My Heart For You (Part 4)

4a_副本(1)
1.       Author            : Chayl.V
2.       Judul               : My Heart For You (Part 4)
3.       Kategori          : Yadong, NC21
4.       Cast                 :
·         Park Sandara (2NE1)
·         Song Jong Ki
·         Jia (MISS A)
·         Junsu (JYJ)
·         Onew (Shinee) as Jinki
·         Baro (B1A4) as Sun Woo
·         Hyewon (5dolls)
                “Kalian semua, duduk di tempat duduk kalian masing-masing”
                “Ne sonsengnim….” Kata murid serentak tunduk atas ucapan yang dikatakan guru mereka.
                Seorang gadis cantik masuk dalam kelas tersebut dan mendekat kearah guru. Siswa yang berada di dalam kelas pun mulai bersuara. Bertanya-tanya siapakah gadis asing yang tiba-tiba masuk dalam kelas mereka.
                “Baiklah semuanya, dia adalah teman baru kalian. Dia pindahan dari Jepang. Silakan perkenalkan dirimu.”
                Gadis itu lantas mendongakkan kepalanya menatap semua anggota kelas. Mengambil nafas dan menghelanya.
                “Anyeonghaseo, na neun Kim Hyewon imnida.” Hyewon menundukkan kepalanya memberi hormat pada teman-teman barunya.
                “Duduklah, disana.” Guru tersebut menunjukkan sebuah bangku kosong diantara siswa-siswa lain.
                “Ne, kamsahamnida.” Hyewon berjalan menuju tempat yang guru tersebut tunjuk untuknya.
                “Tapi sonsengnim, itu tempat duduk……” Belum sempat salah seorang murid meneruskan kalimatnya, seorang pria tampan masuk.
                “Nejoso jweisonghamnida, sonsengnim…” (maaf, terlambat guru)
                Pria tersebut menunduk pada guru wanita yang telah menatapnya tajam. Namun tatapan tersebut tak menggoyahkan mental pria itu. Lantas ia melewati guru tersebut dan beranjak untuk hendak duduk di kursi miliknya.
                Namun langkahnya terhenti, alisnya meninggi saat melihat kursi yang setiap harinya menjadi tempatnya duduk, kini telah dimiliki orang lain. Seorang wanita asing yang tak ia kenal.
                “Nugu??” Namun wanita itu tak menggubris pertanyaan si pria.
                Lantas pria itu pun menarik kuat lengan wanita tersebut hingga ia meringis kesakitan.
                “Sun Woo-ya…” Semua temannya menegur khawatir atas perilaku Sun Woo.
                “Aghh… Lepaskan tanganmu.” Hyewon menatap Sun Woo tajam.
                ***
                Ruangan yang cukup besar, Sun Woo duduk terdiam dengan penjagaan guru yang berada di depannya.
                Ceklek….
                Seorang pria masuk dalam ruangan itu. Menunduk pada sang guru dan menatap Sun Woo.
                “Jweisonghamnida sonsengnim….”
                “Ne, Song Jinki. Kau harus sering memberikan nasehat pada adikmu agar dia lebih berperilaku sopan pada orang lain.”
                “Ne.” Sekali lagi pria yang disebut Jinki tersebut menunduk.
                “Sun Woo-ya… Bagaimana kau bisa melakukan itu pada seorang gadis?” Tanya Jinki menatap adinya tajam.
                “Hyung, ini bukan salahku. Dia duduk di kursiku.” Jelas Sun Woo pada kakaknya.
                “Apa kau tidak bisa mengalah untuk seorang gadis??” Sun Woo hanya tertunduk mendengar pertanyaan kakaknya tersebut.
                ***
                Gerimis mulai mengguyur gedung sekolah. Kali ini Jinki kembali pulang akhir, ini karena ia termasuk siswa teladan di sekolahnya. Jinki sering pulang akhir untuk menghabiskan waktu sorenya dengan berada di tempat paling nyaman menurutnya, perpustakaan. Seakan Jinki benar-benar berteman baik dengan buku disana, hampir setiap hari ia selalu berkunjung ke perpustakaan sekolah.
                Berbeda dengan adiknya, Song Sun Woo. Dia adalah anak yang sedikit brutal. Sejak kecil Sun Woo dan Jinki memang kurang mendapatkan kasih sayang yang maksimal dari kedua orang tua mereka. Namun Sun Woo masih beruntung karena dia memiliki hyung yang sangat sayang dan perhatian padanya.
                Jinki masih memandang jatuhnya air hujan di pandangannya. Ia rasakan menggunakan jari-jari tangannya. Terukir senyum di bibirnya. Seakan melepaskan segala penat dalam pikirannya.
                Detak langkah kaki terdengar mendekat keaarah Jinki. Ia pun menoleh mencari sumber suara tersebut. Seorang gadis berambut panjang yang serasa sangat asing bagi Jinki. Pandangannya pun tak lekas teralih. Jinki masih memperhatikan gadis disampingnya itu yang terlihat dalam suasana hati yang gelisah tersebut.
                “Nuguyeo?” Tanya Jinki.
                “Oh… Anyeonghaseo sunbae. Naneun Kim Hyewon imnida.” Jawab gadis tersebut.
                “Oh… Ye.”
                Pikiran Jinki berputar, mengingat kembali sosok gadis disampingnya yang terlihat begitu asing baginya. Seragamnya yang memang seragam sekolah yang sama dengan seragam yang ia kenakan. Tapi siapa dia??
                “Sebentar, bukankah dia memanggilku sunbae? Berarti dia lebih muda dariku.” Pikirnya dalam hati.
                “Apakah kau siswa baru?” Tanya Jinki memberanikan diri.
                “Ne.” Jawab gadis bernama Hyewon tersebut singkat.
                “Ah… Kau teman sekelas Song Sun Woo?”
                “Nde?” Tanya Hyewon masih terlihat bingung.
                “Ah, mianhae… Adikku telah kasar padamu.”
                “Oh, gwenchana…”
                “Syukurlah jika kau baik-baik saja. Tolong maafkan adikku. Sebenarnya dia bukan pria seperti itu.”
                “Ah, aku tidak membencinya. Aku anggap ini sebagai tanda perkenalannya padaku.” Hyewon mengukir senyumnya agar Jinki tak terlihat khawatir terhadapnya.
                “Gomawo…” Jinki pun membalasnya dengan senyuman pula.
                “Changkamanyeo … Tapi sunbae dan Sun Woo tampaknya berbeda. Sunbae lebih baik daripada dia. Aku tak tahu kenapa ia begitu kasar padaku. Tapi karena sunbae yang memintaku untuk memaafkannya, maka aku tak akan membencinya.” Ucapnya dengan senyum nakalnya.
                Jinki pun tampak geli dengan tingkah gadis ini. Ia pun tak bisa menyembunyikan senyum kecilnya karena ucapan Hyewon.
                “Aggggggggggghhhhh………….” Suara petir menggelegar di teras sekolah. Hyewon berteriak dan meletakkan erat kedua tangannya di antara kepalanya. Memejamkan matanya dan menunduk lemas.
                “Hyewon-ah… Gwenchana??” Jinki tampak khawatir.
                “Ka…!!” Pinta Jinki membawa Hyewon masuk kembali kedalam gedung sekolah.
Jinki mengajak Hyewon untuk masuk dalam ruang kesehatan sekolah. Ruang yang tak jauh dari teras tempat mereka berbincang.
“Kita bisa menunggu disini sampai hujannya reda. Tempat ini cukup hangat.” Kata Jinki yang duduk dihadapan Hyewon dimana mereka masing-masing duduk di bed yang berada diruang kesehatan tersebut.
“Ne…” Mata Hyewon masih menyusuri setiap sudut ruangan yang masih asing baginya. Sementara Jinki, ia merebahkan tubuhnya pada bed yang sedari tadi ia duduki dan sejenak ia pun menutup mata.
“Berbaringlah…” Ucap Jinki dengan matanya yang masih menutup.
Hyewon pun menuruti kata Jinki dan merebahkan tubuhnya pada bed lain yang bersebelahan dengan bed milik Jinki.
“Adikku… Dia selalu seperti itu.” Hyewon pun menatap Jinki yang masih menutup matanya.
“Itu adalah pelampiasannya pada orang tua kami. Mereka egois. Selalu bertengkar di hadapan kami.” Kalimat Jinki membuat hati Hyewon semakin iba.
“Tapi… Kau berbeda dengan adikmu sunbaenim.”
“Karena aku….. merindukan eomma.” Kalimat ini, seakan berat diucapkan Jinki. Jinki yang benar-benar masih mengingat jelas ibu yang pernah memberinya kasih sayang. Ibu yang menyayanginya walau tak ada setetes darah yang sama diantara mereka. Ibu yang selalu ia anggap satu-satunya ibu baginya.
Benar saja, sekarang Jinki memang tinggal dengan keluarga yang sebenarnya. Ibu kandungnya, ayah kandungnya dan adiknya. Namun ia seakan tak pernah mendapatkan kasih sayang dengan keluarga yang lengkap, yaitu kasih sayang seorang ibu. Orang tuanya sering bertengkar. Ibunya adalah seorang wanita karrir yang tak memiliki banyak waktu untuknya. Ayahnya selalu berusaha memberikan kasih sayangnya pada Jinki dan Sun Woo, namun kasih sayang yang mereka harapkan tidaklah seindah kasih sayang seorang ibu.
“Sunbae…” Ucap Hyewon saat menatap Jinki yang meneteskan air mata saat ia memenjamkan matanya. Betapa Jinki sangat merindukan eomma, eomma yang ia cintai.
Hyewon pun beranjak dari bed nya menuju kearah Jinki. Namun langkah kaki Hyewon kali ini tak sempuna. Langkahnya tak seimbang.
“Ah….” Hyewon ambruk diatas dada bidang Jinki. Jinki membuka matanya dan saat ia menahan kedua lengan Hyewon dengan kedua tangannya, mata mereka bertemu. Dagu mereka hampir menempel. Sementara tubuh Hyewon masih melemas ambruk di tubuh Jinki. Membuat wajah Jinki memerah merasakan benda tumpul kenyal yang menyatu didada bidangnya yang masih berbalut lengkap dengan seragam sekolah yang ia kenakan.
“Mian…” Ucap Hyewon segera menyeimbangkan tubuhnya kembali.
“Hujan….ee….” Hyewon mencoba mencari topik pembicaraan agar memecahkan keheningan.
“Hujannya sudah berhenti, aku akan pulang.” Segera saja Hyewon berlari meninggalkan Jinki yang masih berada di bed ruang kesehatan tersebut.
“Gwidariyeo …” Jinki lantas beranjak dari bednya.
“Kurasa kau belum begitu mengenal Seoul. Pergilah ke sungai han di malam hari. Suasananya sangat nyaman dan indah.”
“Ne.” Jawab Hyewon singkat. Ia masih saja merasa malu atas keadaan yang baru dialaminya.
***
 Sebuah taxi berhenti di sebuah rumah mewah dan indah. Benar saja, ini adalah rumah yang sedari kecil Jinki huni. Rumah yang tak hilang dari penataan indah bunga-bunganya yang tertanam rapi, hasil karya wanita penghuni rumah ini yang terdahulu. Membuat Jinki selalu merasa tenang setiap kali melewati gerbang rumahnya ia akan disuguhkan keindahan bunga-bunga yang selalu ia jaga dan rawat tersebut.
Malam pun telah tiba, Jinki pun telah sampai dirumahnya. Namun ia masih betah memandang bunga tersebut di halaman rumahnya walau dalam gelapnya malam. Tapi inilah yang selalu membuat hati Jinki tenang dan bahagia.
“Bledarr…”
Bantingan pintu utama rumah mewah tersebut membuat Jinki sedikit terkejut atas lamunannya pada bunga yang ia pandang. Jinki melihat sosok adiknya dengan matanya yang sedikit sembab, air mata pun masih tertuang di kedua pipinya, sontak membuat Jinki pun khawatir.
“Waeyo? Gwenchana?” Ucap Jinki menghampiri Sun Woo yang terburu-buru hendak meninggalkan rumahnya.
“Sun Woo-ya …. Yak….! Song Sun Woo.” Kata Jinki berucap keras. Namun nyatanya Sun Woo tak menghiraukan ucapan kakaknya itu. Ia menangis dengan matanya yang sembab meninggalkan rumah, “mungkin dia dalam keadaan emosi” pikir Jinki.
“Tapi apa yang membuat Sun Woo seemosi itu?” Jinki pun berpikir keras. Lantas ia segera masuk ke rumahnya untuk mencari sesuatu yang ganjil disana.
“Ajumma…” Jinki mencari wanita tua yang sedari dulu mengurus keluarganya.
“Ne…” Seorang wanita paruh baya keluar dari bilik ruang makan keluarga.
“Apa yang telah terjadi? Ada apa dengan Sun Woo?” Tanya Jinki begitu menekan.
“Hm…. Itu……” Ajumma itu hanya tertunduk seakan menyembunyikan sebuah fakta yang Jinki tak ketahui.
“Waeyo???” Pinta Jinki dengan nada memohon pada wanita tersebut.
Namun nyatanya Ajumma tetap diam. Keadaan ini pun tambah membuat gelisah Jinki. Tanpa pikir panjang pun ia segera naik ke lantai kedua rumahnya. Mencari sebab yang terjadi pada adiknya. Mungkin Jinki tau benar apa yang selalu membuat adiknya bersikap seperti itu.
“Apa ini ulah eomma dan appa?” Pikir Jinki dalam hatinya.
***
“Ouuuuhhhhhhhh………” Keluh panjang seorang wanita saat lelaki dihadapannya menghujamkan junior besar dan panjangnya kedalam lubang surganya yang nyatanya sudah tak sempit lagi.
Lelaki itu mulai menyesuaikan dirinya dan benda miliknya. Kemudia perlahan menggerakkan bendanya didalam sana. Menggenjotnya dan memaju mundurkannya. Awalnya menggunakan tempo yang lambat, namun berubah menjadi cepat saat mereka diburu nafsu di ranjang king size itu.
“Ouuhhhh…. Aghhhhh…. Hmmmmmm……………” Wanita itu benar-benar menikmatinya. Merasakan kenikmatan yang telah lama tak ia terima dari suaminya. Ia pun berusaha menambah kenikmatannya dengan meremas payudaranya sendiri yang masih sintal dan padat, walau usianya yang tak bisa dikatakan muda lagi.
Nafsu pun semakin menghampiri kedua insan ini. Sementara genjotan junior di bawah sana yang temponya semakin secat, pria itu pun menyingkirkan tangan wanitanya dari buah dada yang menggairahkannya itu. Membuat pemandangannya semakin indah untuknya. Seakan tangan nakalnya pun juga telah diburu nafsu, ia pn lantas menggenggam erat kedua benda sintal itu kemudian meremasnya kuat.
“Ouuggghhhhhh……. “ Keluh si wanita merasakan kenikmatan saat lubangnya di bawah sana serasa mengeluarkan cairan hangat dan benda di dadanya itu mendapat perlakuan yang memuaskan.
Si pria tetap saja bermain dengan payudara wanita yang telah tak berdaya tersebut. Ya, wanita itu dalam keadaan mabuk, membuatnya semakin merasa nikmat atas perlakuan yang tak mendapat penolakan.
Bosan dengan aktifitasnya, pria itu pun menerkam leher wanitanya. Menciumnya, menjilatnya, menyedotnya kuat hingga menimbulkan kissmark di seluruh leher jenjangnya. Ingin rasanya ia membuat wanita dihadapannya ini puas atas perlakuannya itu. Benar saja, karena wanita itu tak pernah mendapat kenikmatan seperti yang ia berikan dari suaminya. Suami yang mungkin telah tak mencintainya lagi.
“Bukk….” Pria itu jatuh terlempar ke lantai kamar dalam keadaan telanjang saat seorang anak muda menarik lengannya kuat.
“Bangsaat…. Bajingan kau… !!!” Pemuda itu pun lantas menghajar pria dihadapnnya dengan sekuat tenaganya. Membuatnya babak belur. Melampiaskan segala amarah yang menderanya. Air matanya pun tak bisa dibendung lagi saat ia masih tetap memberikan pukulan yang bertubi-tubi pada pria yang dalam keadaan setengah mabuk itu.
“Hyaaakkkk….”
“Buk…..”
“Jinki-yaa…….”
Jinki terjatuh ke lantai setelah pria dihadapnnya berhasil melawannya dengan sekuat tenaga walau ia dalam keadaan mabuk. Pria itu lantas menhampiri Jinki dan menarik kerahnya. Sekali lagi melayangkan pukulan di ujung bibir kiri Jinki.
“Buk…” Jinki kembali terkapar dilantai kamar ibunya.
“Jinki-yaa…. Hentikan !! Dia putraku !” Wanita itu pun beranjak dari ranjangnya dan menahan pria yang baru saja memberinya kenikmat tersebut untuk tidak menghajar anaknya lagi, Song Jinki.
Jinki berusaha berdiri, ia masih tertunduk. Menyembunyikan air matanya, tak kuasa lagi melihat kedua orang di hadapannya itu.
“Jinki-yaa…. Gwenchana???” Wanita itu pun berusaha membelai lembut ujung bibir anaknya yang memar karena ulah pria disampingnya.
Namun Jinki segera menampik tangan ibunya, berusaha menyingkirkannya dari wajahnya.
“Aku…… membencimu…..” 2 kata yang terucap dari mulut Jinki untuk ibunya sebelum ia meninggalkan kamar mewah tersebut.
Jia hanya membeku mendengar ucapan anak sulungnya itu. Betapa ia telah gila mendapatkan kebencian dari anak kandungnya sendiri.
***
Dinginnya malam di musim semi membuat banyak orang mengurungkan niatnya untuk menikmati indahnya malam. Namun tidak untuk Jinki, ia mengunjungi tempat yang sering ia kunjungi. Ya, Sungai Han. Tak perduli siang atau pun malam, Jinki akan datang dan duduk di tepi sungai Han jika ia memiliki banyak masalah dan tempat inilah yang menjadi tempat paling nyaman baginya untuk menenangkan pikirannya.
“Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………..” Teriak Jinki melepaskan amarahnya.
Tangisan dan teriakan Jinki pun semakin menjadi-jadi. Dilemparnya batu di sekitarnya ke sungai yang tampak indah di malam hari. Tak banyak batu disekitarnya lagi saat ia terus melemparnya ke tengah sungai. Rumput disekitarnya pun ia coba untuk dilemparnya sehingga tenaganya semakin melemah, kakinya melemas dan ia pun duduk menangis.
*Flashback
“Jinki-ah, jika kau sudah besar nanti, apa kau mau menemani ibu melihat sungai Han?”
“Ye eomma…” Jawaban polos Jinki kecil yang masih berusia 4 tahun pada ibunya, Park Sandara.
*
“Eoomaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………….” Jinki berteriak lantang ketika ia kembali mengingat janjinya pada ibu tiri yang sangat ia sayangi, lebih dari Jia, ibu kandungnya.
“Sunbae…” Sebuah panggilan terucap di arah sana.
“Sunbae…..” Jinki mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk menyembunyikan mata sembabnya.
Seorang gadis melihatnya iba.
“Sunbae, waeyo??” Gadis itu ikut duduk di samping Jinki. Memperhatikan ujung bibir Jinki yang memar dengan matanya yang juga sembab, dan air matanya yang masih mengalir.
Tak kuasa melihatnya, gadis itu lantas memeluk Jinki dengan penuh kehangatan.
“Sunbae… Gwenchana?” Jinki belum menjawab karena ia masih membeku karena dinginnya sungai Han di malam hari dengan seragam sekolahnya yang terasa dingin pula.
“Hyewon-aah…” Ucap Jinki lemah.
“Hyewon.” Seorang pria paruh baya datang dari arah belakang Hyewon
Hyewon lantas melepaskan pelukannya dan menatap pria yang memanggil namanya.
“Appa…” Hyewon pun beranjak mendekat keayahnya.
“Appa, dia sunbae di sekolahku. Sepertinya ia kedinginan.”
“Cepat bawa dia ke mobil, dia akan sakit.” Setelah mendapat izin dari ayahnya, Hyewon pun membantu Jinki berdiri dan beranjak menuju mobil, ayah Hyewon pun dengan sigap membukaan pintu mobil dan membantu Jinki masuk dalam mobil.
***
“Sunbae… Masuklah…” Kata Hyewon membukakan pintu sebuah rumah mewah. Ayahnya pun masih membantu Jinki berjalan. Jinki pun hanya bisa memberikan senyuman saat ia masih dalam keadaan kedingingan dan dalam keadaan hatinya yang masih buruk karena kejadiannya dengan ibunya.
“Buatkan bubur untuknya, ayah akan membawanya ke kamar tamu.”
“Ne.” Hyewon mengikuti perintah ayahnya.
***
“Kau bisa beristirahat disini malam ini.” Ayah Hyewon pun memberikan senyuman pada Jinki.
“Kamsahamnida…” Jinki hanya bisa menunduk lemas pada Kim Junsu, ayah Hyewon.
“Aku tidak tahu, masalah apa yang terjadi padamu. Tapi tampaknya ini sedikit berat untuk pemuda sepertimu. Malam ini jangan pikirkan itu, beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu.”
“Ne, jeongmal kasahamnida…”
Junsu pun meninggalkan kamar yang Jinki tempati.
“Appa, apa dia baik-baik saja?” Tanya Hyewon dengan membawakan bubur yang diminta ayahnya dan sebuah baskom berisi air untuk membersihkan luka Jinki.
“Apa kau khawatir?”
“Nde???”
Ayah Hyewon pun memberikan senyuman kecil pada putrinya.
“Sepertinya dia sedikit demam. Rawat dia. Ayah akan memberikan obat untuknya.”
“Ne appa…” Hyewon pun sedikit merasa lebih tenang mengingat ayahnya sebagai seorang dokter pasti dapat mengatasi masalah ini. Hyewon pun lantas masuk dalam kamar tamu itu.
“Sunbae… Gwenchana?” Tanya Hyewon sedikit khawatir.
“Ne…” Jawab singkat Jinki saat ia duduk bersandar lemah di ranjang tidurnya.
“Makanlah bubur ini. Ayah akan segera memberimu obat.”
“Gomawo…”
Hyewon pun tampak gembira dengan ucapan terimakasih yang diutarakan Jinki padanya. Genggaman baskom berisi di tangannya segera ia siapkan handuk kecil untuk membersihkan luka di ujung bibir Jinki.
“Bukalah sedikit mulutmu…”
“Yak, kenapa kau bicara tak formal padaku?” Kata Jinki masih lemah.
“Bahkan bicara saja kau sangat lemah…” Senyum Hyewon nakal.
“Tapi… Kenapa kau pergi ke sungai Han?” Tanya Jinki.
“Bukankah kau yang memberitahuku?”
“Jadi kau akan langsung datang ke suatu tempat jika aku memintamu untuk mendatanginya?” Tanya Jinki jahil.
“Aniyo…”
“Eommaa… Sejak kecil aku tinggal di Jepang. Namun eomma selalu berbicara tentang Seoul. Dia bilang kalau dia sangat ingin ke sungai Han. Setelah kami pindah ke Seoul, kami masih belum bisa pergi ke sungai Han bersama karena eomma harus menyelesaikan pameran desain bajunya di Jepang. Kemudian sunbae menyuruhku ke sungai Han, bagaimana aku tidak semakin penasaran??? Jadi aku mengajak appa kesana.”
“Oh… “ Jinki pun mengangguk pelan.
“Yak, buka mulutmu…” Ucap Hyewon pada Jinki dengan kalimat informal membuat Jinki kembali tersenyum atas ulah Hyewon.
***
“Aggashi…”
“Ne….”
“Pemuda yang di kamar tamu sepertinya sudah bangun. Dia sudah keluar dari kamarnya.” Kata Ajumma pada Hyewon yang sedang merapihkan kamar tidurnya.
Hyewon pun kemudian beranjak menemui Jinki yang ternyata benar telah keluar dari kamarnya.
“Sunbae…” Hyewon pun mendekat ke arah Jinki.
“Aku harus pulang untuk menemui adikku. Bawa aku ke ayahmu, aku harus berterimakasih padanya.”
“Apa kau sudah membaik?” Tanya Hyewon khawatir.
“Ne, kau bisa lihat aku. Aku pun sudah merasa segar kembali.” Hyewon hanya bisa menghela nafasnya.
“Baiklah, kita ke ruang kerja appa. Mungkin dia sedang disana.”
Hyewon pun lantas membawa Jinki ke ruang kerja appanya.
“Ah…. Appa tidak disini, mungkin dia masih ke kamarnya. Sunbae masuklah… Akan kucarikan appa.”
“Ne…”
Hyewon pun meninggalkan Jinki di ambang pintu ruang kerja ayahnya. Jinki pun lantas memberanikan diri masuk dalam ruangan mewah itu. Matanya pun masih bergeriliya melihat seisi ruangan yang dominan dengan bau obat. Tak heran karena memang ayah Hyewon bekerja sebagai seorang dokter.
Mata Jinki pun masih menyusuri ruangan itu. Kursi dan meja kerja dengan beberapa lembar kertas dan buku masih tertata rapi. Namun kini pandangan Jinki berpindah ke sebuah foto dengan ukuran besar yang terpanjang tepat di belakang kursi kerja tersebut.
Tampak Hyewon berdiri dan merangkul pundak kedua orang tuanya. Seorang pria yang Jinki kenal dalam foto itu, dia adalah Kim Junsu, ayah Hyewon. Namun Jinki tersentak melihat seorang wanita yang mungkin dia adalah ibu Hyewon. Wanita dengan rambutnya yang pendek dan terlihat cantik walau mungkin usianya tak lagi muda. Wanita yang mungkin tak asing lagi baginya.
“Eomma….” Tiba-tiba air mata pun mengalir di pipi Jinki.
*** to be countinue …
Next part 5 ! ^_^
*Author akan berusaha keras menampilkan kesan yang melodrama dengan bantuan kritik dan saran para yadongers`  .
* Namun author mencoba memberikan juga suasana yang baru mulai dari part ke 4 ini . Semoga readers bisa juga bisa menikmatinya .
*Kamsahamnida ….

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 25/04/2013, in Aktor, FF, Shinee and tagged , , , . Bookmark the permalink. 40 Comments.

  1. Seru…. Lnjut thor…!

  2. jd si Hyewon tu anak nya sandara?
    ah sedikit binggung pas awal,tp pas bagian ada jinki baru ngerti!
    good thor!

  3. omo konfliknya smkn rumit….
    lanjut thor

  4. duh lanjut dong penasaran nih…

  5. lanjut eon keren banget tapi kok ceroya nya dikit doang sihhh
    oh ya eon ngepost nya cepetan gak sabar nunggu yang ke lima

    • Chayl_Veyla

      makasih yaa uda setia ..🙂
      tenang … part 5 nya uda ada kok . tapi sabar dulu yaa .. kekuasaan admin untuk ngepost selanjutnya . aku ini hanya mengirimkan😀

  6. . Next thor…😉
    . Aku semakin penasaran sama kelanjutannya nanti… ^_^
    . Aku suka sekali dengan alurnya, walau aku tidak membaca yadongnya…
    . Soalnya aku takut dosa, hehee… #plakkk…😀

  7. eonnn aku minta alamat blog nya dong boleh gak

  8. nurul tazkia

    aku readers baru…
    ceritanya bagus, part 5-nya sangat ditunggu🙂

  9. Author konflik beuhhh mantap mkin brliku,,, hahahahh bhgia liat jia ga bhgia *evil smile*
    jadi part slnjt’a cpet ne thor? Mkin pnsarn….😀

  10. seru nh ff…
    bru bca part 1 udh lgsg Q lncat part 4 nya..
    hehehe… lnjt yakkk ayoo jgn klmaan… ^^

    • Chayl_Veyla

      makasih yaa uda setia🙂
      wahh kok gitu, nyesel loh nanti kalo ga baca part 2&3 .. hehhe😀

  11. angela maretha

    keren😀

  12. lilydie_kyu

    wahhh..
    daebakkk..next thorr..
    ganbatte..^_^

  13. akhirnya part 4 di upload juga. tinggal nunggu part 5 dan selanjutnya, ga sabaaarrr! semangat sist!🙂

  14. yg d tonjok sama jinki itu selingkuhannya ibunya??
    jongki oppa kmn thor kok part nya dikit banget.
    konfliknya makin banyak jd seru. penasaran apa hyewon akan sm jinki atau suwon . klo sandara. ketemu lg ma jongki oppa jangan2 clbk lg hua… kok gw jd yg mereka2 mianhe thor -.-

    • Chayl_Veyla

      makasih yaa uda setia🙂
      yapp , betul banget !
      hmm … ceritanya dia kerja diluar negeri .
      kamunya pengen Hyewon sama siapa hayoo??

  15. Hehe…..ceritanya oke ni…ngebut thor

  16. waaaaaah gimana kalo ntar jinki suka sama hyewon..
    langsung ngacir ke next partnyaaa

  17. Huaaaaaaaaaaaaaa…
    Kasian bgt jinki..
    Bnr2 deh, rmh tngga mreka hancuuurr..
    Kapok tuh jongki..
    Sebeelll deehh!!!!
    Jia bnr2 bkn ibu yg baik!!!!!

  18. aduhhhh,mudah mudahan si jinki kayaknya jatuh cinta sama hyewon tuh dan hweyon kayaknya juga sama,tapi hatinya sakit gk ya sekarang ibu tirinya adalah ibu dari hyewon >_<
    penasaran!

  19. wah..tambah kompleks masalahnya nih..

  20. Jgn2 hyewon anak junsu sama dara ?? Waduh tambah seru nih ,, trus gmna hub hyewon sama jinki , ? Apa nanti hyewon justru mlah sama jinki atau adiknya jinki ? Brarti dara gaa bisa sama jong ki lagi dong ? Rumitttt

  21. Knp jd sad gini!
    next😛

  22. gatau deh, pokoknya ini nyesek:””’

  23. Aq blm baca yg part 1-3… Lgsung baca yg part4, tertarik baca soalnya ada Si Jinki sih. Hehehehe… Trnyata menarik jg critanya, abis ni aq bca yg part 1-3 dlu deh…😀

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: