Sexton

SEXTON Himchan ff nc

Author : Ullzsura

Tittle    : Sexton

Genre  : Romance, NC++

Cast     :

–          Kang Sura

–          Kim Himchan

–          Yoo Youngjae

Sura POV

 

Pemandangan yang tak asing bagiku semenjak setahun yang lalu. Memandangi pria dan wanita tak berbusana, lalu mereka bercinta di hadapanku tanpa merasa malu memperlihatkan bagian-bagian terlarang mereka secara close up di kamera. Ya, uang bisa merubah segalanya. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang banyak, itu yang mereka lakukan. Termasuk aku, bekerja hanya sebagai stylist dan make up artist, tapi mau tak mau ikut melihat pemandangan memuakkan seperti ini juga. Terkadang aku memakai kaca mata hitamku dan berpura-pura sibuk dengan ponselku, tapi terkadang pula aku tak dapat menolak hasratku untuk melihat pemandangan seperti itu secara langsung.

“Ish, bagaimana bisa wanita secantik dia bersedia bercinta dengan pria tua seperti itu?” Perotesku dengan suara berbisik pada Himchan, teman kerjaku yang sedang berdiri sedikit di belakangku.

“Kenapa selalu kau yang perotes? Toh wanita itu senang-senang saja.” Ujarnya. Tentu saja aku perotes. Apa dia tidak merasa jijik? Jika aku menjadi bintang porn seperti dia, aku akan benar-benar menseleksi partner kerjaku.

“Ck, hanya 1 diantara 100 pria dengan wajah tampan.”

“Hah, tidak usah berharap, Sura. Hanya aku satu-satunya pria tampan di sini.” Aku langsung mencibirnya. Ya, tapi ucapan Himchan memang tidak ada salahnya. Aku dan Himchan sangatlah dekat. Mungkin karena kami sama-sama warga Korea yang sedang mencari peruntungan di Jepang. Aku dengannya banyak kesamaan, termasuk membohongi orangtua kami tentang masalah pekerjaan kami. Uang yang kami dapatkan cukup membuat orangtua kami puas, maka sepertinya kami akan sukses seterusnya sampai nanti dengan cara seperti ini.

“Ssst, Sura?” Seseorang memanggilku. Aku pun menoleh pada sumber suara. Ternyata pria tua itu yang memanggilku. Jiro-san, film director kami.

“Ya?”

“Untuk yang selanjutnya bisa kau menggantikan Ayame? Dia mendadak tidak bisa datang.”

“Tidak.” Yang benar saja. Aku akan mati jika seseorang yang mengenalku tiba-tiba saja melihatku sebagai porn star.

“Ayolah, hanya bermain di luar saja, tidak perlu sampai intim.”

“Ti-dak.”

“Baiklah, kau bermain bersama Himchan. Bagaimana?”

“Tidak!” Kali ini aku dan Himchan menjawab secara bersamaan. Ya, Himchan pun pasti akan mati jika harus beralih profesi. Pada akhirnya, Jiro-san menyerah dan dia kembali pergi menjauh. Sudah berapa kali dia menarawiku untuk ikut bermain, tapi aku selalu menolak. Apa tidak ada wanita lainnya? Gila saja kalau aku harus memperlihatkan tubuhku pada dunia.

Kudengar seseorang di dekatku terkekeh geli. Aku langsung menoleh padanya dan menatapnya sebal.

“Wajar kalau dia terus menawarimu.” Ujarnya sambil menahan tawanya. Aku hanya mendelik padanya. Dia selalu mentertawaiku kalau Jiro-san memaksaku lagi untuk bergabung saja dengan artis-artis jalang itu. “Kang Sura,” Bisik Himchan tepat di belakang telingaku.

“Hm?”

“Apa kau tau aku memandangmu seperti apa?”

“Apa?”

“Porn star.”

“Yak!” Aku langsung menoleh ke belakang dan memukul lengannya. Lagi-lagi dia terkekeh. Menyebalkan.

“Kau tau apa yang harus kau lakukan setelah ini.” Ujarnya, lalu mengecup telingaku dan pergi menjauh, mengobrol dengan kru lainnya. Aku hanya tersenyum geli. Ya, dia selalu memintanya padaku akhir-akhir ini.

 

***

 

Author POV

 

Setelah pekerjaan selesai, Sura mendorong roda gantungan pakaian ke dalam apartment-nya. Seperti biasa, Himchan membantu membawakan barang-barangnya. Sura menyimpan gantungan bajunya di sudut ruangan dan memasukkan alat-alat make up nya ke dalam lemari, sedangkan Himchan duduk di kasurnya sambil melihat-lihat baju-baju yang mengggantung di sampingnya.

“Hari ini kau sibuk?” Tanya Himchan.

“Tidak. Aku hanya harus me-laundry baju-baju yang dipakai tadi.” Jawab Sura. Himchan meresponnya dengan anggukan.

“Sepertinya kau pantas memakai ini.” Tiba-tiba saja Himchan menunjukkan baju seragam yang diambilnya. Sura hanya tertawa.

“Aku pantas memakainya 5 tahun yang lalu.”

“Coba kau pakai ini.” Kali ini Himchan menyodorkan baju pelayan pada Sura. “Ah, tapi lebih pantas pakai ini.” Belum sempat Sura menjawab, Himchan sudah berkata lain. “Cepat pakai, aku ingin melihatnya.” Berjalan mendekati Sura dan menyerahkan pakaian itu pada Sura.

“Tidak mau.”

“Ayolah, kita harus mencoba permainan baru.”

Ya, Sura tau apa yang Himchan maksud. Pada akhirnya Sura menuruti kemauan Himchan. Masuk ke dalam kamar mandi, lalu mengganti bajunya. Sementara Himchan kembali naik ke atas tempat tidur, lalu mengambil handycam yang tergeletak di buffet yang menarik perhatiannya. Dia pun mulai merekam, lalu mengarahkan cameranya pada gantungan baju lagi, melihat-lihat ada apa lagi di sana. Meraih beberapa dasi, memperhatikan coraknya lalu berpikir ia dapat meminjam barang-barang lumayan ini kapan saja.

“Himchan, kurasa ini sedikit aneh.” Ujar Sura dari dalam kamar mandi. Cklek….. “Yak, apa yang kau lakukan?” Sura terkejut ketika Himchan tiba-tiba saja merekam dirinya. Himchan hanya tertawa. Sura pun mendekat pada Himchan, ikut naik ke atas tempat tidurnya.

“Coba kita lihat.” Himchan mengarahkan perlahan kameranya mulai dari kepala, dada, hingga kaki Sura yang melipat. “Sudah kubilang kau pantas memakainya. Masih sangat pantas.”

“Ya tapi apa yang kau lakukan, huh?”

“Kali ini kita bintangnya.”

“Ne?”

“Tidak salah kan, kalau aku merekamnya?”

“Lalu kau akan menyebarkannya? Yang benar saja.”

“Jangan gila. Mana mungkin aku memperlihatkannya pada orang lain. Jadi, bagaimana?” Himchan menaruh kembali handycamnya ke atas buffet dan mengarahkan kameranya pada mereka berdua. Sura memundurkan posisinya, bersandar pada kepala kasurnya, begitu pula dengan Himchan yang mengikutinya. Memiringkan badannya, lalu memandangi wajah wanita di sampingnya. “Kau cantik sekali.” Ujarnya.

”Sudah berapa kali kau mengatakannya?” Balas Sura. Himchan hanya tertawa karenanya. “Bagaimana rasanya tadi?”

“Hm? Tentu saja aku tersiksa. Aku juga ingin melakukannya.”

“Ahaha, sepertinya pekerjaan seperti ini merepotkanmu.”

“Tidak juga. Bukankah aku memilikimu?” Himchan mencium pipi Sura, lalu kembali memandangi wajah Sura, lalu turun memandangi tubuhnya. “Kau melepas bra-mu?” Himchan menyentuh dengan lembut permukaan nipple Sura yang terlapisi seragam tipisnya.

“Ne.” Jawab Sura, lalu mulai menikmati sentuhan yang Himchan berikan padanya. Himchan terus mengelus nipple Sura menggunakan jarinya, mencoba membuat Sura merasa lebih geli karena Himchan sedikit menggeseknya menggunakan kuku pendeknya.

“Cepat sekali mengeras.” Bisik Himchan, lalu ia mulai menciumi rahang Sura. Ibu jari dan telunjuknya mencoba untuk menarik sedikit nipplenya yang sudah menegang. Ia dapat memilinnya meski Sura masih memakai bajunya. “Kau pilih satu. Lebih baik memiliki sepasang mata atau tangan?”

“Hm, tangan. Karena aku tidak mau makan menggunakan kakiku.” Himchan tertawa kecil, lalu menarik satu dasi dari gantungan.

“Maka matamu yang menghilang.” Tiba-tiba saja Himchan menutupi mata Sura dengan dasi itu dan mengikatnya.

“Ya~ apa yang kau lakukan?”

“Bukankah kau akan lebih menikmatinya jika menutup matamu?”

Lagi, mereka tertawa. Himchan mulai dengan permainannya. Menjilat dan mengecup bibir Sura, tapi sama sekali tidak menangkapnya. Menjilatinya lagi, lalu menjauh ketika Sura memajukan wajahnya. Mempermainkan Sura, itu yang Himchan suka. Tapi pada akhirnya Himchan akan kembali menyerangnya ketika Sura merasa lelah untuk menangkapnya. Tangan Himchan mulai meremas pelan payudara Sura. Kembali mengelus nipplenya dari luar, karena gesekan dari bajunya dapat membuat Sura lebih cepat terangsang dibanding menyentuhnya secara langsung. Nipple-nya kembali terlihat jelas dari balik seragamnya. Himchan sedikit menurunkan tubuhnya, lalu menyenggol nipple Sura dengan lidahnya, menghisap nipplenya yang masih tersembunyi itu. Sura menggigit bibir bawahnya. Permainan Himchan membawa sedikit pengaruh geli pada kewanitaannya sehingga Sura menggesek pahanya sendiri.

“Hm, kita lihat apa yang kita punya.” Ujar Himchan tiba-tiba. Ia mengambil kotak yang sebelumnya ia bawa, kotak berisikan sex toys.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Sura kebingungan karena tidak dapat melihat apapun.

“Suka bermain dildo?”

“Yak! Jangan lakukan itu padaku!” Himchan terkekeh, berpikir kalau Sura jauh lebih menyukai miliknya dibanding benda tiruan itu. Pada akhirnya Himchan mengambil sebuah vibrator dan menyalakannya, menempelkannya pada nipple Sura.

“Bagaimana?” Tanya Himchan. Sura hanya semakin menekan kemaluannnya menggunakan pahanya. “Aku tau kau menyukainya.” Tersenyum puas, itu yang Himchan lakukan. “Buka kakimu.” Bisik Himchan di telinganya. Sura pun menuruti apa kata Himchan. Himchan menempelkan vibratornya pada vagina Sura yang masih ditutupi celana dalamnya. Ia merasa puas setelah Sura mulai mengeluarkan desahan kecilnya.

“Ahh, Himchan…geli sekali…” Ujarnya. Himchan memutar-mutarkan mainannya di area permukaan klitoris Sura, membuat Sura bergidik dan celananya mulai basah. Menutup matanya sama saja dengan mengunci tangannya. Sura tidak akan menyentuh Himchan karena dia pasti takut tidak sengaja melukainya dengan jari-jarinya. Sedari tadi ia hanya meremais sprainya.

Sura POV

 

Dapat kurasakan Himchan menarik celana dalamku. Ia membuka celana dalamku yang sudah terasa lembab sekali. Himchan selalu membuatku untuk menginginkan hal yang lebih lagi. Aku pasti sudah gila mengingat dia bukan kekasihku.

“Ahh…!” Kali ini getaran yang kurasakan lebih hebat. Kurasa Himchan menyelipkan alat itu di bibir vaginaku. Ini terasa sangat amat geli. Aku ingin menutup kakiku, tapi getaran itu pasti akan lebih terasa. Dan kini,  tangan Himchan terasa di permukaan dadaku lagi. Dia membuka satu persatu kancing seragam yang kupakai, lalu tangannya meremas payudara kananku. “Himchan-ah….” Aku dapat merasakan cairan yang keluar dari vaginaku. Basah. Tapi Himchan tidak mendengarku. Sesuatu yang lembab menyentuh nippleku yang menegang. Dia memainkan nipple-ku dengan lidahnya, lalu menghisapnya kuat. Aku tak dapat begini terus. Akhirnya aku melepaskan sendiri dasi yang menutupi mataku sehingga Himchan dengan terpaksa menghentikan kegiatannya.

“Ya~kau tidak bisa begitu.” Perotesnya. Aku tidak peduli. Langsung kutarik kepalanya, kulumati bibirnya. Dia tampak tersenyum disela ciuman kami. Aku tak tahan lagi. Aku mencabut vibrator dari vaginaku. Kubuka resleting celana Himchan, lalu menyelipkan tanganku didalam sana. Aku suka meraba penisnya yang hangat.

“Mau kumanjakan?” Tawarku.

“Tentu—“

Ting-tong!

“Kalian yang di dalam, setengah jam lagi kita mulai! Ayame sedang dalam perjalanan kemari!” Teriak orang dari luar sana.

“Sepertinya kita harus bergerak cepat.”Ujarku.

“Hah, kau berhutang padaku lain kali.” Ujar Himchan yang terlihat kecewa. Aku tersenyum geli. Aku pun segera melepaskan kaus yang Himchan pakai, lalu Himchan melepaskan celananya sendiri. Dia mendorongku sehingga aku terbaring sempurna dengan kaki yang terbuka lebar dan dia berada diantaranya. “Pakai pengamanmu, Himchan. Aku tidak mau dihamili oleh pria sepeti kau.”

“Haah, ya, ya, ya.” Lucu melihatnya cemberut seperti itu. Kami harus membuang waktu lagi untuk menunggu Himchan memakai pengaman pada penisnya. “Sekarang, jangan menahanku lagi.” Dia mengarahkan penisnya pada lubang vaginaku. Aku dapat merasakan geli saat kepala penisnya baru akan memasuki sarangku. Rasa yang membuatku gelisah, tapi juga merasakan nikmat yang amat sangat. Penisnya berhasil masuk dan ia mulai menggerakkan pinggulnya. Himchan selalu dapat membuatku kehilangan akal sehatku. Memeluk tubuhnya, menciumi setiap inci dari wajahnya, semuanya tak pernah membuatku puas. Selalu ingin yang lebih, yang lebih, selalu yang lebih. Ini yang ketiga kalinya kami melakukannya. Mengapa aku tidak pernah menyesalinya? Aku tak pernah menyesali kejadian awal mengapa kami bisa melakukan hal ini. Masih ingat dengan jelas ketika Himchan merayuku untuk bercinta dengannya hanya karena dia sudah benar-benar tidak kuat ketika terlalu memperhatikan shooting dengan adegan yang baginya terlalu panas. Semenjak itu, Himchan selalu datang padaku.

“Aku mencintaimu.” Tiba-tiba saja mulutku bicara seperti itu.

“Ne?”

“Ani. Akh! Sakit, bodoh!” Memukul lengannya karena dia menusukku terlalu dalam.

“Ahaha, maafkan aku..hh”

Menyedihkan. Terlalu murah. Apa aku salah mencintai seseorang?

 

***

 

“Aku belum bisa kembali, ayah. Maafkan aku.” Ujarku di balik ponsel. “Aku tidak tau. Hatiku masih belum bisa menerima……….ne………terima kasih sudah mengerti……ne.”

Ayahku mematikan ponselnya terlebih dahulu. Sedikit lega setelah dapat bicara padanya. Aku pun kembali ke ruang tengah, bergabung dengan kru lainnya yang sedang asik minum-minuman. Mencari aman, aku duduk di sebelah Himchan.

“Mau minum?” Tawar Himchan padaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Aku mengantuk.” Ucapku. “Mau tidur bersamaku?” Tawarku padanya.

“Okay. Kurasa aku dan Sura harus kembali ke kamar duluan. Nikmati malam kalian~” Ujar Himchan pada yang lain, lalu menggandengku pergi kembali ke apartment-ku.

Sesampainya di apartment-ku, Himchan langsung menuju tempat tidurku dan duduk di tepinya. Aku menyiman tas kecilku, lalu membuka blazerku. Menarik kursi dari meja riasku tepat ke hadapan Himchan, menurunkan celana dalamku, lalu duduk di atas kursi dan menaikkan juga kedua kakiku, membiarkannya terbuka.

“Himchan, bantu aku.” Ucapku. Dia tertawa kecil, tak percaya kalau aku berbohong soal aku sedang mengantuk. Ia bangun dan berlutut di depanku, menjulurkan lidahnya hingga menyentuh vaginaku. Ia menjilatinya, benar-benar menggelitikku. Jari-jarinya berusaha membelah bibir vaginaku, lalu menelusupkan lidahnya ke dalam. Lidahnya terus bergerak. Memainkan klitorisku, lalu menghisapnya. Aku sangat membutuhkan Himchan. Bukan hanya sebagai pemuas nafsuku, tapi aku sangat mencintainya. Yang kutakutkan, Himchan hanya menganggapku sebagai pemuas nafsunya saja.

 

***

 

Silau. Mataku menyipit karena matahari pagi sangat menyorotkan cahayanya padaku. Aku mencoba bangun dari tidurku dan menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahku. Seperti biasa, yang kucari pertama kali adalah ponselku. Kutemukan ponselku di bawah bantal dan kulihat aku mendapatkan 1 email. Lelaki itu.

 

Annyeong~ aku sangat merindukanmu, Sura. Kapan kau kembali? Meskipun keadaan sudah berubah, tapi aku berharap kita bisa bermain bersama lagi^^

 

Mengapa orang itu tetap bersikap baik padaku? Karenanya, aku memikirkan kembali kata-kata ayahku.

 

Himchan POV

 

“Kau sudah bangun?” Tanyaku yang muncul dari dapur. Dia seperti terkejut melihatku. “Cepat mandi, kita harus segera pergi.”

“Kemana?”

“Rumah Kagami. Kolam renangnya bagus untuk dijadikan lokasi. Sepertinya kita juga akan menginap di rumahnya. Jadi cepat mandi dan bereskan barangmu.”

“Ah, okay.”

Lesu. Dia selalu seperti itu setiap pagi.

 

***

 

Threesome, bercinta dengan sahabatnya dan juga pelatih renangnya. Aku melirik pada Sura. Mengapa ia fokus sekali memperhatikan mereka? Aku pun iseng menghampirinya dan menutup matanya dari belakang.

“Lepaskan tanganmu!” Dia memukul tanganku. Aku hanya tertawa, lalu duduk berhimpitan dengannya.

“Jangan terlalu fokus memperhatikan barang oranglain.” Kataku.

“Apa maksudmu?”

“Tidak puas dengan milikku, eh?” Dia malah mencibirku. “Kurasa kita bisa pergi dari tempat ini sekarang.”

“Hm?”

“Aku membutuhkanmu.” Bisikku.

“Tidak untuk hari ini.”

“Kenapa?”

“Tidak sekarang, pokoknya.”

Apa dia sedang memikirkan hal yang membebaninya? Kuperhatikan dia memang terlihat sedikit murung hari ini. Menyebalkan karena aku harus bekerja sendiri.

 

***

 

Author POV

 

Pantai tak berpenghuni untuk kali ini. Tidak mengerti mengapa tempat indah ini tidak dijadikan tempat wisata. Mungkin karena lokasinya yang cukup jauh dan medan yang sedikit sulit untuk dilalui pengunjung. Setelah selesai mengambil film, semuanya bersenang-senang. Berjemur, bermain pasir, bermain layangan, juga minum-minuman.

Himchan memperhatikan gadis dengan bikini hitamnya sedang tertawa sambil mengangkat kedua tangannya, seperti akan meraih layangan yang berterbangan. Cantik, pikirnya. Himchan berjalan mendekati gadis itu, mengagetkan gadis itu dengan memeluk pinggang mungilnya dari belakang dengan satu tangannya.

“Berenang bersamaku?” Tawar Himchan.

“Tidak mau.” Jawab Sura.

“Ya~untuk apa memakai bikini kalau tidak berenang?”

“Itu terserahku. Kau saja yang benerang. Aku akan meneriakimu dari sini.”

“Tidak mau kalau sendiri.”

“Bergabung dengan yang lain?”

“Tidak mau. Hey, mau kuberitahu karang besar di sana?”

“Dimana?”

“Ikut aku.”

Himchan segera menarik Sura pergi, menjauh dari teman-teman mereka yang lain. Pergi ke ujung pantai, sampai mereka menemukan karang-karang yang besar. Pantai yang indah, pikir mereka. Himchan menarik lagi tangan Sura, pergi menuju dua karang yang berhimpitan, hampir terlihat seperti gua dengan pintu yang tak terlalu besar. Himchan dan Sura masuk ke dalam celah kecil itu.

“Kau mau apa, huh?” Tanya Sura.

“Kau sempat mengabaikanku akhir-akhir ini.” Ujar Himchan.

“Ayolah, kita tidak bisa melakukannya setiap hari, Himchan. Kau memintanya setiap hari.”

“Aku mengerti. Memangnya aku akan selalu memasukkannya? Tentu tidak. Aku juga memikirkanmu, bodoh.”

“Ish, kau mengataiku! Lalu apa yang kau inginkan? Bermain denganku?” Dengan polosnya Himchan mengangguk seperti anak kecil. Ya, Himchan tidak bisa diam saja melihat Sura dengan bikini tak bertali di lengannya. Membuat bahunya terlihat semakin seksi. “Kau mendapatkannya.” Pada akhirnya Sura menerimanya saja. Ia juga tak dapat terus-menerus menghindar karena ia pun menginginkannya.

Himchan tersenyum puas, lalu mengecup bibir mungil Sura, memberikan lumatan-lumatan ringan padanya. Sura membalasnya. Ia memeluk leher Himchan, membuat ciuman mereka semakin dalam. Memasukkan lidahnya ke dalam, membiarkan lidahnya menari-nari bersama lidah Himchan. Nyatanya sangat sulit untuk menghindar. Meski terlihat Himchan hanya menyukai tubuhnya, Sura tidak bisa menghindar dan mengurangi rasa sukanya pada lelaki itu.

Kini Himchan mendaratkan bibirnya pada bahu kurus Sura. Menciuminya sampai leher, lalu menjilatnya. Tangan nakalnya mulai berusaha untuk menurunkan bikini yang Sura pakai sehingga gadis itu memukul tangannya.

“Jangan di tempat terbuka seperti ini!” Keluh Sura.

“Shh, tidak akan ada yang lihat.” Himchan kembali melumat bibir Sura, dan tangannya berhasil menurunkan bikini yang ia pakai hingga kini gadis itu bertelanjang dada. Sedikit membungkuk, menciumi permukaan dada Sura dan tangannya mulai memilin nipple Sura. Kesulitan untuk lebih membungkuk agar dapat mengulum nipplenya, maka Himchan menyerah. Bermain dengan telinga Sura, menjilatinya, dan Sura cukup pintar menggerakkan tubuhnya sehingga nipplenya menggesek pelan dada Himchan. Geli, karena tubuh mereka bergesekan secara langsung tanpa penghalang apapun.

“Hey, kalian!”

Sura terkejut setengah mati ketika seseorang memergoki mereka sedang bercumbu. Untuk saja Sura membelakangi orang itu, sehingga ia dapat menutupi dadanya. Himchan mendekapnya selagi Sura mencoba untuk menaikkan kembali bikininya.

“Cepatlah kembali berkumpul, jangan bercinta terus!” Ujar Makoto, teman kerja mereka.

“Kau kembali duluan.” Bisik Himchan pada Sura. Sura mengangguk, dan pergi meninggalkan Himchan dan juga Makoto. Malu, tapi yang lain pasti menganggap mereka wajar-wajar saja karena mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. “Lain kali jangan datang tiba-tiba.” Ujar Himchan pada lelaki itu. Mereka berjalan bersama menuju tempat yang lainnya berkumpul.

“Ahaha, kau yakin tidak ada hubungan apa-apa dengannya?” Tanya Makoto. Himchan mengangguk. “Kenapa kau beruntung? Dia selalu menolak setiap yang lain ingin bermain dengannya. Aku akan mencoba mendekatinya saja kalau begitu.”

“Hey, dia milikku.”

“Haha, kau tidak berhak untuk itu, Himchan.”

 

***

 

“Kang Sura,” Panggil Himchan yang sedang merasa bosan di hari liburnya.

“Hm?” Respon yang Himchan benci. Sura tetap asik dengan komik yang dibacanya.

“Ayo kita bermain.”

“Ini masih jam 7 pagi. Mengapa tidak mengerjakan hal yang lain saja, huh?”

“Justru karena ini jam 7 pagi. Aish…” Sura melirik pria yang duduk di sebelahnya. Memberhatikan boxer yang dipakainya yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang membesar di dalamnya.

“Siram air panas saja.”

“Apa? Kau tega sekali.”

“Ah, kudengar jam Ayame datang jam 6 pagi tadi. Kau serang saja dia. Dia mau melayani pria tua, dia tidak akan menolak untuk tidur denganmu.”

“Ah, ya sudah.”

Himchan pergi meninggalkan Sura yang sedang bersantai di balkon. Sura menoleh ke belakang, dilihatnya Himchan pergi dari apartment-nya. Mungkin kembali ke apartment-nya sendiri? Atau datang pada Ayame.

 

***

 

Sura POV

 

Menyebalkan karena Jiro-san menyuruhku untuk mengambil kamera, dan kamera itu ada pada Himchan. Aku pun keluar dari apartment-ku dan pergi menuju apartment Himchan yang hanya berselang 3 ruang dari apartment-ku. Aku mempunyai kuncinya, jadi aku masuk begitu saja. Kulihat di dalam sepi. Apa dia benar-benar pergi mencari wanita lain? Ya, lelaki itu hanya memikirkan cara bagaimana untuk memuaskan nafsunya, seharusnya aku sadar sedari dulu.

“Hah, dimana kamera itu.” Gumamku karena tidak melihat kamera itu di beberapa mejanya.

“Sura?” Tiba-tiba aku mendengar suara Himchan. Dia ada, ternyata?

“Himchan, dimana kau simpan kamera?” Tanyaku sedikit berteriak. Kurasa dia berada di kamar mandi.

“Uh.., aku –pa.”

“Apa?”

“Aku —a.”

“Bicara yang jelas!” Aku tak dapat mendengar jelas suaranya. Aku pun mendatangi kamar mandi dan membuka pintunya.

“Ya~ apa yang kau—-“

Aku menghentikan kata-kataku setelah membuka pintu kamar mandinya. Ugh, pemandangan yang kulihat malah Himchan sedang mengocok penisnya sendiri. Dia memandangku lugu, seperti anak kucing.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Huh?” Dia terlihat kebingungan. Aku pun menghampirinya, berlutut di depannya yang sedang duduk di atas kloset dan menyingkirkan tangannya, membantunya untuk mengocok penisnya. “Kau tidak mau membantuku, ya sudah, kukerjakan sendiri.”

“Kenapa tidak datang pada orang lain saja?” Tanyaku datar.

“…….”

“Kau ini menyusahkanku. Aku ini bukan kekasihmu yang bisa melayanimu setiap—“

“Jadi kekasihku kalau begitu.”

Aku tau dia menunduk, berusaha meraih wajahku. Kata-katanya membuat tanganku berhenti bekerja. Tangannya mengangkat sedikit daguku, hidungnya membelai pipiku, dan kurasa aku harus menghentikannya. Aku segera memalingkan wajahku. Aku pun bangkit, berjalan menuju wastafel dan mencuci bersih tanganku.

“Jangan bicara seenaknya, Himchan. Aku bukan boneka pemuas nafsumu.” Berjalan pergi keluar dari kamar mandi, tak peduli kalau Jiro-san membutuhkan kamera yang ada padanya.

 

***

 

“Ya, nanti akan kukonfirmasi lagi.” Kataku pada Jiro-san, lalu membuka pintu apartment-ku dan masuk ke dalam. Dan tebak siapa yang ada di dalam? Kim Himchan. Aku menyesal telah memberikan kunci cadangku padanya. “Sedang apa kau di sini?”

“Tidak boleh, kah?”

“Aku tanya, sedang apa di sini?”

“Kau menghindariku, Kang Sura.”

Aku mendecak kesal, menyimpan tasku, lalu membuka lemari, menyibukkan diriku untuk memilih baju untuk tidur.

“Sura,” Himchan mendekatiku, berdiri di belakangku. Mengapa dia harus terus menggangguku?

“Jangan ganggu aku, Himchan.”

“Kenapa?”

“Aku tidak suka.” Beranjak pergi, tapi Himchan menahan tanganku. Dia benar-benar mengesalkan.

“Kau tidak seperti ini sebelumnya.” Menghela panjang nafasku, mencoba meredakan emosiku. “Ada apa?”

“Aku akan berhenti bekerja dan kembali ke Korea.”

“…..apa perlu menghindariku seperti itu?”

“Banyak hal yang tidak kau tau tentangku. Aku pergi kemari, meninggalkan kekasihku begitu saja. Memutuskan hubunganku dengannya hanya karena terlalu senang bekerja di tempat ini, lalu merelakan tubuhku dijajah oleh pria sepertimu. Kau tau? Aku masih berharap bisa mendapatkan pria baik. Meski sangat tidak pantas, tapi aku akan berusaha mengejar kembali orang itu. Aku tidak ingin seperti ini lagi.”

Kembali melangkahkan kakiku, tapi Himchan menahanku lagi.

“Sura…”

“Ayolah, Himchan. Kalau kau memang temanku, jangan halangi aku untuk berubah. Aku ingin mejadi lebih baik agar pantas dengannya.”

Aku berusaha melepaskan tangan Himchan yang memegang erat tanganku. Kali ini Himchan melepaskanku. Pedih. Mataku terasa sangat pedih. Ya, tapi aku harus melupakannya demi masa depanku.

 

***

 

1 Month later….

Kini semuanya telah berubah. Tak ada lagi pemandangan kotor di hadapanku, tak ada lagi wajah pria itu yang selalu menganggu pikiranku. Akhir-akhir ini yang kudapatkan adalah kejutan-kejutan manis dari pria yang sedang duduk di hadapanku, menyesap kopinya.

“Kenapa memandangku seperti itu?” Tanyanya tiba-tiba, membuyarkan pikiranku. Aku hanya dapat meringis. Dia Youngjae, mantan kekasihku. Dia pria terlembut yang pernah kukenal, sayangnya aku pernah menyia-nyiakannya begitu saja. Tapi Youngjae masih memperlakukanku secara spesial. Apa aku masih boleh berharap? Semua wanita ingin mendapatkan pria baik sepertinya. “Sura, kau masih belum menjawabku. Apa yang membuatmu kembali dan meninggalkan pekerjaanmu begitu saja?”

“Uh…, itu…..”

“Apa untukku? Hahaha…,”

Aku tersenyum. Untuknya? Ketika dia bertanya, aku malah ragu untuk menjawab. Untuknya, atau untuk menghindari Himchan saja karena dia sudah membuatku patah hati?

“Kuperhatikan kau selalu melamun. Memikirkan seseorang?” Tanyanya tepat sasaran.

“Ah, tidak.”

“Jangan berbohong, Sura.”

“Sura?” Dapat kudengar suara orang lain yang datang. “Sura? Sudah kuduga kau di sini!” Menyesal. Lagi-lagi aku menyesal telah memberitahu daerah rumahku, juga kedai kopi ini yang menjadi tempat favoritku untuk bersantai. Kim Himchan, untuk apa dia muncul di hadapanku?

“Aku sedang bersama seseorang, tolong jangan ganggu aku dulu, Himchan.” Ujarku.

“Sura, aku mencarimu, kau tau?”

“Ya, tapi kita bisa bicara nan—“

“Aku mencintaimu, bukan hanya menjadikanmu bonekaku, kau mengerti?!”

“………”

“Sura, kau mungkin bisa bicara dulu berdua dengannya?” Ujar Youngjae. Malu. Mengapa Youngjae harus melihat dan mendengar hal ini?

“Ah, kau benar. Kupinjam dia sebentar. Terimakasih!” Himchan menarikku begitu saja, membawaku pergi keluar dari kedai.

“Yak! Lepaskan aku!” Bentakku, tapi Himchan tidak mendengarku. “Lepaskan aku! Apa kau tidak dengar?”

“Dia orang baik yang kau maksud?” Tanya Himchan tiba-tiba dengan nada datarnya. Dia lalu melepaskan genggamannya.

“Ya, dan kau menghancurkan segalanya. Apa kau sadar? Jangan biasakan lidahmu bicara yang tidak-tidak! Kalau dia menyangka ada hubungan di antara kita, bagaimana?!”

“Jadi tidak ada?” Himchan membalikkan badannya, lalu menatapku. Dia terlihat sangat dingin, tidak seperti tadi saat di kedai. “Bukankah kau mencintaiku? Lalu kenapa bersikap seperti ini?”

“Ha, aku tidak pernah mengatakan kalau aku mencintaimu. Sudah kubilang, jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Telingaku masih berfungsi secara jelas, Sura. Kau pernah mengatakannya. Atau kau lupa?”

Dia dengar. Dia mendengar semuanya. Jika ia tau, lalu mengapa melakukan hal itu padaku?

“Aku membencimu. Kau menghancurkan segalanya, Himchan.” Memundurkan kakiku, berusaha menjauh dari Himchan. “Kalau sampai dia menjauh dariku, aku tidak mau bertemu denganmu lagi.” Lalu aku pun pergi. Sedih. Mengapa berani-beraninya dia mengatakan kalau dia mencintaiku? Orang bodoh sepertinya mana bisa mengerti tentang cinta? Menyusahkanku saja. Dia menghancurkan impianku.

 

***

 

“Jadi….mau cerita padaku?” Tanya Youngjae saat bertamu ke rumahku. Aku memegangi kakiku yang melipat di atas sofa. Mengapa Youngjae harus mengungkit masalah Himchan? Ini menyesakkanku. “Kau menyukainya?”

“Tidak.” Jawabku. Menundukkan wajahku, memijit kakiku sendiri agar tidak terlihat gelisah.

“Kau tau aku masih menunggumu, Sura.”

“……ne.”

Bingung. Rasanya kepalaku mau pecah. Orang yang kuharapkan masih menungguku. Bukankah seharusnya aku senang? Tapi Youngjae tidak tau apa yang telah kulakukan selama aku pergi darinya. Himchan merubah segalanya.

“Kuharap kau mau cepat untuk memikirkannya.” Lanjut Youngjae.

“Tidak usah memikirkannya lagi, aku sudah tau siapa yang terbaik untukku. Kau.”

“Apa yang terbaik bisa membuatmu bahagia lagi?”

“Yang bisa membuatku bahagia bisa saja membuatku terjerumus pada akhirnya. Tentu aku memilih yang terbaik.”

“Kau tidak fokus sejak tadi, Sura.”

“Tidak fokus apanya?! Kalau memang kau menginginkanku, tidak seharusnya cara bicaramu seperti mendesakku untuk mempertimbangkan oranglain.”

“Menghindarinya saja membuatmu terbebani, apalagi benar-benar meninggalkannya? Aku tidak suka melihat itu.”

Mungkin Youngjae hanya benci melihatku memikirkan oranglain disaat aku sedang bersamanya. Rusak sudah semuanya. Aku tidak bisa menghilangkan orang itu dari pikiranku.

 

***

 

“Apa kau tidak ingat kalau waktuku tidak banyak?!” Ujarku kesal. Himchan terus berteriak dari balik ponselnya, menyuruhku untuk bersabar menunggunya. Semalam Himchan menghubungiku, memohon padaku untuk bicara padanya lagi.

“Sudahlah, aku sampai!” Ujar Himchan. Sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Ya, itu pasti Himchan. Dia keluar dari mobilnya. Rasanya aneh melihatnya. Sebelumnya aku tidak pernah bertengkar dengannya. “Aku masih punya waktu 20 menit lagi, kan? Kita bicara di dalam.” Membukakan pintu untukku, aku menurut saja untuk masuk ke dalam. Dia pun pergi ke sisi lain dan masuk juga ke dalam. Suasana berubah menjadi lebih sunyi. Tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya. Beruntung ia mengajakku bicara di dalam mobil, dengan begitu aku tak perlu melihat wajahnya.

“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku. “Baiklah, maafkan cara bicaraku kemarin yang seperti mengajakmu bermusuhan. Lupakanlah, aku hanya sedang kesal.”

“Bukan itu.” Ujarnya.

“Lalu apa lagi?”

“Kau memandangku seperti apa, Sura?”

“…..apa maksudmu? Jangan menanyakan hal yang tidak penting.”

“Penting untukku. Apa aku seburuk itu? Seburuk apa sampai kau pergi dan kembali pada pria itu?”

“Ini tak ada hubungannya denganmu. Itu urusanku, terserah padaku mau pergi pada lelaki manapun.”

“Aku kemari untukmu. Aku akan mencoba mencari pekerjaan yang lebih normal di sini. Mencoba berubah, agar kau bisa memandangku sebagai pria baik juga. Apa kau akan melihatku?”

“Haha, untuk apa? Kau tidak perlu repot-repot melakukan itu. Lakukan saja hal yang kau suka. Bukankah kau suka mencari uang yang banyak? Bahkan kau mendapatkan bonus yang tak terduga pada pekerjaan itu.”

“Aku tidak butuh.”

“Jangan membohongi dirimu sendiri.”

“Aku membutuhkanmu.”

“Membutuhkan tubuhku, huh?”

“Kau bukan aku, Sura. Aku yang merasakannya. Ya, aku sangat suka ketika bisa menyentuhmu. Tapi apa kau tau hal lain yang kurasakan? Sebesar apa aku menyukaimu, sebagaimana aku menginginkanmu, seperti apa cara yang ingin kutunjukkan padamu agar kau tau kalau aku hanya mencintaimu? Tidak.”

“….” Aku diam. Perkataan Himchan membuatku ingin mempercayainya, tapi takut akan terjatuh pada akhirnya.

“Maafkan aku. Merasa sudah memilikimu, aku sampai lupa kalau aku masih tidak berhak atasmu. Sura, aku memang tidak sebaik pria itu, tapi apa yang harus kulakukan kalau aku mencintaimu? Bahkan aku tidak akan pernah rela kalau kau bersama oranglain. Aku memang bukan pria baik, tapi apa aku datang pada oranglain saat kau menghindariku? Aku tidak mau. Aku lebih baik tersiksa sendiri daripada harus datang pada orang selain kau.”

Air mataku mengalir begitu saja. Ya, Himchan tidak seburuk yang kupikirkan sebelumnya. Himchan menggenggam tanganku lembut, membuatku sedikit nyaman. Tanganku menyeka air mataku sendiri, lalu menoleh pada Himchan yang memandangku dengan tatapan berbeda. Apa aku dapat mempercayainya? Himchan tidak pernah menatapku dengan tatapan seperti itu. Entahlah, aku ingin tertawa. Aku tertawa kecil meski air mataku jatuh lagi.

“Ya~ jangan mentertawaiku.” Ujar Himchan.

“Jangan bicara terlalu serius seperti itu lagi, Himchan. Itu bukan seperti kau.” Menarik jaket yang dipakainya dan mencondongkan setengah tubuhku padanya. Mencium sudut bibirnya, hingga lelaki itu tersenyum dan memiringkan kepalanya, membalas ciumanku. Sudah berapa lama aku menghindarinya? Aku tak sanggup lebih lama lagi. Memang selalu Himchan yang kubutuhkan, bukan yang lain. Impianku untuk mendapatkan pria baik telah musnah. Kupikir lagi aku dan Himchan sama, lebih pantas untuk bersama, lalu menjadi lebih baik bersama-sama.

 

-end-

Visit my wp for the other fanficsà ullzsura.wordpress.com ^^

RCL yaaaaaaaa

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 17/09/2013, in OS and tagged . Bookmark the permalink. 37 Comments.

  1. Mau di baca seribu kali pun ceritanya tetap hot

  2. Aigooo hottttt buangetttt wkwkwk

  3. Jung Hyejoon

    Daebak! Jalan ceritanya lumayan bagus^^

  4. Kipas mana kipas ,,,,,,,,,,
    #nyari kipas
    Aigo,author ceritanya hot banget and alur cerita juga menarik.

  5. Okee, intinya aku slalu suka pasangan ini, polaris n yg twoshoot itu aku suka bgt…

  6. porsi y pas NC dan cerita y bagus thor..jempol deh

  7. keren…. kata2 nya agak sedikit membingungkan tapi tetap keren

  8. himchaaaaaaaaaan TT
    terharu sama cerita nya

  9. aku suka ff author, yg polaris n jekyll n hyde aku jg sukaa.. Bahasanya bagus, ceritanya menonjol jd bukan sekedar nc aja. Kapan2 buat ff nc yg himchan n sura nya udah nikah dong yaaa~ ff nc yg author bikin belum ada yg ceritanya mereka udh nikah kan? Gomawo n fighting 😀

  10. Hot thor.. 🙂

  11. ohh tuhan.. ini hot bgt /kipas-kipas *tetangga = masih ingat tuhan yaa? *(“-_-)

  12. bisa bayangin himchan bgt  (o^^)o

  13. keren asli ini teh ,hahahha

  14. panas…
    kipas mana kipas…hahahaha

  15. Keren…q mw visit wp author

  16. kereen..

  17. Himchan , himchan ,, yg laen pada nyari kipas gw nyari ac ajjj deh ,,kipas kurang mempan. :p ac mana ac ,, hahahahahahah

  18. Firly Kpopers

    pda nyari ac, krang ‘-‘
    mnding hujan, hujan mna hujan?.
    #panas(?)

  19. himchan sweet tp pervent juga …..hahaha

  20. Ilma Bumssoeulmates Elf

    daebak..

  21. Hottttt
    Ŧǻρί ªkŮ suka tete Ά̲̣̥​ϑǎ̜̣̍​ sweet momentnya

  22. mungkin lebih spesifik lagi ceritax, lebih apa ya?????? lupa q bahasax.
    tp tetep bagus ko

  23. Ceritanya keren, aku suka 😉

  24. Suka dengan karakter himchan di sini

  25. ceritanya keren >..<

  26. aigoooo, eomma sejak kapan anakmu ini jadi yadong?
    hot min ???

  27. Hiks… Ntah knpa q nangis…. Ending suka bnget…. Daebak thor…

  28. huweeeeee suka bgt sura himchan couple,,,bkin sequelny siiiiihhh

  29. Hideyasu Kumori

    jalan ceritanya keren bangeeeettt….trus perangkaian kata2nya juga bagus..ih suka..karakter himchan dan suranya juga kuat disini…keep writing thor!!!

  30. Kerennnn
    😛

  31. no koment!
    I’ts much good!

  32. yeay! Akhirnyaa mereka bersama….

  33. wah… keren bgt thor. cinta memang tdk bsa di paksa

  34. wahhh… akhirnya mreka bersama, stlh ad keraguan tntg cinta. siip thor

  35. waaaww…. #gtu aja de komennya 😀

  36. Sura memendam perasaannya, sementara Himchan terlalu takut mengutarakan isi hatinya :]Y

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: