Innocent Man (Part 2)

yadong 2pm
Author : utamiasti

Title : Innocent Man (Part 2)

Type : Yadong, NC 17, Chapter

Cast :
– 2PM Junho

– Shin Harin

– SNSD Hyoyeon

– 2PM Wooyoung

Hi everyone!! pertama-tama aku sangat berterima kasih buat yang udah baca sama komen Innocent Man part 1 ^^ sekarang aku balik lahi dengan part 2 nya. Please RCL, okay? Enjoy!!😀

PS: maaf kalo NC nya kurang hot hehe😛

Innocent Man (part 2)

5 tahun kemudian….

Haaahh… tidak terasa sudah lima tahun berlalu. Aku sudah menyelesaikan kuliahku di Jerman, dan sekarang resmi menyandang gelar Sarjana Komunikasi. Aku memutuskan untuk kembali ke Seoul, meskipun kedua orang tuaku masih berada di Jerman karena tugas kerja ayahku baru akan berakhir satu tahun lagi. Aku sudah sangat rindu dengan Seoul. Selama lima tahun aku meninggalkannya, aku ingin tahu perubahan apa saja yang sudah terjadi. Saat ini aku baru saja tiba di Bandara Incheon. Aku memberitahu Wooyoung bahwa aku akan pulang ke Seoul. Jadi, ketika aku keluar dari pintu kedatangan, aku melihat Wooyoung yang tengah berdiri menungguku. Wooyoung tidak menyadari kehadiranku. Ya, aku sudah merubah 100% penampilanku. Selama kuliah di Jerman aku banyak belajar cara berpakaian yang stylish dari teman-temanku di sana. Dan sekarang aku sering sekali memakai pakaian yang sedang menjadi tren fashion di sana. Teman-temanku itu bilang, kalau aku tidak merubah gaya berpakaianku, tidak akan ada gadis yang akan mendekatiku. Mereka benar juga, setelah aku merubah gaya berpakaianku, banyak gadis-gadis yang menyukaiku haha. Aku langsung berjalan ke arah Wooyoung. Dia masih belum menyadarinya. Haha dasar bocah ini.

“Maaf membuatmu lama menunggu Wooyoung-ah” ucapku sambil tersenyum. Wooyoung menoleh perlahan ke arahku.

“Kau siapa?” tanya Wooyoung sambil mengangkat sebelah alisnya dan dengan nada yang sedikit sinis. Haha Wooyoung tidak berubah. Sikapnya selalu seperti ini ketika baru bertemu orang yang tidak dikenal.

“Kau menungguku, tapi tidak mengenaliku. Sahabat macam apa kau ini?” gantian sekarang aku yang sinis kepadanya.

“Kau… Junho? Lee Junho??” tanya Wooyoung tampak tidak percaya. Aku melepaskan kacamata hitam yang aku pakai sedari tadi.

“Iya ini aku Lee Junho yang culun itu hahaha” jawabku sambil tertawa lebar, “what’s up, man?”

“Ini benar-benar kau Junho-ya?? Aigoo kau sudah banyak berubah sekarang. Tentu saja aku baik. Kau jadi lebih tampan hahaha” Wooyoung langsung memelukku. Tidak aku sadari aku sangat merindukan sahabatku yang satu ini. Teman-temanku di Jerman tidak ada yang seperti Wooyoung. Dia selalu membuat lelucon-lelucon dengan celotehannya.

“Tapi tetap, ketampananmu tidak akan pernah mengalahkan milikku hahaha” ucap Wooyoung saat melepas pelukannya. Seketika aku langsung menoyor kepalanya. Dia hanya tertawa saja.

“Kaja kita ke mobilku” ajak Wooyoung sambil menarik koperku. Aku pun langsung mengikutinya menuju parkiran bandara. Sesampainya di mobil Wooyoung, aku memilih-milih CD untuk kuputar di CD player mobilnya.

“Kau kembali ke Seoul di saat yang tepat, Junho-ya” ucap Wooyoung sambil menyetir.

“Ada apa memangnya?” kataku tanpa melihat Wooyoung. Aku masih sibuk memilih-milih CD.

“Lusa, SMA kita akan mengadakan reuni akbar. Kau mau datang?” tanya Wooyoung sambil menoleh ke arahku. Aku meletakkan kaset-kaset CD milik Wooyoung, dan memutar CD Maroon 5.

“Apakah Hyoyeon akan datang?” tanyaku sambil menatap Wooyoung lurus.

“Apakah kau masih belum bisa melupakan Hyoyeon, Junho-ya?” tanya Wooyoung balik. Aku membuang muka, dan memilih melihat pemandangan di luar.

“Tidak mudah melupakan seseorang yang sudah kau sukai sejak kelas 1 SMA, Wooyoung-ah” jawabku sambil menyandarkan kepalaku ke jok mobil.

“Tapi kan dia telah menolakmu mentah-mentah, Junho-ya!” kali ini Wooyoung meninggikan suaranya. Aku tahu dia sangat kesal terhadapku. Tapi mau bagaimana lagi, aku masih belum bisa melupakan Hyoyeon sepenuhnya.

“Kemungkinan Hyoyeon akan datang. Kudengar dia baru saja kembali dari Amerika setelah menyelesaikan kuliahnya di sana” ucap Wooyoung akhirnya. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi, dan hanya fokus menyetir. Begitupun juga aku, memilih untuk menikmati lagu Payphone yang sedang diputar.

***

Aku memutuskan untuk datang ke acara reuni akbar SMA ku. Ya, aku juga ingin tahu keadaan teman-temanku yang lain, terutama Shin Harin. Selama di Jerman, aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Pernah sekali dia mengirimiku email untuk menanyakan kabarku. Aku membalas emailnya, namun setelah itu dia tidak membalasnya lagi. Mungkin saja dia sangat sibuk haha.

“Wooyoung-ah, kau ingat Shin Harin? Bagaimana ya kabar dia sekarang?” tanyaku pada Wooyoung saat kami tiba di lobby hotel tempat reuni akbar ini digelar.

“Shin Harin? Iya aku ingat. Sejak terakhir kali mengantarmu ke bandara, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Yang kutahu dia kuliah di Universitas Dankook. Sepertinya acara akan segera dimulai. Ayo Junho-ya kita harus cepat masuk!” ucap Wooyoung seraya menarik tanganku. Aku pun agak sedikit terhuyung. Ketika sampai di dalam aku langsung menjitak kepalanya.

“Kau tidak bisa pelan-pelan Wooyoung-ah??” ucapku kesal. Dia tidak mendengarkan omelanku, malah sibuk celingukan. Kini aku melihat pandangannya terfokus pada satu orang. Moon Sooyoung. Dia adalah yeoja yang disukai Wooyoung waktu SMA dulu. Tapi aku tidak tahu kalau Wooyoung masih menyukainya hingga sekarang.

“Wah, Moon Sooyoung datang!! Aku mau menyapa dia dulu Junho-ya. Kau bersenang-senanglah. Annyeong!” kata Wooyoung yang langsung melesat pergi. Dasar Jang Wooyoung. Kalau sudah berurusan dengan yeoja, pasti dia tidak akan menghiraukan apapun. Aku memilih untuk mengambil makanan yang disediakan. Tadi sebelum kesini aku belum sempat mengisi perutku. Aku mengambil beberapa roti, kue kering, dan juga secangkir teh. Ketika aku berbalik, tidak sengaja aku menabrak seorang yeoja. Otomatis teh yang sedang kupegang tumpah ke mini dress krem miliknya.

“Aaakk, mianhae, jeongmal mianhae! Aku tidak sengaja. Mau aku bersihkan dressmu?” ucapku sembari mengambil sebuah tisu di dekat tumpukan cangkir.

“Gwenchana. Aku bisa membersihkannya sendiri. Gomawo” ucapnya sambil tersenyum dan mengambil tisu yang kusodorkan. Ketika aku melihat wajahnya, aku sangat terkejut dengan yeoja yang ada di hadapanku ini. Dia adalah Shin Harin. Dia sudah sangat berubah dari yang terakhir kali kuingat. Dia sangat modis dan cantik, walaupun dia tidak meninggalkan kacamata besarnya. Kacamata itu malah membuatnya terlihat menjadi gadis yang pintar dan intelek, bukan kesan culun dan freak seperti saat SMA dulu.

“Kau… Harin, kan?? Shin Harin??” tanyaku tidak percaya. Dia juga sama terkejutnya denganku. Mungkin dia juga tidak percaya dengan perubahan yang terjadi padaku. Kami berdua seperti power rangers. Sama-sama berubah! Haha.

“Kau Junho kan?? Lee Junho?? Apa kabar? Kapan kau kembali dari Jerman?” tanya Harin bertubi-tubi dengan wajah yang sangat sumringah.

“Haha, aku baik Harin-ssi. Baru saja kemarin aku kembali dari Jerman. Jadi jetlag-nya juga masih belum hilang, hehe. Eh, iya, kau sendiri apa kabar? Apa kau sudah bekerja sekarang?” tanyaku sambil menyeruput tehku.

“Aku juga baik, Junho-ssi. Iya sekarang aku sudah bekerja sebagai editor majalah remaja yang namanya……” aku tidak lagi fokus mendengarkan ucapan Harin. Sekarang perhatianku teralihkan oleh seorang yeoja yang baru saja memasuki ballroom hotel tempat reuni akbar ini. Dia adalah Kim Hyoyeon. Yeoja yang sangat kusukai. Dia semakin bertambah cantik dan anggun. Tapi aku masih tidak berani menyapanya, ya aku masih trauma dengan penolakan itu. Lagipula, suasana akan menjadi canggung jika tiba-tiba aku menyapanya. Jadi, aku memilih untuk memperhatikannya dari jauh, sama seperti yang kulakukan sewaktu SMA dulu.

“Kau masih menyukainya, Junho-ssi?” tanya Harin yang membuyarkan lamunanku. Dia tersenyum sambil menyeringai. Aku hanya tersenyum kecut dan mulai memakan roti yang kuambil tadi. Tiba-tiba ada seseorang yang menpuk bahuku pelan. Aku berbalik dan terkejut ketika melihat siapa yang menepuk bahuku. Dia adalah Hyoyeon!! Kim Hyoyeon!! Oh, Tuhan, rasanya sama seperti dulu. Jantungku seperti ingin melompat keluar!

“Kau Lee Junho yang culun itu kan? Apa kabar? Wow, kau sekarang banyak berubah. Menjadi lebih tampan” ucap Hyoyeon dengan senyum yang paling menawan yang pernah ada. Kalau aku tidak ingat sekarang sedang ada di tempat umum, mungkin aku akan salto sebanyak 50 kali!

“Tentu aku baik-baik saja, Hyoyeon-ah. Kau sendiri bagaimana? Kudengar kau baru saja menyelesaikan kuliahmu di Amerika?” ini bagaikan mimpi. Aku bisa berbicara dengan Hyoyeon senyaman ini. Sepertinya aku harus berterima kasih pada teman-temanku di Jerman haha.

“Sama. Aku juga baik. Iya aku baru menyelesaikan kuliahku di Amerika. aku sangat merindukan Seoul, haha. Junho-ya, sepertinya band pengisi acara akan mulai tampil. Kaja kita lihat mereka!” ucap Hyoyeon sambil menggandeng tanganku. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Terima kasih, Tuhan, terima kasih, Wooyoung, terima kasih TongFang (?)

***

Sejak pertemuanku dengan Hyoyeon di acara reuni waktu itu, kami pun jadi semakin dekat. Daaaaannn akhirnya kami resmi berpacaran. Sudah sekitar tiga bulan ini kami menjalin hubungan. Aku masih tidak percaya bahwa Hyoyeon adalah yeojachinguku sekarang. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Oh iya, sejak kembali ke Seoul, aku mulai membuat lamaran ke beberapa perusahaan yang bergerak di bidang media. Dan hasilnya, aku diterima sebagai editor sebuah majalah remaja yang bernama The Golden Starlight. Dan hari ini juga adalah hari pertamaku bekerja. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tulisan “meine liebe” tertera di layar ponselku. Itu adalah bahasa Jerman, yang artinya “my love”. Tanpa ragu aku pun langsung menekan tombol jawab.

“Yeoboseyo, chagiya. Good morning!” kataku sambil mngancing kemejaku.

“Good morning too, honey. Kau sedang bersiap-siap kan? Aku juga. Doakan aku ya supaya aku bisa lolos audisi hari ini” kata Hyoyeon di seberang telepon. Hyoyeon akan mengikuti audisi model di sebuah majalah. Dia bilang padaku, bahwa dari kecil ia ingin sekali menjadi model. Namun, kedua orang tuanya sangat menentang, terutama ayahnya. Mereka pun memaksa Hyoyeon untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Selama di Amerika pun, Hyoyeon hanya belajar dan belajar. Padahal, katanya, kesempatan untuk menjadi seorang model sangat besar disana. Namun, lagi-lagi karena ayahnya sangat menentang keras dan mengancam tidak akan membiayai kuliah Hyoyeon jika ia ketahuan menjadi seorang model, mau tidak mau Hyoyeon pun menuruti ayahnya. Tetapi, karena Hyoyeon berhasil lulus kuliah dengan cumlaude, akhirnya ia bias membujuk ayahnya untuk mengijinkannya menjadi seorang model.

“Tentu saja, Yeonieku sayang. Kau juga doakan aku ya, supaya aku sukses melewati hari pertamaku bekerja sebagai sorang editor” ucapku.

“Of course, honey. Fighting for us!! Saranghae, Lee Junho” ucap Hyoyeon.

“Nado, saranghae, Kim Hyoyeon, deep kiss from me to you” ucapku seraya mencium ponselku sendiri. Padahal, kenyataannya, selama tiga bulan berpacaran, kami belum pernah berciuman, hehe.

***

Aku pun sampai di kantor majalah tepat waktu. Dan langsung disambut oleh  manajer Park. Dia memberitahuku bahwa aku akan masuk ke dalam tim editor. Manajer juga bilang, bahwa majalah ini hanya mempunyai satu editor. Mereka ingin membuat performa dari majalah ini menjadi lebih baik lagi. Maka, mereka memutuskan untuk membuat tim editor, dan merekrutku sebagai editor selanjutnya. Setelah diberitahu dimana ruang kerjaku, aku pun langsung masuk ke dalam. Manajer Park bilang, editor yang satunya lagi akan menyambutku.

“Selamat datang di tim editor The Golden Starlight, Lee Junho-ssi” itu… Harin! Shin Harin! ternyata dia editor yang akan menjadi partner kerjaku. Ah, ya, aku ingat sekarang. Harin pernah bilang bahwa dia bekerja sebagai editor sebuah majalah remaja. Namun, saat itu aku tidak fokus mendengarkannya karena teralihkan oleh Hyoyeon, hehe. Wah, ini bagus sekali. Berarti, aku tidak akan menemui kendala yang berarti, karena pasti Harin akan bersedia membantu dan memberikan bimbingan padaku.

“Wah, Harin-ssi ternyata kau yang menjadi partner kerjaku. Aku senang sekali. Mohon bantuan dan bimbingannya, Shin Harin-ssi” ucapku sambil membungkukkan badan kepada Harin. Dia juga membalas membungkuk.

“Haha, no problem, Junho-ssi. Aku pasti akan membantumu. Kau tidak perlu khawatir” ucap Harin sambil menepuk bahuku. Aku pun tersenyum lebar.

“Kaja kita mulai pekerjaan pertama kita. Tim seleksi sedang menggelar audisi model untuk mengisi rubrik fashion bulan ini, dan juga cover untuk bulan depan. Dan tadi aku mendapat kabar bahwa mereka telah memilih siapa modelnya. Mereka juga langsung melakukan pemotretan, kita harus melihatnya” ucap Harin sambil bergegas keluar ruangan. Aku pun mengangguk mengerti, dan mengikutinya menuju lift. Sesampainya di ruang pemotretan, betapa terkejut sekaligus senang bahwa model yang terpilih itu adalah Hyoyeon. Ternyata Hyoyeon mengikuti audisi di majalah ini. Kami memang benar-benar ditakdirkan bersama. Pemotretan break sebentar, dan Hyoyeon langsung menghampiriku.

“Chagiya, kenapa kau bisa ada disini? Kau mengikutiku ya?” ucap Hyoyeon sambil memelukku dan memukul dadaku pelan.

“Hyoyeon-ah, jangan seperti ini. Aku sedang bekerja. Bisa-bisa nanti setelah ini aku langsung dipecat” ucapku sambil mencubit hidungnya gemas. Hyeyeon mendengus pelan karena aku mencubit hidungnya.

“Ya! Katanya kau sedang bekerja, kenapa malah mencubit hidungku? Wah, berarti, kau adalah editor majalah ini. Kalau begini, aku bisa menjadi model tetap disini, hehehe” aku hanya tersenyum dan mengusap puncak kepalanya. Tak lama kemudian, fotografer memberitahu bahwa pemotretan akan dimulai kembali. Hyoyeon pun berpamitan denganku, dan kembali ke studio.

“Kalian berdua berpacaran sekarang?” tanya Harin, yang tidak kusadari dari tadi ada di sampingku.

“Oh, mianhae Harin-ah. Iya kami berdua berpacaran. Sudah tiga bulan ini” jawabku yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku hari ini.

“Chukkae!” ucap Harin singkat. Setelah itu ia tidak mengucapkan apa-apa lagi, dan fokus pada pemotretan. Begitupun aku, aku juga fokus pada pemotretan, terutama modelnya hehe.

***

Tidak terasa sudah dua bulan aku bekerja sebagai editror. Hasilnya pun sangat memuaskan. Pembaca majalah kami pun semakin bertambah. Oleh karena itu, manajer Park mengadakan pesta di sebuah restoran daging untuk merayakan keberhasilanku dan Harin. Hyoyeon juga ada disini. Tentu saja karena dia adalah cover model bulan ini. Dia juga salah satu yang menaikkan performa majalah The Golden Starlight. Namun saat ini sudah larut malam, dan orang-orang pun sudah mulai mabuk. Termasuk juga Hyoyeon. Kalau aku, tidak bisa minum alkohol lebih dari dua gelas. Jadi, saat ini hanya aku dan Harin yang kesadarannya masih 80%.

“Hyoyeon-ah, kau sudah sangat mabuk. Lagipula juga sekarang sudah larut malam. Ayo kuantar pulang” ucapku seraya mengangkat dan membopong tubuh Hyoyeon.

“Yeorobun, aku pamit pulang duluan ya. Dan juga manajer Park, aku sangat berterima kasih atas pesta yang kau buat ini” aku pun membungkukkan badanku. Manajer Park hanya menjawabnya dengan anggukan, karena dia juga sudah sangat mabuk.

“Aku pulang, Harin-ah” pamitku pada Harin.

“Ya, hati-hati Junho-ya” ucap Harin. Aku mengangguk, dan mulai memapah tubuh Hyoyeon ke mobil. Hyoyeon pun mulai meracau yang tidak jelas. Kami sampai di apartemen Hyoyeon. Aku pun langsung membaringkan tubuh Hyoyeon di tempat tidurnya, dan melepas sepatunya. Sejenak aku duduk di pinggir tempat tidurnya memperhatikan wajah cantik dan tenangnya saat tidur. Sangat menawan. Aku mengambil jaketku dan bergegas untuk pulang. Namun, aku mersakan Hyoyeon menahan tanganku. Aku berhenti dan berbalik. Sekarang kulihat dia sudah duduk di tempat tidurnya.

“Kau mau kemana?” tanyanya tanpa melepaskan tanganku.

“Aku mau pulang. Kau istirahatlah. Pasti kau sangat lelah hari ini” ucapku melepaskan tangan Hyoyeon, dan hendak mencium keningnya. Namun, Hyoyeon langsung menarikku, yang membuatku menindih tubuhnya. Jarak di antara kami pun sangat dekat. Tak lama kemudian, Hyoyeon menarik tengkukku, dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Aku sangat terkejut. Ini adalah ciuman pertamaku.

“Hmmmmpphh… Hyeyeon-ah, appah, yanghh kau lakukannh??” namun, Hyoyeon sepertinya tidak mendengar perkataanku, dan semakin melumat bibirku dengan lincah. Posisi kami pun berubah. Sekarang Hyoyeon yang ada di atasku. Aku tidak membalas ciumannya, karena jujur saja aku masih sangat terkejut. Hyoyeon pun melepaskan ciumannya, dan beralih ke leherku. Dia mencium dan menghisap leherku, dan membuat kissmark. Jujur saja, aku mulai terangsang sekarang. Tidak! Aku tidak bisa melakukannya! Aku belum siap! Sekarang aku merasakan Hyoyeon mulai membuka satu-persatu kancing kemejaku. Ketika dia akan mebuka kancing yang terakhir, aku mencekal tangannya. Hyoyeon terheran-heran. Aku memegang bahunya erat.

“Tidak Hyoyeon-ah. Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Aku belum siap” ucapku menatap Hyoyeon lurus. Ekspresi Hyoyeon langsung berubah seketika. Dari wajah yang sangat seduktif tadi, menjadi sangat kesal. Dia pun bangun dari atas tubuhku.

“Yasudah. Kalau begitu, kau pulanglah. Aku sangat lelah” aku pun langsung bangun dari tempat tidurnya dan merapikan kemeja serta rambutku.

“Jaljayo, chagiya” ucapku hendak mencium keningnya, namun dia langsung menarik selimut, dan membalikkan tubuhnya menghadap tembok.

“Mianhae, chagiya” ucapku lagi sebelum menutup pintu kamarnya.

***

“Hoooooaaaammmm….” entah ini sudah yang keberapa aku menguap sepanjang hari ini. Gara-gara memikirkan kejadian semalam, aku sampai tidak bisa tidur. Aku memikirkan, apa aku salah karena menolak melakukannya dengan Hyoyeon. Aku kan memang belum siap. Setelah pemikiran panjang, aku pun memutuskan untuk melakukannya malam ini dengan Hyoyeon. Namun, sejak tadi kutelpon, dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia masih marah padaku. Baiklah nanti aku ke apartemennya saja.

“Kau kenapa Junho-ya? Sakit?” tanya Harin saat melihat wajahku yang sangat jauh dari kata bersemangat.

“Ah, tidak Harin-ah. Aku hanya kurang tidur semalam” jawabku sambil mengulas senyum.

“Sekarang sudah waktunya makan siang. Ayo kita keluar” ajak Harin.

“Ayo” jawabku sambil merapikan mejaku. Kami pun mendatangi sebuah kafe. Harin berinisiatif memesan makanan. Aku hanya menyamakan semua makanan yang dipesan Harin. Aduh, ternyata rasa kantukku belum hilang juga.

“Harin-ah, aku ke toilet dulu ya mau mencuci muka” ucapku.

“Baiklah Junho-ya” jawab Harin sambil tersenyum. Ketika dalam perjalanan ke toilet, aku melihat Hyoyeon sedang ada di kafe ini juga bersama teman-temannya. Wah, tepat sekali, pikirku. Aku tidak jadi ke toilet, melainkan menghampiri Hyoyeon.

“Hyoyeon-ah, bagaimana hubunganmu dengan Junho? Apa baik-baik saja?” tanya salah satu teman Hyoyeon. Aku tidak banyak mengenal teman-teman modelnya.

“Haahh hubunganku dengan Junho tidak menyenangkan. Semalam aku menciumnya saja dia tidak membalas ciumanku. Lalu dia juga menolak ‘berhubungan’ denganku. Dia itu hanya penampilannya saja yang berubah. Sifatnya masih sama seperti dulu. Innocent!” ucap Hyoyeon sambil menyesap jus jeruknya. Aku langsung menghentikan langkahku dan memilih bersembunyi untuk mendengarkan perkataan Hyoyeon selanjutnya.

“Lalu apa tindakanmu sekarang?” tanya teman Hyoyeon itu lagi.

“Aku akan memutuskannya malam ini. Dia itu hanya pelarianku dari Mark, mantan pacarku di Amerika. Jadi pelarian saja dia tidak bisa diandalkan. Buat apa dipertahankan? Hahahahaha” aku bagai disambar petir mendengar perkataan Hyoyeon. Ini lebih menyakitkan daripada dia menolak cintaku dulu. Tanpa basa-basi lagi aku langsung keluar dari persembunyianku.

“Tidak usah malam ini. Sekarang saja. Jadi selama ini kau hanya menganggapku sebagai pelarian? Seharusnya aku sadar kalau kau memang tidak pantas untukku sejak kau menolakku dulu. Aku memang bodoh. Baiklah, mulai sekarang kita putus. Terima kasih atas semua kenangan yang kau berikan padaku” Hyoyeon tampak terkejut dengan kehadiranku. Begitu juga dengan teman-temannya. Aku pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan Hyoyeon dan teman-temannya. Aku tidak menghiraukan Hyoyeon yang berteriak memanggil namaku.

“Kaja kita pergi dari sini Harin-ah” ucapku sambil menarik tangan Harin dan membawanya keluar dari kafe ini.

“Ada apa Junho-ya? Kenapa tiba-tiba pergi?” tanya Harin yang sangat terkejut.

“Nanti akan kupesankan pizza” ucapku dingin. Harin yang masih terkejut hanya pasrah mengikutiku.

***

Aku meneguk gelas kecil berisi wiski. Entah ini sudah gelas yang keberapa. Aku memutuskan untuk minum sampai mabuk demi melupakan sakit hatiku pada Hyoyeon. Aku hanya minum sendirian. Dan juga bar ini hampir tutup. Ketika aku ingin menuang wiski lagi ke dalam gelasku, ada seseorang yang menahan botol wiskiku. Aku menoleh.

“Cukup Junho-ya. Kau sudah sangat mabuk. Kau harus pulang. Tolong jangan seperti ini” ternyata Harin yang mencekal tanganku. Aku pun menepis tangannya, tapi dia berhasil mengambil botol wiskiku.

“Jangan ikut campur Harin-ah. Ini bukan urusanmu” ucapku sambil menatapnya tajam.

“Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi kau adalah teman sekaligus partner kerjaku. Kalau kau begini, pekerjaanmu akan menjadi terbengkalai. Siapa yang rugi? Tentu saja aku” balas Harin tak kalah ketus.

“Kalau begitu, setelah ini aku akan membuat surat pengunduran diri dan keluar dari perusahaan” jawabku sambil tersenyum kecut.

“Sudah tidak usah banyak bicara lagi. Ayo kuantar pulang” Harin membopong tubuhku. Awalnya aku menolak, namun aku sudah sangat sempoyongan, sehingga Harin berhasil membawaku keluar dari bar ini, dan mendudukkanku di kursi penumpang mobilnya.

“Memang kau tahu dimana rumahku, hah?” tanyaku sinis pada Harin.

“Aku tahu. Tadi aku sempat menelpon Wooyoung” ah, aku lupa kalau dia juga mengenal Wooyoung. Selanjutnya aku pun hanya terdiam, begitu juga Harin. Kami sampai di rumahku. Harin dengan sigap membopongku, dan membawaku menuju kamarku. Dia membaringkan tubuhku di tempat tidur. Dia melepas sepatu serta jaketku. Ini sama persis dengan apa yang kulakukan pada Hyoyeon waktu itu. Kenangan tentang Hyoyeon kembali berkelebat di kepalaku. Sejenak mataku dan Harin bertemu. Lama aku menatapnya. Entah setan apa, aku bangun, menangkup wajah Harin, dan perlahan mendaratkan bibirku di bibirnya. Harin sangat terkejut dan berusaha melepaskan ciumanku. Namun, aku sudah mengunci tubuhnya. Aku meraih tengkuk Harin dan semakin memperdalam ciumanku. Aku melumat bibir Harin ganas. Ini seperti bentuk pelampiasanku. Perkataan Hyoyeon tadi siang kembali terngiang.

“Mmmpphh…. leppaasskan Junho-ya!” Harin berbicara di sela ciumanku. Aku pura-pura tidak mendengarnya.

“Aaarrggghh….” Harin meringis kesakitan saat aku menggigit bibirnya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung ku lesakkan lidahku ke dalam rongga mulutnya, mengajak lidah Harin untuk berperang. Lima menit kemudian, kami mulai kehabisan nafas. Aku melepaskan ciumanku. Aku menatap Harin.

“Neo neomu yeppeo, Harin-ah” ucapku sambil membelai rambut Harin pelan. Harin menatapku dengan wajah penuh amarah.

“Brengsek kau Lee Junho!” plaakk… Harin menamparku.

“Oh, jadi kau ingin bermain-main denganku? Baiklah!” aku membanting tubuh Harin ke kasur dan menindihnya. Langsung aku mencium, menjilat, dan menghisap lehernya, sehingga meninggalkan kissmark di seluruh permukaan lehernya.

“Ssshhhh.. hennntikaannnh Junho-yaaahh!!” Harin mendesah. Gotcha! Dia mulai terbawa permainanku sekarang. Aku membuka satu-persatu kancing kemeja Harin, melepaskan, dan membuang kemejanya ke sembarang tempat. Aku terkesima dengan dua buah gundukan milik Harin. Harin berusaha berontak di bawahku. Plaakk.. aku menamparnya keras.

“Kau jangan banyak bergerak. Jadilah anak manis dan puaskan aku!” Harin menangis. Aku tidak peduli. Aku merasa tubuhku tidak sepenuhnya di bawah kendaliku. Aku sangat emosi, marah, kesal, kecewa. Ini semua karena wanita yang bernama Kim Hyoyeon!

–TBC–

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 29/05/2013, in FF, SNSD and tagged . Bookmark the permalink. 26 Comments.

  1. seru ceritany menarik
    lanjut thor…

  2. Aigoo!!! Junho tega amat ya😦 krna skit hati tman jdi krban

  3. Junho jahat bgt sich, mudah2 junho sadar n menyesal stlh ngelakuin ke harin. Junho sama harin aja, tp junho hrs dibuat jatuh cinta dlu ya

  4. cepet thor di lanjutin. gak sabar

  5. kasian harin..
    Dtnggu next yah

  6. seru… lanjut ny cepatan ya thor
    kasihan harin jadi pelampiasan -.-

  7. next thor, ini ff lama x terbitnya.. Hehe

  8. Kyaa…. Author tega…. Tbc??? Lgi seru2… *plakk xd aplgi nunggu’a lama…😦
    *hhufft q dah kesel kirain mw enceh ma hyo tpi tk jd hahahh… Bagus authorr…. Gw demen dahh heheh next part cpetan ne thor….

  9. makin deg-deg kan nunggu next part nya

    kenapa sih TBC gak sembuh2:/ *bawa ke rumah sakit aja thor😀

  10. aiiu dlwnsghek

    kerenn ceritanyaa…
    ga sabarr pngen baca part selanjutnya… !!!😀

  11. Ah min seru banget lanjut min

  12. yak kenapa tuw si junho mau ngapain harin ??? kok yang jd pelampiasan harin ??
    ditunggu lanjutannya thor gomawo

  13. Mekar ayu wijayanti

    part 3 kapan? Daebak ! Seru ceritanya

  14. junho kok… padahal dia gak suka harin kan?
    next thor^^

  15. tanty indrayanty

    eehh bused lagi tegang tegangnya(?) tiba” ada tulisan “tbc” -..-!! Lanjutin thor kalo bisa secepatnya udah engga sabar nih(?)

  16. laaaannjuuutttt >.<

  17. Kok junho jd kasar sh
    next thor

  18. seulyeong choi

    Kerasukan setan apa ya junho oppa?

  19. Kereeennnnnnnnnnnn 4 jempolllll lebih malahannnn

  20. kasian harin,cma d jadiin tmpt blas dendam dan plampiasan amarah junho az..
    Next part

  21. Yaah kasihan harin😦 junho nya jahaat banget..mudah”an junho mau tanggung jawab..hhehe.

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: