Don’t Touch My Girl

1. Author: Lee Sung Rin (HenRin)
2. Judul: Don’t Touch My Girl
3. Kategori: NC 21, Yadong, kekerasan, Oneshoot
4. Cast: – Henry Lau    – Lee Sung Rin     -Lee Hyuk  Jae      -other casts
Hiee… akhirnya sya bkin jga sekuelnya “Always Be Mine”… yg blum bca mohon dibaca ya… ^^ berhubung ada yg blang klo konflik trllu sdikit, moga aja yg disini lumayan deh.. eheheh… Yg kmaren-kmaren jga bnyak typo nya gomawo buat yang dah ngingetin… moga aja yg disini dah kurang deh,… Happy Reading Yadongers!!
“Uwaah,, lucunya…” Min Ah berujar saat Henry dan Sung Rin memperlihatkan foto anak pertama mereka yang berumur 8 bulan. “Benar-benar cantik seperti ibunya, makin lama makin mirip denganmu lho…” pujinya lagi. “Eee… namanya siapa ya? Aku lupa,” Tanyanya.
“Namanya Eve, masa kau sudah lupa?! Kan kau yang kasih usul..” Sung Rin menggambungkan pipinya.
 “Pipinya gembul seperti ayahnya ya,” ujar Ah Ra. “Matanya juga kecil seperti Henry.” Sambungnya.
“Hey, mataku tidak kecil tahu!” Bantah Henry membuka matanya lebar-lebar membuat semuanya tertawan. “Ngomong-ngomong, mana Hyuk Jae?” Tanyanya celingak-celinguk mencari Eunhyuk yang belum kelihatan.
“Ada di ruangannya tuh,” jawab Min Ah. “Oh iya, kata pak manager mulai hari ini Sung Rin jadi asistennya Hyuk Jae, soalnya Donghae sedang cuti bersama Ri Chan.” Sambungnya.
“Tidak boleh!” Seru Henry marah. “Mana pak manager? Aku ingin bicara dengannya. Biar aku yang menjadi asisten si yadong itu, asal jangan Sung Rin.” Tukasnya.
“Sepertinya tidak bisa, soalnya…” Ah Ra mencari kata yang tepat untuk mengatakan apa yang dipikirnya sekarang, “yaah,. Kau tahu sendiri kan kalau pak manager sangat bangga pada Hyuk Jae dan memenuhi semua yang dia inginkan. Jadi… mungkin saja ini permintaan Hyuk Jae, kalian pasti tahu kalau Hyuk Jae sudah lama menyukai Sung Rin sejak pertama kali bertemu,”
Henry menautkan keningnya, “kenapa? Sung Rin adalah istriku, jadi aku berhak untuk…”
“Sudahlah oppa,” Sung Rin menyela perkataan Henry, “jangan menyusahkan diri karenaku, aku tidak keberatan kalau bekerja bersama Hyuk Jae oppa untuk beberapa minggu sampai Dong Hae dan Ri Chan  kembali.” Sambungnya sambil tersenyum manis.
“Sung Rin,” Henry menatap mata Sung Rin lekat-lekat. “Jaga dirimu baik-baik ya,” dia mengelus kepala Sung Rin dengan lembut.
“Ne,” Sung Rin mengangguk pelan, “kalau begitu, aku  pergi dulu ya,” Ujarnya lalu pergi ke ruangan Eunhyuk yang tertutup rapat.
Dengan hati-hati Sung Rin membuka  pintu dan menengok kedalam untuk melihat apa Eunhyuk ada didalam atau tidak. Tidak ada. Lalu dia masuk dan duduk ditempat yang biasanya diduduki Donghae. Terlihat banyak foto Ri Chan dibalik kaca mejanya. Dengan hati-hati Sung Rin mengambil dokumen-dokumen yang terletak diatas meja, dan mulai mengerjakannya dengan hati-hati.
“Sung Rin?” Tiba-tiba Seul Ah menjulurkan kepala lewat jendela, membuat Sung Rin terlonjak kaget.
“Se.. Sul Ah, lain kali ketuk kaca dulu kek. Aku kaget nih,” Sung Rin mengekus dadanya untuk mengatur nafas. “Ada apa?” Tanyanya masih mengatur nafas.
“Kau dan Hyuk Jae disuruh ke gudang untuk bersih-bersih. Disana juga ada Zhoumi dan Young Woon.” Jawab Seul Ah. “Cepat, mereka sudah menunggu.”
“A..aku?” Tanya Sung Rin memastikan. Seul Ah mengangguk iya, “Tapi, aku harus menyelesaikan dokumen ini.” Dia mencari alasan agar tidak kesana.
“Itu kan dokumen lama. Yang asli sudah selesai kan?” Seul Ah balik bertanya. “Cepat kesana. Nanti kau bisa dimarahi lho.” Sambungnya lalu pergi.
“Seul Ah!” Sung Rin mencegah agar Seul Ah tidak pergi, “mana Henry?” Tanya.
“Dia sedang keluar bersama Sungmin,” jawab Seul Ah.
“Oh, baiklah, aku kesana.” Ujar Sung Rin lalu segera keluar dari ruangan itu dan pergi ke gudang. Dia kapok karena berulang kali dimarahi Young Woon karena terlambat.
Sesampainya di gudang dia melihat Eunhyuk sedang bekerja sendirian. “Mana Young Woon dan Zhoumi?” Tanya Sung Rin gugup.
“Kusuruh pergi.” Jawab Eunhyuk singkat sambil terus bekerja tanpa menoleh kearahnya. “Mau sampai kapan kau berdiri diam seperti patung begitu disitu? Cepat bantu aku!” Serunya kesal sendiri karena Sung Rin hanya diam saja.
“ah, ne, mianhae.” Sung Rin menundukkan kepalanya lalu mulai membereskan dokumen-dokumen dan benda lain yang ada disitu. Tapi karena kecerobohannya sendiri dia malah membuat dokumen yang sudah dibereskan Eunhyuk berantakan lagi.
“Aigoo…” Keluh Sung Rin lalu berjongkok untuk membereskan kertas-kertas yang berserakan. Awalnya Eunhyuk biasa saja, tapi melihat Sung Rin yang kebingungan mengurutkan dokumen itu, akhirnya dia memutuskan untuk membantu.
Tak butuh waktu lama untuk memberekan dokumen itu kembali. Berkat bantuan Eunhyuk Sung Rin bisa menyelesaikannya dengan cepat. “Jeongmal gamsahae oppa, jeongmal gamsahae…” Sung Rin berterimah kasih saat Eunhyuk berjalan kearah pintu.
Cklek! Terdengar bunyi kunci yang diputar. “Oppa, kenapa pintunya dikunci? Bagaimana kalau…”
Tanpa diduga Eunhyuk mencium bibir Sung Rin dengan ganas, kedua tangannya mencengkram tangan Sung Rin dengan kuat. “Mmmh..!!” Sung Rin menutup bibirnya rapat-rapat dan menjauhkan wajahnya dari wajah Eunhyuk, tapi Eunhyuk terus mendorongnya hingga terpojok didinding.
“Kali ini tak akan ada yang menolongmu.” Eunhyuk menatap mata cokelat Sung Rin dengan tajam.
“Oppa, apa yang kau lakukan? Aku…”
Eunhyuk menutup mulut Sung Rin dengan cara menciumnya. Kali ini Sung Rin tak sempat menutup bibirnya karena gerakan Eunhyuk sangat tepat dan diluar dugaan. “Mmmmh!!!” Sung Rin berusaha melepas bibir Eunhyuk dari bibirnya, tapi sia-sia. Lidah Eunhyuk menjelajahi tiap sudut mulutnya dengan liar.
“Oppa lepaskan aku! Kumohon!” Seru Sung Rin saat Eunhyuk melepas bibirnya dari bibir Sung Rin. Tapi Eunhyuk mengacuhkannya, lalu tangannya mulai membuka kancing baju Sung Rin sstu per satu. “Op.. mmh!!” Eunhyuk kembali melahap bibir Sung Rin dengan liar. Tangannya membuka kancing baju Sung Rin dengan cepat. Setelah yakin semua kancingnya terbuka, dia mulai meremas payudara Sung Rin yang masih terbungkus bra merah muda secara bergantian. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Sung Rin. Dengan tak sabar Eunhyuk melepas pengait branya.
Eunhyuk menekan kepala Sung Rin lebih kuat agar lidahnya bisa masuk semakin dalam di mulut Sung Rin, Sung Rin hanya bisa menangis dan memejamkan matanya , bibirnya terasa sakit. Eunhyuk terus melahap bibirnya dengan rakus dan penuh nafsu.
“Mh!” Sung Rin merintih saat Eunhyuk menggigit bibirnya dengan kuat hingga berdarah.
“Dadamu tetap indah seperti dulu ya?” Eunhyuk bergumam kagum melihat payudara Sung Rin yang bulat kencang. “Walaupun sudah punya anak tapi tetap kencang seperti ini. “ Dia mengelus payudara Sung Rin bergantian. “Aku ingin menjadi anakmu, yang setai hari selalu minum lewat sini.” Ujarnya lalu mengulum nipple merah muda Sung Rin. “Kau bernar-benar yeoja sempurna, rugi kalau aku tidak mencicipi tubuhmu.”
“Oppa lepaskan aku!!” Sung Rin memberontak agar Eunhyuk melepasnya. Tapi percuma, tenaga Eunhyuk kebih besar daripadanya. Airmata terus membasahi kedua belah pipinya. Untuk kesekian kalinya Eunhyuk menjatuhkan harga dirinya.
Dengan lincah tangan Eunhyuk berhasil menyusup dibalik rok Sung Rin dan mulai mengelus Miss V-nya yang masih terbungkus celana dalam. “Oppa, kumohon jangan lakukan ini padaku!” Air mata semakin banyak membasahi pipi Sung Rin. “Oppa… aku sudah bersuami,” isak Sung Rin. Tapi Eunhyuk mengacuhkannya, dia mulai memasukkan tangannya kedalam celana dalam Sung Rin, dan memainkan bibir Miss V Sung Rin secara bergantian.
“Aah, tetap rapat walau sudah punya anak,” Eunhyuk memeri komentar saat satu jarinya masuk kedalam Miss V  Sung Rin, “iya ya, kau kan melahirkan secara cesar.” Lalu dia menambahkan dua jari sekaligus.
“sa..kit!!” Rintih Sung Rin saat tiga jari Eunhyuk bersemayam dalam Miss V-nya. “Oppa, lepaskan aku, aku tidak mau seperti ini,” ujarnya lemah. “Oppa lepaskan aku!!” Sung Rin memberontak sekuat tenaga. “Je..mmphh!!” Seruan Sung Rin teredam dengan ciuman dari Eunhyuk lagi. Tangannya yang berada dalam Miss V Sung Rin mulai bergerak.
“HYUK JAE! BUKA PINTUNYA DAN BIARKAN AKU MASUK!!” Terdengar teriakan Henry yang menggedor pintu dengan keras berulang kali. Karena kaget spontan Eunhyuk mengendorkan cengkramannya dan mengeluarkan tangannya dari Miss V Sung Rin. Sung Rin memanfaatkan situasi untuk menjauhkan diri dari Eunhyuk. Dia menjatuhkan dirinya sendiri dan memeluk erat kakinya untuk menutupi dadanya yang tak tertutupi apa-apa sambil terus menangis.
Brakk!! Henry mendobrak pintu dengan tak sabar. Dia bisa melihat Eunhyuk berdiri dengan santai, dibawahnya terdapat baju dan bra Sung Rin, sementara Sung Rin yang menangis tersedu-sedu tak mengenakan apa-apa untuk menutupi dadanya. Tanpa bertanya apa-apa Henry sudah bisa menebak dengan tepat apa yang terjadi. Seketika itu juga amarahnya langsung memuncak sampai ubun-ubun.
“Hyuk Jae…” Henry mengepalkan tangannya erat-erat, lalu menghampiri Sung Rin untuk menghiburnya. “Chagiya, kau tak apa-apa? Apa yang dilakukannya padamu?” Tanyanya menyentuh pundak Sung Rin.
“Jangan lihat aku oppa, aku bukan istri yang baik. Harga diriku sudah jatuh, aku tak bisa menjaga kehormatanku.” Sung Rin menyembunyikan wajahnya karena tak mau Henry melihatnya dalam keadaan seperti itu. Air mata terus membasahi pipinya.
“Tenangkan dirimu dan tatap aku.” Henry mengangkat wajah Sung Rin agar menatapnya.
Sung Rin menatap mata Henry sambil terus terisak, “op..pa, mi..mianhae.. aku bukan istri yang baik bagimu,” ujarnya disela isakannya.
Henry tersenyum, lalu menghapus air mata dikedua pipi Sung Rin dengan lembut. “Sudah tak apa-apa, aku ada disini.” Dia menyandarkan kepala Sung Rin dipundaknya. “Pakailah,” dia melepas jas yang dikenakannya dan memakaikannya untuk menutupi tubuh Sung Rin. “Hyuk Jae, kau masih ada urusan denganku!” Tukasnya agar Eunhyuk tidak pergi. Lalu segera membawa Sung Rin ke ruangnya. Untung saat itu semua sedang sibuk di ruang masing-masing, jadi tak ada yang mengetahui kejadian itu.
“Duduklah disitu, aku akan mengurus Hyuk Jae dulu!” Pinta Henry agar Sung Rin duduk di sofa. “Ini, pakailah. Kau harus menutupi tubuhmu,” dia memberikan kaos yang sengaja dibawanya tadi pagi. Tanpa berkata apa-apa Sung Rin segera memakainya.
“Op..pa!” Sung Rin menarik tangan Henry saat dia akan pergi. “Jangan tinggalkan aku sendiri, aku…aku takut.” Ujarnya dengan nada khawatir.
“Gwenchanayo, aku akan segera kembali.” Henry tersenyum simpul, lalu pergi. “Akan kukunci pintunya, kau tenangkan dirimu dulu. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang.” Ujarnya dari luar. Lalu mengunci pintu, dan pergi ke gudang tempat Eunhyuk menungggu.
“Jadi…” dengan marah Henry menghampiri Eunhyuk yang duduk dengan santai diatas meja. “Apa yang kau lakukan pada Sung Rin?” Tanyanya menggertakkan gigi agar tidak berteriak marah.
“Apa ya?” Eunhyuk memasang tampang aneh, lalu memandang kearah Henry. “Aku hanya mencicipi bibir , dadanya yang indah itu, dan,… kau pasti tahu apa itu.” Eunhyuk menyunggingkan smirk-nya.
“Bajingan!” Dengan geram Henry menarik kerah baju Eunhyuk, menatap tajam matanya. “Sudah berapa kali kubilang heh?! JANGAN SEKALI-KALI KAU MENYENTUH SUNG RIN DENGAN TANGANMU YANG KOTOR ITU!!!!” Henry berteriak tepat didepan wajah Eunhyuk.
“Lalu kenapa kalau aku menyentuhnya? Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan. Kenapa kau melarangku? Itu bukan hak mu,” balas Eunhyuk tak mau kalah.
Duakk!! Dengan emosi Henry meninju wajah Eunhyuk dan meninggalkan memar dipipinya. “Kau bilang itu hak mu?! Apa kau tidak sadar kalau Sung Rin sekarang istriku?! Kau berani bicara seperti itu seolah Sung Rin bisa disentuh oleh siapa saja! Lee Hyuk Jae, aku tidak akan pernah memaafkamu!” Serunya marah.
“ooh, berani kau membuat wajahku memar?! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?!” Eunhyuk balas meninju wajah Henry. “Henry Lau, kau adalah orang terpayah yang kukenal.” Ejeknya menjilat darah Sung Rin yang tertinggal dibibirnya.
“Lalu kenapa kalau aku payah?! Terserah kau mau mengataiku apa, tapi jangan sekali-kali kau menyentuh Sung Rin lagi!”
“Kalau aku menginginkannya, akan kulakukan. Banyak kesempatan untukku, apa lagi sekarang dia asistenku, banyak kesempatan bagiku untuk bisa mencicipi tubuhnya.”
“DIAM!!” Henry kembali memukul wajah Eunhyuk, “sekali lagi kau berbuat seperti itu, aku akan melaporkanmu pada polisi!” Ancamnya.
“Lapor saja, kau pikir aku takut?!”
Dengan kesal Henry mengepalkan tangannya erat-erat, lalu berniat memukul wajah Eunhyuk lagi. “Henry, stop!” Zhoumi dan Young Woon menahan kedua tangan Henry erat-erat. Mereka datang bersama Sungmin, Yesung , dan Kibum.
“Lepaskan aku! Aku harus memberi orang ini pelajaran agar dia tidak sembarangan menyentuh Sung Rin lagi!” Henry memberontak agar Zhoumi melepasnya. Tapi percuma karena ada Young Woon yang tenaganya jauh lebih besar.
“Ada apa ini?” Tanya Sungmin dari belakang. “Apa yang terjadi pada Sung Rin sampai kau marah seperti ini Henry?” Tanyanya langsung.
“Tenangkanlah dirimu, dan ceritakan pada kami.” Yesung menyodorkan segelas air putih untuk Henry. “Kenapa Sung Rin? Apa yang terjadi padanya?”
“Dia…” Henry masih menatap mata Eunhyuk dengan marah, “Dia…”
“Kalau kau rasa berat untuk menceritakannya, lebih baik jangan ceritakan pada kami.” Ujar Kibum. “lalu, mana Sung Rin? Kenapa dia tidak ada disini?” Tanyanya celingak-celinguk mencari Sung Rin di sekitar situ.
“Ada di ruanganku.” Jawab Henry. Nafasnya msih memburu karena sangat marah. “Masalah ini, kita selesaikan besok!” Tukasnya sambil melepas tangan Zhoumi dan Young Woon, “hyung, tolong bilang pada pak manager kalau Sung Rin tidak bisa bekerja untuk hari ini. Dan mulai besok, Sung Rin tidak akan bekerja sebagai asisten Hyuk Jae . selamanya!” Ujarnya tegas, lalu pergi.
 Henry membuka kunci pintu dan melihat Sung Rin yang sedang bermurung ria (?) diatas sofa. Air mata tidak lagi membasahi pipinya. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Henry.
“Chagiya,” Henry mendekat dan duduk disamping Sung Rin, “bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanyanya sambil menggenggam dan mengelus tangan Sung Rin.
“Molla oppa,” Sung Rin sama sekali tidak menoleh. “Oppa, aku ingin bertanya,” tiba-tiba dia memegang tangan Henry, “apa oppa akan tetap mencintaiku walaupun namja lain sudah menciumku? Apa oppa akan tetap mencintaiku walau namja lain sudah menyentuh kehormatanku?” Tanyanya.
“Baboya! Kau itu sekarang istriku, aku akan terus mencintaimu sampai akhir.” Henry memegang pipi Sung Rin. “Lagian, aku sudah memeri Hyuk Jae pelajaran.” Sambungnya.
“Oppa! Oppa berantem ya?!” tatapan Sung Rin terpaku pada memar disudut mata Henry. “Kenapa oppa harus berantem dengan Hyuk Jae op…”
“Ssst…” Henry menempelkan jarinya dibibir Sung Rin agar tidak banyak bicara. “Bicaranya di rumah saja. Arraseo?!” Dia mengedipkan matanya. “Ayo pulang, aku sudah meminta izin.” Lalu dia menarik tangan Sung Rin menuju parkiran.
Tanpa berlama-lama mereka segera menaiki mobil Toyota FT-HS Hybird (mobil idaman Author tuh!!) milik Henry. Lalu segera melaju menuju rumah mereka yang tidak dekat dari situ.
Beberpa menit kemudian mereka sampai, rumah bergaya minimalis yang cukup besar. Segera saja Henry memarkir mobil di garasi dan masuk kedalam rumah bersama Sung Rin.
“Annyeonghasseyo, bagaimana keadaan Eve? Apa dia tidak rewel?” Tanya Sung Rin begitu berpas-pasan dengan baby sitter yang mereka sewa.
“Dia tidak rewel kok, sekarang sedang tidur.” Jawab baby sitter itu ramah. “oh iya, nyonya, bisakah saya mengambil cuti untuk hari ini? Soalnya saya ingin melihat anak saya yang sedang sakit di Jeola. Besok pagi saya akan segera pulang.”
“Boleh. Nanti kalau bibi sudah mau kembali bibi bisa hubungi saya atau Henry.” Ujar Sung Rin lembut. “Kalau begitu, kami ke kamar dulu ya, kalau ada apa-apa, bibi ambil saja.” Ujarnya lalu menarik tangan Henry menuju kamar mereka di lantai satu. “Oppa tunggu disini ya, aku akan segera kembali!” Sung Rin mengedipkan matanya pada Henry lalu pergi.
Sung Rin melangkahkan kakinya menuju kamar Eve yang biasa digunakannya untuk mengganti pakaian. Dia segera mengganti pakaian yang dikenakannya dengan baju tipis (kayak punya Avril yang di What The Hell itu lhoo). Setelah itu dia segera kembali ke kamar tempat Henry menunggunya. Tak lupa dia menyelipkan sebuah permen rasa mint kedalam mulutnya.
Cklek! Sung Rin mengunci pintu kamar mereka, lalu mendekati Henry yang sedang duduk dipinggiran tempat tidur. Dengan saksama Henry memperhatika Sung Rin dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Mau apa kau?” Tanya Henry dengan tampang tak tahu apa-apa.
“Apa ya…?” Sung Rin tak mau kalah dengan memasang tampang lupa. “Aku ingin oppa!” Serunya tiba-tiba, lalu memejamkan matanya saat Henry mendekatkankan wajah ke wajahnya. Lalu mereka berdua saling berciuman dengan lembut, saling mengulum bibir satu sama lain. Dengan lincah Sung Rin memindahkan permen yang diselipkannya didalam mulutnya tadi kedalam mulut Henry.
“Permen?” Gumam Henry saat permen itu masuk kedalam mulutnya, “Kau belajar dari mana heh?” Tanyanya, lalu kembali mencium Sung Rin.
Sung Rin mengalungkan tangannya dileher Henry, mereka terus bersiuman dan bertukar permen dan saliva. Sesekali Henry menggigit bibir atas Sung Rin. Lalu Henry melepas baju tipis yang dikenakan Sung Rin, membuatnya hanya memakai bra dan celana dalam berwarna hitam. Ditengah ciuman mereka yang panas, Sung Rin bisa merasakan junior Henry yang mulai mengeras.
Dengan sigap Henry mendorong tubuh Sung Rin ke tempat tidur dam menindihnya dengan hati-hati tanpa melepaskan ciuman mereka. Setelah puas bermain dengan bibir Sung Rin, dia pindah ke leher Sung Rin, menciumi lehernya dengan liar dan meninggalkan kissmark disana.
“nnnggh….oppa…” Sung Rin mendesah ditelinga Henry, perlahan-lahan tangannya merambat dan berhasil melepas baju Henry, membuatnya dalam keadaan telanjang dada.
Henry terus mencium Sung Rin, tangannya mulai meremas kedua payudara Sung Rin yang bulat kencang dan masih terbungkus bra.
“Tetap kencang seperti dulu chagii,” ujar Henry dengan nada manja. “Kau  minum jamu apa?”
“Aniyo! Aku tidak pernah minum jamu apa-apapun! Lagian aku kan alergi jamu, mana mungkin aku meminumnya jika aku alergi,” bantah Sung Rin memanyunkan bibirnya.
“Iya, iya, jangan ngambek dong.” Henry kembali melumat bibir Sung Rin dengan lembut. Sebelah tangannya mulai menyusup dan membuka celana dalam Sung Rin dan memainkan kedua bibir Miss V dan klitorisnya. Tangannya yang sebelah lagi sibuk dengan payudara Sung Rin.
Setelah puas, Henry memasukka dua jarinya ke lubang Miss V Sung Rin, dan menambahkan satu jari lagi dengan hati-hati agar Sung Rin tidak kesakitan. Lalu mulai menggerakannya dalam tempo yang makin lama makin cepat
“Aaahh…,oppa..faaaaasss..teeeerrrrrrr….” Sung Rin mendesah menikmati perlakuan Henry padanya. Tangannya meremas seprei untuk manahan jeritan.
Henry menuruti permintaan istrinya, dia menambah cepat temponya menggerakkan jarinya dalam Miss V Sung Rin.
“oppa…akuuu…ke..lu…aaarr……” Crooot!! Cairan cinta pertama Sung Rin keluar membasahi tangan Henry, ada juga yang jatuh membasahi seprei. Dengan sigap Henry melahap semua cairan itu tanpa sisa sedikitpun.
”Hmm…manis seperti biasa,” Ujarnya membersihkan sisa cairan yang menempel dibibirnya. “Sekarang giliranmu, oke?!” Dia mengedipkan matanya pada Sung Rin yang langsung bangkit dan membuka celanaya, menampilkan (?) juniornya yang sudah menegang sejak tadi.
Dengan segera Sung Rin memijat junior Henry dengan mulutnya, sementara kedua tangnnya sibuk dengan twinsball Henry.
“Aaaah, terus chagii…” Henry mulai meracau tak karuah, “uuuh…oooh…aaah… (?)” Henry memejamkan matanya, menikmati apa yang dilakukan Sung Rin padanya. “Aku…ke..luar…”
Crot… Cairan pertama Henry menyembur kedalam mulut Sung Rin yang sudah menyiapkan diri hingga dia tidak tersedak lagi. Dia menelan habis cairan Henry yang menyembur langsung dalam mulutnya itu.
“Langsung saja ya?” Henry menatap Sung Rin yang sudah berbaring, Sung Rin hanya mengangguk pelan, lalu perlahan-lahan Henry membuka selangkangan Sung Rin, memperlihatkan Miss V yang menggoda. Lalu Henry bersiap untuk memasukkan juniornya kedalam Miss V Sung Rin.
“Aagh! Oppa, pelan-pelan.” Rintih Sung Rin saat Henry memasukkan setengah dari juniornya.
“Masih belum terbiasa juga? Padahal sudah sering melakukannya.” Henry mengangkat keningnya, tapi akhirnya dia menuruti permintaan Sung Rin dan memasukkan Juniornya perlahan-lahan.
Jleb! Junior Henry masuk dengan pas dalam Miss V Sung Rin, lalu dia mulai menggenjot dalam tempo lambat makin lama maik cepat. Kedua tangannya sibuk memainkan payudara Sung Rin.
“eeengggh…oppa….faster oppaaa! Faster!!” Sung Rin menjambak rambut Henry dengan kuat saat Henry menambah kecepatan genjotannya. “Oppa…saranghaeyo….eeeennggh…” lenguhnya.
“Na..do chagi,..” jawab Henry sambil terus menggenjot juniornya. Kedua tangannya meremas payudara Sung Rin dengan gemas, sementara bibirnya sibuk dileher Sung Rin, meninggalkan banyak kissmark disana.
“mmmh…nnggggh…” Desahan Sung Rin tertahan saat Henry kembali melumat bibirnya dengan ganas, lidahnya menjalajahi tiap sudut tanpa melewatkan sesentipun dan menjilati gigi Sung Rin yang tertata rapi dan putih bersih.
“a..aku ke..luar oppaa…” Crooot… cairan cinta kedua Sung Rin membasahi junior Henry yang masih menghujam masuk dalam Miss V-nya. Lalu bibirnya kembali disumbat bibir Henry. “op..pa, ganti posisi…” rengeknya manja. Dengan sigap dia bangkit dan mendorong tubuh Henry, membuatnya memimpin ‘permainan’ mereka. Perlahan-lahan dia menggerakkan pinggulnya keatas-bawah.
“Aaaah…terus chagiii…” Henry meracau, tangannya memainkan nipple Sung Rin dengan gemas. “Uuuh…Aaah!!” Henry tak dapat menahan racauannya yang keras. Dengan cepat Sung Rin menurunkan tubuhnya dan meredam suara Henry dengan cara menciumnya sambil terus menggerakkan pinggulnya.
“Aaah, chagiya…” Desahan Henry kembali terdengar saat Sung Rin pindah meniupi telinganya dan sesekali menggigitnya dengan nakal. Lalu merambat turun ke lehernya dan menjilatinya dengan liar, meninggalkan beberapa kissmark.
“Chagi, aku ke..luar…” Crooootttt….. sperma Henry membasahi rahim Sung Rin entah untuk yang keberapa kalinya, sebagian jatuh membasahi seprei mereka. Dengan cepat dia merubah posisi dan kembali menindih tubuh Sung Rin.
Dengan lembut Henry membalai wajah Sung Rin, “chagiya,” bisiknya lembut, “saranghaeyo..” lalu mencium bibir Sung Rin dengan lembut.
“Nado saranghae oppa,” jawab Sung Rin mambalas ciuman Henry dengan tak kalah lembutnya.
Henry melepas ciumannya dan meletakkan kepalanya diantara kedua payudara Sung Rin, “ini membuatku gemas,” ujarnya sambil memainkan nipple Sung Rin dengan nakal.
“ahaha, kau nakal oppa,” Sung Rin tertawa sambil membelai lembut rambut Henry. Lalu Henry menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua.
“Kau tahu, aku tidak akan pernah melakukan ‘ini’ bersmamu.” Bisiknya nakal.
“Aiish, kasihanilah aku oppa.” Gerutu Sung Rin, Henry hanya tertawa. Lalu merka berdua tertidur pulas karena lelah.
***
“Annyeong Eve-ku tercinta… tidurmu nyenyak kan?” Sung Rin mengangkat tubuh Eve yang tertawa manis. Membuat Sung Rin juga ikut tertawa senang. “Ayo kita makan, appa sudah menunggu.” Ujarnya lalu membawa Eve ke ruang makan.
“Uwwaaah… malaikat kecilku makin manis saja…” Sambut Henry begitu Sung Rin datang bersama Eve dalam pelukannya. “Bahkan lebih manis dari eomma-nya.” Ledeknya.
“Aiish! Oppa selalu saja meledekku.” Sung Rin memanyunkan bibirnya.
“Jangan ngambek dong..” Henry mencium sekolas bibir Sung Rin.
“Oppa! Jangan lakukan itu didepan anak-anak!” Seru Sung Rin kesal.
“Ng? Kenapa? Dia pasti tahu kalau appa dan eommanya sering malakukan itu. jangankan ciuman, mungkin dia juga tahu kalau kita sering melakukan ‘itu’.” Ledek Henry lagi.
“Berhenti bicara yang tidak-tidak oppa! Cepat makan, nanti masakannya dingin!” Tukas Sung Rin sambil mendudukkan Eve di kursi makan khusus bayi.
“Marah-marah didepan bayi itu tidak baik lhoo…” Goda Henry tersenyum jahil. Tangannya menyentuh pipi Sung Rin dengan nakal.
“Harus kupanggil apa biar oppa mau mendengarkan perkataanku?” tanya Sung Rin lirih.
“Panggil aku dengan sebutan lain selain oppa.” Jawab Henry enteng.
Sung Rin menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum dan menatap lembut mata Henry. “Yeobo, makanlah. Terlambat makan itu tidak baik.” Ujarnya lembut. Henry hanya diam membatu mendengar ucapan Sung Rin barusan.
“Co..coba ulangi lagi!”
“Yeobo, telat makan itu tidak baik.” Sung Rin mengulang perkataannya.
“Panggil apa tadi? Coba ulangi lagi!” Pinta Henry dengan hati berbunga-bunga.
“Yeobooo…” Ulang Sung Rin lagi. “Cepat makan!” Pintanya menurunkan kening tanda dia sudah sangat kesal.
“Ne, ne, ne. Aku makan.” Henry buru-buru mengambil nasi dan lauk yang tersedia. Lalu segera memakannya dengan lahap. Hatinya berbunga-bunga karena Sung Rin akhirnya memanggilnya dengan sebutan ‘yeobo’. Sementara Sung Rin menyuapi Eve.
Henry berhenti makan sejenak, lalu melirik kearah Sung Rin yang sedang menyuapi Eve. Lalu dia mengambil sesendok nasi dari piringnya dan mendekatkannya kemulur Sung Rin.
“Waeyo?” Tanya Sung Rin bingung.
“Makanlah, biar aku yang menyuapimu.” Ujar Henry sambil tersenyum. “Kalau kau menyuapi Eve terus, kau bisa telat makan kan? Jadi aku yang akan menyuapimu.” Tambahnya.
“A..aniya, oppa makan saja. Aku tak apa-apa kok.” Tolak Sung Rin se-halus mungkin.
“Makan!” Pinta Henry tegas sambil mendekatkan lagi sendoknya ke mulut Sung Rin. “Kau sendiri yang bilang barusan kan? Telat makan itu tidak bagus. Sekarang malah kau sendiri yang membuat dirimu telat makan.” Tukasnya.
Sung Rin menatap sendok yang terisi nasi didepan mulutnya itu, lalu membuka mulut dan memakannya. Membuat Henry tersenyum senang. “Begitu dong, aku juga bisa repot kalau kau sakit.” Ujar Henry tersenyum senang, membuat Sung Rin juga ikut senang.
Tak lama setelah itu mereka selesai makan, Sung Rin bersiap untuk mencuci piring-piring yang kotor sementara Henry sibuk menidurkan Eve yang rewel ingin bersama Sung Rin.
“Eomma sedang mencuci piring,” Henry berusaha agar Eve tidak menangis lagi. “Aiish, mengurus bayi itu susah juga ya…” keluhnya, “Tapi aku harus jadi appa yang baik! Hal beginian tidak boleh membuatku putus asa!” lalu dia mengambil botol susu yang terletak diatas meja disampingnya. “Minum dan berhenti menangis ya,” ujarnya sambil meminumkannya pada Eve yang tidak menangis lagi. “Syukurlaaaah, sekarang tidur yang nyenyak ya. Appa akan menunggumu tidur.”
Prang!!
“Kyaaa…!! Oppa jebal!!” Terdengar jeritan Sung Rin bersamaandengan bunyi piring pecah. Tanpa berlama-lama Henry segera keluar meninggalkan Eve yang sudah tertidur.
Di dapur, Henry mendapati Sung Rin yang berjongkok ketakutan sambil menutupi wajah dan kupingnya. Dengan segera Henry menghampirinya. “Waeyo chagi?” Tanya Henry memegang pundak Sung Rin dengan khawatir. Saat tangannya menyentuh pundak Sung Rin dia bisa merasakan tubuh Sung Rin bergetar saking takutnya.
“H..Hyuk Jae oppa…dia..dia ada disini..” Sung Rin memeluk erat tubuh Henry. “Aku…aku taku oppa…dia akan melakukan hal buruk padaku lagi, aku takut…” Ujarnya.
“Gwenchanayo, dia tak ada disini. Hanya halusinasimu saja.” Henry mengelus pundak Sung Rin untuk menenangkannya. “Tunggu sebentar, aku akan membereskan pecahan piringnya. Bahaya kalau tidak segera dibersihkan.”
“Andwae oppa,” Sung Rin menahan Henry agar tidak meninggalkannya. “Biarkan saja pecahannya. Bersihkan besok saja,” ujarnya tanpa melepas pegangannya.
“Baiklah kalau itu maumu.” Bisiknya lalu membantu Sung Rin berjalan menuju kamar mereka yang bersebelahan dengan kamar Eve. “duduklah, aku akan mengambil air.”  Ujar Henry lalu pergi mengambil air didapur.
Sung Rin merebahkan dirinya diatas tempat tidur memandang hampa langit-langit kamar. Pikirannya melayang entah kemana. Lalu tak lama kemudian Henry kembali dengan membawa segelas air putih. “Minum dan tenangkan dirimu.” Henry menyodorkan gelas itu pada Sung Rin.
“Gomawoyo oppa.,” Sung Rin meneguk setengah dari air itu.
“Bagaimana perasaanmu?” Henry meraba kening Sung Rin untuk mengecek suhunya. “Agak panas. Biar kuambilkan obat.”
“Ani oppa, aku tak apa-apa.” Ujar Sung Rin manahan tangan Henry. “Yang penting oppa jangan meninggalkan aku sendiri. Itu sudah cukup.” Lirihnya.
“Arraseo,” Henry merangkul pundak Sung Rin dan mengajaknya berbaring bersama. “besok kau akan bekerja bersamaku. Min Ah akan menggantikan posisimu sebagai asisten Hyuk Jae.” Bisiknya menggenggam tangan Sung Rin yang dingin.
Sung Rin tersenyum tipis, “gomawo oppa. Saranghaeyo.” Ujarnya memejamkan mata.
“Nado saranghae.” Balas Henry mengecup dahi Sung Rin, lalu tertidur.
***
“Yeobo…” Sung Rin menggoyang pelan tubuh Henry untuk membangunkannya. “Mau tidur sampai kapan? Sudah jam 7 lho,” sambungnya.
Henry membuka matanya pelan-pelan, lalu memperhatikan baik-baik Sung Rin yang ada dihadapannya. Yang hanya mengenakan handuk model kimono. “Masih belum mau bangun juga ya?” Tanya Sung Rin menantang.
“ne ne ne, aku bangun.” Henry segera bangkit dari tidurnya. “Mau apa lagi kau?” Tanyanya sambil tertawa melihat tingkah seduktif Sung Rin. “Padahal dulunya pemalu, sekarang malah jadi agresif.” Sindirnya.
“Terserah aku dong,” Sung Rin mendorong tubuh Henry dan menindihnya. “Sekarang kau kan milikku, jadi aku bebas melakukan apa saja padamu.” Ujarnya membuka kancing baju Henry satu per satu. “dan aku hanya mau melakukan ini dengan namja yang sudah menjadi milikku.” Sambungnya setelah berhasil melepas baju Henry.
“Jangan selipkan perman lagi ya, bisa tertelan.” Bisik Henry sambil mencium lembut bibir Sung Rin. Menjilati giginya satu per satu dan bertukar saliva. Sung Rin balas menciumnya dengan ganas, dan tanpa disadari setetes saliva keluar dari sudut bibir Henry dan jatuh diatas bantal.
Dengan tidak sabar Sung Rin menjalarkan tangannya kebawah, dan melepas celana boxer Henry dengan cepat. “Uwaah…sudah bangun juga…” Sung Rin tersenyum seperti anak-anak.
“Kau nafsu begitu mana mungkin dia tidak bangun.” Ledek Henry, lalu perlahan-lahan dia membuka ikatan handuk Sung Rin. Dalam sekejap Sung Rin langsung berada dalam keadaan naked. “Keluyuran dalam rumah nggak pakai pakaian dalam, kau memang aneh ya…” Ujar Henry lalu meremas kedua payudara Sung Rin dengan gemas.
“Aku tidak ingin ‘main’ disini lho…” Sung Rin menahan tangan Henry yang akan menyusu ke Miss V nya. “Kita harus cepat, waktu yang kita punya hanya satu jam. Jadi…” lalu Sung Rin bangkit dan menarik tangan Henry menuju kamar mandi. “kita lakukan sambil mandi!” Serunya mengunci pintu.
“Heeh, kau memang yeoja teraneh yang pernah kutemui.” Ujar Henry lalu menyerang Sung Rin yang bersandar dipintu. Lidahnya bermain dileher Sung Rin, kedua tangannya sibuk dengan nipple, sementara juniornya saling bergesekkan dengan Miss V Sung Rin.
Dengan sedikit kasar Sung Rin mendorong Henry kedalam ruang shower dan menyalakan showernya. Air hangat pun membasahi tubuh mereka berdua. “Langsung saja yeobo. Waktunya semakin sedikit.” Bisiknya sambil memegang dan memasukkan junior Henry kedalam Miss V-nya yang basah dengan air hangat.
“Apa kau yakin?” Tanya Henry memastikan. Sung Rin hanya mengangguk pelan. “Kalau kau merasa sakit, katakan padaku.” Ujarnya lalu mulai menggenjot juniotnya pelan-pelan, dan makin cepat.
“eeennnggghhhhh…faster yeoboo..fasteerrr…” Sung Rin meremas rambur Henry yang basah. “Ngghhh……aaaahh…” Desahnya tepat ditelinga Henry, membuatnya makin nafsu. “A…aku keluar…”
Crooot… cairan cinta Sung Rin keluar membasahi junior Henry, dan sebagiannya lagi jatuh dan terbawa air. Dengan penuh nafsu dia melumat bibir Henry dengan ganas. Henry membalasnya dengan tak kalah ganas.
“nnngghh…….lebih cepaaat,..” pinta Sung Rin disela desahannya. Henry oun menambah kecepatan genjotannya, membuat payudara Sung Rin bergoya mengikuti ritmenya.
“Aaaaaaahhh….aku…keluar…chagiii…” Henry membenamkan juniornya dalam-dalam di Miss V Sung Rin.
Crooooooott….
Cairan sperma Henry menyembur dalam rahim Sung Rin. Setelah itu dia meletakkan tangannya didinding sebagai tumpuan, lalu mencium Sung Rin dengan lembut. “saranghaeyo chagiya,” bisiknya mesra.
“Nado yeobo. Jeongmal saranghaeyo.” Balas Sung Rin. “Ayo mandi, waktunya tinggal sedikit. Bibi sudah datang sejak jam enam tadi.” Ujrnya sambil mengambil sabun dan menyabuni tubuh Henry.
“Hei, kau nakal!” Seru Henry saat tangan Sung Rin menyentuh juniornya yang sudah ‘layu’ (=.=”).
“Kau kan milikku.” Sung Rin mengedipkan matanya dengan nakal pada Henry yang tertawa melihatnya. Lalu merekapun mandi bersama.
***
“Annyeonghasseyo.,.aku kembali…” Seru Sung Rin saat memasuki kantor. Terlihat Kibum, Min Ah, Yesung, dan Seul Ah yang entah sedang membicarakan apa.
“Kau ceria sekali hari ini,” celetuk Seul Ah, “tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi antara kalian?” Tanyanya penasaran.
“Entahlah….” Jawab Sung Rin pura-pura tidak tahu. “oh ya, kapan Dong hae dan Ri Chan kembali? Apa masih lama?” Tanyanya ingin tahu.
“kira-kira dua minggu lagi.” Jawab Kibum.
“Permisi, apa ada yang namanya Lee Sung Rin?” Tanya seorang pegawai tiba-tiba nongol.
“Oh, itu aku.” Sung Rin mengangkat tangannya.
“Manager menyuruhmu untuk ke ruangannya sekarang.” Ujar pegawai itu lalu pergi.
“Manager?” Ulang Sung Rin bingung. “Untuk apa dia memanggilku? Apa mau mengomeliku lagi?” pikirnya dengan sedikit jengkel. Tapi akhirnya dia berjana menuju lift ke lantai 5, tempat ruangan manager berada.
Sesampainya dilantai lima dia segera pergi ke ruangan manager. Disana sudah menunggu pak manager, dan beberapa lembar dokumen.
“Ada apa bapak memanggil saya?” Tanya Sung Rin sesopan mungkin pada manager yang kelihatannya marahh ini.
“Masih tanya, apa kau tidak tahu kalau semua yang kau kerjakan ini salah?! Harus kuulangi berapa kali agar kau mengerti heh?!” seru Siwon, si manager marah. “Baca!” Pintanya membanting dokumen yang dikerjakan Sung Rin.
Dengan hati-hati Sung Rin membaca dokumen ini, “tapi pak, ini bukan pekerjaan saya. Kemarin saya…”
“Pembohong! Jelas-jelas itu tulisanmu!” Elak Siwon sebelum Sung Rin menyelesaikan perkataannya. “Seharusnya aku tidak menerima pegawai bodoh dan tak berguna sepertimu. Kau cantik tapi otaknya seperti keledai.” Hinanya kasar.
“Ta..tapi kemarin saya…” ujar Sung Rin terbata-bata. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Walaupun dia gadis yang periang, tapi hatinya sensitif dengan kata-kata kasar seperti yang diucapkan Siwon barusan. “Kemarin saya bekerja dengan Hyuk J…”
Plakk!! Satu tamparan keras dari Siwon mendara dipipi Sung Rin, meninggalkan tanda merah yang besar. “Keluar dari sini sekarang juga! Aku tak mau melihat wajahmu itu!” Seru Siwon kasar. Dengan berlinangan air mata Sung Rin keluar dari ruangan itu. hatinya terasa sakit karena Siwon menghinanya.
“Chagiya, waeyo? Kenapa kau menangis?” Tanya Henry yang kebetulan lewat. “Kenapa pipimu? Siapa yang menyakitimu?” Tanyanya lagi saat melihat bekas merah dipipi Sung Rin.
“A..ani oppa, aku tak apa-apa.” Ujar Sung Rin disela isakannya. “op..oppa bekerja saja. Biarkan aku..”
“Baboya! Mana bisa begitu?! Kau kesakitan begini malah menyuruhku meninggalakanmu. Sebagai suamimu harusnya aku bertanggung jawab.” Bantah Henry. “Cepat katakan, siapa yang menyakitimu? Biar kuberi dia pelajaran!” Tukasnya.
“Sudah kubilang kan? Aku tak apa-apa.”
“Bohong! Cepat katakan siapa dia! Apa Hyuk Jae lagi? Mana monyet sialan itu? biar kubunuh dia!” Tukas Henry sedikit marah.
“Aniyo, bukan dia.” Kilah Sung Rin. “Oppa pergi saja, ini masalahku.” Ujarnya menghapus air mata dipipinya. “Oppa lanjutkan saja pekerjaan oppa, aku akan kembali kebawah.” Ujarnya lalu buru-buru pergi menuju lift meninggalkan Henry.
Sung Rin memencet tombol lift, dan menunggu pintunya terbuka. Saat terbuka terlihat Eunhyuk dan Min Ah yang sepertinya baru dari lantai atas. Dengan segera Sung Rin memasukinya dan memencet tombol satu.
Lift berhenti dilantai tiga, tempat yang dituju Min Ah. Yang tertinggal dalam lift sekarang hanya Sung Rin dan Eunhyuk, dan itu membuat Sung Rin risih. Apalagi Eunhyuk mulai memperlihatkan gerak-gerika yang aneh. Sung Rin terus memohon dalam hati agar liftnya cepat sampai dilantai satu.
Trek! Tiba-tiba lift itu menjadi gelap dan berhenti. Listriknya padam. Dan Sekarang Sung Rin benar-benar terjebak dalam lift itu bersama orang yang paling berbahaya baginya.
“Aah, Tuhan itu adil ya,” ujar Eunhyuk dari belakang.
“A..apa yang oppa katakan?” Tanya Sung Rin gugup. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Henry memanggil. Tanpa berlama-lama dia segera mengangkatnya. “Yeoboseyo? Ada apa oppa?” Tanyanya begitu tersambung.
“Chagiya, kau ada dimana?” Tanya Henry khawatir.
“Aku ada di lift,” jawab Sung Rin menggigit bibir bawahnya.
“Dengan siapa?” Tanya Henry lagi.
“de…dengan Hyuk Ja…”
“Berikan teleponnya pada monyet itu!!” Seru Henry sebelum Sung Rin menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menunggu perintah dua kali Sung Rin memberikan handphonenya pada Eunhyuk.
“Ada apa?” Tanya Eunhyuk dengan suara menantang.
“HEY MONYET SIALAN! JANGAN SEKALI-KALI KAU MENYENTUH SUNG RIN DENGAN TANGANMU ITU!! MENGERTI!!” Teriak Henry dari seberang sana, membuat Eunhyuk menjauhkan telinganya dari handphone Sung Rin.
“Kecilkan suaramu.” Ujar Eunhyuk santai. “Aku ada urusan lain. Sampai ketemu nanti.” Katanya lalu memutuskan telepon dan mencabut baterei handphone Sung Rin. “Sekarang tinggal kau. Ini saat yang tepat bukan?” Dia mendekati Sung Rin sambil membuka kancing kemejanya sendiri. “Gensetnya kan sedang rusak, terpaksa menunggu perusahaan listrik yang menyalakannya.”
“Oppa, aku akan melakukan apapun untukmu asal jangan lecehkan aku seperti ini, kumohon!” Sung Rin mundur menjauhi Eunhyuk yang mendekat kearahnya. Tapi karena ruangan lift yang sempit dia tak punya banyak tempat untuk meghindar.
“Tapi yang kuinginkan hanya ini!” Elak Eunhyuk kembali menahan kedua tangan Sung Rin dengan kuat.
“Oppa, sakit,” rintih Sung Rin karena cengkraman Eunhyuk sangat kuat. “Lepaskan aku!” Dia memberontak untuk melepaskan diri dari Eunhyuk. “Jebal! Seseorang tolong aku!” Seru Sung Rin menggedor-gedor pintu lift dengan kakinya. “Je…mmmppphhh!!!”
Eunhyuk mencium bibir Sung Rin dengan rakus, dia menekan kuat kepalanya agar bia masuk lebih dalam di mulut Sung Rin. Dengan penuh nafsu dia menelan semua saliva Sung Rin tanpa sisa, sementara tangannya yang satunya lagi meremas-remas sebelah payudara Sung Rin yang masih terbungkus kemeja.
“Aku tidak sabar mencicipi tubuhmu yang indah ini!” Sergahnya merobek baju dan bra Sung Rin sekaligus. “Aah, aku semakin tidak tahan,” ujarnya sambil buru-buru membuka celananya sendiri, memperlihatkan juniornya yang sudah sangat tegang. “Lakukan apa yang kau lakukan pada Henry, atau aku memaksamu!” pintanya dengan nada mengancam.
Sung Rin meggelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan, airmata membanjiri pipinya, sementara Eunhyuk mendekatkan juniornya kemulutnya. “Cepat atau aku memaksamu!” Ancam Eunhyuk. Lalu dengan tak sabar dia menempelkan juniornya dibibir Sung Rin, memaksanya agar menghisapnya.
Sung Rin menutup rapat bibir dan matanya, membuat Eunhyuk geram. “Kau memaksaku melakukannya, jangan salahkan aku!” Tukas Eunhyuk menginjak tangan Sung Rin dengan sengaja, membuat Sung Rin spontan membuka mulutnya untuk menjerit. Pada saat itu Eunhyuk langsung mendorong masuk juniornya kedalam mulut Sung Rin.
“uuuoohh…” Eunhyuk meleguh.
Dengan berani Sung Rin menedang tulang kering Eunhyuk dengan kuat. “Argh!” Eunhyuk merintih kesakitan. “Kau sudah berani ya? Dasar tidak tahu diri!”
Plakk!! Satu tamparan keras dari Eunhyuk mendarat dipipi Sung Rin, menambah bekas merah disana. Tiba-tiba lampu menyala.
“sial!” Gerutu Eunhyuk memasukkan kembali juniornya kedalam celananya. “Akan kuurus lain waktu.” Ujarnya lalu segera keluar ke lantai terdekat meninggalkan Sung Rin yang berjongkok memeluk lutut menutupi dadanya sambil menangis.
Lift berhenti dilantai satu, tepat saat Kibum dan Seul Ah akan masuk.
“astaga!” Spontan Kibum membalikkan badannya begitu melihat Sung Rin, “Seul Ah, cepat tutupi dia.” Pintanya sambil memberikan jas yang dipakainya. Denan segera Suel Ah menutupi Tubuh Sung Rin dengan jas itu.
“Sung Rin?a yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi begini?” Tanya Seul Ah khawatir setelah selesai memakaikan jas Kibum pada Sung Rin, dia memungut kemeja dan bra Sung Rin yang robek. “Siapa yang berbuat begini padamu? Cepat katakan padaku!” Pintanya.
“A..aniyo,” jawab Sung Rin gemetaran. “aku tak apa-apa.” Sambungnya.
“Biar kutelepon Henry.” Ujar kbum mengeluarkan handphonenya dan menelepon Henry. “Yeoboseyo? Henry, ini aku, Kibum. Aku dan Seul Ah menemukan Sung Rin dalam lift…apa? oh baiklah.” Ujarnya lalu mengakhiri pembicaraan. “Katanya antar keruangannya dilantai 2.”
“Biar aku yang mengantarnya.” Ujar Sungmin tiba-tiba datang. “Aku tidak akan mengapa-apakannya, aku kan oppa-nya.” Sambungnya melihat tatapan Seul Ah dan Kibum yang dapat ditebak. Lalu dia membawa Sung Rin yang memakai jas Kibum ke lantai dua, tepatnya ruangan Henry.
“Sung Rin!!” Henry langsung memeluk Sung Rin begitu Sungmin dan Sung Rin keluar dari lift. “Gomawoyo hyung,” ujarnya membungkukkan badannya pada Sungmin yang setelah itu pergi. “Apa yang terjadi padamu? Apa yang dilakukan Hyuk Jae padamu?” tanyanya khawatir.
Sung Rin diam sejenak, “op..pa…” Dia memeluk erat tubuh Henry, menumpahkan semua airmatanya disana. “Aku lebih baik mati saja oppa, aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik…” Isaknya.
“Bicara apa kau? Lebih baik tutup mulutmu jika kau hanya bicra hal bodoh seperti itu!” Tukas Henry memeluk hangat tubuh Sung Rin yang gemetaran. “Mana Hyuk Jae? Aku akan melaporkanya pada polisi!”
“Molla oppa,” Jawab Sung Rin masih menangis.
“Masuklah ke ruanganku, aku akan menelpon polisi.” Pintanya, lalu membawa Sung Rin masuk ke ruangannya dan menguncinya dari luar. Setelah itu diapergi kelantai bawah dan menelpon polisi.
Tak lama kemudian polisi datang, “selamat siang, kami dari kantor kepolisian Seoul. Apakah ada yang namanya Henry Lau?” Tanya Polisi itu memberi hormat.
“Itu saya, ayo ikut!” Pinta Henry membawa polisi-polisi itu ke ruangan Eunhyuk. “Tangkap dia!” pintanya menunjuk Eunhyuk dengan marah. “Dia, sudah melecehkan istri saya.” Sambungnya.
“Mianhamnida, kami tak bisa menangkap orang tanpa bukti.” Elak polisi itu. “Bisakah kami bertemu dengan koreban?” Tanyanya.
“Ya, dia ada diruanganku.” Jawabnya, “kau, ikut juga!” Serunya pada Eunhyuk yang mau tak mau mengikuti mereka ke ruangan Henry.
Mereka masuk keruangan Henry, dan mendapati Sung Rin yang masih gemetaran. Sung Rin langsung menjauh begitu melihat Eunhyuk datang bersama yang lainnya. “Anda lihat? Istri saya ketakutan begitu melihatnya.”
“Mohon tenang, biarkan kami menanyai korban beberapa pertanyaan.” Ujar seorang polisi wanita. “Bisakah anda keluar sebentar? Ini pertanyaan yang hanya bisa diketahu sesama wanita.” Pintanya seramah mungkin. Mau tak mau Henry dan yang lainnya keluar sementara polisi itu menanyai Sung Rin beberapa pertanyaan.
***
“Baiklah, dari pertanyaan yang saya ajukan, saudari Sung Rin memang telah mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari saudara Lee Hyuk Jae.”
“Tunggu! Kalian tak boleh manangkapku tanpa bukti!” Seru Eunhyuk membela diri.
“Ada!” Tiba-tiba Kibum datang. “Aku menemukan ini disamping handphone Sung Rin yang tertinggal di lift.” Ujarnya memperlihathan gelang yang biasa dipakai Eunhyuk. “ini punya mu kan?” Tanyanya. “Tidak mungkin ini punya orang lain, namamu jelas terukir disini.”
“Aku…”
“Lee Hyuk Jae, anda ditangkap!” Tukas seorang polisi memborgol tangan Eunhyuk dan membawanya kemobil polisi. “Untuk sejuta alasannya bisa kau jelaskan di kantor nanti.”
“Kalian tak boleh menangkapku seperti ini! Lepaskan aku!” Eunhyuk memberontak agar dilepaskan. Tapi percuma karena tangannya telah diborgol. Akhirnya dia pun dibawa ke kantor polisi.
“Kau sudah aman chagiya, tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi.” Ujar Henry mengelus pundak Sung Rin. “pipimu…kenapa lagi? Apa dia menamparmu sekuat ini?” Tanyanya begiu menyadari ada bekas merah dipipi Sung Rin.
“Gwenchana oppa, ini tak terlalu sakit.” Sung Rin tersenyum simpul, lalu menatap mata Henry lekat-lekat, dan menciumnya dengan lembut.
+_The End_+
Yoo!! Gimana? Gimana? Gimana? Geje kah? Kurang hot kah? Mianhae yadongersdeul, ga bisa dibikin Full NC kyak sbelumny… jeongmal mianhae… *bungkuk badan berulang kali*. Soalnya ada yg bilang kalau NC sma konfliknya harus seimbang, jadi yaah, kyaknya sekarang konfliknya berlebihan deeh. Tapi… yaaah, dah terlanjur jadi, mau gimana lagi.. nanti saya bikin yg lain deh, yg lebih Full NC, yg lebih bnyak konflik, pokoknya deeh…. Gamsa dah mau baca FF saya yang tak karuan ini… Jeongmal gamsa…
–Lee Sung Rin
Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 08/11/2012, in OS, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 24 Comments.

  1. park seulhyo

    . . horeeeeeeeee!! typo.na berkurang!!#jingkrak” gaje
    tapi min kog mnurut aq crita.na agak aneh eaw

  2. Waahh…critanya seruuu loe aqhu ska

  3. Hi…

    Sorry q ikut bca.

    Seru bgt. 😀
    v kasihan seung ri ny.
    Untung hen ri cpat lpor police jd aman deh skrg.

    Selamat berjuang lg seung ri n henri untuk bkin adik bt eve.

  4. Ko Eunhyuk gue di tangkep!!!

    Kenapa ceritanya begini!!!!

  5. alifah jewels 43ver

    HI..,,,
    sampe gemetaran bacanya,,…

  6. ririn andria

    Bagus kok,,,

  7. kang hyo won

    waaaaaahhhhh, keren bgt deh ceritanya

  8. Itu yang masalah sama siwon-nya belom selesai, thor 😦 kepo nih

  9. seruu bangettt

  10. Perkosaannya kurang ah :p

  11. kenapa gua jadi benci eunhyuk disini saoloh-_–” tapi keren daebakk !

  12. minta password donggg…
    jeballl… T.T

  13. Firly Kpopers

    yeee hyuk d tangkep :v
    slahny ambil istri org, jd agk benci -.-
    #marah #seneng
    #sorrymenyakitkancommentnya
    tp msh bngung critany antara siwon ma sung rin tdi T.T ksian
    tp daebak bnget 😀 lnjutkan thor!!! Figthing!! ^^

  14. ParkjijungcodeXxxxoon

    Aigoo kasian bgt sungrin dilecehkan 2x,,pst rasanya bnrn ky mau aja x y,,klo dy blm brsuami sih g trllu gmn tp unialhnya dy ud pny suami satu kntor pula,,pst hrga dirinya((??)) Bnr2 ksian

  15. Keren bnget thor ‘-‘b tp kasian hyukpa T-T

  16. Gantung ah, urusan sm siwon gmn? Mestinya kan ada penjelasannya

  17. Titania Blackjack~VIP~Baby (@RapperTita7_BA1)

    bagus thor! ga terlalu monoton sama nc’a, seimbang ^^)b

  18. Ilma Bumssoeulmates Elf

    wah bagus
    alurnya dapet
    hot…

  19. Akhirnya eunhyuk dtangkep polisi juga , biar dia tauu rasa , udah tau sung rin istrinya henry msh ajaa maau merkosa sung rin ,

  20. ceritanya aneh ‘-.-

  21. daebak!!!!!!!!!!!!!!! tapi hyuk oppa yadongnya akut banget -_-“

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: