Innocent Man (Part 3 End)

yadong 2pm
Author : utamiasti

Title : Innocent Man (Part 2)

Type : Yadong, NC 17, Chapter

Cast :
– 2PM Junho

– Shin Harin

– SNSD Hyoyeon

– 2PM Wooyoung

“Ugh..” aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang menyilaukan mataku. Aku membuka mataku, dan mengerjap-ngerjap perlahan. Aku memperhatikan sekelilingku. Aku berada di kamarku. Bagaimana bisa? Bukankah semalam aku ada di bar? Siapa yang membawaku pulang? Ah, mungkin saja Wooyoung. Aku bangun dari tempat tidur. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat tubuhku hanya tertutup oleh selimut, tanpa sehelai benangpun. Apa yang telah terjadi semalam? Aku langsung meraih ponselku dan menelpon Wooyoung.

“Yeobeoseyo..” terdengar suara berat Wooyoung di seberang sana. Kurasa dia juga baru bangun tidur.

“Yeoboseyo, Wooyoung-ah. Apa kau yang membawaku pulang semalam dari bar?” tanyaku.

“Ehm.. Apa? Tidak. Bukankah semalam Harin yang membawamu pulang? Dia semalam meneleponku, menanyakan alamat rumahmu. Katanya semalam kau mabuk berat. Benarkah itu?” Harin? Dia yang membawaku pulang?

“Iya. Sepertinya aku mabuk berat semalam. Gomawo Wooyoung-ah” aku menutup telepon. Aku berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Aku melihat spreiku yang berantakan. Dan juga ada bercak merah seperti darah yang mengering disana. Astaga apa yang kulakukan! Ya, aku ingat sekarang. Aku ingat aku melumat bibir Harin dengan ganas. Membuat kissmark di lehernya. Aku ingat aku membuka kemeja Harin, meremas ehmm, payudaranya. Semalam aku juga ingat aku menampar pipi Harin keras, sehingga membuatnya menangis. Aku.. aku ‘melakukannya’ dengan Harin. Aku.. memperkosanya. Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Bagaimana bisa aku melakukannya?

Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan mencari Harin. Tempat yang kutuju pertama kali adalah kamar mandi. Namun dia tidak ada disana. Lalu, aku berlari keluar dan mencarinya ke ruang tengah. Namun Harin juga tidak ada disana. Aku mengelilingi seisi rumahku, namun aku tidak bisa menemukan Harin dimanapun.

Aku meraih ponselku kembali. Dengan tangan gemetar aku mencari contact name Harin. Tuut…tuut… Harin tidak mengangkat teleponnya. Apakah terjadi sesuatu dengannya? Arrgghh aku mengacak-acak rambutku. Pikiranku menjadi sangat kacau sekarang. Aku melampiaskan semua kecewaanku terhadap Hyoyeon kepada Harin. Bodohnya kau Lee Junho!

***

Aku mengajak Wooyoung untuk bertemu. Aku menceritakan kejadian malam itu padanya.

“Mwo??!! Kau melakukannya dengan Harin??? Bagaimana bisa Junho-ya??” ucap Wooyoung. Ekspresi wajahnya bercampur antara kaget, marah, dan tidak percaya.

“Aku juga tidak tahu Wooyoung-ah. Tubuhku tidak sepenuhnya dalam kendaliku malam itu. Aku mabuk berat. Kurasa aku melakukannya tanpa sadar” ucapku dengan tangan yang gemetar.

“Huh, aku tidak percaya. Hanya gara-gara kau dikecewakan oleh Hyoyeon, kau berubah menjadi namja brengsek seperti itu, Lee Junho. Kaja, kau ikut denganku sekarang” Wooyoung menarikku keluar dari kafe, dan membawaku ke sebuah lapangan kosong. Dia melepaskan tanganku kasar. Tak lama kemudian… BUGH! Wooyoung memberikan bogem mentah kepadaku. Seketika aku langsung jatuh tersungkur ke tanah. Aku merasakan sudut bibirku berdarah.

“Kau tahu, Harin itu teman kita Junho-ya! Teganya kau melakukan itu padanya!” ucap Wooyoung, “Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?? Kalau dia syok lalu trauma bagaimana Lee Junho?!” BUGH! Wooyoung memukulku lagi. Aku diam saja, tidak membalasnya. Aku memang pantas mendapatkannya.

“Aku memang bodoh, Wooyoung-ah. Hanya karena malam itu perasaanku sedang campur aduk, aku sampai melakukannya pada Harin. Terlebih lagi, aku sangat kasar padanya malam itu. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau bertemu dengannya nanti” ucapku memandang kosong ke tanah. Wooyoung menarik napas dalam, berusaha meredam emosi, dan menenangkan dirinya.

“Apa kau sudah menghubunginya?” tanya Wooyoung.

“Sudah. Namun dia tidak mengangkat ponselnya. Dia pasti sangat membenciku” jawabku.

“Sudah coba ke rumahnya?”

“Belum. Aku tidak tahu dimana rumahnya”

“Aku juga tidak tahu sih. Yasudah, nanti akan kucari alamat rumahnya. Kau harus secepatnya minta maaf pada Harin” ucap Wooyoung sambil menepuk bahuku.

“Gomawo, Wooyoung-ah” Wooyoung mengangguk, lalu membantuku berdiri.

***

Sudah dua minggu ini Harin tidak masuk kerja. Itulah yang membuatku semakin tidak karuan akhir-akhir ini. Aku juga belum sempat untuk datang ke rumah Harin, karena pekerjaan yang menumpuk. Akhirnya, kuputuskan untuk mengambil cuti sehari. Dan juga, baru tadi pagi Wooyoung memberiku alamat rumah Harin. Jadi, kuputuskan hari ini untuk ke rumah Harin.

Aku sampai di sebuah rumah yang sepertinya rumah Harin. Rumah tipe minimalis, namun tetap terkesan elegan dan mewah. Aku memencet bel. Ada seseorang yang berbicara di interkom.

“Nuguseyo?” tanya seseorang itu.

“Aku Lee Junho. Apakah benar ini rumah Shin Harin?” ucapku.

“Benar ini rumah Shin Harin. Apakah kau temannya?” tanya seseorang itu lagi. Aku menganggukkan kepalaku ke arah kamera di samping interkom. Tak lama kemudian, pintu pagar terbuka otomatis. Aku langsung masuk, dan di dalam aku disambut oleh seorang yeoja yang umurnya sekitar 29 tahunan.

“Annyeonghaseyo..” aku membungkukkan badan. Yeoja itu juga balas membungkukkan badan.

“Perkenalkan, aku Min-Ah, Shin Min-Ah. Aku kakaknya Harin. Tadi kau bilang namamu Lee Junho?” tanyanya.

“Ne, nuna. Aku Lee Junho, teman kerja Harin. Apakah Harin ada di rumah? Soalnya, sudah dua minggu ini dia tidak masuk kerja. Dan juga, aku tidak bisa menghubunginya. Jadi, aku datang kesini” ucapku. Ekspresi wajah Min-Ah nuna berubah seketika.

“Harin baru saja berangkat ke Busan pagi ini. Dia bilang dia ingin tinggal di Busan bersama ibunya” ucapnya.

“Bersama ibunya?” aku mengernyitkan alisku. Bukankah ini rumahnya? Dan juga Min-Ah nuna kan kakanya.

“Ah, ya aku lupa. Aku dan Harin adalah saudara tiri. Ibunya Harin dan ayahku sudah bercerai empat tahun yang lalu, dan ibunya Harin tinggal di Busan” ucapnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk saja. Selama ini, aku tidak pernah tahu seluk-beluk keluarga Harin.

“Tadi kau bilang kau adalah teman kerja Harin, kan? Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Min-Ah nuna. Tidak tahu kenapa, tubuhku seketika menegang. Aku gugup dengan apa yang akan ditanyakan Min-Ah nuna padaku.

“Ya, silahkan saja nuna” jawabku dengan suara yang sedikit bergetar.

“Harin itu sangat tertutup pada kami. Kalau di rumah, dia tidak banyak bicara. Dia hanya bicara kalau ditanya. Selebihnya, dia hanya menghabiskan waktu di kamarnya. Dia juga tidak pernah menceritakan masalah yang sedang dialaminya padaku. Dan juga, akhir-akhir ini Harin sangat aneh.” Aku tidak siap mendengar kata-kata Min-Ah nuna selanjutnya.

“Sekitar dua minggu yang lalu, dia tidak biasanya pulang pagi. Kami semua sangat khawatir. Ketika ditanya, dia bilang dia menginap di rumahnya. Aku melihat ada yang aneh di wajahnya. Matanya bengkak seperti habis menangis. Pipinya juga bengkak. Ketika kutanya, dia bilang dia hanya kurang tidur. Dan beberapa hari kemudian, dia mengurung diri di kamarnya. Dan tadi malam, dia minta izin pada kami semua untuk pindah ke Busan. Apakah kau tahu apa yang terjadi padanya?” aku terhenyak mendengar perkataan Min-Ah nuna. Itu adalah hari dimana aku memperkosa Harin. Dan mungkin juga, pipi bengkaknya disebabkan oleh tamparanku waktu itu. Aku bingung harus menjawab apa. Min-Ah nuna meneliti wajahku, karena aku terlihat sangat gugup. Susah payah aku menelan ludah.

“A..aku tidak tahu nuna. Aku sedang bersama temanku malam itu.” Jawabku berbohong. Aku bisa melihat ekspresi kecewa dari wajah Min-Ah nuna. Mianhae nuna, aku tidak tahu harus bilang apa. Kalau aku bilang aku memperkosa Harin, kau pasti akan membawaku ke kantor polisi saat ini juga.

“Oh, ya, tadi aku menemukan ini di kamarnya…” sebuah buku harian. Terdapat tulisan ‘Kkomangie’ di sampulnya. Harin menamai buku harian itu Kkomangie.

“Karena dia tidak pernah bercerita pada kami, jadi aku masuk ke kamarnya, dan aku menemukan buku harian ini. Dan ada namamu di buku harian ini” aku terkejut saat Min-Ah nuna bilang ada namaku di buku harian ini.

“Sepertinya Harin menyukaimu, Junho-ssi. Aku belum sempat membaca semuanya, karena tadi kau datang. Tapi, sebaiknya aku menyerahkan buku ini padamu. Ini!” ucap Min-Ah nuna sambil menyerahkan buku harian itu padaku. Aku semakin terkejut saat tadi Min-Ah nuna bilang Harin menyukaiku. Apa benar Harin menyukaiku? Kalau benar, berarti aku sudah sangat menyakitinya. Aku semakin merasa bersalah pada Harin.

Setelah menerima buku harian milik Harin, aku pun pamit pulang pada Min-Ah nuna. Tidak lupa, aku meminta alamat rumah Harin di Busan. Ya, aku akan pergi ke Busan untuk menemuinya.

Aku meletakkan buku harian itu di dasbor mobil, dan berencana membaca nanti di rumah. Aku semakin stres dengan semua ini. Semuanya bertambah menjadi rumit. Lalu, aku memutuskan untuk menyalakan radio di mobil. Mengalun lagu Blink 182 – I Miss You.

Where are you and I’m so sorry

I cannot sleep I cannot dream tonight

I need somebody and always

This sick strange darkness

Comes creeping on so haunting every time

And as I stared I counted

Webs from all the spiders

Catching things and eating their insides

Like indecision to call you

and hear your voice of treason

Will you come home and stop this pain tonight

Stop this pain tonight

Where are you, Shin Harin? I’m really sorry I’ve hurt you…..

***

Aku baru saja mendapat telepon dari Manajer Park. Dia memberitahu bahwa tadi siang Harin menyerahkan surat pengunduran dirinya. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Harin benar-benar menghindariku. Dia sangat membenciku. Atau.. terjadi sesuatu padanya?

Aku mengambil buku harian Harin, dan memulai membacanya. Mungkin ini alasannya dia tidak pernah bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya kepada Min-Ah nuna. Dia menceritakan semuanya disini, kepada Kkomangie, nama buku harian ini. Aku membaca lembar demi lembar, dan aku berhenti pada satu lembar yang ada namaku di dalamnya.

2005-07-13

Kkomangie!!! Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Aku senang sekali aku bisa diterima di salah satu SMA favorit di Seoul. Kau tahu? Di sekolah itu juga ada namja yang menarik hatiku. Namanya Lee Junho. Dia cukup ramah. You know what the other good news??? Aku sekelas dengannya!! 😀

2007-05-13

Kkomangie!! Hari ini adalah hari kelulusanku. Aku mendapat peringkat dua satu angkatan. Tapi aku tidak sedih, karena peringkat satunya Lee Junho!! hehe ^^. Aku memberikan selamat padanya, tapi aku malah mendapatkan berita mengejutkan darinya. Junho akan melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya ke Jerman L. Dia bilang ayahnya dipindah tugaskan kesana. Lalu, dia bilang juga ini sebagai solusi untuk melupakan Hyoyeon. Ne, Kkomangie, Junho sangat menyukai Hyoyeon, yeoja terpopuler di sekolahku. Namun, Junho ditolak oleh Hyoyeon saat menyatakan cintanya. Aku sangat sedih Kkomangie. Ini artinya, aku akan semakin jauh darinya L

Aku mengerti kenapa wajah Harin sangat sedih waktu itu. Min-Ah nuna benar. Harin menyukaiku. Aku membaca ceritanya yang lain.

2007-05-14

Kkomangie… rasanya aku ingin menangis saat mengantar Junho saat di bandara tadi 😥 Junho sempat memelukku sebelum berangkat tadi. Rasanya aku tidak ingin melepasnya. Help me, Kkomangie…. L

Sepertinya, dari lembar ini sampai seterusnya semuanya tentangku.

2011-02-11

Kkomangie!!! Tadi aku datang ke acara reuni, daaaaaannnn tebak aku bertemu siapaaa??? Lee Junho!!! iyaaa!!! Junho!!!! Dia sudah kembali ke Seoul. Betapa gembiranya aku. Oh, iya, dia juga sangat tampan sekarang. Tapi, Kkomangie, ternyata dia masih menyukai Hyoyeon. Dan tadi juga mereka mengobrol bersama. Apa Hyoyeon menyukai Junho, ya, Kkomangie? L

2011-05-08

Annyeong Kkomangie…. kau tahu? Junho bekerja di kantor yang sama denganku. Awalnya aku sangat senang. Tapi, ketika pemotretan, dan modelnya itu Hyoyeon, Junho memberitahuku bahwa dia dan Hyoyeon sudah berpacaran. Aku hanya mengucapkan “Chukkae!”, tapi hatiku sangat sakit ketika mengucapkan itu L

 

 

2011-06-24

Kkomangie… apa kau baik-baik saja? Karena, hari ini aku tidak baik. Tadi malam, aku mendapat telepon dari seorang bartender. Dia bilang, ada Junho di bar tempat dia bekerja, dan sangat mabuk berat. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berangkat ke bar itu. Benar saja, ada Junho disana sedang akan menuang wiski ke gelasnya. Dengan sigap aku langsung menahan botolnya. Junho marah ketika aku melakukan itu.

Lalu aku bilang begini padanya, “Cukup Junho-ya. Kau sudah sangat mabuk. Kau harus pulang. Tolong jangan seperti ini” kemudian, Junho bilang seperti ini, “Jangan ikut campur Harin-ah. Ini bukan urusanmu” Lalu aku bilang begini, “Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi kau adalah teman sekaligus partner kerjaku. Kalau kau begini, pekerjaanmu akan menjadi terbengkalai. Siapa yang rugi? Tentu saja aku” aku sangat sakit ketika mendengar perkataan Junho selanjutnya.

Dia bilang begini, “Kalau begitu, setelah ini aku akan membuat surat pengunduran diri dan keluar dari perusahaan” ini semua karena Hyoyeon, Kkomangie. Hyoyeon tega membuat orang yang kucintai sampai seperti ini. Lagipula, kenapa Junho hanya terfokus pada Hyoyeon? Padahal, ada aku yang tulus mencintainya.

Kemudian, aku membawa Junho pulang ke rumahnya. Ketika aku melepaskan jaket dan juga sepatunya, tiba-tiba dia menciumku. Aku sangat terkejut. Aku berusaha melepaskan diri, tapi Junho terlalu kuat. Karena aku selalu berontak, Junho akhirnya marah, dan menampar pipiku keras. Aku menangis. Sakitnya bukan di pipiku, tapi di hatiku. Aku tidak menyangka Junho melakukan ini padaku. Junho melampiaskan amarahnya padaku. Ya, Kkomangie, tadi malam aku tidur dengan Junho. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Kkomangie. Aku terlalu mencintai Lee Junho…..

Lalu, setelah itu tidak ada tulisannya lagi. Selama ini, aku selalu menyakiti Harin. Aku sangat sakit membaca cerita Harin yang terakhir. Betapa teganya aku melakukan itu pada Harin. Aku tidak peka terhadap Harin. Benar, aku hanya terfokus pada Hyoyeon, sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang tulus mencintaiku apa adanya. Mianhae, Harin-ah, naega jal mothaesseo…

***

Hari ini aku memutuskan pergi ke Busan untuk menemui Harin. Pagi-pagi sekali aku berangkat dari Seoul, menggunakan kereta. Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya aku sampai juga di Busan. Ini sudah malam. Untunglah, tidak sulit mencari rumah Harin. Sekarang, aku berdiri di depan sebuah rumah. Aku mencocokkan alamat yang tertera di kotak pos, dengan alamat di kertas yang kupegang. Benar, ini rumah Harin. Mendadak aku menjadi gugup. Aku bingung harus mengatakan apa ketika bertemu Harin nanti. Pagarnya tidak tertutup rapat, jadi aku bisa melihat ke dalam dari luar. Ketika aku akan masuk, tiba-tiba aku mendengar suara orang berteriak.

“Mwo??!! Kau hamil??” teriak orang itu. Hamil? Siapa yang hamil? Apa Harin yang hamil?

“Mianhae, Eomma, naega jal mothaesseo!” suara itu tidak asing lagi. Itu suara Harin! Mwo?? Harin hamil?? Aku langsung mendekati pagar dan mengintip ke dalam. Aku melihat Harin sedang terduduk di lantai menangis tersedu-sedu.

“Shin Harin! Eomma menyuruhmu tinggal di Seoul bersama ayahmu agar kau sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Tapi apa ini?? Kau kembali kesini dalam keadaan hamil! Kau ingin mempermalukan Eomma, hah??” PLAAKK.. wanita itu, yang tidak lain adalah ibunya Harin menampar Harin keras. Aku bisa melihat pipi Harin memerah karenanya. Sungguh, aku tidak tega melihat Harin seperti itu.

“Mengapa kau begitu bodoh, Shin Harin?? Kau jangan sampai seperti Eomma, Harin-ah!” Ibunya Harin langsung terduduk lemas di lantai, dan akhirnya menangis juga. Ia menangis sekeras-kerasnya. Aku bisa memahami perasaan ibunya Harin. Ibu mana yang tidak kecewa ketika mengetahui anak perempuannya hamil di luar nikah?

“Siapa yang akan bertanggung jawab atas kehamilanmu?? Siapa??” tanya ibu Harin. Harin tidak menjawab. Dia hanya diam saja sambil menangis.

“Aku yang akan bertanggung jawab. Akulah namja yang telah menghamili Harin!” ucapku akhirnya. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini, dan masuk ke dalam. Harin dan ibunya tampak terkejut dengan kehadiranku.

“Kau.. mengapa kau tega melakukannya?? Mengapa kau menghamilinya, saekki ya!!!!” tanya ibu Harin sambil menarik kerah kemejaku.

“Aku sangat mabuk malam itu. Aku tidak sengaja melakukannya. Tapi, aku janji, aku akan menikahi Harin” jawabku.

“Tidak, Eomma! Dia berbohong! Bukan dia yang tidak sengaja melakukannya, tapi akulah yang meggodanya, dan memintanya untuk meniduriku” aku terkejut dengan pernyataan Harin. Aku membelalakkan mataku padanya. Apa yang dia bicarakan??

“Mwo??? Kau sekarang berubah menjadi wanita jalang, Shin Harin??” Plaakk…. ibunya Harin kembali menamparnya. Harin terjatuh kembali ke tanah.

“Ya, Shin Harin! Apa yang kau bicarakan? Mengapa kau mengatakan itu??” namun, Harin tidak memedulikan pertanyaanku. Dia lalu meminta izin pada ibunya untuk berbicara padaku sebentar. Aku juga ingin bicara padanya, meminta penjelasan atas ucapannya tadi. Harin membawaku ke pinggir laut.

“Kau bicara apa, Harin-ah?? Mengapa kau berbicara seperti itu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi lagi.

“Kau tidak perlu menikahiku. Aku akan membebaskanmu dari tanggung jawab. Aku akan merawat anak ini sendiri. Tenang saja, aku akan tetap bilang bahwa kau ayahnya, ketika dia sudah besar nanti” dia tidak menatapku, melainkan menatap lurus ke arah laut. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Harin. Mengapa dia tidak ingin aku menikahinya?

“Apa maksudmu?? Mengapa kau tidak ingin aku menikahimu? Kau adalah ibu dari anakku!” ucapku dengan nada yang sedikit tinggi. Harin menghela napas sebentar. Sepertinya dia sedang menahan agar air matanya tidak jatuh.

“Menikah tidak semudah itu, Junho-ya. Dalam suatu pernikahan itu dibutuhkan cinta. Aku memang ibu dari anakmu, tapi aku bukanlah yeoja yang kau cintai. Jadi, kupikir, kalau kita menikah, itu akan sia-sia saja” Harin memalingkan wajahnya. Dia menyembunyikan air matanya yang telah jatuh dariku. Aku sangat sakit mendengar kata-kata Harin. Aku langsung teringat kata-kata di buku hariannya.

“Aku tahu kau mencintaiku” kemudian aku mengeluarkan ‘Kkomangie’ dari dalam tasku.

“Kkomangie!!” pekik Harin dengan mata terbelalak.

“Aku sudah membaca semuanya. Mengapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mencintaimu?” Harin menatapku. Aku bisa melihat matanya yang merah dan bengkak. Tanganku perlahan tergerak untuk menghapus air mata di pipinya. Namun, dengan cepat dia menepis tanganku.

“Jangan sentuh aku! Dan, kau sebaiknya pulang. Tidak ada gunanya kau disini!” Harin mengambil ‘Kkomangie’ yang ada di tanganku, dan langsung berbalik meninggalkanku. Aku langsung berlari mengejarnya. Harin juga berlari. Dia kembali ke rumahnya. Dengan cepat aku masuk ke rumahnya sebelum Harin menutup pagarnya.

“Kubilang tadi kau pulang saja! Untuk apa mengikutiku?” ucap Harin kesal.

“Aku tidak akan pulang sampai kau bersedia untuk menikah denganku!” ucapku tidak mau kalah.

“Yasudah, kau tidur saja di luar. Kamar hanya cukup untuk aku dan ibuku!” ucap Harin lagi sambil masuk ke dalam.

“Geurae! Aku akan tidur di luar sampai kau bersedia untuk menikah denganku, Shin Harin!”

“Kau gila!”

“Ya, aku gila! Aku gila karenamu, Shin Harin!” ucapku sambil berteriak karena Harin sudah masuk ke dalam. Aku lalu duduk di terasnya. Kemudian, aku melepaskan jaketku, dan menjadikannya sebagai alas tidurku nanti. Harin tega sekali membiarkanku tidur di luar. Udara malam di Busan kan dingin sekali.

***

          “Hoooeeeekkkk…..” aku terbangun oleh suara keras seperti orang sedang muntah dari dalam. Muntah? Apa jangan-jangan itu Harin yang muntah? She got a morning sick! Aku pun langsung menggeser membuka pintu, dan berlari ke arah sumber suara, yaitu di kamar mandi. Aku melihat Harin sedang muntah di wastafel. Segera aku masuk dan memijat tengkuknya lembut. Akan tetapi, Harin menepis tanganku dengan bahunya.

“Apa yang kau lakukan? Kubilang jangan menyentuhku!” ucap Harin sehabis membersihkan mulutnya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan cepat aku menahannya, dan menutup pintu kamar mandi, lalu berdiri menghalanginya.

“Ma…mau a..apa k..kau Lee Junho?” tanya Harin gugup. Sepertinya Harin trauma dengan kejadian waktu itu. Benar dugaan Wooyoung. Aku tidak menjawab, tetapi berlutut di hadapannya.

“Mianhae, Harin-ah. Naega jal mothaesseo. Tubuhku tidak sepenuhnya dalam kendaliku malam itu. Dan juga, aku minta maaf karena malam itu aku sangat kasar padamu. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukannya” aku menatap Harin. Perlahan, aku melihat air mata membasahi pipinya. Harin tidak mengucap sepatah katapun, dan berjalan melewatiku keluar dari kamar mandi. Aku mengejarnya sampai keluar. Namun, Harin sudah tidak ada. Cepat sekali dia perginya. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sampai Harin kembali. Mungkin dia sedang menenangkan dirinya.

Aku seperti mendengar suara orang yang sedang main gitar. Seolah mendapatkan ide, aku mendatangi arah sumber suara, dan kulihat sekelompok remaja yang sedang berkumpul sambil bermain gitar. Lalu, aku meminjam gitar tersebut. Awalnya, mereka tidak percaya. Mereka mengira aku akan membawa kabur gitar mereka. Aku pun memberikan jam tanganku sebagai jaminan. Akhirnya, mereka bersedia meminjamkan gitarnya untukku.

Aku sengaja menunggu Harin di samping rumahnya. Aku berniat memberikan kejutan padanya. Tak lama kemudian, kulihat Harin berjalan pelan menuju rumahnya. Saat akan memasuki rumahnya, aku memanggilnya.

“Shin Harin…” panggilku.

“Kau.. kenapa masih disini? Sana pulang!” aku tidak menjawabnya, dan mulai memainkan gitar yang kupinjam tadi. Aku memainkan lagu dari Train – Marry Me, dan kemudian menyanyikannya.

Forever can never be long enough for me

Feel like I’ve had long enough with you

Forget the world now we won’t let them see

But there’s one thing left to do

 

Now that the weight has lifted

Love has surely shifted my way

Marry Me

Today and every day

Marry Me

If I ever get the nerve to say

Hello in this house

Say you will

Mm-hmm

Say you will

Mm-hmm….

Aku berjalan perlahan mendekatinya. Mata Harin terlihat berkaca-kaca. Kemudian, aku melanjutkannya.

Promise me

You’ll always be

Happy by my side

I promise to

Sing to you

When all the music dies

 

And marry me

Today and everyday

Marry me

If I ever get the nerve to say hello in this cafe

Say you will….

Aku meletakkan gitar, memegang kedua tangan Harin, lalu berlutut untuk yang kedua kalinya.

“Shin Harin, menikahlah denganku. Biarkan aku mencintaimu. Aku akan berusaha menjadi ayah, sekaligus suami yang baik. Ayo kita rawat dia bersama-sama. Dia anakku juga, Harin-ah” ucapku sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata. Harin perlahan melepaskan genggaman tanganku. Air matanya kembali menetes.

“Tapi, Junho-ya, bukankah kau masih sangat mencintai Hyoyeon? Bagaimana aku menikah denganmu, sedangkan kau masih mencintai yeoja lain?” tanyanya. Aku menghela napas, dan kembali menggenggam kedua tangannya.

“Hyoyeon adalah masa laluku, Harin-ah. Biarkanlah aku meninggalkannya di belakang. Dan sekarang, masa depanku adalah kau. Aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu. Yang lalu, biarlah berlalu. Apakah kau percaya padaku?” Harin menundukkan kepalanya. Ia tampak ragu. Aku mengangkat dagunya, dan mencium bibirnya perlahan. Benar-benar ciuman lembut, tanpa lumatan-lumatan liar. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Aku ingin menunjukkan, aku bersungguh-sungguh mencintainya, dan akan menjadi suami sekaligus ayah yang baik. Kurasakan bibirku basah. Bukan karena kami bertukar saliva, tapi karena Harin menangis. Aku melepas ciumanku, lalu menghapus air mata di pipinya dengan ibu jariku.

“Uljima, Harin-ah. Aku berjanji padamu, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan selalu menjagamu, menjadi sandaranmu, dan tempatmu berbagi segala keluh kesah” Harin kembali menangis. Tambah keras malah. Aku hanya tersenyum dan memeluknya erat sambil mengelus punggungnya lembut. Aku membiarkannya membasahi kemejaku dengan tangisannya. Aku tahu, sudah banyak beban yang dipendamnya. Jadi, aku membiarkannya menangis sampai dia tenang.

“Jadi, kau mau menikah denganku, kan? Kau percaya padaku, kan, Shin Harin?” tanyaku kembali untuk memastikan. Harin mengangguk dan menelusupkan wajahnya di dadaku. Haha, kurasa dia malu. Tidak apa-apa lah. Yang penting dia bersedia menikah denganku.

“Gomawo, Harin-ah, saranghae!” ucapku. Lalu, aku pun kembali mencium bibirnya.

***

Setelah Harin menerima lamaranku, aku, Harin dan ibunya langsung berangkat ke Seoul. Dan hari ini kami resmi menikah. Yah, meskipun orang tuaku hanya sebentar disini, lalu kembali ke Jerman lagi karena pekerjaan ayahku yang tidak bisa ditunda, aku tetap bahagia. Setidaknya, mereka tahu bahwa anak satu-satunya sudah menikah. Akhirnya, aku dan Harin resmi menjadi sepasang suami istri.

Aku baru saja selesai mandi ketika aku melihat Harin sedang berdiri di balkon kamarku, dan menatap langit malam.

“Apa yang sedang kau pikirkan, chagiya?” ucapku menhampiri, sambil memeluknya dari belakang.

“Oh, kau sudah selesai mandi? Tidak, aku masih belum percaya bahwa kau sudah menjadi suamiku sekarang” aku mencubit tangan Harin.

“Awww! Kenapa kau mencubitku?” Harin meringis kesakitan.

“Sakit kan? Berarti ini bukan mimpi. Ini nyata. Kau sungguh istriku sekarang, Shin Harin” lama kami terdiam sambil menikmati pemandangan malam.

“Oh ya, chagi, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?” tanyaku pada Harin.

“Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya.

“Waktu aku ke rumahmu di Busan, aku mendengar Eommamu bilang, ‘Kau jangan bodoh seperti Eomma, Harin-ah’ memang ada apa?” Harin menarik napas sebentar.

“Eomma berpacaran dengan Appaku, tapi tidak tahu kalau dia sudah punya istri. Lalu, Eomma hamil dan lahirlah aku. Karena Appa ternyata sudah punya istri, jadi mau tidak mau dia harus tinggal bersama dengan istri pertama Appa. Eomma tidak tahan, dan memilih untuk bercerai. Itulah kenapa dia memarahiku untuk tidak bodoh sepertinya. Dia tidak ingin pernikahanku nantinya tidak bahagia” ucap Harin panjang lebar. Aku hanya manggut-manggut. Kemudian, aku membalikkan badan Harin. Kini kami saling berhadapan.

“Tenang saja, Harin-ah, aku tidak akan seperti itu. Aku tidak akan selingkuh. Kecuali, jika Megan Fox memintaku untuk menikah dengannya. Hahahahaha!” seketika itu juga Harin langsung mencubit perutku. Aku meringis kesakitan. Kemudian, perlahan aku mendekatkan wajahku padanya. Aku memejamkan mataku, dan mencium bibir Harin perlahan. Harin juga memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya di leherku. Harin mulai membalas ciumanku. Awalnya, ini hanyalah ciuman biasa yang innocent. Namun, lama kelamaan, berubah menjadi lumatan liar. Aku menusuk-nusukkan lidahku di bibir Harin agar dia membuka mulutnya. Harin menuruti permintaanku. Dia membuka mulutnya, dan membiarkan lidahku memasuki rongga mulutnya.

5 menit kemudian, kami berhenti sejenak karena sudah mulai kehabisan. Aku menatap Harin sebentar, kemudian menggendongnya di depan, dan kembali melumat bibirnya. Aku membawanya masuk ke dalam, karena khawatir kami berdua akan terserang flu jika melakukannya di luar. Aku membaringkan tubuh Harin perlahan di tempat tidur sambil tetap melumat bibirnya. Karena hamper kehabisan nafas, kupindahkan ciumanku menuju ke lehernya. Aku menjilat-jilat lehernya.

“Assshhh…. hhhhh… itu geli sekali, Junho-ya” desah Harin. Aku mengisap lehernya perlahan, dan menciptakan kissmark di lehernya. Aku membuka piyama Harin perlahan, dan membuangnya sembarangan. Kemudian, terpampanglah dua gundukan besar yang membuat juniorku berdiri. Aku mencari pengait bra Harin, dan juga membuangnya sembarangan. Sekarang, Harin sudah half-naked. Aku langsung mengisap dada kirinya, dan meremas dada yang satunya.

“Ngggghhh… Junho-ya” Harin semakin meracau tidak jelas karena kenikmatan yang kuberikan.

“Terus mendesahlah chagi, desahanmu itu menggairahkanku” ucapku di telinganya, yang membuat Harin bergidik kegelian. Kemudian, aku membuat kissmark di dadanya. Setelah puas, aku turun ke prutnya sambil kutelusuri dengan lidahku. Aku membuka celana piyama Harin sambil melumat bibir Harin. Namun, tiba-tiba….

“STOP!” ucap Harin sambil melepaskan ciumanku.

“Wae?” tanyaku keheranan.

“Yeobo, kau ingat kan aku sedang hamil 3 minggu?” ucapnya.

“Iya aku ingat. Wae?” tanyaku lagi.

“Aku pernah baca artikel, kalau berhubungan seks di awal kehamilan itu sangat beresiko. Jadi, lebih baik kita hentikan saja” Harin langsung mendorongku, dan turun mengambil bra serta piyamanya.

“Kenapa harus dihentikan? Bagaimana nasib adik kecilku yang sudah bangun ini?” ucapku sambil menunjuk ke arah bawah.

“Kau lebih sayang calon anakmu, atau adik kecilmu itu, Tuan Lee Junho?” tanya Harin. Sekarang dia memakai kembali piyamanya dan mulai menyisir rambutnya. Aku berpikir sejenak.

“Tentu saja aku sayang keduanya. Ayolah chagi, kita lanjutkan lagi” rengekku seperti anak kecil. Namun dia tidak peduli.

“Tidak bisa. Aku sangat sayang kepada anakku” Harin menarik selimut.

“Chagiya, ini kan malam pertama kita…” rengekku lagi.

“Kita kan sudah malam pertama. Buktinya ada dia” Harin menunjuk perutnya.

“Ah, tapi tetap saja… chagiyaaaaa…..”

“Jaljayo, yeobo” ucap Harin mencium bibirku sekilas, dan mematikan lampu.

“YA, SHIN HARIN!!!!!”

–END–

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 17/06/2013, in FF and tagged . Bookmark the permalink. 61 Comments.

  1. aku mbrebes masa bacanyaaa….
    good job thor ><

  2. First??
    Wuah … gak nyangka udh END
    Sequel donk thor buat cerita tentang kehidupan setelah mereka menikah konflik nya tetep aja ‘Hyoheon’
    itu cuma saran 😉

    Of all semua nya bagus aku suka

    • LoveObadori

      oke2 ditampung dulu ya sarannya. terima kasih banyak udah baca Innocent Man dari awal sampai akhir 😀

  3. Hahahaha poor junho
    endingnya lucu
    daebak

  4. kasian tuh adik kecil nya!
    😀

  5. hahahaha…
    kasian junho…
    ending nya ok jg thor…

  6. HAHAHA endingnya konyol banget
    kasihan tuh adiknya junho
    wkwkwkwkwk

  7. keren thor. 🙂
    lebih keren kalo ada sequel dan lebih banyak konflik

  8. Ngakak liat ending…. *poor junho xd

  9. Kecian Junho.., 😀
    Mangkanya jngan curi start duluan.. 😀
    Daebak thor!! 🙂

  10. Kasihan bgt junho…endingnya gantung ya, dibuat sequelnya yak.. Ceritanya sayang bgt klo stop heheh. Good job ya

  11. Hua seru masa. Squel dong sampe ada anaknya, konfliknya juga ditambahin hehe

  12. so sweet bgt,
    sukses bkin aku nangis pas junho lg ngelamar harin.

  13. sequel nya thor 😀 terus itu ‘adik’nya junho nasibnya gimana? 😄 daebak thor!

  14. aaaaa!!!! Daebak!!!!! suka banget sama ini ff!!! ^^ kalo boleh sih ya dibikin sequel dong, hehehe 🙂
    oke, buat authornya keep writing! ^^ and chukkhae ffnya keren banget~~

    • aaaaaaaa makasih banget udah suka sama Innocent Man!!!! iya nanti aku bikin deh hehe *kecup basah*

  15. Hahaha… Poor junho… Ceritanya daebak, aku suka sama alur dan idenya…:)

  16. Huaa… Kerenn ff nyaa xD

  17. seulyeong choi

    Gak tau koment apa lagi… keren ceritanya tor

  18. aaa kyeoptayo ><
    Nan neomu neomu johayo thor wkwk
    Keren banget sweet :3

  19. Ahh, daebak thorr, maaf baru komen di part end*dijitak author
    ceritanya ga neko2, feelnya dapet banget, huwaaaa, semoga mereka selamanya bersama walau ada rintangan menghadang*sok puitis..^^

    AUTHOR WAJIB SEQUEL, ara!??*kkk, maksa^^v

    • hahahaha gapap kok woles 😀
      terima kasih banyak 😀
      iya semoga mereka langgeng ya wkwk
      okeeeeeeyyyy nanti aku bikin sequel haha

  20. setan apa yg membawa Q membaca FF Yadong dlm seminggu ini,,
    keren banget tp ngegantung,,
    paling suka saat junho baca buku harian’a itu bener2 bikin air mata menetes,, . .
    Daebak

    • hahahaha
      okedeh nanti bikin sequel 😀
      terima kasih banyak sudah membaca Innocent Man 😀 *ketjup*

  21. hehehehe nih *kasih tisu* terima kasih sudah baca Innocent Man 😀

  22. Firly Kpopers

    daebak><
    mian g komen d part 1 & 2
    tp I like happy ending ^^
    ff yg bda Dr yg prnh ku bca 😉

    • haha gapapa kok woles… 😉
      jinjja?? terima kasih banyak udah baca Innocent Man 😀 *ketjup*

  23. Rame banget ff nya dari part1 part2 part 3 ! Seru banget 🙂

  24. awalnya sih aku kasian…..
    Ternyata……..
    Wowowowowowowowow
    Sumpah bngt
    Aku terperangah
    Hot jga
    Tpi kurang hot dikit lagy ahhhh ya???

  25. choi PinkPink

    Hahahahaaa…

    Daeeebbaaaakkkk..
    Aku suka bgt tho,sumpah!

  26. aduhhhh sepertinya aku akan jadi eunhyuk versi wanita,abis baca artikel ini
    si otak yadong ahhahahahhaha

  27. Haah? End? Seru thor, feel sad-nya daper banget ;-;

  28. knp bkin ngakak endingnya thor..

    sama”innocent…

    sequel donk…

  29. Sequellll donk thor kerennn euy

  30. Kalo harin ngga mau, sama aku aja deh :p wkwkwk

  31. awal’e sdh tp akhr’e konyol..

  32. Waaah happy ending..hhe..seruuu…lucuu banget ending nya..good job thor 😀

  33. Gak cuma ada cinta cintaan atau yadong yadongan yang terlalu. Tapi ini ada persahabatan dan hurt feeling sesuai kesukaanku. Maklum 02 line hehe 😀
    DEMI APAAAAAAAAAA KECE BANGET MASAAAAA :’))

  34. ini fanfic yadong terkeren yang pernah gue baca. apalagi yadongnya gak terlalu ditonjolin tapi lebih ke ceritanya…
    Daebak!!
    lanjut thor konfliknya tambahin. jangan lupa wooyoung harus ada pacarnya biar makin sweet.

  35. Keren thor….. Nangis-nagis bacanya 😀

  36. Ratna kusumaningrum

    Haaii., aku readers baru thor
    ngakak bangett

  37. Rahma Hwang

    Ngaahahhaha.. kesian junot… xD nangguuuuuuunggg

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: