Midnight Dream

yadong ff
Author                  : ydghyuk / sungrins_
Tittle                      : Midnight Dream
Type                      : NC 17, yadong, oneshoot
Cast                       : Kwon Jiyong, Jung Hae Ra, Kim Jae Joong
——————–
Makasi buangets sama admin yang udah mau publish FF ini. Sebenarnya versi asli FF ini gak ada adegan NCnya. Tapi, entahlah terbesit begitu saja untuk menyisipkan adegan yadong -__-v
Kenapa NC 17? Karena NC 17 lebih nyambung kalo dimasukin ke jalan cerita FF ini. Kalian akan mengerti alasan singkat saya itu setelah kalian baca FF ini, wkwkwk *modus.
NC 21 akan saya buat setelah liat respon FF ini, kalo responnya bagus dan ada yang minta sequel, ya saya akan buat sequelnya dengan versi NC 21..
 
Gak ada plagiat -___- FF ini pernah saya publish di blog pribadi dengan  cast Kim Soo Hyun yang di versi ini saya ganti menjadi Kim Jae Joong dan disana gak ada adegan NC’nya -___-
Hohoho.
 
Oke cukup.
***
 
 
Tuhan telah menciptakan manusia untuk hidup berdampingan.
Tak akan ada yang bisa mengelak dari takdir yang telah ditentukan Beliau.
Dengan alasan tertentu, manusia diciptakan sedemikian rupa, agar dapat saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.
Walaupun pada kenyataannya 2 manusia yang telah ditakdirkan bersama, mengelak dan tidak ingin menjalani hidup sebagai sepasang. Maka Tuhan lah yang akan menurunkan seorang malaikat untuk mempersatukan 2 manusia tersebut, meskipun dengan jalan yang tidak masuk akal dan sulit diterima logika.
***
 
-Jung Hae Ra’s POV-
“Cukup tuan Kwon, kami sudah memilih proposal nona Jung sebagai project selanjutnya, silakan anda keluar dari ruangan ini”
“tapi aku bisa membuktikan project milikku yang akan sukses besar, percayalah”
“ kau tak ingin aku memanggil security untuk mengusirmu kan?”
Kalimat terakhir membuatku mengukir sebuah senyum kemenangan diwajahku.Dengan mengangkat dagu keatas, berlagak –sedikit- sombong dihadapannya.Tuan Kwon yang –katanya- manager kesayangan presdir.Tuan Kwon?Cih ..bahkan otakku tak sudi untuk memikirkan nama itu.tapi maaf, sepertinya gelar kesayangan itu akan  beralih pada namaku.
“baiklah, aku permisi” katanya sembari membungkuk lalu menatapku tajam. Aku mendelik “kau lihat apa? Cepat keluar” ucapku sarkastik.Rasanya dunia ini hampir menjadi milikku.Yaa aku hanya tinggal menyelesaikan project ini agar menjadi pagelaran musical yang sukses hingga ke kancah internasional.Dengan begitu, barangkali aku bisa dipromosikan.
“silakan duduk nona Jung Hae Ra, mari kita bicarakan mengenai project drama musical kita” presdir Choi mempersilakanku duduk dan mulai membahas apa saja yang harus disiapkan. Aku tersenyum sumringah, malam ini aku harus merayakannya.
***
“haha … baiklah oppa. Hari ini kutraktir kau makan di restaurant bintang lima. Bagaimana? Hahahha”
“aku tagih janjimu Hae Ra~ya. Ku jemput kau di kantormu. Kau tidak akan kabur kan? Hahaha”
“tenang oppa, kapan seorang Jung Hae Ra melanggar janjinya? Haha ..sudah dulu oppa. Bye”
Pliipp ~ kukunci layar ponselku setelah mengakhiri sambungan telfon dari Kim Jae Joong, sahabatku sejak SMA.Sahabat? Ohh baiklah, aku menyukainya sejak ia menjadi sahabatku. Bukan … bukan suka.Tapi cinta.
“hey kau !” Belum tuntas khayalanku tentang Jae Joong oppa, sebuah suara mendengung di telingaku. Membuatku menoleh dan memasang tampang bak tuan putri. “ada apa manager Kwon? Ada perlu denganku?Hmm ..tapi sepertinya aku sedang sibuk. Sampai jumpa” kataku mempersingkat waktu dengannya, hendak berbalik namun tangannya mencengkram lenganku kuat.
“hyaa.. apa yang kau lakukan?!” pekikku setengah berteriak. Tapi tangannya malah semakin kencang  di lenganku. Ohh ..aku baru ingat dia seorang laki-laki.
“apakah kau tau sopan santun, nona Jung? Aku sedang ingin bicara denganmu” ucapnya tepat di depan telingaku. Seketika bulu kuduk dibelakang leherku berdiri.Dia seperti vampire.Menakutkan.
“lepaskan lalu cepat bicara. Aku benar-benar sibuk” kini ia melepaskannya. Berkacak pinggang lalu menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.Aku hanya meringis sambil mengelus lengan kananku yang sedikit membiru.
“kubilang cepat bicara !” ia sedikit mundur dan mengejapkan matanya mendengar teriakanku. Aku sedang berada di halaman belakang kantor, jadi tak akan ada orang yang mendengar.
“Jung Hae Ra~ssi, bukankah kau belum genap satu bulan bekerja di agency drama musical ini?”
“lalu? Masalahnya denganmu apa?!”
“Kau !” ia berjalan mendekatiku, membuat punggungku menabrak sebuah pohon dan mengunciku dengan kedua tangannya. Sial. “jangan terlalu berharap kau bisa menggeser posisiku sebagai manager perencanaan utama, kau hanya ketua tim kreatif, butuh waktu beberapa tahun untuk mengambil alih jabatanku” kira-kira hanya 5 centi jarak wajahku dengannya. Deru nafas beraroma mint menyapu permukaan kulit wajahku.
“kau pikir kau siapa? Bisa saja besok presdir Choi langsung mengumumkan bahwa Jung Hae Ra, ketua tim kreatif dinaikkan jabatannya menjadi manager perencanaan menggantikan posisi Kwon Jiyong” lagi-lagi aku mengangkat dagu, menunjukkan victory glare yang belakangan ini menjadi andalanku.Dengan cepat kuinjak kakinya dengan sepatu high heels yang kukenakan lalu kabur meninggalkannya yang tengah meringis kesakitan.
“Ya ! Jung Hae Ra !tunggu pembalasanku !”  lalalalala ~ dia pikir aku takut dengan ancaman konyol seperti itu? Sungguh kekanak-kanakan !Bahkan tekadku sudah bulat untuk menendangmu dari jabatan yang begitu membuatmu seolah berkuasa di perusahaan itu.
***
Ohh..laki-laki bertubuh proporsional. gaya rambut yang sesuai dengan bentuk wajah. Tatapan matanya sebagai pilar utama di wajahnya yang rupawan.Calon pewaris perusahaan otomotif ternama di Korea dan Jepang.Relawan hampir di setiap kegiatan bakti sosial.Bukankah Kim Jae Joong sangat sempurna untuk menjadi lelaki idaman?Bahkan aku yakin sosok wanita seperti Kim Tae Hee pun bisa dibuat tergila-gila olehnya.
“Hae Ra~ya..itu lenganmu. Kenapa lebam seperti itu?”Jae Joong oppa membuyarkan lamunanku. Aku baru ingat tentang cengkraman Jiyong tadi sore membuat lenganku sedikit bengkak. Tapi bersama Jae Joong oppa, aku bisa melupakan semuanya (?).Larut begitu saja.Mungkin aku bisa melupakan siapa namaku dan darimana aku berasal.Konyol.
“ahh.. tadi aku tidak sengaja menyerempet tembok di kantor, ya jadi seperti ini. Hehe” jawabku cengengesan.Ia hanya ber –oh- ria sembari melanjutkan makannya. “apa salah tembok itu hingga kau serempet? Ckckck. Kau dendam padanya? Huahahaha”  candanya lalu tak lama kemudian batuk karena tersedak. Aku menahan tawa melihatnya, ia pun bisa bertindak lebih konyol dariku. Anggaplah bahwa kekonyolan kami adalah satu tiket untuk mendapat gelar ‘serasi’
“ya oppa ! kau bisa mati tersedak jika tertawa seperti itu” kusodorkan segelas minuman dan langsung ditegukknya sampai tetes terakhir. “aku tidak akan menyesal jika wanita cantik sepertimu adalah orang terakhir yang kulihat saat aku menghembuskan nafas terakhir”
Blush !bagaimana ekspresiku saat ini? Apa warna semburat yang timbul dipipiku? Seseorang, bisakah kau membawaku terbang ke surga?
“aishh jinjja ! tapi jika mati tersedak itu sangat tidak ellite. Setidaknya kau harus mati dengan alasan yang lebih terhormat tuan Kim !hahaha !” candaku dan beberapa menit kemudian  sebuah jitakan mendarat mulus di keningku.Suatu tradisi baginya. “awww .. neomu apa !”
“kau sangat ingin aku mati? Hah? Lihat saja..hidupmu tidak akan tenang, Jung Hae Ra ! aku akan selalu menghantuimu !”
Entah mendapat kesadaran dari mana aku berkata diluar kehendakku “yaa … kalau kau mati, aku pun juga ingin ikut mati bersamamu oppa” ia hanya terdiam, hening beberapa saat. Namun tak lama ia membalasnya dengan tawa. Apa ia pikir aku bercanda? Tidak oppa ..aku bersungguh-sungguh. Kumohon, jangan seperti ini..
“kau lucu sekali Hae Ra~ya” tangannya mengacak – acak puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum miris.Nasibmu sungguh malang, Jung Hae Ra.
 Kim Jae Joong, kapan kau akan menyadari perasaanku padamu? Butuh berapa lama lagi bagiku untuk menunggumu?Apa aku harus menulis surat wasiat terlebih dahulu agar kau bisa berhenti menganggapku hanya sebatas ‘sahabat’
***
Kubanting lemah tubuhku diatas ranjang sesampainya aku dirumah.Memikirkan kata-kataku saat bersama Jae Joong tadi.Entahlah, jika sedang kesal aku tidak berminat memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’. Yahh walaupun sebenarnya memang tidak perlu karena usia kami hanya terpaut 4 bulan.
Tok tok tok ..
Seseorang mengetuk pintu kamarku dan tak lama disusul wanita parubaya yang membukanya.Eomma .
“Hae Ra, tadi boss’mu dikantor menelepon ke rumah, katanya ponselmu tidak aktif” aku bangkit dari ranjang kemudian mengecheck ponselku di dalam tas. Low Batt !Ceroboh !
“ahh iya eomma, mian aku tidak tau. Apa dia menitip pesan?” eomma mengangguk, iya berjalan masuk lalu duduk ditepi ranjang bersamaku. “katanya besok kau harus membawa proposal yang lebih rinci dan kemungkinan kau akan bekerja lembur. Itu saja yang dia katakan pada eomma”
“proposal yang lebih rinci? Bekerja lembur?Haruskah? Aishh “ kubaringkan lagi tubuhku. Eomma hanya mengelus kepalaku pelan sambil tersenyum. “bukankah Jung Hae Ra ingin menjadi wanita yang sukses dan dihormati? Semua harus dilakukan dengan kerja keras, ayo semangat”
Aku membalas senyumnya yang hangat.Senyum yang selalu kurindukan jika sedang tidak bersamanya.Walau hanya beberapa jam.
Hingga sang surya menyingsing dari ufuk timur ..
Aku memulai hari ini dengan malas.Tidak ..hampir setiap hari kuawali dengan kemalasan yang menguasai 75% sarafku. Sisanya hanya untuk bergurau tentang kata ‘semangat’ ‘kau pasti bisa’ dan ‘semuanya akan lancar’.Itu hanya gurauan.
90 menit waktu untuk bersiap-siap kembali ke kantor. Proposal?Hanya perlu menambahkan beberapa kalimat penjelas dan mengeprint’nya ulang. Apa mungkin ‘proposal lebih rinci’ adalah makna lain  dari ‘aku harus kerepotan di tengah malam hingga pagi hari’ ?
***
Author’s POV
Jung Hae Ra. Wanita lajang yang baru beberapa minggu menapaki kariernya di bidang entertainment khususnya pagelaran musical di sebuah perusahaan swasta kawasan Gang Nam.Lulusan bergelar S1 Universitas Yonsei jurusan sastra di usianya yang baru saja menginjak 23 tahun.Modal yang cukup untuk membuka jendela dunia yang lebih luas.Menjadi sukses dan dikagumi serta menjadi panutan banyak wanita di Korea Selatan.
Dengan tubuh langsing, kulit seputih susu dan kaki jenjang. Ia melangkah dengan sangat percaya diri memasuki gedung perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang menjadi tempat pertama dan satu-satunya ia bisa mewujudkan tekadnya selama ini. Sebuah map berwarna biru sangat hangat dalam dekapannya. Walau dalam hatinya ia juga sedikit mendidih dengan ‘kecerewetan’ bossnya.
“jwiseonghamnida agasshi, bisakah aku menitipkan map ini pada presdir Choi? Gomapta” ucapnya seraya membungkuk pada sekretaris pribadi presdir. Ia hanya mengangguk seolah mengerti dengan kalimat singkat Hae Ra  beberapa detik yang lalu.
“ku dengar hari ini boss menyuruhmu bekerja lembur? Begitukah?”Sung Min Ji, karyawan pertama yang menyambut hangat kedatangannya pagi itu. Hae Ra hanya tersenyum masam, mengisyaratkan kalau ia sangat ingin berkata ‘bisakah kau membantuku membunuh presdir cerewet itu?’
“jiahaha .. kau tidak akan bekerja lembur sendirian nanti. Tenang saja” ucap Min Ji diawali tawanya yang khas.Hae Ra menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan maksud perkataan Min Ji. “wae? Kau tidak tau?Presdir Choi meminta bantuan manager Kwon untuk mendampingimu bekerja lembur nanti. Ku kira kau sudah tau akan hal itu”
Bagai tersambar petir di pagi yang bahkan tak nampak sekumpulan awan hitam.Hae Ra hanya bisa melongo.Lembur? Manager Kwon? Mendampingi?  Rasanya detik itu juga ia ingin mencekik boss’nya sendiri. Namun ia masih bisa berpikir rasional dan akal sehat 80% masih menguasai otak besarnya.
Sung Min Ji berlalu meninggalkan Hae Ra setelah menepuk pelan bahunya.Ia tau betapa buruknya hubungan antara teman karib dan manager kesayangan presdir itu.
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Sudah lewat dari waktu normal para karyawan perusahaan meninggalkan tempat mereka. Tak terkecuali sang presdir dengan raut tanpa dosa berkata pada Hae Ra dan Jiyong untuk segera menyelesaikan tahap pemilihan actor/aktris pemeran. Tentu hal itu membutuhkan diskusi panjang lebar, terlebih lagi pagelaran tersebut sangat berarti dalam menunjang karier Hae Ra sendiri.
“kau tinggalkan saja aku sendiri. Biarkan aku yang lembur. Pulang sana ..“ ucap Hae Ra ketus saat mereka masuk ke dalam ruang meeting. Hanya mereka berdua di ruangan itu. Ya..mereka berdua. Jiyong dan Hae Ra.
“kau gila? Setelah sampai dirumah. Hanya beberapa jam aku dapat tidur pulas dan besok aku pasti dipanggil untuk menghadap pada presdir kemudian menerima pesangon. Sudah turuti saja kemauannya.Lagipula aku lebih berpengalaman dalam memilih pemeran. Kau masih baru, jangan sombong”
Hae  Ra hanya menguap lebar mendengar celotehan panjang Jiyong. Lebih baik baginya untuk segera bekerja daripada berdebat dengan musuhnya itu. “annyeong.. Nona Jung, Tuan Kwon. Bolehkah saya masuk?” serempak Jiyong dan Hae Ra menoleh mendengar suara itu.Beberapa detik kemudian seseorang dengan seragam office boy masuk membawa nampan berisi 2 cangkir kopi diatasnya.
“ahh.. maaf telah mengganggu pekerjaan kalian. Ini, kubuatkan kopi hangat agar pekerjaan kalian lancar” laki-laki yang usianya hampir 50 tahun itu sedikit membungkuk setelah meletakkan 2 cangkir kopi diatas meja. “ahjussi, apakah hanya tinggal kita bertiga yang ada di kantor?”
Hae Ra merasa bergidik karena harus lembur, ia cukup percaya dengan hal-hal mistis di lingkungan kantornya ini. Jiyong menoleh kearah Hae Ra karena bingung dengan pertanyaan itu. “masih ada 2 security di luar, jadi ada 5 orang yang masih tinggal. Memangnya ada apa nona?”
Hae Ra dengan cepat mengelakkan persepsi pandangan 2 laki-laki didekatnya itu yang seolah mengejeknya ‘dasar penakut !’ia tetap menjunjung tinggi harga dirinya  “eng .. tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.Hehe.Kau boleh pergi sekarang. Terimakasih kopinya”
2 jam sudah waktu berjalan. Meeting mereka habiskan dengan berdebat hebat.Semacam tak ada yang mau mengalah dengan pendapat yang bukan keluar dari mulut mereka sendiri.Egois. Seperti itulah cara menggambarkannya.
“terserahlah !sebenarnya untuk apa presdir Choi menyuruh kita untuk bekerja lembur kalau hanya digunakkan untuk berdebat tidak karuan ! kita lanjutkan besok di kantor !” umpat Hae Ra sembari membereskan –atau lebih tepatnya membanting- dokumen dokumen yang ia bawa. “ya !masih untung aku mau menemanimu ! kalau tidak, bisa habis kau diruangan ini sendirian !”
“aku tidak dengar !”
“dasar wanita tidak tau sopan santun !”
“lalalalala”
“wanita gila !”
“aku hanya sendirian di ruangan ini. Lalalala”
Begitu seterusnya.Sebagainya.Dan lain-lain.Dan lain –lain.
Hingga emosi Jiyong memuncak karena merasa tidak dianggap.Membuatnya menggebrak meja dengan keras.Tak dipungkiri kalau Hae Ra pun sampai terlonjak kaget.Namun beberapa detik setelah aksi Jiyong itu, lampu diruang meeting mati.
Suasana menjadi gelap gulita. Hae Ra yang notabenenya phobia akan gelap menjadi panik. “Jiyong !ada apa ini? Kenapa jadi gelap?!Siapa yang mematikan lampunya?!Jiyong kau dimana?!”
“Ya !aku disini ! Jangan berteriak seperti itu !” pekik Jiyong sama halnya dengan Hae Ra, ia berteriak tak kalah nyaring. LOL -__-
Mendengar suara Jiyong didekatnya, dengan asal ia memeluk lengan Jiyong kuat-kuat. Hae Ra berpikir ia tak mau mati ketakutan di kantor ini. “a.. apa yang kau lakukan?! Lepaskan !”Jiyong berusaha melepaskan tangan Hae Ra dari lengannya.Namun gadis itu memeluknya semakin erat.
“a.. a .. aku takut ! cepat hidupkan lampunya !”
“apa?! Kau pikir aku yang mematikannya?!”
“ya kupikir begitu !”
“dasar gadis tengil ! dari tadi aku bersamamu ! mana mungkin aku pergi mematikan lampunya !
Mereka saling berteriak satu sama lain. Bahkan mereka pun tak dapat melihat secercah cahaya di ruangan itu.Benar-benar gelap, seakan-akan membuat mereka buta dan hanya bisa berteriak.
Beberapa menit suasana menjadi hening.Perlahan mereka meraba-raba kursi yang tadi di duduki dan memilih untuk kembali duduk. Pasrah akan keadaan, menunggu lampu kembali menyala, serta tetap pada posisi mereka –Hae Ra yang ketakutan menekan kuat harga dirinya dengan menempel terus pada lengan musuhnya-.  Setelah melewati malam ini mungkin ia akan membersihkan tubuhnya dengan kembang 7 rupa dan bersemedi di bukit Namssan (#author ngaco -_-v)
***
Kwon Jiyong’s POV
Kubuka perlahan kelopak mataku.Membiasakan diri dengan cahaya putih yang memaksa masuk.Samar-samar aku melihat ruangan yang tak asing bagiku. Oh ya..ini kan kamarku -_-
Ahh ..nyamannya. Aku merasa betapa empuknya ranjangku pagi ini.Dengan manja tubuhku bergeliat, masih enggan untuk beranjak dan memilih lebih lama untuk melewati pagi bersama para bantal kesayanganku.Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, namun aku ingat betul kejadian mati listrik saat aku bekerja lembur kemarin. Jung Hae Ra, dengan tak tau malunya ia selalu menempel padaku dengan alasan takut. Hah !itu hanya alasan !
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kamar dan mendapati sebuah foto berbingkai yang cukup besar.Di foto itu, ada aku yang memakai tuxedo putih, sangat tampan, ku akui itu.Dan seorang wanita mengenakan gaun berwarna senada, menggandeng tanganku sembari membawa sebuket bunga.Yaa ..cantik. Kami berdua tersenyum bahagia disana.Sungguh serasi.
Semakin kupicingkan mataku.Foto itu semakin terlihat jelas.Ehh ..tunggu !
Aku mengenakan tuxedo putih?Seorang wanita yang mengenakan gaun?menggandeng tanganku sambil membawa buket bunga? Tersenyum bahagia?Serasi?!!!!Mataku membelalak lebar seketika.
Hyaa !foto apa itu?! Kenapa Jung Hae Ra menggandeng tanganku?!!Kenapa foto itu terlihat seperti foto pernikahan?!!
Sesuatu bergerak diatas tempat tidurku.Aku dapat merasakannya. Dengan takut-takut aku menoleh kearah samping….. JUNG HAE RA??!!!!!!
Bagai menabrak tembok China (?), aku terlonjak hingga jatuh dari ranjang. Kulihat ia perlahan membuka matanya …
KYAAAAAAAAAAAAAAAAA  !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
 
Jung Hae Ra’s POV
Apa ini?!! Apa yang terjadi??!!! Kenapa aku bisa satu ranjang dengan Jiyong ?!!!
Dengan cepat aku mengubah posisiku menjadi duduk.Sekilas kulirik tubuhku yang hanya mengenakan tank top. Oh Tuhan …. Apa yang terjadi?!!!
“kau !kenapa bisa disini?! Kenapa kau berada di kamarku ?!ahh ..bahkan kau tidur satu ranjang denganku !!” Jiyong dengan keras berteriak padaku.Aku pun masi shock dengan semua ini.Aku hanya bisa mengatur nafas dan mencoba berfikir keras. “ya kenapa kau diam saja !” teriaknya lagi.
Aku menatapnya garang, “aku juga tidak tau !kau pikir aku sengaja tidur satu ranjang denganmu hahh ?! aku bukan wanita jalang !!” pikiranku menjadi kacau. Kenapa bisa seperti ini?Kenapa aku bisa berada disini?! Tuhan .. kuharap ini hanya mimpi.
“lalu apa?! Dan kau hanya … hanya mengenakan tank top?!”
Aku mendelik, atau jangan-jangan .. “kau juga ?! kenapa hanya memakai celana?! Kenapa tidak pakai baju?!Kya !apa kau berniat memperkosaku?!” kututupi tubuhku dengan selimut hingga sebatas leher. Kini wajahnya terlihat pangling.
“a .. apa?!! Aku ?!memperkosamu?! Ti ..tidak .. Tidak..mana mungkin !” tukasnya berusaha meyakinkan. “lalu apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?!” kutarik selimut hingga kini kepalaku ikut tenggelam disana.Jantungku berpacu dengan cepat.Bagaimana bisa? Bukankah kemarin kami masih berada di kantor? Tapi sekarang … Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
“ya !kenapa pagi-pagi kalian sudah berteriak-teriak begitu, hmm?” terdengar lembut suara wanita parubaya yang kurasa berada didekatku. “eomma?” kata Jiyong, membuatku menyibakkan selimut dan berusaha duduk kembali.
“ada apa? Ayolah bangun, lalu pergi mandi.Ibu sudah menyiapkan sarapan” wanita itu tersenyum padaku dan Jiyong.Kami saling menoleh dan mengangkat bahu bersamaan.Raut wajahnya terlihat kikuk, tak jauh berbeda denganku.Setelah wanita yang dipanggil ‘eomma’ itu pergi.Jiyong kembali duduk ditepi ranjang.
Ia menghela nafas berat, dan kemudian sunyi. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Mencoba mencerna apa maksud dari semua ini. “dia .. ibumu?” tanyaku memecah kesunyian. Dia membalasnya dengan anggukan kecil.Lagi-lagi kami diam. Entah mendapat perintah darimana, serentak kami menunduk.
Beberapa menit berlalu, ia mendongak dan menoleh padaku, tatapan kami bertemu, “kau ..mandilah. Kamar mandi ada disana.Kau boleh memakai handukku jika kau mau” suaranya terdengar datar.Pandanganku beralih pada pintu berwarna putih yang ditunjuknya.Aku mengangguk lalu berjalan ragu dan sesekali menoleh ke arahnya.Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terdengar beberapa kali suara helaan nafas beratnya.
***
Author’s POV
 
Wanita parubaya yang dipanggil eomma oleh Jiyong itu duduk manis di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan meja makan. Di depannya ada beberapa potong roti dan nasi goreng buatannya sendiri.Kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman tatkala putra bungsunya dan Hae Ra menghamipirinya lalu ikut duduk.
“bagaimana malam pertama kalian?” tanya ibu Jiyong tanpa basa-basi. Raut wajahnya tak sabar menanti jawaban dari kedua orang itu.
“uhukk..” hampir saja Hae Ra menyemburkan air mineral yang baru saja ditenggaknya. “ma .. malam pertama? Maksud eomma?”Jiyong  nampak bingung dan sekilas menoleh pada Hae Ra yang hanya menautkan kedua alisnya.
“ya malam pertama. Bukankah hal itu biasa dilakukan sepasang suami istri seusai pesta pernikahan mereka? Kau ini bagaimana sih”
“apa?!! Sepasang suami istri?!Kami ?!” pekik Hae Ra tak percaya. Jiyong hanya menganga lebar dan masih tidak mengerti.
“eomma tidak bergurau kan? Kita sudah menikah?Kapan? Ini tidak lucu, eomma”
Ibu Jiyong sedikit terkejut dengan kata-kata Jiyong beberapa detik yang lalu.Suasana di ruang makan nampak mencengangkan bagi Jiyong dan Hae Ra. Tubuh mereka menjadi panas ditengah udara musim dingin.
“ya !kalian ini kenapa sih? Kalian mengigau ya?Baru satu hari menjadi suami istri kenapa pikiran kalian menjadi kacau begini? Ya sudah ..sepertinya kalian masih butuh istirahat”  ucap wanita itu lalu beranjak meninggalkan mereka yang masih mematung.
Keringat mengalir dari pelipis Jiyong, sama halnya dengan Hae Ra. Entahlah sudah berapa kali mereka menelan air liur mereka sendiri. Mungkin setelah ini perut mereka akan kembung (?)
Beberapa menit kemudian Hae Ra berlari menuju kamar Jiyong dan mengunci pintunya dari dalam.Jiyong yang terlambat menyusulnya berusaha meminta Hae Ra membuka pintunya. “Jung Hae Ra ..kumohon buka pintunya”
Hae Ra tak menjawab, hanya terdengar isakan tangis yang cukup keras.Jiyong mengetuk pintunya berulangkali namun nihil.“Aku tau kau sangat terkejut, begitupula denganku.Bukalah pintunya, agar kita bisa bicara. Hae Ra~ssi”
1 detik ..
2 detik ..
3 detik ..
“jangan membuatku merusak pintu kamarku sendiri jika kau tetap tidak mau membukanya”  ucap Jiyong mulai tersulut emosi. Mereka butuh bicara, berdua. Itu yang menurut Jiyong harus ia dan Hae Ra lakukan.
Cklekk ..
pintu terbuka perlahan dan muncul sosok Hae Ra dengan wajah yang basah karena air mata, “mianhae ..” katanya sambil terisak dan membuka lebih lebar pintunya. Jiyong dengan cepat masuk lalu menutup kembali pintunya.Hanya berdua, Ibunya tak boleh ikut campur.
“bagaimana ini .. bagaimana ..ottokhaeyo??” Hae Ra semakin gusar, kata-katanya diselingi isakan tangis.Bahunya naik turun tak dapat mengatur nafas dengan benar.Jiyong pun menjadi kalut.Semua ini membuatnya gila.Namun isakan Hae Ra terdengar begitu menyayat hatinya (?).Ia tidak tega jika melihat wanita menangis seperti itu, walaupun notabenenya Hae Ra adalah sesuatu hal yang harus disingkirkan dalam kariernya.
Jiyong mendekati gadis itu dan menepuk pelan bahunya. Berusaha membuatnya tenang, walau ia sendiri tak kalah kacau. Setidaknya hal ini masih bisa diluruskan (?)
Hae Ra menyandarkan kepalanya di pundak jiyong. Entah bisikan iblis mana yang membuatnya melakukan hal itu, tapi ia tak memungkiri kalau pikiran kelamnya sejenak bisa sirna.
“kau .. tetaplah seperti ini jika memang bisa membuatmu tenang” ucap Jiyong, lembut. Hae Ra yang mendengarnya hanya diam. Beberapa detik kemudian ia bangkit dan mengusap seluruh wajahnya dengan baju jiyong. Pria itu mendelik, rasa iba pada gadis itu lenyap tiba-tiba. Tapi ia menarik nafas kuat-kuat, ‘sabar jiyong-ssi ..sabaaarrrr’ desahnya dalam hati.
“baiklah. Begini saja, aku terima status pernikahan ini. Tapi hanya status !selebihnya aku tidak mau tau !” kata Hae Ra dengan penekanan disetiap katanya. “oh iya, kau tidur di kamar lain ! bagaimanapun juga aku tidak mau sekamar denganmu !” lanjutnya.
“cihh .. sesempurna apakah dirimu sampai berlagak sok mengatur seperti itu?! Lagipula siapa juga yang mau menjadi suami wanita kasar semacam kau?!dan … aku tidak mau tidur dikamar lain !”
“hah? Kenapa?Kubilang suami-istri itu cuma status !jangan berharap yang tidak-tidak, Kwon Jiyong !”
“ya !berani-beraninya kau mengusirku dari kamarku sendiri ! eomma juga tinggal disini, bagaimana kalau beliau curiga?! Pakai otakmu !” Hae Ra menggaruk kepalanya dan menyengir kuda. Ia tak berpikir sampai sana.
“oke oke .. kita tidur satu kamar. Eumm..satu ranjang maksudku” ralatnya melihat hanya ada satu ranjang dan bahkan tak ada sofa disana. Ia menghela nafas, kemudian beranjak untuk mengatur posisi ranjang (?) .diletakannya sebuah pembatas berupa guling ditengah ranjang. Jiyong mendecak sembari menggelengkan kepalanya, merasa heran.
“apa salahnya jika aku melakukan hal ‘itu’, lagi pula kita sudah menikah secara sah” desis Jiyong, namun suara itu dapat didengar dengan baik oleh Hae Ra.  “pervert !!” teriak Hae Ra diiringi layangan bantal kearah Jiyong. Pria itu berhasil meloloskan diri sebelum benda terkutuk itu mendarat di ke tubuhnya.
***
“mwoya?! Eomma akan pindah?! Kenapa mendadak sekali?” pekik Jiyong pada eommanya yang tengah menggandeng koper besar. Hae Ra hanya mengintip dari balikpintu kamarnya, Ia masih merasa canggung pada dua orang itu. Tapi sejatinya pikirannya tidak tenang. Jika eomma pindah, itu artinya ia akan tinggal berdua saja dengan jiyoung.BERDUA.
“ck. Eomma tidak perlu lagi tinggal disini. Hae Ra juga akan merawatmu. Sudahlah, eomma titip salam pada Hae Ra, ya. Jaga dia baik-baik” ucap wanita itu to the point dan bergegas menyeret koper ditangannya memasuki mobil pribadinya.Jiyong tak bisa berbuat banyak, Eommanya itu memang paling tidak bisa ditentang keinginannya.
Setelah melihat mobil hitam itu menjauh, ia berbalik. Tapi sebuah pemandangan konyol tertangkap oleh matanya. “sedang apa kau?” tanyanya melihat Hae Ra heran. Hae Ra menjadi salah tingkah dan bingung sendiri.
“a.. aku.. akusedang melihat-lihat pintu ini. Hehe..bagus sekali. Kau mengimpornya?” sahut Hae Ra yang menurut Jiyong amat-sangat-teramat konyol. ‘lihatlah tampang babonya itu’ batin Jiyong.
Tanpa mempedulikan prilaku aneh ‘sang istri’ ia melengos ke dapur dan memilih untuk menenggak segelas air. Hae ra merutuki kesalah tingkahannya di waktu yang sangat tidak tepat.
Ia menyusul Jiyong ke dapur dan mengekorinya. “eommamu akan pindah kemana? Kenapa tidak tinggal disini saja?”
“entahlah, katanya tinggal di Busan lebih nyaman. Memangnya kenapa?Hem?”Jiyong mendekatkan wajahnya dengan Hae Ra. Menempelkan kedua dahi mereka.Aliran darah Hae Ra berdesir hebat.
“bukankah kita bisa leluasa jika hanya berdua?” Jiyong mendorong dahi Hae Ra, membuat gadis itu mundur perlahan.Dan matanya sibuk mencari objek pengalih perhatian. Jiyong tak henti-hentinya menggoda Hae Ra, ia menghembuskan nafas tepat di telinga Hae Ra kemudian berbisik, “babo”
Hatinya mencelos, jatuh kedalam palung lautan luas antartika yang dingin (?) Jiyong terkekeh geli melihat perubahan rona pipi Hae Ra, lalu pergi begitu saja.Rasanya detik itu juga Hae Ra ingin bunuh diri dan digerogoti para semut beserta rekan cacing (?)
***
“ya !bukankah eommamu sudah pindah?! Jadi tidak ada alasan lagi kita tidur satu kamar !pergi sana hushhh” teriak Hae Ra membahana ke setiap sudut kamar bernuansa putih itu. Jiyong diam, memandang datar tapi matanya sangat ingin memusnahkan wanita dihadapannya. “sebagai laki-laki yang tampan, aku mengalah” katanya pasrah. Ia tak mau malam ini ia habiskan dengan berdebat hanya karena sebuah kamar (?).
Hae Ra tersenyum bangga.Diambilnya ponsel yang sudah lama menganggur dan memilih untuk melepas rindu dengan eommanya. Masih sulit memang menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak lajang lagi. Sedikit harapan masih tersimpan didalam hatinya, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, semua akan kembali seperti semula. Aku akan tidur  dan kemudian aku terbangun di kamarku tercinta. Yaa..ini semua hanya mimpi.
***
Cahaya sinar matahari pagi ini menyusup masuk melalui celah ventilasi udara.Memaksa Hae Ra untuk membuka matanya perlahan.Sebuah senyuman mengembang di kedua sudut bibirnya.Ia tak sabar untuk bangun dan memeluk erat eommanya yang paling ia sayang. “Jung Hae Ra !cepat bangun !”
Suara itu memusnahkan semua harapannya yang tinggal sebesar biji kacang kedelai. “ya !kenapa kau malas sekali ?!” lagi-lagi suara Jiyong memekik didepan pintu. Mau tak mau Hae Ra bangun dengan raut bantal (?)
“aku sudah bangun” ucap Hae Ra saat ia sudah membukakan pintu. “sudah bangun katamu? Cihh .. . cepat mandi lalu sarapan”
“kenapa kau peduli padaku?”
“memangnya kenapa? Aku tidak mau ada mayat mati kelaparan di rumah ini. Sudahlah”
Hae Ra hanya mengerucutkan bibirnya mendengar omelan pria itu. “bla bla bla….” Semua tak dapat ia dengar dengan jelas. Pikirannya masih dibayang-bayangi oleh malaikat dari surga (?) .Ia menutup pintunya dan menuruti kata-kata Jiyong. Debat di pagi hari sangatlah tidak elite.
 ***
“kau tidak usah ke kantor selama sebulan ini” ucap Jiyong saat Hae Ra  duduk diseberang meja makan, menghadapnya dengan mengenakan blouse coklat muda yang rapi. “eh? Waeyo?”
“presdir Choi memberi kita cuti satu bulan seusai pernikahan. Cshh ..apa-apaan ini” dengus Jiyong sembari menyeruput kopi hangatnya. Mata Hae Ra membelalak lebar, “apa kau bilang?! Cuti?Bagaimana bisa?Lalu ..bagaimana nasib project’ku ?!!”
Jiyong hanya mengangkat bahu, tidak peduli. “arghh .. tidak bisakah kita membuat surat cerai?! Ini benar-benar membuatku gila !”Hae Ra mengacak rambutnya gusar.Pikirannya kembali kalut.
“ya !kau pikir mengurus perceraian itu mudah?! Ini baru hari kedua pernikahan kita !kau mau membuat orang tua kita kena serangan jantung hah?!” akal sehat Jiyong bekerja dengan baik pagi ini. Ia mengerti betapa Hae Ra sangat tertekan.
“Kau dan aku, hadapi semua bersama.Aku mengerti, sangat mengerti project itu begitu berharga bagimu.Tapi kau bisa menundanya sampai satu bulan kedepan.Kau juga harus memikirkan bagaimana perasaan orang tua kita jika mendengar kata perceraian” tutur Jiyong.Hae Ra mengangguk paham sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
“mianhae”
Jiyong berjalan mendekati Hae Ra, mendekapnya perlahan dan mengelus belakang kepalanya. “kau yang bilang untuk jalani saja. Kita lakukan. Seterusnya kita pikirkan nanti”
“maaf emosiku menjadi labil seperti ini. Sangat merepotkan, bukan?”Hae Ra terkekeh, tetap pada dekapan Jiyong. Ini kedua kalinya, ia merasa nyaman dalam pelukan musuhnya.
Beberapa menit berlalu, semua nampak tenang.Berbeda 180° dari sebelumnya.Walau kata ‘canggung’ masih membatasi mereka, tapi setidaknya kehangatan mulai terasa di tengah musim dingin ini.
Sepertinya ‘di tengah musim dingin’ tidak tepat lagi, karena mungkin beberapa hari lagi musim semi akan tiba. Sangat sayang untuk dilewatkan mengingat suatu kebetulan bahwa pergantian musim tepat di akhir pekan. Orang awam pasti akan memanfaatkan hari tersebut untuk berlibur. Entahlah bagaimana dengan Jiyong. Mungkin ia juga akan berpikir demikian. Mungkin.
“apa kau jenuh?” Jiyong bertanya ragu, takut terdapat kesalahan pada kata-katanya.Hae Ra hanya mengangkat bahu sembari menggigit sendok.Kegiatan makannya berhenti karena 3 kata dari Jiyong.
“lusa, kita bisa berlibur. Jika kau mau. Aku tidak memaksa”
Hae Ra yang hobinya tak jauh dari traveling, bersorak dalam hati.Namun tak diungkapkan begitu saja melalui raut wajahnya. “ide bagus”
 ***
Membutuhkan waktu beberapa jam perjalanan dari Seoul menuju Pulau Jeju. Keinginan Jiyong sebenarnya bukan Jeju, melainkan Nami atau Mokpo. Tapi ia cukup tau bahwa di pulau Nami tidak mudah menemukan villa kosong, dan di Mokpo cuaca sangat tidak menentu menjelang pergantian musim.
“whoaaa .. kau membeli villa ini?” tanya Hae Ra, terkesima dengan design interior villa yang begitu memukau. Bibirnya tak berhenti menganga memperhatikan detail setiap sudut ruangan itu.
“tidak, eomma membantuku menyewanya beberapa hari lalu. Sebenarnya kami mau berlibur.Tapi ..”
“tapi apa?”
“ehm.. tidak apa-apa. Istirahatlah”
Jiyong tak ingin merusak suasana menjadi seperti pagi lalu, ini sudah cukup tenang. Sebaiknya ia tak usah banyak bicara soal rencana liburan bersama eommanya. Selain mengingatkan hae Ra tentang status mereka, ia juga akan merasa bersalah.
Hae Ra memiringkan sedikit kepalanya dan berlalu menuju lantai dua villa itu. Tapi sesampainya di lantai dua, ia tak menuruti saran Jiyong untuk beristirahat. Ia lebih memilih untuk membuka pintu teras kamar dan memandangi birunya lautan didepan matanya. Begitu indah.
“kenapa malah diam disini? Anginnya sangat kencang” suara Jiyong menghampiri Hae Ra, namun laki-laki itu juga ikut berdiri disamping Hae Ra. Melipat kedua tengannya di atas pagar teras itu.
“aku tidak akan terbang. Kau yang harusnya tidak disini, tubuhmu itu terlalu kurus.Bisa-bisa kau dibawa kembali ke Seoul” gurau Hae Ra. Jiyong tertawa kecil dan berusaha membalas ledekannya. “ya !tubuhku ini cukup atletis. Apa kau tidak bisa melihatnya?”
“atletis? Cihh ..kau itu pendek, sadarlah. Hahahaha”
Kali ini Jiyong merasa terhina (?), “sadarlah kau lebih pendek dariku !” tantang Jiyong, ia mendekati Hae Ra dengan tatapan yang sulit diartikan. Hae Ra hanya diam, dalam hatinya berdoa semoga besok ia masih bisa bernafas dan melihat matahari terbit dari timur (?) -LOL-
Semakin mendekat, kemudian dengan sigap ia menggelitiki pinggang Hae Ra. Membuat gadis itu tersentak kaget dan sontak mengeluarkan tawanya.
“kyaa hentikaaaaann … huahahahaha”
“tidak akan. Kau harus kuberi pelajaran”
***
Keesokan paginya, matahari di pulau Jeju nampak cerah.Persis seperti perkiraan cuaca yang mengatakan akhir pekan ini adalah pergantian musim.Walaupun udara masih cukup dingin, namun sinar matahari dapat mengimbanginya.
“morning “ sapa Hae Ra pada Jiyong yang baru saja keluar dari kamarnya. Jiyong membalasnya dengan senyuman dan duduk di pantry dapur.Memandangi Hae Ra yang tengah sibuk berkutat dengan piring di tangannya.Gadis itu nampak elegan, dan juga cantik.Bola matanya tak berhenti memerhatikan setiap inch gerakan Hae Ra.
“ya .. kenapa pagi-pagi kau melamun? Oh iya, aku tidak tau apa makanan favoritmu, jadi aku buat roti panggang saja. Hehe”
Sejenak Jiyong terhanyut, Hae Ra memikirkan makanan favoritnya?Sungguh diluar dugaan. Bahkan ia sempat berpikir kalau Hae Ra sama sekali tak mau mengurusi masalah sarapan dan sejenisnya. Tapi sekarang …
“aku tidak suka memilih-milih makanan” Jiyong menyuapkan roti panggang itu kedalam mulutnya. Hae Ra duduk dikursi lain pantry yang berdekatan dengan Jiyong, menopang dagunya dan mulai bertingkah aegyo. “jinjja? Jadi jika aku memasakkanmu cacing goreng dengan bumbu kalajengking, kau mau memakannya?Whoa ..aku sangat bangga” lagi-lagi Hae Ra bergurau, membuat Jiyong mendesis dan menunjukkan death glare’nya. Hae Ra berdehem, mengerti tatapan itu, ia bangkit dan kembali ke dapur. Takut terjadi hal yang tidak-tidak.Jiyong hanya tertawa melihatnya.
“aku mau jalan-jalan, kau ingin ikut?” tanpa aba-aba Hae Ra langsung berlari ke arah Jiyong, ia tersenyum lebar.
Jiyong menyewa 2 sepeda gayung, satu untuknya dan satu lagi tentu saja untuk Hae Ra. Ia mengajak Hae Ra bersepeda mengelilingi taman buatan di sekitar villa itu namun begitu ramai karena bersebelahan langsung dengan salah satu lokasi acara pekan raya musim semi. Banyak stand penjual makanan dan beberapa souvenir khas pulau Jeju. Membuat mata Hae Ra berbinar dan rasanya ingin membawa pulang semua yang ada disana. Termasuk patung berbentuk minimalis yang dipegangnya saat ini.
“tidakkah ini sangat lucu? Haff .. tapi sayang harganya sangat mahal” Hae Ra menunjukkan patung itu pada Jiyong, tapi karena ragu ia letakkan kembali.
“kenapa kau sangat menyukai benda seperti itu? Apa kau bisa memakannya? Ckckck”
“dari segi fungsional, benda ini memang tidak berarti. Tapi lihatlah dari segi estetisnya, cetakan patung ini sangat halus dan rapi. Kau memang tidak tau soal seni ya” Jiyong hanya menggeleng mendengar celotehan Hae Ra. Sekilas ia melirik patung itu, namun tak lama kemudian ia menggenggam tangan Hae Ra dan menyeretnya pergi. Mendengar Hae Ra bicara panjang lebar membuat perutnya lapar (?)
Jiyong memilih salah satu restaurant sea food yang letakknya dekat dengan pantai. Ia ingat sejak kecil, ibunya sangat sering membawanya ke tempat seperti ini. Jadilah sampai sekarang ia sangat menyukai suasana pantai.
“aku mau ke toilet” ucap Hae Ra sedikit tergesa-gesa. Jiyong mengangguk sebagai respon, dan langsung memanggil salah satu pelayan disana untuk memesan makanan.
Sementara itu, Hae Ra agak kebingungan mencari letak toilet tersebut. Tapi seseorang terlebih dahulu memegang pundaknya, membuatnya refleks menoleh dan cukup terkejut.
“Oppa?”
***
 “dasar wanita gila ! dia pergi kemana sih?! Apa tidak bisa bilang dulu padaku?! Aishh” umpat Jiyong, setelah hampir 2 jam lebih ia menunggu Hae Ra kembali dari alasan toiletnya itu. Jiyong memutuskan untuk kembali lagi ke villa, tak peduli pada keadaan Hae Ra yang mungkin tersesat ataupun tenggelam di pantai.
Di perjalanannya kembali ke villa, Jiyong melewati lagi stand penjual patung yang sangat dikagumi Hae Ra pagi tadi. Patung itu cukup unik, pantas saja Hae Ra sangat menyukainya. Jiyong tertawa kecil, mengingat Hae Ra yang mengoceh tentang segi estetis atau apalah itu. Gadis itu, hidupnya penuh dengan teori.
“Agassi, aku beli patung ini”
***
Sementara itu, ditempat yang berbeda namun pada waktu yang sama. Pantai menjadi lebih bahkan sangat indah karena pria disampingnya. Hae Ra tak henti-hentinya memancarkan senyuman manisnya pada Jae Joong. Entahlah, baginya seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan laki-laki ini.
“kenapa kalian memilih pulau Jeju untuk bermulan madu? Bukankah Jiyong itu punya banyak uang? Kenapa dia tidak mengajakmu berkeliling Eropa saja?”
Senyuman Hae Ra luntur begitu saja hanya dengan beberapa kalimat. ‘jadi, dia tau soal pernikahan itu? Oppa, aku mencintaimu, bukan dia’
Hae Ra menangis dalam hatinya. Mengutuk perasaan gembira 2 jam lalu saat bertemu kembali dengan Jae Joong. Ia diam, tak menjawab maupun berkomentar. Menarik nafas dalam-dalam untuk menahan sakit di dadanya.
“waeyo? Ada sesuatu yang terjadi?” Jae Joong menatap mata Hae Ra lekat-lekat. Mencoba mencari sesuatu yang tak ia ketahui di manik hitam itu. “gwaenchana. Oppa, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
“tentu ..”
Tanpa pikir panjang, Hae Ra menghamburkan pelukannya pada Jae Joong. Memeluknya sangat erat. Memusnahkan jarak diantara mereka, seperti enggan untuk membiarkan jarak itu hadir dalam dekapannya.
“eh? Hae Ra? Kau baik-baik saja?”
“oppa .. bawa aku pergi. Bawa aku pergi jauh bersamamu” Jae Joong merasa kaos yang ia kenakan menjadi sedikit basah. Ia tau gadis ini sedang menangis dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
“ada apa? Ceritakan padaku, hm?”
Hae Ra menarik nafas panjang, dan dalam suara yang gemetar ia mengatakan semua itu. Semua yang ia pendam. “nan jeongmal saranghae”
Jae Joong tersentak, bahkan sampai melepas dengan kasar pelukan Hae Ra. Ia tak percaya pada apa yang beberapa detik lalu gadis ini katakan. “kau bicara apa?! Mana boleh kau mengatakan hal seperti itu? Statusmu sudah menjadi seorang istri, Jung Hae Ra !” dengan lancang Jae Joong membentak Hae Ra diiringi suara tingginya.
Hae Ra hanya menangis, sembari menutup mulutnya dan terisak. Ia merasakan dadanya sesak, sangat sesak hingga sulit menghirup oksigen disekitarnya. Jae Joong menarik tangan Hae Ra kasar, menanyakan dimana alamat villa tempat mereka menginap dan ingin mengantarkannya pulang sebelum hari mulai malam. Hae Ra berusaha melawan, namun lagi-lagi Jae Joong membentaknya. Laki-laki itu tak mau Jiyong tau soal ini.
Apa daya, Jae Joong benar-benar mengantarkan Hae Ra kembali ke villa hingga saat ini mereka tepat berada di pintu masuk yang cukup besar itu. Hae Ra menggenggam kuat lengan Jae Joong, ia menatap wajah tirus laki-laki itu dan menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa ia benar-benar tak bergurau soal kata-kata yang ia ungkapkan saat di pantai tadi.
Jae Joong berusaha melepaskan genggaman itu, ia mendorong Hae Ra untuk masuk kedalam. Dengan sedikit paksaan akhirnya gadis itu menurut, berat hati ia melepaskan Jae Joong pergi. Tanpa menoleh lagi, Jae Joong memantapkan langkahnya menjauh.
 Ini tidak benar, Jae Joong merasa semua ini sudah terlambat. Kenapa Hae Ra baru mengatakannya sekarang? Disaat semua sudah tidak ada gunanya lagi. Disaat semua sudah berubah dan tak seperti dulu lagi. Hae Ra sudah memiliki suami, perasaan Hae Ra padanya sudah tak ada artinya. Begitu juga sebaliknya, Jae Joong mencintai Hae Ra lebih dari sekedar sahabat dan sekarang semuanya hanya bisa dirasakan. Tak bisa dimiliki. Haruskah ia bersikap egois? Haruskah ia merebut kembali cinta itu? Hae Ra mengatakan kalau ia mencintainya, jadi apa salah kalau ia mengutamakan sikap individualisnya untuk memiliki Hae Ra?
***
“ada apa denganmu? Kau darimana saja?” Jiyong mengintrogasi Hae Ra sesampainya ia dirumah. Wajah Hae Ra nampak pucat pasi. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
Hae Ra hanya menggeleng lemah,  ia ingin bicara sesuatu tapi rasanya berat sekali. Belum sepatah kata ia ucapkan, kepalanya mendadak pening dan penglihatannya menjadi buram. Refleks Jiyong menangkap tubuh Hae Ra yang terhuyung ke lantai. Sedikit panik namun masih bisa ia kontrol.
Jiyong buru-buru menggendong Hae Ra ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Dilihatnya wajah gadis itu, ada sesuatu yang menggajal dalam rautnya. Tak lama jiyong bergelut dengan pandangannya, ia menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Hae Ra.
***
Gadis itu diam, pandangannya kosong. Tak satupun pertanyaan Jiyong yang ia beri jawaban. Entah apa isi kepalanya itu, Jae Joong? Dia sendiri bingung, otaknya benar-benar kosong dan tak mau memikirkan apapun.
‘Ia seperti mengalami sedikit tekanan batin, kau bisa menghiburnya atau mengajaknya jalan-jalan’ hanya itu kalimat dokter yang diingat Jiyong dan ia pusing setengah mati memaknainya. Apa itu artinya ia harus mengakhiri pernikahannya yang belum genap satu minggu? Bahkan ia juga sebenarnya tak tau asal usul hubungannya dengan Hae Ra yang sampai ke jenjang pernikahan. Sedikit demi sedikit Jiyong sudah mulai mampu menerima situasi yang tidak masuk akal itu, entah itu karena ia pasrah, atau ada sesuatu yang menggetarkan hatinya.
Sampai detik inipun, ia bingung harus mengambil tindakan apa. Bercerai? Mungkinkah? Apa itu solusi terbaik? Namun perceraian tidak sama halnya dengan membalikkan telapak tangan. Lalu bagaimana?
Jiyong membawakan nampan berisi makanan dan meletakkannya di meja dekat Hae Ra berbaring. Saat ini, Hae Ra memang sedang tidak tidur, tapi jiwanya sedang mengkhayal terbang jauh.
“kau mau berbagi cerita denganku?” Jiyong bertanya lembut. Tak seperti biasanya. Tapi ini ia lakukan demi gadis itu. Jiyong takut jika gadis itu semakin tertekan jika ia berbicara ataupun bertindak kasar.
Hae Ra hanya menoleh, 2 detik. Lalu kembali pada aktivitas melamunnya. Nampak seperti orang depresi bagi Jiyong. “kau tidak lapar? Apa makanan kesukaanmu? Biar aku belikan”
Hening. Sunyi. Senyap (?)
Sebenarnya Jiyong amat kesal, tapi ia bisa apa? Jika emosinya meledak, semua makhluk hidup disekitarnya akan terkirim ke alam baka. Dengan ragu dan mungkin agak sedikit gila baginya, ia mengulurkan tangannya. menggenggam telapak tangan Hae Ra, halus. Kali ini ia tak akan menarik tangan itu untuk mencegah atau mengajaknya pergi dengan kasar. Tangan Jiyong detik ini benar – benar terasa lembut. Hae Ra dapat merasakannya, ia menatap Jiyong lama.
“kau kenapa? Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Baiklah, aku tau kalau aku sebenarnya bukan siapa – siapamu, tapi .. ya setidaknya kita bisa berbagi beberapa hal”
Kedua sudut bibir Hae Ra membentuk sebuah senyuman, ia membalas genggaman Jiyong di tangan kanannya. “aku tidak apa – apa”
“kau yakin?”
Hae Ra mengangguk sembari tertawa. Ia berpikir kalau Jiyong kemarin sempat bermimpi aneh, karena itu sifatnya berubah menjadi seperti ini. Tapi Jiyong mengerti dengan maksud dan makna dari tawa itu,  matanya berkilat (?). sontak  Hae Ra menghentikan tawanya.
“Jiyong~ah” panggil Hae Ra, Jiyong berdehem menunggu kalimat yang dikeluarkan Hae Ra selanjutnya.
“aku lapar, bisakah kau membelikanku kimbap?” Hae Ra menunjukkan aegyonya, sangat berbeda dengan keadaan 10 menit yang lalu saat suasana masih canggung dan sunyi. “kau ini sangat merepotkan. Karena aku malaikat, jadi aku belikan”
“yayaya tuan malaikat pendek, selamat membeli, nikmati perjalananmu” Jiyong mendengus, harus ekstra sabar dalam menghadapi istrinya.
Setelah Jiyong benar-benar menghilang dari balik pintu, Hae Ra kembali merenung. Sepertinya ia memang harus benar-benar melupakan impiannya memiliki Jae Joong. Mengingat kejadian saat itu, saat dimana ia ditolak secara tegas tanpa intrupsi. Sakit, sangat sakit. Sampai-sampai ia tak mampu memikirkan hal lain selain penolakan itu.
Dan sekarang, apa yang harus ia lakukan? Sejujurnya, ia sudah tak menganggap Jiyong sebagai musuh sekaligus saingannya lagi. Laki-laki itu sangat baik, walaupun terkadang tingkahnya dan tingkat percaya dirinya membuatmu ingin menelan besi secara utuh. Entahlah, sejak pertama di dekap oleh Jiyong, ia merasa nyaman, ada kehangatan disana. Tapi ia tak bisa mengartikannya secara detail dan terperinci. Begitu rumit hal-hal yang dirasakannya.
Mungkin memang seharusnya begitu, ‘cobalah untuk terbiasa dengan Jiyong’
***
“bagaimana? Enak tidak?” Tanya Jiyong, setelah Hae Ra selesai mengunyah kimbap dimulutnya. “mashita ! kau mau?” seru Hae Ra sambil mengarahkan sumpit berisi kimbap ke mulut Jiyong. Dengan senang hati Jiyong membuka mulutnya lebar, membiarkan Hae Ra menyuapinya. Sungguh sulit dibayangkan jika mereka awalnya adalah sepasang musuh.
Hae Ra memasukkan lebih banyak kimbap ke mulutnya sendiri, hingga penuh dan tak usah ditebak lagi setelah ini ia akan tersedak. Jiyong memberinya segelas air dan diteguknya sampai tetes terakhir. Saking buru-burunya, bibirnya menjadi kotor dengan sisa – sisa makanan.
“kau wanita atau jelmaan setan sih? Kenapa makan saja sampai belepotan seperti itu? Ckckck” Jiyong mengambil tissue di meja lampu sebelah ranjangnya dan membersihkan bibir Hae Ra. Tapi tangannya berhenti, memerhatikan bibir gadis itu. Diluar kehendak, benar-benar diluar kehendak. Jiyong mendekatkan wajahnya pada Hae Ra, kali ini ia tak berniat menggoda ataupun mengerjai Hae Ra. Semakin dekat hingga kini bibirnya bertemu dengan bibir Hae Ra.
Hae Ra mematung, tak membalas maupun menolak. Ia melihat mata Jiyong yang terpejam, sangat menghayati dan membuatnya ikut memejamkan mata.
Tak lama kemudian, Jiyong menyapukan bibirnya pada bibir Hae Ra. Memberikan sedikit lumatan sembari memiringkan kepalanya, membuat akses ciumannya lebih mudah. Hae Ra pun membalas ciuman itu, mengikuti alur kegiatan Jiyong pada bibirnya.
Semakin lama bibir Jiyong beralih pada leher Hae Ra. Memberi gigitan kecil yang menimbulkan bercak kemerahan disana, membuat Hae Ra mulai mendesah. Membangkitkan gairah Jiyong yang tertanam dalam semenjak pertama kali ia tidur satu ranjang bersama Hae Ra.
Kini ia bisa menyalurkan nafsunya itu, perlahan tangannya membelai pinggang Hae Ra. Menyingkap baju yang Hae Ra kenakan lalu dengan mudah menyingkirkannya. Hae Ra hanya bisa pasrah, ia tak tau harus mengambil tindakan seperti apa. Ia mendapati dirinya tengah berada dibawah kuasa Jiyong. Sebegitu tak berdayakah dirinya akan sentuhan Jiyong hingga membuatnya tak sadar telah sejauh ini.
Hae Ra menahan tangan Jiyong yang sedang memainkan puncak dadanya hingga Jiyong pun menghentikan aktivitasnya itu. “apa yang akan kau lakukan?” tanya Hae Ra. Sempat terbesit di benaknya kalau Jiyong ingin melakukan sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Tapi, ia tidak pernah menghendaki pernikahan itu. Bahkan ia pun tak tau kronologis mengapa ia bisa menikah dengan Jiyong.
“melakukan apa yang seharusnya sejak dulu kita lakukan” Jiyong tersenyum dan kembali menjilati payudara Hae Ra.
“akkhhhh… “ tak dipungkiri bahwa Hae Ra pun menikmati semua perlakuan Jiyong terhadapnya hingga membuatnya mendesah untuk yang kesekian kalinya. Jiyong kembali menciumi bibir Hae Ra dan kedua tangannya aktif memijat kedua payudara gadis itu. Lidahnya mencoba menerobos masuk dan mencari lidah Hae Ra disana. Tak lama, tangannya beralih mengelus perut Hae Ra dan semakin turun hingga sampai pada daerah kewanitaan gadis itu yang masih tertutupi celana kain. Menggesek jarinya perlahan pada vagina Hae Ra, membuat Hae Ra menggelinjang.
Sadar akan apa yang tengah dilakukan Jiyong, Hae Ra menghentikan ciumannya. Membuat Jiyong bingung.
“hentikan.. kita tidak bisa melakukan ini” ucap Hae Ra yang berusaha menyingkir dari tubuh Jiyong yang berada diatasnya.
“ah.. maafkan aku. Tidak seharusnya aku berbuat lancang padamu” Jiyong memunguti baju Hae Ra yang tergeletak dan memberikannya pada gadis itu. Hae Ra mengambilnya dengan cepat dan berlari menuju kamar mandi.
Setelah melihat gadis itu menghilang dari balik pintu, Jiyong hanya berdecak kesal sembari mengacak rambutnya gusar. Ia merasa bodoh dengan tindakannya itu, mungkin memang tidak seharusnya ia melakukan hal itu pada Hae Ra mengingat hubungan mereka yang abstrak dan sarat akan logika.
***
“morning .. “ sapa Jiyong, seperti biasa setelah keluar kamar ia akan duduk di pantry dapur dan memandangi Hae Ra. Gadis itu tak menjawab, ia mengalihkan perhatiannya dan tak ingin bertatap muka dengan Jiyong.
“morniiiiiinnnnggggg…” sapa Jiyong untuk yang kedua kalinya. Namun sama saja, tak ada jawaban. Hae Ra seakan pura-pura tak mendengarnya. Sandiwaranya hari ini adalah sebagai orang tuli.
Jiyong bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang Hae Ra “morniinnggg” teriaknya tepat ditelinga Hae Ra. Membuat gadis itu terjungkal menjauh sambil mengatur nafasnya yang menderu kencang.
“kenapa kau pura-pura tuli?” Jiyong mengekori setiap langkah Hae Ra. Padahal Hae Ra sebenarnya hanya mondar-mandir tidak jelas. Mencari bahan yang bisa menyibukkannya.
“siapa yang tuli? Kau saja yang berbicara seperti orang yang radang tenggorokan”
“jelas-jelas aku menyapa sampai 3 kali masa kau tetap tidak menjawabnya?! Apa jangan-jangan ……” Jiyong mulai menyukai kebiasaannya menggoda Hae Ra.
“jangan-jangan apa?”
“jangan-jangan kau malu pada apa yang kita lakukan kemarin malam? Hayo kau mengaku saja ! hahahaha”
Semburat pipi Hae Ra seperti tomat, BINGO !  ia benar-benar malu ! sangat malu ! kemarin adalah ciuman pertamanya ! first kiss ! bahkan mereka hampir melakukan hal ‘itu’
Hae Ra tak menjawabnya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari Jiyong. Namun dengan sigap Jiyong memeluk Hae Ra dari belakang. Membuat gadis itu lagi-lagi mematung, menghentikan semua kegiatannya. “a .. apa yang kau lakukan?”
Jiyong tetap pada posisinya, memeluk Hae Ra semakin erat, “2 menit saja, biarkan seperti ini” Hae Ra hanya bisa pasrah, Jiyong benar-benar memeluknya.
Hingga benar-benar 2 menit berlalu, Jiyong melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Hae Ra. Menatap matanya dalam. Mereka saling berpandangan, entah apa yang ada dipikiran mereka masing – masing.
“Hae Ra~ssi, aku…” Jiyong menggantungkan kalimatnya. Jantung Hae Ra berdebar menantikan kalimat yang akan dikatakan Jiyong. Ia tak tau mengapa, tapi perasaannya menjadi gelisah.
“aku .. mencintaimu. Aku minta maaf, sungguh aku minta maaf. Kau tak harus membalasnya, aku hanya ingin mengatakan itu padamu”
Hae Ra tertegun, bibirnya kaku seakan tak kuasa mengatakan barang satu katapun. Ia melepas rengkuhan tangan Jiyong di wajahnya, tanpa memberi jawaban. Ia bingung, Hae Ra tak tau perasaan apa yang dirasakannya pada Jiyong. Begitu sulit untuk memastikannya.
Hae Ra pergi tanpa meninggalkan satu kata sebagai jawaban untuk Jiyong, ia pergi ke luar villa. Otaknya berputar, kata-kata Jiyong berkelebat di dalam kepalanya. Tak mungkin ia dengan mudah memberi tau perasaannya pada Jiyong sedangkan ia sendiri tak memahaminya.
Jiyong sudah menebak reaksi yang akan Hae Ra lakukan, laki-laki yang dicintai Hae Ra bukanlah dirinya. Ia menyadari bahwa ia semata-mata hanya seorang saingan dalam karier gadis itu, tak lebih. Tapi hatinya begitu sakit, kenapa Hae Ra pergi begitu saja tanpa memberi jawaban? Paling tidak Jiyong bisa mengetahui bagaimana perasaan Hae Ra terhadapnya.
***
Desiran angin laut menerpa kulitnya. Hingga petang ini ia belum berniat kembali ke villa. Ia takut jika ia kembali dan bertemu dengan Jiyong, ia tak tau harus berkata apa. Sampai ia lebih memilih untuk duduk di pesisir pantai dan memandangi ombak dihadapannya.
“Hae Ra?” sapa seseorang dibelakangnya, Hae Ra menoleh, dan tebak siapa yang datang. Laki-laki yang dua hari lalu dinyatakan cinta olehnya. Kim Jae Joong.
“oppa? Ehm .. sedang apa kau disini?” Hae Ra masih merasa tidak enak, mengharuskannya bersikap agak canggung.
“harusnya aku yang bertanya, kenapa kau disini?”
Hae Ra hanya diam, tak penting jika ia menceritakan soal dirinya dan Jiyong. Apa peduli Jae Joong? Sudah diduga Jae Joong pasti akan menceramahi Hae Ra lagi dan memaksanya kembali ke villa.
“Hae Ra~ya, apa kau benar-benar mencintaiku?” pertanyaan Jae Joong sukses membuat tubuh Hae Ra menegang. ‘apa yang selanjutnya akan laki-laki ini katakan? Penolakan lebih jelas? Lebih tegas?’
“aku tau ini salah, tapi … aku juga mencintaimu, Jung Hae Ra. Sudah lama sejak kita masih SMA. Aku memang pengecut, apa aku terlambat? Apa masih ada kesempatan untukku memilikimu?”
Hae Ra menggeleng, air matanya jatuh membasahi pipinya, ia merasa bahagia sekarang “tidak, ini belum terlambat” Hae Ra memeluk Jae Joong. Semuanya begitu indah sekarang, tapi itu bagi Hae Ra dan Jae Joong. Berbanding terbalik dengan apa yang Jiyong rasakan saat ini. Semua terlihat jelas dengan indera penglihatannya. Istrinya berpelukan dengan laki-laki lain.
Cukup, itu sudah cukup membuatnya kesakitan. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Lucunya, Jiyong sudah menganggap Hae Ra benar-benar sebagai istrinya. Bukan sandiwara seperti perjanjian mereka dahulu.
***
Satu minggu berlalu …
Semenjak hari itu, Hae Ra menghilang. Entah kemana, tak ada kabar sedikitpun yang terhembus di telinga Jiyong. Laki-laki itu tak perlu berpikir keras untuk mengetahui keadaan Hae Ra. Ia cukup tau bahwa Hae ra sedang menjalani hidup baru yang bahagia bersama Kim Jae Joong.
Jiyong masih bertahan di villa itu, entah kenapa rasanya enggan untuk meninggalkan villanya. Tak dipungkiri, dalam hati kecilnya ia sangat merindukan Hae Ra. Ia masih menaruh harapan agar Hae Ra kembali. Senyumnya, tawanya, ocehannya. Semua itu terkadang hadir dalam mimpi Jiyong. Kenapa dari jutaan wanita di dunia ini, hanya gadis itu yang dapat merebut hatinya?
Ting tong …
Bel pintu berbunyi, firasat Jiyong menjadi aneh. Beberapa langkah lagi untuk membuka pintu itu, namun seseorang dari luar telah membukanya terlebih dahulu, dan gadis itu muncul lagi dihadapan Jiyong.
Mereka saling memandang satu sama lain, sebenarnya kerinduan yang sama besarnya tertanam di dalam hati mereka masing – masing. Sangat ingin menghamburkan pelukan satu sama lain, tapi yang ada mereka hanya mematung. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Mata mereka bertelepati, beradu argument dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jiyong memberanikan diri melangkah mendekatinya, matanya tak lepas menatap mata Hae Ra. Mencoba mencari jawaban tentang maksud dan tujuan Hae Ra kembali ke tempat ini. Namun ia tak menemukannya disana. Hanya ada tatapan penyesalan dan sakit yang mendalam.
Semakin Jiyong mendekat, rasa rindu Hae Ra semakin kuat. Gadis itu berlari dan menghamburkan pelukannya pada tubuh Jiyong. Tak peduli apa respon yang akan diberikan Jiyong, mengusirnya kah, membunuhnya kah, ataupun langsung mengirimnya ke neraka. Yang jelas ia sangat merindukan suaminya ini, begitu banyak kata yang terpendam dalam lubuk hati Hae Ra. Sangat ingin ia ungkapkan pada Jiyong.
“kenapa kau kembali?” suara Jiyong terdengar datar, dingin, menusuk. Itulah yang Hae Ra rasakan.
“jeongmal mianhae, Kwon Jiyong. Jwiseonghamnida, jeongmal” Hae Ra terisak di dada Jiyong. Tanpa menanggapinya, Jiyong melepas pelukan Hae Ra. Ia tak butuh omong kosong, ia tau Hae Ra kembali hanya untuk meminta maaf dan minta bercerai. Jiyong tentu akan menyetujuinya, tak ada gunanya mempertahankan cinta sepihak.
“berikan surat itu dan aku akan menandatanganinya segera. Setelah itu kau boleh bebas. Semoga hidupmu lebih bahagia dengan laki-laki yang kau cintai itu”
Hae Ra tersentak, apa yang baru saja Jiyong katakan? ‘Surat? Surat apa?! Bukan itu tujuanku untuk datang kembali padamu’ hatinya menjerit. Bukan, bukan itu yang diinginkan Hae Ra. Bukan perpisahan.
“kumohon, jangan membuatku terlihat seperti orang idiot” Jiyong membelakangi Hae Ra, tak kuasa menahan air matanya.
“andwae ! bukan itu tujuanku datang kesini. Aku memang salah, aku tak memahami perasaanku padamu. Aku sangat bodoh, akulah yang pantas kau sebut idiot. Aku mencintaimu, Kwon Jiyong”
Jiyong terdiam, apa ia tak salah dengar? Apa gadis itu bergurau?
“aku tau sangat sulit bagimu menerimaku kembali, aku hanya ingin mengatakan itu. Aku dan Jae Joong sudah tidak memiliki hubungan apa – apa lagi. Kau sangat membenciku bukan? Baiklah, aku tak akan pernah muncul dihadapanmu lagi” Hae Ra berbalik, memegang gagang pintu dengan gemetar. Ia harus pergi, semua ini salahnya.
Sangat terlambat mengatakan semua itu. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Jae Joong, perasaannya pada pria itu tak lebih dari rasa sayang seorang adik pada kakaknya. Suara dingin Jiyong, berpisah dengan Jiyong, itu beribu kali lipat lebih menyakitkan. Tapi kali ini, ia tak mau merasa sakit lagi. Asumsinya untuk enyah dari hadapan Jiyong, mungkin itu memang yang terbaik.
“hajima ..”
Hae Ra berada di ambang pintu, jantungnya berdebar. Akankah Jiyong mengatakan itu? Tidak mungkin. Ia merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya. Ia mengenal tangan ini, aroma ini. Aroma tubuh laki-laki yang sangat enggan ia tinggalkan.
“jangan pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku” Jiyong menitihkan air matanya di bahu Hae Ra. Kejadian yang amat langka. Hae Ra berbalik dan balas memeluk Jiyong. Ia ikut menangis, menangis bahagia.
Kebahagiaan yang sesungguhnya, ia dapatkan bersama Jiyong. Tak peduli masa lalu mereka yang berbeda 360®. Hae Ra seperti mendapatkan kehidupannya yang lebih sempurna. Walaupun pada jalan yang sangat sangat sulit dimengerti.
***
Sinar mentari pagi hari, menyapa melalui jendela kantor di gedung lantai 5 ruang meeting salah satu perusahaan drama  musical show. Di ruangan itu terdapat dua manusia yang masih tertidur pulas dengan posisi yang cukup menarik untuk dilihat. Jiyong dan Hae Ra tertidur dalam posisi duduk dan membenamkan kepala mereka diatas meja meeting. Posisi mereka saling berhadapan, hingga seorang office boy membangunkan mereka.
“tuan Kwon, nona Jung, ayo bangun. Ini sudah pagi, kalian bisa pulang ke rumah”
Perlahan mereka membuka mata, namun keadaan disekitar mereka membuat mereka sama-sama terkejut. Tak mengerti.
“kenapa kita bisa disini? Bukankah kemarin aku dan Hae Ra tidur dirumah kami?” Jiyong menjadi linglung, sama halnya dengan Hae Ra. Ekspresi mereka sama.
“’dirumah kami’? maksud tuan? Dari kemarin kan kalian memang ketiduran disini karena tidak bisa pulang. Listrik di kantor mati” jelas office boy itu. Hae Ra dan Jiyong semakin tak mengerti.
“tertidur? Tapi .. kami…” mereka saling bertukar pandangan. Pertanyaan yang sama muncul di benak mereka.
“tapi apa nona? Haduh sepertinya kalian berdua perlu istirahat. Yasudah saya mau bersih-bersih dulu” katanya lalu pergi dari ruangan itu.
Suasana menjadi hening, sesekali tatapan mereka bertemu dan diselingi tawa kecil. “jadi, kau juga memimpikan hal itu?” Jiyong terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hae Ra ikut sedikit salah tingkah, mimpi itu benar-benar seperti kenyataan. Bahkan mereka berdua memimpikan hal yang sama pada waktu yang sama pula.
“kurang lebih seperti itu.. ehm” Hae Ra menyengir dan akhirnya ia ikut tertawa.
-THE END –

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 08/04/2013, in DBSK, OS and tagged , . Bookmark the permalink. 36 Comments.

  1. kkkekekee~~ cape2 mimpi,,,, tapi ini endingnya agak mirip sama sebuah novel yaaa..

  2. bwahahahaha lawak ni thor ckck capek2 ke jeju ternyata cuma mimpi 😀

    mana sampai berantem di kamar,ibu jiyong pergi dan sampai cemburu2 gak jelas 😀
    sempet bingung sama crtanya kok tiba2 udh nikah 😀 ternyata cuma mimpi saat mati lampu di kantor wkwkwk

  3. Huaaa seruuu.. bikin perasaan campur aduk. ide ceritanya unik,alurnya menarik dan feelnya dapet bgt!!! author daebak..pokoknya harus ada sequel pake NC21 *maksa
    sequel sequel sequel

  4. seruuuuuuuuuuuu ‘-‘)b sepuel sequel sequel !!!!!

  5. Sung Hyo Joon

    Aku sukaaa~ :*

  6. Hahahh,,, seru thor jd sequel juseyo~~ hehehh 😀

  7. Wah keren…kalo dibuat Sequelnya seru jg nih.

  8. Ayooo lanjutt…..seru nih hhhhhha

  9. oh pertama.a bkin bngung, tp akhr.a cma mimpi, keren thor

  10. Hahaha….
    I knew it, there is somthin fishy in the begining…..so glad that my guess it right. Kkkkkkkk

  11. kereeeen~ !
    FF nya aku sukaaaaa!! ><

  12. gyaaa keren sekali \(^o^)/ betah baca sering-sering (?) hehe, lanjutkan, thor! ^^)b

  13. Wuaaa, daebaak, sequelnya ditunggu~ ^^

  14. shim.shinsiwonest407

    Aigo.. so sweat banget endingnya ^.^
    Daebak thor

  15. Mimpi gt critanya kyk ftv trans rv thor hehe

  16. WOW!! Author daebak badai, cetar membhana (?)..

    Dingtunggu sequel nya!

  17. Alur ceritanya miip novel “love,hate,hocus pocus”
    but sejauh ini ffnya bagus koq..

  18. Ceritanya keren thor pas baca tengahnya bingung ko tiba” bisa nikah gutu taunya kena tipu cuma mimpi doang haha

  19. Ini FF nya author Daeeeeeebaaaaaaaaakkkk.. banget thor.. sumpah. lanjut lagi thor..

  20. ahahaa lucu, mimpinya bareng2 ,jiyoung nya so sweet 😉

  21. kyuwonhae's wife

    hahhhahahahhaaa….. Lucu bgt ad mimpi kaya gtu . Kocak 😀
    Aku kira bnran tdi

  22. wahh aku pernah nnton film yang beralur kaya ginii.. Di transTv judulnya JAMU CAP JEMPOL, meskpun ada jlan ceritanya yg beda.. Aku suka banget sama film inii, ga nyangka bisa ada di ff.
    Aku suka banget Ff inii, squel ya thorr.. Pleasee !! ^_^

  23. huwaa keren 🙂
    ceritanya dapet bgt 😀
    sequel ya thor 🙂 #pasang tampang aegyo 😉
    #author nya langsung pingsan

  24. Firly Kpopers

    aq. suka nih ff. hot, so sweet, mengharukan d campur jdi 1 dlm ff ini
    daebak bnget ke byang pgn liat mreka brdua kyk gtu xD #ngayal
    ydh thor ttap bkin ff y. 😀

  25. Firly Kpopers

    aq. suka nih ff
    keren;) ksih sequel ny jg xD.#plakk . lalu hot, so sweet, mengharukan itu d campur jdi 1 dlm ff ini
    daebak bnget ke byang pgn liat mreka brdua kyk gtu xD #ngayal
    ydh thor ttap bkin ff y. 😀

  26. Andai itu bukan mimpi pasti tambah seru ceritanya!

  27. keren thor..
    suka banget sama alur ceritanya
    GD oppanya ><
    aduh daebak deh

  28. Nury Aryana

    wow daebak, ternyata mimpi. kirain mereka hilang ingatan trus nikah, pas ending ada flash back gitu, eh malah mimpi. bisa samaan lagi mimpinya.. berasa mereka pasangan suami istri beneran.. sequel donk..

  29. Daeeeebak thor 🙂
    Ditunggu sequelnya

  30. dr awal aq udh tw sh kalo it cma mmp soal’e aneh bgt td d kantor trus tiba2 mereka nikah..
    Tp pnasaran nih ama klanjutan hbngan mereka ap bkal sama ama mmpi’e??,

  31. Ooohh ternyata cuma mimpi toh ,

  32. miss pervert

    Love this one!!! Daebak thor!

  33. eunji_pinkPanda

    so sweet bgt ama endingnya… 🙂

  34. keren thor!! sequel NC 21 pokonya!

  35. keren banget!!! sequel nya dong…. perasaan ku Gaje nih…. sampe nangisss 😥

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: