My Love, My Kiss, My Heart

yesung ff nc yadong
Author: Haebaragi
Judul : My Love, My Kiss, My Heart
Casts: Kim Yesung
           Han Su Yeon (oc)
Kategori : NC21/Yadong
waning: not-that-hot NC
—-
….Last Love…..
Su Yeon POV
Kehidupan ku tidak sempurna, tidak ada kehidupan yang sempurna. Tapi aku menikmati semua yang aku miliki dalam hidup ku sekarang. Aku tidak punya orang tua lagi, mereka meninggal dalam kecelakaan bus saat hendak ke Seoul untuk menghandiri upacara kelulusan ku dari universitas. Aku tidak punya saudara karena aku anak tunggal. Tapi sekarang aku memiliki banyak orang yang sangat dekat dan bahkan sudah ku anggap sebagai saudara. Aku tidak bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji berjuta-juta won, tapi aku menyukai pekerjaan ku.
“Hi. Welcome to Phil Guesthouse.” Aku menyapa dua orang yang baru saja mendatangi ku dengan senyum lebar. Ya, aku bekerja di sebuah guesthouse di Achasan, sebuah area yang tidak terletak di pusat Seoul. Aku suka pekerjaan ku sebagai resepsionis di sini karena aku bisa bertemu banyak orang dari berbagai negara, dan mendengar banyak cerita. Terkadang aku juga menjadi guide jika sedang libur bekerja di guesthouse.
Guesthouse tempat ku bekerja cukup besar dengan suasana yang sangat nyaman. Jadi wajar saja jika banyak traveler yang akan kembali menginap di sini jika datang ke Seoul lagi.
Aku memperhatikan layar komputer yang menampilkan daftar nama-nama tamu. Ternyata dua orang yang baru saja datang adalah tamu terakhir yang ada dalam daftar reservasi untuk hari ini. Itu berarti aku bisa sedikit santai.
“Ehem.” Suara deheman berat membuat ku mengalihkan pandangan dari layar komputer. Di depanku berdiri seorang namja yang mengenakan setelan rapi. Dilihat dari penampilannya, namja ini sepertinya bukan turis karena dia tidak membawa tas besar. Dia hanya membawa tas kecil yang aku rasa berisi laptop dan beberapa barang kecil lainnya.
“Yes, can I help you?” dia memang terlihat seperti orang korea, tapi aku tetap menggunakan bahasa Inggris untuk berjaga-jaga.
“Apa ada kamar yang kosong?” namja itu ternyata menyahut dengan bahasa Korea.
“Untuk berapa malam?” namja itu terlihat berpikir sejenak.
“Dua atau tiga malam?” jawabnya dengan ragu-ragu, seolah dia tidak bisa memastikan akan berapa lama dia menginap di sini.
“Dorm atau private?” namja itu mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaanku.
“Dorm atau private?” dia justru mengulang pertanyaan dariku. Siapa sebenarnya namja ini? Dari penampilannya dia terlihat kaya tapi kenapa malah menginap di guesthouse seperti ini? Dan sepertinya ini pertama kalinya dia menginap di guesthouse.
“Dorm berarti kau tidur dengan tamu lain dalam satu kamar yang sama,” kerutan di dahi namja itu terlihat semakin dalam. “Tenang saja, tempat tidurnya berbeda,” jelas ku lagi. “Kau bisa memilih kamar campur, yang berarti di dalam kamar mu bisa jadi ada tamu perempuan dan juga laki-laki. Atau kamar khusus laki-laki.”
Namja itu menggelengkan kepalanya. “Bagaimana dengan private room?”
“Ada private room untuk dua orang dan juga empat orang.”
“Aku ambil yang private room untuk dua orang!” jawabnya cepat. Aku memeriksa data booking private room kami.
“Ada satu private room yang kosong untuk dua malam,” jelas ku. Dia beruntung sekali karena biasanya private room jarang kosong.
Aku meminta kartu tanda pengenal namja itu dan rasa heranku semakin bertambah saat melihat alamatnya yang ternyata juga di Seoul.
Alarm yang kuletakkan di bawah bantal berbunyi dengan nyaring, memaksa ku untuk membuka mata. Setelah menggeliat dan bergelung di bawah selimut sejenak aku memutuskan sudah saatnya untuk bangun dan mulai menyiapkan sarapan. Setiap pagi guesthouse kami memang menyediakan sarapan bagi para tamu. Sarapan yang sederhana saja sebenarnya, roti beserta selai. Bagi tamu yang ingin memasak tentu saja dipersilahkan untuk memasak makanan yang mereka bawa sendiri.
Setelah mandi aku keluar dari kamar yang disediakan bagi karyawan yang memang harus menginap saat bekerja. Suasana ruang resepsionis masih sepi. Aku berbelok menuju ruang dapur sekaligus ruang makan dan ruang berkumpul yang terletak disamping ruang resepsionis. Aku meletakkan dua bungkus roti dan tiga botol selai di meja makan.
Namja yang tadi malam check in ternyata sudah ada di ruangan ini sebelum aku masuk. Dia duduk di salah satu kursi yang menghadap bagian kebun kecil guesthouse ini sambil mengetik sesuatu di lap topnya.
“Kau mau kopi?” tawarku pada namja itu. Dia menoleh ke arahku dan setelah terdiam selama beberapa saat dia akhirnya menyahut, “Ya.”
Setelah selesai membuat kopi aku meletakkan gelasnya di meja yang ada di hadapannya.
“Gomawo,” ucapnya sambil tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat namja ini tersenyum dan rasanya ada aliran aneh yang mengalir di tubuhku saat melihatnya lebih dekat seperti ini. Aku duduk di kursi di sampingnya sambil menikmati kopiku.
“Kau orang Seoul?” aku akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Eoh, begitulah,” sahutnya pendek tanpa mengalihkan padangannya dari layar lap top. Setelah beberapa saat aku akhirnya mengambil kesmpulan namja ini sepertinya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang resepsionis.
Seperti biasa, saat menjelang siang aku kembali disibukkan dengan tamu-tamu yang check out dan juga yang check in, membuatku melupakan soal namja tadi. Perutku berbunyi cukup nyaring saat jam kecil di atas meja menunjukkan pukul lima sore.
Aku memutuskan untuk menghubungi restaurant pesan antar karena sedang bosan makan ramen. Aku bangun dari tempat duduk dan melangkah menuju ruang makan untuk melihat daftar restaurant pesan antar yang ditempel di pintu kulkas. Tapi perhatianku langsung teralihkan pada seorang namja begitu aku memasuki ruang makan yang sore ini terlihat sepi.
Aku mencoba mengingat-ingat namanya. Kim Yesung? Kalau tidak salah namanya Kim Yesung.
Namja itu ternyata masih duduk di tempat yang sama seperti saat aku meninggalkannya tadi pagi. Tapi kali ini lap top dihadapannya sudah ditutup sementara dia sendiri menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku sambil menutup matanya. Aku berjalan perlahan mendatangi namja itu dan memperhatikan dadanya yang naik turun seiring dengan tarikan nafasnya yang terdengar beraturan. Sepertinya dia sedang tertidur.
Entah berapa lama aku berdiri di dekat namja itu dan malah memperhatikan wajahnya saat tidur. Aku bisa melihat detail garis wajahnya, bahkan kantung mata kecil yang berada di bawah matanya tidak luput dari perhatian ku.
“Waeyo?” aku terlonjak kaget saat namja itu tiba-tiba menegakkan punggungnya dan membuka kelopak matanya.
“Ani.. igo.. aku.. eum..,” hanya kata-kata tidak beraturan yang keluar dari mulutku. Aku tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba saja aku merasa gugup saat merasakan iris matanya menatapku intens.
“Waeyo?” suara baritone kembali meluncur dari bibir namja itu.
Aku meneguk ludah dan menjilat bibir ku yang terasa kering sebelum akhirnya menyahut. “Aku.. akan memesan makanan. Kau mau?” namja itu memiringkan sedikit wajahnya sambil mengerutkan dahinya. Kali ini wajahnya terlihat cute.
“Boleh. Sepertinya aku kelaparan,” jawabnya akhirnya.
Author POV
Su Yeon memperhatikan Yesung yang saat ini tengah memakan jajangmyun dengan lahapnya, sampai-sampai yeoja itu melupakan rasa laparnya sendiri. Sadar dirinya diperhatikan, Yesung mengangkat wajahnya sambil mengernyitkan alis.
“Kau tidak lapar?” tanya Yesung dengan mulut penuh. Su Yeon tertawa pelan melihat Yesung yang terlihat seperti anak-anak saat ini. Yeoja itu mulai mengaduk mie berwarna hitam yang mulai kehilangan panasnya itu sebelum memasukkan makanan itu ke mulutnya.
“Kau sedang ada masalah?” tanya Su Yeon yang direspon Yesung dengan kerutan di dahinya. Su Yeon meletakkan sumpitnya dan mengangkat tangan kanannya. “Pertama, kau jelas-jelas bukan turis karena kau sendiri tinggal di Seoul.” Su Yeon melipat ibu jarinya, “kedua, kau juga bukan gelandangan.” Su Yeon melipat jari telunjuknya kemudian melipat jari tengahnya. “Ketiga, seharian ini kau terus berada di ruangan ini sambil mengerjakan sesuatu dengan lap top mu itu dengan wajah serius.”
Yesung melipat kedua tangannya di meja dan menyipitkan matanya, menatap Su Yeon. “Ku rasa pekerjaan mu hanya mencatat siapa saja yang check in dan check out, bukan mencari tahu alasan kedatangan orang-orang yang menginap di sini.”
Su Yeon menggembungkan pipinya, merasa sedikit gugup karena tatapan Yesung yang dirasanya mengintimidasi yeoja itu. Su Yeon mengangkat kedua bahunya. “Just guessing.”
Yesung berdecak. “Aku sedang ingin minum soju, tapi aku tidak suka minum sendirian. Kau mau menemaniku?” Namja itu mulai merapikan sisa-sisa makanannya di meja lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di salah satu pojok ruangan. Su Yeon juga ikut berdiri dan memasukkan jajangmyunnya yang baru ia makan setengah ke tempat sampah.
“Aku masih harus bekerja malam ini. Mianhe.” Sahut Su Yeon pendek sebelum memutuskan untuk kembali ke meja resepsionis saat ruangan mulai dipenuhi tamu yang sepertinya juga berniat untuk makan malam.
Keesokan harinya Yesung check out tapi Su Yeon bisa melihat dengan jelas namja ini seolah enggan kembali ke rumahnya. Dia terlihat berkali-kali menghela nafas saat menunggu Su Yeon memasukkan namanya dalam daftar tamu yang check out.
“Kau yakin tidak ada yang tertinggal di kamar?” Sudah menjadi tugas bagi Su Yeon untuk mengingatkan tamunya. Yesung melihat isi tas kecilnya sebelum akhirnya menggeleng.
“Okay. Ini souvenir untukmu karena sudah menginap di sini,” ucap Su Yeon sambil menyerahkan sebuah gantungan kunci dengan tulisan Phil Guesthouse. Yesung menerimanya dan melangkah meunuju pintu keluar.
“Ah, changkaman.” Suara Su Yeon menghentikan Yesung dan membuat namja itu berbalik. “Kalau kau ke sini lagi saat aku sedang tidak bekerja, aku bisa menemani kau minum.” Entah kenapa, tapi ada sesuatu dalam diri Su Yeon yang mendorongnya untuk memberikan tawaran itu.
“Gomawo. Tapi bagaimana aku bisa tahu kapan kau tidak bekerja?” Sebuah senyum tipis muncul di wajah Yesung.
“Datang saja ke sini saat kau sedang perlu teman minum. Kalau aku sedang tidak ada itu berarti aku tidak bekerja. Katakan saja pada resepsionis yang sedang bekerja kau mencari ku.” Yesung mengangguk pelan.
“Kalau ternyata aku datang saat kau sedang bekerja?”
Su Yeon memutar bola matanya sejenak, “bawa saja bir atau soju ke sini untukmu dan sekaleng Cola untukku. Ku temani kau minum di sini.”
Yesung terkekeh pelan mendengar tawaran Su Yeona tapi namja itu tetap menganggukkan kepalanya.
“Kau masih ingat nama ku kan?” tanya Su Yeon.
“Han Su Yeon?” ucap Yesung dengan hati-hati.
“Nee. Hati-hati di jalan.”
…Last Kiss…..
Su Yeon POV
Aku tidak menyangka ternyata tidak perlu menunggu lama untuk bisa bertemu lagi dengan Yesung. Dua minggu setelah namja itu check out, aku menerima telepon dari Haneul yang juga bekerja di guesthouse. Dia memberitahuku seorang namja bernama Yesung baru saja check in dan memintanya menghubungiku.
Meskipun baru saja pulang ke flat lima jam yang lalu dan sebenarnya baru tidur dua jam, aku langsung mandi dan bergegas kembali ke guesthouse tempat ku bekerja. Haneul memandang dengan penuh tanda tanya saat ia melihatku datang.
“Namja itu di kamarnya.” Haneul memberi tahu kamar Yesung tapi aku memutuskan untuk menunggunya di meja resepsionis.
“Penampilannya benar-benar acak-acakan dan entah sudah berapa hari dia tidak tidur.” Haneul mulai bercerita tanpa aku minta. Jangan tanya kenapa aku tiba-tiba saja tertarik pada namja itu, karena aku juga tidak mengerti. Semenjak ia datang waktu itu, aku merasa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku memperhatikan namja itu. Membuat ku ingin mengetahui siapa dia sebenarnya. Rasa penasarankah? Rasa tertarikkah? Aku juga tida mengerti.
“Su Yeon-ah… Su Yeon-ah,” aku merasa seseorang memanggil namaku dan menggoyangkan tubuhku pelan. Dengan sedikit kesusahan aku akhirnya berhasil membuka mata kemudian menggeliat sejenak sebelum memfokuskan pandangan pada orang yang membangunkanku. Haneul duduk di tepian tempat tidur. Mengetahui aku baru saja menyelesaikan shift kerjaku dan baru saja pulang, tadi Haneul menyuruhku untuk tidur di kamar karyawan dan dia berjanji akan membangunkanku jika Yesung keluar dari kamarnya.
“Namjamu itu ada di ruang makan,” Haneul memberitahu. Aku langsung melompat bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah sekaligus merapikan pakaian. Haneul berdecak sambil menggelengkan kepalanya melihat tindakanku.
“You like him, huh?” tanyanya dengan pandangan menyelidik saat aku keluar dari kamar mandi. Aku berpikir sejenak lalu mengangkat kedua bahu. “Molla.”
Aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan. Mataku langsung bisa menangkap sesosok namja dengan rambut hitam yang cukup berantakan sedang duduk sambil menyeruput minuman.
“Hei,” sapa ku dengan sedikit canggung sambil menarik kursi di hadapannya kemudian duduk. Namja itu menurunkan gelasnya dan menatapku.
“Hei,” dia balik menyapa. Kami terdiam cukup lama, tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
“Err… kau mau makan malam di luar?” tawarku akhirnya. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan aku baru ingat kalau aku melewatkan makan siang, jadi perutku benar-benar sedang kelaparan saat ini.
“Oke. Aku juga sudah lapar,” Yesung berdiri dan mencuci gelas yang tadi dipakainya sebelum akhirnya kami pergi keluar bersama-sama.
Aku dan Yesung makan di restaurant yang terletak tidak jauh dari guesthouse lalu namja itu mengajakku untuk menemaninya minum, sesuai dengan janjiku waktu itu.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bersama Yesung, kami akhirnya bisa bercakap-cakap dengan lebih santai. Aku memang masih tidak tahu banyak tentang namja itu karena dia lebih sering bertanya mengenai kehidupanku dan hanya sesekali menceritakan tentang kehidupannya. Dia bercerita sedikit tentang keluarganya dan sedikit tentang pekerjaannya.
Yesung ternyata menginap cukup lama di guesthouse. Hari ini sudah hari kelima dia menginap di sini. Aku tentu saja tidak keberatan. Dia sering menemaniku di ruang resepsionis saat aku sedang bekerja. Sesekali dia terlihat sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dikerjakannya, tapi dia akan memasang tampang serius dengan dahi yang tidak hentinya berkerut-kerut. Tapi dia lebih sering mengajakku mengobrol saat menemaniku bekerja, mendengarkan cerita ku lebih tepatnya. Tidak jarang namja ini juga membantuku membersihkan ruang makan yang kadang berantakan atau membawakan bantal, selimut dan seprai untuk tamu yang baru check in. Para tamu bahkan menyangka namja ini adalah asisten pribadiku.
Malam ini adalah malam terakhir Yesung menginap. Dia tidak beranjak dari tempat duduk di sampingku meskipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sayang sekali aku harus bekerja malam ini, padahal Yesung ingin mengajakku minum lagi. Sebenarnya aku tidak bisa minum, yang aku lakukan hanya duduk menemani Yesung yang minum. Namja ini juga sebenarnya tidak tahan minum banyak, dia hanya sanggup menghabiskan dua botol soju.
“Aku tidak ingin pulang,” suara Yesung memecah keheningan di ruangan. Aku menggeser kursiku agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Namja itu memejamkan matanya dan menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya dengan nyaring.
“Satu minggu yang lalu appa mengajukan satu permintaan yang sulit….” Yesung memulai kembali kalimatnya masih tanpa membuka matanya, “dia meminta ku untuk menikah dengan yeoja yang sudah dipilihkannya untuk ku.” Yesung membuka matanya dan menatap ku sejenak sebelum menunduk. Ada hening cukup lama yang menggantung diantara kami. Namja itu masih belum melanjutkan ceritanya sementara aku tidak mau berkomentar apapun sebelum mendengar seluruh ceritanya. Entah kenapa ada sedikit rasa nyeri yang menekan dada ku saat Yesung mulai bercerita tentang calon istrinya.
“Aku sudah mengenal yeoja yang akan dijodohkan appa, dia anak dari salah satu rekan bisnis appa dan bisa dibilang cukup dekat dengan keluarga kami. Aku tahu dia sudah cukup lama menyukai ku, terlihat jelas dari sikapnya jika bertemu denganku. Tapi aku tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman.” Kali ini mata Yesung menatap ku cukup lama, seolah ingin meyakinkan ku bahwa apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan.
“Tapi kau tidak bisa menolak permintaan appa mu?” tanya ku akhirnya.
“Rasanya cerita ku mirip seperti drama yang biasa ditonton eomma. Perusahaan kami sedang menghadapi masalah keuangan yang cukup berat dan terancam collapse. Tapi jika aku menikah dengan yeoja itu dan perusahaan kami bergabung maka masalah bisa terpecahkan.”
“Tidak ada jalan lain selain menikah dengannya? Yeoja itu setuju?” aku tidak bisa menahan diri ku sendiri untuk berharap Yesung bisa menemukan jalan lain untuk menyelesaikan masalah perusahaannya, tanpa harus menikah.
Tapi tentu saja jawaban dari pertanyaanku adalah sebuah kata, “tidak” diiringi gelengan pasrah dari Yesung. “Seandainya aku bisa menemukan cara untuk menyelamatkan perusahaan, aku pasti akan mengusahakannya. Kau ingat saat pertama kalinya aku datang ke sini?”
Aku mengangguk.
“Saat itu aku ke sini untuk menenangkan diri dan mencoba mencari solusi untuk masalah keuangan perusahaan. Tapi tetap saja berakhir pada satu jalan buntu. Bantuan dana yang cukup besar dari sumber lain.”
“Dan satu-satunya yang bisa memberikan bantuan adalah keluarga yeoja itu?” aku menarik kesimpulan.
“Eoh, begitulah.”
Ruangan kembali di isi dengan hening. Rasa sakit yang sebelumnya tidak terlalu mengganggu sekarang semakin terasa menyiksa. Aku tidak mengerti kenapa cerita Yesung bisa membuat ku merasa seperti ini. Perasaan ini lebih dari sekedar rasa simpati pada seorang teman yang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Perasaan ini….. tiba-tiba saja aku merasa takut dengan perasaan ini.
“Apa menurut mu dia yeoja yang baik?” aku tidak tau kenapa tapi ada sesuatu dalam diri ku yang terus memaksa untuk mengetahui bagaimana yeoja yang dijodohkan dengan Yesung. Namja itu mengalihkan pandangannya dari ku.
“Nee.” Yesung mengangguk pelan. “Dia yeoja yang baik dan berpendidikan. Aku mengenalnya cukup lama untuk bisa mengetahui dia benar-benar yeoja yang baik dan bukan hanya sekedar terlihat baik.” Yesung mengambil nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
“Awalnya aku merasa enggan memenuhi permintaan appa karena merasa perjodohan ini tidak masuk akal,” namja itu kembali menatap ku dan seolah ada kekuatan yang menarik kami berdua, aku dan Yesung semakin mendekat.
“Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada hal lain yang membuatku semakin ingin menghindari perjodohan ini,” tambah Yesung dengan suara yang amat sangat pelan. Sesaat kemudian aku menutup mataku tepat saat bibir namja itu menyentuh bibirku.
Awalnya kami hanya diam, seolah mencoba memahami perasaan satu sama lain melalui sentuhan bibir. Tidak lama kemudian aku mulai merasakan Yesung membuka mulutnya dan memperdalam ciuman kami. Namja itu melumat lembut bibirku, sambil sesekali menghisap bibir bawah dan atasku bergantian. Ada banyak perasaan yang membuncah dalam dada ku pada satu waktu yang bersamaan. Rasa manis dari bibir namja ini, rasa asin dari air mata ku yang tanpa aku sadari mengalir dan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
Aku yang pertama menarik diri dari Yesung. Namja itu menatap ku dengan tatapan protes sejenak sebelum akhirnya menyadari alasan ku menarik diri.
“Tidur lah. Besok kau harus kembali bekerja kan?” ucap ku pada Yesung. Namja itu menatap ku selama beberapa saat. Tanpa perlu kalimat apapun lagi aku dan dia sama-sama mengerti bahwa kami tidak bisa melangkah kemanapun.
“Eoh, kau juga. Tidurlah sebentar,” sahutnya pendek sebelum akhirnya berdiri dari kursi dan melangkah dengan pelan menuju elevator yang akan membawanya ke lantai 2.
Author POV
Yesung membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan berusahan untuk terlelap, tapi pikirannya justru melayang pada yeoja yang saat ini mungkin sedang tidur di lantai 1 atau mungkin juga masih terjaga dengan pikiran yang sama seperti dirinya.
Yesung tidak pernah menduga ia bisa merasa seperti ini pada seseorang. Ini memang bukan pertama kalinya namja itu jatuh cinta. Dia pernah menyukai teman sekelasnya pada saat Junior High dan Senior High, tapi putus seiring dengan berjalannya waktu dan perasaan mereka yang mulai menipis. Namja itu juga pernah memiliki hubungan yang cukup lama dengan seorang yeoja pada saat kuliah tetapi juga berakhir saat mereka mulai bekerja dan lebih memprioritaskan karir.
Bagi Yesung, dia perlu mengenal cukup lama untuk bisa menyukai seseorang. Tapi tidak dengan yeoja itu. Dia hanya menghabiskan waktu kurang dari seminggu bersamanya dan seolah ada sesuatu di dalam dadanya yang terus tumbuh. Tumbuh semakin membesar tanpa bisa ia kendalikan dan membuatnya menginginkan yeoja itu lebih dari apapun.
Keesokan paginya Yesung memutuskan untuk check out secepat mungkin, membuat Su Yeon memandang namja itu heran. Seolah menemukan semangat baru, namja itu ingin secepatnya kembali ke kantor dan mencoba mencari celah, sekecil apapun, untuk bisa menyelesaikan masalah perusahaannya. Yesung memeluk erat Su Yeon sebelum ia keluar sembari berbisik pada yeoja itu, “aku akan berusaha untuk mencari jalan lain. Ku mohon, bertahanlah sebentar.”
Su Yeon membalas pelukan Yesung dan mengusap punggung namja itu, seolah ingin meyakinkan namja yang tengah memeluknya bahwa ia akan menunggu Yesung menyelesaikan semuanya.
…Last Dream….
Selama hampir tiga minggu Su Yeon tidak mendapat kabar apapun dari Yesung. Namja itu tidak pernah datang lagi ke guesthouse ataupun menghubungi Su Yeon. Yeoja itu sendiri tidak memiliki nomor ponsel Yesung. Kalaupun ia menyimpan nomor Yesung, Su Yeon tidak mau menghubungi Yesung terlebih dahulu. Yeoja itu tidak ingin membebani Yesung. Su Yeon lebih memilih untuk menunggu Yesung mengatakan langsung padanya – dihadapannya- apapun hasil dari usaha yang ia lakukan.
Tapi penantian Su Yeon terhenti saat yeoja itu membaca headline berita di beberapa koran mengenai acara pertunangan Yesung dan seorang yeoja bernama Han Ga Eun yang merupakan anak tunggal dari CEO perusahaan multinasional Han Enterprises. Acara pertunangan yang diadakan cukup meriah tentu saja menarik perhatian berbagai media.
“Su Yeon-ah,” panggil Haneul saat melihat rekan kerja sekaligus sahabatnya yang terpaku membaca koran yang ada di tangannya. Meskipun belum menceritakan apapun kepadanya, tapi Haneul bisa merasakan ada hubungan istimewa antara Su Yeon dengan namja bernama Yesung itu.
“Han Su Yeon,” panggil Haneul sekali lagi dan kali ini berhasil membuat yeoja disampingnya itu menoleh.
“Nde? Ada apa?”
“Kau …baik-baik saja?” tanya Haneul dengan hati-hati. Su Yeon mengangguk pelan.
“Nee. Mian, sepertinya aku harus ke toilet sebentar,” Haneul membiarkan sahabatnya itu berjalan melewatinya menuju toilet. Saat mata mereka beradu tadi, Haneul bisa melihat dengan jelas yeoja itu sedang berusaha menahan tangisnya. Untuk sementara ini Haneul ingin memberikan waktu pada Su Yeon untuk menangis selama yang ia perlukan sebelum memintanya untuk bercerita.
Yesung tidak menyangka berita pertunangannya akan menjadi headline di beberapa koran hari ini. Segera setelah menemukan namanya dan Ga Eun yang dicetak dengan huruf besar di halaman depan koran yang baru saja hendak dibacanya, Yesung langsung berlari menuju mobilnya dan melajukannya dengan cepat menuju guesthouse.
“Dimana Su Yeon?” dengan nafas terengah Yesung bertanya pada seorang yeoja bernama Haneul yang hari ini bertugas sebagai resepsionis.
“Jam kerjanya baru saja berakhir dan dia pulang,” Yesung menarik rambutnya dengan keras dan mengerang frustasi.
“Bisa aku minta alamatnya?” Namja itu akhirnya memutuskan untuk mendatangi Su Yeon ke rumahnya. Haneul menatap Yesung selama beberapa saat, menimbang-nimbang apakah ia perlu memberikan alamat Su Yeon pada namja yang terlihat frustasi saat ini. Dia hanya khawatir kedatangan namja ini nantinya hanya akan memperburuk keadaan Su Yeon.
“Ku mohon. Aku perlu bertemu dengannya,” pinta Yesung. Haneul akhirnya memutuskan untuk memberikan alamat Su Yeon dan berharap dia sudah melakukan hal yang benar.
Segera setelah menerima alamat Su Yeon, Yesung kembali memacu mobilnya menuju alamat yang terletak tidak jauh dari guesthouse. Namja itu memarkir mobilnya asal dan berlari memasuki sebuah flat. Yesung melangkah secepat yang ia bisa menuju sebuah kamar di lantai 3.
Yesung mengetuk dengan nyaring pintu kamar Su Yeon, tidak perduli apakah ia mengganggu tetangga yang lain atau tidak. Kali ini Yesung hanya perduli pada satu hal, bertemu dengan Su Yeon secepat mungkin.
Perlu waktu cukup lama sebelum akhirnya Yesung mendengar suara kunci yang diputar dan seorang yeoja dengan mata sembab muncul dari balik pintu. Yesung langsung menarik Su Yeon dalam pelukannya dan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Yesung bisa merasakan bahu yeoja dalam pelukannya mulai bergetar dan diiringi suara tangisan yang sedikit tertahan.
Yesung melonggarkan pelukannya dan melihat wajah yeoja yang menjadi alasan ia bekerja dengan keras selama tiga minggu terakhir. Beberapa menit kemudian Su Yeon mulai tenang dan mengajak Yesung untuk masuk ke dalam. Mereka duduk di sofa yang berada di ruang tengah, masing-masing terdiam tanpa tahu bagaimana harus memulai percakapan kali ini.
“Mianhe,” Yesung kembali mengeluarkan kata yang sama. Su Yeon menoleh ke arah namja di sampingnya dan menggenggam tangan namja itu. Sebuah senyum tipis terlihat di wajah sedihnya, membuat Yesung semakin merasa bersalah.
“Gwenchana. Aku tahu kau pasti sudah berusaha keras dan pada akhirnya ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah,” suara Su Yeon terdengar parau karena ia terlalu banyak menangis. Yesung menggeleng dengan keras.
“Kau harusnya marah. Kau harusnya memaki ku karena sudah berjanji pada mu tapi akhirnya malah seperti ini,” Su Yeon mengangkat salah satu tangannya dan mengusap lembut rambut hitam Yesung yang sedikit basah karena keringat.
“Kau berjanji untuk berusaha sebisa mungkin menyelesaikan masalah perusahaan. Dan aku percaya kau sudah memenuhi janjimu. Meskipun hasilnya seperti ini,” Yesung menghentikan tangan Su Yeon yang menyisir lembut rambutnya dan menggenggam erat tangan itu. Namja itu tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari yeoja yang sudah benar-benar membuatnya jatuh cinta.
“Kita menikah saja. Aku akan mengatakan pada appa bahwa aku akan membatalkan rencana pernikahan itu. Kalau appa menentang, aku tidak keberatan meninggalkan perusahaan dan hidup biasa-biasa saja,” Su Yeon menutup matanya, mencoba menahan dirinya sendiri untuk tidak menerima tawaran Yesung. Sebuah tawaran yang benar-benar menggoda. Tapi Su Yeon memutuskan sebaliknya.
“Lalu bagaimana dengan perusahaanmu? Bagaimana dengan karyawan mu yang akan kehilangan pekerjaan?”
“Aku… mereka…,” Yesung tidak bisa meneruskan kalimatnya karena ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan jika ia melarikan diri dengan Su Yeon.
“Jangan bersikap egois. Menikah saja dengan yeoja itu jika ternyata ia bisa menyelamatkan perusahaan mu,” Yesung menatap Su Yeon dengan tajam, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan yeoja itu padanya.
Su Yeon sedikit terlonjak kaget saat tiba-tiba Yesung bangun dari duduknya dan berdiri membelakangi Su Yeon. Namja itu mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dahinya cukup keras, mencoba menenangkan emosinya sendiri. Bagaimana mungkin yeoja yang ia cintai justru memintanya untuk menikah dengan wanita lain?
Yesung berbalik dan kembali menatap Su Yeon tajam, “kau tidak mencintai ku? Apa aku salah mengartikan sikap mu waktu itu? Ciuman kita saat itu?”
Su Yeon merasa kekecewaannya semakin bertambah saat Yesung mengeluarkan keraguannya pada yeoja itu.
“Kau tau betul aku mencintai mu,” jawab Su Yeon dengan yakin.
“Tapi kenapa kau bersikap seperti ini? Kenapa malah menyerahkan aku pada yeoja lain? Apa kau tidak merasa cemburu atau sakit hati?”
Su Yeon mengigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya agar tidak menangis lagi, rasanya dia sudah cukup lelah menangis sejak tadi.
“Apa aku harus menangis meraung-raung dan memohon padamu untuk tetap di sisiku agar kau bisa percaya bahwa aku mencintai mu? Aku juga tidak ingin melihatmu dengan yeoja lain tapi kau juga harus sadar posisi mu.”
“Posisi ku?”
“Kita tidak hanya sedang membicarakan kebahagian aku dan kau. Bukan hanya satu atau dua orang yang akan menjadi korban jika kau melarikan diri sekarang. Jangan lupakan ada berapa banyak orang yang bekerja di bawah perusahaanmu.”
“Tapi jika aku menyelamatkan mereka, itu berarti aku harus mengorbankan perasaanmu,” ucap Yesung lirih. Namja itu membenci dirinya saat ini karena tidak bisa menyelesaikan masalah keuangan di perusahaan mereka meskipun ia sudah berusaha sangat keras. Namja itu duduk kembali di samping Su Yeon dan menatap yeoja itu dengan rasa bersalah.
“Hidup memang tidak adil.”
“Harusnya kau marah. Harusnya kau sedih.”
“Kau pikir aku bukan manusia? Aku sedih.  Demi Tuhan, aku benar-benar mencintai mu Kim Yesung,” Su Yeon menangkupkan kedua tangannya di wajah Yesung dan berharap namja itu bisa benar-benar melihat perasaannya saat ini. “Dan kau juga harus tau aku mengambil keputusan ini bukan hanya dalam hitungan detik. Selama tiga minggu inii aku terus memikirkan segala kemungkinan dan keputusan yang harus aku ambil. Aku tidak pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya.” Yesung meletakkan tangannya di atas tangan Su Yeon dan menutup matanya, merasakan sentuhan Su Yeon dan mengingatnya sebanyak yang ia bisa.
“Na do. Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta sebesar ini padahal kita baru bertemu,” Yesung membuka matanya dan sepasang manik itu kembali bertemu, setiap pasangnya menunjukkan kesedihan yang sama besarnya.
“Kau tau dengan melepaskanku kau sudah berbuat tidak adil pada ku?” Su Yeon mengernyit mendengar pertanyaan Yesung. “Setelah kita berpisah, kau bisa menangis selama yang kau mau. Merindukanku sebanyak yang kau bisa. Kau bebas mengatakan pada siapapun kau sedang merindukan seseorang yang tidak bisa kau miliki. Tapi aku? Aku harus menyimpan rinduku pada mu. Aku justru harus berusaha melupakanmu. Aku harus berpura-pura jatuh cinta pada orang lain.”
Su Yeon tersenyum mendengar ucapan Yesung. Yeoja itu menempelkan dahinya dengan dahi Yesung hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
“Aku yang seharusnya berkata seperti itu. Berpuluh-puluh tahun setelah kita berpisah, kita sudah sama-sama menjadi tua dan sakit-sakitan. Kau masih mempunyai anak-anak untuk merawatmu di kamar yang hangat. Sementara aku akan sakit dan mati sendirian karena tidak bisa melupakan u dan memutuskan untuk tidak menikah. Siapa yang sebenarnya lebih menderita? Aku kan? ” Yesung mengecup bibir Su Yeon beberapa kali sebelum akhirnya kecupan itu berubah menjadi ciuman panjang.
Yesung memiringkan sedikit kepalanya dan menjilat bibir bawah Su Yeon, meminta yeoja itu untuk membuka mulutnya. Dengan pasrah Su Yeon membuka mulutnya dan membiarkan lidah Yesung menyeruak masuk, merasakan setiap bagian di dalam mulut Su Yeon, membuat yeoja itu tanpa bisa ia tahan mendesah pelan. Yesung menarik tubuh Su Yeon, membuat mereka menempel tanpa jeda.
Yesung akhirnya melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasakan Su Yeon mulai kehabisan nafas.
“Aku ingin menghabiskan satu hari ini dengan mu.” Ucap Yesung. Su Yeon menggeleng lemah, dia terlalu takut untuk menerima ajakan Yesung. Su Yeon takut jika ia benar-benar menghabiskan hari ini dengan Yesung maka keesokan harinya ia tidak akan rela melepaskan Yesung untuk yeoja lain.
Yesung menarik tengkuk Su Yeon dan sekali lagi namja itu mencium Su Yeon, kali ini lebih menuntut.
“Ku mohon. Hanya untuk hari ini, bisakah kita berpura-pura kita adalah sepasang kekasih dan melakukannya? Sebelum aku mengikat diri ku pada yeoja lain. Hanya untuk hari ini, I wanna make love with you.” Su Yeon menutup matanya sebelum kembali membukanya beberapa saat kemudian dan mengangguk.
“Hanya untuk kali ini.” Jawab Su Yeon lirih. Tanpa ragu Yesung menarik tubuh Su Yeon yang sudah menempel seolah mereka belum cukup dekat. Namja itu mencium Su Yeon lembut, mencoba menujukkan pada Su Yeon bagaimana yeoja itu sudah membuatnya jatuh cinta tanpa tahu bagaimana caranya berhenti. Ciuman lembut itu berubah menjadi semakin liar dan panas saat Su Yeon membalas ciuman Yesung.
Keduanya melepaskan tautan bibir mereka saat sama-sama membutuhkan oksigen. Yesung menatap Su Yeon yang terlihat masih mencoba mengatur nafasnya. Yesung mengangkat tangan kiri Su Yeon, membuat yeoja itu sedikit bingung. Dengan sangat lembut, Yesung mencium ujung jari Su Yeon, kemudian jari manis yeoja itu – tepat dibagian dimana cincin pernikahan biasanya melingkar, kemudian punggung tangannya. Su Yeon mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan air matanya saat merasakan kecupan lembut Yesung di sepanjang lengannya hingga akhirnya berhenti di bahu yeoja itu.
“Eummm,” sebuah desahan tertahan meluncur dari mulut Su Yeon saat Yesung tidak hentinya menciumi bahu dan lehernya sambil sesekali meninggalkan jejak di bagian tersebut. Yesung menelusupkan salah satu lengannya di belakang lutut Su Yeon sementara lengan lainnya di belakang leher yeoja itu. Dalam sekali sentak, Yesung mengangkat tubuh Su Yeon. Dengan cepat Su Yeon mengalungkan kedua lengannya di leher Yesung, menarik wajah namja itu dan menciumnya tanpa ragu.
Yesung membawa tubuh Su Yeon ke kamar yeoja itu kemudian membaringkannya di tempat tidur tanpa melepaskan ciuman mereka. Yesung menghisap bibir atas dan bawah Su Yeon bergantian selama beberapa saat sebelum akhirnya lidah namja itu menusuk belahan bibir Su Yeon, meminta yeoja itu untuk membiarkan lidahnya masuk. Dengan patuh Su Yeon membuka mulutnya dan dalam sekejap yeoja itu bisa merasakan lidah Yesung menjelajah rongga mulutnya.
Su Yeon merasakan tubuhnya bergetar saat tangan Yesung menelusup masuk ke balik bajunya dan mengusap perutnya. Sesaat kemudian Yesung menghentikan ciuman mereka dan melepaskan tautan bibir keduanya. Namja itu menarik semua pakaian yang menutupi tubuh bagian atas Su Yeon dalam sekali sentak kemudian melepaskan celana yeoja itu.
Yesung terdiam sesaat, memandangi yeoja yang berada di bawahnya tanpa sehelai benangpun yang menutupinya. Sebuah senyum terlihat di wajah Yesung saat melihat semburat merah di kedua pipi Su Yeon. Namja itu mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Su Yeon.
“Kau cantik. Sangat cantik,” puji Yesung. Namja itu mengecup kening Su Yeon sekilas sebelum akhirnya ciumannya terus turun ke leher, bahu dan dada Su Yeon.
Tidak ada keterburuan saat ini.Tidak ada ketergesaan untuk kali ini. Yesung mengecupi, menciumi, dan menyentuh dengan lembut setiap inchi tubuh bagian atas Su Yeon. Sementara yeoja itu hanya bisa melengkungkan tubuhnya dan mengeluarkan lenguhan pelan setiap kali Yesung menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya.
Su Yeon sontak mengangkat tubuhnya saat meraskan hembusan nafas Yesung di bagian bawah tubuhnya, tepat di bagian paling sensitif tubuhnya.
“Ye-yesung-ah, i-itu,” ucap Su Yeon terbata-bata. Yesung mendongakkan wajahnya dan menatap Su Yeon.
“Wae?”
“Kau tidak merasa, eumm… jijik?” Yesung berdecak pelan mendengar pertanyaan Su Yeon. Namja itu mendorong tubuh Su Yeon agar kembali berbaring.
“Setiap bagian tubuhmu adalah keindahan,” Yesung mencium ujung hidung Su Yeon, “mana mungkin aku merasa jijik.” Namja itu kemudian mencium bibir Su Yeon dan kembali mengajak lidah yeoja itu bergulat di dalam mulutnya.
Tangan Yesung mulai turun ke bagian bawah tubuh Su Yeon kemudian mengusap lembut bagian tersebut. Sebuah desahan kembali keluar dari mulut Su Yeon dan dengan cepat Yesung menghentikan ciuman mereka. Seulas senyum masih melekat di wajah tampan namja itu.
“Nikmati saja semua yang kita lakukan hari ini, jangan memikirkan hal-hal aneh dan tidak penting,” ucap Yesung sesaat sebelum namja itu kembali menurunkan wajahnya.
“Aaah.. Yesung-ah,” Su Yeon hanya bisa melenguh ketika merasakan lidah yang sebelumnya berada di mulutnya sekarang tengah menyapu lembut bagian bawah tubuhnya, membuat seluruh tubuh yeoja itu bergetar hebat karena kenikmatan yang tidak bisa digambarkan. Tanpa disadarinya, kedua tangan Su Yeon mengusap kepala Yesung, seolah meminta namja itu untuk terus melakukan apa yang dilakukannya saat ini.
“Ye-Yesung-ah, aku tidak tahan lagi,” Su Yeon merasakan sesuatu berkumpul di perutnya dan tidak lama kemudian yeoja itu bisa merasakan cairan keluar dengan derasnya dari tubuh bagian bawahnya.
“Kau menyukainya?” tanya Yesung pada Su Yeon yang terlihat masih berusaha mengatur nafasnya setelah mencapai orgasme pertamanya.
Su Yeon tidak menjawab pertanyaan Yesung melainkan menarik kerah baju namja itu kemudian mencium bibir namja itu. Dengan terburu-buru Su Yeon melepaskan kancing kemeja Yesung lalu melepaskan pakaian itu dari tubuh Yesung. Keduanya melepaskan tautan bibir mereka saat Su Yeon membuka kancing celana Yesung kemudian secepat mungkin melepaskan pakaian terakhir yang melekat di tubuh namja itu.
Su Yeon mendorong tubuh Yesung hingga namja itu berbaring di tempat tidur sementara dirinya berada di atas namja itu. Su Yeon refleks menutup matanya dan mendesah pelan saat merasakan kedua tangan Yesung meremas perlahan dadanya. Tanpa mengentikan kedua tangan Yesung yang terus menjamah tubuhnya, Su Yeon menundukkan wajahnya dan mulai menciumi seluruh wajah Yesung. Yeoja itu mencoba mengingat seluruh lekuk dan garis wajah Yesung.
Ciuman Su Yeon turun ke leher Yesung namun ia memastikan tidak meninggalkan sedikitpun jejak di bagian tubuh Yesung. Menyadari sikap hati-hati Su Yeon, Yesung menangkupkan kedua tangannya di wajah Su Yeon, memaksa yeoja itu untuk berhenti dan menatapnya.
“Waeyo?” tanya Yesung dengan suara sedikit parau.
“Aku tidak ingin meninggalkan bekas di tubuhmu. Kau bisa terkena masalah.” Yesung menggelengkan kepalanya.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Hari ini aku namjamu. Jangan memikirkan hal lain.”
“Tapi-“
“Su Yeon-ah, ku mohon. Lupakan semuanya. Kali ini kau cukup mengingat bahwa kita adalah sepasang kekasih.” Yesung menatap Su Yeon dalam, mencoba meyakinkan yeoja itu bahwa ia bebas melakukan semua yang ingin dilakukannya kali ini. Bahwa ia bebas meninggalkan jejak di tubuhnya sebanyak apapun yang ia mau.
Segaris senyum mulai terlihat di wajah Su Yeo, “eoh, geurae. Hari ini kau namjaku. Hanya milikku.”
Su Yeon kembali menciumi leher dan bahu Yesung sambil sesekali menginggalkan jejak di tubuh namja itu. Suara berat Yesung mulai terdengar memenuhi ruangan seiring dengan ciuman dan usapan lembut Su Yeon di seluruh tubuh namja itu.
Su Yeon menghabiskan waktu cukup lama menciumi, menghisap dan memainkan sepasang tonjolan di dada Yesung. Yeoja itu seolah menikmati suara Yesung yang berulang kali menyebut namanya.
Ciuman Su Yeon akhirnya terhenti di bagian bawah tubuh Yesung.
“Su Yeon-ah, kau tidak perl-aaah,” belum sempat Yesung menyelesaikan kalimatnya, namja itu mendadak kehilangan kemampuan berpikir saat ia merasakan Su Yeon memasukkan miliknya ke dalam mulut yeoja itu.
Sudut mata Su Yeon memperhatikan wajah Yesung. Namja itu menutup matanya dengan erat sementara mulutnya terbuka, sesekali mengeluarkan suara erangan setiap kali lidah Su Yeon menyentuh bagian-bagian yang memberikan kenikmatan bagi namja itu. Seolah tubuhnya bergerak tanpa kendali, Su Yeon terus memainkan milik Yesung yang berada di dalam mulutnya.
Su Yeon mengernyitkan alisnya saat merasakan milik Yesung mulai berkedut. Tidak lama kemudian yeoja itu merasakan mulutnya mulai dipenuhi cairan yang meluncur deras dari milik Yesung.
“Gwenchana?” tanya Yesung dengan penuh kekhawatiran sambil mengusap cairannya yang tertinggal di bibir Su Yeon.
“Gwenchana,” sahut Su Yeon. Yeoja itu membaringkan tubuhnya di samping Yesung. Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam sambil memandang langit-langit kamar Su yeon.
“Su Yeon-ah,” suara Yesung yang pertama kali memecah keheningan. Su Yeon memiringkan tubuhnya dan menatap Yesung.
“Nee?”
“Kau… mau melakukan lebih dari ini?” tanya Yesung hati-hati. Su Yeon tersenyum mendengar pertanyaan Yesung. Yeoja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Yesung hingga tidak lama kemudian bibir keduanya kembali bertautan. Mata Yesung yang awalnya menutup sontak membuka saat merasakan tangan So Young yang memijat lembut miliknya, membuat benda itu kembali menegang.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Bukankah hari ini kau namjaku?” ucap Su Yeon. Dengan cepat Yesung mengangkat tubuhnya hingga akhirnya namja itu kembali berada di atas Su Yeon dengan kedua tangannya diletakkan di antara kepala Su Yeon.
“Ini akan terasa sakit,” ucap Yesung lirih. Su Yeon mengalungkan kedua lengannya di leher Yesung dan menarik kepala namja itu.
“Pastikan kenikmatan yang aku rasakan setelahnya sepadan dengan rasa sakit itu,” bisik Su Yeon dengan nada seduktif. Yesung menautkan jemarinya dan jemari Su Yeon lalu mencium yeoja itu dalam. Sebuah ciuman yang diawali dengan lembut dan perlahan namun sesaat kemudian berubah menjadi ciuman yang liar seiring dengan lidah Yesung yang kembali masuk ke mulut Su Yeon.
Dengan perlahan tapi pasti, namja itu mengarahkan miliknya ke dalam tubuh Su Yeon, membuat yeoja itu sedikit meringis ketika merasakan sesuatu menembus tubuhnya.
“Gwenchana?” tanya Yesung khawatir saat melihat wajah Su Yeon yang memperlihatkan dengan jelas rasa sakit yang tengah dirasakannya. Su Yeon mengeratkan tautan jemari mereka sambil menggigit bibir bawahnya.
“Teruskan,” jawab yeoja itu yakin. Yesung mengeluarkan miliknya lalu kembali mencoba memasuki tubuh Su Yeon. Sebuah teriakan yang cukup nyaring lolos dari mulut yeoja di bawahnya, membuat Yesung kembali berhenti.
“Jangan berhenti. Ku mohon. Make me yours,” ucap Su Yeon. Yesung mencoba menggerakkan miliknya sekali lagi, menembus tubuh Su Yeon. Tidak lama kemudian Su Yeon mulai merasakan cairan keluar dari dalam tubuhnya seiring dengan bau amis yang samar-samar tercium.
“Bergeraklah,” perintah Su Yeon.
“Tapi kau sepertinya masih kesakitan,” tolak Yesung yang lebih memilih mendiamkan miliknya sejenak agar tubuh Su Yeon terbiasa dengan dirinya. Su Yeon menggeleng keras. Yeoja itu melingkarkan lengannya di pinggang Yesung.
“Sekarang,” perintah Su Yeon sekali lagi. Meski ragu Yesung akhirnya tetap menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Bagian tubuh Su Yeon yang sempit secara perlahan mulai memberikan kenikmatan tersendiri bagi Yesung, membuat namja itu tanpa sadar menggerakan tubuhnya semakin cepat.
“Ah… Yesung-ah,” sebuah desahan nyaring meluncur dari mulut Su Yeon ketika akhirnya Yesung berhasil menyentuh titik kenikmatan yeoja itu. Keduanya mulai bergerak seirama, mencoba mengakumulasikan setiap kenikmatan yang mereka rasakan
Suara erangan dan desahan meluncur hampir beriringan dari mulut kedua namja dan yeoja itu seiring dengan suara kulit yang saling beradu. Tubuh Su Yeon dan Yesung mulai bermandikan keringat namun tidak ada yang berniat menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini. Yesung memeluk tubuh Su Yeon tanpa sedetikpun menghentikan gerakannya sementara kaki Su Yeon terus melingkat dengan erat di pinggang Yesung.
“Su Yeon-ah, aku hampir sampai,” ucap Yesung setelah beberapa saat.
“Na do.”
“Kau ingin aku mengeluarkannya di dalam?”
“Eoh, gwenchana.” Su Yeon mengerakkan tubuhnya semakin cepat ke arah yang berlawanan dengan gerakan tubuh Yesung. Membuat kenikmatan yang mereka rasakan semakin berlipat. Yeoja itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan keras tepat saat ia merasakan cairan dari dalam tubuhnya keluar dengan derasnya.
“Sebentar lagi,” ujar Yesung di sela nafasnya yang mulai tersengal-sengal. Namja itu terus menggerakkan tubuhnya hingga akhirnya ia merasakan miliknya berkedut dan sesaat kemudian cairan dari tubuhnya mulai keluar membanjiri tubuh bagian bawah Su Yeon. Seolah kehilangan kekuatannya, Yesung terjatuh tepat di atas tubuh Su Yeon.
“Saranghae, nae yeoja,” bisik Yesung.
“Eoh, na do saranghae, nae namja.”
Su Yeon memeluk erat tubuh Yesung yang sudah bermandikan keringat sambil sesekali mengusap punggung namja itu. Yesung berniat melepaskan pelukan mereka tapi lengan Su Yeon menahan namja itu.
“Jika kau terus memelukku seperti ini, aku tidak yakin bisa menahan diriku untuk tidak mengulangi apa yang sudah kita lakukan,” ucap Yesung. Su Yeon terkekeh pelan.
“Sekarang baru pukul dua belas siang, tuan muda,” Su Yeon berbisik sebelum mengulum daun telinga Yesung. “Kita masih punya berjam-jam sebelum besok datang. Kecuali kau berniat pulang lebih awal.”
“Jadi kau menginginkanku sekarang, eoh?”
“Hanya untuk hari ini aku ingin menjadi egois. Kau milikku. Kau namjaku,” jawab Su Yeon tegas.
Yesung mengangkat tubuhnya saat merasakan pelukan Su Yeon sedikit melonggar. Namja itu duduk di tempat tidur sambil memandangi wajah Su Yeon.
“Kau berkeringat,” ucap Yesung, membuat Su Yeon sedikit mengerutkan dahinya. Sebuah seringai terlihat di wajah Yesung, “bagaimana kalau kita mandi sama-sama.”
Su Yeon tertawa pelan saat merasakan tangannya di tarik Yesung hingga akhirnya yeoja itu bangun dari tempat tidur dan mulai melangkah menuju kamar mandi.
Su Yeon POV
“Su Yeon-ah.” Panggil Yesung lembut ditelinga ku. Namja itu sesekali mengusap bahu ku, memberikan rasa nyaman. Aku dan Yesung berbaring di tempat tidurku, kelelahan tapi merasa bahagia. Entah sudah berapa kali kami melakukannya hari ini. Ku rasa tidak ada bagian di rumahku yang luput dari kegiatan kami hari ini.
Setelah mandi dan tentu saja sambil melanjutkan apa yang sudah kami lakukan sebelumnya, aku dan Yesung memesan makan siang. Saat aku sedang mencuci piring, Yesung justru menggodaku dan kami berakhir terbaring di lantai dapur. Setelah itu kami kembali melakukannya di ruang tengah dan akhirnya kembali ke tempat tidur.
Kami berdua sama-sama sadar kebahagian ini akan berakhir seiring dengan matahari yang datang esok pagi.
“Nde?” Sahut ku sambil mendongakkan kepalaku.
“Apa aku bisa melupakan mu?” sebuah pertanyaan yang membuatku merasa sesak tapi aku memang tidak bisa mengelak bahwa melupakanku adalah sesuatu yang harus namja ini lakukan.
“Entahlah. Ku harap begitu.” Aku kembali menyandarkan kepalaku pada dada Yesung, menikmati degup jantung namja itu dan merasakan bagaimana ia berada begitu dekat denganku. “Kau harus memperlakukannya dengan baik Yesung-ah. Jangan pernah membencinya karena dengan begitu kau hanya akan menyiksa diri mu sendiri dan juga dirinya.”
“Apa aku boleh merindukan mu?” Lagi-lagi pertanyaan Yesung membuat dadaku terasa dihimpit dengan kuat.
“Ku rasa tidak apa sesekali merindukan ku,” jawabku dan dibalas dengan pelukan dari Yesung.
“Yesung-ah, kau tau berapa lama seekor kupu-kupu bisa bertahan hidup?” tanya ku setelah kami terdiam beberapa saat.
“Molla.”
“Satu atau dua minggu.” Aku kembali mendongak dan mengecup bibir Yesung. Tuhan, aku akan merindukan namja ini. “Anggap saja aku kupu-kupu yang kau lihat di suatu taman dan saat kau kembali lagi ke taman itu kupu-kupu itu sudah tidak ada lagi. Kau hanya cukup mengingat seperti apa bentuk kupu-kupu itu tanpa perlu mencari kemana ia pergi. Tanpa perlu bertanya kenapa kupu-kupu itu hanya bertahan beberapa saat padahal kau masih ingin melihat keindahannya.”
“Saranghae. Jeongmal sarangahae.” Bisik Yesung sambil membelai rambut ku.
“Aku tahu itu. Na do, neol jeongmal saranghae.” Yesung mengusap punggung ku hingga akhirnya aku tertidur dalam pelukannya.
Keesokan harinya, setelah mandi, aku dan Yesung sarapan bersama. Kami benar-benar merasa seperti sepasang kekasih, setidaknya untuk satu atau dua jam lagi.
“Aku harus pergi sekarang,” ucap Yesung pelan saat melihat jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. Aku memaksakan diri ku untuk tersenyum dan aku bisa melihat dengan jelas Yesung yang juga berusaha untuk tersenyum. Aku mengantarkan Yesung hingga pintu dan merapikan kemeja yang dikenakan namja itu. Yesung menarik ku dalam pelukannya dan membisikkan “saranghae” berkali-kali seolah apa yang dilakukannya tadi malam tidak cukup untuk menunjukkan ia benar-benar mencintai ku. Setelah cukup lama, namja itu akhirnya melepaskan pelukannya dan menciumku sebelum akhirnya dia benar-benar pergi. Kali ini dia pergi tanpa menjanjikan apapun kecuali akan memperlakukan istrinya dengan baik. Tangis ku akhirnya pecah setelah Yesung benar-benar pergi meninggalkan flat. Aku tidak ingat berapa lama aku terduduk dan menangis.
Author POV
Seorang namja terduduk di kursi sambil menatap kosong ke arah langit yang terlihat dari jendela kamarnya. Sebuah ketukan pelan di pintu membuat namja itu berdiri dan membuka pintu kamarnya.
“Hyung, kau membutuhkan sesuatu?” Tanya Jong Jin, adiknya yang sudah terlihat rapi dalam balutan kemeja putih dan jas hitam. Yesung mengangguk dan meminta adiknya untuk masuk ke dalam. Namja itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Jong Jin bersamaan dengan secarik kertas. Jong Jin menatap bingung hyungnya.
“Bisakah aku minta tolong pada mu? Antarkan benda ini pada seseorang bernama Han Su Yeon. Alamatnya sudah aku tuliskan di kertas itu.” Yesung menatap dongsaengnya dengan tatapan memohon.
“Hyung…. Sebentar lagi upacara pernikahannya akan di mulai.”
“Ku mohon Jong Jin-ah, tempat itu tidak jauh dari sini. Hanya 20 menit. Masih ada 45 menit lagi sebelum upacaranya di mulai. Kau punya waktu cukup banyak. Ku mohon.” Jong Jin memang tidak tahu siapa orang bernama Su Yeon itu dan apa hubungannya dengan hyungnya. Tapi melihat bagaimana hyungnya memohon saat ini, orang itu pastilah sangat penting bagi Yesung. Jong Jin akhirnya mengangguk dan dihadiahi senyum lega dari Yesung.
Yesung menutup matanya dan menautkan kedua tangannya saat Jong Jin sudah keluar dari kamarnya. Namja itu menundukkan kepalanya dan berdo’a cukup lama.
“Aku mencintai mu Su Yeon-ah, jangan pernah lupakan itu. Ku harap kita tidak akan menyesali keputusan ini,” bisik Yesung pada angin yang berhembus pelan melalui jendela yang terbuka.
Su Yeon sedang memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper di kamarnya saat suara ketukan terdengar dari pintu masuk flatnya.
“Biar aku yang buka!” Haneul yang berada di ruang tengah berteriak sambil berjalan ke arah pintu masuk. Yeoja itu menatap heran seorang namja yang berdiri di balik pintu.
“Ehm, kau Han Su Yeon?” tanyanya sopan.
“Bukan. Aku teman Su Yeon. Aku akan memanggilnya. Tunggu sebentar, nee?” Haneul bergegas mendatangi Su Yeon dan menyuruh sahabatnya itu untuk keluar menemui namja yang mencarinya.
“Aku Kim Jong Jin. Adik Kim Yesung.” Rasa sesak kembali menyeruak di dada Su Yeon begitu mendengar nama Yesung meluncur dari mulut namja dihadapannya. Jong Jin mengeluarkan kotak kecil berwarna biru yang sebelumnya dititipkan hyungnya.
“Hyung meminta ku untuk memberikan ini padamu,” ucapnya sambil meyerahkan benda kotak itu. Dengan sedikit rasa ragu Su Yeon mengambil benda itu dan mengucapkan terima kasih pada Jong Jin.
“Apa itu?” tanya Haneul heran saat melihat temannya yang berdiri terpaku menatap benda ditangannya sepeninggal namja bernama Jong Jin itu.
“Aku juga tidak tahu.” Perlahan Su Yeon membuka benda kotak itu, menampakkan sebuah bros berukuran kecil dengan bentuk kupu-kupu. Tapi kupu-kupu itu tidak terlihat seperti kupu-kupu biasanya karena hanya bagian kanan dari kupu-kupu itu yang memiliki sayap. Su Yeon mengambil bros itu dan menggenggam erat benda itu seolah benda itu adalah bagian dari dirinya. Yeoja itu meletakkan tangannya yang masih menggenggam bros di dadanya, mencoba mengirimkan rasanya pada bagian lain yang ia yakin dimiliki seorang namja. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang keputusan yang terbaik.
Yesung membuka genggaman tangannya dan menatap bros kupu-kupu dengan sayap di bagian kiri tubuhnya. Setitik air matanya jatuh dan membasahi benda yang sedari tadi ia pegang. Namja itu akhirnya memasukkan bros itu kedalam kotak kecil kemudian menyimpannya di bagian terdalam salah satu laci di kamarnya.
Tidak lama kemudian Yesung melangkah keluar dari kamarnya untuk berangkat menuju tempat dilaksanakannya upacara pernikahannya hari ini. Bersiap untuk memulai bagian baru dalam hidupnya.
Berpuluh-puluh kilometer dari mobil Yesung, Su Yeon terlihat menyeret kopernya memasuki pesawat yang akan membawanya meninggalkan Seoul. Bersiap untuk memulai bagian baru dalam hidupnya.
———- Last love, last kiss, last dream. My heart that knows you only remembers you.———-
Tidak semua kisah cinta akan berakhir bahagia seperti dalam dongeng. Yesung dan Su Yeon tahu betul itu. Terkadang cinta bukan hanya tentang kebahagian aku dan kau tapi juga mereka. Tapi keduanya tidak pernah menyesali pernah jatuh cinta sama lain karena mereka belajar bahwa melepaskan sebenarnya merupakan bukti tertinggi keabsahan cinta.
———–Goodbye my love my kiss. One Love, one kiss, to my heart. I’ll try to forget everything.—-

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 16/08/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 156 Comments.

  1. Ending nya sedih bgt,
    gak smua hal yg kita inginkan bisa kita milikh,
    bikin sequelnya dong

  2. AnaYoonaddict

    Omona.. Cuma satu kata “Daebak”. Ceritanya pas banget. NCnya juga gak terlalu, berjalan sesuai kebutuhan cerita. Daebak thor… Kayaknya gk perlu sequel nih.. ^^

  3. ahhh daebakkk!! feelnya dapet thor..:D

  4. soojinwook218

    Ok ini sedih… T__T

    Kereen bgt thor smpe ke bawa suasana pas bca FF’a…
    Need sequel deh thor.okey..okey… ^_^

  5. Sad ending yah? Ku harap ini happy ending ternyata tida T_T.
    Seperti nya butuh sequel nih
    #rayu author
    #kasih Yesung oppa

  6. yulistia harfiyani

    sad ending,, overall alur n ceritanya bagus… yups gga smua kisah cinta hrus brujung penyatuan kedua pihak n kebahagian… seenggany cinta merekalah pembuktiannya…

    daebakkk thor big applaus lah buat author… sllu ditunggu ff barunya🙂

  7. Ditha Adinda Firmansyah

    sad ending, neomu neomu appeuda,

  8. Sediiih…. Terharu….
    Tp itu adalah pilihan yg sudah dipilih….
    Kalimat pemotivasi hanyalah bahwa cinta tak harus memiliki….
    Kalimat itu sebenarnya kalimat putus asa…tp biarlah saat ini kalimat itu yg mereka butuhkan….🙂

  9. Cerita kehidupan…bnr2 menyedihkan…
    Aku takut dgn real life…gak sejalan dgn cerita dlm buku

  10. thyta shedalihi

    Daebak athor,crta nya keren🙂

  11. Syediihhhh

  12. Daebakk!! nyentuh bgt ff nya、😦
    dri awal feelny dah dpet, palagi pas diakhir cerita bkin nyesek

  13. Sequel thor, buat cerita tentang kehidupan yesung setelah menikah🙂

  14. Aigoo..
    Mimin daebakkk..
    Feelnya dpt bgt, ceritanya jg bagus, Q kira si Yesung tetep ama Su Yeon tp ternyata…
    Weee, paragraf yg paling bawah nyampe bgt pesannya..ㅠㅠ

    sequel please..^^

  15. sad ending😥

    ff.y keren. Daebak

  16. asli nyesek banget daach..-_-, .
    sequel donk thor^^

  17. keren bgt, tp kasian deh ma ending’a

  18. huee.. aq rasa, kisah cinta ny sama kek aq, gak bisa memiliki tu namja…😥
    daebak thor

  19. ok lu berhasil buat gue mewek thor… ceritanya daebak banget!!! kayaknya butuh sequel deh thor,,, penasaran selanjutnya gimana,, huwaaa

  20. Mirna Yustina

    Kim Yesung…??? Siapa itu Kim Yesung…???:/ Bukan’y nama Asli Yesung Oppa mah “Kim Jong Woon” ya..???:/ Hmm, tapi Daebak nih FF’y… ^^

  21. Sequel..hehe

  22. Keren critanya thor

  23. LiaHeechul_Elf

    Kecewa aja sama endingnya….

  24. endingnya sedih banget…. huhu..😥
    tapi keren banget alur ceritanya thor kayak drama yang di tonton mamaku (tp gk ada yadongnya ‘-‘) bikin sequelnya dong… pasti lebih menghanyutkan lagi nih…. *usap ingus…

  25. Firly Kpopers

    sad ending, ? omo..
    kukira happy ending ;-;
    kata2 motivasi yg bgus :’) I like it!
    btw sequel donk thor.. plz TT-TT
    dpet feel lalu terharu jg sih.
    daebak xD mian bnyk komen..

    • gomawooo sudah mampir ^^

      mian, endingnya bukan yang hepi ending, soalnya ngerasa sad ending will be the best one untuk cerita ini🙂

      errr… kalo sequel… errr…..

  26. ahhh,, sad ending,,,
    pengen nangis pas baca akhirnya,,,

  27. sad ending TT.. daebak thor sedih banget klo bisa ada sequelnya thor.. gomawo

  28. nyesek bgt ya thor..
    tp itu abang yeye yadongannya demen amat ya.. hehe
    aku suka ff nya

  29. I think this is the best ff I’ve ever read🙂 daebakk

  30. ending nya bikin nyeseeeeeeeekkkkkkkkkk

  31. Hampir nangis bacanya,, 5 jempol buat author nya..

  32. Roza Fitaria

    beli feel dimana thor ?
    bisa dapet bgt feelnya !
    daebak daebak daebak (y)

  33. i love u full, jeongmal daebak author smua perasaan menjd satu sult d.ungkpkn hny mampu meraspi dgn air mta dan senyuman akn trasa nyata, fiGHTING!!!

  34. Hwaaaa T.T dikira hakan sad. Yesung bawa kaboooor ajah #plakk

  35. Bagus ceritanyaa.. Tapi sayang😀 harusnya nama Yesung kan Kim Jongwoon Bukan Kim Yesung😀 Tapi aq suka ceritanyaa.. (҂’̀⌣’́)9

  36. I need sequel…
    Ini terlalu menyakitkan seenggaknya ada versi dmna mereka bisa happy ending bersama..
    Nice FF

  37. Need squel buat crt ttg sesudah oяα̲̅πğ t memiliki pasangan masing2 alias udh nikah and bertemu kembali. Seru t thor. >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡okαy

  38. hwuaa…. hisk daebak banget , bikin nyesek…

    please , bikin sequelnya dong (happy ending) ya”” ditunggu loch🙂

  39. Sad ending T.T #Mewek
    NCnya pas thor walau kurang hot dikit .-. #etdah
    Cuma bisa bilang “DAEBAK” atas karyamu thor,sumpah keren banget,ceritanya nyentuh dan bikin nae penasaran mulu ._.
    Ah daebak pokoknya !!🙂

  40. Huaaa keren bangettt..
    Daebak daebak daebak..
    Keep writing thor😀

  41. Nangis kejer baca ni endingnya. Ah yesung:'( thor bikin lg dong ff yg beginian. God joob buat author:)

  42. keren thor , DAEBAK🙂 bikin sequelnya pliss

  43. keren thor ceritanya , DAEBAK🙂
    BIKIN SEQUEL (WAJIB)

  44. Onnie nyebeliiiiiin, huaaaaa kenapa bikin FF angst terus sih ?? Sekali2 biarkan si aktor tampan dan yeoja nya itu bahagia dong, huhuhuhu😦

    Btw, horeee seneng banget bisa nemu FF ence onnie disini, huahhahahaha ga nyangka banget looh😄

  45. Gua nangis thor -_,- ,, pokoknye ini ff kece dahh aaa ,, next ff + sequel ff ini ditunggu yap😀 hwaiting

  46. nyesek banget. . .
    need sequel,bikin mereka bersatu lg

  47. aarrgggh..
    In sedih binggit,2 2’e ga egois mkrin cinta mereka sndr trus feel’e kerasaaaaa bgt..
    Daebak deh😀

  48. wiwied_chan

    kya… sedih deh…
    buat sequel dong.chingu.
    keep writting!

  49. daebak!! katakatanya bagus banget!! boleh aku share gak chingu?

  50. Titania_Nathania Kim

    Huwwaaaa auutthhoorr ddaebakk (y) (y)
    Kalo boleh jujur nih ya tor, dari beratus-ratus(?) *Lebay* fanfiction ini adalah ff pertama yang bisa bikin saya nangis saat di part terakhirnya..😥😥
    Feelnya dapet saat di pertengahan saat Yesung mencium Su Yeon…🙂

    Wah kalo inimah need sequelnya thor, sangat dibutuhkan!!…😉

    Keep writing and do the best!!😀🙂😉

  51. Sedih banget baca ff ini………..akan semakin indah jika ada kelanjutannya…….mungkin su yeon akan punya anak dengan yesung………

  52. So sadly😦 mengorbankan perasaan mereka

  53. ah,sedih gue thor bacanya.
    btw,gue lebih suka NC yang begini,daripada yg blak2an.heheheh #plaakk

  54. chukkae thor, sukses bikin nyesek .
    haduh, crita org dewasa . menakutkan .
    klu dpikir logika, ni g adil bwt su yeon . tp dilihat dr hati, dy bener2 cew yg hebat .
    aku g yakin bs kaya su yeon . #plak, malah curhat .😀

    daebak thor . critanya lbh dominan dr NCnya . keren dah pokoknya .😀

  55. Wahhh daebak, endingnya sedih bner thor..
    .

    Aku suka karakter yesung, sweet bner…

    Huwaa sequel donk thor.

  56. aaaaa kerenn daebak !! feelnya dapet bgt #ngabisin tisu
    sad ending😦 bener” nyesek bacanya T_T

  57. yeonchanpark

    Sad ending.. Bagus critanya suka banget..

  58. Nyesek😥

  59. myungsoobaby'-'

    Aaaaa hmpir meneteskan air mataaa thorrr :’3
    Daebakk!!!! Sekuel sekuel sekuel (ง •̀⌣•́)ง
    #demo ‘3’

  60. seru banget thor ff nya eritanya seru abisssssss…
    tapi kenapa harus sad ending😥
    sequel dong thor siapa tau nanti su yeon punya anak sama yesung oppa terus akhirnya happy ending deh thor…ayo thor bikin sequel! KEEP WRITING!!!! pasti banyak yg baca deh thor…SEMANGAT!!!

  61. thor, please sequel, lanjutannya sad lagi juga gak apa2 deh. pas mereka udah tua gt. bisa mati penasaran nih >< ayolah thorr *tarik yesung oppa* *bawa kabur yesung oppa biar author bikin sequel* keep writing thor! ^^

  62. Hwuaaa. . . .
    #nangishistreris
    OMO! G’tga. . . .
    Daebak. . . .

    ^_^tj

  63. saphire blue

    Endingnya daebak bgt

  64. hiks… sedih banget endingnya :'(((

  65. Knapa endingnya sedihhh sih , ? Bkin sekuelnya dong , bkin supaya yesung sama su yeon brsatu ,

  66. ya ampun thor gak kuat kalo harus jadi su yeon, keren lah buat athor
    tapi butuh sequel
    jeballlll

  67. Eonni tetep sad ending???
    Aku kira bakal kawin lari tuh mereka,
    Hahahahah
    NC eonni tuh slu ya bukan sekedar NC, jadinya malah NC yg bener bener dewasa, jadi kerasa thay doing something like that with a love *bnr ga ya nulisnya,
    Pokonya bukan sekedar begitu * bgtu apa yaa ahahahah
    Ah sllu tersenopaaa sama karya eonni..
    Johaaae..

  68. Note :
    Kelupaan, baru aja mau protes, eonni bilang ada sequeell nya,, tapi ga adaaa
    Eh tapi pas baca reply eonni ke yang katanya udah di email,, jadi ga sabaaar menunggu,,
    Hahahaha bukan nunggu yadong nya koo, *masaa, ia itu dikit lahh, tapi beneran pnasaran aja nunggu cerita slanjutnya. . Abis ini ga adil banget buat jongwoon sueyeon dan aku.. *nahlhoo
    Hahaha
    Pkonya dtunggu deh,, admin yg disini moga cepet publish yaaa,, *kedip kedipp..

  69. sequel y donk,,,,seduh bngt,,,tlat bca y

  70. huwaaaaa….
    hikshikshikshiks…
    knp jd sad ending..
    nyesek bgt bcanya…
    need sequeeeellll…
    T_T>_<¦¦¦

    • hohoho…
      pas bikin lagi angst mode, jadinya bikin kayak gini…
      sequelnya udah ada, tapi mungkin bakal ga terlalu suka sama ending sequelnya.. he
      cari aja yang Last Love ^^

  71. /narik napas/ DAEBAAKK thooorrr;”””)) suka semua yg ada di ff iniiii.. yampun aku bgerass manis aja ceritanya setujuuu sama endingnya ga semu hal yg kita inginin tercapai… daebak bgt;”) fighting;’)

  72. Im The Most Beautiful Girl

    Kenapa ngena banget sii jeng kata – kata mu itu? Terkadang mencintai itu gak perlu memiliki, walaupun terdengar munafik. Namun, jika itu yang terbaik untukmu dan tak menyakiti seseorang yang juga mencintai ‘nya’. Biarlah, biarlah hanya kamu yang tersakiti. Allah tahu, siapa yang lebih pantas untukmu. Siapa yang terbaik untukmu. Karena Tulang rusuk hanya cocok dengan tuannya sendiri :’).
    Uahhh, aku mellow.😀 Hahaa. Daebak banget jeng.

    • agree… terkadang memang harus mengalah… buat orang lain…
      kalo emang bukan tulang rusuk yang pas, mau dipaksain gimana juga pasti bakal kepisah juga ntar
      tp kalo emang pas, mau kepisah gimana juga pasti bakal ketemu lagi🙂
      gomawooo sudah baca🙂

  73. sad ending😥
    keren eon ff nya ^^ feelnya dapet banget..

  74. Sad Ending T^T
    Aku suka sama Fanficnya secara aku Memang Clouds haha
    Keren FF nya :’)

  75. nie ff nc yesung pertama yg aq baca dan sumpah demi apapun aq suka banget walau harus berakhir tragis😥
    but aq suka saat mereka sama”🙂
    i love it❤

  76. nyesek endingnya .😦
    Daebak Thor !

  77. nyesek bnget sumpah,,,😦

  78. awaliyah1023

    sedih banget :-(…mereka harus berpisah akhir’a

  79. Ff oneshoot keren yang pernah aku baca. Alurnya gak kecepetan tp akhirnya sad ending, butuh sequel ini mah thor😦

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: