My Wife is A Fanster (ChangChan Couple)

changmin tvxq ff nc

1. Author: N/M

2. Title: My Wife is A Fanster (ChangChan Couple)

3. Type: Straight, Romance, NC 17

4. Casts: Shim Changmin (DBSK), Park Chan Gi (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… We’re back again. Kali ini kita mau mempersembahkan FF Changmin.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya ^^

 

~Author’s POV~

Changmin baru saja mematikan lampu kamarnya lalu menyalakan lampu tidur berpendar cerah yang berlukiskan tyranosaurus dan pteranodon di rak sebelahnya. Lampu tidur itu kemudian memproyeksikan gambar dua hewan zaman batu yang berkejaran di dinding polos kamarnya. Changmin menyeringai. Meski lampu berbaterai yang merupakan hadiah dari fans itu kekanakan, dia menyukainya. Dia terhibur sehingga sedikit melupakan rasa sakit dari lecet dan memar di kulitnya.

Mengenai luka yang ia alami, ia jadi teringat lagi penyebabnya. Seorang laki-laki sakit jiwa, yang datang kepada istrinya, telah menyebabkan luka-luka yang ia alami.

Ya, istrinya.

Changmin, anggota termuda DBSK, yang berniat menikah muda itu sudah menikah. Tanpa diketahui oleh media. Tanpa tercium oleh rekan-rekan kerjanya, kecuali anggota DBSK—tentunya.

Yah, soal manajemennya yang ‘baik’, dan secara ajaib membolehkannya untuk menikah, memang cukup mengherankan. Tapi tak ada yang mustahil di muka bumi ini.

Setidaknya begitulah motto Changmin.

~Changmin’s PoV~

Tak ada yang mustahil.

Ya, benar.

Dan itu memang mottoku, suka ataupun tidak suka.

Lagipula kemustahilan memang sudah kujalani sejak dulu. Ayahku bilang menjalani dunia menyanyi itu mustahil bagiku, yah, aku tetap menjalaninya. Ibuku berkata aku tidak mungkin akan bertahan begitu lama di grup ini, dan, lihat sekarang, aku tetap ada di sini. Bahkan aku pun melanggar kemustahilan yang kukatakan sendiri; aku menikahi gadis yang bukan tipeku. Selama ini, aku berpendapat gadis terbaik bagiku adalah yang penurut, keibuan, cute, agresif dan seksi—hey, apa salahnya?

Namun yang kunikahi adalah gadis dengan sifat yang berkebalikan dari semua itu. Hm, mungkin dia seksi, entahlah, tapi, yang jelas, dia sama sekali tidak penurut, tidak keibuan terhadapku, dan tentu, tidak agresif. Dia pembangkang. Baginya, semua yang kukatakan itu salah. Dan, dia selalu punya perkataan yang, sialnya, masuk akal untuk menentang perintahku. Dia selalu membuatku kesal, yang tentu saja, secara abadi, membuat kami bertengkar. Itu sama sekali bukan sifat keibuan. Meskipun dia akan menjadi sangat manis sekali jika berhadapan dengan anak kecil—entahlah, aku juga heran dengan anomali ini. Oh, dan mengenai keagresifan, dia sama sekali jauh dari itu—jika kau tahu maksudku. Bukan agresif dalam hal membuatku berang, dia jago sekali dalam hal itu, namun agresif dalam hal pendekatan wanita pada pria. Bah, dia payah sekali. Dan kami yang sudah menikah selama setahun ini bahkan sama sekali belum bersentuhan. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli akan hal itu. Namun orang-orang di sekitarku peduli. Dan aku selalu menjadi bahan lelucon karena itu. Itu memurkakanku, tentu saja. Kendatipun, aku tetap menjalani pernikahan ini.

Kalau orang bertanya mengapa, karena ini pilihanku. Dan kalau orang-orang mengungkit soal cinta, oh, ayolah, cinta hanya ada di lagu-lagu yang kami nyanyikan. Bukan di kehidupan nyata. Maksudku, kehidupan nyata lebih rumit daripada hanya untuk dijelaskan dengan satu kata : ‘cinta’ saja.

Kini aku merenggangkan kedua kaki yang kepanjangan itu ke kasur sambil tersenyum ringkih, kemudian meletakkan kedua lengan berlapis jaket hijau army-ku ke belakang sebagai alas kepala. Karena melihat jaketku, aku jadi teringat belum melepaskannya.

Aku lantas terduduk lagi dan meluputkan kancing-kancing jaket  belelku lalu melepaskannya. Setelah menghempaskannya ke sofa beludru merah yang ada di dekat tempat tidur, pun aku rebahan kembali.

Malam ini panas sekali. Wajar saja sih, saat ini musim panas. Dan, kurasa ini puncaknya. Ditambah lagi, luka-lukaku makin terasa perih.

Sepintas aku ingat kejadian yang membuatku mendapatkan luka-luka ini. Ini dikarenakan pemuda sial yang mau bilang cinta pada istriku. Oke, dia belum bilang. Tapi akan bilang, aku tahu. Dan itu mengesalkan.

Bukan. Bukan karena dia mau menyatakan cinta pada istriku. Itu sih aku tidak peduli.

Tapi karena pemuda itu memulai  dengan berkata,  “Aku akan mentraktirmu makan setiap hari.”

Apa-apaan itu? Tentu saja, aku naik pitam. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menjadikan makanan sebagai jaminan pacaran? Itu mengerikan.

Lebih-lebih ketika Changi, istri yang mencoba menyaingi rekor makanku itu, menolak tawaran  itu. Apa dia bodoh?

Bukan berarti aku melegalkan orang untuk mau menerima tawaran semacam itu. Hanya saja, kan bisa ia akali tawaran itu dengan mengambil hadiah makanannya dan dengan segala kelicikannya—yang harus kuakui hampir mendekatiku—menyingkirkan pemuda bodoh itu.

Nampaknya ia tak tega, makanya menolaknya.

Memar di bagian siku kiriku berdenyut-denyut sekarang. Meski tadi sudah diolesi salep oleh Jaejung hyung, memar itu masih nyeri. Hah. Sial.

Kurasa aku harus tidur.

Aku baru saja terlayang-layang dalam tidurku, sampai terdengar ketukan pintu. Karena malas membukanya, aku berteriak, “Aku mau tidur!”

“Changminnie, ini aku,” terdengar suara Jaejung hyung.

“Mau apa?” tanyaku ogah-ogahan.

“Cuma mau lihat keadaanmu, Changmin,” Junsu hyung membalas.

Aku mengernyit, “Kenapa ada Junsu juga?”

“Kenapa aku tidak boleh?” rengek Junsu.

“Sudah, biarkan kami masuk, ya, Changmin,” ucap Yunho hyung. Dan tak ada gunanya aku melarang. Apa lagi, pintunya tidak dikunci hingga sekarang mereka pun sudah membuka pintunya dan langsung masuk.

“Yo, Changmin,” sapa Yoochun hyung.

Baiklah, mereka komplit ternyata.

“Kalian mau apa? Aku mengantuk,” keluhku.

“Aku hanya ingin memberimu obat,” ujar Jaejung hyung sembari menyodorkan satu kapsul dan segelas air putih.

“Obat apa? Aku sudah kauobati tadi,” kilahku.

“Ini obat untuk menghilangkan rasa sakit,” Jaejung hyung menyuapi kapsul itu ke mulutku, agak memaksa. Selain karena aku merasa percuma saja melawan naluri keibuannya saat ini, aku juga mengantuk. Jadi aku menurut saja dan menelan obat yang memang biasa dia berikan kalau aku terluka itu. Dan menerima segelas air putih yang ia berikan untuk kuminum.

“Nah, sekarang tidurlah, Changmin,” ucap Yunho hyung.

“Hm,” sahutku setelah minum dan merebahkan diri kembali.

“Kami akan keluar,” ucap Yoochun hyung.

“Ya, kami akan keluar,” biasa, Junsu mengulang sesuatu yang seharusnya tak diulang lagi. Membuatku menguap.

Mereka pun berbondong-bondong keluar.

“Kami akan meminta Changi ke sini untuk menjagamu malam ini,” ucap Jaejung hyung ketika ia menutup pintu. Hal itu membuat aku yang sedang mengerjap-ngerjap penuh kantuk jadi sedikit kaget.

Aku baru ingat. Istri ‘luar biasa’-ku itu tidak kelihatan lagi semenjak dia memapahku ke kamar apartemen DBSK untuk menemui hyunghyung-ku.

Mengapa aku bilang dia istri ‘luar biasa’? Karena kami telah sepakat dalam suatu perjanjian, atas permintaannya, kalau pernikahan kami hanyalah keberadaan. Dia ada di kamarku, aku ada di kamarnya—tepatnya kamar kami. Masing-masing harus mengetahui lokasinya sekarang dimana. Hanya itu.

Kami mungkin lebih tepat disebut teman sekamar.

Dan dia sangat stabil. Dia bertindak sesuai perkataannya. Dia tak pernah mencuri pandang padaku, mengamatiku diam-diam, memperhatikanku secara berlebihan dan menunjukkan kalau dia tertarik padaku. Itu YANG kuharapkan. Karena klise ‘hidup-bersama-yang-terpaksa-lalu-jatuh-cinta’ seperti di drama-drama Korea itu membosankan. Aku tidak suka hidup seperti orang kebanyakan.

Dan menurut hyung-hyung-ku, Changi satu visi denganku.

Tubuhku menggeliat di kasur. Otakku kembali merenung. Aku pernah berikrar dulu, aku takkan terlibat wanita keras hati yang sama denganku, supaya kami tidak saling bertengkar. Tapi kenapa sekarang aku bisa bersama Changi?

Pilihanku, aku menjawab dalam hati.

Benar, pilihanku, dia pilihanku. Pilihan yang didasari perhitungan yang kulakukan sendiri. Perhitunganku biasanya lebih akurat daripada ikrarku sendiri.

Ya, aku harus berpegang pada itu. Aku tidak peduli kata orang.

Barangkali aku memang menikahinya, tapi bukan sepenuhnya terlibat dengannya.

Kuamini hal itu sembari memejamkan mata.

***

Harusnya aku sudah tidur beberapa saat lalu. Tapi entah mengapa aku terjaga terus sekarang. Seluruh tubuhku panas dan kedua mataku ingin terbuka terus. Untung saja, lukaku sudah tidak begitu sakit lagi. Sudah ampuh nampaknya obat penghilang rasa sakit dari Jaejung hyung itu.

Bagus, dan udara semakin terasa panas. Rambutku terasa gerah, padahal rambutku pendek. Aku menyentuhnya dan sadar aku masih bertopi.

Topi kupluk hijau cerahku tengah kulepas saat pintu kamarku kembali diketuk.

“Siapa?” tanyaku sambil melempar kupluk itu di sofa.

Tak ada jawaban.

Sejak tadi aku malas berbuat apapun. Tapi entah mengapa, kali ini, kakiku begitu bersiaga dan membawaku ke dekat pintu untuk membukanya.

Nampak Changi di sana.

Entah mengapa, tubuhku makin terasa gerah.

“Aku mau masuk,” ujarnya seraya masuk begitu saja.

Ketika aku mau menutup pintunya, aku mendengar diskusi kencang dari orang-orang di luar. Suara Jaejung hyung yang paling mendominasi.

“Aku yakin aku sudah menaruh obatnya dengan benar. Dan itu bukan obat tidur, Yunho, kalau kau ragu. Kecuali Junsu salah mengambil. Hei, Junsu, kau sudah mengambil air putih yang benar, bukan?” tanya Jaejung hyung.

“Aku mengambil air putih di dapur,” sahut Junsu hyung.

“Benar, air itu sudah kucampur obatnya untuk diberikan ke Changmin.”

Aku melotot, gemetar menggenggam gagang pintu. Sial, apa yang mereka rencanakan? Kepalaku pun mulai nyeri.

“Air di dapur kalian?” tanya seorang gadis. Kurasa itu Sunghyo. Rupanya pacar Yoochun hyung juga muncul.

“Kau kenapa, Sunghyo?” tanya Junsu hyung. Nah, benar. Aku puas dengan otakku yang memang sering tak sengaja menghapal apapun, bahkan hal tak penting seperti suara orang sekitar.

“Itu, air itu, air yang ada di dapur itu…” Sunghyo berkata lagi. Dan semuanya kedengaran heboh. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Kulirik sampingku. Rupanya Changi kini berdiri di sebelahku dan mendengarkan.

“Kau juga mengambilnya?” tanya Jaejung hyung. Suaranya terdengar panik.

“Tidak, tidak,” Sunghyo membalas jauh lebih histeris, “aku saat itu hanya ingin mengambil minum untuk Changi…”

Semua hyung-ku menghela napas lega. “Kalau begitu, kita aman. Mereka akan tetap melakukannya.”

Aku menatap Changi dengan nanar, yang balas menatapku dengan pandangan serupa.

“Tapi…” Terdengar suara Sunghyo lagi.

“Sudah, Dear,” Yoochun hyung menyelanya, “jangan bicara banyak dulu. Kita sedang menunggu sesuatu yang menakjubkan.”

“Sebentar, aku kurang mengerti,” tanya Junsu, “jadi maksudnya Changmin dan Changi sama-sama minum obat perangsang itu?”

Mataku membeliak.

Baik. Telah jelas apa yang mereka lakukan. Hatiku pun mengumpat tanpa henti.

Pendengaranku merasai suara Junsu yang nyaring disertai keberisikan di luar itu makin mendekat. Lantas dengan segera aku membanting pintu dan menguncinya. Takkan kubiarkan mereka menemukan yang mereka ingin lihat dari pintu yang terbuka.

Aku melihat dari ujung mataku kalau Changi kelihatan frustrasi. Ia mengacak rambut keritingnya yang masih terkuncir kuda, berjalan mondar-mandir lalu membawa dirinya yang berbalut blus berlengan warna ungu dan celana hitam panjangnya ke dekat tempat tidur.

~Changi’s PoV~

Sangat hebat.

Jadi ini efek sidang yang gadis-gadis itu lakukan padaku?

Beberapa saat lalu, saat aku selesai memapah Changmin ke apartemen DBSK, Minrin, Sunghyo, Ririn dan Minmi mengajakku ke kamar Jaejung untuk bercakap-cakap. Tak disangka, ternyata mereka membahas hubunganku dengan Changmin. Berkat Minmi si ceplas-ceplos, ketahuanlah kalau aku dan Changmin selama ini tidak pernah melakukan apa-apa. Bahkan bersentuhan fisik saja kami hindari. Minrin menceramahiku kalau pernikahan itu tidak sehat. Dia juga  menanyai alasan mengapa aku mau menikah dengan gaya seperti ini.

Aku pun bersikeras kalau aku tahu apa yang kulakukan dan terus bertahan, melawan argumentasi mereka dengan alasan logisku—kadang dengan pengalihan.

Tapi mereka terus mendesak. Dan aku akhirnya hanya berkelit sebaik mungkin agar mereka terlupa. Keripik kentang Sunghyo pun kujadikan sasaran empuk perhatianku. Setelah itu, kusuruh dia mengambilkan minum.

Dan minum itulah yang dia ambil.

Minuman beracun.

Yang sialnya telah kuminum.

Mati aku. Sekarang bagaimana?

Segera mataku mengarah ke pintu. Aku berlari cepat dan bersicepat memegang kuncinya untuk membuka pintu itu.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Changmin. Kedengaran kaget.

“Keluar, tentu saja,” jawabku ketus seraya terus memutar-mutar anak kunci. Kunci kamar ini memang sering macet jika kita ingin membukanya. Berbeda sekali ketika kita hanya ingin mengunci.

“Jangan keluar,” larang Changmin.

Aku terbelalak. Kemudian menoleh galak. “Kau gila?!” sergahku. “Kau tidak dengar apa yang Junsu katakan tadi?”

“Aku dengar.”

“Lalu kau mau membiarkan hal mengerikan itu terjadi?!” makiku sembari mengembalikan perhatianku ke lubang kunci. Aku malas mengamati wajah sok tahunya yang baru ia tampakkan.

“Kau sepertinya tidak tahu apa-apa soal obat pe—”

“Aku tahu!” cegahku. Aku tidak mau mendengar kelanjutan yang akan ia katakan. “Yang meminumnya akan kehilangan kesadaran.”

“Itu obat bius,” Changmin mengoreksi seolah-olah aku sedang presentasi di depan kelas. Menjengkelkan sekali. Apa dia tidak tahu kalau ini keadaan genting?

~Changmin’s PoV~

Changi sangat ketakutan. Jelas sekali dari tingkah lakunya.

Jangan salah. Aku juga takut. Takut tidak bisa mengontrol diriku dan melukai orang. Tapi aku berlagak santai, demi menjaga ketenangan.

Dengan raut muka yang seakan bertanya ‘benarkah?’ itu, ia memandangku.

“Benar. Obat bius berdampak tak sadarkan diri. Sementara, obat pe—”

“Akh!” pekiknya sambil menutup kedua telinga.

“—rangsang itu berdampak,” aku meneruskan meski dia menutup kedua kupingnya dan kedengaran selenting keributan di luar, “dimana kau akan bernafsu dan berkeinginan untuk melakukan tindakan seksual.”

“Cukup! Aku tidak mau dengar!” jerit Changi lagi.

~Changi’s PoV~

Baru saja aku meneriakinya.

Aku memang geli, dalam artian negatif, pada hal semacam itu. Sikap antiku ini dimulai dari masa kecilku yang tak pernah dikenalkan mengenai hal tabu tersebut. Dan sekalipun aku menemukan hal semacam itu, rasa janggal yang mungkin timbul karena tak pernah mengetahuinya membuatku merinding kengerian. Seperti saat ini.

“Kenapa kau harus berteriak begitu?” tanya Changmin.

“Untuk cepat-cepat menghentikanmu,” jawabku sambil mulai mengatur nafasku yang barangkali karena emosi menjadi tak beraturan, “kalau aku tidak menyetopmu, kau akan menyerocos begitu rinci serinci Wikipedia.”

Changmin tersenyum miring. Senyum yang dulu menjadi favoritku ketika aku masih menjadi fan-nya dan belum bertemu dengannya.

Oh ya, tentu saja, dulu aku fan-nya. Tapi tak ada yang tahu. Dia sendiri pun tidak. Aku tidak mau ada yang tahu. Dan tak mau memikirkannya lagi.

Keheningan aneh yang terjadi di antara kami mendadak kusadari dan aku teringat kalau aku sedang dalam usaha menyelamatkan diri. Maka aku mencoba membuka kunci pintu kembali.

“Keadaan akan semakin buruk kalau kau keluar,” ujar Changmin.

Aku menengok dengan kerutan kening. “Apa maksudmu?”

“Dari yang kubaca, semoga tidak salah, obat perangsang itu—”

“Astaga!”

“Kenapa sih kau harus terus memekik?”  Changmin bertanya. Muka garangnya mulai timbul.

~Changmin’s PoV~

Oke. Aku mulai terbawa nuansa emosionalnya sekarang.

Bukannya aku tidak tahu soal alerginya terhadap segala yang berkaitan dengan seks, baik yang ringan maupun yang berat. Aku tahu. Dia yang mengutarakan itu—itupun setelah kudesak dengan perdebatan panjang dulu. Aku juga tak masalah. Bagiku, itu bukan sesuatu yang memalukan. Tidak aneh kalau gadis kuliahan yang nampak mandiri, tegas dan kuat seperti dia tidak menyukai seks—dan yang bersangkutan dengan itu. Aku merasa alerginya itu biasa saja.  Itu hampir mirip dengan kecintaan dahsyatku pada makanan. Sesuatu yang biasa, dan mungkin terjadi.

Bahkan kadang aku merasa kasihan padanya. Sama sepertiku, dia sering dikira si ‘mengerti-segala’. Termasuk soal seks. Padahal dia benar-benar hijau. Kosong. Tidak tahu apa-apa. Mungkin karena ia selalu bersikap mandiri dan dewasa sehingga dipikirkan seperti itu. Dia juga pintar menutupi ketidaktahuannya. Menyedihkan, bukan?

Akan tetapi, siapa sih yang tidak kesal dibentak-bentak? Apa lagi oleh orang yang tidak mengerti, dan tetap membentak padahal aku mencoba menjelaskan padanya.

Melihat dia yang sekarang hanya diam terpaku, dan mengingat dirinya yang butuh dikasihani, emosiku pun turun lagi. “Dengar, aku hanya mencoba untuk menjelaskan. Kalau kau tak tahan, kau bisa tutup telingamu. Namun tak usah membentak.”

~Changi’s PoV~

Changmin bergaya seakan-akan situasi ini bisa dikendalikan olehnya sekarang. Aku ingin sekali menunjukkan pandangan menantang dan bertanya memang apa langkahnya. Karena kupikir, bisa apa dia? Dia hanya anak pintar yang rajin membaca buku dan internet-browsing. Selama ini sih yang kutemui darinya begitu.

Tapi, akal sehatku mengarahkanku untuk mengalah. Mana tahu informasi yang akan disampaikan olehnya berguna untuk melepaskanku dari racun yang baru kuminum.

“Dari yang aku baca, obat perangsang,” Changmin menjeda sejenak, mengawasiku, mendapati aku tidak lagi berteriak kaget, dia melanjutkan, “itu bisa mematikan akal sehat peminumnya. Yang menguasai adalah nafsu. Kau tidak akan punya pikiran lagi. Kau akan memaksakan agar segera berhubungan seks dengan siapapun, atau mungkin apapun, yang kautemui.”

Mataku menjegil. Jantungku mendentum-dentum paranoid.

“Jadi kalau kau keluar, aku tidak menjamin kau akan bisa menyelamatkan dirimu sendiri di sana. Karena musuhmu sebenarnya ada dalam dirimu sendiri. Sudah kauminum,” timpalnya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Mulutku langsung tersinkronisasi dengan pemikiranku.

“Aku tidak tahu. Tapi lebih baik kita mengurung diri di sini. Karena kita tidak tahu kapan obat ini mulai bereaksi. Bisa jadi sedetik setelah kau keluar kamar, bukan?” Changmin beretoris.

Aku mengernyit. Apa-apaan?

~Changmin’s PoV~

Dia bergeming, penuh kernyitan. Pasti dia sedang mengestimasi teoriku. Tapi dia nampak dirundung masalah sekali. Ah, pasti sekarang ketakutannya beralih. Dia menjadi takut kepadaku yang mungkin akan menyerangnya.

Maka dari itu, aku menanyakan dengan kalimat pernyataan. “Aku tahu, kau pasti berpikir kau belum sepenuhnya selamat. Masih ada aku. Dan kaupikir aku senang dengan situasi ini?”

“Aku tidak berharap kau senang,” cetusnya ketus.

Aku memutar bola mata dan memasukkan tanganku ke saku celanaku. Oleh sebab itu, aku tersadar aku memakai celana jeans dan kaus kuning saja.

Mataku mengamatinya. Tubuhnya tak terlalu terpampang jelas dengan blus ungu agak gombrong itu. Celana hitam panjangnya pun tidak mengepas. Dia kelihatan tak menggairahkan, kurasa. Tapi mataku tak bisa lepas darinya. Apa obat itu mulai bekerja?

~Changi’s PoV~

Changmin memandangiku dari atas hingga bawah dengan jeli. Aku makin bergidik. Walaupun begitu, aku tetap berdiri, berpura-pura tak terpengaruh, meski aku jadi bersedekap—berusaha menutupi dadaku yang kini menjadi target tatapannya.

Ketika itulah, aku mendengar suara berisik lagi dari luar.

“Ah, matikan lampunya dari listrik sentral,” sepertinya itu suara Junsu. “Supaya romantis dan panas.”

“Jangan, jangan. Biar terang saja. Biar kedua anak kecil itu bisa belajar dengan baik,” balas Jaejung dengan gaya berbisik, meskipun dengan volume suara sekeras itu dia tak bisa dibilang berbisik.

Aku benar-benar membenci keadaan ini! Aku harus bagaimana?

Kulihat Changmin. Boleh jadi dia bisa memberitahu sesuatu sebelum kami sama-sama kehilangan akal.

“Apa yang menunjukkan gejala obatnya mulai bereaksi?” tanyaku.

“Tubuh memanas. Pandangan menggelap. Kepala pusing,” jelasnya.

Terkutuk. Aku mulai merasakan itu.

“Aku sudah merasakan itu sejak beberapa menit sebelum kau masuk,” Changmin menambahkan.

Kini aku tak bisa berpura-pura tidak takut lagi. Ini sudah benar-benar mengerikan. “Adakah penawarnya?”

“Apa?” tanya Changmin.

“Penawar obat ini, sesuatu yang bisa membebaskan seseorang dari racun ini,” ujarku.

“Racun, ya?” Changmin menelengkan kepalanya. Kemudian ia melihat ternit kamar, nampak mengingat-ingat.

“Penawar,” koreksiku.

“Ya, aku tahu. Aku hanya tergelitik mendengar istilah ‘racun’ yang kauberikan,” sahutnya, membuatku terbakar amarah.

“Tergelitik?” tanyaku dengan intonasi tinggi. “Kita terancam akan bersikap seperti binatang sebentar lagi dan yang kauurusi hanya istilah yang menggelitik?!”

Changmin mendecak kesal. “Lantas kenapa?!” ia mulai membentak. “Terserah aku mau mengurusi dan memandang sesuatu dari segi apa!”

“Itu bisa kauurus nanti!” balasku lebih keras. “Yang terpenting sekarang apa yang harus kita lakukan supaya bisa keluar dari pengaruh obat ini! Apa jalan keluarnya?”

Changmin mendelik kesal, tapi mulutnya menutup. Dia pasti sedang berpikir.

Bukannya aku mau hanya bertumpu padanya? Aku juga ingin memikirkan jalan keluarnya. Masalahnya, aku benar-benar tak ada ilmu soal ini.

“Tak ada jalan keluar,” ucap Changmin.

~Changmin’s PoV~

Aku berkata pasrah. Itu pun setelah aku memutar otak dan memoriku sedemikian rupa.

Kulihat Changi menyembunyikan muka paranoidnya di antara beberapa helai rambut keritingnya yang tak ikut terkuncir.

Aku berusaha membesarkan hatinya sedikit. “Setahuku, satu-satunya cara untuk—” Kini matanya membelalak penuh harapan padaku. Mata bulat itu agak… Ah, aku tak mau membahasnya.

“Apa?” tagihnya.

Aku melanjutkan, “Cara untuk melepaskan diri dari obat ini adalah memuaskan nafsu itu sendiri.”

“Tidak!”

Ck. Dia memekik lagi.

“Kau pasti bohong!” tukasnya.

“Aku pernah membaca itu di internet. Terserah kau mau percaya atau tidak,” terangku, sedikit masa bodoh.

“Kau membaca itu di internet?” ia bertanya.

“Ya,” sahutku. Sekarang aku menyesal terlalu banyak melakukan penelitian soal seks berbekal penasaran dari internet. Itu sebabnya pula pernah ada rumor kalau laptopku dipenuhi hal-hal semacam itu. Oh, ayolah, aku hanya mencari tahu.

Aku hanya si jago teori.

Praktik : nol besar.

Changi agak menekuk lututnya di posisi berdirinya itu. Sepertinya ia sudah dikendalikan kepanikannya sendiri sehingga lututnya lemah.

Aku menghela napas, mencoba memikirkan sesuatu, demi menyelamatkan diriku dan dia.

~Changi’s PoV~

Aku memegangi lututku, lalu mulai bersandar pada dinding di sebelah pintu.

Terlihat menyedihkan.

Pasti Changmin sedang mengejekku lemah sekarang. Masa bodoh. Meskipun ini pertama kali dia melihatku begini, aku tak peduli pada pemikirannya.

Ah, tapi, kalau ternyata dia mengasihaniku, bagaimana? Dia diam saja, soalnya, bukannya melemparkan perkataan yang membuatku sakit hati seperti biasa. Tidak. Aku tidak mau dikasihani. Lebih-lebih olehnya.

Maka aku bangkit.

“Apa benar tak ada cara lain?” tanyaku.

“Seingatku, tidak ada,” sahutnya.

“Aku akan menanyakan pada yang lain,” ucapku sembari menghadap ke pintu kembali.

“Tanya saja,” ujar Changmin, “aku tidak menanggung akibatnya, ya.”

Aku teringat penjelasannya mengenai reaksi yang bisa terjadi dan segera mengurungkan niat untuk keluar.

Handphone!” Ide yang muncul di kepalaku kusuarakan bersamaan. “Tanyakan pada mereka lewat handphone.”

“Lakukanlah,” lagi-lagi Changmin menyuruh.

Aku merogoh-rogoh saku celanaku dan sadar tak ada handphone di sana. Hanya beberapa uang kertas dan struk pembayaran entah apa. “Duh!” seruku gemas.

Changmin berjalan ke rak berlampu, mengorek-ngorek isi laci yang baru ia buka. Aku mengawasinya, penuh harapan.

Handphone-ku di dalam tas,” ia menjelaskan.

Kulirik tas hijau bercorak hitam di sofa dan menghampirinya. Segera kukoyak kancingnya untuk memeriksa. Tapi tas itu kosong. Bahkan saku-saku tas itu juga.

“Bukan di tas yang itu. Tas yang kupakai tadi. Itu di luar, tentu saja,” ia berkata.

Pun aku membuang tasnya ke lantai berkarpet itu.

“Tak perlu kasar,” omel Changmin, tak terima tasnya dilempar. “Lagipula apa kau tak berpikir kalau mereka bisa saja memberikan informasi bohong karena tujuan mereka jelas berkebalikan denganmu. Mereka yang memberikan obat ini pada minuman kita. Apa kau lupa?” Ucapannya telak dan membungkamku yang mau mengomelinya karena terlalu santai.

Aku terduduk di lantai, menjenggut rambutku.

Beberapa detik terasa begitu lama hingga akhirnya kudengar Changmin memecah sunyi, “Kau semestinya bekerja sama denganku. Kita sama-sama korban. Dan aku bukan yang mau menyelakaimu. Aku juga mengkhawatirkan diriku sendiri.”

Mendengar ucapannya yang masih berakal, dan benakku yang masih dapat mencerna, aku sedikit riang menyadari kalau kami masih belum dalam kendali obat jahat itu. Maka aku langsung merongrongnya, “Kalau begitu, apa kau punya ide? Cepat beritahu ide apa saja yang kaupikir bisa membebaskan kita dari belenggu obat iblis ini.”

Changmin menyernyih dengan suara, lalu berkata, “Ada.”

“Apa?” kejarku.

“Melakukannya.”

Sungguh. Aku tadi sangat berharap padanya. Tapi sekarang kupikir ideku yang kini baru muncul lebih baik daripada miliknya; bunuh diri.

~Changmin’s PoV~

Aku tahu ideku menggelikan. Tapi aku memang tak terpikir hal lain.

Kami bisa saja memutuskan untuk tidur. Tapi nanti jika obatnya bereaksi kami bahkan bisa memulainya secara brutal karena tanpa peringatan sama sekali. Meski tangan dan kaki kami diikat dan kami terpisah di ujung-ujung kamar, nafsu yang akan membimbing akal dan tenaga kami untuk mendekat dan melakukannya.

Jadi, kupikir, lebih baik dihadapi saja. Bisa dengan peringatan. Bisa dengan awal yang lembut dan tak hewaniah. Sehingga tidak ada yang terluka.

Benar, tak ada yang terluka.

Kecuali harga diri dan perjanjian kami.

Namun, memang tak ada pilihan.

Aku melihat Changi yang merenung.

“Bagaimana?” tanyaku.

Dia tak menjawab.

Mungkin dia masih meyakinkan dirinya.

“Kalau kau mau, aku akan menjelaskan caranya padamu. Setidaknya, jika kita memulainya sekarang, kita bisa masih berpegang pada akal kita dan tidak bertindak aneh,” kataku.

Mataku menangkap Changi menelan ludah. Ia menumpangkan kedua tangannya pada lututnya ketika berdiri. Kupandangi dia melangkah melintasiku.

~Changi’s PoV~

Pelan-pelan aku mendekati pintu kembali. Kurasai sepintas kalau Changmin mencermati gerak-gerikku. Pun aku melancarkan rencanaku, memastikan pintu terkunci. Pintunya terkunci dua kali sekarang. Aku menarik kunci dan menaruhnya di atas rak hitam dekat pintu.

Sambil menatap Changmin, aku pun berkata sedih, “Baiklah. Tunjukkan padaku caranya.”

~Changmin’s PoV~

Dia menyerah, ternyata.

“Aku tahu ini akan melanggar perjanjian kita. Aku sungguh tidak suka ini. Percayalah. Tapi aku tidak bisa meramalkan hal semacam ini bisa terjadi, sehingga aku tidak menciptakan aturan yang mengatur ini di perjanjian kita,” ucapku penuh penyesalan. Betul, aku sangat menyesal. Terlebih pada diriku sendiri.

Changi mengangguk pedih, seolah sebentar lagi nyawanya dicabut.

Aku mulai kehilangan daya pikir. Kami mulai mematung.

“Bagaimana memulainya?” tanya Changi. Suaranya serak seperti pemeran nenek sihir.

“Kurasa kita harus ke tempat tidur,” komandoku.

Changi patuh dan bertampang seperti anak kecil yang baru dimarahi saat berjalan menuju tempat tidur. Aku menyusul. Kasurku lumayan terasa empuk saat ini. Kami sudah duduk bersandingan beberapa saat kemudian di tempat tidur single itu dan saling melirik.

“Setelah itu apa?” tanyanya.

“Entah. Mungkin cium,” aku menjawab kaku.

Changi mengiyakan. Kurasa dia mulai menjadi gadis penurut sekarang. Aku lantas menunggunya untuk menciumku. Tapi karena ia tak menunjukkan gerakan sedikitpun, aku pun mengira kalau dia juga sedang menantiku.

Aku bukan pencetus. Ya ampun. Aku akan seidiot Junsu kalau harus memulai hal yang berkait dengan keromantisan dan kemesraan. Dan kupikir dia juga tak lebih baik.

Maka aku mengusulkan, “Bagaimana kalau kita suit?”

~Changi’s PoV~

Sebenarnya aku ingin meledakkan tawa ketika mendengar sarannya. Dia masih saja berpegang pada cara anak-anak seperti itu padahal sejak tadi perkataan dan perilakunya sangat dewasa. Sejujurnya, itu yang dulu membuatku menggemarinya, si bocah dewasa ini.

Sembari menahan senyum, aku mengulurkan tangan.

Kami bersuit. Aku mengeluarkan kepalan tangan dan dia jari telunjuk beserta jari tengah yang direnggangkan. Gunting melawan batu. Dia kalah.

Kupandang Changmin menghela napas. Agaknya ini bukan ekspektasinya.

Tapi dia tetap kelihatan akan melakukannya.

Aku mendapati Changmin menghadapiku, mendekatkan wajahnya padaku. Sungguh aku ingin kabur, tapi aku sudah menyetujui ini. Aku bukan tipe orang yang melanggar ucapanku sendiri.

~Changmin’s PoV~

Aku semakin mendekat. Kupikir dia bisa merasakan hangat napasku. Matanya pun terpejam.

Tak ada suara.

Bibirku kutempelkan pada bibirnya.

Sekitar… Umm… Satu setengah detik.

“Sudah,” ucapku.

Dia mengernyit. Kenapa?

~Changi’s PoV~

Apakah sudah selesai?

Changmin menegakkan tubuhnya lagi.

“Dengan begini, sudah?” tanyaku senang. “Apa kita bebas?”

~Changmin’s PoV~

Ah, ternyata itu yang ada di pikirannya. Astaga. Dasar anak kecil.

“Tidak,” sahutku, “kita itu belum apa-apa.” Pun aku menghela napas. “Seharusnya kau membalas ciumanku.”

Changi membersut. “Bagaimana caranya membalas ciuman?”

Kalau itu yang bertanya wanita lain, aku pasti sudah mengira wanita itu berpura-pura. Itu jelas-jelas pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar bahkan dari yang belum ada pengalaman sekalipun—sepertiku. Tapi, karena ini Changi, aku memakluminya.

Dia memang tidak tahu apa-apa soal ini.

Merasa frustrasi untuk menjelaskan dengan kata-kata pada orang semacam Changi, aku pun berkata sambil menahan kesabaran, “Cium aku lebih dulu. Nanti kuajarkan cara membalasnya.”

“Apa?”

Baiklah, dia marah dengan nada tinggi lagi, menyulut emosi.

“Cepat lakukan, Changi,” ucapku, dengan nada yang kuusahakan sesabar mungkin.

“Aku tak bisa,” ujarnya.

“Kita sudah terlalu banyak mengulur waktu. Kita bisa saja mendadak kesetanan sebentar lagi. Terlebih, nafsu yang ditahan itu bisa menjadi begitu menakutkan, asal kautahu,” aku membagi ilmu sederhanaku padanya.

“Lalu bagaimana?” Ia melontarkan tanya menyebalkan lagi.

“Ck,” aku malas memutar otak lagi dan menyarankan, “begini saja, aku akan menciummu. Lebih lama. Dan kautiru semua yang kulakukan padamu. Bagaimana?”

Changi menghembuskan napas letih. Ia baru membuka mulutnya, ketika mendadak mataku gelap.

Ah, bukan.

Semua gelap.

Kecuali lampu dinosaurus itu.

~Changi’s PoV~

Astaga. Kenapa?

Mengapa gelap?

Tadi setidaknya ada penerangan dari lampu luar yang benderang. Tapi sekarang semua gelap kecuali lampu berbaterai yang berpendar setara dengan lilin menyedihkan.

“Mengapa tiba-tiba gelap?” Mulut Changmin terbuka samar-samar di mataku, terima kasih pada penerangan kamar yang remang-remang ini.

“Mungkin mati lampu,” ucapku, “apa kita tanya saja keluar?”

“Kau saja,” ucapnya malas. Dan aku teringat akibat yang tadi ia paparkan sekali lagi.

“Lalu sekarang bagaimana?” aku mengejar.

“Kau setuju dengan rencana terakhirku?” Changmin memastikan.

Kurasa aku tak punya opsi apa-apa. Lagipula, yang sejak tadi membuatku ketakutan setengah mati, semua gejala yang Changmin sebutkan, sudah menghampiriku.

Suhu tubuh meningkat tak terkendali. Kepala pening. Pandangan memburam. Oke, mungkin efek lampu yang bisa jadi dimatikan oleh para penjebak kami di luar. Tapi aku merasa mataku benar-benar gelap. Seperti tak ada gunanya lampu dinosaurus yang masih berputar-putar lincah itu.

“Aku setuju,” ucapku akhirnya.

Dan detik itu juga, Changmin menciumku.

~Changmin’s PoV~

Bibirku kembali menemui bibir tipis nan lembutnya. Akan tetapi, sensasinya berbeda dengan yang tadi.

Tak ada kiprah yang berarti. Kami hanya duduk berhadapan, menempelkan bibir kami, kaku—seperti baru saja disihir menjadi patung es.

Tapi kami masih bernapas. Dan napas lembutnya menerpaku.

Kuestimasi sudah selama beberapa detik kami menjadi es seperti ini. Dan kurasa aku harus memunculkan gebrakan baru. Lagipula dia bilang dia akan meniruku. Semoga saja.

Manuver bibirku mulai kulakukan. Kubuka dan kukatupkan seolah ingin mengarahkan bibirnya untuk masuk ke mulutku. Kukatup lalu kulepas. Begitu terus berulang.

Setidaknya ciuman macam itu yang kutemukan di ending film-film aksi barat.

Changi masih tak melakukan apa-apa, ketika menerimanya. Membuatku hampir menyerah. Hingga di detik-detik akhir saat kuingin menarik diri, ia membuka mulutnya. Mencoba meniruku.

Rupanya bisa juga dia jadi gadis penurut.

~Changi’s PoV~

Aku mematuhi prosedurnya. Jadi aku melakukan apa yang ia contohkan padaku. Aku mengecupnya seperti yang ia lakukan. Menyeruput dan menyesap bibirnya seperti berhadapan dengan kopi. Bulu kudukku tertarik ke atas. Dan rasanya menggeleparkan sekujur tubuhku. Ini mirip dengan mencicipi lidah sapi yang pedas dan panas. Menggelikan awalnya, tapi, sungguh sangat ingin kupungkiri, belakangan terasa menggusarkan.

Changmin mengubah kemiringan kepalanya seiring dengan giatnya kecupan yang dilakukan.

Sementara aku menerimanya seperti kerbau dicocok hidung, tanganku tak sengaja menelusuri sekitar kasur sampai menyentuh sesuatu. Aku, di sela-sela ciuman—yang tak bisa kucegah walaupun ingin—dengan Changmin, melirik benda apa yang kusenggol. Dan aku menemukan kipas mainan dari plastik lunak yang menggunakan baterai.

Kurasakan kedua tangan Changmin merayap, menyentuh leherku. Kedua tangannya itu pun menjalar ke kedua pipiku. Pipiku diremasnya sejalan dengan sesapan ciuman yang ia berikan padaku.

Oke. Ini mulai menjadi horor. Aku tak bisa bernapas. Dan Changmin masih menciumku, lamat-lamat dan seperti menikmatinya.

Oh, tidak. Apa ia pikir bibirku daging segar? Dia juga belum makan malam tadi. Tidak, aku tak mau menjadi mangsa yang dikerjai.

Tapi aku harus apa?

Aku berpikir sambil mengepalkan tanganku, yang kemudian tersadar kalau aku masih menggenggam kipas berbaterai itu.

Changmin makin mengintenskan ciumannya dan, sebetulnya tidak mendesak, tapi aku semakin merasa pengap.

Kurasa aku memang harus melakukan sesuatu.

Aku memegang kipas berbaterai itu, seperti ksatria yang baru menemukan pedang, kepercayaan diri menghentikan ini meluap. Saat Changmin semakin mendorong dalam ciumannya, aku menyalakan kipas berbaterai itu dan mengarahkannya pada leher Changmin.

Serta-merta, Changmin tersentak mundur.

“Hya! Apa yang kau lakukan?!” ia berteriak sembari memegangi lehernya. Kipas itu tak melukainya, tentu saja, tapi seperti mengancam harga dirinya.

Aku menghembuskan napas. Dalam hati, aku merasa kacau. Mengurai waktu penyelamatan diriku sendiri dengan cara yang kubenci sangat membuatku kecut hati. “Aku hanya panik,” jelasku, “kehabisan napas.”

Kami diam. Changmin mencermati kipas berbaterai yang kupegang dengan kerutan kening. Selang beberapa detik, ia, dengan masih bermuka kesal, lantas bertanya dengan nada yang ia usahakan untuk kedengaran terukur, “Masih mau dilanjutkan tidak?”

Aku mengangguk ragu-ragu dan Changmin kembali mendekatkan dirinya padaku. Ia menghembuskan napas malas. Hal tersebut membuatku ingin memprotes untuk bilang ‘kalau terpaksa, tidak usah’, tapi tidak jadi karena mendadak aku merasai tangannya diletakkan di kedua pipiku.

“Cepat  jatuhkan senjatamu itu,” ucapnya padaku sembari melirik kipas mainan tersebut.

“Aku takkan menyerangmu lagi,” ujarku tersungut.

“Cepat. Jatuhkan,” ucapnya mengancam.

Pun aku melepaskannya.

~Changmin’s PoV~

Akhirnya dia menggeletakkan fan itu. Aku tak habis pikir mengapa dia bisa berpikir untuk menyerangku dengan itu. Dan aku lebih tak habis pikir mengapa aku bisa berkata mengancam seperti barusan.

Aku jadi teringat Ultraman.

Mungkin aku Ultraman.

Dan dia monsternya.

Monster apa, ya?

Mataku bergulir ke kipasnya.

Monster yang menggunakan kipas? Ah, Fan-Monster. Ah, bukan. Bagaimana kalau… Fanster?

Haha, tepat sekali.

“Apa lagi?” tanyanya, menyadarkanku.

“Ciuman,” jawabku spontan. Dan aku menciumnya lagi.

~Changi’s PoV~

Bibir kami bertemu kembali. Terasa kelembutan menyebar sekali lagi. Bahkan kali ini jauh lebih halus perlakuannya. Changmin kadang menarik ciumannya seperti membiarkan kami bernapas sejenak, kemudian mulai mencium lagi.

Begitu terus, dan aku mulai merasa nyaman. Atau lebih tepatnya, terpaksa menyamankan diri dan berhasil.

Changmin agaknya menyadari pengadaptasianku dan mulai bertindak lebih. Telingaku diusapnya. Aku merinding, menyingkirkan tangannya. Aku tak biasa disentuh, apalagi oleh pria. Dan kuping adalah organ sensitif.

Masih dengan berciuman, Changmin mulai melakukan percobaan menyentuh kupingku sekali lagi. Merinding kembali menghampiriku. Tapi ketika aku ingin menyisihkan tangannya lagi, elusannya melingkari belakang kupingku. Hal ini dengan janggal, bukannya menggelikanku seperti biasanya, malah membuatku ingin terlelap. Seperti sedang dielus-elus oleh orang tuaku untuk mencapai kenyamanan tidur.

Lambat-laun, dengan semua perlakuan itu, aku baru merasa larut. Terus larut. Hingga aku harus dikejutkan dengan aksi tiba-tiba Changmin yang memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Ampun.

~Changmin’s PoV~

Dia gemetaran. Kaget, nampaknya. Aku mengambil langkah untuk melakukan French Kiss terhadapnya.

Aku memberikan jeda, tidak mau mendapatkan serangan kipas baterainya lagi. Menyetop ciuman, tapi masih menempelkan dahiku pada dahinya.

Tapi tak ada yang dapat menolak ciuman Prancis, termasuk aku—yang baru pertama kali mencobanya. Aku lega pertama kali menjajal ciuman jenis ini dengan istriku. Baiklah, dia mungkin bukan istri yang kuidamkan, tapi dia—umm, apa? Apa, ya? Umm, aku tidak tahu. Tapi aku merasa bersyukur saja. Entah karena apa.

Maka, aku menciumnya lagi, menjajal French Kiss kembali.

Changi mulai menggeliat, efek ciuman lidah ini. Demi mempertahankan diri dari serangan penolakannya yang boleh jadi dilakukannya lagi, aku menumpangkan kedua tanganku di kedua bahunya. Kalau dia mundur, akan jadi masalah soalnya.

Lidahku menjelajah ke bibir bagian dalam dan rongga mulutnya. Perlahan. Lamat-lamat. Kuresapi tiap inci bibirnya.

Ternyata rasanya tidak buruk juga.

Kupikir tahap selanjutnya harus dilakukan; penjamahan. Ya. Itu yang mereka informasikan di media internet.

Lama berpikir, hingga kemudian aku mendapat gagasan. Ciuman kami kuluputkan. Tanpa memberikan kesempatan padanya untuk melakukan hal negatif lain, aku lantas mengangkat kepala dan menangkup wajah Changi dengan satu tangan sementara jari-jari tanganku yang lain menelusuri garis bibirnya.

Kurasa dia syok, terlihat dari matanya yang melebar.  Maka dari itu, kukembangkan senyum, membuat ia sejenak terpana. Entah karena senyumku, tapi nampaknya bukan, atau karena masih tak menyangka akan mendapat perlakuan ini. Yang pasti, semoga ia segera ingat perannya agar segera meniruku.

~Changi’s PoV~

Changmin tersenyum.

Itu hal biasa, sebenarnya. Dia juga senyum saat makan makanan enak. Tapi dia sedang tidak berhadapan dengan makanan sekarang.

Itu yang mencengangkanku.

Ia menciumku lagi dalam keadaan seperti itu. Dan, dalam sekejap, membuatku kaget lagi ketika ia mengorek mulutku dengan lidahnya lagi.

Aku ingin berontak, tapi aku kembali ingat kalau ini dilakukan demi kebaikan kami. Dan selama ini semua masih dalam taraf penuh kelembutan, aku merasa aku masih bisa mengatasinya.

Jadi, aku menirukan apa yang dia lakukan padaku, menjulurkan lidahku untuk berjumpa dengan miliknya hingga saling menyapa dan terbelit bersama.

Ini pengalaman pertama yang sungguh aneh. Anehnya adalah karena aku tak menolaknya dan secara berangsur-angsur mulai membalasnya. Bahkan rasa takutku mulai lenyap. Mungkinkah karena efek obat itu?

~Changmin’s PoV~

Perutku bergejolak.

Pengalaman ini memabukkan.

Dan luar biasa.

Padahal kami sama-sama minim pengalaman, kupikir. Apakah ini bakat? Atau karena obat brengsek itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, gadis yang sudah menjadi gadis penurut di hadapanku ini mulai menggairahkanku. Sekujur tubuhku dilanda geloranya.

Karena dia telah menjadi gadis manis, kupikir kami dapat bergerak ke poin selanjutnya. Oleh sebab itu, kumasukkan kedua tanganku ke balik blus Changi. Aku mengelus punggungnya sampai jemariku mendarat pada kait bra gadis itu, mencoba melepasnya. Agak sulit karena Changi terus menggeliat walau ia masih berfokus pada ciuman kami. Hingga ketika akhirnya berhasil, pun aku meneruskan usahaku membuka kancing-kancing depan blus itu.

Satu-persatu kulepaskan dengan penuh kehati-hatian. Seperti itu hingga aku dapat melepas semua kancing blusnya, sejenak kuhentikan ciuman kami demi menemukan bra biru muda bercorak hati pink yang menggemaskan di depannya. Aku lantas mencopot blus dan bra itu, pun membuangnya ke kegelapan.

Dan bersyukur karena di sekitar kami masih ada lampu dinosaurus, aku kini bisa melihat jelas bentuk payudaranya yang bulat, tidak terlalu besar dan proporsional dengan tubuh langsingnya. Aku lantas grogi melihatnya.

~Changi’s PoV~

Seperti tengah dipencet mode Pause ke pengatur program di otaknya, Changmin memaku dirinya sendiri, duduk di hadapanku.

Aku kebingungan dalam keadaan setengah telanjang, sedikit merasa malu. Betapa tidak, aku kini tanpa baju atasan sama sekali. Dan pelakunya kini hanya diam saja, menatapiku.

Mendadak aku teringat peraturan kami di awal-awal, kalau aku harus mengerjainya sama seperti dia mengerjaiku.

Tapi apa?

Aku tak ada ide dan tak dapat mengambil tindakan selain menutupi tubuh bagian atasku dengan lenganku yang kusilangkan, seperti memeluk diriku sendiri.

Changmin menaruh kedua tangannya menyilang di ujung bawah kausnya. Dia akan membuka kausnya. Ketakutanku mendadak timbul kembali sehingga membawaku memundurkan diri perlahan meski tetap dengan wajah siaga.

Kuperhatikan tangan Changmin terbelit di dalam kausnya sendiri. Dia mengaduh. Aku pun menahan diri untuk tak menertawakannya. Beberapa saat, karena kiranya dia kesulitan, maka aku membantu melepaskan kausnya. Secara cepat, kami menyingkap kaus kuningnya lewat kepala sehinga memperlihatkan dadanya yang tegap.

Setelah kausnya tergeletak di lantai, Changmin memandangku terpesona atas tindakanku membantu melepaskan kausnya. Hey, aku kan hanya membantunya. Mengapa dia harus memandangku demikian sekarang?

~Changmin’s PoV~

Oh. Astaga. Dia baru saja merenggut kausku melalui kepalaku. Betapa agresifnya. Kami berdua sih yang melakukannya. Tapi aku bisa merasakan energi tergesa-gesanya ketika menolongku itu.

Jadi, setelah menjadi penurut, dia menonjolkan keagresifannya sekarang? Aku jadi ingin tahu apa dia bisa menampilkan sisi mengejutkannya yang lain.

“Mengapa kau memandangiku begitu?” tanyanya.

Aku tersenyum. “Aku hanya…” ucapanku terputus karena memikirkan lanjutannya, tapi tidak bisa. Karena mataku menangkap bagian atas tubuhnya yang elok.

Ia segera menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya lagi. Semburat merah tertentang di wajahnya.

Sungguh…

Cute.

Sial, aku baru saja memikirkan dia apa? Otakku rusak nampaknya.

Changi menengok ke arah lain, mencoba mencari sesuatu. Tidak suka dialihkan dan daripada nanti dia bisa menemukan blusnya yang teronggok di lantai, aku menyusun rencana lain. Aku tak mau kehilangan pemandangan langka di hadapanku ini.

Maka, aku pun menggapai wajahnya. Kuusap dengan lembut pipinya. Sekali. Dua kali. Sampai matanya terpejam. Telapak tanganku berkisar di kepala mungilnya dan merasai rambut keritingnya yang halus. Rambut hitam tipis itu merebak wangi dan menggayut lemas. Gemas, kuremas rambutnya.

“Ngh…” ia mendesah seperti gadis kecil yang dikelitiki.

~Changi’s PoV~

Aku mengerang. Itu erangan biasa yang kulakukan kalau merasa malas meredakan aksi orang yang memainkan rambutku. Erangan yang kata sebagian orang terdengar manja padahal itu natural berasal dari rasa malas.

Dan sepertinya Changmin, dari matanya yang berkilat, menganggap aku juga sedang bermanja padanya berkat erangan itu.

Sial.

~Changmin’s PoV~

Ya ampun, cute sekali.

Pun karena itu, aku tak tahan untuk menciumnya kembali.

~Changi’s PoV~

Changmin meraihku lagi dan melepaskan ciuman panas, dengan mulut terbuka dan lidah berperang.

Aku agak kewalahan dan kembali tersengal-sengal. Padahal sebenarnya tak setergesa-gesa itu. Hanya saja, ia lagi-lagi tidak memberikan kesempatan mencari udara. Aku terengah-engah mengikutinya hingga Changmin kemudian menjauhkan tubuhnya, menarik napas, sambil menatapiku.

Tangannya lalu mencapai pundakku. Aku merasa kalau kedua tangan kurus namun kekarnya merabai tubuhku. Ia meloloskan sentuhan, melewati bahu, lengan sehingga lama-kelamaan mendarat di dada bagian samping dan perutku. Hatiku berkeinginan agar bisa menahannya untuk tidak melakukan itu. Pelucutan pakaian saja rasanya seperti menghinaku. Apalagi perabaan ini. Dan sebenarnya aku bisa menghentikannya. Karena Changmin melakukannya dengan penuh hormat, bukan dengan paksaan. Seperti pelayan yang mengagumi. Tapi pikiranku menyarankan agar aku patuh, demi menghindari efek obat itu membebalkan otakku. Oleh sebab itu, aku diam saat rasanya sensasi raba-rabaan itu mulai melemahkanku.

Pelan-pelan aku tertunduk. Kedua lenganku masih menyilang, menutupi dadaku. Aku kurang memperhatikan kegesitan mulus kedua tangan Changmin sejak tadi dan mulai terinsaf saat Changmin tengah mencoba membuka risleting celana panjangku.

Setelah ritsleting dan kancingnya terbuka, celana itu diperosotkan dan dibebaskan dari kakiku. Kini aku hanya memakai celana dalam. Aku semakin tertunduk. Ini semakin terasa memalukan. Rasanya begitu nista.

Changmin sedang bergerilya secara lamban dalam melepaskan celana dalamku, ketika air mataku menetes dan mendarat di pergelangan tangannya.

Ia berhenti.

~Changmin’s PoV~

Demi Mie Ramen, Changi menangis.

Selama aku mengenalnya, dia tidak pernah menangis. Dia menghadapi banyak derita hebat, sebagian besar deritanya berasal dari orang-orang yang mengaku penggemarku dan penuh kecurigaan, tapi dia tak pernah menangis. Ia selalu kelihatan kuat dan tak terkalahkan.

Tapi, sekarang dia menangis.

Astaga. Apa yang aku lakukan?

“Kau menangis?” tanyaku dengan nada prihatin.

Changi tidak menjawab. Ia menegakkan duduknya, tapi masih menunduk.

Aku memutuskan untuk menunggunya bersuara.

Ketika itulah, mendadak aku lapar.

Perutku keroncongan dan menimbulkan bunyi keras setelah itu.

Ya ampun.

Memalukan.

Tapi aku memang lapar.

Aku melihat lantas memijit perutku. Dan aku mendengar gelak tawa tertahan. Dongakkan kulakukan. Dan aku mendapati Changi sedang menahan tawa.

~Changi’s PoV~

Hahahaha.

Dia konyol sekali.

Dan betul-betul seperti anak kecil jika sedang kelaparan.

Rasanya sangat kasihan, kelaparan saat memaksakan diri melakukan sesuatu. Maka aku bertindak sesuai naluriku; mengasihaninya.

“Kasihan kau,” ucapku lunak.

Reaksi Changmin tak terduga atas aksiku. Dia malah melotot.

~Changmin’s PoV~

Demi Bistik Sapi, sekarang dia bertingkah seperti ibuku. Berucap seperti itu adalah tindakan ibuku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

~Changi’s PoV~

Kini ia terpelongo. Kenapa dia?

“Hya, Changmin-ah, kau kenapa?” tanyaku.

Dia nampak terkejut.

~Changmin’s PoV~

Hardikannya menyadarkanku. Dia bukan ibuku. Dia kembali menjadi dirinya.

Menyadarkanku pula atas pemandangan tubuh moleknya yang berbentuk dan ideal seperti model itu.

Aku ingin sekali memungkirinya, tapi, astaga, dia seksi sekali. Gawat, apa yang baru kukatakan? Mungkinkah obat itu mulai bekerja? Tapi dia memang seksi.

“Apa yang kaulihat?” tanyanya yang seperti baru tersadar dan makin erat menutupi tubuhnya.

Dia nampak seksi, rapuh, namun garang saat ini. Kulihat dia menggosok-gosok lengannya. Mungkin kedinginan. Berkat itu, aku ingin mengembalikan kami ke misi. Agar ini cepat selesai.

“Kembali ke misi,” ucapku sambil berusaha sebisa mungkin menjauhkan mataku dari tubuhnya, “lakukan apa yang kulakukan padamu.”

“Apa?” tanyanya.

“Lucuti celanaku,” ucapku seram. Seperti pemain film gangster. Dan aku menyumpahi diriku sendiri karena telah berucap seperti itu.

“Haruskah?” tanyanya.

Aku mengangguk kaku seperti robot Terminator.

Lama sekali, kami terdiam hingga sungguh baiknya, Changi mendekatkan kedua tangannya ke dekat celana jeans-ku. Pelan-pelan meraba, mencari ritsleting.

Perbuatannya itu sangat menggelitik dan hampir membunuhku.

Di saat ia menemukan ritsleting dan menurunkannya. Jempolnya mengelus pinggiran celana dan jelas mengenai dengan lembut lingkar pinggangku. Jantungku memukul-mukul sadis. Napasku mulai berat.

“Kulepaskan?” ia memastikan.

Anggukan robot kulakukan lagi.

Pun tanpa basa-basi, ia memerdekakan kedua kaki jenjangku, memelorotkan celana panjangku.

Dia bahkan melepaskan celana pendekku.

Aku mau mati terkena serangan jantung. Terlebih saat mendapati buah dadanya yang bergoyang ketika membantuku melepaskan celana itu dari kakiku. Itu membuatku gila.

Kini aku hanya memakai celana dalam dan sekejap saja berniat untuk membalasnya; membuka celana dalamnya. Kuraih celana dalamnya. Kurenggangkan ke samping kanan dan samping kiri. Dan dalam satu sentakan aku menarik kain kecil itu keluar dari kakinya.

Aku menemukan dirinya yang menutupi daerah kewanitaannya itu segera.

~Changi’s PoV~

Changmin bertindak tanpa pemberitahuan, membuatku kaget luar biasa; melepaskan celana dalamku dengan gerakan ahli. Aku merasa seperti anak bayi yang akan diganti popoknya.

Di tengah kekagetanku, Changmin bermanuver lagi dengan liar. Aku lantas melihatnya melucuti celana dalamnya dengan ketergesaan.

Aku nanap.

~Changmin’s PoV~

Ketika aku akhirnya menarik celana dalamku, ternyata aku sudah dalam keadaan tegang sempurna.

Kutemukan Changi melotot. Kemudian seketika menutup mata dan memekik seolah itu ialah binatang buas.

Aku merasa terhina. Ini sudah keterlaluan. Cukup sudah.

Ingin sekali aku bungkas dari tempat tidur, memakai bajuku lagi, dan meninggalkannya. Namun, sebelum itu terwujud, kudengar suaranya yang menanya pelan, “I-itu apa, Changmin?”

Aku memandangnya heran, bertolak pinggang. Tapi dia menanyakan hal yang sama kembali, “Changmin, itu apa?”

Aku ingin meledak. “Changi, kau hanya berbeda dua tahun dariku. Kau sudah berkuliah dan lulus SMA. Apa kau melewatkan pelajaran Biologi? Mengapa kau bisa tidak tahu sampai seperti ini?”

“Aku benar-benar tidak tahu,” sahutnya sambil menggeleng-geleng banyak.

Ck. Apa-apaan dia? Pura-puranya sudah cukup. Aku tahu dia polos. Tidak tahu soal seks. Tapi untuk tidak tahu ini, astaga, apa dia alien?  Aku harus membongkar kepura-puraannya.

“Cukup pura-puranya,” ucapku dingin.

“Pura-pura apa?” tanyanya.

“Pura-pura tidak tahu. Kaupikir aku bodoh bisa kautipu? Cepat tunjukkan yang sesungguhnya. Tak usah pura-pura!”

“Aku tidak pura-pura…”

“Jangan bohong.”

“Aku tidak…”

“Jangan membohongi aku,” tekanku.

Changi melepaskan tutupan matanya dan menatap langsung ke kedua mataku. “Terserah kau percaya atau tidak. Tapi aku tidak pura-pura,” ucapnya sengit.

Dan aku melihat keteguhan di matanya.

Dia jujur.

Astaga.

Aku hapal saat dia berkata sepenuh hati.

Dia pernah berkata dengan mata seperti itu saat kami berebut potongan terakhir Lobster Thermidor.

Aku terhenyak.

~Changi’s PoV~

Apa sih maunya?

Menjengkelkan sekali.

Aku sudah tidak peduli dengan misi tolol ini. Dan biarkan saja kalau nanti aku masuk ke dalam kontrol obat ini dan menerjangnya. Aku sudah tidak peduli. Meski dia kini terbengong di hadapanku. Masa bodoh.

“Aku akan mengajarimu,” ujar Changmin tiba-tiba. Suaranya tercekat.

“Tidak,” tolakku, “aku—”

“Kau mau ini selesai, bukan?” tanyanya.

“Terserah,” responsku.

“Kita sudah sampai sini. Dan tidak ada perlawanan yang berarti dari dalam dirimu, bukan? Itu karena kau menginginkannya,” aku melotot padanya, “obat itu telah membuatmu menginginkannya.”

Aku menggigit lidahku. Tubuhku bergetar.

“Aku juga merasakan yang hal sama. Kita sudah dalam pengaruh obat itu. Kita sudah memasuki fase awal,” sambung Changmin.

Lurus kutatap matanya.

“Ayo lanjutkan,” ucapnya sambil merengkuh tanganku. Penglihatanku beralih pada ke arah mana ia akan mengarahkan tanganku.

Rupanya ke benda itu! Mati saja.

“Kurasa kau harus memegangnya,” ujar Changmim.

“APA?” Aku bertanya dengan sungutan emosi tertinggi yang kubuat hari ini. Kutarik tanganku. Sial, tapi dia menarik tanganku terus, meski tidak begitu erat.

~Changmin’s PoV~

Aku berpura-pura tak peduli pada sungutan itu dan meneruskan mengarahkan tangannya, walaupun akhirnya terpikirkan juga. Aku kemudian buru-buru membimbing tangan Changi ke pangkalnya agar pikirannya tadi segera hilang.

Dan Changi menyentuhnya.

Kupandangi air mukanya.

Dia kelihatan takut.

Apa dia tidak apa-apa?

Eh, kenapa aku jadi khawatir?

~Changi’s PoV~

Aku kini tengah memegang benda itu dan ini rasanya betul-betul gila. Benda itu agaknya hidup sendiri dan bukan bagian tubuh orang.

Aku berusaha untuk menjauhkan pandangan, tapi keinginan kerasku untuk menyelesaikan misi ini membantahku. Lagipula kurasa rasa penasaranku soal ke arah mana perbuatan kami ini berujung mulai memimpinku sekarang.

Changmin membuka mulutnya sedikit. Matanya membuka dan menutup, kadang memicing. Kenapa dia?

~Changmin’s PoV~

Changi memegang milikku.

Oh.

Akhirnya aku bisa mempraktikkan sendiri teori-teori yang kubaca dan kuanggap omong kosong itu. Mungkin ketidakpedulianku terhadap hal itu, sejak dulu hingga beberapa jam yang lalu, dikarenakan aku tak pernah merasakannya.

Kini aku merasakannya sendiri.

Kurasa penilaianku berubah.

~Changi’s PoV~

Dia kenapa sih?

Setiap satu jariku mendarat di benda itu, dia bereaksi berlebihan. Dan dia kelihatan tak berdaya.

Suatu hal seru menemukan seorang Shim Changmin tampak tak berdaya. Aku jadi ingin mengeksperimenkannya.

Keinginan untuk bereksperimen meneruskan aktivitasku menyentuhi benda itu. Menyentuhnya dengan satu jari lalu menjauhkan tanganku. Begitu terus. Berulang.

Dan Changmin kini mulai melenguh. Seperti disiksa. Tapi kelihatan menyukainya.

Agaknya otaknya mulai miring.

Menyedihkan.

Sekaligus menyenangkan untuk dilihat. Maka kuperparah eksperimenku.

~Changmin’s PoV~

Di tengah sibuknya Changi mengerjai kejantananku dengan tangannya, terlintas pikiran apakah jika bukan dengan Changi aku akan segemilang ini merasakannya?

~Changi’s PoV~

Changmin kelihatan mulai tak tahan dengan perlakuanku. Terlihat dari ekspresinya yang sepenuh hati mencurahkan perhatiannya pada wajahku. Tangannya terkulai di samping tubuhnya dan posisinya yang masih duduk di hadapanku mulai oleng.

Kupikir aku harus bertanya. “Setelah ini bagaimana?”

~Changmin’s PoV~

Aku tahu. Kurasa aku takkan segemilang ini jika melakukannya dengan orang lain. Karena tak ada wanita cerdas, kuat sekaligus lugu seperti Changi. Itu impresi menakjubkan darinya yang membuatku bergairah.

“Setelah ini bagaimana?” ulangnya, sambil melepas milikku.

Nah. Dan soal pertanyaan itu, aku pun tersenyum gemilang kembali.

Dia sungguh tepat bertanya itu pada si Tuan Jago Teori—aku. Dan aku akan mengeluarkan semua teoriku pada praktik pertamaku ini.

Omong-omong, pertamaku ini tidak terlalu buruk.

Sama sekali tidak.

“Rebahkan tubuhmu,” ucapku serak.

“Apa?” tanyanya.

Aku mendekatkan tubuhku padanya. Dia bahkan masih saja secara refleks mundur. Padahal aku hanya ingin membisikinya. Lantas aku terus mendekat, menempelkan mulutku di daun telinganya untuk bilang, “Berbaringlah.”

Dia bukannya terpukau dengan bisikan mesra itu, tapi malah memelototiku. “Tidak perlu melakukan hal itu. Menggelikan,” ujarnya.

“Ck,” aku mendecak, “kau mau membuat ini selama apa?” Kesabaranku mulai pecah bendungnya.

Changi, gadis galak-berubah-penurut, itu membaringkan tubuhnya. Kini aku telah sampai pada bagian dimana aku harus kembali secara lembut menggerayangi tubuh Changi dengan jari-jemariku, tapi kali ini sasarannya berbeda; bagian tubuh yang lebih sensitif.

“Pejamkan matamu,” pintaku.

“Haruskah?” tanyanya. Getir kedengaran suaranya.

“Ya,” sahutku.

Bermula dengan pemikiran satu-dua detik, helaan napas, dan lirikan kosong ke sekitarnya, Changi akhirnya memutuskan memejamkan mata. Mimik mukanya kini sudah sungguh-sungguh menonjolkan ketakutan setengah mati. Mungkin karena sekarang ia merasa sudah tak memakai sehelai benang pun dan berbaring. Aku tahu, aku hapal wajah takutnya. Aku sendiri sebenarnya juga merasa takut, takut sesuatu yang mengerikan terjadi padanya. Tapi aku tak mau menampakkannya.

“Tidak perlu takut,” ucapku sengau. Yang kemudian kumaki sendiri dalam hati karena suaraku dan ucapanku malah terdengar menakutkan, bukannya menenangkan.

Aku lantas mengerahkan tanganku terhadapnya, menghampiri kedua pahanya yang menggiurkan—meski tidak seperti paha ayam goreng, dan memulai aksiku.

Ia ingin terduduk kembali namun kutahan ketika aku memulai tindakan baru itu. Tindakan dimana aku mengusap-usap lalu mulai membenamkan dua jari ke dalam liang Changi sedangkan ibu jariku lamat-lamat merangsang, memutar-mutar dan membelai-belai lembut puncaknya. Membuatnya mengerang manja lagi.

Bahkan kali ini erangannya lebih keras.

Kulihat ia menutup mulutnya sendiri ketika ia sadar baru saja mengeluarkan suara sekeras itu.

Teoriku berperan besar, posisiku yang duduk di sampingnya yang terlentang juga mendukung. Aku jadi bisa memantau perubahan ekspresi dan bahasa tubuhnya.

Aku terus merangsangnya, berulang-ulang, pelan dan tepat sasaran. Dan ketika aku memulai aksiku menekan bibir kewanitaannya bergantian dengan jari telunjuk dan jari tengahku, aku melihat Changi menangkupkan kedua kelopak matanya lagi. Air matanya menggenang. Aksi penekanan itu makin kucepatkan temponya hingga Changi mengangkat bagian tubuh bawahnya. Itu, kuyakini, adalah saat gelombang kecil kenikmatan yang tak dibuat-buat mengoyak tubuhnya.

~Changi’s PoV~

Tubuhku rasanya luluh lantak.

Apa yang dilakukan Changmin sangat menggila.

Ketika rasanya tak mungkin bisa lebih gila lagi, kurasakan kulit paha sebelah dalamku yang peka tersentuh sesuatu yang basah. Kudongakkan kepala. Rupanya tersentuh mulutnya!

Changmin mendaratkan kecupan-kecupan kecil bertubi-tubi di antara pahaku, kecuali puncaknya. Betul-betul mengacakku sampai rasanya aku bisa mati karena ingin melonjak-lonjak di pembaringanku.

Mataku menyalang kemana-mana. Tanganku menepuk-nepuk dan tak sengaja menabrak kipas mainan yang kuletakkan di dekat bantal. Aku menggenggam kipas itu lagi. Barangkali kipas itu bisa menolongku.

Aku merasakan ia lantas mulai mempekerjakan hal-hal lain sekarang, masuk-ke-luar. Tidak tahu itu apa, tapi kutebak itu lidah, juga jemari.

Astaga. Ini mengerikan.

Kuremas kipas mainan itu sementara ia terus saja melakukan hal itu hingga entah sampai kapan. Aku tak tahan dan ingin menghentikannya, mengabaikan misi ini, hingga tak disangka, tiba-tiba aku tertelan kembali oleh gelombang kehangatan diiikuti riak perasaan aneh yang baru saja kualami. Tubuhku bergetar.

Apa-apaan ini?

~Changmin’s PoV~

Nah, dia mencapai klimaks keduanya.

Kurasa ini saat tepatnya.

Saat yakin Changi sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini, aku lalu menaikkan badanku ke posisi di atasnya sehingga kini aku menelungkupinya. Pun aku menuntun diriku sendiri untuk memasuki Changi.

Changi masih menutup mata, mungkin hampir tak sadarkan diri.

Aku kemudian meluruskan lengan kurusku dan melengos sambil perlahan-lahan mendorong diriku ke dalam.

Changi membuka matanya dan berwajah syok. Kutemukan kipas mainan itu telah di tangannya kembali. Oh, aku harus bersiaga dan jangan sampai lengah. Aku takkan membiarkan si Fanster ini menyerangku lagi. Maka kutahan kedua tangannya. Kuusahakan sebisa mungkin untuk lembut dalam merintanginya.

“Ap-apa yang kaulakukan?” tanyanya panik.

Aku membuang muka. Tak mau menjawabnya sekarang. Sementara aku mulai menggerak-gerakkan punyaku agar dapat memasukinya, Changi mencoba melepaskan tangan-tangannya dari tekananku yang mendadak lumayan kokoh.

Terus demikian.

Hingga aku bisa memasukinya. Sepenuhnya.

~Changi’s PoV~

Astaga. Ini apa?

Sakit sekali. Punyaku terasa sakit.

Apa sih yang Changmin lakukan? Apa dia mau membunuhku?

Tapi aku tak sanggup mengucapkan apa-apa. Ini terlalu sakit sampai aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Aku hanya bisa mengcengkeram kipas mainan itu. Yah, sumpah, aku tak mau terdengar payah seperti ini. Tapi ini yang terjadi padaku. Aku hanya bisa melakukan itu. Benar-benar naas.

Tubuhku terlalu pegal-pegal dan tak bisa digerakkan berkat apa-apa yang dia lakukan sebelumnya.

Bagian bawahku terasa penuh. Dan Changmin mulai berbuat aneh. Dia mengeluarkan sedikit lalu memasukkannya lagi. Tidak kasar sebenarnya. Masih penuh kelembutan. Tapi diulang-ulang. Dan menyakitkan, tentu saja.

Oh, matilah.

~Changmin’s PoV~

Sementara aku bergerak naik-turun, Changi makin mengunci mulutnya dan seperti menahan dirinya yang seakan ingin terbatuk-batuk.

Akhirnya aku bisa melakukan penetrasi. Setelah selama ini hanya bisa membaca, melihat, dan menelitinya dari berbagai sumber. Dan rasanya… tak bisa didefinisikan secara ilmiah.

Denyutan yang kuterima dari Changi di kejantananku mendorong keinginanku untuk semakin mendesak. Sejak tadi kutahan diriku untuk tidak mendesak. Aku ingin bertindak lembut, karena bagaimanapun aku harus menjaga reputasiku dan aku takut terjadi apa-apa padanya jika aku kasar. Tapi kini aku kalah. Aku mengikuti dorongan untuk bertindak mendesak. Kunaik-turunkan diriku dengan cepat, masuk-keluar tubuhnya.

~Changi’s PoV~

Changmin mulai menghentak-hentak. ‘Kau ini kenapa?!’ Ingin sekali aku meneriakinya.

Tapi sesuatu yang ia gerakkan di bawah sana, membuatku jauh lebih ingin menjerit-jerit.

Akan tetapi, aku tidak mau menjerit.

Aku tidak mau kelihatan lemah dan tertaklukan. Maka aku mengunci mulutku sesanggup mungkin, lantas berusaha menikmatinya.

~Changmin’s PoV~

Dia menikmatinya. Aku yakin.

~Changi’s PoV~

Kurasa dia begitu menyukai ini.

Dan, ah, gelora peluluh-lantak tubuhku itu mulai datang lagi. Aku meremas kipas mainan yang masih terbungkus telapak tangan kiriku. Rasanya berkecamuk sekali. Sial, ini gara-gara Shim Changmin.

~Changmin’s PoV~

Nah, akan segera datang.

Mataku kupejamkan dan kepalaku kutundukkan ke leher Changi demi menyambut kedatangan itu.

Dan gerakan cepatku sangat membantu.

Tak lama kemudian, seluruh otot di tubuhku berkonstraksi. Pembuluh darahku menegang. Dan pori-pori di bagian tertentu tubuhku basah karena mengeluarkan peluh.

Klimaks itu datang juga.

Dan semuanya keluar begitu saja.

Aku jatuh ke tubuhnya, terengah-engah.

Selang beberapa waktu, setelah napasku sudah mulai beraturan, kutengok Changi lalu iseng untuk berbisik perlahan, “Kau kalah, Fanster.” Sengaja aku mengucapkan kata-kata yang bukannya membuai, tapi membuatnya kesal demi mengingatkannya; kalau ini aku.

Pun aku merebut kipas mainan itu dari genggamannya lalu membuangnya ke bawah tempat tidur, menegaskan kekalahannya.

“Apa?” Changi membuka mulutnya. Lama juga dia mencerna omonganku kali ini.

~Changi’s PoV~

Apa? Dia sebut aku apa?

Baru saja aku dilanda kegilaan ganjil bertubi-tubi, dan kini aku harus mendapati fakta mengerikan yang telah ia ketahui?

Fan… Ster?

Astaga. Apa dia tahu kalau dulu aku fan-nya? Apa tadi tak sengaja aku mengucapkan atau bertindak seperti itu ketika dia mengacak-acak diriku? Seingatku tadi, aku menutup mulutku sekuat tenaga.

“Kau sudah kalah,” ucapnya lagi. “Kau kalah, fan-monster. Kau kalah.”

“Apa maksudmu?” kejarku.

“Kau fan-monster, monster kipas,” sahutnya sambil memeluk tubuhku, lalu terkulai kelelahan.

~Changmin’s PoV~

Kulirik Changi baru ingin membuka mulut, barangkali menanyakan apa maksud perkataanku namun rasa kantuk lebih dulu menyerangnya. Terlihat dari jemarinya yang menutupi mata. Dan barangkali, menurutnya, rasa kantuk itu jauh lebih berat dari tubuhku yang kini menimpanya, sehingga dalam sekejap, ia sudah terlelap, yang segera kususul.

***

Samar-samar aku mencium bau masakan yang menyengat, mengganggu indera penciumanku. Mataku berat sekali dan aku memaksa untuk membukanya. Kepalaku masih berdenyut-denyut. Aku berusaha mengangkat tubuhku yang terasa sama sekali tidak ringan. Angin pagi menelusup ke pori-pori tubuhku dan membuatku merinding. Hal itu membuatku mengusap lenganku yang tanpa penutup. Sedikit kaget menyadari lenganku tak berpenutup, pun aku membuka mata.

Lantas aku menemukan wajah damai Changi di bawahku.

Kaget sampai tulang-belulangku berderik, aku pun melompat seakan-akan aku baru saja menelungkupi sesosok penemuan langka yang tak boleh tersentuh.

Mendadak aku merasa kalah. Bagaimana tidak, aku pencetusnya. Aku yang lebih dulu menciptakan rencana yang mengacaukan perjanjian kami. Aku kalah.

Bunyi derit ranjang menyentakku. Changi bergerak. Aku pun kalang kabut, mengais celana dan kausku yang tergeletak di lantai untuk memakainya kembali. Buru-buru.

Setelah berpakaian benar, aku sadar rupanya tindakan buru-buruku mengenakan busanaku agak berlebihan. Changi hanya bergerak untuk tidur menyamping, membelakangiku.

Tapi itu bukan pemandangan yang pantas. Changi tidak memakai apa-apa. Secara serampangan, aku mencari kain penutup apapun untuk menutupinya lalu menemukan selimut ranjang yang masih terlipat rapi di bawah. Langsung saja, aku menyelimutinya.

Sesudah itu, aku tetap terpaku di tempat, menatapinya. Entah mengapa, ada pemikiran kalau aku telah menyaksikan suatu metamorfosa. Changi sudah berbeda sekali dari biasanya. Dia sudah mendekati tipeku. Ah, bukan mendekati, tapi sudah menjadi. Dia kelihatan penurut, agresif, keibuan, cute dan seksi.

Bunyi denting peralatan makan yang nyaring mengejutkanku.

Takut Changi terbangun, aku segera lari ke luar kamar lantas menguncinya.

Aku memandang tajam koridor yang akan membawaku ke ruang makan, tempat dimana aku akan membuat perhitungan dengan hyung-hyung-ku.

~Changi’s PoV~

Terbangun karena suara ribut-ribut adalah hal yang menyebalkan. Tapi keributan itu memang mengusik, tak bisa kudiamkan.

Aku bahkan mendengar suara pecahan kaca dan bentakan.

Astaga. Ada apa?

Aku terduduk dan merasai selimut putih merosot dari tubuhku. Aku terkejut bukan main, mendapati diriku sendiri. Mendadak mataku perih, dadaku sakit, jauh lebih sakit-sakit dari nyeri baru di pahaku, tapi aku tak bisa meneteskan air mata. Ingatanku berputar-putar atas kejadian semalam lantas menggertakkan gigi. Aku benar-benar merasa dipecundangi.

Dan menyedihkan.

Bibirku kulengkungkan ke bawah.

Sentakan keras dan bunyi pecahan kaca terdengar lagi. Aku kaget. Dan segera bangkit. Dengan ekspres, aku memakai bajuku. Setelah yakin semuanya berada di tempat yang tepat, aku berlari ke luar dimana bunyi kehiruk-pikukkan itu masih terdengar.

Aku mencari sumber suara berisik itu dan itu berasal dari ruang TV. Kakiku membawaku ke sana. Dan yang kutemukan bukan percekcokan seperti yang kukira.

Yang kutemui hanya Changmin sedang duduk seenaknya di sofa sambil menonton TV. Ternyata kebisingan itu datang dari tontonannya. Aneh sekali. Dan mengapa ia sendirian di sana pun juga aneh.

Oh. Tapi aku tak mau bertanya padanya, menampakkan wajahku di depannya sekarang saja aku malu. Apa lagi bertanya? Lantas aku berpura-pura bercelingak-celinguk ke luar.

“Kita gagal, ya,” terdengar suara Jaejung entah darimana. Aku mencari-cari dan menemukan Jaejung beserta tujuh orang lain berkerumun di balik sofa.

Aku melirik Changmin dan dia sedang memutar bola mata.

“Ya, kita gagal,” sahut Junsu.

“Maafkan aku, yang telah memecahkan gelas dan membuang air putih berobat itu,” timpal Sunghyo.

“Tidak apa-apa, Dear,” ucap Yoochun.

“Yang lebih bodoh, karena takut diomeli Jaejung, aku pun mengganti segelas air putih sebagai penggantinya. Dan air itu diambil oleh Junsu. Air putih tanpa obat apa-apa.”

“Pantas saja aku menemukan pecahan beling waktu aku mengambil gelas itu,” Junsu menambahkan.

“Pantas juga semalam tak ada suara apa-apa dari kamar Changmin dan Changi,” Yunho ikut bicara.

“Maaf, ya,” Sunghyo berujar lagi.

“Tidak apa-apa, Sunghyo,” Ririn menyentuh punggung tangan Sunghyo.

Yunho yang masih bermuka tak terima kemudian bangkit. Ia lantas melihatku dan Changmin. “Apa kalian tidak merasa panas tadi malam?” tanyanya.

Changmin cuek. Sementara aku mengernyit kening heran.

“Minmi merasa panas, kok. Listriknya kan mati,” sahut Minmi.

Yunho pelan-pelan terhuyung ke lantai lagi. “Kita memang tak berhasil. Mereka berdua tak melakukan apa-apa.”

“Mungkin lain kali bisa,” hibur Minrin.

Aku mulai dilanda syok luar biasa sekarang setelah mencerna baik-baik apa yang mereka kenang sejak tadi.

Tak ada yang meminum obat itu.

Matilah. Lantas apa yang kulakukan semalam dengan si tiang listrik itu?

Ah, bukan, tepatnya, apa yang membuat kami kesetanan seperti semalam?

Apa?

Sesuatu menyentak pergelangan tanganku, membuatku kaget. Melihat apa yang terjadi, rupanya Changmin baru saja menyerang tanganku dengan kipas mainan semalam.

“Eh, Fanster, kau ada di TV, tuh,” ujarnya santai.

Aku menengok sebal ke TV dan menemukan monster berkepala kipas angin yang tengah ditusuk pedang oleh Ultraman.

“Beristirahatlah dengan tenang, Fanster,” ucap si Ultraman di TV dan Changmin menirunya keras-keras.

Lantas aku segera mengeretakkan kesepuluh jemariku, bersiap untuk memukuli si jangkung ini. Meski sebenarnya aku lega kalau ia tak memberitahu siapa-siapa soal tadi malam, tetap menjaga martabatku, tapi aku tetap kesal.

Aku ingin menghajarnya.

Changmin nyengir dan menambahkan, “Kau Fanster. Kau dan kipas angin mainanmu. Kau mirip Fanster. Fanster yang menurut pada aturan Ultraman.” Dia menunjuk dirinya sendiri.

Seketika aku merasa dibodohi. ‘Menurut pada aturannya?’ Apa dia mengungkit yang semalam?

Aku betul-betul ingin memukulinya sekarang.

“Fanster,” Changmin meledek lagi dengan juluran lidahnya.

Sebentar lagi, mati dia.

THE END

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 01/10/2013, in DBSK, OS and tagged . Bookmark the permalink. 96 Comments.

  1. hihihi lucu nya…
    jd ngakak q baca nya

  2. Ff nya keren, lucu, yadongnya juga gak monoton.. aku suka, aku suka.. ^^

  3. Hahaha…kocak juga. Mrk bnr2 ngelakuin krn obat perangsang hanya changmin diem2 aja, pasti bls dendam sama hyungduel…aku suka ceritanya saeng

  4. Hahaha…
    Serius ngakak bacanya, mereka couple yg aneh tp menyenangkan…
    Astaga polos bgt si Changi, tp si Changmin pinter bgt, haaha…
    Lanjut sequel ya author, pleaseeeee…

    • Kyaaa… >_<
      gomawo, chingu, udah baca dan komen.
      Hehe, mereka emang couple unik.
      Wah, sequel ya? Oke, usulan diterima 😀

  5. Aaaaahhh…cute..!!
    seru ceritanya…ga ngebosenin..
    ♥♥

  6. kece deh ffnya ada lanjutanta gak… seru tuh kalau ada lanjutanya

  7. aaaa. daebakkk thor!!!
    ffnya keren banget apalagi pas ncnya hot bangeettt !!! XD

  8. Reblogged this on dayahgdwi and commented:
    keren nih ff

  9. Huahahahaha geblek mampus.
    Benerny aq udh nyadar sii itu gak ad perangsang.

  10. dari semua couple buatan kalian paling suka sama couple ini \(^^)/

    koko yg ini blom di post di blog pribadi kalian ?

  11. FF nya mbulet…hehehehe

  12. Hahahh dasar rajanya makanan… Apa2 nyangkut ke makanan… Hahah gokil nih couple,… (y)

  13. sumpaahhh ini malah bikin ngakak bacanya..hahaha mereka lakuinnya bener” tanpa menikmati O.o
    ChangChan couple..aneh tapi cute XP
    sama monster makanan, sempet”nya mikirin makanan.. paha ayam?? aigooo 😮

    • Waah…
      gomawo udah baca dan komen, chingu~ >_<
      Syukurlah, kalo couple ini bisa diterima 😀
      Hahaha.
      Changmin kan ga bisa dipisahin sama makanan 😀

  14. Lucu bacanya ,, ternyata mreka b2 gaa mnum obat itu ,, trus mreka ‘ngelakuinnya’ atas dsar apa ?? Tapi kocak dua2nya msh polos soal sex ,

    • Gomapta udah komen, chingu 😀
      Hehe, sebenarnya mereka sama-sama suka, cuma ga mau ngaku aja, bahkan ke diri sendiri.

  15. sekuel

  16. cute and romantic
    chukahae thor^^

  17. Intan Andini a.k.a Tan Andini

    wkwkwkwk jadi mereka gak minum ‘racun’ itu? wkwkwk sumpah aku ngakak sama aifat Changi yang polosnya minta dicium(?)..
    sequel yah?

  18. Mariela jasmine

    polos amat ituh si Changi aduhhh…sama sama aneh itu changi ama changmin si changmin malahan acara minta suit dulu….untung cakep dasar tiang listrik…

    Daebbak thor,keep writing..bkin yang lucu lagi y thor…hehehe

    • Kyaaa… Thanks udah baca dan komentar, chingu >_<
      Apalagi komentarnya ga dikit. Senang deh. Hehehe.
      ne, si Changmin memang agak ajaib jadi kita pikir ada baiknya dia dipasangin sama yang cukup ajaib jua 😀
      Sipp…
      Tunggu ff kami lainnya ya. Hehe. Sekali lagi, gomawo 😉

  19. Wkwkwk suka banget sama penggunaan katanya >.< daebak thor

  20. sequel thooooor TT crtnya keren TT

  21. Hahaha.. Sumpah demi bistik sapi ngakak baca ff ini author,, hahahaha
    Mrk msh sempet2nya swuit dulu, hahaha
    Tu mrk kyk lg buat kue pake step pertama..
    Hahahaha padahal sama2 polos,
    Sk Wktu changmin blg “Kau fan-monster, monster kipas”
    Di tunggu ff lainnya,,

    Changmin si “ultraman” vs Changi si “Fanster”

    • Gamsha, chingu~ >_<
      Suka banget sama komen panjang kamu, hehehe. Seneng juga kalo kamu suka ff ini 😀
      Kalo ff nc lainnya, kami punya beberapa di yfi (selain ini). Kalo kamu minat baca ff non nc-nya, bisa lihat di hanneloreaubury.wordpress.com
      Hehehe.
      Btw, gamsahae udah baca dan komen 😉

  22. Mutmut_Exotic

    Sequel,,, cerita’a seru aku ska…

    • Sekuel ditunggu yaa… Idenya masih dicari. Hohoho.
      Btw, makasih udah komen, chingu. Seneng juga kalo kamu suka ffnya 😀

  23. Hahaha..dasar itu mah mwy changmin z..

  24. eh gila,ngakak gue bacanya!
    hahaa…author kece deh! 😉 😉 😉

  25. Hihihi lucu banget siih couple ini 😀

  26. Bhahahahaha sumpah ngakak bacany

  27. wkwk…..ff kocak pertama yg w bca, pengen ngakak guling2 bca ni ff, thanks sama si author

  28. ini yg oon sapa yah….

    hihihihihii….
    kl changmin n fanster gak minum itu air…..??

    beartiiii…….

    changmiiiiiiinnnnnnnnn…….nappeun…!

  29. lucu nih ceritanya thor, ga ngebosenin
    😀
    ditinggu ya sequel nya thor zzzz ;))

  30. wkwkwk ngakak bacany, c changi polos bgt tpi bkin yadongny jdi ga monoton, ditunggu ff lainny y ching 😀

  31. wah keren lucu critanya.hhhh …. tp sdkt pnjang y thor…lnjuttt

  32. bagus ceritanya.. alurnya jga ga terkeaan terburu” jdi enak bacanya.. lanjut bikin crita lagi thor 😀

  33. hahahhaha …
    keren banget ini ff ..
    dapet banget feel nya ..
    wkwkwk

  34. Demi mie ramen, demi bistik sapi xD ngakak banget sumpah xD wkwk kereeennn (y) suka banget sama couple ini 😀 pengen jadi changiiiii T^T sequeeelll!! 😀

    • Hahahaha.
      Kami senang kalo kamu nikmatin ff iniiii, chingu~
      Juga couplenya.
      Sekuel ditunggu ya. Doain kami segera dapet ide. Hehehe.

  35. Jadi mereka ga minum obat itu… Bagusbagus (y) mereka ga polos lagi/? wkwk

    • Hohoho.
      Iya, mereka ga minum. Cuma salah paham.
      bisa dibilang gitu, chingu. Hihihi.
      Gomawo udah baca dan komen, btw 😀

  36. ayy >__<
    gak bisa bilang apa apa, aku suka pake bgt sama ff-mu chingu!!
    ngarep bgt kalau ada sequelnya xD

  37. Kyaaaaa…
    Gomawo, chingu~
    Kami juga ga bisa bilang apa-apa, selain seneng kalo kamu suka ff ini.
    Sekuel dalam proses penemuan ide nih. Hehehe. Wait for it. 😀

  38. Candra Deviparamitha

    Wah wah ,, daebbakkk !!!
    Tumben baca ff yadong kayaq ginii ::)

    Walaupun gk hothot bngett, tapi ttp bisa bikin gila(?) 😀 \=D/
    Ditunggu sequelnya nih thor 😉
    Fighting !!

  39. Waaaah… Gomawo, chingu.
    Ne, kami emang coba bikin yang variatif. Khusus couple ini memang ga hot, tapi ya seperti itu. Couple yang hot ada lagi hehe
    Sekuel juga masih dalam pengerjaan 😀
    Hehehe.
    gomapta sekali lagi chingu~

  40. haha lucu bacanya. sama-sama polos mereka berdua, tp jadi kan ngelakuinnya? haha
    hyungdeulnya koplak semua tuh lmao

  41. hahahaha
    feel sama2 keras kepala kekehnya juga krasa
    keren critanya
    ngakak trs q
    feel egonya keren

    • Huwaaa… Gomawo, chingu. ^_^
      hehe, kami pikir seru juga pasangin changmin sama cewe yang sama kekehnya kayak dia, jadi kami bikinnya gitu.
      Seneng deh kalo kamu suka 😀

  42. ya alloh keren bangettt….

  43. hahahaha.. Pasangan yg aneh. Tp lucu !

  44. Gomawo, chingu, udah mampir komen.
    Kalo minat, kamu bisa kunjungi blog kita di hanneloreaubury.wordpress.com.
    Di situ banyak pasangan aneh tapi lucu lainnya 😀

  45. sumpah.. Lucu banget. Wkwkwkk

  46. Aish hyungdeul nya parah… Tapi aku suka..

  47. OMO >,<
    Ternyata Changi ketipu..

  48. huwaaaaa lucu thor,
    ada sisi sweet nya tapi ttp bikin ngakak xD
    aaaaa tiba2 suka sma nih couple kkk~
    keep write ya thor ^^

    • Gomawo, chingu, atas komentarnya ^^
      Wah, senangnya kalo kamu suka ChangChan couple. Kami masih terus buat ChangChan kok, chingu 🙂

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: