Chocolate Lovely (WonSung Couple)

siwon ff nc
1. Author: N/M

2. Title: Chocolate Lovely (WonSung Couple)

3. Type: Straight, Romance, NC 17

4. Casts: Choi Siwon (Super Junior), Min Sung Hyo (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… We’re back again. Kali ini kita mau mempersembahkan FF Siwon.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya ^^

_____

Rolls Royce Silver Shadow tahun 1970 pesanan Siwon sudah terparkir dengan apik di halaman rumah megahnya, bersandingan dengan mobil-mobil lain. Sunghyo menemukan pemandangan itu dari jendela ketika berjalan menuju kamarnya. Ia langsung menggertakkan gigi-gigi gerahamnya, meringis. Itu mobil langka yang dijanjikan Siwon untuk diperlihatkan kepadanya. Dan ia telah melewatkan kesempatan untuk meninjau mobil itu dari dekat. Lebih-lebih, ia sudah mengecewakan; tidak menghormati usaha Siwon yang telah menyediakan mobil itu.

Sunghyo menelan ludah tatkala ia sudah berada di depan pintu kayu eboni yang sejak tadi menggelisahkannya, pintu kamar mereka. Pun Sunghyo membukanya sepelan mungkin.

Terlihat olehnya kamar yang sudah ia tempati dua hari belakangan. Perabot dan dekorasi bertemakan klasik yang sebagian besar beronakan hitam perak itu tertata rapi. Yang paling menonjol adalah ranjang berukuran king-size yang tengah ditiduri oleh sang empunya kamar, Siwon. Kasur itu sangat pas dibaringi oleh tubuh jenjang itu.

Sunghyo mengendap-endap, berusaha membuat suara sekecil mungkin, saat ia menutup pintu dan beranjak ke pembaringan itu. Ia mengecek beberapa kali apa kedua mata besar Siwon tetap tertutup selama ia menjalani proses mendudukkan diri lalu merebahkan tubuh.

Tatkala ia sukses melakukan itu semua, lalu mengeluarkan napas lega, suara bariton ini mengejutkannya, “Sudah pulang, lovely?”

Terlonjak, Sunghyo lalu mengedarkan penglihatannya pada Siwon yang sedang menatapnya. Mata besar nan teduh milik Siwon mencermati raut muka Sunghyo yang segera saja gugup.

Keduanya terdiam cukup lama. Hingga Siwon berujar, “Rolls Royce-nya bisa kita lihat besok pagi. Sekarang, istirahatlah,” kemudian memejamkan matanya kembali.

Syok segera terlukis di wajah Sunghyo. Bukan karena Siwon yang rupanya belum tidur dan kemudian menyapanya sehambar itu, melainkan karena sikap tak acuh Siwon. Biasanya, Siwon akan menanyakannya banyak hal kepadanya, terlebih hari ini, dimana Sunghyo menghilang tanpa kabar.

Kemana saja ia seharian ini? Mengapa teleponnya tidak diangkat? Mengapa pesan teksnya tidak dibalas? Kenapa tidak memberi kabar?

Sunghyo sesungguhnya sudah mengira akan memperoleh pertanyaan-pertanyaan itu sejak tadi. Dan ia merasa miris karena itu. Tapi ia sudah menyiapkan jawabannya, meskipun ia kurang yakin kalau ia akan menjawabnya dengan tidak terbata-bata saat menghadapi wajah cemas Siwon. Kecemasan Siwon itu akan membuatnya merasa bersalah. Oleh sebab itu, ia hanya berharap Siwon sudah tidur, lalu menanyainya pagi-pagi, dimana Siwon sudah lebih segar, sehingga kecemasannya sudah berkurang, dan rasa bersalah Sunghyo menjadi tidak terlalu maksimal.

Akan tetapi, inilah yang terjadi; Siwon mengabaikannya, seperti sedang marah kepadanya.

Bukan rasa bersalah lagi yang hinggap di hati Sunghyo kini, tapi guncangan.

“Siwon…” Sunghyo memanggil dengan gelisah.

“Hm,” Siwon membalas, masih dengan mata tertutup.

“Kau marah, ya?” tanya Sunghyo.

Siwon membuka matanya, lalu menampilkan senyum dari bibir tipisnya, “Tidak, lovely,” sahutnya seraya mengusap lengan Sunghyo yang berjaket tebal, “tidurlah.”

Dengan patuh, Sunghyo meletakkan kepalanya di dekat kepala Siwon. “Apa kau sedang lelah?” tanya gadis itu dengan suara kecil dan tertahannya.

Anggukan satu kali dilancarkan oleh Siwon.

Sunghyo menggigit bibir tebal nan mungilnya, menonjolkan roman muka risau. Ia mencoba menahan sebisanya, namun ia tak kuat untuk kembali mencari tahu kondisi hati dan pikiran Siwon sekarang. “Omong-omong, apa saja pekerjaanmu hari ini? Melakukan performance dengan Super Junior? Atau pemotretan? Atau mengikuti reality show?” Sunghyo tahu ini perbuatan menyebalkan. Tak ada yang cukup senang jika ditanya-tanya saat sedang letih. Tapi Siwon bukan pria yang mudah tersulut amarah, Sunghyo mengenalnya. Dan Sunghyo hanya butuh Siwon menjawabinya seperti biasa. Memperoleh jawaban akan menandakan kalau lelaki itu tidak benar-benar marah kepadanya.

Namun, Siwon tidak meresponsnya.

Sunghyo sungguh was-was sekarang. Ia menengkurapkan tubuhnya, menumpukan bahunya pada kedua sikunya sehingga ia bisa mengamati wajah panjang nan elok milik Siwon dengan jelas. “Kau benar-benar marah padaku, Siwon?” tanyanya lagi.

“Tidak,” Siwon menyahut lunak, tanpa menguraikan katupan matanya.

Kerisauan Sunghyo mendidih sampai ke kepala kini. Ia menyentuhkan jari telunjuk lampainya ke bahu kekar Siwon yang dibalut piyama sutra hitam. “Siwon…” Ia memanggilnya kalut.

“Tidurlah, lovely. Kau lelah juga, bukan?”

“Tidak, jawablah dulu,” Sunghyo menolak dengan gelengan anak kecil, “kau marah padaku?”

“Tidak, love—

“Yang benar?”

Siwon mengiyakan lagi, masih dengan mata dipejam.

“Tolong jangan marah, Siwon,” pinta Sunghyo, “kalau kau marah, aku tidak akan bisa tidur.” Sunghyo terus berkata saat Siwon membuka matanya, “Pasti aku akan memikirkannya terus. Membayangkan kalau kau besok masih mendiamkanku, aku pasti tidak akan kuat untuk tidak menangis. Jadi beritahu aku, apa sebenarnya kau marah padaku?”

Siwon menyimpulkan senyum. “Aku hanya cemas padamu. Itu saja. Kau sudah pulang sekarang, jadi—

“Maafkan aku, Siwon, telah menyebabkanmu cemas. Aku pergi seharian dengan Jiwon. Ponselku tertinggal di mobil. Sementara ponsel Jiwon kehabisan baterai. Maaf, aku juga tidak membalas pesan-pesanmu. Aku bingung membalasnya. Aku khawatir kau tambah cemas,” Sunghyo menjawabi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah dilontarkan Siwon. “Dan kurasa kita bisa jalan-jalan dengan mobil bulan madu kita, Rolls Royce itu, besok sebelum pulang.”

Senyum makin terkembang di wajah Siwon. “Aku tahu,” sambutnya, “sekarang, tidur saja.”

Siwon mengamati wajah Sunghyo sebentar hingga lelaki bertubuh atletis itu kemudian membalikkan tubuhnya, membelakangi Sunghyo.

Sunghyo sungguh-sungguh tak menduga Siwon, yang lazimnya begitu perhatian dan tak sedikitpun mengindahkan diri darinya, dapat berbuat demikian. Maka dengan kekuatannya yang terbatas, ia membalikkan tubuh kukuh Siwon agar kembali menghadapnya. Awalnya ia kesulitan, hingga kemudian Siwon mengalah dan membalik. “Kau pasti sangat marah,” ucap Sunghyo sambil merengut sedih, “apa yang perlu kulakukan agar kau tidak marah lagi?” Sunghyo melemparkan pertanyaan yang selama ini belum pernah ia ucapkan.

Kepala Siwon dimiringkan. Pun pemuda itu menyeringai, mengeluarkan senyum ­joker-nya. “Tidak perlu apa-apa, lovely,” ujarnya.

“Siwon…”

Tawa janggal keluar dari mulut Siwon. “Aku tidak apa-apa. Percayalah.” Lelaki itu mengelus pipi Sunghyo lembut.

Tidak sepenuhnya percaya, Sunghyo mengerutkan keningnya. Siwon selalu menyembunyikan hal yang baginya tidak sopan atau tidak pantas dikeluarkan, Sunghyo tahu itu. Siwon itu orang tersantun yang pernah ia temui. Tapi keganjilan sikapnya yang agak apatis sekarang ini juga mengganggu pikirannya. Siwon selalu berbaik hati dan bertutur kata ramah meski selelah apa pun dia. Atau sebenarnya Sunghyo belum pernah menemukan sisi lainnya yang ini?

Berpikir keras, sambil tetap memegangi kedua ujung pundak Siwon, dengan posisi yang masih bersemuka, itulah yang Sunghyo lakukan. Ia harus mengembalikan situasi seperti semula. Umumnya, Sunghyo yang merajuk seperti ini, dan Siwon yang membujuknya agar suasana hatinya membaik. Sunghyo kemudian mengingat-ingat bagaimana Siwon menenangkannya.

Lama.

Hingga satu hal terlintas di pikirannya : Cium.

“Apa yang kaupikirkan sebegitu keras, lovely?” tanya Siwon.

Sunghyo gegau, dikembalikan pada kenyataan oleh Siwon. Ia kemudian memerhatikan pemuda hidung lancip itu. Ia memerah otak, haruskah ia mencium Siwon? Seperti yang selama ini dilakukan Siwon padanya kalau ia kesal? Ciuman kilat mungkin bisa, eh?

“Kau kelihatan pusing, love. Tidur—”

Mendengar komando ‘tidur’ Siwon lagi, yang ia pikir adalah manuver Siwon untuk menjauhi dirinya, Sunghyo lekas-lekas menempelkan bibirnya ke bibir Siwon. Siwon sedikit kaget mendapatkan serangan tiba-tiba gadis yang lebih muda empat tahun darinya itu. Sunghyo jarang sekali menciumnya duluan. Bahkan Sunghyo mulai sanggup menyambut ciuman Siwon pada waktu-waktu belakangan ini saja, beberapa saat sebelum mereka menikah. Biasanya, gadis pemalu itu hanya diam, teronggok seperti batu, menerima ciuman Siwon begitu saja.

Sunghyo kemudian cepat-cepat meluputkan ciumannya.

Kedua alis tebal Siwon terangkat. Masih dalam keadaan terpana atas apa yang baru dilakukan Sunghyo, ia menunggu penjelasan Sunghyo atas tindakan mengejutkannya barusan.

“Sekarang tidak marah lagi, kan?” Sunghyo merespons sikap Siwon dengan pertanyaan.

Siwon tersenyum, menangkap maksud istrinya. “Ah, itu rupanya. Tidak, love, aku tidak marah—

Oleh sebab, dalam pikiran Sunghyo, Siwon kembali berkelit, maka ia mencium Siwon lagi. Kali ini bukan ciuman kilat, melainkan ciuman dengan mulut terbuka. Siwon kontan segera bereaksi oleh ciuman kedua ini, setelah ciuman pertama tadi lumayan memanaskannya. Mereka saling menyesap bibir masing-masing. Beberapa menit kemudian, Sunghyo sudah ingin melepaskan diri demi mencari udara, dan kepalanya membentur kayu pangkal ranjang yang dilapisi busa itu. Pangkal itu bersinggungan dengan rak kayu di atas ranjang mereka. Benturan kecil yang dilakukan tak sengaja oleh Sunghyo itu kemudian menjatuhkan sekotak cokelat dari rak kayu tersebut. Kotak cokelat dari kardus yang terbungkus dengan manis itu terbuka dan mendarat di bantal Siwon, setelah mengenai kepala Sunghyo. Beberapa buah cokelat menggelinding ke ruang di antara mereka berdua. Ciuman mereka terhenti.

-Sunghyo’s PoV-

Astaga, apa itu?

Kecerobohanku berulah lagi. Hah.

Tapi aku bersyukur, karena dengan itu, ciuman—hampir—panas kami jadi terhenti. Ciuman yang kumulai, ciuman yang mencoreng mukaku sendiri. Oh, astaga, Sunghyo, kenapa kau bisa menjadi seliar itu? Rasanya aku ingin membentaki pertanyaan itu pada diriku sendiri.

Menghindari tatapan Siwon sekaligus jengah atas apa yang baru kuperbuat, aku duduk dengan kedua lutut menekuk ke samping. Pun untuk melenyapkan kecanggungan, aku mengambil salah satu benda bulat berwarna cokelat tercampur putih yang jatuh di kasur. Lengket dan lunak. Aku menghirupnya. “Cokelat?” gumamku.

Siwon nampaknya mendengar. “Ya, love. Itu untukmu. Cokelat yang selalu kausukai,” timpalnya. “Sengaja kusimpan. Sebagai kejutan. Rupanya kau menemukannya dengan cara mengejutkan juga.”

“Ah, begitu,” sahutku kikuk. Dan ia terdiam, mengamatiku.

-Siwon’s PoV-

Aku ingin sekali menciumnya, merasai kelembutan bibirnya lagi, melanjutkan ciuman panas kami yang ia mulai tadi. Penyetopan ini membuat kikuk suasana, terutama pada sisinya. Apakah aku harus bertindak sekarang, menerjangnya lalu mengecupnya penuh hasrat? Tapi nanti dia akan memekik ngeri seperti biasanya. Ia selalu ketakutan setiap aku mencoba menciumnya ketika kami berdua saja di kamar.

Sunghyo, istriku, dan aku memang belum pernah melakukan hubungan suami istri sejak kami menikah seminggu lalu. Banyak argumentasi yang ia luncurkan untuk menjadikan kehendakku itu tak pernah tercapai. Dan aku sangat yakin kepergiannya dengan Jiwon hari ini, telepon yang tak diangkat, pesan teks yang tak dibalas, adalah salah satu taktiknya menghindariku. Hari ini hari terakhir kami menginap di rumah orang tuaku, tempat yang kami putuskan untuk menjadi tempat berbulan madu. Besok kami akan kembali ke apartemen kami. Oleh karena itulah, ia pikir ia hanya cukup menghindariku seharian ini dan tidak perlu menciptakan dalih baru untuk mencegah terjadinya hal itu.

Sempat hal itu mengusikku, mengapa ia sangat tidak ingin melakukannya? Ia memberitahuku kalau ia belum siap. Tapi belakangan aku menilai dari sikap dan perilakunya, ia bukan hanya belum siap. Dia takut padaku. Dia masih belum percaya kepadaku. Dia resah kalau-kalau sesudah aku tidur dengannya, aku akan meninggalkannya.

Kalau aku berniat begitu, untuk apa aku menikahinya? Aku menyeruakkan pertanyaan demikian. Dan ia hanya diam.

-Sunghyo’s PoV-

Siwon bengong cukup lama selama aku mengecapi cokelat itu secara malu-malu, masih terasa janggal atas serangan ciumanku sendiri. Dan Siwon kelihatan memeras otak sekarang karena aksi tanpa rencanaku barusan. Aku memutuskan untuk mengunyah cokelat di tanganku, untuk menghilangkan kegugupan.

Rasanya menakjubkan. Mendadak rasa rikuh dan canggungku melanglang entah kemana.

“Rasa apa cokelatnya?” tanya Siwon tiba-tiba.

Umm… entahlah,” jawabku, masih kaget dengan pertanyaannya.

“Itu cokelat dengan tambahan rasa. Ada rasa yang berbeda di tiap-tiapnya,” terang Siwon.

“Aku tidak tahu rasa apa yang ini,” sahutku, “yang jelas, rasanya enak.”

Siwon secara sigap menghampiriku, menyejajarkan wajahnya ke hadapan wajahku. “Kalau begitu, biar kucoba,” ujarnya sambil memiringkan kepala, mencoba menciumku.

Ngeri kalau dia mungkin akan melanjutkan ciuman kami yang kumulai secara memalukan itu, aku lantas memisahkan diri dari posisi itu dan beranjak mundur. Ketika aku sudah berjarak dengannya, Siwon bertanya, “Lovely, kenapa kau tadi menciumku?” Aku mematung. “Dan kenapa sekarang tidak?”

Oh, ya, ampun, dia membahasnya.

Lovely?”

“Umm… itu karena,” aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, “aku takut kau marah.” Kurasa jujur tidak akan menjadi masalah sekarang.

Siwon kaget. “Kau menciumku duluan karena kau takut aku marah padamu?” tanyanya. Ah, rupanya perkiraanku salah. Kejujuranku nampaknya membawa malapetaka. “Kau juga menciumku duluan saat liburan waktu itu. Itu pun waktu aku sedang menghindarimu, atas saran Heechul hyung untuk jual mahal sedikit. Apa takut aku marah juga jadi alasanmu menciumku waktu itu?”

“Ah… Sebenarnya,” aku menekuk muka, “ya, Siwon.”

Guratan kekecewaan muncul di wajah tampannya. “Jadi kau berkeinginan menciumku hanya karena kalau aku sedang merajuk?” kejarnya. “Hanya karena itu?”

“Tidak,” sahutku, sekejap saja, merasa tidak enak.

“Lalu karena apa?”

“Hah?” Aku menyisir ruangan dengan penglihatanku, tak mau menemukan kedua mata tajamnya yang tersorot langsung ke mukaku.

Love?”

Aku masih membungkam. Bukan karena apa-apa. Aku tak mau membuat dia lebih kecewa, mendengar alasanku sebenarnya yang memang hanya karena takut dia marah.

“Bukan hanya karena itu, Siwon,” aku menekankan, dengan tidak meyakinkan.

“Kalau bukan hanya karena itu, cium aku sekarang.” Mendadak ia berucap seperti itu.

“Eh?”

“Tadi kau melakukannya dengan baik, love.”

“Itu kan karena—” Aku tercekat, menutup mulut.

“Karena apa?”

Karena aku takut kau marah padaku. Hampir saja aku mengeluarkan argumen itu lagi. Nyaris juga aku membuatnya sedih. Aku tidak mau melihatnya murung. Jangan salah. Aku menghindarinya sejauh ini bukan karena aku tidak mencintainya. Bukan karena aku berlagak susah didapatkan, atau menganggap dia tidak ada apa-apanya bagiku. Tidak, tentu saja. Justru aku yang tidak ada apa-apanya baginya. Aku mencintainya, meski aku menyadari hal itu beberapa bulan belakangan. Aku menghindar karena aku takut, resah pada segala hal yang bisa dengan mudah memisahkan kami. Itu sebabnya sejak awal aku tak mau terlalu dekat padanya. Aku takut terlalu mencintainya. Tapi aku memang menikahinya, ya, benar, tapi, um… Ini mungkin bertambah buruk berkat citra bahwa seks itu menakutkan yang sudah menjarahi pikiranku sejak dulu.

“Kau tidak bisa menjawab.”

Aku melihat matanya yang menyorotkan sinar kemasygulan. Oh, aku tidak tega. Karena itulah, bersicepat, kukecup bibirnya.

Dia menyambutnya. Dengan baik.

-Siwon’s PoV-

Sunghyo menciumku. Sungkan, seperti biasa.

Tapi pertemuan bibir kami yang ketiga kali sudah cukup untuk membuatku gila. Hasratku untuk menjelajahi ciumannya yang membuatku ketagihan itu menguat. Ia juga meneruskan ciuman kami, tanpa menyetopnya tiba-tiba seperti pada umumnya.

Kurasa ini saat yang tepat.

Maka kuraih tengkuknya supaya kami makin berdekatan. Ciuman panas kami berulang. Dan aku mulai melepaskan jaket hitam longgarnya. Hal itu membuat ia kaget, sehingga mulutnya sedikit menganga. Aku pun memanfaatkan kesempatan untuk memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Rongga mulut dan segala isinya kugerai dengan lidahku sejeli mungkin. Wangi dan rasa cokelat yang tadi ia makan mulai merebak. Ciuman kami makin menghangat jadinya. Tak lupa kuselingi dengan permainan lidah yang mengikat cukup lama, sampai-sampai dia kehabisan napas. Aku melepaskan ciumanku, memberikan kesempatan baginya untuk beristirahat.

“Siwon…” Kudengar dia memanggilku, sedikit lunglai. Aku tak tahan untuk tak tersenyum.

-Sunghyo’s PoV-

Siwon baru saja membombardirku dengan French Kiss panjang tanpa jeda. Aku kelelahan, tentu saja. Kami sudah pernah French Kiss tapi tak pernah yang seperti itu. Siwon belum pernah senakal itu memainkan lidahnya. Di antara keadaan syok, lelah, dan bingung memutuskan apa aku menyukai ciuman tadi, aku mendapatkan aksinya yang lain.

Ia mencoba menyingkap kaos hitam gombrongku. Kedua tangannya sudah bersiaga di sanding-sanding tubuhku, menggenggam ujung kaos itu, ingin menariknya ke atas.

“Siwon, jangan,” larangku lemah, sambil menyentuh pelan tangannya.

“Kenapa, love?”

Aku belum siap. Ingin kuutarakan itu lagi. Namun begitu mulutku membuka, aku ingat wajah kalut yang tadi ia tampakkan ketika aku bilang kalau aku menciumnya hanya karena ia merajuk. Maka dari itu, aku menciptakan alasan lain, semoga bisa mengalihkan perhatian, “Kaosku bisa menyerap keringat. Tak perlu dilepaskan.”

Aduh. Apa yang kuucapkan? Kenapa berkesan seolah aku tahu ini akan mengarah kemana?

Siwon tersenyum, kemudian membuka kancing piyamanya, satu per satu.

Mataku membelalak. “Ap-apa yang kaulakukan? Ruangan ini ber-AC. Kau tidak perlu–”

Piyama sutra hitam milik Siwon terlepas dari tubuhnya. Hal itu menegaskan tubuh gagahnya, membuatku berada dalam dua perasaan; kagum sekaligus jeri. Siwon bahkan menurunkan celana piyamanya, tetap dengan senyuman. Kini aku harus melihatnya dengan hanya celana dalam.

“Ke-kenapa kau melepas semua bajumu?” Bibirku menggegar dengan sendirinya.

Tak meninggalkan senyumnya, ia seperti akan melorotkan celana dalamnya.

“Siwon!” Aku menyeru. “Kau ingin menari striptis?”

Siwon tertawa terbahak-bahak, mirip dengan ketika ia menertawai film komedi yang sangat lucu. Konyolnya, seperti tidak terpengaruh, ia tetap melanjutkan aksi melepaskan celana dalamnya, dilengkapi dengan tawa-tawa kecil yang ia layangkan.

Aku menjerit singkat, namun keras. Lalu buru-buru aku berpaling, bergegas melarikan diri. Namun demikian, aku merasa pergelangan tanganku digepit oleh jemarinya. “Love?”

“Hah?” sahutku tanpa memalingkan muka untuk menghadapnya.

“Kau mau kemana?”

“Aku tidak mau lihat tari striptis,” jawabku asal.

“Aku tidak ingin menari striptis. Aku tidak seaneh itu,” Siwon merespons dibarengi dengan gelak tawa, “aku hanya ingin tahu apa kau bisa menciumku dengan keadaanku yang seperti ini.”

“APA?!” Aku menengok padanya, dan penglihatan atas selangkangannya tertangkap oleh batas penglihatanku, lantas aku menutup mataku.

Dalam keadaan mata tertutup, aku merasakan rambut panjang sebahuku dielus yang kemudian berkelanjutan ke sentuhan telinga dan leher di belakangku. Belum sempat aku menanyakan maksud perlakuannya, atau bahkan menguakkan pejaman mataku, Siwon keburu berkata, “Cium aku lagi, love.”

Duh, bagaimana ini? Aku harus apa?

-Siwon’s PoV-

Dia hanya memejamkan mata kuat-kuat. Oh, apa itu pertanda kalau aku harus menciumnya sekarang? Dia tidak mencoba melarikan diri lagi dari sentuhanku, wajar kalau aku berpikir begitu, bukan? Maka, aku menciumnya lagi.

-Sunghyo’s PoV-

Kami berkecupan kembali. Panik mendatangiku. Ia sedang tidak mengenakan apa-apa sekarang. Pikiran tidak-tidak menghantuiku. Aku tidak boleh diam saja dan harus menghentikannya. Tapi aku mesti tetap menjaga perasaannya—tidak boleh dengan kasar. Maka aku mendorong pundaknya—yang telanjang. Oh, astaga, aku baru ingat dia tanpa busana.

-Siwon’s PoV-

Dia mulai menyentuh tubuhku. Yah, bukan sentuhan yang bisa dikategorikan jamahan menggila, buas dan membangkitkan nafsu dengan cepat, melainkan hanya sentuhan kecil nan lembut yang justru menggelitikku. Tapi, entah mengapa, sentuhannya seperti aliran listrik yang menimbulkan keinginanku untuk memulai menjamah. Aku memang perlu tindakan yang memelopori untuk acara penjamahan. Bukannya sombong, aku hanya segan. Meski aku sangat menyukai skinship—sentuhan kulit, aku hanya melakukan itu jika orang yang kusentuh mencetuskan sentuhan lebih dulu.

Jadi, kurasa, ini waktunya aku menjamahi istriku.

-Sunghyo’s PoV-

Aku hanya mendorongnya agar menjauh dan menyelesaikan ciuman ini. Tapi nampaknya Siwon mengartikannya lain. Ia kini makin bernafsu menciumiku dan tambahan aksi baru; meraba-raba tubuhku. Walau masih dibungkus dengan kaos kebesaran, aku tidak memungkiri rasa geli atas rabaannya di bagian leher dan pundak. Ia seolah-olah sedang merasai tiap inci kulitku lamat-lamat. Aku mulai pusing diperlakukan seperti itu. Rasanya ingin jatuh, menidurkan diri—eh, Tidak! Tidak boleh!

-Siwon’s PoV-

Sesungguhnya aku ingin menyibak kaosnya, memerdekakan kedua kaki jenjangnya dari celana jeans ketat itu. Tapi ia sudah melarangku untuk melakukan itu tadi. Jadi trikku adalah membuatnya berinisiatif melepaskannya sendiri, atau paling tidak memintaku untuk melakukannya. Kini rabaanku menjalar ke bagian dada hingga tiba di kedua gundukan payudaranya. Segera kuremas penuh gemas.

“Siwon!” pekiknya, berbarengan dengan ditariknya ciumannya dariku.

-Sunghyo’s PoV-

Kendati aku telah menjerit, Siwon tidak berhenti. Ia malah meremasnya semakin kuat. Tidak kasar atau menyakitkan, tapi cukup untuk membuatku ngilu. Disebabkan oleh itu, aku tak bisa mengucapkan apa-apa. Itu menjadikan Siwon makin menjadi-jadi. Tangannya kini masuk ke dalam bajuku. Jemarinya bergerilya ke tubuh bagian atas melalui bawah kaosku. Usapannya merambah ke segala arah; perut, lalu punggung, hingga bertengger di kait bra. Di saat aku makin kehilangan kesadaran karena perlakuannya itu, dia melepas kaitan braku.

Aku tersentak, membeliak kepadanya. Dia tersenyum.

Huh. Kenapa senyumnya tak habis-habis?

-Siwon’s PoV-

Ciuman kami kulanjutkan lagi. Sunghyo sedikit tertaklukan kalau sedang dicium. Aktivitas tanganku juga tidak berhenti. Dari jarak dekat aku bisa mendapati muka Sunghyo memerah. Dia pasti mati-matian menahan sesuatu. Maka kini kukerahkan salah satu tanganku ke bawah, merambah masuk ke celana jeans-nya. Jari jempolku meniti ke balik celana dalamnya, mencapai kewanitaannya. Dia mengernyih. Lalu mendorongku.

Hah. Pasti dia memintaku untuk berhenti. Aku sudah pasrah kalau begitu. Tidak apa-apalah meski sudah sampai di sini.

Mungkin aku harus bersabar lebih-lebih lagi.

“Apa kau kesulitan?” Sunghyo bertanya pelan, di tengah-tengah napasnya yang satu-satu.

“Hah?” Aku menjegil.

“Jarimu,” Sunghyo mengerjap-ngerjapkan matanya, “tidak terjepit di sana?”

Kusunggingkan senyum lebar. Aku mulai dapat memprediksi ke arah mana maksudnya. Pun aku tahu dia sudah dalam kondisi apa. Oleh sebab itu, kulanjutkan kegiatan memijit bagian vitalnya.

Tangan Sunghyo mulai merentas ke sekitar ranjang selama kedua tanganku masih aktif membuatnya menggeliat. Ia rupanya menarik selimut tebal kami dan mengarahkannya kepadaku. “Pakailah, Siwon… Apa kau tidak… ah… kedinginan?” Ucapannya mulai terselingi desahan. Rangsanganku telah bekerja  sempurna.

“Selimut tidak terlalu berpengaruh,” sahutku sambil tetap memegang-megang, “apa benar kau peduli aku akan kedinginan, love?”

Sunghyo hanya menarik napas dan menghembuskannya pendek-pendek. Ia mendesau, mengiyakan di luar kendali otaknya.

“Kalau begitu,” aku mendekatkan mulutku ke telinganya, “berbaringlah, love.” Kusenggol bahunya pelan dan dia langsung terjatuh ke ranjang.  Akhirnya dia menyerah.

Segera saja, aku menelungkupinya.

-Author’s PoV-

Sunghyo terkindap ketika Siwon mulai mencium payudaranya yang masih berada di dalam kaos dan tertutup branya yang hampir terlepas. Kedua tangan Siwon kembali menggerayang masuk. Karena sepak terjang itu, tak sengaja pula terjadi gesekan antar paha sebelah dalam mereka. Meski Sunghyo masih memakai celana jeans-nya, gadis itu dapat merasai mengerasnya milik Siwon. Mendapat serbuan dari dalam dan luar busananya, Sunghyo kehilangan kendalinya. Kepalanya mengayun ke kanan lantas ke kiri dengan mata tertangkup. Hanya bertahan setengah menit saja, ia sudah meneriaki Siwon dengan lemas, “Kenapa tidak kau lepas saja?”

Siwon berhenti, menarik napas, menahan bobot tubuhnya agar tidak menimpa Sunghyo. “Ya, lovely?” tanyanya. “Kaubilang apa?”

Dengan tersengal-sengal, Sunghyo membuka matanya dan menjumpai kedua mata Siwon yang penuh kasih terhadapnya. Mendadak ia memasang wajah buncah, seperti orang yang baru dibangunkan dari tidurnya. “Hah?” sahutnya.

“Kau tadi bilang apa, love?” Siwon bertanya lagi.

Baru saja Sunghyo ingin menjawab, tangan-tangan Siwon berkiprah lagi, menjadikan Sunghyo kembali tersengat sesuatu yang ingin ia sanggah tapi tak dapat ia halangi. Kelopak matanya telah sayu.

“Apa, lovely?”

“Buka…” bibir Sunghyo mengucap, “buka saja.”

“Apanya?” Siwon melebarkan senyum. Sementara Sunghyo nampak sudah terbuai di awang-awang, Siwon kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Sunghyo, “Bajumu, maksudmu?”

Sunghyo setengah sadar ketika pertanyaan itu sampai ke telinganya. Ia pun mengangguk lemah, telah kalah oleh rasa janggal yang menguasainya beberapa saat lalu.

Mendapat persetujuan dari Sunghyo, Siwon menggegas untuk melucuti semua pakaian yang dikenakan istrinya itu. Dengan ekspres, tapi tetap lembut, ia menarik kaos hitam Sunghyo melalui atas kepala. Bra hitamnya yang telah terlepas itu pun ia singkirkan.

“Celana?” Siwon melirik Sunghyo.

“He-em,” Sunghyo mengamini, masih dengan keadaan tak berdaya.

Secara tergesa-gesa, Siwon membuka kancing dan ritsleting celana jeans Sunghyo. Pun ia menurunkan dan membebaskan kaki panjang Sunghyo dari celana ketat itu. Ia tidak bertanya lagi untuk pelepasan celana dalam. Sunghyo sudah menatapi Siwon lekat-lekat. Siwon telah memberi tatapan kode pada Sunghyo. Keduanya tampak tak ingin menunggu lagi. Maka Siwon menarik celana dalam Sunghyo keluar dari kakinya dan membuangnya jauh-jauh.

-Sunghyo’s PoV-

Oh, ya ampun. Apa sih yang kau lakukan, Sunghyo? Pertanyaan itu membahana di otakku. Aku merasa mengkhianati diriku sendiri. Aku sudah begitu yakin kalau aku bisa mengenyahkan setiap situasi dimana kami harus melakukan itu, tapi apa yang baru kusetujui? Bagaikan perjanjian khusus pemberian organ tubuh. Dan itu mempermalukan diriku sendiri. Aku seperti orang yang hipokrit. Apakah aku?

Siwon kini mengelus dahi kemudian pipiku. Ia mengecup keningku lantas tersenyum. Kedamaian meresap melalui pori-poriku. Barangkali aku hanya terlalu paranoid. Senyum mengembang pelan-pelan di bibirku. Ya, kurasa, aku hanya terlalu paranoid.

Remasan dan rabaan Siwon bermula lagi. Kali ini lebih terasa karena tak ada penghalang di antara kami. Pertemuan kulit telanjang memang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

-Siwon’s PoV-

Tanganku kembali beraksi, menyelami tiap lekuk tubuhnya. Sunghyo mulai dilanda hal yang sama denganku, kegairahan. Wajahnya sudah sepenuhnya memerah. Hal itu memprakarsai ideku untuk segera melaksanakan kehendakku sejak tadi. Kudekatkan tubuh kami untuk mulai menyatu. Dimulai dari persingungan lembut milikku dan miliknya di antara selangkangan kami, berkali-kali, dan rasanya bisa melumerkan daging, hingga aku mulai memasukinya perlahan.

“Ah, sakit, Si-Siwon,” Sunghyo meringis ketika aku baru setengah berada di dalamnya.

Kucerling titik darah yang merembes ke seprei putih ranjang kami. Oh, rasa iba menggelegak dalam diriku. Aku telah melukainya. Aku telah menyakiti kesayanganku. “Maafkan aku, lovely. Sakit sekali, ya?”

Sunghyo mengangguk suram.

Aku menghela napas. Waktunya belum pas. Aku mungkin harus menghentikannya. Barangkali aku terlalu memaksakan hal yang sebaiknya ia perkuat lebih dulu kesiapannya. Maka dari itu, kutarik lagi milikku dari liangnya.

-Sunghyo’s PoV-

Siwon bermuka menyesal dan mencoba untuk mencabut apa yang telah ia tanamkan. Akan tetapi, yang ia lakukan justru membuatku semakin kesakitan.

Kupegang lengan kokohnya. “Ah, Siwon, itu lebih sakit. Apa yang kaulakukan?” Setidaknya itu yang kumaksudkan untuk kuucapkan, namun nampaknya terdengar berantakan. Karena Siwon bertampang heran sekarang.

“Jadi aku harus apa, lovely?” ia bertanya.

“Entah,” sahutku sambil menahan sakit. “Pokoknya jangan lakukan itu.”

Serta-merta, Siwon kembali menginjeksi miliknya ke dalam diriku. Perlahan. Pun aku melenguh keperihan. Lantas Siwon segera panik, mencopotnya lagi. Nyeri kembali menandangiku, membuatku menjerit. Kemudian, berkat itu, ia menenggelamkannya kembali. Begitu terus berulang. Hanya mengaduh yang bisa kulakukan. Dan Siwon nampaknya mudah sekali terpengaruh dengan keadaanku.

-Siwon’s PoV-

Tahu tidak, aku memasukkan dan mengeluarkannya berulang kali hanya karena aku khawatir menyakitinya. Tapi sebenarnya itu justru mengarahkan pada keberlangsungan hubungan intim kami yang secara pasti menjadi berlanjut. Sunghyo tidak menyadari, aku pun baru tersadar, kalau kami malah semakin terperosok makin dalam dalam keintiman ini. Dan tentu aku menikmatinya.

-Sunghyo’s PoV-

Siwon menggerakkan miliknya masuk-keluar ke dalamku karena tidak tega melihatku. Tapi mengapa lama-kelamaan ini berganti rasa? Rasa sakit yang tadi mengusikku berangsur menghilang, menjadi rasa tak terdefinisi yang menghebat dan menggelora ke seluruh tubuh. Padahal Siwon sedang mengoyakku, tapi mengapa aku malah menyukainya?

-Siwon’s PoV-

Kini bukan ketakutan karena menyakitinya yang membuatku bergerak naik-turun, tapi pencapaian klimaks yang sebentar lagi kami tuju. Sunghyo sudah mengubah rengekannya menjadi rintihan. Jari-jemari lentiknya mencengkeram lengan-lengan atasku. Kulihat ia menutup lantas membuka matanya berkali-kali, menahan kenikmatan yang tengah melandanya.

Ia tak memintaku berhenti. Dia menyukainya. Itu terlihat dari senyum yang ia tampilkan padaku. Aduhai, senyumannya menggetarkan sekali. Pemandangan itu membuatku bersemangat untuk terus bergerak, mendalaminya, memuaskannya—dan diriku sendiri.

-Sunghyo’s PoV-

Siwon terus menghentakku. Tapi aku tak mau menghentikannya. Setiap hentakkan membuatku melayang. Dan kami terus mengulanginya hingga suatu gelombang menyapuku, mengalir deras.

-Siwon’s PoV-

Kami menggapai puncaknya beberapa saat kemudian, bersamaan. Sunghyo melengkungkan tubuhnya, merangkulku dalam pelukannya.

Beberapa detik setelah dilanda klimaks menakjubkan yang menggempur seluruh sel tubuh,  kukecup pipinya. “Terima kasih, lovely,” ucapku.

Ia hanya membalasku dengan menguatkan dekapannya terhadap leher belakangku, seolah-olah tak mau melepaskanku. Milikku masih berada di dalamnya.

“Aku tak akan meninggalkanmu, love.” Kuputuskan untuk berkata itu, menepis keresahannya.

“Darimana kau tahu aku berpikir begitu?” tanyanya.

Senyumku terlengkung. “Aku ini pemerhati,” responsku, “dan kau objek nomor satu yang menjadi kesukaanku untuk kuperhatikan.”

“Oke,” Sunghyo memutarkan bola mata, “itu perkataan yang cukup panjang… untuk orang yang lelah.” Ia masih terengah-engah. “Apa kau tidak lelah? Dasar si tubuh sehat,” ia meledekku.

Aku tergelak. “Kenapa kau berkata begitu?” tanyaku.

“Kau sering berolahraga. Makanya kau tidak cepat lelah. Badanmu juga…” Ucapannya terhenti ketika ia melirik tubuhku.

“Juga apa?” Aku membisik mesra.

“Tidak,” ia mengalihkan pandangan, tersipu karena mencoba memperhatikan tubuhku. Aku langsung tertawa terpingkal.

-Sunghyo’s PoV-

Obrolan kami membuatku terlupa akan kekecutan hatiku tentang ini. Ternyata tidak semengerikan seperti dalam bayanganku. Dan aku bersyukur bahwa pasanganku adalah Siwon, yang sabar dan pengertian. Kuharap dia tidak akan meninggalkanku. Dikarenakan hal yang baru kami lakukan ini makin mengarahkanku untuk terlalu mencintainya sekarang. Pemikiran itu berputar di otakku hingga mendadak pikiranku sendiri yang menyadarkanku, kalau ia masih di dalamku.

“Ah, um, Siwon,” kataku, seraya mendorong tubuh besarnya, “aku, kurasa, aku mau mandi.”

“Baiklah,” ia menyahut, “ayo.”

“Ayo?”

“Kita mandi bersama,” bisiknya.

“Tidak,” tolakku. Bukan karena apa-apa. Untuk menyiapkan diri melakukan ini dengannya saja butuh waktu lama bagiku, apa lagi kalau harus ke tingkat selanjutnya; lebih lama dan lebih jelas menampakkan tubuhku tanpa pakaian apa-apa di hadapannya. Itu akan membunuhku.

“Kenapa tidak? Kau bisa melihat si tubuh sehat ini lebih lama, bukan?” tanyanya sambil bangkit, menjejakkan kaki di permadani kamar, dan membungkukkan tubuh ke dekatku.

“Kau mau apa?” aku bertanya heboh saat itu mengerahkan tangannya ke leher dan lututku, mencoba menggendongku. “Si—Siwon…” Dan kini aku berada dalam gendongannya. “Turunkan aku.”

“Nanti saja di kamar mandi, love,” sahutnya.

“Hah?” Aku histeris. “Tidak perlu mandi bersama, Siwon. Nanti akan lama.”

 

“Semakin lama justru semakin menyenangkan,” sahutnya. Ia lantas mengecupku lama sembari tetap melangkah menuju kamar mandi kami.

 

THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 23/10/2013, in Aktor, OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 87 Comments.

  1. Tinggalin jejak dlu oenni😉

  2. Rita Clouds

    DAEBAK ffny bgus aq suka

  3. wah cerita nya seru dari dulu aku pengen bca ff yadong nya siwon bru kesampean sekarang

  4. omoo, kok aku jadi senyum senyum sendiri ya baca fanfic ini /blusshhh/ ngakak liat karakter sunghyo–polos banget.
    overall udan cukup bagus sih thor, ceritanya juga ringan dan yang paling penting penulisan pas saat ‘melakukan’ sopan dan rapi. cuma ada sedikit saran nih dari saya :

    1. jangan terlalu sering ganti POV, atau mungkin lebih baik pake author POV aja, soalnya kalo keseringan ganti bikin ga nyaman bacanya lho kkk
    2. setau saya setelah percakapan “bla bla bla” selanjutnya pake huruf kapital
    contohnya : “Jadi aku harus apa, lovely?” ia bertanya, seharusnya “Jadi aku harus apa, lovely?” Ia bertanya. dikata ‘ia’ huruf I memakai kapital

    sekian thor, terus berkarya🙂 thanks

    • omooo… gomawo, chingu.
      makasih udah baca dan komen ff kami #bow
      makasih juga sarannya. sangat membangun ^^ we’d appreciate that.❤😀
      #gataumaungomongapalagisakingsenangnya
      salam kenal, btw.

  5. Run Evil Nur

    Gila sabar bgt jadi siwon…… Sequel dong~~~~~

    • hehehe. doi kan emang imejnya sabar, chingu😀
      sekuel dalam proses. tunggu ya ^^/
      gomawo ya chingu udah baca dan komen😉

  6. apray gawoh

    keren…ssalut ma ksabaranya

  7. Keren,,,,,,,,
    Tapi terlalu banyak penggantian POV

  8. Eciee… tatapan siwon dan kesabaran bisa ngeluluhkan ketakutan istrinya.
    suami yg baik🙂

  9. sunghyo nya polos amet dah haha..
    ditunggu karya selanjutnya ya^^

  10. Oh My Siwon…. Sweet banget. Eh bwt itu mobilnya dipake gak yah? aaha kereen

  11. Aku suka baca FF. Tapi baru nemu yg kaya gini. Bahasa nya Best!. Yadong nya lebih terkesan “art” dan Jauh dr image “jorok”. Great job!! Please never stop writing.. Keep it up!! b(^o^)d

  12. Aku suka FF’a🙂

  13. Jgn2 Dicokelat.y ada sesuatu ?? Hihi
    Nice ff

  14. wkwkwk…
    ini adalah ff yg terbanyak ny pov ny ganti2..
    tp nda apa2, chingu..
    bagus kok..
    dari ide dan ceritany..
    aku jdi mau deh pny pacar kayak si won..
    kya…
    semangat terus untuk membuat ff lain ya chingu…
    ^^

    • ngmg2 ada sequelny nda chingu? abis konflikny menurutku kurang.. mian..

      • gomawo udah komen, chingu~~~
        hehehe. sebetulnya ff kami yang lain povnya juga begini. mian ya, chingu😐
        sekuel masih dalam pertimbangan. kalo banyak yang suka, proses pembuatannya bakal kami percepat.
        hehehe, konfliknya kurang ya?
        btw, gomawoyo sekali lagi, ya, chingu😉

  15. FF yah keren bingit heheh e>.<
    ada sequelnya heheh ^^V

  16. Kerenn banget thor^^…keep writing yah^^…”ganbate^^

  17. Nathalie park

    FF’y seru cerita’y g terlalu vulgar tp q suka drpd crita yg vulgar bgt dan feel’y jg dpt wlwpn sempet g ngerti d’awal crta’y…

  18. Senyum” sendiri baca karakter mereka masing masing. Pas thor :3
    Keren thor ffnya =)

  19. Kerennnnnnnnnn😛
    Klo ada squel seru ni!!😛

  20. Cerita seru , gaak terlalu vulgar juga , apalagi cara siwon ngajak sunghyu ‘ngelakuin’ itu sopan banget , ditunggu ff siwon yg lain ? dgn cast yeoja yg lain , bisa sama fany atau yoona🙂

  21. authornya daebak nih.. ff nya bisa begini yeojanya kelewatan bener dah..
    tp aku sukaaaa.. okesipmantap lah ^^b
    ia cm pov nya yg agak sedikit mengganggu krna trlalu sering ganti thor, tp ttep bagus koq ^^9 hwaiting!!

  22. Squel Thour,

    Daebbak dah wat bang Siwonnya ^^

  23. daebak…

  24. Kereeennn jd slah stu ff fav. q ni
    Iy sequel.a y thor

  25. Firly Thehunnie

    sequel donk, tp daebak kok
    kyeopta ff ny xD

  26. omg.. keren bgt..

  27. aigo……feel nya oke…cara penggambaran lugunya sunghyun q suka. siwon juga keren bgt disini sifatnya

  28. bagus, suka banget, pemilihan kata buat nc nya oke,,sequel?
    alurnya bagus, cuma kebanyakan aganti pov, walaupun saya ngerti kenapa author bs gnti2 pov gt
    good job!

    • Wah, gomawo, chingu~
      Benarkah kamu mengerti? Wah, makasih udah ngerti~ ^_^❤
      kami takut pergantian pov itu jadi hambatan besar buat cerita ini.😦
      Sekali lagi gomawo😀

  29. sumpah ini bagus bgt … suka !!!
    yadong yg sangat sweet . udah lama melanglang buana dalam peryadongan indonesia ini yg paling beda *halaah lebay gw ehehe*
    ga erotis tp romantis … siwon yg sabar sikap lembut dan ga agresif omoooo aku iri >.<
    sdkit risih pov nya bnyk tp itu ketutup sm cerita nya yg daebak . brhubung ga trlalu suka konflik berat semoga klo ada sequel nya ga usah pk konflik atau ga konflik nya dikit aja *reader nawar*

    *ngbayangin di disequel mereka udh pnya anak* hahahahh itu kecepetan

    • Omo. Gomawo, chingu~~~
      Kami seneng kalo kamu suka, makasih apresiasinya~~❤
      Pov banyak buat ngulas perasaan sebenernya, hehe, tapi banyak yang protes. Seneng deh kalo ketutup😀
      Haha. Konfliknya dikit? Oke, nanti kita pertimbangkan.
      Hahaha. Iya kecepetan, chingu. Tapi nanti emang direncanain punya anak sih ._.9
      Sekali lagi gomawo, chingu.
      Kalo minat, bisa baca ff kami yang lain. Ada banyak di yfi selain ini😀 atau bisa liat di blog #promo hehehe

  30. kyaaa manis bgt deh mereka! bahasanya jg nyaman😀

  31. Keren bnget!
    Ak ngbacanya jd gugup sndrii…hehe

  32. WOw……krennn kyaknya ktakutan Sunghyo sm smua deh sm pgntin bru wnitaa…
    hahahahaha…

  33. titip jejak

  34. Gomawo, chingu, udah mampir. Ayo mampir ke blog kami juga😉

  35. waaahhhh ni ff romance comedi,,,

    LIKE LIKE LIKE LIKE 😀

    Sequelllll doooongngngng 😀

    • annyeong, Juleha.
      nice to meet you again🙂
      wah, senangnya kalo kamu suka FF kami😀
      sekuelnya ditunggu ya… hehe… ada antriannya soalnya. biasanya kami juga posnya lebih dulu di blog kami.😀

  36. Anyeong author,,,,, 🙂

    he he he aku main ke blognya author kan, tapi ff nya di protect,,,, he he he,,, ^.^

    • Annyeong, Juleha.
      Makasih udah berkunjung. Kalo mau password, komen dulu di FF yang ga diprotek, chingu. Jangan lupa sertain alamat emailmu. Nanti kami kirim passwordnya.

  37. Aigooooo… sopan banget si oppa satu ne. Heuuuh berbahagialah cewek yg jadi pasanganx oppa satu neh. Nice thor eh lupa anyeooong salam kenal

    • Annyeong, salam kenaaaal…
      Gomawo udah komen, chingu😀
      Kalo mau baca ff kami yang lain, bisa berkunjung ke blog kami.
      Sekali lagi, gomawo.😀

  38. wow..wow..wow.. wonpanya melakukan “sesuatu”..
    NCnya lembut + romantis banget. sweet NC.. hihi..

    • Sesuatu apa nii~ chingu? ><
      Hehe, lembut, romantis dan sweet kami sesuaikan karakter soalnya, chingu.
      gomawo udah komen.
      oh ya, kalo kamu minat yang sweet-sweet lainnya, kamu boleh main ke blog kami ^^

  39. ketemu lagi ama ff kamu chingu🙂 dan aku suka! soalnya ff kamu tuh, menambah kosah kata bahasaku hihi😀😉

    • Haloo😉
      asiik… Kamu komen lagi di ff kami yang lain. Makasih ya.😀
      makasih juga udah follow blog kami🙂
      wah, nambah kosakata,😀 apa kamu suka nulis juga?🙂

  40. song yoo jin

    Nc’y sopan sesuai sm imej-ya siwon…biarpun kurang yakin.. :p

  41. wew hottt thor haha

  42. hahahaa..
    ngakak coba gara2 ikut Siwon ketawa, dan lagi2 sepertinya emang pairing ceweknya di takdirkan innocent walau ga sepenuhnya polos, kkk..
    “bajuku menyerap keringat” hahhaha, apa2an itu..
    tuhkan ceritanya emang ga biasa buat fanfic karya author..
    jujur aja, aku paling anti sama fanfic yg cast.nya bukan Kyu, tp, karena fanfic author yg judulnya aja bikin penasaran apalagi ceritanya yg konyol..
    hehe, couple2 yg menurutku bersifat terbalik, cowoknya gimana ceweknya gimana, tp, tetep bisa klop dan seru..

    annyeong authornim..
    bbeuh! iya nih ketemu lagi..
    aku udah buka blog author tp belom sempet baca, hehe, kelarin yg disini dulu aja.. ^^

    • kyaaa… nan_cho… ><
      hahaha. tapi kami punya stok cewek pairing yang gak polos kok😄 maksudnya yang bener-bener gak polos, tapi yang kami titip di yfi emang mayoritas polos sih. hehehe~ ah, oya, ada satu yang gak, coba Let's Make it Up deh. Itu ceweknya gak polos.😄

      Soal baju menyerap keringat, itu sebenarnya cuma cara Sunghyo berkelit, yang emang aneh sih. hahaha
      huwaaa… kami betul-betul senang kalo kamu suka ff-ff kami. #terbang
      dan judul-judulnya jugaa😄
      apa lagi kalo kamu juga suka couple-couplenya #speechless

      Annyeong juga, nan_cho
      kami senang lho ketemu kamu lagi.😀
      makasih udah komentar di ff-ff kami #deepbow #hugs

  43. Suka bangeettt
    Jalan ceritanya menarik, bahasa yang dipakai juga ga terlalu seronok gituu (?) Pokoknya ‘I really really like ittt aaa’

    Oia, aku buka blog kamu tapi kok di protect semua ff nya? Cara dpt pw nya gimana? Tengkyuu

    • waaah… makasih banget chingu komennya~😄
      kami senang kalo kamu suka ffnya

      gak semua diprotek kok, chingu. coba buka menu Contents, itu librarynya. Yang diprotek biasanya yang nc atau yang mau abis😀
      Cara dapet pwnya tinggal komen aja, chingu, di cerita bersangkutan, terus kasih alamat email. nanti kami kirim😀

      sama2, chingu~
      tengkyu juga😄

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: