Too Much Drama

Author: Zola
Title: Too Much Drama
Genre: Romance, NC 21
Cast:
–          Park Hyona (OC)
–          Cho Kyuhyun
–          Other Cast

Anneyong readers, makasih banyak sebelumnya buat yang udah mau ngeluangin waktu buat baca FF ini. Dan mianhae kalau kepanjangan atau kurang hot ya. Udah pernah aku publikasikan di blog pribadiku: http://zolakharisa.wordpress.com/ jangan lupa mampir ya, gamsahamnida.

————————————————————————————————————————

Author POV.

“Appa… jebal, bilang kalau ini hanya bercanda?” ujar seorang yeoja dengan mata yang siap menumpahkan butiran air bening disana.

“Kau pikir Appa akan bercanda untuk hal seperti ini? Kau sudah tahu perusahaan Appa sedang mengalami krisis jagi, tidak ada pilihan lain kecuali ini…” ujar seorang laki-laki paruh baya menatap mata putri satu-satunya itu dengan tatapan memohon.

“Itu tidak ada hubungannya denganku Appa! Kenapa harus aku yang menjadi korban Appa tentang perusahaan Appa itu?” ucap yeoja itu sambil menatap mata Appanya tajam.

Laki-laki paruh baya itu menghembuskan nafas berat. “Hanya ini satu-satunya cara jagi, kau tidak mau kehilangan rumah ini bukan? Kau tidak mau kehilangan satu-satunya tempat dimana kau memiliki kenangan yang berharga dengan Chaeri kan?” Appa menatap sendu yeoja itu sedangkan yeoja itu sedikit tertegun. Haruskah ia menerima tawaran Appa agar tidak kehilangan rumah ini? Atau justru menolak dan membiarkan tempat penuh kenangan dengan Eommanya itu hilang—disita?

“Apa sampai sebegitunya Appa?” tanya yeoja itu tergagap. Appa menatap lurus mata yeoja itu sambil menganggukkan kepala.

“Mengapa terlihat seperti aku… dijual?” ujar yeoja itu lirih. Sekilas terlihat penyesalan yang amat dalam di dalam kedua bola mata coklat laki-laki paruh baya itu namun seketika itu juga hilang, digantikan dengan tatapan yang teduh.

“Kau tidak boleh berpikiran seperti itu Park Hyona… kau akan mendapatkan kebahagiaanmu, percayalah” ujar Appa mantap sambil memegang kedua lengan yeoja bernama Park Hyona itu.

Hyona menghembuskan nafas perlahan. “Terserah Appa.” ujar yeoja itu akhirnya lirih namun ada ketegasan disana. Ia pasrah… tidak mungkin ia harus kehilangan semuanya hanya karena keegoisannya menolak bukan?

***

“Berhentilah untuk menatapku seperti itu, Han Nari” Hyona mendengus pelan melihat sahabatnya menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya.

“Cho Corp? Perusahaan Keluarga Cho yang sudah mendominasi Korea bahkan di luar negeri itu?” tanya yeoja—Han Nari sambil mengerjapkan matanya.

“Ne”

“Dan kau akan dijodohkan dengan putra Keluarga Cho itu?” tanya Nari lagi namun dengan cepat mendapat gelengan kepala dari Hyona.

“Lebih tepatnya aku dijual sendiri oleh Appa. Lihat, bahkan aku saja tidak tahu siapa nama putra Keluarga Cho itu dan aku harus menikahinya dalam waktu dekat? Hello… untuk apa aku hidup kalau akhirnya aku harus menikah dengan terpaksa?” yeoja itu mendengus pelan. Mata coklatnya yang teduh kini berubah menjadi suram.

“Menikah? Kau akan menikah dengannya? Tunggu… kau bilang apa? Putra Keluarga Cho? Aish, kau ini yeoja yang cerdas tapi juga bisa menjadi pabo disaat yang bersamaan ya?” Nari menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Hyona mengernyitkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Cho Kyuhyun! Nama putra Keluarga Cho itu adalah Cho Kyuhyun! Masa kau tidak tahu? Aish, wajahnya itu sudah sering menghiasi layar televisi sebagai pewaris tunggal Cho Corp. Dan kau tahu? Ia itu sangat cerdas dan juga… tampan!” seru Nari terlihat bersemangat.

“Mengapa kau sangat bersemangat tentang hal itu Nari~ah?” ujar Hyona lalu menyeruput teh hijau di depannya.

“Bagaimana bisa kau lulus kuliah dengan gelar S2 diumurmu yang baru menginjak 23 tahun sedangkan kau tidak dapat mencerna kata-kataku barusan?” Nari menatap yeoja dihadapannya itu lekat-lekat sedangkan Hyona terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan Nari.

Park Hyona memang yeoja yang cerdas. Diumurnya yang baru menginjak 14 tahun ia sudah sering menjuarai lomba bermain piano bahkan tingkat internasional. Saat umurnya 15 tahun ia melakukan sebuah penelitian yang membuat para peneliti di Jepang tertarik dan menawarinya untuk sekolah disana. Jadilah semasa SMA Hyona menghabiskan waktunya di Jepang. Ketika ia lulus sebagai salah satu siswa dengan nilai tertinggi, ia kembali ke Korea dan menyelesaikan studi kuliahnya di Seoul University dan karena kecerdasannya ia mendapat gelar S2 diumurnya yang baru menginjak 23 tahun.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan semua ini Hyona~ah?” tanya Nari lagi memecah keheningan.

“Entahlah, aku ingin menolak tapi tidak bisa menolak. Bahkan aku merasa otak cerdasku ini seperti menguap entah kemana untuk masalah seperti ini,” ujar Hyona sambil memandang ke luar jendela di dalam café itu.

“Kapan kau akan bertemu dengan Keluarga Cho itu?” tanya Nari lagi membuat Hyona menghembuskan nafas perlahan dan tetap memandang lurus ke luar jendela yang kini terlihat bahwa jalanan Seoul yang mulai basah oleh rintik-rintik hujan.

“Besok.”

***

Hyona POV.

Oh, Tuhan, aku sangat gugup!

Sepertinya baru 45 menit yang lalu aku merasa kalau aku akan ‘baik-baik saja’ namun sepertinya detik ini perasaan itu seakan menghilang tanpa jejak. Aku dan Appaku kini sedang melangkahkan kaki memasuki sebuah rumah yang benar-benar mewah. Mungkin dua kali lipat lebih besar dari rumahku. Saat di pintu masuk kami sudah disambut oleh sekelompok pelayan bagaikan seorang ‘Putri dan Raja’. Mereka mengantar kami masuk untuk segera bertemu dengan pemilik rumah tersebut. Tentu saja sepasang suami-istri yang sukses dan terpandang dikalangan para pebisnis di Korea bahkan luar Korea.

“Kau gugup?” tanya Appa memecah kebisuan diantara kami dan aku hanya mengangguk pelan.

“Mereka akan menyambutmu dengan baik, tenang saja” mendengar itu aku hanya bisa tersenyum tipis. Menyambut dengan baik? Kuharap begitu.

Tiba di depan sebuah pintu besar bercat putih, para pelayan itu lalu menyuruh kami untuk masuk ke dalam ruangan itu. Appa terlihat tersenyum berterima kasih lalu ia menggenggam tanganku untuk ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.

Deg. Deg. Deg.

“Selamat datang Tuan Park,” aku bisa melihat sapaan hangat dari seorang laki-laki paruh baya yang mungkin sepantaran dengan Appa ketika kami memasuki ruangan itu.

“Wah, jadi ini putrimu Tuan Park? Cantik sekali.” dengan sangat jelas, aku bisa mendengar pujian tulus dari suara Tuan Cho ini. Ia mengamatiku sekilas lalu tersenyum ramah.

“Gamsahamnida.” ucapku sambil membungkukkan badan.

“Ne, baiklah mari kita duduk,” beliau mengajak kami untuk duduk di sebuah kursi yang kalau dihitung ada 8 kursi disana. Aku mengambil tempat duduk di samping Appa. Dihadapan kami terdapat meja kaca panjang—sebuah meja makan yang di atasnya sudah tersusun rapi berbagai hidangan yang kalau perkiraanku tidak salah adalah masakan Italia.

Aku duduk berseberangan dengan seorang yeoja cantik. Hmm, sepertinya ia yang bernama Cho Ahra, putri sulung Keluarga Cho.

“Jadi, kau yang bernama Park Hyona?” Cho Ahra mengajakku berbicara, sepertinya ia sadar kalau aku memperhatikannya.

“Ne” ucapku ramah.

“Omona, kau cantik sekali Hyona~ssi. Jadi, kau yeoja yang sering dibicarakan Appaku itu?” ujar Cho Ahra sambil melirik sekilas pada Tuan Cho yang tersenyum tipis.

“Benarkah kau meraih gelar S2 diumurmu yang masih 23 tahun?” tanyanya lagi. Oh, aku mengerti maksud arah pembicaraannya.

“Sebelumnya terima kasih pujiannya, Ahra… Eonni?” ucapku agak gugup lalu setelah itu terdengar tawa renyah darinya.

“Ne, ne, panggil saja aku Ahra Eonni.” aku tersenyum simpul. Ternyata ia orang yang menyenangkan.

“Baiklah Ahra Eonni, aku memang meraih gelar S2 diumur 23 tahunku” ujarku dengan nada serendah mungkin agar tidak terlihat kalau aku menyombongkan diri. Ia terlihat menganggukkan kepalanya.

“Kudengar kau bisa bermain piano bahkan kemahiranmu sudah sampai diakui di luar Korea. Hmm, bisakah kau mainkan satu lagu saja untuk… kami?” pintanya padaku. Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya. Jadi, sejauh mana ia mengetahui tentangku?

“Hmm, aku tidak keberatan tapi…” aku melirik Appa sekilas dan terlihat ia tersenyum namun bisa kulihat itu adalah seperti sebuah ungkapan tanpa kata-kata yang seakan bilang, “Lakukanlah”.

“Tenang saja, kau mainkan saja satu lagu untuk kami sambil menunggu Eomma dan Kyuhyun kesini.” ujarnya dan aku baru menyadari kalau di ruangan itu aku sama sekali belum melihat sosok Nyonya Cho dan… Cho Kyuhyun.

“Baiklah.” aku bisa melihat sorot mata Ahra Eonni yang terlihat begitu senang lalu menghampiriku dan mengajakku ke sudut ruangan tempat itu. Aku bisa melihat sebuah piano berwarna putih berdiri tegak disana. Ah, aku sama sekali tidak menyadari kalau ada piano di ruangan ini. Apa mungkin karena aku terlalu gugup?

“Baiklah, aku ingin mendengar permainanmu,” ucap Ahra Eonni ketika aku sudah duduk dengan manis di depan piano putih itu.

Aku mengangguk pelan dan menghirup nafas perlahan. Aku berfikir sejenak… lagu apa yang harus kumainkan? Hmm.., ah, sepertinya aku tahu.

Aku mulai menaruh sepuluh jariku di atas tuts tuts piano itu. Aku memejamkan mata sejenak lalu mulai fokus dengan tuts tuts yang ada di depanku. Jari-jariku dengan perlahan mulai bergerak lihai di atas tuts tuts piano itu. Lagu ini… lagu yang selalu membawa kenangan abadi tentangku dan Eomma.

Aku bersenandung kecil sedangkan jemariku bergerak dengan indah di atas tuts tuts piano. Sudah lama aku tidak merasa setenang ini… berapa lama aku tidak bermain piano? Ah, semenjak Eomma meninggalkanku selamanya 2 bulan yang lalu? Entahlah.

Aku sudah mencapai klimaks akhir lagu tersebut. Dan… pada dentingan terakhir aku mengakhiri lagu ini.

Selesai dengan itu, aku merasakan keheningan. Ahra Eonni tampak menatapku lekat-lekat. Kulirik Appa dan Tuan Cho yang juga seakan melihatku tampak tidak berkedip.

“Apa judul lagu itu?” akhirnya, Ahra Eonni memecah keheningan yang terjadi. Namun pandangannya masih sama. Entahlah, bukan aku merasa percaya diri atau apa tapi aku bisa melihat sorot mata Ahra Eonni yang terlihat… takjub?

Aku tersenyum tipis. “Spring About You

***

Kyuhyun POV.

“Eomma… aku benar-benar tidak ingin turun,” ucapku dengan nada memohon pada Eommaku ini.

“Kau tidak boleh begitu Kyu, mereka sudah menunggu di bawah.” ujar Eomma membuatku mengernyitkan dahi.

“Mereka?”

“Aish, kau ini bagaimana bisa jadi sebodoh ini hanya dengan waktu semalam? Bukankah kemarin Eomma sudah bilang kalau kau akan di—“

“Ya! Eomma, aku sudah tahu.” aku memotong ucapan Eomma. Seorang Cho Kyuhyun akan dijodohkan dengan seorang yeoja yang bahkan tidak ia kenal. Mengapa selalu saja seperti ini? Perjodohan.

“Bukankah kau tidak menolak?” tanya Eomma lagi. Aish, pertanyaan macam apa itu?

“Aku tidak pernah bilang iya”

“Tapi, kau juga tidak pernah bilang tidak”

“Lalu, Eomma ingin aku bilang iya?”

“Tentu saja”

“Tapi aku tidak pernah ingin”

“Tapi Eomma ingin” aku menghembuskan nafas berat. Percuma berdebat dengan Eomma. Toh, sebagai anaknya aku harus mengalah bukan? Dan selama ini terus saja begitu.

Kurasakan Eomma memegang kedua lenganku erat. “Cobalah Kyu, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Kurasa putri Tuan Park cocok denganmu. Kudengar ia adalah salah satu murid dengan nilai lulusan tertinggi di Seoul University dan diumurnya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah menyelesaikan S2nya. Kurasa tidak ada salahnya kau mencoba dan… kalau memang kalian benar-benar tidak cocok kami akan melepaskan keputusan pada kalian berdua,” ujar Eomma panjang lebar. Dan itu sudah cukup membuatku tertegun mendengar penjelasan Eomma.

“Jadi, bagaimana?” tanya Eomma lagi membuyarkan lamunanku.

“Terserah.” ucapku pasrah dan Eomma tersenyum tipis. Ia mengajakku turun ke bawah. Ketika kami hampir sampai ke ruang keluarga, aku bisa mendengar sebuah permainan piano. Semakin dekat kami dengan ruang keluarga, semakin jelas pula suaranya. Siapa yang memainkan piano seindah ini? Lagunya… benar-benar menenangkan jiwa. Terdengar sederhana namun entah mengapa lagu itu seakan bisa membius siapapun yang mendengarnya. Dan kuakui, termasuk aku.

Spring About You

Ketika kami sudah sampai di ambang pintu aku mendengar suara seseorang—sepertinya yeoja mengucapkan kata-kata itu. Terdengar seperti judul… apa judul lagu itu?

“Lihat, sepertinya itu putri Tuan Park,” ucap Eomma sambil mengangkat jari telunjuknya kearah seorang yeoja yang sedang duduk di kursi piano ketika kami sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tidak terlihat terlalu jelas karena tertutup sebagian tubuh Ahra Noona.

“Kau sudah datang rupanya” Appa memecah keheningan yang terjadi. Sontak mereka semua menoleh kearah kami.

“Duduklah jagi, Kyuhyun.” ajak Appa pada kami. Aku pun mengikuti Eomma yang sudah berjalan duluan. Pandanganku masih tidak lepas dengan sosok yeoja yang duduk di kursi piano itu. Aku masih penasaran seperti apa wajahnya.

“Kajja, kita kembali duduk.” sayup-sayup kudengar suara Ahra Noona mengajak yeoja itu. Dan… akhirnya aku bisa melihat rupa wajah yeoja itu. Cantik. Harus kuakui kalau yeoja itu benar-benar cantik. Matanya bulat dan rambut panjangnya tergerai indah. Kedua bola mata coklat gelapnya terlihat berbinar-binar. Jadi, ini yeoja yang bernama Park Hyona itu?

“Baiklah, karena semuanya sudah lengkap bagaimana kalau kita mulai saja pembicaraannya?” ujar Appa mengawali pembicaraan. Yeoja itu duduk diseberang Ahra Noona sedangkan aku di samping Ahra Noona. Dan itu membuatku bisa dengan mudah melihat rupa yeoja itu dengan seksama.

“Aku ingin langsung membahas masalah ini pada intinya. Aku ingin menikahkan putraku Cho Kyuhyun dengan putri Tuan Park, Park Hyona,” ucap Appa dan aku bisa menangkap nada serius dari ucapannya.

“Mwo?” yeoja itu angkat suara.

“Aku ingin menikahkan kalian secepatnya tanpa perlu ada penundaan. Kuharap kalian bersedia” ujar Appa lagi.

“Tapi…” yeoja itu menggantungkan ucapannya dan melirikku sekilas.

“Bisakah kami diberi waktu? Setidaknya untuk saling mengenal satu sama lain” ia berucap pelan.

“Tentu saja, karena kau akan tinggal disini sampai acara pernikahan kalian.” jawab Appa diikuti anggukan Eomma.

Bisa kulihat yeoja itu membulatkan matanya. “Mwo? Jeongmal?”

“Tentu saja Hyona~ssi. Kalian berdua tidak keberatan kan?” tanya Appa lalu melirikku dan yeoja itu.

“Terserah anda saja,”

“Terserah Appa saja,” ucapku bersamaan dengan yeoja itu. Apa? Bersamaan?

“Wah, belum apa-apa sudah kompak saja kalian” Ahra Noona tertawa geli sedangkan aku melemparkan tatapan tajam padanya. Aish, dasar Noona.

***

Hyona POV.

“Ahjumma, apa ada yang bisa kubantu?” tanyaku pada Ahjumma—Nyonya Cho yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Apa sebelah alis kalian terangkat? Aku kini tinggal di kediaman Keluarga Cho dan aku tidak tahu harus senang atau sebaliknya tinggal di rumah semewah ini. Tidak terasa sudah 1 minggu aku tinggal disini namun sama sekali belum ada perkembangan antara hubunganku dengan Kyuhyun. Kami sangat jarang berbicara bersama. Sapaan pun dapat kuhitung dengan jari jumlahnya. Entahlah, tapi aku merasa kesepian disini. Walaupun banyak pelayan disini tapi mereka semua bersikap ‘terlalu’ sopan padaku. Appa juga tidak tinggal disini, awalnya aku ingin sekali ikut dengan Appa. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tetap tinggal di rumah kami dan tetap mengurus perusahaannya yang hampir ‘jatuh’.

“Bisakah kau tolong bangunkan Kyuhyun, Hyona~ssi? Aish, dia itu sangat susah untuk dibangunkan. Apalagi hari minggu seperti ini.” ucap Ahjumma membuat mood-ku turun. Membangunkan Cho Kyuhyun? Oh, God.

“Hmm, ne Ahjumma,” ujarku pelan lalu beranjak ke kamar Kyuhyun. Sampai di depan pintu kamarnya, aku mengetuk-ngetuk pintu kamarnya namun sama sekali tidak ada jawaban. Aku mendengus pelan. Dengan sedikit pertimbangan akhirnya aku pun langsung masuk ke dalam kamarnya yang kebetulan tidak dikunci. Aku menghampiri tempat tidurnya dan aku bisa mendengar dengkuran halus dari dirinya.

“Kyuhyun… ayo bangun.” aku mengguncang-guncangkan tubuhnya pelan namun ia sama sekali tidak bergeming.

Aku menghembuskan nafas perlahan. “Hei, Cho Kyuhyun bangun! Sarapan sudah siap… apa kau tidak mau mencoba sarapan dari Eommamu? Jarang sekali bukan ia bisa membuatkan sarapan untukmu seperti ini. Hei, ayo bangun!” aku setengah berteriak mengucapkannya namun… ia tak kunjung bangun. Aish, namja ini.

Aku menarik selimut yang menutupi hampir sebagian wajahnya. “Kyuhyun, ayo bangun! Mengapa kau suka sekali tidur sih? Kau tidak ingin mencicipi sarapan dari Eommamu apa? Apa kau tidak kasihan dengan Eommamu. Hei!” ucapku dengan nada lebih tinggi sambil menepuk-nepuk pipinya pelan dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Sesuatu berdesir dalam diriku ketika melihat wajahnya. Oh, Tuhan… mengapa wajahnya bisa terlihat seperti anak kecil ketika sedang tidur? Lucunya… aish, apa yang kau pikirkan Park Hyona?

“Yaa! Cho Kyuhyun bangun! Atau kau mau kusiram dengan air hah?” ucapku dengan nada mengancam dan kulihat ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Aku menepuk-nepuk pipinya pelan. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang nyaman saat melakukannya.

“Lebih baik sekarang kau bersiap turun, Kyuhyun~ssi. Kasihan Eommamu jika melihat kau tidak bisa bangun sendiri diumurmu yang sudah lebih dari 20 ini.” ucapku sedikit mengejek lalu beranjak berdiri. Belum sempat aku melangkah kurasakan seseorang menggenggam tanganku.

“Jangan pergi”

Deg. Dia bilang apa?

“Mwo?”

“Kubilang jangan pergi”

“Waeyo?”

Aku bisa merasakan kalau ia kini sudah duduk di tepi kasur namun tangannya masih menggenggam tanganku.

“Kyuhyun~ssi, lebih baik lepaskan tanganmu. Ayo sarapan, Ahjumma sudah menunggu di bawah,” aku mencoba melepaskan tangannya namun ia malah semakin mengeratkan genggamannya. Aku membalikkan tubuhku untuk memprotesnya namun dengan cepat ia berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggangku sedetik sebelum aku benar-benar berbalik menghadapnya.

Ia memelukku dari belakang.

“Kyuhyun~ssi, a… apa yang kau lakukan?”

“Aku kedinginan.” ucapnya datar lalu menempelkan dagunya di bahuku.

“Kedinginan? Di pagi secerah ini?” ucapku tak percaya. Aku merasa hari ini tidak terlalu dingin… apa itu hanya alasan? Tapi untuk apa?

Aku mencoba melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku namun hasilnya nihil, tenaganya lebih besar daripada aku.

“Kyuhyun, jebal… lepaskan,” ucapku memohon. Ia menghembuskan nafas tepat mengenai bahuku, membuat sebuah sensasi aneh yang menjalar di tubuhku.

“Kau tidak suka aku peluk?” ujarnya terdengar… manja? Dan ia semakin mempererat pelukannya. Entahlah, tapi aku merasa tubuhnya benar-benar hangat. Dan itu membuatku merasa tenang. Tunggu, apa yang kukatakan?

“Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Aku hanya ingin tahu,” aku bisa kembali merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Ini pertama kalinya selama 1 minggu ini aku dan Kyuhyun mengobrol sepanjang ini.

“Mengapa kau seperti ini Kyuhyun~ssi?” tanyaku saat ia mulai sedikit mengendurkan pelukannya.

“Entahlah, tapi aku merasa ini begitu nyaman,” ia kembali mengeratkan pelukannya di pinggangku dan sesuatu yang hangat menempel di leherku. Bibirnya?

“Kyu…” aku bisa merasakan sapuan hangat bibirnya di leherku. Mengecupnya perlahan. Sungguh, bagaimana bisa ia tahu kalau itu salah satu titik sensitifku? Atau hanya kebetulan? Aku masih belum berani menjenjangkan leherku. Kurasakan Kyuhyun beralih ke telingaku dan mengecupnya berkali-kali. Aish… mengapa aku menikmatinya?

“Tuan Kyuhyun, Nona Hyona, apa kalian di dalam? Anda berdua sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya di bawah.” aku tersentak ketika seorang pelayan berujar dan mengetuk-ngetuk pintu kamar dari luar. Bisa kurasakan Kyuhyun terlihat enggan melepaskan pelukannya namun ia melepasnya juga. Suasana menjadi canggung. Aku bisa merasakan jantungku berdegup dengan cepat. Aish, kalau begini terus aku bisa…

“Kajja kita ke bawah” ucap sebuah suara, Kyuhyun, yang datar dan tenang. Ah, mengapa aku merasa kalau tadi bukan sesuatu yang besar untuknya? Mengapa aku merasa kalau hanya jantungku yang berdegup dengan cepat dan dia… tidak? Aish, Park Hyona apa yang kau pikirkan?

Aku pun menganggukkan kepala lalu mengikutinya di belakang yang sudah berjalan mendahuluiku.

***

Author POV.

Sudah minggu ke-2 Hyona tinggal di rumah Keluarga Cho namun sama sekali belum ada perubahan yang tampak. Setelah peristiwa dimana-Hyona-dipeluk-oleh-Kyuhyun tidak ada lagi percakapan yang terjadi setelahnya. Kyuhyun lebih sering menghabiskan waktunya di luar dan membantu Appanya di perusahaan, sedangkan Hyona lebih sering tinggal di rumah Keluarga Cho sendirian sambil menikmati waktu senggang yang ia punya.

Bagi Hyona rumah Keluarga Cho semakin sepi sekarang. Ahra Eonni sudah kembali ke Jepang 2 hari yang lalu dan berjanji akan kembali ke Korea jika Hyona dan Kyuhyun akan segera melangsungkan pesta pernikahan. Nyonya Cho juga sedang berada di Taiwan untuk sementara waktu mengurusi bisnisnya yang sempat tertunda karena Tuan Cho tidak bisa hadir. Jadilah, Hyona tinggal sendirian di rumah itu. Meskipun Kyuhyun masih tinggal di Korea namun ia selalu pulang malam dimana Hyona sudah tertidur. Tuan Cho juga masih di Korea namun ia lebih sering tinggal di hotel bintang 5 dekat dengan perusahaannya dibandingkan pulang ke rumah yang jaraknya memang memakan cukup banyak waktu dari sana.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, ada apa Nari~ah?”

“Hyona apa kau sibuk? Jadi datang ke pesta ulang tahun Minra?”

“Ah, ne tentu saja jadi, mau kujemput Nari~ah?”

“Tidak perlu, kita bertemu saja disana. Oke?”

“Baiklah,”

“Berdandan yang cantik ya. Haha.”

“Tentu saja,”

“Ya sudah kalau begitu sampai ketemu nanti Hyona~ah”

“Ne, bye.

Cklik. Sambungan telefon pun terputus. Hyona segera beranjak dari tempat tidurnya dan memilah gaun apa yang akan ia kenakan di pesta salah satu teman terdekatnya, Choi Minra. Setelah berkutat hampir 10 menit dengan lemari pakaiannya, ia lalu memutuskan untuk mengambil sebuah gaun dengan panjang selutut tanpa lengan berwarna biru safir dan sepatu high heels berwarna senada.

“Ada yang bisa saya bantu Nona?” tanya salah satu pelayan menghampirinya yang memang sebelumnya dipanggil oleh Hyona.

“Aku akan pergi sebentar ke pesta ulang tahun salah satu temanku. Jika ada yang bertanya aku kemana bilang saja aku pergi sebentar, oke? Jangan terlalu mencemaskan.” ujar Hyona ramah dan pelayan itu menganggukkan kepala.

“Oh, iya, Nona apa Tuan Kyuhyun perlu diberitahu seandainya ia tidak bertanya?” tanya pelayan itu lagi dan Hyona menggelengkan kepalanya.

“Sudah kubilang bukan kalau kau bilang tentangku jika ada yang bertanya?” ujar Hyona lagi dan pelayan itu kembali menganggukkan kepala.

“Oh, iya, Nona maaf kalau saya lancang sebelumnya. Tapi, apa boleh saya bertanya?” tanya pelayan itu lagi membuat Hyona mengernyitkan keningnya namun akhirnya tersenyum mengiyakan.

“Mengapa di kemeja Tuan Kyuhyun kemarin saya melihat ada bekas lipstik? Tidak kemarin saja Nona, tapi juga 2 hari yang lalu. Apa itu bekas lipstik Nona?” jelas pelayan itu membuat sesuatu yang sedikit menyesakkan di dalam diri Hyona. Siapa? Lisptik?

“Hmm, ani, bukan punyaku. Sudah tidak perlu dipikirkan Eunri~ssi” ujar Hyona sambil tersenyum simpul sedangkan pelayan itu mengernyitkan sedikit dahinya namun akhirnya menganggukkan kepala.

“Baiklah, sepertinya aku harus berangkat sekarang.” ucap Hyona lalu kembali menatap sebentar dirinya di cermin sebelum benar-benar beranjak dari kamarnya.

***

“Ada apa Hyona~ah?” tanya Minra pada Hyona. Sekitar 30 menit yang lalu Hyona baru saja sampai di tempat pesta ulang tahun Minra. Sebuah bar, namun bar ini lebih tertutup. Etikanya pun disini lebih dijaga. Tempatnya juga nyaman dan pesta ulang tahun Minra berada di sebuah ruangan yang sudah di-booking disana.

“Aniyo, aku merasa sedikit tidak enak badan saja mungkin,” ujar Hyona sambil tersenyum tipis meyakinkan. Walaupun sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Sedangkan Minra terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. “Kudengar kau akan menikah dengan putra dari Cho Corp itu? Benarkah?”

“Ne, tapi ya kau tahu sendiri… itu hanya karena sebuah pernikahan ‘terpaksa’ Minra~ssi,” Hyona tersenyum kecut.

“Apa kau mencintainya?” ujar Minra hati-hati.

Hyona menghembuskan nafas perlahan. “Entahlah, aku juga tidak tahu.”

Baru sempat Minra membuka mulutnya untuk kembali bertanya, terdengar suara Nari memanggil Hyona.

“Hei, tidak bisakah kau tidak berteriak-teriak di pesta ulang tahun Minra seperti ini?” ucap Hyona sambil menatap tajam sahabatnya yang terlihat sedang mengatur nafas.

“A… aku melihat namja itu!” Nari berujar tergagap dengan nafas sedikit tersengal.

“Namja itu siapa?” tanya Minra tidak sabar.

“Cho… Cho Kyuhyun! Aku melihatnya di bar ini bersama seorang yeoja.”

Hyona POV.

“Kyu… hyun?” aku menggumam pelan—sangat pelan dan mungkin nyaris tidak terdengar oleh pendengaranku sendiri. Entah mengapa dadaku merasa sesak dan air mataku seakan ingin mendesak untuk keluar. Kenapa? Apa aku cemburu?

Aku bisa melihatnya dengan jelas. Dengan mata kepalaku sendiri. Kyuhyun… sedang berciuman mesra dengan seorang yeoja. Sesak, jadi apa ini mungkin alasan Kyuhyun selalu pulang larut malam? Dan apa ini mungkin juga jawaban yang sebenarnya dari pertanyaan pelayan itu?

“S—sepertinya a… aku harus pulang sekarang. Minra~ssi maaf tidak bisa lama-lama di… di pesta ulang tahunmu. Anneyong,” aku membungkukkan badan pamit pada Minra yang bisa kulihat menatapku iba. Aku segera pergi dari bar itu dan berlari kecil. Tidak kuhiraukan panggilan Minra, Nari dan mungkin tatapan serta bisikkan orang-orang yang berada di bar itu. Aku tidak bisa terus berada disana dan pura-pura tersenyum seakan nothing happened. Entah mengapa air mataku benar-benar mendesak untuk keluar. Kurasa, Kyuhyun menyadari kehadiranku karena tadi Minra dan Nari serta beberapa temanku yang lainnya berteriak memanggil namaku. Ah, sudahlah aku tidak peduli lagi dengan semua ini. Yang kubutuhkan adalah ketenangan.

***

Kyuhyun POV.

“Hyona! Park Hyona!” aku mendengar beberapa orang menyerukan sebuah nama. Nama yang sangat familiar untukku. Aku melepaskan ciumanku dengan Victoria sedangkan ia terlihat cemberut ketika aku melepaskan ciumannya. Aish, yeoja ini…

“Park Hyona!” kini tatapanku tertuju pada seorang yeoja yang sedang berlari kecil meninggalkan bar ini. Dan aku baru sadar kalau yeoja itu… Park Hyona.

Aish, apa dia melihatku berciuman dengan Victoria?

Bagaimana kalau ia… salah paham? Salah paham? Ya! Aku dan Victoria hanya…

“Kyu, bukankah yang tadi berlari itu Hyona yang tinggal di rumahmu itu?” ujar Victoria polos sedangkan aku menatapnya tajam.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang,” aku baru saja akan beranjak pergi ketika kurasakan tangan seseorang memegang lenganku.

“Tapi, kita belum—“

“Kau pikir aku akan membiarkan Hyona salah paham? Tidak, Nona Victoria.” aku pun mencoba melepaskan tangan Victoria yang memegang lenganku dan langsung pergi meninggalkan dirinya yang masih mematung di tempatnya.

Aish, sungguh, aku benci situasi seperti ini.

***

Author POV.

Yeoja itu langsung masuk ke dalam kamarnya dengan mata sembab ketika baru tiba di kediaman Keluarga Cho. Para pelayannya yang melihat itu segera langsung beralih menanyakan keadaan yeoja itu dari luar pintu kamar Hyona yang dikunci dari dalam dan mengetuk-ngetuknya. Tentu saja raut wajah cemas terlihat dengan jelas di mimik wajah para pelayan itu termasuk Eunri, pelayan terdekat yeoja yang kini sedang terisak itu.

“Nona, apa anda baik-baik saja di dalam?” tanya salah satu pelayan, Taeyeon.

“Nona, tolong buka pintunya, apa yang terjadi Nona?” tanya Eunri yang dengan jelas terdengar sangat khawatir.

“Gwe… gwenchana, aku hanya kelelahan. Sudahlah, kalian lebih baik kembali bekerja,” ujar Hyona dengan suara pelan dan sedikit serak namun masih bisa ditangkap oleh pendengaran para pelayan itu.

“Jeongmal, Nona?” ujar Eunri memastikan.

“Ne, kumohon jangan ganggu aku dulu” para pelayan itu terdengar menghembuskan nafas perlahan. Mereka sadar tidak bisa membujuk Nona satunya itu apalagi berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi. Bagaimana kalau itu urusan pribadi? Mereka juga sadar kalau itu privasi dan bukan hak mereka.

Para pelayan itu baru akan kembali bekerja ketika dilihatnya seorang namja dengan terburu-buru menghampiri mereka.

“Apa Hyona ada di dalam?” tanya namja itu yang terlihat sedang mengatur nafas.

“Nona ada di dalam Tuan, tapi katanya Nona tidak mau diganggu oleh siapapun.” ujar Eunri lagi membuat Kyuhyun mendengus pelan.

“Tapi, aku sempat melihat mata Nona Hyona sembab, apa Tuan bertengkar dengan Nona?” tutur Eunri lagi membuat rasa penyesalan itu kembali menghinggapi diri Kyuhyun.

“Pintunya dikunci dari dalam bukan? Bisakah kau ambilkan kunci duplikatnya?” tanya Kyuhyun lagi tanpa menghiraukan pertanyaan pelayan itu sebelumnya. Terlihat pelayan itu menganggukkan kepalanya. Tidak sampai 3 menit pelayan itu kembali dengan membawa sebuah kunci di tangannya. Kyuhyun menatap pelayan itu berterima kasih dan meminta semua pelayannya itu untuk meninggalkannya sendirian.

Dengan segenap keberanian, Kyuhyun memasukkan kunci itu ke dalam lubang dan memutarnya kearah yang berlawanan. Tidak sampai 5 detik, pintu itu akhirnya dapat terbuka.

Sayup-sayup Kyuhyun dapat mendengar sebuah suara isakkan. Kamar itu terlihat remang-remang, hanya penerangan dari lampu kecil di sebuah meja rias disana yang membuat kamar itu tidak terlihat terlalu gelap.

Hati Kyuhyun kembali mencelos ketika melihat yeoja itu terduduk di lantai dengan menenggelamkan wajahnya di kedua kaki dan tangannya. Sepertinya, ia tidak menyadari kalau Kyuhyun masuk ke dalam kamarnya.

“Hyo… na?” gumam Kyuhyun pelan namun masih bisa didengar telinga Hyona, membuat yeoja yang kini sudah berada di depannya itu mendongak kaget.

“Tinggalkan aku!” ujar Hyona setengah berteriak. Kyuhyun dapat menangkap sebuah luapan emosi di dalam suaranya.

“Mianhae…”

“Kau mau minta maaf untuk apa? Aku hanya lelah Kyuhyun~ssi. Lebih baik sekarang kau keluar,” ujar Hyona serak. Ia masih belum berani menatap mata Kyuhyun dengan mata yang pasti sudah memerah.

“Mianhae… apa kau melihatku dengan… Victoria?” ujar Kyuhyun hati-hati namun mendapat gelengan tegas dari Hyona.

“Aku tidak melihatnya,”

“Kau bohong.”

“Untuk apa aku berbohong hah?”

“Kalau begitu tatap mataku, Park Hyona!” untuk pertama kalinya, Hyona mendengar namja itu membentaknya. Dengan mengontrol emosinya, Hyona mendongakkan kepala dan menatap lurus namja itu.

Kyuhyun tersentak ketika melihat mata yeoja yang pertama kali dilihatnya berbinar-binar itu seakan lenyap begitu saja sekarang. Matanya sembab dan ia bisa melihat setetes air mata kembali jatuh di ujung pelupuk matanya. Melihat itu Kyuhyun merasakan dadanya sesak. Ia merutuki dirinya sendiri betapa bodohnya dia membuat yeoja itu sampai sebegitunya.

“Matamu sembab Hyona~ah,” ujar Kyuhyun lirih sambil menghapus air mata dengan tangan kanannya namun langsung ditepis oleh Hyona.

“Kau pikir aku menangis karena dirimu? Kau salah, Tuan Cho Kyuhyun.” Hyona kembali menunduk, ia tidak bisa menatap mata Kyuhyun bila berbohong.

“Apa kau cemburu?” tanya Kyuhyun yang sukses membuat Hyona membulatkan mata menatap mata namja di depannya.

“Aish, untuk apa aku cemburu? Melihatmu dengan yeoja bernama Victoria itu saja tidak.” Hyona mengelak.

Kyuhyun mendengus pelan. “Jangan berbohong, aku melihat kau tadi di bar. Tentu saja alasanmu pergi dari situ karena melihatku dengan Victoria bukan? Dengarkan dulu penjelasanku sebelum—“

“Aku memang melihatmu dengan yeoja bernama Victoria itu, tapi aku pulang karena aku merasa lelah Kyuhyun~ssi,” Hyona berujar pelan. Ia menghembuskan nafas berat membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah. Bersalah?

Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di wajah yeoja itu. Membuat kedua mata itu saling bertemu.

“Katakanlah kalau kau memang cemburu, jangan mencoba untuk mengelak lagi Hyona~ah.”

“Sudah kubilang aku tidak cemburu!”

“Jinjja?”

“Ne” ucap Hyona mantap lalu memalingkan wajahnya. Kau harusnya sudah tau Kyu…

“Kalau begitu…” Kyuhyun meraih dagu Hyona, tanpa meminta izin Kyuhyun sudah menempelkan bibirnya dengan bibir mungil Hyona. Hyona yang mendapat perlakuan itu belum sempat menutup matanya, ia terlalu shock dengan apa yang dilakukan Kyuhyun. Hyona mencoba mendorong tubuh Kyuhyun, namun Kyuhyun dengan sigap menaruh tangan kanannya pada tengkuk Hyona. Ia menarik tengkuk Hyona untuk memperdalam ciumannya.

Kyuhyun melumat bibir mungil Hyona. Yeoja itu dapat merasakan kesan lembut dan tidak menuntut dari ciuman itu. Entah keberanian darimana, Hyona membuka mulutnya dan membalas ciuman itu. Merasa menang, Kyuhyun semakin memperdalam ciumannya. Melumatnya dan menghisap bibir atas dan bawah yeoja itu secara bergantian. Hyona juga melakukan hal yang sama. Namun tidak ada kesan ‘terpaksa’ yang dirasakan keduanya.

“Kenapa… kau melakukan itu?” ujar Hyona ketika tautan bibir keduanya terlepas. Mereka menghirup nafas sebanyak-banyaknya.

“Saranghae…” ujar Kyuhyun sangat pelan namun masih bisa ditangkap oleh pendengaran Hyona. Belum sempat Hyona bertanya karena masih terkejut dengan ‘pengakuan’ itu, Kyuhyun kembali menempelkan bibirnya ke bibir Hyona. Melumatnya sedikit lebih kasar dan menghisap bibir atas dan bibir bawah Hyona secara bergantian. Terbawa suasana, Hyona membalas ciuman Kyuhyun. Kyuhyun mendorong lidahnya ke bibir Hyona, meminta izin untuk memasuki rongga mulutnya. Hyona lalu membuka mulutnya, memberikan ‘izin’ akses agar lidah Kyuhyun dapat bertemu dengan lidah Hyona.

Kyuhyun menjelajahi seluruh rongga mulut Hyona. Mereka berdua saling bertukar saliva, saling membelit satu sama lain. Kyuhyun semakin menarik tengkuk Hyona, memperdalam ciuman ‘panas’ mereka.

Kyuhyun POV.

Ini benar-benar memabukkan.

Bahkan saat aku berciuman dengan Victoria, aku tidak merasakan sensasi berbeda yang menjalar di tubuhku seperti aku berciuman dengan Hyona.

Entah setan darimana, aku melepaskan tautan antara bibir kami. Menghirup nafas sebanyak-banyaknya, kulihat bibir Hyona sudah memerah membuatku kembali meraup bibir mungilnya itu lagi.

Hyona mengelus dada bidangku ketika lidah kami saling membelit dan bertukar saliva satu sama lain. Aku merasakan sudah tidak bisa mengontrol diriku, entah setan darimana lagi, aku sudah berdiri dan mengangkat tubuh Hyona ala bridal style ke atas kasur. Tanpa menunggu aba-aba aku menindih tubuhnya, mencium bibir Hyona lagi lalu turun ke leher jenjangnya.

“Ngh~” ia mendesah pelan ketika aku mencium dan menjilati leher putihnya. Aku tidak ingin memberikan ‘kiss mark’ disana karena aku masih tahu batas aturannya.

Dengan perlahan aku menyingkap gaun yang masih melekat di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Sekarang dapat kulihat terpampang dengan jelas bra dan celana dalam Hyona. Aku menatap tubuhnya seduktif. Aish, mengapa tubuhnya begitu menggoda?

“Wa… waeyo?” ucapnya tergagap sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Aku tersenyum evil kepadanya.

“Tubuhmu begitu menggoda, jagiya~” ucapku dan bisa kulihat rona merah menjalari pipinya. Aku lalu kembali mencium bibir Hyona. Menghisap bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Lidahku langsung menerobos masuk ke dalam. Mengabsen giginya satu per satu, saling membelit dengan lidahnya dan bertukar saliva. Ia mengalungkan kedua tangannya di leherku. Tanganku yang menganggur meremas pelan payudaranya yang masih tertutup bra berwarna hitam.

“Ngh~” ia mendesah tertahan ketika aku meremas-remas payudaranya dan menciumi belahan dadanya. Kedua tanganku lalu beralih ke punggung putihnya yang halus dan mengelusnya. Meraih pengait branya lalu melepas dan membuang branya itu entah kemana. Kini terpampang dengan jelas kedua payudaranya dihadapanku.

“Aku sudah hampir naked dan kau belum?” ujarnya sambil memandangku tajam.

“Aku tidak ingin membukanya sendiri,” jawabku sambil mengeluarkan aegyoku.

“Ya! kau manja sekali Tuan Cho Kyuhyun.” ujarnya namun langsung membalikkan tubuhku dan menindihnya. Dengan sangat jelas aku bisa melihat wajahnya yang makin terlihat cantik dari bawah sini.

“Sampai kapan kau akan mengagumi wajahku ini, Cho Kyuhyun?” aish, percaya diri sekali yeoja ini. Tapi, aku memang harus mengakui kalau ucapannya benar.

“Dan sampai kapan kau akan menindih tubuhku dan tidak membuka pakaianku?” balasku. Kulihat rona merah menjalari wajahnya.

Dengan perlahan ia membuka kancing-kancing yang menempel pada kemejaku dan membuangnya ke sembarang tempat. Aku meneguk salivaku paksa ketika kurasakan ia mulai melepas celana panjang yang melekat di tubuhku. Dan bisa kurasakan ia kini menatap celana dalamku.

“Yaa! Apa yang kau lihat—“

“Sepertinya adik kecilmu sudah merasa sesak disana.” ujarnya sambil menaikkan satu ujung bibirnya ke atas. Membentuk sebuah senyum yang cukup mengerikan yang pernah dikeluarkannya.

“Aish… manjakan dia jagiya~” ujarku tidak tahan.

“Baiklah.” ucapnya lalu ia mulai melepas celana dalamku. Kedua tangannya dengan lihai mengusap-usap juniorku dan menghembuskan nafas disana. Aish, apa dia mau membuatku gila?

“Cepat jagiya… jangan permainkan aku~” ucapku sambil menatap kedua manik matanya lekat-lekat.

“Haha. Sabarlah Kyu…” ujarnya lalu dengan perlahan ia mulai memijat-mijat batang juniorku dan meremas-remas twinsballku.

“Le… lebih cepat… hmm~” kurasakan ia mengocok-ngocok juniorku dengan tangannya dan meremas-remas twinballku kasar. Membuat sekujur tubuhku merasakan kenikmatan.

“Ma… masukkan ke dalam mulutmu… jagi… mmh~” racauku dan kulihat kepalanya kini sudah tepat berada di depan juniorku. Ia lalu memasukkan juniorku itu ke dalam mulutnya yang kecil sedangkan bagian yang tidak masuk ke dalam mulutnya ia pijat.

Ia lalu memaju mundurkan mulutnya dan meremas-remas twinsballku kasar. “Aahh… fa…ffasstt..tter… jagiya… mmhh~” racauku dan ia semakin dengan cepat memaju mundurkan mulutnya. Terkadang ia menggigit pelan juniorku. Entah sejak kapan tanganku sudah berada di antara helaian rambutnya, mendorong kepalanya perlahan ketika aku merasakan sesuatu mendesak keluar. Ia semakin memaju-mundurkan mulutnya membuatku mendongakkan kepala merasakan kenikmatan itu.

“Aaahh… se…ssepertinya… a… aku akan ke… lu…arrrr aaahh” desahku lega ketika kurasakan cairanku keluar, memenuhi seluruh bagian mulutnya. Dapat kulihat ekspreksi terpaksa di raut wajahnya ketika harus menelan cairanku itu.

“Rasanya… aikks” ujarnya sambil mendecakkan lidahnya, membuatku mau tidak mau tersenyum mendengarnya.

“Sekarang giliranku,” ucapku lalu menarik tubuhnya untuk terhempas ke kasur dan menindih tubuhnya. Dengan cepat kuraup bibir mungilnya itu lagi. Menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian. Kurasakan tangannya meremas pelan rambutku. Ia membalas ciumanku dan kurasakan lidahnya duluan menerobos masuk ke dalam mulutku. Lidah kami saling bertautan, membuat saliva kami saling tercampur. Dengan perlahan aku menekan ciumanku itu semakin dalam dan kurasakan tubuhku dan tubuhnya sama-sama menegang ketika juniorku bergesekan dengan vaginanya yang masih berbalut celana dalam.

Ciumanku pun turun ke leher jenjangnya, menjilati leher putihnya lalu turun ke belahan dadanya. Tangan kananku meremas-remas payudara kanannya sedangkan tangan kiriku mengelus-elus vaginanya yang masih berbalut itu. Bibirku dengan mudah mengulum nipple Hyona dan lidahku memutari nipple coklat kemerahannya itu. Tangan kananku lalu memilin nipple Hyona, memainkan nipplenya dengan jari-jariku.

“Mmh… aaahhh~” desahannya terdengar seksi untukku. Kurasakan tangannya mendorong kepalaku untuk semakin dalam mengulum nipplenya.

Setelah kurasa nipplenya sudah berwarna merah basah dan menegang, ciumanku turun ke perutnya. Menghembuskan nafas perlahan disana membuatnya mengerang tertahan.

Kedua tanganku lalu melepas celana dalam yang masih melekat di tubuhnya. Dan sekarang aku bisa melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Aish, mengapa tubuhnya begitu err… seksi?

“J-jangan menatap tubuhku seperti itu…” ujarnya dan kulihat rona merah bersemu di pipinya. Aish, yeoja ini lucu sekali.

Dengan perlahan kepalaku mengelus-elus vagina Hyona. Wajahku kini tepat berada di depan lubang vaginaa Hyona membuatku dapat mencium aroma khas vagina yeoja itu. Kukecupi setiap inci bibir vaginanya dan lidahku menjilat vagina Hyona yang memerah itu. Menghisapnya kasar dan semakin menekan lidahku di dalamnya.

“Aahh… Kyu…” desahnya dan aku semakin menyedot vaginanya. Kurasakan tangannya meremas halus rambutku. Kumasukkan 2 jariku sekaligus ke dalamnya dan bisa kudengar ia mengerang tertahan.

Kumasukkan lagi jari manisku ke dalam lubang vaginanya lalu mengocok-ngocok vaginanya.

“Ahhh… Kyu…. ffasss…. ttterrr” racaunya sambil memejamkan matanya yang terlihat begitu kenikmatan.

Aku semakin mempercepat kocokanku pada vaginanya sedangkan kini bibirku sedang mengulum dan menyedot-nyedot nipple kanan Hyona.

“Aaah… Kyu…. Mmmhhh~”

“Se… sepertinya… aa.. aku akan kelu…. aarrr…. aaaahhhh~” desahnya panjang ketika cairan putih kental itu keluar dari lubang vaginanya.

Tanpa rasa jijik aku menjilat orgasme pertama Hyona itu yang menempel di jari-jariku dan bisa kulihat Hyona memandangku jijik.

“Sudah saatnya ke permainan inti,” ucapku sambil mengeluarkan smirkku.

“Pelan-pelan ya Kyu…” ucapnya terlihat sedikit… ketakutan? Dengan perlahan aku mengecup keningnya. Berharap bisa sedikit memberikannya ketenangan mengingat ini pasti yang pertama kali untuknya.

Kulihat ia tersenyum tipis dan menatap mataku teduh. Jantungku berpacu dengan cepat. Melihatnya tersenyum tipis seperti itu saja bahkan bisa memberikan efek cukup besar untuk jantungku seperti ini. Aish… aku benar-benar tidak bisa kehilangan yeoja ini.

“Kyu?” ucap yeoja itu, menyentakkanku dari lamunanku.

“Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanyanya lagi membuatku tersenyum simpul.

“Aniyo”

“Lalu?”

Aish, yang benar saja kalau aku harus mengakui apa yang tengah kulamunkan? Andwe.

Tanpa menjawab pertanyaannya aku memasukkan juniorku yang sudah menegang itu ke dalam lubang vaginanya. Belum sampai setengah dari juniorku masuk, kudengar ia sudah merintih kesakitan.

“Tahan, Hyona~ah…” ucapku menenangkannya. Dan dalam satu kali hentakkan aku memasukkan juniorku itu ke dalam lubang vaginanya.

“Aaaaaakkkkhh.” Rintihnya tertahan lalu mengeluarkan air matanya. Ah, apa benar-benar sesakit itu?

“Mianhae,” aku mengecup bibirnya perlahan dan lembut, berharap dapat mengalihkan sedikit rasa sakitnya.

“Gwenchana, gerakan saja Kyu…” ujarnya ketika tautan bibir kami terlepas. Aku mengecup keningnya sekilas lalu mulai menggerakkan juniorku di dalam lubang vaginanya yang sempit itu.

“Mmmmhhh… aaahhhh~” kini kudengar ia mulai mendesah nikmat. Mendengar itu membuatku semakin bernafsu dan semakin cepat menggenjot juniorku di dalam vaginanya.

“Mmmhhhh… aahhh… ffffass… ttterrr… Kyu~” racaunya sambil meremas-remas sprei.

Aku semakin mempercepat genjotanku pada vaginanya. Tubuhnya bergerak kearah yang berlawanan denganku membuat kedua alat kelamin kami bergesekan beraturan. Memberikan sensasi nikmat yang lebih.

“Ohhhh… mmmhh… i… iniii… nik… mat… jagi~” racauku sambil terus menggenjot juniornya cepat. Menghentak-hentakkan juniorku membentur dinding vaginanya.

“Kyu… mmmhhh…. aahhhh~” desahnya tertahan ketika aku menghunjam juniorku dalam-dalam, menyentuh Gspotnya.

“Kyu… se… sepertinya… aku… akan… ke… luarrrrr” ucapnya sambil terus bergerak ke arah yang berlawanan. Membuat kasur yang kami tempati berdecit dan dapat kurasakan ruang kamar ini terasa panas walaupun AC sudah menyala disini.

“Aaahhh… aaa… aku… ju… ga… jagiya~” aku semakin mempercepat genjotanku pada vaginanya dan kurasakan juniorku berkedut-kedut.

“Kyuuuu…. Aaaaahhhhh” desahnya panjang ketika cairannya keluar membasahi juniorku.

“A-aku… ju… ga… jagiiii… aaaahhhhhh~” lenguhku panjang ketika aku mengeluarkan spermaku di dalam vaginanya. Kami saling mengatur nafas satu sama lain.

“Gomawoyo, Hyona~ah…” ucapku sambil tersenyum lembut lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Kau pasti lelah, tidurlah” ucapku lagi sambil melepaskan juniorku dan berbaring di sampingnya.

Kuraih pinggangnya untuk lebih dekat berada di sampingku dan menarik kepalanya ke dalam dekapanku. Kulihat ia mulai memejamkan matanya dan kini mulai terlelap. Aigo, manis sekali wajahnya ketika sedang tertidur.

“Saranghae… Cho Hyona” gumamku pelan lalu entah dorongan darimana,  aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya perlahan, tidak lama.

Yeoja itu menggeliat kecil lalu bergumam pelan, “Nado.” tetap sambil memejamkan matanya. Membuatku tersenyum tipis mendengarnya dan merasa sedikit malu… aish, sudahlah lebih baik sekarang aku tidur!

***

Hyona POV.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku ketika kurasakan cahaya matahari menyusup dari balik jendela. Kucoba untuk membuka mataku perlahan dan… aku memundurkan kepalaku sedikit. Cukup terkejut ketika pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah seorang namja yang tengah tertidur. Aish, bagaimana mungkin namja ini memiliki wajah setampan itu?

Aku memperhatikan wajahnya seksama dan senyumku mengembang ketika aku mengingat kejadian tadi malam. Tapi, sepertinya momentum yang paling berharga adalah ketika aku ingin mulai mencoba tertidur. Aish, bagaimana mungkin kemarin malam aku bisa tidur dengan nyenyak jika ia bersikap manis seperti itu? Membuat jantungku berdegup tidak normal?

Dan lagi…

Sepertinya ketika ia mengatakan kata ‘Saranghae’ ia berfikir kalau aku sudah tidur. Hahaha. Dengan sedikit niat jahil aku pun mengucapkan kata ‘Nado’ walaupun sebenarnya aku memang benar-benar jujur. Jujur? Aku…

“Apa yang sedang kau lamunkan, Nyonya Cho?”

“Kyu!?” aku tersentak kaget dari lamunanku ketika kudengar suara seorang namja. Dan lagi, apa yang dia katakan? Nyonya Cho?

“Ka-kau sudah bangun? Sejak kapan?”

“Sejak kau mulai menatapku lekat-lekat seperti itu,” telunjuknya mengarah kearahku. Kurasakan pipiku memanas. Aish…

Ia terkekeh pelan. “Wajahmu memerah Nyonya Cho…”

“Nyonya… Cho?” tanyaku pelan dan kulihat tangannya menarikku untuk lebih dekat dengannya.

“Memangnya ada yang salah? Lagipula bukankah kita sebentar lagi akan menikah dan kau—“

“Aku butuh penjelasan Kyu, jadi, siapakah Victoria yang kemarin malam berciuman denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu pulang larut malam? Dan… mengapa di kemejamu ada bekas lipstik yeoja? Bisa kau jelaskan?” aku menuntut beberapa pertanyaan yang sedari tadi ingin aku katakan. Kulihat raut wajahnya berubah, terlihat lebih sendu. Apa aku salah bertanya? Rasanya tidak. Bukankah itu pantas untuk dipertanyakan?

Ia menghembuskan nafas perlahan. “Aku dan Victoria hanya sebatas teman dekat saja Hyona~ah,” ia menempelkan telunjuknya di bibirku ketika aku hendak membuka mulutku untuk menyelanya. “dan aku menciumnya kemarin karena terpaksa. Victoria ternyata memiliki perasaan lebih dari sekedar teman untukku. Sedangkan aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Dan kemarin malam, setelah aku pulang dari perusahaan Appa, Victoria mengajakku bertemu di bar itu dan ia secara langsung mengungkapkan perasaannya padaku. Awalnya aku sedikit terkejut dengan pengakuannya, namun aku tahu, kalau aku tidak mencintainya Hyona~ah. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menolaknya ketika ia meminta jawabannya dariku. Saat itu ia menangis dan meminta padaku untuk melakukan 2 permintaan terakhirnya. Yang pertama adalah untuk menciumnya dan yang kedua…” ia menatapku lekat-lekat membuatku sedikit risih dengan tatapannya. “ia ingin aku tinggal satu hari di apartemennya.”

Mataku seketika membulat mendengarkan kelimat terakhir namja itu. “Mwo? Tinggal satu apartemen itu maksudnya…” ia menghembuskan nafas berat lalu tersenyum tipis.

“Tentu saja aku tidak akan menidurinya Nyonya Cho, ia hanya ingin merasakan mempunyai seorang namjachingu satu hari saja. Dan… kurasa itu bukan hal yang sulit, ia hanya meminta aku menemaninya seharian… sebelum keberangkatannya ke Amerika,” ujarnya lalu tersenyum samar. Berarti itu hanya pura-pura? Hanya sebuah drama?

“A… Amerika?”

“Ne, hari ini dia akan pergi ke Amerika bersama kedua orang tuanya,” jelas Kyuhyun lagi dan sukses membuatku menjitak kepalanya.

“Ya! Appo… aish, mengapa kau menjitakku?” ujarnya sambil mengelus-elus kepalanya.

“Kau harus menyusulnya sekarang Cho Kyuhyun! Bagaimana pun juga dia adalah teman dekatmu, bagaimana bisa kau meninggalkannya dengan cara seperti ini? Apapun caranya kau harus menyusulnya dan meminta maaf padanya. Sebagai seorang yeoja, ia pasti akan merasakan sesuatu yang kurang lengkap!” aku menatap kedua manik matanya yang terlihat menatapku dalam-dalam.

“Kau serius? Kau tidak cemburu?” tanyanya tidak percaya.

“Untuk apa? Bukankah yang terpenting kau mencintaiku? Sudahlah, lebih cepat sekarang kau bergegas mandi dan siap-siap Tuan Cho. Sekarang sudah jam 7 pagi dan kau mau telat bertemu dengannya? Cepat!” ucapku sambil mendorong tubuhnya turun dari kasur.

“Aku beruntung karena yeoja yang kucintai adalah kau,” ucapnya sambil tersenyum lembut lalu mengacak-acak perlahan rambutku. Jantungku berdegup dengan cepat. Aku menatap punggungnya yang kini sudah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarku.

Namun ia kembali membuka pintu kamar mandi sedikit dan menampakkan wajahnya sambil mengeluarkan senyum iblisnya itu.

“Kau tidak mau mandi bersama?” tanyanya dengan wajah yang-dibuat-buat-polos.

“Andwae!!!” ucapku setengah berteriak dan kudengar ia terkekeh geli di dalam kamar mandi. Aish, awas kau Cho Kyuhyun!

***

Author POV.

“Mwo? Jadi sebenarnya…”

“Ini semua sebenarnya hanya pura-pura Hyona~ah,”

Yeoja itu membulatkan matanya mendengar informasi yang baru saja didengarnya. Perasaan terkejut, bahagia dan sedikit kecewa meliputinya. Ia tidak menyangka kalau selama ini Appa hanya berpura-pura.

“Jadi, selama ini perusahaan Appa tidak mengalami krisis?”

“Aniyo jagi, malah perusahaan Appa sedang dalam masa puncak,” ucap Appa memandang lekat kedua mata putrinya.

“Tapi untuk apa? Agar aku tidak menolak perjodohan itu?”

“Ne, tepat sekali. Kalau Appa terang-terangan bilang kau akan dijodohkan, kau pasti akan menolaknya bukan? Jadi sebelumnya Appa dan Yeonghwan merencanakan hal ini. Mianhae kalau terdengar egois, tapi ini satu-satunya yang bisa Appa lakukan. Ini juga adalah permintaan terakhir Chaeri.”

Hyona menaikkan salah satu alisnya. “Permintaan… Eomma?”

Appa menganggukkan kepala. “Ne, ia ingin agar kau menikah dengan putra Keluarga Cho. Kebetulan, Yeonghwan adalah sahabat Appa dan Eomma. Ia ingin kau menikah dengan putra sahabatnya, itulah pesan terakhir yang ia ucapkan padaku,”

“Gomawoyo, Appa…” ucap Hyona pelan sedangkan Appa menatap Hyona heran.

“Untuk?”

“Semuanya. Aku merasa beruntung memiliki Appa, setidaknya Eomma dan Appa tidak menjodohkanku dengan orang yang salah,” ucap Hyona pelan dengan wajah yang sudah bersemu merah.

“Tidak menjodohkan dengan orang yang salah?” ucap Appa lagi. Ia mengerti apa yang dimaksud dengan putrinya, hanya saja masih sedikit sulit menerima apa yang baru saja didengarnya melihat kalau belum 1 bulan Hyona mengenal Kyuhyun.

“Karena aku sekarang mencintainya, Appa.”

***

Yeoja itu menghembuskan nafas perlahan di malam yang cukup dingin itu. Ia mengeratkan mantel yang ia kenakan sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap seseorang yang ditunggunya datang. Sayangnya, harapannya tidak terkabul. Sudah berjam-jam lamanya ia menunggu namja itu pulang ke rumah setelah menyuruhnya untuk bertemu dengan yeoja bernama Victoria itu.

Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jam 7 malam…” ia menggumam pelan, sudah berapa lama ia tidak melihat sosok namja itu. 12 jam?

Yeoja itu menghembuskan nafas berat, diteguknya hot chocolate yang tinggal tersisa sedikit itu hingga habis. Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas yang menghubungkannya dengan balkon yang beberapa detik lalu ia tempati.

Dengan perlahan ia menuju sebuah piano bercat putih yang terletak di sudut ruangan itu. Ya, tempat pertama kali ia bertemu dengan namja itu. Setelah ia sudah duduk dengan manis dihadapan piano itu, ia mulai mencoba memainkannya. Lagu baru? Tentu.

Dengan perlahan jari-jarinya dengan mulus bermain diatas tuts piano itu. Ia bersenandung pelan. Lagu ciptaannya yang entah sudah keberapa puluh itu… lagu yang ia buat ketika awal tinggal di dalam rumah Keluarga Cho.

Jari-jarinya menari dengan lihai di atas tuts piano itu hingga mencapai klimaks dan pada dentingan terakhir tanpa sadar sebutir air bening jatuh di ujung pelupuk matanya.

“Lagu itu… kau hebat,”

Yeoja itu tersentak mendengar suara seseorang yang entah mengapa amat dirindukannya.

“Bolehkah aku tahu apa judulnya?” namja itu berjalan perlahan mendekati piano bercat putih itu.

“Entahlah, aku belum memberi judul yang tepat untuk lagu ini,” ucap Hyona pelan, ia masih sedikit terkejut dengan kehadiran Kyuhyun yang tiba-tiba.

“Kau tidak merindukanku?” ucap Kyuhyun sambil merentangkan kedua tangannya ketika sudah tepat berada di depan Hyona.

Tanpa menjawab, Hyona langsung menghambur memeluk Kyuhyun. Erat.

“Haha. Sepertinya kau benar-benar merindukanku, Hyona~ah,” ujar Kyuhyun sambil mengelus rambut panjang Hyona.

“Apa kau tidak merindukanku? Kau darimana saja memang?” tanya Hyona yang masih berada di dalam dekapan Kyuhyun. Ia bisa merasakan aroma maskulin dari tubuh namja itu, membuatnya seakan terjerat oleh pesonanya.

“Aku membawa ini…” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu dibalik jas hitamnya.

“Apa itu?” tanya Hyona heran melihat Kyuhyun memegang sebuah buku namun sangat tipis seperti… undangan.

“Ini undangan pernikahan kita,” seru Kyuhyun sambil tersenyum simpul.

“Mwo? Jeongmal?” Hyona membulatkan matanya.

“Pernikahannya akan diadakan minggu depan Hyo~ah, aku sudah membicarakannya dengan Eomma dan Appa dan tanggapan mereka benar-benar sangat senang. Noona juga terlihat yang paling bersemangat. Hmm, kau tidak marah kan karena aku memutuskan seenaknya seperti ini?” ujar Kyuhyun sambil menatap lekat-lekat mata Hyona yang sudah memancarkan binar-binar itu lagi.

“Untuk apa aku marah? Aku… sangat bahagia Kyu,” ucap Hyona sedikit tersipu. Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya pada wajah Hyona yang membuat kedua mata itu saling melihat satu sama lain.

“Saranghae, Park Hyona…” bisik Kyuhyun tepat di telinga Hyona.

“Nado, saranghaeyo,” balas Hyona dan sedetik setelah itu bibir keduanya sudah menempel. Kyuhyun melumat bibir mungil Hyona secara lembut, perlahan dan intens. Tidak ada kesan menuntut. Membuat kedua insan itu memejamkan mata, menikmati detik-detik kebersamaan yang mereka punya dengan baik.

Every story in life, always tuck drama in it. God never give us a perfect life of everyday.

The End

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 07/06/2012, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 47 Comments.

  1. LIKE ,, Mian thor mau tanya sepertinya ff nya juga perna di post di koreannc.wordpress.com . yakan? cerita bagus feelnya dapet bngt .itu aja sekian.

  2. Ayurian Cho HyeHwa

    Ceritanya bagus bgt thor..
    Ceritanya gx terasa yadong,, cz aq mengikuti alurnya..
    ~nice ff..^^

  3. annyeong 🙂
    ceritanya bagus bgt deh q suka ma kisah perjodohan gthu ^^
    btw brati umur kta sama d0ng yah

  4. Kokk Aq Jadi Ikut Ikutan Kluar Ya ??
    Akhir Akhir Ini Aq Sering Ngluarin Cairan Gitu Juga !!

    Bikin Yg FF HyukkFany Thor !

  5. YoonWoon donk min, bikin ceritanya ^,^

  6. Author, knp crita ny mirip sama yg di koreannc.wordpress.com ???

  7. Kang Hyo Won

    kereeennnnn dehhh ceritanyaa..
    TOP !?

  8. Like it ! Dapet feel-nyaa !!!

  9. Aku suka thor alur ceritanya ^^
    Enak dibaca dan ada konfliknya walaupun dikit kkk~

    Fighting thor! Semoga ceritanya lebih bagus lagi 😀

  10. kerennn thorrr

  11. sime y critanua

  12. daebak min..aku sukaa smaa ceritanya…??

  13. Daebak…nice ff thor! (y)

  14. Nice ff 😀

  15. whaa… seru cerita.a..

  16. diane anjel velontina

    cerita nya bagus

    aku suka

  17. LIKE THIS! mmbuat saya smpat mngurai airmata karena ff ini bagus bgd dan dapet bgd feelnya! :”

  18. bgssss bgttttt

  19. daebak :’) so sweet banget. lanjut ya… ^^

  20. maaf thor, maaafff banget .
    berbagi informasi aja , karna aku sering baca di nc.wordpress , aku keinget bahwa aku pernah baca FF ini . dan alur ceritanya sama persis sama punya km . bukannya aku menuduh kamu copas, mungkin aja kebetulan sama, tapi memang menurutku alur kayak gini sudah banyak dan gampang ditebak . fighting author !!

  21. he? q kira bakalan ada sad ending

  22. seruuu..aku selalu suka dgn cerita perjodohan..
    sempet kesel sm kyu waktu kyu kissingan sm victoria iiih gemezzz *jambak rambut kyu
    tp akhirnya happy ending yeeaayy aku suka

  23. jung hye min

    its so beautiful story thor! aku suka banget jalan ceritanya,nc bukannya panas malah keliatannya romantis gitu!
    Daebak deh,FIGTHING!!!

  24. jung eun hoon

    bikin sequel dong thor… pengen liat ahra kawin juga…
    masa kyu udah ahra belom? terus kalo kata aku bikin konflik yang agak tegang gituu… biar seru….

  25. hadehhh ……klo dbuat sequel pasti top

  26. kang hyo won

    So Sweettt bgt deh,

    di tunggu sequelnya

  27. Itu blm dijelasin kenapa ada lipstik, kenapa pulang malem ._.

  28. Amartya esa

    Daebak thor! Number one! 🙂 😉

  29. daebakk!!! suka bgt sama ni ff thor

  30. ceritanya bagusss…like it:)

  31. Daebakkkkkkk 😀 aku suka cara kyu yang penampilan nya lembut ke hyona 😀

  32. Titania Blackjack~VIP~Baby (@RapperTita7_BA1)

    Daebak thor! ^^)b
    sequelnya thor :3
    ya? ya? ya? ya? ya? ya? ya? 🙂
    jebal

  33. Firly Kpopers

    daebak ~~!!
    suka critanya, romantis :3
    tp sya btuh sequel, plz yak author ^^

  34. Waaaaaahhh mau jg di jodohkan dgn kyu oppa….(♥_♥)

  35. Wah keren ceritanya… enak bgt y dijodohin sama kyuhyun….*irimanyun*

  36. salam kenal g member baru,aku suka sama ceritanya cuma agak terganggu sama comeo nya,gk suka aja klo kyu di kait2 in sma ajhuma2 itu

  37. Ada sqeulnya ga?

  38. Aq bru baca ff nie , telat.a kebangetan ya , lol
    ahh kyu bener” sosweetttttttt mana hot bgt lgy >.<

  39. Great Story. Author daebak 😉 (y)

  40. keren ffnya,kayak nonton drama beneran/?

  41. Keren (y)

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: