Lychee Dear (SungChun Couple)

yoochun ff nc yadong dbsk

1. Author: N/M

2. Title: Lychee Dear (SungChun Couple)

3. Type: Straight, Romance, NC 21

4. Casts: Park Yoochun (DBSK), Min Sung Hyo (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… We’re back again. Kali ini kita mau mempersembahkan FF Yoochun.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya ^^

_____

Yoochun memarkir Cadillac Deville tahun 1972 miliknya di tempat parkir outdoor hotel itu. Langit sore di Fairfax, Virginia itu sudah mendung, tetapi, Yoochun tetap mendesak agar atap Cadillac-nya dibuka—meskipun Sunghyo sudah melarang karena bisa saja tiba-tiba hujan turun. Kedua sejoli itu pun berangin-anginan sepanjang perjalanan dari rumah ibu Yoochun ke hotel di Fairfax.

Yoochun mencerling Sunghyo yang tengah membenarkan rok hitam putihnya. “Kenapa?”

Sunghyo menghela napas. “Aku gugup.”

Yoochun tertawa. “Lalu bagaimana? Mau besok saja?”

“Ta-tapi, bagaimana? Bukannya kau cuma bisa libur hari ini? Susah ‘kan meminta DBSK libur?” Sunghyo bertanya banyak-banyak dengan panik.

Yoochun tersimpul. Ia ingat, grup vokal dimana ia terlingkup di dalamnya, DBSK, memang supersibuk. Ia sebagai vokalis yang menduduki posisi nada bass hanya diberikan libur hari ini. Dan itu dimanfaatkannya untuk mempertemukan Sunghyo dengan ibu dan ayahnya.

“Tadi sebelum bertemu Ibu, kau juga gugup,” kata Yoochun.

“Ya. Untung ibumu ramah sekali. Aku suka pada beliau,” Sunghyo melihat Yoochun, “memang kenapa dengan kegugupanku?”

“Tidak, hanya saja—aku senang melihatnya,” senyum Yoochun.

“Lalu aku harus gugup setiap saat, begitu? Supaya kau senang terus?”

“Bukannya memang sudah begitu?” Yoochun mengeraskan tawanya. Lebih-lebih, saat Sunghyo cemberut karena perkataannya itu. Ia melihat tangan Sunghyo yang memainkan kertas warna-warni yang membungkus bingkisan besar yang diperuntukan untuk ayahnya Yoochun. Mereka membelinya di toko kue dekat rumah sang ibu, Sunghyo yang memilihkan kuenya.

“Kira-kira ayahmu akan suka tidak, ya?”

“Tentu saja, kau menawan. Jika aku jadi dia, aku akan langsung menyukaimu begitu melihat pertama kali,” jawab Yoochun.

“Bukan aku, kuenya. Lagipula, sudahlah, jangan meledek. Hanya karena aku terus mengeluh memakai baju atasan semacam ini, yang tipis dan warnanya putih, maka kau terus-menerus meledekku menawan segal—

Hujan mendadak turun dengan volume cukup besar. Pasangan ini panik dan Yoochun buru-buru menekan tombol pengaktif penutup atap Cadillac-nya. Kendati demikian, dasar mobil tua, penutupnya macet. Dan hujan yang makin deras terus mengguyur keduanya.

Yoochun sibuk mencari payung di bagasi. Ia menemukannya. Pun ia kembali ke bangku depan dimana Sunghyo sudah menggigil kedinginan.

Ia segera membuka pintu Sunghyo. “Ayo, dear, kita masuk ke dalam.”

Sunghyo yang masih memeluk kotak kue itu mendongak. “Hah?”

“Mari ikut,” Yoochun menarik tangan Sunghyo, “nanti kau bisa sakit.”

Sunghyo melangkah turun, agak terselip sedikit sehingga Yoochun harus menangkapnya. Ia melihat kotak kuenya dengan sedih. Pasti hancur, batinnya, padahal belinya kan mahal.

Yoochun menggamit lengan Sunghyo agar segera memasuki lobi. Dengan bermodal payung, mereka bebas dari hujan deras sementara waktu.

“Ya ampun, Yoochun. Aku tidak mau masuk. Semua melihat kita,” Sunghyo celingak-celinguk takut, mendapati orang-orang di dalam lobi hotel, “hanya kita saja yang basah kuyup.”

Yoochun tersenyum lebar, menampilkan lesung pipitnya, memanaskan Sunghyo yang sebenarnya kedinginan. “Lalu kita mau di sini saja?” tanyanya pada Sunghyo yang sedang mengamati rambut terbaru Yoochun yang pendek pirang itu menjadi lepek.

Sunghyo mengigit bibir, ragu. Dia tidak melihat Yoochun, senyam-senyum memperhatikannya.

“Yoochun!” panggil seseorang.

Keduanya menoleh.

Sunghyo melihat seorang pria setengah baya yang berpakaian formal.

Wajahnya tidak terlalu beda dengan Yoochun; sama-sama bermata sipit, berhidung mancung, berbibir cukup tebal dan berkulit putih. Hanya saja pria itu kelihatan lebih tua.

“Ayah,” panggil Yoochun seraya sedikit membungkuk hormat.

“Ah, Ayah rupanya…” Sunghyo menggumam, masih terus mengamati ayahnya Yoochun dengan mata besar polosnya.

“Kalian sudah datang rupanya,” ujar ayah Yoochun dengan senyuman yang diarahkan pada Sunghyo.

“Ya, kenalkan, Ayah, ini Sunghyo,” Yoochun mengenalkan.

“Siapamu?”

“Ya?”

“Sunghyo ini—siapamu?”

Yoochun membuka mulut, namun tak mengeluarkan jawaban apapun—sama seperti ketika sang ibu bertanya padanya tadi. Entah itu gugup atau apa, yang jelas, Sunghyo tidak suka melihatnya. Kenapa ia sulit sekali mengenalkan predikatku? Apa sebenarnya dia tidak menganggapku pacar? Sunghyo bergejolak dalam pemikirannya sendiri.

“Ya sudahlah, kita bicarakan nanti saja,” kata sang ayah, “kalian ke laundry hotel saja untuk mengeringkan baju kalian.”

Sunghyo bengong. Ia kemudian berbisik pada Yoochun, “Saat di-laundry, nanti kita pakai baju apa?”

Sayangnya, bisikannya terdengar oleh ayahnya, “Kalian bisa menghabiskan waktu di kamar hotel. Biar aku check-in-kan satu kamar, O.K.?”

Yoochun menatap Sunghyo, meminta persetujuan. Sunghyo diam. Ia pikir, tidak akan apa-apa, selama ada Yoochun, tidak akan ada apa-apa. Anggukan ia lancarkan. Dan mereka bertiga mendekati resepsionis.

***

Sunghyo keluar dari kamar mandi kamar 351, kamar mereka berdua, ketika Yoochun sudah duduk di sofa, menonton TV. Mereka seragam, ya, sama-sama memakai piyama mandi. Laundry mungkin hanya butuh waktu satu jam. Maka dari itu, Sunghyo mau saja menunggu dengan piyama mandi dan check-in di satu kamar dengan Yoochun. Ia meyakinkan dirinya sendiri terus menerus, kalau tidak akan ada apa-apa. Sejam akan berlalu begitu cepat karena mereka berdua keasyikan mengobrol soal film dan musik terbaru seperti biasanya.

“Apa kau mandi, dear?” tanya Yoochun.

“Tentu saja, kalau tidak, bisa sakit.”

Yoochun sumringah. “Kau lapar?”

Sunghyo mendadak murung, merasai perut keroncongannya semenjak mandi tadi. Ia mengangguk berkali-kali, menegaskan kelaparannya. Kue, ia teringat kue. Ia meletakkannya di meja dekat tempat tidur tadi sebelum ke kamar mandi. Ia menengok ke arah situ. Kotak kuenya lenyap.

“Kuenya mana?” tanya Sunghyo.

“Kuenya sudah kuberikan Ayah. Katamu tadi itu untuknya?”

“Memang. Tapi ‘kan sudah hancur karena hujan…” ujar Sunghyo tak terima, “Kenapa tak kau tanyakan dulu padaku?” Sunghyo memang langsung masuk kamar mandi begitu masuk kamar, untuk mandi dan bertukar piyama mandi. Sementara, Yoochun menukar dengan piyama mandi di luar.

“Tidak apa-apa. Ayah suka hadiah, apa lagi dari orang kesukaannya. Bagaimanapun bentuknya. Lagipula, sesuai dugaanku, dia sudah suka padamu sejak melihat pertama kali,” sahut Yoochun. “Nanti, setelah pakaian kita kering, dia mau ajak kita makan malam.”

Sunghyo baru akan angkat bicara saat ketukan pintu terdengar.

“Ah, itu mungkin orang laundry. Mana bajumu, dear?” Yoochun mengerling pintu.

Sunghyo menyerahkan busananya, sekaligus pakaian dalamnya yang juga lepek kepada Yoochun. Yoochun menyatukan baju Sunghyo dengan bajunya di kantung plastik. Ia membuka pintu, menemukan petugas laundry sekaligus roomboy yang membawa kereta makan.

“Ah, kami tidak pesan—

“Ini pemberian langsung dari Tn. Park yang ada di kamar 135,” sela roomboy tersebut.

“Silakan, bajunya, Tuan,” pinta petugas laundry ketika roomboy itu mendorong kereta makanannya masuk ke kamar.

Yoochun tersadar dan memberikan kantung plastik yang ia genggam sejak tadi.

“Kira-kira berapa lama laundry-nya?” tanya Sunghyo pada petugas laundry.

“Paling lama satu jam,”  jawab petugas itu.

Sunghyo sedikit lega begitu mendengar itu. Ia mengalihkan muka ke Yoochun yang sedang senyam-senyum melihat kartu ucapan di kereta makan itu. “Ada apa?” Sunghyo mendekat.

“Ayah. Dia menulis ‘sedikit cemilan, biar tak bosan’,” jawab Yoochun.

Sunghyo nyengir. “Padahal tak usah juga tak apa.”

“Kami permisi dulu, Tuan dan Nyonya Park,” ujar roomboy itu.

Sunghyo masih terkejut karena dipanggil Nyonya Park ketika pintu itu ditutup. Dia, bisa dibilang, belum dapat menyandang sebutan itu. Dan kini ia sadar, hanya tinggal dia dan Yoochun.

Mendadak suasana hening.

“Apa makanannya?” tanya Sunghyo, berpura-pura antusias.

“Hanya snack-snack. Keripik kentang. Ada cocktail juga. Dasar Ayah.”

Cocktail itu—beralkohol ‘kan?” Sunghyo bertanya takut-takut.

Yoochun memandang Sunghyo lurus. “Kenapa? Kau takut aku mabuk?” Yoochun terbahak seketika.

“Tidak,” jawab Sunghyo, “aku takut aku yang mabuk.”

“Memangnya kenapa kalau kau mabuk? Kau akan menyerangku?” senyum gurauan tampil di wajah Yoochun.

“Ada lecinya!” seru Sunghyo. Ia tak terlalu mengindahkan ucapan Yoochun barusan. Yoochun tersenyum, ia kenal, Sunghyo memang mudah teralih fokusnya.

“Leci apa?” tanya Yoochun.

“Entah apa namanya ini. Pokoknya ini setumpuk leci. Yey!” Sunghyo mengangkat semangkuk buah bulat bening kecil-kecil itu. “Ayo kita makan!”

Yoochun mengangguk dengan gaya sok cool, melengkungkan bibir ke bawah, mengangkat bahu.

“Jangan sok asik begitu, ah,” omel Sunghyo.

Yoochun kemudian tercengang, bermuka tak paham kenapa dia malah diomeli.

“Jangan Chun-face begitu juga,” Sunghyo mengomel lagi. Gadis tinggi kurus berambut lurus sebahu itu membawa semangkuk leci itu ke sofa.

Yoochun segera duduk di sebelahnya. “Memang seenak apa leci sampai kau senang sekali menemukannya?” tanya Yoochun sembari mengambil satu buah.

“Leci itu manis,” jawab Sunghyo.

“Banyak buah lain yang juga manis,” sanggah Yoochun.

“Tapi aku paling suka leci,” Sunghyo menjawab penuh suka cita. “Dan bagiku, manisnya leci berbeda dari buah-buahan yang lain.”

Yoochun mengunyah satu buah leci lagi. “Pilih aku atau leci?”

“Eh?” Sunghyo mendongak, bengong.

Yoochun terkikik geli. Sunghyo menatapnya dengan air muka yang seakan bertanya ‘kenapa?’. Memahami ekspresi penuh tanya Sunghyo, Yoochun menjawabnya, “Aku paling suka melihatmu kebingungan atau gugup. Cantik sekali.”

Sunghyo mencibir. “Jangan mengejek.”

Namun Yoochun mengabaikan. “Atau kita harus buat istilah juga, istilah atas wajah bingungmu? Sung-face?”

“Jangan konyol.”

“Sung-face bagus.”

Shoot-face saja sekalian.”

“Hahaha. Pronounciation-mu bagus.”

“Oh, tentu saja. Aku kan belajar darimu, Tuan Amerika,” ujar Sunghyo sambil meraba-raba bagian dalam mangkuk, mencoba mengambil leci, tapi ia tiba-tiba bermuka syok. Ia menengok ke mangkuk, Yoochun pun ikutan.

Leci yang tersisa di mangkuk tinggal satu!

“Kau tahu, dear? Kau benar, leci enak,” ucap Yoochun. Pandangannya mengisyaratkan aura kompetisi. Tangannya sudah memegangI mangkuk.

“Jadi?” Sunghyo tak kalah kompetitifnya. Matanya juga menunjukkan itu.

“Jadi aku mau leci terakhir ini,” kata Yoochun.

“Maaf, tapi aku duluan.”

“Duluan apa?”

“Duluan yang sadar kalau leci seenak itu.”

Yoochun terpingkal, membuat Sunghyo berkerut kening. Ia terus seperti itu sehingga, tanpa sadar, Sunghyo lengah karena terus mencermatinya. Saat itulah, Yoochun mengambil leci yang tersisa tersebut. Sunghyo memekik, tak percaya.

Dan saat Yoochun mau memasukan leci itu ke dalam mulutnya, Sunghyo mengambilnya lagi, tergesa-gesa ingin memakannya. Semua dalam gerakan cepat. Bahkan ketika Yoochun menggagalkan usaha Sunghyo memakannya dengan menggenggami tangan Sunghyo. Karena kaget, otomatis, pegangan Sunghyo terhadap buah itu melemah. Alhasil, leci itu jatuh dan masuk ke dalam piyama mandinya. Sunghyo bengong, namun tidak begitu dengan Yoochun. Pemuda ini, entah diburu apa, malah menyibak piyama mandi Sunghyo sehingga tubuh gadis itu tersingkap.

Keduanya membisu. Leci itu menggelinding di tubuh bagian depan Sunghyo lalu jatuh ke sofa.

Dan seolah-olah jatuhnya leci itu membahana seperti jatuhnya sebuah beton, Sunghyo terkesiap dan buru-buru menutup kembali piyama mandinya.

-Sunghyo’s POV-

A-apa yang—

Ya ampun. Mati saja aku. Rasanya mau injak-injak kepalaku sendiri.

Memalukaaaann…. Sungguh memalukan. Yoochun telah melihat tubuhku. Sekarang bagaimana? Kabur ke kamar mandi? Tapi percuma saja. Nanti aku akan makan malam dan pulang bersama dia lagi. Tapi mau ditaruh dimana mukaku? Ini sangat memalukan, hanya karena sebuah leci jadi mengarah ke hal seperti ini. Mendadak aku jadi tidak suka leciiiii….. Tidak, salah, mendadak aku jadi benci keputusanku sendiri—mengapa mau sekamar dengannya? Mengapa duduk di sofa dengannya? Mengapa berebutan leci satu buah saja dengannya? Aku bodoh.

-Yoochun’s POV-

Astaga. Aku melihatnya, kemolekan tubuhnya. Bukan berarti yang paling ‘wah’. Aku pernah melihat yang lebih. Hanya saja, mengapa sekarang tubuhku memanas? Sunghyo memang tidak pernah sekalipun mengekspos tubuhnya. Dia selalu berbusana casual—kaos gombrong dan celana jeans. Hari ini dia memang sedikit berbeda. Dan atasan transparannya tadi itu bahkan membuatku dag-dig-dug hanya karena duduk di sebelahnya saja. Lebih-lebih, rok megarnya. Lebih-lebih, ketika kuyup tadi, mataku tak bisa lepas darinya. Terlebih lagi, aku melihatnya langsung beberapa detik lalu! Baru saja!

Biasanya otakku tak sekotor ini. Biasanya aku yang dibimbing. Beginilah kali pertama berpacaran dengan yang lebih muda, biasanya aku selalu terlibat dengan wanita yang lebih tua. Jika aku bersama mantan-mantan pacarku, para noona itu, jika sudah dalam keadaan begini, mereka pasti langsung melompat menciumku, melumat bibirku. Tapi sekarang? Aku harus berhadapan dengan Sunghyo, gadis yang empat tahun lebih muda, yang mukanya merah dan terus menunduk. Aku harus apa? Apakah aku harus bertindak? Ya ampun, kenapa dia jadi menggemaskan sekali saat tersipu-sipu begitu? Aku harus menahan hasratku untuk memeluknya.

-Sunghyo’s POV-

Kenapa Yoochun diam saja? Paling tidak bicaralah sesuatu, supaya bisa kembali mengobrol dan kecelakaan barusan bisa berlalu begitu saja. Atau jangan-jangan dia sedang muak? Tubuhku pasti tidak enak dilihat. Hal ini akan menjadi hal yang luar biasa memalukan bagiku; akupun rugi karena telah dilihat.

“Ma-maaf, Sunghyo,” ucapnya.

Nah, benar saja. Dia sudah minta maaf. Sebentar lagi dia pasti muntah.

-Yoochun’s POV-

“Ma-maaf, Sunghyo,” ucapku.

Lho? Mengapa itu yang kuucapkan? Aku sudah tidak dapat berpikir. Aku tidak boeh membiarkan keadaannya secanggung ini. Aku harus bertindak sesuatu. Tapi apa?

Lagipula, apa yang ia pikirkan terhadapku? Memikirkannya saja sudah membuat perutku menggelembung dan mengempis berulang-ulang.

-Sunghyo’s POV-

Kenapa dia diam lagi? Ya ampun, bicaralah.

-Yoochun’s POV-

Sial, aku harus bagaimana? Terus begini sampai petugas laundry datang? Tidak! Itu bukan aku. Aku bukan rekan-rekan DBSK yang lain, seperti Junsu yang sok mengerti tapi kadang tidak tahu apa-apa atau Changmin yang tidak bisa memperlakukan wanita dengan cara normal. Mereka bilang aku Cassanova, ‘kan? Meski sebutan itu terdengar konyol bagiku, sih. Tapi aku harus memanfaatkan ini, aku tidak mau menyesal. Lagipula dorongan dari dalam diriku sudah tidak bisa terbendung lagi. Kudekati Sunghyo. Segera, kudekap dia.

“Maafkan aku, ya,” ucapku, kali ini di dekat telinganya.

Tubuhnya harum, efek dia baru saja mandi.

Ah, apa yang kupikirkan? Aku betul-betul ingin menciuminya. Dia diam, bergeming. Inikah tanda aku harus berbuat semakin jauh? Sepertinya, ya. Maka, aku mencium lehernya sekarang.

-Sunghyo’s POV-

Yoochun tiba-tiba memelukku. Tentu saja bola mataku menjegil, rasanya mau keluar. Aku kaget, pastinya.

Dia membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tidak mendengarnya, aku tidak fokus. Terlalu terkejut. Pun tubuhku mendadak kaku.

Dia masih memelukku lalu—ah, dia mencium leherku.

Aku lemas.

-Yoochun’s POV-

Sunghyo diam saja. Itu membuatku ketagihan berbuat lebih. Aku terus menciumi lehernya. Kulirik sekilas dia. Matanya kosong, tidak menunjukkan apa-apa. Apa dia tidak suka?

-Sunghyo’s POV-

Ini apa? Yoochun tak pernah melakukan hal seperti ini. Tak ada yang pernah melakukan hal seperti ini padaku. Yoochun pacar pertamaku dan hal terjauh yang kami lakukan hanyalah berciuman, itu pun bukan French kiss. Lalu ini apa? Kenapa aku bergejolak karenanya?

-Yoochun’s POV-

Tubuh Sunghyo yang menjadi kaku memang mengganggu pikiranku. Jangan-jangan dia tak suka dengan tindakanku. Tapi Sunghyo yang kukenal akan segera menolak jika tidak suka. Jika tidak bicara langsung, paling tidak lewat ekspresi. Dan aku ahli membaca hati dari ekspresi seseorang. Aku tahu ketika empat rekanku sedang dirundung masalah. Aku tahu jika ibu dan adikku sedih. Aku tahu kalau Sunghyo tidak suka perbuatanku.

Tapi bagaimana dengan pandangan kosong?

Apakah dia sedang bergairah—sepertiku? Bisa jadi. Dan tak ada salahnya membuktikan.

Ciumanku sudah mendarat ke leher bagian depan, terus menurun hingga kubuka piyama mandinya.

-Author’s POV-

Sunghyo terkinjat, agak menarik diri, saat Yoochun mulai menciumi payudaranya. Dia bermuka takut ketika Yoochun sudah mulai memakai lidah, pelan-pelan menjilati perutnya. Lalu ketika kepala Yoochun sampai ke bawah, Sunghyo ketakutan sekali sampai-sampai menahan pahanya agar tidak terkangkang mengikuti kedua tangan Yoochun yang sudah mencoba untuk membukanya.

Namun, Sunghyo tidak mengatakan apa-apa. Tidak melarang. Tidak mengomando. Diam seribu bahasa.

Yoochun mencoba untuk mengangkangkan kedua paha Sunghyo sekali lagi dan agak memaksakan agar kepalanya bisa terapit di antaranya.

“Yoo—Yoochun…” panggil Sunghyo sengau.

-Yoochun’s POV-

“Yoo—Yoochun…” Sunghyo memanggilku.

Suaranya agak serak, mungkin karena terlalu lama menahan mulutnya agar tetap tertutup. Dia mulai terangsang. Akhirnya.

Aku terus memainkan miliknya, menghisapnya, menjilatinya. Sekilas kulirik tangannya yang meremas pegangan dan sandaran sofa.

Kupikir ini saatnya. Kukerahkan tanganku untuk naik, meremasi kedua payudaranya.

Tapi, tak terdengar juga desahannya. Dia pasti mati-matian menahannya.

-Sunghyo’s POV-

Maluuuu…..

Aku ingin berteriak. Geli, ngilu, sakit. Ya, sakit. Kadang Yoochun menggigit pelan bibir milikku. Tapi aku menahannya. Aku tak mau membuat suara berisik. Sekarang aku harus apa? Aku merasa aku seperti akan dimakan olehnya. Bibirnya menjelajah hampir ke seluruh tubuhku. Dan tangannya meraba kemana-mana. Semua dalam tempo yang sama; lambat-lambat. Perbuatannya itu membuatku merasa melayang. Kesadaranku mulai berkurang. Bahkan ketika piyama mandiku diluputkan dari badanku. Begitu juga ketika ia melepaskan miliknya. Aku jadi melihat tubuhnya yang kurus, dengan dada yang bidang. Sepintas aku melihat beberapa tato di tubuhnya, sebelum kemudian dia mengarahkan tanganku ke miliknya. Bagian tubuh yang penting bagi laki-laki punyanya itu telah menegang dan makin mengeras ketika jemariku mendarat di sana. Baru kali ini aku memegang bagian sensitif laki-laki dan mukaku rasanya seperti didekatkan ke api; panas sekali.

Anehnya, mengapa aku tidak keberatan? Mengapa aku mau saja? Apalagi pada saat jemariku digerakkan untuk meremas miliknya. Aku tak mau melihat muka Yoochun. Terlalu malu.

Desahan Yochun mulai terdengar. Semakin malulah aku.

-Yoochun’s POV-

Oh my God. Wajah Sunghyo merah sekali. Jari-jari lentiknya kini kugerakkan untuk mengelus dan meremas milikku. Ia terus menunduk. Mungkin dia takut atau malu. Gadis ini pasti benar-benar baru melakukan ini. Mungkin aku harus menenangkannya sedikit. Pun, aku mencondongkan tubuhku, mendekatinya. Bibirku menyapu lembut bibir terbelahnya. Dia memejamkan mata tapi menyambut ciumanku. Kami sudah pernah berciuman, namun belum pernah memakai lidah. Ini saatnya. Aku mulai mengeluarkan lidahku, mengorek rongga mulutnya.

-Author’s POV-

Sunghyo dan Yoochun mulai ber-french kiss dengan tangan-tangan mereka yang aktif meremas tubuh lawan main masing-masing. Sunghyo sudah sedikit terhanyut dan mulai terbiasa memainkan milik Yoochun. Sementara kedua tangan Yoochun aktif mengelus milik Sunghyo dan meremas payudaranya. Kini ciuman mereka makin gila. Keduanya terus berciuman hebat hingga perlahan-lahan Yoochun merebahkan tubuh dan memanjangkan kaki Sunghyo sehingga posisinya sekarang: Sunghyo terbaring di sofa.

Mereka berpisah sebentar, mengambil napas. Yoochun tersenyum memabukan kepada Sunghyo, membuat Sunghyo memalingkan muka.

Yoochun mengelus pipi Sunghyo, masih dengan senyum, kemudian menindih Sunghyo pelan-pelan. Sunghyo merasa milik Yoochun yang dilekatkan ke miliknya bergerak-gerak. “Yoo—Yoochun…”

“Hm?” Yoochun tengah menciumi leher dan payudaranya lagi.

“Ap-apa…?”

Yoochun mengangkat tubuhnya, bertumpu pada sofa putih itu, seperti posisi push-up. “Ya, dear?”

Sunghyo baru mau melanjutkan pertanyaannya saat Yoochun menggesekkan naik-turun miliknya ke milik Sunghyo.

“Apa, dear?” tanya Yoochun lagi.

Mengurungkan niat, akhirnya itu yang Sunghyo lakukan. Ia malah diam, mau tak mau menikmati sensasi gesekan itu. Cukup lama. Hingga Sunghyo merasa ada gelombang sesuatu yang akan keluar dari miliknya. Tubuhnya pun bergetar. Lalu ia merasakan cairan kental keluar dari miliknya.

“I-itu..”

“Itu tanda.”

“Tanda apa?” tanya Sunghyo.

“Tandanya aku harus bertindak.” Yoochun mesam-mesem sambil mengarahkan miliknya yang tegang ke lubang milik Sunghyo yang telah licin. Pelan-pelan milik itu masuk dan pelan-pelan pula Sunghyo kesakitan.

Yoochun mengantisipasi Sunghyo yang mungkin akan menjerit dengan mencium bibirnya. Sunghyo merasa begitu kesakitan tiap inci milik Yoochun mengoyak lubang miliknya. Air matanya menetes, tak sengaja.

Mereka diam sejenak, beristirahat, sementara milik Yoochun telah tertancap sepenuhnya di milik Sunghyo.

Yoochun menopang tubuhnya dengan siku di sofa, memandang wajah Sunghyo. “Sakit?”

Sunghyo manggut-manggut dengan wajah muram.

Yoochun merasa ada yang salah. Mukanya mendadak serius. “Apa kita sudahi saja?”

“Bukannya sudah selesai?” Sunghyo bermuka heran.

“Belum, dear. Kau mau selesai saja?” tanya Yoochun dengan muka penuh perhatian.

Sunghyo mengangguk-angguk. Dia sudah tidak tahan dengan sesuatu yang mengganjal di miliknya. Maka, dengan sabar, Yoochun mencabut miliknya perlahan.

Segera, Sunghyo merasa kesakitan yang amat sangat.

-Yoochun’s POV-

Aku melihat tetesan darahnya menetes ke sofa. Aku betul-betul merasa bersalah. Aku telah memerawani gadis ini, ini pertama kali bagiku. Biasanya aku selalu bersua dengan wanita-wanita yang berpengalaman dalam seks. Dan aku hanya murid yang menurut.

Pelan-pelan kutarik milikku keluar. Aku mengelus rambut Sunghyo untuk menenangkannya. Kukecup lembut bibirnya, dia menyambutnya. Dan milikku benar-benar keluar sekarang.

-Sunghyo’s POV-

Tubuh bagian bawahku sudah bebas. Tapi entah mengapa, aku merasa bagian tubuh dari selangkangan ke bawah kebas. Yoochun baru saja ingin bangkit dari pembaringannya di sofa yang juga kutiduri. Tapi tubuhku serasa kehilangan. Entah kenapa, mungkin aku merasa hangat jika berdekatan dengannya, atau—atau sebenarnya aku memang menginginkan milikku terganjal lagi. Benarkah aku begitu? Tidak! Aku tidak begitu.

Akalku menidakbolehkan aku menginginkan itu! Ini tidak boleh! Ibuku melarang ini!

Tanganku menahan bahu Yoochun agar tidak menjauh. Dan lenganku mendekap tubuh Yoochun agar kami berdekatan lagi. Ya ampun, alat-alat gerak tubuhku tidak mau mengikuti akalku.

-Yoochun’s POV-

Aku baru mau meninggalkan sofa, tempat kami bercinta, Sunghyo menahanku. Ia memelukku seperti tidak rela melepasku pergi.

“Kenapa, dear?” tanyaku.

Sunghyo menggeleng. “Aku tidak tahu. Kurasa…”

Aku mengangkat muka, mencermati air muka Sunghyo.

“…kurasa aku mau dimasuki punyamu lagi…” Bibirnya bergetar.

Syok.

Tentu saja, aku syok.

-Sunghyo’s POV-

Yoochun sebegitu terkejutnya. Apa dia berpikir yang buruk-buruk terhadapku? Duh, aku telah berbuat salah.

Kulihat mukanya mendadak cerah. Dengan sumringah, ia menempelkan tubuhnya lagi pada tubuhku.

“Ayo, dear!” ajaknya riang. Maka, Yoochun pun kembali lagi dalam usahanya memasukiku. Masih terasa sakit. Miliknya terlalu besar untuk milikku yang sangat sempit. Namun, berkat rangsangan yang ia lakukan padaku sehingga cairan kental itu muncul lagi, walhasil, miliknya bisa masuk kembali.

Sakit.

Tapi kenapa aku malah menyukainya?

-Yoochun’s POV-

Sunghyo sudah mulai menikmatinya, aku tahu. Aku pun mulai beraksi. Saatnya mengajarinya, sekaligus mencapai klimaks.

Aku melakukan gerakan push-up sehingga milikku yang tegang sempurna itu dapat masuk-keluar milik Sunghyo.

Dan Sunghyo mulai mendesah lirih.

Yes!

-Sunghyo’s POV-

Apa yang Yoochun lakukan? Kenapa rasanya enak? Astaga. Aku mulai mendesah.

-Yoochun’s POV-

Berkat desahannya, aku mulai mendorong dan menariknya dengan periode berkala. Kudengar desahannya sudah berubah menjadi rintihan. Dan, aku tahu, rintihannya keluar karena kebahagiaan yang kuberikan.

Kami mencapai klimaks beberapa menit kemudian. Dengan tempo yang sama, Sunghyo telah terpuaskan oleh stimulasiku. Ia tersenyum.

Amboi. Senyumnya mendebarkan sekali.

Segera aku mencium bibirnya. Kami berciuman dahsyat sementara milikku masih tertancap rapi di liang miliknya.

-Author’s POV-

Berkat ciuman panas mereka, mereka hampir saja melakukannya sekali lagi.

Namun, ketukan pintu mengejutkan yang tiba-tiba terdengar membubarkan posisi mereka. Keduanya menoleh ke pintu.

Laundry!” teriak seseorang dari luar.

Rupanya petugas laundry.

Yoochun dan Sunghyo segera bangun, tergesa-gesa memakai piyama mandi mereka. Yoochun segera ke pintu, menyambut petugas laundry itu.

Sementara, Sunghyo duduk di sofa, merangkum semua yang terjadi padanya. Ia telah melanggar peraturan ibunya yang kolot dalam menjaga keperawanan. Lebih-lebih, ia telah melanggar prinsipnya sendiri untuk tidak melakukannya dengan siapapun.

Tapi, debar hatinya menciptakan gas yang menguasai otaknya, meracik pemikiran kalau dia wajar melakukan itu, ia mencintai Yoochun. Dan makin mencintainya setelah ini.

Ia memandang Yoochun yang tengah beramah-tamah dengan petugas laundry.

-Sunghyo’s POV-

Aku mencermati Yoochun yang sedang berbasa-basi dengan petugas laundry.

Aku betul-betul mencintainya!

Meski jika nanti kenyataannya dia tidak mencintaiku pun—mengingat caranya memperkenalkanku pada orang tuanya yang meragukan—tidak tahu mengapa, aku tetap mencintainya.

“Apa yang kaupikirkan?” Yoochun menyeruakkan tanya, membuatku mendongak padanya.

“Tidak,” jawabku, mengelim senyum.

Seuntai buket bunga mawar merah tertampil di depan mukaku.

“Apa ini?” tanyaku, memperhatikan kelopak-kelopaknya yang segar dan menggoda.

“Masa aku harus menjelaskan ini namanya apa? Sebentar, apa aku harus searching nama latinnya di internet juga?” tawa Yoochun.

“Maksudku,” aku menghela napas, “apa maksudnya mawar ini?”

Yoochun menampakkan senyum manis kepadaku lebih dulu baru menjawab, “Mawar ini,” ia merunduk, mencondongkan tubuhnya, melekatkan wajahnya pada wajahku, “kau.”

Bibirnya menyapu lembut bibirku lagi.

“Kapan mawar ini ada? Apa ada di kereta makan itu?” Aku bertanya, menarik diri dari ciumannya yang membuatku lupa diri.

“Tidak,” Yoochun menyangkal, “aku tak perlu ayahku untuk jadi romantis.”

“Oke,” aku memutar bola mata, membuatnya terkikik, “kau romantis.”

“Aku minta petugas laundry membelikannya,” senyumnya.

Aku ikut tersenyum sampai aku tersadar dia mengubah senyumnya menjadi sedikit janggal sekarang. “Kenapa?”

“Ada sepuluh menit kurang beberapa detik sebelum ayahku tiba di restoran,” ujar Yoochun.

Aku melirik jam dinding, memastikan ucapannya. Lega, masih ada waktu untuk berbusana rapi di depan sang ayah. Aku melihatnya yang masih memegangi pakaian kami di dalam plastik.

“Ayo berpakaian,” ajaknya riang.

“Ayo,” balasku, berusaha mengambil plastik tersebut. Namun, Yoochun menjauhkannya dari gapaianku.

Begitu mendapat wajah yang bertanya ‘kenapa’ dariku, Yoochun berkata, “Aku mau aku yang memakaikanmu.”

“Eh?”

“Ayo.”

Aku menelan ludah. “Na—nanti jadi tambah lama, tidak?”

Yoochun mendekatkan wajahnya lagi. “Kurasa begitu, Dear.” Dan dia menciumku lagi.

 THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 16/08/2013, in Aktor, DBSK, OS and tagged . Bookmark the permalink. 50 Comments.

  1. aduhhh amboi daebak thor…
    jadi ketawa-tawa sendiri…

  2. oneshot yg bkin pnsran..

  3. soojinwook218

    Aaaakkhhhh…..sweet bgt sih…
    jd pngen…hahahha..#plak
    FF’a romantic buanget thor..love it..kata”a jg bgus..sprti penulis novel profesional…
    DAEBAK!!! Next FF d’tunggu ya…

    • huwaa… jeongmal gomawo, chinguya~~
      pengen apa? hehehe
      ne, ff berikutnya segera kita kirim ke yfi.
      ditunggu ya, hehe… 😀

  4. Baguus….ikut deg2an bacanya
    Hahaha….
    Gemeter jadinya… *lebay

    • waaah… gomawoyo, chingu~
      seneng deh kalo kamu ikut kebawa suasana ceritanya. hehehe
      thanks udah komen dan baca ya 😉

  5. chingu, buat FF yadong yg EXO dong !!

  6. I like it I like it
    apa lagi YooChun castny.. huaaa… beneran deh.. gw suka ff ni.. Daebak author ny 🙂

  7. hadeuuh gmana niich teh jdi ktmu bpk mertuanya tidak..hahaha
    keren daah..

  8. Bikin sequelnya thor 😀

  9. berasa gimana gitu pas bacanya,, jadi senyum2 sendiri,,

  10. Yooooochuuuuuunnnnn

  11. Firly Kpopers

    haha lucu xD
    daebak hehe 😀
    eh btw sequel donk thor >_<

  12. Firly Kpopers

    gomawo ,d tunggu thor sequel ny xD

  13. Huaaa keren bgt thor nyampe senyum-senyum sendiri bacanya.

  14. Bwahahahaa ini gantung xD keren2 ga keburu2 alur nya jelas 😀

  15. mantaap

  16. Huahahaha
    Pastii cw nya polos stengah matii deh.

  17. Caf sicloud saranghae yeppa

    Whoaaa,,
    Daebak thor 😉
    Aku paling suka karakter cewek ntu

    • omo. kamu suka karakter Sunghyo? waah…
      kita senang kalo kamu suka. kalo boleh tau, sukanya karena apa ya?
      btw, gomapta udah komentar, chingu 🙂

  18. Wah daebak thor 🙂

  19. wow, gk bisa berkata apa2. Bagus thor

  20. ga terlalu buru2, pokonya keren 🙂

  21. Younghun158

    keren thor :O
    asek asek jos/?

  22. kata2’e romantis pnulisan jga rapi bangget kaya lg bca novel nih daebaaak..
    Keep writing y..

    • Gomapta, chingu~
      Wah, kita jadi geer dibilang gitu. Tapi ini sebenarnya emang proyek novel juga sih. Hehe.
      sekali lagi gamsha, chingu 😀

  23. duh baru sempet baca.. ini bagus, bisa bikin sequel gak? please.. pen tau kelanjutannya 😀

    btw bagus kata2nya, rapih, udah berpengalaman keknya.. keep writing yaa ‘-‘)9
    gomapta

    • Waaaah~~~
      Gomawo, chinguya~ 😀
      Sekuel ditunggu ya~ Kalo mau, kunjungi blog kami aja. Ada beberapa ff lain yang berkait ff ini 🙂
      Gomapta sekali lagi.

  24. nanda fitri

    wahhhhhhhhhhhhhhhh

  25. hihi yoochun oppa bener2.. hanya gegara lychee!! oh my..
    sequel pake wajib inih.. hihi kocak nih si sunghyo..

    • Gyaaa….
      Kamu komen di sini juga? Gomawoyo, chingu~
      Ya, gegara leci, makanya judulnya lychee dear. 😀
      sekuel ditunggu ya, chingu. Lagi proses pematangan 😉

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: