benar.

Hye Hoon mengelus perutnya pelan. Dia menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya. Dia harus tegar, demi dirinya sendiri dan demi janin yang sedang dikandungnya.  Dia tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya kelak, tapi dia sendiri bisa membahagiakan anaknya sendiri, kan?

“ Maaf, Eonnie terlambat. Kau sudah lama disini? Tadi kami berkonsultasi dulu dengan dokter sebentar mengenai kehamilanku.  Dongsaeng~ah, kau baik-baik saja?”

“ De? Gwenchana Eonnie. Aku mengerti.  Oh, Annyeong haseyo, Oppa”.

Hye Hoon menyunggingkan senyumnya untuk menyapa kakak iparnya itu.  Dia menahan segala rasa sakit ketika menatap mata lelaki itu.  Dia tahu kalau lelaki itu sama hancurnya dengan dirinya sekarang.

“ Kehamilanmu… baik-baik saja, Eonnie?”

Wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya itu tersenyum lebar.  Sepertinya topik yang ditanyakan Hye Hoon membuatnya sangat bersemangat.  Baiklah, semua wanita bersuami pasti akan sangat bahagia dengan kehamilan pertamanya.

“  Hmm. Tentu saja. Kami menjaganya dengan baik. Iya kan, Oppa?”

Hye Rin melirik Donghae, meminta dukungan dari suaminya itu.  Hye Hoon juga ikut menoleh ke wajah kakak iparnya dan lelaki itu mengangguk kikuk.

“ Kau juga baik-baik saja, Hoon~ah?”

Sapaan itu membuat Hye Hoon tersentak.  Berbagai macam perasaan bergemuruh di dadanya.  Untuk sejenak dia terdiam dan membalas tatapan lelaki di samping kakaknya itu.  Di satu sisi dia sangat merindukan wajah itu tetapi di sisi lain hatinya tersayat ketika melihatnya.

Apa yang dipikirkannya menguap begitu saja ketika menyadari wanita cantik yang berada di depannya itu memandang keduanya bingung. Hye Hoon tidak ingin menimbulkan kecurigaan apapun.  Tidak karena itu semua akan membuat keadaannya semakin parah.

“ Aku baik-baik saja, Oppa”.

Hye Hoon menambahkan senyum saat mengucapkan kata-kata itu.  Senyumannya terlihat sangat kaku, dan Donghae sangat menyadari itu.  Donghae tahu bahwa apa yang dikatakan Hye Hoon berbanding terbalik dengan keadaan dirinya sekarang.  Keadaan mereka berdua lebih tepatnya.

“ Hye Hoon~ah, bisakah kau tinggal di rumah kami? Aku butuh seseorang untuk menemaniku.  Kau tahu Oppa-mu itu sangat sibuk, kan? Jebal, masa kau tega membiarkan Eonniemu yang sedang hamil ini sendirian di rumah setiap hari, huh?”

***

“ Hye Hoon~ah, ini milikmu?”

Kyuhyun mengacungkan sebuah test pack yang terdapat dua garis merah di permukaannya.  Dia tidak sengaja menemukan benda itu di tempat sampah yang terletak di kamar mandinya.  Hanya ada seorang wanita di rumah itu dan kemungkinan besar benda itu milik Hye Hoon, kan?

Kyuhyun ingin mendengar penolakan tegas dari bibir sahabat wanitanya itu.  Tetapi yang dia dapati adalah Hye Hoon yang menundukkan wajahnya dan memainkan jari-jarinya.  Kebiasaan yang dimiliki Hye Hoon saat dia sedang gugup.

“ Choi Hye Hoon~ssi, ini bukan milikmu, kan? Katakan Hye Hoon~ah, KATAKAN BENDA ITU BUKAN MILIKMU!”

Kyuhyun menaikkan suaranya.  Dia menghalau semua ketakutan yang menyergapnya. Tidak.  Hye Hoon tidak boleh mengandung anak dari lelaki brengsek itu.

Kyuhyun terperangah ketika melihat tubuh ringkih Hye Hoon melorot ke lantai.  Isak tangis dari bibirnya mulai terdengar.  Gadis itu terlihat sangat rapuh sekarang.  Hye Hoon mengeluarkan semua perasaan sakit yang dirasanya saat ini. Pertahanannya hancur.  Hanya di hadapan Kyuhyun dia bisa dengan gamblang mengeluarkan semua perasaannya.

“ Mianhae, Kyuhyun~ah. Aku selalu mengecewakanmu”.

***

Hye Hoon memasukkan semua pakaian ke koper miliknya sambil sesekali mengusap air matanya.  Bibirnya masih bergetar.  Masih terbayang di ingatannya saat Kyuhyun berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya yang sedang berlutut di lantai.

Hye Hoon menyeret kopernya dan keluar dari apartemen itu.  Dia tidak ingin melibatkan Kyuhyun lebih lama dalam masalahnya.  Dia harus menghadapi masalahnya sendiri.

Malam yang dingin tidak menghentikan langkah kaki Hye Hoon.  Dia terpaksa berjalan kaki ke apartemennya, padahal kawasan apartemennya itu berjarak cukup jauh dari apartemen Kyuhyun.  Dia terlalu terburu-buru sehingga meninggalkan dompetnya di kamar.

Setelah beberapa menit berjalan kaki, dia merasakan anggota tubuhnya lemas.  Mungkin ini efek dari semua beban masalahnya dan perutnya yang belum terisi sejak pagi tadi.  Dan katanya orang hamil akan lebih mudah capek, kan? Mungkin keadaan itu juga yang terjadi padanya.

Dia merasakan kepalanya berputar.  Salah satu tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.  Kepalanya makin berputar hingga semuanya menjadi gelap.

***

Hye Hoon membuka matanya pelan.  Perlahan dia merasakan rasa nyeri di kepalanya.  Sakit yang dia rasakan tadi masih ada ternyata.  Tapi memang sekarang rasanya keadaan dia makin membaik.

Dia mengamati ruangan di sekelilingnya.  Ruangan bercat putih dengan hanya terdapat satu ranjang dan satu lemari kecil di sampingnya.  Bau khas obat menyeruak di ruangan itu.

Seorang lelaki separuh baya memasuki ruangan itu.  Dia memakai jas putih dan berjalan ke ranjang Hye Hoon sambil mengamati kertas-kertas putih yang dibawanya.  Dia melirik Hye Hoon sebentar dan membungkuk sekilas untuk menyapa pasiennya.

“Kami sudah memasukkan nutrisi ke tubuh anda, kondisi anda baik-baik saja sekarang.  Kami juga sudah menghubungi keluarga anda, setelah mereka datang kesini anda bisa segera pulang”.

Dokter itu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan. Sebelum itu, Hye Hoon teringat sesuatu yang penting dan mencegah pria itu untuk pergi.

“ Uisa-nim”.

Lelaki itu menoleh.  Hye Hoon menarik nafas dan perlahan mencoba mendudukkan dirinya di kasur pasien tersebut.

“ Bisakah kau merahasiakan tentang janin yang aku kandung dari keluargaku?”

***

Setelah hanya satu hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Hye Hoon diizinkan untuk pulang.  Bukan pulang ke apartemennya atau ke apartemen Kyuhyun tentunya, karena Hye Rin tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Dia, mau tidak mau, harus tinggal bersama keluarga kecil itu.

Hye Hoon sangat ingin menolak untuk tinggal bersamanya.  Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada semua orang bahwa dia tidak mungkin berada dalam satu atap dengan mereka.  Tetapi, sayangnya dia tidak punya alasan yang ‘ aman ‘ untuk hal tersebut.

Hanya beberapa hari dan dia bisa secepatnya angkat kaki dari rumah ini.

Sebenarnya, rumah itu benar-benar adalah rumah impiannya.  Rumah minimalis dua lantai dilapisi cat berwarna coklat muda.  Furniture-nya tidak terlalu banyak sehingga rumah tersebut terlihat lebih luas dari aslinya.

Dengan antusias Hye Rin menunjukkan kamar tamu yang akan dipakai adiknya untuk sementara waktu.  Kamar tersebut masih berada di lantai satu, berdampingan dengan pintu kamar utama.

“ Bagaimana? Kau suka disini?”

Hye Rin tersenyum lebar.  Dia tak kuasa untuk tidak menunjukkan rasa bahagianya.  Berada dekat Hye Hoon membuat dirinya sangat senang.

Hye Hoon duduk di ranjang empuk di kamar tamu itu dan tersenyum simpul kepada wanita yang sedang menyimpan kopernya itu ke dekat lemari.

“ Tentu saja. Eonnie, kau tidak punya pelayan di rumah ini? Kau sedang hamil, tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat di rumah.  Perlukah aku memanggil bibi Kang untuk menemanimu disini?”

Hye Rin mendekat ke arah tempat tidur di kamar itu dan duduk di samping Hye Hoon.  Hye Hoon masih sama, pikirnya.  Dia selalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan malah mengabaikan dirinya sendiri, terutama kesehatannya.

“ Gwenchana.  Aku bisa merekrut seorang pekerja bila aku tidak sanggup lagi melakukan semuanya sendiri.  Oppa-mu juga tidak pernah menyinggung soal ini, kurasa dia kurang suka kalau ada orang asing di rumah ini”.

Suara deru mobil di luar rumah menandakan ada orang yang datang.  Hye Rin tersenyum senang.  Tidak salah lagi, mobil tersebut pasti milik suaminya.  Ini adalah kejadian langka.  Donghae memang jarang pulang cepat, karena pekerjaannya sebagai Direktur Lee Coorporation menyita waktunya.

“Kurasa Donghae Oppa sudah pulang. Kau mau menemuinya? ”.

Hye Hoon menggeleng cepat.  Dia memang tidak ingin menghindari kakak iparnya itu tetapi belum saatnya untuk bertemu lagi dengannya.

Hye Rin mendesah kecewa.

“ Baiklah, kau istirahatlah yang banyak. Eonnie akan membangunkanmu pada saat jam makan malam”.

***

Ruangan makan di rumah itu terasa sunyi.  Mungkin karena hanya ada dua orang yang berada di tempat itu.  Suasana canggung terasa sangat kentara.  Sebenarnya ada banyak sekali topik yang ingin Donghae bicarakan dengan gadis itu.  Tetapi tidak di tempat ini.  Bibirnya kelu untuk sekedar menyapa orang yang sangat dicintainya itu.

Hye Hoon menunduk, merasakan lelaki di depannya itu sedang menatapnya tajam.  Dia lebih memilih mengkonsentrasikan diri memandangi lantai di ruangan itu, walaupun sebenarnya tidak ada yang menarik.  Dia menghela nafas  berkali-kali, berusaha untuk menghilangkan kegugupan yang bersarang di tubuhnya.  Dia menyadari bahwa dia tidak akan mungkin bisa menghilangkan semua perasaan itu.   Perasaan ketika dia ada berada di dekat kakak iparnya sendiri.

“ Maaf membuat kalian menunggu.”

Suara feminim itu sontak membuat dua orang yang sedang berdiam diri tersebut menengok ke arahnya.  Hye Hoon menambahkan senyum tipis yang ditujukan kepada kakak perempuan satu-satunya itu.

Seketika Hye Hoon merasakan pusing dan mual saat mencium bau masakan yang dihidangkan oleh kakaknya.  Saat makanan itu berada di depannya, dia merasa perasaan pusing dan mual itu makin menjadi.  Dia mencoba menahan rasa sakit itu berkali-kali, namun gagal.  Karena sekarang wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi.

“ Hoon~ah, gwenchana?”

Donghae mengutuk lidahnya sendiri.  Dia tidak bisa menahan rasa khawatir yang muncul dalam dirinya saat melihat perubahan raut muka gadis itu.

Hye Rin merasakan sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya saat melihat ekspresi suaminya yang sama sekali tidak baik.  Tidak pernah.  Suaminya itu tidak pernah menunjukkan raut wajah seperti itu kepadanya.  Bahkan saat dia mengalami kecelakaan waktu itu, saat kepalanya dibalut perban karena dia mengalami gegar otak.

Sedetik kemudian dia mengusir semua pikiran buruk yang sedang menghantuinya.  Tidak. Donghae dan Hye Hoon tidak mungkin mengkhianatinya.

Hye Rin juga mengamati perubahan yang terjadi pada diri Hye Hoon. Hye Hoon seperti merasa mual saat dia menyajikan makanan di ruang makan.

Bukankah makanan itu adalah makanan kesukaan Hye Hoon ?

Hye Rin sengaja memasak sup ayam untuk menyambut kedatangan Hye Hoon.  Tapi mengapa malah seperti ini? Bayangan senyuman bahagia dari adiknya itu terhempas begitu saja saat melihat wajah Hye Hoon berubah pucat.  Apalagi sekarang dia melihat adiknya itu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya dan segera berlari ke kamar kecil.

Aneh.  Apakah penyakitnya itu berhubungan dengan pencernaan?

***

Hye Hoon tidak menggubris apa yang dikatakan Donghae kepadanya.  Dia juga tidak mau memikirkan apa yang berada di benak kakak kandungnya sekarang.

Rasa mual yang dirasanya sejak tadi semakin menjadi.  Dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan segera melangkahkan kaki ke kamar kecil.

Dia mencoba mengeluarkan apa yang ada dalam isi perutnya.  Tetapi hasilnya nihil.  Tidak ada apapun kecuali air yang ada dari dalam tubuhnya sendiri.

Dia melihat tampilan wajahnya di cermin.  Wajahnya sangat pucat.  Apakah semua orang hamil akan mengalami hal yang sama sepertinya, alergi pada makanan favoritnya sendiri?

Hye Hoon menghela nafasnya berkali-kali.  Rasa mual itu memang sudah berakhir tapi dia sedang memikirkan apa alasan yang tepat agar dia tidak dicurigai.  Tidak boleh.  Keluarganya tidak boleh tahu tentang hal ini.

TOK TOK

Seseorang mengetuk pintu kamar mandi tersebut.  Tubuh Hye Hoon menegang.  Dia pasti akan diinterogasi habis-habisan setelah ini.

Hye Hoon mengeluarkan semua keberanian yang dia punya dan memegang knop pintu. Saat tangannya akan memutar kenop pintu itu, suara sendu yang sangat dia kenal memanggil namanya.

“ Hoon~ah”

Dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan kecil itu.  Terdengar suara helaan nafas dari orang yang berada di balik pintu itu, menandakan bahwa pria itu masih berada di sana.

“ Wae? Kenapa kau menghindariku? Aku sakit Hoon~ah, sangat. Hatiku sangat sakit. Aku tidak bisa hidup dengan baik, walau kenyataannya aku melakukan semua rutinitasku.  Aku bosan bersandiwara di depan semua orang kalau aku baik-baik saja tanpamu.  Apa kau merasakan semua itu juga, Hoon~ah”.

Diam.  Wanita itu hanya bisa terdiam mendengar penuturan lelaki itu.  Tanpa terasa butiran-butiran air mata meleleh ke pipi mulusnya.  Dia menahan mulutnya dengan tangannya sendiri agar isakannya tidak terdengar.

‘Aku juga merasakannya, malah rasa sakit itu mungkin lebih parah dari yang kau rasakan ‘.  Hye Hoon sangat ingin mengatakan kalimat itu, tetapi mungkin kata-kata itu hanya bisa didengar oleh hatinya sendiri.

“ Jaga dirimu baik-baik, Hoon~ah.”

***

“ Eomma.”

Seorang wanita paruh baya memasuki rumah kecil itu dengan koper di tangan kanannya.  Dia masih terlihat segar, walaupun sepertinya kondisinya kurang baik karena masih mengalami ‘jet-lag’. Dia menerima pelukan yang diberikan oleh anak sulungnya itu.

“ Hye Rin~ya, bagaimana keadaan adikmu?”

Hye Rin melepaskan pelukan mereka.  Dia tersenyum tipis menatap ibunya yang sangat dia sayangi itu.

“ Keadaannya semakin membaik.  Tetapi kemarin dia sempat mual-mual saat mencium bau masakan yang kubuat, padahal aku memasak makanan kesukaannya.  Apakah kemampuan masakku seburuk itu, Eomma? Atau itu memang pengaruh dari penyakitnya?”

Nyonya Choi mengerutkan keningnya. Setahunya, masakan Hye Rin sangat enak, bahkan hampir setara dengan kemampuan masaknya sendiri.  Dan juga Hye Rin bilang anak keduanya itu pingsan karena kelelahan, kan? Tidak ada hubungannya dengan pencernaan sama sekali.

***

Wanita paruh baya yang bernama Kim Ji Rim tersebut prihatin ketika melihat keadaan anak bungsunya.  Gadis itu terlihat rapuh dan dengan wajah dan bibirnya yang pucat.  Dia menarik kursi di samping ranjang mewah itu dan duduk di atasnya.  Tangannya terulur mengelus-elus rambut hitam gadis itu.  Tak lama kemudian telinganya menangkap gumaman yang berasal dari mulut gadis bernama Choi Hye Hoon itu.

“ Aku tidak akan pergi ke Paris.  Andwae.  Berhenti memaksaku, Appa. Jebal.”

Jong Eun tersentuh dengan penuturan tidak sadar dari anak perempuannya tersebut.  Bahkan kepergiannya ke Paris dua tahun lalu termasuk dalam kategori mimpi buruk bagi putrinya.  Dia beralih menyentuh dahi anaknya yang penuh dengan keringat, membersihkannya dengan lembut.

Isakan kecil mulai menghiasi bibir Hye Hoon, dan hal itu membuat Ji Rim mengelus pipi gadis itu. Beberapa tetes air mata mulai menetes dari pelupuk matanya ketika melihat keadaan Hye Hoon yang sangat menyedihkan untuknya.  Sebagai seorang Ibu, dia tentu ingin melihat kedua putrinya berbahagia.  Sangat sulit untuknya ketika ternyata dia harus mengorbankan kebahagian anaknya sendiri demi yang lainnya.  Tetapi kenyataan berkata lain, dia harus melihat salah satu anaknya menderita,dan dia tidak pernah menyadari jika penderitaan Hye Hoon separah ini.  Karena setelah kembali ke Korea, Hye Hoon bersikap seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelum keberangkatannya ke Paris.

Beberapa menit kemudian, Hye Hoon mulai membuka kedua matanya.  Menyadari hal itu, Ji Rim segera mengusap pipinya untuk menghilangkan cairan yang mengaburkan penglihatannya itu.  Dia menarik bibirnya simetris, membentuk sebuah senyuman yang tulus.

Hye Hoon membalas senyuman wanita terpenting di hidupnya itu.  Dengan gerakan cepat dia bangkit dari tempat tidurnya dan menghamburkan diri ke pelukan hangat ibunya. Hye Hoon sudah lama tidak berjumpa dengan ibunya karena jarak yang membentang dari tempat mereka berdua berada.  Dan ibunya juga memohonnya untuk tidak kembali ke tempat kelahirannya sebelum sampai pada waktu yang ditentukan.  Mengingat hal itu membuat Hye Hoon seperti kembali membuka kenangan pahit masa lalunya.

Mereka melepaskan pelukannya setelah beberapa lama.  Ji Rim menatap putrinya itu lamat.  Kesedihan itu masih terpancar dari mata coklat milik gadis itu.  Dan mungkin kesakitan yang dialami Hye Hoon menjadi lebih parah saat ini, membuat Ji Rim semakin tak tega.

“ Mianhae.  Eomma tidak bisa berbuat banyak saat itu sehingga kau menjadi seperti ini.  Eomma…. “

“ Anieyo, Eomma. Nan Gwenchana.  Tidak perlu meminta maaf padaku.  Semua itu juga untuk kebahagiaan kakak kandungku sendiri, kan?  Dan mungkin aku memang bukan ditakdirkan untuk bersamanya, Eomma”.

Hye Hoon menahan air matanya yang hampir tumpah.  Dia sangat merasa bersalah pada Ibunya.  Dia melanggar janjinya untuk meninggalkan lelaki itu, bahkan dia melakukan pengkhianatan pada kakak perempuannya sendiri.  Tapi semuanya sudah berakhir.  Kisah cinta rumit mereka sudah berakhir.

***

Ada dua orang pria dan dua orang wanita yang sedang berkumpul di ruang tamu kediaman Lee tersebut.  Mereka membicarakan hal-hal yang terjadi belakangan ini, disertai percakapan bisnis antara kedua orang lelaki itu.  Hye Hoon masih menghindari tatapan tajam yang ditujukan seseorang bermarga Lee di hadapannya.  Donghae memang sesekali mencuri pandang kearah Hye Hoon, membuat wanita itu canggung.  Pasalnya, dia tidak mau kalau kedua orang tuanya menyadari kalau ada sesuatu yang belum terselesaikan diantara mereka berdua.

Suara derap langkah kaki membuat obrolan mereka terhenti dan mereka memfokuskan diri memandang wanita hamil yang baru saja masuk dari pintu utama.  Dia membawa sebuah amplop putih di tangannya dan berjalan mendekati dua orang wanita yang duduk berdampingan di ruangan tamu tersebut.

“ Hye Hoon~ah, sepertinya hasil lab-mu sudah keluar.  Oh ya, aku lupa memberitahumu.  Dulu, sebelum kau keluar dari rumah sakit aku meminta Dokter Park untuk memeriksamu.  Dan mungkin ini hasil dari pemeriksaannya”.

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya.  Dia sangat gugup sekarang. Dia yakin apa informasi yang ada dalam amplop itu, yang jika diketahui oleh semua orang, akan merubah garis hidupnya.  Dia sangat ingin mengambil amplop yang dipegang kakak satu-satunya itu, tapi semuanya terlambat.  Dan dia harus menerima segala resiko yang akan menimpanya.

Hye Rin membaca laporan pemeriksaan itu sekilas.  Dia memang tidak mengerti dengan istilah-istilah kedokteran, tetapi dia juga bisa sedikit-sedikit memahami tentang apa keterangan yang ada di dalam kertas tersebut.  Saat melihat tulisan positif yang berada di bagian bawah kertas itu, dia terkejut.  Dia tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Bagaimana bisa?

Wanita itu menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.  Tapi, mulutnya tidak bisa menahan untuk meyakinkan bahwa hal itu tidak benar.  Tidak mungkin, adiknya bukan wanita seperti itu.

” Hye Hoon~ah, aku tahu ini tidak benar.  Tapi, apakah kau sedang…. hamil?”

Hye Hoon membungkam.  Cairan tak berwarna itu mulai menetes dari ujung matanya.  Semuanya terbongkar, dan dia tidak  bisa membela dirinya sendiri.

Lee Donghae terperangah mendengar penuturan istrinya.  Kebisuan Hye Hoon membenarkan segalanya.  Dia merasakan hatinya tercabik.  Amarahnya meluap.  Beberapa detik kemudian ayah mertuanya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri gadis yang masih menangis itu.  Lelaki paruh baya itu melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya, membuat ujung bibir sang gadis bengkak dan mengeluarkan darah. Rasa sakit itu semakin parah memenuhi rongga dadanya.  Terbesit sebuah pemikiran di otaknya. Mungkinkah? Mungkinkah itu anakku?

“ Katakan. Katakan siapa yang menghamilimu? Katakan atau gugurkan kandunganmu.”

Teriakan lelaki bermarga Choi itu membuat tangisan Hye Hoon semakin keras.  Dia memegang erat tangan Ibunya, meminta perlindungan pada wanita itu.  Tetapi sepertinya Eommanya juga tidak bisa berbuat apa-apa, dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda supaya Hye Hoon menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayahnya.

Donghae terhanyut dalam pikirannya sendiri.  Dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan semua kebenaran di depan semua orang.  Sedetik kemudian, dia membuka mulutnya untuk mengungkapkan semuanya.

“ Abeonim, aku akan menjelaskan semuanya padamu.  Sebenarnya aku…..”

“ Akulah ayah dari anak itu, Tuan Choi”

Suara angkuh itu menggema di seluruh penjuru ruangan, membuat semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara.  Lelaki itu menghampiri tempat dimana Hye Hoon dan ayahnya itu yang sedang bersitegang.

“ Kyuhyun~ah.”

Hye Hoon sangat terkejut dengan kedatangan Kyuhyun yang sangat tiba-tiba.  Dan dengan pengakuannya tentu saja.  Dia terlalu banyak berhutang budi pada lelaki itu dan sepertinya hal itu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Choi Seunghyun menatap Kyuhyun tajam.  Dia mengenal Kyuhyun, tentu saja.  Kyuhyun adalah anak dari salah satu sahabat dekatnya.  Kyuhyun berasal dari keluarga terhormat, tetapi yang lelaki muda itu lakukan pada anaknya sungguh tidak pantas.

“ Aku akan menikahinya, Tuan Choi. Secepatnya.”.  Kyuhyun berkata dengan yakin.  Tidak ada keraguan yang ada di benaknya.

Choi Seunghyun menepuk pundak lelaki muda bermarga Cho itu.

“ Itu yang seharusnya kau lakukan, Nak”.

***

Hye Hoon meringis menahan perih saat kapas yang ditetesi alkohol mendarat di ujung bibirnya.  Lelaki itu menatap Hye Hoon khawatir.  Walaupun Kyuhyun melakukannya dengan sangat lembut, tetapi tetap saja terasa sakit.  Akhirnya, setelah beberapa tetesan Kyuhyun menghentikan kegiatannya.

Hening menyelimuti mereka berdua.  Balkon depan rumah kecil ini terasa semakin sunyi.  Hanya suara angin malam yang berhembus, membuat Hye Hoon merapatkan jaket yang ia pakai.  Posisi mereka masih seperti tadi, duduk berhadapan saling menatap mata masing-masing, seakan mendalami apa yang dipikirkan oleh orang yang berada dihadapannya.

Hye Hoon membuka mulutnya, dia ingin meminta penjelasan dari sahabatnya itu satu persatu tentang kejadian tadi.

“ Kyuhyun~ah,  kau mengetahui segalanya, kan? Wae? Kenapa kau harus mengakui anak yang aku kandung adalah anakmu?”

Kyuhyun meletakkan jari telunjuknya di bibir tipis gadis itu.  Kyuhyun mengamati wajah Hye Hoon sebentar.  Wanita itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya.  Dan dia tahu rasa sakit yang dirasakan Hye Hoon semakin menjadi saat pria tak bertanggung jawab itu ada di dekatnya.

“ Ssstt. Mulai sekarang anak itu anakku.  Anak kita.  Apakah tidak sebaiknya kita membicarakan masalah pernikahan?”

“ Kau menikahiku karena kau kasihan padaku, kan? Hentikan ini semua, Kyu.  Aku …. aku akan pergi dari Negara ini untuk merawat anakku sendiri.  Dan kau tidak perlu bersandiwara menjadi suamiku.  Kyuhyun~ah, sudah cukup aku menjadi beban untukmu selama ini.  Aku….”

Kyuhyun mencium bibir gadisnya itu sekilas untuk menghentikan pembicaraan yang menurutnya tidak penting.  Dia tahu, Hye Hoon pasti akan menolak untuk menikah dengannya.  Andai Lee Donghae yang melamarnya, dia pasti akan langsung menerimanya, kan?  Memikirkan kemungkinan itu membuat hatinya merasa sakit.

“ Aku mencintaimu.  Apa alasan itu kurang cukup?”.

 

THE END

About these ads

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 10/01/2013, in OS, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 45 Comments.

  1. keren. tapi kasian hye hoon ama kyu oppa. mereka harus merasa sakit…
    nice FF thor… :)

  2. Kerennn !! :D
    Lanjuuttt dong thorr :)

  3. Lanjut~ sequel thor!!!! Kyuppa harus bhgia~~ g sad ending! Hehheh,,,, pkoknya Daebakkk ^^

  4. bagus………… bikin sequelnya yah min, salut buat Kyuhyun oppa

  5. seriusan aku demen sma ceritanya… Alurnya endingnya cepet bgt chingu…

    Tp aku suk sm penulisannya., berharap ini ada lanjutannya..

  6. Kenapa the end???! Ini ceritanya bagus bangettt! Buat nyesek bacanyaa!
    Wajib banget buat sequel…

  7. Walaupun masalahnya complex tapi seru thorr!!! Apalagi disini kyu sampe rela berkorban gitu , yaampunnnn :((((

    Harus ada sequelnya nih thor, pas kyu sama hyehoon udah nikah><

  8. casanova indah

    ceritanya kerenn palagi dibumbui dg nc, sayang’a kurang hot…

  9. Kereeen bangeeet, oiya thor, kalo donghae ga cinta sama hye rin, kenapa mereka menikah thor??

  10. Lanjut thorr!!
    Penasaran ama masa lalu hye hoon , knpa bisa pisah ama donghae smpai eommanya hye hoon tau……..

  11. Kerennn…… Lnajut donkkk…..
    Khyunppa hrusss bahagia….

  12. Keren…jempol kaki suneo buat author dahh

  13. Kasihan hye hoon
    Tapi kyu juga melas bgt…

    Si Ikan masukan dalem toples aja
    Goreng terus kasih buat makan kucing…..gregetaaannn!!!

  14. Ya.. Cuma segitu..

  15. elah nyesek thor.. seriuss keren bngt… aaa aku penasara knp donghae ga mau jujur saat itu.

  16. Keren, tapi aku maunya Hye hoon sama kyuhyun :*

  17. wae….. kenapa akhirnya gantung thor…
    padahal berharap endingnya ama donghae..
    trs istrinya donghae keguguran dan merelakannya ke adeknya ternyata bukan…

  18. Air mata dah gak kebendung waktu baca kalimat “Akulah ayah dari anak itu, Tuan Choi”
    Daebak thor !! =)

  19. Shin Young min

    Ya ampun :o
    nih ff mirip 100% sama ff yang pernah aku baca di blogger lain o_o” ini copas?cuma diganti nama saja .-.

  20. langitmerah31

    Ҟό̲̣̣̣̥κ̣̝̇ ngegantung sih?

    Lanjut donk..

  21. Aku udah pernah baca FF ni sblumnnya d’Wordpress sblah..smw crta n cast’a sma percis…
    Kok bisa ya???

  22. kerennn
    cinta terlarang

  23. Yahhh kok END … Harus’a kasih jawaban hye hoon ke kyu baru END untuk mengatakan apa ini happy ENDING/sad ENDing :(
    Tapi ga apalah, ini juga udah bagus.. ;)

  24. Kyu emang daebak…
    Aaah neomu sarangheyo kyu^^

  25. Kyuhyun keren bangatt !!! Dia mauu ngakuin klo itu anak dia pdahal mahh bukan ,, lagian slah hye hoon juga sihh udah tauu donghae suami kaka’nya tp mlah ngejalin hub gelap ,, ? wlaupun dulu mreka slng mncntai , semoga hye hoon bisa mulai cinta sama kyupa , kan kasian kyupa ,

  26. ff’nya keren thor, tapi kasihan tuh kyuhyun ma hye hoon, semoga kyu ama hye hoon saling mencintai deh nantinya . hahaha =D

  27. Keren…… Di ff ini sifat kyuhyun & donghae nya terbalik. Di ff2 yg biasa aku bca pasti selalu aj donghae yg baik & kyuhun yg egois :-)

  28. daebak thor, ceritanya seru.
    agak terharu liat pengorbanan kyu yang ngaku-ngaku jadi ayah bayi yang dikandung hye hoon :’)

  29. OMG !!!!!!!!!!
    tadinya ak gak sengaja baca nih ff karena penasaran sm judulx.. tapi sumpah ini complicated banget.. g ngebayangi sakitx si hye hoon, hye rin, n kyuhae oppa.. semua sama” tersakiti :’(
    In ada sequelnya kah?

  30. Kyuhaeeeeyoo

    Yuhuii keren dong ffnya lnjut thorrr, keren sedih kyuhyun kamo setia yaaaa T_T

  31. aQ plg tdk aka dgn crta ttg affair kna pst bnyak yg akan trskiti bkn hnya Hye Hoon tp Hyerin dan jg kluarga bsar mrka^^

    Tp u/ crtanya mmg bner2 krenn koQ ;-)

  32. Keren.. Eonni. Bru prtama bca ff yg kyak gini biasanya cinta prtamanya ama kyu tpi kli ini beda…

  33. nyesek banget ceritanya aku sedih banget

  34. kasian kyuhyun harus nanggung sakit..
    lanjut thor

  35. Weheyyy dalem:””” good job thor! Lanjutkan fighting!;)

  36. kyaaa… sediihhh bgt ceritanya… :’(

  37. JheJesicaKyu

    Woooh ,Hebat.
    Mudah”an ffnya gak abis” ;;)

  38. Suka banget alurnyaaa
    Daebak!!

  39. wahhh ffnya bagus bikin mewek…
    ada part selanjutnya gax author.
    bagi Linknya buat baca selanjutnya yak.jebal

  40. aku udah baca ff ini berkalikali tpi tetep aja feelnya masih dpet bgtttt. aku suka bgt ff ini gangebosenin soalnya^^ dan udah komen berkalikali jga

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,117 other followers

%d bloggers like this: