BLUE CONFESSION

Sunggyu infinite ff nc

Author                  : Yonggyu90 & JokerZi89

Cast                       : Park Jaehee (OC)

Kim Sunggyu (INFINITE)

Supporting Cast: Kim Himchan (B.A.P)

Park Jiyeon (T-ARA)

Genre                   : Dramatic, NC

Rate                       : 17+

Length                  : Oneshot

Disclaimer           : The real Story made by Yonggyu90

Notes                    :

  • Cerita ini sebenarnya di buat Yonggyu90 eonnie tanpa NC, dan saya pikir akan menarik jika di berikan sedikit sentuhan(?) NC. Jadi saya meminta izin Yonggyu90 eonnie untuk sedikit saya gubah dan sedikit dewasa.
  • Cerita ini hanya fiktif dan asli berasal dari otak Yonggyu90 eonnie dan keyadongan saya, jadinya kalo ada kesamaan tempat, kejadian dan cerita orang. Jujur kami tak tau dan tak bermaksud untuk menyinggung ataupun mengcopy paste cerita.
  • Maaf  banyak typo^^ ehh bacanya sambil dengerin Kim Sunggyu – My Heart Is Like a Star (cover) & Lee Sora – The Wind Blows ya😀

KRIIIIIIINGGGG……….

Suara alarm terdengar begitu nyaring di sebuah kamar kecil di sudut appartment, seorang gadis  menggeliat meraih alarm itu untuk dimatikannya dan segera beranjak duduk. Sejenak dia hanya terdiam di pinggir ranjang tidurnya. Kosong. Pikirannya kosonong.  Perlahan dia mulai meraih rambutnya dan menggelungnya ke atas perlahan seraya beranjak berdiri.

Dengan telaten dia merapikan tempat tidur itu. sejenak dia melirik jam weker di atas nakas dekat tempat tidurnya yang telah menunjukkan pukul 5.15 am dan kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Dia adalah seorang  gadis berusia 20 tahun yang harus mampu membuat dirinya menjadi semandiri mungkin. Park Jaehee, seorang gadis keturunan bangsawan yang harus rela melepaskan hidup dan mimpinya demi kedua orangtuanya. Dia harus menikah dengan seorang keturunan bangsawan di usia muda.

Dia tak pernah mengeluh ataupun memberontak akan kehidupannya yang terkekang. Perlahan dia mengusap kaca berembun yang berada di dalam kamar mandi untuk menatap wajahnya.

“Park jaehee…” gadis itu bergumam memanggil gadis dalampantulan kaca itu lirih. Meskipun kehidupan barunya sangat berat tak pernah sedikit pun dia berniat menyerah. Dengan segera dia menggosok gigi. Dan tak berapa lama dia telah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Tanpa merias diri dan hanya memakai pakaian sederhana yang lugu dia berjalan menuju dapur.

Ya, dia berniat memasak. Dengan cekatan dia memakai celemek dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. Dia terlihat begitu serius menjalani aktifitasnya. Tak pernah sedikitpun tersirat rasa bosan di benaknya. Awalnya memang sangat berat, namun pada akhirnya dia menikmati setiap kegiatan yang dia lakukan.

“Ahh… sudah selesai.” Jaehee terlihat lega setelah dia menyelesaikan tugasnya dan mengembangkan senyumnya. Sejenak dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul  6.40 pagi. Jaehee melepas celemeknya dan melipatnya kembali untuk di masukkan ke dalam laci dapur dan langsung beranjak ke sebuah kamar yang berada di depan kamarnya. Bisa di bayangkan letak kamar itu berhadapan.

Tok… tok… tok…

Jaehee mengetuk pintu perlahan. Lima menit dia menunggu di depan pintu, akhirnya dia memutar kenop pintu dan membukanya. Jaehee melangkahkan kakinya mendekati sebuah tempat tidur yang di sana ada seorang pria yang tengah tertidur pulas.

“Oppa, Ireona… sudah siang. Tidakkah kau pergi ke kantor hari ini?” Jaehee menepuk pundak pria yang tengah tertidur pulas di sana.

“Hmm…” pria itu hanya bergumam. Kemudian dia perlahan membuka matanya dan terbangun.

Melihat pria itu sudah terbangun, jaehee berjalan ke kamar mandi yang berada di kamar itu. tak berapa lama dia kembali pada pria yang masih terduduk menahan kantuk.

“Air hangatnya sudah ku siapkan, mandilah.” Jaehee berucap seraya membuka almari pakaian di salah satu sudut kamar itu.

Satu tahun yang lalu sebelum semua terjadi. Jaehee adalah seorang putri keturunan bangsawan.  System pingit yang masih berlaku bagi keturunan bangsawan di Korea membuatnya begitu terasing dengan dunia luar. Dan karena itulah, dia sama sekali tak pernah menginjakkan kakinya keluar dari kediamannya. Bahkan sekolah pun dia harus mengikuti system home schooling untuk menjaga tradisi keluarga dan adat yang begitu kolot.

Sampai suatu hari datanglah seorang pelayan baru, dia mempunyai seorang putra sedikit lebih tua dari Jaehee. Karena terbiasa dan sering bertemu, Jaehee yang awalnya tak mengenal apa pun kini mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di hatinya terhadap anak pelayan itu. Kim Himchan, pria itu pun merasakan hal yang sama pada Jaehee.

Dengan sembunyi-sembunyi Jaehee yang polos mulai berani menunjukkan ketertarikan dengan Himchan. Namun bangsawan tetaplah bangsawan dan rakyat jelata tetaplah rakyat jelata yang tak boleh saling bergaul.

“Oppa… bagaimana kau bisa masuk kamarku?” Jaehee kala itu terkejut mendapati Himchan sudah berada di dalam kamarnya pada tengah malam.

“Hussttt….” Himchan memberikan isyarat pada Jaehee agar tidak menimbulkan kegaduhan sembari mendekatinya.

“Waegurae?” Jaehee memelankan suaranya.

“Apa kau benar-benar mencintaiku park Jaehee?” Tanya Himchan tiba-tiba.

“Kenapa Oppa bertanya seperti itu?” Jaehee menangkap sesuatu yang ganjil dari pertanyaan Himchan.

“jawab aku Park jaehee!” Himchan memegang pundak Jaehee penuh harap.

“Tentu saja aku menyayangimu. Sangat menyayangimu.”

Dengan tiba-tiba Himchan menarik Jaehee dalam pelukannya. Erat. Pelukan itu sangat erat.

“Oppa… apa yang kau lakukan?” Jaehee tak mengerti kenapa Himchan seperti itu.

“Jangan tinggalkan aku Park jaehee.” Himchan mulai terisak.

“Kenapa oppa bicara begitu?” Jaehee masih tak mengerti.

“tetaplah mencintaiku. Tetaplah disisiku apapun yang terjadi Jaehee-ya.”  Himchan semakin mengeratkan pelukannya. Lama mereka saling berpelukan. Jaehee hanya tertegun dalam pelukan Himchan seraya mengusap punggung namja itu pelan untuk menenangkan. Jaehee tak mampu mengucapkan janji untuk tidak meninggalkan Himchan. bukan karena dia tidak menyukai Himchan tapi karena dia sangat menyadari jika kemungkinan terburuk pasti akan terjadi di antara mereka.

“Oppa… kau harus pergi. Akan sangat berbahaya jika appa mengetahui kau ada di kamarku.” Jaehee melapaskan pelukan Himchan dan mendekap wajah pria yang disayanginya itu dengan kedua tangannya.

Himchan terlihat enggan dan masih berharap Jaehee mengucapkan janji padanya. Dia mencoba menatap manic mata Jaehee dalam keremangan lampu kamar Jaehee.

“Jebal….” Jaehee mengusap kedua pipi Himchan pelan. “Aku mencintaimu.” ucap Jaehee berikutnya dengan mengembangkan senyum di bibirnya.

“Baiklah aku akan pergi.” Ucap Himchan menarik tangan Jaehee dan menciumnya.

“Kha…” ucap Jaehee, ntah kenapa tiba-tiba dia ingin sekali menangis.

“Aku mencintaimu.” Ucap Sunggyu sebelum akhirnya berjalan kea rah jendela dan melompat keluar. Jaehee hanya mampu menatap kepergian Sunggyu hingga punggung pria itu tak terlihat dalam keremangan malam.

===

“Besok malam kau akan menikah dengan putra keluarga Kim teman lama Appa. Persiapkan dirimu mulai saat ini.” Tuan Park ayah Jaehee berkata pada Jaehee pagi harinya ketika semua berkumpul di meja makan.

“Appa….?” Jaehee menatap appanya mencari kebenaran dalam perkataan appanya.

“Dia pria yang baik dan lebih baik dari putra pelayan Kim.”

DEGGG!!! Jantung Jaehee serasa berhenti berdetak. Dia tak tau dari mana appanya mengetahui hubungannya dengan Himchan.

“Umma… andwae umma.” Jaehee menoleh ke ummanya yang hanya tertunduk mencoba mencari pembelaan.

“Appa… aku tak bisa appa.” Jaehee mulai menangis.

Namun appanya seakan tak peduli dengan tangis Jaehee.

“Jagiya…” sebuah tangan hangat Ummanya mendekap tangan jaehee. “Percayalah ini yang terbaik untukmu nak.”

Jaehee terkesiap dan tak percaya dengan penuturan ummanya.

“Umma… aku tak bisa umma. Aku mencintai Kim Himchan Umma.” Jaehee semakin menangis pilu.

“Dulu umma dan appa juga di jodohkan sepertimu. Dan kau lihat, semua baik-baik saja hingga saat ini. dan bahkan umma sangat bahagia.” Kata umma jaehee meyakinkan.

“Umma…_”

“Kau menikah dengan Kim Sunggyu… atau Kim Himchan tidak diterima bekerja di mana pun dan ayahnya ku pecat?”

Jaehee hanya mampu terguguk pilu mendengar pilihan yang diberikan appanya. Dia tak mungkin membiarkan Kim Himchan orang yang disayanginya harus menderita sepanjang hidupnya. Akhirnya dia tak mampu menolak dan hanya menangis dan terus menangis. Bayangkan jika dia harus menikah dengan pria yang belum pernah dia temui sebelumnya. Dengan pria yang hanya dia ketahui namanya tanpa tau seperti apa rupa orang itu. Ibu jaehee pun tak mampu menolak keputusan suaminya, karena itulah tradisi.

Jaehee teringat kejadian malam itu, ketika Himchan masuk ke kamarnya dan memintanya untuk tetap mencintainya. Dan akhirnya dia menyadari, Himchan telah mengetahui semuanya. Dan itu pula malam terakhirnya bertemu dengan Himchan pria yang begitu dicintainya.

===

Sebuah perjodohan di usia Jaehee yang masih 19 tahun kala itu tak mampu lagi dihindari. Pernikahan pun terlaksana, semua berjalan sesuai rencana. Pernikahan itu sah. Akta pernikahan, pencatatan sipil semua sah. Jaehee pun sah menjadi istri dari putra keluarga Kim. Dan sejak saat itu, dia harus tinggal terpisah dari kedua orang tuanya dan pindah ke apartemen bersama suaminya Kim Sunggyu.

Dia punya suami, tapi tak memiliki hati dan tubuh suaminya. Dia hanya memiliki status. Ini lebih menyakitkan daripada sebuah pernikahan kontrak. Mereka tidur terpisah kamar meskipun dalam satu atap. Mereka akan saling diam meskipun menonton tv bersama atau makan bersama. Tidak ada yang menarik bagi pernikahan mereka.

Jaehee, berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri yang sempurna kepada suami sahnya Kim Sunggyu. Pria yang sudah menjadi suaminya selama satu tahun.

Setiap hari, Jaehee selalu bangun pagi. Menyiapkan sarapan, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, membangunkannya, memilihkan baju untuk suaminya. Jaehee rela berdiam diri di rumah dan hanya keluar untuk belanja sayur. Dan semua ini untuk suaminya. Dia pun mulai belajar mencintai suaminya itu meskipun Sunggyu tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.

Pagi ini setelah sarapan usai, Sunggyu berjalan menuju pintu hendak berangkat bekerja seperti biasa. Jaehee membawakan tas Sunggyu dan memberikannya dengan tersenyum meskipun dia tahu Sunggyu tak pernah melihat senyumnya. Ya.. dia hanya berusaha yang terbaik.

“Apa kau tidak akan pergi hari ini?” Sunggyu membuka percakapan kaku sembari memberikan isyarat pada Jaehee untuk merapikan dasinya.

Dengan sabar Jaehee merapikan dasi Sunggyu dan menepuk pelan setelah dasi itu tertata rapi. Bahkan setiap hari Jaehee yang merapikan dasi Sunggyu dan menatakan sepatunya.

“Tidak, aku akan di rumah.” Jawab Jaehee sembari menunduk tak mampu menatap Sunggyu yang terus menatapnya. Entah kenapa pagi itu Sunggyu ingin sekali menyentuh Jaehee. namun dia merasa ego dalam dirinya yang begitu besar mengalahkan segalanya.

“Aku pergi.” Sunggyu berkata kemudian dan pergi begitu saja tanpa memberikan kecupan di kening Jaehee.

Jujur, Jaehee sangat ingin diperlakukan menjadi seorang istri bagi Sunggyu. Hanya sebuah kecupan di kening yang menenangkan, hanya itu saja sebagai bukti Sunggyu menghargai Jaehee itu ada. tapi hal itu hanya menjadi sebuah angan-angan saja bagi jaehee. Sedikit kecewa dan selalu menangis setelah kepergian Sunggyu bekerja. Namun sepertinya semua itu sia-sia karena Sunggyu tak mungkin melakukannya. Dan tak akan pernah mungkin.

‘Sampai kapan kau akan kuat Park Jaehee?’ nurani Jaehee selalu melontarkan pertanyaan yang membuatnya resah setiap harinya. Pertanyaan itu selalu datang di saat tangis Jaehee pecah.

===

Seperti biasanya, setelah Sunggyu berangkat. Jaehee membersihkan rumah dengan teliti sehingga setiap Sunggyu pulang semua sudah tertata rapi dan bersih. Hal ini dia lakukan dengan senang hati, dia berpikir kesibukan dapat melupakan sesak di hatinya.

“Jaehee ya…” Sunggyu menubruk tubuh Jaehee yang tengah membukakan pintu. Ya dia mabuk lagi. Setiap malam dia selalu mabuk. Dengan sisa sisa tenaganya Jaehee memapah Sunggyu menuju kamarnya.

Karena tak mampu memapah tubuh Sunggyu yang begitu berat,Jaehee ikut terjatuh di tempat tidur Sunggyu. Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia duduk dan melepas sepatu Sunggyu dengan sabar. Kemudian dia berjalan kearah almari dan mengambilkan baju ganti untuk suaminya itu. Dengan cekatan dia mencoba mengganti pakaian Sunggyu seperti apa yang sering dia lakukan setiap malam. Tentu saja hanya pakaian luar Sunggyu saja.

Namun kali ini tiba-tiba Sunggyu menarik tangan Jaehee.

“Jangan pergi.” Sunggyu membuka matanya dan berkata kearah Jaehee.

Jaehee berpikir, Sunggyu sedang benar-benar tak sadar di bawah pengaruh alcohol.

“Oppa, kau harus ganti baju.” Jaehee mencoba melepaskan genggaman Sunggyu, namun genggaman itu malah semakin kuat dan menariknya sehingga Jaehee terjatuh kedalam pelukan Sunggyu yang tengah terbaring.

“Biarkan seperti ini. Jangan pergi!” Sunggyu berkata dengan mata tertutup.

Senang dan tak percaya dengan perkataan Sunggyu. Namun kemudian dia menangis ketika sadar jika Sunggyu mengatakannya dalam keadaan tak sadar.

“Oppa… apa kau mendengarku?” Jaehee yang terisak dalam pelukan Sunggyu membuka suara parau.

Namun Sunggyu tak bergeming dan hanya terdengar dengkuran halus darinya. Dia bahkan sudah tertidur pulas.

“Oppa… kau tau, aku mulai mencintaimu. Aku sakit jika kau terus seperti ini.” Jaehee semakin terisak. Lama dia terdiam dalam pelukan Sunggyu. dia nyaman berada di sana. Namun dia sedikit tersentak takut jika Sunggyu sadar dia pasti akan marah. Dengan perlahan Jaehee melepaskan pelukan Sunggyu dan beranjak berdiri menyelimutinya.

Chup… dengan perlahan jaehee mengecup kening Sunggyu.

“Mimpi indah suamiku.” Jaehee tersenyum dan mengusap air matanya kemudian berlalu pergi.

Jaehee menutup pintu perlahan. Sunggyu yang sedari tadi matanya terpejam tiba-tiba membuka matanya perlahan menatap kearah pintu. Dia mabuk. Tapi dia masih sadar. Dia tau dan mendengar apa yang dikatakan Jaehee dari awal sampai akhir. Bahkan dia juga sadar dengan apa yang dilakukannya pada Jaehee.

Sunggyu meraba keningnya dengan perasaan yang sulit di artikan dan mencoba memejamkan matanya lagi.

===

Sunggyu telah berangkat bekerja. Jaehee membersihkan lantai dan sesekali mengusap peluhnya yang bercucuran kelelahan. Tiba-tiba dia tersentak dan terlihat seperti orang bodoh karena hanya tertegun beberapa saat lamanya, dia teringat sesuatu.

“Ya Tuhan.” Jaehee menepuk keningnya karena melupakan sesuatu yang sangat penting untuknya. Dengan tergesa-gesa dia berlari kearah kamarnya dan mengambil kalender meja di atas nakas. Ada satu tanggal di sana yang dia beri tanda hati pada tanggal itu.

“Hari ini? ya Tuhan. Kenapa aku bisa melupakannya?” Jaehee menggeram pada dirinya sendiri. Dengan cepat dia menuju dapur dan mengeluarkan semua bahan yang tersisa dan mulai memakai celemeknya untuk mulai memasak.

Ya, hari ini adalah anniversary pernikahannya yang pertama dengan Sunggyu. Dan parahnya dia telah melupakannya. Dengan senyum mengembang dia begitu bersemamngat memasak bermacam-macam makanan untuk di bawa ke kantor suaminya. Dia berniat memberi Sunggyu kejutan. Dia tak peduli dengan reaksi Sunggyu nantinya jika dia tau Jaehee datang ke kantornya. dia hanya berusaha menjadi istri yang baik dengan memeberian kejutan ulang tahun pernikahan yang pertama mereka.

Dengan telaten dia membuat garnish pada masakannya yang telah dimasukkan kedalam kotak bekal. Dia terlihat begitu serius menata makanan itu. setelah bekal tertata rapi dia berlari menuju kamar mengambil kertas origami, gunting dan pensil warna dan kembali lagi ke meja makan.

Dengan senyum yang tak pudar dia mulai menggunting origami itu dengan berbagai bentuk. Ada hati dan bunga-bunga kecil. Jaehee berniat membuat kartu ucapan dengan karyanya sendiri. Sesekali  dia terlihat menggaruk-garuk kepalanya, sesekali dia terlihat menggigiti kukunya ketika menuliskan sesuatu di kertas yang masih kosong. Sesekali dia juga membaca hasil tulisannya namun kemudian  dia menggulung kertas itu menjadi bola-bola sampai beberapa kali hingga dia menemukan yang sesuai hatinya.

“Selesai. Aku harus bersiap.” Jaehee mencium kartu ucapan buatannya dengan wajah berbinar-binar karena bahagia. “Eoh… aku harus bersiap!” Jaehee memerintah dirinya sendiri kemudian berlari ke kamar berganti pakaian.

Dan untuk pertama kalinya setelah dia menikah, Jaehee merias dirinya secantik mungkin. Rambut yang biasa dia gelung ke atas kini dia gerai dan memakai bandana bunga merah hati. Baju yang biasanya hanya rok maxi selutut dan atasan cardigan kini dia memakai blouse selutut berlengan di bawah siku dengan warna merah hati yang anggun. Bibirnya yang biasanya terllihat pink tanpa lipstict kini dia mencoba mengoleskan warna peach yang terlihat segar. Dan Jaehee kini benar-benar terlihat sangat cantik.

Setelah merasa semua sudah siap, Dia mengambil tas slempang kecil berwarna Hitam dan sepatu flat hitam dari dalam almari. Dia kemudian mengambil kotak bekal dan beranjak pergi keluar rumah dengan sedikit tergesa-gesa karena dia merasa tak sabar dengan apa yang akan dia berikan kepada suami yang dicintainya itu.

Tak dapat di pungkiri, secuil keraguan ketika dia melangkahkan kaki begitu mengusiknya. Perasaannya begitu tak nyaman.

“Apa nanti dia akan marah padaku karena aku akan datang ke sana?” Jaehee bergumam sendiri sembari berjalan kearah halte. “Dia tidak menyukaiku, tapi dia tak akan marah bukan?” Jaehee bertanya pada bekal yang di bawanya.

Yaa.. ini untuk pertama kalinya dia pergi ke kantor suaminya. Sebelumnya dia tidak berani dan tak mau ambil resiko. Di dalam busway dia terus saja tersenyum dan sesekali melihat bekal dalam pangkuannya, yang begitu senangnya dia hari itu.

Jaehee terlihat kebingungan setelah berada di dalam gedung kantor suaminya. Dia kemudian berjalan kearah receptionist.

“Eoseo oseyo, nugureul chajeseoyo? (selamat datang mencari siapa?)” receptionist itu bertanya ramah.

“Ne, Kim Sunggyuraneun hag nampyeoneul mannareo watseumnida? (ya saya datang untuk bertemu suami saya kim Sunggyu).”

“Eoh… anda istri tuan kim? Silahkan nyonya naik lift ke lantai 12.”

“Ah geurae, gomapda.” Jaehee tersenyum ramah dngan sedikit membungkuk kemudian berjalan pergi menuju ke lantai 12 yang di tunjukkan receptionist itu.

Setelah keluar dari lift, Jaehee terlihat lebih senang dan semakin mengembangkan senyumnya. Ya dia begitu takjub melihat perusahan suaminya yang meskipun terbilang perusahaan kecil, tapi cukup sukses.

Dia melihat papan bertuliskan “CEO” di sebuah pintu. Dengan hati berdebar-debar Jaehee mendekati pintu itu. karena terburu-buru Jaehee tidak memperhatikan Sekertaris di luar ruangan yang berusaha menghentikannya.

“Nyonya jangan Masuk, Tuan sedang rap_”

“SURPRISE!!” Jaehee membuka pintu dan berteriak dengan harapan ingin mengejutkan Suaminya.

DEGG!!!! Bagai di hantam ribuan batu tepat di hatinya, Jaehee merasakan aliran darahnya berhenti mengalir. Jantungnya berdegub lebih kencang dan serasa mau meledak. Dan kini dia merasakan wajahnya memanas. Tidak… dia tak mau menumpahkan air matanya di sini.

Betapa terkejutnya dia melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Sunggyu tengah di peluk dan diciumi seorang perempuan di dalam ruangan itu.

Karena merasa terkejut. Sunggyu mendorong  perempuan.

“Jaehee?” Sunggyu memanggil Jaehee tak percaya. Seraya mengusap mulutnya gugup.

“Eoh…”Jaehee yang semula Shock berusaha mengatur nafasnya dan berkata senormal mungkin.  “Mianhae oppa, mianhae…. Aku tak bermaksud mengganggu kalian mianhae.” Jaehee tersenyum dan menutup pintu itu kembali dan segera pergi dari tempat itu dengan menahan sekuat tenaganya agar air matanya agar tidak jatuh.

“Ya… Park jaehee!!” Sunggyu berteriak dan berusaha mengejar Jaehee. namun perempuan yang ada bersamanya tadi menarik tangan Sunggyu mencoba menghalangi.

“Jangan pergi!” Jiyeon perempuan yang bersama Sunggyu memeluk Sunggyu tak ingin jika Sunggyu pergi mengejar Jaehee yang telah pergi.

===

Jaehee kini duduk di halte menahan tangis dan tetap terdiam. Bekal yang tadi dia siapkan untuk Sunggyu diletakkannya di bangku halte. Jaehee pun beranjak berdiri ketika sebuah busway sudah datang dan masuk ke dalamnya. Dia meninggalkan bekal itu dibangku halte.

Tanpa tujuan. Jaehee hanya duduk dengan tatapan kosong. Dia tak bisa menangis, tapi hatinya terasa sangat sesak. Dia hanya diam dan diam.

Sunggyu berlari keluar kantor gedung mencoba mengejar Jaehee. namun nihil. Dia tak menemukan Jaehee di mana pun. Dia merogoh ponselnya hendak menghubungi Jaehee.

“Ahhh Sial!!!” Sunggyu mendengus kesal ketika dia teringat bahwa jaehee tidak mempunyai ponsel. Kemudian dia terus berlari mencoba mencari Jaehee lagi dan lagi.

Kini jaehee turun dari Busway dan berjalan menuju arah sungai Han. Dia kemudian menemukan sebuah bangku kosong dan mendudukinya menghadap sungai Han yang memantulkan siluet senja kuning keemasan. Angin yang berhembus semilir membuat rambutnya berterbangan dan beberapa helai menutupi matanya. Jaehee berusaha menyibaknya, namun rambut itu kembali lagi dan lagi.

“Kenapa kau membuatku kesal!” jaehee berteriak kesal kepada rambutnya dan menangis. Sejujurnya dia menangis bukan karena rambutnya yang menutupi matanya melainkan karena luka di hatinya. Luka yang tadi sempat ditahannya kini semakin menganga dan menyakitinya.

“Aku tak mampu lagi Appa!” jaehee terguguk pilu. “Kau tau appa, ini lebih sulit. Aku ingin mati appa aku ingin mati. Aku tak mampu lagi. Sudah cukup aku menderita selama ini.” Jaehee terguguk sendiri dalam tangisnya.

===

“Park jaehee!” Sunggyu memasuki apartemennya dan mencari jaehee. “Jaehee-ya!” dia memeriksa setiap sudut rumah itu. namun hanya sepi yang dia dapatkan. Dia kemudian berjalan menuju meja makan. Sepi. Dia begitu terkejut ketika mendapati tumpukan bola-bola origami dan beberapa sisa makanan di atas meja.

Dngan perlahan himchan mengambil satu bola origami itu dan membukanya.

‘Taraaa…. Happy 1st Anniversary oppa. Hari ini setahun yang lalu kita menikah, tidak ingatkah oppa? Mianhae… aku belum bisa menjadi istri yang baik buatmu, tapi aku berjanji oppa. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu. =_=

                ‘Oppa… aku rasa aku mulai menyukaimu. Meskipun ku tau kau tak pernah menyukaiku. Dan bahkan kau membenciku.

                ‘aku ingin mengatakan ini… tapi aku malu >.< aku…’

Begitulah tulisan dalam kertas itu, tak ada lanjutan kalimatnya. Sunggyu duduk di kursi meja makan dengan lemas. tenaganya seperti terkuras habis. Seharian dia mencari jaehee ke sana ke mari namun tak menemukannya. Dan kini dia semakin merasa bersalah ketika mendapati sebuah fakta bahwa Jaehee ingin memberikan kejutan untuknya. Kejutan pernikahan mereka yang bahkan Sunggyu tak pernah ingat kapan hari itu terjadi.

Ntah kenapa tiba-tiba dia merasa takut. Dia merasa tidak tenang. Dia kemudian menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

“Park Jaehee kau kemana??” Sunggyu menggeram tertahan sembari memijat kepalanya yang serasa mau meledak. Sedetik kemudian dia terhenyak dan berlari keluar apartemen. Dia ingin mencari Jaehee lagi sampai ketemu. Dia merasa dia sangat membutuhkan Jaehee.

Sedangkan jaehee kini masih duduk termenung di sebuah bangku di tepian sungai Han. Ketika dia merasa sesak, dia akan menangis. Dan ketika sesak itu hilang dia berhenti menangis. Begitu sepanjang malam dia terjaga di tepian sungai Han dan tak sadar jika kini siluet fajar telah terpantul di sungai.

Jaehee menatap sungai Han dengan tatapan kosong, dia kemudian menarik nafas berat berusaha untuk tegar dan memantapkan hatinya, Setelah menimbang semalaman apa yang harus dia lakukan. Dia kemudian beranjak berdiri dan berjalan lemas meninggalkan bangku itu.

===

Dengan lunglai jaehee memasuki apartemennya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Jaehee langsung menuju kearah almarinya dan mengambil sebuah koper berukuran sedang dari dalam. Dia kemudian memunguti bajunya satu persatu. Dan dimasukkannya ke dalam koper itu.

Sunggyu yang yang mendapati pintu apartemennya terbuka dengan terburu-buru masuk mengetahui dngan pasti siapa yang berada di dalam appartment.

“Ya Park jaehee! istri macam apa kau ini pergi begitu saja meninggalkan suamimu sampai pagi.” Sunggyu mulai mengomel sembari berjalan menuju kamar jaehee.

“Yaa… apa yang kau lakukan?” Sunggyu begitu terkejut ketika mendapati jaehee tengah memasuk-masukkan bajunya ke dalam koper.

“Oppa… maaf jika selama ini aku menyusahkanmu. Aku tau…. Kau sangat terluka hidup denganku. Aku tak pernah menjadi istri yang baik untukmu. Selama ini kita menikah. Tapi kau oppa tak menganggapku sebagai istrimu. Bahkan setiap akhir pekan oppa tak pernah mengajakku keluar rumah. Jangankan untuk menonton atau sekedar berjalan-jalan. Untuk makan bersama di luar saja tak pernah. Aku tau itu oppa, aku sangat tau. Bahkan aku tau bahwa kau mencintai wanita lain di luar sana.” Jaehee menarik nafasnya dalam. Sedangkan Sunggyu hanya terdiam meresapi perkataan jaehee.

“Aku tau kau sangat tersiksa sampai setiap malam kau harus pulang mabuk. Aku tak tau apa yang kau lakukan di luar sana. Dan kini… mulai saat ini, aku akan membebaskanmu.” Sungyu terkejut, hatinya merasa sangat sesak.

“Maaf jika aku selama ini merepotkanmu dan membuatmu kesulitan.” Jaehee tersenyum kecut. “Aku akan pergi dari hidupmu. Aku benar-benar akan membebaskanmu. Jangan khawatir tentang keluarga kita, aku yang akan mengurusnya. Aku akan menemui pengacara dan mungkin surat pengajuan persetujuan perceraian kita  akan datang padamu seminggu lagi. Berbahagialah dengan hidup barumu.”

Sunggyu tak mampu berkata apa-apa. Bibirnya kelu. Lidahnya seolah menghilang. Tenggorokannya terasa tercekik.

“Aku pergi!” Jaehee mengangkat kopernya dan beranjak pergi. Sunggyu masih dalam keadaan Shock dengan perkataan jaehee.

Betapa bodohnya Sunggyu. jaehee adalah gadis yang sangat patuh dan penyayang. Begitu dia melepaskannya pasti begitu banyak pria yang menginginkannya. Dia begitu tulus dan tanpa pamrih.

“Andwae!”

BRAKKK!!!

Sunggyu menarik koper jaehee dan melemparnya. Jaehee terkejut tak percaya dengan apa yang Himchan lakukan.

Koper itu terbuka, baju Jaehee berserakan. Jaehee berjalan memunguti baju itu dan memasukkannya kembali dalam koper. Sabar.

“Aku bilang tidak!” Sunggyu sedikit berteriak.

Jaehee kembali mengangkat kopernya dan hendak pergi.

BRAKKKK!!!

Sunggyu merebut koper itu dan melemparkannya lagi ke sudut kamar jaehee.

“Ku Mohon oppa, jangan sakiti aku seperti ini. bebaskan aku jika kau kasihan padaku.” Jaehee mulai menangis dan memohon kepada Sunggyu yang kini tertunduk menahan amarah. “Jangan tahan aku.” Jaehee terguguk pilu.

Jaehee berbalik dan memtuskan pergi tidak membawa kopernya.

“Jangan pergi… jebal!” Sunggyu memeluk Jaehee yang hendak pergi dari belakang.

Jaehee tertegun tak percaya dengan apa yang Sunggyu lakukan. Perlahan air mata Jaehee pun menetes. Jaehee hanya terdiam membisu.

“Jebal jangan pergi park jaehee! aku bisa mati tanpamu.” Hati jaehee bergetar, dia merasakan pundaknya basah. Dan tak berapa lama Sunggyu terguguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada jaehee.

“Jebal jangan pergi.” Sekali lagi Sunggyu memohon kepada jaehee. “Aku membutuhkanmu park jaehee, aku tak mampu hidup tanpamu. Aku mencintaimu park jaehee. aku sungguh mencintaimu.”

Jaehee berbalik dan menatap Sunggyu lebih dalam. Sunggyu perlahan meraih wajah jaehee dan sedikit menunduk mensejajarkan jaehee dengannya.

“Demi Tuhan aku mencintaimu park Jaehee. jangan tinggalkan aku.” Dengan perlahan Sunggyu mendekati wajah jaehee dan mengecup pelan bibir jaehee hangat kemudian memeluknya lagi semakin erat. Jaehee terguguk tak percaya mendengar pernyataan dari Sunggyu. Namun kemudian hati mengalahkan egonya. Jaehee perlahan membalas pelukan Sunggyu.

Dengan perlahan Sunggyu melepaskan pelukannya dan menatap Jaehee lagi. Jaehee hanya menunduk sambil terisak.

“Tatap aku park Jaehee.” Sunggyu merengkuh kedua pipi Jaehee dan sedikit menunduk untuk menatap mata Jaehee yang begitu sembab dan sayu.

“Aku tak mencintai gadis itu, Aku mencintai gadis lain. Gadis yang selalu merawatku, gadis yang selalu bertahan di dekatku. Gadis yang begitu kuat dan tegar di sampingku. Maafkan aku. Maafkan aku karena melukaimu.” Jaehee hanya menangis tertahan mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Sunggyu.

“Kau… istriku. Aku tak akan mungkin  melepasmu. Aku bisa mati tanpamu di sisiku.” Sunggyu mengusap air mata yang mengalir di pipi Jaehee. kemudian mengecup bibir jaehee lagi lembut dan hangat, ciuman yang sangat jaehee inginkan selama ini. kini benar-benar dia rasakan. Perlahan Jaehee menutup matanya merasakan ciuman Sunggyu yang terasa begitu tulus dan tidak menuntut.

Perlahan tangan Sunggyu meraba lembut punggung jaehee. Jaehee tak mampu berkutik dan hanya pasrah menanti apa yang akan di lakukan Sunggyu padanya. Perlahan ciuman Sunggyu yang begitu lembut berpindah ke lehernya dagunya yang akhirnya mampu membuat jaehee merasa lebih mengharapkan Sunggyu.

Entah sejak kapan blouse yang dikenakan jaehee kini sudah terjatuh, bandana di rambutnya sudah terlepas. Jaehee benar-benar tak sadar sejak akapan hal itu terjadi dan bahkan Sunggyu kini sudah memeluknya hangat tanpa kemeja yang tadi dia pakai.

“Eunghhhh….” Jaehee meremas rambut Sunggyu ketika pria itu menciumi area dada Jaehee dan sesekali menghisap di sana.

“Ahhh…oppaahhh….” Jaehee menarik sprei hijau muda tempat tidurnya dengan kuat ketika dia merasakan sesuatu yang kecil memasuki tubuhnya. Sunggyu menciumi dada dan leher jaehee perlahan. Dia sangat tau Jaehee menyukai kelembutan.

Tiba-tiba tubuh jaehee menegang dan kemudian lemas, jaehee merasakan sesuatu mengalir di bawah sana untuk pertama kalinya. Sunggyu menatap jaehee meminta persetujuan untuk melakukan lebih. Jaehee hanya terdiam dan kemudian mengangguk perlahan.

“Ahhkk… sak..it…” Jaehee merintih tertahan, tangannya mencengkeram erat bahu Sunggyu, air matanya mengalir lagi. Matanya terpejam berusaha menahan rasa sakit karena sesuatu yang asing memasuki tubuhnya. Lebih besar dari yang pertama. Dia merasakan perih yang teramat sangat. Ini baru pertama kalinya untuknya.

“Mian….” Sunggyu mengucapkan maaf pelan sembari mengecup kedua mata jaehee perlahan sehingga Jaehee membuka matanya.

Jaehee menggeleng pelan dan tersenyum menatap Sunggyu. Perlahan tangan Jaehee yang mencengkeram erat bahu Sunggyu kini perlahan menggapai wajah Sunggyu yang berada di atasnya dan terus menatapnya. Jaehee mengusap pelan dahi Sunggyu yang penuh dengan peluh.

Sunggyu juga melakukan hal yang sama dengan Jaehee, dia menyibakkan anak  rambut Jaehee dan mengusap peluh di kening Jaehee. setelah merasa rileks Sunggyu mulai melakukan yang lebih pada Jaehee. desahan nafas yang saling memburu mengisi ruangan bercat hijau muda itu. jaehee terlihat sesekali mencengkeram sprei dan mengerang.

“Eummhhhh….” Desahan mereka terdengar bersamaan ketika jaehee merasakan sesuatu keluar tubuhnya dan di susul sesuatu yang hangat terasa memasuki perut bawahnya.

Jaehee terlihat kelelahan, Sunggyu mencoba mengatur nafasnya tersenyum dan menatap jaehee. Jaehee membalas tatapan Sunggyu melakukan hal yang sama.

“Gomawo…” Sunggyu mengecup kening Jaehee yang berada di bawah tubuhnya. “Gomawo… kau istriku untuk saat ini dan selamanya. Jangan tinggalkan aku.” Sunggyu mengecup bibir jaehee pelan.

Jaehee merasa bibirnya kelu mendapat perlakuan Sunggyu yang begitu reflex dan tanpa dia duga sebelumnya. Bahkan dia sudah menyerahkan semuanya pagi ini untuk Sunggyu.

“Tidurlah…!” Sunggyu menarik selimut dan mendekap Jaehee dalam pelukannya. Sebenarnya Sunggyu sangat ingin lebih, tapi dia tau Jaehee sedang sangat kelelahan.

===

Sunggyu menggeliatkan tubuhnya ketika dia merasa telah tidur sangat lama. Dengan perlahan senyum mengembang di bibirnya. Namun betapa terkejutna dia ketika dia tersadar tak lagi mendekap Jaehee dalam pelukannya.

Dengan reflek dia terduduk bangun mencoba mengingat. Ya dia tidur memeluk jaehee di kamar Jaehee sebelum dia benar-benar terlelap dalam tidurnya. Tapi kemana Jaehee kini? Pikirannya terus berkecamuk. Takut. Khawatir.

Dengan sigap dia menyibakkan selimutnya, menggapai celana boxernya yang awalnya tergeletak di lantai kini sudah berada di gastok. Dia sangat tau Jaehee yang merapikannya, dia mencoba mencari Jaehee setelah memakai celananya. Koper yang tadi di lemparnya di sudut kamar pun kini sudah tak ada. Sunggyu semakin takut.

“Jaehee-ya!” Sunggyu berlari keluar dari kamar Jaehee dengan perasaan kalut. “Jaehee-ya!!!” Sunggyu terus berteriak.

Dia merasa frustasi dan menjambak rambutnya sendiri takut membayangkan jika Jaehee benar-benar pergi.

“Yak Oppa, waegurae??” sebuah suara terdengar dari arah dapur.

Sunggyu sontak terkejut dan menoleh kearah suara.

“Yakkk… kenapa kau menakutiku!!!” Sunggyu menghambur kearah Jaehee dan memelukknya erat.

“menakuti?” Jaehee tak mengerti maksud Sunggyu.

“Aku takut kau benar-benar pergi.” Sunggyu semakin mengeratkan pelukannya.

“Ani… aku hanya memasak makan malam untuk kita.” Jaehee tersenyum melihat tingkah suaminya. Ya kini Sunggyu benar-benar menjadi suaminya setelah pengakuan dan apa yang telah terjadi di antara mereka pagi itu. “Apa kau benar-benar mencintaiku?” Jaehee ingin memastikan sekali lagi.

“Apa yang kulakukan padamu tadi pagi masih belum cukup membuktikannya?” Sunggyu melepaskan pelukannya dan menatap Jaehee yang kini pipinya merah merona.

“Aish… sudah! Mandi sana, aku mau lanjutkan memasak.” Jaehee mencubit pinggang Sunggyu.

“Awwww…” Sunggyu meringis kesakitan.

“Yak berlebihan! Aku hanya menyentuhmu!”

“Tapi itu sakit jagiya!”

Jaehee yang berjalan menuju dapur pun berhenti mendengar perkataan Sunggyu.

“Kau bilang apa oppa?”Jaehee menoleh kea rah Sunggyu ingin mendengarkan kembali apa yang dikatakan suaminya.

“Yang mana?” Sunggyu tampak Bingung.

“Yang tadi.”

“yang mana? Sakit?”

“Bukan!”

“jagiya?”

“Katakan sekali lagi!”

“Jagiya!”

“Aku mau dengar sekali lagi!”

“JAGIYA SARANGHAE!!!” Sunggyu berteriak kemudian menghampiri Jaehee dan membopongnya menjauhi dapur menuju kamarnya.

“Yakkk aku sedang memasak!” Jaehee terkejut dan sedikit malu-malu.

“Lupakan! Aku tak lapar.”

“Kompornya?”

Mendengar pertanyaan Jaehee, Sunggyu yang membopongnya berbalik arah ke dapur dan mematikannya kemudian berjalan lagi kea rah kamar.

“Yakk oppa… cuciannya masih banyak.” Jaehee mencari alasan takut-takut.

“lupakan cucian. Aku mau kamu. Sepertinya aku tadi pagi masih belum cukup membuktikannya padamu. Jadi kita lakukan lagi.” Sunggyu mengerling kea rah jaehee.

“MWO????”

BLAAAMMM!!! Dan pintu pun terkunci rapat.

The end

Sesuai janji saya pada Yonggyu90 eonnie gak buat NC yang begitu Hot, tapi gak tau juga kalo hasilnya Hot keukeu~

Advice & comment Juseyo ^^

Luph ^^JokerZi89 & Yonggyu90^^

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

tumblr_mnj7ty98Eh1rnacpoo1_500_副本.jpg

BLUE CONFESSION

Author                  : Yonggyu90 & JokerZi89

Cast                       : Park Jaehee (OC)

                                  Kim Sunggyu (INFINITE)

Supporting Cast: Kim Himchan (B.A.P)

                                  Park Jiyeon (T-ARA)

Genre                   : Dramatic, NC

Rate                       : 17+

Length                  : Oneshot

Disclaimer           : The real Story made by Yonggyu90

Notes                    :

§  Cerita ini sebenarnya di buat Yonggyu90 eonnie tanpa NC, dan saya pikir akan menarik jika di berikan sedikit sentuhan(?) NC. Jadi saya meminta izin Yonggyu90 eonnie untuk sedikit saya gubah dan sedikit dewasa.

§  Cerita ini hanya fiktif dan asli berasal dari otak Yonggyu90 eonnie dan keyadongan saya, jadinya kalo ada kesamaan tempat, kejadian dan cerita orang. Jujur kami tak tau dan tak bermaksud untuk menyinggung ataupun mengcopy paste cerita.

§  Maaf  banyak typo^^ ehh bacanya sambil dengerin Kim Sunggyu – My Heart Is Like a Star (cover) & Lee Sora – The Wind Blows ya😀

                KRIIIIIIINGGGG……….

                Suara alarm terdengar begitu nyaring di sebuah kamar kecil di sudut appartment, seorang gadis  menggeliat meraih alarm itu untuk dimatikannya dan segera beranjak duduk. Sejenak dia hanya terdiam di pinggir ranjang tidurnya. Kosong. Pikirannya kosonong.  Perlahan dia mulai meraih rambutnya dan menggelungnya ke atas perlahan seraya beranjak berdiri.

                Dengan telaten dia merapikan tempat tidur itu. sejenak dia melirik jam weker di atas nakas dekat tempat tidurnya yang telah menunjukkan pukul 5.15 am dan kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

                Dia adalah seorang  gadis berusia 20 tahun yang harus mampu membuat dirinya menjadi semandiri mungkin. Park Jaehee, seorang gadis keturunan bangsawan yang harus rela melepaskan hidup dan mimpinya demi kedua orangtuanya. Dia harus menikah dengan seorang keturunan bangsawan di usia muda.

                Dia tak pernah mengeluh ataupun memberontak akan kehidupannya yang terkekang. Perlahan dia mengusap kaca berembun yang berada di dalam kamar mandi untuk menatap wajahnya.

“Park jaehee…” gadis itu bergumam memanggil gadis dalampantulan kaca itu lirih. Meskipun kehidupan barunya sangat berat tak pernah sedikit pun dia berniat menyerah. Dengan segera dia menggosok gigi. Dan tak berapa lama dia telah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Tanpa merias diri dan hanya memakai pakaian sederhana yang lugu dia berjalan menuju dapur.

                Ya, dia berniat memasak. Dengan cekatan dia memakai celemek dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. Dia terlihat begitu serius menjalani aktifitasnya. Tak pernah sedikitpun tersirat rasa bosan di benaknya. Awalnya memang sangat berat, namun pada akhirnya dia menikmati setiap kegiatan yang dia lakukan.

                “Ahh… sudah selesai.” Jaehee terlihat lega setelah dia menyelesaikan tugasnya dan mengembangkan senyumnya. Sejenak dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul  6.40 pagi. Jaehee melepas celemeknya dan melipatnya kembali untuk di masukkan ke dalam laci dapur dan langsung beranjak ke sebuah kamar yang berada di depan kamarnya. Bisa di bayangkan letak kamar itu berhadapan.

               

Tok… tok… tok…

                Jaehee mengetuk pintu perlahan. Lima menit dia menunggu di depan pintu, akhirnya dia memutar kenop pintu dan membukanya. Jaehee melangkahkan kakinya mendekati sebuah tempat tidur yang di sana ada seorang pria yang tengah tertidur pulas.

                “Oppa, Ireona… sudah siang. Tidakkah kau pergi ke kantor hari ini?” Jaehee menepuk pundak pria yang tengah tertidur pulas di sana.

                “Hmm…” pria itu hanya bergumam. Kemudian dia perlahan membuka matanya dan terbangun.

                Melihat pria itu sudah terbangun, jaehee berjalan ke kamar mandi yang berada di kamar itu. tak berapa lama dia kembali pada pria yang masih terduduk menahan kantuk.

                “Air hangatnya sudah ku siapkan, mandilah.” Jaehee berucap seraya membuka almari pakaian di salah satu sudut kamar itu.

                Satu tahun yang lalu sebelum semua terjadi. Jaehee adalah seorang putri keturunan bangsawan.  System pingit yang masih berlaku bagi keturunan bangsawan di Korea membuatnya begitu terasing dengan dunia luar. Dan karena itulah, dia sama sekali tak pernah menginjakkan kakinya keluar dari kediamannya. Bahkan sekolah pun dia harus mengikuti system home schooling untuk menjaga tradisi keluarga dan adat yang begitu kolot.

                Sampai suatu hari datanglah seorang pelayan baru, dia mempunyai seorang putra sedikit lebih tua dari Jaehee. Karena terbiasa dan sering bertemu, Jaehee yang awalnya tak mengenal apa pun kini mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di hatinya terhadap anak pelayan itu. Kim Himchan, pria itu pun merasakan hal yang sama pada Jaehee.

                Dengan sembunyi-sembunyi Jaehee yang polos mulai berani menunjukkan ketertarikan dengan Himchan. Namun bangsawan tetaplah bangsawan dan rakyat jelata tetaplah rakyat jelata yang tak boleh saling bergaul.

                “Oppa… bagaimana kau bisa masuk kamarku?” Jaehee kala itu terkejut mendapati Himchan sudah berada di dalam kamarnya pada tengah malam.

                “Hussttt….” Himchan memberikan isyarat pada Jaehee agar tidak menimbulkan kegaduhan sembari mendekatinya.

                “Waegurae?” Jaehee memelankan suaranya.

                “Apa kau benar-benar mencintaiku park Jaehee?” Tanya Himchan tiba-tiba.

                “Kenapa Oppa bertanya seperti itu?” Jaehee menangkap sesuatu yang ganjil dari pertanyaan Himchan.

                “jawab aku Park jaehee!” Himchan memegang pundak Jaehee penuh harap.

                “Tentu saja aku menyayangimu. Sangat menyayangimu.”

                Dengan tiba-tiba Himchan menarik Jaehee dalam pelukannya. Erat. Pelukan itu sangat erat.

                “Oppa… apa yang kau lakukan?” Jaehee tak mengerti kenapa Himchan seperti itu.

                “Jangan tinggalkan aku Park jaehee.” Himchan mulai terisak.

                “Kenapa oppa bicara begitu?” Jaehee masih tak mengerti.

                “tetaplah mencintaiku. Tetaplah disisiku apapun yang terjadi Jaehee-ya.”  Himchan semakin mengeratkan pelukannya. Lama mereka saling berpelukan. Jaehee hanya tertegun dalam pelukan Himchan seraya mengusap punggung namja itu pelan untuk menenangkan. Jaehee tak mampu mengucapkan janji untuk tidak meninggalkan Himchan. bukan karena dia tidak menyukai Himchan tapi karena dia sangat menyadari jika kemungkinan terburuk pasti akan terjadi di antara mereka.

                “Oppa… kau harus pergi. Akan sangat berbahaya jika appa mengetahui kau ada di kamarku.” Jaehee melapaskan pelukan Himchan dan mendekap wajah pria yang disayanginya itu dengan kedua tangannya.

                Himchan terlihat enggan dan masih berharap Jaehee mengucapkan janji padanya. Dia mencoba menatap manic mata Jaehee dalam keremangan lampu kamar Jaehee.

                “Jebal….” Jaehee mengusap kedua pipi Himchan pelan. “Aku mencintaimu.” ucap Jaehee berikutnya dengan mengembangkan senyum di bibirnya.

                “Baiklah aku akan pergi.” Ucap Himchan menarik tangan Jaehee dan menciumnya.

“Kha…” ucap Jaehee, ntah kenapa tiba-tiba dia ingin sekali menangis.

“Aku mencintaimu.” Ucap Sunggyu sebelum akhirnya berjalan kea rah jendela dan melompat keluar. Jaehee hanya mampu menatap kepergian Sunggyu hingga punggung pria itu tak terlihat dalam keremangan malam.

===

                “Besok malam kau akan menikah dengan putra keluarga Kim teman lama Appa. Persiapkan dirimu mulai saat ini.” Tuan Park ayah Jaehee berkata pada Jaehee pagi harinya ketika semua berkumpul di meja makan.

                “Appa….?” Jaehee menatap appanya mencari kebenaran dalam perkataan appanya.

                “Dia pria yang baik dan lebih baik dari putra pelayan Kim.”

                DEGGG!!! Jantung Jaehee serasa berhenti berdetak. Dia tak tau dari mana appanya mengetahui hubungannya dengan Himchan.

                “Umma… andwae umma.” Jaehee menoleh ke ummanya yang hanya tertunduk mencoba mencari pembelaan.

                “Appa… aku tak bisa appa.” Jaehee mulai menangis.

                Namun appanya seakan tak peduli dengan tangis Jaehee.

                “Jagiya…” sebuah tangan hangat Ummanya mendekap tangan jaehee. “Percayalah ini yang terbaik untukmu nak.”

                Jaehee terkesiap dan tak percaya dengan penuturan ummanya.

                “Umma… aku tak bisa umma. Aku mencintai Kim Himchan Umma.” Jaehee semakin menangis pilu.

                “Dulu umma dan appa juga di jodohkan sepertimu. Dan kau lihat, semua baik-baik saja hingga saat ini. dan bahkan umma sangat bahagia.” Kata umma jaehee meyakinkan.

                “Umma…_”

                “Kau menikah dengan Kim Sunggyu… atau Kim Himchan tidak diterima bekerja di mana pun dan ayahnya ku pecat?”

                Jaehee hanya mampu terguguk pilu mendengar pilihan yang diberikan appanya. Dia tak mungkin membiarkan Kim Himchan orang yang disayanginya harus menderita sepanjang hidupnya. Akhirnya dia tak mampu menolak dan hanya menangis dan terus menangis. Bayangkan jika dia harus menikah dengan pria yang belum pernah dia temui sebelumnya. Dengan pria yang hanya dia ketahui namanya tanpa tau seperti apa rupa orang itu. Ibu jaehee pun tak mampu menolak keputusan suaminya, karena itulah tradisi.

                Jaehee teringat kejadian malam itu, ketika Himchan masuk ke kamarnya dan memintanya untuk tetap mencintainya. Dan akhirnya dia menyadari, Himchan telah mengetahui semuanya. Dan itu pula malam terakhirnya bertemu dengan Himchan pria yang begitu dicintainya.

===

                Sebuah perjodohan di usia Jaehee yang masih 19 tahun kala itu tak mampu lagi dihindari. Pernikahan pun terlaksana, semua berjalan sesuai rencana. Pernikahan itu sah. Akta pernikahan, pencatatan sipil semua sah. Jaehee pun sah menjadi istri dari putra keluarga Kim. Dan sejak saat itu, dia harus tinggal terpisah dari kedua orang tuanya dan pindah ke apartemen bersama suaminya Kim Sunggyu.

                Dia punya suami, tapi tak memiliki hati dan tubuh suaminya. Dia hanya memiliki status. Ini lebih menyakitkan daripada sebuah pernikahan kontrak. Mereka tidur terpisah kamar meskipun dalam satu atap. Mereka akan saling diam meskipun menonton tv bersama atau makan bersama. Tidak ada yang menarik bagi pernikahan mereka.

                Jaehee, berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri yang sempurna kepada suami sahnya Kim Sunggyu. Pria yang sudah menjadi suaminya selama satu tahun.

                Setiap hari, Jaehee selalu bangun pagi. Menyiapkan sarapan, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, membangunkannya, memilihkan baju untuk suaminya. Jaehee rela berdiam diri di rumah dan hanya keluar untuk belanja sayur. Dan semua ini untuk suaminya. Dia pun mulai belajar mencintai suaminya itu meskipun Sunggyu tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.

                Pagi ini setelah sarapan usai, Sunggyu berjalan menuju pintu hendak berangkat bekerja seperti biasa. Jaehee membawakan tas Sunggyu dan memberikannya dengan tersenyum meskipun dia tahu Sunggyu tak pernah melihat senyumnya. Ya.. dia hanya berusaha yang terbaik.

                “Apa kau tidak akan pergi hari ini?” Sunggyu membuka percakapan kaku sembari memberikan isyarat pada Jaehee untuk merapikan dasinya.

                Dengan sabar Jaehee merapikan dasi Sunggyu dan menepuk pelan setelah dasi itu tertata rapi. Bahkan setiap hari Jaehee yang merapikan dasi Sunggyu dan menatakan sepatunya.

                “Tidak, aku akan di rumah.” Jawab Jaehee sembari menunduk tak mampu menatap Sunggyu yang terus menatapnya. Entah kenapa pagi itu Sunggyu ingin sekali menyentuh Jaehee. namun dia merasa ego dalam dirinya yang begitu besar mengalahkan segalanya.

                “Aku pergi.” Sunggyu berkata kemudian dan pergi begitu saja tanpa memberikan kecupan di kening Jaehee.

                Jujur, Jaehee sangat ingin diperlakukan menjadi seorang istri bagi Sunggyu. Hanya sebuah kecupan di kening yang menenangkan, hanya itu saja sebagai bukti Sunggyu menghargai Jaehee itu ada. tapi hal itu hanya menjadi sebuah angan-angan saja bagi jaehee. Sedikit kecewa dan selalu menangis setelah kepergian Sunggyu bekerja. Namun sepertinya semua itu sia-sia karena Sunggyu tak mungkin melakukannya. Dan tak akan pernah mungkin.

                ‘Sampai kapan kau akan kuat Park Jaehee?’ nurani Jaehee selalu melontarkan pertanyaan yang membuatnya resah setiap harinya. Pertanyaan itu selalu datang di saat tangis Jaehee pecah.

===

                Seperti biasanya, setelah Sunggyu berangkat. Jaehee membersihkan rumah dengan teliti sehingga setiap Sunggyu pulang semua sudah tertata rapi dan bersih. Hal ini dia lakukan dengan senang hati, dia berpikir kesibukan dapat melupakan sesak di hatinya.

                “Jaehee ya…” Sunggyu menubruk tubuh Jaehee yang tengah membukakan pintu. Ya dia mabuk lagi. Setiap malam dia selalu mabuk. Dengan sisa sisa tenaganya Jaehee memapah Sunggyu menuju kamarnya.

                Karena tak mampu memapah tubuh Sunggyu yang begitu berat,Jaehee ikut terjatuh di tempat tidur Sunggyu. Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia duduk dan melepas sepatu Sunggyu dengan sabar. Kemudian dia berjalan kearah almari dan mengambilkan baju ganti untuk suaminya itu. Dengan cekatan dia mencoba mengganti pakaian Sunggyu seperti apa yang sering dia lakukan setiap malam. Tentu saja hanya pakaian luar Sunggyu saja.

                Namun kali ini tiba-tiba Sunggyu menarik tangan Jaehee.

                “Jangan pergi.” Sunggyu membuka matanya dan berkata kearah Jaehee.

                Jaehee berpikir, Sunggyu sedang benar-benar tak sadar di bawah pengaruh alcohol.

                “Oppa, kau harus ganti baju.” Jaehee mencoba melepaskan genggaman Sunggyu, namun genggaman itu malah semakin kuat dan menariknya sehingga Jaehee terjatuh kedalam pelukan Sunggyu yang tengah terbaring.

                “Biarkan seperti ini. Jangan pergi!” Sunggyu berkata dengan mata tertutup.

                Senang dan tak percaya dengan perkataan Sunggyu. Namun kemudian dia menangis ketika sadar jika Sunggyu mengatakannya dalam keadaan tak sadar.

                “Oppa… apa kau mendengarku?” Jaehee yang terisak dalam pelukan Sunggyu membuka suara parau.

                Namun Sunggyu tak bergeming dan hanya terdengar dengkuran halus darinya. Dia bahkan sudah tertidur pulas.

                “Oppa… kau tau, aku mulai mencintaimu. Aku sakit jika kau terus seperti ini.” Jaehee semakin terisak. Lama dia terdiam dalam pelukan Sunggyu. dia nyaman berada di sana. Namun dia sedikit tersentak takut jika Sunggyu sadar dia pasti akan marah. Dengan perlahan Jaehee melepaskan pelukan Sunggyu dan beranjak berdiri menyelimutinya.

                Chup… dengan perlahan jaehee mengecup kening Sunggyu.

                “Mimpi indah suamiku.” Jaehee tersenyum dan mengusap air matanya kemudian berlalu pergi.

                Jaehee menutup pintu perlahan. Sunggyu yang sedari tadi matanya terpejam tiba-tiba membuka matanya perlahan menatap kearah pintu. Dia mabuk. Tapi dia masih sadar. Dia tau dan mendengar apa yang dikatakan Jaehee dari awal sampai akhir. Bahkan dia juga sadar dengan apa yang dilakukannya pada Jaehee.

                Sunggyu meraba keningnya dengan perasaan yang sulit di artikan dan mencoba memejamkan matanya lagi.

===

                Sunggyu telah berangkat bekerja. Jaehee membersihkan lantai dan sesekali mengusap peluhnya yang bercucuran kelelahan. Tiba-tiba dia tersentak dan terlihat seperti orang bodoh karena hanya tertegun beberapa saat lamanya, dia teringat sesuatu.

                “Ya Tuhan.” Jaehee menepuk keningnya karena melupakan sesuatu yang sangat penting untuknya. Dengan tergesa-gesa dia berlari kearah kamarnya dan mengambil kalender meja di atas nakas. Ada satu tanggal di sana yang dia beri tanda hati pada tanggal itu.

                “Hari ini? ya Tuhan. Kenapa aku bisa melupakannya?” Jaehee menggeram pada dirinya sendiri. Dengan cepat dia menuju dapur dan mengeluarkan semua bahan yang tersisa dan mulai memakai celemeknya untuk mulai memasak.

                Ya, hari ini adalah anniversary pernikahannya yang pertama dengan Sunggyu. Dan parahnya dia telah melupakannya. Dengan senyum mengembang dia begitu bersemamngat memasak bermacam-macam makanan untuk di bawa ke kantor suaminya. Dia berniat memberi Sunggyu kejutan. Dia tak peduli dengan reaksi Sunggyu nantinya jika dia tau Jaehee datang ke kantornya. dia hanya berusaha menjadi istri yang baik dengan memeberian kejutan ulang tahun pernikahan yang pertama mereka. 

                Dengan telaten dia membuat garnish pada masakannya yang telah dimasukkan kedalam kotak bekal. Dia terlihat begitu serius menata makanan itu. setelah bekal tertata rapi dia berlari menuju kamar mengambil kertas origami, gunting dan pensil warna dan kembali lagi ke meja makan.

                Dengan senyum yang tak pudar dia mulai menggunting origami itu dengan berbagai bentuk. Ada hati dan bunga-bunga kecil. Jaehee berniat membuat kartu ucapan dengan karyanya sendiri. Sesekali  dia terlihat menggaruk-garuk kepalanya, sesekali dia terlihat menggigiti kukunya ketika menuliskan sesuatu di kertas yang masih kosong. Sesekali dia juga membaca hasil tulisannya namun kemudian  dia menggulung kertas itu menjadi bola-bola sampai beberapa kali hingga dia menemukan yang sesuai hatinya.

                “Selesai. Aku harus bersiap.” Jaehee mencium kartu ucapan buatannya dengan wajah berbinar-binar karena bahagia. “Eoh… aku harus bersiap!” Jaehee memerintah dirinya sendiri kemudian berlari ke kamar berganti pakaian.

                Dan untuk pertama kalinya setelah dia menikah, Jaehee merias dirinya secantik mungkin. Rambut yang biasa dia gelung ke atas kini dia gerai dan memakai bandana bunga merah hati. Baju yang biasanya hanya rok maxi selutut dan atasan cardigan kini dia memakai blouse selutut berlengan di bawah siku dengan warna merah hati yang anggun. Bibirnya yang biasanya terllihat pink tanpa lipstict kini dia mencoba mengoleskan warna peach yang terlihat segar. Dan Jaehee kini benar-benar terlihat sangat cantik.

                Setelah merasa semua sudah siap, Dia mengambil tas slempang kecil berwarna Hitam dan sepatu flat hitam dari dalam almari. Dia kemudian mengambil kotak bekal dan beranjak pergi keluar rumah dengan sedikit tergesa-gesa karena dia merasa tak sabar dengan apa yang akan dia berikan kepada suami yang dicintainya itu.

                Tak dapat di pungkiri, secuil keraguan ketika dia melangkahkan kaki begitu mengusiknya. Perasaannya begitu tak nyaman.

                “Apa nanti dia akan marah padaku karena aku akan datang ke sana?” Jaehee bergumam sendiri sembari berjalan kearah halte. “Dia tidak menyukaiku, tapi dia tak akan marah bukan?” Jaehee bertanya pada bekal yang di bawanya.

                Yaa.. ini untuk pertama kalinya dia pergi ke kantor suaminya. Sebelumnya dia tidak berani dan tak mau ambil resiko. Di dalam busway dia terus saja tersenyum dan sesekali melihat bekal dalam pangkuannya, yang begitu senangnya dia hari itu.

                Jaehee terlihat kebingungan setelah berada di dalam gedung kantor suaminya. Dia kemudian berjalan kearah receptionist.

                “Eoseo oseyo, nugureul chajeseoyo? (selamat datang mencari siapa?)” receptionist itu bertanya ramah.

                “Ne, Kim Sunggyuraneun hag nampyeoneul mannareo watseumnida? (ya saya datang untuk bertemu suami saya kim Sunggyu).”

                “Eoh… anda istri tuan kim? Silahkan nyonya naik lift ke lantai 12.”

                “Ah geurae, gomapda.” Jaehee tersenyum ramah dngan sedikit membungkuk kemudian berjalan pergi menuju ke lantai 12 yang di tunjukkan receptionist itu.

                Setelah keluar dari lift, Jaehee terlihat lebih senang dan semakin mengembangkan senyumnya. Ya dia begitu takjub melihat perusahan suaminya yang meskipun terbilang perusahaan kecil, tapi cukup sukses.

                Dia melihat papan bertuliskan “CEO” di sebuah pintu. Dengan hati berdebar-debar Jaehee mendekati pintu itu. karena terburu-buru Jaehee tidak memperhatikan Sekertaris di luar ruangan yang berusaha menghentikannya.

                “Nyonya jangan Masuk, Tuan sedang rap_”

                “SURPRISE!!” Jaehee membuka pintu dan berteriak dengan harapan ingin mengejutkan Suaminya.

                DEGG!!!! Bagai di hantam ribuan batu tepat di hatinya, Jaehee merasakan aliran darahnya berhenti mengalir. Jantungnya berdegub lebih kencang dan serasa mau meledak. Dan kini dia merasakan wajahnya memanas. Tidak… dia tak mau menumpahkan air matanya di sini.

                Betapa terkejutnya dia melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Sunggyu tengah di peluk dan diciumi seorang perempuan di dalam ruangan itu.

                Karena merasa terkejut. Sunggyu mendorong  perempuan.

                “Jaehee?” Sunggyu memanggil Jaehee tak percaya. Seraya mengusap mulutnya gugup.

                “Eoh…”Jaehee yang semula Shock berusaha mengatur nafasnya dan berkata senormal mungkin.  “Mianhae oppa, mianhae…. Aku tak bermaksud mengganggu kalian mianhae.” Jaehee tersenyum dan menutup pintu itu kembali dan segera pergi dari tempat itu dengan menahan sekuat tenaganya agar air matanya agar tidak jatuh.

                “Ya… Park jaehee!!” Sunggyu berteriak dan berusaha mengejar Jaehee. namun perempuan yang ada bersamanya tadi menarik tangan Sunggyu mencoba menghalangi.

                “Jangan pergi!” Jiyeon perempuan yang bersama Sunggyu memeluk Sunggyu tak ingin jika Sunggyu pergi mengejar Jaehee yang telah pergi.

===

                Jaehee kini duduk di halte menahan tangis dan tetap terdiam. Bekal yang tadi dia siapkan untuk Sunggyu diletakkannya di bangku halte. Jaehee pun beranjak berdiri ketika sebuah busway sudah datang dan masuk ke dalamnya. Dia meninggalkan bekal itu dibangku halte.

                Tanpa tujuan. Jaehee hanya duduk dengan tatapan kosong. Dia tak bisa menangis, tapi hatinya terasa sangat sesak. Dia hanya diam dan diam.

                Sunggyu berlari keluar kantor gedung mencoba mengejar Jaehee. namun nihil. Dia tak menemukan Jaehee di mana pun. Dia merogoh ponselnya hendak menghubungi Jaehee.

                “Ahhh Sial!!!” Sunggyu mendengus kesal ketika dia teringat bahwa jaehee tidak mempunyai ponsel. Kemudian dia terus berlari mencoba mencari Jaehee lagi dan lagi.

                Kini jaehee turun dari Busway dan berjalan menuju arah sungai Han. Dia kemudian menemukan sebuah bangku kosong dan mendudukinya menghadap sungai Han yang memantulkan siluet senja kuning keemasan. Angin yang berhembus semilir membuat rambutnya berterbangan dan beberapa helai menutupi matanya. Jaehee berusaha menyibaknya, namun rambut itu kembali lagi dan lagi.

                “Kenapa kau membuatku kesal!” jaehee berteriak kesal kepada rambutnya dan menangis. Sejujurnya dia menangis bukan karena rambutnya yang menutupi matanya melainkan karena luka di hatinya. Luka yang tadi sempat ditahannya kini semakin menganga dan menyakitinya.

                “Aku tak mampu lagi Appa!” jaehee terguguk pilu. “Kau tau appa, ini lebih sulit. Aku ingin mati appa aku ingin mati. Aku tak mampu lagi. Sudah cukup aku menderita selama ini.” Jaehee terguguk sendiri dalam tangisnya.

===

                “Park jaehee!” Sunggyu memasuki apartemennya dan mencari jaehee. “Jaehee-ya!” dia memeriksa setiap sudut rumah itu. namun hanya sepi yang dia dapatkan. Dia kemudian berjalan menuju meja makan. Sepi. Dia begitu terkejut ketika mendapati tumpukan bola-bola origami dan beberapa sisa makanan di atas meja.

                Dngan perlahan himchan mengambil satu bola origami itu dan membukanya.

                ‘Taraaa…. Happy 1st Anniversary oppa. Hari ini setahun yang lalu kita menikah, tidak ingatkah oppa? Mianhae… aku belum bisa menjadi istri yang baik buatmu, tapi aku berjanji oppa. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu. =_=

                ‘Oppa… aku rasa aku mulai menyukaimu. Meskipun ku tau kau tak pernah menyukaiku. Dan bahkan kau membenciku.

                ‘aku ingin mengatakan ini… tapi aku malu >.< aku…’

                Begitulah tulisan dalam kertas itu, tak ada lanjutan kalimatnya. Sunggyu duduk di kursi meja makan dengan lemas. tenaganya seperti terkuras habis. Seharian dia mencari jaehee ke sana ke mari namun tak menemukannya. Dan kini dia semakin merasa bersalah ketika mendapati sebuah fakta bahwa Jaehee ingin memberikan kejutan untuknya. Kejutan pernikahan mereka yang bahkan Sunggyu tak pernah ingat kapan hari itu terjadi.

                Ntah kenapa tiba-tiba dia merasa takut. Dia merasa tidak tenang. Dia kemudian menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

                “Park Jaehee kau kemana??” Sunggyu menggeram tertahan sembari memijat kepalanya yang serasa mau meledak. Sedetik kemudian dia terhenyak dan berlari keluar apartemen. Dia ingin mencari Jaehee lagi sampai ketemu. Dia merasa dia sangat membutuhkan Jaehee.

                Sedangkan jaehee kini masih duduk termenung di sebuah bangku di tepian sungai Han. Ketika dia merasa sesak, dia akan menangis. Dan ketika sesak itu hilang dia berhenti menangis. Begitu sepanjang malam dia terjaga di tepian sungai Han dan tak sadar jika kini siluet fajar telah terpantul di sungai.

                Jaehee menatap sungai Han dengan tatapan kosong, dia kemudian menarik nafas berat berusaha untuk tegar dan memantapkan hatinya, Setelah menimbang semalaman apa yang harus dia lakukan. Dia kemudian beranjak berdiri dan berjalan lemas meninggalkan bangku itu.

===

                Dengan lunglai jaehee memasuki apartemennya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Jaehee langsung menuju kearah almarinya dan mengambil sebuah koper berukuran sedang dari dalam. Dia kemudian memunguti bajunya satu persatu. Dan dimasukkannya ke dalam koper itu.

                Sunggyu yang yang mendapati pintu apartemennya terbuka dengan terburu-buru masuk mengetahui dngan pasti siapa yang berada di dalam appartment.

                “Ya Park jaehee! istri macam apa kau ini pergi begitu saja meninggalkan suamimu sampai pagi.” Sunggyu mulai mengomel sembari berjalan menuju kamar jaehee.

                “Yaa… apa yang kau lakukan?” Sunggyu begitu terkejut ketika mendapati jaehee tengah memasuk-masukkan bajunya ke dalam koper.

                “Oppa… maaf jika selama ini aku menyusahkanmu. Aku tau…. Kau sangat terluka hidup denganku. Aku tak pernah menjadi istri yang baik untukmu. Selama ini kita menikah. Tapi kau oppa tak menganggapku sebagai istrimu. Bahkan setiap akhir pekan oppa tak pernah mengajakku keluar rumah. Jangankan untuk menonton atau sekedar berjalan-jalan. Untuk makan bersama di luar saja tak pernah. Aku tau itu oppa, aku sangat tau. Bahkan aku tau bahwa kau mencintai wanita lain di luar sana.” Jaehee menarik nafasnya dalam. Sedangkan Sunggyu hanya terdiam meresapi perkataan jaehee.

                “Aku tau kau sangat tersiksa sampai setiap malam kau harus pulang mabuk. Aku tak tau apa yang kau lakukan di luar sana. Dan kini… mulai saat ini, aku akan membebaskanmu.” Sungyu terkejut, hatinya merasa sangat sesak.

“Maaf jika aku selama ini merepotkanmu dan membuatmu kesulitan.” Jaehee tersenyum kecut. “Aku akan pergi dari hidupmu. Aku benar-benar akan membebaskanmu. Jangan khawatir tentang keluarga kita, aku yang akan mengurusnya. Aku akan menemui pengacara dan mungkin surat pengajuan persetujuan perceraian kita  akan datang padamu seminggu lagi. Berbahagialah dengan hidup barumu.”

                Sunggyu tak mampu berkata apa-apa. Bibirnya kelu. Lidahnya seolah menghilang. Tenggorokannya terasa tercekik.

                “Aku pergi!” Jaehee mengangkat kopernya dan beranjak pergi. Sunggyu masih dalam keadaan Shock dengan perkataan jaehee.

                Betapa bodohnya Sunggyu. jaehee adalah gadis yang sangat patuh dan penyayang. Begitu dia melepaskannya pasti begitu banyak pria yang menginginkannya. Dia begitu tulus dan tanpa pamrih.

                “Andwae!”

BRAKKK!!!

Sunggyu menarik koper jaehee dan melemparnya. Jaehee terkejut tak percaya dengan apa yang Himchan lakukan.

Koper itu terbuka, baju Jaehee berserakan. Jaehee berjalan memunguti baju itu dan memasukkannya kembali dalam koper. Sabar.

“Aku bilang tidak!” Sunggyu sedikit berteriak.

Jaehee kembali mengangkat kopernya dan hendak pergi.

BRAKKKK!!!

Sunggyu merebut koper itu dan melemparkannya lagi ke sudut kamar jaehee.

“Ku Mohon oppa, jangan sakiti aku seperti ini. bebaskan aku jika kau kasihan padaku.” Jaehee mulai menangis dan memohon kepada Sunggyu yang kini tertunduk menahan amarah. “Jangan tahan aku.” Jaehee terguguk pilu.

Jaehee berbalik dan memtuskan pergi tidak membawa kopernya.

“Jangan pergi… jebal!” Sunggyu memeluk Jaehee yang hendak pergi dari belakang.

                Jaehee tertegun tak percaya dengan apa yang Sunggyu lakukan. Perlahan air mata Jaehee pun menetes. Jaehee hanya terdiam membisu.

                “Jebal jangan pergi park jaehee! aku bisa mati tanpamu.” Hati jaehee bergetar, dia merasakan pundaknya basah. Dan tak berapa lama Sunggyu terguguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada jaehee.

                “Jebal jangan pergi.” Sekali lagi Sunggyu memohon kepada jaehee. “Aku membutuhkanmu park jaehee, aku tak mampu hidup tanpamu. Aku mencintaimu park jaehee. aku sungguh mencintaimu.”

                Jaehee berbalik dan menatap Sunggyu lebih dalam. Sunggyu perlahan meraih wajah jaehee dan sedikit menunduk mensejajarkan jaehee dengannya.

                “Demi Tuhan aku mencintaimu park Jaehee. jangan tinggalkan aku.” Dengan perlahan Sunggyu mendekati wajah jaehee dan mengecup pelan bibir jaehee hangat kemudian memeluknya lagi semakin erat. Jaehee terguguk tak percaya mendengar pernyataan dari Sunggyu. Namun kemudian hati mengalahkan egonya. Jaehee perlahan membalas pelukan Sunggyu.

                Dengan perlahan Sunggyu melepaskan pelukannya dan menatap Jaehee lagi. Jaehee hanya menunduk sambil terisak.

                “Tatap aku park Jaehee.” Sunggyu merengkuh kedua pipi Jaehee dan sedikit menunduk untuk menatap mata Jaehee yang begitu sembab dan sayu.

                “Aku tak mencintai gadis itu, Aku mencintai gadis lain. Gadis yang selalu merawatku, gadis yang selalu bertahan di dekatku. Gadis yang begitu kuat dan tegar di sampingku. Maafkan aku. Maafkan aku karena melukaimu.” Jaehee hanya menangis tertahan mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Sunggyu.

                “Kau… istriku. Aku tak akan mungkin  melepasmu. Aku bisa mati tanpamu di sisiku.” Sunggyu mengusap air mata yang mengalir di pipi Jaehee. kemudian mengecup bibir jaehee lagi lembut dan hangat, ciuman yang sangat jaehee inginkan selama ini. kini benar-benar dia rasakan. Perlahan Jaehee menutup matanya merasakan ciuman Sunggyu yang terasa begitu tulus dan tidak menuntut.

                Perlahan tangan Sunggyu meraba lembut punggung jaehee. Jaehee tak mampu berkutik dan hanya pasrah menanti apa yang akan di lakukan Sunggyu padanya. Perlahan ciuman Sunggyu yang begitu lembut berpindah ke lehernya dagunya yang akhirnya mampu membuat jaehee merasa lebih mengharapkan Sunggyu.

                Entah sejak kapan blouse yang dikenakan jaehee kini sudah terjatuh, bandana di rambutnya sudah terlepas. Jaehee benar-benar tak sadar sejak akapan hal itu terjadi dan bahkan Sunggyu kini sudah memeluknya hangat tanpa kemeja yang tadi dia pakai.

                “Eunghhhh….” Jaehee meremas rambut Sunggyu ketika pria itu menciumi area dada Jaehee dan sesekali menghisap di sana.

                “Ahhh…oppaahhh….” Jaehee menarik sprei hijau muda tempat tidurnya dengan kuat ketika dia merasakan sesuatu yang kecil memasuki tubuhnya. Sunggyu menciumi dada dan leher jaehee perlahan. Dia sangat tau Jaehee menyukai kelembutan.

                Tiba-tiba tubuh jaehee menegang dan kemudian lemas, jaehee merasakan sesuatu mengalir di bawah sana untuk pertama kalinya. Sunggyu menatap jaehee meminta persetujuan untuk melakukan lebih. Jaehee hanya terdiam dan kemudian mengangguk perlahan.

                “Ahhkk… sak..it…” Jaehee merintih tertahan, tangannya mencengkeram erat bahu Sunggyu, air matanya mengalir lagi. Matanya terpejam berusaha menahan rasa sakit karena sesuatu yang asing memasuki tubuhnya. Lebih besar dari yang pertama. Dia merasakan perih yang teramat sangat. Ini baru pertama kalinya untuknya.

                “Mian….” Sunggyu mengucapkan maaf pelan sembari mengecup kedua mata jaehee perlahan sehingga Jaehee membuka matanya.

                Jaehee menggeleng pelan dan tersenyum menatap Sunggyu. Perlahan tangan Jaehee yang mencengkeram erat bahu Sunggyu kini perlahan menggapai wajah Sunggyu yang berada di atasnya dan terus menatapnya. Jaehee mengusap pelan dahi Sunggyu yang penuh dengan peluh.

                Sunggyu juga melakukan hal yang sama dengan Jaehee, dia menyibakkan anak  rambut Jaehee dan mengusap peluh di kening Jaehee. setelah merasa rileks Sunggyu mulai melakukan yang lebih pada Jaehee. desahan nafas yang saling memburu mengisi ruangan bercat hijau muda itu. jaehee terlihat sesekali mencengkeram sprei dan mengerang.

                “Eummhhhh….” Desahan mereka terdengar bersamaan ketika jaehee merasakan sesuatu keluar tubuhnya dan di susul sesuatu yang hangat terasa memasuki perut bawahnya.

                Jaehee terlihat kelelahan, Sunggyu mencoba mengatur nafasnya tersenyum dan menatap jaehee. Jaehee membalas tatapan Sunggyu melakukan hal yang sama.

                “Gomawo…” Sunggyu mengecup kening Jaehee yang berada di bawah tubuhnya. “Gomawo… kau istriku untuk saat ini dan selamanya. Jangan tinggalkan aku.” Sunggyu mengecup bibir jaehee pelan.

                Jaehee merasa bibirnya kelu mendapat perlakuan Sunggyu yang begitu reflex dan tanpa dia duga sebelumnya. Bahkan dia sudah menyerahkan semuanya pagi ini untuk Sunggyu.

                “Tidurlah…!” Sunggyu menarik selimut dan mendekap Jaehee dalam pelukannya. Sebenarnya Sunggyu sangat ingin lebih, tapi dia tau Jaehee sedang sangat kelelahan.

===

                Sunggyu menggeliatkan tubuhnya ketika dia merasa telah tidur sangat lama. Dengan perlahan senyum mengembang di bibirnya. Namun betapa terkejutna dia ketika dia tersadar tak lagi mendekap Jaehee dalam pelukannya.

                Dengan reflek dia terduduk bangun mencoba mengingat. Ya dia tidur memeluk jaehee di kamar Jaehee sebelum dia benar-benar terlelap dalam tidurnya. Tapi kemana Jaehee kini? Pikirannya terus berkecamuk. Takut. Khawatir.

                Dengan sigap dia menyibakkan selimutnya, menggapai celana boxernya yang awalnya tergeletak di lantai kini sudah berada di gastok. Dia sangat tau Jaehee yang merapikannya, dia mencoba mencari Jaehee setelah memakai celananya. Koper yang tadi di lemparnya di sudut kamar pun kini sudah tak ada. Sunggyu semakin takut.

                “Jaehee-ya!” Sunggyu berlari keluar dari kamar Jaehee dengan perasaan kalut. “Jaehee-ya!!!” Sunggyu terus berteriak.

                Dia merasa frustasi dan menjambak rambutnya sendiri takut membayangkan jika Jaehee benar-benar pergi.

                “Yak Oppa, waegurae??” sebuah suara terdengar dari arah dapur.

                Sunggyu sontak terkejut dan menoleh kearah suara.

                “Yakkk… kenapa kau menakutiku!!!” Sunggyu menghambur kearah Jaehee dan memelukknya erat.

                “menakuti?” Jaehee tak mengerti maksud Sunggyu.

                “Aku takut kau benar-benar pergi.” Sunggyu semakin mengeratkan pelukannya.

                “Ani… aku hanya memasak makan malam untuk kita.” Jaehee tersenyum melihat tingkah suaminya. Ya kini Sunggyu benar-benar menjadi suaminya setelah pengakuan dan apa yang telah terjadi di antara mereka pagi itu. “Apa kau benar-benar mencintaiku?” Jaehee ingin memastikan sekali lagi.

                “Apa yang kulakukan padamu tadi pagi masih belum cukup membuktikannya?” Sunggyu melepaskan pelukannya dan menatap Jaehee yang kini pipinya merah merona.

                “Aish… sudah! Mandi sana, aku mau lanjutkan memasak.” Jaehee mencubit pinggang Sunggyu.

                “Awwww…” Sunggyu meringis kesakitan.

                “Yak berlebihan! Aku hanya menyentuhmu!”

                “Tapi itu sakit jagiya!”

                Jaehee yang berjalan menuju dapur pun berhenti mendengar perkataan Sunggyu.

                “Kau bilang apa oppa?”Jaehee menoleh kea rah Sunggyu ingin mendengarkan kembali apa yang dikatakan suaminya.

                “Yang mana?” Sunggyu tampak Bingung.

                “Yang tadi.”

                “yang mana? Sakit?”

                “Bukan!”

                “jagiya?”

                “Katakan sekali lagi!”

                “Jagiya!”

                “Aku mau dengar sekali lagi!”

                “JAGIYA SARANGHAE!!!” Sunggyu berteriak kemudian menghampiri Jaehee dan membopongnya menjauhi dapur menuju kamarnya.

                “Yakkk aku sedang memasak!” Jaehee terkejut dan sedikit malu-malu.

                “Lupakan! Aku tak lapar.”

                “Kompornya?”

                Mendengar pertanyaan Jaehee, Sunggyu yang membopongnya berbalik arah ke dapur dan mematikannya kemudian berjalan lagi kea rah kamar.

                “Yakk oppa… cuciannya masih banyak.” Jaehee mencari alasan takut-takut.

                “lupakan cucian. Aku mau kamu. Sepertinya aku tadi pagi masih belum cukup membuktikannya padamu. Jadi kita lakukan lagi.” Sunggyu mengerling kea rah jaehee.

                “MWO????”

                BLAAAMMM!!! Dan pintu pun terkunci rapat.

The end

               

                Sesuai janji saya pada Yonggyu90 eonnie gak buat NC yang begitu Hot, tapi gak tau juga kalo hasilnya Hot keukeu~

                Advice & comment Juseyo ^^

Luph ^^JokerZi89 & Yonggyu90^^

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:KO;}

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 28/12/2013, in OS and tagged , , . Bookmark the permalink. 24 Comments.

  1. bagus, tp kurang panjang

  2. Keren v da bbrp typo😛

  3. Raisa Jarief

    Aaaaaaa kereeeenn! Asli, banjir air mata pas bagian jaehee mau pergi trs ditahan ama sunggyu! Daebak thooorrr!😀

  4. daebak chingu.walaupn ada typo yg ganggu😀

  5. ihhhh sunggyu sweet banget hahahaha
    mau deh punya suami sweet kayak dia xD

  6. arsyie layurea

    mf tp knp g ada penjelasan tentang hubungan jiyeon sama sunggyu,,,,mantan kah atau masih berhbngan???

  7. sequelnya dong thor😉

  8. fauziyyah rahma s

    sequelnya donk

  9. hoooot?
    Aku gak tau yang pasti daebak!
    Aku suka!
    Udah dulu deh!

  10. suka suka bnaget sama cerita nya,sequel dong thor

  11. buat author yonggyu90 ide FF’a kren n buat author jokerzi89 NC’a kurang Hot😀
    Di tunggu krya brkut’a ^^

  12. bagus tpi thor masih ada typo….

  13. sunggyu's angel

    Kereeen feel nya dpt bgt, sampe tumveh tumveh ni air mata :p

  14. nyiahahhahh,,,, so sweeeeeetttttttttt 🙂

    waaaahhhh lebih seru kalo ada sequelllll nie thor 😀

    keren thor keren,,,,, kalo anak sekarang bilang tuh “keren bingit”😀

  15. sorry saya masih bingung sama tokohnya. kenapa saat ngomongin himchan tiba tiba ada sunggyu? itu typo atau karna buatnya malam? atau gimana?

  16. Bagus banget ceritanya.. Daebak! Author jjang!! ^^

  17. nice ff! Author jjang!

  18. Trus himchan kmna ??? Dia nerima ajj prnikahan jaaehee sama sunggyu ??? Trus jiyeon kok bisa2nya nyium sunggyu , emang dia siapanya sunggyu , ??

  19. aq suka ffnya🙂
    takaran nc ny pas,romance ya jg😀
    wks beras ap kk pkek takaran😀

  20. keren..kerenn..keren banget cerita.y

  21. Great story, i love it😉 (y)

  22. gyupitswife

    ceritanya keren thor, bikin gerah auuu

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: