Jkyll & Hyde (Part 1)

ff nc kimhichan

Author             : Ullzsura
Genre              : Romance, psychological

Rating              : NC 17
Main Cast        :

–          Kang Sura

–          Kim Himchan

Inspiration by : Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde, VIXX-Hyde, Sybil {}

 

Jkyll & Hyde//Part 1

 

 

Malam itu, aku dengannya ikut menonton film bersama Shinhye eonni. Di tengah film, dia merengek meminta film itu segera dimatikan. Dia bilang dia benci sosok Mr. Hyde. Dingin, kejam dan menyeramkan. Dr. Jkyll & Mr. Hyde, itu film yang kami tonton. Dia bilang, jika ia sudah besar nanti, jika ia bertemu dengan Mr. Hyde, dia akan memusnahkannya.

 

Sura POV

 

Tak pernah terbayang olehku, kehidupanku akan kembali ke masa lalu. Maksudku bukan benar-benar kembali ke masa lalu, tapi orang yang ada di masa laluku, kini kembali muncul di hadapanku. Aku tau hal ini akan menimbulkan masalah baru, tapi aku tidak peduli. Mungkin kebahagiaanku berada di sini.

Dua minggu yang lalu, aku pindah ke SMA Sungji. Ini bukan hal yang membanggakan karena sekolah ini dikenal sebagai salah satu dari 3 SMA terburuk di Korea. Disini peraturan tidak diberlakukan. Hampir seluruh murid memiliki tindikan bahkan ada yang bertato. Ini cukup membuatku harus mengelus dada beberapa kali. Apakah ini adalah pertanda buruk? Sebenarnya aku sedikit takut karena umma beberapa kali melarangku untuk masuk ke sekolah ini, tetapi aku memaksa.

Semua ini karena dia, pria yang duduk membelakangiku. Dia adalah anak laki-laki yang selama 11 tahun pernah hidup bersamaku. Dia besar di panti, sedangkan aku adalah anak dari pemilik panti. Dia sahabat baikku, orang yang membuatku selalu nyaman jika bersamanya. Punggungnya jauh lebih lebar dibanding 3 tahun yang lalu, sebelum aku berpisah dengannya. Tiga tahun yang lalu dia pergi karena alasan yang menyakitkan. Selama aku pindah, aku belum pernah diajak untuk datang ke rumahnya. Mungkin aku harus memintanya untuk mengajakku.

“Himchan,” Panggilku padanya. Dia menoleh padaku dan menaikkan alisnya. Tampan, jauh lebih terlihat dewasa. Sekarang ia memiliki 2 piercing di telinga kirinya. Tidak terlalu mencolok. Aku menyukainya.

Dadaku kembali bergemuruh. Rasa berdebar-debar itu, masih sama dengan 4 tahun yang lalu, saat aku baru sadar kalau aku menyukainya.

“Ne?”

“Uh, apa kau tidak akan pergi ke kantin?”

“Kau lapar? Ayo kalau begitu.”

Aku pun tersenyum lebar, lalu berdiri, begitu juga dengan Himchan.

“Sebentar.” Aku mengoreh tasku. Aku tak menemukan apa yang kucari di sana. “Ah, parfumku ketinggalan.”

“Ambil di tasku. Kau suka parfum pria, kan?” Aku mengangguk, lalu membuka tas Himchan. Himchan membawa parfum ke sekolah? Aku tertawa dalam hati. Kutemukan parfum yang dimaksud dan….sebungkus rokok. Dia merokok?

Aku menyemprotkan sedikit parfumnya ke badanku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Ayo!”

Kami pun berjalan meninggalkan kelas.

BRUK!

“Ah!” Aku kaget ketika ada seseorang yang menabrak meja yang baru saja kulewati. Terdengar keras sekali. Himchan segera menghampirinya. “Haa…sakit sekali.” Rengek Jimin, teman sekelasku.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Himchan khawatir.

“Ujung meja ini menusuk paha atasku. Linu sekali.” Ujar Jimin sambil mengelus pahanya sendiri.

“Lain kali hati-hati kalau berjalan. Kalau nanti membengkak, pergilah ke UKS. Dayoung, antar sahabatmu itu.” Ujar Himchan.

“Ah, baiklah.” Jawab Dayoung.

“Ayo Sura,” Himchan kembali mengajakku pergi. Dia tetap sama. Baik, suka menolong, perhatian dan sebagainya. Tapi aku tau itu hanya untuk sementara.

 

***

 

Aku disuruh memilih antara hidup tentram di sekolah mewah tanpa Himchan atau sekolah buruk, lingkungan tidak nyaman, tetapi bersama Himchan. Aku lebih memilih point yang lebih buruk itu. Kadang mencari kebahagiaan itu tidak selamanya ditemukan di tempat mewah. Jika keselamatanku terancam di sini, aku yakin Himchan tidak akan diam. Dia tidak akan diam jika sesuatu yang buruk terjadi padaku. Himchan bagai pelindungku. Mau bagaimapun aku menghampiri bahaya, Himchan pasti akan berusaha melindungiku. Dia tidak pernah berjanji mengenai itu, tapi gerak-geriknya yang mengatakannya.

“Kau suka makanannya?” Tanya Himchan aku mengangguk dan meneruskan melahap makananku. Himchan tersenyum lebar dan meminum colanya. “Sura, rasanya aku merindukan panti.”

“Aku juga. Aku merindukan Jaehwan, Minji, Youngjae dan juga anak-anak yang lainnya. Aku hanya mendengar kabar tentang Youngjae. Kudengar dia sekolah di Hannyeong High School. Dia beruntung sekali mendapatkan orangtua angkat yang kaya raya.”

Lagi, Himchan tersenyum.

“Aku sedang memikirkan masa lalu kita. Melalui hari hanya dengan bermain. Tidak perlu belajar seperti ini.”

Aku terkekeh. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian 3 tahun yang lalu. Ini membuat tanganku bergetar. Rasanya menyakitkan.

“Kau tau? Aku sangat merindukan maknae kita.” Ucapku lirih.

“Jongup?”

Deg! Jantungku tersentak. Entah, aku rasa ada yang tidak beres.

“Aku juga sangat merindukan anak itu. Kau ingat saat dia dimarahi guru di lapangan? Aku tidak bisa melukan ekspresi lucunya saat itu haha.”

“Ah, ne.” Aku hanya bisa tersenyum. Senyumku kaku.

“Sura, bagaimana kalau nanti kita mengunjungi panti? Aku ingin melihat anak-anak baru di sana. Apa ayunannya bertambah? Kau ingat dulu kita sering berebut untuk bermain ayunan?”

Dia benar-benar telah melupakannya. Kejadian itu….kejadian menyedihkan itu. Dia benar-benar lupa siapa maknae kami. Maknae kami, Junhong, yang telah meninggal akibat kebakaran 3 tahun lalu. Dia lupa kalau panti kami sudah lenyap terbakar. Itu salah satu penyebab mengapa dia pergi sehingga kami berpisah.

Ketakutanku mulai menjalar ketika mengingat apa yang umma katakan padaku sebulan yang lalu, saat aku memutuskan untuk pindah agar dapat bersama Himchan kembali. Mengenai latar belakang Himchan, apa dia begini karena dia selalu melupakan hal-hal yang menyakitinya?

 

***

 

Di hari libur ini, aku pergunakan untuk bermain bersama Himchan. Aku mengajaknya untuk pergi keluar, beruntung Himchan tidak menolaknya. Ini pertama kalinya aku melihat Himchan berpakaian selain seragam. Dia memakai celana jeans, kaos v-neck putih dan jaket denim. Aku sangat suka caranya berpakaian. Dia semakin tampan.

“Kau mau ice cream?” Tawar Himchan padaku. “Aku yang traktir, ayo!” Himchan menarik tanganku. Aku suka disentuhnya. Aku ingin mengikuti kemanapun ia pergi.

Himchan membawaku ke cafe ice cream. Kami pun duduk berhadapan setelah pesanan kami sudah siap. Himchan hanya memesan Americano coffee, sedangkan aku mulai melahap ice cream strawberry-ku. Kurasa ada yang memandangiku. Apakah itu Himchan? Aku memberanikan diri untuk sedikit melihat pada Himchan. Ya, dia memperhatikanku.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Ani. Aku hanya merasa kau mirip seseorang.”

Kini, aku mulai takut untuk bertanya siapa orang itu. Apakah dia wanita yang pernah ia sukai?

“Mirip tokoh disney.”

“Hm?”

“Kulit putih seputih salju, bibir merah semerah bunga mawar. Cantik.” Aku menggigit bibirku. Malu. Kini dadaku kembali berdebar-debar. “Kurasa itu doa ibumu ketika kau sedang di kandungan. Sayangnya rambutmu tidak sehitam itu. Kalau rambutmu hitam, kau benar-benar Snow white.” Himchan tertawa, sedangkan aku tersenyum malu. Dia memujiku. Ya Tuhan…tetaplah seperti ini. Aku menginginkan Himchan yang seperti ini. Sampai saat ini, dia tidak berubah. Entah jika tidak dihadapanku. Kuharap dia membaik setelah sekian lama tidak bertemu denganku.

“Himchan, kau tinggal di mana?” Tanyaku. Aku cukup penasaran. Dan apa dia bekerja? Dengan apa Himchan bisa mentraktirku?

“Tidak jauh dari sekolah. Kenapa? Mau ke rumahku?”

“Ya, mungkin nanti. Kau bekerja?”

“Tentu. Kalau tidak, darimana aku membayar uang sewa rumah itu.”

“Dimana?”

“Mini market. Malam ini aku akan bekerja. Kau mau ikut? Kau bisa makan mie instan di sana.”

“Benarkah? Aku ingin melihatmu bekerja.”

Syukurlah, itu tandanya dia baik-baik saja selama ini.

***

 

Aku memandangi Himchan dengan seragamnya. Dia memakai topi dan berdiri di balik meja kasir. Bagaimanapun dia, tetap tampan di mataku. Aku benar-benar senang ketika tau dia mempunyai pekerjaan.

Aku kembali menghabiskan mie instanku. Sudah hampir dua jam aku di sini. Sebentar lagi Himchan selesai bekerja. Aku ingin pulang bersamanya.

Hm, tiba-tiba saja aku teringat Park Minjun. Aku tidak ingin melihatnya kembali. Kuharap sosoknya sudah mati.

“Aku sudah selesai.”

Kaget. Tiba-tiba saja Himchan menyentuh bahuku, lalu dia duduk di sebelahku.

“Kau lapar?” Tawarku ambil menyodorkan cup mie-nya.

“Habiskan saja.”

“Aku kenyang.”

“Ck, kebiasaan.” Akhirnya Himchan mengambil mie-ku. Aku tersenyum. Dia pasti lapar. Aku terus memandanginya. Menyenangkan.

“Himchan, apa kau mau tinggal bersamaku?”

Ne?” Himchan terlihat sedikit terkejut. Ya, aku ingin Himchan tinggal bersamaku.

“Kau tau aku di Seoul sendirian. Kupikir aku cukup berani, tapi ternyata aku cukup ketakutan.”

“Tapi kan….”

“Ayolah, kumohon… Kau pindah saja ke apartment-ku, ya?”

“Memangnya ada kamar kosong?”

“Ehe, tidak. Hanya satu.”

“Jadi aku tidur di sofa untuk seterusnya?”

“Tidak, di ranjangku.”

“…….ahaha, Sura, kita memang dekat, tapi kau tidak bisa begitu.”

Aku terus menatapnya dengan tatapan sendu. Aku tidak bercanda, aku benar-benar ingin Himchan berada terus di sisiku. Dengan begitu aku lebih mudah untuk membuatnya normal kembali.

“Apa kau tidak menyukaiku?” Tanyaku. Himchan langsung diam.

“Ini sudah tengah malam. Sebaiknya kita pulang saja.” Himchan menarik tanganku untuk pergi.

Semuanya sudah jelas. Tanpa berkata ‘tidak’, tanpa kukatakan ‘aku suka’, dia menolakku.

 

***

 

Aku terus menatap langit yang gelap. Pedih. Rasanya ingin sekali menangis. Aku kesulitan bernafas. Aku takut tiba-tiba tidak dapat menahan isakku. Himchan tidak melepaskan tanganku sedari tadi. Langkahku tadi fatal. Sangat fatal.

Tiba-tiba saja Himchan belok, masuk ke dalam sebuah gang. Ini gang prostitusi. Aku sangat takut.

“Ke arah sana..”Kataku sambil menunjuk ke arah apartment-ku. Himchan tetap menarikku. “Himchan…” Panggilku lirih. Aku semakin ingin menangis.

“Kita ke rumahku.” Ujarnya dengan pandangan lurus.

“Apa? Tidak.” Aku berhenti berjalan, sehingga Himchan tak lagi berjalan.

“Kenapa? Kita ambil barangku, lalu aku akan tinggal bersamamu.”

“…..” Tak terasa air mataku mengalir. Aku segera memalingkan wajahku. Aku sedih, sangat sedih. “Tidak mau. Tidak usah memaksakan kalau kau sebenarnya tidak mau. Lagipula tadi aku hanya berbohong. Aku tidak ketakutan sama sekali. Aku baik-baik saja tinggal sendiri.”

“……ke rumahku.” Himchan kembali menarikku.

“Tidak mau!” Aku berusaha untuk menepis tangannya, tapi sulit. Tenagaku tidak cukup untuk mengalahkan tenaganya. “Himchan lepaska—“

Ini adalah sebuah rasa yang tidak pernah kurasakan selama 18 tahun aku hidup. Baru kali ini aku merasakannya. Hangat dan lembut. Aku tak dapat berkata apa-apa. Jantungku berdetak kencang dan ini membuatku lemas. Tak dapat kupercaya….Himchan menciumku.

“Jangan sampai aku mengubah pikiranku lagi. Mengerti?”

Aku mengangguk. Himchan kembali menarikku. Seperti terbius, aku mengikutinya tanpa berontak apapun.

Harus melawati gang yang menyeramkan, sebenarnya dimana rumah Himchan? Sebenarnya aku takut Himchan tinggal di daerah seperti ini. Tidak menutup kemungkinan kalau Himchan suka menyentuh wanita lain.

Tiba-tiba saja Himchan berhenti. Dia mengambil kunci dari saku jaketnya. Yang kulihat hanyalah sebuah pintu kecil. Benar saja, Himchan membuka pintunya.

“Masuklah,” Ujar Himchan yang langsung masuk ke dalam. Aku pun masuk dengan sangat hati-hati. Pintu yang kecil, dan di dalamnya terdapat sebuah ruangan. Hanya ada barang-barang yang seadanya. Apa selama 3 tahun itu Himchan tinggal di tempat ini?

Himchan menaruh tasnya sembarangan lalu duduk di atas kasurnya.

“Kenapa kau diam di depan pintu?” Tanya Himchan. Ah, aku bingung. Aku pun berjalan sedikit mendekatinya.

“Ini sudah jam 1 pagi.” Kataku mengingatkan.

“Bermalam di sini. Besok tidak usah ke sekolah. Tidak masalah, kan?” Aku menurut lagi. “Kau bisa tidur di kasurku.” Himchan bangkit dan membuka lemari. Dia mengeluarkan kasur lipatnya. Dia merapikannya, lalu berbaring di sana. Aku duduk di atas kasurnya.

“Himchan,” Panggilku.

“Hmm?”

“Maafkan aku.”

“Untuk?”

“Membuatmu risih karena sikapku tadi.”

“Aku tidak pernah merasa seperti itu. Tidurlah, kau pasti mengantuk.” Himchan mengubah posisinya. Dia memunggungiku.

 

***

 

“Selesai!” Ucapku gembira. Akhirnya semua barang Himchan mendapatkan tempat di apartment-ku. Semuanya sudah kembali rapi.

“Kau lelah?” Tanya Himchan.

“Hm, sedikit.”

“Kita tidur saja kalau begitu.”

“Uh.., baiklah.”

Lagi dan lagi, jantungku tidak mau sedikit lebih tenang. Aku merangkak ke atas kasur dan langsung berbaring, menutupi tubuhku dengan selimut. Aku benar-benar gugup. Berani-beraninya kemarin aku mengajaknya untuk seranjang denganku. Sekarang Himchan duduk di pinggir kasurku. Aku tau dia tidak nyaman. Akhirnya Himchan pun berbaring. Apa aku harus mengajaknya bicara sebelum benar-benar tidur?

“Sura,” Aku sedikit kaget ketika Himchan memanggil namaku.

Ne?”

“Kau menganggap aku ini siapa?”

“Eh?” Aku heran mengapa Himchan bertanya seperti itu. “Kenapa memangnya?”

“Aku hanya ingin tau apakah jawabanmu sama denganku apa tidak.”

“Memang kau menganggap aku siapamu?”

“Milikku.”

“…..” Apa aku tidak salah dengar? Sebenarnya ada apa dengan Himchan? Apa yang ia pikirkan tentangku? Kemarin dia seperti menolakku, lalu sekarang dia bicara seperti ini?

“Apakah sama?” Tanyanya.

“….jika boleh.”

“Kau mendapatkannya. Jangan tinggalkan aku, Sura.”

“….tidak akan.”

Bagaimanapun keadaanmu, bagaimanapun sifatmu, bagaimanapun sikapmu, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Tidak akan pernah.

 

***

 

“Sura, kemari.” Tiba-tiba saja Himchan menarik tanganku. Sakit.

“Sakit, Himchan! Kau ini apa-apaan? Aku sedang bicara dengan Daehyun!” Aku kesal. Aku lupa kalau aku tidak boleh marah pada Himchan. Aku tidak boleh membuatnya semakin kesal. Kurasakan cengkramannya makin keras. Maka aku pun diam. Himchan membawaku ke sudut balkon dan akhirnya dia melepaskan genggamannya. Kulihat tanganku benar-benar merah. Ya, rasanya memang sakit sekali. Kulihat Himchan memegangi keningnya. Seperti frustasi, lalu dia duduk dengan menjulurkan kakinya di lantai. Aku mendekatinya lalu duduk di sebelahnya.

“Ada apa?” Tanyaku lembut. Dia diam, menutupi wajahnya. “Himchan,” Dengan rasa takut, aku memberanikan diri untuk menurunkan tangannya. Dia tidak berontak.

“Aku membencinya.”

“Kenapa?”

“Aku tau kalau dia menyukaimu, Sura.” Dia menatapku. Terlihat gelisah. “Aku mendengarnya.”

“Lalu kenapa?”

“Lalu dia akan menyakitimu.”

“Kau mendengar tentang itu juga?”

“Tidak.”

Aku diam dan menghembuskan nafasku panjang. Aku tidak boleh bicara kalau Daehyun tidak akan mungkin menyakitiku karena itu akan memancing amarahnya.

 

***

            “Sura, aku membencinya.” Ujar Himchan disela makannya.

“Siapa?”

“Daehyun.”

Aku diam. Pagi tadi aku sempat bicara dengan Daehyun dan Daehyun menggodaku. Apa Himchan melihatnya? Aku tetap melanjutkan makan siangku.

“Dia hanya pria yang gemar menggoda wanita cantik di sekolah. Kau jangan terpengaruh olehnya.”

“Ya, aku mengerti.”

Aku meminum minumanku. Aku harus memaklumi sikapnya saat ini. Meski sedikit berlebihan, sejujurnya aku senang dia bersikap seperti ini padaku.

***

Sudah sebulan lebih setelah kepindahan Himchan ke apartment-ku. Semakin lama, semua semakin membaik. Entahlah, tapi aku merasa kami adalah sepasang kekasih. Bahkan sekarang Himchan memelukku ketika aku tidur. Tersirat kekecewaan ketika aku sadar kalau kita tidak punya hubungan seperti kelihatannya. Baiklah, aku tidak akan meminta lebih. Seperti ini sudah cukup.

Sepenglihatanku, tidak ada perubahan yang muncul dari diri Himchan. Ya, setelah aku mencoba untuk menjauhi Daehyun. Mungkin Daehyun akan sedikit heran denganku yang menjauhinya tiba-tiba, tapi aku tidak peduli. Yang penting sekarang, Himchan baik-baik saja.

Aku celingak-celingukan mencari Himchan. Dia tidak ada di kelas. Sebelum aku pergi ke WC, dia masih ada. Aku pun menghampiri Jaejin, sang ketua kelas.

“Apa kau melihat Himchan?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabnya singkat. Aku menghela nafasku. Aku bingung harus mencarinya kemana.

“Dia sedang merokok.” Ujar Youngdae yang duduk di belakang Jaejin.

“Ah, begitu, ya. Gomawo!” Aku pun segera berlari keluar untuk pergi ke ruang khusus merokok itu. Ya, di sekolah ini terdapat ruangan khusus bebas merokok. Aku sendiri belum pernah melihat ruangan itu. Tapi aku tau dimana tempatnya.

Kulihat asap keluar dari sela jendela ruangan itu. Di dalam pasti sumpek sekali. Aku pun membuka sedikit pintunya dan masuk ke dalam. Semua orang di dalam menatapku. Aku menelan ludahku. Semua yang kulihat disini adalah pria. Aku takut.

“Hey Sura, sedang apa kau kemari? Mencariku?” Goda Junho, anak kelas sebelah. Lalu ia tertawa, disusul tawa anak-anak yang lainnya yang membuatku risih.

“A-aku mencari Himchan.” Kataku sambil berusaha menghindari mereka. Tapi ruangan ini sempit sekali. Aku mulai celingak-celingukkan dan menjinjitkan kakiku. Ah, aku menemukan Himchan yang berjalan ke arahku. Dia melihatku.

“Mau kemana?” tiba-tiba saja seseorang mendekapku dan menarikku sedikit ke belakang. “Sudah, kau disini saja.” Taejun, pria paling mesum di sekolah.

Greb!

Aku melototinya. Dia meremas bokongku!

“Ahahahhaha…” Kudengar tawa dimana-mana. Hina.

Ya!” Semua pun menoleh pada sumber suara.

Himchan menarik kerah Taejun dan menjauhkannya dariku. Semua langsung diam, termasuk aku.

BUG!

Satu pukulan keras telah mendarat di pipi Taejun. Semuanya sedkit mundur, memberi ruang untuk mereka.

“Yak! Apa-apaan kau?!” Taejun terlihat sangat marah pada Himchan. Aku takut. Himchan mendorong Taejun sehingga dia tersungkur di bawah. “Melindungi wanitamu, huh?” Himchan langsung menduduki Taejun dan…tamat. Taejun habis dipukuli Himchan.

 

***

 

Hari ini mungkin aman karena aku langsung membawa Himchan kabur dari sekolah. Tapi entahlah dengan hari esok. Aku mulai khawatir dengannya. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya lagi.

Kulihat Himchan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia habis mencuci mukanya. Kulihat masih tersimpan amarah di wajahnya. Entah mengapa aku tidak berani mengucap namanya saat ini. Apakah aku ragu dengan sosoknya?

“Kau, duduklah.” Aku menyuruhnya duduk di sebelahku. Dia menurut. Aku membuka kotak obat dan mengambil alkohol. Kuraih tangan besarnya. Tangannya merah dan ada sedikit darah di punggung jarinya. Pukulannya tadi pasti sangatlah keras. Aku pun membersihkan lukanya dengan alkohol. Kulihat ekspresinya datar. Dia tidak terlihat kesakitan sedikitpun meski aku sedikit menekan lukanya.

“Aku membencinya.” Ujar Himchan tiba-tiba.

“Siapa?” Tanyaku mencoba lembut seperti biasanya.

“Taejun.” Ya, sebenarnya aku sudah tau jawabannya. “Aku ingin membunuhnya.” Aku menelan ludahku. Tubuhku menegang, tapi aku segera menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Akan kuberi mantra agar lukamu cepat sembuh.” Aku sedikit mengangkat tangan kanan Himchan dan menciumi lukanya. “Besok pasti akan sembuh.”

“Hm.” Dia tidak berterima kasih. Biasanya ia pasti berterima kasih.

“Sekarang, tidurlah.”

Himchan diam saja. Aku meninggalkannya menuju kamar mandi. Sepertinya aku harus mulai kembali waspada.

 

***

 

“Sura,” Kudengar seseorang memanggil namaku. Mataku sulit untuk terbuka, tapi aku memaksakannya. Kulihat Himchan tepat di depan wajahku. Wajahnya masih terlihat muram. Kulihat jam di atas meja. Waktu masih menunjukkan jam 10 malam.

“Kenapa kau di sini?” Tanyaku. “Ini masih jam kerjamu.”

Ne? Aku tidak bekerja.”

“Eh?” apa maksudnya? Dia membolos? Atau diliburkan? Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya mengenai itu. “Mengapa kau membangunkanku? Kau lapar? Akan kubuatkan ramyun.”

“Tidak.” Himchan menahan tanganku. “Aku membutuhkanmu. Boleh?” Aku diam. Himchan lebih mencondongkan wajahnya padaku. Apa maksudnya? Dapat kurasakan hembusan nafasnya di wajahku. Aku tidak berani berontak. Bahkan tak ada niat untuk berontak. Himchan menciumku. Dadaku bergemuruh ketika ia mulai menekan daguku sehingga mulutku sedikit terbuka dan ia mulai melumati bibir bawah dan atasku secara bergantian. Tak lama, ia melepaskan ciumannya dan memandangiku.

“Aku tidak ingin melihat lagi orang lain menyentuhmu karna yang boleh menyentuhmu hanya aku. Mengerti?” Aku mengangguk. “Dan jangan pernah berani untuk menolakku.” Lagi, aku mengangguk. Kuperhatikan wajahnya. Mata itu, mata yang kusuka. Hidungnya, tempat favoritku ketika memandangnya dan yang paling dia benci dari dirinya, philtrum. Yang paling ia tidak suka malah yang sangat kusuka. Himchan kembali mendekatiku lebih. Ia menciumku, kali ini lebih dalam.

Author POV

 

Nafas Himchan lebih terasa semakin memburu ketika ciumannya turun ke leher Sura. Sura mendongakkan kepalanya sehingga Himchan lebih liar lagi menjelajahi leher Sura dengan kecupannya dan juga lidahnya. Sesekali Himchan menghisap leher Sura sehingga menimbulkan bercak merah disana. Sunyi. Mala mini hanya ada suara yang diciptakan dari bibir Himchan dan tubuh Sura.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, tangan Himchan mulai bergerak mengusap perut Sura lalu naik ke atas, mengelus sesuatu yang mengggunduk disana. Himchan pun mencoba untuk membuka piyama Sura. Entah apa yang ada di pikiran Sura saat ini. Ia hanya menikmati apa yang telah Himchan lakukan padanya.

Kancing piyama Sura sudah terbuka seluruhnya. Himchan kembali mencium bibir mungil Sura. Ia menjilat bibir Sura dan memasukan lidahnya ke dalam, mengabsen satu persatu gigi Sura dan mulai menggelitik langit-langit mulut Sura dengan lidahnya membuat Sura mengkuh. Sedikit kehabisan nafas, Himchan mengangkat sedikit kepalanya. Mereka bermain lidah di luar dan sesekali menghisap lidah pasangannya itu.

Sura meringis ketika tiba-tiba Himchan menarik tali branya dan melepaskannya. Perih. Himchan tersenyum lalu mengecup rahang Sura.

Himchan mengubah posisinya menjadi di atas Sura, tanpa menindihnya. Ia turun sedikit ke bawah dan berhenti di depan dada Sura. Himchan meraba perut Sura, tak menyangka bahwa tubuh sahabatnya itu sangat indah.

“Tak keberatan jika kubuka?” Tanya Himchan. Sura mengangguk pelan. Ia sedikit takut, tapi ia pun menginginkannya. Tangan Himchan menelusup ke punggung Sura sehingga Sura sehikit mengangkat tubuhnya.

Klik!

Kaitan bra itu pun terbuka. Himchan segera melepaskan bra itu dari tubuh Sura, juga dengan atasan piyamanya.

Sura POV

 

Aku memejamkan mataku ketika Himchan mengecup dadaku lalu ia menjilat payudara kananku. Lidahnya memutari nippleku, membuat tubuhku bergidik. Ia lalu menghisap nippleku dan memainkannya dengan lidahnya. Tangan satunya meremas payudaraku yang satunya. Terbesit di pikiranku, apakah dia mencintaiku? Dia hanya ingin memonopoliku. Ada apa denganku sehingga aku rela disentuhnya seperti ini? Aku sama dengannya. Aku pun ingin memonopolinya, tapi aku mencintainya, bukan sekedar nafsu.

Those eyes penetrates me, pierces my heart. It infiltrates into my hormones in my body, he controls me, bad boy.

“Nggh…” Aku tak sengaja mengeluarkan suaraku. Ya Tuhan, aku tidak kuat diperlakukan seperti ini. Tangan Himchan sudah menelusup ke dalam celana piyamaku dan dia menekan klitoris-ku dari luar dan memijatnya perlahan, membuatku menggeliat kenikmatan.

Aku sedikit membuka mataku untuk melihat Himchan. Himchan tak melepaskan pandangannya padaku. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya di payudaraku. Dia menghisapnya, membuatku membusungkan dadaku. Himchan, dia membuatku gila.

Dapat kurasakan tangan besarnya yang dingin itu masuk ke dalam celana dalamku. Dia mengusap vaginaku secara langsung. Aku mengangkat sedikit pinggulku sehingga tangannya dapat lebih masuk lagi. Aku semakin membuka lebar selangkanganku. Himchan kembali mencium bibirku. Tangannya memainkan bibir vaginaku. Setiap sentuhannya membuat tubuhku bergetar. Aku memeluk kepala Himchan dan jemariku mulai memasuki sela rambut-rambutnya dan meremasnya.

“Akh!” Aku memekik kesakitan. Sesuatu telah memasuki vaginaku. Kurasa itu jari Himchan. Himchan mulai maju-mundurkan jarinya. Perih. Himchan kembali membungkam mulutku dengan mulutnya. Dia meredakan rasa nyeriku. Dia menciumku semakin dalam. Aku semakin tidak merasakan adanya kelembutan dari dalam dirinya. Seiring dengan pergerakan jarinya, rasa ini kembali terasa sakit. Dia memasukan lagi satu jarinya ke dalam dan dia benar-benar mengkoyak vaginaku. Aku terpaksa mendorongnya sedikit.

“Pelan, Him….ahhhh, sakit…..” Rintihku. Tiba-tiba saja Himchan menghentikan kegiatannya.

“Kau menyebut siapa?” Tanyanya.

“T-tidak. Aku tidak menyebut siapa-siapa.” Jawabku. Himchan mengeluarkan jarinya dari dalam dan tangannya keluar dari celanaku.

“Pakailah kembali piyamamu. Aku harus pergi sebentar.” Himchan pergi ke kamar mandi. Tak lama, ia pergi meninggalkan apartment-ku. Aku mematung. Semudah itu dia meninggalkanku? Sungguh menyedihkan.

***

 

Banyak anak-anak yang mengintip ruang guru, termasuk aku. Semua heboh karena gosip tentang Taejun yang masuk rumah sakit karena semalam ia dikeroyok seseorang. Aku sangat takut. Aku yakin orang itu adalah Himchan. Kulihat Himchan yang tampak gelisah di dalam sana. Kesiswaan memukul meja dan membentaknya keras sekali sampai terdengar ke luar. Anak-anak semakin heboh. Hatiku sakit melihatnya diperlakukan seperti ini. Himchan tidak akan merasa telah melakukan kesalahan. Meskipun dia salah, aku tidak akan pernah menyalahinya.

Kulihat Himchan mengambil sesuatu dari tangan kesiswaan lalu dia pergi keluar. Dia keluar dari ruang guru tanpa memperdulikan orang-orang yang saat ini memperhatikannya. Aku segera menyusulnya.

“Himchan,” Panggilku. Himchan menghela nafasnya, tak mau untuk berhenti berjalan. Mau tak mau aku terus mengikutinya.

“Sura, aku tidak melakukannya.” Ujar Himchan. “Kemarin aku bekerja seperti biasa. Pulang jam 12, lalu kembali ke apartment. Taejun bilang aku memukulnya saat ia pulang dari rumah Yongguk sekitar pukul 11 malam. Pembual.”

“Himchan…, sudahlah.” Aku menahan tangannya, akhirnya Himchan berhenti berjalan.

“Sura, kau tau kan kalau aku tidak melakukannya? Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu…” Wajah Himchan terlihat sendu. Dia benar-benar tidak merasa telah melakukannya. Kulihat tangannya semakin mengungu dan membengkak. Aku memeluk Himchan. Rasanya ingin menangis.

“Ya, aku percaya.”

 

***

 

Tadi Himchan pulang duluan. Aku tidak tau kenapa, tapi tadi ia pamit harus pulang. Mulai besok akan ada ulangan tengah semester dan setelah ujian selesai, Himchan diskors selama sebulan. Aku tidak mengerti mengapa harus selama itu. Kudengar keadaan Taejun memang sangat parah. Mengapa sosok itu sudah mulai muncul di publik? Apa sebelumnya pernah terjadi seperti ini? Aku benar-benar ketakutan.

“Sura, kau mau ikut kami?” Tanya Dayoung padaku.

“Kemana?”

“Menjenguk Taejun. Aku, Jimin dan Jaejin akan pergi kesana sekarang.”

“Uh…, baiklah aku ikut.”

Aku harus melihat keadaan Taejun sekarang. Semoga saja tidak separah apa yang orang-orang katakan.

Kami berempat pun pergi. Kebetulan rumah sakit tidak jauh dari sekolah sehingga kami dapat berjalan kaki. Aku melirik ke arah Jimin. Setahuku, dia anak perempuan yang lumayan dekat dengan Himchan. Apa harus aku bertanya padanya? Kulihat Dayoung sedang asik bicara dengan Jaejin. Ini kesempatanku. Akhirnya aku mendekati Jimin lebih dekat.

“Jimin,” Panggilku dengan suara pelan.

Ne?”

“Kau percaya kalau Himchan yang memukulnya?” Jimin tersenyum miris.

“Entahlah. Sejujurnya aku tidak percaya, tapi faktanya aku melihat perubahan dari dirinya. Kudengar kau temannya sejak kecil?”

Ne,”

“Kau pasti tau benar bagaimana dia, kan?”

“Ya, dia tidak seperti itu.”

“Himchan itu sangat baik pada semua orang, apalagi pada wanita. Apa kau tau? Banyak sekali sebenarnya yang mengagumi Himchan. Sejujurnya aku tidak dapat mengelak kalau Himchan sedikit berubah ketika kau datang. Kejadian di tempat merokok itu wajar, Sura. Kurasa dia menganggapmu lebih dari teman kecil.”

Ya, kuharap seperti itu, batinku.

“Yang membuatku tidak percaya, kejadian malam itu. Gosipnya Himchan memukuli Taejun dengan tongkat. Gila saja, seorang Himchan…, mana mungkin dia seperti itu.” Lanjut Jimin.

“Jimin,”

Ne?”

“Kumohon jangan menjauhinya.”

“Tenang saja, Sura. Aku tidak akan pernah menjauhi orang yang pernah sangat baik padaku.”

Aku tersenyum lega. Semoga tidak hanya Jimin yang beranggapan seperti itu.

 

***

 

Jaejin membuka pintu dimana di dalamnya Taejun berada. Aku takut untuk masuk ke dalam, tapi Jimin menggandengku. Akhirnya aku masuk ke dalam. Kulihat keadaan Taejun sangat buruk. Kepala dan lengannya diperban. Kurasa lengannya patah. Wajahnya penuh luka lebam. Ini buruk, tapi aku sedikit bersyukur karena ucapan Himchan tidak ia lakukan. Ucapan yang ia bilang ingin membunuhnya.

Taejun langsung melirik ke arahku. Aku menunduk.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Jaejin. “Membaik?”

“Tidak sama sekali.” Jawabnya. “Kau.”

“…..”

“Kang Sura, aku memanggilmu.” Aku pun sedikit mengangkat daguku dan menggigit bibirku sendiri. “Kekasihmu itu gila.” Dadaku sakit. Aku tidak terima ia bicara seperti itu. “Hanya karna aku menggodamu, tak cukup sekali dia menghajarku di sekolah.”

“M-maafkan dia.” Kataku lirih.

“Ch, dia yang berkata maaf saja belum tentu aku memaafkannya, apalagi dari bibirmu, Sura.”

“Kumohon…..” Air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku sangat sedih jika teman-teman Himchan akan membencinya dan menjauhinya satu per satu. Ini tidak boleh terjadi.

Taejun mendengus, lalu memalingkan wajahnya dariku. Aku tau ini tidak akan mudah.

 

***

 

Dari dua jam yang lalu Himchan tak kunjung datang. Kemana dia? Bukankah dia pulang lebih dulu dariku? Aku takut sesuatu terjadi padanya lagi. Untuk mengabaikan rasa khawatirku, akhirnya aku pun memasak sup jagung kesukaannya. Kuharap dia baik-baik saja dan kuharap dia cepat pulang untuk memakan sup jagung ini.

Pip!

Dalam hitungan detik, do’aku terkabul. Syukurlah.

Himchan datang dengan tatapan kosong. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Aku pun menghampirinya.

“Dari mana saja kau?” Tanyaku. Kini aku tak berani untuk memanggil namanya sebelum aku tau sikap dan sifat apa yang akan ia tunjukkan padaku.

“Kantor.” Jawabnya, masih dengan mata tertutup.

“Kantor? Kantor apa maksudmu?”

“Kantor pusat. Tadi aku dipanggil kesana, makanya aku pulang lebih cepat.” Ah, dia Kim Himchan.

“Mengapa kau dipanggil ke sana?”

Himchan bangun dan mengoreh tasnya. Dia memberiku sebuah amplop. Aku pun membukanya.

“Kau….,”

“Aku dipecat.” Aku diam, tak dapat berpikir apapun. “Sura, aku merasa menjadi gila.”

“Apa yang kau katakan, Himchan?” Aku duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Kini aku benar-benar khawatir.

“Mereka memarahiku karena aku pulang tanpa izin di jam kerjaku. Aku bersih keras mengatakan kalau aku bekerja sampai tuntas, tapi mereka tak ada yang percaya padaku.”

Aku diam. Malam itu, dia benar-benar pergi. Dia pulang jam 10, lalu kembali pergi. Aku miris melihatnya seperti ini.

“Mereka menunjukkan video padaku.”

“Video apa?”

“CCTV. Dan….aku benar pergi jam 10 kurang. Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa….”

Aku kebingungan. Jika suatu saat dia sadar, apa akan menjadi pertanda buruk atau baik? Aku takut untuk mengambil keputusan sendiri.

“Kenapa kau diam?”

“Hm?” Aku kaget ketika Himchan memergokiku malah melamun memperhatikannya. “Uh.., Himchan, mungkin kau lupa. Mungkin jam yang kau lihat salah.”

“Entahlah…, aku tidak ingat. Tapi aku yakin sekali kalau aku benar-benar tepat waktu.” Lagi-lagi aku diam. Aku benar-benar membutuhkan bantuan seseorang. Nona Lee tidak bisa membantuku sekarang. Aku harus menunggunya sampai beberapa minggu kedepan. “Sura, apa ada yang salah dengan ingatanku?”

“Uh.., aku tidak tau.”

“Mungkin aku terserang penyakit…pikun atau sebagainya? Bagaimana ini?”

“Mau kubantu? Aku punya teman seorang dokter. Mungkin kita bisa konsultasi dengannya.”

“Ah, baiklah.”

Aku tersenyum puas. Ternyata tidak serumit itu untuk mengajaknya.

“Kalau begitu ayo kita makan. Aku membuatkan sup jagung kesukaanmu.”

Himchan tersenyum lebar. Itu senyum yang kusuka.

 

***

 

Dua minggu telah berlalu. Kini saatnya kami melihat hasil peringkat ujian kami. Aku dan Himchan berjalan menelusuri koridor sekolah. Tidak ada yang berubah dari anak-anak. Kasus Taejun hanya memberi efek sebentar. Pada umumnya sosok Himchan yang baik hati tetap menduduki peringkat pertama. Lagipula selama tidak ada yang membuatnya marah, tidak akan mudah untuk dia berubah menjadi orang lain.

Di depan kami, anak-anak sudah berkumpul ramai mengerubungi mading sekolah, tempat dimana pengumuman peringkat di tempel. Aku pun menarik Himchan untuk cepat ikut bergabung.

Aku berusaha untuk menyelip diantara orang-orang. Himchan mengikutiku di belakang. Tiba-tiba saja dengan mudah aku berada di depan. Kurasa beberapa anak menyingkir karena Himchan. Ah, aku tak peduli.

Himchan menunjukkan telunjuknya ke kertas, lalu menaik turunkan jarinya.

“Sura…., dimana namaku?” Tanya Himchan. Kulihat jarinya beberapa kali melewati  nama ‘Kim Himchan’, tapi dia tidak sadar. Kim Himchan, kau ada di peringkat pertama.

“Sura, namaku tidak ada.” Ujarnya lagi. Aku diam memandanginya. Kulihat dia tidak memakai name tag-nya.

Park Minjun. Seharusnya aku sadar kalau kau sudah kembali. Aku selalu menganggapmu tidak ada, padahal aku tau kau ada. Sifat pemarah, pendendam, kasar, dan agresif itu milikmu.

“Minjun, ayo kita pulang saja. Peringkat itu tidak begitu penting, bukan?”

 

Whatever you do, whatever you say
makes me love you more every day
whatever you are, whatever you do
I’m really into you

-Kang Sura-

 

-Part 1 end-

Visit ullzsura.wordpress.com juseyoooo thanks 😀

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 17/06/2013, in FF. Bookmark the permalink. 36 Comments.

  1. WOW .. DAEBBAK THOR !! KEEP WRITING 😀 I’LL WAIT FOR THE NEXT STORY .. 😀

  2. good job kren, jd himchan itu pnya alter ego gt y gk kbayang ^^ next cap.thor d tunggu ^.^

  3. sebenernya aku bingung sama himchan tuh kenapa ya?? :/
    esmosian banget -_-

    Ditunggu next part nya thor 😉

  4. Park minjun itu siapa? Pasti ada sangkut paut nya sama kebakaran panti yg zelo(junhong) mati kan? Jangan jangan himchan punya kepribadian ganda(?) Emmm ga ketebak:((
    Keren thor ditunggu next chapter nyaa~
    Ga sabar haha

  5. Deer yeoja'kiyut

    mimin gmn sih ceritanya aku kurang ngrti
    nnti d part 2nya bisa di lebih detail gk?

  6. shin eun soo

    rameee thorr daebakkk cpttt yaaa part 2 nya jangan bilang himchan lupa ingatan atau apapunnn sediih junhong nya mati :’)

  7. Agak berbelit belit nih alurnya, tapi keren kok! Keep writing thor 🙂

  8. Kok jd park minjun?
    Aku jg takut sm hinchan hehehe
    next ya thor

  9. Ceritanya gk nyambung thor

  10. aku belum baca*triak pake toa*

  11. author aku suka !!!!!
    pertamanya sih agak bingung tapi akhirnya aku ngerti ternyata ceritanya tentang kepribadian ganda ..
    author baby bukan ?? aku suka ff yang author bikin yg POLARIS juga aku suka thor ..

  12. Bagus thor ^o^ ditunggu next partnya yah ^o^

  13. keren!!!
    daebak!!!!
    cetar!!!!
    di tunggu part selanjut nya ya thor

  14. keren thor. di tunggu yah next nya

  15. Minjun=himchan?? Ah bingung thor… Keren ffnya…. Cerita+alurnya daebak…. Next part ku tunggu… Fighting!

  16. rame bangettttt jadi himchan tuh punya kepribadian ganda gitu ya? fighting thor ditunggu part 2nya 😀

  17. kepribadian,ganda

    membingungkan tapi d situ seruny

  18. @lita iya aku baby kkkkk~
    makasih yang udah baca. part 2 lebih jelasnya next ya =)

  19. kepribdian ganda ya? Ksian bnget sura 😦

  20. Gassa Rahadiyan

    di tinggu next capthernya ya Thoor?? aku suka banget. Aju Daebak ! 😀

  21. cek wp pribadi sy ya. disitu ada:)

  22. aku pernah baca sybil..
    tp novel yg dirimu recomen blm pernah..

    ffnya keren..
    bahasanya, alurnya, confliknya
    sycologi bgt deh..

    lanjutttt…
    jgn lama2 yah minn up loadnya

  23. aduh min jempol deh, aku sukaaak crtanya !

  24. Daebak thor,
    aku new reader disini.

  25. oh ya thor..
    minta wpnya donk

  26. daebak thor
    tapi aku mash bingung sebenernya himcan itu knpa?

  27. Uwa keren
    Minjun siapa tuh? Na kecil himchan waktu di panti kah?

  28. AUTHOR DAEBAKKK!!! CEPAT LANJUTKAN THORR!! *maksa pake tampang paling garang* Himchanku.. Oh Himchanku… Huaa Kang Suranya di ganti Mink ajaaaaa hahaha *dibunuh babyz

  29. KEREEEEEN THOOOOR….LANJUT DONG!!!
    penasaran bgt sm lanjutannya,pasti bakal seru bgt…huhuhuhuuuuu
    lanjut ya thor,jangan lama2… semangat deh kalo himchan yg main^^ hehehe

  30. Deabak….
    Kok bisa sih kpkiran alur crita sebgus ini
    Asli keren… Good job thor

  31. Bingung sebenernya..tp pas sura blg dia minjun,dan inget pas sura manggil himchan him trus dia agak kget gtu,mulai ngerti kyanya… D lanjut y thor

  32. Keren ceritanya (^⌣^) DAEBAK!!! (´▽`ʃƪ) next part 2 ^o^

  33. knp cast nya kgk vixx aja.. pasti lebih seruu. apa lagi nc /?
    tapi ff nya keren bngt ❤

  34. Q jd puzing
    😛

  35. masih bingung, jadi ceritanya dalam tubuh himcan ada 2 jiwa???

  36. hmmm jd pnasaran… sbenarnya apa yg terjadiii¿¿ mari kita lnjutkan ke chapter selanjutnya.. 🙂

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: