Eternity

yesung ff nc yadong

Author: Haebaragi
Judul: Eternity
Casts: Kim Yesung
Lee Myun Hee (OC)
Kategori: NC 21/ yadong
Genre: Angst
Warning: Fail-NC

(haebaragime.wordpress.com)

24 December. Christmas Eve. Adalah kali pertama Myun Hee melihat namja itu. Salju turun dengan cukup deras sore itu di Seoul memberikan nuansa putih di hampir seluruh wilayah Seoul. Lonceng kecil yang digantung di bagian atas pintu masuk berbunyi dan secara refleks kedua sudut bibir Myun Hee akan tertarik, membentuk sebuah senyuman untuk menyambut pembeli yang baru saja masuk diiringi dengan sapaan sopan yang sudah berpuluh kali diucapkannya.

“Ice Americano.” Pembeli yang baru saja masuk itu menyebutkan pesanannya. Selama beberapa saat Myun Hee hanya berdiri mematung saat matanya beradu pandang dengan sepasang mata sipit di hadapannya.

“Chogiyo.” Suara berat yang kembali keluar dari mulut namja itu menyadarkan Myun Hee. Setelah meminta maaf karena sikapnya yang kurang sopan, Myun Hee menyerahkan buzzer pada namja itu.
Myun Hee memperhatikan sejenak namja tersebut saat ia sudah berlalu dari counter kasir dan mengambil tempat duduk tepat di samping jendela besar yang menghadap jalan. Fisik namja itu tidak terlalu tinggi untuk ukuran namja, meskipun jelas dia masih lebih tinggi dari Myun Hee. Tubuhnya juga tidak besar tapi terlihat well-built. Secara penampilan dia bisa dikatakan tidak terlalu maskulin, namun namja itu seolah memiliki aura dominan. Terlihat jelas dari caranya berjalan, duduk, bahkan saat beradu pandang dengannya tadi.

Tapi Myun Hee hanya memiliki waktu beberapa menit untuk mengamati namja itu karena Shindong, manajer café, langsung menegur Myun Heen dan menyuruhnya untuk kembali bekerja.
.
.
Satu jam berlalu dan namja itu kembali ke counter kasir untuk memesan ice Americano. Lagi-lagi Myun Hee terkesiap saat mata mereka beradu, seolah sepasang manik itu memiliki magnet yang secara otomatis menghisap perhatian Myun Hee.
Meskipun sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan, sesekali Myun Hee menoleh ke arah namja itu. Tanpa sadar yeoja itu akan mengerucutkan bibirnya saat otaknya bertanya-tanya apa sebenarnya yang diperhatikan namja itu. Selama berada di café, dia hanya menatap ke arah jalan sambil sesekali menyesap minumannya. Jelas sekali namja itu sedang tidak menunggu siapapun karena bahkan setelah satu jam dia tetap duduk sendiri.

.

Satu jam berikutnya café yang sebelumnya penuh dengan pembeli mulai terlihat kosong. Tentu saja, karena malam ini adalah malam natal dan semua orang ingin menghabiskan malam dengan orang-orang terdekat. Namun namja yang sejak tadi diamati Myun Hee justru kembali ke counter dan memesan segelas ice Americano. Lagi.

“Sebentar lagi café akan ditutup. Karena malam ini malam natal, café ditutup lebih cepat dari biasanya.” Jelas Myun Hee. Namja itu hanya menyahut dengan ‘aah’ pendek.

“Tapi aku bisa membuatkan segelas lagi untuk mu.” Tambah Myun Hee dengan cepat saat namja itu memasukkan kembali dompetnya yang sempat dikeluarkannya untuk membayar pesanan. “Kau bisa menunggu di tempat tadi sembari aku menyiapkan pesanan.”

“Geurae.” Namja itu menyerahkan beberapa lembar won pada Myun Hee dan kembali duduk. Seolah berada di dunianya sendiri, namja itu masih menatap ke arah jalan yang sekarang mulai dihiasi lampu warna-warni, menggantikan cahaya matahari yang sudah menghilang semenjak satu jam yang lalu.

“Ini kopi mu.” Myun Hee mengantarkan langsung segelas Ice Americano pada namja itu.

“Gomawo.” Lagi-lagi hanya jawaban pendek yang meluncur dari mulut namja itu sebelum akhirnya ia kembali menatap ke arah jalanan. Myun Hee ikut menoleh ke arah jalan di hadapan café dengan dahi berkerut.

“Apa sebenarnya yang kau perhatikan sejak tadi? Apa kau menunggu seseorang?” Myun Hee sudah tidak bisa lagi menahan penasarannya. Namja itu mengalihkan pandangannya ke arah Myun Hee dan terlihat tidak suka dengan kehadiran Myun Hee yang lebih lama dari seharusnya. “Kau tidak pulang? Tidak merayakan natal?” Namja itu tidak menjawab satupun pertanyaan Myun Hee. Ia malah melemparkan pandangan dingin pada yeoja itu.

Sadar namja di hadapannya merasa terganggu, Myun Hee menunjukkan senyuman yang sebenarnya terlihat aneh sambil menggaruk belakang lehernya. “Mian, aku sepertinya mengganggu mu.”
Namja itu berdiri dari duduknya tapi dengan cepat Myun Hee menahan bahu namja itu, membuatnya kembali duduk.

“Ani, gwenchana. Kau duduk saja. Nikmati kopi mu. Aku akan kembali ke counter. Mian.” Myun Hee membungkuk sejenak sebelum memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke tempat ia seharusnya berada. Tidak lama setelah Myun Hee berlalu dari hadapannya, namja itu berdiri dan keluar dari café, meninggalkan Myun Hee yang hanya mendesah pelan saat melihat punggung namja itu menghilang dari balik pintu café. Myun Hee memukul kepalanya berkali-kali dengan cukup kasar, “aaahh.. apa yang kau pikirkan Lee Myun Hee? Kenapa tidak bisa menahan rasa ingin tahu mu, eoh? Bagaimana kalau namja itu kembali besok dan komplain pada manajer? Bisa-bisa gaji mu di potong atau tidak ada bonus untuk tahun ini.” Yeoja itu terus mengomeli dirinya sendiri.

.
.

Salah satu pagi di bulan Februari.

Meskipun sudah memasuki penghujung musim dingin, namun sepertinya udara hangat masih enggan mendatangi Seoul. Hari itu Myun Hee datang sedikit terlambat karena bangun kesiangan. Dengan setengah berlari, yeoja itu menyusuri trotoar menuju café tempatnya bekerja. Tepat saat ia meletakkan tangannya di gagang pintu masuk, pada saat yang bersamaan tangan seseorang juga terulur untuk memegang pegangan pintu tersebut.

Mata Myun Hee membesar saat melihat siapa yang berdiri di sampingnya.

“Ah, kau.” Hanya satu kata pendek yang keluar dari mulut yeoja itu saat menyadari namja yang juga hendak masuk adalah namja aneh di malam natal kemarin. Tanpa memperdulikan keterkejutan Myun Hee, namja itu menggerakkan tangan Myun Hee yang masih berada di gagang pintu untuk membuka pintu masuk, kemudian berjalan dengan santainya menunju counter kasir. Sama sekali tidak menghiraukan Myun Hee yang masih berdiri terpaku di tempat yang sama selama beberapa saat.

“Namja itu memesan Ice Americano lagi?” tanya Myun Hee pada temannya yang sebelumnya menerima pesanan dari namja tadi.

“Nee. Waeyo?”

“Eoh, tidak apa-apa. Geunyang.” Myun Hee menoleh ke arah namja itu duduk. Sama seperti sebelumnya, kali ini dia juga mengambil tempat duduk di samping jendela dan menatap jalan di hadapan. Myun Hee mengernyitkan alis saat mengamati namja itu. Hari ini rambutnya terlihat acak-acakan dan pipinya lebih tirus dari saat malam natal. Bukan hanya itu, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya dan dia sepertinya sedang  lelah, tapi kenapa namja itu justru datang ke café? Seharusnya dia beristirahat karena dia terlihat seperti orang yang sudah tidak tidur beberapa hari.

Hari-hari berikutnya, kedatangan namja itu adalah sesuatu yang selalu ditunggu Myun Hee. Kadang dia harus menutup hari dengan menelan harapannya untuk melihat namja itu. Tapi ada hari-hari dimana namja itu datang, masih dengan sikap dinginnya, masih dengan pesanan yang sama-Ice Americano, masih dengan tempat duduk yang sama-di samping jendela, masih melakukan hal yang sama-memandangi jalan seolah dia berada dalam dunianya sendiri, dan Myun Hee masih hanya sebatas menatap namja itu dari counter kasir.

Tanpa mengatakan apapun, karyawan lain di café sudah tahu betul kalau namja itu adalah pelanggan istimewa Myun Hee. Siapapun yang sedang berada di counter kasir akan selalu memanggil Myun Hee dan menyerahakan posisi kasir pada Myun Hee setiap kali mereka melihat namja itu datang.

“Myun Hee-ya, kenapa tidak kau tanya saja namanya? Sampai kapan mau memandanginya saja, eoh?” Salah satu karyawan memberi saran pada Myun Hee yang baru saja di tegur Shindong karena melamun saat bekerja. Memandangi namja itu lebih tepatnya. Myun Hee hanya menghembuskan nafas nyaring. Myun Hee memang merasa penasaran saat melihat namja itu namun ia tidak bisa mendekati namja itu karena Myun Hee bisa merasakan ada dinding tidak terlihat yang mengelilingi namja itu, seolah ia ingin memisahkan dirinya dengan dunia luar.

.
.

Malam di bulan April.

Musim semi adalah musim yang paling disukai Myun Hee. Yeoja itu senang menghabiskan waktu dengan berjalan tanpa arah hanya untuk menikmati pohon-pohon yang mulai menghijau dan bunga-bunga yang bermekaran dengan cantiknya menghiasi jalanan Seoul.
Myun Hee baru saja pulang dari café dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju flat tempat ia tinggal. Hanya perlu 15 menit jika yeoja itu menaiki bis atau subway, tapi sekitar 40 menit jika ia berjalan kaki.

Langkah kaki Myun Hee mendadak terhenti saat ia melihat seorang namja yang cukup dikenalnya baru saja berjalan keluar dari sebuah apartemen mewah. Langkahnya pelan namun lebar. Myun Hee memiring-miringkan kepalanya dan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya sembari mengamati namja yang sekarang baru saja memasuki mobil itu.

Entah apa yang merasuki Myun Hee saat itu, dengan langkah cepat Myun Hee mendatangi mobil namja itu. Myun Hee mengetuk pintu kemudi tepat sebelum namja itu menyalakan mobilnya. Meski terlihat bingung, namja itu tetap menurunkan jendela mobilnya dan menoleh ke arah Myun Hee.

“Waeyo?” tanyanya sedikit ketus dengan suara bariton khas namja itu.

“Besok kau sibuk?” Myun Hee bertanya balik.

“Nde?”

“Besok kau sibuk?” Myun Hee mengulang pertanyaannya dan dijawab dengan gelengan pelan dari namja itu.

“Bagus. Besok temani aku piknik, nee? Aku tunggu kau di tepi sungai Han jam 3. Arrasso?” Tanpa menunggu jawaban namja itu, Myun Hee segera membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju trotoar, meninggalkan namja asing itu yang selama beberapa saat hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Besok paginya, Myun Hee bangun lebih pagi dari biasanya, meskipun hari ini sebenarnya adalah hari liburnya. Segera setelah mandi dan sarapan, Myun Hee pergi ke supermarket tuntuk berbelanja bahan makanan dan pulang ke rumah dengan berkantung-kantung plastik. Dengan penuh semangat, yeoja itu menyiapkan bekal untuk acara pikniknya hari ini.

Meskipun Myun Hee tidak tahu apa-apa tentang namja itu, tapi yeoja itu tidak bisa menutupi rasa tertariknya terhadap namja itu. Meskipun Myun Hee tidak tahu apakah namja itu benar-benar akan datang sore ini, tapi yeoja itu tetap tidak dapat menahan dirinya sendiri untuk merasa senang hari ini.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam baru saja berhenti di pinggir jalan. Tidak lama kemudian seoarang namja keluar dari dalam mobil tersebut sembari mengendarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari seorang yeoja yang sudah menyuruhnya untuk datang sore ini. Namja itu mulai berjalan perlahan sambil terus mengendarkan pandangannya hingga akhirnya matanya mengenali seorang yeoja yang berada beberapa meter darinya. Yeoja itu duduk di salah satu bangku yang berada di tepian sungai Han.

Namja itu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, meyakinkan dirinya apakah dia akan melangkahkan kakinya mendatangi yeoja tersebut atau memutar badannya dan melajukan mobilnya menjauhi tempat ini.

Dengan segala keraguan yang masih menyelimuti pikirannya, namja itu akhirnya melangkahkan kakinya mendekati yeoja yang biasa melayaninya di café. Namja itu menepuk pelan bahu yeoja berambut panjang itu dan sedetik kemudian namja itu merasa tubuhnya membeku saat yeoja itu berbalik dengan lengkungan senyum yang terlihat sangat indah.

“Aku sudah takut kau tidak datang sore ini,” ujar yeoja itu. Jelas sekali ia merasa lega melihat namja yang ditunggunya benar-benar datang.

“Ehmm…” Namja itu tidak tahu harus menjawab apa karena baru beberapa menit yang lalu pikiran untuk pergi dari tempat ini terlintas di benaknya.

“Bantu aku bawa tas ini, nee?’ Myun Hee menunjuk dua tas besar yang berada dekat kakinya. Tanpa protes namja itu membawa kedua tas tersebut dan mengikuti Myun Hee yang mulai berjalan.

Namja itu sempat berpikir mereka akan piknik di pinggiran sungai Han, namun ternyata yeoja yang berjalan di depannya justru menyeberang dan langkahnya semakin menjauhi sungai Han.

Sepuluh menit kemudian mereka mulai berjalan memasuki sebuah bangunan yang sepertinya adalah apartemen. Seolah sudah mengenal bangunan tersebut, Myun Hee terus melangkah menuju elevator diikuti namja itu. Myun Hee menekan tombol dengan angka 30-lantai paling atas. Namja itu sesekali melirik ke arah Myun Hee namun tidak mengeluarkan kalimat apapun. Meskipun bingung tujuan mereka sebenarnya, namun namja itu tidak bertanya. Dia membiarkan yeoja yang sudah mengajaknya itu menentukan kemana mereka akan pergi.

Setelah keluar dari elevator, Myun Hee melangkahkan kakinya menuju pintu darurat dan mulai menaiki tangga. Mesikpun membawa dua tas besar, namun tanpa merasa kesusahan  namja itu mengikuti Myun Hee hingga akhirnya mereka tiba di bagian atap gedung. Angin musim semi langsung menyambut Myun Hee dan namja itu. Namja itu menatap ke sekeliling rooftop. Ada banyak tanaman yang mengelilingi tepian rooftop dengan beberapa bangku yang terletak di bagian kanan.

Myun Hee merentangkan tangannya dan menuntup matanya, seolah menikmati hembusan angin yang menyapa lembut kulit yeoja itu serta memainkan rambutnya yang tergerai.

Setelah beberapa saat, Myun Hee membuka kembali matanya dan menoleh ke arah namja yang berdiri di sampingnya. “Ayo.” Panggil yeoja itu sembari berjalan menuju bangku.

Myun Hee mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam tas dan membukanya satu persatu.
“Aku tidak tau apa makanan kesukaan mu, jadi aku menyiapkan makanan sederhana.” Ucap Myun Hee.  “Ini gimbab dengan isi telur dan sosis. Ini gimbab dengan isi kmichi dan timun. Dan ini ddeokbokki dengan odaeng.” Myun Hee menunjuk satu persatu kotak makanan yang sudah tertata di atas meja.

“Ah, aku juga membawa Ice Americano untuk mu.” Tambah yeoja itu sembari menyerahkan tumbler pada namja yang bersamanya.

“Gomawo.” Sahut namja itu pelan.

“Ayo makan!” Myun Hee menyerahkan sepasang sumpit pada namja itu dan selama beberapa saat namja berambut hitam itu hanya menatap kotak makanan di hadapannya.

“Eiy, jangan sungkan. Makan saja yang kau mau.”

“Ne..nee..geurae.” Namja itu mengambil salah satu potongan gimbab dan memasukkannya ke mulutnya.

“Bagaimana rasanya?” Mata Myun Hee terlihat membesar saat melihat namja itu dengan penasaran, menunggu pendapatnya mengenai makanan yang dibuat yeoja itu.

“Euhmm…gwenchana,” sahut namja itu disela kegiatannya mengunyah. Myun Hee menghela nafas lega. Cukup lama kedua orang itu menikmati makanan di hadapan mereka dalam diam, membiarkan suara pelan hembusan angin yang mengisi ruang diantara mereka.

Seolah mendadak teringat sesuatu, Myun Hee tiba-tiba meletakkan sumpitnya dan duduk menghadap namja itu.

“Kita belum berkenalan. Aku Myun Hee. Lee Myun Hee.” Myun Hee mengulurkan tangannya namun namja di sampingnya hanya diam selama beberapa saat. Matanya bergerak antara wajah Myun Hee yang memandang dengan penuh harap dan tangannya yang masih terulur.

“Waeyo? Kau tidak mau menyebutkan nama mu? Nama samaran juga tidak masalah. Atau kau mau aku memanggilmu ahjussi?”

“Yesung. Kim Yesung.” Namja itu akhirnya menyambut uluran tangan Myun Hee dan menyebutkan namanya. Seolah terpaku pada sepasang mata di hadapan mereka, Myun Hee dan Yesung terdiam cukup lama dengan tangan masih bertautan.

“Banggapta.” Myun Hee yang lebih dulu menarik tangannya saat yeoja itu merasakan wajahnya mulai memanas. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dari mata sipit Yesung yang memandangnya intens ke arah sungai Han yang terlihat jelas dari tempat mereka duduk saat ini.

Hening kembali jatuh di antara Myun Hee dan Yesung. Myun Hee meletakkan salah satu tangannya di dadanya yang entah sejak kapan terasa hampir meledak karena detak jantunya yang sama sekali di atas rata-rata. Sementara Yesung menangkupkan kedua tangannya sembari menutup matanya, meresapi bagaimana rasa hangat tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya melalui jemari dan telapak tangannya saat ia menyambut uluran tangan Myun Hee. Sebuah perasaan hangat yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sampai-sampai terasa asing di ingatannya.

“Yesung-ssi, kau tinggal di apartemen tadi malam?” tanya Myun Hee setelah yeoja itu merasa jantungnya kembali bekerja dengan normal.

“Nde?” Yesung tersadar dari lamunannya dan dengan cepat membuka matanya. “Ah, bukan. Aku tidak tinggal di sana.”

“Eoohh…” Myun Hee mengangguk-angguk kecil. “Baguslah. Tadi pagi aku mendengar berita kalau ada salah satu penghuni apartemen itu yang tewas. Menurut polisi, dia dibunuh. Tapi masih perlu investigasi lebih lanjut.” Myun Hee menoleh ke arah Yesung dan tanpa diduganya Yesung juga menoleh ke arah yeoja itu. Tapi ada sesuatu yang aneh dari cara Yesung menatap Myun Hee. Sesuatu yang tidak bisa Myun Hee jelaskan.

“Ah, geurae?” jawab Yesung pendek.

“Kurasa sekarang tidak ada tempat yang aman. Di flat murah atau apartemen mewah seperti itu.” Yesung hanya memberikan gumaman pendek.

Tanpa terasa matahari mulai turun, menimbulkan semburat jingga yang indah di atas sungai Han. Myun Hee menghirup udara musim semi dalam.

“Sebelum kita pulang, ada satu makanan lagi yang aku siapkan.” Myun Hee mengeluarkan termos berukuran sedang dari dalam tasnya.

“Tadaaa.. hari ini adalah ulang tahunku.” Yeoja itu membuka termos yang ternyata berisi sup rumput laut. Myun Hee menuangkan sup ke dalam dua buah mangkok kecil dan menyerahkan salah satunya pada Yesung.

“Ja.. sekarang kau harus menyanyikan lagu ulang tahun untukku.” Permintaan Myun Hee membuat Yesung mengerutkan dahinya. “Jebal,” Myun Hee menatap Yesung dengan tatapan memelas dan Yesung akhirnya menyerah.

“Baiklah.” Seulas senyum muncul di wajah manis Myun Hee saat Yesung mengambil nafas dalam dan mulai menyanyikan lagu ‘Saengil Chukhahamnida’. Senyumnya terlihat semakin lebar karena ternyata suara Yesung sangat indah.

Setelah menghabiskan sup rumput laut, Myun Hee dan Yesung turun dari rooftop. Namja itu mengantarkan Myun Hee hingga stasiun subway.

“Terima kasih untuk hari ini. Ternyata merayakan ulang tahun dengan orang lain memang lebih menyenangkan daripada sendirian.” Lengkungan indah masih melekat di wajah Myun Hee.

“Ehemm..” Yesung berdehem. “Selamat ulang tahun. Nanti akan aku bawakan hadiah untuk mu.” Suara Yesung terdengar sangat pelan namun Myun Hee bisa menangkap dengan jelas apa yang diucapkan namja itu. Jika masih memungkinkan, sudut bibir yeoja itu pasti sudah berada di kedua ujung telinganya sekarang. Smiling wide ear to ear.

“Geurae. Aku tunggu di café.” Tubuh Yesung membeku dalam sekejap saat tiba-tiba Myun Hee memeluk namja itu tapi kemudian melepaskannya sesaat kemudian. Myun Hee melambaikan tangannya sebelum beranjak menuruni tangga subway.

Yesung menghela nafas keras saat sosok Myun Hee sudah tidak ada lagi di hadapannya. Ini sesuatu yang salah bagi namja itu tapi sepertinya sudah terlambat untuk mengelak.

.
.

Myun Hee mendengus kesal saat melihat dua orang yang mengenakan jas hitam berdiri di depan flatnya. Salah satu dari mereka langsung mendatangi Myun Hee dan menyerahkan sebuah kotak berukuran cukup besar yang dihiasi pita di bagian atas.

“Hadiah ulang tahun dari sajangnim.” Myun Hee berdecak nyaring ketika mendengar kata ‘sajangnim’.

“Shiro! Aku tidak mau menerimanya! Katakan pada ahjussi itu..” kedua orang yang menunggu Myun Hee itu serentak menunjukkan wajah terkejut saat mendengar Myun Hee dengan kasarnya memanggil orang yang mereka sebut ‘sajangnim’ dengan panggilan ‘ahjussi itu’. Tapi Myun Hee terlihat tidak perduli, “..hadiah yang aku inginkan hanya satu. Dia berhenti mengganggu ku seperti ini!”

Myun Hee melangkahkan kakinya menuju pintu masuk namun orang yang masih memegang kotak berisi hadiah untuk Myun Hee itu dengan sigap menghalangi langkah Myun Hee.

“Saya mohon, terima hadiah dari sajangnim. Kami bisa dapat masalah jika membawa kembali hadiah ini,” ucapnya dengan tatapan memohon.

“Geurae.” Myun Hee mengambil kasar kotak yang disodorkan ke arahnya. “Puas? Cepat sana pergi dari hadapan ku!” bentak Myun Hee.

Dengan kasar Myun Hee membanting pintu kamarnya kemudian melempar asal kotak yang baru saja ia terima. Yeoja itu bahkan tidak melirik sedikitpun hadiah yang diberikan padanya. Ponsel Myun Hee berbunyi nyaring saat yeoja itu sedang sibuk mencuci kotak makanan yang sekarang sudah kosong. Layar ponselnya tidak menunjukkan nama ataupun nomor yang memanggilnya. Hanya tulisan ‘private call’ yang tertera di layar.

“Waeyo?” Myun Hee menjawab panggilan dengan nada sengit. Yeoja itu tau betul siapa yang menghubunginya.

“Kau sudah menerima hadiah mu?” terdengar suara berat dari seberang.

“Eoh.”

“Kau suka?”

“Molla. Aku langsung membuangnya.”

Terdengar suara helaan nafas nyaring dari seberang namun Myun Hee sama sekali tidak perduli. “Sekali-sekali bersikaplah dengan baik. Bagaimanapun aku appa mu.”

“Cish, kau bukan lagi appaku saat eomma meninggal karena kau. Jadi berhentilah bersikap seolah kau benar-benar appaku.”

“Myun Hee-yaa..”

“Aku lelah.”
Kembali terdengar suara helaan nafas panjang. “Baiklah. Kalau memang lelah, tidurlah. Saengil chukhae, uri Myun Hee.” Tanpa menjawab apapun, Myun Hee langsung menekan tanda berwarna merah di bagian bawah layar ponselnya. Myun Hee menutup matanya sejenak dan mencoba mengendalikan emosinya yang hampir meledak. Yeoja itu akhirnya memutuskan tidur adalah cara terbaik untuk menenangkan dirinya saat ini.

.
.
.

Sore di musim panas.

Senyum lebar tidak hilang dari wajah Myun Hee semenjak pagi tadi. Yeoja itu terlihat berlari dengan cepat hingga tepian pantai seraya membentangkan kedua tangannya. Myun Hee menghirup aroma asin laut dalam-dalam kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan.

Decakan pelan terdengar dari arah belakang, membuat yeoja itu menoleh ke arah namja yang pergi ke pantai bersamanya.

“Kau belum pernah melihat pantai?” Komentar pendek dari namja itu membuat Myun Hee mendelik ke arahnya.

“Huh, merusak mood saja.” Keluh Myun Hee. Yeoja itu menutup matanya dan kembali menikmati aroma laut yang masuk ke indera penciumannya. Sekarang sudah memasuki pertengahan musim panas dan tempat yang paling disukai Myun Hee saat musim panas adalah pantai. Beberapa tahun yang lalu, yeoja itu berhasil menemukan pantai di salah satu bagian Busan yang masih jarang didatangi orang lain. Semenjak itu Myun Hee akan pergi ke pantai ini setiap musim panas.

Hari ini, seperti biasanya, sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir pantai, tidak ada satupun orang selain Myun Hee dan Yesung.

“Ayo ke sana!” Myun Hee menunjuk salah satu bagian pantai yang ditutupi tebing tinggi, menyediakan tempat berteduh. Segaris senyum tipis muncul di wajah Yesung saat ia mengikuti Myun Hee yang berjalan sambil sesekali melompat menuju tebing. Persis seperti anak kecil yang sedang menikmati liburan.

“Kenapa kau selalu meminum Ice Americano? Hanya Ice Americano,” tanya Myun Hee yang penasaran dengan kebiasaan Yesung memesan Ice Americano. Namja yang ditanya menyipitkan matanya, memandang laut yang mulai memantulkan cahaya senja.

“Aku tidak terlalu suka sesuatu yang fancy. Cukup sesuatu yang sederhana.”

“Apa tidak membosankan?” Myun Hee menyenderkan kepalanya pada bahu Yesung, membuat namja itu refleks menegakkan bahunya karena tegang.

“Aku sudah terbiasa seperti itu. Melakukan di luar kebiasaan justru bisa membahayakan.”

“Waeyo?”

“Hidupku memang harus seperti itu. Tidak boleh berubah.”

“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Bukankah kita sedang membahas Ice Americano?”

“Kalau tidak mengerti, tidak apa.” Selama beberapa saat hanya suara ombak yang terdengar. Myun Hee memejamkan matanya dan menikmati saat menenangkan seperti ini. Jauh dari kesibukan kota, pesanan yang tidak kunjung berhenti, suara ribut dari karyawan lain, serta rutinitas yang terkadang menjemukan.

“Aku ingin waktu berhenti.” Myun Hee mengeluarkan apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Yesung menundukkan wajahnya dan dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tersenyum saat melihat wajah tenang Myun Hee. “Ditempat ini, menikmati senja dengan suara ombak. Hanya ada kau dan aku.” Myun Hee mengambil nafas dalam, kali ini bukan aroma laut yang menyapa hidungnya namun aroma khas Yesung.

Bahkan setelah berbulan-bulan mengenal Yesung, Myun Hee masih merasa ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Yesung. Tapi itu semua tidak bisa mencegah perasaan yang mulai tumbuh tanpa bisa ia kendalikan. Sesuatu yang membuatnya ingin terus menghabiskan waktu bersama Yesung. Melihat mata namja itu yang akhir-akhir ini selalu menatapnya dengan tatapan teduh, jauh berbeda dari saat Yesung menetapnya pada awal pertemuan mereka.

“Kenapa kau selalu duduk di pinggir jendela dan melihat keluar berjam-jam? Apa sebenarnya yang kau perhatikan?” Lagi-lagi Myun Hee mengeluarkan pertanyaan yang sudah sejak lama ia simpan.

“Tidak ada yang aku perhatikan. Hanya jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang.”

“Kau namja yang aneh. Kau tau itu?” sahut Myun Hee dengan nada bercanda.

“Yesung-ssi,” panggil Myun Hee sekali lagi, yang dijawab dengan gumaman pendek dari Yesung. “Malam natal nanti, temani aku, nee? Kita rayakan malam natal bersama-sama.” Myun Hee membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Yeoja itu menatap Yesung lurus.

“Eoh, baiklah,” jawab Yesung.

“Janji?” Myun Hee mengeluarkan jari kelingkingnya yang dibalas Yesung dengan tatapan bingung.

“Eiy, kau harus menautkan jari kelingking mu juga.” Myun Hee mengangkat tangan Yesung dan menautkan jari kelingking namja itu di jarinya. “Janji!” seru Myun Hee.

“Janji,” ulang Yesung dengan senyum yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.

“Uwaaah… Yesung kau tersenyum!!” Myun Hee menangkupkan kedua tangannya di pipi Yesung dan menggerak-gerakkan wajah Yesung. “Kau tampan juga kalau tersenyum, eoh?”
Yesung hanya bisa menatap Myun Hee tanpa tahu harus berkata apa. Namja itu terlalu sibuk mengatur detak jantungnya sendiri yang mendadak berhenti namun sedetik kemudian berdegup kencang.

.
.
.

Memasuki musim dingin, Myun Hee terlihat sangat bahagia. Namun kebahagian dan semangat yeoja itu setiap hari semakin berkurang karena Yesung tidak kunjung datang. Sudah lewat sebulan namun namja itu tidak pernah datang lagi ke café sementara malam natal semakin dekat.
.
.

Satu malam di musim dingin. Yesung akhirnya kembali ke Seoul setelah hampir satu bulan harus ke kota lain. Segera setelah meletakkan koper kecilnya di kamar apartemennya, namja itu langsung kembali keluar dari apartemennya. Senyuman mulai terbentuk di wajah tirusnya saat mengingat tujuannya malam ini.

“Kau bisa juga tersenyum?” Sebuah suara yang cukup familiar di telinga Yesung dengan sukses menghapus senyum namja itu. “Another success mission, eoh? Tidak salah kau menjadi andalan sajangnim.” Seorang namja dengan rambut pirang terlihat berdiri di samping mobil Yesung.

“Ada apa?” Tanya Yesung dingin.

“Eiy.. dimana senyum mu tadi?” sahut namja itu sambil berdecak. “Arrasso.. arrasso…,” ucap namja itu saat Yesung tidak menjawab apapun dan hanya menatapnya dingin. Namja yang lebih muda dari Yesung itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkannya pada Yesung. “Kali ini anak dari pimpinan mafia yang cukup kuat di Seoul,” Jelas namja itu dengan suara pelan.

“Yang meminta?”

“Seseorang yang ingin mengambil alih kepemimpinannya.”

“Ehmm.” Yesung menekan layar ponsel dan matanya sontak membesar saat melihat foto yang terpampang di layar ponsel.

“Wae? Dia terlalu cantik untuk berakhir mengenaskan, bukan? Ck.. such a waste,” komentar namja berambut pirang itu saat melihat reaksi Yesung.

“Beri aku waktu hingga natal.” Setelah beberapa saat ekspresi Yesung kembali terlihat biasa.

“Waeyo?”

“Jangan bertanya apapun lagi. Katakan saja pada klien aku akan melakukannya saat malam natal.”
Yesung mengembalikan ponsel pada namja itu dan masuk ke dalam mobilnya tanpa perduli tatapan bingung yang diarahkan padanya. Yesung melajukan mobilnya menyusuri jalanan Seoul tanpa tujuan. Namja itu merasa pikirannya terlalu kacau saat ini untuk menemui Myun Hee.

Setelah beberapa jam, Yesung akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Namja itu mengambil nafas dalam sebelum mengeluarkannya perlahan, berharap semua perasaan yang mengganggunya saat ini juga keluar seiring udara yang mengalir dari hidung dan mulutnya. Tapi pada kenyataannya, dada Yesung justru semakin sesak. Namja itu memukul keras setir di hadapannya berkali-kali hingga tangannya terasa sakit.

Setelah sadar bahwa sia-sia saja ia mencoba menenangkan dirinya sendiri karena pada kenyataannya perasaannya justru semakin kacau, Yesung akhirnya menyalakan mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan itu. Menuju tempat yang sejak tadi ingin didatanginya.

Tanda ‘Open’ sudah berganti dengan tulisan ‘Close’ saat Yesung memarkir mobil tidak jauh dari café. Tapi namja itu tetap turun dari mobilnya dan melangkah masuk tanpa ragu.

“Maaf, café sudah tutup.” Salah seorang karyawan yang tengah membersihkan café langsung menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah pintu masuk saat mendengar suara lonceng berbunyi. “Ah, kau!” serunya setelah melihat siapa yang baru saja masuk.

“Tunggu sebentar, nee. Aku panggilkan Myun Hee.” Tanpa menunggu jawaban apapun dari Yesung, karyawan itu langsung berlari ke bagian dalam café.

Myun Hee tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat melihat Yesung berdiri di samping pintu masuk. Yeoja itu bahkan mengayunkan kakinya dengan langkah besar dan tanpa ragu langsung memeluk Yesung.

“Aku pikir kau akan menghilang selamanya dan melupkan janjimu,” gumam Myun Hee masih memeluk erat Yesung.

“Aku sudah berjanji,kan?” Yesung mengangkat kedua tangannya dengan ragu sebelum akhirnya membalas pelukan Myun Hee. Namja itu akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam aroma menenangkan Myun Hee yang tanpa bisa ia elakkan lagi sangat dirindukannya.
Myun Hee yang lebih dulu melepaskan pelukan mereka. Rona merah sedikit terlihat di wajah yeoja itu. Dahi Myun Hee tiba-tiba berkerut dan yeoja itu menangkupkan tangannya di pipi Yesung.

“Kau kurusan. Waeyo?” Komentar Myun Hee. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Yesung, membuat namja itu merasa pipinya bisa saja meleleh sebentar lagi karena rasa panas yang menjalar diseluruh wajahnya sementara jantungnya saat ini terasa bekerja di luar batas.

“Kita makan malam, nee? Kau tidak boleh menolak! Kau harus makan yang banyak! Arrasso!!” perintah Myun Hee dengan nada tegas.Yeoja itu segera menarik Yesung keluar dari café dan mengajaknya makan di restaurant yang terletak tidak jauh dari café.

Myun Hee terlihat sibuk mengisi mangkuk makan Yesung dengan nasi dan berbagai makanan lainnya. Yeoja itu tidak henti-hentinya berkomentar tentang tubuh Yesung yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan kekhawatirannya tentang kesehatan Yesung. Yeoja itu tidak sadar bahwa Yesung terus memandangnya dengan penuh penyesalan.

“Wae? Kenapa kau melihat ku seperti itu?” Myun Hee akhirnya sadar dan balik menatap Yesung.

“Myun Hee-ssi, kau memiliki keluarga?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Yesung membuat Myun Hee terkejut. Selama ini Yesung tidak pernah sekalipun menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi pada Myun Hee. Begitu juga sebaliknya. Myun Hee bukannya tidak sadar bahwa Yesung menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tidak bisa bertanya apapun pada Yesung karena dia juga tidak sepenuhnya meneceritakan dirinya pada Yesung.

“Kenapa tiba-tiba bertanya?” Myun Hee mengalihkan pandangannya dari Yesung. Terlihat sekali yeoja itu tidak suka dengan pertanyaan Yesung.

“Hanya ingin tahu,” jawab Yesung pendek.

Myun Hee terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “eomma sudah lama meninggal. Dan aku tidak mengenal siapa appaku.” Myun Hee meletakkan mangkuk makan di hadapan Yesung. “Ja… ayo makan sekarang.” Terlihat jelas sekali yeoja itu mencoba menghentikan pembicaraan tentang keluarganya.

Yesung akhirnya menurut dan mulai menyantap makanan di hadapannya. Keheningan yang canggung jelas sekali terasa di antara kedua orang itu. Mereka mencoba menyibukkan tangan dan mulut mereka dengan makanan yang tersaji di meja sementara pikiran mereka sibuk dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dikeluarkan.

.
.

Seminggu sebelum malam natal.

Yesung tidak selalu mampir ke café pada pagi atau siang hari, tapi namja itu selalu menunggu Myun Hee tepat di depan café begitu jam kerja yeoja itu berkahir. Yesung biasanya akan mengantarkan Myun Hee ke flat yeoja itu setelah sebelumnya mereka makan bersama atau sekedar pergi ke taman sambil mengobrol – Myun Hee yang lebih banyak berbicara lebih tepatnya sementara Yesung hanya akan mendengarkan dan sesekali berkomentar.

Malam ini, seperti biasa Yesung sudah berdiri di depan pintu café, menunggu Myun Hee yang sudah memasang senyumnya yang paling manis semenjak melihat namja itu dari balik kaca café.

“Ini, untuk mu.” Myun Hee menyerahkan segelas Ice Americano pada Yesung yang di sambut Yesung dengan segaris tipis senyum.

Myun Hee mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap. Yeoja itu menatap Yesung tajam, seolah sedang kesal pada namja di hadapannya. “Bisakah kau menggerakkan bibir mu lebih dari itu? Eoh? Apa susahnya menarik sedikit lagi sudut bibir mu itu! Seperti ini!!” Myun Hee meletakkan jarinya di kedua sudut bibirnya, mencontohkan cara tersenyum yang diinginkan yeoja itu.

“Aku tidak bisa,” jawab Yesung dingin.

“Cish, pelit!!” Gerutu Myun Hee. “Sok misterius. Apa susahnya tersenyum seperti yang aku contohkan.” Yeoja itu terus saja mengomel sambil berjalan mendahului Yesung menuju mobil namja itu.

“Yesung!!” Sebuah suara membuat Yesung dan Myun Hee menoleh ke arah yang sama secara serentak. Ekspresi tidak suka langsung terlihat jelas di wajah Yesung saat melihat namja yang berjalan menuju mereka. Sebelum namja itu sempat mendekat, Yesung langsung mengambil langkah besar menuju namja itu dan menariknya menjauhi Myun Hee.

“Ada apa?” tanya Yesung dingin setelah dia yakin perbnicangan mereka tidak akan didengar Myun Hee.

“Klien mendesak mu untuk segera melaksanakan misi,” jawab namja itu sembari memiringkan tubuhnya untuk melihat Myun Hee yang berdiri beberapa meter dari mereka. “Dia yeoja itu kan? Misi mu!” Ucap namja itu kaget saat menyadari siapa yang bersama Yesung saat ini.

“Wae? Kau tidak pernah melakukan pendekatan langsung seperti ini pada target.” Namja itu tidak henti-hentinya menghujani Yesung dengan berbagai pertanyaan.

“Berhenti bertanya macam-macam dan katakan pada klien, malam natal. Aku akan melakukannya tepat pada malam natal jadi jangan mendesakku lagi. Karena aku tidak suka.” Yesung memberi tekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
Yesung baru saja hendak membalikkan tubuhnya saat ia merasakan tangan namja itu menarik lengannya.

“Hyung~” panggil namja itu dengan suara yang terdengar lebih lembut. Diluar urusan pekerjaan, namja itu memang menganggap Yesung sudah sebagai hyungnya sendiri. Yesung mengerutkan alisnya mendengar panggilan namja itu.

“Ada apa lagi, Eunhyuk-ah,” sahut Yesung sambil membuang nafas nyaring.

“Jangan katakan pada ku kau jatuh cinta padanya.” Namja yang dipanggil dengan nama Eunhyuk itu menatap Yesung dengan pandangan menyelidik. Mulut Eunhyuk terbuka dan matanya membesar saat Yesung tidak kunjung memberikan jawaban, dan itu berarti, “hyung, kau jatuh cinta padanya. Kau tau kita tidak bisa melakukannya, kan?”

“Aku sudah mengenalnya jauh sebelum misi itu diberikan padaku. Aku juga tidak tahu apa ini yang disebut jatuh cinta.” Eunhyuk menatap Yesung dengan tatapan tidak percaya. Sekian tahun ia mengenal Yesung sebagai sosok yang dingin, ini pertama kalinya namja itu melihat sisi lain Yesung. Meski mencoba mengelak, namun Eunhyuk bisa melihat dengan jelas tatapan Yesung yang menggambarkan perasaannya saat ini.

“Tenang saja, aku akan mengakhirinya tepat saat malam natal.” Yesung kembali terlihat dingin, seperti biasa.

“Hyung, mengakhiri dengan cara apa? Kau akan kabur berdua dengannya? Itu tidak mungkin! Organisasi pasti akan memburumu, belum lagi klien kita menginginkan yeoja itu tewas.” Yesung menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang sama kacaunya dengan ucapan Eunhyuk saat ini. Namja itu bukannya tidak memikirkan berbagai hal yang baru saja diucapkan Eunhyuk. Yesung tahu betul semua resiko atas apapun tindakannya nanti.

“Aku masih belum memutuskan seperti apa mengakhirnya,” jawab Yesung seraya membuka matanya. Eunhyuk menghela nafas panjang dan menepuk bahu Yesung.

“Aku akan mendukung mu. Apapun keputusan mu.”

Yesung menarik kedua sudut bibirnya dan berucap pendek, “gomawo.” Lagi-lagi Eunhyuk terkejut melihat Yesung yang bahkan bisa tersenyum malam ini.

“Nugu?” tanya Myun Hee dengan eskpresi penasaran saat Yesung sudah kembali.

“Oh, hanya teman kerja,” sahut Yesung pendek tanpa menjelaskan apapun lagi. Namja itu segera masuk ke mobilnya dan diikuti Myun Hee.

.
.

.

23 Desember. Satu malam sebelum malam natal.

Bahkan angin musim dingin yang menyentuh langsung wajah Myun Hee saat keluar café tidak menghilangkan sedikitpun guratan senang di wajah yeoja itu. Malam ini Myun Hee berencana untuk ke shopping mall dan membelikan hadiah natal untuk Yesung. Yeoja itu merentangkan tangannya seraya menghirup dalam udara musim dingin yang baginya kali ini terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.

Myun Hee baru saja berjalan dua langkah ketika mobil Yesung berhenti tepat di sampingnya. Myun Hee menundukkan tubuhnya saat jendela mobil di turunkan.

“Ehm? Ada apa?” tanya Myun Hee heran melihat wajah Yesung yang terlihat tegang, sama sekali berbeda dengan ekspressi yang biasa ia tunjukkan.

“Ayo cepat masuk!” perintah Yesung dan tanpa menunggu di suruh untuk yang kedua kalinya, Myun Hee bergegas masuk ke mobil.

“Waeyo?” Myun Hee benar-benar bingung terhadap sikap Yesung saat ini. Namja itu bahkan tidak menunggu Myun Hee mengenakan sabuk pengaman sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali namja itu melirik kaca mobil atau menoleh ke belakang, seolah sedang mengamati sesuatu.

“Kau tidak punya pengawal, eoh? Ayahmu tidak mengirimkan bodyguard untuk mu?” Pertanyaan Yesung membuat Myun Hee semakin heran.

“Kau tau tentang ayahku?”

“Ck, kita tidak bisa membahas itu sekarang. Cepat hubungi ayahmu dan minta dia mengirimkan orang sekarang.” Myun Hee belum pernah melihat Yesung sepanik ini. “Ah, tapi masalahnya sekarang organisasi pasti sudah tahu aku membawa kabur kau.” Sedikit demi sedikit Myun Hee mulai bisa menebak apa yang terjadi saat ini. Bertahun-tahun berurusan dengan hal seperti ini membuat insting Myun Hee cukup terlatih.

“Yesung-ssi, kau pembunuh bayaran?” tebak Myun Hee. Yesung terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Myun Hee berdecak nyaring. “Jangan katakan kau adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuhku tapi ternyata malah jatuh cinta pada u dan sekarang organisasi tempatmu bekerja mengirim orang lain untuk membunuh ku. It’s soo drama!”

Lagi-lagi Yesung hanya terdiam dan memfokuskan pandangannya pada jalanan di hadapan mereka.

“Antarkan aku menuju stasiun subway.” Suara Myun Hee terdengar tegas. Yesung menoleh sekilas ke arah Myun Hee dan menggeleng pelan.

“Jangan turun sekarang. Terlalu berbahaya.”

“Di dekat sini ada stasiun subway. Kita turun di sana,” tambah Myun Hee seolah tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Yesung. “Yesung-ssi!” Suara Myun Hee terdengar tegas dan tidak menerima penolakan.

Yesung menghela nafas keras sebelum akhirnya menuruti permintaan Myun Hee. Namja itu meminggirkan mobilnya dan dengan cepat keluar dari mobil. Yesung menarik lengan Myun Hee dan memastikan yeoja itu berada tepat di sampingnya saat mereka mulai berjalan dengan cepat memasuki stasiun subway.

“Kau pembunuh amatir? Kenapa terlihat panik seperti ini?” celetuk Myun Hee saat melihat ekspresi tegang Yesung yang tidak henti-hentinya melihat ke sekeliling mereka, memastikan pembunuh yang mengikuti Myun Hee tadi masih belum menemukan mereka.

“Kau tidak merasa takut?” tanya Yesung penasaran. Dengan polosnya Myun Hee menggeleng, seolah diburu pembunuh professional bukanlah hal yang menakutkan bagi yeoja itu.

“Ada berapa orang yang mengikuti ku?”

“Dua.”

“Mereka berhasil mengejar kita?” Yesung mengendarkan pandangannya sekali lagi sebelum menoleh ke arah Myun Hee dan menggeleng.

“Baguslah.” Yesung sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Myun Hee. Bagaimana yeoja itu bisa setenang ini sementara ia yang pembunuh professional justru merasa tegang.

“Ayo, turun.” Myun Hee menarik Yesung keluar dari kereta. Namja itu menatap Myun Hee bingung saat yeoja itu membawanya masuk ke kereta lain namun tidak bertanya apa-apa. Masih dengan sikap waspada, Yesung memegang erat lengan Myun Hee hingga akhirnya mereka kembali duduk di dalam kereta.

Yesung merasa nafasnya terhenti dalam sekejap ketika ia merasakan Myun Hee menautkan jemarinya dengan jemari yesung. Namja itu menunduk dan melihat tangan mereka yang bertautan.

“Kau tidak suka?” tanya Myun Hee saat melihat ekspressi Yesung yang tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Ani. Aku su..ka.” Entah kenapa Yesung merasa otaknya mendadak kosong saat matanya beradu pandang dengan mata Myun Hee.

“Aigooo…. Yesung-ssi sedang malu? Wajah mu memerah. Kyeoptaaaa!!” Salah satu tangan Myun Hee mencubit pelan pipi Yesung. Dengan cepat namja itu membuang wajahnya, membuat Myun Hee tertawa pelan.

Myun Hee menyandarkan kepalanya tepat di bahu Yesung dan mengeratkan genggaman tangan mereka.

“Anggap saja kita sedang kencan, nee?” Yesung masih menyahut dengan gumaman pelan. “Kencan pertama dan terakhir,” tambah Myun Hee lirih. Yesung merasa jantungnya dihantam palu besar dan membuatnya merasakan nyeri yang sangat ketika kalimat terakhir Myun Hee masuk ke telinganya.
Sejak tadi otak Yesung tidak berhenti memikirkan bagaimana caranya mereka kabur dari kejaran klien dan juga organisasi tempatnya bekerja. Berbagai scenario sudah dirancang namja itu dengan harapan salah satu dari scenario akan berhasil.

“Yesung-ssi.” Yesung menoleh ke arah myun Hee dan mendapati yeoja itu menutup matanya. “Kapan kau tau aku adalah targetmu”

“Beberapa minggu yang lalu,” jawab Yesung jujur. Namja itu memutuskan tidak ada gunanya mengarang-ngarang cerita atau menutupi kenyataan mengenai pekerjaannya.

“Kapan kau berencana membunuh ku?”

“Aku mengatakan pada klien akan melakukannya pada malam natal.”

“Oh, geurae. Tapi aku rasa kau harus mempercepatnya. Sepertinya malam natal terlalu lama bagi klienmu.”

“Aku tidak tahu kalau klienku mengirim orang lain untuk mengejarmu. Aku baru menyadarinya saat akan menjemputmu tadi. Aku melihat ada dua orang mencurigakan yang mengawasimu. Saat aku konfirmasi pada klienku, ternyata dia memang meminta orang lain untuk melakukan tugasku.” Myun Hee membuka matanya dan menengadahkan wajahnya. Yeoja itu meletakkan dagunya di lengan atas Yesung.

“Kau bisa berbicara panjang lebar juga ternyata, eoh?” ucap yeoja itu dengan senyum tipis. “Relaks. Sudah ku katakan, anggap saja kita sedang kencan. Jadi, berhentilah memasang wajah tegang dan waspada seperti itu.” Yesung meneguk ludahnya, membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering saat ini. Wajah Myun Hee berada sangat dekat di hadapannya, sampai-sampi ia bisa merasakan udara hangat yang berhembus saat yeoja itu berbicara.

“N..nee,” sahut Yesung pendek.

“Senyum!” perintah Myun Hee. Namja itu berusaha menarik kedua sudut bibirnya, membentuk lengkungan di wajahnya. “Good boy.” Myun Hee tersenyum puas sambil menepuk-nepuk pelan kepala Yesung.

Myun Hee terus mengajak Yesung berpindah-pindah kereta hingga akhirnya jam munjukkan pukul 12.30 malam dan itu berarti jam operasi subway akan segera berakhir. Setelah cukup lama memutari kota Seoul dengan kereta, Myun Hee akhirnya mengajak Yesung keluar di salah satu stasiun.

“Yesung-ssi, kau punya berapa banyak uang cash?” Tanya Myun Hee saat mereka mulai melangkahkan kaki keluar dari stasiun subway.

“Beberapa puluh ribu won.” Yesung mengernyitkan alisnya, tidak mengerti kenapa Myun Hee menanyakan soal uang.

“Hmmm…. Kalau tidak salah di sekitar sini ada hotel,” gumam Myun Hee sambil mengendarkan pandangannya. “Ah, itu dia!!” Seru Myun Hee sambil menunjuk salah satu bangunan yang berada tidak jauh dari mereka. Myun Hee segera mengayunkan langkahnya menuju hotel yang baru saja ditemukannya, diikuti Yesung yang masih terlihat bingung.

“Uwaaah.. pemandangannya bagus juga dari sini!” Myun Hee berdiri di balkon kamar hotel yang baru saja merek asewa sambil memandang Seoul yang dihiasi lampu warna-warni.

“Masuklah. Udaranya terlalu dingin.” Yesung duduk di sofa yang berada tepat di depan balkon. “Kau masih bisa memandangi Seoul dari dalam sini,” tambah namja itu sambil menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya.

Myun Hee akhirnya menyerah dan masuk ke dalam saat angin tidak henti-hentinya memainkan rambutnya dan juga membuat yeoja itu mengigil. Tanpa ragu Myun Hee duduk di pangkuan Yesung dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher namja itu.

Cukup lama mereka berdiam di posisi yang sama. Hanya suara degup jantung dan tarikan nafas yang terdengar di ruangan tersebut. Yesung menutup matanya dan memeluk Myun Hee, merasakan panas tubuh yeoja itu yang beradu dengan panas tubuhnya sendiri. Memberikan sensasi yang baru kali ini dirasakan namja itu.

“Kira-kira berapa lama lagi sebelum kita berhasil dilacak?” Yesung merasakan udara panas menyentuh kulit lehernya saat Myun Hee membuka mulutnya.

“Kurasa empat atau lima jam lagi.”

“Kau tau siapa appaku dan kenapa aku harus di bunuh?”

“Ehmm.. appamu pimpinan mafia terbesar di Seoul-“

“Ddeng! Salah,” potong Myun Hee cepat. “Appa pimpinan mafia terbesar di Korea Selatan. Dan kali ini aku dijadikan target karena apa? Perebutan kekuasaan?”
Dari cara bicara Myun Hee, Yesung bisa menebak sepertinya ini bukan kali pertama Myun Hee mengalami hal ini.

“Eoh. Sepertinya klien yang menyuruhku menginginkan jabatan ayahmu.”

“Sudahku duga. Ini bukan pertama kalinya aku dikejar seperti ini.” Yesung mengangkat tangannya dan mulai mengusap lembut rambut Myun Hee. “Eomma meninggal juga karena di bunuh.” Suara yeoja itu terdengar bergetar saat menceritakan tentang ibunya yang tewas saat ia berusia 17 tahun dan sejak itu pula Myun Hee menjauhkan diri dari ayahnya. Mencoba hidup dengan normal, sebagai remaja biasa bukan sebagai anak seorang mafia.

“Ini tugas pertama mu?”

“Ani.”

“Tapi kenapa kau malah lebih tegang dari aku, eoh?” komentar Myun Hee dengan sedikit nada mengejek. Yesung terdiam. Dia tidak pernah merasa tegang saat harus melakukan tugasnya. Dia tidak pernah gagal dalam melaksanakan misinya. Tapi untuk pertama kalinya, namja itu merasa ragu dan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Myun Hee melepaskan lengannya yang sedari tadi melingkar erat di leher Yesung dan menatap namja itu lurus.

“Ini akan jadi pertemuan terakhir kita. Jadi, katakan padaku.” Awalnya Yesung hanya bisa menatap Myun Hee bingung, tidak tahu apa yang dimaksud Myun Hee. Yeoja itu meletakkan satu tangannya di dada Yesung, tepat di atas jantungnya yang masih berdegup tidak beraturan. “Ini kesempatan terakhirmu untuk mengatakannya, Yesung-ssi.”

“Jong Woon,” jawaban Yesung membuat Myun Hee bingung. “Namaku yang sebenarnya Kim Jong Woon.”

“Kim Jong Woon.” Untuk pertama kalinya Yesung merasa namanya terdengar indah saat diucapkan. Sudah sangat lama sejak namja itu mendengar seseorang memanggilnya dengan nama itu. Bahkan Eunhyuk yang sudah cukup dekat dengannya pun tidak pernah mengetahui nama asli namja itu.

Tangan Myun Hee berpindah menyusuri garis rahang Yesung. “Katakan,” ucap yeoja itu sekali lagi. Menghabiskan waktu hampir setahun dengan Yesung, membuat yeoja itu yakin Yesung juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Terlihat jelas dari cara namja itu memperlakukannya selama ini, meskipun dia kadang terkesan dingin. Yesung menatap Myun Hee lembut dan tersenyum sebelum membuka mulutnya, “saranghae.” Kata itu terdengar kaku saat diucapkan Yesung.

“Kau terdengar terpaksa mengatakannya.” Myun Hee terlihat merajuk sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ani.. ani.. aku tidak mengatakannya dengan terpaksa.” Yesung terlihat lebih panik daripada saat mereka mencoba melarikan diri sebelumnya. “Aku..” Namja itu meneguk air ludah dan mengambil nafas dalam, “…aku jatuh cinta pada mu.”

“Na do.” Sahut Myun Hee. Yesung tidak tahu bagaimana tubuhnya bisa bekerja bahkan tanpa ia perintahkan. Tanpa diperintahkan, kedua tangan namja itu menarik wajah Myun Hee perlahan hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam kecupan-kecupan singkat.

“Saranghae, uri Jong Woon-ie.” Myun Hee akhirnya kembali melingkarkan lengannya di leher Yesung, menarik namja itu dalam ciuman yang lebih panjang dan dalam. Setelah cukup lama, keduanya akhirnya melepaskan pagutan bibir mereka dengan nafas yang sama-sama terengah-engah. Yesung menempelkan dahinya dengan dahi Myun Hee dan tidak mengalihkan pandangan sedetik pun dari yeoja di hadapannya.

Myun Hee kembali memajukan wajahnya lalu menjilat bibir Yesung sebelum kembali mencium namja di hadapannya itu. Yesung memiringkan kepalanya dan memperdalam ciuman mereka. Namja itu kemudian mengeluarkan lidahnya hingga menyentuh belahan bibir Myun Hee, membuat yeoja itu membuka sedikit mulutnya dan memberikan akses pada Yesung untuk menjelajah rongga mulutnya. Lidah Yesung menyapu langit-langit mulut Myun Hee, dan yeoja itupun tanpa sadar mendesah pelan.
Seolah tidak mau kalah, Myun Hee menggerakkan lidahnya dan mengajak lidah Yesung bergulat di dalam mulutnya.

“Kau jago juga ternyata, eoh? Sudah sering melakukannya?” ucap Myun Hee setelah keduanya melepaskan ciuman mereka. Yesung mengusap saliva yang tersisa di sudut bibir Myun Hee. Namja itu memajukan wajahnya dan mulai menyusuri lekukan leher Myun Hee. Salah satu tangannya menarik pinggangan Myun Hee hingga tubuh mereka menempel hampir tanpa jeda.

Yesung mencium, menjilat dan menggigit leher Myun Hee, meninggalkan jejak di bagian tubuh yeoja itu. Sementara Myun Hee tanpa ragu mulai melepaskan jas yang dikenakan Yesung lalu melepaskan kancing kemeja namja tersebut dengan cepat. Sepasang namja dan yeoja itu mulai menyusuri tubuh pasangan di hadapan mereka dengan kedua tangan mereka.

Tangan Myun Hee mengusap lembut dada bidang Yesung sementara tangan Yesung masuk ke balik kaos Myun Hee dan mulai meraba perut Myun Hee kemudian naik ke dada yeoja itu yang masih terbalut pakaian dalam.

“Jong Woon-ah,” desah Myun Hee saat Jong Woon melepaskan pengait pakain dalam Myun Hee masih tanpa melepaskan kaos yang dikenakan yeoja itu, dan mulai meremas salah satu dada Myun Hee. Yeoja dalam pelukan Yesung itu mendadak menjauhkan tubuhnya dari Yesung, membuat namja itu terkejut.

“Sampai kapan kau akan menggodaku, eoh?” gerutu Myun Hee sambil melepasan kaos yang dikenakannya berikut pakaian dalamnya. Yesung menundukkan wajahnya dan mulai mengecupi dada Myun Hee, membuat yeoja itu tanpa sadar menekan kepala Yesung.

Yesung berdiri sambil menggendong Myun Hee dan berjalan menuju tempat tidur yang terletak tidak jauh dari sofa tempat mereka bercumbu sebelumnya. Dengan perlahan Yesung membaringkan Myun Hee di tempat tidur. Selama beberapa saat Yesung hanya terdiam memandangi wajah Myun Hee.

“Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Apa kau akan marah?” Myun Hee terkekeh pelan mendengar pengakuan Yesung yang terdengar seperti anak kecil yang baru saja memecahkan vas kesayangan ibunya. Myun Hee menangkupkan tangannya di wajah Yesung.

“Dengan yeojachinggumu?”

“Ani,” Yesung menggeleng. “Terkadang dengan rekan kerjaku atau dengan wanita yang aku temui di club.”

“Kau tidak pernah mempunyai yeojachinggu?”

“Opso.”

“Jadi aku yang pertama?” senyuman Myun Hee terlihat semakin lebar saat Yesung mengangguk.

“Malam ini… apa kau melihatku sama seperti saat kau melihat yeoja yang pernah bersamamu?” tanya Myun Hee lagi.

“Aku menginginkanmu bukan hanya karena tubuhmu. Aku menginginkanmu bukan karena aku sedang bernafsu untuk melakukan itu.” Yesung meletakkan salah satu tangan Myun Hee di dadanya yang tengah berdegup kencang. “Aku menginginkanmu karena setiap sentuhanmu selalu terasa berbeda. Setiap sentuhanmu selalu bisa membuat dadaku bergemuruh tanpa bisa aku kendalikan. Aku ingin merasakan sentuhanmu di seluruh tubuhku. Apa aku terdengar seperti lelaki mesum?”

Myun Hee terkekeh pelan. “Tidak apa. Aku juga menginginkanmu karena alasan yang sama.”

Myun Hee menarik wajah Yesung dan langsung melumat bibir namja itu dengan segala rasa yang ia miliki. Tanpa bisa menahan dirinya, Yesung membalas ciuman Myun Hee. Membiarkan yeoja itu mengecap semua perasaan yang ia miliki saat ini.
Myun Hee mendorong tubuh Yesung hingga akhirnya namja itu berada di bawah Myun Hee. Sebuah seringai muncul di wajah cantik Myun Hee.

“Aku ingin melihat seperti apa kau bereaksi jika aku benar-benar menyentuh seluruh tubuhmu,” ucap Myun Hee sebelum melepaskan celana dan boxer Yesung sekaligus. Yesung menahan nafasnya selama beberapa saat ketika udara dingin yang berasal dari AC bersentuhan dengan miliknya yang sudah menegang semenjak beberapa saat yang lalu.

Myun Hee mengulurkan salah satu tangannya dan mulai menyusuri wajah Yesung.

“Matamu benar-benar bisa membuatku selalu terpaku padamu. Kau tahu itu?” ucap Myun Hee sembari menyentuh kedua kelopak mata Yesung. “Kau memiliki bibir yang terlihat seksi. Membuatku ingin menciummu terus menerus.” Myun Hee memajukan wajahnya dan mengecup bibir Yesung singkat.

“Lehermu adalah bagian tubuhmu yang paling aku sukai.” Jemari Myun Hee mulai turun ke leher Yesung. Sesekali yeoja itu mencium leher Yesung dan mengigitnya.

“Aku sudah menduga kau punya tubuh yang bagus.” Jemari Myun Hee berputar-putar di perut rata Yesung sebelum akhirnya naik hingga dada namja itu dan mulai memainkan kedua tonjolan sensitive di dada Yesung, membuat namja itu menutup matanya dan mendesah pelan. Menikmati reaksi Yesung, Myun Hee mengecupi setiap bagian tubuh bagian atas Yesung selama beberapa saat.
Myun Hee mulai mengusap lembut paha Yesung, membuat nafas namja itu semakin tersengal-sengal karena nafsu yang semakin memuncak. Sentuhan Myun Hee selalu bisa membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya dan kali ini setiap usapan serta ucapan Myun Hee membuat Yesung kehilangan kendali atas otaknya.

“Myun Hee-ya!!” lenguh Yesung saat yeoja yang dipanggilnya itu memasukkan miliknya ke dalam mulut Myun Hee dan mulai menggerakan mulutnya naik turun. Tanpa sadar Yesung menggerakkan pinggulnya, membuat Myun Hee tersedak karena ujung miliknya menyentuh ujung tenggorokannya. Myun Hee mendelik ke arah Yesung kemudian menahan pinggang namja itu, memastikan namja itu tetap di tempatnya.

“Mianhe~ aaah….,” ucap Yesung di sela desahannya karena apa yang sedang dilakukan Myun Hee. Yesung menggeram protes saat Myun Hee mengeluarkan miliknya dari mulut yeoja itu tepat saat ia hampir mencapai klimaksnya.

Myun Hee melepaskan celana yang masih ia kenakan bersamaan dengan celana dalamnya yang entah sudah berapa lama basah. Yeoja itu masih berada di atas Yesung dengan bertumpu pada kedua lutut dan tangannya.

“Aku sudah pernah melakukannya. Apa kau akan cemburu?” tanya Myun Hee hati-hati.

“Dengan namjachinggumu?” Yesung bertanya balik seraya mengusap wajah Myun Hee yang mulai basah karena keringat.

“Eoh.” Yesung mengangkat tubuhnya hingga Myun Hee terduduk di tempat tidur dan Yesung berada di pangkuannya. Namja itu menumpukan tubuhnya pada kedua kakinya di tempat tidur, berusaha agar tidak membebani Myun Hee.

“Tidak apa. Aku tidak perduli dengan siapa kau melakukannya dulu. Karena aku akan membuatmu melupakan apapun malam ini kecuali diriku,” jawab Yesung yakin sebelum mengarahkan miliknya pada tubuh bagian bawah Myun Hee. Dengan perlahan namja itu memasukkan miliknya.
Myun Hee meringis pelan saat merasakan sesuatu mulai mengisi tubuhnya. Ini memang bukan yang pertama kalinya bagi yeoja itu tapi sudah cukup lama dia tidak melakukan ini. Bagi Myun Hee, kegiatan ini hanya akan dilakukannya dengan orang yang dicintainya dan Yesung adalah namjachinggu pertamanya setelah hampir dua tahun putus dengan namjachinggunya yang terakhir.
Yesung menggerakkan miliknya perlahan, memberikan waktu pada Myun Hee untuk terbiasa dengan dirinya.

“Fasss..teeer, Jong Woon-ah….,” racau Myun Hee saat yeoja itu mulai merasakan kenikmatan yang ditimbulkan milik Yesung. Dengan patuh Yesung menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi, membuat Myun Hee tanpa sadar melengkungkan tubuhnya dengan mata terpejam erat. Tanpa ragu Yesung mengulum dada Myun Hee, membuat yeoja itu semakin melayang.

Seolah tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri, Myun Hee menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan membiarkan Yesung bergerak tanpa henti di dalam tubuhnya.

“Aaan… Woon-ie… ah,” desahan Myun Hee semakin membuat Yesung bergerak lebih cepat, menusuk tubuh yeoja itu tanpa henti.

“Aku tidak tahan lagi,” ucap Myun Hee.

“Sebentar lagi,” Yesung yang juga merasakan dirinya hampir sampai pada puncaknya memacu dirinya lebih dalam lagi memasuki Myun Hee.

“Jong~ aku.. aaaahhh,” lenguh Myun Hee saat yeoja itu akhirnya mencapai orgasmenya. Yesung menggerakkan tubuhnya semakin cepat hingga akhirnya namja itu mengeluaran cairannya di dalam tubuh Myun Hee tidak lama kemudian.

Yesung mengeluarkan miliknya dari tubuh Myun Hee kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Myun Hee. Tubuh keduanya bersimbah peluh dan mereka masih berusaha mengatur nafas yang berantakan. Myun Hee memiringkan tubuhnya lalu melingkarkan lengannya di pinggang Yesung, memeluk tubuh namja itu.

“Saranghae, Jong Woon,” gumam Myun Hee seraya menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Yesung.

“Saranghae, Myun Hee-ya,” sahut Yesung.

Keduanya terdiam cukup lama dalam posisi yang sama. Tidak ada yang ingin berbicara. Bagi mereka, saat ini diam bermakna lebih dalam dari setiap kata yang diucapkan. Silence speaks more than words.

.
.

Myun Hee duduk di pangkuan Yesung. Keduanya baru saja menikmati makanan yang dipesan beberapa saat yang lalu. Myun Hee memainkan kerah kemeja yang kembali dikenakan Yesung setelah mereka mandi
.

“Jika kau membunuh seseorang, tembakan di bagian mana yang bisa membunuh dalam sekejap?” Yesung mengernyit mendengar pertanyaan Myun Hee, namun ia tetap menjawab.

“Jantung.”

“Geurae?” Myun Hee beranjak dari pangkuan Yesung menuju jas yang tergeletak di samping sofa. Yeoja itu menarik keluar pistol berukuran sedang yang sudah cukup lama digunakan Yesung dari saku bagian dalam jas.

“Myun Hee!” Yesung terlihat panik, namun yeoja itu hanya tersenyum simpul. Myun Hee kembali duduk di pangkuan Yesung lalu meletakkan pistol ke dalam genggaman tangan Yesung dan mengarahkannya tepat di jantung Myun Hee sendiri.

“Satu kali tarikan. Dan pastikan kau tidak meleset.” Perintah Myun Hee sembari mengarahkan jari Yesung pada pelatuk pistol. “Wae? Lihat aku dan jangan merasa ragu.”

Yesung menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku sudah lelah berlari seperti ini, Jong Woon-ah. Jika aku memang harus mati karena dibunuh, setidaknya aku ingin kau yang melakukannya.”

“Kita bisa kabur dari sini.” Suara Yesung terdengar lebih parau dari biasanya. “Aku akan mencari jalan agar kita bisa keluar dari Korea.”

“Ani.” Myun Hee menggeleng. “Aku terlalu lelah untuk menghindar lagi. Dengan membiarkanmu melakukan tugasmu, aku bisa mati dengan melihat wajahmu. Itu jauh lebih baik daripada aku harus mati di tangan orang lain dan melihat wajah asing yang hanya menatapku tanpa ekspresi.”
Jemari Yesung mengusap lembut pipi Myun Hee yang mulai basah karena air mata. Namja itu merasakan tubuhnya ditarik dalam pelukan Myun Hee dan sesaat kemudian Myun Hee mulai mengecup bahu Yesung, naik hingga ke leher, pipi, ujung hidung, dan berhenti di bibir Yesung.

Yesung menarik tengkuk Myun Hee dan memperdalam ciuman mereka. Namja itu menutup matanya erat saat merasakan tangan Myun Hee menggenggam erat tangannya yang memegang pistol dan jari yeoja itu yang berada tepat di atas jarinya yang berada di pelatuk pistol. Hanya perlu satu tarikan dan suara nyaring letusan pistol terdengar memenuhi ruangan tersebut.

Yesung melonggarkan pelukan dan menatap Myun Hee yang mulai kehilangan kesadarannya itu. Nafas yeoja itu semakin terdengar berat. Yesung menundukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di atas bibir Myun Hee yang mulai terasa dingin, dan hanya berselang beberapa detik, suara letusan
kembali terdengar di ruangan tersebut.

.
.

24 Desember. Di suatu pagi di musim dingin.
Tubuh seorang yeoja dan seorang namja ditemukan di sebuah kamar hotel dengan peluru yang bersarang di jantung keduanya. Keduanya tewas dalam keadaan saling memeluk erat satu sama lain.

Finally, an eternity for us.

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 14/10/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 245 Comments.

  1. Scorpio Girl

    So sweet bgt

  2. kerenn thor!!!!!!!!!
    suka bgd ma ff ini!!! 🙂

  3. pas baca ff nya antara rasa sedih, senang, tegang campur aduk rasanya, author daebak bisa buat saya bingung rasanya pas baca 😀

  4. i can’t say anything!!! 😦
    good job lah buat mu lovely author 🙂 🙂

    keep writing 🙂

  5. Gak nyangka ffnya ini ada versi nc-nya hihhiiii…diatas tulisannya fail nc, tapi nyatanya enggak!!
    Udh prnh baca yg versi non nc-nya, tp tetep aja sedihnya kerasa hahaha :’)

  6. seul gi-park

    sweeet bgt …

  7. ini ff ter so sweet yang pernah aku baca…. aku bacanya sampai nangis nangis gaje + teriak teriak gaje gara gara terharu….kenapa myun hee sma yesung harus tewas dulu sebelum mereka merasakan cinta yang sebenarnya…. Huaaa….Huaaa…. *Nangis

    Daebak buat authornya tetap semangat dan terus berkarya…. ^_^

  8. Hwaaaa, sad tapi happy *loh* good dehh

  9. sofi fauzet

    ah ini…. ya ampun. ff nc yg gak fokus ke ncnya. daebak. hiwww uri woonnie~

  10. Sedih+serem ceritanya , ternyaata sad ending , 😦

  11. so sweet banget, kisah cinta mreka bener” miris banget.
    Tegang baca nih FF .. Tp feelnya dpet bgt. Sedih banget liat mrka mati seperti itu :((

  12. Huuaahh.. Daebakk :’) terharu bacanya 🙂
    Nice thorr.. 🙂

  13. Sedih bener crtny thor. Ъќ>:/ rela yeppa meninggal. Np Ъќ>:/ ∂ĩ buat happy ending ªjª thor#banyakbacot. Tp ceritany ✽ϐªªƍ◦° •˚◦υSs ☞ ✽ koq thor sad ny dapat bener.

  14. tbh aku paling benci angst :” tapi… pas baca yg ini.. euummm eummm eummmm jadi berasa ff yg happy ending aja gitu ;-; gak tau kenapa deh 😀
    hahahaha
    oiya mau kritik dikit yaa thor, yg di awal awal menurutku sih alurnya agak kelamaan. jadi pas awal awal agak “bored” baca ._. tapi over all bagus banget kok sumpah 😀
    pilihan ending yg sangat tepat. dua duanya mati :”””

  15. yah..meninggal semua hua..knp jadi sad ending sih…

  16. So sweet,, cinta smp mati
    😛

  17. endingnya bwt dadaku bergemuruh… ini keren thor..

  18. ff nya keren banget thor,feelnya dapet ,ditunggu karya lainnya ya
    semangat thorr ^^

  19. Nathalie park

    Kisah’y tragis bgt…krn g mw sling k’hilangan akhr’y mreka mutusin bwt ng’akhrin hdp mreka sama”..
    crta’y bgz,alur’y jg g trlalu kcptan dan feel’y dpt…

  20. Omona gak ngebayangin gimana kerennya seorang yesung kalo jadi pembunuh bayaran
    Ff nya keren banget min nc sama sad romancenya dapet banget feels nya good job

  21. thx tlh posting ff mu ini di yffi, sy dah lama jd reader mu, sempat hilang alamat blog mu. senang bs ketemu lg.

  22. so cool,, god job bwt author’y

  23. s0 co0l,god j0b bwt author’y

  24. whuaawawawawa,,,, hikz,,,hikz,,,, 😥 😥 sedih bangetz sich,,, merinding bacanya,,,
    itulah kekuatan cinta,, bisa membuat orang lupa akan segalaya dan rela melakukan apa saja,,,

    Kim joong won Fighting,,,,

    Ddaaaaaaebak buat author,,,, ♥♥♥♥

  25. saeeeng…haeee….

    unni sdh lamaa bgt gak main ke blog milik mu

    pas baca ini…haebaragime….ooooooowww….

    its too long……

    sediiiihhhhhh………. saeeeng!

  26. aq udah baca d blognya…tpi d sni ada NC nya huaaaaa…hiks…hikss..
    *lap ingus nremg kyuppa*… ttp aja ngeshhh bacanya…:'(

  27. Thor satu kata utk Mu “DAEBAK”
    FF mu mmbuat q mnitikan air mata,,,,;(
    Gx tau lg mau bilang ap….:D

    OH… Anyeong aq reader baru nih, salam kenal:)

  28. akhir yg mengenaskan thor 😥
    ttapi sumvah thor keren abis

  29. Mentari Nahraisha

    Huwahh,, ceritanya sedih,, ending yg tragis, tapi keren min saya suka suka ^^
    Daebak buat author!!!

  30. Wuah daebakkk

  31. huwaaaa ff nya sedih .. apa lagi yg pemeran nya yesung my bias .. sikapnya dingin bgt trus cuek ehh ternyata yesungnya yadong nya jago yak hehe .. ff nya KEREEENNN

  32. Yesung..!!
    love bgt sma ff’a…kerreeenn….
    next FF..Ditunggu ya 🙂

  33. Romantisnya,,,,,,,,,,,,,
    Author,kau berhasil membuat ku menangis T_T

  34. ghaldaefflina

    wah ini ff keren banget salut buat author yang buat ini ff, ^^ ~daebak~

  35. sumpah ceritanya DAEBAK! Banget,sekaligus mengharukan……

  36. Kereeeeeeennn (y) …sad ending yg menharukan (y)

  37. Kereeeennn (y) sad ending yg mengharukan (y) soromatis thour (y)

  38. kerennnnnnnnnn banget aku jadi kangan sama yesung huahh T-T
    sad ending yang mengharukan
    DAENAK LAH POKOKNYA 🙂

  39. wah…
    bagus bgt ceritanya…
    Kereeeeennn..(y)

  40. Daebak,, keren-keren!!! Ak suka, walau agak jijik pas baca yadong ny tp ak suka jalan cerita nya.. I like it min.. Daebak daebak.. 😀

  41. Hideyasu Kumori

    waaah panjang ya ceritanyaaaa…awalnya ampe ga bisa nebak ini jalan ceritanya bakal kaya gimana soalnya pas di awal tuh sweet banget deh penggambarannya tuh taunya endingnya tragis gini,hoho…rangkaian kata2nya bagus mudah dicerna tapi masih ada sedikit puitisnya, like it! Keep writing thor!

  42. DAEBAAAKK endingnya keren banget..aku terharu:’)….padahal bagus banget kalo mereka ga meninggal…keep writing yah thor^^

  43. Sedihhh,,, keduanya meninggal

  44. menegangkan… tapi so sweet 😀

  45. wah daebak thor
    q bingung mw bilang sad ending or happy ending, masalahnya q seneng mereka mati bersama #ditimpuk cloud, but sad too waktu bacanya #plinplan ._.v

    annyeong q reader baru… 🙂

  46. syang bgt sad ending

  47. Kok aku ngeri yah bacanya 😮 tapi ini cerita bagus thorr, alurnya juga gak kecepetan. Author jjang!! 😀

  48. Kanapa harus sad………?????
    Q benci BANGET sama sad ending.

  49. sad endingkah? terharu dgn kebersamaan mereka.. tapi aq rasa gak adil mereka mati.. kan bru mulai cintanya..

  50. baaaguuus…. tapi kenapa endingnya sedih sekaaali?? 😥 cast utamanya dua2nya meninggal, jadi ga bisa minta sequel >,<
    feelnya dapet, alurnya juga pas. diksi bagus, nc-nya jg ga vulgar. ide ceritanya juga bagus, TOP deh author. sukaaa sukaaa
    ditunggu karya2 selanjutnya 🙂 Fighting!

  51. Uaa endingnya keren dan mengenaskan(?)
    So Sweet sumpah thor,Yesung ikut mati bareng yeoja yang dicintainya 😥
    Daebak !

  52. Endingnya so sweet meskipun sedikit mengenaskan dan menyesekkan(?) ._.
    Yesung ikut bunuh dirinya sendiri nyusul yeoja yang dicintainya T_T
    Jalan ceritanya keren thor dan NCnya pas lah gak kurang gak lebih *hasek
    Daebak FFnya,saya suka saya suka 😀

  53. Endingnya so sweet meskipun sedikit mengenaskan dan menyesekkan(?) ._.
    Yesung ikut bunuh dirinya sendiri nyusul yeoja yang dicintainya T_T
    Jalan ceritanya keren thor dan NCnya kurang hot ._. Tapi karna saya terlalu fokus ama ceritanya jadi gak masalah *nah loh
    Daebak pokoknya FF kamu thor
    saya suka saya suka 😀

  54. Srie_wonnie407

    Huwwwaaaa….OMG !!!
    I’m syok mrka mnggal, bner2 tragis but over all its so good 😉

  55. Intan Andini a.k.a Tan Andini

    suka banget sama karyanya Author Haebaragi >< tidak mendahulukan yadongnya. waktu itu yang Siwon sama istrinya yg ragu ngelakuin itu. sekrang ini huwaaa Sweeeet banget thor

  56. wahh terharu… aku suka sekali ma critanya.. ditunggu karyamu yg lain thor….

  57. ahhh saking cintanya sampe berakhir tragis gtu…
    hoaaah menegangkan!! keren thor..
    yesung oppa pelit bgt senyum, hahha

  58. cinta yg tragis…
    sehidup semati.. aiiih..

  59. Oh my.. 😦 nih tragis bgt kyak romeo n juliet 😥 gilakkkkkk keren sumpah sad end yang lngkah T_T i like this epep ap lg cast nmjax nae yoebo :’D

  60. OMO!!yesung bunuh diri??
    Feelnya dpt bgt~ sedih bayanginnya..bgtu yesung ud nemu cintanya malah d suruh ngebunuh tuh cewek..
    RIP yesung n yeoching..

  61. keren thor

  62. Ya ampun aku sampai merinding bacanya. Ending nya bikin nangis

  63. bagus thor , jalan cerita yang bagus sampai sampai ikut merasakan kesedihan myun hee

  64. Ah..kasian T^T
    but ff nya keren :3

  65. Ya ampuunn….bikin nangis kisahnya sungguh mengharukan…………( ⌣̩_⌣)

  66. dalem bgt. . .ckckck

  67. YesungieMyLove

    SUMPAH, DAEBBAK bangeet Thour,

    SUKA BANGET krna Pemerannya YESUNG,

    SUKA banget Sama Karakter YeSung Di Situ.. Sangat Terkesan Cool AbieZz 😀

    HOT bnget.. 😀

    AKHIR KISAH CINTA YANG SEMPURNA, NAMUN TRAGIS -_-

  68. omg walaupun NC tapi sumpah keren banget…
    jarang2 ff nc yg bikin nangis gini :’)
    so sweet bgt.. keep writing thor 😀

  69. wiwied_chan

    huhuhu… kok gini??
    kenapa sad ending..
    huhuhu.. eonnie harus tanggungjawab krn bikin aku mewek! :p
    tdi plg nda mereka mati bersama2 n sudah mengetahui perasaan masing2…
    di tunggu ff lain2ny, eonnie..
    gomawo.
    ^^

  70. kaka bagus masa aku kira dia bakal dibunuh sama orang lain tapi so sweet *eh

  71. So sweet tpi kejam dan sangat tragis

  72. Awalnya agak ngebosenin, tapi makin kebawah makin keren. Jadi terharu, kaya kisahnya romeo & julliet

  73. ok very long story thor 🙂

    alur cerita diawal agak sdikit bingung karena karakter yesung yg misterius…. apalagi pas perpindahan wktu or musim yg tiba2.. dari malam natal ke awal februari n etc… jd jd agak sdikit bingung sma waktu yg kosongnya itu… #entahlah aq kli ya thor yg gga mudeng…hehehe#

    untuk feelnya udh ok,,, tp masih ada beberapa typo yg bertebaran….

    death ending,, ga memaksakan mereka bersatu 😉 …. Good story thor,,, mian sm komentar yg tak jelas ini 🙂

    kpn2 aq berkunjung keblog mu thor ^_^

    • Hohoho
      Gomawooooo
      Dicatet semua komennya 🙂

      Yg waktu jeda itu ceritanya mereka menjalani hidup masing2.. ga ketemu

      Typo… haha.. mian.. ntar di cek lg

      That’s the best ending i thought for them…
      Ditunggu di blog 🙂

  74. hydrilla verticillata

    Kereennnn, ff terkeren yg pernah ak baacaaa

  75. salsha_arali

    Kereeennnn. Beda banget sama ff pada umumnya *tsaahhhh. Ditunggu ya karya selanjutnya 😀

  76. galih vinda

    daebakk thor!!!!! aku suka…..aku suka…..

  77. hatake andrion junior

    omo.,spicles lah,hdp mrk trags bnr yak,

  78. Melaniikaelf

    aduh cie cie so sweet

  79. so sweet ka, sedih banget baca endingnya……….
    pkoknya aku sukaaaaaa deh =D 🙂

  80. Ryeongkie 92

    Romantis..
    Inilah nama.a Cinta Mati alias Cinta sampai Mati hehhehehe Keren bnget cerita.a

  81. Omona bener2 so sweet thor sampai bikin aku nangis terharu :’)
    enggak bisa bilang apa2 selain DAEBAK!

  82. huah cerita dg alur yg pas dan menegangkan pula! penggambaran yesung yg misterius bikin penasaran, dan cerita myun hee pun punya kesan tersendiri. aku suka saat mereka “melakukan”, romantis dan saling jujur hehe. aku suka endingnya juga 🙂

  83. Keren bgt,mati bersama. Trus berkarya ya thor. 😀

  84. aku selalu suka sama setiap fanfic yang author buat. penulisan yang rapi dan mudah dimengerti, alur cerita pas, banyaknya diksi yang bikin fanfic ini ga ngebosenin, dan jalan cerita yang terkesan ringan tapi sebenernya penuh konflik juga karakter yesung, yang dingin tapi perhatian emang cocok *senyum senyum sendiri*

    dan aku suka cara penyampaian author nulisin bagaimana mereka bercinta, sangat manis dan ga buat aku ilfeel 🙂

  85. Huuaaa DAEBAK!! Sampe mewek aaaaa:'( author hebat banget! Aaaaa:'( yesung oppa~ aaaa myun hee~ mereka so sweet banget:’)

  86. Huuaaa DAEBAK!! Sampe mewek aaaaa:'( author hebat banget! Aaaaa:'( yesung oppa~ aaaa myun hee~ mereka so sweet banget:”)

  87. rizka zuliana

    Author!!!
    alurnya mantap bingit
    meski ada typo dikit 😀 *abaikan*
    makasih udh buat aku nangis 😦 😥

  88. Endingnya tragis tapi so sweet, mati berdua karena engga mau dibunuh orang lain, kecuali sama orang yg disayang 🙂

  89. aaaaaa kereeennn ><
    kirain awal baca ngga NC pas diakhir NC walopun ngga fulgar tp tetep dpt feel-nya kkkkkk~
    sumpah so sweet banget ini ff-nya, cinta mati :")
    yaampun myun hee salut rubah sifat yesung yg dingin jd ceria :p
    daebak '-')9
    keep writing eon \m/

  90. Saya reader baru
    Wow so sweet

  91. inspirasi..
    mian baru baca full..
    kekeke

  92. Ya ampun tragis bgt >.<
    Sedih jadinya T~T
    Keren Thor ceritanya, Daebak! 🙂

  93. Jubaedah siwonest

    Aish…!!!
    Ayah macam apa itu, yg rela ngebunuh keluarga nya sendiri demi bisnis..

    Huwa… Daebakk!!!

  94. Plisssss ini keren ;__; , owhh yesunggg . Daebakk torrrrrrr . Haha . Lanjutkannnnn ff mu tor ,

  95. Eonnniiii,, aku nyasar ke sini karna buntuttin eonni..
    Hahahahhaha
    Shooooockkkk
    Disana aku nangiiis kejer,,, disini aku gelepakkan di lantai
    Hahhahaha
    Aduh versi yang ini tuh,, gmna yaa,,, pkonya uwow,, hahahha
    Cari judul lain ahhhh,,
    Sapa tau ada yg versi gini gy,, *yadong-ON

  96. Excelent! Keep writing!

  97. Author…. Sumvah q tereak histeris bca ni ff aplg pas endingnya… Huahh…..

    Pokoknya seru bnget… Daebak…. Mskpn sad ending q suka bnget…. Nyesek2 manis /?

  98. eoh,,,,!!!! super daebak,,,,q sk sk yg NC gni gk trllu wahhh gto,,,,akhir. yg tak d hrapkan,,,y itlah hdup tdk sllu brkhir happy end,,,,ad klanya cinta tdk slnay brkhir yg kta ingnkn,,,cinta sejati….tdk hrus brsma d dunia,,,author yg bkin daebak…..fighting

  99. endingnya kerennnn….kaya romeo juliet tp ini lbih drmatizzzz

  100. Anna El Haera

    endingnyaa euhh nyeseeekkk aieee…T.T nangiss sayaaa !! Nicee thorrr….

  101. daebak daebak… keren banget ceritanya… :’)) aku terharu…. tapi sedih soalnya mereka berdua tewas huwaaaaaaaaa :'((

  102. astagaa thor gilaaakk ini fanfictnyaa dalem nyucuk bnget . serasaa nntn film layar tancap/?
    omaygat, seru bngtlah, walawpun sad ending, seruuu abisss !!!!!!! =)

  103. choi PinkPink

    Annyeong thor..aku reader baru.Ni ff pertma pny mu Чǝлƍ aku baca.
    Bguuss bgt! Wlpun ad NC nya tp ga bkin ff ni ngbosenin/monoton.critanya kereeenn bgt!! Akuu sukaaa..daebak thor!
    Smga ad ff2 dari mu ƪά̲̣ƍϊ Чǝлƍ bs aku baca.keep writting..fighting..gomawo 🙂

  104. Aaaaaaa ffnya keren bangettt>_< seruu, romantis, alurnya ga ngeboseninnnn<33 terus berkarya ya thor^^~

  105. ini happy ending yg gabisa dibilang happy*halah -_-
    endingnya berkesan.good job authornim^^

  106. Porsi ceritanya pas, alurnya nice.. Bikin penasaran ^^
    Akhirnya juga gak maksa,, over all it’s …. Sweet story ^^

  107. Woaaa~ author kya pnulis profesional nc,
    pnggunaan kta2 nya sgt pas, jd bkin feel nya dpt,
    mskipun nc tp g melulu fokus “ksitu”, jln crta nya jls,
    sungguh mengharukn…:'(
    yesung COOL, author DAEBAK…
    Tetep smangat nulis ya, d tnggu trus2 krya2 nya, ,hehe
    btw, q reader baru, salam kenal… 🙂
    mian kpnjangn komen nya 😀

  108. Woaaa~ author kya pnulis profesional nc,
    kta2 nya sgt pas, jd bkin feel nya dpt,
    mskipun nc tp g melulu fokus “ksitu”, jln crta nya jls,
    sungguh mengharukn…:'(
    yesung COOL, author DAEBAK…
    Tetep smangat nulis ya, d tnggu trus2 krya2 nya, ,hehe
    btw, q reader baru, salam kenal… 🙂
    mian kpnjangn komen nya 😀

  109. Huaaa:””(kok sdih sihhhh

  110. uwaaa… endingnya kaya cerita Romeo&Juliet..
    AUTHOR JJANG 🙂

  111. se enggaknya. mereka setia sampai akhir TT Kerennnn

  112. MarchMay Lovering

    Oh tidaaakk so sweett romeo and juliet asli ni mah…

  113. anggiewienda

    So sweet,,
    Daebakk thor ff nya,,
    Ending nya bisa bikin aku nangis 😦

  114. Cukup tragis jg kisah cinta.y,,, tapi keseluruhan cerita.y kereeeen..

    Author keep hwaiting.. ^_^

  115. q bener2 puas (?) bacanya
    ini waaaawww
    daebakk buat authornya. .

  116. ahhhh sumpah demi apapun aq suka ff mu thor walau harus berakhir sad ending malahan tragis but aq seneng gg ngerasa kecewa 🙂
    dan aq suka bgt am alur ceritanya gg terlalu cpet gg terlalu lama , suka suka suka ❤

  117. mati bersama akhirnya .

  118. uuuh.. Critanya keren banget thor.. Neomu Daebak Authornya (y) keep writing ye thor 🙂

  119. Wa~~~ Ceritanya bagus
    Author nya hebat 😉 (y)

  120. bingung nih sadend atau happyend…

    tapi ffnya keren thor 🙂

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: