Let’s Get Ugly

siwon yoochun ff nc

1. Author: N/M

2. Title: Let’s Get Ugly

3. Type: Straight, Romance, Erotica

4. Casts: Park Yoochun (DBSK), Choi Siwon (Super Junior), Min Sung Hyo (OC)


Authors’ Note :

Annyeong, Chingudeul… Kami kembali. Kali ini kami mau mempersembahkan FF ‘the well-mannered actors’, Yoochun dan Siwon.
Well, berkat beberapa request dan saran yang baik, kami sekarang coba untuk pakai satu PoV saja; PoV orang ketiga/PoV author.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya. Kami sangat menantikan komen-komen yang membangun. ^^

_____

                Setitik air mata menetes sekali lagi di salah satu pipi cekung Sunghyo. Pasti mukanya jelek sekali sekarang, ia pikir. Itu butiran air mata ke-entah-berapa yang dapat membuat kedua matanya sebengkak ini. Kesembapan memburamkan penglihatannya, namun ia masih dapat melihat jam berapa sekarang. 01.45 am. Begitu jam dinding digital itu mengumumkan kepadanya. Menjelaskan juga kepadanya, bahwa sudah kurang lebih dari dua jam ia menangis deras.

                Sunghyo menyeka kedua matanya yang pasti dilingkari oleh garis menghitam. Kelelahan yang menimbulkan itu. Kelelahan pikiran, terutama. Beban yang mengungkungi benaknya membuatnya dahi cukup lebarnya terus berkerut. Dan wajah tirusnya terus merengut. Memikirkan atas apa yang akan ia dapatkan dari ucapan dan kisikan jahat orang-orang di luar sana tentang dirinya saja sudah membuatnya sebegininya menirukan mayat hidup.

                Jari-jarinya menelusuri poni dari rambut hitamnya yang bahkan tidak sampai sebahu, menarik hampir semua helainya ke belakang, sehingga menampilkan dengan jelas wajahnya yang ia yakini nampak kacau. Ia lalu menenggelamkan wajahnya di balik kedua lututnya yang ia kunci dengan kedua lengannya rapat-rapat, terisak-isak lagi.

                “Kasihan sekali kalau itu benar, kalau Siwon benar-benar ada hubungan dengan gadis itu.”

                “Ya, gadis itu aneh. Sangat tidak cocok dengan Siwon yang super high-class.”

                Sunghyo mengangkat mukanya, mencari udara, sekaligus memperlihatkan air muka pedih. Ingatan tentang perkataan orang-orang mengenainya terus menusuk-nusuk bagai sembilu ke dadanya. Kepalanya ditolehkan ke samping seakan-akan adegan yang menyakitkannya sedang diputar di hadapannya. Matanya masih berlinangan air.

                “Yoochun pasti memilihnya karena dia satu-satunya gadis yang tersisa.”

                “Ya, Yoochun tak punya pilihan. Ia tidak mungkin mengecewakan seorang gadis, seburuk dan seaneh apapun gadis itu. Dia sungguh pria yang baik.”

                Sedu sedan Sunghyo makin mengeras. Ia mengerang perih kini, seolah-olah malaikat pencabut nyawa tengah menyambanginya dan bermain-main dengannya. Otaknya terus mengomandokan kelenjar air matanya untuk terus memproduksi air mata. Terus-menerus. Dan rasanya akan tanpa henti.

                Pintu terbuka.

                Serta merta, Sunghyo mendongak. Mata besarnya yang dihiasi genangan air bening mendapati sesosok pemuda berwajah manis. Pemuda itu kelihatan kontras dengannya. Berpostur lebih tinggi. Berkulit lebih putih. Bermata lebih sipit. Namun mata pemuda itu agak melebar sekarang.

                “Sunghyo,” panggilnya dengan nada tak percaya.  “Apa yang kau lakukan di sana?”

                Pemuda itu buru-buru bersimpuh di sebelah Sunghyo, membelai rambut Sunghyo yang berantakan. “Kau kenapa?” tanyanya lembut. Wajah bulat dengan tulang pipi menonjolnya kelihatan sedih juga, seakan baru saja ditransfer kemuraman itu. “Kenapa kau meringkuk di lantai basah ini? Dengan gaun tidur ini pula?” Tangan kurus namun kelihatan sigap milik si pemuda menyentuh bahu Sunghyo, dimana tali tipis gaun abu-abu berdada rendahnya terkait.

                Sunghyo agak menjauhkan pundaknya dari sentuhan pemuda itu. “Tidak apa-apa, Yoochun. Tidak ada apa-apa.”

Kening lebar pemuda itu, Yoochun, berkernyit. “Mana mungkin tidak ada apa-apa bisa jadi seperti ini. Jangan coba-coba membohongiku, Sunghyo. Kau tahu itu tidak akan ada hasilnya.” Alis tipisnya terpaut. Mimik mukanya serius sekali.

Pandangannya sengaja ia alihkan. Ia tak mau beradu pandang dengan kedua mata yang memiliki kepedihan seribu kali lebih banyak daripada dirinya. Sunghyo tahu Yoochun jauh lebih peka darinya. Yoochun lebih banyak menangis jika dibandingkan dengan dirinya. Dan yang ia tangisi jauh lebih bermakna. Yoochun lebih suka memendam apa-apa sendirian dan dia pandai dalam hal itu. Sunghyo baru mengetahuinya setelah malam dari hati ke hati yang mereka lalui seminggu lalu.

Tak ada yang berbicara. Sunghyo masih dalam keadaan diam, tersedak tangis, sementara Yoochun menantikan jawaban Sunghyo. Detik-detik kosong itu mereka lewati khidmat.

Seketika Yoochun tersenyum. Ujung kedua bibir tebalnya tertarik ke arah yang berlawanan sedemikian rupa, menciptakan salah satu hal yang sangat indah untuk dilihat. Kedua pasang lesung pipitnya, yang kecil tapi menawan, membawa suasana yang menggembirakan. “Baiklah, jika kau belum ingin memberitahu. Paling tidak jangan menyiksa dirimu sendiri.”

Yoochun memosisikan satu tangannya di belakang leher dan satu lagi di bawah lekukan kedua lutut Sunghyo.

“Apa yang mau kaulakukan?” Sunghyo bertanya tanpa daya. Ia sudah bisa menerka kalau Yoochun mau menggendongnya, tetapi ketidakpercayaan pada dirinya sendiri membuatnya sangsi.

“Memanjakanmu,” bisik Yoochun. Memang tidak dekat di telinga Sunghyo, namun sensasi suara bariton rendahnya terasa begitu menggelitik hingga Sunghyo gagal berencana untuk menolak aksi Yoochun yang perlahan mengangkat tubuhnya.

Tak ada alasan untuk menolak, memang. Hatinya senang diperlakukan bak putri seperti itu. Apa lagi oleh pemuda dengan senyuman memabukkan ini. Akan tetapi, rasa takut dan minder yang menerpanya meminta dirinya untuk bermuka antipati atas tindakan ini.

Yoochun menggendong Sunghyo ke luar kamar mandi, melintasi karpet halus apartemennya kemudian membaringkannya di tempat tidur berseprai sutra magenta.

“Tidurlah,” ucap Yoochun. Senyumnya masih terukir.

Sunghyo menarik selimut berwarna senada untuk menutupi pahanya yang terbuka. “Entahlah. Kupikir akan sulit untuk tidur.”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu tertidur,” timpal Yoochun. Ia masih tersenyum, tapi ada bumbu canda di senyumannya.

“Kau mau bernyanyi,” tanya Sunghyo datar, “untukku?” Kata bernada tanya terakhir terucap sepelan mungkin.

“Jika aku bernyanyi, kau bukannya tidur melainkan memandangiku dengan mata berbinar-binar. Kalau sudah begitu, aku akan gemas sendiri dan benar-benar membuatmu tidak tidur semalaman,” balas Yoochun. Senda gurau di senyumannya makin kentara.

Sunghyo hanya meresponsnya dengan senyum rikuh. Pikirannya masih setengah melayang.

Yoochun kenal sikap itu. Ia segera tahu Sunghyo sedang dilanda pikiran bermasalah yang akut. Dengan hati-hati, Yoochun membelai kening hingga rambut Sunghyo. Senyum berguraunya berganti kembali dengan senyum tulus. “Paling tidak pejamkan matamu,” usulnya, “itu akan menimbulkan kantuk. Dan kau bisa tidur.”

Anggukan dilancarkan Sunghyo. Dia segera mengikuti usul Yoochun, menutup mata.

Sekitar satu-dua menit Yoochun senyam-senyum, memandangi wajah tenteram Sunghyo yang matanya terpejam. Kemudian ia bangkit, seperti ingin mengambil sesuatu. Namun demikian, langkahnya tertahan. Yoochun menoleh dan menemukan sweater rajutan putihnya ditahan oleh Sunghyo. Ia pun melihat Sunghyo telah kembali membuka mata.

“Yoochun,” panggil Sunghyo, yang ia coba setegas mungkin. Tak berhasil, sayangnya.

“Yes, my Dear?” Yoochun merespons lunak.

“Apa benar kau memilihku karena aku satu-satunya gadis yang tersisa?”

“Siapa yang berkata begitu?”

“Jawab dulu pertanyaanku.” Sunghyo mengerutkan kening.

Senyum menenangkan diterapkan oleh Yoochun sekali lagi. “You tell me.”

“Ck.” Sunghyo mengerucutkan bibirnya. “Apa kau sekarang bersamaku karena kaupikir semua teman-teman di sekitar kita sudah berpasangan dan aku, satu-satunya yang belum dengan siapa pun—

Jari telunjuk Yoochun menekan bibir Sunghyo agar menutup. Sunghyo buru-buru menepisnya. Ia tak habis pikir pemuda bergaya rambut nomaden satu ini bisa-bisanya melakukan adegan opera sabun itu dalam pembahasan yang sangat penting baginya ini. “Jangan malah berakting denganku. Aku bukan aktris. Kau pun sedang tidak di dalam dramamu,” sungut Sunghyo, lagi-lagi dengan wajah datar.

Yoochun terkekeh.

“Apa yang lucu?” Sunghyo mengerutkan dahi lantas mendapati Yoochun terkikik geli. “Kau belum jawab pertanyaanku. Apa sebetulnya itu sangat tepat jadi kau tidak mau jawab?”

Yoochun segera menghela nafas dan menunjukan integrasi pada pandangannya. “Kau terlalu tinggi menilaiku dan terlalu rendah menilai dirimu sendiri. Jangan seperti itu. Kutegaskan, aku tidak akan memilih orang hanya karena dia yang tersisa untukku. Jika kau satu-satunya wanita di seluruh galaksi—

Sunghyo memutar bola matanya berkat ucapan Yoochun yang dramatis lagi. Yoochun tertawa secepat kilat, menertawakan ucapannya sendiri.

“—jika kau satu-satunya wanita yang tersisa,” Yoochun melanjutkan, “aku tetap tidak akan memilihmu jika kau kurasa tidak kompatibel denganku. Lebih baik sendiri daripada memaksakan diri untuk menyukai seseorang yang sulit untuk disukai.”

Sunghyo mengerling ke arah lain. Dia paling tidak tahan kalau harus menghadapi perkataan penuh logika khas Yoochun. Yoochun paling pandai membuat pernyataan logisnya menjadi seromantis mungkin, soalnya.

“Kau menangkap maksudku, ‘kan, Dear?” Yoochun mengembangkan senyumnya kembali.

Sunghyo ingin diam, mengangguk, menyadari kalau teori Yoochun akurat. Namun Sunghyo mendadak terpikirkan sebuah celah dari penjelasaan Yoochun barusan. “Berarti awalnya kau memang biasa saja denganku, kemudian melihat aku satu-satunya yang tersisa, kau pun baru menilaiku. Setelah kau merasa aku masuk kategorimu, barulah kau belajar—atau mungkin memaksakan diri untuk menyukaiku?”

Yoochun menghembuskan nafas berat kembali. “Kau suka membuat sesuatu hal menjadi rumit, ya?”

Bibir Sunghyo dilengkungkannya ke bawah. Ia ingat guru sekolahnya pernah bilang hanya orang bodoh yang membuat segala sesuatu yang sederhana menjadi rumit. Sunghyo pun mulai bertanya-tanya apa dia bodoh sampai separah itu.

Dearest, sebenarnya apa yang kau cari? Alasan utama aku jatuh cinta padamu?”

Kilahan pandangan ke tempat lain kali ini dilakukan Sunghyo ekspres. Dirinya paling tidak kuat jika kata-kata yang menyenggol cinta dikeluarkan.

“Aku suka padamu bukan karena kau yang tersisa. Kau bukan sisa. Masih banyak gadis lain di luar sana. Kalau aku memilihmu karena kau sisa, untuk apa? Lebih baik aku mencari lagi.”

“Teman-temanmu bilang kau hanya memilih gadis dari teman sepermainanmu, dan aku teman sepermainanmu yang terakhir—

Dear, dengar,” potong Yoochun, “aku bisa mencari teman sepermainan lain untuk kudekati jika aku merasa kau bukan untukku. Tapi tidak, ‘kan?”

“Mungkin kau hanya malas. Kau sendiri yang bilang kau sulit dekat dengan orang baru. Kau mungkin bisa mengobrol banyak dan tertawa bersama dengan orang yang baru kau kenal, meskipun dalam hati kau merasa belum nyaman dengannya. Butuh proses bagimu untuk mencari teman sepermainan baru. Itu membuang waktu. Makanya kau pilih yang tersisa dari teman sepermainanmu yang ada.”

Yoochun senyum, sedikit menahan tawa. “Kau berpikir sampai sejauh itu, ya?”

Sunghyo diam, menanti penilaian Yoochun selanjutnya mengenai pemikirannya. Meskipun begitu, dia jadi takut sendiri dengan apa yang dipikirkan Yoochun. “Apa kau sekarang berpikir aku bodoh dan picik? Pikiranku dangkal?”

Terbahak, Yoochun mengeluarkan sikap khasnya begitu menemukan tingkah berubah-ubah, keras-lembut keras-lembut ala Sunghyo ini.

Seketika, Yoochun diam, menyusul Sunghyo yang sejak tadi diam mengamati tawa Yoochun.

“Sekarang begini, apa yang kau pikirkan sebenarnya? Kau pikir aku bersamamu karena keterpaksaan?” Yoochun menanyai dengan sabar.

Sunghyo memerhatikan satu persatu persegi atap kamar dengan cepat lalu mengangguk.

“O.K. Lalu apa yang kau inginkan? Pernyataanku?”

“Hah?”

“Baiklah, aku akan memuaskanmu.” Yoochun menggenggam tangan Sunghyo. Keduanya. Mengalirkan kehangatan ke darah-darah beku yang dibentuk virus kecurigaan pada tubuh Sunghyo. Maka Sunghyo merasa memanas, terutama bagian pipi. Cepat-cepat ia memalingkan muka.

Dear, aku memilihmu karena aku ingin. Bukan karena terpaksa.” Yoochun menghadirkan senyuman yang membuat Sunghyo gelagapan. Namun Yoochun kelihatannya menyenangi situasinya. “Sekarang kau sudah puas?”

Mendengarnya, Sunghyo bermuka sedikit meradang, dengan kerutan kening dan rengutan bibir. “Jadi perkataanmu barusan dilontarkan hanya karena supaya aku puas? Bukan yang sesungguhnya?”

“Dear…”

“Ah, sudahlah,” gerutu Sunghyo.

“Sunghyo,” Yoochun berkata tegas, “lihat aku.”

Sunghyo perlahan mengubah pandangan dari sembarang arah menjadi menjurus ke dalam mata Yoochun. Yoochun pun mendapati mata Sunghyo yang kosong, tidak memberikan makna apapun.

“Mungkin aku tak harus memberikanmu kata-kata sekarang. Kau sedang merajuk dan semua perkataanku selalu ada celah buruknya jika kau sedang merajuk,” kata Yoochun kalem.

“Oh, ya?”

Yoochun menganggukkan kepalanya sekali. “Jadi, supaya pikiranmu kembali cerah dan kau tidak berpikir negatif lagi, aku lebih baik menggunakan tindakan saja.”

“Tindakan apa?”

“Menurutmu?” Yoochun mengubah arah tubuhnya, yang tadinya menghadap ke lemari di samping ranjang menjadi mengarah ke Sunghyo.

Sunghyo tersenyum tipis, merasakan kekakuan di wajahnya, mendapati Yoochun yang makin mencondongkan tubuhnya ke dirinya. “Kau hanya tidak tahu—” Sunghyo mulai menjauhkan wajahnya yang semakin terjangkau oleh wajah Yoochun, mencoba menjaga ketenangannya dengan terus berkata, “—harus mengungkapkan alasan apa lagi, tidak punya kata-kata yang leb—

Bibir Yoochun sudah menyapu lembut bibirnya sehingga Sunghyo tak bisa bicara lagi. Ia merasakan kedua tangannya terletak tak berdaya di sebelah-sebelah kepalanya, tertahan kedua lengan Yoochun. Sunghyo selalu heran dengan ini. Yoochun memang lebih tinggi dan berbadan lebih kekar sedikit daripadanya. Meski begitu, untuk ukuran pria, tubuh Yoochun termasuk kurus. Dan anehnya, Sunghyo selalu merasa kalah kuat dalam melawan—sekadar tekanan pelan dari tangan Yoochun. Apa aku yang terlalu lemah? Sunghyo berpikir.

Otaknya sudah bekerja lebih lambat, Sunghyo tak bisa menemukan jawabannya. Oleh karena Yoochun sudah mencium lebih dalam dan intens. Kini tak hanya bibir bertemu bibir, namun lidah bertemu lidah. Sunghyo kenal, itu French Kiss. Sunghyo tak pernah mengenal ini sebelumnya, dalam definisi terapan, sebelum dia mengenal Yoochun yang kemudian mengajarinya.

Yoochun sudah menciumi Sunghyo, berpindah-pindah—dari bibir, pipi, telinga hingga leher. Sunghyo sudah seperti seonggok daging, dengan tulang yang melunak, tak punya energi. Dirinya menuruti kemana Yoochun menuntunnya. Pemuda yang berusia empat tahun lebih tua darinya itu sekarang telah menindihnya, menciuminya dengan lebih leluasa. Ciumannya selalu hangat dan menggairahkan. Sunghyo sesungguhnya tidak mengerti ciuman yang romantis bagaimana, ia tak punya cukup pengalaman. Namun kalau hangat dan menggairahkan itu salah satu kriteria romantis, berarti ciuman Yoochun termasuk.

Mengungkit soal gairah, Yoochun selain pandai menimbulkan gairah, pun mudah sekali bergairah. Dan dia sudah menggila sekarang. Tak hanya ciuman yang gunakan, tapi juga jilatan. Sasarannya pun sudah cukup jauh, mengarah lebih ke bawah dari target-target sebelumnya.

“Ah!” pekik Sunghyo seperti kena setrum, ketika tangan Yoochun mulai menurunkan tali temali tipis gaun malam abu-abunya.

Yoochun mengangkat kepalanya yang terbenam. Wajahnya merah. Mulutnya tak mengeluarkan suara, hanya mukanya saja yang menampilkan seri pertanyaan ‘ada apa?’. Ia duduk, mencari tahu sesuatu melintasi kedua mata Sunghyo.

“A—aku, maksudku, kita—apa kita harus lakukan ini?” Sunghyo merasai pipinya seperti baru disengat.

Yoochun tersenyum. Herannya, dengan kalem. “Apa kau keberatan?” tanyanya.

“Ti—tidak,” jawab Sunghyo, menyegerakan munculnya senyum lain dari Yoochun, “maksudku, tidak, bukan tidak yang itu. Sebenarnya—

“Kenapa harus terus menerus gugup, Sunghyo? Kita sudah melakukan ini beberapa kali, bukan?” Cengiran Yoochun nampak. Ada semburat gurauan di dalamnya.

Di tengah usahanya duduk di ranjang menyusul Yoochun, Sunghyo bertanya seperti benar-benar sudah kena sengat sekarang “Beberapa kali apanya? Hampir melakukannya beberapa kali, lebih tepatnya.” Dia menyedekapkan tangannya, memanyunkan bibirnya, tidak terima.

Yoochun tertawa. “Iya, iya, hampir, Dear. Hanya hampir,” timpal Yoochun lunak.

Keduanya memang hanya hampir melakukannya. Sekitar dua kali. Yang pertama, karena Sunghyo menanya-nanyai bagaimana bisa orang tidak jijik setelah berciuman. Yang kedua, penyebabnya adalah kebodohan dari pertanyaan Sunghyo yang lain, mengenai mengapa ciuman dapat merangsang orang. Kedua percobaan itu selalu diakhiri dengan pekikan sadar Sunghyo seperti yang barusan terjadi. Namun yang barusan adalah yang paling kelewatan. Dua percobaan sebelumnya hanya melibatkan ciuman saja, ya, walau ciumannya agak berpindah-pindah juga, namun tak pernah melaju lebih bawah daripada leher.

Helaan nafas dikeluarkan Yoochun, lagi. Matanya menatap Sunghyo penuh kasih sayang. “Maaf. Aku seharusnya tidak melakukan padamu yang belum siap.” Tali gaun Sunghyo dirapikan lagi oleh Yoochun. “Tidurlah. Itu yang lebih kau butuhkan, Dearest.

Sunghyo tak punya kepercayaan diri untuk menyahut. Dia terlalu malu atas apa yang baru terjadi.

“Aku pulang?” tanya Yoochun memastikan.

“Ya,” Sunghyo menjawab sepelan mungkin.

“Kalau ada apa-apa, telepon aku saja.”

Sunghyo mengangguk. Dia tahu Yoochun sedang mengeluarkan senyum killer-nya kini, dia tak mau lihat, menunduk saja. Yoochun menarik Sunghyo ke pelukannya, pelukan perpisahan untuk malam ini. Sunghyo membalas pelukannya. Saat Yoochun melepas pelukannya, sesuatu menahannya.

“Apa yang—ah, manik-manik gaunmu menyangkut di sweater rajutanku, Dear,” beritahunya sembari mendekatkan dagunya ke leher, mengamati sangkutan tak disengaja itu.

“Biar aku yang melepasnya,” ucap Sunghyo dan bergegas untuk mencoba menarik manik-manik nakal yang terkait di rajutan wol itu.

“Tidak perlu buru-buru, Dearest.” Yoochun mencoba menggenggam tangan Sunghyo yang gemetar melepaskan kaitan itu. Manik-manik itu terpasang di bagian dada gaunnya. Jelas sekali ia ingin buru-buru. Semakin lama terkait semakin lama terlihat bagian yang betul-betul ia ingin tutupi sekarang. Sunghyo tidak tahu apa Yoochun melihat ke arah dadanya atau tidak, dia hanya merasa perlu secara ekspres membuka pautan itu.

Pautan terlepas.

Tetapi, bodohnya, gaunnya menjadi robek. Di bagian dada. Pun Sunghyo melihat sweater Yoochun. Rusak pula.

“A—aku, maaf, aku tidak sengaja,” Sunghyo gagap.

“Tidak apa-apa,” jawab Yoochun kosong.

Sunghyo memaksakan diri untuk melihat matanya. Dan, ah, benar, Yoochun melihat ke tempat yang ia pikir tadi harus dilindungi. Sunghyo segera menutupi dadanya yang masih tertutup bra itu. Ia bingung mengapa Yoochun tetap memerhatikannya. Baginya, tak ada yang menarik dari bagian tubuhnya itu.

“Sunghyo —

“Yoochun—

Keduanya berucap bersamaan, berhenti dan saling menangkap penglihatan.

Sweater Yoochun rusak. Sunghyo jadi bisa melihat kaus oranye yang menjadi lapisan dalamnya. “Buka saja sweater-mu.” Mungkin demi menghindari kecanggungan, Sunghyo mengedepankan tindakan lain; melepas sweater Yoochun. Dirinya kadang tidak memikirkan hal normatif atau normal jika sedang mengalihkan kekikukannya sendiri. Yoochun menurut karena tidak terlalu mendengarkan. Biasanya ia tidak seperti ini. Ia nampak seperti sibuk memikirkan sesuatu. Sunghyo tak dapat menebak apa.

Kaus oranye Yoochun tampak. Sunghyo baru saja ingin bertanya mengenai apa yang akan dilakukan pada sweater-nya ketika ia mendapati Yoochun memandang lamat-lamat kepada bagian bawah lehernya lagi. Sunghyo mengikuti pandangan itu dan menemukan robekan gaun malamnya makin besar. Apa karena ia jarang memakainya sehingga bahannya menjadi lapuk? Hanya karena dia membantu melepas sweater Yoochun, gaun ini robek lagi?

“Sunghyo,” Yoochun memanggilnya.

“Ya, kenap—

Tak selesai menyahut, bibirnya keburu dilumat oleh Yoochun. Hal itu mengejutkannya. Sangat. Yoochun melakukan keintiman yang tadi ia lakukan terhadap Sunghyo sekali lagi. Dan tanpa jeda. Sunghyo memekik terkejut. Tetapi Yoochun tidak berhenti. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Entah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar.

Sentuhan tangan Yoochun mendarat kemana saja yang bisa dicapai olehnya. Sunghyo tak diberikan kesempatan berteriak memprotes, seperti yang ia lakukan beberapa waktu lalu untuk menghentikan Yoochun. Gaun malam itu kini sudah dilepaskan tangan-tangan Yoochun.

Sunghyo tak dapat menghentikannya. Dan berkat ketidakberdayaannya itu, Sunghyo kemudian pasrah begitu pakaian dalamnya disingkap. Ketika Sunghyo sudah tak mengenakan apa pun, Yoochun berhenti; hal yang sangat diharapkan oleh Sunghyo beberapa saat lalu.

Dengan wajah yang sama-sama syok, pasangan ini bertukar pandang.

“Apa kau terkejut?” tanya Yoochun, dengan nafas memburu.

Sunghyo mengangguk sekali, dengan kening berkernyit. Panas di wajahnya sudah tak tertahankan.

“Aku juga.” Yoochun nyengir. “Kupikir kita memang harus melakukannya. Kau sudah siap, Dear. Tak ada wanita yang lebih siap untuk itu selain wanita yang meminta prianya melepas bajunya. Kau bahkan membantuku membukanya.”

“A—aku—

“Apa aku salah?” Yoochun menanya halus, matanya mencari pembenaran jauh di dalam bola mata hitam Sunghyo.

Sunghyo melirik ke bawah, ke tubuhnya yang sudah tanpa busana. Sudah sejauh ini. Otaknya mengarang alasan demikian. Ia melihat mata Yoochun yang sepertinya menginginkan kelanjutan dari ini. Maka dari itulah, terucap ucapan yang terdengar bak mantera penyingkap goa para penyamun dari mulut Sunghyo, “Mengapa kau juga tidak buka bajumu?”

Yoochun terpana dengan wajah senang mendengar pertanyaan itu. Setelah menjilat bibir atasnya sendiri dan menelan ludah, Yoochun bangkit untuk melepas kaus dan celana jeansnya. Sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Sunghyo memproses penyesalan yang makin banyak merasuki otaknya. MASIH ADA WAKTU UNTUK LARI! Teriakan itu menggema di otaknya. Sunghyo terduduk kembali. “Yoo—Yoochun…

Yoochun menengok dengan wajah cemerlang pada Sunghyo. Ia tinggal menanggalkan celana dalamnya saja. “Yes, my Dear?”

Sunghyo lupa seketika akan rencananya untuk kabur. Blank tiba-tiba. Ia gagal melarang dirinya untuk takjub dengan Yoochun yang sudah polos. Lengan dan perutnya yang kencang, dadanya yang bidang— Sunghyo pun mendadak ingat, dia juga sama polosnya.

Secepat yang Sunghyo kira, Yoochun memasuki selimut sekaligus mendekap Sunghyo. Dalam hati, Sunghyo memaki dirinya sendiri yang tak bisa tegas. Lagi-lagi, ia menciptakan alasan atas kebodohannya membiarkan ini terjadi di dalam benaknya. Apa karena ia memang sudah percaya Yoochun adalah orang yang tepat? Apa karena dia sebenarnya juga mau dan penasaran bagaimana rasanya? Apa keduanya sekaligus? Entah. Sunghyo tak bisa memutar otaknya lebih-lebih lagi, Yoochun yang telah mengambil alih permainannya sekarang.

Yoochun bukan orang yang terburu-buru, Sunghyo tahu itu. Dia sabar dan bisa mengontrol diri demi mendapatkan sesuatu yang lebih. Dia hanya dengan lembut menciumi, terkadang menjilati, membuat rangsangan. Sudah bukan pekikan yang muncul dari Sunghyo, melainkan desahan tertahan. Ya, tertahan. Sunghyo berusaha sekeras mungkin, dengan akal sehat dan harga dirinya yang masih tersisa, menahan itu. Entah untuk apa. Ia mungkin hanya malu. Bagaimanapun, ini kali pertama baginya.

Yoochun sungguh penyabar sekali dalam tahap ini. Setiap belaian yang ia lakukan dan geliatan yang diterimanya dari Sunghyo ditanggapinya dengan senyuman tenang. Salah satu belaiannya, di kepala, saat menyingkap rambut Sunghyo yang menutupi wajah, menimbulkan getaran di nafas Sunghyo. Yoochun nampaknya menyukainya.

Ciuman-ciumannya sudah berganti hisapan sekarang, meninggalkan bekas-bekas berwarna merah di kulit Sunghyo. Desahan-desahan Sunghyo sudah tak tertahankan lagi. Bahkan gadis itu kaget sendiri dengan apa yang ia suarakan dari mulutnya. Namun Yoochun masih bermain lembut. Seperti ingin meninggalkan kesan romantis kepada gadis yang tak pernah terjamah oleh siapapun sebelum bertemu dengannya ini.

Dalam lima menit, Yoochun nampaknya sudah mendapatkan yang ia cari. Sunghyo sudah lebih membuka diri sekarang, tidak takut-takut lagi. Dia bahkan sudah balas merengkuh erat Yoochun, menerima semua perlakuannya dengan ekspresi nyaman. “Kau suka, Dear?” suara bisikan bass Yoochun mencapai telinga Sunghyo.

Sunghyo hanya menyambut dengan lenguhan lunak.

Ini waktunya, pikir Yoochun. “Mungkin agak sedikit sakit, awalnya. Tahan, ya,” Yoochun kembali membisikkan sesuatu.

“Hah?” Sunghyo mengunggah tanya, di keadaan antara sadar dan tidak. Ia dapat menghirup keringat dan campuran parfum Yoochun yang selalu ia sukai ketika Yoochun nampak mengubah posisi.

Yoochun membentuk posisinya menjadi posisi push-up, menemui Sunghyo yang terbaring di hadapannya. Perlahan dan dengan penuh tuntunan ia memasuki Sunghyo. Sunghyo menemukan Yoochun kini berwajah sedikit serius dan nanap sendiri begitu merasai ada sesuatu yang memasuki tubuhnya, tepatnya bagian paha sebelah dalamnya. Sunghyo menggigit bibirnya, menahan sakit. Yoochun meneruskan untuk lebih memasuki Sunghyo dan itu menyebabkan Sunghyo merintih dan meronta keras. Tangan sigap Yoochun segera mengendalikan pemberontakan kecil Sunghyo. Ia melanjutkan mendorong lebih dalam lagi.

Dengan mata terbelalak, Sunghyo bersikap seakan-akan nyawanya baru dicabut. Rintihannya yang sekejap saja berubah menjadi jeritan di detik-detik belakangan kini telah berhenti. Yoochun diam sejenak, mengadaptasikan diri terhadap tempat yang baru ia masuki, memberikan rasa aman pula kepada Sunghyo yang masih dilanda kekagetan, sementara posisinya masih dalam keadaan yang memasuki Sunghyo sepenuhnya.

“Apa sebegitu sakit?” tanya Yoochun.

Sunghyo meneteskan air mata, lalu mengiyakan dengan menyedihkan. “Apa ini kali pertamamu melakukannya dengan orang yang sama sekali belum pernah melakukan dengan siapa pun?” tanya Sunghyo dengan tatapan penuh makna.

“Tepatnya, ini kali pertamaku melakukannya dengan situasi dimana aku saja yang benar-benar menginginkannya,” koreksi Yoochun. Senyum memabukkannya ditampilkan.

“Kalau begitu, selamat, pengalamanmu bertambah,” ujar Sunghyo dengan mata berair dan berfokus asal. “Bisa kau lepaskan dan kita bisa segera berpakaian?” Sunghyo bertanya ketus, tentu tanpa melihat wajah Yoochun.

Sebetulnya pengalaman barunya tak sepenuhnya buruk, Sunghyo mereguk kenikmatannya juga, banyak malah. Hanya saja rasa sakit terakhir yang ia rasakan adalah yang paling menonjol dalam memorinya. Dan itu membuatnya ingin segera memulihkan diri.

Yoochun, dengan manisnya, menganggap pertanyaan Sunghyo bagaikan pertanyaan seorang pelajar yang masih belum paham. Maka itu, ia memberikan pelajaran lebih lanjut. “Sayangnya, Sunghyo, my Dearest, bercinta itu tak hanya sampai di situ,” kisik Yoochun.

Sunghyo melotot.

Dan Yoochun mulai menggerakkan tubuhnya naik-turun, menimbulkan sensasi luar biasa terhadap Sunghyo. Ia merintih, kesakitan. Lantas beberapa detik kemudian, ia mengerang dan mulai menuai nikmatnya, mengeluarkan desahan lantang. Dan Yoochun, yang sedari tadi memainkan peran sebagai guru yang baik, mengenali sekali bahwa muridnya mulai menyukai hal yang diajarkan. Dia mulai memanjakan dirinya sendiri. Kesabarannya disingkirkan, digantikan gerakan pemuasan diri yang menggebu-gebu. Yoochun semakin cepat bergerak turun-naik, mengabaikan jeritan berkala Sunghyo —yang ia yakini sebagai jeritan kebahagiaan.

Setengah menit berlalu. Sunghyo dan Yoochun mencapai klimaksnya, yang diatur oleh Yoochun agar berbarengan. Sunghyo berkerut dahi merasakan sesuatu mengucur keras memasuki tubuhnya. Ia tahu itu berasal dari Yoochun, ia tahu itu dapat menimbulkan huru-hara jika menjadi sesuatu yang belum ia harapkan, ia hanya tidak tahu harus bagaimana. Atau sepertinya, otaknya mulai mengikuti perasaannya, ia terlalu menikmati pengalaman barunya ini sampai sepertinya hal itu bisa diabaikan dulu saat ini.

Yoochun menariknya dari dalam tubuh Sunghyo. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di samping Sunghyo, mengecup pipi dan mengelus rambutnya. Sunghyo bergeming.

“Aku mengantuk. Bangunkan aku jika kau menginginkannya sekali lagi,” ujar Yoochun.

Sunghyo menengok kepadanya seraya terbeliak.

“Hahaha, aku bercanda.” Yoochun terbahak. “Hal yang sama jika diulang-ulang tanpa selingan akan membosankan. Lebih baik kita melakukannya esok-esok lagi.”

“…”

“Ngomong-ngomong, kau lihat dimana remot TV, Dear?” tanya Yoochun setelah bergaya seperti menelan sesuatu dari hidungnya.

***

                Sunghyo membuka mata, terkesiap dan jelas tergesa-gesa bungkas dari pembaringannya. Ia masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Matanya mencari seseorang dan untungnya ia menemukannya; Yoochun, yang masih terlelap di sampingnya, masih dengan keadaan sama—telanjang dan satu tangannya terjulur. Sunghyo baru saja memakai lengan Yoochun sebagai bantal. Mereka melakukannya sekali lagi karena Sunghyo membenamkan kepalanya ke leher Yoochun mendadak ketika Yoochun sedang asyik mengomentari acara televisi. Hal demikian membuat Yoochun melancarkan serangannya lagi.

Ia tak sengaja tersenyum karena mengingatnya. Sunghyo hanya ingin mendekap Yoochun saat itu, hanya itu, namun rupanya tindakannya membawanya ke tindakan lain. Mereka bercinta dengan lebih tidak canggung ketika itu. Dan lebih manis. Sunghyo pikir kegiatan ini mulai menyenangkannya sekarang.

Bel flat-nya berbunyi, menyadarkannya dari kilasan balik yang mengeluarkan senyum kecil malu-malu di wajahnya. Ia diam, menghayati, memastikan apa itu memang untuk flat-nya. Berbunyi lagi, bel itu. Sunghyo sekarang yakin, itu memang belnya. Ini pukul 05.15, begitu dia melihat jam dinding digital hitam putihnya. Siapa yang bertamu ke flat-nya sepagi ini?

Terus mendesak, Sunghyo memperoleh seruan bel itu terepetisi, membuatnya buru-buru memakai bra dan celana dalamnya. Ia meraih gaun malamnya, tapi membuangnya lagi begitu ingat gaun itu sudah robek parah. Dalam kepanikan yang diburu bunyi bel, Sunghyo memutuskan mengambil gaun mandinya di kamar mandi dan bergegas membuka pintu setelah memakainya. Ia membuka kunci dan rantai selotan dengan kalang kabut, namun hal itu membuat belnya tak terdengar lagi. Kekalangkabutannya itu membuatnya lupa mencari tahu siapa tamunya lewat lubang intip. Dan kegugupan akan segala sesuatu yang berjalan cepat ini menyegerakan dirinya untuk membuka pintu flat-nya tanpa ba-bi-bu.

Pintu kayu berpelitur cokelat muda yang kokoh itu terbuka, menyingkap seorang pemuda tinggi dan bertubuh tegap di depannya.

“Siwon…”

“Lovely…,” Senyum pemuda dengan setelan jas rapi serbahitam itu merekah, dengan lesung pipit besar di tiap pipinya. Wajah oval dan berahang tegasnya nampak pucat. Nampaknya ia habis berjuang untuk sampai di sini. Ia sempat mengangkat tangannya, melambaikan ‘halo’ pada Sunghyo.

“Siwon, kenapa kau ke sini?” Sunghyo tidak bisa menahan untuk tidak kelihatan gugup, berkali-kali menoleh ke belakang, memastikan Yoochun tidak bangun.

“Aku ingin menemuimu, kupikir. Aku ingin—hm, Sunghyo? Kau baik-baik saja? Ada sesuatu yang belum kau selesaikan di dalam?” Ia bertanya sambil mengerahkan jari telunjuknya untuk diarahkan ke dalam flat. Siwon bisa jadi telah membaca kegugupan Sunghyo yang makin jelas.

“Ti—tidak.” Sial. Sunghyo merutuki dirinya sendiri, mengapa dia justru merespons dengan  cara yang makin menunjukkan dia sedang menutupi sesuatu?

Siwon menautkan alis tebal hitamnya, menatap Sunghyo curiga. “Apa kedatanganku mengganggu?”

“Ah, tidak, bukan—maksudku, sebenarnya kenapa kau ke sini?”

“Bukankah aku sudah mengatakan alasannya tadi?” Siwon sumringah. “Aku mau menemuimu.”

“Kalau begitu, kau ‘kan sudah menemuiku,” Sunghyo berusaha judes, tapi tak dapat memberi tatapan meyakinkan sehingga ia cuma menembakkan pandangan ke arah mana saja selain wajah Siwon. Ia mengingat alasan ia menghukum dirinya untuk terisak di kamar mandi awal tengah malam tadi. Salah satunya adalah penilaian orang mengenai kedekatannya dengan Siwon yang santer terdengar. Dia dan Siwon begitu jauh berbeda kelas dan tidak cocok bersama. Jadi, dia pikir lebih baik diakhiri sekarang, hubungan rahasia mereka. Lagipula ia sudah memberikan kepada Yoochun, dengan kata lain—dia, sepertinya yakin, dia lebih memilih Yoochun. “Pulanglah,” gumam Sunghyo. “Kau habis syuting drama, ‘kan? Wajahmu pucat pasi. Lelah pastinya. Pulang saja. Kalau tidak, besok kau tidak tampil prima dalam berakting.”

“Aku ingin berlama-lama dulu bersamamu,” Siwon nampaknya menidakacuhkan wejangan Sunghyo barusan.

“Pulanglah, Siwon.”

“Sebetulnya ada apa, Love?”

“Jangan panggil aku itu,” ucap Sunghyo.

Siwon nampak tidak suka. “Mengapa?”

“Siwon, kita tidak dalam hubungan apapun yang melegalkan panggilan semacam itu,” Sunghyo beralasan dan senang sendiri bahwa alasannya cukup masuk akal.

“Lovely…”

Sunghyo mengerutkan hidung.

“Baiklah, Sunghyo,” Siwon membenarkan panggilannya sesuai kemauan Sunghyo, “kita sudah—hubungan kita sudah berjalan cukup jauh. Kau—aku, maksudku, kita, kita sudah pernah melakukan lebih dari sekadar ciuman.”

“Apa?” Sunghyo kelihatan tak setuju.

“Ya, kita memang tak pernah melakukan seks—

“Memang tidak pernah,” Sunghyo memotong seperti mengomel.

“Dan aku tahu,” Siwon mengangkat tangannya, menyentuh ujung hidungnya, mengeluarkan kebiasaan tangannya bergestur ria ketika berargumentasi, “sebuah hubungan memang tidak pantas hanya diukur dari sisi itu saja. Hanya saja, aku sangat mengharapkan itu sewaktu itu terjadi. Aku bersungguh-sungguh. Aku menginginkanmu. Dan keinginan kuat semacam itu mustahil terjadi padaku jika aku tidak dalam perasaan—

“Tidak,” bantah Sunghyo.

“—cinta,” Siwon tetap menyelesaikan opininya, tak mau mendengarkan Sunghyo yang mencoba menyanggah. Bahkan ia menambahkan gestur tangan setelah itu; menunjuk jantungnya sendiri. Dan Siwon puas akan hasilnya, Sunghyo terbengong sekarang. Dia pikir tinggal satu kalimat meyakinkan lagi yang harus ia keluarkan, kalimat yang benar-benar meluap-luap di hatinya, “Aku mencintaimu.”

“Jangan bicara macam-macam,” Sunghyo berucap untuk mengeluarkan sikap galak. Namun ia malah memasang tampang idiot.

Ia hanya tak menduga Siwon seblak-blakan itu. Well, Yoochun juga blak-blakan, hanya saja ia pintar mengubah kalimatnya menjadi kelihatan unik. Keunikannya itu menimbulkan pernyataan dengan rasa berbeda, romantis, namun pesan tepat tersampaikan. Sebaliknya, Siwon, di balik penampilannya yang serba ‘wah’, nyatanya hanya seorang pria dengan kalimat-kalimat sederhana dan langsung to the point. Sunghyo tak mengerti lebih menarik yang mana, ia pikir pria gentleman yang mampu terus terang dan mempertanggungjawabkan ucapannya adalah yang paling menarik. Sunghyo tak tahu yang mana yang begitu. Dan lagipula buat apa aku sok berpikir untuk memilah-milih begitu, seperti mereka mau saja memperebutkanku, batin Sunghyo.

“Sunghyo?” Siwon mengembalikan kesadaran Sunghyo, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.

“Ah, ya?”

Siwon menekan salah satu telinganya. “Kau mendengarkanku, ‘kan?”

“Soal?” tanya Sunghyo pura-pura bodoh.

“Soal aku yang mencintaimu,” tegas Siwon. Ia menepuk dadanya sekali.

Sunghyo syok bukan kepalang. Bisa-bisanya bicara hal itu sebegitu mudah. Dia bahkan mengulanginya sekali lagi, gumam Sunghyo dalam hati.

Siwon memanggil Sunghyo sekali lagi. Dan Sunghyo segera mengungkapkan hal pertama yang membuatnya berpikir dia dan pria semampai ini tidak akan berhasil. Seperti yang ia tadi lakukan pada Yoochun, menyerang ceruk negatif yang ada di pernyataanya. “Apa kau yakin aku cocok untukmu?”

“Hah? Maksudmu?”

“Aku hanya seorang yang aneh dan dirimu berkelas. Sungguhkah kau ingin membuang-buang waktumu denganku? Kurasa ini akan gagal.” Sunghyo mencoba melontarkannya semanis mungkin. Akan tetapi, tidak, ada getir di dalamnya. Aku tidak cocok denganmu, Siwon, Sunghyo berkata dalam hati. Setidaknya orang-orang bilang Yoochun lebih punya sedikit kecocokan dengannya. Sunghyo dan Yoochun permasalahannya hanyalah keraguan Sunghyo mengenai apakah Yoochun benar-benar mau dengan Sunghyo. Sementara, Sunghyo dan Siwon, lebih dari itu. Apa Siwon sungguh-sungguh? Apa mereka, semua orang, tidak akan risih melihat ketidakcocokan yang dipaksakan ini?

Siwon melambaikan tangannya di hadapan muka Sunghyo kembali, membangunkannya dari lamunan. “Kau masih bersamaku?”

“Ya,” jawab Sunghyo sambil lalu, menghilangkan rasa malu karena telah menerawang.

“Jadi kau pikir kita terlalu berbeda sehingga tidak bisa bersama, Love?” tanya Siwon, menghiraukan larangan Sunghyo atas panggilan tersebut. “Kalau begitu, bagaimana denganmu sendiri? Apa kau mencintaiku?” Tangan Siwon menunjuk dirinya sendiri sesudah menunjuk Sunghyo di pertanyaan sebelumnya.

Sunghyo kaget. Tak menyangka akan dilempar pertanyaan seperti itu.

“Lovely?”

“Mengapa jadi aku yang harus menjawab pertanyaan?” Sunghyo merasakan panas di wajahnya.

Siwon tersenyum lebar, seperti mendapat tanda kalau peluangnya sudah kelihatan. Ia melangkahkan kakinya, sekali, mendekati Sunghyo. “Mengapa kau tidak mau menjawab?”

“Kau yang pertama kali kuberikan pertanyaan,” Sunghyo mengelak. Ia tak bisa menatap langsung mata besar cemerlang milik Siwon yang menancap langsung ke penglihatannya. Dan dia mendapati kaki-kaki jenjang Siwon yang melangkah semakin dekat ke posisi berdirinya.

“Benarkah?” suara bariton Siwon mendahului pemiliknya menghampiri Sunghyo. “Seingatku, aku dulu yang bertanya.”

Sunghyo memutar ingatan, mencari-cari apa benar dia memang yang lebih dulu mendapatkan pertanyaan. Ketika sedang sibuk berada dalam pikirannya, Sunghyo melupakan antisipasinya terhadap manuver mendadak Siwon selain berjalan ke arahnya, yakni menarik Sunghyo ke pelukannya. Seperti ditampar keterkejutannya sendiri, Sunghyo mengucap, “A—apa yang kaulakukan?” Pintu di belakangnya tertutup. Dirinya berada begitu dekat dengan Siwon.

Siwon tak langsung menyahut. Dia hanya melancarkan peneraannya, mengajaknya Sunghyo bicara dengan memeluk pinggangnya erat, membuat gadis itu tak dapat melihat kemana-mana lagi selain ke matanya. “Pandang aku dan bilang, ‘Aku tidak mencintaimu.’ Maka aku baru akan yakin bahwa kita takkan berhasil.”

“A—aku…

“Ya?”

“Aku ti—tidak…” Sunghyo melihat sekeliling. Ia sadar ia sudah di luar flat-nya, di koridor.

“Pandang mataku, Sunghyo.” Tangan kekar Siwon sedikit mengunci wajah Sunghyo agar tak menghadap ke arah lain. Kedua pipi Sunghyo ditahan oleh salah satu tangannya.

Kuping Sunghyo menangkap bunyi suatu pergerakan dari perabot di dalam flat-nya. Laksana sirene ambulans, otaknya mengulang-ulang ucapan ke seluruh tubuhnya, “Yoochun mungkin bangun!” Sunghyo panik dengan sendirinya.

“Sunghyo?”

“Lepaskan aku,” pinta Sunghyo pasrah.

“Kau belum menjawabku,” Siwon berujar lembut. Tapi, sumpah, bahkan pelukan yang kelihatannya dilingkarkan Siwon dengan begitu nyamannya terasa begitu sulit dilepaskan.

Sunghyo begitu takut kalau Yoochun terbangun di dalam sana. Mereka memang belum meresmikan untuk menjadi kekasih, pasangan serumah, atau tunangan. Tetapi apa yang mereka baru saja lakukan adalah sesuatu pernyataan kedekatan fisik yang lumayan kuat. Sunghyo menyerahkan pertamanya untuk Yoochun. Baginya, Yoochun sepenting itu, setidaknya begitulah sekarang yang ada di pikirannya.

Di sisi lain, Siwon memaksanya mengakui kalau ia sebenarnya juga tergoda. Ini salah, Sunghyo tahu. Memorinya mulai mengisari otaknya akan permulaan hal ini. Beberapa bulan lalu, dirinya diajak ke apartemen Siwon sehabis pulang mengecek lokasi syuting. Siwon berkata ia tahu kalau Sunghyo tak pernah betul-betul menjalin hubungan dengan Yoochun meski keduanya pernah serumah. Sunghyo mengelak, namun elakannya begitu lemah seperti biasa. Sikap malu-malunya memunculkan keberanian Siwon untuk menciumnya. Mereka hampir melakukannya. Hampir. Dan hanya hampir. Sunghyo harus bersyukur Siwon adalah pria yang mempedulikan wanita dan sedang tidak mabuk.

Hubungannya menjadi agak berbeda setelah itu. Siwon lantas memperlakukannya istimewa dan label ‘lebih dari sekadar teman’ diberikan Siwon untuk Sunghyo. Mereka menjadi lebih dekat daripada sebelumnya. Saat Yoochun, yang biasanya menemani Sunghyo, dilanda kesibukan, Sunghyo menemui Siwon untuk berbincang-bincang. Hubungan seperti itu yang terjaga. Dan Sunghyo pikir, hanya hubungan itu saja yang terjauh yang ia akan lalui dengan Siwon. Ia tak pantas untuk tergoda, atau memikirkan lebih-lebih dengan pria satu ini. Lebih dari sekadar teman bisa jadi sahabat saja, ‘kan?

“Lovely,” panggil Siwon. Panggilan ini pun Siwon yang menentukannya sendiri. “Kau belum menjawab.” Sunghyo awalnya menolak keras atas panggilan itu, sekarang juga masih.

Sunghyo meresapi kalau situasinya aman. Yoochun benar-benar tidak ada di balik pintu yang ia telah tinggalkan di belakang karena tarikan Siwon ke pelukannya. Setelah yakin di koridor apartemen sederhana itu hanya ada dirinya dan Siwon, Sunghyo berkata, “Boleh aku menjawab dengan hal lain?”

“Ya, apa?” Siwon menjelaskan senyumannya.

Sunghyo menjinjit dan perlahan menyentuh bibir Siwon dengan bibirnya. Siwon kelihatan terlonjak sejenak, tapi kemudian mengizinkan serangan duluan Sunghyo ini untuk terus berlanjut. Ia segera membalas ciuman itu dengan lebih kontra. Siwon membuka bibirnya, melepaskan lidahnya untuk bermain. Tak ada yang salah menurut Siwon. Ini menyenangkan, menggemerlapkan perasaannya. Lidahnya mulai nakal menjahili lidah Sunghyo yang dipaksanya mengikuti kehendaknya.

Siwon mendekapnya lebih dekat dengan satu kali sentakan. Sunghyo tersentak, menginsafi kalau ini bukan yang ia maksud. Ia memang ingin mencium Siwon, tapi bukan yang ke arah ini. Ia ingin menunjukkan kalau ia memang tergoda dan menyukai Siwon, tetapi ia tak ingin menjalin hubungan. Di samping karena ini tidak benar, sesuatu yang dimulai dengan keraguan tidak akan berjalan baik. Sunghyo pikir ini mungkin perjumpaan terakhirnya sebagai selain teman kerja dengan Siwon.

“Aku sudah tidur dengan Yoochun,” ujar Sunghyo begitu ia berhasil meluputkan diri dari ciuman dari pria berpostur tubuh atletis itu.

Siwon, yang masih mengatur nafas, segera tercengang. “Apa?”

Sunghyo memandang mata Siwon. Dalam. “Aku tidur dengannya. Aku sudah memutuskan kalau dia orang yang tepat.”

Jeda terjalin sejenak. Kekosongan udara seperti dicuri oleh suasana tak enak yang tercipta ini.

“Oh,” Siwon membulatkan bibir tipisnya.

Sunghyo memperoleh ekspresi masygul yang mewarnai wajah Siwon. Dirinya betul-betul merasa bersalah sekarang. Tapi ini lebih baik daripada terlambat. “Aku memang belum memutuskan dia pria yang akan kunikahi. Dan aku yakin Yoochun juga masih jauh dari pikiran itu. Namun aku pikir—

“Lantas mengapa kau menciumku seperti itu?” Siwon menyela, mengegaukan Sunghyo.

“Eh?”

“Kau menciumku seperti kau tidak mau melepasku begitu saja. Sebetulnya—

“Bukan begitu maksudku,” tukas Sunghyo. Ia menundukkan kepalanya.

Siwon mencermati sikap Sunghyo. “Lalu?”

“Lalu…” Sunghyo menutup mulutnya, ia tak mungkin mengatakan kalau dia sebenarnya menyukai Siwon. Itu akan berujung kepada hal lain yang ingin ia hindari. Apa ‘tergoda’ kata yang cocok?

“Sunghyo?” Siwon kelihatan tidak sabar.

“Aku—aku tergoda padamu. Aku hanya ingin menunjukkan aku tergoda untuk… umm… untuk…”

“Untuk mencobanya denganku?” Siwon merekahkan senyum.

“Bukan!”

“Lalu apa?”

“Entah.” Sunghyo berupaya melarikan diri dari posisi pelukan mesra ini, tapi sepertinya Siwon tak membolehkannya. Oleh sebab itu, ia hanya bisa melemparkan pandangan ke sembarang tempat, ke pintu-pintu kamar yang lain, ke karpet merah halus yang melapisi koridor, ke pot-pot tanaman hijau yang menjulang antar pintu.

“Kau masih sangsi dengan keputusanmu. Pikiranmu masih bercabang,” tebak Siwon seolah-olah Sunghyo adalah pasien dan dia psikiaternya.

“Keputusan apa?” Sunghyo menengadah, mendapatkan pemandangan atas wajah tampan Siwon. Segera ia merunduk lagi.

“Keputusan tentang orang yang tepat itu,” jawab Siwon dengan senyum ala joker-nya.

Sunghyo mengumpati ketololannya sendiri. Ternyata tak peduli kata apa yang dia keluarkan, dia tetap membuat jurang untuk dirinya sendiri. Yang ia hindari tetap saja datang. Ia kemudian berpikir, barangkali belum terlambat, atau ia hanya salah memperkirakan. “Orang tepatnya tetap Yoochun.”

“Apa kau yakin, Sunghyo?” Siwon menumbuk pelan dahinya ke dahi Sunghyo.

Sunghyo menurunkan pandangannya. “Ini tidak diperbolehkan. Kau pecinta aturan dan norma, ‘kan? Kau orang yang teratur, kaubilang. Ini tidak boleh. Ini namanya penyelewengan.”

Mesam-mesem, Siwon bertanya sopan, “Sekarang kutanya, apa kau benar sudah menjadi miliknya? Bukan karena hubungan semalam yang kumaksud. Melainkan hatimu. Apa hatimu sudah menjadi miliknya?”

Idiotnya, Sunghyo tak bisa menjawab. Mulutnya membeku.

Seakan sudah mendapat perizinan, Siwon berkata, “Nah, kupikir kau harus menatar ulang keputusanmu lagi.”

“Maksudmu?”

“Tenanglah.” Bisikan Siwon merasuki seluk beluk telinga Sunghyo, punya kedudukan yang sama menggelitiknya dengan bisikan Yoochun. “Biar aku membantumu, Lovely.

Belum sempat Sunghyo mengungkapkan keheranannya, Siwon dengan kekuatan sigapnya membopong Sunghyo dengan kedua tangannya. Sunghyo gegau dan terlalu dalam keadaan seperti itu untuk memberikan perlawanan. Ia merasa sangat lemah sejak beberapa jam terakhir. Ia melihat lantai koridor yang jauh dari tubuhnya dan hampir kehilangan keseimbangan. Sunghyo memutuskan untuk tak berontak sekarang, ia takut jatuh dengan kepala terbentur. Ya, tuduh dia paranoid atau apa. Ia pernah jatuh dari tempat tak tinggi seperti ini dan dagunya dijahit. Anehnya, dengan ketinggian yang sangat-sangat, dia tak terlalu takut. Yang jelas, ia takut kini. Tangannya berpegangan pada bahu bidang yang dilapisi kemeja dan jas hitam Siwon.

“Berpeganganlah, Love,” ucap Siwon sembari berjalan, membawa Sunghyo di bopongannya.

“Kita mau kemana?”

“Bagaimana kalau apartemenku?”

“Tidak,” Sunghyo melirik arloji mahal Siwon, sudah pukul 06.15. Yoochun bangun sekitar jam 10. Ia tak mau Yoochun terbangun sendirian di ranjang. Sunghyo hanya akan merasa ia akan mengecewakan Yoochun jika harus begitu. Ia tak mau.

“Hotel terdekat?” Siwon bertanya ketika mereka sudah berada di ambang tangga darurat.

Sunghyo seperti baru insaf. Sebenarnya mereka mau apa? Ia mengamati wajah Siwon dengan ekspresi bertanya-tanya.

“Tidak juga, ya?” Siwon nampaknya tidak mengerti maksud wajah bertanya Sunghyo, dan mengira kalau Sunghyo hanya tidak menyetujui usul tempat yang baru ia kemukakan. “Kalau begitu, mobilku?”

Kerutan kening Sunghyo nampak jelas. Pemikiran aneh-aneh mulai menjajahnya. Apa Siwon mau—

“Apa kau mau membeli kondom dulu?” tanya Siwon. Matanya memperhatikan sepatu mengkilapnya yang menjejaki anak-anak tangga yang dituruninya.

Sunghyo serasa baru ditonjok. Ya, pemikirannya benar! “Tidak!” sergah Sunghyo.

“O.K.,” Siwon menanggapi. Laki-laki ini tidak mengerti, bukan ‘tidak’ yang seperti itu yang Sunghyo maksudkan tadi.

“Turunkan aku, Siwon. Bukan hal seperti ini yang kumau,” pinta Sunghyo datar. Dirinya sudah melihat pintu tangga darurat paling bawah dilewati dan sekarang mereka di basement.

“Aku hanya membantumu, Love. Percayalah, ini bukan kemauanmu, tapi kebutuhanmu,” sanggah Siwon. Sungguh penuh nada santun di tiap katanya. Dan dengan gagah perkasa, ia terus berjalan.

“Turunkan aku,” Sunghyo merepetisi.

“Baiklah,” Siwon mengiyakan lantas mengeluarkan kunci alarm mobil Mercedes Benz Classic dari sakunya. “Sebentar dulu, Lovely.” Ia menekan tombol dan membuka pintu kursi penumpang. Dia pun membaringkan Sunghyo bagaikan meletakkan porselin antik yang mahal di jok kursi.

Sunghyo segera duduk untuk menghentikan Siwon yang sudah pula masuk ke kursi belakang dan ingin menutup pintunya. “Jangan ditutup—kau mau apa?”

“Tidak mungkin tidak ditutup, Lovely. Kalau ada yang memergoki bagaimana?” Siwon bertanya retoris sambil dengan sigap menutup dan mengunci pintu mobilnya.

“Memergoki apa? Memang kita mau apa?”

“Sudah kubilang, ‘kan, aku mau membantumu untuk menentukan keputusanmu. Ada baiknya kalau kau menurut, Love.” Siwon melepas arloji dan jasnya. Ketika dia melepas kancing pergelangan tangan kemejanya, ia mendengar isak tangis. Ia melihat Sunghyo, menangis. “Love, kau kenapa?”

Sunghyo menggeleng cepat. Jarinya mengusap air matanya kilat.

Love?” Wajah Siwon yang tadinya penuh kesenangan berubah prihatin. “Beritahu aku, kau kenapa?”

Dengan pipi yang basah dengan air mata, Sunghyo mengerling Siwon. “Apa kau pikir setelah memberikan diriku kepada Yoochun aku menjadi semurah itu pada siapapun?”

Siwon mengerutkan dahi, nampak tak dapat menerima tudingan Sunghyo, namun matanya juga memberikan rasa iba kepada tangisan Sunghyo yang membuatnya serba salah. “Bukan seperti itu, Lovely. Tolong jangan berpikiran seperti itu. Aku melakukan ini—aku berusaha. Aku berusaha mendapatkanmu, meyakinkanmu kalau aku juga tidak buruk.”

“Hah?” Sunghyo keheranan.

“Kau kurang tahu mana yang lebih mencintaimu, aku atau Yoochun. Kulihat kau masih meragukannya. Yang jelas, aku mencintaimu. Jadi kupikir—

“Siwon,” Sunghyo memotong ucapannya, “apa kau sungguh-sungguh atas apa yang baru kauucapkan?”

Tanpa pikir panjang, Siwon menjawab, “Ya, tentu saja.”

Keduanya bertatapan lama. Seolah-olah mata mereka yang sedang berargumen. Kaca jendela belakang mobil mewah itu dapat menjadi saksi bisu. Sunghyo tak bisa mendefinisikan apa yang ia rasakan, terharu, tersihir atau tertipu. Yang ganjil, ia menyukainya, perasaan ini, apa yang diucapkan Siwon, dia menyenanginya. Dia suka.

Sunghyo merasakan Siwon mendekatkan diri kepadanya. Dia pun merasakan dorongan untuk mendekati Siwon. Bibir mereka bertemu lagi. Kecupan mengisi kegiatan mereka kembali. Sunghyo tidak tahan untuk tidak membandingkan ciuman Siwon dengan Yoochun. Ciuman Yoochun selalu lembut dengan tempo, yang secara stabil, lambat, namun alur keseksian selalu dipertahankan. Sementara ciuman Siwon awalnya lembut, hingga lama kelamaan mendesak. Dan terkesan nakal.

Lain dengan Yoochun yang suka merangsang dirinya dan Sunghyo terlebih dahulu, menunggui mendapat suasananya, Siwon mudah terangsang hanya dengan berciuman. Ia tidak melakukan pemanasan apa-apa. Tubuh Sunghyo sudah dibaringkan lembut semenjak tadi. Kini ia sudah melucuti semua yang dipakai Sunghyo; gaun mandi, bra dan celana dalam cokelat mudanya. Ia tengah membuka kemeja dan celana bahan satinnya saat ini, sementara mulutnya memberikan kecupan bertubi-tubi pada Sunghyo.

Nampaknya Siwon adalah tipe yang tidak hanya bicaranya saja yang langsung ke inti, namun juga dalam hal bercinta. Ia sudah ada dalam posisi memasuki Sunghyo ketika Sunghyo berkata, “Jangan dulu.”

Siwon nampak kurang sepakat, namun ia tetap mempedulikan permintaan Sunghyo. Ia kembali menciumi Sunghyo dengan gayanya.

Sunghyo yang sebelumnya dimanjakan oleh penjamahan yang dilakukan Yoochun saat ini mendapatkan hal berbeda. Siwon cenderung tergesa-gesa dan peka sekali terhadap rangsangan, terutama ciuman. Tangannya tidak banyak melakukan sentuh sana-sini seperti Yoochun, hanya memegangi kepala Sunghyo dan lengan Sunghyo saat menciumnya. Gerakan lidah Siwon terlalu cepat ketika mencium, membuat Sunghyo terengah-engah.

Entah karena tempatnya sempit dan gelap atau pasangan yang lebih terburu-buru, Sunghyo lebih dapat merasakan perasaan terdesak di sini. Ia kemudian berinisiatif untuk mengimbangi ketergesaan ciuman Siwon. Sunghyo menyentuh sekaligus mengelus dada bidangnya, perut six-pack-nya dan lengan kekar berisinya. Hal ini sebagai perlindungan Sunghyo agar ia tetap dapat tidak kehabisan nafas dan penjagaan stabilnya tempo bercinta mereka. Siwon, yang awalnya sedikit menarik diri—atau agak arogan dalam kegiatan penjamahan, menjadi tertarik. Ia mulai mengikuti untuk membelai bagian-bagian tubuh gadis yang lebih muda empat tahun darinya ini. Bahkan terkadang meremas segala.

“Aku lelah,” beri tahu Sunghyo seraya mencoba mencari udara.

“Iyakah?” Siwon agak menarik diri. Kini mereka berjarak sekitar tiga puluh senti, berhadapan. “Kita belum sampai kepada intinya, Lovely.

Sunghyo mengerjap-ngerjap, pura-pura tidak mengenali maksud Siwon. Dia tahu, dia bahkan melarangnya itu buru-buru terjadi barusan. “Inti? Ah, bagian yang menyakitkan itu?” tanya Sunghyo.

Senyum Siwon muncul. “Tidak, Love. Ayolah, aku sudah menantikan permainan inti sejak membawamu dari flat.”

“Kenapa tak langsung bertindak begitu?” Sunghyo bertanya.

“Bagaimanapun, aku harus menghormatimu. Aku harus membuatmu membiasakan diri dulu, paling tidak dengan ciuman-ciuman.”

Benar-benar. Sunghyo sudah mengira Siwon menginginkan permainan inti sejak mereka mulai bercinta, namun ia tak mengira kalau ternyata Siwon menginginkan sejak membopongnya tadi. Sungguh hasrat yang belum bisa Sunghyo mengerti.

“Bagaimana?” tanya Siwon.

Sunghyo mengangguk, mencerahkan air muka Siwon yang disinari lampu basement dari luar. Yang membuat Sunghyo meloloskan permintaannya adalah karena Siwon tetap memintainya pertimbangan. Siwon kelihatan suka memaksakan kehendak. Meskipun begitu, ia tetap meminta pertimbangan atas tindakannya.

Memejamkan mata, Sunghyo menghadapi pria lain yang akan memasukinya. Dan hanya diselingi beberapa jam. Sunghyo merasa dirinya tidak pantas.

Jeritan harus Sunghyo tahan sekuat mungkin dengan menggigit tangannya. Butuh waktu lama ketika Yoochun memasukinya, namun butuh waktu lebih panjang dari sekadar ‘lama’ bagi Siwon untuk menerjang Sunghyo lebih dalam.

Rasa tidak pantas, rasa sakit, sekaligus kenikmatan semuanya bersatu padu dan menyebabkan tetes air mata mengalir di samping-samping mata Sunghyo.

“Masih sakit, Love?”

Pelan-pelan, dan dengan mulut mengerucut, Sunghyo mengangguk.

Sama seperti Yoochun, Siwon mendiamkan sejenak. Dia lagipula sudah sepenuhnya memasuki Sunghyo dan sebagai seorang pria dewasa, ia merasa jantan menanti lawan main bercintanya menguasai diri terlebih dahulu.

Siwon pun membisikkan kata-kata pujian terhadap Sunghyo di antara situasi tenteram dan menyakitkan—bagi Sunghyo itu.

Sekitar satu menit, Siwon merasa Sunghyo sudah siap, terlihat dari tingkahnya yang sudah bisa mengelaki pujian-pujian Siwon. Maka Siwon memulai aksinya. Ia bergerak turun kemudian naik, begitu berulang-ulang. Siwon terus-menerus mendesak dengan cepat dan tidak memutus aura seks. Hingga setelah beberapa kian detik, keduanya mencapai klimaks dan menutupinya dengan berciuman dan berdekapan. Sunghyo kelihatan puas dan lagi-lagi, ia merasa melewatkan sesuatu karena dia terlalu merasa puas; ia tidak menghentikan Siwon menumpahkannya ke dalam tubuhnya.

“Apa kau sudah menetapkan keputusan?” tanya Siwon di sela-sela keduanya menarik nafas.

“Entah,” jawab Sunghyo. “Tapi aku akan bicara dengan Yoochun segera. Jam berapa sekarang?”

Siwon mencari-cari arlojinya yang ia letakkan di kursi depan dan melihat. “Pukul 07.24, Love.”

Sunghyo menghela nafas. Dia senang waktunya tidak terlalu mepet dengan jam bangun Yoochun, jadi ia masih dapat mengerjakan semua hal dengan sedikit lebih santai.

“Kau bicaranya tidak sekarang, ‘kan, Lovely?” Siwon menanya sembari merapikan rambut Sunghyo.

“Darimana kau tahu??”

“Terlihat dari sikapmu begitu aku memberitahukan pukul berapa sekarang.”

“Ah, ya, Yoochun bangun sekitar jam sepuluh. Masih banyak waktu,” sahut Sunghyo yang masih membaringkan diri di jok mobil yang empuk tersebut. Punggung tangannya menyentuh keningnya, membentuk salah satu pose yang sama sekali tak dia sengaja.

Siwon kembali tersenyum, menatapi Sunghyo. Dia mencondongkan tubuh mendekat kuping Sunghyo dan berbisik, “Bagaimana kalau kita lakukan sekali lagi?”

“APA?” Sunghyo terkinjat dan kemudian tertawa terpaksa. “Kau bercanda, ya?” Ia ingat Yoochun tadi juga mengeluarkan lelucon sejenis. Apa laki-laki suka membuat lelucon yang sama menyesakkannya seperti tadi setelah bercinta, ya? Sunghyo berpikir.

Meskipun demikian, Siwon menggeleng lalu berkata, “Tidak, aku serius. Ayo lakukan lagi.”

 END

About these ads

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 20/11/2013, in DBSK, OS, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 66 Comments.

  1. ahhh itu terus yoochun giman ? T.T butuh sequel ini thor masih belum jelas sunghyo milih siapa ahh kesannya sunghyo jd bad girl gini tapi dia baik mungkin fia hny salah jalan (?) pokoknya keep writing thor !

    • Annyeong, sinta.
      Thanks udah jadi first commenter ^_^
      Sekuel udah pasti ada kalo yang ini, karena udah ada idenya :D
      Nasib tiga orang ini bakal dijelasin lebih di sekuelnya.
      Ah, kesannya bad girl ya? #lol padahal mau buat kesan suram :D
      Thanks supportnya ^^/

  2. sequel dong si sunghyo milih sapa?
    next ditunggu ya^^

  3. kok masih gantung bgt ya…. sbenernya cast utama namjanya siapa

    • Ini bakal ada sekuelnya, chingu. Makanya menggantung, :)
      Dan, emang sengaja dibuat kalo dua cast namjanya sama kuat, supaya pembaca penasaran ^^ hehehe
      Btw, gomawo udah mampir komen ;)

  4. butuh sequel , jadi sunghyo itu harus milih salah satu antara siwon dan yoochun?? ahh pilihan yg sulit menurut ku di tunggu sequel nya

  5. keren… siapa yg dipilih.. aku harap… siwon.. ada sequelnya??

  6. cerita nya gantung, tapi ini seru sekali..
    sunghyo yang dengan polosnya keliatan banget masih ragu dan lagi seneng2nya (tanpa sengaja) bereksperimen
    gaya bahasa author lain ya,,bukan buruk, tapi erotis mungkin dibilangnya,,jadi cerita Nc nya lebih keliatan etis..hoho
    keep writing!!

    • Annyeong ChoCho~
      Hehe, ya, ngegantung, soalnya ini ada sekuelnya, chingu.
      Wah, penilaian yang tepat buat Sunghyo! Itu juga yang mau kita sampein soal dia, selain kesuramannya, ke pembaca ^^
      Erotis dan kelihatan etis? Waaah… ^.^ gomawo, chingu.
      Gomawo juga dah mampir dan komen. <3

  7. Wahh jahat bener ni cw.
    Kesian bgt yoochun nya

    • Jahat bener? :O
      Gyaaa…
      Actually, keseluruhan cerita memang belum kami ungkap semua, jadi wajar kalo ada opini gitu. Hihihi.
      Btw, gomapta udah mampir komen, chingu ;)

  8. Ini maksud ceritanya gimana sih thor? Saya masih luarang paham…

    • Annyeong L.sa… ^.^
      hehe, simpelnya, ini cuma tentang cinta segitiga kok. :) Sunghyo di antara Yoochun dan Siwon.
      Kalo berminat, bisa baca versi normalnya, yang mungkin ga membingungkan, di blog kami. :D
      Btw, gomapta udah mampir komen ya ;)

  9. hualaaah kok sunghyo nya kaya yang labil ya :3
    lebih terkesan pasrah aja menerima apapun #apadah

    padahal thor sunghyo nya agak jual mahal dikit kekeke
    saran aja

    keep witing thor^^

    • Annyeong, Yuken.
      Hahaha. Labil dan pasrah? Poor Sunghyo :3
      Saranmu oke. Great. Bisa dipertimbangkan. Makasih sarannya.
      Gomawo juga udah mampir komen ;)

  10. Annyeong, Yuken.
    Hahaha. Labil dan pasrah? Poor Sunghyo :3
    Saranmu oke. Great. Bisa dipertimbangkan. Makasih sarannya.
    Gomawo juga udah mampir komen ;)

  11. kang minrin

    romantis sih, tp q kurang suka sama karakternya sunghyo kyk gak punya pendirian apa terlalu polos ya? kan kasian yoochun oppa, tp siwon oppa jg baik sih hehehe yesungdahlah trserah aja… mesti ada sequel nya nih author…, fighting!!!

    • Halo, chingu :D
      Gamsha udah komen.
      Hehehe. Poor Sunghyo. No one likes her. Hehehe.
      Sekuel kayaknya musti kembali dipertimbangkan untul jadi dibuat ato gaknya nih, chingu. Hehehe. ^^”
      Sekali lagi makasih udah komen. ;)
      tiap komen berarti besar buat kami #bow

  12. Thoooorrrr ini gantung bgt, sekuel yaaahhh
    Penasaran aakhirnya gimana, tp rasanya ak lbh suka sunghyo sm yoochun muahahahaha
    Kok sunghyo nya kesannya jd kaya wanita nakal thor :(
    Trs jd ga berpendirian gitu dia maunya sm siapa

    • Hahaha… Sekarang kami sebagai author jadi galau abis mau lanjut ini ato gak, chingu. ada yang minta, ada yang kurang suka Sunghyo wkwkwk
      Sebetulnya, Sunghyo memang sengaja dibuat berasa nakal, makanya judulnya Let’s get Ugly. Ugly yang kita maksud di sini lebih ke kelakuan daripada perawakan. daann… Cerita ini emang belum keungkap semua. Belakangan nanti bisa ketahuan siapa yang paling nakal di antara tiga orang ini. Well, mungkin sekarang yang paling berasa ‘ugly’ kelakuannya adalah Sunghyo. Tapi berikutnya… ada banyak kejutan.
      Kamu lebih suka sama Yoochun? Yay! Kami senang kalo begitu.
      Btw, gamsha udah mampir komen. ;-)

  13. thor minta pwnya donk please.
    Kalo bisa lewat twitter,aku udah ngefollow kok.cuman belum di bales.
    Please,kalo lewat email aku gak ngerti-_

  14. Raisa Jarief

    Daebaaak! Seqnya harus bet nih! Aku kepo nih si sunghyo milih siapa~ apapun pilihannya, minumnya teh botol(?) Wkwk ._.v ditunggu seqnya Thor :D

    • Gomawo udah mampir komen, chingu ^_~
      Wah, nambah satu yang minta sekuel nih :) tapi kegalauan masih menghampiri (?)
      Oh, btw, makasih juga udah baca, chingu :D

  15. Wahhhh sunghyo akhirnya milih siapa tuh suwon atai yoochun , ? Ini mah kudu apa sekuelnya nih , :)

  16. LiaHeechul_Elf

    Feelnya dapat thor, wajib sequel yaa thor. tapi jadi cewe sunghyo terlihat menyedihkan, gimana kalau hamil syukur2 kalau ada yang mau tanggung jawab, kalau ga? Kasian kan,, mentang2 laku jadi mau aja ditidurin cowo..hahaha makasih

    • Annyeong, Lia.
      Ahahahahaha… Iya juga, ya. Mudahan sekuelnya berkata lain (kalau jadi dibuat :-] hihihi)
      Btw, gomawo udah mampir komen ya, chingu ;)

  17. Haaa… Kasian chunnie…
    Wajib, sekuel
    #chunnie kamu ama aku aja yah

  18. yuma wardani

    aaaaaaa,
    sunghyo jadi sama siapa dong kalo gitu..

    bagus, thor.
    alur ceritanya jelas banget.
    sequel ya thor..

    • Annyeong, yuma~
      Hehehe. Jadi sama siapanya sampai sekarang aja kami masih bingung.
      Tapi kami senang kalo kamu menikmati FF ini ^_^
      Gomawo ya udah mampir komen.
      Sekuel, liat nanti ya… ;)

  19. waw.. sunghyo!!!
    siapa yg anda pilih? yoochun or siwon?!
    omo! kenapa membandingkannya dengan ‘itu’ ?! *nelenludah *geraaah
    pkonya mesti sequel
    untung kyuhyun ada di daftar cast nya *ngelusdada

    • *mksdnya gda cast kyuhyun thor. hihi

      • Annyeong, qyu~
        Wah, seneng kamu mampir komen di FF ini juga ^_^
        Hihihi, perbandingan yang ga terduga ya? Sekuel? Ummm… Gimana ya? :]
        Tenang, Kyuhyun udah ada tempatnya sendiri, dia bukan di trio ini ^_^ kalo mau liat, bisa liat2 di blog kami #promo hehehe…
        Anyway, sekali lagi gomawo ya :D

  20. wah masih gantung cp ya yg d pilih oleh sunghyo???
    jd penasaran……

  21. Jiaaaa ini kesannya kok cast ceweknya jadi plinplan ya thor? Ditunggu sequelnya

    • Annyeong, Meilanie…
      hehehe, plinplan ya? Kadang prekuel bisa menipu lho… ;) ups, spoiler jadinya.
      Btw, makasih udah mampir komen ya, chingu. :D

  22. belum berakhir

  23. Dear author (?)
    aku berhara sunghyo milih yoochun… Ahhhh yoochun baik bgt soalnya ^^
    semoga doaku terkabulkan..
    Author sequelnya dah di post???
    Reply me please :))

    • Dear BEEP :D
      ah :D kamu dukung SungChun rupanya. Hehehe. Senang mendengarnya :D
      tapi sebenarnya Siwon baik banget juga kok. Sekuelnya akan menjelaskan.
      Ya, sekuelnya belum ada, chingu. Tapi kalo kamu berminat nunggu kabar kapan sekuelnya ada, kamu bisa liat blog kami.
      Btw, jeongmal gomawo udah mampir berkomen. :D

      • apakah ini menandakan ff ini akan berakhir dengan sungwon???
        tolong beri aku arahan thor ><
        dan klo udah ada sekuelnya beritahu aku ya :)

        • mian, baru liat komen ini ><
          akhirnya bisa jadi itu, bisa jadi juga gak, chingu.
          kalo udah ada sekuel, pasti kami share di sini atau di blog kami kok :)

  24. Kurang suka sama sifat sunghyo yang terkesan ‘murahan’ & ‘rakus’
    Good tapi itu yg aku ga suka thor
    Sequel okay?

    • Annyeong, ahgi :)
      hahaha, Sunghyo’s bad behavior lagi ya kendalanya? :D Sekuelnya bakal berkata lain, chingu :D
      Tapi gomawo udah berkomentar. Tiap komen adalah apresiasi dan kami sangat menghargainya.
      Oh, ya, sekuel barangkali akan kami rilis di blog kami, chingu.
      Sekali lagi, thanks :)

  25. @ BEEP,
    ah, bukan gitu juga, chingu XD
    sebetulnya kami pun belum memutuskan. Hehe.
    Soal petunjuk, kami juga belum bisa kasih. Mungkin kamu bisa bantu? :D
    sip. Pasti kita kasih tau. Mau lewat apa dikasih taunya?

  26. Suka ama FFnya thor :D Good deh buat authornya,feelnya dapet banget ama bahasanya ituloh yang gak ribet dan baguslah ._.
    Thor aku kurang suka ama sifat Sunghyo disini kesannya dia polos murahan gitu ._.v *mian* Gimana nasib 2 pria tampan inikah ? Siapa yang akan sunghyo pilih ? Kalo siwon gak kepilih ama aku aja dah :D #waks
    Sequel ditunggu thor ~

    • annyeong, chingu~
      gomawo atas apresiasinya :)
      yah, masalahnya emang cuma Sunghyo di sini #lol
      nasib dua pria tampan ini bakal keungkap di sekuelnya hehehe
      thanks udah nunggu sekuelnya >_<

  27. authornim… kapan nih sekuelnya rilis? klu dari penilaianku kayaknya Sunghyo lebih berat ke Siwon, tapi sama siapapun yang penting happy ending

    #maniakHappyEnding

    • annyeong, ruunachy~
      hehehe, kamu boleh cek blog kita kalo kamu nungguin sekuelnya rilis ^0^
      wah, lebih berat ke Siwon ya? seru juga penilaianmu, chingu ;)
      ne, nanti diusahain happy ending :D
      anyway, makasih udah komen ya chingu ><

  28. wow.. NCnya hot tapi sweet disaat yang bersamaan..
    sekali coba langsung ketagihan ya wonpa? hi3
    pengennya akhirnya sich sama siwon.. abisnya kasian kalo siwonnya ditinggal sendirian.. harus happy ending ya author-nim..(maksa)

    • annyeong, hanna~
      wah, senangnya kalo kamu berpendapat ff ini sweet ><
      kamu lebih dukung wonsung ya? hehehe
      ne, happy ending akan diusahakan~ sekuel juga diusahakan :))
      btw, gomawo udah komen ya, chingu :D

  29. daebak…

    kipas mana kipas
    hot bangt thor…
    mnurut aku cwe nya sma siwon ajh thor biar Yoochun sma aku :D

    oh ia aku readers baru d sni salam kenal…;)

    • annyeong, kim hanif…
      apa iya hot banget? #lol
      hehehe, kamu suka yoochun ya? :D

      salam kenal juga. ;)
      gomawo udah komen di ff ini ;)

  30. hahahaha..
    ige mwoya, padahal td suka banget scene Yoochun-Sunghyo, bener2 ngingetin scene Kyuchan, apalagi sifat Yoochun yg kayak Kyuhyun, selalu bisa menenangkan, aigoo..
    tp mungkin emang dari sono.nya si Sunghyo ditakdirkan sama Siwon..
    kkk,
    ah! yg bikin envy, Sunghyo punya 2 panggilan sayang coba dari Yoochun ama Siwon..
    Yoochun » Dear / Dearest
    Siwon » Love / Lovely

    *Yoochun sama aku aja, hahaha*

    • wah, senangnya nemuin komenmu lagi, nan_cho ><
      kami juga senang banget sama SungChun, sumpah! #gakditanya
      ta-tapi…
      SungChun scene ingetin kamu ke KyuChan?? #pingsan
      mungkin Yoochun sebenernya kakaknya Kyuhyun makanya sifatnya mirip #jawabanapaini
      mian, ya, chingu, kami terlalu senang jadi balesannya agak acak-acakan begini. hihihi…

      huwaa.. jangan envy. apa kamu mau punya panggilan sayang juga? #eh

      kamu suka pada Yoochun juga kah?
      kami juga ada ff Yoochun di sini, lho hehehe

      btw, sekali lagi, makasih banget atas komentarnya ya, nan_cho #deepbow

  31. Butuh sequel nih Thor karna belum ketahuan Sunghyo milih Siwon atau Yoochun. Kalau dia pilih Yoochun, biar Siwon buatku saja. Hahahahaha… #Pltak #DikeroyokSiwonest #DigamparSungmin

    • Sekuel yaaa? ><
      Huwaa… akan kami usahakan, chingu ^^
      Doakan kami segera dapat membuatnya hehehe
      Hahaha. Yaudah ambil Siwonnya diem2 aja, chingu, biar ga ketauan Siwonest hehehe
      Kamu suka Sungmin kah?
      Btw, makasih udah komen ya ^^

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,118 other followers

%d bloggers like this: