Like a Last Bite

Aunthor        : Elysia Park

Genre             : NC-17, romance action

Cast                 : Leeteuk (Park Jung Soo)

                          Park Eun Kyo (Elysia Park / author)

                         Lee Hyukjae (Eunhyuk)

                         Lee Sungmin

Jika aku harus mati sebelum aku bangun
Ini semua karena kau mengambil napasku pergi
Kehilanganmu seperti hidup di dunia dengan tidak ada udara

Katakan bagaimana aku harus bernapas tanpa udara
Tidak bisa hidup
Tidak bisa bernapas tanpa udara
Ini perasaanku setiap kali kau tidak ada

(No Air – Chris Brown with Jordin Sparks)

Teuki’s POV

Aku baru saja memeriksa berkas yang dikumpulkan beberapa rekanku atas analisa yang mereka duga pada kasus yang aku tangani. Aku adalah seorang detektif dari sebuah instansi pemerintah, sekarang aku lagi menangani sebuah kasus sindikat perdagangan wanita di Korea. Banyak masyarakat yang  mengeluh kehilangan anak gadisnya. Aku menduga gadis itu diculik, dijual dan dijadikan wanita penghibur. Aku sangat tertarik dengan kasus ini karena ini kasus lama yang mencuat kembali. Dulu waktu aku menangkap tersangka 4  tahun yang lalu, pengadilan memutuskan vonis bebas atas orang itu dengan alasan tidak cukup bukti, dan bukti yang aku kumpulkan tidak kuat. Aku sangat terobsesi dengan kasus ini. Jaringannya sepertinya sudah tersebar diseluruh penjuru Korea, karena akhir-akhir ini banyak warga desa terpencil yang melaporkan kehilangan anak gadisnya.

Aku duduk di belakang meja kerjaku sambil menyandarkan kepalaku di kursi. Memang tidak cukup bukti, tidak ada saksi dan itu hanya sebuah analisaku saja. Tidak akan membuat para tersangka dijatuhi hukuman jika aku terburu-buru memasukkan kasus ini ke Pengadilan. Kasus ini membuat aku pusing dan mampu membuatku melupakan Eun Kyo selama 5 bulan.

Eun Kyo, dia adalah gadis yang aku temui di tepi Sungai Han saat aku melepaskan penatku karena kasus yang aku tangani. Kala itu aku menangkap kepala sindikat prostitusi terbesar di korea, namun lelaki itu di vonis bebas karena aku tidak cukup bukti. Aku terlalu dini memasukkan kasus itu di pengadilan. Hasilnya? Sudah bisa ditebak. Saat itu jiwa mudaku masih menggebu dan egoku masih sangat kuat. Aku bersikeras menangkapnya dan sangat ingin menjebloskannya ke penjara hingga mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Saat aku duduk di tepian Sungai Han dan menikmati suasana malam di kota Seoul, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh seorang gadis yang duduk disampingku, dia sedang membawa kotak makanan. Membukanya dan memakannya tanpa memperdulikanku yang sangat kebingungan melihat tingkahnya. Porsi makannya sangat banyak, kotak makanan besar itu hampir tak bersisa. Dia menoleh padaku saat ingin menyuap makanan terakhirnya.

“Buka mulutmu.” Serunya padaku. Aku melihat wajahnya yang… aku tidak bisa menjabarkannya. Sederhana dan cantik, dengan sisa makanan ditepi mulutnya, membuatku terpana, Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan seorang gadis itu masuk dalam kategori cantik saat melihat mulutnya penuh dengan makanan. Seperti terbius wajah cantiknya atau karena terjangkit virus rakusnya, aku membuka mulutku. Dia memasukkan makanan itu ke mulutku. Aku mengunyahnya sambil terus menatap lekat wajahnya. Dia tersenyum dan menyapu sisa makanan yang ada dimulutku. Setelah itu dia berlalu pergi. Setiap hari aku mengunjungi Sungai Han saat malam tiba, tapi tidak menemukannya. Namun saat hari ketujuh aku mengunjungi Sungai Han, haha, aku ini seperti mengunjungi sebuah mall saja jika ingat setiap hari ke tepian Sungai Han. Hari ketujuh aku menemukannya, dia duduk ditempat yang sama dengan aktifitas yang sama. Aku duduk mendekatinya.

“Heran menemukanku lagi?” tanyanya padaku. Aku menoleh padanya.

“Jadwalku kesini adalah setiap malam Kamis.” Jawabnya sendiri, sambil meneguk minuman. Seolah tau pertanyaan apa yang ada dalam otakku

“Heran lagi kenapa setiap malam kamis? Karena setiap malam kamis aku selalu makan disini bersama Appa, kami membeli makanan dan berlomba menghabiskannya, siapa yang kalah akan berlari sepanjang Jembatan Sungai Han.” Dia menjelaskan semuanya tanpa aku minta.

“Heran juga kenapa sekarang aku tidak bersama Appa? Itu karena Appa sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu. Buka mulutmu.” Dia kembali menyuruhku membuka mulut. Suapan terakhir kembali dia berikan padaku. Sejak itu suapan terakhirnya selalu berakhir dimulutku.

Lamunanku buyar oleh sebuah ketukan pintu seseorang dari luar. Aku mempersilakannya masuk. Lee Hyukjae, rekan kerjaku yang selalu menemaniku lembur.

“Hyung, aku menemukan korban dari trafficking ini, kita ditugaskan untuk melindunginya.” tanya Hyukjae padaku.

“Eoh? Siapa?”

“Seorang gadis, dia korban yang bisa melarikan diri.” jelas Hyukjae.

“Kira-kira disembunyikan dimana menurutmu agar aman?” tanyanya lagi.

“Tidak mungkin membawanya ke rumahku, aku kan masih sendiri.” Jawabnya.

“Tidak mungkin juga membawanya ke hotel, tidak ada yang menemaninya.” Dia mencoba berfikir.

“Ke rumahku saja.” Sahutku sambil berlalu dari hadapannya.

“Nde? Tapi, tapi bagaimana dengan Eun Kyo?” tanya Hyukjae khawatir.

“Wae? Aku kan tidak membawa seorang istri padanya, hanya menampungnya sementara kan?”

“Ah, benar juga, tapi jika terjadi apa-apa dengan hubunganmu dengannya, aku tidak mau ikut campur.” Seru Hyukjae.

***

Aku membawa seorang gadis ke rumahku. Memang keputusan yang keliru, tapi mau bagaimana lagi? Aku terlalu antusias dengan kasus ini, hingga mengabaikan kemungkinan terburuk, toh, aku tidak membawa selingkuhan ke rumah, hanya menampung seorang saksi saja. Tenangku dalam hati.

Eun Kyo’s POV

Aku membolak-balik majalah yang ada dihadapanku dengan malas. Semua artikel yang ada di majalah itu aku perhatikan berkali-kali, tidak menarik. Aku menyalakan televisi dan menekan tombol secara acak, mencari channel yang membuat perhatianku tertarik tapi hasilnya tetap saja, bosan.

“Argh, membosankan sekali!” aku menggumam pada diriku sendiri.

“Kapan dia akan pulang?!” aku membuka kembali majalah yang tadi aku tinggalkan tergeletak diatas meja. Ck! Tetap tidak bisa mengusir rasa jenuhku.

Setiap hari seperti ini. Menunggunya pulang dari bekerja. Aku bosan Park Jung Soo kau acuhkan seperti ini. Dia pasti sedang asik dengan file-file penemuan bukti barunya dan melupakanku lagi hingga selarut ini. Park Jung Soo, yang lebih senang dipanggil Leeteuk atau Teuki adalah tunanganku. Dia adalah seorang Detektif dari instansi pemerintah. Dia sangat suka bekerja, dan sering membiarkanku sendirian di rumah. Aku memutuskan tinggal bersamanya setelah 3 tahun menjalin hubungan dengannya, hingga kami sekarang sudah bertunangan setengah tahun yang lalu. Hufh, awal-awal hidup bersama setengah tahun yang lalu tidak seperti ini, dia selalu pulang tepat waktu. Tapi ketepatan waktu pulangnya hanya bertahan satu bulan, sisanya aku dibiarkannya menunggu hingga larut malam. Alasannya? Karena dia sibuk mengurus kasusnya.

Aku berjalan ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Aku berguling kesana kemari mengusir bosan. Kupasang headset ditelingaku dan mendengarkan musik kesukaanku, hingga tidak sadar aku terlelap. Aku terbangun setelah merasakan getaran ponselku di balik bantal. Aku mengangkatnya.

“Kemana saja kau? Aku sudah lama menunggu di depan pintu!” sahut suara itu nyaring di telingaku saat aku memencet tombol ‘answer’.

Ck! Menyusahkan sekali. Kenapa harus pulang malam-malam seperti ini? Mengganggu tidur orang saja!

Aku berjalan gontai menuju pintu depan, kutekan angka kombinasi kode sebelum membuka pintu. Aku membukanya dengan malas. Mataku masih mengantuk, ini sudah jam 1 pagi dan dia baru pulang? Dia masuk tanpa aku persilakan.

“Mengapa tidak menginap di kantor saja? Menyusahkanku membuka pintu saja, biasanya kan kau tidur di kantor bersama selingkuhanmu itu.” Kataku ketus.

“Ini rumahku, aku berhak pulang kapan saja.” Mulutku menganga mendengar ucapannya. Rumahnya? Oh, jadi begitu? Aku hanya menumpang disini? Begitu maksudnya? Setelah melepas sepatunya dia terlihat berbalik menuju pintu depan.

“Silakan masuk.” Masuk? Eh? Dia membawa seseorang? Tiba-tiba seorang gadis muncul di depan pintu.

“Kau mau minum hangat?” tawarnya pada gadis itu.

“Terserah saja.” Jawab gadis itu. Teuki Oppa berlalu di hadapanku menuju dapur. Aku masih bingung dengan kejadian yang baru saja berlangsung. Aku mengikutinya kearah dapur. Dia terlihat memasukkan beberapa sendok kopi ke dalam cangkir. Saat aku mendekatinya, langsung menarik tubuhku dan memeluk punggungku.

“Buatkan aku kopi.” Bisiknya ditelingaku.

“Aku bukan pembantu.” Jawabku seraya melepaskan pelukannya.

“Ya.. kita harus menjamu tamu, jika tidak membuatkannya, aku tidak akan melepaskanmu.” Dia semakin erat memelukku.

“Silakan saja, tidak ada ruginya bagiku, mau kau semalaman memelukku juga aku tidak peduli. Lagipula dia kan tamumu, bukan tamuku” Jawabku enteng. Dia mendengus kesal.

“Ck! Membuat kopi seperti ini saja kau susah sekali, gampang, tinggal tuangkan air panas dan tambahkan sedikit gula.” Dia melepaskan pelukannya dariku dan mulai membuat kopi.

“Kalau mudah kenapa menyuruhku membuatnya?” tanyaku sinis. Yak! Park Jung Soo! Aku masih kesal denganmu tapi kau dengan mudah melupakan kesalahanmu!

Dia membawa nampan berisi dua buah kopi buatannya ke ruang tamu dan menyuguhkannya pada gadis itu. aku memperhatikannya dari dalam.

“Silakan diminum, untuk sementara waktu kau akan tidur disini, tidak apa-apa kan?” tanya Teuki Oppa pada gadis itu.

“Ah, ye, maaf merepotkan anda.” Jawabnya manis. Entah mengapa aku tidak menyukai gadis itu.

“Jagiya… Bisa kesini sebentar?” Teuki Oppa memanggilku. Aku berjalan gontai menghampirinya.

“Jagi, kenalkan ini Oh Yeon Ji, dia sementara akan tinggal bersama kita, tidak keberatan kan?” tanyanya dengan nada manis padaku. Aku menatap tajam kearahnya, dia balas dengan senyuman. Park Jung Soo! Jika ada maunya baru bersikap manis padaku.

Teuki’s POV

Dia bersikap  lain padaku. Aku tau dia sangat kesal padaku karena meninggalkannya setiap hari sampai larut malam, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi sekarang aku membawa seorang gadis kerumah ini. Dia pasti marah, paling tidak dia pasti curiga. Aku memperhatikan gerak-geriknya melalui sudut mataku.

“Kau akan tinggal disini beberapa waktu Yeon Ji~shi, kuharap kau betah.” Aku berkata pada Yeon Ji, Eun Kyo menatap tajam padaku.

“Jagi, kau sudah menyiapkan kamar yang aku jelaskan tadi di telepon kan?” bohongku padanya, matanya membulat padaku. Hihi, aku senang melihat ekspresinya seperti itu, ekspresi favorit kedua setelah ekspresi makannya. Aku membulatkan mataku juga agar dia mengerti yang aku maksud. Berbohonglah Park Eun Kyo, sekali saja demi aku.

“Ah, ye.” Jawabnya kemudian, itu baru Gadisku.

“Bisa kau antarkan dia istrirahat?” pintaku padanya. “Ini sudah larut malam, silakan kau beristirahat Yeon Ji~shi.” Aku menoleh pada Yeon Ji.

“Ah, silakan, mari kuantarkan.” Eun Kyo membawa Yeon Ji menuju kamar tamu yang ada di rumah kami.

Aku memasuki kamarku. melepaskan jasku beserta atribut yang ada dibadanku. Lalu beranjak ke kamar mandi. Ah, segar sekali rasanya. Aku mengguyur badanku dengan air hangat. Setelah selesai membersihkan semua keringat yang melekat ditubuhku, aku meraih handuk dan memakainya di pinggulku. Aku membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya aku mendapati Eun Kyo bersandar disamping pintu kamar mandi sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Aku tersenyum, dia pasti marah.

“Siapa dia?!” serunya keras. Aku lansung membekap mulutnya dengan tanganku.

“Jangan keras-keras, nanti dia mendengarnya.” Bisikku padanya.

“Memangnya kenapa kalau dia mendengar?”

“Dia kan tamu, kita harus membuatnya merasa nyaman, jangan sebaliknya malah membuatnya tidak nyaman.”

“Membuatnya tidak nyaman? Kau takut membuatnya tidak nyaman, apa kau pernah merasa bersalah membuatku tidak nyaman?”

“Jagi, jangan seperti ini. Dia adalah korban dari penyelundupan wanita yang berhasil melarikan diri.” aku menjelaskan, dia mulai melemah.

“Berapa hari dia disini?”

“Sampai kasusku selesai.” Jawabku santai.

“AP!” aku langsung menutup mulutnya yang ingin berteriak dengan bibirku. Menyudutkannya ke dinding. Dia berusaha mendorongku. Aku melepaskannya.

“Aku sudah bilang jangan keras-keras. Atau kau akan berakhir di tempat tidur.” Ancamku.

“Aku tidak akan membiarkannya. Kau hanya boleh menyentuhku saat malam pertama.” Dia berbaring di tempat tidur.

“Kita akan menikah setelah aku menyelesaikan kasus ini.”

“Kalau begitu acara di tempat tidurnya juga menunggu kau menyelesaikan kasusmu.” Serunya sambil memunggungiku.

Aku berbaring disampingnya. Aku memang serumah dengannya sejak setengah tahun yag lalu. Bahkan satu ranjang berdua dengannya setiap hari, namun aku tidak pernah menyentuhnya. Paling jauh menyentuhnya adalah meraba tubuhnya dan mencium bibirnya. Jika aku ingin berbuat lebih dia selalu menahanku dengan perkataan ‘aku akan melakukannya setelah kita menikah’ aku sudah hapal kalimat itu. aku tersenyum memandanginya yang membelakangiku, kubelai punggungnya dengan telunjukku.

“Jangan sentuh aku.”  Dia berkata sambil menggerakkan badannya menghindari tanganku. Aku mendekatinya dan memeluknya.

“Kau marah?” tanyaku ditelinganya.

“Bagaimana kelihatannya?” tanyanya.

“Kau terlihat marah, tapi aku senang, itu artinya kau mencintaiku.” Aku mengecup lehernya dan memejamkan mataku. Gadis aneh ini, aku sangat mencintainya, ingin selalu memeluknya seperti ini, merasakan detak jantungnya, bibir manisnya dan hembusan nafasnya yang membelai dadaku jika dia sedang tidur normal, tidak dalam keadaan marah seperti ini.

***

Pagiku dikejutkan oleh sebuah teriakan keras yang menusuk telingaku. Aku mencoba mengabaikannya dan berusaha tetap bermimpi. Namun guncangan keras ditubuhku tidak mampu membuat mataku terus terpejam.

“Oppa, siapa yang berteriak?” tanya Eun Kyo sambil terus mengguncang tubuhku.

“Aku masih mau tidur.” Jawabku malas, ini hari minggu,aku ingin bermalas-malasan sebentar.

“Tidak bisa, sepertinya terjadi sesuatu dengan gadismu.” Serunya. Gadisku? Nuguya? Aku bangkit dari tidurku. Oh Yeon Ji.

Aku bergegas menuju kamarnya diiringi Eun Kyo dan langsung membuka pintu, aku melihat keadaan Yeon Ji yang sangat memprihatinkan, dia meringkuk di sudut kamar sambil menangis.

“Dimana aku?” aku menghampirinya.

“Tenang saja kau aman disini.” Aku menenangkannya.

“Dimana aku? Aku tidak mau dijual lagi, aku mohon lepaskan aku.” Dia terus merapat ke dinding ketakutan.

“Kau tenang saja, ada aku disini.” Eun Kyo mendekatinya dan menenangkannya. Perempuan akan lebih mudah menghadapi perempuan.

Setiap hari dia ketakutan seperti itu, aku jadi iba padanya. Aku mengerti keadaannya. Dia ketakutan karena ini adalah tempat asing baginya. Dia mengira masih ditempat penampungan, hampir setengah bulan dia seperti itu, hingga sekarang mulai tenang. Dia masih tidak bisa dimintai keterangan. Saat aku menanyakan apa yang terjadi dia menjadi panik dan mulai mengamuk. Seperti pagi ini. Aku membawakan makanan ke kamarnya.

“Yeon Ji~shi, silakan makan.” Aku membuka kamarnya, tidak dikunci. Dia sedang mandi. Aku beranjak meninggalkannya.

“Oppa.” panggilnya dari dalam kamar mandi.

“Ye?” sahutku.

“Oppa, bisa tolong ambilkan handuk? Aku lupa mengambilnya.”

“Ye?” tanyaku bingung.

“Dikursi di depan cermin Oppa.” aku melihat selembar handuk disana, aku mengambilnya dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Ini handuknya.”dia mengambilnya dari tanganku.

“Gomawo,Oppa.” sahutnya. Aku mulai beranjak dari kamarnya.

“Ada perlu apa denganku Oppa?” tanyanya yang sudah keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya, sepertinya dia dalam keadaan yang baik hari ini, semoga saja aku beruntung.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”

“Tanyakan saja.” Jawabnya sambil menyapukan bedak ke wajahnya.

“Mengenai peristiwa yang kau alami dulu, apa kau masih mengingatnya?” tanyaku ragu-ragu.  Dia mendekat padaku.

“Masalah itu..” dia sudah ada dihadapanku, mulai menangis, sedikit tidak terkendali aku menahannya, dia memeluk tubuhku erat.

“Aku takut, sangat takut.” Ucapnya disela tangisnya. Aku belum pernah menghadapi wanita menangis, aku hanya bisa menghadapi wanita yang sedang merajuk. Aku bingung dan kikuk.

“Tenanglah, kau tidak akan apa-apa disini, ada aku kan? Kau aman.” Aku menenangkannya sambil melepaskan pelukannya.

“Sebaiknya kau istirahat saja. Aku mau berangkat bekerja.” Aku meninggalkannya, namun sebelumnya aku berhenti di depan pintu. Eun Kyo sudah berdiri disana, saat aku ingin meraih tangannya tapi dia sudah melesat pergi. Marah lagi.

***

“Hyuk~ah… aku mulai risih.” Keluhku pada Hyukjae.

“Wae? Kau punya dua gadis dirumahmu, mengapa kau risih?”

“Ani, hanya saja Yeon Ji mulai bertngkah aneh, selain itu juga dia belum bisa dimintai keterangan.”sambungku.

“Lalu kau mau bagaimana?” tanyanya.

“Aku juga tidak tau.”

“Bersabarlah Hyung, kau sendiri yang mau menampungnya dirumahmu.”

“Eun Kyo mulai tidak terima dengan alasanku.”

“Dia marah?”

“Sepertinya.”

“Terang saja dia marah, kau membawa gadis lain dalam rumahmu.”

“Tapi dia hanya diam saja.”

“Itu lebih gawat, kau jangan heran, saat dia diam seperti itu tiba-tiba saja dia menghilang.”

“Kau jangan menakutiku!” aku menatapnya tajam.

“Mau semuanya berjalan dengan baik? Kau tetap bisa mengawasi gadis itu dan Eun Kyo tetap ada yang mengawasi dan kau tidak didiamkannya?”

“Bagaimana caranya?”

“Biarkan Eun Kyo aku yang menjaga dirumahku.” Aku langsung memukul kepalanya dengan Koran, Hyukjae tertawa keras.

“Hyung, kau tahan sekali hidup bersamanya, tapi tidak menyentuhnya, kalau aku, aku sudah menikahinya dan menikmati bulan madu bersamanya.”

“Hentikan pikiran kotormu itu.”

Eun Kyo’s POV

Aku memasak di dapur. Menyiapkan makan malam untuk Teuki Oppa. Saat aku sedang asik memasak dengan keahlianku yang dibawah rata-rata, seseorang memperhatikanku dari belakang.

“Mengiris bawang jangan seperti itu, harusnya seperti ini agar saat digoreng terlihat bagus.” Yeon Ji, dia mengomentari cara memasakku. Aku mencoba sarannya. Setelah itu aku memotong sayuran.

“Yak, jangan potong seperti itu, sini, biar aku yang mengerjakan.” Aku bingung menatapnya yang merebut semua pekerjaanku. Aku meninggalkannya ke ruang tengah sambil menonton tv.

Bau harum menyengat hidungku. Membuatku terasa lapar. Aku menengoknya di dapur. Dia pintar memasak, batinku berkata. Dia terlihat sibuk menata masakannya diatas meja tanpa memperdulikanku yang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dia hapal semua letak perabotan, hebat.

“Jam berapa Teuki Oppa akan pulang?” tanyanya padaku.

“Sebentar lagi.” Jawabku singkat.

“Oh, baiklah, sudah siap.” Wajahnya berseri memandang semua hidangan yang tertata rapi dimeja. Aku meninggalkannya di dapur kembali menonton tv. Aneh, dia seperti menyiapkan masakan untuk suaminya. Sebenarnya siapa yang tuan rumah disini? Aku? Atau dia? Saat aku sedang binngung memikirkan sikapnya, dia duduk disampingku sambil mengambil majalah dan membuk-buka halamannya.

“Sejak kapan kau bertemu dengan Teuki Oppa?” tanyanya sambil membalik halaman.

“Kira-kira 4 tahun yang lalu.”

“Lumayan lama.” Aku bingung bagaimana arah pembicaraannya.

“Kau sudah menikah dengannya?” tanyanya lagi.

“Aku masih bertunangan.” Sahutku sambil memasukkan cemilan dalam mulutku. Sesekali aku melihat jam di dinding, Teuki Oppa, kapan kau pulang? Aku sudah sangat lapar.

“Sejak kapan kau tinggal bersamanya?” dia kembali bertanya.

“Sejak aku bertunangan dengannya kurang lebih setengah tahun yang lalu.”

“Apa makanan kesukaannya?” dia menatapku kali ini.

“Aku tidak terlalu memperhatikannya, dia memakan apapun yang aku masak, lagipula dia bisa membelinya pulang dari kantor jika dia lapar.” sahutku membalas tatapannya. Dia tersenyum sinis. Gadis yang aneh, untuk apa dia mengorek semua kehidupanku. Aku mengalihkan pandangan ke layar tv.

“Mari kita bersaing secara sehat.” Ucapannya kali ini membuatku terperangah. Saat aku memikirkan maksud dari ucapannya tadi, tiba-tiba bel berbunyi. Yeon Ji langsung berlari kearah depan, mendahuluiku. Dia membukakan pintu.

“Oppa, kau pulang.” Serunya manja pada Teuki Oppa, Teuki Oppa membalasnya dengan senyuman. Yeon Ji melepaskan jas yang dikenakan Oppa. ck! Aku jijik melihatnya. Aku beranjak meninggalkan mereka.

“Jagi, kau masak apa hari ini? Aku sudah sangat lapar.” perkataan Oppa mencekat langkahku. Aku berbalik menatapnya.

“Hari ini aku yang memasak Oppa.” Yeon Ji menautkan tangannya di lengan Teuki Oppa, lalu menariknya kearah dapur, mempersilakan Teuki Oppa untuk duduk.

“Ayo Oppa, kau sudah lapar kan? Aku memasak banyak hari ini.”

“Wah, makan besar hari ini, mengapa tadi aku tidak mengajak Hyukjae saja kesini.”

“Tidak perlu, aku juga bisa menghabiskannya.” Jawabku ketus.

“Aish! Kau takut berebut makanan dengannya?” Teuki Oppa mendekatiku.

“Ani, hanya saja aku tidak suka caranya mengambil makananku.” Sahutku. Oppa menarik kursi dan menekan pundakku untuk duduk. Saat Teuki Oppa menarik kursi disampingku.

“Oppa, aku sudah menyiapkan makananmu disini.” Suara manjanya membuat telingaku sakit. Oppa tidak jadi menarik kursi dan duduk disampingnya, cih!

“Oppa, coba yang ini, terasa enak tidak?” Yeon Ji menaruh makanan pada mangkuk nasi Oppa. aku berusaha mengabaikannya dengan memasukkan makanan silih berganti dalam mulutku, agar aku fokus merasakan makanannya saja, bukan situasinya.

“Enak?” tanyanya sambil menatap Oppa manja.

“Em, sangat enak.” Jawab Teuki Oppa.

“Kalau begitu aku akan membuatnya lagi besok.” Serunya. Oppa hanya mengangguk. Aku mengambil makanan dan terus memasukkannya dalam mulutku.

“Onnie~ya, kau ini makan tidak sopan sekali.” Dia mengomentari cara makanku kali ini. Aku tersedak.

“Uhuk uhuk!” aku memukul-mukul pelan dadaku dan mencoba meraih gelas lalu menenggaknya sampai habis.

“AKu sudah selesai.” Aku berdiri dan meninggalkan sepasang manusia yang terlihat seperti suami istri itu. Teuki Oppa menatapku, aku bisa merasakannya. Sebenarnya aku masih lapar, tapi melihat tingkah menjijikkan gadis itu membuatku kehilangan selera makan. Onnie? Sejak kapan dia memanggilku Onnie? Dia bahkan bertindak seolah-olah dia lebih tua dariku dan mengetahui segalanya saat Teuki Oppa belum pulang. Aku masuk kekamar dan tertidur dengan rasa yang mengganjal dihati.

***

Aku bangun dipagi hari seperti biasa. Teuki Oppa tidur disampingku seperti biasa, memelukku. Aku memandangi wajahnya. Wajah lelaki ini, yang sungguh sangat memikatku. Saat pertama kali bertemu dengannya aku sudah menyukai tekstur wajahnya yang sempurna. Hidungnya, rahangnya, bibirnya, barisan giginya yang rapi, membuatku larut dalam auranya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, tapi aku tidak mau berharap lebih, tapi anehnya, setiap aku melewati Sungai Han dengan sepedaku, dia selalu ada disitu, ditempat ritualku. Apa dia mencariku? Aku selalu makan di Tepian Sungai Han sambil menikmati gemerlap lampu malam kota Seoul yag indah. Dulu aku selalu bersama Appa melakukan itu, namun sejak Appa meninggal, aku sendirian melakukan ritual itu. Hingga aku menemukan lelaki itu. Aku memberikan diri menyapanya, sampai akhirnya seperti ini, berada disampingnya setiap malam, meski belum terikat sebuah pernikahan, tapi aku selalu menjaga diriku dengan baik, seperti pesan Appa ‘Lelaki yang baik adalah lelaki yang bisa menjaga wanitanya dengan baik dengan tidak menyentuhnya sampai janji suci mengikat keduanya’. Pesan Appa selalu aku pegang, saat dia bertindak lebih, aku selalu menghentikannya, dan dia, dia mengerti semua dengan baik, dia menghargai keputusanku. Dia berjanji akan menikahiku setelah kasusnya selesai, tapi ini sudah berbulan-bulan, kasusnya tidak ada kemajuan selain dia menemukan saksi yang tidak mau buka mulut dan kerap bertingkah manja padanya. Aku jadi teringat ucapan Yeon Ji semalam, bersaing secara sehat? Bersaing untuk apa? Teuki Oppa? Aku tersenyum. Oppa, salahkah aku jika sekarang aku meragukanmu? Bukan karena gadis itu, tapi karena pekerjaanmu. Aku tidak terlalu suka kau bekerja terlalu keras meskipun itu untuk masa depan. Aku hanya ingin kita bisa menikmati waktu bersama hingga tua.

Dari luar kamar terdengar teriakan yang rutin setiap pagi terjadi. Teriakan dari Yeon Ji. Aku membangunkan Oppa. mengguncang tubuhnya, bukannya bangun dia malah memelukku dengan erat.

“Eun Kyo~ya, kita menikah saja.” Ucapnya dengan mata masih terpejam.

“Urusi dulu gadismu itu, baru kita menikah.”

“Kau saja, kalian kan sama-sama perempuan.” Tolaknya tanpa melepaskan perlukannya malah membenamkan kepalanya di dadaku.

“Aku sedang malas, lagipula dia lebih senang diurusi olehmu.”

“Ck! Aku juga malas.” Sahutnya.

“Ini kan pekerjaanmu, mana semua orasimu yang berkoar, kau adalah hamba hukum, yang akan menegakkan keadilan dan melindungi kaum yang lemah.” Aku mengejeknya.

“Kau mengejekku?” dia menghimpit tubuhku dibawah tubuhnya.

“Ani, aku tidak mengejekmu.” Belaku.

“Jinjjayo?” dia mulai menciumi leherku, turun kebawah semakin kebawah.

“Park Jung Soo.” aku menarik rambut dan kepalanya menjauh.

“Panggil aku Oppa.” dia mencium bibirku kali ini, meraba leherku dengan tangannya.

“Oppa, hentikan.” Aku menjauhkan wajahnya, dia berusaha menciumku lagi namun aku menahannya.

“Urus gadismu itu atau telingaku akan pecah.” Rajukku.

“Aku tidak peduli dengan telingamu.” Dia meraih bibirku lagi.

“Oppa, jika tidak membuatnya diam, aku yang akan angkat kaki dari rumah ini!” ancamku. Dia mulai beranjak dan berjalan dengan gontai.

Aku memperhatikannya menenangkan Yeon Ji, perhatian sekali, dia tidak pernah seperti itu padaku, aku memperhatikan merek tanpa mereka sadari. Yeon Ji memeluk Teuki Oppa dengan dalih rasa takutnya, Oppa terlihat kewalahan menghadapinya. Dadaku bergemuruh, ada ribuan jarum menusuk jantungku saat dia memeluk orang lain, beberapa detik kemudian Yeon Ji mencium bibir Teuki Oppa. aku terperanjat dan meninggalkan mereka. Airmataku jatuh setetes demi setetes. Yeon Ji tidak main-main. Aku mulai jengah dengan keadaan ini.

Oppa terlihat sibuk dengan ponselnya. Aku memperhatikannya.

“Mwo? Ada petunjuk?” dia memakai jaketnya dengan sebelah tangannya.

“Aku akan kesana, tunggu saja.” Jawabnya.

“Jagi, aku akan ke kantor sebentar, kau tunggu disini, arasseo?” dia mengecup bibirku sekilas. Aku menyapu bekas ciumannya. Bibir itu yang tadi mencium gadis lain.

Teuki’s POV

Saat aku sedang menenangkan Yeon Ji, tiba-tiba saja Yeon Ji menciumku, aku sangat terkejut dan diam terpaku. Yeon Ji menatapku lekat, aku beranjak darinya. Ponselku berbunyi. Aku melihat layar ponselku, tertera nama ‘Lee Hyukjae’. Aku langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Hyung, ada petunjuk, kau bisa kemari?” tanya Hyukjae.

“Mwo? Ada petunjuk?” aku meraih jaketku yang ada dikamar dan memasangnya dengan satu tangan.

“Aku akan kesana, tunggu saja.” Aku bergegas keluar kamar dan mendapati Eun Kyo sedang duduk di ruang tengah. Aku menghampirinya.

“Jagi, aku akan ke kantor sebentar, kau tunggu disini, arasseo?” aku meraih dagunya dan mencium bibirnya, melumatnya dalam hitungan detik, tidak ingin rasanya melepaskannya.

Aku bergegas mengemudikan mobilku menuju kantor, memarkirnya sembarang dan berlari kelantai atas tempat kerjaku.

“Ada perkembangan?” aku menghampiri Hyukjae yang sudah duduk di depan computer.

“Menurut informan yang aku dapat, mereka akan mencari mangsa di Seoul. Mengelabui para gadis yang pengangguran dengan iming-iming pekerjaan.”

“Begitu?”

“Ye.” Sahut Hyukjae.

“Bagaimana kita masuk dalam jaringan itu?” aku bergumam.

“Kita perlu umpan.” Sahut Hyukjae.

“Tapi siapa?” tanyaku memandangnya.

“Gadis yang ada dirumahmu?” sarannya.

“Kau gila, dia sedang tertekan. Kita sewa seorang pelacur saja, kita bayar mahal, tapi harus mendapatkan yang kita inginkan, bukti bahwa mereka memang memperdagangkan orang keluar negeri.” Sahutku,

“Siapa pelacur yang akan kita sewa?”

“Itu bagianmu, kau kan yang sering main diluar.”

“Hyung! Aku tidak sebejat itu!” protes Hyukjae.

“Lalu wanita-wanitamu itu? dari mana kau dapatkan?”

“Mereka hanya selingan, aku masih menunggu kau memutuskan tunanganmu.” Jawabnya.

“Jangan bermimpi!” aku melemparnya dengan Koran.

“Hahahahaha, wae? Kau sangat menjaganya, sepertinya dia sangat istimewa, membuatku penasaran.”

“Lee Hyukjae! Jangan berpikiran kotor!” dia terus menertawakanku.

***

Kami memutuskan menyewa seorang pelacur untuk dijadikan umpan, masuk kedalam jaringan itu dan mengumpulkan bukti-bukti. Jin Hye, begitu kami menyebutnya, entah nama itu benar atau tidak. Kami membekalinya berbagai peralatan mulai dari alat perekam mini, sampai kamera canggih mini berbentuk kancing yang kami pasang di kancing bajunya. Alat perekam dengan kekuatan baterai selama seminggu penuh, aku menyuruhnya untuk selalu mengaktifkannya agar tidak ketinggalan percakapan. Begitu juga dengan kameranya. Dia bertugas selama seminggu dan kami berencana meringkusnya seminggu kemudian.

“Hyung, apa menurutmu akan berhasil?” tanya Hyukjae, setelah seharian kami menyiapkan semua ini hingga larut malam, aku lembur, sepertinya aku tidak akan pulang, besok aku harus memastikan Jin Hye sudah masuk dalam jaringan mereka. Aku tidur bersama Hyukjae dikantor.

“Hyung, apa kau sudah pernah bercinta dengan Eun Kyo?”

“Bisa kau hentikan pembicaraanmu tentang wanita?” aku menatapnya tajam.

“Aish! Aku kan hanya ingin tau, tidak perlu marah.” Hyukjae mendengus kesal.

“Hyuk, kau pernah menghadapi wanita yang sedikit agresif?”

“Ne? Agresif? Apa Eun Kyo bertindak agresif akhir-akhir ini? Aigoo.. itu malah bagus, kau tidak perlu memulai permainan, hanya perlu menikmatinya.” Hyukjae menjelaskan dengan semangat.

“Berhenti memanggil nama EunKyo, aku tidak sudi kau mengucapkannya.”

“Kau pencemburu sekali. Aku kan hanya bercanda.”

“Sudah lah, tidak ada gunanya bicara denganmu.”

***

Rencana hari ini berjalan dengan lancar. Hye Jin sudah masuk dalam perangkap mereka. Perbekalan yang kami pasangpun juga sudah kami pastikan berfungsi dengan baik. Aku mengendarai mobilku menuju rumah. Aku meninggalkan pesan pada Eun Kyo, bahwa aku tidak pulang tadi malam, dia tidak membalasnya. Rasa khawatir datang terlambat menghampiriku. Dia tidak pernah tidak membalas pesanku. Sesampainya aku dirumah aku langsung menuju ke kamar, mencari sampai ke kamar mandi. Tidak ada, kemana dia? Aku menghampiri Seong Ji.

“Kau tau kemana Eun Kyo?” aku bertanya padanya.

“Dia tidak pulang tadi malam.” Sahut Seong Ji. Tidak pulang? Kemana dia? Park Eun Kyo, kau tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, tidak pernah pergi tanpa seijinku. Aku kembali kekamar, merebahkan tubuhku yang penat. Ada secarik kertas dibalik bantal.

‘Jika kau ingin aku kembali, selesaikan urusanmu dengan gadismu dulu, lalu jemput aku.’

Eun Kyo’s POV

Sejak dia pergi semalam, aku juga memutuskan untuk menjauh darinya. Aku berkunjung ke rumah Sungmin Oppa. Temanku sejak sekolah. Aku dekat dengannya, dia juga dekat dengan Appa dulu. Sungmin Oppa adalah seorang pemilik kedai makanan di pinggiran kota, dia juga seorang anggota aktivis HAM, sama seperti Appa. Aku sangat bosan dirumah, bosan melihat gadis itu.

“Masih tidak mau pulang?” tanyanya padaku.

“Kau tidak mau menampungku?” tanyaku merajuk.

“Ya.. Bukan begitu, meninggalkannya seperti ini, kau malah menambah masalah baru. Kau tidak takut wanita itu benar-benar merebutnya? Bagaimana jika Teuki juga menyukainya?”

“OPPA! jangan menakutiku…” aku memasang muka cemberut.

“Makanya selesaikan masalahmu segera, kau tidak mencintainya hingga nekat meninggalkannya?”

“Aku sangat mencintainya. Aku hanya ingin member waktu padanya untuk berpikir, bagaimana jika hidupnya tanpa aku.”

“Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah Eun Kyo~ya.” Sahutnya.

“Masalah tidak akan selesai jika kasusnya tidak selesai.”

“Kasus? Kasus apa?”

“Dia bilang itu kasus lama, trafficking, perdagangan perempuan.”

“Itu juga kasus yang ditangani Appamu sejak dulu. Tapi belum selesai hingga beliau meninggal.” Aku tercengang mendengarnya.

“Appa?”

“Ne, kasus Appamu, aku juga menduga Appamu bukan meninggal karena kecelakaan, tapi dibunuh.”

“Oppa, kau jangan bercanda.”

“Itu hanya dugaanku. Aku lagi menyelidikinya. Appamu menemukan bukti-bukti pengiriman itu dalam sebuah foto, namun foto itu raib bersama kematiannya, apa itu tidak janggal?”

“Kenapa semua orang yang ada di dekatku sangat antusias dengan kasus ini?” dia memukul kepalaku.

“Kau ini tidak peka sama sekali.”

“Sampai mana perkembangan kasusnya?” tanyaku ingin tahu.

“Yang aku dengar, mereka akan mencari beberapa orang gadis lagi disini, baru setelah itu dikirim keluar negeri yang menurut mereka berkualitas.” Terangnya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku belum tau, aku ingin masuk dalam sindikat itu tetapi sulit.”

“Perlu seseorang untuk membantumu?”

“Sepertinya iya, aku perlu menyewa seseorang, seorang wanita.”

“Bagaimana kalau aku saja?” tawarku.

“Kau jangan gila! Jika terjadi sesuatu padamu apa yang akan aku katakan pada Teuki Hyung? Bisa hilang tak bersisa mayatku.”

“Kau terlalu berlebihan, bagaimana? Aku saja, aku juga ingin kasus ini cepat selesai dan menyelesaikan masalahku, aku mohon Oppa…” aku merengek padanya.

“Park Eun Kyo! Banyak yang dipertaruhkan disini, ini bukan kasus penjualan barang illegal, tapi ini prostitusi! Kau mau jadi korban?” aku menggeleng.

“Kau diam saja disini.”

“Aku tidak bisa diam saja, ini sudah terlalu banyak mengambil hidupku, aku ingin kasus ini cepat selesai, katakan apa rencanamu?”

“Aku ingin seseorang masuk kedalam sana, merekam semua kegiatan mereka. Aku sudah membeli peralatan canggih untuk itu.”

“Kau hanya perlu umpan kan? Aku saja, aku mohon Oppa…” lagi-lagi aku merengek padanya. Dia menatapku dalam. Lama kami terdiam.

“Aish! Aku benci mengatakan ini, tapi kau bisa berjanji menjaga dirimu dengan baik?” aku mengangguk yakin.

“Besok kita berangkat ke tempat pendaftaran pencarian tenaga kerja.”

***

Aku telah sampai pada tempat yang dimaksud Sungmin Oppa. mereka memeriksa kesehatanku. Namun aku berhasil memasukkan peralatan yang dibekali Sungmmin Oppa. ‘Biar  bagaimanapun jangan pernah lepaskan baju ini’ aku sangat ingat pesan Sungmin Oppa. didalam baju itu terdapat kamera mini canggih. Aku juga tidak mengerti cara kerjanya, aku hany disuruh merekam semua kegiatan mereka yang mencurigakan dengan menghadapkan badanku kearah mereka, dia bilang sebuah pin yang ada dibajuku adalah sebuah kamera.

Aku berhasil masuk kedalam, waktuku hanya 3 hari, setelahnya, kameraku akan mati, dan jika dalam waktu 3 hari aku tidak bisa melarikan diri, dia tidak berani menjamin akan menemukanku karena GPS yang ada dibajuku hanya bisa bertahan 3 hari.

Hari pertama aku berada ditempat itu tidak ada kejadian, semua berjalan dengan lancar, aku pun tidur dengan nyenyak, yang membuatku tercengang disini adalah, lebih dari separuh yang menempati tempat ini adalah anak antara umur 13-16 tahun. Ya Tuhan, apa yang ada dibenak mereka saat melamar pekerjaan? Tidakkah mereka berpikir jika mendapatkan uang dengan mudah satu-satunya jalan adalah dengan melakukan ini? Apa mereka dipaksa? Atau malah itu kemauan mereka sendiri? Aku satu ranjang dengan seorang gadis kecil umurnya kisaran 14 tahun.

“Siapa namamu?” tanyaku padanya?

“Han Hye Mi.”

“Mengapa ada ditempat ini?” matanya terlihat sembab, sepertinya habis menangis.

“Aku gelandangan yang disuruh mereka untuk ikut.” Jawabnya polos, wajahnya dekil namun tetap manis, hidungnya mancung, kulitnya putih susu, sangat cantik.

“Kau tau tempat ini apa?” dia mengangguk.

“Sungguh?”

“Aku baru mengetahuinya tadi. Dan tidak diperbolehkan keluar dari tempat ini.” Airmatanya kembali mengalir. Aku memeluknya.

“Sssttt, uljima.. kita akan melarikan diri bersama? Mengerti?” dia menatap bingung padaku.

“Aku berjanji akan membawamu keluar dari tempat ini.” Aku berbisik padanya.

Malam kedua, semuanya terlihat tegang. Kami berbaris berjejer , aku tidak mengerti mengapa mereka menyuruh kami berjejer. Aku menangkap raut ketakutan diwajah beberapa gadis kecil yang ada dihadapanku. Seseorang mendekatiku.

“Sepertinya aku pernah melihatmu.” Bisiknya.

“Eh?” aku menatap bingung padanya.

“Apa kau ada hubungannya dengan Leeteuk?” aku terperanjat dia menyebut nama tunanganku.

“Bagaimana kau tau?” tanyaku dengan suara ditekan.

“Aku pernah melihat fotomu dimeja kerjanya.”

“Apa kau?”

“Ssstt” dia menyuruhku diam.

“Gadis manis, kau ikut kami, sudah ada seseorang yang memesanmu.” Seseorang bertubuh besar menarik Hye Mi, aku menahan tangannya.

“Jangan dia!” aku langsung mencegatnya.

“Wae? Kau mau menggantikannya? kau sangat cantik, sayang jika berakhir disini, aku akan memeberikanmu pada lelaki berkelas.” Seringainya menjijikkan.

“Jangan, aku mohon jangan dia!” aku menahan Hye Mi dalam pelukanku, gadis kecil ini menangis.

“Onnie, aku aku ingin pulang..” isaknya.

“Aku saja.” Jawab wanita disebelahku. Dia mengerling padaku.

Semuanya terekam dengan jelas karena kejadian itu ada dihadapanku. Semoga ini bisa menjadi bukti kuat untuk meringkus jaringan ini.

Malam terakhir seharusnya aku disini. Suasana tidak mencekam seperti semalam. Sepertinya tidak ada pria hidung belang yang membutuhkan mainan. Tapi dari ujung sana terdengar kegaduhan.

“Anak manis, aku mau bermain sebentar denganmu.” Suara lelaki menjijikkan itu terdengar ditelingaku. Yang lebih menjijikkan lagi dia melakukan asusila di depan seluruh penghuni tempat ini.  Aku tidak bisa menghentikan airmata yang mengalir dipipiku. Kejahatan besar terjadi dimataku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku membenamkan muka Hye Mi dalam pangkuanku, juga menutup telinganya, satu lagi bukti yang aku dapatkan.

“Sampai kapan kau harus berada disini?” tanya wanita itu padaku saat kegaduhan itu mereda. Aku tidak bisa tidur, takut terjadi sesuatu saat aku tidur.

“Hanya sampai hari ini, besok aku harus melarikan diri.”

“Bagaimana caranya?”

“Saat melalui pos penjagaan, ada seseorang yang akan menungguku disana, aku harus bisa keluar dari truck bagaimanapun caranya, saat petugas memeriksa muatan.” Terangku padanya.

“Tidak menunggu sampai hari terakhir? Polisi akan mengadakan penyergapan di pelabuhan.”

“Ani, aku tidak berani jamin aku bisa keluar dari sini secara utuh.”

“Benar juga, disini terlalu berbahaya, jika terjadi sesuatu denganmu, Teuki bisa mengamuk.”

***

Akhirnya besok pagi kami disuruh untuk berkemas, pergi ke pelabuhan. Aku semakin cemas, bagaimana caranya keluar dari sini, hanya bisa berdo’a dalam hati agar dimudahkan jalan untukku melarikan diri karena aku tidak lari sendirian, aku membawa Hye Mi.

Kami dibagi dalam 2 kelompok, aku bersama Hye Mi, tapi terpisah dengan wanita yang mengenalku tapi aku tidak tau namanya. Aku tidak dibawa menggunakan truck, tapi menggunakan mobil. Sial, naluriku berkata, ada yang tidak beres.

Mobilku melaju cepat tanpa hambatan. Tidak melalui pemeriksaan, ada apa ini? Bagaimana aku melarikan diri jika mobilnya tidak berhenti?

Teuki’s POV

Ini sudah hari kelima Eun Kyo menghilang. Jagiya.. sebenarnya dimana dirimu? Aku sangat merindukanmu… tidak terbiasa tidur tanpamu. Gadis itu juga semakin menyusahkan. Dia bertindak seolah aku ini suaminya, beberapa kali dia mengajakku tidur bersama, juga tidak malu menggodaku. Saat itu terjadi, aku sangat merindukanmu Eun Kyo~ya.. aku merindukan saat-saat aku menggodamu. Tapi dua hari ini aku meminta Sungmin untuk menemaniku, dia aktivis HAM, aku rasa lebih pandai menghadapi psikologis Seong Ji.

“Hyung, memikirkannya lagi?” tanya Hyukjae.

“Setiap detik aku memikirkannya.” Jawabku.

“Tidak berusaha mencarinya?”

“Sudah, semua tempat yang kemungkian disingggahinya sudah aku datangi, hasilnya tetap tidak ada.”

“Hyung, jangan-jangan dia diculik.”

“Lee Hyukjae, bisakah kau berpikir rasional jika membicarakan tunanganku?!” jawabku gusar.

“Yah, mungkin saja.”

Saat aku berdebat dengan Hyukjae tentang dimana kemungkinan Eun Kyo berada. Seseorang membuka pintu ruangan kerjaku dengan keras.

“Hyung, maafkan aku.” Sungmin.

“Wae?” tanyaku dingin.

“Maafkan aku selama ini membohongimu.”

“Katakan dengan jelas.”

“Eun Kyo, dia masuk sindikat perdagangan wanita. Aku sudah melarangnya, tapi dia bersikeras ingin menuntaskan kasus ini. Aku memberinya sebuah GPS dibajunya, GPS itu hanya bertahan 3 hari, selebihnya akan mati. Dan aku… kehilangan jejaknya.” Jelas sungmin padaku. Aku langsung panik, otakku tak mampu berpikir, Eun Kyo? Masuk jaringan itu? untuk apa! Aku langsung meninju muka Sungmin, tapi Hyukjae dengan cepat menangkapku.

“Hyung tenang.”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Hah! Eun Kyo, Eun Kyo dalam bahaya.”

“Tenang dulu Hyung, aku yakin dia bisa menjaga dirinya.” Ucap Hyukjae.

“Menjaga dirinya? Yak! Aku susah payah menjaganya tapi sekarang, sekarang dia menyerahkan dirinya sendiri ke lubang buaya yang kelaparan!”

“Bukannya kau juga buaya yang kelaparan? Kau takut Eun Kyo sudah tidak perawan lagi saat keluar dari sana? Sedangkan kau belum menyentuhnya sama sekali?” skak mak! Sepertinya Hyukjae bisa membaca pikiranku, aku menjaga harta paling berharga yang dia miliki, tapi dia? Dia malah menyia-nyiakannya.

“Aku rasa dia punya alasan melakukan itu. Wanitamu itu tidak mungkin ceroboh.”

“Tidak mungkin ceroboh?!” sahutku.

“Yahh.. baiklah dia memang ceroboh, tapi aku rasa dia bisa menjaga dirinya sendiri.” Hyukjae menenangkanku.

“Aku rasa dia benar.” Sergah Sungmin.

“Yak! Diam kalian! Lalu bagaimana caranya kita menemukannya? Lee Sungmin! Kau orang pertama yang akan aku bunuh jika aku tidak menemukannya.” Ancamku

“Aku akan mengerahkan beberapa anggota perempuan untuk mencarinya.” Seru Sungmin.

“Mau memakan berapa banyak korban Lee Sungmin?” tanyaku sinis padanya.

“Park Eun Kyo, aku harap kau pintar menjaga dirimu.”

“Tenang Hyung, jika kau tidak bisa menerimanya secara utuh, aku yang akan menerimanya.” Ucap Sungmin.

“Yak! Aku lebih dulu.” sergah Hyukjae. Aku memukul kedua kepala manusia tidak berguna dihadapanku ini.

“Aku tidak akan melepaskannya, bodoh!”

“Barang kali saja kau tidak suka barang bekas.” Sahut Hyukjae. Aku melotot kearahnya. Dia segera pergi dari hadapanku. Lalu kembali menyembulkan kepala di ambang pintu.

“Hyung, semoga saja Hye Jin bersamanya.” Ucap Hyukjae. Semoga, bisikku batinku khawatir.

“Hyung, aku ingin bicara sesuatu padamu.” Sungmin duduk dihadapanku.

“Aku bukannya ingin mencampuri urusan kalian, hanya saja Eun Kyo tidak pernah berbuat ini sebelumnya. Mengenai gadis yang ada dirumahmu, kau tidak merasa dia menyukaimu?” tanya Sungmin.

“Hufh, aku sudah merasa tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawabku.

“Kondisi psikologisnya sudah normal, kenapa dia masih tetap berada di rumahmu?”

“Tapi dia belum memberikan bukti apa-apa.”

“Kau tidak merasa ini menyakiti Eun Kyo?” aku menatap padanya.

“Aku mengenalnya sudah sejak lama, dia selalu bercerita apapun padaku, maaf, aku tidak bermaksud menyaingimu, hanya saja dia melakukan semua ini karenamu.”

“Apa maksudmu?”

“Dia merasa kau mengacuhkannya demi pekerjaan sudah beberapa bulan, dan kau tiba-tiba membawa wanita lain masuk dalam rumah kalian, itu secara tidak langsung kau membiarkannya masuk dalam hubunganmu.” Aku mendengarkan ceritany dengan seksama.

“Ada beberapa cara perempuan mempertahankan miliknya, salah satunya adalah seperti Eun Kyo, dia membiarkanmu berpikir tenang dan membiarkanmu membedakan secara jelas bagaimana hidupmu setelah dia tidak ada. Dia menggunakan gengsinya, tapi juga tetap memikirkan kemungkinan buruk”

“Ada lagi cara yang lain yang digunakan Yeon Ji, dia menggunakan kelemahannya untuk mempertahankan ataupun merebut sesuatu.”

“Aku bingung.”

“Bingung? Apa kau sudah tidak mencintainya lagi?”

“Tentu saja tidak! Dia adalah seluruh hidupku. Aku tidak bisa melanjutkan hidup tanpanya.” Tegasku pada Sungmin.

“Baguslah kalau begitu. Dia melakukan ini karenamu, dia ingin kasusmu segera selesai, dan kau tidak lagi menampung gadis itu dirumahmu.”

“Aku juga berharap semua ini segera berakhir.” Seruku lirih.

Eun Kyo’s POV

Aku tidak tau kemana mereka akan membawaku. Aku memeluk Hye Mi yang bergetar ketakutan. Airmatanya mengalir dikedua pipi merahnya. Gadis kecil ini, malang sekali nasibnya.

“Hye Mi~ya, jangan takut aku ada disini.” Aku mencoba menenangkannya. Tiba-tiba mobil berhenti dan kami disuruh masuk kedalam sebuah villa. Aku tidak tau ini villa siapa. Aku hanya mengikuti perintah mereka. Saat sampai disana. Beberapa orang disuruh melayani beberapa tamu di dalam kamar. Aku merasa sangat ketakutan, baru kali ini aku merasa sangat takut dalam hidupku. Aku ingin segera pulang, bersama Teuki Oppa. Aku merindukannya, merindukan pelukan hangatnya. Ya Tuhan, tolong aku.

Beberapa orang berlalu lalang dihadapanku dan Hye Mi, aku tidak pernah melepaskannya sedetikpun. Seseorang menghampiriku membuat jantungku seakan turun ke kaki.

“Kau Gadis cantik, kau akan melayani tamu terhormat, beruntung sekali dirimu.” Tamu terhormat? Aku semakin takut. Setelah beberapa lama kami mulai terlelap karena kelelahan. Tapi derap langkah besar membangunkanku. Ini adalah malam keenam aku berada dalam sarang mereka. Sungmin Oppa… apa yang harus aku lakukan?

“Kau, ikut aku.” Seru seorang berbadan besar menunjuk kearahku.

“Onnie, jangan tinggalkan aku.” Hye Mi tidak melepaskan tanganku.

“Bawa saja mereka berdua.” Jawab seorang yang lain. Mereka membawa kami berdua ke dalam sebuah kamar.

“Masuk.” Mereka mendorong kami. Seseorang bertubuh subur menunggu kami didalam kamar.

“Aigoo, ditemani dua Gadis cantik, aku beruntung sekali malam ini.” Aku menatap wajah orang itu, sepertinya aku mengenalnya, bukannnya dia adalah Kepala Polisi, atasannya Teuki Oppa, aku memang belum pernah bertemu dengannya, namun siapa yang tidak mengenal Kepala Polisi Jung. Aku sedikit terperanjat, namun otakku berpikir keras bagaimana caranya melarika diri dari sini sebelum terjadi apa-apa denganku.

“Tuan, kami ingin kekamar mandi dulu.”

“Oh, silakan.” Dia tertawa menjijikkan.

“Hye Mi~ya, saat aku menendang selangkangnya, kau tutup mulutnya dengan jaketku, arra? Jangan sampai dia berteriak, mengerti?” Hye Mi mengangguk. Kami keluar dari kamar mandi, aku melancarkan aksiku.

“Tuan, bagaiman kalau aku pijit dulu.” tawarku padanya mengulur waktu, saat aku mendekatinya aku memberikan kode pada Hye Mi untuk bersiap, beberapa detik kemudian, aku menendang selangkangannya, bersamaan dengan itu Hye Mi menyumpal mulutnya dengan jaketku, hingga tidak terdengar teriakan sama sekali. Aku membuka jendela, untung kami hanya berada dilantai satu, bukan lantai dua, setelah melihat keadaan aman, aku yakin mereka lagi bersenang-senang sehingga penjagaan sedikit longgar, aku membawa Hye Mi berlari. Aku berlari juga tidak tahu arah, bersembunyi dari balik pohon yang satu ke pohon yang lain, setelah beberapa ratuus meter kami berlari sepertinya mereka menyadari kami hilang, beberapa orang mengejar kami, tapi aku berlari sekuat tenaga, aku melihat sebuah perkampungan beberapa ratus meter dari villa itu. aku segera berlari ke sebuah rumah yang pintunya terbuka dan meminta pertolongan.

“Tolong kami, kami dikejar orang jahat.” Nafasku terputus-putus. Untung saja mereka menerimaku dengan baik.

“Tenanglah kau aman disini, siapa yang mengejarmu?” seorang ahjumma memberiku minum.

“Mereka akan menjual kami.” Aku meneguk air yang disuguhkannya.

“Bagaimana bisa?” Ahjumma itu terperanjat.

“Panjang ceritanya, Ahjumma, kau punya telepon?” tanyaku.

“Mianhae, kami tidak punya telepon.” Jawabnya. Tapi tiba-tiba Hye Mi menyodorkanku sebuah telepon genggam. Aku rasa dia mencurinya dari pria hidung belang itu sebelum berlari.

“Gadis pintar.” Aku memberikannya senyuman termanisku. Aku menelepon Sungmin Oppa.

“Oppa, jemput aku sekarang, sebelum mereka menemukanku..” aku hampir menangis meneleponnya.

“Aku ada disebuah kampung, ah, tanyakan dimana letak villa Kepala Polisi Jung pada Teuki Oppa, tapi jangan katakan aku ada disini.” Aku menutup telepon.

***

Sungmin Oppa datang pagi-pagi sekali ke tempat ini, untung saja dia menemukanku. Aku tidak kuasa membendung bahagia, saat dia datang aku langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya.

“Gadis bodoh!” dia memegang kepalaku dalam pelukannya.

“Aku sangat takut.”

“Aku sudah memperingatkanmu, ini sangat berbahaya tapi kau keras kepala.”

“Mianhae, menyusahkanmu Oppa.”

“Aish, aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau punya buktinya?” aku menyerahkan pin dan beberapa alat lainnya dalam bajuku.

“Ini.”

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Sungmin Oppa. aku mengangguk.

“Yaish! Kau ini membuatku sangat khawatir, 3 hari tanpa kabar, GPS mu mati, aku tidak bisa melacak keberadaanmu. Dan kau tau? Teuki Hyung menghadiahiku bogem mentah dipipiku saat dia tahu kau menghilang.”

“Mianhae.” Sahutku merasa bersalah. Dia mengacak rambutku.

“Tapi kau sekarang baik-baik saja aku bisa tenang.”

“Aku tidak ingin Teuki Oppa tau keberadaanku, kau belum memberitahunya kan?” Sungmin Oppa mengangguk.

“Aku adalah orang yang menepati janji, kecuali saat aku menghilang kemarin, aku terpaksa memberitahunya.” Sahutnya, aku tersenyum padanya.

Sungmin Oppa mambawaku beserta Hye Mi ke rumahnya. Aku yang memintanya untuk sementara tinggal dirumahnya. Aku belum ingin bertemu dengan Teuki Oppa.

Teuki’s POV

Aku masih memikirkan keberadaan Eun Kyo, seperti tidak mempunyai nyawa saat dia tidak berada didekatku. Aku merindukan kemarahannya, aku merindukan suapan terakhirnya, aku merindukan tubuhnya, aku merindukan harum rambutnya ketika aku memeluknya tidur, aku merindukan wajah merahnya saat aku menggodanya, aku merindukan suaranya, aku merindukan perkataannya ‘Oppa, aku akan melakukannya setelah kita menikah’. Aku merindukan semuanya dari dirinya.

“Kau sudah siap, Hyung?” tanya Hyukjae.

“Aku sudah siap.” Jawabku lemah.

“Ya.. jangan lesu seperti itu, harusnya kau senang, Eun Kyo pasti ada bersama Hye Jin.” Hyukjae mencoba menenangkanku.

“Semoga saja Hyuk, tapi kenapa hatiku sangsi?” tanyaku padanya.

“Yak! Jangan berkata seperti itu, yakin, dia pasti baik-baik saja.”

Aku melajukan mobilku dalam penyergapan yang akan aku lakukan di Pelabuhan. Beberapa anak buahku terlihat mengambil posisi. Aku juga tak lupa mengambil posisi, tapi aku sangat tidak sabar dan melangkah maju ke depan mengabaikan peringatan Hyukjae.

“Jangan bergerak, kalian sudah dikepung!” aku mengarahkan senjata pada seorang yang menarik paksa seorang gadis untuk masuk ke kapal. Orang itu terkejut dengan kehadiranku.

“Katakan dimana Park Eun Kyo berada.” Aku menodongkan senjata dikepalanya. Melihatku melakukan itu, yang lainnya mengarahkan senjata padaku dan mulai menembakiku, aku memakai rompi anti peluru dan menjadikan orang yang aku todong sebagai pelindungku. Baku tembak tidak dapat dihindarkan lagi. Terdengar beberapa teriakan dari dalam kapal. Ada juga yang berteriak minta tolong. Setelah satu jam bergelut dengan mereka akhirnya kau bisa meringkus jaringan ini.

Setelah keadan terkendali aku segera berlari ke dalam kapal untuk mencari Eun Kyo. Aku menemukan Hye Jin.

“Kau bersama Eun Kyo?” tanyaku langsung padanya. Aku berharap dia tau dimana Eun Kyo.

“Tiga hari yang lalu aku masih bersamanya, tapi sekarang, kami terpisah, mereka membagi kami menjadi dua bagian, menurutku, satu mobil yang membawa Eun Kyo bersama gadis lainnya adalah semua gadis perawan.” Jelas Hye Jin, dia menyerahkan hasil pengintaiannya.

“Jadi Eun Kyo tidak bersamamu?”

“Menurut pengalamanku, gadis perawan akan melayani tamu ekslusif, bisa juga dikirim keluar negeri.” Jelasnya lagi. Aku menghantam meja.

“Sial!” geramku. Dadaku bergemuruh menahan amarah, emosiku sudah sampai ke ubun-ubun. Hyukjae menatapku iba.

“Hyung, tenanglah.” Dia mencoba menenangkanku.

“Bagaimana mana aku bisa tenang!” aku menendang tong sampah yang ada dihadapanku.

“Park Eun Kyo, begini caranya kau sama saja membunuhku perlahan.” Gumamku.

***

Aku mengumpulkan berkas-berkas yang akan aku serahkan ke pengadilan. Tiba-tiba pintu ruanganku dibuka seseorang.

“Hyung, kau sudah mengatar Yeon Ji pulang?” Sungmin bertanya padaku.

“Belum.” Sahutku.

“Aku saja yang mengantarnya Hyung, kau tenang saja.” Jawabnya.

“Ye.” Sahutku dengan mata masih menatap layar monitor.

“Hyung, saat kau menyelesaikan pekerjaanku, silakan buka berkas ini, aku permisi dulu.” dia berpamitan padaku.

“Silakan, nanti aku lihat.” Aku memandang berkas yang ditinggalkannya. Memungutnya dan membukanya. Sebuah chip, aku memasukkan chip itu dalam computer dan segera membukanya. Mencengangkan sekali. Semua bukti dalam video ini sangat lengkap. Tidak ada yang dipotong, aku sedikit mempercepatnya karena tidak ada kejadian. Aku menghentikan percepatan saat video itu merekam Hye Jin. Dia menyebut namaku, ini pasti Eun Kyo! Aku menelepon Sungmin untuk meminta penjelasan! Sial Sungmin tidak mengangkat teleponnya, harusnya sejak tadi aku membukanya! Penyesalan memang selalu terlambat. Jika Sungmin mendapatkan bukti berarti dia tau keberadaan Eun Kyo. Aku menemukan secarik kertas dalam amplop itu. Di dalam amplop itu juga ada bukti lain, bukti bahwa ayah Eun Kyo mati karena racun, bukan seranga jantung.

‘Hyung, aku tau kau kesal sekarang, maafkan aku, ini Eun Kyo yang minta tidak memberitahumu.

Coba kau periksa villa Kepala Polisi Jung, mungkin masih ada bukti disana, para gadis perawan’

Aku segera memanggil Hyukjae dan menuju lokasi yang disebutkan oleh Sungmin, tidak lupa membawa beberapa anggota untuk berjaga-jaga. Saat sampai di lokasi aku memang menemukan bukti lain yang mencengangkan. Villa keluarga Kepala Polisi Jung berubah menjadi rumah bordil para orang berkelas. Aku segera meringkusnya, tak kenal itu atasan jika dia melakukan kejahatan. Pada awalnya Kepala Polisi Jung bersikeras melakukan pembelaan mengatakan dia tidak bersalah dan itu hanya pertemuan keluarga. Tapi aku tetap menahannya. Eun Kyo yang akan menjelaskan semua ini jika dia kembali. Cepatlah kembali Jagi~ya…

Pantas saja jaringan ini sangat sulit sekali diringkus, saat terkumpul beberapa bukti, mereka selalu bisa lolos, itu karena mereka mempunyai orang berpengaruh yang ikut andil dalam sindikat ini. Kematian Ayah Eun Kyo juga bisa mereka manipulasi karena yang melakukannya adalah orang yang mengerti hukum. Aku mengemudikan mobilku menuju kearah kota. Tiba-tiba saja poselku berbunyi, ada sebuah pesan.

From : Sungmin

Hyung, sekali lagi aku minta maaf menyembunyikan keberadaan Eun Kyo

Tapi aku tidak tahan melihat muka putus asamu

Jangan katakan padanya bahwa aku memberitahu ini padamu

Dia ada dirumahku, rumahnya aku kunci dari luar, dia tidak menyadarinya karena tadi dia sedang tidur.

Kuncinya ada didalam pot bunga disamping pintu.

 

Dadaku semakin bergemuruh menerima pesan dari Sungmin, kejutan apalagi hari ini yang akan aku terima. Park Eun Kyo kau membuatku gila. Aku menuju rumah Sungmin dengan terburu-buru, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Eun Kyo dan menumpahkan emosiku. Aku memarkir mobilku sembarang di halaman rumah Sungmin, membanting pintu dengan keras dan mengambil kunci lalu membuka pintu. Aku memasuki rumah Sungmin dan mencari Eun Kyo disetiap sudut rumahnya, aku menemukannya di dapur melahap makanan. Aku langsung menarik tangannya menuju kamar, entah itu kamar siapa. Aku menghempasnya didinding dan menatapnya tajam.

“Apa yang kau lakukan?!” aku menumpahkan emosiku padanya.

“Kau gila?! Kau membahayakan dirimu sendiri!” lanjutku. Dia hanya terdiam.

“Kau tau itu berbahaya? Kau bisa kehilangan hartamu paling berharga, mengerti?!” aku masih marah, dia menunduk.

“Mianhae.” Sahutnya lemah. Aku terdiam lama.

“Aku sangat takut kehilanganmu.”

“Takut tidak bisa melihatmu lagi.”

“Ya.. sekarang aku ada disini kan? Aku baik-baik saja.” Dia memegang pipiku.

“Baik-baik saja? Benarkah?” aku menatapnya tajam.

“Tidak kurang sesuatu apapun?” tanyaku.

“Apa maksudmu tidak kurang sesuatu apapun?” nadanya meninggi.

“Kau?” aku memeluk tubuhnya merapat padaku sambil terus menatap matanya. Aku mencium lehernya, hal yang paling suka aku lakukan setelah mencium bibirnya. Dia menggeliat, aku terus menciumnya, perlahan membuka kancing bajunya satu persatu dan menurunkan kecupanku lebih ke bawah.

“Oppa apa maksudmu?” dia meraih kepalaku disejajarkannya dengan wajahnya.

“Kau menuduhku sudah tidak perawan lagi?” protesnya. Aku mencium bibirnya.

“Siapa tau.” Sahutku menggodanya.

“Yak! Kau jangan menuduhku sembarangan, aku masih perawan!” protesnya.

“Aku tidak akan tau jika belum memastikannya.” Aku meraba perutnya sambil menciumnya.

“Oppa, kau!” aku mencium bibirnya menghentikan aksi protesnya. Aku membawanya ketempat tidur. Mengunci tubuhnya dengan tubuhku. Saat aku memperdalam ciumanku dan Eun Kyo mulai tak berkutik, tiba-tiba saja..

“Onnie~ya.. aku lapar.” suara seseorang mengagetkanku.

“Hye Mi!” pekik Eun Kyo sambil mendorong tubuhku ke samping. Nafasnya tersengal-sengal akibat dari perlakuanku.

”Ye, silakan ambil di dapur sayang.” Eun Kyo menyahut gadis kecil itu dengan lembut.

“Nuguya?” tanyaku.

“Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan.” Dia mulai beranjak dari sisiku.

“Ya.. kita belum selesai.” Aku menariknya dalam pelukanku.

“Park Jung Soo!” jika dia memanggil nama lengkapku itu artinya dia sedang marah.

“Aku sudah bilang padamu aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah!” dia menendang kakiku, aku hanya tertawa membalasnya.

“Kalau begitu kita menikah besok, aku sudah menyiapkan semuanya, gaun pengantin, gereja, cincin dan saksi, aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.” Teriakku padanya yang sudah menghilang dari hadapanku.

“Darimana kau tau ukuran bajuku?” tanyanya dengan kepala menyembul di depan pintu.

“Aku setiap malam memelukmu, tau semua ukuran pada tubuhmu, mau aku sebutkan?” aku menggodanya.

“OPPA HENTIKAN!”

***

Aku sudah menikah dengannya. Ini adalah malam pertamaku, meski malam pertamaku tidur dengannya sudah terjadi sejak  7 bulan yang lalu, tapi tetap saja ini adalah malam pertama setelah kami menikah. Dia keluar dari kamar mandi, aku langsung memeluknya.

“Oppa, kau tidak sabaran sekali.”

“Kau kira mudah menahan naluriku berbulan-bulan sementara kau tidur disampingku setiap hari? Gerakan tanganmupun membuatku tergoda namun aku menahannya!”

“Aigoo.. begitu tersiksanya.” Ejeknya.

“Makanya malam ini kau jangan membuatku tersiksa lagi.” Aku meraih bibirnya, mengangkat tubuhnya dan melingkarkan kakinya dipinggangku. Aku menciumnya dalam, terus menciumnya higga dia memaksaku melepaskannya untuk mengambil nafas, aku menatap wajahnya, dia tersnyum dan berganti mencium bibirku lembut. Aku menikmati ciuman dari bibirnya lembut, merasakan setiap lumatan bibir tipisnya, tidak menggebu seperti aku, dia melakukanya dengan lembut. Aku membiarkannya memegang kendali. Tangannya sesekali meremas pundakku. Dia melepaskan ciumannya.

“Turunkan aku.” Dia berusaha turun dariku, namun aku menahannya.

“Oppa…” rengeknya.

Aku mendudukkannya di atas meja rias yang biasa dia duduki setelah mandi. Berdiri diantara kedua kakinya. Telunjukku menelusuri seluruh wajahnya, mulai dari dahi hidung bibir hingga dagu. Jariku terus bergerak turun melalui lehernya hingga sampai berada pada pangkal handuknya yang melilit tubuhnya. Aku menatapnya intens dan tanganku terus bergerak, memberikan senyum penuh arti padanya. Saat aku mencoba menarik handuk ditubuhnya dia menahannya. Aku menggenggam handuknya, dia juga menggenggam handuknya. Aku memberikan senyum menggoda padanya. Dia menggeleng.

“Wae? Ini kan malam pertama kita?” tanyaku padanya.

“Bukan, ini malam ke-213 kita.” Sahutnya sambil tersenyum.

“Nde? Kau!” dia mendorong tubuhku.

“Aku mau memakai baju dulu.” sahutnya sambil berlalu dihadapanku. Aku mengikutinya menuju lemari. Dan kembali memeluk tubuhnya. Astaga, malam ini aku terlalu gugup dan sangat tidak sabarana, tapi mengapa dia bisa tenang-tenang saja?

“Jangan pakai yang itu, yang ini saja.” Larangku saat dia ingin mengambil piyama putih panjang. Aku menyuruhnya memakai lingerie transparan berwarna putih. Dia membelalakkan matanya tanda tidak mau.

“Kalau begitu tidak usah pakai apa-apa saja.” Aku menarik handuknya dan segera melumat bibirnya, memeluk tubuh indahnya. Dia sedikit memberontak namun aku bisa mengatasinya. Setelah lama mencium bibirnya, bibirku turun ke lehernya, sudah aku bilang jika lehernya adalah tempat favorit kedua yang aku sentuh, entahlah, rasanya lehernya itu sangat manis dan menggoda.  Aku melepaskan ciumanku beberapa saat dan menanggalkan baju yang ada di tubuhku. Aku kembali mencium bibirnya dan menarik tubuhnya perlahan ke tempat tidur.

Tubuhnya berada diatasku, karena aku merebahkan tubuhny terlebih dahulu lalu menarik tubuhnya. Aku mengunci tubuhnya dengan pelukanku. Dia mulai menikmati sentuhanku, segera aku ubah posisi, kubalikkan tubuhku menindihnya namun tanganku tak lagi memeluknya melainkan bertumpu di ranjang untuk menahan bobot badanku yang lebih besar darinya. Aku memandangi tubuh indahnya, dia terlihat tersipu, dan mengalihkan wajahku kesamping dengan pukulan lembutnya, aku tersenyum.

“Semua ukurannya pas kan? Aku tau semua ukuran tubuhmu.” Bisikku menggodanya.

“Oppa!” serunya. Aku kembali mencium lehernya, turun ke bawah, terus ke bawah hingga berhenti di dadanya. Aku mengecupnya lembut. Tubuhnya menegang dan kudengar suara teriakan tertahan dari mulutnya. Kau tidak akan berkuti malam  ini Park Eun Kyo!

Setelah puas menciumi setiap jengkal tubuhnya. Aku menatapnya lembut, dia balas menatapku. Aku tidak mengatakan apapun tapi segera melakukan penetrasi ke dalam tubuhnya. Dia memejamkan matanya, wajahnya mulai menegang, aku mencoba melakukannya sehalus mungkin agar dia merasa tidak sakit. Namun sepertinya tidak mungkin membuatnya tidak merasakan sakit, karena kau juga mulai merasa sakit. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkram kuat lenganku, dia menggigit bibir bawahnya, aku tau dia merasakan sakit yang tidak bisa aku jabarkan. Keringat mulai keluar dari kedua pelipisnya. Aku merasa bingung harus selembut apa lagi melakukanya, aku sudah melakukannya secara perlahan namun tetap saja membuatnya sakit. Aku memutuskan untuk melakukannya lebih cepat, menghentakkan tubuhnya dan dalan satu hentakan.

“HEK!! “ teriaknya tertahan. Penetrasiku sempurna, tubuhku menyatu. Memang benar, dia masih perawan, aku bisa merasakannya. Dadaku bergemuruh, hasratku memuncak. Aku masih terpaku yang mendapati dirinya menjaga tubuhnya dengan baik ditengah ancaman yang begitu besar.

“Oppa…” desahnya, aku tersadar dan mendapati matanya tak lagi terpejam, namun tangannya masih mencengkram lenganku kuat.

“Sakit?” tanyaku. Dia mengangguk, setetes airmata mengalir dari sudut matanya.

“Aku akan melakukannya dengan baik.” Aku mencoba menenangkannya. Aku mulai menggerakkan tubuhku yang diiringi cengkramannya yang semakin kuat. Park Eun Kyo, jika tidak bergerak, sakitnya tidak akan hilang. Aku terus memaju mundurkan tubuhku diatas tubuhnya. Desahan mulai terdengar di mulutnya, terdengar sangat menggoda, aku semakin bersemangat melakukannya. Sesekali dia berteriak jika aku melakukannya terlalu bersemangat. Aku mengangkat tubuhnya dalam pangkuanku. Suara desahannya terdengar jelas di telingaku denga posisi seperti ini. Aku semakin bersemangat.desahannya tak lagi ditahan, dia mulai melepaskan desahannya. Ini yang aku suka park Eun Kyo!

Desahan demi desahn menggema dalam ruangan besar yang selama ini kami tempati. Dia esemakin mengekspresikan dirinya tenggelam dalam hasrat yang tersampaikan selama ini. Aku sangat bahagia, dia milikku seutuhnya. Dia membelai punggungku dengan lembut, dan mulai menaik turunkan tubuhnya sendiri. Dia berhenti dan menatapku dengan lembut lalu meraih bibirku, dan mulai mendorongku hingga terbaring diranjang. Dia mulai memegang kendali, tersenyum menggoda padaku. Aku memejamkan mataku saat dia mulai menggerakkan tubuhnya. Menikmati setiap perlakuannya atas tubuhku. Aku baru tau kau juga bisa agresif seperti ini. Dia menumpu tubuhnya dengan tangannya yang menekan dadaku. Aku meraih kedua tangannya dan membiarkan tubuhnya bertupu pada kedua tanganku. Aku sangat menikmati sisi lain dari dirinya.dia terus bergerak hingga aku merasakan dia mulai mencapai kenikmatan klimaks. Tubuhnya lunglai dan jatuh ke tubuhku, nafasnya berat dan tersengal-sengal. Aku meraih kepalanya dengan tanganku, membiarkannya menikmati sensasinya. Setelah beberapa lama dalam keadaan seperti itu, aku mulai membalik tubuhnya.

“Siap untuk part selanjutnya?” bisikku. Aku duduk diantara kedua kakinya dan mulai melakukan  penetrasi kembali. Dia masih sedikit menegang, meski ini adalah kali kedua kami menyatukan tubuh, masih mencengkram tanganku meski tak sekuat yang pertama, cengkramannya setelah beberapa detik kemudian berubah menjadi belaian. Aku mulai menggerakkan tubuhku dengan cepat. Dia mulai mendesah kembali tanda dia menikmati sentuhanku, aku mulai bersemangat dan sedikit lebih kasar memperlakukannya.

“Oppa..”

“Mianhae, sebentar lagi.” Jawabku, setelah beberapa saat melakukannya, aku mencapai puncak kenikmatanku dan dia pun sama.

Park Eun Kyo, malam  ini kau benar-benar milikku! Dai terlalu lelah, dan mulai terpejam didalam pelukanku, aku menutupi tubuhnya dangan selimut dan mengecup dahhinya. Terima kasih kau telah menjaganya untukku.

***

Selalu aku yang bangun lebih dulu, menikmati wajahnya setiap pagi saat dia terlelap. Park Eun Kyo terima kasih kau telah hadir dalam hidupku.

“Bagaimana? Sudah terbukti kan?” dia berkata tapi matanya masih terpejam, dia tersenyum membuka matanya. Aku menciumnya.

“Katakan padaku semuanya terbukti kan? Aku masih utuh milikmu?” tanyanya meminta jawabanku.

“Hem, kau terbukti hanya memberikannya padaku.” Aku menciumi lehernya.

“Oppa, apa kau tau? Mengapa aku selalu memberikan suapan terakhirku padamu?”

“Hem?” aku masih betah mengecup lehernya.

“Karena pada suapan terakhir, aku menyisakan makanan yang paling aku suka.” Aku berhenti menciumnya dan menatap wajahnya.

“Aku menyisakan makanan yang menurutku paling enak dan terakhir aku nikmati pada suapan terakhir, dan aku selalu memberikan suapan terakhir itu padamu.” Aku mengerti sekarang. Seperti suapan terakhir itu, dia menyisakan sesuatu paling berharga dalam dirinya untuk dia persembahkan padaku. Aku mengecup bibirnya.

“Aku menyisakan seluruh hidupku dan sesuatu paling berharga untukmu.” Dia berkata disela ciumanku.

“Aku mengerti, aku sangat mencintaimu Park Eun Kyo, akan menjalani kehidupan terakhirku bersamamu.”

‘Seseorang akan menyadari sesuatu itu berharga setelah kehilangannya.’

  FIN

Hahahahahaahaha, aku mah geli sendiri ngetiknya plus bikinnnya, ini temanya sama kaya kemaren, Ceci Magazine lagi kan? Disana teuki memang sangat menggoda. Terima kasih reader yang udah mau baca…  buat Admin, Intan makasih jika mau ngepost ini… buat Yol, wahahahahahaaha, jangan cemburu yah bebeh…. Sini aku kasih ciumannya aja buat kamu, muah muah…. Ah iya, ini aku ga edit, jadi kalo typo maafkan aku… 🙂

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 02/10/2011, in OS, Super Junior and tagged , , . Bookmark the permalink. 104 Comments.

  1. aku suka ma ni ff… meski NC ada pesan2 moral disana…. keren banget….

    • em? pesan moral? ada pesan moral nya yah? aku g nyadar… ini sbnrnya bukan nc, tp aku jadiin nc khusus dsni… makasih syg udah mampir dan baca..

  2. Gila keren bgt..
    Bca di awal2 bikin tegang
    dannnnnn
    dan bingung ‘NC nya kapan??’ #huakakakak ketau.an dech otk nya yadong akut xixixixixi
    echhh terxata NC nya ada di suapan terakhir. Daebakkk
    ich.. Keren bgt pokoknya.

  3. Michelle Yuwana

    Eonny.. ^^b
    Daebak deh imaginasinya.. =D
    Keren”..

    Tp aku baca ada 1 bagian yg agak kurang..
    Di kalimat ini eon, “Aku adalah seorang detektif dari sebuah instansi pemerintah, sekarang aku lagi menangani sebuah kasus sindikat perdagangan wanita di Korea.”
    Ada bahasa yg kurang pas di kata “Lagi”, kalo di ganti pake sedang kan lbh enak..

    Hehe.. Maap eon, kalo ngasi kritik.. =D

    Untuk smua’na uda bagus, aku suka jalan crita’na..

    Eonny hwaiting..!!

  4. ff’a bgus,Q ska bnget ma crta’a 🙂

  5. endang sri rizky

    Good FF I like it
    Sempet tegang juga bacanya
    “̮ ƗƗɐɐƗƗɐɐƗƗɐɐ..”

  6. Kereeennn…
    Alur ceritany baguss..
    Suka.suka.suka..
    Daebak!

  7. BumMIA Donghae

    Nano2 rasanya thor, menegangkan sekaligus…
    Pokoknya sesuatu dech, jd pengen hehehe

  8. uh…… :-$:B-)B-)
    so sweet banget dah percintaan teuki n eunkyo.bikin iri aja…..
    tapi gmn sama nasib cwe yg tinggal ma teuki itu????

  9. Keren chingu 🙂
    Tp kyk’a NC’a trllu kcptn bkn trllu kcptn tp kyk’a agk gk nymbng
    Tp psn” yg trkndung’a kren” bgt chingu 🙂 #2 jempol

    • lahdalah… kaga nyambung? itu NC nya buat buktiin klo Eun Kyo masih utuh, ngerti ga? g apa2 si klo g ngerti… makasih udah baca dan jempolnya… *senyum sumringah*

  10. Annyeong readers baru, 🙂
    keren bgt author cerita.y
    ehmm ehmm,istri.y teukppa datang<3*plakk,ngaur.com,kau sagt mengagumkan, teukppa muach muach 😉

  11. April_Gengfans

    Daebakkk.. 😀
    ff’a kren bgt author, jlan crta’a bner2 bgus bgt.. ^^
    D’tnggu ff’a slnjut’a author.. 🙂

    • jgn panggil author, aku bukan author, aku penyampai cerita, jiahahahahahaha, becanda, makasih yah udah ninggalin jejak, terima kasih juga udah baca…

  12. wahhh,daebakkk! *plakk, omonie mau bilang apasudah nih, hahaha *dtabok, bagus banget ff nya,ampe melotot melotoot sangking focus nya baca..wkwkwk pokoknya mantep! ditunggu lagi buat ff yg lainnya,selalluuuuu *lebay ah, hwakakak XD daebak daebak daebak! 🙂

    • terima kasih sayang udah baca…
      lah elah, jgn berlebihan… buahahahahaha, semoga ada ide lain lagi buat NC, aku suka romance… nyerempet2 dikit lah, tetap yadong, buahahahaha

  13. Aaaaah bagus ceritanyaaah :’3 unyuu bgt si eunkyo sama jungsoo…. Imbang gt ada action sama ncnya…. Argh yeonji nya nyebelin bgt щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ)

  14. Kereenn ceritanya .. ^o^
    di tunggu cerita2 lainnya tor .. 🙂

  15. keren, seru n menegangkan.

  16. woah hot n daebak, mskipn kadang2 q dikit bingung tntng alurx hehehe
    ckckck akhirx teuk dpt uey stlh nunggu 213 hari, wah3x apa g trlalu lama tu nahan napsux

  17. keren thor ceritanya!
    Wah itu si teuki napsong banget. Ngebet punya anak kali ya. Kan udah tua dia.. *plak… ^^

  18. AnnisaHourai

    Merasa baca cerita detective *nggak nyambung komenx*
    Tegangx dapet , ncx jg 😀
    ditunggu ff selanjutnya 😀

  19. keren..Eunkyo..kau benar benar menjaganya 🙂

  20. aigooo…jungso kuat banget tujuh bulan tidur bareng tapi gak ngelakuin apa”….
    aku suka banget ni ff, alur ceritanya bagus trus konfliknya dapet…

  21. anneyong! reader baru, hehe 😉 suka bangeeeet sama ide ceritanya! apa ya, bikin geregetan! sebenernya pas udah bilang ada kasus harus ngumpanin perempuan, aku udah feeling kalo Eun Kyo pasti salah satunya! dan terbukti! suka sama semua setiap inchi ceritanya! romantis? dapet! konflik? dapet! seru + bikin penasaran? ada juga! pokoknya lengkap deh 😀 daebak thor!

  22. FFx perfect deh…wkwkwkw…!!bkinin sequelx y,,smpai mereka punya anak..hehe…

    😀

  23. Daebak thor….
    Ini ff nc nya mendidik*(?)
    Kta2nya sopan n gak vlgar,
    Lgpula ad pesan moral yg bsa di petik readers,
    Sempat ngkak pas bgian hyukjae mw nampung brg bekas,, wkwkwkwkwkwkwk lol

  24. sumpah ini seru banget ceritanya XD
    teuki bisa nahan nafsu berbulan2 ㅋㅋㅋㅋ xp

  25. Kyaa,suami ku yadong >.< #digamparauthor

    Eteuk ganteng ny di poto,hehe :p
    Daebak thor ff nya,ceritany ga monoton..ayo bikin NC eteuk again..^^ #readeryadong #plaak

  26. ff’nya DAEBAK….. seluruh jempol keluarga ku buat author semua…,
    klo bisa buatin sequelnya juga ya thor, biar makin DAEBAK ff nya….

  27. Ff’a kren..(y) tp NC’a krg hot..:D ending’a so sweet euy..:3

  28. Wah, FF terbaik yang pernah aku baca.. ada tegang, seru, romantis, sedih, cemburu, tapi endingnya so sweet… keren idenya.. 😉

  29. hyuk hyuk u godain hyung u mulu , tapi teuki kuat jg ya nahan iman sm eun kyo haaha

  30. kerenn banget,, kayaknya ni aslinya bukan nc ya.. tapi keren kok aku suka banget karakter teukie disini, bener bener angle dah… seneng aku..

  31. iih,, kereeen,,
    aq ngak bisa coment lagi,,
    ini jauuh lebiih kereeen,, ^o^

  32. kereeeeeeen thor keren banget.
    bener2 imajinasinya keren abis.
    buat yang lain lagi ya author hahaha

    • yang lain lagi? ada di wp aku, tapi ga hot, sejenis begini, tapinya banyak yang romance si drpd NC nya, aku ga bakat bikin nc… bkin yg skinship bertebaran sm nyerempet2 uya, wahahahahaha

  33. bagus banget critanya…
    aku suka banget. konfliknya tetep diutamain, bukan cuma bagian NCnya doang…
    tapi kenapa biasku *red:hyuk* jadi napsu sama Eunkyo ya??
    hm, tapi gak apa-apa deh, aku tetep suka ^^

  34. FF daebak ! Perpaduan yang bagus, jarang2 ada FF yang nyampurin antara action sm NC beginian. Out of my mind !

    Mianhae yy author, aku ngebayangin cast teukppa jadi ama siwon oppa. Hhehehehehe~

  35. kereeenn min, lucu lucu gimana gituu.

    min kalo bisa castnya oppa yesung ia min..
    😀

    di tunggu ff selanjutnya min ^^

  36. wow ternyata ini ff vika eon toh pantes ngerasa pernah baca… Hahay
    Tp kyknya hot-an ini dah… #plakk

  37. Sakuratrees97

    gemeter +merinding bacanya
    ini bener2 keren, dari segi bahasa, sampai moral, semuanya tersampaikan.. gue acungin jempol buat sang author..

  38. haha….
    untung itu teukie…bukan kyu xD …soalnya kyu is mine xD *PLAK * *dikubur hidup2 sparkyu
    keren thor.. #8 jempol *sisanya pinjem author -.-

  39. Aisshh.. Daebak thor 🙂
    jadi tambah greget nih sm teukie oppa..
    Envy sama eunhyo.. Hahaa

  40. bagus thor, suka 😀 buat lagi yaa 😉 :*

  41. bagus eon!! joa joa~ NCnya dapet tp gak terlalu fulgar tapi romancenya dapet wuuaaaa!!
    eon nama blok eonni apa?aku juga pengen baca FF yg ada di blok onni..
    kayaknya seru gitu, hehehe

  42. Sung dong sub

    Hemmm, tegang banget aq baca.na. Thaks y author, I like this story.
    Oh y gmn dg nasib perempuan yg dlu tinggal bersama teuk-kyo, apa dia d buang ke lubang buaya??? Wah jd wawancara, habiz aq jengkel dg wanita iitu

    huuuuuuufffffhhhhhhh

  43. Daebak thor.
    Ceritanya bagus. Alurnya bagus, ide ceritanya jga keren. Aku sih gak terlalu fokus ke nc-nya jdi gak bsa komentar tentang nc-nya.
    Daebak deh thor..

  44. Sung Hyo Joon

    Cerita nya bagus bangett .. 🙂

    thor Daebaaakkk !!

  45. Anna Florean

    Bagus thor,,keren ney ide ceritanya meski NC ada pesan moralny…#kyaaa Teukie ga sabaran ne,,eehrmm

  46. Hyukjae’s Lullaby

    Wuah daebak! aduh aku dapet pelajaran lagi. sesuatu yg berharga akan terasa saat kita kehilangannya>.< suka bgtbgt! Teuki oppa! Eun kyo Eonni!!

  47. bagus sih cuma ada yg kurang .
    desahannya ga ada min jadi kurang gimanaaa gtu

  48. Wah seru biken dag dig dug

  49. critanya bagus!!!!!
    Daebak thor…

  50. Kang Hyo Won

    keren bgt deh ceritanya
    konfliknya dapat bgt
    simple namun terkesan menyenangkan bgt

    WAJIB ADA SEQUEL

  51. wow itz amaizing!!!!
    Baru kali ini gw bc nc bermoral.
    coba bikin lagi donk ff nc bermoral kaya gini

  52. Aq seneng cerita ini…
    Filosofi makanan/suapan terakhirnya aq suka…

  53. Reblogged this on ZE:A's World and commented:
    park jungsoo (NICE FF)

  54. min keren min saya suka bgt,uhh kerendeh gk kaya yg lain UNLIMETED EDITION ini FF
    DAEBAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  55. feelnya apalagi padahal ceritanya simple tapi berharga bgt!

  56. Jung Sang Neul

    waaah daebakk…
    aq ska ff nya alur keren .. tpi boleh minta SEQUEL??

  57. FFnya bagus menegangkan tapi alurnya yg bagian belakang terlalu cepet
    🙂

  58. Jiiah suka banget sama nih ff…
    Ceritanya TOP BGT… (Y)
    TAPI kenapa Yeon Ji jadi gadis spt itu??? Itu mirip dgn nama Koreaku ‘Lee Yeon Ji’

  59. kereeenn bangeetttt.. ini ff nya ngandung banyak banget nasehat deh.. tapii, ini bener bener keren!!! lanjutkan! ((=

  60. Ini keren bangeeeet 😀
    2 jempol buat authornya

  61. makasih atas ffnya
    😀

  62. Kren nie ff
    meskipun tnggal 1 rmh n tdr 1 ranjang tp prinsip’a ttp dipegang jrang bgt da perempuan sperti itu
    salut dch sma yg nulis

  63. Akhirnya leeteuk nikah juga sama eunkyo , kirain eunkyo-nya knapa2 :y

  64. Min ff-na bkin aku merinding, bacana bkin penasaran ..
    Ceritanya menegangkan bngt

  65. Rita Clouds

    ngubek” page orang
    eh nemu ff bgus
    aq suka ffny pnuh dgn kata” yg pnuh makna yg artiny luar biasa
    hemeh ngomong apaan aq nie -_-

  66. Firly Thehunnie

    aaa daebak. dlu prnh baca ff yg ada detektif ny kyk gni tp bdany ini yg main coupleny yaitu leeteuk, *ff yg satuny, yg main eunhyuk*
    wkwk g sbar liat yg pny anak *penasaran*
    lalu ini ff seru+ menegangkan+ perfect n lengkap deh!! ^^ *ksih jempol buat author*
    oh y smpet ngakak ama bbrp bgian dr hyuk sma sungmin #lol
    udh deh maaf bnyk comment ‘-‘ , gaseyo ~

  67. Suka suka suka…
    Paling suka baca ff gak hanya sekedar cerita. Tapi ada maknanya sendiri buat pembelajaran ><

  68. sempat ngira klu eunkyo bener2 berakhir di tangan penjahat, namun leeteuk tetep menikahinya…. untung dah akhirnya eunkyo selamat…

  69. ini keren sumpah *-* awalnya tegang banget dan ngakak pas part/nya leeteuk ama tuh tunangannya ‘-‘

  70. awaliyah1023

    suka banget sama cerita’a >.< dagdigdug baca'a takut.eunkyo kenapa2 hehe

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: