Last Love (Sequel of My Love, My Kiss, My Heart)

yesung-ff-nc-yadong
Author : Haebaragi
Title : Last Love (Sequel of My Love, My Kiss, My Heart)
Cast: Kim Yesung
Han Ga Eun (OC)
Han Su Yeon (OC)
Genre: Romance
Rate  : NC21/Yadong

Cuap-cuap dikit:
I’m really sorry if i make such a bad sequel. Dari awal ga pernah berpikir bakal bikin sequel buat My Love, My Kiss, My Heart karena merasa ceritanya memang harus sampai di situ. It’ll lose its charm if i make the sequel. Tapi akhirnya menyerah dan tetep bikin juga… i really hope it doesnt turn into a bad sequel.
Please don’t hate me…
Secara perlahan namun pasti malam mulai merangkak menuju subuh. Di saat sebagian besar penduduk Seoul tertidur, seorang yeoja justru terjaga tanpa sedikitpun merasakan kantuk. Kamar tempat ia berada saat ini terasa begitu sunyi dan gelap. Hanya ada suara jarum jam yang bergerak pelan dan helaan nafas seorang namja yang berbaring di samping yeoja itu. Seberkas cahaya bulan masuk melalui jendela dan jatuh tepat di atas wajah tenang namja yang terlelap itu.
Sudah cukup lama si yeoja terpekur memandangi wajah namja yang tidur di sampingnya itu. Sejenak, yeoja itu mengendarkan pandangannya ke sekeliling kamar mereka. Dua gelas wine yang sudah kosong berada di atas meja yang biasanya dijadikan meja kerja oleh namja di sampingnya. Pakaian yang berserakan di lantai. Sebuah senyum terlihat di wajah si yeoja ketika ia mengulang kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
Namja itu baru saja pulang dari kantor, kali ini sedikit lebih cepat dari biasanya, dan menyapanya dengan lembut. Saat namja itu berada di kamar mandi, si yeoja mengganti pakaiannya dengan sehelai lingerie yang baru saja dibelinya tadi siang dan menyiapkan dua gelas wine favorit mereka. Segera setelah namja itu keluar dari kamar mandi dan melihat yeoja itu, dia tersenyum simpul seolah bisa membaca dengan jelas apa yang diinginkan yeojanya malam ini.
Keduanya menyesap minuman berwarna burgundy itu lebih cepat dari biasanya – saat mereka tengah makan malam, dan gelas yang telah kosong itu segera saja terabaikan saat wajah keduanya bertemu dalam sebuah ciuman panjang dan dalam. Seperti biasa, si yeoja yang memulai tapi pada akhirnya si namja yang akan memegang kendali atas ciuman-ciuman panas mereka. Bibir yang tidak hentinya bertautan – hanya sesekali terlepas untuk mengambil sedikit udara kemudian kembali saling mengecap dan lidah yang bergulat dalam mulut si yeoja.
Helaian demi helaian pakaian mulai terlepas hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa di tubuh keduanya kecuali kulit yang mulai dibasahi keringat. Desahan dan erangan nikmat mengisi ruangan yang cukup luas itu saat keduanya mulai saling mengecap setiap bagian dari tubuh pasangannya. Suhu ruangan terasa lebih panas dari biasanya ketika kedua tubuh itu menyatu, sama-sama berusaha mencapai puncak kenikmatan mereka. Malam ini si yeoja meminta memperpanjang kegiatan malam mereka.
Saat si yeoja berhasil mencapai orgasme keduanya sementara si namja baru menyelesaikan orgasme pertamanya dan masih berusaha mengatur nafasnya, si yeoja kembali menaiki tubuh si namja dan menyentuh setiap bagian tubuh si namja semenggoda mungkin. Namja itu hanya bisa terkekeh pelan. Tanpa perlu diucapkanpun namja itu sudah mengetahui apa yang diinginkan yeoja yang berada di atasnya itu. Dengan patuh namja itu mengikuti permainan si yeoja dan tidak lama kemudian suara desahan nyaring pun kembali terdengar memenuhi ruangan itu.
Pandangan yeoja itu kembali terpusat pada namja yang tengah beristirahat di sampingnya. Dada namja itu bergerak naik turun secara beraturan seiring dengan tarikan nafasnya yang terdengar dalam ritme monoton. Tangan yeoja itu terulur, menyingkap perlahan rambut hitam namjanya yang menutupi dahinya. Dengan lembut dan sangat hati-hati yeoja itu mulai menggerakkan jarinya, menyusuri garis wajah namjanya itu. Namja yang sudah menikahinya selama hampir empat tahun.
Pada awalnya yeoja itu merasa takut namjanya itu akan membencinya dan memperlakukannya dengan dingin. Wajar saja dia berpikiran seperti itu mengingat pernikahan mereka tidak dilakukan atas dasar cinta melainkan kepentingan perusahaan. Ah, perlu diralat. Yeoja itu menikahi si namja dengan iklas karena dia mencintai si namja tapi entah dengan namjanya itu.
Sejak awal pernikahan, namja bernama Kim Yesung itu memperlakukan Han Ga Eun dengan baik. Yesung selalu tersenyum di hadapan Ga Eun dan bersikap layaknya suami yang baik. Meskipun perlu waktu beberapa bulan sebelum mereka benar-benar menjadi suami istri. Ya, pada tiga bulan pertama Yesung hanya memeluk atau mengecup kening Ga Eun. Namja itu tidak pernah meminta apa yang harusnya diberikan seorang istri pada suaminya. Hanya pada akhir bulan ketiga pernikahan mereka, Yesung menyentuh Ga Eun dan berakhir dengan keduanya terbaring lemas di tempat tidur.
Paginya, saat mereka terbangun dengan tubuh yang hanya tertutupi selimut untuk pertama kalinya, Yesung meminta maaf pada Ga Eun karena baru bisa melakukan itu setelah beberapa bulan menikah.
“Gwenchana, aku tahu ini bukan sesuatu yang mudah untukmu,” sahut Ga Eun waktu itu. Yesung menatap Ga Eun dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak lama kemudian namja itu justru bangun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Tepat saat itu, Ga Eun merasakan ada sesuatu yang disimpan suaminya itu.
Selama hampir empat tahun pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun Yesung mengucapkan ‘saranghae’ pada Ga Eun. Namja itu memang kadang mengatakan ‘aku merindukanmu,’ jika dia tengah berada di luar kota atau di luar negeri untuk urusan perusahaan. Tapi tidak pernah sekalipun namja itu mengatakan satu kata sakral itu pada Ga Eun. Bahkan saat Ga Eun mengucapkan kata itu pun, Yesung biasanya hanya akan menyahut, ‘na do.’
Hal seperti ini justru semakin membingungkan bagi Ga Eun. Yesung bersikap baik padanya tapi tidak pernah menunjukkan seperti apa perasaannya yang sebenarnya. Rasa-rasanya akan jauh lebih baik jika namja itu bersikap dingin saja jika memang tidak pernah mencintai Ga Eun, dengan begitu yeoja itu merasa akan lebih mudah untuk membenci Yesung.
“Kau tidak tidur?” suara serak Yesung mengejutkan Ga Eun yang masih sibuk dengan lamunannya. Yeoja itu menatap Yesung yang tengah memperhatikannya dengan sorot mata khawatir.
“Belum mengantuk,” jawab Ga Eun jujur. Yesung melirik jam yang berada di atas nakas lalu kembali melihat Ga Eun.
“Sekarang sudah hampir jam dua subuh. Tidurlah. Kau bisa sakit.” Selama beberapa saat Ga Eun hanya terdiam, menatap sepasang manik milik Yesung yang menatapnya lembut. Satu lagi hal yang benar-benar membuat Ga Eun kesal, Yesung selalu menatapnya dengan lembut seperti ini. Tapi Ga Eun sadar betul, tatapan itu bukan tatapan penuh cinta melainkan hanya sekedar sayang dan peduli.
Yesung mengulurkan tangannya dan menarik lengan Ga Eun. “Ayo, cepat tidur,” tambah Yesung. Dengan pasrah Ga Eun mengikuti kehendak Yesung dan berbaring di samping namja itu. Yesung merapikan selimut yang menutupi tubuh mereka sebelum akhirnya mengecup pipi Ga Eun singkat.
“Ja~, uri Ga Eun… cepat tidur, eoh?”
Ga Eun akhirnya menutup kelopak matanya dan membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan Yesung.
.
.
.
Yesung keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya kemudian mencari pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Namja itu menghela nafas panjang dan selama beberapa saat dia hanya bisa terdiam mematung di hadapan lemari pakaiannya yang sudah terbuka lebar. Yesung sudah terbiasa mengenakan pakaian kerja yang sudah disiapkan Ga Eun selama beberapa tahun ini, jadi memilih pakaian kerja sendiri hari ini terasa aneh bagi Yesung.
Kemarin Ga Eun berangkat ke Maldives untuk berlibur bersama kedua orang tuanya. Yesung memilih asal kemeja berwarna putih dari deretan kemejanya yang menggantung rapi di dalam lemari. Namja itu kemudian mengambil celana panjang berwarna hitam dan juga jas dengan warna senada sebelum akhirnya menutup lemari pakaiannya.
Yesung mengancingkan bagian lengan kemejanya sambil berjalan menuju meja kerjanya. Namja itu membuka laci meja kerjanya lalu mengeluarkan selembar foto yang berada di antara tumpukan map. Cukup lama kedua mata namja itu terpaku memandangi wajah seorang yeoja yang tercetak di foto tersebut. Yeoja yang sudah sangat lama tidak ditemuinya. Bahkan untuk sekedar mengingatnyapun Yesung merasa ragu. Dia merasa takut untuk mengingat yeoja itu. Takut jika perasaannya berubah menjadi liar dan akhirnya merindukan yeoja itu tanpa bisa ia kendalikan. Yesung sadar, dia tidak bisa merindukan yeoja itu.
Setelah empat tahun berhasil mengendalikan setiap sudut perasaannya, sekitar dua minggu yang lalu Yesung menemukan foto itu di atas meja kerjanya di kantor. Terbungkus dalam sebuah amplop berwarna coklat berukuran sedang. Tidak ada nama pengirim, tidak ada surat apapun yang menyertainya. Hanya foto itu. Sekertarisnya mengatakan seorang kurir mengantarkan amplop itu tapi kurir itu juga tidak mengetahui siapa yang mengirimkan foto itu.
Selama berhari-hari Yesung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia menanyakan perihal foto ini pada Ga Eun? Kalau-kalau yeoja itu yang mengirimkan foto ini padanya. Namun namja itu kemudian mengurungkan niatnya karena sikap Ga Eun tidak terlihat berubah sama sekali. Jika yeoja itu mengetahui tentang Su Yeon, mungkin sudah sejak lama dia menginterogasi Yesung.
Ataukah foto ini dikirim oleh seseorang yang ingin memerasnya? Tapi sampai hari ini Yesung tidak menerima panggilan dari siapapun yang menyuruhnya untuk mengirim sejumlah uang agar berita mengenai dirinya dan yeoja di dalam foto itu tidak terkuak.
“Su Yeon,” lirih Yesung. Sudah lama sekali rasanya lidah dan bibir Yesung tidak mengartikulasikan nama itu. Meskipun begitu, nama itu masih tetap terasa begitu familiar baginya. Bahkan hanya dengan sederet huruf sederhana itu, jantung Yesung dapat berdetak diluar batas kewajaran.
Yesung menghela nafas panjang. Sebuah lengkungan secara perlahan mulai terbentuk di wajahnya. Foto di tangannya tidak hanya menunjukkan wajah yeoja bernama Su Yeon tapi juga wajah seorang anak kecil yang berada dalam gendongan yeoja itu. Anak perempuan yang mengenakan baju kaos berlengan pendek berwarna biru dengan gambar kucing kecil di bagian depan kaos dan celana selutut. Rambut panjang anak tersebut diikat rapi dan sepasang jepit rambut bertengger manis di kepalanya. Yesung yakin betul anak yang berada di gendongan Su Yeon adalah anak yeoja itu. Keduanya memiliki senyum yang serupa. Dan sesuatu dalam diri Yesung mengatakan dialah ayah dari anak itu.
Yesung meletakkan foto tersebut di atas meja dan beranjak dari tempat duduk. Kakinya melangkah menuju balkon kamar lalu menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon, memandangi tumpukan atap rumah yang terlihat sejauh matanya memandang. Yesung memejamkan matanya, membiarkan angin musim semi berhembus pelan menyentuh tubuhnya. Namja itu masih tidak mengerti apa yang diinginkan si pengirim foto.
Apakah dia sedang mengancam Yesung atau justru menyuruh Yesung untuk mencari Su Yeon.
Yesung yakin betul pengirimnya bukan Su Yeon. Yeoja itu sudah menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi setelah berpisah, karena Su Yeon percaya itulah yang terbaik untuk keduanya. Yesung menghormati keputusan Su Yeon dan karena itu pulalah selama empat tahun ini Yesung sama sekali tidak mencari tahu apapun tentang kehidupan Su Yeon. Apa yang terjadi pada yeoja itu selama empat tahun mereka berpisah bukanlah urusan Yesung lagi.
“Jadi kau sudah memiliki anak, sekarang?” gumam Yesung.
“Baguslah. Itu berarti kau tidak sendiri lagi sekarang. Kau bahagia, kan, Su Yeon-ah?” lagi-lagi Yesung hanya sanggup berbicara pada angin. Yesung menghela nafas lalu masuk ke dalam. Namja itu bergegas memasukkan foto Su Yeon ke dalam laci seperti sebelumnya, kemudian mengambil tas dan jasnya, bersiap untuk berangkat ke kantor.
Ya.
Sebagian besar dari diri Yesung sudah menerima perpisahan dirinya dan Su Yeon. Jika harus jujur, Yesung merasa sedikit lega saat mengetahui Su Yeon memiliki seorang anak – terlepas dari apakah anak itu adalah anaknya atau bukan, karena itu berarti Su Yeon tidak sendirian. Satu hal yang membuat Yesung merasa berat saat melepaskan Su Yeon adalah sepenggal kalimat yang pernah diucapkan Su Yeon padanya.
“Berpuluh-puluh tahun setelah kita berpisah, kita sudah sama-sama menjadi tua dan sakit-sakitan. Kau masih mempunyai anak-anak untuk merawatmu di kamar yang hangat. Sementara aku akan sakit dan mati sendirian karena tidak bisa melupakanmu dan memutuskan untuk tidak menikah. Siapa yang sebenarnya lebih menderita? Aku kan?”
Mengetahui Su Yeon sudah memilliki anak, membuat Yesung merasa lebih tenang sekarang. Setidaknya yeoja itu memiliki seseorang yang bisa diandalkan. Seseorang yang akan selalu menemaninya.
.
.
Sudah tiga puluh menit lewat semenjak Yesung tiba di kantornya dan duduk di ruangan kerjanya. Tapi namja itu hanya menatap kosong tumpukan file yang menunggu untuk dibaca. Otaknya mulai berkeliaran memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang. Yesung memijit pelipisnya dengan cukup kasar. Adalah sebuah kebohongan jika Yesung mengatakan dia sudah melupakan Su Yeon dan mencintai Ga Eun dengan sepenuh hati. Tidak. Yesung sadar dia masih menyimpan perasaan pada Su Yeon. Tapi dia sudah berjanji untuk menjaga Ga Eun, bukan hanya pada Tuhan tetapi juga pada Su Yeon. Karena itu sampai sekarang Yesung masih bertahan di samping Ga Eun, mencoba menjadi suami yang baik bagi yeoja itu.
Yesung menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi seraya menghembuskan nafas nyaring. Foto itu benar-benar mengacaukan pikiran dan perasaan Yesung. Memporak porandakan semua keyakinannya untuk tetap setia dengan Ga Eun yang telah dengan susah payah ia bangun.
.
.
.
Seorang yeoja berusia 28 tahun terlihat tengah sibuk di dapur, mengisi kotak bekal dengan beberapa macam sandwich dan buah-buahan.
“Eomma!” sebuah teriakan nyaring terdengar seiring dengan suara langkah kaki yang berlari menuju dapur tempat yeoja itu berada saat ini.
“Nee, nae sarang. Ada apa?” jawab yeoja itu sambil menggendong putrinya lalu mendudukkannya di kursi.
“Eomma, wajah appa seperti apa?” Yeoja itu terhenyak saat mendengar pertanyaan putrinya. Setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya dan berusaha terlihat biasa saja, yeoja itupun berjongkok di hadapan putrinya. Sepasang mata sipit milik putrinya selalu mengingatkan yeoja itu pada sesosok namja yang memiliki mata yang sama persis. Yeoja bernama Su Yeon itu mengusap lembut pipi putrinya yang chubby.
“Appamu, sama persis seperti dirimu, Yewon-ah. Hanya saja dengan kepala sedikit besar darimu. Eomma sudah pernah mengatakannya, kan?”
Yewon mengangguk-angguk kecil. “Appa mirip dengan Yewon!”
“Kenapa tiba-tiba menanyakan tentang appa?” tanya Su Yeon hati-hati.
“Ibu guru menyuruhku untuk menggambar kemarin. Menggambar appa.”
Su Yeon memeluk Yewon sambil menepuk punggung putrinya itu pelan. Ini bukan pertama kalinya Su Yeon harus di hadapkan dengan pertanyaan mengenai ayah Yewon. Entah sudah berapa ratus kali anak itu menanyakan dimana ayahnya atau kenapa ayahnya tidak bersama mereka. Dan jika di hadapkan dengan pertanyaan itu, Su Yeon hanya bisa memeluk Yewon dan mengatakan karena satu alasan, ayahnya harus pergi meninggalkan mereka.
Su Yeon sendiri tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan dengan alasan yang sama. Yeoja itu sadar betul, suatu hari nanti Yewon pasti akan menuntut jawaban yang lebih jelas mengenai keberadaan ayahnya. Tapi Su Yeon lebih memilih untuk memikirkan masalah itu nanti.
“Yewon-ah, sudah saatnya kau berangkat sekolah.” Su Yeon melepaskan pelukannya dan segera menyelesaikan memasukkan makanan ke dalam kotak bekal Yewon. Segera setelah semua pekerjaannya selesai, Su Yeon mengantarkan Yewon ke taman kanak-kanak yang terletak beberapa blok dari rumah mereka tinggal.
.
.
Su Yeon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 7.30. Yeoja itu menghela nafas. Masih ada sekitar dua jam sebelum murid-muridnya datang. Semenjak tinggal di London, Su Yeon memang sudah cukup sering berganti-ganti pekerjaan, mulai dari menjadi resepsionis hotel, tour guide, sampai akhirnya dia membuka tempat belajar bahasa Korea di rumahnya sendiri.
Sesekali Su Yeon menjadi tour guide tapi pekerjaan utamanya saat ini adalah mengajar. Yeoja itu merasa beruntung karena gelombang hallyu sudah menyebar di berbagai penjuru dunia dan semakin banyak orang yang tertarik untuk belajar bahasa Korea. Bisa dikatakan, Su Yeon memiliki penghasilan yang cukup dari mengajar bahasa Korea pada warga Inggris atau menjadi pengajar bahasa Inggris pada warga Korea yang baru saja pindah ke London.
Alis Su Yeon mengernyit saat melihat seorang yeoja berdiri di depan pintu rumahnya.
“Can I help you?” tanya Su Yeon sopan. Yeoja yang di sapa Su Yeon berbalik dan selama beberapa saat Su Yeon merasa yeoja di hadapannya itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.
“Eumm.. Han Su Yeon?” yeoja itu justru bertanya balik.
“Yes.”
“Han Ga Eun imnida,” balas yeoja itu seraya membungkukkan badannya sopan.
“Ah! Han Ga Eun-ssi!!” Su Yeon berseru saat menyadari yeoja di hadapannya adalah orang yang sudah memesan salah satu ruangan di kamarnya. Rumah Su Yeon memang tidak terlalu besar, hanya ada dua lantai dengan dua kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tengah yang dijadikan Su Yeon sebagai kelas, satu ruang keluarga dan satu dapur yang menyatu dengan ruang makan.
Karena Yewon tidur dengan Su Yeon, maka yeoja itu akhirnya mengiklankan kamar tidur yang tidak terpakai untuk traveler yang berencana berlibur di London. Selama empat hari ke depan, kamar kosong tersebut akan dihuni oleh yeoja bernama Han Ga Eun.
Dengan penuh semangat Su Yeon menjelaskan setiap ruangan yang ada di rumah berlantai dua itu sembari memberi tahu barang apa saja yang bisa di gunakan Ga Eun dan barang mana yang tidak boleh disentuh. Yeoja itu begitu bersemangatnya sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa yang menjadi pusat perhatian Ga Eun bukanlah apa yang diucapkan Su Yeon melainkan yeoja itu sendiri. Ga Eun mengamati setiap detail penampilan Su Yeon bahkan gerak gerik yeoja itu. Tidak ada satupun yang luput dari pengamatan Ga Eun.
“Baiklah, Ga Eun-ssi, ada yang ingin kau tanyakan?” ucap Su Yeon yang baru saja mengakhiri tur singkat di rumahnya dan berhenti di depan kamar yang akan ditempati Ga Eun. Seolah tersadar dari pikirannya sendiri, Ga Eun bergumam pendek sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Ah,” Ga Eun membuka mulutnya. “Kalau aku tidak salah kau menyebutkan tentang putrimu di situs.”
“Nee. Yewon. Namanya Yewon tapi sekarang dia sedang bersekolah. Aku akan memperkenalkannya nanti.”
“Geurae. Arrasso,” sahut Ga Eun kemudian.
.
.
Su Yeon menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, matanya menatap kosong langit-langit kamar. Han Ga Eun. Nama itu terdengar tidak begitu asing di telinga Su Yeon. Yeoja itu mulai memejamkan matanya. Geurae, mana mungkin ia bisa melupakan nama yeoja yang dijodohkan dengan Yesung. Han Ga Eun.
Su Yeon kembali membuka matanya. Tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya, tapi apakah mungkin Ga Eun yang berada di rumahnya sekarang adalah Ga Eun yang sama dengan istri Yesung?
Su Yeon mendadak bangun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju pintu kamar, berniat untuk menanyakan hal itu langsung pada Ga Eun. Namun tangannya tertahan begitu saja di kenop pintu kamar.
Yeoja itu menggigit bibir bawahnya sementara otaknya mulai mempertimbangkan beberapa hal. Bagaimana mungkin Ga Eun yang merupakan anak dari pengusaha kaya menginap di kamar kecil di rumahnya? Su Yeon melepaskan genggaman tangannya di kenop pintu dan mulai mundur perlahan, kembali ke tempat tidurnya.
Meski merasa tidak mungkin rasanya Ga Eun tinggal di rumahnya dan kecil kemungkinan yeoja itu mengetahui tentang dirinya, Su Yeon tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tiba-tiba saja yeoja itu merasakan kekhawatiran meski ia tidak tahu kenapa.
.
.
Cukup lama Su Yeon terduduk di tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Entah kenapa hari ini yeoja itu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya seolah terganjal satu hal – satu orang bernama Han Ga Eun lebih tepatnya. Su Yeon bahkan meangakhiri kelas bahasa Koreanya lima menit setelah mereka memulai pelajaran.
Halaman situs pencari terpampang di layar benda berbentuk kotak yang sedang digenggam Su Yeon dan sederet nama tertulis di satu-satunya kolom yang ada di halaman situs tersebut Han Ga Eun and Kim Yesung. Tapi jari Su Yeon seolah tidak sanggup menekan tanda search di layar. Ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk mencari tahu tentang Yesung, apapun itu!
Empat tahun berlalu dan selama itu pula Su Yeon berusaha untuk tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada namja yang sudah memberinya seorang putri itu. Su Yeon sudah bernjanji pada Yesung bahwa hubungan mereka tidak akan pernah berlanjut, meski ternyata namja itu meninggalkan jejak yang tidak pernah bisa Su Yeon hilangkan. Jejak yang menjadi bukti nyata bagi yeoja itu bahwa sosok bernama Yesung benar-benar ada dan dia sudah jatuh cinta pada namja itu. Jejak bernama Han Yewon.
“Eomma!!!” suara nyaring yang terdengar dari arah luar membuat Su Yeon tersadar dari lamunannya. Dengan cepat yeoja itu menutup halaman situs pencari kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Su Yeon bergegas keluar kamarnya dan mendatangi malaikat kecilnya.
Saat Su Yeon turun ke lantai satu, Yewon terlihat tengah berbicara dengan Ga Eun di ruang makan. Putrinya itu duduk di panguan Ga Eun.
“Kau sudah berkenalan dengan putriku, rupanya,” komentar Su Yeon seraya menarik kursi yang ada di seberang Ga Eun kemudian duduk.
Ga Eun tersenyum lebar. “Nee. Putrimu sangat cantik.”
“Eonni juga sangat cantik,” sahut Yewon sambil menoleh ke belakang dan mengusap lembut wajah Ga Eun.
“Eonni?” tanya Su Yeon dengan alis mengernyit.
“Maaf, aku memintanya memanggilku dengan sebutan eonni,” sahut Ga Eun sambil tersenyum kikuk. “Aku merasa sangat tua kalau dia memanggilku dengan sebutan ahjumma atau imo.”
“Ah… arrasso.” Su Yeon mengangguk.
Su Yeon akhirnya mengajak Ga Eun berjalan-jalan di sekitar kompleks sambil menemani Yewon bermain. Su Yeon semakin menepis pemikiran bahwa Ga Eun yang bersamanya saat ini adalah istri Yesung. Ga Eun memang tidak banyak bercerita tentang dirinya, tapi Su Yeon merasa Ga Eun bukan dari keluarga kaya seperti istri Yesung melainkan dari keluarga biasa. Ga Eun sendiri justru banyak bertanya tentang Su Yeon dan Yewon.
.
.
“Ada apa?” pertanyaan Ga Eun membuat Su Yeon seolah tersadar dari lamunan singkatnya. Saat ini kedua yeoja itu tengah duduk di ruang makan. Malam sudah larut dan Yewon sudah tertidur pulas. Ga Eun duduk sambil memeluk kedua kakinya yang tertekuk di kursi. Sekaleng bir yang sudah setengah kosong berada di hadapannya. Sementara Su Yeon duduk di seberang Ga Eun dengan tangan yang menggenggam erat gelas keramik berisikan coklat hangat.
Su Yeon tidak langsung menjawab pertanyaan singkat Ga Eun. Yeoja itu terdiam sejenak sambil memutar-mutar gelas di tangannya.
“Ga Eun-ssi, boleh aku bertanya satu hal yang sebenarnya cukup personal padamu?” ucap Su Yeon hati-hati. “Tapi kalau kau keberatan tidak apa,” tambahnya cepat.
Ga Eun sedikit memiringkan kepalanya dengan dahi yang berkerut. Sepasang matanya menatap lurus Su Yeon, seolah mencoba menebak apa yang ingin ditanyakan yeoja di hadapannya itu. “Eummm…. Let’s hear it,” putus Ga Eun akhirnya.
Su Yeon mengambil nafas dalam, terlihat jelas yeoja itu masih mempertimbangkan untuk tetap menanyakan hal yang sejak tadi mengusiknya atau tidak. “Ga Eun-ssi.” Su Yeon berdehem sebentar. “Apa ayahmu adalah CEO sebuah perusahaan besar di Korea?”
Jantung Su Yeon rasanya mulai berdetak dengan kencang menunggu jawaban dari Ga Eun. “Aku akan menjawabnya tapi kau juga harus menjawab pertanyaan dariku,” sahut Ga Eun yang segera di respon Su Yeon dengan anggukan pelan.
“Ayahku sudah tidak bekerja lagi,” jawab Ga Eun singkat. Su Yeon terlihat sedikit tidak puas dengan jawaban Ga Eun tapi yeoja itu merasa tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.
“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” tawar Su Yeon.
“Apa kau tidak tinggal serumah dengan ayah Yewon?”
Su Yeon berusaha mengatur nafasnya yang mendadak berantakan seiring dengan perasaan dan pikirannya yang mulai kacau. “Aku… sudah berpisah dari ayah Yewon semenjak Yewon dalam kandungan.”
“Ayah Yewon tidak tahu kalau kau mengandung anaknya?” cecar Ga Eun cepat.
“Hmm.. begitulah. Ayah Yewon tidak pernah tahu mengenai keberadaan Yewon.”
“Kau tidak ingin memberitahunya? Mungkin dengan begitu dia akan kembali padamu.”
Su Yeon terdiam cukup lama. Yeoja itu mengalihkan pandangannya dari Ga Eun selama beberapa saat.  “Dia tidak perlu mengetahui keberadaan Yewon,” jawab Su Yeon seraya menoleh kembali ke arah Ga Eun. “Bagiku ayah Yewon adalah masa lalu yang berharga tapi tidak bisa aku raih lagi. Oleh karena itu aku harus puas dan merasa cukup hanya dengan keberadaan Yewon. Aku tidak berhak meminta lebih dari ini.”
Ga Eun membalas tatapan Su Yeon. Entah apa arti dari tatapan Ga Eun, Su Yeon juga tidak mengerti.
Hening mulai jatuh di antara kedua yeoja itu. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing untuk sekedar menghilangkan diam yang terasa canggung kali ini.
“Maaf, jika pertanyaanku membuatmu merasa tidak nyaman.” Ga Eun akhirnya membuka kembali pembicaraan yang sempat terhenti.
Su Yeon menggeleng pelan. “Gwenchana,” ujarnya seraya bangkit dari duduknya lalu mencuci gelasnya yang masih penuh.
“Maaf, aku tidur lebih dulu. Besok aku harus menyiapkan bekal Yewon pagi-pagi.” Tidak lama kemudian Su Yeon keluar dari ruang makan, meninggalkan Ga Eun yang sepertinya masih ingin menghabiskan birnya. Su Yeon tidak sempat melihat setetes air mata yang jatuh di pipi Ga Eun, dan dalam hitungan detik wajah yeoja itu mulai basah dengan tetesan air mata yang turun tanpa henti.
.
.
.
Yesung berdiri dengan wajah bingung di depan sebuah rumah. Matanya melihat sederet alamat yang tertulis di komputer tablet di tangannya sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada nomor yang tertulis di samping pintu. Dua hari yang lalu namja itu mendapatkan telepon dari istrinya yang memberitahu dia tidak sedang di Maldives bersama orang tuanya melainkan di London. Bukan hanya itu, Ga Eun juga memintanya –ralat: memaksanya – untuk menyusulnya ke London. Ini pertama kalinya Ga Eun bersikap menuntut seperti ini, sehingga Yesung merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu. Yesung takut terjadi sesuatu pada Ga Eun di London.
Dan di sinilah Yesung sekarang. Di depan sebuah rumah kecil bertingkat dua di pinggiran London. Yesung masih merasa tidak yakin dengan alamat yang ada dikirimkan Ga Eun. Rumah di hadapan namja itu saat ini jelas terlihat kecil dan agak sedikit tidak sesuai dengan gaya Ga Eun. Rasanya kecil kemungkinan Ga Eun menginap di tempat kecil seperti ini dan bukannya di hotel di tengah kota.
“Can I help you?” sebuah suara akhirnya memaksa Yesung untuk memutar tubuhnya. Mata sipit namja itu mendadak membulat sempurna dan tubuhnya menegang ketika melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Reaksi yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan oleh yeoja yang baru saja memanggil namja itu.
Keduanya terdiam. Saling menatap namun tidak ada satupun yang mengeluarkan suara, entah karena suara mereka mendadak hilang atau karena otak mereka yang membeku seketika. Untuk kesekian kalinya angin berhembus di antara keduanya, membuat rambut yeoja itu sedikit berantakan.
“Ye- yesung…..,” lidah Su Yeon terasa kaku saat menyebutkan nama namja yang sekarang berada di hadapannya.
“Su Yeon-ah…” Yesung meneguk ludahnya gugup. “I..ini rumahmu?” tanya namja itu terbata-bata yang dijawab Su Yeon dengan anggukan kaku.
“Kau mencari Ga Eun?” tebak Su Yeon.
“Bagaimana kau tahu? Dia benar-benar menginap di sini? Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Apa dia menyakitimu?” Yesung mulai terlihat panik.
“Kau.. mencari istrimu?” ulang Su Yeon. Nafas yeoja itu mulai terasa berat dan entah kenapa kepalanya terasa pening.
Masih dengan posisi berdiri saling berhadapan di depan rumah Su Yeon, Yesung akhirnya menjelaskan bagaimana akhirnya ia bisa menemukan alamat Su Yeon. Namja itu meyakinkan Su Yeon bahwa ia tidak pernah memberitahukan tentang dirinya pada siapapun, bahkan pada dongsaengnya yang sangat dekat dengannya sekalipun.
Su Yeon terlihat gelisah setelah mendengar apa yang diucapkan Yesung. Yeoja itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian menekan nomor Ga Eun dari daftar kontak ponselnya. Namun belum sempat nada sambung terdengar, sebuah suara yang cukup familiar bagi Su Yeon dan terlebih lagi bagi Yesung terdengar, membuat keduanya serempak menoleh ke arah sumber suara.
“Wah, akhirnya kita bertiga berkumpul!” yeoja yang sejak tadi menjadi objek pembicaraan Su Yeon dan Yesung berdiri beberapa meter dari kedua orang tersebut. Selama beberapa hari Su Yeon tidak bisa menepis dugaan bahwa Ga Eun adalah memang istri Yesung, tapi selama itu pula yeoja itu terus berharap bahwa dugaannya salah. Namun kenyataan berkata lain. Sekarang bukan hanya sebuah pengakuan sederhana dari Ga Eun yang didapat Su Yeon, tapi justru Yesung sendiri yang mengantarkan pembenaran atas dugaan Su Yeon.
“Ga Eun-ssi. Apa maksud semua ini?” tanya Su Yeon bingung. Belum sempat Ga Eun menjawab pertanyaan Su Yeon, sebuah suara nyaring yang berasal dari ponsel di tangan Su Yeon terdengar. Dengan enggan yeoja itu mengalihkan pandangannya ke ponsel yang tengah menampilkan sederet nomor yang tidak dikenal Su Yeon. Yeoja itu akhirnya menekan tanda hijau di layar sebelum mendekatkan speaker ponsel ke telinganya.
“Hospital?” Jantung Su Yeon berdetak dengan begitu kencang sementara tangannya bergetar hebat saat seseorang dari seberang sana memulai pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia adalah perawat di sebuah rumah sakit. Nafas Su Yeon serasa tercekat dan dalam sekejap yeoja itu kehilangan kemampuannya untuk berdiri ketika ia mendengar apa yang baru saja terjadi pada putrinya.
“Su Yeon-ah, gwenchana?” dengan cepat Yesung bersimpuh di samping Su Yeon yang sudah terduduk lemas di jalanan dengan air mata yang meluncur dengan deras. Nafas yeoja itu terputus-putus.
“Su Yeon-ah,” panggil Yesung sekali lagi sambil mengusap lembut lengan Su Yeon. Ga Eun yang baru saja berniat mendatangi Su Yeon dan menanyakan apa yang terjadi, akhirnya memutuskan untuk tetap diam di tempatnya.
“Uri Yewon,” ucap Su Yeon di sela isakannya. “Uri Yewon mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.”
Ga Eun hanya bisa menggigit bibirnya dengan keras saat melihat bagaimana lengan Yesung melingkar di bahu Su Yeon di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sesekali Yesung menggenggam erat tangan Su Yeon, seolah memberi kekuatan pada yeoja itu.
Setibanya di rumah sakit, ketiganya langsung menuju ruang gawat darurat. Wajah ketiganya terlihat begitu cemas menantikan dokter yang menangani Yewon keluar dari ruangan tersebut bersama dengan informasi mengenai keadaan Yewon.
Pandangan ketiga orang tersebut serentak terpusat pada pintu ruangan saat suara kenop yang diputar terdengar. Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya keluar dari ruangan dan langsung memandang ketiga orang tersebut bergantian.
“Kalian keluarganya?” tanya pria tersebut.
“Aku ibunya”/”Aku ayahnya,” jawab Su Yeon dan Yesung bersamaan.
“Baguslah. Putri kalian kehilangan cukup banyak darah dan memerlukan donor darah.”
“Aku bersedia!” lagi-lagi keduanya menjawab bersamaan, membuat sang dokter menatap keduanya bergantian.
“Golongan darahku B dan putriku AB. Tapi dia masih bisa menerima darahku, bukan?” tambah Su Yeon cepat. Dokter tersebut mengangguk setuju.
“Golongan darahku AB!” sahut Yesung kemudian. Namja itu menoleh ke arah Su Yeon, “biarkan aku yang memberikan darahku,” ucapnya dengan tatapan memohon.
Su Yeon terdiam sejenak, mempertimbangkan untuk menerima tawaran Yesung atau tidak.
“Aku ayahnya bukan?” ujar Yesung tanpa ragu. “Kumohon, biarkan aku yang memberikan darah pada putriku,” tambahnya.
“Su Yeon-ah, biarkan Yesung yang mendonorkan darahnya. Kau tunggu di sini saja, nee?” Ga Eun yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut ambil bicara. Yeoja itu melingkarkan lengannya di bahu Su Yeon.
“Baiklah,” jawab Su Yeon akhirnya.
Tidak lama setelah Yesung masuk ke dalam ruangan untuk pendonor darah, seorang polisi datang dan memberitahu Su Yeon penyebab kecelakaan yang dialami Yewon. Seorang pengendara motor rupanya menabrak Yewon saat anak kecil itu menyeberang jalan. Namun dari semua penjelasan yang diberikan polisi tersebut, Su Yeon hanya bisa menangkap beberapa hal. Pikiran yeoja itu terlalu sibuk memikirkan kondisi putrinya saat ini sampai-sampai ia tidak perduli siapa pengendara motor tersebut. Su Yeon hanya menatap kosong polisi di hadapannya sambil sesekali mengangguk tanpa makna. Hanya Ga Eun yang menyahut saat polisi tersebut menanyakan beberapa hal.
Waktu terasa berjalan begitu lambat dan begitu menyiksa bagi Su Yeon yang menunggu informasi mengenai kondisi Yewon setelah Yesung akhirnya mendonorkan darahnya. Setelah cukup lama menunggu dengan cemas, dokter yang sama kembali keluar dari ruang gawat darurat.
“Putri anda mengalami patah tulang di bagian lengan kanannya. Terjadi benturan di kepalanya namun tidak sampai menimbulkan akibat yang fatal. Dalam satu atau dua minggu keadaannya akan membaik.” Informasi dari dokter tersebut bagaikan angin segar bagi Su Yeon. Yeoja itu langsung menyalami dokter di hadapannya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Entah sadar atau tidak, Su Yeon mendadak melingkarkan lengannya di tubuh Yesung dan memeluk erat namja itu, dan isakan pelan kembali terdengar dari mulut yeoja itu. Namun kali ini bukan tangisan cemas melainkan tangisan lega. Yesung mengusap punggung Su Yeon dengan lembut.
.
.
Su Yeon menggerakkan kelopak matanya saat merasakan pipinya di sentuh dengan begitu lembut. Sebuah sentuhan yang pernah ia rasakan bertahun-tahun yang lalu dan sangat ia rindukan. Yeoja itu membuka matanya dan selama beberapa saat ia hanya bisa melihat bayangan wajah seseorang sebelum akhirnya bayangan itu terlihat semakin jelas seiring dengan pandangannya yang mulai menyesuaikan dengan cahaya. Jantung Su Yeon rasanya berhenti berdetak saat matanya beradu pandang dengan sepasang mata yang menatapnya dengan penuh perasaan.
“Yesung,” lidah Su yeon rasanya kembali terbiasa menyebutkan nama itu. Su Yeon membenarkan tubuhnya yang sebelumnya tertidur dengan merebahkan kepalanya di pinggiran tempat tidur sementara tubuhnya duduk di kursi di samping tempat tidur. Ringisan pelan terdengar saat Su Yeon menggerakkan tubuhnya perlahan.
Yeoja itu menoleh ke arah Yewon yang rupanya masih tertidur sebelum kembali menatap Yesung yang duduk di sampingnya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Su Yeon dengan suara pelan, khawatir mengganggu tidur Yewon.
Yesung melirik jam tangannya sekilas sebelum menjawab, “3.20 subuh.”
Su Yeon hanya bisa terdiam mematung saat Yesung mengulurkan tangannya dan mulai mengusap lembut rambutnya, kemudian turun ke pipinya hingga akhirnya berhenti di leher yeoja itu. Sepasang mata itu seolah saling mengunci. Tidak ada yang berniat untuk mengalihkan pandangan atau sekedar untuk berkedip. Rindu terlihat jelas menggantung di antara keduanya.
“Bagaimana kabarmu?” ucap Yesung. “Kau bahagia?”
Su Yeon mengangguk. “Eoh. Aku bahagia, bersama Yewon.”
Jemari Yesung mulai menyentuh bibir Su Yeon, seolah namja itu sedang mencium Su Yeon dengan usapan jemarinya.
“Kau bahagia?” Su Yeon bertanya balik.
“Aku mencoba untuk bahagia.”
Perlahan namun pasti tangan Su Yeon mulai menelusuri garis wajah Yesung. Ada ratusan perasaan yang membuncah di dada Su Yeon saat jemarinya beradu dengan kulit Yesung. Entah siapa yang memulai, tapi secara perlahan jarak di antara keduanya semakin berkurang hingga akhirnya Su Yeon bisa merasakan deru nafas Yesung tepat di hadapannya. Yesung memajukan wajahnya sekali lagi dan bibir keduanya bertemu sekilas. Hanya sebuah kecupan singkat.
Sedetik kemudian ganti Su Yeon memajukan wajahnya dan membiarkan bibirnya menyentuh bibir Yesung. Lagi-lagi hanya berupa kecupan singkat. Kedunya seolah masih ditahan ragu. Empat tahun berpisah. Empat tahun memutuskan untuk mencoba bahagia dengan kehidupan masing-masing. Namun empat tahun menyandang rasa yang sama. Saling mencintai. Saling merindui.
Tapi status Yesung menahan semua luapan rindu mereka. Janji Su Yeon untuk meninggalkan Yesung menahan ungkapan cinta yang sudah menggantung di ujung lidah.
Mereka masih menahan diri.
“Eurrgggh…..,” rintihan pelan seolah memutus pembicaraan tanpa suara itu. Keduanya sontak menoleh ke arah Yewon. Kelopak mata anak kecil itu mulai bergerak sebelum akhirnya membuka dengan perlahan. Selama beberapa saat sepasang manik milik Yewon hanya bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa fokus.
“Appa?” ucap anak kecil itu saat akhirnya pandangannya terfokus pada satu sosok yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
Yesung menatap Yewon tidak percaya. “K..kau… mengenaliku?”
“Eomma benar, appa memang mirip sekali denganku.” Kalimat pendek itu seolah menjadi jawaban yang begitu jelas bagi Yesung. Namja itu memajukan wajahnya dan mengecup kedua pipi Yewon bergantian.
“Eoh… ini appa, Yewon-ah,” ucap Yesung dengan sedikit terbata-bata. Namja itu berusaha keras menahan tangisnya saat ini.
.
.
.
Beberapa jam setelah Yewon sadarkan diri, Yesung dan Su Yeon baru menyadari bahwa Ga Eun sudah tidak lagi bersama mereka. Tidak ada yang sadar kapan Ga Eun menghilang dan kenapa. Yesung akhirnya mencoba menghubungi Ga Eun.
“Nee, oppa.” Yesung menghela nafas lega saat mendengar suara khas milik Ga Eun. Namja itu segera keluar dari ruangan tempat Yewon dirawat, meninggalkan Su Yeon yang tengah mengobrol dengan Yewon.
“Kau ada dimana?”
“Di bandara. Aku menyusul orang tuaku berlibur ke Maldives. Bagaimana keadaan Yewon? Dia sudah bangun?”
“Eoh, dia sudah bangun. Dia mencarimu.”
Ga Eun terkekeh pelan. “Mian, aku pergi tanpa berpamitan pada kalian. Terutama pada Yewon. Rasanya aku tidak sanggup melakukannya.”
“Ga Eun-ah….,” panggil Yesung lirih.
“Oppa….. dengarkan aku baik-baik.” Ga Eun mengambil nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Aku benar-benar merasa seperti yeoja yang jahat saat mengetahui apa yang terjadi antara kau dan Su Yeon. Awalnya aku hanya merasa penasaran karena kau sempat menghilang seminggu sebelum acara pertunangan kita. Aku bertanya pada Jong Jin apakah kau memiliki yeojachinggu sebelum dijodohkan denganku tapi dongsaengmu mengatakan tidak ada. Tapi dia sempat menceritakan bahwa oppa memintanya mengantarkan sesuatu untuk seorang yeoja bernama Han Su Yeon pada hari pernikahan kita.”
“Ga Eun-ah, itu…-“
“Oppa, biarkan aku menyelesaikan semuanya dulu,” potong Ga Eun. “Sejak awal pernikahan aku khawatir oppa akan bersikap dingin padaku tapi ternyata kau justru bersikap baik. Aku tahu kau berusaha keras untuk menerima pernikahan ini. Dua tahun yang lalu aku memulai pencarian tentang Su Yeon. Aku mencari berbagai hal tentang Su Yeon termasuk kemana ia pindah setelah dari Seoul. Aku tahu kau tidak berusaha untuk menghubungi Su Yeon selama pernikahan kita, begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menemui Su Yeon secara langsung.”
Hening sejenak.
“Oppa, kau tahu kau sudah membuatku terlihat seperti yeoja yang jahat? Aku memaksamu untuk menikah denganku demi menyelamatkan perusahaanmu dan memaksa kalian untuk berpisah. Harusnya saat itu kau katakan saja kalau kau sudah memiliki kekasih. Memangnya oppa pikir aku seegois itu sampai-sampai membiarkan perusahaanmu bangkrut hanya karena kau tidak menyetujui permintaan appaku untuk menikahiku?”
“Ga Eun-ah…..,” Yesung seolah kehilangan kata-kata.
“Harusnya kau katakan padaku yang sebenarnya padaku waktu itu.”
“Mianhe, Ga Eun-ah. Mianhe.”
Ga Eun menghela nafas panjang. “Aku sudah mengurus surat perceraian kita oppa. Tenang saja, perusahaan tetap berjalan seperti perjanjian awal. Aku sudah membicarakan mengenai ini dengan appa.”
Yesung menggenggam erat ponsel di tangannya, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Ga Eun saat ini. Haruskah ia meminta yeoja itu untuk membatalkan niatnya untuk bercerai? Yesung tahu betul perasaan Ga Eun padanya, dan pasti bukan hal yang mudah bagi yeoja itu untuk bercerai.
“Ga Eun-ah, sekarang kau yang membuatku seperti namja yang jahat,” ujar Yesung akhirnya. Terdengar suara tawa dari seberang sana, tapi Yesung sadar betul itu adalah sebuah tawa getir.
“Eoh.. kau memang jahat oppa. Aku pikir kau akan mencintaiku setelah kita hidup bersama. Tapi sampai sekarang kau justru masih mencintai Su Yeon.”
“Mianhe.. kau tau aku menyayangimu, bukan?”
“Kau menyayangiku karena kau merasa bertanggung jawab atasku. Tapi kau tidak pernah benar-benar melihatku sebagai seorang yeoja.”
Yesung mengepalkan tangannya dengan erat seraya menutup matanya. Namja itu mencoba memahami perasaannya yang bergejolak saat ini. Semua perasaan bercampur aduk sampai-sampai ia tidak tahu harus merasa seperti apa saat ini. Yesung menoleh ke belakang saat merasakan bahu kanannya diremas lembut. Su Yeon berdiri di belakangnya dengan alis yang mengernyit.
“Ga Eun?” tebak yeoja itu. Yesung mengangguk. Su Yeon berniat untuk membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Yesung karena merasa ia tidak berhak untuk mendengarkan pembicaraan suami istri tersebut. Tapi tangan Yesung menahan tubuh yeoja itu.
Yesung kemudian menyerahkan ponsel dalam genggamannya pada Su Yeon. “Ga Eun ingin berbicara denganmu,” ujarnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Su Yeon meneriman ponsel Yesung dan meletakknya di telinga kanannya.
“Nee… Ga Eun-ssi,” ucap Su Yeon dengan suara yang sedikit bergetar.
“Su Yeon-ah. Chukhae, sebentar lagi Yesung oppa akan melamarmu.” Su Yeon sontak melemparkan tatapan bingung pada Yesung saat mendengar ucapan Ga Eun. Yeoja itu tidak mengerti apa yang baru saja dibicarakan Ga Eun.
“Aku sudah mengatakan pada Yesung oppa kalau kami akan segera bercerai. Aku sudah mengurus semuanya.”
“Ga Eun-ssi.. aku.. aku…..,” Su Yeon seolah kehabisan kata-kata. Lidahnya terasa kelu sementara otaknya seperti mendadak berhenti berfungsi.
“Gwenchana. Aku melakukan ini dengan sadar dan dalam kondisi tidak mabuk. Aku sudah memikirkan ini matang-matang dan aku percaya kau adalah yeoja yang tepat untuk Yesung oppa.”
“Tapi bukankah kau mencintai Yesung?”
“Maja! Aku memang sangat mencintai Yesung oppa. Tapi dia tidak pernah membalas perasaanku. Lalu untuk apa aku mempertahankan pernikahan kami jika itu hanya akan menyiksa Yesung oppa.”
“Aku sudah menyerahkan Yesung padamu, Ga Eun-ssi.”
“Aku tidak tahu apakah harus berterima kasih padamu atau tidak. Aku senang bisa menghabiskan hari-hariku selama empat tahun ini dengan Yesung oppa. Dan dia selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi itu bukan karena dia mencintaiku melainkan karena dia mencintaimu. Kau yang memintanya untuk memperlakukanku dengan baik, bukan?”
Su Yeon memandang kosong Yesung. Nafas yeoja itu terdengar berat dan terputus-putus dan tiba-tiba saja ia terduduk lemas di lantai.
“Su Yeon-ah, gwenchana?” tanya Yesung panik. Tapi yeoja yang ditanya hanya menggeleng pelan seraya menggenggam erat lengan Yesung. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Otaknya bekerja keras untuk memproses semua yang diucapkan Ga Eun sebelumnya.
“Apa kau akan baik-baik saja?” tanya Su Yeon setelah bisa sedikit menguasai dirinya.
“Eumm… aku tidak akan baik-baik saja saat ini. Tapi setelah beberapa saat, kurasa aku akan baik-baik saja.”
“Ga Eun-ssi…. Apa aku harus mengucapkan terima kasih padamu?”
Ga Eun tertawa cukup nyaring. “Sudahlah. Simpan saja terima kasihmu kalau kau sudah resmi menjadi istri Yesung. Kau harus tahu Su Yeon-ah, jalan menuju pelaminan tidak akan begitu mudah bagimu. Aku yang memutuskan untuk bercerai dengan Yesung. Tentu akan ada banyak rumor yang beredar nanti, terlebih lagi jika tidak lama setelah kami resmi bercerai Yesung akan menikah denganmu. Siapkan dirimu untuk semua berita buruk yang mungkin kau terima, nee?”
“Apa aku boleh menghubungimu jika aku merasa tidak sanggup dengan semuanya?”
“Cish, kau ingin mendapatkan kalimat menghibur dari mantan istri suamimu?” sahut Ga Eun dengan nada bercanda.
“Ga Eun-ssi….,” namun Su Yeon justru merasa bersalah.
“Arrasso,.. aku hanya bercanda tadi. Aku tidak tahu apakah aku sudah bisa berhadapan denganmu saat itu terjadi. Mianhe. Kalau aku menolak telepon darimu atau menolak bertemu denganmu, itu artinya aku masih belum siap. Tapi jika aku sudah benar-benar bisa menata hatiku, aku pasti akan mendatangimu tanpa perlu kau minta. Sampai saat itu tiba, kau harus berjuang sendirian, nee?” sahut Ga Eun tulus.
“Baiklah. Gomawo, Ga Eun-ssi.”
“Cish, sudah kukatakan padamu. Simpan terima kasihmu untuk sementara ini.”
Sudah cukup lama Su Yeon dan Yesung duduk bersebelahan di sofa yang berada di ruangan perawatan Yewon. Mata keduanya menatap lurus ke arah Yewon yang tertidur pulas. Su Yeon menyandarkan kepalanya pada bahu Yesung, sementara tangan keduanya saling bertautan.
“Yesung-ah, kau masih mencintaiku?” Su Yeon yang pertama memecah keheningan di antara keduanya. “Apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan apa-apa pada Ga Eun?”
“Entahlah. Aku merasa terbiasa dengan keberadaan Ga Eun di sisiku selama empat tahun terakhir. Apa rasa terbiasa itu bisa dikatakan sebagai cinta?”
Su Yeon menengadahkan wajahnya dan menatap Yesung yang juga menoleh ke arahnya pada saat yang bersamaan. “Saat ini….,” ucap Su Yeon lirih. “Kau ingin menyusulnya?”
Yesung menggelengkan kepalanya. “Aku ingin di sini. Aku ingin menjaga Yewon.” Yesung mengalihkan pandangannya pada Yewon sejenak sebelum kembali menatap Su Yeon. Tangan namja itu terangkat dan mulai membelai wajah Su Yeon. “Aku ingin menciummu,” ujar Yesung.
Su Yeon mengangguk pelan, mengabulkan permintaan Yesung. Sepasang mata itu saling beradu dalam diam sebelum akhirnya kedua bibir bertemu dalam sebuah kecupan singkat.
Yesung mengecup bibir Su Yeon sekali.
Lalu menarik bibirnya beberapa inci dan kembali menatap Su Yeon. Entah apa yang sedang dicari namja itu dari balik tatapan Su Yeon.
Yesung kembali mengecup bibir Su Yeon. Kali ini lebih lama beberapa menit. Namja itu melumat lembut bibir yeoja di hadapannya itu, seolah sedang mencari tahu apakah dia memang benar-benar masih mencintai Su Yeon.
Yeoja di hadapan Yesung itu hanya diam dan menutup matanya. Seolah mengerti apa yang tengah diinginkan Yesung saat ini, Su Yeon tidak membalas ciuman Yesung dan membiarkan namja itu memastikan perasaannya sendiri terlebih dahulu. Su Yeon masih mencintai Yesung. Yeoja itu tahu betul perasannya sendiri. Hanya perlu satu sentuhan jemari Yesung di tubuhnya untuk bisa mengenali perasaannya yang sudah cukup lama tersimpan itu.
Tapi Su Yeon tidak ingin memaksa Yesung.
Yesung menghentikan ciumannya namun wajahnya masih berada begitu dekat dengan Su Yeon.
“Su Yeon-ah,” panggil Yesung lembut. Yeoja yang dipanggil Yesung itupun membuka matanya.
“Tubuhku menginginkanmu,” Yesung melumat bibir Su Yeon sekali lagi. Kali ini lebih dalam dan lebih menuntut dari sebelumnya. “Jantungku berdetak begitu cepat di dekatmu. Dan aku hampir-hampir tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri yang ingin terus menyentuhmu.” Yesung menghentikan ciumannya kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajah Su Yeon. “Pikiranku hanya dipenuhi tentangmu. Perasaan ini. Sama seperti saat dulu kita bertemu. Aku masih mencintaimu.”
Su Yeon merasakan tubuhnya seolah meledak-ledak karena perasaan bahagia yang memenuhi seluruh sel di tubuhnya. Yeoja itu mengalungkan lengannya di leher Yesung dan menarik wajah namja itu agar kembali menciumnya. Yesung tersenyum lembut sebelum akhirnya kembali menautkan bibirnya dengan bibir manis Su Yeon.
“Saranghae…saranghae…,” untuk pertama kalinya selama empat tahun ini, lidah Yesung akhirnya mengucapkan satu kata sederhana itu. Satu kata sederhana namun bermakna suci.
.
.
.
Seminggu setelah di rawat di rumah sakit, Yewon akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Merasa Yewon sudah jauh lebih baik, Yesungpun memutuskan untuk kembali ke Seoul. Namja itu memberitahukan masalah perceraiannya dengan Ga Eun pada orang tuanya. Meski pada awalnya ayah Yesung marah besar tapi pada akhirnya ia bisa menerima keputusan Yesung.
Dua minggu setelah urusan perceraian selesai, Yesung memoboyong Su Yeon dan Yewon ke Seoul. Namja itu memperkenalkan secara resmi calon istrinya dan juga putrinya pada kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Yesung yang pada awalnya terlihat enggan menyambut Su Yeon dan Yewon, justru berubah sumringah saat melihat cucu pertama mereka. Kedua orang tua itu luluh melihat wajah Yewon yang benar-benar mirip Yesung. Bukan hanya itu, sikap Yewon yang ceria juga langsung membuat Tuan dan Nyonya Kim jatuh hati pada pandangan pertama dengan Yewon.
Tidak perlu proses lama sebelum akhirnya pernikahan Yesung dan Su Yeon digelar. Bukan sebuah pernikahan yang mewah melainkan hanya prosesi sederhana di rumah keluarga Kim dan hanya dihadiri keluarga dekat mereka. Bahkan Han Ga Eun beserta kedua orang tuanya bersedia datang ke acara pernikahan tersebut dan memberikan hadiah pernikahan dengan menyediakan sebuah vila mewah di tepi danau di Halstaat, Austria, untuk pasangan itu berlibur.
Sehari setelah upacara pernikahan, Su Yeon dan Yesung segera berangkat menuju Austria, tanpa ditemani Yewon. Su Yeon sebenarnya merasa agak berat meninggalkan Yewon selama seminggu tapi kedua orang tua Yesung meyakinkan yeoja itu bahwa Yewon akan baik-baik saja bersama mereka. Yewon sendiri juga tidak merasa keberatan. Putrinya itu justru terlihat bersemangat dengan rencana liburannya bersama kakek-neneknya.
.
.
Yesung duduk di meja makan sementara matanya menatap lekat Su Yeon yang berdiri membelakanginya. Pagi tadi mereka tiba di vila yang sudah disediakan untuk dirinya dan Su Yeon. Segera setelah mandi dan berganti pakaian, Su Yeon langsung mengajak Yesung untuk berkeliling kota Halstaat hingga senja tiba.
Mengingat vila tempat mereka menginap juga dilengkapi dengan dapur, Su Yeonpun akhirnya singgah di supermarket di jalan pulang. Saat ini yeoja itu terlihat sibuk mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua. Yesung mendadak berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Su Yeon. Namja itu memeluk Su Yeon dari belakang, membuat yeoja itu sedikit terlonjak kaget.
“Yesung-ah, aku sedang memasak…,” ucap Su Yeon saat Yesung mulai mengecupi leher Su Yeon. Namun Yesung tidak memperdulikan ucapan Su Yeon. Namja itu bahkan mulai menjilat leher Su Yeon sambil sesekali menggigit leher yeoja itu, meninggalkan bekas yang terlihat jelas di leher Su Yeon.
“Yesung-ah,” protes Su Yeon lagi ketika tangan Yesung menelusup masuk ke balik baju yang dikenakan Su Yeon dan mengusap perut Su Yeon.
Su Yeon refleks melepaskan pisau yang tengah digunakannya untuk memotong sayuran saat tangan Yesung meremas dadanya yang masih terbalut pakaian dalam dengan lembut, membuat yeoja itu tanpa sadar mendesah. Yesung tersenyum puas mendengar suara Su Yeon.
Yesung memutar tubuh Su Yeon agar mereka saling berhadapan sebelum akhirnya mencium bibir yeoja itu.
Perlahan namun pasti Su Yeon mulai membalas ciuman Yesung. Yeoja itu memiringkan kepalanya seraya melingkarkan lengannya di leher Yesung. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Yesung mengarahkan Su Yeon agar duduk di atas meja makan.
Sepasang namja dan yeoja itu menghabiskan bermenit-menit saling mengecap tanpa henti. Lidah mereka bahkan mulai bermain di mulut Su Yeon. Bernafas sepertinya bukan lagi prioritas mereka. Yesung melepaskan tautan bibir mereka selama beberapa detik untuk melepaskan kaos yang dikenakan Su Yeon sebelum kembali melumat bibir Su Yeon beberapa saat kemudian.
“Eummmmh….,” Su Yeon kembali mendesah tertahan saat tangan Yesung mulai menjamah setiap bagian tubuhnya.  Su Yeon menarik ujung kaos Yesung, meminta namja itu menghentikan ciuman mereka karena ia mulai kehabisan nafas. Dengan patuh Yesung menjauhkan bibirnya dari bibir Su Yeon yang sudah memerah.
“Aku merindukanmu. Sangat,” bisik Yesung sebelum mengulum daun telinga Su Yeon. Masih lekat diingatan keduanya saat mereka menghabiskan hampir dua puluh empat jam bersama. Satu-satunya hari yang mereka miliki sebagai sepasang kekasih sebelum berpisah keesokan harinya.
Jika saat itu yang ada di otak mereka adalah bagaimana mengingat setiap sentuhan, ciuman, dan rasa yang dibagi saat tubuh mereka menyatu, maka kali ini keduanya hanya ingin memuaskan semua rindu yang sudah sekian tahun tertahan.
Jika empat tahun yang lalu waktu yang berjalan adalah musuh mereka, maka kali ini mereka bebas memiliki waktu. Tidak ada batasan jam ataupun hari.
Tidak ada yang menyadari kapan pakaian mereka terlepas dari tubuh keduanya, hingga akhirnya baik tubuh Su Yeon maupun Yesung sama-sama terekspos sempurna.  Su Yeon menahan bahu Yesung saat namja itu hampir berjongkok di hadapannya. Dengan nafas yang tersengal-sengal Su Yeon menggelengkan kepalanya.
“Just save the foreplay for later. Kita bisa saling memuaskan nanti. Right now, I just want you inside me. Feeling how real you are.” Yesung tersenyum lebar mendengar permintaan Su Yeon. Namja itu kemudian menarik wajah Su Yeon dan kembali menautkan bibirnya dengan bibir Su Yeon, sementara tubuhnya secara perlahan mengarahkan miliknya memasuki Su Yeon.
Yeoja yang sudah sah menjadi istri Yesung itu refleks menghentikan ciuman mereka dan mengelurkan ringisan saat merasakan sesak di bagian bawah tubuhnya.
“Kau tidak pernah melakukan ini dengan siapapun selain denganku?” tanya Yesung yang merasa tubuh Su Yeon begitu sempit meski ia sudah pernah melahirkan. Su Yeon menggeleng lemah.
“Aku tidak pernah bisa jatuh cinta pada namja lain. Hanya kau yang pernah melakukannya,” jawab Su Yeon jujur.
Yesung tersenyum. “Gomawo,” ucap namja itu tulus.
Su Yeon melingkarkan lengannya di leher Yesung. “Bergeraklah,” perintah Su Yeon. Tanpa menununggu lama Su Yeon mulai merasakan milik Yesung bergerak di dalam tubuhnya, memberikan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Aaaah… faster… Yesung-ah,” racau Su Yeon di sela desahannya. Suara derit meja mulai terdengar seiring dengan tusukan Yesung yang semakin cepat dan dalam, membuat Su Yeon semakin tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Bukan. Kenikmatan ini bukan hanya sekedar pemuas nafsu atau hasrat yang tertahan selama ini. Lebih dari itu. Apa yang mereka lakukan kali ini terasa lebih nikmat berpuluh-puluh kali lipat karena saat ini tidak ada perasaan sesak yang mengiringi setiap desahan maupun erangan. It’s only pure bliss.
Yesung menggerakkan tubuhnya tanpa henti, sementara bibirnya mulai menyusuri leher Su Yeon dan terus turun hingga dada Su Yeon. Kedua kaki Su Yeon melingkar sempurna di pinggang Yesung, seolah meminta namja itu untuk menusuk lebih dalam lagi.
Setelah beberapa saat, Su Yeon mulai merasa sesuatu mengumpul di perutnya dan mendesak untuk keluar.
“Yesung-ah… aku hampir… aaah….,” belum sempat Su Yeon menyelesaikan kalimatnya, cairan sudah mengucur deras dari bagian bawah tubuhnya membuat Yesung bergerak semakin cepat, berusaha mencapai puncaknya menyusul Su Yeon.
“Su Yeon-ah…..,” seru Yesung saat akhirnya namja itu mencapai orgasmenya dan menyemburkan cairannya di dalam tubuh Su Yeon, membuat yeoja itu merasakan hangat di bagian bawah tubuhnya.
Su Yeon merasakan seluruh kekuatan di tubuhnya hilang seketika. Rasa-rasanya energinya sudah terkuras habis. Yeoja itu akhirnya melepaskan lengannya yang sebelumnya melingkar di leher Yesung kemudian merebahkan tubuhnya begitu saja di atas meja makan. Su Yeon menutup matanya dan mulai mengatur kembali nafasnya yang berantakan karena kegiatan panas mereka.
Segaris senyum terlihat di wajah Yesung yang masih berdiri di antara kedua kaki Su Yeon. Sepasang mata sipit milik namja itu mengamati setiap bagian tubuh Su Yeon, seolah tengah mengagumi tubuh yeoja di hadapannya itu. Rambut Su Yeon yang terlihat acak-acakan, sebagian menempel di kening dan pipi yeoja itu, sementara leher dan dada yeoja itu yang penuh dengan kissmark dari Yesung – membuat namja itu tersenyum puas, dada Su Yeon yang terlihat naik turun dengan begitu cepat.
“Aku benci kalau kau memaksaku melakukan ini di dapur,” ujar Su Yeon seraya membuka matanya dan menatap Yesung yang masih terlihat mengagumi tubuh istrinya itu.
“Waeyo?” tanya Yesung sambil memajukan tubuhnya dan mengecup kening Su Yeon singkat.
“Kau tidak tau sesusah apa membersihkan noda-noda yang tertinggal di dapur, eoh? Terakhir kali kita melakukannya di rumahku, aku harus menggunakan setengah botol cairan pembersih dapur untuk menghilangkan bekas yang tertinggal di meja dapur,” omel Su Yeon panjang lebar. “Dan berhari-hari setelah itu entah kenapa aku merasa enggan makan di dapur.” Yesung hanya terkekeh pelan.
“Kau terlihat seksi saat memasak, Su Yeon-ah. Aku tidak bisa menahan diriku,” balas Yesung. “Tapi kau terlihat paling seksi saat terbaring di bawahku seperti ini,” tambah Yesung seraya mendaratkan ciumannya di tubuh Su Yeon.
“Aaaah…..” Su Yeon mendesah nyaring dan refleks melengkungkan tubuhnya saat Yesung kembali memasuki tubuhnya tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu.
“Kau… aaaahhh…..” Su Yeon seolah kehilangan kemampuannya untuk berpikir ketika Yesung menggerakkan tubuhnya sekali lagi, kali ini lebih cepat dan lebih dalam dari sebelumnya.
Suara desahan dan erangan kembali meluncur dari mulut keduanya. Bersahut-sahutan seiring dengan gerakan tubuh mereka yang mulai tidak terkendali. Yesung menatap wajah Su Yeon yang meskipun terlihat lelah namun jelas menikmati permainan kedua mereka.
“Eurrrggggggh….,” tanpa sadar yeoja itu menggeram pelan saat merasakan Yesung menarik keluar miliknya sebelum Su Yeon sempat mencapai puncak kenikmatannya. Yeoja itu menatap Yesung dengan tatapan protes tapi namja itu hanya menyeringai penuh maksud.
Yesung menarik kursi di sampingnya kemudian duduk. Namja itu lalu menarik tubuh Su Yeon hingga akhirnya yeoja itu jatuh di pangkuannya. Yesung sedikit mendongakkan kepalanya kemudian melumat bibir Su Yeon yang sudah memerah sempurna.
“You own the second round, baby,” ucap Yesung lirih seraya mengarahkan miliknya kembali memasuki tubuh Su Yeon.
“Hummmm,” lenguhan puas meluncur dari bibir Su Yeon saat tubuhnya kembali menyatu dengan Yesung.
“Tapi aku sudah lelah, Yesung-ah.”
Yesung memainkan jemarinya di dada Su Yeon, membuat gairah yeoja itu semakin bertambah meski tubuhnya terasa begitu lelah. “Benarkah? Kau benar-benar sudah lelah? Kau ingin menghentikan permainan kita sekarang juga?” sahut Yesung tanpa menghentikan gerakan tangannya yang begitu seduktif di tubuh Su Yeon, membuat tubuh yeoja itu bergetar hebat.
“Kau benar-benar menyebalkan!” sahut Su Yeon sebelum akhirnya yeoja itu menggerakkan tubuhnya. Senyum puas terbingkai jelas di wajah Yesung ketika ia merasakan miliknya diapit dengan sempurna oleh tubuh Su Yeon.
“Aku ralat baby, kau jauh lebih seksi saat berada di atasku,” ujar Yesung sambil sesekali menyingkap rambut panjang Su Yeon yang menutupi wajah yeoja itu. Rasa lelah yang dirasakan Su Yeon seolah menghilang begitu saja saat yeoja itu merasakan milik Yesung sekali lagi menyentuh titik paling sensitive di tubuhnya, membuat kepala yeoja itu terasa sedikit pening karena rasa nikmat yang meledak-ledak.
Su Yeon bergerak naik turun di atas tubuh Yesung tanpa henti, sesekali diiringi erangan nyaring dari bibirnya. “Aku hampir sampai,” desah Su Yeon saat ia merasakan tubuhnya hampir mencapai klimaks keduanya.
“Na do,” sahut Yesung yang juga meraskan sesuatu akan segera keluar dari perutnya. “Bersama-sama, jagi~.”
Setelah beberapa kali tusukan, Su Yeon akhirnya terkulai lemas di pangkuan Yesung dengan cairan hangat yang mengucur deras dari bagian bawah tubuhnya bersamaan dengan cairan Yesung yang menyembur hingga dinding rahimnya.
Su Yeon menyandarkan kepalanya di bahu Yesung, tidak sanggup lagi untuk bergerak barang seujung jaripun.
“Saranghae! Bogoshippo! Uri Su Yeon-ah,” bisik Yesung lembut tepat di telinga Su Yeon. Kedua lengan namja itu melingkar dengan protetif di pinggang Su Yeon.
.
.
.
Su Yeon menggerakkan tubuhnya perlahan seiring dengan kelopak matanya yang mulai terbuka. Matahari sudah menembus ruangan tempat ia berada saat ini. Yeoja itu mengendarkan pandangannya ke sekililing ruangan dan menyadari bahwa ia tidak berada di dapur melainkan di kamar tidur. Su Yeon bangkit dari tidurnya lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Alis yeoja itu refleks bertautan saat melihat kaos yang kebesaran yang saat ini melekat di tubuhnya. Su Yeon mengangkat kaos yang ia kenakan dan ternyata ia juga sudah mengenakan celana dalam.
Su Yeon turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Langkahnya terarah pada seorang namja yang terlihat tengah mengelap meja makan. Semburat merah mulai menyebar di wajah yeoja itu saat ia teringat kegiatan yang dilakukannya tadi malam dengan namja yang sekarang tengah sibuk mengelap meja itu.
“Yesung-ah,” panggil Su Yeon, membuat Yesung menghentikan kegiatannya.
“Oh, kau sudah bangun?” Yesung meletakkan kain pel yang ada di tangannya ke dalam sebuah ember kecil kemudian menghilang ke toilet yang terletak di samping dapur sejenak.
“Ternyata membersihkan meja makan setelah kita melakukannya memang hal yang menyusahkan,” komentar Yesung setelah kembali ke dapur. Namja itu menuang air putih ke dalam gelas dan mengangsurkannya pada Su Yeon.
“Oppa yang membawaku ke kamar tadi malam?” tanya Su Yeon.
“Eoh…kau tertidur pulas sekali di pangkuanku. Sepertinya aku benar-benar membuatmu kelelahan tadi malam,” sahut Yesung sambil tertawa pelan.
Su Yeon menggigit bibir bawahnya sambil menggumamkan kata “menyebalkan,” pelan.
“Aku juga memakaikan kaosku untukmu. Kalau kau tidur dengan keadaan telanjang, bisa-bisa aku tidak dapat menahan diriku dan menyerangmu lagi saat tidur.”
“Haish, sejak kapan kau berubah menjadi namja yadong seperti ini?”
Yesung mengecup sekilas bibir Su Yeon, “semenjak kau setuju menjadi istriku. I can’t get enough of you, nae yeoja.”
Su Yeon menundukkan wajahnya yang mulai terasa panas. Tapi sepertinya Yesung masih belum puas menggoda Su Yeon pagi ini, namja itupun mengangkat dagu Su Yeon. “Tapi aku tidak bisa memakaikan bra-mu. Ternyata melepaskan benda itu lebih mudah daripada memakaikannya,” ucap Yesung dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
Su Yeon memukul belakang kepala Yesung dengan cukup keras sebelum akhirnya beranjak dari kursinya dan masuk ke kamar. “Dasar pervert!”
Beberapa detik kemudian Yesung mengayunkan kakinya menyusul Su Yeon ke kamar. Namja itu tersenyum penuh arti  melihat Su Yeon baru saja memasuki kamar mandi. Yesung menahan pintu kamar mandi tepat saat istrinya itu hampir menutup pintu.
“Yak, Kim Yesung. Aku ingin mandi!” teriak Su Yeon nyaring.
“Aku juga ingin mandi,” sahut Yesung seraya menutup pintu kamar mandi. Senyum di wajah namja itu terlihat semakin lebar saat Su Yeon menatapnya dengan mulut yang setengah terbuka karena merasa terkejut bercampur kesal. Su Yeon melangkah mundur, namun baru beberapa langkah tubuhnya langsung membentur dinding kamar mandi. Dalam sekejap kedua tangan Yesung sudah berada di antara tubuh Su Yeon, memerangkap yeoja itu.
“Kau tidak ingin memberikan adik untuk Yewon?” ucap Yesung sebelum akhirnya memajukan wajahnya dan melumat bibir Su Yeon tanpa ampun.
Now, nothing can separate us. Ever again. –Kim Yesung
My love, my last love. I finally breathe next to you. – Han Su Yeon
THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 05/11/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 135 Comments.

  1. kyax’a bagus,,,
    tp aq blom smpet baca ampex habiss cos spasi’a terlalu kecil thor, jadi susah baca’a, mata’q gax kuat…

  2. senang sekali bs ada sequel nya. jd nya tuntas tdk ada tanda tanya lg

  3. Sangat kecewa dengan endingnya. Maaf. Menurut saya Yesung terlalu egois, takbisa move on. Su yeon juga tak lebih baik, karena dia memisahkan hubungan suami istri, terlepas dia punya anak. Menurut saya dia jahat, memisahkan hubungan sakral, dan setelahnya besenang disaat orang lain menderita. Ga Eun, dia terlalu naif menjadi seorang istri. Menjadi baik atas nama cinta. Seharusnya dia bisa bersikap egois, karena hubungannya lebih erat denga yesung.

    • Saya setuju, egois ya. . . Pernikahan sdh empat tahun jg, kalau masalh anak, kan bs di pelihara bersama, gak mesti harus balikan lagi. . .

    • hmmmm
      bisa jadi sih kelihatannya egois
      cuman authornya nyoba ngasih liat how fallin love sometimes isnt only about what you want…
      soalnya yg dr ngelepas yesung kan ga eun…
      yesung has tried his best being a good husband, but in the end his wife let him go for good🙂
      but well, in the end it is every reader’s right to choose side

  4. Sakit hati baca sequelnya ini , kasihan amat ga eun, mewek bacanya, besar amat hati nya. . . .jd gaj suka deh sm yesung dan istrinya. . . . Jadi gak bs berhenti nangis. . . . Ingat keaadan ga eun

  5. haha
    ga eun has made her decision
    kl author sih ngeliatnya, kita menikah dengan org yg sayang kan, bukan sekedar peduli…
    she’s not trying to be good, hanya mencoba untuk tidak tersakiti

    • Sebenarnya siapa yg egois? Cinta. Sayang .peduli. , kata2. Itu hanya bkn sesak. . . Haebaragime ssi. . . Jebal,jngn bkn ff yg seperti ini lg. . . Menguras air mata, di baca berulang2 pun,sy tdk bs memahami karakter castnya. . . Apa lg si yesung tu. . . .

      • Haha
        iyya
        Ternyata setelah dibaca ulang karakter yesung emang ga terlalu mencolok…
        Mianhe
        Sequel ini the most dillematic story i’ve ever written… and it really took months for writing it…
        Thank you for still reading🙂

  6. tp kalo bisa bkin lagi ya, , kan mreka blum bercerai nikah’ny juga blum … haha tp ceritany bagus thor

  7. tengah malem baca ff ini langsung gk ngantuk..keren ffnya..apalagi suami vit yg jadi castnya *muka polos*

  8. Ayunie CLOUDsweetJewel

    FF ini tidak ada diBlog-nya author ya, soalnya aku gak pernah liat. Dari awal aku kira Yeye bkal mempertahankan Ga Eun, tapi ternyata kembali ma Su Yeon. #NangisBrenGaEun# kesannya sih memang egois, tapi dicoba untuk dilihat dari sudut pandang lain. #RibetNgomongnya

    • ho oh, sequel ini emang ga di publish di blog sendiri..
      he.. males bagi2 password, males juga ngedit versi no NC..
      jadi yaaaaahhhh… sini aja deh

  9. aah suka ending nya !!!
    di part sebelum nya dibikin mewek .gomawo thor bikin senyum sumringah di sequel nya… ngintip komen trnyta ada pro kontra nya yak . aku cukup menikmati cerita nya … keep writing thor

  10. Sequel thor, gimana nasib ga Eun…..????

  11. Eonniiiiiiiii jeongmal saranghae saranghae saranghae……sumpah aku cinta banget sama eonni karena udah bersedia bikin yesung sama su yeon nyatu…….ff my love my kiss my heart sempet bikin aku sesek selama seminggu karena mikirin nasibnya si su yeon yang ditingal yesung nikah…..

  12. LiaHeechul_Elf

    Aku suka endingnya thor, makasih banget. Kenapa juga orang yang saling mencintai harus dipisahkan, waktu yang lama tidak akan menunjukan sebesar apa cinta, malah kerasa Ga eun itu egois masih memaksakan cinta yang memang bukan untuknya.Aku rasa yesung memang milik Su Yeon, karena meski memiliki anak dr yesung dia tidak menuntut apapun slma 4th dia berjuang sendiri, Dan lagi Yesung benar, kalau memang tidak bisa mencintai wanita lain, untuk apa mempertahankannya. Kita akan mengerti keadaan Su Yeon dan Yesung saat kita merasakan diposisi mereka.

    • agree… ga mau bikin ga eun jadi egois dengan mempertahankan pernikahan yang dia tahu jelas bukan karena cinta – setidaknya dari sisi yesung…
      jadi dari pada pura-pura ga sadar kalo yesung masih ga beneran cinta sama dia, mending pisah aja kan? and give yesung and su yeon what they should have, a marriage…
      gomawoooo sudah mampir ke sequelnya🙂

  13. Dlu su yeon yg mlepas yesung u/ ga eun n skrang sbaliknya,, seneng bgt rasanya yesung kmbli ma su yeon v mnurut q feelnya jauh lbih kuat yg my love my kiss my heart dh wlopun hrs mewek2. 😛
    D tunggu ff lainnya author🙂

  14. Sequelny hot banget wKAak

  15. humm, ikut comment y thor..
    cerita ini mungkin ngajarin kita buat besar hati, that’s the positive. mungkin terkesan pasangan ini egois, bersenang-senang di atas penderitaan ga eun, bukannya ga eun yang memutuskan ini secara sepihak? ga eun juga yang buat dua orang ini ketemu lagi. masalahnya kalo sy baca juga bukan gara2 anak, walaupun itu ada pengaruhnya juga. cinta itu egois, kita nggak bisa maksa sekuat apapun jika kita gk cinta sama pasangan. karena saya bener-bener mengalami ini. karena hidup bersama orang yang gk pernah kita cinta itu bukan pilihan yang tepat.

    • jinja? waaa… mirip ga eun dong..
      he…
      iyya, sebenernya ga mau ngasih kesan Yesung-Su Yeon sebagai couple yang egois, karena ga eun yang ngerelain yesung, bukan su yeon yang maksa atau mutusin pernikahan yesung sama ga eun…
      gomawooo sudah mampir🙂

  16. Akhirnyaaaaaaaa ada sequelx jg :’D kirain beneran gntung :’) kirain yesung dh gk cnta sm suyeon trnyta cnta itu msih ad :3 mksih author dh bkin happy end ^^

  17. Akhirnyaaaaaa,,,,,
    Eonni baik bgt ih bikin sequel nya, hahhaha
    Mmmm,,
    Tapi emg ia eonni, yg ini kayanya kurang pas kalo upload di WP eonni, pas nya emg disini, karna adegan-berbahaya-dewasa nya itu,
    “Just save the foreplay for later. Kita bisa saling memuaskan nanti. Right now, I just want you inside me. Feeling how real you are.”,,,
    Wow, biasa nya aku nemu kata” gtu di novel” dewasa dan west novel.,,
    Hahahhaha
    Tapi aku senang eonni mereka akhirnya bersatu juga..
    Aku liat tapi banyak yg ga suka ya dan jadi pada simpati sama ga eun, wajar aja menurutku, karna di yg story pertama, ga eun ga ada, ga ada hal hal yg menunjukan dia egois ato merebut yesung… Baru dikenalin di sequel dengan karakter yg baik dan berjiwa besar,… Ada yg pgn ga eun egois,??? HarUsnya gaeun nya egois nya di story 1, karna di situ dia yg ngerebut,, hahhaha
    *ngebela su yeon ,,, eaaaaaa
    Tapi tetep dan selalu, jadi fav aku.. Tapi disini yadong nya aga berbahaya, ahhahaha,, nampak beberapa adegan yg tingkat lanjut, hahaha
    Apaaadeh,,,
    Tapi sangat sukaaaaaa,, hahahha
    Gomawo eonni,, udin panjang bgt kayanya ya,, waiting your next project eonni..

    • uahahahahahahaha..
      ga ngerti juga kenapa bisa bikin yadong macam ini… #aaaakkk #tutupmukapakebantal

      iyya nih, ada yang ga suka yesung sama ga eun, tapi yo wess lah, gapapa
      every reader may have different ideas…🙂
      gomawoooo mampir ke sini…
      yang jelas ini ga bakal di publish di blog sendiri kecuali udah di edit bagian NC-nya… kekekeke

  18. ah,ternyata ada secuelnya,setelah bermewek-mewek ria di part sebelumnya ,akhirnya happy ending,sumpah keren banget ffnya,,.

  19. lia anae hae

    seketika timbul perasaan benci sama yesung dan su yeon :@

  20. Nova susmala

    Annyeoong..
    Q suka endingnya..
    Setelah 4 thn akhirnya bisa kumpul lagi.
    Ga eun bner2 baik, mewek bacanya..
    Kep writiing thor, fightiiiiing..!!

  21. oke pertama-tama mungkin saya orang yang terlalu ’emosi’ (maksudnya gampang terbawa suasana) jujur waktu baca fanfic ini perasaan saya campur aduk dan saya merasa terhanyut dalam cerita

    saya sempet marah sama yesung kenapa dia bersikap seperti itu. too selfish. andai saya ada di posisi Ga Eun, saya ga tau harus ngapain. oh, please ngerelain suaminya nikah sama cewek lain? Ga Eun…please saya ga tau apa yang ada dipikiran kamu *mendesah frustasi* yah walau mungkin sepertinya berada dalam pernikahan tanpa dasar cinta akan lebih menyakitkan. at least, saya bisa terima keputusan Ga Eun.

    tapi disisi lain saya juga bahagia liat yesung nikah sama orang yang dia cintai *saya labil -_-*

    jadi pada intinya, alur cerita fanfic ini sangat menyentuh hati.
    kalau boleh, tolong author bikin fanfic bercast Leeteuk, pleaseeeeeeeeeeee *puppy eyes*

    dan yang terakhir
    I feel like going crazy when I read this words “Tapi kau terlihat paling seksi saat terbaring di bawahku seperti ini,” Demi apapun saya bener-bener asdfghjkl ngebacanya aaaaaaaaaaaaaaa /jedotin diri ke tembok/

    Sekian.

    Hwaiting!!!!! n____n

    • gomawooooo udah mampir🙂
      pas bikin sequelnya, authornya juga bingung karena ga mau bikin karakter manapun terlihat jahat dan egois, jadinya dibikin ending kayak gini… semuanya hepi dalam situasi yang berbeda..
      ga eun emang bercerai, dan harus merelakan yesung, tapi menurut author itu lebih baik daripada dia ngerasa sakit hati sama yesung

      waaaahh…. ada yang request leeteuk… kekeke

  22. Nathalie park

    Suka bgt sm cerita’y…akhr’y su yeon bs dptin k’bahagiaan sm yesung oppa…terharu bgt sm pengorbanan ga eun jrng bgt ada yeoja yg dgn ikhlas’y nyerahin suami’y sm mantan’y…

  23. Wah sequlnya trnyata dah kluar,
    trnyata bnyk yg gak suka suyong ma yesung sama” tapi aku seneng bgt merka akhrnya bsa brsatu,
    cinta memang gk bsa di paksakan walaupun udah 4th mrk berpisah tapi gak bisa saling melupakan, itu lah mungkin yg nama nya cinta sejati

  24. maaf thor, aku kecewa sama ending-nya. su yeon sama yesung terlalu egois dan seakan-akan mereka gapunya perasaan dan ga ngertiin ga eun hehe🙂

  25. Dear all readers,
    haha, mianhe, belum sempet reply semua komen satu-satu..
    waaaa…. I am totally surprised that this sequel will create such a controversy…
    kekekekeke
    daebaaakkkk…..
    sebagai penulis, saya memang ga punya hak untuk bilang, karakter ini baik dan karakter ini jahat karena itu tergantung dari pendapat tiap pembaca
    tapi saat nulis ini, saya memikirkan beberapa hal, salah satunya tentang perasaan Ga Eun, dan posisi Yesung juga Su Yeon.
    Dari awal saya berusaha ngasih liat apa yang dipikirkan ga Eun tentang pernikahannya sampai usahanya untuk mencari sendiri su yeon dan akhirnya mempertemukan su yeon dengan yesung. If i were Ga Eun, jika sudah bertindak sejauh itu, berarti yeoja ini sudah siap untuk memutuskan bercerai atau berpisah dengan yesung. Kalo dia ga siap, tentunya dia ga akan melakukan itu semua, toh selama ini su yeon tidak mengganggu pernikahan mereka.
    Dan untuk posisi yesung dan su yeon, saya sama sekali tidak berniat menjadikan mereka terlihat jahat, itu sebabnya saya memasukkan scene dimana mereka ragu…
    buat saya, cinta ga harus meledak-ledak, penuh emosi, dan egois, ada saatnya cinta membuat orang menjadi lebih dewasa dalam bertindak.
    Su yeon dan yesung sudah belajar saling melepaskan bukan? tidak ada salahnya ga eun juga belajar untuk menjadi dewasa
    setidaknya ini yang saya pikirkan saat membuat sequel ini

    kalo boleh cerita lagi, ini adalah cerita yang paling susah yang saya buat. perlu berbulan-bulan untuk memutuskan apakah akan melanjutkan sequel atau ga, kalau dilanjutkan akan seperti apa kehidupan mereka, dan setelah mantap untuk bikin sequel, perlu waktu cukup lama juga untuk mengetik ceritanya…
    it’s such an honour for me, however, karena ternyata cerita ini bisa jadi sedikit kontroversi.. hahahaha
    well, this comment bukan untuk membenarkan posisi yesung dan su yeon, hanya ingin sedikit berbagi tentang apa yang saya pikirkan saat menulis ini karena tiap scenenya saya pikirkan dengan sebaik-baiknya…🙂
    anyway, mudahan bisa reply comment satu-satu secepatnya
    thank you so much for reading and leaving comment. every comment means a lot to me…
    *bowing*

    • setuju ma pendapat author

      Disini su yeon sama sekali tdk bersalah, dan bukan juga orang ke3
      Sejak berbisah dr yesung, su yeon malah meninggal kan semua kenangan atau pun negara yg berhubungan yesung *kurang baik dr mana*
      Klo emang niat pengen ngerebut yesung, mungkin udah dr dulu su yeon melarang yesung menikahi ga eun, atau saat tau hamil, su yeon bisa aja memberitau yesung dan minta pertanggung jawaban
      Tp tdk di lakukanan oleh su yeon, krn su yeon wanita baik2

      Soal pernikahan yesung dan ga eun, seperti nya sampai kapan pun hubungan mereka akan seperti itu
      Yesung bertahan krn kewajiban nya sebagai suami
      Dan ga eun akan terus bertanya2 tentang perasa’an yesung pada nya
      Walau pun terlihat harmonis tapi tetep aja terasa hampa

      Disini ga eun emang keren, memiliki hati lapang untuk melepas kan yesung
      Dan klo di lht dr ending nya, yg ga eun mau datang kepernikahan yesung su yeon, itu arti nya ga eun emang rela, yesung buat su yeon

      Hehehe… Komen nya malah disini, panjang pula

  26. sesuju..hahahaha..

  27. wah gaeun baik banget tp bener kata gaeun seharusnya yesung ngomong sama dia sejak sebelum pernikhan biar gaeunnya ga terlalu sakit hati

  28. wah gaeun baik banget tp bener kata gaeun seharusnya yesung ngomong sama dia sejak sebelum pernikhan biar gaeunnya ga terlalu sakit hati sama suyeon dan yewon ga kehilangan suami dan appa, dan author buat kamu good job (y)

    • agree.. yesung memang agak bersalah karena ga berani bilang yang sebenernya ke ga eun sebelum pernikahan mereka.. tapi, yah, mungkin dia khawatir kalau bilang dan pernikahan gagal, maka perusahaanya kehilangan sumber dana…he, but anyway, he’s still wrong at this point..
      gomawooo sudah mampir🙂

  29. Sumpah ceritanya keren ! Biarpun ff pertama nyesek tapi akhirnya manis biar masih sedikit nggantung🙂 *alasanmintasequel

  30. Akhirnya yesung bisa brsatau sama su yeon ,🙂 tapi kasian juga sama gaaa enn ,😦 dtunggu karya2 yg lainnya yaaa thor tapi dgn cast yg beda🙂

  31. Naah jdi bingung begini mw komen jg,..
    Satu kta laah “terlalu”,..
    Tpi keren crtay,..lw kta pok nori mah ” gk pernah kepkran”…hehehe
    dtnggu kryj trbrarunya…

  32. Aq mau bilang ‘keren sumpah!!!’

  33. Yeay…happy ending ヽ(^。^)ノ
    i love this story..
    Di tunggu next FF’a thor ^^

  34. hadeh.. pas baca sequel ini, saya jadi bimbang chingu.. siapa yg patut di persalahkan di ff ini? gaeun? suyeon? ape yesung si namja aneh berkepala besar itu *okepiiis* ^^v
    awalnya ga tega sama gaeun, sedih bgt pasti..
    tp pas aku liat dr sdut pandang suyeon, knp jd makin nyesek.. hadeh.. daebak bgt deh bisa bkin readers pada galau..🙂

  35. keren,,,, haebaragi…. aku suka certanya,,, apalagi endingnya,,,

  36. Good , ada beberapa typo
    kasihan ga eun -_-
    minta link ff my love, my kiss, my heart dong belum baca ff itu hehe

  37. kya….yesung 0Ppa jd! yad0ng pZt! n!ch d!ajar!n sm eunhyuk m0nyet yad0ng daCh….
    tp! nae k0kg leb!h terhru dr! s!S! gaeun…c0z nae leb!h suka sm yang rela berk0rbAn agar dya bhag!a #gk_nanya

  38. Ffnya bagus kok.
    But why some readers gave a bad feedback lol
    toh ini kan hanya sebuah FF, not based in the reality.
    Karakternya memang sengaja dibikin begitu haha
    suka-suka authornya dong mau alurnya gimana wkwk😀
    nice ff!

    • huahahaha…. gomawooo sudah mampir🙂
      iyya, kayaknya endingnya agak kurang mengena buat beberapa reader.. tapi gpp… masih tetep seneng selama ada yang mau baca…🙂

  39. wah.. ff yg bikin nyesek.. bagaimana ya kl terjadi dalam dunia nyata… wow.. bener2 nyesek pastiny…

  40. Mariela jasmine

    akhirnya ada jjuga sequelnya dan jiwaku kembali baca ff aku terlalu dihayatin sih alurnya jadi aja klo gantung seakan illfeel bgt kkk!!

  41. Annyeong, salam kenal, haebaragi.
    Senang sama beberapa kalimat Inggris yang kamu pake di ff-mu ini😀
    FF ini punya pesan yang ngasih tau kalo semua yang dipaksakan ga bakalan berjalan bagus meski maksudnya baik pun. Suka sama pesannya!
    Walau ini sekuel, tapi tetep asik dibaca tanpa baca prekuelnya.
    anyway, Keep writing, ya. Fighting.😉

    • annyoooongg….. *lambay2*
      hohoho.. waaahh.. ada yg muji bhs inggris di ff *blush* *jadi malu*
      agree… semua yang dipaksakan tidak akan bertahan lama…🙂

      syukurlah, masih bisa nangkep ceritanya meski ga baca prekuelnya…
      gomawooo sudah baca :*

  42. saya sebenrnya gak mau koment di ff ini ,,,karena ya saya rasa kisahnya sudah nyaris sempurna,, namun berhub banyak yang gak suka Yesung ma SU yeon,,dan nyalahin authornya sy jadi kasihan dan akhirnya memutuskan ngasih pendapat sebagai reader yang PRO haebaragime,,, kekekeke
    Istilah bahwa CINTA TAK HARUS MEMILIKI adalah dasar utama saya suka ma sequel ini,,, 4 tahun,, selama 4 tahun Ga eun berjuang untuk membuat Yesung mencintainya,,, dan pada akhirnya selama 4 tahun itu pula dia hanya memperolah kasih sayang dari suami yang menikah dg alasan perusahaan,,, selama 4 tahun itu pula Ga eun yang 2 tahun terakhir telah memisahkan ayah dan anak ,,, yesung dan yewon,,, bukankah itu jauh lebih egois,,, bersikap tidak tau apa2 dan mencoba menyelediki semuanya sendiri,,, itu lah Ga eun,, meski telah memiliki ikatan yang sakral yaitu pernikahan , namun bila selama itu yang ada malah keduanya saling tersakiti kenapa malah diteruskan,,, Karena Cinta tak harus memilki,,, sedangkan SE yeon dan YEsung juga pada kenyataannya mereka juga tidak saling berhubungan satu sama lain krn menghormati keputusan yang dibuat sebelum berpisah,,, 4 tahun cinta mereka hanya menjadi kerinduan yang tak terbalaskan,,, jadi bila toch pada akhirnya Ga Eun memutuskan bercerai dg Yesung,,, sy pikir itulah keputusan yang terbaik,, toch selama mereka menikah juga tidak ada anak,,, jadi seandainya Ga eun berpisah dg Yesung maka yang tersakiti hanya Gaeun sja,,, itu pun dia sudah menikmati kebahagian selama 4 tahun bersama orang yang dicintainya,,, namun bila akhirnya Ga eun tetap mempertahankan Yesung maka yang tersakiti,, tidak hanya Yesung dan Su Yeon namun juga si kecil Yewon yang tidak pernah tau siapa ayahnya dan Ga eun sendiri karena tetap bersama pria yang sampai kapan pun tidak akan mencintainya,,,, So,,, aku menikmati sequel yang dibuat HAEbaragime,,,, kerennnn bgtttt,,,🙂🙂

  43. daebakkk thor…

    terlepas dari baik ato jahatnya karakter yesung n su yeon jujur bagi gue endingnya mengecewakan…

    meurut gue ini the real ff karnaaaa
    pertanyaannya apakah ada wanita yang setegar ga eun????

  44. rizka zuliana

    hahaha masa sampe sebegitunya thor😀
    susah bener bersihin noda dimeja😀

  45. gw ngerasa jagi Gaeun masa..
    sampe nangis gw😦

  46. krisaddelyn

    Kyk sebel gt ma pasangan yesung su yeon, bahagia diatas penderitaan org lain. Entah knpa aq tu gk ska apapun yg berbau masa lalu, jd sbel deh yesung ma suyeon brsatu. Hehe. Tp ni crita beda dr yg lain, daebak deh

  47. kyaaa author aku suka bgt!!! aku udah baca ff MLMKMH, penuh dg emosi. penyampaian perasaan mereka jg ngena bgt. suyeon yg sabar nunggu tp akhirnya harus pergi. tp MLMKMH endingnya jg seru, ga nyangka tp bkal ada sekuelnya😀

    dan akhirnya happy ending jg deh hehe. gaeun pasti sakit harus ngelepasin yesung, tp karakter dia baik bgt. bikin sekuel khusus gaeun dong author, dia jd menjanda tuh hehe. kalo bs nc jg ya haha. yesung saking udah lama ga ketemu suyeon jd pervert ye😀

    • waaaahh.. gomawooo sudah mampir🙂

      haha.. iyya, su yeon sama yesung awalnya mesti pisah, jadi merasa ga tega kalo di sequel dipisahin lagi….

      aaaakkk.. no more sequel…. pusing bikinnya.. kekeke.. anggap aja ga eun idup bahagia krn nemuin namja lain yang lebih baik dari yesung.. xp

  48. Hua… aku suka karakter gaeun…🙂

  49. sebenernya agak mengecewakan dengan endingnya karna sebagai wanita merelakan suami bersatu lagi dengan sang mantan pasti istri manapun gak ada yang sanggup terlepas dari keadaannya mereka😥. terlepas dari pro kontra daebak banget buat authornya karna udah bikin para readers merasakan feel para pemain entah yang suka ga eun atau su yeon itu tandanya readersnya bener2 bisa mendalami ceritanya kan?🙂
    bay the way sebenernya saya belum baca yang pertama -_-”, itu kenapa agak emosi sama pasangan yesung su yeon disni😛. tapi mungkin kalo udah baca yang pertama baru ngerti sama hidupnya su yeon x ya…. hahaha ^o^
    oke sudah terlalu panjang, good job deh buat author ditunggu karya lainnya ^_^

    • hmmm…. kayaknya emang sulit melepaskan suami sendiri dengan wanita lain, tapi cuman ngerasa ga adil kalo bikin ga eun egois. kasian ga eunnya, kasian yesungnya juga… sama2 tersiksa kan? jadi yang paling menenangkan untuk keduanya adalah pisah..
      true love should make your soul growing and mature, right? jadi pengen bikin ff yang karakternya belajar untuk lebih dewasa🙂

      gomawooo sudah mampir😛

  50. ah…q jengkelll….rasanya sakit bgt…yesung jahattt….berat rasanya

  51. ah…q jengkelll….rasanya sakit bgt…yesung jahattt….berat rasanya
    formatnya…hehehehe…q baca mpe loncat2

  52. Ntahlah… Ni happy atw sad ending…. Namun yg pasti saya NYESEK thor…… Huhuhh pas ‘itu’ nya yesung ma suyeon saya skip… Soalnya ntah knpa pas bca cma adgn kisseu doang pngen mrah2 /? Hehehhh brarti udah kliatn q condong ke gaeun… Akhh pokok’a q jd bingung n brhrp ada sequel lg… Utk crta hdup gaeun slnjtny…. Gmna move on’a truz ktmu cnta yg bru yg bnar2 tulus mncntai dia… Ya ya ya??? Sequel lg??😀
    keep fight n write ya author~~

    • well, kalo authornya bilang sih, semua berbahagia dengan cara yang berbeda ^^
      thank you for reading, but sorry, no more sequel….
      anggap aja ga aeun akhirnya ketemu namja lain dan hidup bahagia ^^

  53. Mentari Nahraisha

    Ceritanya kerenn min
    Saya suka karakternya Ga Eun yg bersikap dewasa dan lapang dada, yah walaupun menyakitkan. Pokokny saya suka sequelnya..
    Daebak buat author,, keep writingg😀

  54. annyeong new reader here^^ nyesek bingit sih ya jd Ga eun klo jd ga eun mngkin ak akn sprti dy mrelakan dn mncoba uk tdk trsakiti mngkin dg cra itu ga eun mngtasi hatinya yg bergejolak*krakter pndewasaan diri mnrutku mah utk hkmah yg d smpaikn utk readers* bnr G si?ahh mollayo🙂 trsrah authornya

  55. suka bngt ama sequelnya thor🙂
    daebak thor , I like it😀

  56. baca ff ini,rasanya perasaan saya diadukaduk -_-
    ga eun hebat banget,aku justru kasian sm gaeunnya.tapi hidup sama orang yg gk mencintai kta itu emang lebih sakit sih*hah saya plinplan
    tapi good job buat authornim

    • hohoho… gomawooo sudah mampir…🙂
      pas bikin ini emang ga mau ada yang jahat banget dan baik banget.. hehehe.. biar pada pusing yg baca.. kekeke

  57. Choi Hyerin

    W nangis. Yesung, Suyeon jahat. msa mereka bahagia stelah menyakiti Gaeun, hiiikssss,,, jahaaaattt!!!! benci endingnya!!!

  58. Eonni!!!
    Kok gak di post di wp pribadi sih??😦
    Kalo gak berkeliaran kemana” aq kan gak tau kalo My Love, My Kiss, My Heart ada skuelnya..
    Mana bagus banget juga!

  59. Tengah malam baca yang kayak ginian,, koq aku jadi gimana gitu😀
    keren nih ff nya

  60. trilestari.2508

    Akkk aku sampe nangis pas baca adegan ga eun shii. Ah oeni fighting! (ง’̀⌣’́)ง. Akkkkk sedih klimakkkk feeling-nya dpt bgt thor. Bagussss. Debakkk.

  61. wahhh daebakkk,,, bkin nyesek pas part prtm2 y..st Yeye Oppa mlht fto itu…smpsi nangis baca..y…ahiry happy ending…n succes hbiz…CLBK y…haha,,, d tggu ff yg laen….ff y daebaj..

    mian telat bca y coz bru bka ff yeye oppa lgi..hehe

    fighting;)

  62. yeaaaay… ada yg nangis bacanya.. huahahahhaha *joget sama kkoming*
    gomawooo sudah mampir🙂

  63. Im The Most Beautiful Girl

    Satu kata buat nii FF, NYESEK!!!
    Aduh, jeng. Itu kenapa Ga Eun nya? Kenapa? Emang sakit banget sii, orang yang kita cintai gak mencintai kita. Tapi, daebak. Ini FF nguras ai mata banget.😥

    • gomawooo sudah mampir🙂
      iyya.. ga eun milih buat ninggalin yesung, daripada makin nyesek…

      • Im The Most Beautiful Girl

        Iya, sii! Yesung jahat, dasar baka-ttebayo!!! #waks (-___-‘).
        Terkutuklah kau big-head!!!
        Mianhae, jeng. Gomen, atas kelakuan labil saya ._.V

  64. Maaf baru komen di sini.. Ya ampub nangis baca pengorbanan Ga Eun terlalu baik menurut aku.. Ahh kalau aku pasti ga bakalan rela😥

  65. ParkHyojin | JungSooYeon

    Thorrrr :(:(:(
    KEREN!!!!!!!!!!!
    WUEEEEEEEE
    DAEBAKKK
    KEEP WRITTING

  66. ahhh aq lebih suka sequel nya❤
    dapet banget feel nya dan nc nya bener" HOT , ajh yesung bener" DAEBAK (Y)
    gomawo udda bikin sequelnya walau telat bgn bca nya ^^V
    DAEBAK (Y)

  67. sequelnya keren Thor ! Ga Eun sangat baik melepas Yesung agar kembali dgn Su Yeon .
    Kee writing .🙂

  68. Ca ellaaah yesung senafsu itu yah ama si su yeon,happy ending

  69. pas baca diawal nangis2an dulu kesini2nya ngukuk terus😀

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: