Sweet Whipped Cream (JaeRin Couple)

jaejoong ff nc

Author : N/M

Title : Sweet Whipped Cream (JaeRin Couple)

Type : Straight, Romance, NC-21

Cast : Kim Jaejoong (DBSK), Shin Ririn (OC)

Authors’ Note :

Annyong, chingudeul… Salam kenal. N/M di sini. ^^ Sekarang kita akan mempersembahkan fanfic Jaejoong DBSK nih.

Enjoy it, chingu. Komen sangat diharapkan, lho. 😉

-Author’s PoV-

                Jaejung senyam-senyum melihat hasil keterampilannya yang tak disangka ia dapat lakukan juga; kue tart yang dilingkupi whipped cream putih. Sederhana, tapi rasanya pasti istimewa. Jaejung biasanya memasak untuk makan berat. Ia jarang membuat kue atau dessert lain, tapi demi ulang tahun kekasih tercintanya, Shin Ririn, ia merasa ia wajib melakukannya.

                Ia tak pernah merasakan hal semacam ini pada wanita sebelumnya. Bukan berarti ia tidak pernah pacaran. Ia punya banyak pacar, dan ia bukannya main-main dengan para wanita yang ia pernah pacari itu. Namun, ia belum pernah merasakan perasaan kasih penuh kehati-hatian semacam ini sebelumnya. Ini pertama kali, batin Jaejung.

-Jaejung’s PoV-

                Aku melihat arloji. Jam empat. Sebentar lagi Ririn datang ke dorm DBSK, tempat aku berada sekarang. Aku hanya perlu menambahkan beberapa buah ceri sebagai penghias dan voila! Jadilah kue ulang tahun untuk cintaku itu.

“Whipped cream-nya kebanyakan, oppa.”

“HA!” aku yang sedang meletakkan buah ceri sehingga mendekatkan wajah terlalu dekat dengan kue pun terkejut. Dan tanpa sengaja hidungku menyentuh krim kue di hadapanku.

Setelah melihat kerusakan kecil di kue karena tersentuh hidungku itu, aku menoleh ke penegurku dengan sebal. Ternyata Ririn. Dia sudah tiba.

Sial, bagaimana aku harus menjelaskan padanya? Aduh, gagal sudah kejutan kusiapkan.

“Itu apa, oppa?” Ririn bertanya kalem.

Nah, sekarang dia sudah bertanya. Apa yang harus kukatakan?

“Oppa,” dia memanggilku dengan sikap tenangnya lagi. Aku tidak boleh kalah. Aku harus jauh lebih cool.

“I—ini…” dan mulutku malah tidak sinkron dengan otakku. Aku memerintahkannya untuk tenang, mengapa malah tergagap dan sekarang malah kaku? Huh.

“I-I—ini…”

Hah. Tetap saja. Aku jadi kecewa pada diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa menunjukkan sikap andalanku hanya karena kejutanku yang ketahuan lebih dulu? Atau aku begini karena gadisku lebih tenang daripada aku?

Tangan Ririn bergerak, membuatku terpaku, menantikan apa yang akan ia lakukan. Ujung hidungku tersentuh jemarinya yang halus. Krim kue yang menodai hidungku terhapuskan. “Ini apa, oppa?” Ririn merepetisi.

“Oh,” aku berkata lega karena tahu yang ia tanyakan ternyata itu, “seperti yang kaulihat, chagi, itu whipped cream.”

Dan Ririn membuatku kembali terpaku. Ia menjilat krim kue di tangannya. Melihat itu, darahku berdesir. Mataku melotot. “Apa yang kaulakukan, chagi?” tanyaku.

“Aku hanya memastikan ini benar krim kue atau bukan, oppa,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Ya ampun. Apa yang terjadi padaku?

Ketenangan Ririn membuatku berpikir macam-macam. Kalau seandainya tadi krimnya ada di bibirku, apa dia juga akan melakukan hal yang sama—menyentuh bibirku lalu menjilatnya?

Yah, itu bukan hal yang luar biasa sebetulnya. Dia masih menggunakan medium—tangannya. Kalau dia langsung menjilat bibirku, itu baru luar biasa. Ah, kenapa sekarang aku malah berpikir begitu?

“Omong-omong, enak, oppa,” ujar Ririn.

Aku terkesiap. “Apanya?” tanyaku.

Ririn tertawa kecil, menanggapiku. “Krimnya,” jawab Ririn dengan nada menenangkan.

“Oh,” balasku, “kupikir rasa kulitku.”

Mata sayu Ririn agak membesar karena ucapanku. “Oppa ini bicara apa?” tanyanya lunak. Dan kalau aku tidak salah, aku melihat semburat kemerahan di kedua pipi putih dan halusnya. Dia sangat cantik saat sedang begitu. Bahkan mengalahkan aku. Eh, tidak, aku bukan cantik—kenapa aku bisa mengeluarkan pikiran demikian?—aku ini tampan.

“Apa kue ini untuk dimakan bersama?” tanya Ririn.

Aku menatapnya. Pertanyaannya menjebak. Bisa jadi dia bertanya karena sudah tahu kue ini untuk apa, boleh jadi karena dia belum tahu. Aku harus mengakalinya. “Oh, sebenarnya… ya.”

Aduh, kenapa aku harus pakai kata ‘sebenarnya’ dan harus memberi jeda pada jawabanku? Tapi Ririn masih mendengarkan. Sepertinya jawabanku tidak bermasalah baginya. Untung dia tidak sekritis Changmin.

Badanku kubalikkan menghadap kue sekarang, mengecek kalau memang belum ada torehan tulisan apapun yang menyebutkan namanya atau ucapan selamat ulang tahun. Sesudah yakin kalau tidak ada, aku mengangkat kue berukuran sedang itu dan memamerkan kepadanya.

“Kuenya indah sekali,” pujinya, “sayang kalau dimakan.”

Aku mengerutkan kening. “Kenapa sayang? Kue ini kan dibuat untuk dimakan,” ujarku.

“Kuenya terlalu bagus. Cocok jadi pajangan,” timpal Ririn.

Mulutku menggumamkan kata ‘pajangan’ yang ia ucapkan. Dan pikiranku melayang hingga akhirnya kulontarkan, “semua yang terlalu bagus cocok jadi pajangan?”

Ririn mengangguk, tersenyum.

“Bagaimana denganku, chagi?”

“Hah?” Ririn terperangah. Aku suka rona wajahnya saat sedang begitu. “Ma-maksud oppa?” tanyanya gugup.

Aku melihat bibir kemerahannya yang terbuka, titik-titik keringat yang lama-kelamaan muncul di di philtrum—bagian atas bibirnya, dan gesturnya saat menyekanya itu. Entah mengapa aku tertarik melihati itu.

“Maksud oppa apa?” ia mengulang.

Aku lalu bertanya dengan berapi-api, “Kau tahu kalau aku sangat bagus dan cocok dijadikan pajangan bukan?”

“Oppa, ya ampun, lagi-lagi bertingkah narsis,” Ririn berkata sambil menepuk bahuku pelan.

“Kenapa? Kau suka kan aku yang begini?” tanyaku.

Ririn tersenyum. “Ya,” jawabnya kalem dan bernada keibuan. Gadis yang lima tahun lebih muda dariku ini kadang memang lebih dewasa daripada aku.

Aku tidak mau seperti itu. Maka, demi menunjukkan aku bisa lebih dewasa darinya, aku harus beraksi.

Aku meraih tangannya yang masih ditumpangkan di bahuku. Ririn tidak menarik tangannya, ini tanda kalau aku mungkin bisa meneruskan aksi lebih jauh. Omong-omong, aksi apa, ya? Harus yang spektakuler, tentu saja, supaya dia bangga punya kekasih dewasa dan berkarisma sepertiku dan supaya ia tidak akan melupakan ulang tahunnya yang ini.

Sekarang aku tengah mencium punggung tangannya, dia tak bergeming. Tidak seperti gadis-gadis yang pernah kukencani sebelumnya, yang gugup atau kadang menantang, dia tanpa ekspresi. Entah dia pintar menutupinya, atau memang ketidakekspresifannya yang berperan kini. Yang jelas saat aku melanjutkan mengecupi tangan hingga lengannya, dia tak bereaksi. Kulirik wajahnya. Tak ada semburat merah yang tadi. Apa dia sudah tidak malu lagi?

Baju terusan putuh agak transparannya yang melebar di bagian lengannya itu telah kusambangi dengan kecupanku. Ririn, si gadisku yang pendiam itu, tetap tenang dan bahkan tanpa geliatan sedikitpun. Terus demikian, hingga ciumanku tiba di lehernya.

“Oppa…” panggilnya.

Ya! Akhirnya! Dia bereaksi.

“Kuenya,” ia berkata, merujuk nampan kue yang kupegang sebelah tangan itu. Pun aku mengamati kue yang seperti tumpukan salju yang dibentuk menjadi seperti sebuah lingkaran pepat itu di tanganku, memperhatikan sekaligus menyembunyikan rasa masygulku karena aksiku dihentikan. Meski Ririn tidak menunjukkan penolakan apa-apa, tetap saja penghentian itu membuatku resah. Maka kuletakkan kue itu di meja konter dapur kembali dan menatapi makanan itu sendiri. Dan kue tart ini saja yang menjadi saksi air muka risauku. Aku tak mau melihat ke arah Ririn.

Tidak mau.

“Oi, Jaejoong!” seru seorang pria, yang suaranya sangat familier.

Aku menengok.

“Hah? Yunho!” seruku kaget.

Aku melihat ke belakangku. “Hah? Dimana Ririn?” aku bertanya panik.

“Ririn? Tidak ada Ririn di sini sejak tadi. Kau mengigau?” tanya Yunho. Alis hitam tegasnya terangkat sebelah.

“Mustahil tidak ada Ririn. Tadi aku dengannya—”

“Ya ampun, Jaejoong. Kau bermimpi selagi membuat kue? Aku sejak tadi di sini memasang pemanggang. Kau lupa?” serbu Yunho.

“A-aku…” aku menggumam pelan lalu berkeluh, “haah… sepertinya aku melamun, Yunho.”

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya yang proporsional itu dan menampilkan wajah bosan, lalu berkata, “Bisa-bisanya melamun saat sedang membuat kue. Sudah, cepat kau selesaikan kuemu itu. Kau tidak bisa berkata apa-apa kalau yang lain sudah tiba. Dan kau akan tanpa daya saat Changmin menyiapkan piring dan garpu, dalam rangka memindahkan kuemu itu ke perutnya.”

“Ah, anak itu,” gerutuku, “apa dia tidak bisa menahan diri sebentar? Semalam kan kita berlima sudah sepakat untuk kejutan ini.”

“Changmin akan lupa,” balas Yunho dengan cengiran. “Dia akan bilang kalau dia lupa perjanjian itu.”

“Tepatnya, dia pura-pura lupa,” timpalku sebal. Aku pun mengangkat nampan kue itu dengan hati-hati dan berjalan. “Aku harus segera menyimpan ini, kalau begitu. Dan menggembok kulkasnya.”

Terdengar tawa Yunho di belakangku sementara aku menuruni tangga keluar dari dapur dengan dengan cermat. Setelah itu, aku melangkah menuju kulkas.

Seringai tak sengaja meruak di bibirku. Mengingat apa yang baru kukhayalkan tadi sekali lagi, aku merasa aneh. Mana mungkin Ririn begitu, pikirku. Gadisku adalah gadis alim tak tersentuh yang pernah ada. Dia tidak mungkin senakal itu menjilat krim dan setenang itu menghadapi keagresifanku. Dia pasti kengerian. Mungkin alam bawah sadarku yang menginginkan dia seperti itu.

Meskipun begitu, aku tahu itu takkan terjadi. Hubungan kami tidak akan jauh-jauh dari berpegangan tangan saja. Dan itu tidak apa-apa.

Aku tak apa-apa.

“Wah, kau buat kue, Hyung?!” tanya seseorang.

Aku melirik, benar saja, si Junsu. Siapa lagi yang bersuara parau bernada tinggi begitu selain dia.

“Asyik!” serunya.

“Tidak ada yang asyik. Kau lupa janji semalam? Ini bukan untukmu,” tekanku sambil melewatinya.

“Jadi itu untuk siapa?” tanya seorang lain yang baru muncul dari pintu dimana kuyakini Junsu juga berasal dari sana. Tapi ini suara perempuan.

Pun menolehlah aku. Aku lantas menemukan seorang gadis tinggi kurus yang kami kenal sebagai pacar Yoochun di sana.

“Sunghyo!” sapaku. “Kau sudah di sini? Kau bersama Yoochun?” aku bertanya sambil melirik seseorang yang berdiri di sampingnya, memastikan kalau itu Yoochun.

Tapi bukan.

Itu bukan Yoochun, bukan si fashionable itu.

Yang ada di samping Sunghyo adalah seorang gadis berwajah dramatis nan melankolis, gadis idolaku—Ririn.

Dia memakai busana seperti yang ada dalam lamunanku, baju terusan putih transparan.

Aku terkesiap, mendapati wajah cantiknya, memperoleh penampilan menawannya. “ Sae-saengil chukae hamnidaa…” mulutku mengeluarkan nyanyian, awalnya dengan kikuk, namun lama kelamaan, dengan lantang. Kupikir tak ada salahnya. Biarkan saja kejutan menjadi begini. Lagipula Ririn sudah menangkap sosok kue ini duluan.

Nyanyian selamat ulang tahun terus kukumandangkan.  Junsu dan Sunghyo bengong.

Dan aku harus memelototi mereka, sambil terus bernyanyi, agar menyamakan aksi denganku.

Karena pelototanku, Junsu dan Sunghyo akhirnya ikut bernyanyi bersamaku. Ririn menoleh pada satu persatu orang di ruangan itu, aku, Junsu dan Sunghyo, dengan bingung.

Ia lalu melihatku yang tersenyum lebar kepadanya. Lalu ia pun ikut tersenyum karena itu.

-Ririn’s PoV-

Jaejoong oppa memberikan kejutan ulang tahun kepadaku, dengan kue tart putih sedang yang mania. Aku senang. Tapi agak merasa ganjil sebenarnya, melihat cara awalnya yang nampaknya kurang persiapan.

Nyanyian selamat ulang tahun selesai dilagukan. Aku melihat Yunho yang juga sudah bergabung di antara kami.

Canggung sejenak.

Aku melirik temanku, Sunghyo, yang mungkin bisa mencairkan semua ini. Tapi dia diam saja.

“Ayo kita potong kuenya, sebelum Changmin datang,” ujar Jaejoong oppa dengan wajah dilicik-licikkan. Matanya dipicingkan. Hidung dan mulutnya dikerucutkan. Hihi, dia lucu sekali saat sedang begitu.

“Berlebihan sekali ekspresi pacarmu, Ririn,” bisik Sunghyo. “Seperti ahjumma-ahjumma jahat di serial TV.”

Aku melihatnya. “Sunghyo-ah, jangan menghina oppa,” ucapku sambil memanyunkan bibir.

Sunghyo tertawa.

“Hei, apa yang kautertawakan?” Jaejoong oppa menanya pada Sunghyo yang mulai cekikikan.

“Tidaak…” jawab Sunghyo takut-takut.

“Sudah, sudah, sudah, sudah, ayo kita makan saja kuenya,” ujar Junsu.

“Itu biasanya kan ucapanku, Junsu,” omel Yunho, “lagipula kau berkata ‘sudah’-nya kebanyakan. Sekali saja cukup.”

“Kan disesuaikan dengan jumlah orang di ruangan ini. Empat,” Junsu beralasan. Wajahnya lugu saat mengatakan itu.

Sunghyo tertawa lagi. Yunho dan Jaejoong oppa ikutan. Aku hanya mengelim senyum.

“Sekalian saja lima kali. Bilang ‘sudah’ dirimu sendiri,” kata Yunho.

“Benar juga, ya,” timpal Junsu.

“Ya ampun, my bro Junsu ‘pintar’ sekali,” ucap Sunghyo.

“Memang aku pintar,” balas Junsu.

“Kalau kau mengucapkan sesuai jumlah orang, bagaimana kalau yang lain sudah tiba nanti? Kau harus mengucapkan banyak sekali,” ujar Yunho.

“Ah, masalah itu–”

“Cukup! Tidak perlu meributkan hal yang tidak penting begitu!” Jaejoong oppa melerai dengan tegas. Aku memandangnya  kagum. “Yang penting sekarang potong kuenya dan kita lihat siapa yang diberikan oleh Ririn potongan pertama,” ucapnya sambil menatapi mataku syahdu.

“Pasti aku,” sahut Sunghyo.

“Ck!” Jaejoong oppa mendecak sambil menatap galak pada Sunghyo.

“Biar kuambilkan piring dan pisaunya,” ujar Yunho sambil bertolak ke dapur.

Junsu ikut-ikutan beranjak.

Jaejoong oppa melihat padaku. Kali ini lebih dalam. Aku terpesona, pada mata teduhnya, pada wajah bening memikatnya.

“Ah, aku mau membereskan sandal dulu,” ujar Sunghyo dengan nada aneh. Dan alasan ia melangkah pergi juga aneh. Mungkin dia gugup, sepertiku.

“Hihi,” aku terkikik pelan, “buat apa membereskan sandal?” tanyaku untuk menghilangkan kegugupan.

Jaejoong oppa melangkah mendekat, menegaskan keberadaannya di depan penglihatanku. Kue tart itu menjadi satu-satunya penghalang di antara kami.

“Boleh aku memberikan hadiahku sekarang?” tanya Jaejoong oppa.

Hadiah apa? Aku bertanya dalam hati. Apa kue ini? Bisa jadi. Jaejoong oppa kan jago masak. Tidak heran ia bisa membuatnya. Hanya saja, aku senang sekali kalau dia yang biasanya jarang membuat kue, sekarang membuatkan satu untukku. Aku harus menerimanya, tida sopan kalau menolak hadiah. Lagipula ini dari Jaejoong oppa.

“Bagaimana, chagi?” tanyanya.

“Ya, oppa,” jawabku, “boleh.”

-Jaejoong PoV-

Nah, dia memperbolehkanku.

Dan sekarang masalah muncul. Ya. Aku tidak tahu hadiahnya apa. Kalau hadiahnya kubilang kue ini, tidak akan spesial. Semua sudah tahu. Semua sudah melihat.  Aku ingin hadiahku hanya diketahui kami berdua. Lantas apa?

“Oppa?” Ririn memanggilku.

Kulihat lagi dia. Nampaknya menunggu. Duh, aku harus berpikir cepat.

“Adakah yang mengganggu pikiran–”

“Ikut aku,” aku berimprovisasi.

“Kemana?” tanya Ririn.

Aku mencoba meletakkan kue tart itu di meja ruang tamu, melintasi Ririn di hadapanku.

“Kami dataaaaaaang…!!!” teriak seorang perempuan dari pintu masuk, mengagetkanku.

“Aduh, oppa…” keluh Ririn.

“Kenapa?” tanyaku sembari memerhatikan Ririn. Rupanya kue tart buatanku sebagian menempel di bajunya. Ini dikarenakan aku yang terkejut atas teriakan cempreng perempuan yang baru datang itu. “Aduh, mian, chagi,” pintaku sembari mencoba mengelapi krim kue di bagian dada Ririn dengan tangan. Kurasakan ia menggeliat geli karena sentuhanku di dadanya. Namun dia diam saja, membiarkan tanganku membersihkan noda krim tersebut di bajunya, tepatnya di baju bagian dadanya.

“Wah, kalian sedang ap–”

Aku menoleh pada suara cempreng yang membuat ini kejadian itu. Itu adalah Minmi, gadis yang sedang mendekati Junsu. Kutemukan Sunghyo tengah berdiri di sampingnya, membekap mulutnya.

“Abaikan si Minmi,” ujar Sunghyo, “kalian teruskan saja. Kami mau membereskan sandal lagi. Bye.” Sunghyo setengah menyeret Minmi yang mungil itu keluar.

“Annyong,” sahut Minmi sembari melambaikan tangan dalam keadaan mulut terbekap dan jalan terseret.

Setelah Sunghyo dan Minmi, yang merupakan teman Ririn juga itu, pergi, aku beralih ke Ririn lagi. “Ayo kita pergi. Di sini tidak aman,” ajakku.

“Tidak ada siapa-siapa di sini,” sahut Ririn.

“Sekarang, ya,” timpalku, “tapi sebentar lagi akan berdatangan. Tadi buktinya, Minmi tiba-tiba muncul. Belum lagi nanti Yunho dan Junsu kembali dari dapur.”

“Oh iya,” ujar Ririn, “mereka mengambil piring bukan? Kenapa lama, ya, oppa?”

Sebenarnya aku sudah berfirasat mereka pasti tidak kembali karena arahan Yunho. Yunho pasti menghargai privasi. Dia memang teman yang bisa diandalkan.

Aku melihat Ririn lagi. “Ayolah, chagi. Kau mau kuberikan hadiah dariku bukan?” tanyaku.

“Ah, baiklah, oppa,” balasnya.

Aku lantas nyengir lalu menggaet tangannya. Sambil menarik tangan lembutnya untuk berjalan dari tempat itu, aku menaruh kue yang agak rusak itu di meja tamu kemudian membawanya pergi ke ruang kreatif DBSK yang sempit namun berprivasi.

-Ririn’s PoV-

Kami berdua tiba di ruang kreatif DBSK di dorm mereka. Kata Jaejoong oppa, mereka sering menjadikan ruangan itu untuk merenung, mencari inspirasi untuk menciptakan lagu.

Aku melangkah lebih dalam, memasuki ruangan kecil dan dipenuhi instrumen musik dan kertas-kertas yang penuh coretan huruf dan not balik.

Bunyi pintu terkunci tertangkap telingaku. Aku menengok.

“Mengapa pintunya dikunci, oppa?” tanyaku.

“Supaya tidak ada yang mengganggu,” jawabnya.

Jaejoong oppa mendekatiku. Aku, secara refleks, memundurkan diri.

“Jangan takut, chagi, aku tidak akan melakukan apa-apa,” ucap Jaejoong oppa, “aku tahu kau kau mudah merasa geli dan merinding setiap disentuh.”

Aku menyeringai. Kuusahakan semanis mungkin. Aku merasa tidak enak mendengar perkataannya barusan, soalnya.

“Aku menciptakan lagu untukmu,” ucap Jaejoong oppa sambil mengambil gitar yang tergantung di belakangku.

Kami menjadi begitu dekat karena itu. Satu tangan Jaejoong oppa berada di samping wajahku. Dan wajah kami jadi berdekatan. Aku bahkan bisa merasakan napasnya. “Oppa…” mulutku tak sengaja memanggilnya.

Dan, nampaknya tindakan tak sengajaku memanggilnya salah. Jaejoong oppa malah bertindak lebih. Ia tidak jadi mengambil gitarnya. Ia malah mengerahkan kedua lengannya untuk mengungkungku. Dan, ah, dia mencium bibirku.

-Jaejoong’s PoV-

Aku menciumnya.

Aku tidak tahan lagi. Menemukan bibir merah merekahnya sebegitu dekat, aku tidak dapat tahan untuk tidak menciumnya.

Maka, aku menciumnya.

Dan dia diam saja, pasrah. Aku merasa dia sedikit bergidik. Tapi dia tidak menolak. Jadi, kuteruskan saja ciumanku. Perlahan tapi pasti.

Selang waktu berkelebatan cepat bagiku. Dan kini ciuman panjang kami berkembang menjadi lebih panas. Ririn sudah menyambut ciumanku. Aku jelas makin bertindak. Kukerahkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Dia mengerang. Kukira dia mulai menyukainya.

Tanganku tidak bisa kutahan lebih lama lagi untuk diam. Aku mulai mengedarkan kedua tanganku itu untuk memasuki busana anggunnya, merabai tubuhnya–terutama bagian sensitif. Aku merasai dia menggeliat dan merinding. Jelas sekali, ia belum pernah mengalami ini sebelumnya.

Akan tetapi, Ririn tidak mengadakan perlawanan. Dia tidak menghentikan aku. Jadi, kupikir, tidak ada salahnya untuk melanjutkan ini.

Kutarik risleting belakang baju putih transparan, kecuali bagian dada, miliknya itu. Kini punggungnya terbuka. Aku masih mencium bibirnya lembut sambil mengelus punggungnya. Dia mendesah berkat itu.

Pun aku membuka kaitan bra-nya sekarang. Dan segera berlanjut ke pelepasan baju terusannya. Kini dia hanya memakai bra yang kaitannya terlepas dan celana dalam. Takut dia akan mencoba menghentikan gelora di antara kami, aku pun mengunci tubuhnya–mengintenskan ciumanku.

Dia kegelian. Dan aku mulai tidak dapat berpikir benar lagi. Kurasa ini saatnya aku yang melucuti pakaianku sendiri. Tidak mungkin dia yang melucutinya bukan?

Kulepas kuncian–pelukanku terhadap tubuhnya, tapi tidak dengan ciuman. Kami tetap berciuman selama aku membuat kami berdua tanpa busana.

Dan dalam sekejap saja, tubuh kami sudah dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Meski agak sulit, karena celanaku agak menyangkut di telapak kaki tadi, tapi sekarang sudah bisa teratasi.

Aku sebenarnya ingin menarik napas, melepaskan ciuman panjang kami sejenak. Akan tetapi, nanti mungkin bisa fatal. Dia mungkin akan merasa kaget, atau lebih parah dari itu, melihat tubuhnya dan tubuhku yang tidak berpakaian. Maka dari itu, aku pun bersegera.

Aku mulai menempelkan diri kepadanya, merangsangnya lebih. Dengan pelukan, aku mulai menekan milikku masuk ke dalamnya. Pelan-pelan. Berangsur-angsur. Penuh kesabaran. Hingga akhirnya masuk.

Pekikan Ririn terkunci dalam ciumanku.

Dan aku berhenti, memberi kesempatan baginya untuk menguasai diri. Hingga rasanya, waktunya sudah cukup, aku memulainya lagi, mulai memaju-mundurkan tubuhku terhadapnya.

Dia mengerang, merintih, mendesah, di dalam ciuman kami. Dan aku terus merangkulnya, bersikap seolah tidak akan melepasnya.

Hingga kemudian, kami sampai di momen itu. Dia agak menggelinjang sambil memegang bahuku kala itu.

Aku melepaskan ciumanku, tersenyum kepadanya.

“Oppa,” dia memanggilku. Matanya agak sembap.

“Terima kasih, chagi,” ucapku. Aku melihat dia juga tersenyum. Aku tahu dia takut, geli, atau bahkan lebih dari itu, tapi dia menahannya. Dia pasrah. Dan aku sangat mengenal sifatnya itu dia bertahan dan pasrah demi aku. Aku sungguh bangga padanya. Aku yakin gadis-gadis lain, tidak sepertinya. Keempat rekanku akan iri.

“Terima kasih sudah mempercayakannya kepadaku, chagi,” ujarku lagi.

Ririn tersenyum.

-Ririn’s PoV-

Aku telah melakukannya dengan Jaejoong oppa. Namun, entah mengapa, ketakutanku akan hal ini berangsur menghilang. Aku orang yang mudah geli terhadap sentuhan dan merinding atas hal yang janggal serta tak pernah kulihat sebelumnya. Namun, entah mengapa, aku mulai tidak merasakan hal itu lagi.

Mungkin karena aku jatuh cinta pada Jaejoong oppa. Dia cinta pertama dalam kehidupanku. Dia pun orang yang selama ini memenuhi kebutuhanku. Dan dia manis sekali.

Aku tersenyum.

Dan kupikir tak ada salahnya mencium dia lagi sekarang.

THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 11/06/2013, in DBSK, OS and tagged . Bookmark the permalink. 44 Comments.

  1. First kahh??

    ini couple so sweet banget yaampun ><
    alurnya enak, agak cepet sih tapi good kok..
    kocak ada komedinya, romantis so pasti, nc nya kurang hot *yadong kumat* tapi ketutuplah sama manisnya mereka berdua(?)

    overall bagus thor! keep writing 😀

  2. chonuen sarina

    terlalu cepet,kurang lama tuh ……
    tp seru unnie…

  3. komedi nya dapet NC nya dapet banget 😀
    meskipun yadong nya kurang Hot :p

  4. Hahaha yg kejadian beresin sendal lucu bgt
    pengen tw member yg laen lg pada ngapaen yah hehehe

  5. Thor ini perna di shere di blok lain ya..
    Tapi beda ini ceritanya..
    Yg di blok lain ceritany lebih mentingin ncnya dari alur ceritany…
    Cerita ini bagus kok..

    • iya, ini emang pernah dipos di blog lain, chingu 😀
      tapi ini gak ada yang diubah sama sekali kok, masih sama kayak yang sebelumnya.
      hehe.
      gomawoyo~ >,<

  6. ini mngkin bkan NC 21…
    lbih tpatnya NC 17..n
    wkwkwkwk..
    da typo sich…
    dan ada kta”yg slah pnmptannya….
    tpi bgusss,,,krang pnjang mnrutku..

    • iyaaa… mian. lain kali kita lebih hati-hati nentuin kategori nc nyaaa ^^
      gomawo atas komennya, chingu >.<

  7. aku pernah baca FF ini di blog lain.
    tapi lupa authornya siapa wkwk. sama mungkin ya 😀

  8. Tinggalin jejak….
    Q sneng bnget… jadi suka sma opa jae….muachhh

  9. Kyaa kereen thor,,

  10. Firly Kpopers

    eh daebak min
    saya suka couple ini
    walau alurny agk cpet dkit xD

  11. bagus thor. so sweet . cuma bagian itu ny rada kurang hot. hehe.

  12. bgus critanya
    untuk gak hot bgt aku gak bisa bayangin jj gituan
    buat author2nya please bgt jgn buat ff yadong yg pkai nama jj yaw
    aku tkut ilfill soalnya aku tu ngefans brat sma jj pkai nama tokoh lain aja
    selain jj pokoknya
    thankz

  13. jj oppa kamu selingkuh *upss
    wkwk daebak deh author walaupun kurang greget

  14. oenni yadongnya kurang hot,tapi keren kok.
    alurnya agak kecepetan ya??,tapi tetep kece abis.
    jeogmal daebak oenni ^^
    jangan lupa sequelnya oenni ^^

  15. humor’e dpet nc’e jga dpet tp krang hot n detail hehe..

  16. Jaejong masa ngasih kado k ririn ‘bgituan’ sih , biar ririn inget trus x ? ,

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: