POLARIS

ff nc yadong

Author : ullzsura
Tittle    : POLARIS
Cast     :

–          Kang Sura

–          Kim Himchan

–          Jung Daehyun

–          Im Yoona

Other cast        :

–          Yoo Youngjae

–          Moon Jongup

–          Bang Yongguk

Type    : Romance, Sad, NC 21

Because of my selfishness, my pride, my greed,

 I acted that way and I let you go
I was the bad guy,
I didn’t know any better
only you are in my bruised heart
Because of my selfishness, my pride,
my greed,

 I think of you every day
I try to forget you but it’s not that easy,
it doesn’t make sense because I love you

-Kim Himchan-

Himchan POV

“Apa perlu kujemput di depan?…….Ah, begitu. Baiklah.” PIP!

“Hyung, kau yakin dia bukan kekasihmu?” Tanya Youngjae padaku setelah aku menerima telepon dari ‘dia’ yang ia maksud.

“Kenapa kau sangat tidak percaya kalau aku tidak mempunyai kekasih di luar sana? Dia temanku sejak kecil. Beberapa menit lagi dia datang. Jangan ada yang berani-berani bertanya yang macam-macam padanya.” Kataku. Ya, aku ketakukan jika mereka akan bertanya yang tidak-tidak mengenai hubungan kami. Mengapa mereka sangat tidak percaya kalau wanita itu hanyalah sahabat kecilku?

TING TONG!

Ternyata lebih cepat dari yang kuduga. Dan kulihat semuanya terlihat antusias melihat siapa yang datang. Ini sedikit menyebalkan. Aku pun membuka pintu dan……aku tau dia terlihat cantik di foto, berbeda sekali dengan saat aku masih bertetangga dengannya 5 tahun yang lalu. Pada kenyataannya bagiku dia lebih dari cantik.

Sura POV

Seseorang membuka pintu dan aku hanya bisa meringis seperti orang bodoh. Mengapa ada 3 pria yang menongol di pintu dengan wajah mereka yang terlihat heran melihatku? Lalu aku memandang Himchan dan melambai-lambaikan tanganku kaku. Hah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Jika tidak ada orang-orang yang tak kukenal itu, mungkin aku sudah memeluknya.

“Hai?” sapaku seperti orang kikuk.

“Sebaiknya kalian menyingkir sebentar karna ini akan membuatnya tidak nyaman.” Ucap Himchan pada teman-temannya. Barulah mereka mengangguk-angguk dan sedikit menyingkir dari pintu. “Masuklah,” Ucap Himchan padaku. Aku pun memasuki rumahnya yang sekarang sudah menjadi rumah kost. Sepertinya mereka adalah penghuni kostnya.

Himchan adalah sahabat kecilku. Sudah sejak berumur 3 tahun kami bersama. Setelah kepindahannya ke Busan, aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Tapi setahun yang lalu, aku kembali bertemu dengannya di dunia maya dan akhirnya sekarang kami dapat bertemu lagi di Seoul. Himchan pindah ke Seoul semenjak 2 tahun yang lalu, karena lokasi kampusnya. Rumahnya memang dimana-mana, makanya dia tinggal sendiri di rumah yang menurutku sangat besar. Dia cukup pintar, ketidaksukaannya tinggal sendri, maka ia menjadikan rumahnya sendiri kost-an. Sudah memang orang kaya, dia pun mendapatkan penghasilannya sendiri. Dia orang yang sangat beruntung.

Berbeda denganku, ditinggal kedua orangtuaku karena sebuah kecelakaan dan mereka meninggalkan banyak hutang yang baru kuketahui. Aku sudah tidak punya rumah. Aku sudah menjualnya. Tapi hutang itu masih belum terbayar sepenuhnya. Beruntung Himchan menawarkanku untuk tinggal di rumahnya. Kebetulan, aku kemari untuk menyelesaikan semua hutang-hutang sialan itu.

“Uhh…sebaiknya kau memperkenalkannya dulu pada kami.” Ujar pria tampan yang berbadan cukup tinggi. Aku tersenyum padanya, juga pada yang lain.

“Lakukan perkenalan sesudah jam makan malam.” Ucap Himchan yang langsung menarik tanganku pergi. Aku menoleh ke belakang. Yang lain menggerutu. Aku senang Himchan membawaku pergi. Dia membawaku pergi ke kamarku. Kulihat kamar yang tidak kecil. Baiklah, kali ini aku beruntung.

“Kau yakin menyuruhku tinggal di sini? Satu kamar pun berarti bukan? Kamar ini bisa menghasilkan uang kalau bukan aku yang pakai.” Kataku.

“Sudah kubilang berapa kali kalau aku menyewakan kamar  bukan karna uang, tapi karna aku tidak suka tinggal sendiri.” Jelasnya.

“Ya tapi kan sayang. Lagipula aku bisa tinggal di rumah temanku.”

“Tidak, aku lebih bisa tenang kalau kau tinggal bersamaku. Mau kubantu membereskan barang-barangmu?”

“Ah, tidak usah. Oh ya, malam ini aku izin pergi. Aku ingin bertemu temanku yang kubilang tadi.”

“Okay.”

Dia berbeda. Terlihat lebih cuek. Aku yakin tidak ada yang salah denganku. Dulu dia sangat cerewet, banyak tingkah, dan beberapa jam yang lalu di telepon saja dia masih banyak bercanda denganku.

“Ya! Sejak kapan kau bersikap dingin seperti ini padaku?”

“Huh? Ahahaha, tidak. Dingin apanya?”

“Kau berbeda.”

“…..tidak. Kau bereskan barangmu lalu mandi. Aku akan membelikan makanan untukmu.”

Himchan pun keluar dari kamarku. Entahlah, tapi tetap saja aku merasa ada yang berbeda.

***

“Hyung, kalau begitu pacarku boleh tinggal di sini juga?” Tanya pria tinggi yang sudah kutahu bernama Yongjae.

“Kau tidak ingat? Tidak ada party, tidak ada wanita.” Ucap Himchan sembari memakai jaket kulit hitamnya.

“Tapi….Sura?”

“Dia masuk bagian keluargaku. Kau mengerti? Apa aku pernah membawa wanita kemari? Tidak, kan?”

Aku hanya diam mendengarkan obrolan mereka. Lalu aku mendekati Pria yang sedari siang tidak pernah melepaskan masker hitamnya. Namanya Daehyun.

“Apa benar katanya?” Bisikku pada Daehyun.

“Hm?”

“Dia tidak pernah membawa wanita kemari? Pacarnya, misal?” Daehyun hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak asik untuk diajak bicara. Aku pun bergeser ke lain arah untuk mendekati Jongup, namja satu-satunya yang masih sekolah di sini.

“Apa benar Himchan tidak pernah membawa wanita kemari?” Bisikku.

“Hmm, setauku tidak. Sudah hampir setahun aku di sini, tetapi hanya sekali aku melihat dia membawa wanita. Dan itu hanya sahabat dekatnya. Setauku.” Jelas Jongup sambil memakan pisang.

“Apa dia tidak pernah punya pacar?”

“Kami semua berpikir kau adalah pacarnya, nuna.”

“Kalian semua pria dan bahkan tidak pernah berpesta di sini?” Tanyaku tidak percaya.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Himchan tiba-tiba, membuatku kaget. Aku hanya diam. “Sura, kau mau pergi ke mana? Biar kuantar. Sekalian aku mau menengok temanku ke rumah sakit.”

“Ah tidak perlu. Nanti temanku yang akan menjemputku kemari.” Jawabku.

“Laki-laki?”

Ani. Dia perempuan.”

“Baiklah, aku pergi. Kalian, jangan macam-macam.”

“Hmmm…” Deham Daehyun, Jongup dan Youngjae bersamaan. Himchan pun menghilang di balik pintu. Aku semakin merasakan ada yang berbeda dengannya. Seorang Himchan hanya sekali membawa seorang wanita ke rumah? Ini sulit dipercaya. Himchan yang kukenal adalah Himchan yang senang menggoda anak-anak perempuan, Himchan yang selalu bergonta-ganti pacar dan….sering membuatku sakit.

***

Himchan POV

Hari ini adalah hari terbaik. Aku tidak pernah sesenang ini. Tapi…, sulit untuk menunjukkan bahwa aku sedang bahagia. Aku hanya bisa diam, bahkan jika orang melihatku, mereka mengangka kalau pikiranku sedang flat. Aku harus bersikap seperti biasanya nanti. Ya, jika aku bisa.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan tadi Sura mengirim pesan padaku dan mengatakan bahwa dia akan menginap di rumah temannya malam ini. Sayang sekali. Aku pun berjalan keluar dari minimarket dan duduk di depan. Rasanya jadi malas untuk pulang ke rumah. Kukeluarkan sebatang rokok yang kubeli  tadi dan menyulutkan apinya. Aku hanya bisa merokok ketika cuaca dingin seperti ini. Natal sebentar lagi akan tiba.

Mataku tertuju pada klub malam di sebrang. Hari semakin malam, semakin banyak yang masuk ke sana. Rasanya aku merindukan tempat itu. Minum, bersenang-senang, tapi untuk apa? Itu hanya untuk melampiaskan rasa bosanku. Setelah kupikir-pikir, diam di rumah bersama 3 orang bodoh itu lebih baik.

Tapi tidak ada salahnya jika aku hanya sekedar mampir.

Tanpa berpikir macam-macam, aku langsung beranjak menuju tempat itu. Saat aku memasukinya, mataku menyipit dan sedikit pusing menerima cahaya gemerlap yang sudah lama tidak kulihat. Begitu pula dengan musik yang sangat keras, membuat telingaku kebisingan. Sudah selama apa aku tidak kemari? Rasanya seperti orang asing saja. Kulihat ada tempat kosong yang bisa kududuki. Aku pun berjalan menuju tempat itu. Malam Senin seperti ini ramai sekali.

BUK!

Seseorang berjalan mundur dan tidak sengaja menabrakku. Kesal, tapi kupikir hanyalah orang yang mabuk.

“Himchan?” Saat orang itu membalikkan badan dan melihatku. Ck, Yongguk, teman lamaku di sini. “Kau sendirian?”

“Begitulah.”

“Kau bilang kau sudah malas kemari!” Ujarnya sedikit berteriak karna disini sangatlah berisik. “Jadi mau ikut atau tidak? Kita karaoke di atas dengan yang lain!” Aku pun akhirnya setuju saja karna aku sendiri bingung mau apa kemari. Kami pun pergi ke lantai 3. Terahir aku kemari, tidak ada tempat karaoke. Kuperhatikan setiap ruangnya memiliki pintu yang tidak berkaca. Benar-benar tertutup. Ya~semua tau apa yang ada di balik pintu-pintu itu.

“Sebentar.” Ujar Yongguk tiba-tiba berhenti berjalan. “Aku lupa mereka ada di ruang nomor berapa” Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Hah, dasar bodoh.

“Atas nama siapa?” Tanyaku.

“Tidak tau.”

“Kalau begitu hubungi siapapun, cepat.”

Aku bersandar pada dinding dan menatap pintu ruang nomor 5. Rasanya sangat penasaran apa yang sedang terjadi di dalam sana. Para ahjusshi yang sedang mencari kesenangan dengan wanita-wanita lain? Haha, biasanya begitu.

Kulihat seorang pelayan berjalan ke arahku dan tepat sekali, dia membuka pintu ruangan di depanku dan….Sura? Apa aku tidak salah lihat? Perlahan pintu itu kembali tertutup. Ya! Itu benar Sura!

“Kau kenapa?” Tanya Yongguk.

Nde?”

“Apa yang kau lihat di dalam?”

“Tidak.”

“……Ah, okay, jadi no 10?” Yongguk kembali sibuk dengan ponselnya. “….aku bersama Himchan.”

Pelayan itu keluar lagi dan aku benar-benar ingin masuk ke dalam. Aku benar-benar gelisah. Bagaimana caranya? Ah, bagaimana nanti!

“…eh? Himchan! Mau apa ka—” Aku tidak mendengar lagi suara Yongguk setelah pintunya kututup. Semua orang di dalam menatapku, terlebih Sura. Ya, dia, wanita yang sedang duduk dalam pangkuan pria menjijikan, dia benar-benar Sura.

“Uh…, maaf, aku ada perlu dengannya.” Kataku kikuk, menatap Sura.

“Siapa kau?” Tanya pria yang memangku Sura. Kulihat Sura menunduk, tidak mau menatapku.

“Apa keperluanmu?” Tanya pria satunya yang sedang merangkul wanita jalang. Mataku kembali menatap Sura dan aku menemukan hal paling menjengkelkan dalam hidupku. Tangan pria itu, menyentuh dada Sura. Aku segera mendekatinya dan menarik tangan Sura, tapi pria itu menahanku.

“Apa apaan kau?!” Hentaknya.

“Aku memerlukannya hanya lima menit.” Jawabku.

“Uh.., lima menit saja. Aku akan kembali.” Ujar Sura pada pria itu. Aku memalingkan pandanganku. Menyebalkan.

“Baiklah. Lima menit.” Ujar pria itu.

Tanpa berlama-lama, aku segera menarik Sura keluar dari ruangan itu. Ku dengar Yongguk memanggil-manggil namaku, tapi sumpah aku malas untuk berbicara hal yang tidak penting!

Sura POV

Tanganku sakit….

“Lepaskan aku!” Bentakku. Himchan tidak menggubrisku. Dia terus jalan menuruni tangga, menubruk kerumunan orang-orang di bawah. Tangannya terlalu keras memegangku. Aku bener-bener lemas.

Himchan membawaku keluar, dan aku melihat mobilnya terparkir sembarangan di depan mini market. Dia membuka pintu mobilnya dan akhirnya dia melepaskan tanganku.

“Cepat masuk.” Ucapnya datar.

“Tapi…, lima menit….”

“Masuk.”

Baiklah, akhirnya aku pun masuk ke dalam mobil. Himchan menutup pintunya dan ia pun masuk juga ke dalam. Aku tidak berani mengangkat daguku. Mimpi apa aku semalam? Himchan mengetahui pekerjaan baruku dan dia memergokiku dalam posisi menjijikkan. Bad.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Tanya Himchan datar.

“Bukan urusanmu.”

“Apa dia yang kau sebut temanmu? Atau apa?”

“Aku tidak punya teman seperti itu.”

“Kutebak kau bekerja di sana sekarang?”

“……”

“Untuk apa?!” Nada Himchan semakin tinggi. Aku hanya diam. Kudengar Himchan mendengus panjang. Aku bersiap untuk mendapatkan serangan mulutnya. “Kau tau seberapa kecewanya aku melihat kelakuanmu tadi? Aku mengerti kau membutuhkan uang secepatnya, tapi caranya bukan seperti ini! Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau…”

“Yak!” Dia langsung berhenti bicara ketika aku bersuara. “Siapa kau melarangku ini itu?! Ini kehidupan pribadiku, seharusnya kau tidak perlu ikut campur!”

“…….” Himchan menatapku marah. Aku tau apa yang kukatakan sangatlah tidak pantas, tapi aku hanya bingung dan malu. Aku tidak tau harus bicara apa.  “Kau menganggapku apa selama ini?” Nada suaranya merendah. Aku takut. “Apa jika aku adalah pacarmu, baru kau akan mendengarku? Apa aku yang sudah berteman lama denganmu ini sama sekali tidak ada artinya untukmu?”

Mataku berkaca-kaca. Aku ingin mengangis. Aku memang bodoh. Semua yang kulakukan malah akan membuat Himchan semakin jauh denganku. Bahkan bisa saja dia tidak mau lagi mengenalku.

“Berapa mereka membayarmu?” Tanyanya. Aku diam dan memalingkan wajahku. “Berapa?”

“Untuk apa kau tau?”

“Aku akan membayarmu lebih dari mereka.” Aku tercengang mendengarnya. Mataku mengernyit menatapnya. “Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku. Arraseo?”

Hatiku sakit mendengarnya. Dia sudah menganggapku sebagai pelacur sekarang. Aku tidak tau harus apa lagi. Mataku sudah tidak bisa lagi membendung air mata. Dalam hitungan detik, air mataku akan mengalir. Aku segera membuka pintu mobil dan berencana untuk pergi, tapi dengan sigap Himchan menarik tananku sangat kencang. Aku kaget. Dia memelukku erat.

“Jangan pergi.”

“……”

“Maaf, aku berbicara seperti tadi karna aku menyukaimu. Aku menyayangimu sebagai sahabatku. Dan aku mencintaimu, seperti pria lain mencintai wanitanya. Aku hanya ingin menjadikan kau milikku seorang. Aku tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita rendahan.” Aku tidak dapat berkata apa-apa. Air mataku mengalir pada saat itu juga. “Kau mengerti maksudku?”

***

Himchan POV

Pagi ini sungguh membuatku tidak nyaman. Bertemu dengan Sura di meja makan, di hadapan anak-anak lain membuatku sangat awkward. Kami sama sekali tidak berani saling bertatap muka. Aku terus menunduk, mataku mencari kesibukan melihat-lihat makanan yang ada di atas meja. Aku pun mengambil roti tawar dan mengoleskan selai di atasnya.

“Sepi sekali.” Ujar Yongjae  yang membuatku kaget. Kenapa aku ini. “Ada apa denganmu? Seperti orang ketakutan saja.” Tanyanya  padaku.

Ani..” Jawabku singkat. Kulihat Sura langsung pergi dari ruang makan. Kurasa ia langsung kembali ke kamarnya. Aku pun bergegas mengikutinya.

“Kang Sura.” Panggilku. Akhirnya dia berhenti berjalan. Aku pun memberanikan diri untuk tetap bersikap seperti biasa dan berjalan mendekatinya. “Mulai sekarang kau tidak perlu memikirkan hutang-hutangmu itu. Semuaya sudah beres. Kau pun belum menerima uang dari klub itu kan? Jangan pernah datang lagi.  Dan masalah apa yang kukatakan kemarin, tidak usah kau pikirkan. Aku tidak benar-benar mengatakannya. Maaf kalau aku membuatmu jadi tidak nyaman di sini.”

“……” Dia hanya menunduk dan sesekali menatapku.

“Baiklah, kau boleh kembali ke kamarmu.” Ucapku sambil tersenyum tipis. Aku pun berbalik dan berjalan menuju kamar yang ada di sebelah kamarnya. Baiklah, kemarin itu sangatlah fatal. Aku harus menerima kenyataan kalau Sura akan terus bersikap beda padaku.

“Himchan…” Aku menahan pintu kamar yang akan ku tutup. Sura ada di balik pintu. Aku pun kembali membukanya.

Ne?”

“Boleh aku masuk?” Aku kebingungan dengan sikapnya. Aku pun hanya mengangguk-angguk kikuk dan akhirnya dia pun masuk ke dalam. Aku menutup pintunya.

“Ada apa? Masalah uang itu kau tidak perlu….”

“Uh, masalah uang itu aku berterima kasih. Aku pasti akan membayarnya secepatnya dan aku tidak akan bekerja seperti itu lagi. Aku minta maaf.” Dia terus menunduk. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.

“Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

“….masalah perkataanmu itu…,”

“M-mmaaf, kau jangan berpikir kalau aku…”

“Apa kau bilang kau menyukaiku, itu pun bercanda?”

Ne? Uh….” Disini aku kebingungan. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak ingin persahabatanku dengannya hancur, tetapi…tidak mungkin juga bila hanya diam saja.

“Tidak mungkin ya sepertinya, ehehe. Aku kembali ke kamarku.” Apa yang harus kulakukan…. Dia sudah berbalik badan dan memegang knop pintunya. “Terima ka…”

BLAM!

“Aku menyukaimu.” Aku menutup pintunya kembali. Aku tidak harus berbasa-basi. Bagaimanapun, aku harus menahannya untuk mengetahui  apa yang kurasakan 8 tahun belakangan. “Aku menyukaimu….sejak awal SMA.”Dia tetap menundukkan wajahnya.

“Setelah kau tau bahwa aku menjijikkan?” Ucapnya tiba-tiba.

“Aku tetap menyukaimu.”

“Kau bohong.” Sura mendorong pelan dadaku.

“Apa yang bohong? Kau tidak percaya?” tanyaku bingung.

“Tentu saja tidak. Kau bilang sejak awal SMA. Kenyataannya apa? Kau sering meninggalkanku dan sibuk dengan pacarmu. Bahkan kau sering sekali berjalan dengan wanita yang berbeda-beda.”

“Itu karna kau acuh padaku, bodoh.”

Sura POV

“Itu karna kau acuh padaku, bodoh.” Ucap Himchan.

“Acuh bagaimana, maksudmu?”

“Aku hanya tidak mengerti. Semenjak kelas 3 SMP, kau menjauhiku. Baiklah, kau tidak menjauhiku sepenuhnya, tapi kau mulai tidak peduli apa yang kulakukan, apa kegiatanku, apa yang kuinginkan, apa yang kusuka, kau benar-benar tidak peduli lagi.”

Ah, ternyata dia sadar kalau aku menjauhinya.

“Mungkin saat itu aku bodoh, tapi aku hanya bisa memutuskan untuk melakukan cara apapun agar kau bisa cemburu.” Lanjut Himchan. “Agar kau merasa sahabatmu ini telah sibuk dengan yang lain. Tapi ternyata tidak ada respon ya.” Himchan tertawa kecil. Tertawa miris tepatnya. “Kang Sura,”

“….?” Himchan menatapku dalam. Aku terpaksa menatap matanya.

“Kau tidak menyukaiku, ya?”

Apa yang harus kujawab? Apa aku harus menjawab yang sebenarnya? Sulit…

“Benar ternyata, tidak…” Himchan terlihat kecewa. Aku tidak bisa mengatakannya….

“Bukan begitu….”

“Lalu?” Tanya Himchan yang kembali terlihat penasaran.

“Aku hanya…uh..,” Tuhan, ini benar-benar sulit.

“Apa?” Himchan semakin penasaran dan semakin lama, dia semakin mendekatiku.

“Uh…, itu…, aku…”

“Baiklah, aku akan menutup matamu dan katakanlah.” Himchan menutup kedua mataku dengan tangan kirinya.

“Aku…menyukaimu.” Aku berani mengatakannya. Ya, aku berani karna aku tidak melihat apapun.

“Benarkah?” Tanyanya. Tapi setelah itu aku tidak berani untuk menjawabnya lagi. “Sura…, apa kau pernah berciuman?”

“Tidak.”

“Kau memang bodoh. Berciuman saja tidak pernah, tapi kau nekat bekerja seperti tu.”

“Jangan mengataiku, Himchan.” Dia terkekeh geli. Ya, dia menertawaiku. Tapi dia benar. Betapa bodohnya aku.

“Berapa umurmu sekarang?”

“Dua puluh dua. Kau tidak ingat kalau aku setahun lebih muda dari—“

“Boleh aku menciummu sekarang?”

“Apa?” Aku tersentak kaget. Aku dapat merasakan nafas Himchan yang meburu. Aku tidak bisa bergerak. Mataku ditutup olehnya dan aku terkunci. Jantungku berdetak semakin cepat dan itu benar-benar membuatku semakin tidak bisa tenang. Himchan, sahabatku, kami, bercium—–. Aku tidak dapat berkutik apa-apa lagi baik di mulut maupun hatiku. Aku dapat merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku. Hanya menyentuh. Tapi entahlah, aku sedikit tenang.

Tidak lama, Himchan kembali menjauh dan perlahan dia menjauhkan tangannya dan membiarkanku membuka mata. Aku dapat melihat Himchan menatapku. Aku malu. Bagaimana bisa aku berciuman dengan sahabat kecilku? Ini benar-benar membuatku merasa canggung.

“Bagaimana?” Tanyanya.

“Huh?” Aku harus menjawab apa lagi? Bagaimana rasanya? Dalam hati aku merutuk diriku sendiri karna ingin sekali menjilat bibirku sendiri dan merasakan bagaimana rasanya. Aku menahannya, tentu karna aku malu.

“Aku tau kau tidak merasakan apa-apa.” Apa aku harus angkat bicara? Aku ingin mengatakan bahwa aku benar-benar merasakan sesuatu! Ya, sesuatu yang benar-benar membuatku tidak tenang, di dadaku. “Ini baru permulaan, Sura.”

“Eh?”

Himchan kembali mencondongkan wajahnya pada wajahku. Kini aku dapat melihat wajahnya secara langsung dan tepat beberapa senti di depanku! Apa aku harus menutup mataku? Aku takut dia mengerjaiku. Himchan memegang kedua lenganku dan wajahnya semakin dekat. Lagi-lagi aku dan jantungku tidak bisa berkompromi. Bahkan dadaku sakit, rasanya sangat membuatku semakin lemas tak berdaya dan aku merasakan kembali lembutnya bibir Himchan yang menyentuh bibirku. Aku mebelakkan mataku. Kali ini, rasanya berbeda. Himchan menarik daguku, mebuat mulutku sedikit terbuka. Ia memberikan lumatan-lumatan kecil pada bibir bawahku hingga akhirnya aku menutup mataku dan mulai menikmatinya. Beginikah rasanya? Apakah aku harus mengikuti permainannya? Aku ingin..

Tiba-tiba saja Himchan melepaskan ciumannya. Kenapa? Apa dia kecewa padaku karna hanya diam?

“Aku tidak bisa, Himchan.” Ucapku pelan. “Kau tau kalau aku tidak pernah melakukannya.”

“Ya, aku tau.”

“M-maafkan aku.” Ucapku lirih. Aku pun menunduk, merasa mengecewakan.

“Tidak perlu meminta maaf padaku. Kau hanya gugup.”

“Hyung? Kau di kamar?” Aku dapat mendengar suara Jongup dari luar. Sejujurnya, aku kecewa. Dia menghancurkan momentku.

“Lima detik saja, kau yang mulai.” Ujar Himchan yang tiba tiba memeluk dipinggangku dan menekan punggungku sehingga aku lebih condong padanya. Apa? Apa maksudnya?

“Hyung? Boleh aku masuk?” Tanya Jongup dari luar. Aku semakin gelisah.

“Aku sudah menguncinya.” Bisik Himchan. Kudengar sura knop pintu yang berbunyi. Suara itu membuatku risih!

“Ayolah, hanya lima detik.” Ujar Himchan.

“Aku tidak bisa….” Kataku panik.

“Kau bisa.”

“Aku malu…”

“Lakukan.”

Dengan kaki sedikit gemetaran, aku pun menjinjitkan sedikit kakiku.Tanganku tergerak dari dadanya, menuju lehernya. Ya, aku mengalungkan tanganku pada lehernya. Himchan tersenyum padaku, membuatu sangat amat malu.

“Jangan menatapku.” Ucapku.

“Tapi aku ingin.”

“Kau membuatku terlihat bodoh, Himchan.”

Tapi aku melakukannya. Entah keberanian dari mana, aku menciumnya. Aku tidak berani membuka mataku. Aku hanya dapat merasakan bibir Himchan yang sedikit tersenyum. Apa aku harus menggerakkan bibirku? Ya, aku harus. Aku hanya bisa melakukan apa yang tadi Himchan lakukan. Tapi aku melumat bibir atasnya. Tiba-tiba saja, Himchan semakin menekan punggungnya. Dia sudah tidak diam. Dia memperdalam ciumannya sehingga aku tidak sengaja mengeluarkan suara lengkuhan yang benar-benar membuatku malu. Suara decakan yang dibuatnya semakin terdengar jelas di telingaku. Aku takut terdengar sampai luar…..

“Hyung?” TOK! TOK! TOK!

Himchan pun melepaskan ciumannya setelah Jongup kembali bersuara dan mengetuk pintu kamarnya.

“Dia menyebalkan.” Ujar Himchan. Aku hanya tersenyum kecil karna aku masih malu. Himchan menyentuh sudut bibirku dengan ibu jarinya dan dia mengelap saliva yang berantakkan di sekitar bibirku dengan ibu jarinya. “Berdirilah di samping lemari. Aku akan keluar dan mengajaknya turun ke bawah. Setelah itu, baru kau keluar. Mengerti?” Ujar Himchan pelan. Aku pun mengangguk. “Aku mencintaimu, Sura.” Dia menepuk puncak kepalaku dan memberi kode agar aku pindak ke samping lemari. Aku pun pindah dan bersembunyi di sana. Aku mengintip Himchan yang keluar dari kamarnya. Kalau saja dia tau, kata-katanya tadi adalah hal yang paling indah yang pernah  kudengar.

***

            “Sebenarnya yang sakit itu siapa?” Tanyaku pada Youngjae. Sudah jam 9 tapi Himchan belum juga pulang. Youngjae malah sibuk memperhatikan  layar TV tanpa mendengarkanku sama sekali. “Youngjae, kenapa kau menyebalkan sekali?”

“Huh? Tadi kau tanya apa, nuna?” Ujar Youngjae yang matanya tak lepas dari layar TV.

“Tidak jadi.” Kataku sebal. Aku pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju lantai atas. Di atas, kulihat Jongup baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihatku dan langsung tersenyum. Sampai saat itu, aku tidak tau bagaimana ekspresinya selain tersenyum. Dia seperti orang yang selalu bahagia.

“Nuna? Kau belum tidur?” Tanyanya.

“Sebentar lagi. Bukankah besok kau harus pergi ke sekolah?”

Ne.”

“Sekolahmu jauh?”

“Tidak. Cukup berjalan kaki. Hanya 10 menit.”

“Boleh aku mengantarmu?”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. “Kau tidak keberatan, kan?”

“Tentu saja tidak! Dengan senang hati.” Dia semakin tersenyum. Lucu sekali. Kurasa dia yang paling kusuka dibanding Youngjae dan Daehyun.

“Kalau begitu tidurlah.”

“Baiklah, nuna. Selamat malam!”

Ne, malam.”

Jongup berjalan menuju kamarnya di bawah. Aku pun sekarang bingung harus berbuat apa. Akhirnya aku memutuskan untuk diam saja di balkon sambil menunggu Himchan pulang.

“Nanananana~” Lantunku sambil berjalan menuju balkon. Angin yang dingin mulai berhembus menerpa kulitku. Aku menggidik dan memeluk tubuhku sendiri.

“Ehm!”

Aku langsung diam. Ah, pria bermasker itu. Tau begitu aku tidak akan pergi ke balkon. Entahlah, aku malas bertemu dengannya. Dia jarang bicara. Sekarang, mau tak mau aku harus mengajaknya bicara. Mungkin membicarakan Himchan saja agar lebih mudah. Aku pun berdiri di sampingnya.

“Apa kau tau Himchan menjenguk siapa?” Tanyaku. Dia hanya menoleh padaku dan diam sambil menatapku. “Apa? Kau tau tidak?” Tanyaku lagi. Aneh.

“Apa penting untukmu mengetahuinya?” Tanyanya.

“Apa aku tidak boleh tau?”

“Namanya…hmm…Yoona? Yoong? Ah, aku lupa.”

Ah, wanita. Apa harus kutanyakan dia itu siapanya Himchan? Tapi aku takut untuk tau jawabannya. Himchan tidak pernah menceritakan apa-apa tentang teman perempuannya, apalagi pacarnya. Di dunia maya pun tidak pernah ada tanda-tada bahwa ia tengah berpacaran dengan seseorang.

“Kenapa? Kau menyukai Himchan?” Tanya Daehyun tiba-tiba. Kenapa dalam hal seperti ini, dia banyak bicara? “Setauku, wanita itu menyukai Himchan.”

Benar saja. Dan sekarang, aku takut.

“Kau jangan merasa tersaingi begitu. Wanita itu sedang sakit. Sebentar lagi juga mati.”

Dia benar-benar aneh. Dia juga sangat jahat dengan entengnya dia mengatakan sebentar lagi wanita itu akan mati.

“Daehyun-ah, kenapa kau selalu memakai masker? Aku tidak pernah melihat wajahmu. Kau sedang flu?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dia menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa? Wajahmu jelek?” Tanyaku polos.

“Kau akan lebih menyukaiku dibanding Himchan jika kau melihat wajahku.”

“Pfft, coba buka.”

“Tidak mau.”

Fix,  kau jelek.”

“Terserah padamu.”

“Kenapa kau menyebalkan?”

“Karna aku tidak menyenangkan.”

Hah, aku tidak mau bicara dengannya lagi. Aku menatap ke arah langit dan langsung menemukan bintang paling terang di sana. Tiba-tiba saja aku teringat pada Polaris, bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Orang bilang, jika tersesat kita tinggal mencari bintang paling terang dan dia bisa menjadi petunjuk arah karena sama dengan arah patokan kompas. Polaris bisa diibaratkan sebagai tuntunan. Hah, seperti pendaming hidup saja. Ngomong-ngomong, dimana Himchan? Apa masih di rumah sakit? Mengapa harus setiap hari menengok perempuan itu? Apa Himchan menyukainya juga? Apa mungkin Himchan membohongiku? Tiba-tiba saja aku ingin menangis.

“Itu dia pulang.” Ujar Daehyun tiba-tiba. Aku pun melihat ke bawah. Himchan baru membuka pagar dan hendak memasukkan motornya. Tapi rasa semangatku untuk bertemu dengannya mendadak berkurang. Aku pun berjalan meninggalkan Daehyun. Daehyun hanya menatapku heran. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Entah mengapa aku tidak mau bertemu dengan Himchan. Apa aku marah? Padahal apa yang kupikirkan belum tentu benar.

Aku menghampiri jendela kamar dan membuka tirainya. Aku dapat melihat Daehyun masih ada di balkon. Dia sadar aku memperhatikannya. Aku mencibirnya dari sini. Dia hanya geleng-geleng kepala.

Apa Himchan akan mencariku ke kamar? Apa dia hanya mengira aku sudah tidur dan langsung saja tidur? Apakah dia akan—

TOK! TOK! TOK! “Sura? Kau sudah tidur?”

Aku tersenyum puas.

“Bolehkah aku masuk?” Tanyanya.

“Uh, masuk saja.” Kataku gugup. Aku semakin malu untuk bertemu dengannya setelah kejadian tadi pagi.

Cklek…

Himchan langsung dapat melihatku. Aku bingung harus berekspresi seperti apa, jadi aku hanya menggigit bibirku. Himchan melihat langit-langit kamarku. Aku pun jadi mengikutinya.Kenapa?
“Sura, kau ingin bergelap-gelapan denganku?”

“Eh?” Aku tidak sadar kalau lampu kamarku tidak dinyalakan sejak tadi. “Aku lupa!” Aku pun sibuk mencari-cari dimana saklar berada. Aku belum hafal tempat ini.

“Tidak usah dicari.” Ujar Himchan yang menangkap pergelangan tanganku. Aku menelan ludahku. Aku tau Himchan itu menyeramkan, makanya aku tidak percaya dia tidak pernah membawa wanita kemari. Aku memang sudah terbiasa melihatnya menyeramkan seperti ini, tapi kali ini aku benar-benar gelisah karna korbannya adalah aku.

“Kau sudah makan?” Tanyaku mencoba untuk santai.

“Belum. Tapi aku tidak lapar.”

“Tapi ini sudah malam. Kau harus makan.”

“Aku tidak mau.” Aku tidak berkutik lagi. Dia selalu begitu. Keras kepala, tidak bisa diberitahu. “Sura, baju tidurmu terlalu tipis.”

“Mwo? Apa yang kau lihat?” Aku langsung memeluk tubuhku sendiri.

“Ahaha, maksudku bukan transparan, tapi tipis. Kau menangkap maksudku? Suhunya sangat dingin. Apa kau tidak kedinginan?”

“Oh, kupikir apa.” Aku pun menurunkan tanganku. Ya, aku baru sadar kalau cuacanya sangat dingin. “Lumayan dingin.”

“Kalau begitu, kemari.” Tiba-tiba saja Himchan menarik tanganku dan memelukku. Aku kaget dan hanya bisa diam. “Hah, aku merindukanmu.”

“Tapi kau hanya beberapa jam tidak bertemu denganku.”

“Pokoknya aku merindukanmu.”

“Benarkah?”

“Untuk apa aku bohong.” Ya, Himchan tidak suka berbohong padaku. “Kenapa kau terlihat canggung padaku?”

“Aku tidak tau.”

“Apa kau tidak nyaman?”

“Aku nyaman.”

“Bagus kalau begitu. Kau tidak boleh canggung lagi karna kau sudah menjadi kekasihku.”

“Eh?” Aku melongo. Kapan?

“Kenapa? Kau tidak mau?”

Aku menenggelamkan wajahku dalam pelukannya. “…..aku mau.”

“Haha, jangan begitu. Aku tidak bisa melihat wajahmu.” Himchan mencoba menjauhkanku dari tubuhnya, tapi aku memeluknya erat. Aku tidak mau dia melihat wajahku yang pastinya merah saat ini. “Kau ini. Apa kau mengantuk?” Aku geleg-geleng kepala. “Kau suka memelukku, ya?” Dengan cepat aku melepaskan pelukanku. Himchan terkekeh geli melihatku. Aku hanya bisa cemberut.

***

Seperti yang kukatakan kemarin malam, hari ini aku akan mengantar Jongup pergi ke sekolah. Nampaknya ia sangat senang. Tapi Himchan ikut denganku. Jongup bilang, ini pertama kalinya Himchan mengantarnya ke sekolah. Bahkan selama setahun ini, Himchan tidak pernah tau Jongup bersekolah di mana. Himchan bilang, ia tidak punya urusan untuk mengetahui seluk beluk anak orang lain. Aku pun jadi penasaran. Jongup sudah tidak punya orangtua atau bagaimana? Kuperhatikan Jongup, lagi-lagi dia menunjukkan senyum bodohnya.

“Kenapa kau tinggal dengan Himchan?” Tanyaku. Jongup hanya mengedip-ngedipkan matanya yang segaris.

“Untuk apa kau bertanya seperti itu.” Ujar Himchan.

“Aku hanya ingin tau.”

“Uh, karna aku tidak mau tinggal bersama nenek.” Jawab Jongup. “Kau tau? Rumahnya adalah kost termewah dan termurah yang pernah ada. Makanya nenekku mengizinkanku untuk tinggal di sini saja.”

“Benarkah?” Tanyaku sambil melirik Himchan. Himchan hanya menaikkan bahunya. Tinggal bersama nenek. Aku tidak akan bertanya lagi.

“Ini sekolahku.” Ucap Jongup. Kulihat sebuah sekolah yang cukup besar dan aku tau ini sekolah bagus. “Aku masuk dulu. Nuna, terima kasih sudah mengantarku.” Aku tersenyum dan mengangguk.

“Kau tidak berterimakasih padaku?” Ujar Himchan.

“Ah, tidak perlu. Annyeong!” Jongup pun berlari masuk ke dalam gerbang.

“Aish, apa-apaan anak itu.” Gerutu Himchan. Aku hanya tertawa. “Uh, ngomong-ngomong, apa kau merindukan suasana seperti ini?”

“Apa? Sekolah?”

“Tentu saja.”

Sekolah. Sekolah sangat menyenangkan, tetapi terlalu banyak kejadian yang aku benci. Bayangkan, tiap harinya aku hanya berada di tengah Himchan dan kekasih barunya yang yang berbeda-beda. Aku tidak mengerti, kenapa Himchan tidak mau berkencan jika tidak kutemani? Seperti bocah SMP.

“Bodoh sekali ya, sudah tau kau tidak peduli aku berpacaran dengan siapa, tapi aku tetap ingin membuatmu cemburu.” Celotehnya. Aku hanya diam. Dia tidak tau apa yang kurasakan dulu. Aku terlalu pintar untuk menyembunyikan perasaan. “Kenapa dulu kau sedikit menjauhiku?”

“Huh? Itu hanya perasaanmu.” Jawabku asal.

“Aku yakin tidak. Ayolah, apa kau marah karna aku sibuk berpacaran?” Himchan merangkulku dan malah mencekikku.

“Yak! Tidak!” Aku memukul-mukul lengannya. Dia hanya tertawa.

Kalau saja dia tau, saat itu aku berusaha keras agar terlihat tidak peduli dengannya. Jika aku tidak sok tegar, pasti aku akan lebih sering menangis karenanya.

***

            Rumah terkunci. Itu artinya tidak ada siapa-siapa di rumah. Dimana Youngjae dan Daehyun? Tidak ada mereka, ternyata membuatku sedikit kebingungan. Apakah aku harus diam saja di kamar sampai penghuni rumah kembali ramai? Aku tidak tau harus melakukan apalagi jika hanya berdua dengan Himchan.

“Aku bingung.” Ucapku ketika Himchan datang membawa cemilan dari dapur. Himchan duduk di sebelahku.

“Kenapa?” Tanyanya.

“Apakah seharian ini aku boleh tidur di kamar?” Tiba-tiba saja Himchan tertawa. Ada yang lucu?

“Apapun yang ingin kau lakukan, itu terserahmu.”

“Tapi aku ingin…, itu maksudku karna kau sudah menolongku, aku hanya ingin membalasnya dengan hal sederhana. Membereskan rumahmu, misalnya?”

“Tapi tidak ada yang berantakan di sini. Mereka membereskan apa yang seharusnya mereka bereskan. Dan kau, kau hanya perlu mencuci barangmu, membereskan apa yang kau berantaki, tidak perlu keseluruhan. Jangan menjadikan dirimu sebagai pembantu di sini.”

“Baiklah.”

Kemudian, keadaan kembali hening. Aku membuat suara bising dari gigiku yang bergesekan, sementara Himchan terus bergunyam dengan cemilannya. Apa lagi yang harus kutanyakan?

“Sura,”

“Hmm?”

“Waktu itu, apa kau berpikir bahwa aku seperti membelimu?” Tanyanya tiba-tiba.

“Tadinya iya.”

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

“Aku berpikir, ‘pede sekali aku jika aku berpikir kau akan memakai tubuhku untuk mengganti uangmu’. Aku pikir tidak mungkin.”

“Bagaimana jika aku meminta?” Mataku langsung tertuju pada Himchan. Dia menatapku serius.

“Kau tega padaku?”

“Aku tidak tega.”

“Lalu kenapa kau menanyakan hal yang tidak mungkin?”

“Jika aku meminta, tapi bukan untuk membayar apa yang telah aku berikan.” Ini gawat. Obrolan ini terlalu absurd. Himchan mengesampingkan badannya, lebih condong padaku. “Jika karna aku hanya ingin menunjukkan kau milikku, tidak boleh disentuh orang lain.”

“Uh…, tapi tidak hanya dengan cara seperti itu. Kau bisa melakukannya dengan cara lain.”

“Ya, kau benar.” Himchan kembali pada posisinya semula. Tidak akan?

“Tapi…”

“Kenapa? Tapi itu aku hanya bertanya. Jangan dianggap serius.”

Kupikir aku sudah gila. Ada apa dengan otakku ini? Jika bersama Himchan, pikiranku lebih agresif. Aku tidak pernah begini sebelumnya. Sekarang aku cukup kecewa. Ternyata ia hanya sekedar bertanya.

“Lagipula—-“

“Mau mencoba?”

“Eh?” Apa yang barusan kudengar? Benar, aku sudah gila. Dalam hatiku ingin sekali aku mengatakan ‘Ya! Aku ingin mencobanya’. Mataku gelagapan mencoba untuk tidak memandang Himchan yang tak hentinya menatapku.

“Hei, apa kau ingat terakhir kita mandi bersama?” Tanyaku yang berusaha membuat diriku lebih santai. “Apa kau lupa? Kau selalu mengejek kalau kulitku ini dekil.”

“Benarkah?” Salah. Karna perkataanku, Himchan malah semakin mencondongkan wajahnya padaku, dan aku pun segera memundurkan badanku, bersandar pada lengan sofa. “Itu saat 1 SD, Sura.”

“Dan kau ingat perutku?!” Tanyaku gugup. “Perutku masih sama buncitnya. Kau tidak akan suka.”

“Hmm, lalu apa lagi?”

“Lalu…, uh..,”

“Kau pikir aku akan peduli?” Himchan semakin maju, hingga dia sangat dekat, wjahnya hanya sekitar sejengkal dari wajahku.

“Bagaimana caranya?” Tanyaku pelan, semakin menciut.

“Hanya biarkan perasaanmu bahagia, nyaman, dan….ingin. Kau menginginkannya?” Dengan mudahnya aku mengangguk. Seperti terbius, aku tidak bisa menolak atau menahan apa yang kuinginkan. “Aku tau.” Himchan tersenyum dan dia menciumku.

Author POV

Sampai saat ini, Himchan masih bermain sangat lembut. Dia terus melumat bibir Sura, tanpa membuat Sura kehabisan nafas. Sura terlihat lebih tenang dan dia sudah bisa menyeimbangkan apa yang Himchan lakukan. Bahagia, itu yang ada di pikiran Sura. Kini ia bisa meluapkan rasa bahagianya, ketimbang rasa gugupnya. Ia tersenyum di sela-sela ciumannya. Semakin lama, Himchan menciumnya semakin dalam. Tangan kanannya menangkup pipi Sura dan mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. Perlahan tangannya berpindah ke leher Sura dan mengangkat sedikit tengkuknya sehingga makin dalam lagi ia dapat mencium Sura. Menggelitik langit-langit mulutnya, bermain dengan lidahnya, semua sangat membuat Himchan sedikit kesulitan untuk menahan emosinya, terlebih ketika Sura mengeluarkan lengkuhan-lengkuhan pelan yang membuatnya semakin tidak sabar.

Sepertinya Sura tidak sadar, sekarang tangan Himchan berhenti di atas dada kirinya dan mulai merabanya pelan. Tangannya mulai mencari-cari letak kancing kemeja Sura. Setelah ia menemukannya, ia mencoba untuk membukanya satu per satu secara perlahan.

Satu kancing, berhasil. Dua kancing, berhasil. Tapi Himchan merasa Sura mulai tidak nyaman dengan posisinya yang semakin telanggelam. Akhirnya, Himchan melepaskan ciumannya dan memberiarkan Sura bernafas lega untuk sejenak.

“Pergilah ke kamarmu dan aku akan menemuimu di sana.” Bisik Himchan. Sura mengangguk. Himchan pun bangun, sementara Sura yang baru sadar kemejanya sedikit terbuka langsung menutupinya dan lari-lari kecil menuju kamarnya. Himchan terkekeh geli melihat tingkahnya. Himchan memperhatikan jam di dinding. Tak lama lagi Youngjae atau Daehyun pasti akan kembali.

Sura POV

Kenapa Himchan seperti itu? Dia selalu memotong-motong kegiatan kami. Apa dia mau membuatku jantungan terus menerus? Baru saja aku melupakan rasa takut dan gugupku, tapi dia malah menghentikannya. Apa yang akan dia lakukan nanti? Di ranjangku?

Cklek…

Aku langsung membalikkan badan, melihat siapa yang datang. Himchan. Dia menutup pintu dan mengkuncinya. Aku mematung di samping ranjang.

“Kau terlihat gugup.” Ujar Himchan sambil berjalan ke arahku. Tuhan, yang benar saja. Aku semakin malu kalau mengingat dia adalah sahabatku. Himchan duduk di sebelahku. “Kalau kau tidak siap, aku tidak akan memulai.” Ujarnya tiba-tiba. Lagi-lagi aku kecewa. Kenapa dia tidak memaksaku? Aku langsung berdiri dan memainkan tanganku gugup.

“Himchan…, aku itu…,” Bagaimana caranya aku memberinya tanda bahwa siap atau tidak siap, aku menginginkannya? Himchan beranjak dari kasur dan tiba-tiba saja memelukku dari belakang dan memegang kedua lenganku.

“Aku ingin. Aku harus bagaimana?” Ucapnya pelan. Aku sedikit menoleh ke belakang dan mendapati bibir Himchan yang beberapa senti di depanku. Lalu aku melihat matanya yang lagi-lagi menatapku. Dengan sendirinya, aku mengangguk. Himchan mencium telingaku. “Apa aku boleh melakukan apa saja?” Tanyanya lagi. Aku sadar Himchan mulai meraba dadaku, bermain dengan kancing kemejaku. Aku bersandar pada dadanya dan mengangguk lagi. “Kau akan menyukainya.” Saat ini, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Perlahan, sesuatu telah meremas payudaraku. Aku menutup mataku dan dapat kurasakan Himchan terus menciumi telingaku, sesekali menjilat dan menggigit kecil cuping telingaku.

Author POV

Himchan mencoba kembali melepaskan semua kancing kemeja Sura dan ia berhasil. Dapat dilihatnya sesuatu yang menggunduk yang dibungkus oleh bra berenda berwarna merah dengan corak hati kecil. Himchan tersenyum geli. Lucu, pikirnya. Himchan sedikit menurunkan kemeja Sura dan mulai menciumi lehernya. Merasa risih, Himchan tak tanggung lagi untuk melepaskan saja kemeja Sura dan menyingkirkan rambut panjangnya ke sisi lain sehingga dia dapat bebas bermain di leher Sura. Sura merasa lehernya basah, tapi ia menyukainya. Himchan terus mencium dan menjilat leher Sura, sementara tangannya masih aktif memijat payudara Sura yang masih terbungkus oleh bra.

“Kau suka?” Tanya Himchan.

“Hmh…” Sura mengangguk pelan. Himchan tersenyum puas. Kini tangan kirinya berhenti bermain di atas. Tangannya turun dan mengelus sekitar perut Sura, berhasil membuatnya geli. Tak lama, Himchan kembali menurunkan tangannya. Tangannya kini berusaha membuka kancing celana Sura dan sebelah berhasil, ia menurunkan resletingnya. Sura mulai merasa takut, tapi tak sengaja ia mengingat film porn. Sura tau rasanya pasti akan nikmat. Dan benar saja, Sura sangat menikmati ketika tangan besar Himchan berhasil menelusup ke dalam celana jeans Sura yang cukup ketat. Merasa kesempitan, Himchan berusaha menurunkan celana jeansnya dan Himchan berhasil melepas semuanya dengan bantuan Sura sendiri. Sekarang, ia bebas menggerakkan tangannya di kemaluan Sura yang masih terbalut celana dalam.

Sura kembali menoleh ke belakang. Himchan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, jadi dia langsung mengulum bibir mungil Sura. Himchan membuka mulutnya dan menghisap bibir bawah Sura. Menunggu mulut Sura lebih terbuka, Himchan memasukkan lidahnya dan bermain di dalam sana. Sementara itu tangan kirinya turun mengusap paha kiri Sura dan mengakatnya perlahan. Himchan mengangkat paha Sura dan mendirikannya di kasur. Dengan begini, Himchan lebih leluasa lagi untuk mengusap vagina Sura dari luar. Himchan menciumi punggung Sura dan sesekali jari-jari nakalnya menekan-nekan klitoris Sura sehingga ia mendesah pelan, membuat Himchan semakin gemas. Tanpa basa-basi lagi tangan Himchan menyelusup ke dalam celana dalam Sura, menyentuh vaginanya secara langsung. Himchan membuka bibir vagina Sura, menarik, dan memainkan klitorisnya, membuat Sura lemas dan tidak kuat untuk menahan desahannya. Ia berusaha keras untuk bungkam dengan cara menggigit bibirnya.

“Berbaringlah,” Bisik Himchan yang akhirnya menjauhkan tangannya dari bagian sensitive itu. Sura pun menurunkan kakinya dan naik ke atas kasur. Ya, ini belum selesai, Sura tau itu. Sura setengah berbaring dan disusul oleh Himchan. Himchan menghadap menyamping pada Sura dan lagi-lagi menatap Sura, membuat wanita itu malu.

“Kau seribu kali lebih cantik dibanding saat kau masih SMA.” Puji Himchan. Sura tersenyum malu dan beruntung, Himchan tak lagi menatapnya, melainkan kembali menciumnya. “Lidahmu, Sura.” Sura mengikuti apa yang Himchan perintahkan. Ia mengeluarkan lidahnya dan Himchan langsung menghisapnya. Tangan Himchan kembali bermain lagi di payudara Sura. Kali ini ia berusaha mengeluarkan payudara Sura dari bra-nya. Himchan pun meremas bagian yang ia suka itu dan juga memilin nipplenya yang sudah mulai mengeras. “Apa ini terlalu perlahan?” Tanya Himchan tiba-tiba.

“Huh?”

“Sedari tadi aku sudah cukup bersabar untuk menahan emosiku.”

“M-maksudmu?”

“Berbaringlah dengan benar.”

Akhirnya Sura pun menurunkan badannya sehingga ia dapat berbaring dengan benar.

‘Apa yang akan Himchan lakukan? Memasukkan miliknya langsung?’ Sura kembali gelisah. Setelah ia pikir, ia benar-benar merasa tidak siap. Sura semakin tidak bisa tenang ketika Himchan merangkak di atas tubuhnya.

“Himchan, aku tidak mau terlalu cepat….” Ucapku, berusaha membuat dia agar tetap bersabar. Himchan terkekeh.

“Tenang saja, aku hanya akan kasar sedikit.”

Tanpa bicara apapun lagi, Himchan kembali menlanjutkan aktivitasnya. Ia menciumi lagi leher Sura dan sedikit menghisapnya, membuat bercak merah di sana. Sura mengangkat dagunya, membuat Himchan semakin liar menjarahi lehernya. Himchan semakin turun, ia menciumi atas dada Sura dan membuat bercak merah lagi. Tangannya sibuk mengangkat sedikit punggung Sura untuk melepaskan pengait branya. Setalah berhasil, ia langsung mengulum payudara kanan Sura dan tangannya meremas yang satunya.

“Pelan….” Rengek Sura pelan. Himchan pun kembali berhenti dari aktivitasnya. Himchan berbaring di sebelah Sura dan memiringkan badannya.

“Maafkan aku.”

Sura mengangguk. Himchan mengecup bibirnya sebentar. Jari telunjuknya memutari pusar Sura, membuat Sura bergidik.

“Kau bohong. Bahkan tubuhmu sangat indah.” Sura tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. “Kau harus berjanji padaku. Jangan sampai oranglain menyentuh tubuhmu lagi.”

“Tidak akan.”

“Bagus. Boleh aku melanjutkannya lagi?”

Sura mengangguk. “Jangan melukaiku.”

“Tentu tidak akan.”

Himchan mencium pipi Sura, lalu dia merangkak ke bawah. Sura bertanya-tanya apa yang akan Himchan lakukan setelah ia melebarkan kakinya dan memposisikan kepala Himchan di antara pahanya. Perlahan Himchan menurunkan celana dalam Sura. Sura tidak berontak, tapi dia langsung menutupi kemaluannya dengan kedua tangannya. Himchan tersenyum pada Sura dan menyingkirkan tangan kecil Sura.

“Jangan malu dan jangan menendangku.” Canda Himchan. Sura tidak tau harus apa. Dia memejamkan mata dan menggigit bibirnya saat sesuatu yang lunak menyentuh vaginanya. Sura tidak menyangka Himchan akan melakukan hal menjijikkan ini. Sura mengangkat sedikit pinggulnya ketika lidah Himchan mulai menusuk vaginanya.

“Bukankah itu kotor?” Tanya Sura sambil menahan desahannya. Akhirnya Himchan pun mengangkat wajahnya, berhenti menjilati vaginanya.

“Aku suka.” Jawab Himchan singkat. Kali ini ia memainkan bibir vagina Sura dengan jari-jarinya. Ia membuka bibir vaginanya lalu memasukkan jari tengahnya ke dalam, membuat Sura memekik kesakitan, lalu kembali menggigit bibirnya. “Bibirmu akan terluka kalau kau menggigitnya terus.” Himchan mulai memaju-mundurkan jarinya dan itu membuat Sura kesakitan. Ditambah lagi Himchan memasukkan jari telunjuknya dan mengkocoknya cepat di dalam vagina Sura yang sempit.

“Ngh ahh..sakit…” Akhirnya Sura bersuara. Himchan tidak berhenti. Ia malah semakin mengkoyak vaginanya dengan cepat. “Himchan..hh, aku tidak…akh!” Sura membelakkan matanya ketika vaginanya memuncratkan banyak cairan. Sura kebingungan apakah itu air kencingnya atau apa?

Akhirnya, Himchan mengeluarkan jarinya dan itu benar-benar basah. Sura sedikit lega dan semakin lemas. Vaginanya berdenyut linu. Himchan menaikkan posisinya sedikit. Ia menciumi perut Sura dan menjilati belahan dadanya. Lidahnya rasanya ingin menjilati lagi nipple Sura yang terlihat masih menegang. Himchan menjilatinya lagi, kali ini dengan lembut. Ia memainkan nipple yang menegang itu dengan lidahnya, sesekali menghisapnya. Sura sedikit lebih tenang. Ia memeluk kepala Himchan dan mengelus rambutnya. Terbesit dalam pikirannya, apakah ia terlihat murah? Sura tidak mau dianggap begitu.

“Kenapa kau jadi melamun? Jangan bersantai dulu.” Ujar Himchan sambil mengusap wajah Sura, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.

“Kau tidak akan meninggalkanku, kan?”Tanya Sura.

“Tentu tidak akan. Tidak akan pernah. Jangan pernah berpikir seperti itu.”

“Baiklah.” Himchan terus memandangi wajah Sura yang merona, membuatnya semakin gemas. “Himchan.”

“Ne?”

“Kau sedang bercinta denganku atau sedang memperkosaku?”

“Ahahaha..” Himchan tertawa mendengar pertanyaan Sura. “Kau pintar, Sura. Buka bajuku kalau begitu.” Himchan pun berbaring kembali di sebalah Sura. Sura langsung bangun dan membuka kancing baju Himchan dengan semangat. Tiba-tiba saja Sura sadar kalau Himchan serius memperhatikannya.

“Jangan melihat dadaku!” Sura langsung menutup dadanya. Himchan terkekeh karenanya.

“Baiklah, aku akan menutup mata.” Himchan menutup matanya sendiri. Sura tidak mengeluh lagi dan melanjutkan membuka baju Himchan. Setelah terbuka, Sura menduduki perut Himchan dan dia mencondongkan badannya ke depan, menunduk ke arah wajah Himchan yang masih menutup tangannya. “Boleh aku buka sekarang?”

“Jangan. Uh.., apa aku harus melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan padaku tadi?”

“Tentu. Aku tidak mau tau, setiap inci tubuhku harus disentuh oleh bibirmu.”

“Tapi…., jangan lihat.” Bisik Sura di telinga Himchan, membuatnya geli. Himchan dapat merasakan Sura mencium rahangnya, lalu turun menjilati lehernya. Himchan cukup terkejut karna ia pikir Sura tidak akan mau melakukan ini. Dengan berat hati, Himchan tetap menutup matanya karna takut Sura akan berhenti jika ia membuka matanya.

Sura masih asik menjilati tubuh Himchan. Dia melumat bahu Himchan, lalu turun menciumi dada bidangnya. Mata Sura menangkap sesuatu yang menarik baginya. Ia memilin nipple Himchan dan menjilatinya pelan.

“Emh..” Himchan berusaha menahan tawanya ketika Sura mendesah sendiri. Sura sudah menikmatinya.

“Kurasa kau harus urus yang di bawah.” Ujar Himchan.

“Apa?”

“Kau tau maksudku.”

“Uh.., baiklah.”

Sura pun membuka kancing celana Himchan dan menurunkankan resletingnya. Matanya langsung tertuju pada bulge yang membuatnya ingin menyentuhnya.

“Kau sedang apa? Boleh aku lihat?” Tanya Himchan.

“Jangan!” Sura bergegas menurunkan celana jeans Himchan dan melepaskannya. Lagi-lagi Sura memandangi bulge besar di balik boxer yang Himchan pakai.

“Kenapa kau diam?” Tanya Himchan lagi.

“Uh.., boleh aku menyentuhnya?”

Himchan mengernyitkan alisnya, tak lama dari itu tersungging senyuman dari bibirnya. “Dengan senang hati.” Sura pun membungkuk untuk mendekati tonjolan yang menarik perhatiannya itu. Sura mulai menggerakkan tangannya dan akhirnya ia dapat menyantuhnya. Perlahan Sura mengusapnya, lama kelamaan ia berani meremasnya pelan. Hal ini sangat disayangkan oleh Himchan karena ia tidak bisa memandangi wajah Sura saat ia melakukannya. “Sura, sebaiknya kau membukanya saja.”

“Apa? Membukanya? Aku tidak berani.”

“Lucu sekali. Kau takut untuk melihatnya? Punyaku tidak akan menggigitmu.”

“Baiklah…, tapi jangan lihat.”

Okay~”

Tangan Sura mulai gemetar untuk membuka boxernya. Sura memilih untuk memejamkan matanya sambil membuka boxernya. Ia pun melakukannya dan saat ia membuka matanya…..Sura lupa kalau masih ada celana dalam.

“Berapa lapis celana yang kau pakai?” Ujar Sura kesal.

“Haha, kau tidak sabar untuk melihatnya?”

Sura diam. Tanpa ia sadar, ia memang tidak sabar. Sura pun berusaha untuk membuka celana dalam Himchan. Sura menelan ludahnya dan ia mendapati sesuatu yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu panjang. Sura pikir milik Himchan cukup pas, tidak semenakutkan penis yang pernah ia lihat di video.

“Apa kau berani memegangnya?” Tanya Himchan.

“Sama saja dengan kulit tubuh kita yang lain, kan?” Tanya Sura dengan tangan yang sudah memegang ujung penis milik Himchan. Jarinya menelusuri kepala penis itu, merasakan tekstur dari apa yang ia pegang.

“Coba kau tarik-ulur” Ujar Himchan. Lagi-lagi Sura menurutinya. Sura mulai menarik-ulur penis Himchan dan ia mulai menyukainya. Terlebih Himchan, ia sangat menikmatinya. “Kau bisa melakukannya sambil menjilatnya, menghisapnya, mengulumnya?”

“Apa?!” Sura berhenti memainkan penis Himchan. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang Himchan katakan.

“Hey, kapan terakhir kali kau menonton video porn?”

“Kelas 1 SMP? Saat kau memperlihatkanku film itu.”

“Bohong.” Sura cemberut. Ya, dia memang bohong. “Kapan?”

“Seminggu yang lalu.” Jawab Sura malu-malu.

“Itu artinya kau tau apa yang harus kau lakukan.”

“Uh, baiklah.”

Sura kembali membungkuk dan menegakkan penis Himchan. Dia menelan ludahnya berkali-kali, takut sesuatu akan keluar dari penis itu. Sura mulai membuka mulutnya dan memasukkan sedikit penis Himchan. Sura mencoba menempelkan lidahnya. Ia mengemut kepala penisnya lembut. Rasanya aneh. Sedikit asin, ada rasa yang sama ketika kau menjilat jarimu sendiri. Merasa sudah sedikit terbiasa dengan rasa dan teksturnya, Sura kembali mengocok penisnya, tetapi ia kurang terampil ketika memaju mundurkan mulutnya, karna mulutnya terlalu kecil.

“Haaaah, aku tidak kuat.” Ujar Sura setelah melepaskan penis itu dari mulutnya.

“Padahal aku baru menikmatinya.” Ujar Himchan sedikit kecewa. “Tapi aku tidak memaksa. Duduk di atasku lagi.” Akhirnya Sura pun menuruti apa kata Himchan lagi. “Mungkin kau bisa menggesekkan punyamu dengan punyaku.”

“Tapi…, bagaimana rasanya?”

“Kau coba saja.”

Sura menaikkan penis Himchan dan mendudukinya. Vaginanya terasa semakin lembab. Perlahan, Sura mulai menggerakkan tubuhnya. Rasanya…, Sura menyukai apa yang tengah ia rasakan saat ini. Merasa tidak mau melewatkan saat-saat ini, Himchan membuang tangannya dan membiarkan ia melihat apa yang terjadi.

“Yak!” Sura memukul dadanya. Himchan hanya tertawa.

“Kemari,” Himchan menarik tangan Sura sehingga badan Sura menempel padanya. “Masih bisa terus kau gerakkan?” Sura mencoba untuk kembali menggoyangkan pinggulnya untuk menggesekkan miliknya dengan Himchan.

“Ya, aku bisa.” Himchan memandangi lagi wajah Sura sambil menikmati apa yang Sura lakukan, begitu pula dengan Sura. “Apa kau tau?”

“Apa?”

“Bahkan aku lebih dulu menyukaimu.” Mendengar hal itu, Himchan terlihat sumringah. Ia sangat tidak menyangka. “Kurasa saat kelas 3 SMP.”

“Tapi saat itu kau menjauhiku.”

“Itu hanya karna—-“

“Sura, bisakah kita berhenti?” Ujar Himchan tiba-tiba, membuat Sura kebingungan. Ada yang salah? Dengan cepat Himchan membanting tubuh Sura dan ia berganti posisi menjadi di atas Sura. “Aku tidak menyangka kau dapat cepat menggodaku.”

“A-apa yang kulakuakan?” Tanya Sura bingung.

“Hyuuuu~ng? Apa kau di rumah?” Terdengar suara Youngjae di depan kamar. Sura kembali gelisah sambil menatap Himchan.

“Buka kakimu.” Perintah himchan.

“Tapi…,” Sura kebingungan dan terus menatap pintu kamarnya. “Akh!” Sura mearasakan sesuatu memasuki vaginanya. Rasanya sakit. Sura terkejut karna ternyata Himchan sudah memasukkan miliknya. Bahakan Sura tidak sadar kalau tadi Himchan telah melebarkan kedua kakinya. Sura benar-benar merasa sakit. Air matanya mengalir begitu saja. Darah segar mulai keluar dan mengalir di pahanya.

“Maaf kalau kau terkejut.” Ucap Himchan sambil mengusap air mata Sura. Himchan mulai menaik-turunkan pinggulnya pelan.

“Ini sakit..hhh…” Tangan Sura mencengkram lengan Himchan. Kuku tajamnya cukup membuat Himchan sakit, tapi Himchan tau itu tak seberapa dengan apa yang Sura rasakan.

“Lama kelamaan tidak akan sakit.”

Sura terus merengek di sela desahannya. Itu malah membuat Himchan semakin bersemangat. Di luar sana, Youngjae sadar apa yang sedang terjadi di dalam kamar Sura. Sayang ia hanya bisa mendengarkan, tidak bisa melihatnya.

“Boleh kupercepat?” Tanya Himchan. Sura yang lama kelamaan semakin tenang pun akhirnya mengangguk. Himchan pun mempercepat gerakan pinggulnya. “Jadi…, kenapa kau menjauhiku?” Tanya Himchan dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal.

“Jangan bertanya saat seperti ini!” Keluh Sura yang mungkin masih merasakan perih.

“Ini akan berlangsung lama, Sura. Aku tidak sabar ingin tau jawabannya.”

“Karna..ngh…, aku takut ketauan, jadi aku menjauh saja. Ah! Berapa lama ini?”

“Satu….dua jam, tiga jam, mungkin?”

“Itu terlalu lama untukku!” Sura memukul dada Himchan. Himchan hanya tertawa.

“Aku mencintaimu, Sura.”

“……aku juga.”

My cozy girl, on the bed, you seem like the main character of a childhood fairy tale. Your bare face is prettier, you’re my girl.

 

***

Sura POV

Mataku berat. Rasanya sangat melelahkan. Apakah ini sudah pagi? Tanganku meraba sesuatu. Hm, dada Himchan. Aku tersenyum. Rasanya sangat menyenangkan ketika Himchanlah orang yang pertama kali kulihat saat bangun tidur. Ternyata aku langsung terlelap di dada Himchan setelah kejadian tadi siang.

Keadaan kamarku gelap sekali. Sepertinya ini belum pagi. Kulihat tubuhku di balik selimut, aku masih tidak memakai kain sehelaipun. Tiba-tiba saja aku senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Himchan milikku sekarang.

Drttt…Drttt…

Ada yang bergetar dan mengganggu telingaku. Kulihat ponselku tergeletak di atas meja dan tidak menyala. Apa milik Himchan?

Drrrtt…Drtttt…

Kurasa ponselnya masih ada di saku celananya. Aku pun mengambil celananya yang tergeletak di lantai. Ya, benar miliknya. Kulihat nama yang tertera di display. Yoona? Wanita itu. Mendadak moodku down.

“Himchan,” Panggilku. “Himchan,” Panggilku sekali lagi sambil menggoyangkan tubuhnya.

“Hmm?” Akhirnya dia bangun. “Ada apa?” Aku tidak mau bicara apa-apa. Aku hanya memberikan ponselnya padanya. “Ada apa dia menghubungiku malam-malam begini?”

“Aku mau mandi dulu.”Kataku sambil mengambil kemejaku Dengan cepat aku memakai baju dan pergi ke kamar mandi. Aku tidak mau dengar. Ya, meskipun aku sangat penasaran.

***

            Aku dan Himchan turun ke bawah bersama. Kulihat semuanya sudah berkumpul di meja makan. Hari ini hari libur, jadi rumah akan ramai jika mereka semua tidak ada yang mempunyai janji di luar.

“Pagi!” Sapaku. Semuanya menaikkan tangannya untuk menyapaku. Kulihat Jongup sibuk dengan spatulanya. “Jongup, hari ini kau memasak?” Tanyaku sambil mendekatinya.

“Ya. Hanya omelette. Kau pasti akan menyukai buatanku.” Ujar Jongup.

“Kalau kau tau omelette buatanku, itu akan jauh lebih enak dibanding milik Jongup.” Ujar Himchan tidak mau kalah, lalu ia meminum kopi paginya.

“Ehm!” Youngjae berdeham. Semuanya saling menatap.

“Apa kau?” Tanya Himchan sinis. Himchan tau kalau Youngjae pasti mengetahuinya. Bahkan bisa jadi semua mengetahuinya karna Youngjae tidak mungkin menyimpan cerita itu sendirian. Aku malu, tapi Himchan bilang tidak usah memperdulikan mereka. Baiklah, aku mencoba untuk tidak memperdulikannya. Anggap saja tidak ada yang salah dariku.

“Nuna, ini untukmu.” Jongup memberikanku sepiring nasi dengan omelette.

‘Ah, terimakasih.” Kataku. Aku kembali memperhatikan Himchan yang sibuk lagi dengan ponselnya. Sedang apa dia?

“Kurasa aku harus pergi sebentar.” Ujar Himchan. Benar saja. Himchan menghampiriku. Dia memegang puncak kepalaku. “Jangan kemana-mana, aku segera kembali.” Aku mengangguk dan Himchan mencium keningku. Pipiku memerah karna yang lain melihatnya. Himchan langsung pergi mengambil jaket yang tergeletak di sofa. “Youngjae,  ku pinjam jaketmu!” Dia mengambil kunci motor di atas kulkas dan langsung pergi. Saking terburu-burunya kah sampai dia meminjam jaket orang?

“Kalian berpacaran, kan?” Tanya Youngjae yang langsung mendekatiku.

“Hah? Ya…, begitu.” Jawabku malu.

“Apa kataku!” Ujarnya heboh. Aku tidak memperdulikannya. Aku langsung duduk di sebelah Daehyun yang sedang membaca majalah dan mulai memakan makananku. Tapi itu pasti Yoona. Siapa dia sampai Himchan harus terburu-buru menemuinya?

“Kau marah?” Tanya Daehyun. Aku menatapnya bingung. “Jangan menggertak piringmu dengan garpu. Berisik.” Bahkan aku tidak sadar.

***

            Aku tidak menyukainya, tetapi ternyata dia bisa membuatku nyaman. Dia mengajakku pergi jalan-jalan keluar karna kasihan melihatku menunggu Himchan yang tidak pulang-pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tidak mungkin dia menengok selama itu.

Kulihat Daehyun masih memakai maskernya. Dia tidak bicara, hanya memandangi toko-toko di pinggir jalan. Apa yang harus kubicarakan? Tidak mungkin aku bertanya tentang wanita itu lagi.

“Kau terlihat buruk.” Ujar Daehyun. Aku hanya tersenyum tipis. “Cemburu?” Aku diam. “Kau sudah menanyakan siapa wanita itu pada Himchan?” Aku menggelengkan kepalaku. “Mau kuberitahu?” Aku langsung menoleh pada Daehyun. Pria misterius ini ternyata peduli padaku. “Himchan pernah bertanya padaku. Katanya, ‘Daehyun-ah, apa yang akan kau lakukan jika kau punya mantan kekasih yang masih menyukaimu, dan ternyata dia sakit parah’. Lalu aku menjawab kalau aku tidak peduli karna dia hanya mantanku dan aku tidak menyukainya lagi.”

“…….”

“Bagaimana simpulanmu?”

“Wanita itu mantannya?” Daehyun mengangguk. “Dan dia peduli, karna masih menyukainya?”

“Aku tidak tau kalau masalah itu. Maaf, aku menceritakan ini hanya karna…., kau terlihat seperti tidak tau apa-apa tentangnya selama ini.”

“Tidak apa. Terimakasih.”

Aku menunduk. Bagaimana kalau iya? Aku takut. Daehyun benar. Aku seperti orang bodoh yang tidak berani bertanya langsung, dan berakhir dengan tidak tau apa-apa.

“Mau ice cream?” Tiba-tiba saja Daehyun menghampiri tukang ice cream keliling dan memberiku 1. Aku menerimanya. Dan untuk pertama kalinya, kulihat Daehyun membuka maskernya dan memakan ice cream miliknya. Dia tampan, tapi aku tidak mau berkomentar. Aku hanya tersenyum melihat dia sangat lahap memakan ice cream.

***

Himchan POV

“Sekarang kau baik-baik saja?” Tanyaku pada Yoona, wanita yang dulunya pernah menjadi kekasihku. Dia mengangguk, tidak mau menatapku. Wajahnya semakin pucat setelah tadi pingsan. Kulihat jam di tanganku, aku sudah sangat terlambat. Sura pasti menungguku. “Maaf,” Kataku sekali lagi. Dia seperti menahan tangisnya. Aku tidak tega, tapi mau bagaimana lagi?

“Selama ini untuk apa?” Tanyanya dengan suara gemetaran. “Datang setiap hari kemari, selalu ada disaat aku butuh, selalu mengutamakanku dibanding yang lain, kupikir…..” Dia menangis. Apa sepenuhnya salahku? Aku hanya ingin memenuhi permintaannya. Aku hanya ingin dia sembuh. Aku hanya ingin menebus salahku karna aku tidak pernah mencintainya selama aku bersamanya. Apa aku salah? Tapi aku tidak bisa membela diri. Baiklah, mungkin caraku salah. “Apa kau tidak pernah melihat pengorbananku selama ini?” Ya, aku sadar dan sangat hafal apa saja yang telah dia korbankan. Sangat banyak. Bisa dibilang jauh lebih banyak dari apa yang Sura lakukan. “Kau pikir itu semua untuk apa? Untuk siapa?!” Yoona semakin membentakku. Aku tidak ingin membuat emosinya meningkat lagi.

“Maaf, kau tau kalau aku tidak bermaksud—“

“Pergi.”

“…..”

“Aku sedang tidak ingin melihatmu.”

“Maaf sekali lagi.”

***

            Hari ini benar-benar melelahkan. Kuharap Sura tidak marah karna aku pulang malam. Rumah terlihat sepi. Ruang tengah tidak ada siapapun. Apa mereka semua mengurung diri di kamar? Aku pun naik ke atas dan kebetulan aku bertemu dengan Sura di tangga.

“Ma—“ Sura tersenyum kecut dan melewatkanku begitu saja. “Maaf aku pulang telat.” Kataku sambil berjalan kembali ke bawah.

“Tidak apa-apa. Lagipula tadi Daehyun mengajakku pergi.”

“Oh, ya? Kau senang hari ini?”

“Biasa saja. Sebaiknya kau cepat mandi dan istirahat.” Sura berjalan kembali ke atas setelah dia mengambil minum. Dia marah padaku. Aku pun menyusulnya ke atas.

“Ayolah, kau jangan marah.” Kataku sambil menarik tangannya. “Tadi itu teman yang kutengok itu pingsan, jadi aku lama di sana.”

“Oh, begitu. Yasudah.”

“Jangan marah padaku, kumohon.” Pintaku.

“Boleh aku bertanya?” Aku mengangguk penasaran. “Apa dia sekedar temanmu?”

“Ya, teman.”

“Setiap hari kau menjenguknya, bahkan seperti tidak mau telat untuk bertemu dengannya, apa itu sekedar teman?”

“Baiklah, dia mantanku.”

“……Tidak ada yang salah, kan, jika aku cemburu?” Kulihat matanya berkaca-kaca. Kupikir tidak akan seburuk ini.

“Tapi aku sudah tidak menyukainya. Bahkan tidak pernah menyukainya.” Tambahku.

“Kau peduli padanya.”

“Dia sakit.”

“Aku tau, tapi seharusnya kau tidak perlu sebegitunya. Sekarang kau pilih aku yang marah, atau dia?”

“Apa kau tidak mengerti kalau dia sedang sakit parah?!”

“Sebentar lagi pun dia akan mati! Dan kau lebih mementingkan dia?!”

“Jaga mulutmu, Sura!”

Sura POV

“Jaga mulutmu, Sura!”

DEG!

Hatiku sakit mendengar bentakan darinya. Daehyun yang baru saja keluar dari kamarnya hanya mematung melihatku menyedihkan begini. Aku menatap Himchan tajam. Aku benar-benar membencinya. Tanpa berpikir panjang, aku pergi turun ke bawah.

“Sura, kau mau kemana?” Tanya Himchan. Aku tidak meresponnya. Aku berjalan cepat untuk keluar dari rumah ini. “Sura!” Aku tidak ingin melihatnya. Aku pergi keluar rumah. Himchan mengikutiku, maka aku mempercepat langkahku. Tidak peduli cuaca yang sangat dingin, aku tidak mau berhenti. Kuambil ponsel di saku piyamaku. Aku akan menghubungi temanku itu dan lebih baik aku diam bersamanya untuk sementara. Bad! Tanganku bergetar hanya untuk mencari kontaknya.

“Jangan pergi.” Himchan mengambil ponselku dan menahan tanganku. Air mataku mengalir begitu saja. Aku melihat ke langit yang cukup gelap. Air mataku tidak mau berhenti.

“Kembalikan handphone-ku.”

“Tidak mau. Kau harus pulang bersamaku.”

“Kau tidak mau kehilangannya, kan? Maka kau kehilanganku.”

“…..”

“Kenapa? Aku jahat? Tidak memperdulikan orang yang lemah? Aku aku harus mengalah untuk orang yang sakit? Apa aku harus sakit parah agar aku diutamakan?”

Himchan memalingkan wajahnya. Dia malah terlihat seperti menahan tawanya.

“Apa yang lucu? Lepaskan aku!” Teriakku. Aku tidak peduli kalau ini sudah malam.

“Kau ini lucu sekali.” Ujarnya yang tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya. Aku tersentak kaget.

“Lepaskan aku!” Teriakku lagi dengan pukulan di dadanya.

“Tidak mau. Kang Sura, dengarkan aku. Jika aku kehilangannya, tentu aku akan sedih. Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Dan jika aku kehilanganmu, aku tidak akan pernah rela. Apa kau tau kalau aku ketergantungan padamu?”

“Kau bisa tanpa aku. Buktinya kau bisa dengan yang lain.”

“Ya, dulu kupikir begitu. Aku merasa nyaman dengan perempuan itu. Namanya Yoona. Kupikir aku menyukainya, tapi ternyata aku masih berkhayal bisa bertemu lagi denganmu dan tentu menjadikanmu milikku. Aku sadar kalau aku hanya merasa nyaman dengannya, tidak lebih dari itu. Itu alasannya setelah berpisah denganmu, aku hanya sekali saja pernah dekat dengan wanita dan aku gagal lupa padamu.”

“Dia masih menyukaimu, kan?”

“Hm, sepertinya.”

“Kau akan menyakitinya.”

“Maka dari itu aku mencoba menjaga perasaannya. Tapi sepertinya salah juga.”

Aku menenggelamkan wajahku dalam pelukannya. “Maafkan aku,” Aku malu, merasa seperti penjahat.

***

2 weeks later…

Mataku menerawang ke atas langit. Mendung. Aku pun menutup mata dan mulai menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh dan wajahku. Dingin sekali sore ini. Aku kembali membuka mata dan menemukan Himchan di depanku, masih duduk di kursi taman sambil memegang minuman kaleng. Musim salju begini dia masih meminum minuman dingin. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Tidak baik minum minuman seperti ini terus.” Kataku yang langsung mengambil minumannya.

“Sura,” Katanya tiba-tiba.

“Ada apa?”

“Sepertinya Yoona mulai memaafkanku. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Apakah kita harus kesana?”

Yoona? Sudah lama tidak mendengar namanya, kini terdengar lagi di telingaku. Tapi kupikir tidak ada salahnya untuk bertemu dengannya. Aku tidak ingin terus melihat buruk tentangnya.

“Kalau begitu kita kesana.” Kataku semangat.

“Kau yakin?” Aku mengangguk yakin. Himchan melihat jam tangannya. “Kurasa jamnya sangat tepat. Ayo kesana.” Himchan menggandeng tanganku pergi. Semoga sesuatu yang baik akan terjadi.

***

            Entah mengapa aku merasa sedikit nervous. Hah, apa yang harus kutakutkan? Himchan membuka pintu ruangan dimana Yoona berada. Ruangannya gelap. Kulihat seseorang duduk sendirian di atas tempat tidurnya yang dekat dengan jendela. Dia menatap ke arah jendela. Himchan mengajakku untuk mendekatinya. Kulihat rambutnya tipis. Bahkan aku tidak pernah bertanya pada Himchan tentang penyakit yang Yoona derita.

“Yoong?” Panggil Himchan.

“Hm?” Sahut Yoona. Ia pun melihat ke arahku. “Hai,” Sapanya sambil tersenyum. Dia cantik. Matanya terlihat sedikit sayu dan dia terlihat sangat pucat. Aku jadi khawatir dengan keadaannya.

“Uh, hai.” Sapaku.

“Himchan, bisa tinggalkan kami berdua?” Pintanya tiba-tiba. Jangan, aku tidak mau berduaan dengannya. “Aku hanya ingin berbicara lebih dekat dengannya.”

“Oh, okay.”

Sial, Himchan meninggalkanku.

Himchan POV

Aku yakin obrolan wanita pasti akan lama, jadi aku pergi keluar rumah sakit dan diam di café sekitar sana. Jika sudah selesai, paling Sura akan menghubungiku. Sambil meminum kopi panasku, aku memikirkan apa yang sedang Sura dan Yoona bicarakan. Sebenarnya aku sedikit khawatir. Tidak sedikit, aku sangat cemas. Aku takut Yoona masih membenciku. Bukannya berburuk sangka, tapi tidak menutup kemungkinan untuk Yoona membuat hubunganku dengan Sura menjadi tidak baik. Tapi sudahlah, semoga semuanya baik-baik saja. Nanti malam adalah malam natal. Kalau sampai malam natalku hancur, rasanya aku tidak bisa memaafkan Yoona.

Kulihat pohon cemara yang sudah terhias indah di depan toko accessories di sebrang. Aku lupa belum membeli sesuatu untuk Sura. Aku pun meminum sedikit lagi kopiku dan beranjak keluar menuju toko itu.

Tak sedikit wanita yang memperhatikanku dari atas sampai bawah. Kenapa? Karna aku tampan atau karna aku masuk ke dalam toko accessories wanita? Karena mereka, aku pun mengurungkan niatku untuk membelikan Sura sesuatu yang akan terlihat cantik jika ia pakai di rambutnya. Tapi…, sebaiknya aku bertanya.

“Uh, permisi,” Ucapku pada penjaga toko. “Bisa kau carikan sesuatu yang cantik untuk wanita?”

“Tuan mau apa? Hiasan rambut? Cincin? Atau apa?”

“Apapun,” Kataku. Mataku mulai mencari-cari benda yang menarik di sana. Kulihat sebuah snow dome dengan ballerina dan ballerino di dalamnya. Aku mengambil benda itu dan memperhatikannya lagi. Snow, natal, menarik.

“Bagaimana dengan cincin ini?” Aku dikejutkan oleh penjaga toko itu. Kulihat cincin rotan yang cukup unik, tapi aku geleng-geleng kepala. Untuk cincin, sebaiknya aku sekalian mencari yang bagus untuk melamarnya.

“Ini saja.” Kataku menunjukkan snow dome di tanganku.

“Baiklah,” Aku pun memberikan snow dome itu padanya. Mataku tertuju pada rumah sakit lagi. Kurasa aku melihat Sura. Dia keluar dan pergi sendiri. Dia mau kemana?

“Tidak usah dibungkus!” Kataku yang langsung memberikan uang padanya dan mengambil snow dome yang sama sekali belum dibungkus. Aku langsung mengejar Sura.

“Sura!” Panggilku. Dia tidak menoleh ke belakang. Jalannya cepat. Kurasa aku sudah berteriak sangat keras. Dan kurasa Sura bukannya pura-pura tidak mendengarku, tapi dia terlihat benar-benar tidak mendengarku. “Sura!” Akhirnya aku berhasil menahan tangannya. Dia terlihat sangat kaget melihatku. Kenapa dia? “Kenapa kau pergi begitu saja?” Dia geleng-geleng kepala, terlihat seperti orang ling-lung. Dia mengambil penghangat telinganya di dalam tas dan memakainya. “Sura, ini untukmu.” Aku menyodorkannya snow dome yang kubeli tadi. Tiba-tiba saja dia berhenti berjalan. Dia diam menatap snow dome yang kubawa.

“Jangan gunakan uangmu untuk menebus dosamu padaku.” Ujar Sura tiba-tiba.

Aku diam, benar-benar mematung.

“Dia sudah memberitahukan semuanya padaku. Jangan tanyakan kenapa kalau mulai saat ini aku membencimu, aku tidak ingin melihatmu, dan aku akan pergi dari rumahmu. Kalau kau sadar diri, jangan halangi aku.”

Sura pergi meninggalkanku. Sekarang ini aku merasa sangat buruk. Yoona, dia bermasil membuat malam natalku hancur.

Sura terus berjalan dengan pandangannya yang gelagapan. Aku berjalan mengikutinya. Apa harus kupanggil namanya dan kembali mengejarnya? Ya, aku memang tidak tau diri. Aku mengejarnya, dan kembali menarik tangannya.

“Itu kecelakaan, Sura! Maafkan aku, kumohon.” Pintaku. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan kejadian ini akan terjadi.

“Jangan memancing emosiku, Himchan!” Bentaknya. Dia menepis tanganku kencang. Dia melihat ke kiri-kanan jalan dan bersiap untuk menyebrang. Tentu aku harus terus mengikutinya untuk mendapatkan maafnya.

“Sura, kumohon.” Pintaku lagi sambil mengikutinya. “Sura,”

“Berhenti memanggilku!” Bentak Sura yang tiba-tiba saja berbalik ke belakang.

TIIIIIIN!

“Awas!”

PRANG!!!

…….

Sakit. Tapi kurasa aku berhasil menyelamatkannya. Badanku rasanya remuk sekali. Perlahan, pendengaranku berkurang. Mataku tak dapat focus lagi. Nafasku melemah dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

***

Sura POV

“Sura, kau tau siapa aku?”

            “Uh, Yoona?”

            “Jangan canggung begitu. Kau tau sesuatu tentangku?”

            “….dulu kau kekasihnya Himchan?”

            “Ya. Terlepas dari itu, aku ini satu-satunya orang yang tau tentang rahasia besar Himchan. Kau, sahabatnya sejak kecil, bahkan teman-temannya di rumah maupun di luar pun tidak ada yang tau. Ah, tapi tentu kau tidak akan tau.”

            “Maksudmu?”

            “Tentu kau tidak akan tau karna ini tentang kau. Oh ya, kau sempat lost contact dengannya, kan? Kapan kau bertemu dengannya lagi?”

            “Setahun yang lalu?”

            “Apa kau tau kemana dia selama 4 tahun dia menghilang tanpa kabar?”

            “….”

            “Sura, akan kuberitahu kau rahasia besar. Sebaiknya kau percaya padaku, karna jika kau bertanya kebenarannya pada orang yang bersangkutan, dia tidak akan bisa mengelak.”

            “Apa yang sebenarnya kau bicarakan?”

            “Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kekasihmu itu…. mantan pidana.”

            “…..”

            “Dan itu berhubungan dengan orangtuamu.”

DEG! Lagi, dadaku terasa sakit. Sesak.

“Himchan itu…..”

            “Ya, aku yakin kau pintar menebak. Dia yang membuat orangtuamu meninggal. Himchan yang menabrak mereka. Dia memang mabuk, tapi dia sadar 80%.”

            “Jangan bicara yang tidak-tidak. Bahkan saat itu polisi bilang itu hanya kecelakaan yang kesalahannya muncul dari mereka sendiri.”

            “Jangan menangis, Sura. Untuk apa menangisi orang yang membodohimu? Dan apa kau lupa berapa uang yang keluarga Himchan punya? Kau lupa kalau ayahnya pengusaha besar? Saat itu dia segera menyerahkan diri. Keluarganya berhasil menutup mulut kepolisian. Himchan dipenjara 3 tahun, dan sisanya tentu ia membayar denda. Apa cerita ini terdengar mustahil?”

            “…..”

“Kepindahannya ke Busan, kuliah di Seoul, semua itu bohong. Sebenarnya harta keluarga mereka sudah cukup terkuras banyak karena kesalahan Himchan. Tapi mau bagaimana lagi? Orangtuanya sepertinya sangat merasa berdosa padamu. Keluarga kalian sangat dekat, kan? Pikirkan, Himchan itu tidak mempunyai pekerjaan. Dia membantumu menyelesaikan sisa hutang orangtuamu sebanyak 50 juta. Kau yang menilai sendiri. Himchan memang orang kaya, tapi apa dengan mudah dia mendapatkan uang 50 juta dari orangtuanya? Tidak akan semudah itu kalau uang itu bukan untukmu, Sura.”

            “Sudah cukup.”

            “Aku belum selesai. Masih banyak lagi yang seharusnya kau tau.”

            “Boleh aku pergi?

“Sura?”

Aku mendengar seseorang memanggilku. Himchan?

“Sura, kau mimpi buruk?”

Bukan suara Himchan, melainkan Daehyun. Mendadak kepalaku sakit karena ingatan itu. Aku menggelengkan kepalaku.

“Kau berkeringat.” Aku dapat merasakan dia mengelap daerah rahangku.

“Aku tidak sedang tidur, Dae.”

“Baiklah. Dokter bilang kau dapat melepaskan perbannya sekarang. Suster akan melepaskannya.” Kurasakan ada beberapa orang di sekitarku, dan ada yang menyentuh perbanku. Lama kelamaan, rasa janggal itu berkurang. Saat perbannya terbuka seluruhnya, tidak ada yang beda. Gelap.

Aku tersenyum. “Ini terasa jauh lebih baik.” Kataku. Aku tidak perlu terkejut dengan keadaan gelap seperti ini. Sebelumnya aku sudah mengetahuinya, aku akan buta.

“Bagus kalau begitu.” Daehyun mengusap kepalaku. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi lebih perhatian setelah kejadian itu. Mungkin dia iba padaku.

“Apa kau yakin aku boleh tinggal di rumahmu?”

“Tentu. Kuliahku libur selama 3 bulan dan kebetulan orangtuaku sedang ada di Taiwan.”

“Sudah bilang orangtuamu?”

“Sudah. Kau tidak perlu khawatir. Barang-barangmu sudah Youngjae dan Jongup bereskan. Sudah siap untuk pergi?”

Aku mengangguk, mencoba tetap tersenyum.

“Kalau begitu tunggu sebentar. Ada yang harus kuurus dulu dengan dokter. Ok?” Aku mengangguk lagi.

“Dae?”

“Ya?”

“…..apa Himchan baik-baik saja?”

“Secara fisik, ya. Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?”

“Untuk apa. Kau tau kan aku sangat membencinya? Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Sudah cepat urusi urusanmu dulu,”

“Baiklah~”

Himchan POV

Kulihat Daehyun berjalan keluar ruangan. Kuharap ada sedikitnya kabar bagus. Ya, kuharap.

“Dia menanyakanmu.” Ujar Daehyun. Alisku mengangkat, antara senang dan tidak percaya. “Tapi ya begitu. Dia masih tidak mau bertemu.” Sudah kutebak. “Kau yakin tidak akan muncul di hadapannya lagi?”

“Aku pasti muncul, tapi tanpa sepengetahuannya.”

“…..baiklah.”

“Ini,” Aku memberikan kunci rumah padanya. “Alamatnya sudah kuberikan pada supir taxi. Kau harus menjaganya. Aku mempercayakanmu, jadi—“

“Ck, kau ini. Kau bisa mempercayaiku, tenang saja.”

“Baiklah. Mungkin tiga hari sekali…, ah, seminggu sekali aku akan kesana.”

“Okay. Aku akan pergi sekarang.”

Aku megangguk. Daehyun kembali masuk ke dalam, menuntun Sura turun dari tempat tidurnya. Sura memegang tongkatnya, mencoba terbiasa dengan benda itu. Dia berjalan menghampiriku. Kali ini, aku mundur. Aku tetap bungkam. Daehyun menepuk bahuku, lalu pergi. Aku tidak menyangka rasanya malah lebih sakit. Bayangkan, karena hadiah dariku, dia buta. Karena aku yang sok menjadi pahlawan, snow dome itu jatuh dan pecah sehingga pecahan itu mengenai matanya. Sementara aku yang memeluknya, aku malah baik baik saja karna terhalang olehnya. Berapa banyak lagi dosaku padanya?

Sekarang aku hanya bisa bersembunyi. Aku menyuruh Daehyun untuk menempati rumah kecilku di Busan. Sura akan lebih baik jika jauh dariku.

This is what my heart tells me to do, so it hurts even more
I love you but I need to break up with you
I’m grateful and sorry at the same time that you loved me
I lack so much so please forgive me for leaving you

 -Kim Himchan-

 

***

4 month later

Author POV

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dua pasang mata enggan untuk melepas pandangannya ke arah langit. Sangat diragukan untuk turun hujan saat siang nanti, tapi cukup meragukan juga kalau siang nanti matahari akan terik sekali. Hem, cuaca pagi ini sangat membingungkan. Sulit ditebak. Angin di pagi hari pun lumayan kencang dan agak dingin. Mungkin karena hujan semalam.

Himchan terus memandangi rumah di hadapannya. Karna tidak pernah ada kabar baik dari Daehyun, Himchan tidak berani datang untuk sekedar melihat keadaan Sura secara langsung.

Sementara itu di dalam rumah, keadaan tidak ada yang membaik.

“Sura, kau yakin kau baik-baik saja?” Tanya Daehyun cemas. Hari ini Sura sudah muntah 2 kali. Daehyun memegang kening dan leher Sura. Panas. “Sepertinya kau demam. Uh, tapi….”

“Bisa kau belikan obat untukku?” Pinta Sura. Dia terlihat sangat tidak sehat.

“Sebaiknya kita sekalian ke rumah sakit.” Sura tidak menjawab. Dia hanya mengapus air mata di sudut matanya. “Sura…, bagaimana kalau kau hamil? Maaf, tapi kudengar….”

“Lalu kalau aku hamil, aku harus bagaimana?!” Sura terlihat mulai kesal.

“Apa kau masih tidak mau menemui Himchan?”

“Aku tidak mau.”

“Kau tidak merindukannya?”

“Tidak.”

“Kemarin perutmu kram dan setiap pagi kau merasa…mual?”

“Lalu?”

“Apa kau tidak memikirkan bagaimana kalau kau benar hamil?”

“Aku memikirkan.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Kau pikir aku akan menggugurkannya? Tentu tidak!”

“Memangnya kau bisa hidup sendiri?”

“Tidak tau.”

“Kau akan sulit mendapat pasangan jika kau…, ya, kau tau.”

“Tidak apa-apa.”

“……”

“Belikan aku obat. Tolong.”

“Okay, tunggu sebentar.” Akhirnya, Daehyun pun pergi. Sura menutup matanya, mencoba lebih tenang. Karna Daehyun, Sura jadi memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tidak ada harapan untuk kembali bersenang-senang. Sudah tidak ada semangat.

I waited for you
The absence of our relationship was long and dark
I hope this isn’t the end
I wanna go back
I fixed everything you wanted me to but where are you?

-Kang Sura-

 

***

Himchan POV

Kulihat tadi Daehyun pergi keluar. Aku sudah berdiam diri selama 15 menit setelah Daehyun pergi. Apa sebaiknya aku masuk ke dalam? Kurasa aku harus melihat keadaannya. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Kucoba untuk membuka pintunya perlahan agar Sura tidak mendengarnya.

Cklek….

Aku menggerutu dalam hati. Kenapa rasanya suaranya besar sekali? Kucoba untuk membuka pintunya lebih lebar sedikit lagi agar badanku bisa masuk ke dalam. Setelah berhasil, dapat kulihat Sura sedang duduk di sofa. Aku pun memberanikan diri untuk lebih mendekatinya. Dia bersandar di sofa dengan dagu yang mengangkat. Matanya tertutup. Dia tidur? Wajahnya pucat. Apakah dia sakit? Daehyun tidak bicara apapun tentang hal itu. Rasanya aku ingin lebih mendekatinya dan menyentuh wajahnya. Kukira ini akan mudah, tapi ternyata rasanya sakit. Merindukannya itu membuatku merasa sakit.

“Aku bohong,” Tubuhku mematung ketika Sura tiba-tiba bicara. Dia mulai membuka matanya. Jantungku memompa sangat cepat. Bahkan aku lupa kau Sura tetap tidak bisa melihatku. Kulihat masker Daehyun tergeletak di atas meja. Aku pun segera mengambilnya dan memakainya. Gawatnya, ini semakin terasa sesak. “Aku bohong kalau aku bilang aku tidak merindukannya.” Tatapan matanya kosong. Aku terus menatapnya tanpa mengedip sampai akhirnya terasa perih. “Bahkan aku membutuhkannya…” Sura kembali menutup matanya dan menghirup nafas panjang. Aku bergerak perlahan untuk duduk di sampingnya. Tangannya tergeletak di sebelahku. Ingin sekali aku menggengamnya, tapi tidak bisa. “Dae?”

“….hm?”

“Apa aku terlalu sombong?”

“……?”

“Aku aku terlalu sombong, merasa tidak membutuhkannya, tidak mau memaafkannya, bahkan tidak mau bertemu dengannya.” Aku memandanginya dari samping. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang. Aku masih tidak berani untuk muncul. Aku tertumpuk oleh rasa berdosaku. “Aku tidak akan heran jika dia tidak mencariku.”

Dia menangis. Dia menahan suaranya. Hening. Air matanya mengalir tak henti. Jangan menangis, kumohon.

Sura, aku merasa menjadi orang paling bersalah saat ini, bahkan selamanya. Maaf. Seharusnya aku hanya menjadi sahabatmu yang baik, yang melindungimu, yang tidak membebanimu. Kau boleh acuhkan aku. Tidak usah pikirkan aku. Jika kau melupakanku, aku berani menjamin hidupmu akan jauh lebih baik. Kumohon, jangan menangis lagi.

“Dia pasti lelah.”

Dia terus menutup matanya dan menangis. Tidak, dia tidak boleh hidup tanpa diriku!

Cklek!

“Sura, apa aku lama—, eh?”

Aku tersentak kaget, begitu juga dengan Sura. Daehyun datang. Sura langsung sedikit menjauh dariku sehingga aku langsung menahan tangannya agar dia tidak pergi.

“Siapa kau?!” Tanya Sura. Daehyun melihatku dan dia langsung pergi kembali ke luar. “Kau bukan Daehyun..?” Sura berusaha berhenti untuk menangis di depanku, tapi kelihatannya dia malah semakin ingin menangis. Aku turun dan berlutut di depannya. Perhalan, tangan kanannya bergerak untuk meraih wajahku. Dia menangkup pipiku, lalu mencoba untuk melepas masker yang kupakai. Dia meraba pipiku. Aku memandangi wajahnya yang sendu. Aku benar-benar merindukannya.

“….Himchan?” Ucapnya.

Aku tersenyum. “Ne?” Dia menatap kosong ke arahku. Apa yang telah kuperbuat sehingga melukai mata indahnya?

Tangannya berhenti di pipiku. Benar saja, tangisnya semakin menjadi. Aku menangis melihatnya. Tapi aku bahagia. Bahagia karna dia sadar dengan kehadiranku, bahagia karna bisa menyentuhnya lagi, bahagia karna semangatku untuk menjadikannya milikku besar kembali.

“Aku merindukanmu, Sura.” Kataku.

“Maafkan aku…” Lirihnya.

“Maaf untuk apa? Disini aku yang salah.”

“Kau sudah menebusnya dari dulu. Seharusnya aku tidak marah.”

“Kau pantas untuk marah.” Aku mencoba untuk menghapus air matanya. “Mau memaafkanku?”

“Kau menyebalkan, Himchan.” Dia tertawa kecil dan memukul bahuku. Ini membuatku bahagia. Akhirnya aku dapat melihat tawanya lagi. “Jangan tinggalkan aku lagi.”

“Tidak akan.” Kataku. Aku pun kembali duduk dan menggenggam kedua tangannya. Aku mencondongkan wajahku untuk memandangnya.

“Dengan keadaanku yang seperti ini?”

“Kenapa? Tidak ada yang berkurang dari kecantikanmu. Aku akan berusaha semampuku untuk menebus kesalahanku. Aku akan membuatmu bisa melihat lagi. Kau tunggu, ya.”

Sura mengangguk. “Aku merindukan wajahmu.”

“Apa kau lupa?” Tanganku mengangkat tangannya untuk kembali menyentuh wajahku. Dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya dan dia menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin melihatnya kembali.”

“Poniku sudah sedikit lebih panjang.” Aku mengangkat tangannya menuju rambutku. “Bahkan untuk memotong poni saja mood-ku tidak sanggup. Aku tidak peduli apapun selain ingin memperbaiki hubungan denganmu.”

“Benarkah?”

“Heem..”

Cklek….

“Apakah sekarang aku boleh masuk?” Tanya Daehyun yang tiba-tiba saja muncul. Dia merusak suasana.

“Cepatlah masuk.” Kataku. Dia pun masuk dan menghampiri kami berdua. “Apa itu?” Tanyaku melihat bungkusan yang dibawa Daehyun.

“Obat demam?” Ujar Daehyun sambil menunjukkan obatnya, lalu menaruhnya di meja. “Obat penghilang mual,” Lagi, dia mengeluarkan barangnya. “Testpack,”

“Apa?” Aku segera menoleh pada Sura. “Kau..?”

“Tidak!” Jawab sura gelisah. “Daehyun-ah, tidak ada yang menyuruhmu untuk membeli itu!” Aku menoleh kembali pada Daehyun. Daehyun membusungkan perutnya dan menepuk-nepuknya. “Himchan, aku tidak pernah melakukannya dengan Daehyun!” Rengek Sura. Aku terkekeh geli. Aku pun berdiri dan menarik tangannya untuk bangun.

“Ayo ku antar ke kamar mandi untuk mengeceknya.” Kataku.

“Tapi aku tidak…”

Aku mendekapnya dari belakang dan mendorongnya untuk berjalan ke kamar mandi. Sudah lama tidak menggodanya. Aku pun membisikinya.

“Kalau begini kau harus siap-siap untuk menikah denganku.”

“…..”

To me, it’s only you
I am hurting because of you
I try to forget you but I can’t
Hating you is too hard, it’s too hard
I’m upset that you don’t even know
I’m officially missing you
, my polaris

-Kang Sura-

END

 

Thanks for reading. Comment please J Visit my wp ullzsura.wordpress.com thanks~

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 30/05/2013, in OS. Bookmark the permalink. 53 Comments.

  1. choiluna0612

    Happy ending T________T /hapus air mata/
    Syukurlah..

  2. haaa asik happy ending ^^
    suka bgt sama ceritanyaa, haha bisa minta squel? haha

  3. authoorr, daebak lah ini FF nyaaa. ini mah harus ada sequel thorrr *wink wink* haha. sequel ya thorrr pliiiss pliss. hehe. good job author. keep writing yaaaa

  4. Daebakkkk~
    Ditunggu Sequel nyaaaa~

  5. ya ampun ini panjang bgt..
    Daebak

  6. Himchan nya cool sekaaayihh aku sukaaaa… Ceritanya bagus, NCnya lumayan hot tapi gak terkesan vulgar. T.O.P dehh! Sekuelnya dooong ceritanya Sura bisa liat lg, pake mata Yoona, karna Yoona mati terus matanya dikasih Sura, hahaha… *digampar* Gak tega liat Sura butaaa >,<

  7. riez_kyumin

    wahhhh..suka deh klo baca cerita yg happy ending ^_^
    aq kira bakalan sad ending ehh gak tw’a sesuai sm harapan aq..hahaha..

  8. thor, sequelnya ditunggu

  9. Awalny bingung ma konflik crta’a…. Tpi akhrny ngerti… Kkkk very longshoot…. Adakah sequel thor???

  10. sequel diusahain ya. makasih commentnyaaaa🙂

  11. Meskipun agak bingung tapi akhirnya ngerti juga jalan cerita nya😀

    sequel donk thor klw bisa konflik nya sama yoona

  12. Ah min cerita nya seru lanjut dong min

  13. keren ceritanya
    endingnya ituloh
    berkesan bgt
    daebak

  14. Wahh ceritanya bagus,
    feelnya kerasa banget..
    Lebih fokus ke ceritanya..

  15. ampe mewek nangsnya thor
    daebak . . !!

  16. daebak mah authornya ampe nangis,,,aku suka banget ma ceritanya
    kasih sequel ea tpi tetep yg happy ending,,,

  17. Vanilla Latte

    Baguuus. Poin pentingnya tuh penulisannya rapi dan alurnya nggak ngebut. Dan itu yang bikin keren thor, kereeen. Butuh sekueeel :3

  18. Ah~ keren banget thor~
    buat squelnya dong jebal~
    happy ending dan bener bener asdfghjkl gk bisa dijelasin pakai kata2 cerita bagus banget T.T
    Oh iya request juga dong min pakai BAP+APink ㅋㅋㅋ ^^v

  19. Waaaa ff’a kereN bgt .. Crita’a bagus nd ga pasaran pula .. tapi cast’a ga ada ma babeh zelooooo hiks

    Kapan” main cast’a zelo ya thor .. Нaнaɑº°˚=Dнaнaɑº°=D=D

  20. love it^

  21. well, this is a very-longshoot-FF kkkk neomu joha joha joha !
    jalan ceritanya suka, senang-sedih-senang :’) konfliknya banyak, aku sampe gak bisa nebak jalan ceritanya pas lagi baca.. kk

  22. thanks commentnya~ mampir ullzsura.wordpress.com ya untuk ff lainnya. makasih :3

  23. ceritanya bagus banget banget…
    happy ending, sequelnya ditunggu ya thor😀

  24. Yaampun author daebak keren banget ffnya…sequel dong….please…^_^

  25. bagus ^^
    cuman maaf ya thor, judul sama cerita kok gak nyambung ._.v
    tapi tetep aja, suka bangeeet! feelny dapet walau ada nc nya~
    ditunggu ff lainnya, fighting! ^^)9

  26. ddaebak,story linenya bagus.. apalagi happy ending ^^

  27. tanty indrayanty

    yaamfun…. Bang Him TTATT knapa bnyak bnget dosa you?? Sampe bikin sura buta #ditimpuk kaleng sama himchan
    duh di sini aku suka daehyun sama jongupnya😄 bikin versi daehyun sama jongup dong tapi sifatnya jangan di rubah biar kaya gitu aja… hmm yadongnya pelan” pelan nih coba kamarnya kedap suara gitu jadi engga pelan deh😀 kkk~ #digorok golok sama thor
    aku suka akhirnya thor kalo bisa ada lanjutannya ^_^hehe~

  28. FF nya keren! ‘-‘)9

  29. astaga happy ending ㅠㅡㅠ aku kira himchan sura baka berpisah selamanya seneng banget ternyata sura bisa maafin himchan!! aku penasaran sama perasaan dae ke sura…jangan jangan dae suka lagi😐

  30. gila authornya keren banget! bahasanya bener-bener suka suka suka suka banget thor.bener ngena banget :”) suka banget sama FF ini. loveyou thor! buat yg banyak FFnya thor. yadong tapi tetep romantis. ah engga tau deh, suka banget sama elu pokoknya!:***

  31. babyshimchan

    Thoor, ceritanya bagus banget, ini baru ff nc yang bermakna. Bikin sequel nya thor? Please? Hehe

  32. Makasih ya . Aku trhibur bacanya gila seru banget . Thanks🙂

  33. masa’ 4 bulan baru sadar kalo hamil min? tapi bagus ceritanya😀

  34. Daebakkkkk,
    ini ff terbaik yg pernah saya baca,
    sumpah baca ini tuh bikin saya senyum2 sendiri,
    Himchan romantis banget,Daehyun lucu haha,
    aigo pengen baca lagi tapi sayang cuma one shoot,sequel please?

  35. pernah baca ini tapi bukan disini._.

  36. sequel.nyaaa thorrrrrrr
    plissssss u,u
    cerita.ny bagusss!
    aku suka wktu sura sm Himchan yadongan(?) Sura.ny malu² gitu :3😄
    jd kaya gmnaaaa gituuu *apaan sih😄
    Duh pko.ny keren !

    pko.ny harus ada sequel.ny !? harus!
    #maksa😄
    #dibanting author😀

  37. ANJEEER PARAH RAME BANGET . OWE BACANYA SATU JAM -_,-

  38. Aku suka alur ceritanya! Ga ngebosenin hihi. Disini pacar aku jg banyak nongolnya:3 /lirik daehyun wkwkw. Tapi endingnya agak gantung thor T-T itu akhirnya sura hamil ga? Terus matanya bisa liat lagi? Sequel nya ditunggu ya!!

  39. keren,,sequel dong thor,,

  40. Ceritanya Menarik N Gemesin…Sura.!!Polos amat yakh..

  41. huhuhuhuhh…
    sedihnyaa..aaahhh..

    GOOD JOB

    URI AUTHOR DAEBAK…

  42. I like this😛

  43. Awww in bnr2 kereeennn.. panjang tp ga membosankan sm skali.. yadonganny jg intiiim bget, hmm gmn yah, bagus deh pokony, ga maksain, ga lebai, passs aj deh.. wlpn endingny ga ending bget (?) Ahaha maksudku, knp ga lanjut lg smpe mnikah or apa gt.. aq jd ngayal cerita lanjutanny gmn..

  44. Ilma Bumssoeulmates Elf

    wahh keren os.a panjang
    daebak

  45. Bagus .
    Tapi kecewa -.-
    Kenapa cuman sampai nge-check Sura hamil atau enggak ?
    Yah,Thor tangung jawab pokoknya harus bikin sequelnya ..
    setidaknya sampai sura bisa liat lagi U.U
    hehehe ..

  46. Aku suka, hepi ending.. aq kira sura bnr2 gk mau blik ke himchan.. trnytaa….😀 Tp gmn nasib yoona dong? Btw aq lbh ska karakterx daehyun dsni, ceplas-ceplos 😀

  47. Aduh aduh :’)
    seperti biasa FF nya Ullzura itu emejing *O*
    doh Ullzura aku pensmu *O*/\
    aku selalu suka semua yg kamu tulis xDD
    doh Himchan Sura ><
    greget ihh xDD

  48. Jinjja…. neomu neomu daebak!!!

  49. happy ending
    tapi nii air mata tetep netes😥

  50. wah wah wah ..
    aku udah bca 2x yg pertma gk tau cra coment jd gk aku coment . hehe *sorry thor*
    tp skarang .
    gk bosen ngebaca nya aku thor .🙂

  51. aaa kereeeeennn *tepuk tangan heboh

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: