Insane 1–You Should Be Mine

Insane_cover

Title: Insane 1–You Should Be Mine

Author: Hachi3424

Main Cast: Yesung, Han Young Min (OC)

Genre: Romance, little Crazy (?), NC

Rating: 17+ (maybe)

Type: Oneshot series

 

**

 

Bunyi musik yang terus mengalun keras dan lampu disko yang bersinar remang-remang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang memasuki diskotik itu. Tidak terlalu ramai yang berkunjung malam ini sehingga membuat suasana sedikit lebih lengang, maklum diskotik itu berada di hotel bintang lima yang hanya bisa diakses oleh orang-orang berstatus tinggi.

Seperti namja ini misalnya. Kim Jong Woon atau biasa dipanggil Yesung. Ia adalah seorang Presdir di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang periklanan di usianya yang masih muda, 28 tahun. Sebenarnya itu perusahaan milik orang tuanya, tapi kedua orang tuanya memilih untuk menyerahkan perusahaan itu pada putra satu-satunya ini. Alasannya? Karena mereka ingin bersantai di usia yang hampir lanjut dan menunggu datangnya menantu idaman di keluarga mereka. Alasan yang aneh.

“Woah, Hyung. Kukira kau tidak akan datang?” sapa seorang namja dengan senyum lebar yang terlalu lebar, susunan gigi serta gusinya jadi terlihat.

Yesung menepuk bahunya sekilas, matanya terus mengawasi sekeliling, seperti mencari mangsa untuk malam ini. “Tugasku di kantor sudah selesai sejak kemarin. Malam ini aku ingin melakukan penyegaran,” sahutnya, membuat namja tadi—Eunhyuk—saling berpandangan dengan temannya yang lain.

“Penyegaran?” Donghae bersuara, ia menaikkan sebelah alisnya dengan mata yang menatap penuh arti. “Apa maksudmu penyegaran yang ‘itu’, Hyung? Aish, bad boy!” serunya sambil tertawa keras, tak lupa meninju lengan Yesung dengan keras. Ucapannya disambut dengan tawa dari Eunhyuk.

“Kau datang di waktu yang tepat, Hyung. Code malam ini bikini party! #hoek *author cemburu* Tidak heran kan kalau yeoja-yeoja di sini tampil anggun sekali?” ujar Eunhyuk bersemangat sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

Yesung mengerutkan dahinya. “Anggun?” Anggun dari mana?! Di sana isinya yeoja-yeoja dengan bikini semua! Meskipun AC di ruangan remang-remang itu sudah dinyalakan dengan suhu yang paling dingin, tapi suasananya tetap saja panas. Dasar Eunhyuk aneh.

“Sudah ya, Hyung. Kami ke sana dulu. Ada yang menunggu,” ujar Donghae sambil menunjuk ke satu arah tempat dua yeoja berbikini menunggunya dengan tatapan memancing.

Yesung mengangguk sekilas. Ia kembali mengawasi sekeliling, mencari-cari yeoja-yeoja nakal yang mau menghabiskan waktu bersamanya malam ini. Tinggal dia sendiri di sofa sudut ruangan, sedangkan Eunhyuk dan Donghae sudah sibuk dengan dunia mereka masing-masing.

Tiba-tiba musik di ruangan itu berubah menjadi lebih keras, lebih membangkitkan semangat pengunjung. Yesung pun bangkit dan turun ke lantai dansa, menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik sambil mendekati yeoja-yeoja di sana. Tidak ada aturan di sini, hanya turunlah ke lantai dansa, bergerak sesukamu, dan pilih yeoja yang kausuka. Lagipula yeoja-yeoja di sana memang sedang menanti kehadiran namja seperti Yesung. Bad girl for bad boy.

Seorang yeoja mendekati Yesung. Namja itu mengulas seringai saat yeoja itu mulai menggodanya. Tubuhnya lumayan, atau bisa dibilang sangat menggoda. Apalagi malam ini dress code untuk wanitanya adalah bikini, jadi bisa membuat setiap jengkal tubuh yeoja itu terlihat dengan jelas.

Sebelah tangan si yeoja mengusap-usap dada hingga pundak Yesung dengan seduktif, tak lupa memamerkan senyum genitnya yang diikuti dengan gerakan seirama dengan musik. Yesung membalasnya dengan menyentuh pinggangnya yang terbuka. Mereka saling merapatkan tubuh, saling menggesekkan tubuh satu sama lain, hingga Yesung berbuat semakin berani.

Namja itu menyelipkan wajahnya di antara lekukan leher dan bahu yeoja itu, menghirup aroma tubuhnya dengan liar. Yeoja itu mendesah pelan ketika bibir tipis milik Yesung menyentuh kulitnya. Mulai dari leher hingga naik ke tengkuk.

“Akh…”

Desahannya semakin keras dan Yesung bergerak dengan semakin berani. Ia menarik yeoja itu ke sudut ruangan, mengecup kulit lehernya dengan sedikit lebih ganas, menghisapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Kepala mereka bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti alur gairah yang mulai membara. Yesung mengikuti gairahnya sesuai dengan nafsu yang sedang menguasai dirinya. Nafasnya mulai memburu, tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk menyentuh setiap jengkal tubuh molek yeoja itu.

“Asshh…”

Kini tangan yeoja itu meremas rambut Yesung, kepalanya mendongak dengan mata yang sengaja dipejamkan erat-erat, tak lupa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan nikmat yang mulai menghampirinya. Yesung tersenyum kecil, ia semakin bergairah menyentuh tubuh si yeoja. Sebelah tangannya meremas dada yeoja itu dengan keras, sementara sebelahnya lagi bersiap menurunkan tali branya melewati bahu.

“Enghh…”

Yesung mendorong yeoja itu ke dinding, menyudutkannya sementara ia sibuk menikmati pemandangan yang ada. Pemandangan indah di balik bra yang sudah diturunkannya hingga di bawah dada. Lidahnya terjulur sedikit untuk menyentuh gundukan putih mulus yang tengah siap menunggu untuk digoda. Lidahnya bergerak memutari gundukan itu, hingga beralih ke putingnya yang perlahan-lahan mulai mengeras.

“Aaahh…”

Si yeoja mulai tidak tahan. Keringat mulai menuruni dahi serta lehernya. Kedua tangannya mendorong kepala Yesung untuk menempel pada dadanya yang sintal itu. Sementara Yesung sudah meninggalkan bekas-bekas kemerahan di kedua gundukan tersebut.

“Goda aku, baby,” bisik Yesung seduktif sembari memelintir nipple si yeoja yang sudah mengeras.

Dengan senang hati yeoja itu menurutinya. Kedua tangannya turun ke bawah, membuka ikat pinggang dan resleting Yesung dengan tidak sabaran. Setelah terbuka, ia tidak menurunkan celana jeansnya, hanya menurunkan celana dalamnya dan mengeluarkan isinya yang mulai terangsang.

“Aah, manjakan dia, baby,” desah Yesung, membiarkan yeoja itu meremas miliknya. Ia memejamkan mata saking nikmatnya, sambil meremas payudara si yeoja dengan nikmat.

“Eummmhh…” Yeoja itu mengeraskan desahannya. Yesung memasukkan sebelah payudaranya yang kencang dan montok ke dalam mulutnya, mengemutnya seperti permen. Namun yang ini lebih besar, sehingga hanya sebagiannya saja yang bisa masuk.

“Ngghh…” desah Yesung, miliknya sedang dikocok sekarang. Mungkin efek pelampiasan dari si yeoja yang terus ia godai tubuhnya. Yesung suka ini, ia mulai terangsang.

“Aaahh… Oppa…” desah yeoja itu, sedikit tersentak ketika tiba-tiba sebelah tangan Yesung beralih ke balik celana dalamnya, membelai lipatan di dalam sana.

Bibir Yesung beralih ke wajah yeoja itu, mengecup rahangnya dengan nafsu hingga ke bibirnya yang mungil. Bibir mereka saling melumat dengan kasar, berlomba-lomba memasukkan lidah mereka ke rongga mulut lawan main. Yesung membiarkan yeoja nakal itu memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutnya, dan ia menyambutnya dengan melilit lidah itu dan menghisapnya kuat-kuat.

“Eunghhh…!” erang yeoja itu. Sialannya si Yesung yang memasukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam kewanitaan yeoja itu dan mengocoknya dengan tempo cepat, merangsang cairannya untuk keluar.

Faster… Ooohh… fasterhhh, baby…” desah Yesung, menitahkan yeoja itu untuk mempercepat kocokannya.

Tangan halus yeoja itu mengocok kejantanan milik Yesung dengan cepat, bergerak naik turun sambil memijatnya penuh nafsu.

“Aarrgghhh… Nngghhh…”

“Oohh… Uhhh… asshh…”

“Aaahh… ahh… Oppahhh…”

“Ssshhh… Aaaahhhh…”

Yesung melenguh panjang bersamaan dengan cairannya yang menyembur keluar, membasahi telapak tangan si yeoja.

“Bersihkan,” titah Yesung.

Mereka jatuh di atas sofa di sana. Yesung menindih yeoja itu dengan posisi terbalik. Ia menurunkan celana jeans beserta celana dalamnya hingga sebatas lutut, memposisikan miliknya tepat di depan wajah yeoja itu, sementara ia bersiap membersihkan kewanitaan si yeoja yang sudah basah.

“Euummmhh…” Yesung mulai mendesah, nafasnya yang memburu menyapa daerah kewanitaan di depannya yang dibuka lebar-lebar. Sedangkan si yeoja mulai aktif menjilati ujung hingga pangkal benda panjang di bawah tubuh Yesung.

“Mmhh.. slrpp… aahh…” Sambil mendesah Yesung dan yeoja itu saling menjilat milik masing-masing. Menghisap atau bahkan menyedotnya kuat-kuat, hingga tubuh mereka sama-sama melengkung saking nikmatnya.

“Ooh.. gosh…” racau Yesung. miliknya dibawah sana sudah dioral, maju mundur, dihisap, diemut, sampai-sampai gelombang itu datang lagi.

Crot! Cairan si yeoja kembali keluar, langsung masuk ke dalam mulut Yesung. Yesung buru-buru membersihkannya dengan rakus. Beberapa menetes di sudut bibirnya. Sementara si yeoja mendesah, Yesung memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan gelombang kenikmatan mulai mendatanginya dan…

Crot! Crot!

“Aaaaahh…” Yesung melenguh panjang, lega, cairan kenikmatannya menyembur keluar dan siap ditelan yeoja itu.

Setelah bersih, Yesung bangkit mengubah posisi. Wajahnya menghadap wajah yeoja itu yang sudah tampak lemas setelah terbakar gairah dan nafsu. Di bawah sana tubuh mereka sudah siap untuk menyatu. Yesung semakin merapatkan tubuh mereka dan…

“Euunggghhhhh…”

 

**

 

Yoo Eun. Nama yeoja tadi Yoo Eun. Yesung tersenyum-senyum sendiri menatap nomor ponsel yeoja itu di layar ponselnya. Mungkin lain kali mereka bisa melakukan hal seperti tadi lagi.

“Astaga… Sudah jam berapa ini? aku lelah sekali,” keluh Eunhyuk sambil merentangkan kedua tangannya. Ia menguap sebentar, menahan rasa kantuk yang menderanya. Tak heran, ini sudah hampir tengah malam.

“Jam setengah dua belas. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali,” sahut Donghae dengan wajah panik. Sementara Yesung hanya menyesap minuman beralkoholnya dengan tenang.

Hyung, tidak pulang? Ini sudah hampir tengah malam, lho,” ujar Eunhyuk seraya bangkit dengan kunci mobil di tangannya. Donghae pun sudah bangkit dari sofa.

Yesung mengangguk. Lagipula ia sudah cukup lelah malam ini. “Kajja.” Mereka melangkah menuju pintu keluar, tapi ketika mereka tiba di ambang pintu, sebuah suara menginterupsi.

Eomma…”

Yesung berbalik, ia mendapati seorang yeoja sendirian di bar dengan wajah lesu. Ia menempelkan wajahnya pada meja bar, sesekali meracau. Sepertinya dia sudah mabuk.

Hyung, tidak pulang?” tanya Donghae sekali lagi.

Yesung mengibaskan sebelah tangannya, tanpa menoleh sedikitpun dari sosok yeoja mabuk itu. Hanya ada yeoja itu dan seorang bartender di sana, sementara pengunjung yang lain sibuk di lantai dansa.

“Kalian duluan saja,” ujarnya seraya meninggalkan Eunhyuk dan Donghae ke tempat yeoja itu berada.

Donghae dan Eunhyuk hanya mengendikkan bahu mereka, lalu pergi keluar. Yesung duduk di samping yeoja itu, tanpa yeoja itu sadari. Sesekali ia tersenyum geli mendengar racauan yeoja itu. Sepertinya ia putus asa, atau putus cinta? Entahlah, Yesung sama sekali tak tertarik. Ia lebih tertarik pada yeoja ini. Menurutnya sangat menarik, lucu, dan… aneh.

“Dasar namja… Beraninya dia mencampakkanku. Dia harus kuadukan pada eomma dan appa-ku… Tunggu saja…” racaunya lagi dengan suara yang lucu karena bibirnya dikerucutkan. Lucu sekali, seperti anak usia lima tahun.

Yesung tertawa, membuat yeoja itu tersentak dan menoleh ke arahnya dengan mata yang memicing. Alisnya bertaut dengan wajah tak suka.

Ya! Nuguya?! Beraninya menggangguku!” teriaknya dengan suara orang mabuk. Tangannya terangkat untuk memukul kepala Yesung, tapi meleset ke pundaknya.

Yesung tertawa kecil, puas melihat hiburan kecil di depannya. Tiba-tiba rasa lelahnya lenyap begitu saja. “Ugh, gendang telingaku bisa pecah, Nona. Berapa usiamu? Memangnya kau sudah diizinkan masuk ke sini?” tanya Yesung, bergurau. Tapi yeoja itu terlihat semakin kesal.

Ya! Usiaku sudah 22 tahun!! Tentu saja boleh, memangnya kau ahjussi tua!”

Yesung tersentak, matanya yang sipit membelalak kaget. Ahjussi tua? Usianya baru 28 tahun! Hampir 30 sih, tapi dia bukan ahjussi. Dan wajahnya masih terlihat sangat muda akibat kosmetik yang dulu pernah dicurinya dari ibunya.

“Siapa yang ahjussi?!” balasnya dengan berteriak, terdengar berat karena emosinya naik.

Yeoja itu meneguk minumannya dengan sekali teguk. “Kau. Memangnya siapa lagi?” balasnya. Menantang ternyata.

Rahang Yesung jatuh, membuatnya menganga lebar tak habis pikir. Masih muda tapi sudah berani menantang Yesung. Dia belum tahu siapa Kim Jong Woon sebenarnya.

“Aku masih muda! Lagipula kau aneh, dress code hari ini bikini, kenapa malah memakai kemeja seperti itu?”

“Cih, dasar namja. Kau pikir kau bisa melihat tubuhku yang indah ini dengan mudah?”

Yesung menganga. Indah apanya? Tinggi juga tidak, galak iya. Ia bersumpah gadis bernama Yoo Eun tadi lebih cantik dibanding yeoja tengil ini.

Yeoja itu memanggil bartender untuk menambah minuman beralkoholnya. Setelah bartender tadi menuangkan minumannya, ia hendak meraih gelas kaca di depannya. Tapi Yesung menahan pergelangan tangannya yang kecil.

Mwo?” tanyanya enteng, terlihat menantang.

“Kau menantangku?” tanya Yesung dengan mata yang menyipit, marah.

“Tidak.” Yeoja itu menatap Yesung dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi Yesung tahu ia tidak akan bisa melihat sosoknya dengan jelas. “Memangnya kenapa? Kau kira aku takut padamu, huh?”

Yesung menyeringai. Ia suka yeoja yang seperti ini, apalagi masih muda. Sepertinya akan menyenangkan jika ia menjebaknya sedikit.

“Kalau begitu aku menantangmu,” ujar Yesung penuh kebahagiaan. Kapan lagi dia bisa mengerjai yeoja tengil ini?

“Aish, memangnya kau siapa?!”

“Kim Jong Woon, atau Yesung. Presdir dari Kim corporation, salam kenal,” ujar Yesung tenang, memamerkan senyumnya yang menawan. Dan yeoja itu membelalak kaget.

“Baru jadi Presdir saja sudah sombong,” desisnya kesal. “Apa tantangannya? Aku tidak takut!”

Yesung berpikir sejenak, lalu memanggil bartender tadi. “Aku menantangmu untuk adu kuat denganku.”

“Heh? Adu kuat?”

Yesung mengangguk semangat. “Siapa yang terkuat minum itu yang menang,” tambahnya, membuat yeoja itu tertawa.

“Aku jago minum,” ujarnya, tapi Yesung tahu itu bualan. Lihat saja si yeoja itu sudah mabuk begitu. “Apa taruhannya?”

“Kalau aku menang kau harus menuruti semua perintahku, dengan kata lain kau milikku.”

Mwo?” Yeoja itu menggaruk belakang kepalanya. “Kalau aku yang menang?”

“Kau bebas memerintahkan apapun padaku.”

“Kapan batas waktu kau boleh memerintahku?

“Selama yang kumau.”

Yeoja itu menelan ludahnya dengan susah payah mendengar kata-kata Yesung barusan. Bagaimana kalau ternyata Yesung adalah pria hidung belang seperti di TV? Ia takut… Tapi sudah terlambat untuk mundur.

“Baiklah, kalau begitu. Aku pesan lima botol vodka!” seru Yesung pada bartender.

Bartender muda itu sudah siap dengan lima botol vodka di hadapan Yesung. Yesung menyeringai lebar menatap lima botol minuman itu. Diam-diam ia sudah mengatur supaya minuman itu memiliki kadar alkohol yang tinggi. Yesung adalah peminum yang baik, pastinya ia tidak akan kalah dengan tantangan kali ini. Suasana di sana juga lebih lengang dibanding tadi. Beberapa pengunjung sudah ada yang pulang dan hanya ada mereka bertiga—Yesung, yeoja itu, dan si bartender—di bar itu.

Kajja!”  seru Yesung semangat sambil meraih sebotol vodka dan meneguk isinya dengan rakus, sementara yeoja itu meneguk sebotol vodka yang lain dengan susah payah.

 

Satu botol.

 

Dua botol.

 

Tiga botol.

 

Yesung sudah berhasil menghabiskan botol ketiga. Tapi si yeoja hanya mampu menghabiskan… seperempat botol. Sekarang dia sudah tertidur dengan memeluk botol vodka yang isinya baru dihabiskan seperempat. Sudah ketahuan siapa pemenangnya sekarang.

Yesung tersenyum melihat wajah polos gadis itu yang memerah akibat mabuk berat, apalagi ketika ia mendengkur halus, seperti kucing manis. Ya, dia memang manis, tapi akan semakin manis kalau dia tidak segalak tadi. Yesung meninggalkan meja bar itu dengan beberapa lembar uang di atas mejanya. Ia membawa yeoja tengil itu ke luar diskotik dengan menggendongnya ala bridal style. Pemandangan yang manis. Tapi sepertinya akan bahaya, karena Yesung membawanya ke arah… sebuah kamar?

 

**

 

“Sepertinya malam ini hari keberuntunganku,” ujar Yesung sambil tertawa penuh kemenangan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, tepat di sebelah yeoja yang tadi ia tantang. Matanya yang tajam melirik ke arah gadis itu sambil tersenyum puas.

Ia tidak bosan melihat cara yeoja itu tidur. Menurutnya sangat menggemaskan, kalau boleh Yesung ingin menggigit hidung dan pipi chubby-nya itu. Apalagi ketika yeoja itu mendengkur halus, ingin rasanya memeluknya dari belakang. Tapi Yesung tidak mau melakukan itu. Menurutnya tindakan seperti itu terlalu cepat, dia malah sangat menyayangkan jika yeoja tengil tapi manis ini tidak dijaga baik-baik. Hmm… menarik.

“Haha… aku juga tidak percaya akhirnya bisa seperti ini,” ujar Yesung lagi setelah mendengar seruan Eunhyuk di telepon yang bersemangat setelah ia menceritakan tentang yeoja di sebelahnya ini. “Yup! Aku tidak sabar menunggu reaksi gadis tengil ini. Sudah, aku lelah. Bye.”

Yesung menutup sambungan telepon dan melemparkan ponselnya ke meja di samping tempat tidur dengan asal. Setelah membuat yeoja mabuk tadi tidak berdaya di bar, Yesung membawanya ke kamar hotel di dekat diskotik. Lagipula ia tidak mengenal yeoja ini, ia tidak tahu nama, apalagi alamat. Sebenarnya Yesung mau membawanya ke rumahnya, karena itulah rencana yang sudah disusunnya setelah yeoja ini tak berdaya. Tapi sekali lagi, Yesung rasa tindakan itu terlalu cepat. Dia tidak mau terburu-buru, lagipula masih ada banyak waktu untuk mengerjai yeoja tengil ini.

Eomma…” Tiba-tiba gadis itu meracau dalam tidurnya.

Yesung mendekatkan wajahnya pada wajah yeoja itu, membiarkan wajahnya diterpa nafas hangat yeoja itu. Dia memimpikan apa, ya?

Eomma… Yesung…”

Yesung tersentak. Apa gadis itu memimpikan dirinya? Tiba-tiba bibirnya mengulas senyum kecil. Hihi, ini menyenangkan.

“Yesung… teng—ik.”

Lagi-lagi Yesung tersentak. Yesung… tengik? Kurang ajar, dalam mimpi pun dia masih bisa menghina Yesung.

Oh ya, omong-omong tentang nama. Yesung bisa memeriksa kartu identitas gadis itu, kan? Buru-buru namja itu melompat dari kasur, menyambar tas tangan milik yeoja tadi dan mencari-cari ponsel atau dompetnya.

Yup! Ketemu! Yesung segera membuka flap ponsel berwarna pink itu dan langsung menemukan gambar yeoja itu bersama seorang namja di layarnya. Apa ini namja yang membuat gadis itu patah hati? Ah, masa bodoh. Itu bukan urusannya. Yesung mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk di dalam ponsel itu dan ia menemukan satu pesan di dalam kotak masuk pesan singkatnya.

 

From: Hunchan

 

Massage: Han Young Min, maaf… Apa aku menyakitimu? Jadilah seperti Youngmin yang dulu. Kita masih bisa berteman.

 

Yesung mendengus. Dasar anak muda, anak ingusan! Biar usianya sudah 22 tahun masih saja kekanakan. Putus cinta malah mabuk-mabukan, sudah tahu tidak jago minum. Malah menantang lagi, dasar yeoja tengil.

Secara perlahan-lahan, bibir Yesung menarik sudutnya ke satu arah. Sebuah seringai terlihat jelas di sana.

Jadi namanya Youngmin. Han Young Min.

 

“Youngmin-ssi… Kau milikku sekarang.”

 

**

 

(Han Young Min’s POV)

Wajahku memanas. Bukan karena terpesona atau senang dipuji. Tapi wajahku memang panas. Sinar matahari yang tiba-tiba menerpa wajahku membuatku membuka mataku perlahan. Berat, sulit sekali membuka mata dan kepalaku terasa pusing. Apa ini efek minuman semalam, ya?

Tunggu… Minuman?!

SREEEK!

“Wah, sudah bangun, ya?”

Sesaat setelah kusibakkan selimut yang membungkus sebagian tubuhku, aku tersentak mendapati seorang namja dengan senyumnya yang menjijikkan—aku masih belum mau mengakui kalau senyumnya menawan—berdiri di dekat jendela. Sepertinya dia yang membuatku terbangun. Dia! Dia… Dia… dia siapa, ya?

“Ka–kau—” Ucapanku menggantung. Aku mencoba mengingat-ingat siapa namja ini. Rasanya pernah bertemu, tapi di mana, ya?

“Kenapa? Baru beberapa jam kau sudah merindukan Yesung yang tampan ini, hm?” tanyanya menggoda. Dia berjalan ke sisi tempat tidur king size yang sedang kududuki ini, lalu mendekatiku.

Aku hanya diam, masih mencoba mengingat-ingat siapa namja bernama Yes— Tunggu dulu… Yesung?

“Yesung…?”

Namja itu mengangguk semangat. “Jangan pura-pura lupa. Kau sudah lupa kejadian semalam?” ujarnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

“Yesung…” Aku masih mencari memori yang mendadak menguap. “Yesung… Yesung. Yesung? YESUNG?!” Suaraku meninggi. Sampai-sampai namja itu berjengit mendengar teriakanku.

“Yaak!!!”

“KAU! Apa yang sudah kaulakukan padaku?!!!” teriakku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Eh, masih utuh. Kemejaku masih utuh. Tapi siapa tahu, di dalam sana sudah diapa-apakan namja ini.

“Ck, tidak ada.” Namja itu mengacak rambutnya kasar, lalu bangkit dari kasur. “Lagipula kau tidak cantik, menyebalkan, dan sama sekali tidak menggoda. Aku tidak tergoda untuk menyentuhmu, tahu!” ujarnya, membuatku terperangah.

Mwo? Aku? Tidak cantik? Enak saja, biar begini-begini aku pernah tidur dengan kekasihku dulu. Apanya yang tidak menggoda? Yah, tapi itu kan dulu. Sebelum dia meninggalkanku… Ah, aku jadi ingat kegalauanku lagi.

“Aku… cantik, kok,” gumamku sambil menunduk. Namja ini menyebalkan, mengingatkanku pada cintaku yang patah saja.

Ia mendecak. “Kalau begitu berusahalah menjadi cantik.”

“Aku juga menggoda,” ujarku, kembali mengangkat kepala. Kata-katanya membuatku bersemangat, entah kenapa. Mungkin ini yang namanya naluri wanita.

“Kalau begitu berusahalah untuk menggodaku,” sahutnya dengan mengedipkan sebelah matanya. Ish, menjijikkan!

Shireo!” seruku. Enak saja. Kenapa harus dia yang kugoda.

“Yak! Kau sudah jadi milikku, ingat kesepakatan kita tadi malam!” balasnya yang membuatku terdiam. Ah, kesepakatan bodoh itu.

“Iya, aku ingat!” seruku. Lalu menutup wajah dengan bantal. “Jadi, aku budakmu sekarang?” ucapku pelan di balik bantal.

“Budak?” Kulihat sebelah alisnya terangkat. Sementara sebelah tangannya bergerak menyisir rambutnya yang sedikit basah. Mungkin dia habis mandi. “Aku tidak suka kata itu, meskipun itu yang sebenarnya. Tapi.. ah, tidak. Aku tidak suka. Kau bukan budakku,” ucapnya, membuat tersenyum kecil. Dia baik juga.

“Kau tidak mandi? Tidak bersiap-siap untuk pulang? Berkemaslah, kita akan segera pulang.”

“Ah, benar juga. Kau mau mengantarku ke apartemenku, Yesung-ssi?”

“Apartemen?” Suaranya terdengar ragu. Sedetik kemudian seringai tercetak jelas di bibirnya. “Untuk apa? Bukankah kita akan pulang ke rumahku?”

 

Satu detik…

 

Dua detik…

 

Tiga detik…

 

MWOOO?!!!”

Pulang? Kita? Ke rumahnya?! YANG BENAR SAJA…?!!

Waeyo?”

Shireo! Kau pasti orang jahat! Aku tidak mau tinggal di rumahmu!” teriakku, tentu saja menolak. Bagaimana kalau ternyata dia pria hidung belang? Ah, itu memang sudah pasti. Tapi yang lebih bahaya, bagaimana kalau dia ternyata germo? Lalu aku dijadikannya pelacur? Hiiiii!

“Yaak! Kan sudah kubilang aku ini Presdir dari Kim corporation! Bukan mafia!”

“Lalu kenapa aku harus tinggal di rumahmu?!”

“Supaya aku bisa mengawasimu, bodoh. Siapa yang bisa menjamin kau tidak akan kabur?”

“Aish, aku tidak akan kabur!”

“Aku tidak percaya! Cepat, bersiap-siap! Atau kau mau aku yang memandikanmu, huh?!”

Tepat saat katakata itu selesai ia ucapkan, aku segera berlari menuju kamar mandi. Hampir tersandung malah, dan namja itu tertawa geli! Dasar! Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak di lingkaran setan seperti ini? Huhuhu…

 

**

 

Yesung’s house

 

Kami sampai di rumah Yesung. Rumah ini terlalu luas untuk dia yang tinggal seorang diri. Biar ditambah aku sebagai penghuni juga rumah ini masih terlalu luas. Tapi sepertinya menyenangkan.

Setelah mampir ke apartemenku untuk mengambil barang-barang pribadiku, Yesung langsung membawa—atau menyeret lebih tepatnya—ke rumahnya yang luas ini. Tapi tidak semuanya, karena Yesung bilang dia sudah menyuruh asisten pribadinya di kantor untuk membelikan perlengkapanku yang baru, terutama pakaian. Dilihat dari rumahnya saja aku langsung tahu bahwa namja tengik ini memang sangat berpengaruh. Sepertinya aku tidak memiliki celah untuk kabur, meskipun aku memang tidak jago kabur sih.

“Di sini kamarmu dan di depan itu kamarku,” ujarnya menunjuk ke satu pintu kamar dan pintu lain yang berada di depannya. Aku hanya mengangguk mengerti. “Ya sudah, cepat masuk. Ganti bajumu sana,” ujarnya mendorong pundakku ke dalam kamar itu.

“Ah, tunggu!” Aku menahan lengannya saat ia hendak pergi. Ia berhenti, menoleh padaku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Ada jeda di antara kami. Entah kenapa kami jadi canggung begini. Mungkin karena aku baru mengenalnya.

“Ada apa lagi? Kau butuh sesuatu?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan, kulepaskan tanganku dari lengannya. Aku masih canggung. “Omong-omong orang tuamu tidak marah kalau aku tinggal di sini?” tanyaku khawatir.

“Tidak, orang tuaku tidak tinggal di sini. Mereka tinggal di luar kota. Jadi kau bebas di sini,” jawabnya, lalu berbalik dan pergi sambil menutup pintu.

Aku hanya ber-oh pendek mendengar jawabannya. Sama sepertiku, orang tuaku juga tinggal di luar kota. Tapi bedanya kehidupannya di sini lebih mewah.

Aku berbalik hendak memeriksa perlengkapan apa saja yang dibelikannya untukku. Dan… aku tercengang! Kamarnya bagus sekali! Seperti kamarku di rumah eomma dan appa! Tidak sebagus kamarku sih karena dia pasti menatanya secara mendadak. Tapi ini seperti kamar putri, mengingatkanku pada kamar di rumah orang tuaku.

Aku merasa seperti berada di rumah. Aku segera menghempaskan tubuhku pada tempat tidur king size yang sangat empuk itu. Rasanya bibirku sulit untuk tidak tersenyum. Aku suka kamar ini. Ternyata Yesung itu lumayan baik juga.

Oh ya, saatnya mengganti bajuku. Badanku sudah lengket-lengket gara-gara masing mengenakan kemeja ini sejak semalam.

 

**

 

(Yesung’s POV)

 

“Yesung…”

Aku segera menutup koran begitu mendengar suara halusnya. Hihi, permainan segera dimulai.

Ne?” Aku menoleh mendapatinya yang berdiri di belakang sofa yang kududuki dengan wajah bingung.

“Aku mau tanya… baju ini… Apa tidak ada baju lain yang lebih waras?” tanyanya sambil menunjuk baju yang dikenakannya.

Aku memerhatikannya dari bawah. Ckck, ternyata pemikiranku tentangnya salah. Dia manis, itu sudah pasti. Kakinya juga putih dan mulus, meski tidak terlalu tinggi. Apalagi sekarang dia sedang mengenakan hot pants yang hanya menutupi setengah pahanya. Paha? Astaga… Pahanya mulus dan tampak berisi, membuatku tergoda saja. Bokongnya juga lumayan, bentuknya tercetak jelas di balik hot pants yang cukup ketat itu.

Tubuh atasnya juga tidak kalah sexy. Hanya kaus putih yang cukup ketat, namun tetap bisa mencetak lekuk tubuhnya. Perutnya rata, tapi tidak dengan dadanya. Dadanya… Oh… dadanya cukup besar untuk tubuh sekecil dirinya. Aku bisa melihat tali branya yang sedikit keluar di pundaknya, apa aku boleh meremas kedua gundukan itu sekarang?

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka apa yang sudah kuberikan?” tanyaku dengan wajah datar. Jangan sampai dia tahu bahwa aku baru saja mengagumi tubuhnya.

“Aku suka kamarnya. Tapi aku tidak suka bajunya…” rutuknya.

Aku tahu, semua baju yang kuberikan tidak ada yang waras, hahaha…! Tapi baguslah, toh aku bisa melihat tubuhnya setiap saat, bukan?

“Katanya mau menjadi cantik?” pancingku. Ia terlihat seperti baru saja disemangati. Matanya terlihat tertarik. “Katanya mau terlihat menggoda? Aku sedang membantumu, tahu.”

“Ah, begitu…” Ia mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Dia ini polos atau bodoh, sih? Aku sudah tidak sabar ingin menyentuhnya.

“Kau lapar?”

Ia mengangguk dengan wajah polos. Lucu sekali.

“Di kulkas ada kue tart, ambilkan.”

Dengan bergegas ia ke dapur, mengambil kue tart dan membawanya ke ruang tengah. Baiklah, satu piring berdua tidak terlalu buruk.

“Kau tidak punya pelayan atau semacamnya?” tanyanya sementara aku mengunyah tart cokelat di dama mulutku.

“Ada, tapi hanya untuk membersihkan rumah. Itupun saat aku tidak ada. Biasanya saat sore atau pagi-pagi sekali dia datang,” jawabku. Ia hanya ber-oh pelan, lalu melanjutkan makannya. “Sudahlah, makan sana. Jangan bicara lagi, nanti tersedak,” ujarku.

Diam-diam aku memerhatikannya. Aku melihatnya sibuk mengunyah makanan, tubuhnya sedikit bergerak saat ia menyuapkan makanannya, dan… Dia menggoda. Bohong kalau kubilang dia tidak cantik. Aku ingin sekali menyentuhnya, tapi…

Tiba-tiba dia menatapku.

“Kenapa?” tanyaku, tiba-tiba gugup.

Ia mendekatkan wajahnya padaku dan jarinya menyentuh sudut bibirku, membuatku menegang. “Ada cokelat di bibirmu,” ucapnya pelan, teramat pelan, aku merasa telingaku seperti dibelai oleh suaranya.

Aku hanya diam saat dia membersihkan sudut bibirku dengan ujung telunjuknya. Saat ia menarik tangannya dari wajahku, aku menahannya. Matanya beralih pada jarinya yang sedang kujilati, membersihkan noda cokelat di sana. Kemudian matanya beralih pada mataku yang masih menatapnya lekat-lekat. Di saat seperti ini wajahnya terlihat… mempesona.

“Ye–Yesung…”

“Ssstt…” Aku menyentuh bibirnya dengan ibu jariku. Ia terlihat terkejut, tapi menikmati sentuhanku.

“A–aku lapar…” ucapnya pelan karena bibirnya masih kukunci dengan ibu jari.

Aku segera meraih kue tart yang masih tersisa, menyuapkannya ke dalam mulutku dan menahannya di dalam sana, hingga aku ‘menerkam’nya.

“Ngh…!” Ia setengah melenguh, setengah mengerang. Bibirku menempel erat pada bibirnya, melumatnya penuh kenikmatan dan mendorong makanan di dalam mulutku ke dalam mulutnya.

Dia terbawa suasana, masuk ke dalam permainanku. Mulutnya terbuka membiarkan makanan itu dan lidahku masuk, mengunyahnya bersama sambil sambil membelit lidah. Rasanya nikmat, aku baru merasakan kenikmatan yang seperti ini. Dadaku berdesir, mungkin lebih nikmat dibandingkan bersama yeoja-yeoja lain. Yeoja yang satu ini… special.

“Ukh…”

Desahan kami terdengar bersahut-sahutan. Mata kami sama-sama terpejam rapat, menahan gejolak di dada masing-masing. Suara decakan pun ikut terdengar, menambah keindahan suasana saat ini. ya, ini indah. Lebih indah saat kedua tangannya mengalung di leherku dan merapatkan tubuh kami. Ciuman ini semakin liar, tidak lagi berpengaruh pada makanan karena kue tart itu sudah habis di dalam mulut. Kecupan, lumatan, hisapan. Aku merasakannya. Aku merasakan sensasinya, aku merasakan gairahnya.

“Nggh… aah…” desahnya tertahan. Dadanya yang montok itu kuremas-remas dengan gemas. Kenyal sekali. Aku menyukainya.

Aku bisa meraskaan kepalanya yang mendongak, mencari oksigen atau menahan nikmat mungkin. Dan bibirku turun ke dagunya untuk mengecupnya seduktif.

“Aaahh… Yesunghh…”

Yah, sebutlah namaku. Dengan desahan tentunya, bangkitkan gairahku, Youngmin.

“Youngmin, aku tidak tahan…” bisikku frustasi. Aku benar-benar tergoda.

“Aaah… Aku—ugh—aku juga.. hh…” ucapnya dengan mendesah. Aku tersenyum, akhirnya kau masuk juga ke permainanku.

Tangannya beralih ke dadanya, membantu tanganku untuk meremas sebelah gundukannya. Kepalanya bersandar pada kepala sofa dan dia memejamkan matanya rapat-rapat. Bibir bawahnya pun digigit kuat-kuat, wajahnya terlihat seksi saat seperti itu.

“Kubuka, ya…” ucapku. Kusibak kaus putihnya hingga di atas dada. Gundukan montok yang sudah siap dinikmati menunggu di balik bra hitamnya. Oh gosh, belahan dadanya…

“Assshh…” Ia mendesah, seksi sekali. Belahan dadanya kujilati seduktif, tidak terburu-buru namun nafsuku sudah berkuasa.

“Youngmin—“

Breeet!

Baju yang kupakai robek. Mungkin karena Youngmin terbawa nafsu dan suasana. Tapi tidak apa-apa. Aku suka.

“Ooohh…” Desahanku lolos. Kedua tangannya mengelus-elus dadaku, sesekali mengenai nippleku tanpa sengaja.

Kedua tanganku mengusap punggungnya, mencari-cari pengait bra untuk melepas penghalang ini. Sedangkan bibirku tengah sibuk memberi bercak merah di dadanya yang mulus.

Trak.

Branya lepas. Dan aku segera melepas kaus serta branya dari tubuhnya, lalu membuangnya di lantai. Mataku setengah melotot melihat payudaranya. Uuhh… nipplenya yang bergelantungan seperti memanggilku untuk memakannya, apalagi saat Youngmin menggeliat karena udara yang menerpa tubuhnya membuat payudara itu bergerak-gerak.

Oh, baby. Your daddy is coming!

“Oooh, Yesung…!” Kuremas kedua payudara itu, menghisap nipplenya kuat-kuat. Dan ia mengerang sambil menatapku lapar. Apa kau menginginkanku juga, Youngmin?

Sementara mulutku sibuk dengan payudaranya, tanganku melepas ikat pinggang beserta celanaku, setelah itu menelanjangi Youngmin. Kami sama-sama telanjang sekarang. Kulit kami bersentuhan, rasanya hangat dan mendebarkan.

Mata kami bertemu dan aku mengusap pipinya dengan lembut. “Do you like this game?” bisikku, tanpa henti menatapnya penuh hasrat.

Ia mengangguk kecil. Tangannya mengusap rahangku. “More,” pintanya.

Baiklah, dengan senang hati.

“Kau pernah bercinta seperti ini?” tanyaku sedikit susah payah, sambil menggesekkan ujung kejantananku pada lipatan kewanitaannya.

“Ngghh… Pernah… satu kali.. Oooh…” Ia menggigit bibirnya lagi dan peluh menuruni dahinya.

“Dengan siapa? Pacarmu?” tanyaku. Entah kenapa aku ingin sekali menanyakan ini. Seperti tidak rela ia pernah bercinta dengan yang lain, meski aku telah meniduri yeoja-yeoja di luar sana. Apalagi dia bilang baru satu kali.

“Itu…” Wajahnya berubah murung. “Mantan pacarku.”

Pacar yang mencampakkannya itu, ya? Ah, apa peduliku.

“Oh,” balasku singkat. Aku sedang sibuk memasukkan milikku ke tubuhnya yang masih sempit. Tidak apa aku tidak menjadi yang pertama. Asal dia menjadi milikku mulai saat ini.

“Aaargghh… Sakithh…” ringisnya. Aku tahu, ini pasti sakit karena dia baru melakukannya satu kali.

 

**

 

(Youngmin’s POV)

 

Sakit. Tapi nikmat. Ini bukan pertama kalinya, lebih tepatnya ini yang kedua kalinya aku bercinta. Meski bukan dengan pria yang kucintai, tapi aku menikmatinya. Rasanya tetap nikmat, tapi tidak tahu kenapa yang ini lebih nikmat. Mungkin karena Yesung sangat ahli dalam menyentuh wanita. Entahlah.

“Ah…” desah Yesung lega. Tubuh kami sudah menyatu sekarang.

“Aahh… oooh…” aku mendesah, sesekali meringis. Rasanya sedikit ngilu, tapi sekali lagi I love this sensation.

Yesung bergerak pelan untuk mengundang lonjakan-lonjakan cinta di antara kami. Aku tergoda dan akhirnya ikut bergerak berlawanan arah dengannya. Suasana semakin panas, desahan terus terdengar bersahutan, dan belaian pun ikut berbicara.

“Han.. Youngmin…” panggilnya sambil mendesah. Aku suka mendengarnya.

“Hh… Kim Jong Woonhh… aahhh…” balasku.

Ia tersenyum kecil dan itu menular padaku. Tiba-tiba dia menyerbu leherku, menghisapnya dengan ganas hingga kurasakan rasa panas di sana.

“Aahh… Akkhh… Yesunghhh… Pelan-pelannhh…” pintaku sambil membantu kedua tangannya meremas kedua payudaraku.

Gerakannya semakin liar, tapi aku memang menantikan ini. Aku tidak peduli kami baru mengenal. Lagipula aku ‘miliknya’ sekarang, bukan? Tubuhku ikut bergerak dengan liar, temponya semakin cepat. Aku bahkan tidak sadar aku sudah berbaring di sofa dan Yesung menindihku. Sejak kapan, ya?

“Oh… Uhhh… Ooohh…! Assshh… Nikmathh, Youngminhhh…” erangnya, matanya terpejam sementara dada kami saling bergesekan secara disengaja. Nippleku menegang karenanya. Begitu pula nipplenya.

“Aaahh… Ngghh… Yesungghh, aku hampir—ooh—sampai…” desahku. Tubuhku semakin melengkung merasakan lonjakannya.

Mengerti maksudku, ia mempercepat tempo gerakannya. Mataku terpejam, tubuhku melemas. Kubiarkan mulutku terbuka, mencari oksigen dengan rakus.

“Oooh…!” erangku lagi. Kali ini ia menyedot nippleku kuat-kuat, seperti bayi saja. Bayi besarku.

Setelah puas, ia menangkupkan tangannya pada kedua pipiku, menariknya untuk mendekat dan menempelkan bibir kami. Dengan sengaja ia menjilati bibir bawah dan atasku, membuatku tidak tahan untuk menutupnya lama-lama.

“Emmhh…”

Lidah kami kembali membelit. Kuhisap-hisap lidahnya penuh nafsu, sedangkan Yesung sibuk memuaskanku.

“Nggghhhhhh… Oooh…” Aku melenguh panjang. Aku mencapai klimaks, rasanya lega.. nikmat sekali. Tapi sepertinya Yesung belum mencapai puncaknya.

“Giliranmu,” ujarnya seraya membalik posisi kami. Ia segera meraup ujung nippleku yang menggantung di depan wajahnya. Ah, dia rakus juga.

“Aaakhh… Ooohh…”

Desahanku lebih mendominasi, karena Yesung lebih sibuk dengan payudaraku di bawah tubuhku. Pinggangku bergerak maju mundur, melonjak di atas tubuhnya dengan penuh nikmat. Semakin lama semakin cepat.

Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang aneh di dalam kewanitaanku. “Aarghh!”

Waeyo?” tanyanya khawatir. Ia melepas payudaraku dari mulutnya. Aku hanya menggeleng. Ujung kemaluannya mengenai sweet spot-ku. Dan rasanya luar biasa.

Tangan Yesung beralih meremas bokongku, mencubit, hingga menepuknya keras. Aku hanya bisa mendesah saking nikmatnya, sambil melampiaskannya pada leher serta dadanya yang kuhisap-hisap.

“Ngghhh… Youngminhh…” Matanya tertutup dengan mulutnya yang terbuka. Tampan sekali.

Ups… aku bilang dia tampan? Tapi.. dia memang tampan jika seperti ini.

Leher dan sekitar dadanya sudah penuh dengan bekas kemerahan karyaku. Sementara itu bokongku diremasnya kuat-kuat.

“Aaaahh… Yesunggghh…”

“Aku datang… Youngmin-ah… Oooh… It’s cominghh…” ucapnya tak beraturan.

Dia membantu memaju-mundurkan pinggangku, membuat tubuh kami saling membentur dengan cepat. Ah… rasanya nikmat, semakin nikmat. Tubuhku semakin panas dan semakin licin karena keringat. Begitupula dengan Yesung.

Eh… Apa ini perasaanku saja, atau… milik Yesung bergetar hebat di dalam tubuhku?

 

**

 

(Yesung’s POV)

 

Benda itu bergetar. Yah, aku menunggu ini. Akhirnya aku mendapatkan klimaks ku. Perlahan-lahan rasa itu datang, bersamaan dengan cairan yang mulai menyembur dari milikku di dalam tubuh Youngmin. Kurasakan ada yang menetes di paha kami. Ah, mungkin itu cairanku yang tak tertampung di tubuhnya.

“Aaaaahhh…” lenguh kami bersamaan.

Perlahan, Youngmin bangkit dari tubuhku melepas kontak kami.

“Hah… Aku klimaks lagi..” gumamnya seraya duduk bersandar di dekat kakiku. Aku ikut bersandar di sampingnya.

“Hey, kau tahu?” Ia menoleh menatapku malas. “Kau sexy juga kalau begini,” bisikku sambil mengulum senyum.

Senyumnya merekah, wajahnya jadi semakin cantik saja. “Sudah kubilang aku ini menggoda, kan?” balasnya percaya diri. Dasar!

“Ya, kalau tak berbusana. Kau mau tampil begini di depanku setiap saat, babe?” tanyaku dan ia menggeleng cepat. Matanya melotot ketakutan dan aku hanya tertawa. Sudah kubilang, dia ini lucu.

Sedetik setelahnya ia langsung memunguti pakaiannya dan mengambil langkah seribu ke arah kamarnya. Sampai-sampai ia lupa memakai pakaian dulu. Ah, menarik sekali.

 

-END-

 

Note: Lanjut? ._. Oh ya, maaf ya kalo banyak typo. Maklum ini FF pertama >< Leave comment juseyo~

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 08/09/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 38 Comments.

  1. shfly joy3424

    keren..boleh request ff thor??? ff’nya bagus..tapi aku kurang suka kalo cewek+cowok’nya bad..apalagi cewek+cowoknya pernah ngelakuin sebelum ama pemeran utama..castnya aku suka baby Ecung+OC..aku lebih suka cast kyk gini daripada artis+artis..
    request ff yg sad romance+happy ending thor..tentang perjodohan boleh thor:D

    lanjut thor..hwaiting..

  2. Ngak bisa ditebak karakter ceweknya….
    Tp ekspresi ceritanya jelas, good job thor

  3. bagus hihi

  4. LANJUUUUUT ^^

  5. ihihihih
    ncuuung hotjuga

    likeit

  6. lanjut yooooo >.< ceritanya keren

  7. hot bgt..
    lanjut thor

  8. sekuel sekuel sekuel pokok nya sekuel !!! >.<

  9. funny story 😉

    kirain cwe yg berbikini td yg jd youngmin trnyata bukn,,, suka sm karakter Yesung disni biar bad boy tp dy gga manfaatin youngmin yg lg mabok berat… Yesung lebih milih youngmin sadar n ngelakuinnya dngn sadar…

    good job buat authornya,, butuh squel deh biar akhir yemin couplenya jelas 🙂

  10. Jasminonimous

    Nah, yang ini lumayan seru xD

  11. sung hyun soo

    daebak thor 🙂 !!!! (y)
    d tnggu lnjtannya

  12. ohohoho .. lagi2 saya telat komen*plak ..
    hehe
    ini ceritanya gak bisa di tebak .. aku kira ini yeppa bakal sama cewek ber bikini tadi .. eh ternyataa..oh..ternyata..

    lanjut oke thorr !, hwaiting !,

  13. sequel…

  14. leina dinda febrianda

    keren thor…aku setuju sama komenan yg diatas.sekuel ya thor^_^hihi FIGHTING

  15. huh huh… #lap kringet..
    hot banget nih.. jd ini msh ada lanjutannya aku kira END.. 🙂

    lanjut klo gtu mh.. daebak deh..

  16. Bagian 2 ditungguuuuuu

  17. waaaaah asli ini asik banget :*

  18. Good job min cerita’a bagus so, harus dibikin sequel’a ㅋㅋㅋ ^^

  19. Baguss banget. Lnjut!

  20. ceritanya keren :3

  21. Aduh abang ncung jd badboy…, kkkk ga tega byangin’a… Abis sih muka yeye imut sangat…. *yeppa snyum2 geje*plakkk
    lanjut deh…

  22. reginamegavinliya

    lanjut lanjut aku suka..daebakkk

  23. lanjut ya

  24. Sebenernya bagus si thor. Apalagi pas tau karakter yeojanya kek polos, tapi pas dtrusin kok kliatan bad girl bgt, padal aku ngarep bnget yesung bkal jadiin itu yeoja anae, sayang pas terus baca lm” kyak gk seperti harapan aku thor, ada baiknya klo itu yeoja jadi yeoja polos beneran and jadi pasangan hidup yesung

    Ini cuma komen thor gk niyat bash sama sekali. Ide cerita udah bagus kok.

  25. thorr ini ff daebak beneeer!!! ^^b
    ssssh hot bgt.. youngmin nya polos tp nakal jg. haha
    yesung ketularan hyukjae nih.. hihi
    lanjutlah thor msi pgen bca ceritanya…

  26. hydrilla verticillata

    Kereeennn banggeddddd, lanjut thoorrrrrr

  27. Ayunie CLOUDsweetJewel

    Ini FF pertama? Serius? Gaya bahasanya aku suka dan penyusunan kalimatnya rapi. Ya ampun, NC-nya hot banget tapi tidak vulgar. Good FF.

  28. I like this
    😛

  29. Aku Suka 😀

    So Sweet Bnget mereka 😀 Cwenya PoloS bnget Ya, hehehe

    Suka Bnget Pas Bagian Yesung Makan Tart, Trus Langsung Nyumpelin Tartnya ke YoungMin 😀

    SQUEL adakah ? :/

    SQuel Yg So Sweet dan Hoot Lg, Alo Bisa yg Bnyak Ronde. *Yadong Kumat* hehehe 😀

    FIGHTING \^O^/

  30. Kerennn!!!!!
    Lanjut thor 😉

  31. mantap tap tap tap

  32. suka suka suka , yesung hot dan hebat banget segh >_<
    suka am nie couple ❤

  33. Author’y pinter buat para readers nganga.gkgkgk

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: