Test Drive (HeeHee Couple)

heechul ff nc

1. Author: N/M

2. Title: Test Drive (HeeHee Couple)

3. Type: Straight, Romance, Comedy, NC 17

4. Cast: Kim Heechul (Super Junior) , Man Hee Hyo (OC)

Author’s Note :

Annyonghaseo, chingudeul… We’re back. ^^ Sekarang kita akan mempersembahkan fanfic Heechul nih.

 

Enjoy it, chingu. Komen sangat diharapkan, lho. 😉

-Author’s POV-

                Malam gelap itu tetap menghampiri Heehyo. Hujan rintik-rintik masih bergulir sehingga membuat jas hujan biru mudanya menghasilkan bunyi tes-tes-tes. Meski gelap dan dingin, Heehyo tetap memberanikan diri menyambangi dorm Super Junior. Tantangan pacarnya, Heechul, tak bisa ia indahkan begitu saja. Setelah menggeret motornya ke tempat parkir—agar tidak terdengar bunyi mesinnya, ia turun dari motornya dan mengunci kendaraan itu. Ia melihat sepatu Keds-nya yang basah. Awas saja kalau Oppa tidak jadi datang, Heehyo membatin. Ia berjalan masuk ke pintu depan dorm yang tidak terkunci. Heechul sudah menjanjikan kepadanya kalau semua akses yang ia akan hadapi menuju tempat mereka bertemu akan dipermudah.

                Sambil bersiul-siul dan memasukan kedua tangannya ke saku jaket sporty-nya, Heehyo pun melintasi koridor. Dengan rileks ia berjalan, terkadang menelusur jemari pada poni—menyibak rambutnya sendiri ke belakang sambil celingak-celinguk, mencari dimana Heechul berada. Matanya melirik kamera yang dipasang di tiap beberapa meter koridor, ia bergidik. Dalam hati ia bertanya, apa benar ini akan aman-aman saja?

                Heehyo mempercepat jalannya sekarang. Mendadak kengerian akan tertangkap basah merayapinya. Dia tak hanya telah menerobos masuk ke dorm orang lain, tapi dia juga telah melanggar jam malam dorm-nya. Ini akan jadi masalah. Begitupun kamera-kamera CCTV yang mengarah kepadanya itu.

                Teringat lagilah dia, bagaimana Heechul menantangnya.

                “Datanglah ke dorm dan kita akan melakukannya di bawah CCTV. Kau berani tidak?”

                Heehyo, saat itu, tentu saja mengiyakan, berlagak sok berani. Akan tetapi, sekarang ketegangan menyamperinya.

                Langkahnya ia hentikan. Wajah yang sedikit tertutup rambut ikal di bagian samping-sampingnya itu ditundukkan. Ia sibuk berpikir.

Ketika hujan di luar bertambah deras dan, entah mengapa, firasat buruknya makin menjadi-jadi, ia kemudian memutuskan untuk memalingkan tubuhnya—melangkah keluar.

                “Psst…”

                Dan bisikan ini memanggilnya. Heehyo menengok.

                “Chagi,” bisik suara itu lagi.

                Dengan keadaan tubuh yang setengah berputar ke arah belakang, Heehyo mencari-cari sososk yang mengeluarkan suara itu.

Di mata Heehyo, tampaklah wajah pria manis itu, yang berdagu runcing, bermata besar cemerlang, berhidung mancung seperti pria-pria cantik di komik-komik Jepang. “Heechul Oppa!” seru Heehyo dengan suara paraunya.

“Aduh, Chagiii… Kenapa memanggilku dengan nada sekasar itu?” ringis Heechul.

Heehyo mengerut. “Kasar bagaimana?” tanyanya, sambil berjalan mengarah ke Heechul.

“Suara dan gaya bicaramu itu, lho, Chagiii… laki-laki sekaliiii…” Heechul memicingkan matanya senang saat mengucapkan ini.

Heehyo tertawa. “Lalu aku harus mengubah suara dan gaya bicaraku?” tanya Heehyo saat ia sudah selangkah di depan Heechul.

“Apa ekspresiku menunjukan kalau aku tidak menyukainya?” Heechul tiba-tiba mengubah mode heboh dan cerianya menjadi serius. Suaranya pun direndahkan, bersamaan dengan pandangan mata yang ditajam-tajamkan.

Heehyo mengigit lidahnya sendiri. Dia agak bergidik kalau Heechul mulai bersikap begitu. Heehyo seperti disadarkan kalau orang yang di hadapannya ini adalah pria.

“Naaah…!” Heechul menunjuk muka Heehyo sambil menyeru, “Kau ketakutan ya? Kau takut kalau aku jadi serius ya?” Ia kembali bernada gembira lagi.

Gelak tawa yang hanya bisa ditunjukkan Heehyo sekarang. Itupun kaku.

Tawa Heechul yang tadinya juga mengiringi Heehyo dihentikan si empunya. Heechul kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding salah satu lorong di koridor yang mereka tempati itu.

-Heechul’s POV-

Nah, mungkin sekarang saatnya. Aku harus menjajaki hubungan kami ke jenjang berikutnya. Dia tidak boleh terus-menerus bersikap seperti aku adalah temannya. Dia selalu mengesankan kalau di antara kami hanyalah bromancebrother romance, meski ia mengaku kalau ia adalah pacarku. Tidak boleh seperti itu. Yang terjadi di antara kami bukan bromance, tapi romance—haha, menggelikan, tapi tidak apalah.

Kulihat dia tidak bergerak sama sekali dari posisinya, pasti dia gugup bukan main.

“Bagaimana?” tanyaku.

“Apanya?” tanyanya.

“Rencana kita,” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.

Kupikir dia akan berperilaku bodoh seperti biasa, perilaku yang aku suka, bertanya rencana apa dengan rona muka tidak tahu apa-apa. Tapi tidak. Dia malah memajukan tubuhnya  kepadaku.

“Kaos pink lagi,” ujarnya sambil menggenggam ujung lengan pendek kaosku. “Katanya mau jadi pria.”

“Aku memang pria, Chagi,” ucapku, “kau meragukanku?”

Heehyo terbahak.

Apa yang ia tertawakan? Kenapa dia malah tertawa? Aku tidak menangkap apapun yang lucu. Entah. Sebenarnya dia terlalu bodoh atau terlalu nekat—atau keduanya sekaligus. Ia seharusnya merasa takut sekarang. Atau jangan-jangan dia menganggap aku tidak akan bisa melakukan apa-apa padanya. Oh, dia salah, kalau begitu

Kuedarkan langkah ke dekatnya, berdiri tepat di depannya. Kedua tanganku kukerahkan untuk menangkap wajah Heehyo, menariknya dengan agak kasar ke wajahku. Tak perlu tunggu waktu lama, kucium dia.

Pun dia menyambutnya. Berkat itu, kutingkatkan intensitas keagresifanku.

-Heehyo’s POV-

Astaga. Heechul Oppa menarik wajahku dengan kasar. Perbuatannya itu berbanding terbalik dengan tingkahnya selama ini, yang seperti teman karib, atau kakak, atau kadang malah bermanja kepadaku seperti adik perempuan.

Ini mengejutkan tapi aku suka.

Aku suka pria cantik, tapi yang jantan. Teman-temanku telah mempermasalahkan itu. Mereka bilang yang seperti itu tidak akan ada. Mereka benar, sih, akupun hampir menyerah atas impian itu—mendapatkan pria cantik tapi jantan. Hingga aku bertemu Heechul Oppa.

Yah, dia memang tidak jantan, kelihatannya. Teman-temanku mengolok-olokku yang tetap tidak menemukan pria idamanku pada Heechul Oppa. Mereka bilang, benar ia cantik, tapi tidak jantan.

Dan sekarang, tak kuduga, ia malah bersikap sangat pria seperti ini.

Heechul Oppa kemudian meluputkan ciumannya agresifnya. Kami berdua mencari jarak, terengah-engah, menghela napas bersamaan. Dia menatapku dengan tatapan penuh makna.

“Jadi kita akan mencobanya, melewati tes ini?” tanya Heechul Oppa.

Aku membesarkan pupil mataku, bingung. “Tes?” tanyaku.

“Yep!” Heechul Oppa berseru senang.

Alisnya dinaikkan berulang. “Bagaimana?”

Aku melihat ke samping kiri, ke gelapan di sampingku. Aku bimbang, tentu saja. Aku telah melakukan banyak hal dengan Heechul Oppa. Hal gila-gilaan; hal yang melanggar peraturan , itu kami lakukan selama ini. Dan Heechul Oppa memang menyenangkan, di sisi lain manis juga.  Namun untuk urusan mesra-mesraan seperti ini kami ketinggalan jauh dari teman-teman kami. Mereka sudah ke tahap yang terlalu jauh sehingga kami, terutama Heechul Oppa, iri mendengarkan ceritanya. Seperti kemarin, Minrin bercerita kalau dia dan Ryeowook melakukannya di ruang make-up. Dan itu menimbulkan kehebohan di antara teman-temanku. Kupikir seru juga kalau bisa menimbulkan kehebohan semacam itu. Tapi aku memang tidak pernah terpikir untuk melakukan dengan Heechul Oppa. Dia kelihatan lebih manis jika sedang bersamaku. Kadang bahkan menempel-nempelkan kepala berambut halusnya ke lengan berisiku, berkata manja seperti seorang gadis.

Sebentar, aku ini kenapa? Kenapa dari tadi berpikir berputar-putar terus? Lagipula yang aku pikirkan tadi itu apa?

Aku mendengar suara ritsleting yang dibuka. Hal itu mengejutkanku dan membuatku secara refleks mencari-cari sumber suaranya. Hingga aku menemukannya. Heechul Oppa telah membuka ritsleting celana jeansnya.

“Op-Oppa, kau—” aku tidak bisa memikirkan apa yang harus kukatakan. Mataku namun tetap mengawasi aksinya. Setelah membuka ritsleting, ia seperti mengorek sesuatu dari balik ritsletingnya. Ah, dia sedang apa?

“Nah, kau sudah tidak sabar ya?” tanya Heechul Oppa dengan gembira.

Mungkin ini karena aku terlalu banyak berpikir, padahal biasanya tidak. Aku dikejutkan sesuatu, yang dikeluarkan Heechul Oppa dari balik celana dalamnya.

“I-itu apa?” tanyaku. Aku sudah mencoba untuk bertanya biasa, namun nampaknya kekagetanku karena sesuatu yang baru dikeluarkan itu membuat pertanyaanku menjadi terbata-bata.

“Ini tes pertama,” jawab Heechul Oppa. “Kau tahu di sana kameranya sedang memantau kita. Sesuai janji kita, kita akan melakukan kegilaan di depan kamera itu kan? Sekarang saatnya.”

“Kalau ini tes pertama,” ucapku sambil memandang mata Heechul Oppa, grogi aku melihat ke bawah itu—meski begitu, ini grogi yang membuat aku penasaran, “berarti ciuman tadi apa artinya?”

“Itu ibaratnya hanya penghidupan mesin. Test drive-nya baru dimulai sekarang,” ujar Heechul Oppa.

“Begitu,” responku sambil manggut-manggut. “lalu apa yang harus kulakukan?” aku bertanya lagi.

Heechul Oppa menyeringai.

-Heechul’s POV-

Aku menyeringai. Aku harus memikirkan ucapan yang keren dulu. Tapi apa? Dia tipe gadis yang akan antusias melakukan sesuatu jika terpatri dalam sugestinya kalau itu keren. Tapi apa yang harus kukatakan?

“Heechul Oppa?” ia mendesak jawaban.

“Aku belum bergairah,” jawabku. Ya, akhirnya kukatakan saja yang sejujurnya. Aku memang belum bergairah, dan sesuatu yang yang mungkin dapat ia lakukan pada kejantananku yang telah kutunjukkan dapat menimbulkan gairahku. Yah, aku juga bingung kenapa. Biasanya aku mudah terangsang.

“Apa yang harus kulakukan, Oppa?” tanyanya lagi.

Hah. Dia mulai membosankan. Hanya bertanya-tanya saja. Jeda seperti ini bisa mematikan gairahku sama sekali, seharusnya dia membangkitkannya. Mungkin karena efek dia pertama kali melakukan. Dan aneh sekali, rangsangan itu tidak muncul-muncul juga. Ada apa denganku? Kalau begini terus, bisa-bisa ini berhenti. Dan dia akan menganggapku tidak bisa, tidak akan terkesan padaku.

“Kau gagal di tes pertama, Chagi,” ucapku. Ini siasat sebetulnya, siasat untuk membuatku tetap kelihatan keren.

Dan benar saja, Heehyo terkejut, menonjolkan ekspresi seperti baru mendapat nilai jelek pada ujian sekolahnya.

Aku pun melanjutkan aktingku sebagai guru tanpa belas kasih sambil berkata ini, “Sekarang masuk ke tes kedua.”

Heehyo menautkan alis. “Aku harus apa?” tanyanya.

“Buka bajumu,” perintahku.

Mata besarnya ia belalakan. Lalu dengan muka bingung, ia berkata, “aku bingung sebenarnya tes pertama tadi itu apa?” Heehyo mulai kritis.

“Itu soal kekreatifanmu dalam merangsangku,” jawabku, “namun nampaknya kau gagal karena melewatinya begitu saja.”

Bibir tipis Heehyo menggumamkan kata kreatif. Ia nampak memeras otaknya nampaknya. Aku mulai bosan. Bisa-bisa aku kehilangan niat untuk ini. Tapi ini harus kejadian, aku sudah mengeluarkan milikku. Maka aku memancingnya, “apa kauingin melewatkan tes kedua juga?”

Heehyo nanap. Kemudian seperti murid yang dikejutkan gurunya karena bengong saat ujian, dia buru-buru mengembalikan fokusnya ke ujian ini. “Aku harus apa tadi?”

Aku memandang dirinya yang polos, ah, bukan, tepatnya pandir, tapi aku memang suka gadis pandir. Aku yang akan berkuasa soalnya. Hahaha.

“Ah, ya, aku ingat,” ujarnya sok asyik kemudian, “buka baju, ya?”

Senyum tipis kuukirkan. Kedua alisku kunaikkan. Aku tinggal menunggu.

-Heehyo’s POV-

Aku membuka jas hujanku dan jaketku.

“Seharusnya kau membukanya sejak tadi,” ujar Heechul Oppa, membuatku gegau. “Air hujan yang terbawa pakaianmu itu membasahi lantai,” ia menambahkan, melegakanku kalau ternyata itu maksudnya.

Aku membuka kaosku, meloloskan dari tubuhku, menjatuhkan ke lantai bersamaan dengan jas hujan dan jaketku. Kini aku hanya menggunakan bra dan celana jeans.

“Bagaimana? Tes kedua lolos?” tanyaku sambil berkacak pinggang.

Heechul Oppa masih beroman muka sama dengan sebelumnya, memandangku tanpa henti dengan senyum tipisnya.

“Apa tes berikutnya?” tantangku.

“Buka yang masih tersisa,” Heechul Oppa berkata. “Atasannya saja dulu.”

Dan itu menggegaukan bagaikan petir.

“Hah?” Aku melongo. “Aku merasa dibodohi,” ucapku sambil melengos.

“Kau mau lolos tes tidak?” tanya Heechul Oppa, ogah-ogahan.

Napasku kuhelakan. “Baiklah,” aku menyetujui lalu aku membuka braku. Kujatuhkan ke lantai. Kulihat Heechul Oppa sedikit berubah rona mukanya tapi aku tidak bisa menebak ekspresi apa yang ia tunjukkan itu. Mungkin tertarik, mungkin syok. Tidak mungkin terpesona. Aku tahu ekspresi terpesonanya. Dia akan jadi seperti perempuan manja yang tak mau lepas dariku kalau terpesona.

Chagiaaaah….” ucap Oppa tiba-tiba.

Dan secara serentak hal itu dilakukan dengan tindakannya memelukku. Ia meletakkan kepalanya di dadaku, menghadap samping—seperti anak kecil yang berjumpa kembali dengan ibunya. Tapi yang ini anak kecil perempuan. Hah. Baru saja aku menebak kalau dia bukan terpesona, tidak tahunya malah benar terpesona.

“Kau seksi sekali, Chagi,” ujar Oppa manja.

Dan aku hanya tertawa, tertawa konyol tepatnya.

-Heechul’s POV-

Aku sudah mulai bergelora. Dadanya indah, sudah kuduga. Tapi ini belum waktunya, kurasa. Gairahku harus maksimal untuk melakukan itu.

Maka, alih-alih menciumi dada dan berlanjut kemana-mana seperti yang biasa kulakukan, aku mengangkat kepalaku. “Aku masih belum terangsang. Aneh, Chagi. Biasanya aku mudah sekali terbangkit,” ucapku enteng.

“Lalu bagaimana?” tanya Heehyo.

Aku meletakkan jari telunjuk di bibirku. Kuketukkan telunjukku di bibir berulang-ulang, berpikir.

“Aku harus menciummu lagi?” Heehyo bertanya lagi. Gelengan aku lancarkan. Kami sudah berciuman dua kali, dengan agresif  pula, tapi tak ada efek signifikan. Aku terus berpikir dan berpikir. Hingga aku memutuskan untuk melanjutkan permainan ini saja. “Saatnya tes ketiga,” ujarku.

“Berarti tes kedua tadi aku sukses?” tanyanya senang.

“Tentu saja, Chagi,” jawabku sambil mengecup pipinya. “Sekarang tes ketiga,” aku berkata sambil memerah otak, “ini tes terakhir.”

Heehyo menanti dengan antusiasme.

Dan pikiranku benar-benar buntu. Aku tidak tahu langkah selanjutnya untuk tetap menempatkan tes ini di zona keseruan itu apa.

“Apa, Oppa?” tanyanya lantang.

Baru aku membuka mulut, Heehyo sudah bertanya lagi, “Apa masih ada kesempatan bagiku untuk mengulang tes pertama?”

-Heehyo’s POV-

Aku bertanya apa aku boleh mengulang tes pertama. Siapa tahu Heechul Oppa bisa seperti guru di sekolah, memberiku ujian perbaikan nilai.

Mata Heechul Oppa membeliak sejenak. Kemudian ia tercengir. “Boleh, Chagi. Gunakan kreatifitasmu,” sambut Oppa. Wajahnya nampak cerah meski penerangan di lorong itu remang-remang.

Aku lantas berpikir, mengingat di awal tes pertama tadi apa yang telah Oppa tunjukkan. Dan aku ingat. Pun aku menunduk, mengamati miliknya yang masih di luar celana dalamnya. Sepertinya dia terjepit. Mungkin aku harus membebaskannya. Maka aku menunduk, duduk di lantai dengan bertumpu di lutut, mencoba menyentuh kancing celana jeansnya.

“Ya, benar, Chagi!” seru Heechul Oppa.

Aku sampai kaget lantas mendongak padanya. “Aku benar? Oke!” seruku sambil membukakan kancing celana jeans tersebut.

Setelah kancingnya terbuka, aku pun berdiri lagi. “Bagaimana? Aku lolos tes perbaikan ini?” tanyaku riang.

Heechul Oppa yang memasang wajah bengong karena aku berdiri lagi, setelah mendengar pertanyaanku langsung memutar bola matanya.

“Kenapa?” tanyaku.

-Heechul’s POV-

Hish. Apa-apaan. Hatiku sudah melayang karena berpikiran dia mau melakukan oral. Ternyata dia hanya mau membukakan kancing.

“Aku pintar bukan, Oppa?” gelak Heehyo. “Kau terjepit, jadi kulepas kancingmu, supaya tidak terjepit ritsleting. Kenapa aku tidak terpikir ini tadi ya? Memang butuh agak lama bagiku untuk berkreatif ria,” ia terus mencerocos. “Sekarang aku sudah lolos tes pertama, tes ketiga apa?”

Ck. Aku mendecakkan lidah. Susah memang gadis satu ini—tidak pintar tapi sok. Hah, aku jadi teringat si Eunhyuk. Otaknya benar-benar sama. Apa selama ini aku salah memacari orang? Jangan-jangan yang kupacari itu si Eunhyuk yang sudah operasi transgender.

Meski itu hanya gerutuan penuh imajinasi dalam hatiku, mataku pun akhirnya mengarah ke tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup apa-apa, secara refleks memastikan. Dan tidak, dia perempuan, bukan transgender yang tadi pikiran ngawurku tuduhkan.

Tubuhnya elok sempurna. Oh.

Oppa?”

Pikiranku terkontaminasi sekarang. Aku merasakan percikannya.

Sepertinya akan tiba juga rangsangan itu. Aku sudah menunggunya sejak tadi. Mengapa baru muncul ya? Apa karena aku baru melihat torso atas Heehyo yang menggiurkan itu?

Nampaknya tidak, aku sejak tadi sudah melihatnya, malah sudah menempelkan kepalaku di sana. Seharusnya sejak tadi muncul bukan? Lalu kenapa?

Ah, tapi bisa saja, aku baru sadar akan kemolekan tubuhnya. Mungkin harus dilanjutkan agar lebih jelas penyebabnya.

“Buka celana jeans-mu,” pintaku.

Heehyo pun membuka kancing jeans-nya, melepas ritsletingnya, dan menurunkannya dari kakinya. “Sudah, Oppa,” ucapnya saat jeans-nya terluput dari tubuhnya.

Dan, ya, ada yang memanas dalam ailran darahku karena menyimak aksinya. Darah yang tersirap itu sudah biasa, tapi yang memanas, itu hebat.

Oppa,” kata Heehyo sambil melirik ke bawah, “mengapa punyamu jadi menegak begitu?”

Aku mengikuti arah tatapannya, melihat ke bawahku.  Ah, milikku sudah berubah gaya.

“Apa karena aku sudah membukakan kancingmu Oppa?” tanya Heehyo.

Aku berkerut kening. Mana mungkin cuma gara-gara itu. Jelas itu tidak berpengaruh. Tapi boleh juga dicoba untuk dijadikan alasan. “Nampaknya begitu, Chagi. Maukah kau melakukannya lebih-lebih lagi?” aku meminta.

Heehyo kemudian menaikkan alis dan mengangguk. Ia segera merunduk. Dia bertanya sambil bergerak turun, “Apa aku harus membuka celanamu?”

“Boleh,” jawabku sambil memperhatikannya, dan, kembali, mataku tak lepas dari tubuhnya. Nampaknya memang karena pemandangan itu aku bangun. Mungkin karena aku baru sadar akan keindahannya.

Heehyo sekarang telah menurunkan seluruh bawahanku, jeans dan celana dalamku. Dan penglihatanku terus tertuju ke sana—ke tubuhnya. Ketika kedua tangannya bergerak meluputkan celanaku, hal itu semakin menyenangkan untuk dilihat. Aku sudah tidak tahan lagi.

-Heehyo’s POV-

Setelah membukakan celana Heechul Oppa, aku mulai merasakan dingin menusuk. Udara dingin bekas hujan mulai menelusup ke tulang di balik daging tebal tubuhku. Aku mulai menggigil.

Aku memutuskan untuk terus berjongkok, meringkuk menahan dingin, kemudian bertanya sambil menengadah. “Kita mau apa lagi, Oppa?” tanyaku. “Tes ketiganya—”

“Berbaringlah,” Heechul Oppa memotong.

“Untuk apa?” tanyaku. “Dingin kalau harus berbaring di—”

Aku tersentak. Tubuhku menghentak lantai koridor gelap itu. Kekagetan dan kegulitaan yang kudapatkan membuat mataku samar.

Saat seperti itu aku merasakan tubuhku mendapatkan beban. Apa? Ah, Heechul Oppa menindihku.

Oppa, apa yang kaulakukan?” aku bertanya, meski aku tahu, sekarang dia tengah menciumi dadaku. Dan dengan buru-buru.

Rasanya menggelikan. Organ tubuhku mau meledak. “Oppa!” pekikku.

Heechul Oppa mendongakkan kepalanya. “Ini tes ketiga,” ia merespon.

-Heechul’s POV-

Baru saja aku bilang kalau ini tes ketiga. Sebetulnya itu hanya modus operandi, itu hanya trik untuk membuatnya mau.

Benar saja. Heehyo diam, bahkan terkesan memberanikan diri untuk menghadapiku di saat aku menggarapnya. Kami tanpa busana sekarang. Dan entah mengapa cuaca dingin sudah tidak terasa.

Aku terus mencium tiap lekuk tubuhnya. Dan seperti biasa, seperti yang kulakukan selama ini, aku yang memegang kendali.

Agaknya Heehyo menyukainya. Dia mulai mendesah keras.

-Heehyo’s POV-

Aku tahu ini yang dibicarakan oleh teman-teman perempuanku. Ini hal intim yang mereka lakukan dengan pacar-pacar mereka yang membuatku iri. Seperti, yang paling gres, yang diceritakan oleh Minrin mengenai aksinya dan Ryeowook beberapa hari lalu. Dan ternyata rasanya menyenangkan.

Kurasa aku menyukai ini. Aku mungkin akan memintanya sekali lagi.

Heechul Oppa mulai bergerak liar, menekan kejantanannya pada kewanitaanku, memompanya agar masuk. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana, dari mana munculnya desahan-desahan lantam yang kukeluarkan dari mulutku.

Aku penasaran bagaimana rasanya. Beberapa temanku bilang pertama kali dimasuki itu sakit. Sekarang Heechul Oppa sedang mencoba memasukiku . Apa akan sakit juga?

Oppa, apa akan sakit?” tanyaku dengan suara serak—karena terlalu banyak mendesah kencang.

“Apanya, Chagi?” tanyanya lembut.

“Masuknya itu—kau tahu, masuk itu…”

“Penetrasi?” Heechul Oppa mengucapkan secara terang-terangan.

Aku mengangguk, mengiyakan.

“Sudah terjadi, Chagi,” jawab Heechul Oppa, “aku sudah memasukimu.”

“Oh,” aku berujar, “sudah. Pantas rasanya aneh. Seperti penuh.”

“Apakah kau menyukainya?” tanyanya dengan intonasi dimanis-maniskan.

“Sepertinya,” aku menjawab dengan kerutan kening.

“Kenapa berkerut kening, Chagi?”

“Tidak,” aku menggeleng, “hanya saja, aneh, kenapa aku tidak merasa sakit, ya? Padahal ini kan pertamaku.”

“Tidak sakit?” tanya Heechul Oppa sembari membelalak. “Benarkah?”

Aku mengangguk.

“Kalau begini?” tanyanya sembari menarik bagian tubuhnya itu agak keluar. Dan aku mulai merasakan perih di bagian sebelah dalam paha.

Sepertinya karena aku mengaduh perih, Heechul Oppa bertanya, “Baru sekarang terasanya?”

“Ya,” jawabku sambil meringis.

“Kalau begitu lebih bagus tidak dilepaskan. Biarkan saja di dalam, ya?” Heechul Oppa memastikan.

“Apa sajalah,” aku membalas, “yang penting tidak sakit.”

Heechul Oppa tersenyum dan senyumnya menyiratkan sesuatu. Ia mulai bergerak naik turun. Aku mengerut dahi, merasai. Dan, benar, tidak sakit—selama masih di dalam.

Beberapa saat kemudian pun, aku telah mengikuti irama naik turunnya gerakan Heechul Oppa. Pinggul kami sesekali berjauhan lantas bertumbukan, makin lama makin cepat. Hingga aku merasa seperti sedang menaiki mobil balap yang dipasangi nitro, cepat dan memacu adrenalin. Dan ketika sampai di garis akhir, aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Sama seperti sekarang. Setelah beberapa kali gerakan naik turun dengan cepat, aku menggapai kelegaan itu.

Nampaknya pun Heechul Oppa juga merasakan hal yang sama. Kami berhenti bergerak cepat karena telah mencapainya. Dia tertidur di atas tubuhku. Kami diam, terengah-engah dan berkeringat.

“Itu yang namanya klimaks!” pekik Heechul Oppa.

Ah, ternyata itu yang dimaksud dengan kelegaan yang kurasakan tadi; namanya klimaks.

“Tes terakhir sudah berakhir, Oppa?” tanyaku.

“Ya, Chagi,” balasnya lunak, “dan kau lolos.”

Aku tertawa bangga, sesuai perasaanku sendiri. Heechul Oppa pun ikut terpingkal. Mendadak aku teringat sesuatu, yang kini masih kurasakan, dan bergegas menanyakannya, “Oh ya, Oppa, tadi cairan apa yang kau keluarkan di dalam—“

“Ssstt…” Heechul Oppa menutup mulutku dengan tangannya.

Wajahku menunjukkan ekspresi penuh tanya kepadanya.

“Ada yang datang,” kata Heechul Oppa.

“Hah? Wah, bisa gawat ini,” aku berujar panik, “Ayo kita berpakaian!”

Oppa membekap mulutku, mengunci gerakanku. “Heran,” ia berbisik, “siapa yang datang malam-malam begini? Padahal tadi semua orang sudah kuatur agar pulang paling cepat pagi. Aku bahkan sudah men-SMS tiap member.”

“Hmph… hmph…” aku berkata, namun tidak menjadi kata apapun karena mulutku ditutup tangan.

“Diam, Chagi,” bisik Heechul Oppa, “kau tidak mendengar suara langkah kaki?”

Aku pun diam, mendengarkan.

Tok, tok, tok.

Benar, ada suara derap langkah. Aduh, bagaimana ini? Tertangkap basah saat seperti ini akan membuat seluruh kehancuran menghampiriku. Dan aku harus bagaimana? Apa Heechul Oppa harus kudorong?

Maka kudoronglah ia. Dan dia agak keberatan.

“Kenapa, Chagi?” tanya Heechul Oppa. “Kenapa mendorong—”

Aku menaruh jemariku di bibirnya.

Dan derap langkah itu semakin mendekat.

-Heechul’s POV-

Kalau pendatang itu salah satu member Super Junior, biar kuomeli dia. Ah, tapi Heehyo menutup mulutku segala. Bagaimana jika—

Tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka terdengar. Saat aku buncah mengapa ada bunyi pintu terbuka sedekat ini, terdengar musik kencang, mengejutkanku juga Heehyo. Terdengar pula setelah itu suara seseorang menyanyi, ‘Break a trick, Break a trick, Break a trick now…’

Seperti lagu.

Ya, benar, itu lagu!

Dan bersumber dari jaket Heehyo. Aku melihat ke arah lorong kemudian mengarah ke jaket itu dengan heboh.

Heehyo lantas terbahak. Sementara musik itu terus berbunyi keras, menguasai kesunyian lorong gelap kami.

Aku memandangnya, meminta penjelasan.

“Itu ringtone ponselku, Oppa,” tawa Heehyo. “Maaf, ya, aku sendiri juga lupa.”

Bibirku membersut marah.

“Aku baru ingat pada lagu Trick-nya TVXQ yang kujadikan ringtone ini memang ada bunyi langkah kakinya di awal-awal,” jelas Heehyo lagi.

Lidahku kudecakkan.

“Sudah, jangan marah. Biar kumatikan ponselnya,” ujar Heehyo kemudian. Tangannya mencoba meraih jaketnya. Ketika dapat, ia mengorek sakunya lalu menemukan ponselnya yang masih bernyanyi itu.

Ia lantas mematikan ponsel itu.

“Sudah, kan?” tanyanya.

“Ya,” jawabku, “kalau begitu, kita juga sudah.” Aku lantas bangkit, melepaskan diriku dari dalam dirinya. Aku mengambil pakaianku lagi dan berupaya memakainya.

Heehyo duduk. Kakinya terselonjor. “Kenapa sudah, Oppa?” tanyanya.

“Kita bersyukur tadi cuma ringtone. Kalau benar ada orang datang, bagaimana? Lagipula,” aku berkata, “kita harus segera ke ruang pengaturan dan pengawasan kamera CCTV dorm, kita harus menghapus keberadaan kita di rekaman itu. Satpam yang kubayar untuk pergi itu pasti lama-lama akan sadar kalau sebenarnya tidak ada yang menjaga ruang itu. Dan dia akan kembali.”

“Oke,” respon Heehyo. Dan gadis itu segera bangun, ikut memakai busana.

Setelah beres-beres dan menghilangkan jejak yang kami toreh dengan sapu tanganku, kami pun berjalan bersama menuju ruang khusus CCTV. Aku kemudian mendapat ide untuk menggamit pinggangnya. Heehyo terkejut saat dia menjadi dekat kembali kepadaku.

Lantas aku mencium pipinya.

“Kau lulus ujian, Chagi,” bisikku, agak dimesra-mesrakan.

-Heehyo’s POV-

Heechul Oppa mengisikiku. Dan itu membuat telingaku geli.

Meskipun demikian, aku senang. Aku senang kalau aku lolos. Berarti aku memang pemberani sejati. Aku tidak sabar untuk berbagi cerita pada teman-temanku nanti atas aksiku yang keren ini.

Dan ini berkat ide Heechul Oppa. Aku juga akan pamer pada teman-temanku kalau Heechul Oppa bisa juga kasar dan jantan seperti pria, namun dia juga bisa mengurusiku dengan lembut. Selama ini, mereka hanya melihat kemanjaan Heechul Oppa padaku, karena dia sedang memperlakukanku sebagai pacarnya.

Kurasa aku telah tepat memilih Heechul Oppa.

THE END

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 24/06/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 42 Comments.

  1. LoveObadori

    Ini ff nya yang pernah di publish di koreannc bukan ya?

  2. iya, pernah baca di knc deh…

  3. ini kan pernah d publish d Knc, tp gk tau authornya sma pa gk cz lp hehehe

  4. Yap q pernah bca… Hahahh

  5. linceeffendy

    krn ak jarang bc nc jd aku gk tw klo ni ud perna di publish di knc..
    Hehe.. 😀

  6. hahah fun ^^

  7. Wah heechul oppa bisa bgt deh….kerenn..
    Gak tau di knc sdh komen atau blum tapi…aku komen disini..
    Aku suka heechul oppa

    • makasih chinguuu~~
      hehe, kayaknya kamu udah komen juga di knc… tapi makasih banget udah komen di sini >.<

  8. Yap hehehh authornya jga ttp yg ni (y)

  9. Kya ya dlu aku pernah bca nc seprti in deh …

    • ne, chingu, ff ini pernah kita post di blog koreannc sebelumnya. 🙂
      mungkin kamu pernah baca di sana 😀

  10. Firly Kpopers

    oh ini ff prnh d post y.?
    gtw deh xD tp ff ini keren beda dr yg prnh aku baca 😉

  11. keren. bagus 🙂

  12. bagus sekali

  13. bagus gmw;)

  14. eh waw …. heechul oppa kocak jg yah..
    yeojanya jg polos bgt sumpah..
    ff yg tak terduga

  15. FikaUnyuIstriKyu

    Gmana yah, polos bgt heehyo nya, :p keren bgt deh pnjabarannya, 😉

  16. So sweet bgt eon ff nya。。 🙂

  17. omo!!!
    tantangannya yadongan dibawah CCTV?!
    Heenim kau benar-benar yadong…
    ketularan hyukkie oppa yah?!
    jangan-jangan ntar buat tantangan yadongan di depan lee soo man ahjusshi…
    oh andwaeeeee…
    soo man ahjusshi ntar ikutan horny lagi…
    hahaha…
    ffnya keren thor…
    ide ceritanya unik…
    keep writing thor 🙂

    • Hahahahaha.
      Heenim mungkin bukan seyadong Hyukkie, tapi nekat dan iseng abis.
      ha? Di depan soo man? #pingsan#
      Hahaha
      btw, Gomawo udah baca dan komen, chingu~
      😉

  18. ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ ) dasar#:-s…

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: