The Fishing Pole Trap (KyuChan Couple)

kyu os nc

1. Author: N/M

2. Title: The Fishing Pole Trap (KyuChan Couple)

3. Type: Straight, Romance, NC 17

4. Casts: Cho Kyuhyun (Super Junior), Park Chan Gi (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… We’re back again. Kali ini kita mau mempersembahkan FF Kyuhyun.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya. ^^

——

Kyuhyun keluar dari kamar tidur bungalonya dengan mantel tebal yang dikancingkan seadanya. Ia terlalu kesal untuk mengancingkan lebih banyak kancing di mantel abu-abu itu. Pintu dari jalinan kayu kamarnya itu bahkan dibanting. Baru saja ia mendapati pagi yang mendongkolkan. Satu-dua langkah ia berada di luar kamar tidur, tepatnya ruang televisi, ia berhenti, lalu bertolak pinggang, mengamati ruangan luas dan temaram itu.  Terdapat permadani dari kulit sintetis mirip kulit beruang di lantai berbatu licin, sofa dari kayu ek berbantal putih berbulu, meja senada yang kelihatan kokoh berdiri dengan empat kaki, televisi layar datar canggih, dan perapian berbatu bata yang nampak menggoda untuk dinyalakan demi mengusir dingin penempa tubuhnya.

Kyuhyun mendekat dan menyalakan perapian itu. Dengan sedikit usaha, api mulai meriakan kedinginan yang menjalarinya. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih—yang sering ia gunakan sebagai baju dalam—dan celana sependek celana-celana yang petinju kenakan. Tentu saja ia juga dilapisi lagi dengan mantel tebal panjang selutut kelabu tadi.

Sebenarnya, ia tidak pernah tidur dengan pakaian sekelumit itu. Piyama adalah pakaian yang selalu ia pilih untuk menghabiskan malamnya. Sungguh janggal, tapi ia terbangun dengan cara itu. Dan kekosongan memori atas semalam meniadakan penjelasan atas kondisi terbangun janggalnya itu.

Dan yang jauh lebih janggal adalah keberadaan wanita di pelukannya. Bahkan wanita itu pun berbusana minim. Gadis berambut keriting itu memakai tank top dan celana pendek. Dia sempat meragukannya tapi, ya, benar, itu semua terjadi. Dia tidur di ranjang bungalonya, setengah telanjang dan memeluk wanita yang nyaris berkondisi sama.

Wanita itu. Istrinya.

Ya, benar, Kyuhyun, si paling muda di Super Junior, sudah menikah. Ia dengan segala tindak-tanduk pantang menyerahnya, dapat membuat seluruh dunia yang menentang—termasuk istrinya, takluk dan membiarkan pernikahannya terjadi.

Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.

~Kyuhyun’s PoV~

Tepat sekali, itulah yang terlihat dari luar.

Aku pikir aku telah menaklukannya. Tapi ternyata tak semudah menaklukan semua jenis wanita yang disarankan oleh hyunghyung-ku; wanita lembut dan penurut yang membosankan, wanita matang dan dewasa yang kelihatan menyenangkan—awalnya, hingga akhirnya aku terjebak  dengan gaya hidup mereka yang tua, serta wanita seksi dan binal yang bukan tipe bagus untuk dipelihara lama-lama. Semua tipe wanita yang diusulkan hyunghyung-ku itu, syukurlah, tak pernah terlibat lama-lama denganku. Penyebabnya adalah karena mereka dengan mudahnya menyerahkan diri padaku. Sayang sekali, bagi para wanita itu, aku tidak balas menyerahkan diriku dalam bentuk apapun kepada mereka. Aku tidak suka barang murah dan tidak mau membuang sedetik pun waktuku untuk mengurusnya.

Kendati demikian, penyihir berambut keriting yang menjadi istriku betul-betul jauh dari itu. Dia, secara menyebalkan, begitu mahal pada siapapun. Dia, secara menjengkelkan, juga dapat membuatku keluar dari selubung antisosialku dan mengejarnya dengan caraku sendiri. Dan kini aku dapat menaklukkannya dengan menikahinya.

Aku telah menaklukkannya—atau tidak? Pertanyaan itu belakangan ini terus menggema di telingaku sejak hyunghyung-ku mulai membahas seks pertama kami yang tak pernah kuceritakan pada mereka. Ya, seks pertama yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.

Mulanya, aku tak masalah dengan larangan istriku; larangan agar segala aksi yang dilakukan pasangan suami istri lazimnya tak boleh ada di dalam daftar-pekerjaan-yang-harus-kami-lakukan. Aku mematuhinya. Tak ada problem. Selama aku bisa memenuhi kebutuhanku seperti bermalas-malasan dan bermain game, menurutku, semua dalam kendali.

Ya, itu tadinya. Setidaknya itu sampai aku memasuki konversasi para hyung-ku itu.

Pembicaraan kami mulanya hanyalah mengulas gadis kami masing-masing, perkembangan apa yang sudah dilakukan. Dan begitu sampai pada giliranku, aku, yang sudah menikah, dipaksa untuk menceritakan bagaimana malam pertama kami. Kuserang saja mereka dengan sikap apatisku yang mengatakan kalau itu privasiku. Sialnya, hal itu malah memukulku telak karena mereka malah menyimpulkan, dengan semena-mena, kalau sesungguhnya aku belum pernah melakukannya.

Aku tidak mengiyakan, tidak juga menyanggah. Sebab itu sesungguhnya benar. Jadi aku diam saja karena aku tak mau jadi olok-olokan mereka.

Yah, benar, aku memang belum pernah melakukannya, bahkan sebelum dengan istriku ini. Semua orang yang mengira aku sudah pernah mungkin hanya tertipu tingkahku yang kelihatan nakal dan mencurigakan. Pada dasarnya, aku hanya si antisosial yang manja. Itu saja. Dan aku tidak peduli apa pendapat orang mengenaiku dan istriku.

Kini ketidakpedulianku atas pendapat orang mulai menggusarkanku. Penglihatan hyunghyung-ku, soal kenyataan dimana kami yang tak pernah bersentuhan secara sengaja, menumbuhkan persepsi pada mereka kalau mungkin saja tiada apa-apa di antara kami. Mereka bilang mungkin istriku tidak pernah menyukaiku. Barangkali dia menyimpan rasa sukanya pada orang lain. Atau boleh jadi ia menikahiku hanya karena kasihan padaku.

Jadi, sebenarnya, tak ada penaklukan di sini. Tak ada ide pula untuk membenahinya.

Itu semua adalah pikiranku hingga kejadian pagi tadi terjadi.

Aku terbangun dalam keadaan diriku memeluknya, setengah bugil. Dan tak ada yang terjadi padaku. Rasanya sama dengan ketika aku terbangun dengan pakaian musim panas di sebelah hyunghyung-ku yang tengah mengadakan pesta menginap di kamar salah satu dari kami. Tak ada keinginan meledak-ledak, yang mereka sebut gairah, atau rasa panas untuk mengetahui lebih lanjut apa yang ada di balik pakaian istriku. Aku bisa memastikan kalau aku bukan homoseksual, tapi apakah aku harus mengetes juga apakah aku heteroseksual?

Nyatanya, memang tak ada yang terjadi di antara kami. Istriku menjelaskan kalau aku semalam pulang memancing dengan tubuh menggigil secara menggila. Ia harus membuka setengah pakaianku dan pakaiannya untuk menghangatkanku berdasarkan teori bahwa kulit sesama manusia dapat saling mentransfer panas tubuh. Hanya seperti itu sampai pagi menjelang. Meski aku tidak tahu karena tak sadarkan diri, kurasa terdapat pula keganjilan pada istriku. Bagaimana mungkin sepasang suami istri berpelukan setengah telanjang dan tak terjadi apa-apa? Ada yang tak beres juga dengannya.

Jadi, kupikir aku mungkin harus mengetesnya. Dan, dengan seks, kukira.

Aku mengutarakan itu kepadanya dan timbullah perdebatan hebat di antara kami. Kami bertengkar mulut dengan dahsyat, seperti biasa, hingga kami sama-sama lelah. Di tengah kelelahan kami, ia menarik kesimpulan kalau aku hanya dilanda bosan. Aku menyangkalnya. Karena kalau aku bosan dan hanya ingin merasakan seks, aku bisa mencarinya di luar. Itu lebih mudah. Tapi apa yang akan kudapat? Penghinaan atas diriku sendiri. Aku tidak suka yang murah, kukatakan. Lagipula aku ingin mengetes diriku sendiri. Tapi, sekiranya untuk mengetes pun, aku harus melakukannya dengan orang yang kupilih, yang kupercaya.

Dia.

Kayu-kayu bakar yang kusenggol-senggol dengan besi itu berderik di perapian, memancarkan kehangatan. Tubuhku jauh lebih baik sekarang, namun pikiranku sama sekali tidak. Mengingat kembali penolakannya dengan alasan yang sangat kuat itu membuatku jengkel. Penolakannya tidak begitu masalah karena aku sudah terbiasa. Tapi alasannya itu. Aku tahu sejak dulu kalau dia anti bersentuhan dengan tujuan seperti itu. Pun aku mengungkapkan pemikiranku padanya kalau keantiannya itu datang dari otaknya yang sudah ia program untuk mengutuk sentuhan. Ia bisa mengubahnya.

Dan itulah alasannya, yang memengkalkanku, yang membengkakkan tiap sel otakku : dia tidak mau mengubahnya.

Mungkin hyunghyung-ku benar. Mungkin ia menikahiku bukan karena ia ingin.

Terdengar bunyi pintu berderit. Itu pintu kamar. Dia keluar. Kulirik dia. Pakaiannya sudah lengkap, dengan t-shirt violet dan celana panjang pensil hitam. Rambut keriting sebahunya dikuncir dan ditata sekenanya ke samping. Mungkin ia sudah menata pikiran dan siap membicarakannya.

“Kyuhyun-ah,” panggilnya, dilatari bunyi pintu tertutup.

Masih sebal, aku menidakacuhkannya dengan berdiri dan berjalan ke sofa. Aku tidak mempedulikan tatapannya yang tertangkap oleh ujung mataku dan menyibukkan diri. Aku menemukan papan catur di bawah meja. Kubuka dan kubentangkan papan itu. Lantas kususun bidak-bidaknya.

“Aku minta maaf,” ucapnya.

“Jangan minta maaf. Itu mengerikan,” aku bersuara. Mataku mengunci ke arah mata bulat sayunya. “Minta maaf bukanlah halmu.”

“Oke,” dirinya memutar bola mata malas, “kau mau aku berbuat apa untuk memperbaikinya?”

“Nah, itu lebih terdengar seperti dirimu,” ujarku.

Kami hening. Terpaku di posisi masing-masing.

“Kau mau merajuk sampai kapan?” kejarnya, setelah lama stagnan di posisi tersebut.

Aku tidak ingin menghiraukannya dulu, karena aku belum mendapat gagasan. Maka dari itu, dengan pura-pura tidak dengar, aku mengembalikan aksi merapikan bidak-bidak catur yang terbuat dari kaca itu, baik putih maupun hitam, berlagak seolah akan memainkan catur itu sendirian.

“Hya! Kyuhyun-ah!” Ia memanggilku gusar.

Menatapi catur dan bidak-bidak tersebut cukup lama, seketika, aku terinspirasi.

Dengan senyum andalanku dan tanganku yang menunjuk papan kotak-kotak hitam dan putih itu, aku berkata padanya, “Aku mau kau main catur denganku, Changi.”

~Changi’s PoV~

Alisku terangkat. Aku tak menyangka Kyuhyun punya ide seringan itu. Tapi aku tahu pasti ada sesuatu di baliknya.

Terlintas kembali di pemikiranku  apa yang diucapkannya dalam percekcokan di antara kami barusan. Dia bilang dia tidak pernah menginginkan hubungan seksual—dengan siapapun. Begitu juga aku. Sempat ia berpikir, kalau kami mungkin aseksual—tak memiliki keinginan seks. Walaupun kami bisa dengan mudahnya berakting kalau kami kebalikan dari itu, kami tahu sebenarnya tak ada jiwa seksualitas pada kami selama ini. Tapi kami menikah. Dan dia bilang dia sungguh tak bisa melihatku dengan orang lain.

Nah, di situlah letak makna tersembunyinya. Aku yakin ia menyelubungi sesuatu.

“Oh,” ucapku santai setelah jeda berpikir lama, “kau memintaku untuk melihatmu memamerkan kepintaranmu dalam catur?”

“Bukan,” jawabnya tajam, “aku mau kau bermain catur denganku.”

Kurasa aku mesti meladeninya soal yang ini. Meskipun aku tidak jago bermain catur, paling tidak aku tahu cara menggerakkannya. Lantas aku menarik bangku tanpa lengan ke dekat meja sehingga bidak catur putih berada tepat di depanku.

“Kau lebih dulu,” Kyuhyun mempersilakan.

Sesudah mengamati sejenak, aku pun menggerakkan pion putih yang berada tepat di depan raja, dua langkah. Kyuhyun menirunya. Aku lantas menggerakkan kuda yang berada di dekat raja untuk mengincar pion hitam tadi. Lalu dia kembali mengikuti langkahku, mengeluarkan kudanya demi mendukung pionnya. Kesal karena dia terus meniruku, aku mengeluarkan peluncurku tepat mengancam kuda hitamnya. Yah, aku tak tahu benar atau tidak. Tapi bagi pemula sepertiku, kurasa cara menyerang cukup baik. Karena kalau menggunakan cara bertahan, aku akan kewalahan dan belum mengetahui strateginya.

“Kau sudah bisa main catur, Changi?” tanyanya dengan nada nyinyir.

Aku hanya tersenyum culas. Dia tidak tahu, aku sebenarnya tidak mengerti strategi apa pun.

“Kau tahu,” Kyuhyun berkata sambil menggerakkan kudanya satu lagi ke dekat pionnya, “tes yang kuminta tadi kurang lebih seperti bermain catur ini.”

Aku menukar tempat antara raja dan benteng. Berkat pengulasan kembali topik sial yang menjengkelkan itu, mendadak aku merasa harus bertahan. “Tes apa?” tanyaku pura-pura lupa. Entah kenapa, firasat mengenai kelicikannya atas semua hal yang sedang kujalani ini semakin menguat.

“Seks,” jawab Kyuhyun sambil santai mengerahkan kuda hitam yang sama untuk mendekati kuda putihku.

Aku terkejut dengan dua kenyataan; pemikiran kalau ia pasti merencanakan serangan sadis untuk mengalahkanku dalam permainan ini dan jawaban baru sajanya yang blakblakan. Namun aku memilih untuk lebih mempedulikan catur. Tidak menjawabnya, aku mengeluarkan pion putih terpojok yang berada di sisi raja untuk mengancam kudanya agar pergi. Sekalian saja, agar ia juga pergi. Sebuah kata yang baru ia ucapkan itu membuatku kesal.

Tapi, tidak. Ia malah menggerakkan pion hitam terpojoknya maju hanya untuk menguatkan keberadaan kudanya.

Entah dia mendadak bodoh atau apa. Meski pionnya menopang keberadaan kuda, kuda jauh lebih penting daripada pion. Aku saja yang pemula tahu. Dan dia meletakkan kudanya dalam gepitan pion-pion kecil yang kurang berharga? Jadi sampai di situ saja kecerdasannya? Mengorbankan kudanya? Oke, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Segera kulibas kudanya dengan pionku. Rasakan.

Aku mencerlingnya, ingin mengetahui wajah kekalahannya. Tapi, tidak. Dia tidak merasa kalah. Dia malah tercengir.

“Kau pura-pura tak mendengar atau tak mau membahas itu, Changi?” tanyanya tenang seraya memakan pionku, yang tadi membasmi kudanya, dengan pion hitam penguat kudanya tadi. Untunglah, aku bisa memfokuskan pikiran pada hal yang datang padaku lebih dari satu. Ia baru saja bertanya memojokkan seperti itu sekaligus memojokkan kuda putihku yang sejak tadi bercokol di sana.

Kutarik kudaku ke dekat ratuku, menyelamatkannya. Kurasa itu gerakan yang cukup cerdas.

“Tadi kau menyerang, sekarang bertahan?” tanya Kyuhyun retoris. “Sangat kau.” Ia menggerakkan ratunya ke sebelah pion hitam yang berada di garis paling depan, pion yang tadi membuat kudaku lari tunggang-langgang.

Aku menarik napas. Kecurigaanku makin menguat. Dia akan menghancurkanku. Kurasa aku harus mengaburkan rencananya. Kugerakkan pion putih di depan bentengku dua langkah, menemani pion hitam jagoannya itu untuk mengaburkan pikirannya. Ditambah, kukeluarkan tema yang ia bahas sejak tadi. “Jadi, kau menyebutnya tes apa? Tes dengan seks itu, tes aseksual?”

Ia mengabaikan pertanyaanku dan hanya menyeringai.

~Kyuhyun’s PoV~

Changi berkacak pinggang dalam duduknya, seperti menantangku yang baru saja mengabaikan tema pembicaraan yang sejak tadi kubahas terus. “Tes aseksual, bukan?” Ia mengulangnya lagi.

Aku mengerutkan alis. Aku tahu ia ingin mengacaukan rencanaku dalam mengalahkannya. “Park Changi, kalau kau hanya ingin membahas apa yang tadi sudah kita persoalkan secara ribut dan sempat kauanggap remeh, memberi harapan seolah kita memang akan melakukannya, padahal akhirnya tidak, demi menyelamatkan dirimu dari kekalahan permainan ini,” kataku, “jangan bicara padaku.”

“Aku akan membahasnya,” ucapnya, “dengan objektif, tidak seperti pembahasan-pembahasan sebelumnya kalau—”

“Kalau aku membiarkanmu menang?” terkaku langsung sembari mengumbar senyum dan menggerakkan pion hitam jagoanku maju satu kotak lagi.

“Tidak, aku akan menang tanpa bantuanmu,” jawabnya yakin sembari menggerakkan bentengnya ke samping pion jagoanku. Ia percaya diri kalau dia sedang mengancam gerakan pionku. Ia menutupi ketakutannya dengan itu.

Tapi, dia salah. Dasar pemula.

“Jadi kita akan membahasnya kalau kau kalah?” tanyaku.

“Ya,” sahutnya yakin.

“Baiklah,” timpalku seraya menggerakkan satu langkah terakhir yang mungkin akan mengejutkannya—ratuku kuletakkan di pojok sana, tepat di sebelah rajanya, “skakmat, Changi.”

Ia membelalak dan menemukan rajanya yang memang sudah tak bisa kemana-mana lagi. Dia tak bisa memakan ratuku karena bentengku secara lurus mendukung.  Rajanya juga tak bisa bergerak ke samping, karena satu-satunya kotak yang bisa menghindarkan rajanya dari ratuku telah dijaga pion hitam jagoanku. Rajanya pasti mati.

“Ck.” Itu adalah decakan lidah kesal paling sepenuh hati yang ia lakukan hari ini.

“Ayo kita bahas, Changi,” senyumku.

Kami saling pandang dalam senyap, mengirimkan kewaspadaan dari mata kami masing-masing.

~Changi’s PoV~

Sangat sial. Kupikir aku bisa menghindari pembahasan ini selamanya. Tapi aku baru saja menyetujui konsekuensi yang salah dan aku kalah. Benar sekali, aku semestinya mengikuti instingku kalau ia ingin menghancurkanku di tengah-tengah permainan catur tadi.

Baiklah, aku harus menghadapinya, bagaimanapun. Sudah risiko. Aku harus membahasnya. Mungkin aku bisa mulai duluan, agar aku bisa menggalakkan kemana arah pembahasan ini.

“Dengar, Kyu,” aku membuka suara, “kau tahu aku bukan termasuk orang bodoh yang suka kau tipu-tipu. Dan bahkan jika benar tes ini tipuanmu, ini adalah tipuan yang terdengar paling idiot yang pernah kaulontarkan.”

Dia mengetepikan senyumnya.

“Kau bilang kau berbeda. Tidak akan berpikiran kotor, tetap menjaga martabatku dan dirimu sendiri. Dan, lihat, akhirnya kau menunjukkan kalau kau sebenarnya sama—”

“Tidak!” sergahnya. “Aku bisa menegaskan perbedaanku!”

“Apa?”

“Aku juga tidak menginginkan ini,” katanya, “itulah perbedaanku.”

Aku berkerut. Dan itu merupakan kerutan yang paling kuat kulakukan di hari yang panjang ini. Tak bisa kupungkiri, aku masih kesal karena terjebak risiko kekalahanku sendiri, ditambah pernyataannya yang membingungkan itu.

“Pria-pria lain menginginkannya. Sementara aku tidak. Kau tahu, aku sama denganmu. Kemarin-kemarin kita bisa meyakinkan diri kita kalau kita bukan makhluk seksual,” Kyuhyun berkata. “Tapi keyakinan itu goyah hari ini.”

“Lalu?” kejarku.

“Ck. Changi. Apakah aku harus mengulangnya berkali-kali?” tanyanya. “Aku yang kini meragukan kecerdasanmu.”

Aku menghela napas, lantas tiba-tiba menemukan titik lemah argumentasinya. “Oke. Ini soal tes, tes apa benar kita aseksual. Tapi aku tak bisa meninjau apa baiknya melakukan ini. Aku tidak ingin, kau juga. Dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari tes itu.”

~Kyuhyun’s PoV~

Atas nama Starcraft, dia sangat objektif, sesuai janjinya, dalam diskusi ini. Dan keobjektifannya itu begitu wajar sekaligus menyulitkan seperti game strategi. Aku membasahi bibirku, berpikir. Aku tak mau kalah darinya. Jangan panggil aku GameKyu kalau aku kalah dalam hal ini.”Mengapa kau bisa yakin kita tidak akan mendapat apa-apa?” Aku segera melontarkan pertanyaan defensif itu, segera setelah memperolehnya dari pikiranku.

“Memangnya apa?” tanyanya. Ekspresinya yang keras mendadak melembut. “Anak, maksudmu?”

Hm, sebenarnya aku tidak terpikir ke situ, namun boleh juga. “Yah, itu salah satunya, kukira.”

“Berarti bukan itu,” Changi menyimpulkannya sendiri. “Lalu apa?”

“Banyak,” jawabku.

“Ada yang kausembunyikan, aku tahu,” Changi menebak sembari memicingkan mata.

“Tidak,” sangkalku.

“Kalau kau tidak mau jujur, diskusi ini tidak akan ada kemajuannya. Dan aku tidak akan mempertimbangkan tes yang kauajukan itu,” tekannya.

Oh. Dia. Sungguh. Teguh.

Tapi itu yang membuatku suka padanya. Dia itu seperti game multi-ending yang sulit ditamatkan. Dan begitu ditamatkan pun kau akan ingin memainkannya kembali karena ending-nya akan berubah-ubah tergantung langkah apa yang kauambil.

“Jadi apa?” desaknya. “Apa yang kausembunyikan?”

“Aku ingin mengetes diriku sendiri,” ucapku.

“Yang sejujurnya, Cho Kyuhyun,” Changi mendesak lagi.

“Itu yang sejujurnya,” balasku. Aku tak bohong. Itu memang yang kuinginkan.

“Kalau begitu, yang tak kauberitahu padaku,” alihnya.

Sial. Dia licin sekali. Sudah kuduga, bagaimanapun. Aku harus mengarang alasan baru.

“Kau diam sebab kau pasti sedang menciptakan alasan baru,” senyum Changi, penuh cela.

Aku memberengut.

“Aku benar?” tanyanya. “Kurasa, ya.” Dan ia menjawab pertanyaannya sendiri.

Kuhelakan nafas. Langkahku tertebak. Kalau aku masih meneruskan usahaku untuk mati-matian menutupinya, kupikir tidak bijak. Oleh sebab dia sekarang sudah menciptakan antisipasinya. Maka dari itu, sebaiknya aku bilang saja.

“Aku ingin mendominasimu,” ucapku.

Setelah sesaat, barangkali menguasai keterkejutan tak nampaknya, Changi berteriak, “Kau sakit jiwa!”

“Dengar, Changi,” aku membela diri, “ini bukan seperti yang kaupikirkan. Yang kumaksud bukan kelainan Dominan-Submisif itu. Aku—”

Changi mengerutkan kening, tampak tak paham. Ah, ya ampun, aku lupa. Mana mungkin ia tahu tentang kelainan seks. Mengenai seksnya sendiri saja ia tidak tahu apa-apa.

“Baiklah, kau pasti tidak mengerti. Jadi kita tidak usah membahas itu. Dominasi yang kumaksud adalah penaklukan. Seperti—”

“Dapat menyuruhku ini-itu sesuka hatimu?” selanya.

“Kurang lebih seperti itu.”

Ia melotot.

“Ah, bukan versi sakit jiwanya,” sergahku. Kulihat ia mengepalkan kedua tangannya. “Aku tidak akan melakukan kekerasan padamu atau memperlakukanmu seperti binatang peliharaan.” Kini ia mengerucutkan bibir. “Aku juga tidak akan menyuruhmu berbuat yang aneh—”

“Aku tahu apa yang kaupikirkan,” ucapnya penuh ketenangan sekaligus kegusaran, “kau ingin memperlakukan seperti pelayan, membuatmu kelihatan keren karena telah berkuasa atasku, dan memamerkannya pada teman-temanmu kalau kau benar-benar bisa menaklukkan apapun.”

Aku hanya tersenyum. Tak bisa mengatakan apa-apa karena ia benar.

Tapi, ia balas tersenyum. Padahal kukira ia akan marah besar. Meski senyum yang seharusnya ia jadikan pengganti cacian dan makian itu jauh lebih mengerikanku.

“Kaupikir dengan melakukannya kau bisa mendapatkan yang kauinginkan? Kaupikir hal itu bisa mendominasiku?” tanyanya. Ia memang tampak tenteram sekali, tapi aku tahu ia sedang menahan emosinya. Ketenteraman yang terlalu sempurna darinya ini sudah kuhafal sebagai kamuflase kemarahannya yang sebenarnya meluap-luap. Ini konyol, tapi aku selalu menantikan saat ia begitu marah dan hanya terfokus padaku seperti ini.

“Kita akan coba, kalau begitu,” ucapku sambil tersenyum.

Ia menatapku, mencari-cari seolah ada tulisan petunjuk di wajahku.”Dengar, Cho Kyuhyun, kalau kau memancing emosiku lagi dengan pancingan idiot itu, aku benar-benar takkan tinggal diam.”

Atas nama DotA, ia menghajarku dengan ancaman dominannya lagi, menggoyahkanku. Ibarat game strategi yang selalu kumainkan dengan gembira, ia selalu menyulitkanku sampai ke dalam alam bawah sadar. Oleh karena ucapannya, aku mulai memikirkan kembali dominasi dan penaklukan yang kurencanakan padanya itu. Nampaknya aku harus mempertimbangkannya lagi. Pilihannya adalah lakukan, dia kudominasi tapi dia akan membenciku, atau tidak jadi lakukan dan dia yang akan terus mendominasiku.

Seraya menghembuskan napas lelah dan berpikir, aku mencerlingnya. Balas memandangku tajam, ia kelihatan begitu menantang. Begitu kuat. Begitu dominan. Kukeraskan mimik mukaku lagi. Kurasa aku memang harus menaklukannya. “Park Changi,” aku berkata, “kita harus mencobanya.”

Ia mengerutkan kening, kelihatan terusik. “Lantas, caranya?” Ia meresponsku dengan kata bernada pertanyaan yang sama, yang biasanya membuatku kadang dongkol.

Aku memandangnya tak percaya.

“Bagaimana caranya, Cho Kyuhyun?” kejarnya.

“Seks,” kataku, “tentu saja, Cho Changi—”

“Sejak kapan namaku diganti Cho?” Pertanyaannya memenggal ucapanku.

Kesal karena ia sejak tadi membuat siklus mengulas, berkilah lantas kembali lagi membahas bagian ‘seks’ itu, hanya karena ia ingin menyingkirkan dan menggantinya dengan hal lain—sementara aku tidak mau, pun aku terpikir untuk melakukan suatu gebrakan.

~Changi’s PoV~

Kyuhyun bungkas dari duduknya, mendekat dengan cepat kepadaku, dan mengerahkan manuver penuh ancaman yang biasa ia keluarkan jika ekspresi kesalnya itu sudah tampak; memelototiku seolah pelototannya bisa melubangi kedua mataku. “Kau istriku, Changi. Sudah saatnya kau dipanggil itu. Kecuali kau lupa kalau kita menikah,” omelnya.

Aku mendorongnya untuk kembali duduk.

“Dasar pengecut.” Ia memang menuruti doronganku untuk duduk, tapi ia memulai lagi menaikpitamkanku.

Kekesalan menggelayuti diriku.

Dia tertawa meremehkan, lalu menatapku tak serius. “Pe-nge-cut.” Mulutnya membentuk kata itu, tanpa suara.

Oh, sungguh mengesalkan. Aku menengadahkan kepala ke atas, menemui lampu gantung, menghela napas dan menahan keinginan untuk menghajarnya.

“Pe-nge-cut. To-tal.” Ia mengulanginya lagi, kali ini dengan suara yang terdengar jelas.

~Kyuhyun’s PoV~

Jadi, dia sudah sangat kesal sekarang. Yah, kukira ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan rencanaku berikutnya. Mudah saja; intensifikasi pengejekan. “Kupikir kau kuat dan pemberani, Changi. Tapi untuk menghadapi tes ini saja kau tidak berani.”

Benar saja, ia menggemeretakkan gigi, terusik sendiri. Ia kemudian seperti memeras otak seraya melirik udara hampa di samping kami. Selang beberapa detik, dengan wajah berat, ia lantas memutuskan, “Aku tidak bisa, Kyu. Kurasa aku tidak ingin tahu apakah aku aseksual atau seksual. Dan kau tahu, aku juga tidak mau mengubah program anti-sentuhan di otakku. Lagipula ini tidak akan memberikanku keuntungan apa pun.”

Aku menganga, sejenak, dengan alis terangkat. “Begitu?”

“Ya,” sahutnya mantap, “begitu.”

Kami saling memandang. Aku lantas membenarkan cara duduk seraya memperhatikan dia yang duduk dengan resah. Kesenyapan masih berjalan hingga aku terpikir untuk melancarkan rencana berikutnya. “Kau kena, Changi.”

Changi melebarkan kedua matanya gamang. “Apa maksudmu aku kena?” bisiknya penuh ancaman.

Terbahak-bahak, ingin aku melakukan itu sekarang, menutupi keringanan hatiku. Tapi dia pasti akan tahu aku menutupi sesuatu karena tawaku akan terdengar sangat mencurigakan—seberapa rapi aku menutupinya. Maka aku menanggapinya dengan normal. “Aku tahu,” kataku, “pada akhirnya kau akan memutuskan itu. Aku pun tidak mengharapkan apa-apa, sebetulnya. Tapi aku senang kau sempat berpikir aku mau melakukan itu—seks, maksudku.” Ah, ide yang sangat bagus, yang terlontar dari mulutku begitu saja. Itu adalah dominasi yang kumiliki untuk rencanaku sendiri,yang kudapati jauh lebih cepat sebelum waktunya bergulir.

~Changi’s PoV~

Dia menyerah?

Setelah pertengkaran yang berkecamuk di antara kami, permainan catur yang kuyakini diliputi tipu dayanya, ia kini langsung menyerah? Sungguh bukan dia.

Apa dia merencanakan hal yang lebih sadis daripada yang sebelumnya? Apa dia akan memaksa? Kelopak mataku tremor—bergetar dengan sendirinya. Kepalaku berdenyut-denyut. Ini mengerikan. Ini adalah hal paling menakutkan di sepanjang sejarah kehidupanku. Aku sangat yakin rencananya begitu jahat terhadapku dan aku harus memikirkan siasat lain. Kyuhyun tidak pernah begitu cepat menyerah seperti barusan. Ia pasti sangat ingin mendominasiku, seperti yang dia ungkapkan tadi. Perlu keinginan yang begitu kuat baginya untuk menjadi selicik dan setertata itu dalam menyusun rencana.

Demi menanggulangi, aku harus membuatnya berpikir kalau dengan cara apapun yang ia gunakan untuk mendominasiku akan gagal. Terutama dengan cara yang menyeramkan ini. Aku akan menaklukkan dan memastikan ia tidak akan mendapat apa-apa. Aku harus meyakinkan kalau ia akan kalah, lagi, dariku. Dan dia takkan mengataiku pengecut lagi.

Ini bukan soal aku yang mau melakukan apapun demi tidak dikatai pengecut. Ini hanya soal pembuktian kepadanya kalau aku takkan pernah didominasi olehnya, melalui cara apapun. Aku sendiri harus turun tangan dalam hal ini. Makanya, mau tak mau, aku harus melibatkan diri dan kooperatif.

“Aku takkan membiarkanmu mendominasiku,” ucapku kemudian. Kengerianku akan rencana yang mungkin ia siapkan di belakangku, membuatku mengatakan itu.

Kyuhyun memandangku, sambil merekatkan mantel abu-abu kebesarannya, melindungi tubuh kurus tingginya itu.

“Oke,” ucap Kyuhyun, “lantas apa yang bisa kaulakukan untuk tidak membiarkanku mendominasimu?”

“Entah,” sahutku sambil mengangkat bahu, “tapi aku yakin  cara terampuh yang ada di pikiranmu sekarang—hanya di pikiranmu—itu akan terus ada. Kalau hari ini gagal. kau akan terus mencoba agar itu dapat terjadi dengan penuh manipulasi besok dan besoknya lagi. Rasa penasaran tetap akan ada di dirimu selama kau belum melaluinya. Kau takkan pernah menyerah, aku tahu.”

“Apa itu—cara terampuh di pikiranku?” tanyanya.

Aku memandangnya muram tapi tetap tangguh.

“Seks?”

Mataku kuputar penuh jemu.

Gelak tawanya renyah terdengar. “Changi,” katanya, “kau sangat mengenalku.”

Dingin, kutatap kembali matanya.

“Jadi kau ingin…?”

“Tidak ingin apa-apa,” jawabku, “aku hanya melindungiku sendiri dari dominasimu yang akan kaurencanakan.”

“Oh,” Kyuhyun terdengar bosan, “ya. Aku tahu. Tapi yang ingin kuperjelas di sini adalah tindakan konkretnya. Tindakan nyata apa yang akan kaulakukan untuk mempertahankan dirimu dari dominasiku?”

“Aku akan melumpuhkan cara terampuh dalam pikiranmu itu. Aku akan membuatmu berpikir kalau itu adalah cara tersalah yang pernah kauambil untuk mendominasiku,” ucapku.

~Kyuhyun’s PoV~

Rasanya aku ingin berjinjit dan berlompatan gembira mendengar itu. Rasanya seperti ketika aku bertemu dengan raja dari segala raja di akhir sebuah game arkade dan aksi. Bangga dan bergelora.

Betapa tidak, Changi baru saja masuk perangkapku. Ia sudah menggigit pancinganku. Sama seperti ketika ia terpancing untuk memakan bidak kuda di caturku tadi, yang merupakan jebakan baginya agar dapat ku-skakmat.

“Tapi kau tahu, bukan,” tanyaku, “kalau untuk mencapai visimu melumpuhkan metode terampuhku itu adalah dengan berhubungan seks denganku.”

“Hya! Kau tak perlu mengucapkannya segamblang itu!” bentaknya. Pipinya merona dan roman mukanya kesal.

“Tenanglah, tak ada orang lain di sini,” ucapku.

“Aku hanya tidak suka mendengarnya. Lebih-lebih kaukaitkan kata itu denganku,” timpalnya.

“Aku sudah menyebut kata itu sejak tadi dan mengaitkannya terus dengan kita.”

“Tapi tak segamblang dan selengkap tadi kalimatnya!”

“Oke, oke,” aku mengangkat tangan. “Tapi aku benar, bukan? Bagaimanapun, misimu adalah menjalani operasi pembuktian-kalau-seks-adalah-cara-pendominasian-yang-takkan-berhasil. Mau tak mau, kau harus terjun dan melakukannya, supaya kau bisa tahu kalau cara itu berhasil mendominasimu atau tidak.”

“Tidak,” ucapnya getir.

“Kenapa tidak?” tanyaku. “Satu-satunya cara, ya, hanya itu. Kau punya cara lain?”

“Pasti ada,” sahutnya. “Aku akan memikirkannya.”

“Selama kau memikirkannya, selama itu pula aku akan mencari cara agar cara terampuh di pikiranku itu dapat terjadi,” ucapku, membuatnya merasa terancam.

Changi membeliak kepadaku, seperti menyadari kalau aku bisa melakukan itu. Ia lantas memasang tampang frustrasi yang tertahan, terjebak dalam keputusannya sendiri.

Satu detik. Dua detik. Mendadak rencana untuk mempercepat ini mengarungi pikiranku. “Kalau kau tak sudi, tidak usah. Aku saja malas menyalakan Playstation-nya kalau orang yang memegang stik Player 2-nya terpaksa,” ucapku, “aku tidak suka bermain bersama seseorang yang terpaksa. Dan mungkin kau benar, mungkin ada cara lain. Aku akan memikirkannya.” Pun aku beranjak berdiri, berjalan, melintasinya.

~Changi’s PoV~

Dia tak boleh dibiarkan memikirkannya. Dia bisa saja akan menyiapkan suatu cara yang lebih parah. Aku harus menghentikannya.

~Kyuhyun’s PoV~

Sesuatu yang menyangkut di mantelku menahanku. Aku menoleh. Rupanya tangannya sedang menggamit ujung mantelku.

“Apa lagi?” tanyaku.

“Baiklah, ayo kita lakukan,” ucapnya.

Aku tersenyum. Lalu mengarah kembali ke sofa. Duduk dengan manis.

~Changi’s PoV~

Kami terus berkutat dalam pemikiran masing-masing beberapa menit ke depan. Hingga kemudian, Kyuhyun angkat bicara, “Kapan kita mulai?”

Aku ingin sekali berteriak ‘Tidak akan pernah!’, tapi itu akan menghancurkan misiku dan membuatku kelihatan konyol—setelah adu argumentasi tadi. Maka dengan sekuat yang kubisa untuk mengendalikan diriku yang serba was-was, aku mengucap, “Sekarang.”

Kyuhyun mengeluarkan senyum mengesalkan yang selalu menyulut amarahku, senyuman miring seperti pesakitan. “Kalau begitu, cium aku,” perintahnya.

“Kau bukan yang memegang komando di sini, Cho Kyuhyun,” aku menegaskan.

“Park Changi, kau tidak tahu apa-apa soal seks. Kau selalu menghindari pelajaran tentang itu. Aku tahu. Kau bahkan tidak tahu bagaimana anatomi tubuh pria—”

“Hentikan, Kyu!”

“Jadi lebih baik kita bersepakat kalau aku yang mengambil alih komando di sini,” Kyuhyun ikut-ikutan bertegas ria. Ck.

Kupalingkan muka, begitu masygul karena yang dia katakan tentangku memang tepat.

“Jadi?” tagihnya. “Kau mau mengikuti perintahku?”

Beberapa menit aku menyelami situasi dan konsekuensi yang akan kudapat dari itu. Lalu kupikir memang harus dia yang memimpin, walaupun aku benci mengakuinya. Sebab aku tak ada pengetahuan sama sekali soal hal yang kutentang ini.

“Baiklah,” aku menjawab lesu, “aku akan menurutimu.”

“Oke,” Kyuhyun menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin, lalu berkata dengan tingkah senior dua tingkat di atasku seperti yang selalu ia lakukan dulu, “kemarilah. Cium aku.”

Aku meniliknya dengan pegal hati yang tengah mencerapku. “Kau tahu aku tidak bisa mencium,” cetusku.

“Yang membuatmu tidak bisa mencium itu adalah pemikiranmu yang picik dan patetis,” ucap Kyuhyun kejam.

“Aku tidak mengerti apa yang kaudapatkan dari hinaanmu terhadapku yang tak bisa mencium,” aku berkata sinis.

Kyuhyun tertawa. Penuh aura gelap dan dingin. Ia lalu berdeham dan membalas, “Aku pun tak paham mengapa kau bisa berpikir kalau aku mencari sesuatu dari hinaanku.”

“Oh,” aku memutar bola mata, “ya, benar, seseorang yang menghina tanpa tujuan, kau ini.”

“Duduklah di sofa ini, Changi,” tiba-tiba ia meminta.

“Kau saja.”

“Aku sudah,” timpalnya, “bagaimana kalau kau juga?”

Aku bergeming.

“Kaubilang kau ingin menurutiku tadi, bukan?” ancamnya.

Aku membersut dan bangkit, menghentak langkah yang hanya tinggal sedikit ke sofa putih itu. Ketika baru ingin meletakkan bokongku di sofa, Kyuhyun berucap, “Bagaimana kalau di pangkuanku?”

~Kyuhyun’s PoV~

Umpatan yang kedengaran kekanakan terlontar dari mulutnya. Namun itu terjadi kilat karena aku, lagi-lagi, mengingatkan soal janjinya yang mau menurutiku.

Mendengar itu, Changi membuang muka sejenak. Lalu ia duduk, menekuk sebelah pahanya yang berhimpit ke sandaran sofa dan menyelonjorkan kaki satunya ke lantai. Ia duduk menghadapku. Bukan di pangkuanku. Ya, tak apalah. Yang penting, dia sudah di sandingku sekarang.

“Oke. Percepat saja. Apa pun yang harus dilakukan, katakanlah,” ucapnya.

Jangan tanya seberapa terkejutnya aku.

~Changi’s PoV~

Perkataanku tadi tolol, tapi, demi persetujuan yang telah kulontarkan padanya, tak apalah.

Tapi, mengapa ia tak menunjukkan ekspresi apapun?

“Ini yang terakhir kalinya aku bilang, dan aku harap kau langsung melakukannya,” Kyuhyun berkata pelan tapi mengintimidasi, “cium aku.”

Kesal karena melihat rona muka datarnya dan perintah dinginnya terhadapku, terlebih kepada isi perintahnya yang bagiku lebih mustahil dari apapun, aku menggeram dalam hati. Begitulah caraku menahan kekesalan, mengendalikan diri. Kalau aku kesal, semua akan kacau balau lagi. Dan dia akan kembali merendahkanku yang inkonsisten dengan perkataanku sendiri. Betapapun kuatnya antipatiku terhadap hal ini, aku harus menghadapinya. Anggap saja ini perang. Dan aku harus menahan antipati pada hal itu dan kekesalanku padanya.

Penahanan itu berjalan sempurna. Dan aku berusaha mempraktikkan yang dia maksudkan terakhir. Aku mendekatkan wajahku ke dekat wajahnya, sembari menyemangati diriku sendiri dalam hati  memenangi ini. Mili demi mili hingga ketika rasanya aku sudah bisa merasai hembusan napasnya, aku memundurkan diri lagi. Namun penjauhan diriku darinya tak berhasil karena dia memajukan wajahnya dan lekas-lekas menempelkan bibirnya ke bibirku.

Setelah itu, kami buru-buru menarik diri.

~Kyuhyun’s PoV~

Oke. Tadi itu seperti sengatan kabel terkelupas yang disenggolkan ke bibirku. Rasanya sama seperti ciuman tak sengaja yang pernah kami alami dulu. Menyentak seperti serangan listrik.

Dan aku tak bisa menanggulanginya. Aku bahkan kini kaku. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi.

Sebentar, aku harus mengingat-ingat apa saja yang hyunghyung-ku jelaskan untuk mengendalikan situasi ini. Eunhyuk Hyung, ya, dia yang paling banyak berkata-kata soal itu. Aku harus memerah otak, mengenang pembicaraannya.

Ah. Sial. Mengapa kini malah yang diocehkan si Eunhyuk itu hilang dari kepalaku? Padahal dia banyak bicara betapa luar biasanya seks itu. Padahal biasanya otakku cemerlang dalam mengingat. Tapi aku lupa semua. Yah, aku memang suka sengaja melupakan hal yang tidak terlalu penting, sih.

Tapi, tidak. Tidak! Itu jadi penting sekarang. Aku harus mengingatnya. Changi sudah setuju. Dan aku harus menyikapi keajaiban ini dengan cara tepat. Astaga. Mengapa aku benar-benar lupa ajaran Eunhyuk hyung bodoh itu?

Mungkin karena tidak ada esensinya, ajarannya itu. Oleh karena itu, aku mudah melupakannya. Kurasa aku harus mengingat ajaran yang lain. Leeteuk hyung? Ck. Sama saja. Ryeowook hyung? Oh. Ayolaah… Yesung hyung? Aku ingat dia pernah memberikanku buku. Judulnya… Kamasutra.

“Apa yang kaupikirkan?” tanya Changi, memecahkan pikiranku atas buku konyol dan mesum milik Yesung hyung.

“Tak ada,” jawabku. Kendati begitu, aku tetap mengingat-ingat isi buku itu. Aku adalah pembaca buku apapun. Jadi ketika Yesung hyung memberikan itu, aku membacanya. Yah, dari situlah aku yang kurang pengetahuan soal itu, karena tidak tertarik, menjadi mengenali beberapa hal.

Kulihat Changi masih menunggu aksiku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Beberapa bayangan di buku itu mungkin akan terlintas di benakku. Yang penting sekarang; lakukan saja dulu.

“Kecup aku lagi,” pintaku.

Changi menggeleng banyak-banyak.

“Kalau kau tidak mau, aku yang akan mengecupmu secara panas dan menyesakkan,” gertakku.

Ia menampilkan senyum meledek. “Seolah kau tahu saja bagaimana  caranya.”

Aku meringis. “Kau mengatakanku aku tidak tahu? Aku dikatai tidak tahu oleh seorang perawan?” tanyaku miris sambil menikmati teriakan kekagetannya yang muncul karena kata terakhirku. “Aku bukan tidak tahu, aku hanya perjaka.”

Changi yang tadinya syok kemudian memasang tampang malas karena pernyataanku barusan. “Tak perlu membahas hal yang sudah menjadi rahasia umum orang-orang di sekitarmu.”

“Ck,” kekesalanku timbul lagi, “kita mau melakukan misimu atau kau memilih duduk membuka paha menghadapku sepanjang hari?”

“Kyuhyun-ah, tutup mulutmu atau kutampar. Kau yang meminta aku duduk di sofa,” sanggahnya. Semburat warna merah menyebar di wajahnya. Dia malu seakan-akan aibnya tengah dibongkar di depan massa. Bersicepat ia bangkit.

Ketika ia masih dalam keadaan nyaris pergi, serempak aku menemukan balasannya di otakku. “Tampar saja,” kataku sambil menahan tangannya dan menarik pelan-pelan agar ia kembali duduk, “asalkan setelah itu kaucium aku.”

“Astaga,” matanya makin membesar, “kenapa sekarang perkataanmu seperti brengsek kelas rendah menjijikan yang harusnya dikubur hidup-hidup?” sindirnya.

“Perkataanmu berlebihan sekali,” tawaku, mencemooh. “Dan asal kau tahu,aku bisa jadi brengsek terus kalau aku mau,” sahutku, “dan biasanya kemauanku itu berkisar di dirimu.”

“Mati saja kau.”

Aku terbahak lagi dengan nada mencemooh.

“Sebenarnya apa yang—?”

“Aku akan terus begini kalau kau tidak menciumku lebih dulu dan terus mengulur waktu,” aku berkata sejujurnya, “dan akan terus membahas tes ini selamanya kalau kau membatalkannya sekarang.”

“Sudah kubilang, aku tak bisa mencium. Lagipula tadi kan sudah,” sanggahnya.

“Itu tidak bisa disebut ciuman, kurasa.”

“Aku tidak mengerti cara pandangmu dalam hal ini, Kyu.”

Tebaklah, aku juga tidak paham. Kukira aku mulai gelap mata karena ini berlangsung lama sekali. Ini menyiksaku. Apa sebenarnya aku juga tidak menyukai seks seperti dia? Entahlah. Makanya, aku mau tes ini dilakukan. Tak ada yang akan kuketahui kalau aku tak mencobanya.

“Baiklah,” aku mengalah, “aku yang akan menciummu duluan. Aku yang akan memulainya. Dan jika aku sedikit brutal, jangan salahkan aku, karena aku sama sekali tak berpengalaman soal ini.”

“Apa? Aku juga tidak—”

“Aku sudah memperingatkanmu, Park Changi,” ujarku.

Ia lalu hanya menatapku dengan tatapan tak percaya dan sengit.

Kelengangannya menggagasku untuk segera menciumnya.

~Changi’s PoV~

Kyuhyun menciumku, mempertemukan kedua bibir kami. Gemetaran, aku hanya bisa menemukannya yang bereksperimen dengan ciuman kami. Kami tidak pernah berciuman dengan sengaja sebelum hari ini. Dan tiba-tiba harus menghadapi eksperimennya terhadap hal ini. Persentuhan bibirnya dengan bibirku seperti mengirimkan energi panas yang melekat. Cukup lama kami dalam situasi itu, hingga kemudian ia menekankan bibirnya lebih dalam.

Astaga. Ini apa? Aku tak bisa napas. Dan kenapa terdapat suatu rasa merasuki tubuhku yang berpusat dari mulutku sekarang? Seperti penyebaran virus yang membelit pembuluh darahku.

Tanganku secara kuat menahan dadanya yang menyuruk kepadaku. Tapi ia malah menggenggam kedua pergelangan tanganku dan mencoba menyingkirkan dari hadapan kami. Aku tidak membiarkannya, tapi aku juga tak bisa menyetopnya untuk tidak mencengkeram tanganku. Pegangannya kuat sekali.

Dan ia mulai mengelus bibirku dengan bibirnya. Aku makin tidak tahan.

Cepat-cepat aku menarik diri.

Kulihat roman muka nanapnya, yang seakan berbicara ‘ada apa?’.

“Aku tak menyangka kau—” gumamku lirih. Ngeri sendiri atas apa yang akan kuucapkan.

“Aku juga tak menyangkanya,” ucapnya riang, seakan tahu apa yang akan kuucapkan, kemudian mendadak murung—seperti biasanya, “lantas mengapa kau memberhentikannya?”

“Aku tidak suka sentuhan. Apa itu kurang jelas?” cetusku ketus diselingi dengan tindakan menggosok mulutku, “ditambah, kau tadi mengunci gerakanku. Menyakitkan. Rasanya seperti tawanan.”

“Yah, kau menahanku agar tak mendekat jadi—” Ia tiba-tiba menatapku ganjil. “Kau masih mempertahankan program anti sentuhan di pemikiranmu?” tanyanya heran. “Aneh. Kau sendiri yang bilang kau yang akan membuktikan kalau cara terampuhku akan salah—”

Napasku kuhelakan dan memenggal ucapannya. “Baiklah, baiklah.”

“Baiklah apa?” tantangnya.

“Aku harus apa?”

“Pikir saja sendiri.”

Ck. Dia sungguh mendongkolkan. Dia tak membantu juga tak melepaskanku dalam waktu yang sama. Aku kan pemula, sama seperti dia, seharusnya dia maklum.

Napasku terhela. Kuduga aku yang harus maklum. Perilaku kekanakannya sangat kuat kalau ia sedang marah.

Tapi aku harus apa? Aku sudah mempermalukan diriku sendiri dengan duduk di hadapannya berlama-lama, sampai rasanya pahaku pegal sekarang. Dan, dia menyuruhku untuk—ah, ya, aku harus menciumnya.

Sial. Kenapa aku harus menyetujui untuk mengikuti komandonya?

Tapi, tak apa. Pahlawan akan menang pada akhirnya. Dan semakin cepat perang ini berakhir, semakin baik. Aku pun mendekati wajahnya lagi, menirukan cara dia menciumku tadi.

~Kyuhyun’s PoV~

Changi menciumku. Dengan canggung.

Betapa mengejutkan.

Aku, secara pasti, membalasnya. Entahlah. Aku merasa ada sesuatu di mulutnya yang membuatku ingin terus merasakannya. Ciumannya aneh. Serasa memercikkan sesuatu yang menggelitik mulutku, tapi membuatku ingin terus mencicipi bibirnya.

Karena ciuman ini, aku jadi ingin merasakan yang lain. Oh. Apa ini ternyata membuka fakta kalau aku sesungguhnya bukan aseksual?

Aku tidak tahu. Dan lebih memilih mencari jawabannya saja.

Setelah sesaat, aku masih mencium Changi dengan cara yang kami lakukan pertama kali; menekan dengan mulut tertutup.

Kupikir aku harus membuat kemajuan.

Maka kubuka mulutku sehingga aku bisa mencakup bibir ranumnya; mengaut intens. Aku tak tahu ini apa, apa yang telah terjadi padaku. Hanya saja nuansa ciuman nyatanya memengaruhiku. Aku memiringkan kepala, memosisikan mulutku agar dapat mencakup bibirnya lebih banyak.

Persentuhan antara kedua bibir kami membuatku ingin semakin terselam. Dengan giat, namun tetap lunak, bibirku menjangkau bibir bagian sebelah dalamnya, kadang mengisapnya sedikit, membuatnya menarik napas gelisah. Changi tersentak terhadap setiap percobaan baru yang kulancarkan. Setelah tadi aku merengkuh bibir sebelah dalamnya, aku lalu menjejalkan lidahku masuk untuk memulai ciuman lidah yang disebut French Kiss—begitu yang hyunghyungku katakan. Changi, herannya, membiarkan lidahku merajai rongga mulut bagian depannya. Barangkali karena masih disibukkan kegegauannya sendiri atas tiap aktivitas baru bagiku ini. Pun ini baru juga baginya.

~Changi’s PoV~

Ampun. Apa yang dia lakukan?!

Dia seperti ilmuwan yang mengadakan percobaan-percobaan dengan ahli dan sangat cepat meraup hasilnya. Kupikir ia tadinya kurang ilmu soal ini. Atau mungkin ia cepat mengondisikan diri dalam mempelajari apa-apa tentang ini. Sepertinya begitu.

Dan apa yang kami lakukan mulai terasa salah kaprah bagiku. Penempelan tepi mulut kami dari awal saja sudah membuatku seperti diserang demam. Kini itu makin melemahkanku. Tubuhku memberat. Lebih-lebih ketika aksi-aksi lain dari eksplorasinya akan tes ini menjelang. Dan sekarang aku merasa mulutku mati rasa dan ini mulai membuatku sulit mengantisipasi. Kepalaku sakit karena sejak hal ini bermula aku memaksa otakku untuk berpikir bagaimana agar aku kuat menghadapi cobaan ini, bagaimana aku mematikan program anti sentuhan untuk sementara saja. Dadaku sesak dan aku mulai kehabisan napas. Alat gerakku sulit digerakkan karena lagi-lagi kedua tangannya menggagai tanganku dan pahanya menahan kedua pahaku, walaupun tidak dengan erat. Bahkan kini, pelan-pelan, dia mulai mendorong punggungku agar aku merekat pada tubuhnya, mengunci tubuhku.

Aku tak tahan lagi. Dia melemahkanku dengan segala hal yang dilakukannya. Aku harus menyudahinya.

“Kyu—” Kudorong-dorong dada bidang yang berlapis mantelnya. “Kyuhyun-ah!” seruku. Kali ini sekuat tenaga, sehingga punggungnya terhempas ke sofa.

Ia seperti tertampar, duduk terengah-engah menatapku. Tatapannya kosong sejenak, hingga selang beberapa saat kembali mematikan.

~Kyuhyun’s PoV~

Changi memandangku seakan aku terdakwa yang dinyatakan bersalah. Aku bersegera memegang tangannya saat ia mencoba berdiri dari posisinya.

Ia memberikan pandangan yang seakan berkata ‘jangan-sentuh-aku’.

“Changi,” kataku, “aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa mengendalikan diri. Maaf. Aku juga baru tahu. Kurasa aku bukan aseksual.”

Changi tetap berdiri, merampas tangannya sendiri dari genggamanku. “Oh, kalau begitu, selamat, Cho Kyuhyun. Kau baru mengetahui dirimu sendiri. Selamat,” sindirnya sambil menyembunyikan wajahnya dariku. Aku menahan tangannya agar mempersulit kesempatannya untuk kabur.

“Dan apakah kau?” tanyaku nyinyir. Aku sengaja mengungkit topik ejekan. Karena dengan itu ia bisa terbawa emosi dan melupakan apa pun yang kini ia rasakan terhadap ciumanku yang tak kuduga bisa setekun itu tadi. Bisa jadi dia tidak suka. Aku takut itu yang dia rasakan mengingat mimik muka tak ingin disentuhnya yang tadi tampil setelah ia mendorongku. “Apakah kau aseksual?”

Changi memandangku lurus dan tajam. Benar saja, dia marah lagi. Itu jauh lebih baik. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Apa kau aseksual? Kurasa juga tidak,” kataku seraya mendekatinya, “kau menyukai ciumanku, Changi.”

Ia menyemburkan tawa menghina. “Suka? Aku mau mati saking tidak menyukainya,” sahutnya.

“Kalau kau tidak menyukainya,” ujarku, “kau tidak akan melewatkan beberapa detik mengecapinya.”

Pelototan mata entah keberapa kalinya kembali ia tampakkan kepadaku. Kelopak mata besar sayunya membuka lama, menegaskan bola mata hitamnya.

Seringai menang kutimbul dengan sendirinya. Sambil bersedekap dan mencondongkan tubuh lebih-lebih lagi, aku berbisik jahat di dekat telinganya, “Kau juga bukan aseksual, Changi. Kau sama denganku. Kau menikmatinya.”

“Mustahil!”

Aku memundurkan diri, terpingkal-pingkal, menunjukkan tawa yang makin mempermalukannya. Ia memberengut, nampak sangat marah.

“Tes sudah membuktikan,” aku menambahkan bara ke emosinya, “kita makhluk seksual. Jadi mungkin berikutnya kita harus saling mewaspadai.”

“Apa?” lirihnya tajam.

Kukernyitkan alis. Dan mendadak mendapat serangan perkataan baru. Ini pasti memukulnya telak. “Jangan-jangan kau memang benar-benar mengambil keuntungan dari diriku yang tak sadar semalam.”

Ia menendang kakiku keras. Pastinya ia ingin menghajarku. Meski setelah itu ia memberikan tatapan tenang dan hanya bersedekap. Changi pasti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin untuk membatalkan ini. Ah, aku harus mengantisipasinya. “Kalau kau tidak menikmatinya, kau tidak akan menyetopnya,” ujarku.

Ketenangan di wajahnya terusik. Ia menatapku heran tak karuan.

“Kau sama penasarannya denganku. Kauingin mengetahui, maka dari itu kau menyetujui kita melakukannya. Kau mau menilai dirimu juga. Di samping itu, kau juga ingin memastikan kalau takkan terjadi apa-apa meski nantinya kita sudah selesai melakukannya. Tapi ciuman tadi rupanya mengacaukan segalanya sehingga kau kehilangan kendali dirimu. Kehilangan kendali diri berarti kehilangan kesempatan menilai diri sendiri,” terangku tanpa ekspresi, menunjukkan keseriusanku.

“Kau sedang membicarakan dirimu sendiri?” tanyanya.

Aku melebar kaget. Dia benar. Tapi dia tak boleh tahu. “Jadi kau tidak begitu?” tanyaku setelah menelan ludah. “Kau tidak menikmatinya?”

“Tidak,” tegasnya.

“Kalau begitu, buktikan padaku kau bisa meneruskannya.”

“Tidak mau” jawabnya, “kecuali kau berjanji kau akan bertingkah tepat. Aku memang ingin memastikan kalau takkan terjadi apa-apa setelah selesai melakukannya. Tapi tahap ‘selesai-melakukannya’ takkan pernah ada, kalau kau terus bertingkah seperti tadi.”

“Hah. Kau banyak sekali maunya,” keluhku.

“Berkacalah, Kyu. Kau juga banyak maunya,” serangnya balik, tajam sekali. “Kalau kau memaksa untuk lanjut, dengan cara seperti tadi, aku lebih memilih memukulimu. Aku hampir mati karenamu.”

“Bukannya itu bagus? Adrenalin meningkat. Sesuatu yang menegangkan. Tantangan. Itu hal-hal yang kausuka, bukan?” aku meyakinkan.

“Aku tidak suka tantangan yang membuatku hampir mati,” balasnya gemas.

Lidahku kudecakkan. “Pengecut,” kukeluarkan lagi hinaan itu. Terdengar dengusan nafas penuh amarahnya sekali.

Kuduga hinaan itu begitu mengenainya. Jadi kuputuskan untuk mengucapkannya lagi, “Pe-nge—”

“Kau mau melanjutkan atau tidak?” tanyanya.

Aku memandangnya, mengangkat alis, lalu mengiyakan, “Baiklah, ayo lanjutkan.”

“Lakukan sekali lagi dengan cara tadi, kau mati,” ancamnya dingin.

Senyum miringku terukir tanpa kusengaja. Lalu kudekati dirinya.

~Changi’s PoV~

Kyuhyun memosisikan dirinya di hadapanku lagi.

Tanpa berkata apa-apa, ia menundukkan dan memiringkan kepala, lalu mengecupku.

~Kyuhyun’s PoV~

Kami berciuman lagi, sesuai kehendakku. Aku mengusahakan agar menggunakan kesempatan seefektif mungkin. Ia telah memberikan kesempatan kedua. Aku tidak boleh membuatnya tak suka dan kemudian memutus lingkaran ini seperti tadi, jadi aku mencium lebih teliti. Kucakup bibirnya, lambat laun, lalu kulepas lagi. Kepalanya mulai lemas dan aku mulai mengelus rambut keritingnya penuh kelembutan. Bibirnya terbuka karena aku sedikit memijat kulit kepalanya pelan. Agaknya ia nanap karena tindakanku. Dan ketika itulah aku menyesap bibir bawahnya lagi.

Changi mengerang pelan ketika aksiku terus kuperlambat dengan tekun. Erangan kagetnya yang tadi berubah menjadi desahan tertahan ketika aku memasukkan lidahku kembali ke mulutnya. Hal itu membuatku kembali bersemangat.

Kedua tanganku menjamahi pundak, lengan, lalu kukerahkan ke pinggulnya, mencari ujung kaos violetnya. Ketika menemukan ujungnya, aku mencoba menariknya ke atas perlahan.

Changi menarik diri, tepat pada saat lidah kami hampir membelit, tepat ketika perutnya terekspos sempurna.

Kami saling pandang, sambil mengatur napas. Cukup lama.

“Diteruskan?” tanyaku.

Ia melotot kaku.

Kekakuannya segera membuatku menarik kesimpulan kalau itu diizinkan. Kutarik kaosnya ke atas kepala, menyingkirkannya. Tank top hitamnya terbawa berbarengan kaos itu. Changi kini hanya memakai bra dan celana panjang.

Saat aku ingin menyisihkan branya itu, tanpa membuka kaitnya, ia bertanya dengan tatapan mautnya, “Apa kau benar tak pernah melakukan ini, Kyu?” Sejumput rambut keriting yang sedikit menutupi pandangan tajamnya mencuri perhatianku.

“Apa maksud perkataanmu yang bengis itu?” aku mengungkap pertanyaan kasar dengan intonasi lembut, sambil menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.

“Kau nampak tahu apa yang selanjutnya kaulakukan,” terkanya.

Aku menyernyih. “Itulah manfaat seringnya bermain game strategi,” timpalku sambil mencoba mengangkat bra itu ke atas.

Ia menekan dadanya, menahan usahaku. Kepalanya diayunkan. Berusaha sekali ia menahan sesuatu. Tapi apa?

~Changi’s PoV~

Aku takut sekali. Dia akan melucuti pakaianku. Seluruhnya. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya padaku. Kelenjar air mataku ingin memproduksi air mata sebanyak-banyaknya. Tapi kutahan mati-matian, sehingga mataku nyeri. Aku tidak mau menangis di hadapannya. Aku tak mau terlihat lemah. Dan aku akan menunjukkan padanya kalau tidak akan ada apa-apa setelah ini terjadi.

Begitu kan tujuanku? Ya, begitu.

Lagipula, aku mengingatkan diriku sendiri lagi, kalau aku menolak sekarang—seperti biasanya, ia pasti akan mengusahakannya di lain waktu. Tidak akan ada habisnya.

Maka, aku hanya harus berperan aku sanggup melalui perang ini, berakting kalau aku mengenali semua tindakan yang sepenuhnya baru bagi seluruh inderaku ini.

“Kau buka saja bajumu,” kataku, menimpali tindakanku menahan braku.

“Tidak,” tolaknya.

“Kyu,” sentakku ketika ia bergerak pelan, penuh kehati-hatian melingkarkan lengannya di tubuhku. Demi mencari kait braku. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Bibirnya berangsur-angsur tertempel ke leherku ketika ia mencoba mengamati usahanya melepas kait bra. Ia ingin melepaskan braku, namun gagal karena aku masih menutup dadaku dengan lengan yang tersedekap.

Kalau ada kata lain yang lebih tepat, yang lebih kedengaran luhur, aku lebih memilih menyebutkan kata itu. Tapi tak ada. Hanya kata ‘malu’ yang menggambarkan diriku sekarang.

Itu mungkin alasan yang paling tepat mengapa aku menahan braku agar tak dilepasnya. Aku tak pernah membuka tubuhku di depan siapapun. Aku malu. M-A-L-U. Harga diriku tercabik. Pun aku juga bingung. Bagaimana rasanya menyemplungkan diri di kegiatan yang tak kauketahui apa-apa di dalamnya? Itulah yang kurasakan.

“Ada apa, Changi?” tanyanya.

“Tidak ada,” sahutku, menguatkan diri, menguatkan dekapan lengan untuk menekan braku yang kaitnya terlepas.

Mendapati aku yang memaku diriku sendiri, menata diriku yang rasanya berantakan, Kyuhyun seketika melakukan hal lain. Leher bagian sampingku dikecup pelan-pelan. Kecupan lunak dan bertubi-tubi itu terus merembet sampai ke pipiku. Perbuatan baru lagi. Dan perbuatan baru ini membuatku geli. Namun kesadaran mengenai atasanku yang tinggal bra dengan kait terbuka itu menjadikan rasa malu mengungkungiku lagi. Ditambah, penekanan bahwa aku harus kuat untuk menyelesaikan misi ini malah menjadikan pikiranku melecehkanku, yang terdiam saja di situasi memalukan ini. Kepenuhan pemikiran itu pun berefek pada mataku yang membasah.

~Kyuhyun’s PoV~

Bibirku menemui setetes air di pipinya. Terasa asin. Aku menarik diri, terkejut memandangnya.

“Kau menangis, Changi?” tanyaku, yang baru kusadari begitu bodoh karena menanyai hal yang sangat jelas.

Oh, aku harus menonjok diriku sendiri sekarang. Aku tak pernah melihatnya menangis, meski sesadis apa pun orang-orang, terutama fansku, menggencetnya. Dan aku berjanji memukuli sampai babak belur orang yang membuatnya menangis. Aku hanya tak menyangka orang itu aku. Sebentar saja, aku sudah lupa maksud dari semua ini.

Kupasangkan kembali kait branya. “Aku sudah mengacaukan segalanya. Maaf, Changi,” ucapku sambil berdiri dari dudukku.

Aku pun melangkah pergi, meninggalkannya yang bengong. Terus kuberjalan, merutuki diriku sendiri sampai sesuatu yang tak kulihat menghalangi kakiku dan membuatku terantuk. Terdengar olehku bunyi sesuatu itu bergeser di lantai kayu licin yang kuinjak. Mungkin tertendang olehku. Pun aku menengok ke belakang dan mencari tahu apa itu. Ternyata sebuah buku dan sedang dilihat Changi.

Aku mendekat ke sana lagi untuk menemukan kalau itu adalah buku Kamasutra milik Yesung hyung yang tengah terbuka. Jauh lebih sialnya, gambar erotis terpampang di halaman yang terbuka itu.

Segera aku meringkuk, mengambil bukunya. “Ini punya Yesung hyung,” jelasku. Kepalaku terasa panas. Aku langsung menyembunyikannya.

Di saat aku menyembunyikan buku itu di saku mantel, aku mendengar kikikan tawa. Aku mendongak dan mendapati ia tertawa. Ia tetap tertawa dan mulai tak menyadari kalau atasan yang ia kenakan hanya bra yang sudah kembali terkait kencang. Bahkan ia mulai lupa untuk menutupinya.

“Apa yang kau tertawakan?” tanyaku.

“Wajahmu memerah. Dan kau bertingkah seperti anak SMU,” ledeknya.

Aku berdiri, menepuk buku di sakuku. “Kalau kau tahu isi buku ini, kau takkan tertawa lagi,” tukasku.

Mendadak ia menyeriuskan roman mukanya, barangkali karena tadi sempat melihat sekilas bukunya. “Aku tidak peduli isi bukunya,” katanya, membuat mataku terpusat pada dadanya. “Yang kubicarakan adalah reaksimu.”

Tubuhku mematung.

“Dan sekarang mukamu makin merah padam,” ledeknya.

Tapi aku tak terlalu bisa memikirkan balasan apa yang harus kuucapkan karena pemandangan elok di hadapanku. Butuh beberapa detik sampai Changi sadar dan kemudian menutupi dadanya lagi.

Kecanggungan merayapi kami.

“Buku itu,” Changi mulai membuka pembicaraan, “apa itu yang membuatmu kelihatan tahu apa yang berikutnya harus dilakukan?”

Aku mengangguk, memberitahunya yang sebenarnya.

Kami diam. Dan aku meresapi rasa dingin yang meresap ke kaki telanjangku. Dia pasti juga kedinginan. Dan mengingat tangisannya, membuat rasa dingin makin terasa mengesalkan. Setetes tangisannya itu begitu menggangguku. Apa dia begitu bersikeras untuk melawan dirinya sendiri dalam melakukan ini? Apa aku telah membebaninya? Nampaknya aku harus bertanya.

“Changi…” Aku mendekat, berlutut di depannya yang terduduk di sofa. “Apa aku membebanimu?” tanyaku.

“Tidak,” sahutnya datar.

Keningku berkerut. Pembicaraan hyung-hyung-ku soal Changi dan kepalsuan pernikahan kami menyambangi pemikiranku lagi.

“Ada apa?” tanyanya.

“Apa kau membenciku?”

Changi merangkul dirinya sendiri. Ia barangkali kedinginan, seperti yang aku rasakan. Aku ingin menyelimutinya, tapi aku merasa semakin salah kalau menyentuhnya lagi. “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena kelihatan sekali kau terpaksa,” aku beralasan, “tak hanya ini. Tapi semua. Semua yang melibatkanku.”

“Apa yang kaubicarakan?”

“Changi,” kataku pelan,”aku tak akan bicara ‘cinta’. Kita tahu itu omong kosong. Kita bahkan tak bisa mendefinisikannya dengan baik. Sementara ‘suka’ terlalu luas untuk digunakan. Kau tidak mungkin memperlakukanku sama dengan aktor kesukaanmu, bukan?”

“Jadi?”

“Jadi, Changi, apa sebenarnya yang kita alami?”

Ia menggosok-gosok lengannya. “Kenapa tidak kautanyakan itu pada dirimu sendiri?” Changi balas bertanya.

“Sudah,” jawabku, “jawabannya adalah aku ingin memilikimu. Semuanya. Hati, jiwa dan pikiran.”

Changi mendenguskan tawa. “Kau tamak sekali,” cibirnya. Entah kenapa, karena ia mencibir aku merasa suasana kembali nyaman. Kekakuan yang tadi terasa berangsur lenyap.

Kuiyakan dengan mengangkat bahu dan lengkungan bibir. Kulihat ia mengusap lengannya lagi. Sudah sangat pasti kalau ia kedinginan. Maka, kubuka mantel abu-abu tebalku, membuat ia terperangah takut.

“Kenapa kau—”

Aku tak menjawab, melainkan aku hanya melaksanakan tujuanku, yaitu menyelimutinya dengan mantel itu. Mimik muka takutnya menguap.

“Kau saja yang pakai. Nanti kau sakit lagi,” ujarnya sambil menahan mantel itu dipasangkan.

“Tidak apa-apa,” sahutku, “selama perapiannya menyala, aku tidak akan apa-apa.” Aku menilik api yang masih berkobar semangat di perapian itu. Nyala api meliuk-liuk itu seolah memulihkan pemikiranku.

“Lantas, bagaimana denganmu?” Pandanganku diarahkan kembali padanya yang akhirnya mau memakai mantelku juga. “Apa yang kaurasakan terhadapku?”

Matanya dilebarkan, mencoba menelusuri apa yang aku pikirkan melalui mataku. Lama ia berbuat begitu hingga bibirnya bergerak untuk menjawab, “Aku membencimu.”

~Changi’s PoV~

Itu adalah perasaanku yang paling kuat terhadapnya. Benci. Aku juga tak mengerti kenapa. Tapi aku benci dia. Dan aku telah menghabiskan banyak waktuku hanya untuk membencinya. Telah membuang banyak tenaga dan pikiran untuk membencinya. Telah  mengorbankan segala hal untuk membencinya.

Absurd, mungkin. Tapi itu yang kurasakan.

Dan aku tak pernah merasakan hal sekuat ini pada siapa pun selain pada dirinya. Aku tidak pernah suka pada siapapun. Perasaan yang ada hanya benci. Dan itu padanya. Seolah-olah hidupku didesain hanya untuk merasakan satu perasaan kepada satu orang. Benci. Pada Cho Kyuhyun.

Kyuhyun mendenguskan tawa ringan. “Senang mendengarnya,” ujarnya, membuatku bingung, “jauh lebih baik kalau kau membenciku daripada kau kasihan padaku.”

Sebal karena dia puas, aku meresponsnya, “Yah, sebenarnya aku juga pernah merasa kasihan padamu.”

“Jangan coba-coba, Park Changi,” larangnya galak, “aku lebih suka kau membenciku. Itu jauh lebih berdaya daripada kasihan. Benci bisa membuatmu bergelora dan bertindak dinamis. Rasa benci hampir sama dengan rasa posesif—hal yang kurasakan padamu.”

“Terserah apa katamu,” sahutku sambil mencebik.

Ia tersenyum lebar. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan, senyum manusiawi. “Kau tahu,” ucapnya, “aku senang kita bisa saling terbuka seperti ini. Aku selalu ingin tahu apa yang kaurasakan padaku. Aku hanya tak menyangka caranya serumit ini. Terlalu banyak tahap yang harus kulalui.”

“Kau kan tahu aku tak semudah itu dikorek,” ucapku menyombong.

“Aku tahu,” sahutnya, “hanya saja aku tak menyangka aku harus menjebakmu dalam percekcokan, rajukan, Fishing Pole Trap, perjanjian atas—”

“Sebentar,” selaku, “apa yang tadi kaubilang?”

“Perjanjian?”

“Bukan. Yang satu lagi, yang sebelumnya,” kataku, “kalau yang lain aku sudah tahu hal itu memang akal-akalanmu. Meski kalau masalah tes aseksual mungkin memang benar.”

“Tes aseksual itu benar. Aku memang ingin melakukannya. Tapi kau tidak. Jadi aku memikirkan cara lain agar kau mau membahasnya,” jelasnya. “Pembahasan mungkin dapat memengaruhi atau mungkin mencuci otakmu.”

“Dengan permainan catur sialan itu,” timpalku jengkel.

Kyuhyun tertawa senang. “Betul. Fishing Pole Trap.”

Aku membelalakan kedua mataku begitu mendengar istilah yang baru saja mengusikku. Dan mataku memaksanya untuk menjelaskan.

“Fishing Pole Trap adalah jebakan yang kugunakan dalam mengalahkanmu di permainan catur tadi. Itu jebakan yang biasanya cuma dapat menjatuhkan pemula, jebakan pura-pura bodoh dengan mengorbankan bidak kudanya. Dan aku senang sekali kau jatuh dalam jebakanku,” akunya, “tepat seperti dugaanku. Sengaja aku menyeretmu dalam permainan, sebab aku tahu kau juga maniak game—hanya saja kau menutupinya. Aku tahu kau akan mati penasaran sebelum kau bisa menyelesaikan game-mu. Maka dari itu, kau tidak pernah mau memulai suatu permainan. Kau takut terseret jauh. Hm, yah, tapi aku tadi sudah menyeretmu jauh. Seandainya saja tadi aku meminta hadiahnya adalah seks, kurasa kau mungkin juga akan menyetujuinya. Oleh karena kau sudah dibuai permainan itu. Berterima kasihlah padaku karena aku tidak meminta itu tadi. Berterima kasihlah bahwasanya aku hanya memintamu membahas soal tes itu.”

“Tes itu,” Changi mengucap. Wajahnya terlihat seperti baru tersadar.  “Tes itu…,” ulangnya, “…lanjutkanlah.”

Kaget bukan kata tepat untukku kini. Terguncang, mungkin.

~Changi’s PoV~

Aku baru ingat akan tes itu; tes dimana aku harusnya berjuang mempertahankan diri dari rencana dominasinya, tes yang harusnya kuhadapi, tes yang semestinya kujalani.

Dan yang lebih parah, dia baru saja melihatku menangis. Dia baru saja mengalah atasku. Itu bukan benar-benar gayaku. Itu bukan dominasi, itu namanya melemah. Itu sama memalukannya dengan ditelanjangi. Jadi kupikir sama saja. Lebih baik melanjutkan tes itu dan mendapat risiko ditelanjangi daripada harus melemah lagi. Lagipula aku sudah memutuskan untuk menyeburkan diri ke dalam pembuktian sialan ini.

Dan, kembali ke misiku, aku takkan membuat ucapannya terbukti kalau aku bisa didominasi, apalagi kehilangan diriku sendiri karena ini. Aku bisa mengatasinya.

Maka aku sendiri yang memastikan dia menerjangku. “Lanjutkanlah, Kyu.”

Kyuhyun duduk di sebelahku.  Kedua tangan sigapnya memeluk dan ia segera mendaratkan ciuman ke bibirku.

~Kyuhyun’s PoV~

Aku langsung mengecupnya. Segera. Sebab ini tak boleh dihentikan sekali lagi, kurasa. Terlalu banyak penundaan akan membawa kesialan.

Tanganku mengusap-usap lengannya yang terlapis mantelku itu. Ciuman yang pertemuan mulanya agak buru-buru ini pun kulembutkan. Aku meremas dan membelai rambutnya yang selembut sutra itu, menggunakannya untuk memosisikan mulutnya dengan tepat. Ia kembali merintih ketika aku memperdalam ciuman, membelai lidahnya yang diam menggoda dengan lidahku sendiri. Aku tak menyangka French Kiss ternyata semenakjubkan ini. Aku merangkulnya erat dan berkat itu aku dapat merasakan debar jantungnya yang keras di dadaku, bukti bahwa ia juga memiliki kesatuan kehendak denganku.

Aku menarik diri, menarik nafas.

~Changi’s PoV~

Aku harus melakukan ini, melanjutkan ini, demi terselesaikannya misiku. Dan aku menyuruhnya untuk melanjutkan karena aku tak mau terlibat dalam hal ini lama-lama. Semua hal yang sepenuhnya baru bagiku ini terasa asing. Aku benci kontak fisik—semua tahu. Sekarang saja hatiku gundah, jiwaku resah, mencaci-caci diriku sendiri, dan itu nampaknya adalah efek ketidaksukaanku. Di sisi lain, aku merasa tubuhku menyambutnya dengan baik. Pembuluh darah membelit. Jantung berdentum. Sekujur tubuh menggigil dan mendamba kehangatan yang dialirkannya. Dan rasanya semua yang ada di perutku berloncatan setiap mulut kami bertemu. Rasa malu tetap berputar-putar, memusingkanku lagi. Akan tetapi, tanganku mencoba meraih tangannya. Mungkin program anti sentuhan di otakku sudah non aktif. Aku senang. Kalau begini, aku bisa menjalankan misiku untuk menghancurkan cara terampuhnya dan aku bisa mengendalikan diri. Aku tak bisa terdominasi. Maaf saja, Cho Kyuhyun.

“Changi,” bisiknya tiba-tiba, “aku tidak tahu sehabis ini harus apa lagi.”

“Jangan sok mengikutiku, Kyu,” ujarku.

“Aku sungguh-sungguh,” jawabnya, “aku selalu melupakan hal yang tak penting bagiku. Aku pernah belajar tentang ini dari buku, internet, tapi aku dengan mudah melupakannya. Mungkin karena yang kuterima hanya teori. Kalau praktik biasanya lebih terkenang, bukan?”

Dia benar. Kami sama-sama amatir parah. “Kalau begitu, tiru yang ada di buku itu lagi,” usulku.

“Akan kucoba,” katanya. Ia menciumku lagi, mengerahkan kedua tangannya ke kancing celana panjangku dan membukanya. Aku tahu dia akan menelanjangiku kembali. Aku merasa tak rela, tapi aku sendiri yang menyuruhnya seperti itu. Kupikirkan masak-masak kembali untuk menguatkan diriku agar dapat menjalani ini. Teringat lagi perkataan Kyuhyun soal pikiranku yang picik dan patetis. Benarkah aku seperti itu? Benarkah pikiranku yang membuatku menjadi fobia atas semua ini?

Celana panjangku sedang diturunkan oleh Kyuhyun ketika aku berpikir apa seharusnya aku mengosongkan pikiranku. Agar pikiranku tidak menjadi picik dan patetis lagi dan memerintahkanku untuk kembali bersikap antipati terhadap sentuhan. Aku mengamini untuk mengosongkan pikiran saat celanaku keluar dari satu-persatu kakiku. Sambil berpikir bagaimana caranya mengosongkan pikiran, aku pun membuang jauh-jauh pikiran untuk menolak ini semua  saat sadar aku hanya mengenakan mantel dan pakaian dalam.

Aku ingin menjerit sekuat tenaga.

Tapi aku menahannya, berusaha duduk tegak menantangnya. Dan di kala itulah, pertahananku mulai jatuh, karena Kyuhyun melepaskan mantel yang tadi pakaikan padaku.

Jeritan sekuat tenagaku benar-benar keluar dari mulutku.

~Kyuhyun’s PoV~

Ia menjerit dan aku seketika menanggap itu hanya gangguan kecil. Penglihatan atas tubuhnya membuat indera lainku, selain mata, kurang berfungsi dengan baik. Betapa tidak, tubuhnya luar biasa molek. Ideal seperti model. Aku jadi ingin membuka sisanya, menyamakan khayalanku atas payudaranya dengan pemandangan nyatanya. Namun saat aku akan membuka branya lagi, Changi menggenggam tanganku, menahan usahaku.

“Buka bajumu dulu,” ujarnya tawar di hadapan ekspresi memprotesku. Aku baru sadar ia kini menggunakan air muka tawar begitu. Apa itu wajah terangsangnya? Tapi kurasa wajah terangsang tak ada yang sedingin itu. Atau sebaliknya? Dia sama sekali tak terangsang? Apa dia benar-benar aseksual—makhluk yang tidak memiliki keinginan seks baik sadar maupun tak sadar?

“Hya. Changi-ah. Kau kenapa?” ledekku. “Apa kau terangsang? Kenapa memintaku membuka bajuku dulu?”

“Bukankah seks itu harus membuka seluruh baju?” tanyanya.

Hah. Dasar polos. “Tidak harus melepas semua baju, setahuku. Tapi baguslah kalau itu maumu.” Pun aku membuka bajuku, lalu melepaskan celana pendekku.

Setelah selesai meluputkan pakaianku sendiri, juga pakaian dalamku, aku melihatnya yang memandang lurus ke mataku. “Kau kenapa? Kagum?”

“Aku benar-benar membencimu, Cho Kyuhyun,” ucapnya sengit. “Kau tadi bilang kau tak tahu apa langkah berikutnya. Tapi tadi kau bilang tidak apa-apa kalau tidak melepas baju.”

Aku tersenyum, senang dia kembali kesal. Ia jauh lebih baik jika sedang kesal daripada sedang berseri muka tawar dan tak bisa kutebak. “Aku bukannya benar-benar polos dan kosong soal seks sepertimu, Changi. Aku mungkin tak tahu langkah demi langkah dalam pemanasan sebelum seks. Tapi aku tahu kalau seks  tak harus benar-benar bugil. Ketelanjangan hanya akan membuatnya makin panas.”

“Aku tadi sempat merasa kau sama denganku. Rupanya tidak,” sungutnya.

“Makanya tontonlah film, Changi. Dan tak usah menutup mata kalau ada adegan seks di film,” ledekku sambil mengerahkan tangan untuk kembali melepas kait branya. “Kau sudah tua.”

“Kau saja yang tua sendiri,” makinya sambil mencengkeram untuk menghalau tanganku yang sedang membuka branya, “aku benar-benar membencimu, Kyu.”

“Ya, bencilah aku. Itu akan membantu memanaskan ini semua,” sahutku setelah kait branya terlepas. Aku pun mendekapnya.

“Sialan kau,” makinya saat aku mendekat dan mengecup lehernya. Ia memukul lenganku, tapi hanya itu saja perlawanannya sehingga dengan ekspres aku dapat memerdekakan dadanya dari branya. Keberhasilanku melepas benda yang sejak tadi menyulitkanku itu membuatku berinisiatif untuk berbuat hal lain, meski Changi refleks untuk mengamankan payudaranya kembali. Terlintas  beberapa gambaran di buku Yesung Hyung dan aku pun melakukan apa yang kuingat; menyentuh payudaranya. Changi menarik diri dan menggeleng kengerian. Aku buru-buru merengkuh lehernya dan mencium bibirnya—menenangkan.

Dan kulakukan itu semua bersamaan, merambah payudaranya dengan tanganku dan menciumnya. Tangan-tangannya mencoba menghalangi usahaku, tapi bisa kutanggulangi.

Cukup lama dalam situasi berkelanjutan itu, Changi kelihatan mulai tak bisa menangani. Keseimbangannya mulai goyang. Dan pertahanan kedua tangannya yang sejak tadi menahan kejahilan tanganku mulai pasif. Gambaran di buku itu terkilas dan aku segera mempraktikkannya. Perlahan aku mendorong tubuhnya hingga tertidur telentang di sofa.

Pun aku tidur tengkurap, menelungkupinya. Aku mulai mencium area di antara bawah telinga dan lehernya, membuatnya mengerang tertahan lagi. Kemenangan sudah menghampiriku. Demi merayakan itu, keisenganku mungkin dapat memeriahkan suasana.

“Aku berterima kasih pada pencipta Fishing Pole Trap itu sekarang,” kisikku, masih mengilik bawah telinganya.

“Apa maksudmu?” tanyanya sambil terengah.

“Jebakan itu membuatmu menjatuhkan dirimu padaku. Bersyukurlah aku menangkapmu, Changi,” lanjutku. Raut wajahnya semakin kesal, memerah padam. Pastinya kini marahnya berpadu dengan malunya. Dan nampaknya topik Fishing Pole Trap mengusiknya sekali. Maka dari itu, kuteruskan, “Kalau saja kau tahu betapa mudahnya mengalahkanmu dan betapa Fishing Pole Trap itu jebakan paling gampang dikenali. Tahukah kau, hanya yang sama sekali tak bisa main catur atau orang-orang bodoh yang jatuh dalam perangkap i—”

“Dasar manipulatif!” bentaknya, menyentak bahuku, memberi jarak pada dada kami yang bersinggungan.

Aku mengangguk-angguk. “Begitu juga kau,” sahutku.

“Aku tidak manipulatif tadi,” tegasnya, menghalau kembali tanganku yang kembali merabai dirinya.

“Memang tidak kalau dalam hal ini,” sambutku, terus berusaha menyentuhinya, “kau manipulatif dalam hal yang kaukuasai. Sama seperti yang kulakukan tadi. Walaupun kedengarannya curang, aku senang aku bisa mengalahkanmu meski itu dalam hal yang tak kaukuasai.”

“Kau benar-benar brengsek!” omelnya.

Aku tertawa terbahak-bahak. Belum pernah aku merasakan kegembiraan seindah ini. “Salahmu sendiri, Changi. Kenapa mudah sekali terbuai permainan sampai tak mengindahkan konsekuensinya? Lagipula aku yakin kau pasti sudah menebak aku akan menjebakmu. Kau tetap memasukkan dirimu ke sana,” ujarku, masih dibarengi tanganku yang menjamahinya, “mungkin kau memang ingin dijebak.”

“Itu karena kau merajuk,” Changi membela dirinya, masih berusaha menjauhkan tanganku dari tubuhnya, meski sia-sia saja.

“Kau tahu, rajukanku bisa diredakan dengan bicara saja. Tapi kau tak mau bicara denganku. Kau takut aku membahas hal yang sangat kauhindari itu. Makanya kau lebih memilih terjebak dalam permainanku, yang pada akhirnya sama saja. Kau tetap harus membicarakannya juga karena kau kalah,” aku terus berkoar-koar.

“Tutup mulutmu, Cho Kyuhyun.”

Aku meneruskan gelak tawaku dengan bahagia.

Ia mendorongku, menamparku. Berulang. Tapi tak ada rasa sakit sama sekali. Tak cukup kuat juga untuk menghempasku. Aku terlalu senang mendapati reaksi kesal berlebihannya untuk merasakan sakit dan menjadi begitu kuat karena posisi ini.

Tawaku masih berlanjut disebabkan kemenanganku yang terus berputar-putar dalam bayanganku. Hingga Changi, yang mungkin sudah tak tahan, melakukan sesuatu yang menyetopku untuk tertawa—menumbuk dahiku dengan dahinya dengan keras.

Kepalaku nyeri dan aku menjadi terhenti demi menatapnya. Kami saling bertatapan secara mendalam hingga aku merasa berhasrat lagi.

Aku menyisirkan tanganku di rambutnya yang lembut lalu turun meluncur di punggungnya, “Jangan lupa misimu, Changi,” aku memperingatkan.

Changi diam, tak melawan, juga tak membalas. Aku merasa aku harus bertindak lebih. Maka kuselesaikan aksi pelucutanku. Kuraba pinggulnya sampai ibu jariku menemukan celana dalamnya yang berenda. Kutarik dan terlepas.

“Kyuhyun-ah,” panggilnya.

“Hm?” balasku, tak benar-benar ingin membalasnya. Kukecup lagi bibirnya. Kucoba semua hal yang kukira pantas dicoba dalam ciuman. Menjilat, menggigit, membelai mulut dan lidahnya. Aku baru akan mengerahkan kecupan ke lehernya kembali ketika ia mendorongku.

~Changi’s PoV~

Aku mencengkeram pinggangnya dan mendorongnya menjauh. Masih terlentang di sofa, tanpa busana dan rasa malu yang masih menghantuiku, aku terperangah menyusun kesadaranku. Dadaku naik dan turun. “Apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku.

Kyuhyun menggerakkan tangannya menuruni dadaku, merasakan otot-ototku yang berdenyut setiap terkena sentuhan kulit putihnya. Jemarinya menelusuri perutku. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Namun aku terlalu kehabisan udara untuk menghentikannya.

“Aku sedang menyentuhmu,” jawabnya kemudian.

Nafasku mulai teratur. Aku mulai mendapatkan tenagaku lagi. Segera aku mencengkeram pergelangan tangannya, menghentikan gerakannya. “Apa ini benar-benar yang harus dilakukan?” tanyaku.

“Ya,” Kyuhyun menjawab dramatis, “pastikan kau tidak akan terdominasi olehku.”

~Kyuhyun’s PoV~

Cengkeraman tangan Changi mengencang dan menyakitkan. “Kau akan lihat,” tegasnya.

“Baiklah,”tekanku ketika ia mau membuka mulutnya lagi.

Kuturunkan lagi tubuhku mendekatinya. “Siapkan dirimu, Changi,” kataku dengan suara parau, menghirup aromanya kulitnya yang eksotis dan kecokelatan.

Kutempelkan bibirku ke bibirnya dengan erat. Kala itu, aku mengulurkan tanganku ke bawah tubuhku, memosisikan diriku untuk memasukinya.

Changi tidak berubah santai, tapi ia juga tidak lagi berusaha menghentikanku. Ketika dengan berat hati tubuhnya luluh ke sentuhan telapak tanganku, ia merintih, suaranya terdengar tersiksa. Aku meremas apa yang dapat kuraih dengan lembut, sengaja menyentuhnya dengan lembut. Ia memberat dan memanas. Tanganku kugerakkan menelusuri tubuhnya dari atas ke bawah. Napasku tersekat ketika ia terus gemetar karena itu.

Aku menciumnya lagi ketika aku menggesekkan pinggulku ke tubuhnya. Napasku mendesis di antara bunyi giginya yang menggertak.

~Changi’s PoV~

Apa yang dilakukan Kyuhyun semuanya baru dan semuanya membuyarkan penglihatanku. Mataku tak bisa melihat jelas. Yang ada hanya rasa-rasa aneh yang bergemeletuk dan membuatku bergidik di sekujur tubuh.

Satu-satunya yang kutahu adalah Kyuhyun menciumku. Dan dia mulai ahli memvariasikan ciumannya. Sementara tubuh bagian bawahku seperti ngilu, geli dan akan meledak karena gesekan entah-dengan-apa yang ia lancarkan padaku. Aku harus mengetahuinya. Maka dari itu, aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku, melepaskan ciumannya, dan menengok ke bawah.

Lantas aku menjerit sekeras mungkin.

~Kyuhyun’s PoV~

Jeritan yang ia lakukan mengejutkanku. “Ada apa, Changi?” tanyaku panik.

Ia menatap mataku bingung. “I-itu apa yang kaulakukan?” Changi balas bertanya dengan histeris.

“Ini namanya seks,” terangku malas-malasan.

“Apa kau mengikuti teori dari buku Yesung?” tanyanya.

“Tidak,” aku memutar bola mata, “ini ada di buku Biologi, bagian reproduksi,” jawabku asal.

“Tidak mungkin,” Changi menyergah.

“Sudahlah, Changi. Tak perlu membahas itu dulu sekarang. Bukankah kau sendiri yang tadi menyetujui ini dan malah memintaku melanjutkan sebelum kita mengobrol membuka diri itu?” tanyaku, memukul telak.

Changi hanya bisa menatapku penuh kerut kening, bimbang. Aku bersyukur tatapan itu yang ia berikan. Bukan tatapan pasrah. Karena dengan itu, aku jadi merasa tidak perlu lagi menahan diri.

Gesekan pinggulku terhadap pinggulnya kuhentikan. Meskipun Changi menatap tajam ke wajahku, ia nampak tak berani menatap ke bawah. Terutama ketika kejantananku membelai daerah di antara paha dalamnya. Aku bergerak, merintih, begitu mendamba, seolah-olah aku akan gila jika tak melakukannya.

Aku menIeramah pinggulnya. Ia menegang ketika aku melakukan itu. Aku lalu memosisikan diriku lebih akurat lagi untuk menyelipkanku ke dalam tubuhnya. Aroma gairah tak terdefinisi kami terasa tajam dan lembap. Dan aku mulai memasukinya.

Sebelum Changi menjerit kesakitan, aku buru-buru menyumpal mulutnya dengan ciumanku. Di tengah ciuman kami, kami berpandangan, hanya terpisah beberapa sentimeter. Aku merasa ia akan menerima lebih banyak diriku, perlahan namun pasti, membiarkanku meluncur lebih dalam.

Aku menempelkan telapak tanganku di bagian bawah perutnya, menyentuh dengan jemariku dalam gerakan melingkar lembut. Tubuhnya melemas, membuatku masuk lebih dalam. Aku membuka mata dan menatapnya dari balik kelopak mataku yang berat.

Terus demikian, seraya kupeluk lehernya.

~Changi’s PoV~

Kyuhyun menangkup bagian belakang leherku sementara desakan-desakannya di bawah sana mengacak-acakku, membuatku ingin memakinya, menyumpahinya. Sesuatu yang ingin meledak di tubuhku pun menimbun dan makin besar mengiringi desakan aneh yang tak mau kulihat di bawah sana.

Hingga sesuatu itu pun meledak, dimulai dari getaran dari dalam tubuhku yang makin lama memancar keluar sampai sekujur tubuhku gemetar.

“Sialan,” erangnya.

Aku mengamatinya dengan kehancurleburanku. Bagian bawahku terasa mati rasa. Sementara rasa sakit luar biasa yang awalnya membuatku menjerit dan disumpal oleh ciuman Kyuhyun pun masih terasa. Ia terus menggerakkan tubuh naik turun, membingungkanku mengapa dia melakukan itu, sekaligus membuatku ingin menghajarnya karena kesakitan yang kurasakan. Sakit, tapi entah mengapa, ada rasa terpenuhi di relungku.

“Changi!” Kyuhyun berseru, mengejutkanku dari rasa ganjil baru yang sedang kutelaah dalam keadaan super lelah ini. Kulihat ia tidak lagi fokus ketika kendali dirinya runtuh, seperti melepaskan sesuatu. Tubuhnya gemetar, raut wajahnya melembut sejenak dipenuhi kerapuhan tak terkira. Dan aku merasa bagian bawahku  menjadi begitu basah dan penuh.

Sesaat kemudian, ia pun menjatuhkan diri ke tubuhku, menimpaku dengan tubuhnya yang lumayan berat, menempelkan dagunya di pundakku.

“Tes selesai,” bisiknya selang beberapa saat. “Berita buruk, Changi. Kau terdominasi.”

Aku, yang sudah bisa mengendalikan diriku karena tak terhalang apa-apa untuk mengambil napas, berkata padanya, “Aku benar-benar membencimu, Kyu,” lebih mirip desisan.

Tawa kecil terselip di sengalan napasnya.

“Begitulah gamer, Changi. Kami memang dibenci oleh lawan yang kami kalahkan dengan telak,” ucapnya.

“Brengsek kau,” makiku. Dan tepat saat itu aku tak mendengar balasannya.

Beberapa saat kemudian, mataku pun memberat, menyusul keletihan tubuhku, serentak dengan telingaku yang sayup-sayup mendengar dengkuran halusnya.

Di saat itu, kantuk melandaku.

Kantuk itu datang, bersamaan dengan ketakutanku; ketakutan akan kebenaran ucapannya soal dominasi.

Sialan. Aku akan membalasnya.

***

Sentakan getar telepon genggamku membangunkanku. Dengan mata yang masih sulit dibuka, aku harus dikejutkan fakta kalau ponselku berada begitu dekat denganku. Tanganku meraihnya untuk melihat layarnya. Ada pesan teks.

“Changi, kami sudah ada di kedai makan.”

Begitu isi pesannya.

Lama aku mentransfer pesan itu ke otakku, memompa cepat laju pikir otakku yang masih belum prima. Hingga aku teringat. Aku memang ada janji dengan teman-teman wanitaku untuk bertemu.

Lekas-lekas aku mendorong tubuhku yang tengkurap untuk bangkit. Dan sadar aku sudah berpindah, atau mungkin dipindahkan, di ranjang. Beberapa detik, aku pun terkesiap kalau aku tidak mengenakan apa-apa.

Histeria di dalam kepalaku membuatku pusing. Dan dengan cepat pula mengembalikan semua memori atas apa yang terjadi tadi siang.

Aku menilik sekitarku. Dia tidak ada.

Baguslah.

Yang kini harus kulakukan adalah pura-pura tak terjadi apa-apa. Meski sesuatu telah berubah di diriku.

Kakiku kujejakkan ke lantai kayu, menyampirkan selimut putih ke tubuhku yang sejak kuterbangun menelungkupiku. Aku menemukan setumpuk pakaian di nakas—rak sebelah tempat tidur, lantas melihat secarik kertas di atasnya. Kertas itu kuambil, lalu kubaca.

“Aku ke kedai makan. Semua ada di sana. Cepatlah datang.”

Begitu tulisan itu berkata. Aku mencerling baju di atas nakas itu; sebuah baju terusan panjang bermotif bunga-bunga yang belum pernah kulihat.

Dia ingin aku memakai baju itu? Cih. Tidak akan. Dia tidak akan mendapatkan keinginannya.

Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedikit tertatih karena belum bisa menyesuaikan diri dengan rasa sakit baru di antara pahaku. Sedikit nyeri di bagian mata karena lagi-lagi aku menahan tangisanku agar tidak tumpah.

Selesai mandi dan segera memakai baju pilihanku sendiri, kaos, jaket dan celana panjang, aku mengirim pesan teks pada salah satu temanku—memberitahu kalau aku akan datang. Teman-temanku, yang pastinya juga telah bergabung dengan teman-temannya, pasti sudah menantiku dengan gusar.

Setelah mematut diri, aku keluar dan mengunci pintu bungalo itu dengan cepat. Untung saja, kedai makan itu tidak jauh dari bungaloku. Aku hanya perlu berjalan beberapa meter hingga tiba dan menjejak di lantai kayu tempat itu.

Teman-temanku yang memenuhi salah satu meja menyambutku di pintu dengan riang, lalu menanyaiku kenapa bisa lama sekali ketika aku sudah duduk di antara mereka. Aku menjawab seadanya. Kegamangan yang masih kurasakan menyebabkan itu.

Aku menerima teh hangat yang katanya telah dipesankan untukku—mungkin oleh teman-temanku—dari pelayan kedai makan tersebut. Kubalas pelayanan pelayan itu dengan anggukan kaku. Kejadian tadi siang itu masih mengoyak-ngoyak pikiranku, menyesakkan dadaku. Tadinya bahkan aku mau menolak pertemuan malam ini dengan teman-temanku, tapi aku bukan tipe pelanggar janji. Ya, aku bukan. Dan karena tak melanggar janji juga, aku bisa mengalami kegelisahan ini.

“Riyoung, baby…” Suara nyaring dan memusingkan datang mengusik.

Aku lantas melirik si empunya suara dengan kesal seraya memegangi cangkir tehku. Si pemilik suara, Leeteuk, yang berada cukup jauh dari kami tengah menyamperi Riyoung, sahabatku yang duduk di hadapanku. Ada dua pemuda yang mengiringinya. Yang satu bertubuh berisi dan paling pendek di antara ketiganya, dan yang satu lagi… Cih. Si brengsek.

Melihatnya, pun aku memaliskan wajah.

“Changi, kenapa kau membuang muka karena melihat mereka datang?” tanya Minmi. “Padahal kan mereka tampan-tampan.” Lagi-lagi ia mengeluarkan alasan tak relevan.

“Betul,” sahut Heehyo, “salah satunya suamimu pu—”

“Tutup mulutmu, Heehyo!” sergahku galak. Aku memutuskan untuk menyeruput tehku saja. Hingga tiga orang itu sampai di meja kami.

“Mingi, my Barbie…” Si tubuh berisi, Sungmin, lagi-lagi datang dengan langsung mencubit kedua pipi Mingi. Aku kesal melihatnya. Karena Mingi kelihatan tersiksa kalau pipinya dicubit seperti itu. Tapi aku sedang tak berkeinginan marah-marah saat ini. Terutama karena si brengsek ini telah berdiri di sampingku, menempelkan tubuhnya ke bagian samping kursi.

“Kenapa tak pakai baju yang kuberikan padamu?” tanyanya.

Aku pura-pura tak dengar dan menyesap tehku lagi.

“Apa kau suka Earl Grey Tea-nya?” Ia bertanya lagi.

“Changi, Kyuhyun menanyaimu, tuh,” Minmi dan Riyoung berkata bersamaan, ketika lagi-lagi aku tak mau menjawabnya.

Aku mengecapi dan baru tersadar ada aroma campuran Earl Grey di teh itu. Aku menoleh padanya dan bertanya, “Darimana kau tahu teh ini—”

“Kyuhyun yang memesankannya untukmu. Maknae kami sekarang sangat perhatian pada istrinya,” jawab Leeteuk riang.

“Kau telah mengubahnya, Changi,” tambah Sungmin.

Konyol sekali. Ini pasti permainan barunya. Aku meninjau ekspresinya. Senyum sialan itu tengah ia sunggingkan.

“Apa maksudmu kalau Kyuhyun berubah, Oppa?” tanya Mingi pada Sungmin.

“Dia jadi lebih bertingkah manis dan memikirkan orang lain,” Sungmin menjawab, “kurasa kejadian tadi siang di antara mereka berdua telah mengubah segalanya.”

“Kejadian tadi siang?!” Serempak teman-temanku bertanya heboh. Serempak pula aku menggulingkan cangkir tehku ke meja karena syok dengan apa yang baru diucapkan Sungmin.

“Ya, kejadian tadi siang,” sahut Leeteuk riang. “Kyuhyun sudah menceritakan setiap detailnya pada kami. Kami sekarang mengakui kalau dia sehebat itu.”

“Memang apa yang telah terjadi?” tanya Heehyo penasaran.

Leeteuk baru saja akan membuka mulutnya lagi, ketika aku bungkas dari tempat dudukku, menghadap Kyuhyun yang sedang berdiri santai dan berwajah peduli-tak peduli lalu membentaknya, “Kau benar-benar makhluk culas dan keji!”

Tak ada suara dari sekeliling kami, yang kuyakini merupakan gelombang keterkejutan mereka. Tapi aku tak peduli lagi.

“Kau akan dapat balasannya!” bentakku lagi. Lalu kulayangkan tinjuku ke perutnya. Setelah ia menunduk kesakitan, karena menerima tonjokanku, aku pun mendorongnya dari hadapanku dan lari pergi. Kakiku terus berderap kencang, menidakacuhkan panggilan-panggilan sahabatku.

~Kyuhyun’s PoV~

Dia pergi. Dan hyunghyung-ku heboh menghampiriku. Sebenarnya tonjokannya tidak sakit, tapi cukup menyesakkan. Aku mulai tak dikerubungi dan dicemaskan lagi ketika aku bersikeras bilang aku tidak apa-apa dan duduk di kursi yang tadi diduduki Changi untuk menghilangkan sesaknya.

“Apa yang telah kaulakukan pada Changi?” tanya Mingi.

Oke. Sekarang teman-temannya juga ikut-ikutan. Tapi aku tak peduli. “Aku membelikannya teh. Aku memberikannya baju terusan,” jawabku sambil masih memegangi perutku.

“Bukan,” sergah Riyoung, “yang tadi siang.”

Aku tercengir, mengambil cangkir bekas Changi yang terjeblak miring dan masih menyisakan tehnya. “Aku menjebaknya dengan pancingan,” jawabku santai.

“Maksudnya?” Minmi dan Heehyo, yang memang berotak lamban, bertanya berbarengan.

“Fishing Pole Trap, jebakan dalam permainan catur,” Sungmin hyung yang menjawab, “Kyuhyun cerita pada kami bagaimana ia mengalahkan Changi dengan jebakan itu. Sampai ke detail-detailnya. Membuat kami kagum pada usahanya yang menuruti nasihat kami agar memainkan sesuatu yang tidak antisosial seperti catur. Dengan Changi pula.”

“Oooh….” Serentak teman-teman Changi membulatkan bibirnya.

“Pantas saja dia marah,” timpal Heehyo, “dia kan tak suka kalau kekalahannya diungkit-ungkit.”

Aku lantas menengok ke luar jendela, melihat lurus ke arah bungalo kami. “Ya, benar,” gumamku sembari tersenyum sungging, “ia benar-benar tak suka dikalahkan.”

Semua temannya mengangguk-angguk.

“Dan aku berencana mengalahkannya lagi,” ucapku yang segera kuiiringi tawa senang.

THE END

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 14/12/2013, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 104 Comments.

  1. sukaaa ^_^

  2. panjang dan keren
    menggunakan bahasa yang sedikit rumit namun mudah dicerna
    tidak menggunakan alur yang terlalu sensual
    penataan bahasa juga rapih
    i like it author 🙂

    • halo again, BEEP. 🙂
      wah, makasih apresiasinya. makasih, makasih, makasih 😀
      glad to know you like it.
      gomawo juga udah mampir~

  3. wow keren… sedikit memusingkan sih klo bacanya kurang kinsentrasi dan sedikit nembosankan . tpi.. ini daebak… aku suka .authornya harus buat lgi kyak gini

    • halo, heeyeon~ 😉
      duh, memusingkan dan ngebosenin, ya? 😦 mian~
      ah, kami tapi senang kalau kamu masih menyukainya 😉
      yang kayak gini bisa kamu temukan di blog kami, kalau kamu minat 😀
      gomawo udah mampir ya 🙂

  4. Ribet amat mreka , ??*?u
    Ngelakuin malam pertama ajjj pake acra brdebat pnjang+maen catur ,haduhh kyu pke cacra blang2 k yg laen apa yg trjadi td siang , yaaaa iyalah changi mrah , kira2 kyu bkal ngelakuin apaa lagi yaaa buat ngalahin changi , ,, tapi gaaa nyangka yeppa punya buku kamasutra ,, eunhyuk ajj klah :p

    • annyeong, myeondeong~
      ahahaha, begitulah pasangan ini, mereka kami desain untuk serba-sulit-dalam-urusan-romance.
      hehe, kyu punya seribu rencana kayaknya. 😉 dan mungkin melibatkan yesung dan eunhyuk 😀
      well, senang tahu kamu baca FF ini 😀
      gamsha, myeondeong~

  5. Bahasanya rumit v keren
    😛
    I like this
    😛
    D tunggu crt lainnya

    • annyeong, hinata…
      eh, rumit, ya? ( ._.)”
      ah, tapi, senang tahu kamu menyukai FF ini.
      kalo kamu berminat baca cerita lain, atau mungkin prekuel FF ini, bisa buka blog kami 😀
      gamsha udah mampir~

  6. Daebak thor! 😀 Bahasanya bgus banget tapi aku rada bingung sma ceritanya tapi bisa kecerna kok 😀 Sukses selalu ya thor :*

  7. ff lucu pi bahsa nya bnyak yg q ga paham thor mianhe klo bsa di adain squelnya

    • annyeong, hanami
      thanks for commenting 🙂
      senang sekali tahu kalo unsur lucunya dapet bagi kamu. 😀
      ne, sekuelnya kami pertimbangkan XD
      sekali lagi, makasih 🙂

  8. whoaaaa keren bgt thor.. good job 😉

  9. bahasanya rumit & terlalu baku….:(
    ceritanya kurng paham…:(
    tpi…
    Daebakk~!:)
    keep writing & good job 😉 😀

    • annyeong, kim_youngie 🙂
      soal bahasa rumit dan terlalu baku, mungkin hanya karena belum terbiasa, 🙂
      cerita yang kurang mudah dipahami, ya pastinya karena bahasanya 🙂
      anyway, gomawooo udah komen, chingu. 😉

  10. Hanya 1 kata,yaitu keren,,,,,,,,,

  11. Lanjut squelny Ɣªª thor ​​​​°•(>̯-̮<) hihii….•° . Biarpun crtny kepanjangan buat one shoot tp i like it.

    • annyeong, febygoh~
      sekuel masih didiskusikan oleh kami 😀
      hehe, mungkin ini pun juga kurang tepat disebut one shot, kami juga bingung sebutannya apa. tapi kami senang kamu menyukai tulisan kami.
      thanks 😉

  12. Keren,,,, walaupun sedikit sulit bahasa nya di cerna… Tapi tetep bagus kok…

  13. salsha_arali

    bahasanya rumit tapi keren!kesannya gak segalanya tentang seks. Keren sumpah! Tunggu sekuelnya ya thor ;;;

    • annyeong, salsha_arali 😉
      wah, senang kamu mendapatkan kesan itu, dengan begitu maksud kami tersampaikan ^___^
      sekuelnya masih dirapatkan, chingu
      anyway, thanks banget udah komen 😉

  14. aku hampir gendeng baca nie ff,,, ^.^

    ha ha ha,,,, agak membingungkan sih, tapi keren, ga biasa, unik (bahasanya).

    ada sequel ga nie ???? 😀

    • annyeong, juleha.
      hohoho, gendeng? wae? XD
      makasih atas apreasiasinya, dan kritiknya 🙂
      sekuelnya masih kami diskusiin lebih jauh, chingu 😀
      btw, makasih udah komen ya 😉

  15. Aku bosen bacanya, diawal terlalu banyak squel. Semoga FF yg akan datang bisa lebih baik ya thor 🙂 good luck (y)

    • annyeong, riani.
      ah, bosen ya? 😦 terlalu banyak sekuel, maksudnya gimana, ya, chingu?
      terima kasih atas doanya.
      makasih juga udah komen 😉

  16. puanjaaa…………….. ng BGT, cuman nyantap doang ya,

  17. pasangan yg rumit…… sama keras kepala,, yg satu berakal bulus, yg satu gengsinya selangit….

    penggunaan bahasa yg berat, tp mudah dimengerti… entahlah aq mmang lebih suka penggunaan bahasa yg agak berat ya seperti ini, lebih memaknai aja #menurutku

    overall ceritanya bagus,, hnya karna terlalu lama di strategi penjebakan jd mmbuat sedikit bosan… mungkin untuk mencapai antiklimaksnya itu kali ya,, tp overall keren kok,, good job buat author.. smoga ff brikutnya lebih baik lg… fighting 😉

    • annyeong, uliezgaem~
      well, gomawo udah menyelami couple ini 😀

      penggunaan bahasa yang seperti ini karena efek kebiasaan kami yang suka novel terjemahan, sebenarnya -_- senang kalo kamu juga suka ^__^

      makasih udah nilai sisi positif dan negatif ini. kami terima masukannya soal yang terlalu ‘lama’-nya itu 😉 makasih juga atas doa dan support-nya :’)

  18. LiaHeechul_elf

    Awal baca suka sama kata-katanya pas tengah-tengah bosan jadinya, kata-katanya ga menyentuh hati reader, penuh dengan kiasan yang ga tau kemana arahnya. Tapi makasih udah bikin ff buat reader

    • annyeong, liaheechul_elf
      wah, makasih udah coba baca FF ini.
      itu sudah banyak berarti bagi kami #bow
      makasih juga kritiknya 😉

  19. uhm ini authornya sama kaya fanfic My Wife is Fanster ya? (sorry kalo judulnya salah) soalnya gaya bahasanya sama

    maaf aku ga baca sampe akhir ._. kenapa? karena menurut aku
    1. bahasanya terlalu rumit jadi sulit dimengerri
    2. aku ga dapet feel nya dan konflik yang bikin gereget
    3. alur terlalu bertele tele
    4. terlalu banyak pergantian POV. Bukannya mau menggurui tapi pergantian POV terlalu sering itu ga bagus. lebih baik sudut pandangnya di ambil dari sudut pandang orang pertama/kedua aja
    5. yah mungkin ini hanya perasaanku aja, nama Changi itu terkesan aneh dan kurang ‘enak’ untuk dilafalkan

    sekian. maaf kalo tersinggung. tetap semangat ya 🙂

    • annyeong, yurii~

      ya, benar, itu FF kami juga. thanks for recognizing. ^^

      oh ya, apakah kami boleh memberikan alasan atas masukanmu? kami senang atas masukan, seneng banget XD, tapi kadang ada beberapa hal yang perlu diluruskan, bukan begitu? hehe 🙂
      1. soal bahasa, ini ciri khas kami. makasih atas saranmu, tapi kami kira ciri khas itu adalah hal yang nunjukin siapa diri kita. jadi, kalo diminta untuk mengubah gaya bahasa, bagi seorang penulis, itu rasanya seperti diminta mengoperasi wajah 😀 bagi yang belum terbiasa dengan gaya penulisan serba-baku (yang sebenarnya masih kami pelajari lebih dalam ini pun), mungkin memang akan mendapatkan perasaan aneh dan bingung. masalahnya, mungkin hanya karena kurang biasa membaca dengan bahasa baku. tapi kami tidak menyalahkan siapa-siapa kok 😀
      2. kalo feel, yap, kami terima. meskipun sebenarnya pasangan yang kami buat ini memang kami rancang untuk tidak menunjukkan ‘feel’-nya, alias bersifat dingin. dengan kata lain, ketiadaan feel ini masuk dalam karakterisasi. tapi kalo karakterisasi feel yang dingin dari tokoh kami juga ga ngena, ya, mungkin memang kami perlu lebih belajar lagi mengolahnya 🙂
      3. alur yang panjang pun juga dikarenakan karakterisasi Kyuhyun dan Changi kami. mereka, selain ga mau nunjukin feel (lebih-lebih beromantis ria), juga penuh intrik. jadi memang acara tarik-ulur yang kuat banyak terjadi di sini.
      4. soal pergantian PoV, ya, kami memang menyadari kekurangan itu. barangkali kami belum mahir membuatnya jadi enak dibaca oleh para reader. meskipun, menurut kami, PoV banyak itu punya sisi positif, yakni: bisa mengetahui perasaan masing-masing tokoh. Pembaca bisa jatuh cinta pada kedua tokoh, tanpa menghakimi tokoh lainnya, karena mengetahui perasaannya.
      5. umm… kami pikir soal nama itu hak kami sebagai penulis untuk menentukannya, chingu. 🙂 contohnya, sekadar contoh aja nih, kita ga bisa minta JK Rowling mengganti nama Harry Potter-nya cuma karena kita merasa nama itu aneh kan? 😀

      sekali lagi, makasih banyak atas saran dan kritikmu. kami tetap akan mempertimbangkan semua yang kamu utarakan dan menghargai pendapatmu demi perbaikan tulisan kami berikutnya. sesungguhnya kami cinta komen panjang XD dan, tenang aja, kami takkan tersinggung atas kritik yang beralasan dan bertujuan membangun. 😉

      love and hugs,
      N/M

    • oh, ya, no offense juga ya. no hard feeling, please #bow
      tetap semangat juga, yuri 😉

  20. Titania Blackjack~VIP~BABY(s) {@RapperTita7_BA1}

    et dah thor! daebak banget! i like this ff! 🙂
    keep writing and fighting thor! ^^)9

  21. Woah aku bingung thor bacanya 😀 tapi ff ini kerenlah seolah-olah menggunakan imajinasi berbasis ilmiah ._.
    Keep writing thor 🙂

    • annyeong, kyunieline…
      makasih udah coba ngebaca FF ini #bow
      *blush* jadi malu dibilang berbasis ilmiah nih.
      oh ya, saran kami buatmu, juga bagi yang lain yang kebingungan juga, mungkin bisa coba baca di blog kami, di sana FF ini kami penggal-penggal sehingga bisa dibaca per bagian dan barangkali tidak akan memusingkan.
      yang ngebuat pusing mungkin karena harus baca sebanyak ini dalam satu waktu langsung, ya? itu menurut kami. tapi itu hanya sekadar saran sih, chingu 😀 hehehe
      sekali lagi, thanks. 😉

  22. menyimak…

  23. ooo iya,,, aku tadi main ke blog mu chingu,,, tapi rata2 ffnya di protect,,, 😀

    • annyeong juleha…
      wah, kamu berkunjung? gomawo #bow
      ne, ff yang beradegan nc memang kami protect kalo di blog kami, tapi pendahuluan sebelum adegan nc-nya gak kok 🙂

  24. aku kira awalnya gimana gtu.. ternyata mereka cuma pasangan yang ga suka basa basi dan butuh alasan untuk melakukan ‘itu’ *yg sebenrnya kyu pengen bgt ngerasain* hihihi
    pasangan yg sama kerasnya..
    ntr gimana klo pny baby…?!
    hihi aku tunggu klo ada sequelnya ^^b

  25. Annyeong, qyunyuk… Senangnya liat komenmu lagi XD
    naah…. Ini dia. Betapa bahagianya kami kamu ngertiin inti dari FF ini. Thank you. Sankyu. Gomapta ^^
    sekuel ditunggu ya. Roman2nya bakal kami pos di blog kami duluan. XD
    sekali lagi, gamsha~

  26. waaaaaaa…. aku baru baca ff yg kyk gini.. pengunaan bahasa nya unik bgt.

    hmm.. kyknya dr segi bahasa bakalan jd ciri khas author nya nii.. tp aku suka. dr segi cerita gak terlalu menonjolkan yadongnya, tp malah lebih menonjolkan gaya bahasa dan karakter tokoh nya..

    bagus dan pertahankan cara penulisaanya ya author..

    btw author nya kuliah di fakultas sastra ya #readerkepo :p

    klo bole tau.. cara ngedapetin pw di blognya gimana ya?

    makasih 🙂

  27. Annyeong, wikkyu…
    Wah, makasih atas apresiasinya XD
    hehe, gaya bahasa ini memang udah melekat. Kami senang kalo kamu suka ciri khas kami. :*
    soal lebih menunjukkan bahasa dan karakterisasi, memang kami sengajain. Hehehe. Kami punya misi yaitu bikin pembaca merasa di balik panasnya ff nc, ada kisah roman menggelitik di dalamnya. Makanya kami buatnya gitu. Sekadar misi sih. Kami belum tau kami udah berhasil gitu ato ga #lol

    hahaha, kami bukan anak sastra, chingu.

    Wah, kamu berkunjung ke blog kami rupanya. Gomawo 🙂
    kalo mau password, kamu bisa liat page Rules di blog kami. Udah kami jelaskan di sana. Kalo bingung, please ask 😀

    sekali lagi, thanks, wikkyu 🙂

    • author agak bingung ni sm rules nya.. hmm apa aku hrs ksh komen dulu dr par 1 nya?? trus aku musti kemana kasih alamat email aku?

      • Mian kalo membingungkan, chingu 😦
        Ne, kamu benar, kamu paling ga komen di salah satu post yang ga di-protect (kalo bersedia komen di semua bagian kami lebih berterimakasih lagi 🙂 )
        Nanti kami kasih passwordnya lewat emailmu. Alamat emailmu dikasih barengan di komenmu aja, chingu 😀 Pasti langsung kami kirim passwordnya 😀

  28. Bingung ! -_-
    Sebenarnya Mereka Saling Suka gak sih ? o.O

    Chagi Salah Paham tuh, hahaha

    DAEBBAK, aku Suka Karna Cara yadongnya Gak Terlalu pulgar dan Terexpos ^^

    Squel ?? ^^

    • Annyeong, chingu~
      makasih udah coba baca FF ini #bow
      mereka sebetulnya sama-sama suka, tapi dipenuhi logika pemikirannya, jadi ga mau mengakui rasa itu 😉

      yep, endingnya memang Changi salah paham 🙂

      sekuel masih dalam antrian ya, chingu 😉 barangkali lebih dulu kami pos di blog kami XD

  29. Waaaaw, ,pnjang bgt, prmainan kta2 nya bgus bgt, udh kya ahli…hehe
    tp kdg q kurng ngrti n aga pusing jg ch, muzti xtra konsentrasi baca nya,
    nc nya jg g brlebihn, kdg mlh bkin greget atw gmn gthu, mau ‘ituan’ z mpe debat bsar2n, haha bgus2 thor, trus lnjut menulis nya nya, author daebak,
    o ia, lw bsa bykin yg cash nya Kyu, Yesung atw Donghae ya,
    gomawo ^_^
    mian kpnjngn komeny’ 😀

  30. Waaaaw, ,pnjang bgt, prmainan kta2 nya bgus bgt, udh kya ahli…hehe
    tp kdg q kurng ngrti n aga pusing jg ch, muzti xtra konsentrasi baca nya,
    nc nya jg g brlebihn, kdg mlh bkin greget atw gmn gthu, mau ‘ituan’ z mpe debat bsar2n, haha bgus2 thor, trus lnjut menulis nya nya, author daebak,
    o ia, lw bsa bykin yg cash nya Kyu, Yesung atw Donghae ya,
    gomawo ^_^
    mian kpnjngn komeny’ 😀
    btw…bkal ada sequel nya g nc ???

    • annyeong, ntriekyu…
      wah, gomawo udah coba baca FF ini, chingu #bow
      makasih, makasih, makasih XD

      kalo cast Yesung ditunggu, ya 😉 pasti ada kok 😀 kalo Donghae, akan kami pertimbangkan 😀

      gapapa, kami suka komen panjang XD

      maksudnya ff ini? ne, sekuelnya bakalan ada. tapi masih nunggu giliran, chingu.
      atau kalo mau, kamu bisa mampir ke blog kami untuk liat ff yang lain hehehe 😀

  31. Next…next…….!!!

  32. Im The Most Beautiful Girl

    Bahasamu kereb jeng. Jujur aku suka. Walauoun rada nge blank, tadi. Soalnya ada beberapa patah kata yang tidak ku mengerti, tapi tak apalah. Aku juga bisa belajar, sedikit demi sedikit tentah peribahasa, atau apalah itu. Selain membaca, jujur. FF ini mendidik juga, aku sempat bingung dan gak ngerti, tapi ketika dibaca ulang. Oh, gitu toh!!! Ahahaha, jujur aku suka!! Keep writing, jeng. 😀

    • Annyeong, chingu~
      wah, terima kasih banyak atas apresiasinya.
      senang sekali tahu kalo kamu suka FF kami ini. jujur, ini emang FF terpanjang kami sepanjang sejarah. hehehe.
      oh, ya, kalo kamu berminat baca FF kami, yang kurang panjang XD, kamu bisa kunjungi blog kami.
      sekali lagi, gomawoyo~

  33. Bhasanya rumit tpi keren ,salut ama authorny yg pintar nyusun kata2 yg ribet gini tp menjdi bcaan yg menyenangkan ,like this ~

    • Wah, makasih, chingu, atas apresiasinya 🙂
      senang kalo kamu anggep ini bacaan yang menyenangkan 😀
      gomawoyo~
      oh ya, kalo kamu berminat, silahkan kunjungi blog kami untuk ff lainnya 🙂

  34. Diana Aprilia

    daebakkk .
    bahasanya rumit tapi masih dapat dipahami ,
    alurnya juga ngena banget dan ceritanya bikin pembaca makin penasaran . fighting untuk karya lainnya thor !! 🙂

    • Gomawo, chingu 🙂
      kami senang kalo ff ini masih dapat dipahami 😀
      gomawoyo sekali lagi atas supportnya 🙂
      oh ya, kalo kamu berminat, silahkan kunjungi blog kami untuk ff lainnya 🙂

  35. tw blog’a lee suri? Itu jg bahasa’a pas aq ptma kali baca ff dsna agak aneh… Ky novel trjemahan.. Mgkn krn aq emg blm prnh bca novel trjemahan.. Tp pd akhr’a skrg aq kagum bgt sm ff” dsna.. Dan jd tw mksd dr gaya bahasa yg di gunakan..

    Sm spt ff ni, tp walo pun udh sering bca ff yg gaya bhsa’a mirip novel trjemahan, ni aq msh kurang paham bgt ma inti crta’a..
    Pas aq bca komen”n d atas, aq stuju tuh sm yg kritik ttg pergantian pov nya..
    Ky’a itu deh yg bikin aq bingung.. Mgkn bsa lbh d perbaiki lg gmn cra’a biar ga trlalu sering ganti pov tp ap yg tokoh rasakan bisa ttp tsampaikan..

    Maaf klo byk omong, cm saran, fighting yo 😀

  36. Annyeong, ririnacho…
    Makasih udah sempetin diri untuk komen 🙂
    seperti yang kami bilang di komen sebelumnya, kami belum menguasai pergantian dalam multiple pov dengan sempurna. Kami masih belajar. Tapi terima kasih atas atensi dan apresiasinya. 😉
    Makasih udah mau membaca ff kami. 😀 makasih juga sarannya.

  37. indrikimkey2305

    huaaaaaaaaa keren
    menurut sayah penggunaan alurnya bagus dan misterinya ngena banget. pasti ini mengurasa isi kepala banget. mengingat pertentangan pikiran dari dia cast utamanya.
    keep writing cingu ^^

    • Annyeong, indrikimkey 😀
      wah, gomawo udah mampir komen.
      Gomawo juga atas apresiasinya ><
      kami senang kalo kamu suka alur dan misterinya 😀
      sekali lagi, gomapta. 🙂

  38. aduh…bisa2 kalo berdebat n semua hrs ada alasannya jd g nyakbung2 mrkkk….kasihn anakny kelak

  39. baguss. ^^ tapi bahasanya agak memusingkan.
    tapi tetap keren. 🙂

  40. long shoot tapi totallynya keren, baru ada ff yang kaya gini loh kkkkk daebak sist!

    • Annyeong, chingu…
      Gomawo udah baca dan komen, ya 😉
      kalo mau, bisa liat ff-ff kami yang lain di blog kami 😀

  41. kereeeeen

  42. gaya bahasanya gak biasa, kya baca novel detektif. tapi asik. authornya jjang. 🙂

  43. haha aku suka cerita ini! bahasanya bagus banget, sumpah deh hehe 😀
    alur ceritanya juga bagus, trus apa lagi ya? ya begitu deh, intinya aku suka 😀

  44. I like it Chingu, ff yg bisa bikin reader_nya konsentrasi bacanya, gilaaaaaa … Gaemgyu emang DAEBAK !!!!!!!
    #Kasihan ditonjok changi^^

    • annyeong, faiqwon ^^
      gomawo udah baca dan komen ff kami #bow
      makasih juga apresiasinya…
      oh iya, kalo kamu mau baca ff kami yang lain, tentang kyuhyun dan changi lagi misalnya, kamu bisa kok kunjungi blog kami ^^

  45. waa..ddaebakk! bahasanya..euh.. Serasa baca novel. Author berbakat nih 😀 Tapi jujur saja, aku rada gk suka sifat Chan Gi yang cuek & sok gk peduli. Kkk~ *terserah yg nyipta cerita dong ya xD *kabuuurrr

  46. Alurnya terlalu lambat. Jadi kasih kesan sulit untuk mudah dipahami~

    Above all, nice work! 🙂

  47. cho soo kyo

    daebak bagus alurnya runtut tp bahasanya terlalu rumit kadang harus mencerna dulu. tp daebak bagus ceritanya. keep writing XD

  48. bahasanya emang berat. tapi ini ff yang langka ^-^
    keren deh!! bertahun tahun saya jadi pengembara ff baru pertama kali dapet ff macam ini. daebak deh!

    • Annyeong, ichan.
      Aih, gomawoyo atas apresiasinya. Gomawo. Gomawo. Gomawoyo~ ><
      Oh ya, kalo kamu berminat, kamu bisa baca ff kami yang lain di blog kami. Gomapta, ne~

  49. kyaaa…
    sempet berpikir Kyu licik kasih permainan itu tp setelah tau masalah Changi jd seru…
    hahaha, perdebatan mereka td bener2 tak terelakkan sama2 teguh…
    Changi sepertinya salah paham di cafe td dan sifat Kyu yg super duper santai nan mepesona itu bener2 suka bgt aku…
    komen apalagi ya, sequel mungkin author, pengen tau Kyu nenangin Changi marah karena salah paham td, tp kayaknya tanpa penjelasan pun mereka bakal langgeng, kkk ^^~

    • annyeong, Nan_Cho
      gomawo udah mau baca dan komen ff kami ^^
      senaaaang juga kalo kamu gak masalah ngebacanya, kami jadi lega mendengarnya. lebih-lebih kalo kamu suka ff ini, juga couple kami Kyuhyun-Changi XD gomawoyo~
      sekuel masih kami kerjakan. kami sedang usahakan yang terbaik jadi… memang cukup lama. kalo kamu penasaran, kamu mungkin mau ke blog kami ^^
      sekali lagi, gomapta~

  50. gilaa eonni keren bgt ff nya. aku sula bahasanya baku dan perlu mikir dulu buat mencernanya. sukaaa. author pernah nulis novel juga kah?
    btw lanjutan khusus buat kyu-changi couple ini ada ngga eon?

    • Huwaaa… makasih banget, amelia^^
      Makasih komentarnya.
      Novel lagi kami coba untuk tulis, apa kamu juga novelis?
      Ada, chingu, lanjutannya. Di blog kami. Judulnya The Romantic Carousel^^

  51. omg so long, pnjang bgt, tpi keren, segala gala nya bnr bnr kren, trutama dri sgi bhasa nya.

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: