Insane 2—You Got Me (END)

Insane_cover

Title: Insane 2—You Got Me

Author: Hachi3424

Cast: Yesung, Han Youngmin (OC)

Genre: Romance, NC, little crazy (?)

Rating: 17+

Type: oneshoot series

**

 

(Yesung’s POV)

 

Sejak hari itu, hari di mana aku dan Youngmin melakukan sesuatu yang yah… bisa disebut ‘terlarang’ di ruang tamu rumahku, suasananya kembali seperti biasa. Youngmin kembali menjadi gadis dewasa yang kekanakan, manis, dan tentunya aneh. Kami sering bertengkar karena hal-hal sepele, kebanyakan aku yang memulai pertengkaran itu. Tapi seperti biasa dia akan selalu mengalah. Permainannya semakin menarik saja. Hehehe…

“Hey hey, sedang apa kau di situ?” tanyaku sedikit bingung saat mendapati gadis tengil itu di dapur. Dia membelakangiku, membuatku tidak bisa melihat kesibukannya di sana.

“Oh, kau sudah bangun? Selamat pagi, Yesung-ssi!” balasnya dengan senyum lebar. Hm.. aku sudah bilang kalau dia sangat manis, kan? Sepertinya pagiku akan menjadi lebih berwarna karena senyumannya yang selalu menyambutku.

“Kau sedang apa? Jangan bilang kau mau membakar dapurku,” tanyaku dengan kedua mata yang memicing. Matanya ikut memicing, tapi beberapa saat kemudian dia menghampiriku di meja makan dengan sesuatu di tangannya.

Uh? Bibimbap?

“Kau memasak?” ucapku sedikit ragu. Aku tidak yakin bibimbap itu bisa dimakan.

Dia mengangguk semangat, lalu menyodorkan bibimbap itu ke depanku. “Hari ini aku mulai memasak. Bagaimana? Ini kemajuan, kan? Sudah hampir seminggu, aku bosan makan makanan cepat saji terus,” ujarnya beralasan. Aku kembali menatap bibimbap di depanku dengan pandangan ragu. Meskipun aku tidak akan mati hanya karena bibimbap sih.

“Kau tidak meracuniku, kan?”

“Maksudmu?!”

“Hehehe… hanya bercanda,” kataku sambil menyengir lebar.

Youngmin hanya mendengus, lalu sibuk memakan bibimbapnya sendiri. Sedangkan aku mulai menyantap bibimbap di depanku.

Rasanya lumayan, ternyata gadis ini bisa memasak juga.

“Bagaimana?” tanyanya sambil tersenyum puas. Sepertinya dia tahu aku mulai menyukai masakannya. Tapi bukan seperti ini permainannya.

“Sebenarnya aku bisa saja membeli makanan yang lebih enak dan sehat dibanding masakanmu, tapi…” Kulihat wajahnya berubah cemberut. Nah, seperti inilah yang permainan yang kumaksud. Mempermainkan ekspresi wajahnya sangat menyenangkan. Hahaha… “Tapi kau sudah berusaha untuk terlihat manis di depanku, jadi aku harus menghargainya,” lanjutku sambil mencolek dagunya.

Ia buru-buru menepis tanganku dari dagunya dan meringis jijik. “Siapa yang mau mencari perhatianmu, pabo? Isshh…”

Kau memang tidak pernah mencari perhatianku, Youngmin. Tapi perhatianku sudah tercuri sepenuhnya olehmu.

 

**

 

(Author’s POV)

 

Yesung berjalan menuju kamar Youngmin yang berada di depan pintu kamarnya dengan memasang dasi pada lehernya. Ia sudah terbiasa berpamitan pada gadis itu sebelum berangkat ke kantor. Ia juga terkadang memberikan beberapa lembar uang yang nilainya tidak sedikit pada Youngmin agar gadis itu bisa memesan makanan cepat saji yang ia inginkan selama sendirian di rumah, tapi dengan catatan dia tidak boleh keluar rumah tanpa seizin Yesung.

“Hhh… Kenapa dia selalu mengataiku jelek?”

Yesung terdiam mendengar suara bisikan yang berasal dari kamar Youngmin. Ia membuka sedikit pintu kamar gadis itu dan mengintip apa yang sedang Youngmin lakukan di kamarnya.

Youngmin sedang berdiri di depan cermin, menatap pantulan sosoknya di sana dengan wajah murung, seperti sedang memikirkan sesuatu dengan keras. Yesung terus memerhatikan Youngmin dengan seksama. Apa yang gadis itu sedang lakukan sendirian di kamarnya?

Perlahan Youngmin menyentuh perutnya yang rata. “Aku tidak gemuk, kok…” gumamnya serius. Sementara Yesung semakin bingung dengan ocehannya.

Youngmin memerhatikan tubuhnya yang kecil itu, yang hanya dibalut dress selutut yang bahannya cukup tipis. Hampir tidak ada cela pada sosoknya, tapi ia semakin bingung kenapa Yesung terus mengatainya jelek dan tidak menggoda. Padahal pria itu sudah pernah menidurinya, aigoo

“Punyaku juga lumayan,” gumam Youngmin lagi, kali ini membuat Yesung membelalakkan matanya di balik pintu. Youngmin meraba dadanya sendiri dan sesekali meremasnya.

‘Pabo yeoja! Apa yang kaulakukan?!!!’ jerit Yesung dalam hati. Ia membalikkan badannya dan menepuk-nepuk kedua pipinya yang sudah memerah. Dia tidak mimpi kan? Iyakan? Pria itu kembali mengintip ke dalam dan kali ini yang dia lihat adalah Youngmin yang sedang memerhatikan pahanya di depan cermin.

“Ah, sayangnya aku pendek, ya…” bisiknya sambil mengusap pahanya, membuat pandangan Yesung terfokus pada paha mulus itu.

Yesung menelan ludahnya dengan susah payah, sementara Youngmin menutupi kembali sebagian pahanya dengan rok dressnya. Ia berbalik dan dengan cepat Yesung menyingkir dari sana. Tanpa ia sadari sebagian dirinya di bawah sana sudah menegang.

Ya, sejak kapan kau di sini?” tanya Youngmin ketika ia baru saja keluar dari kamar. Yesung hanya melipat kedua tangannya di depan kamar Youngmin dengan wajah datar. Terima kasih untuk Youngmin yang terlalu polos untuk menyadari bahwa Yesung menahan nafsunya di depannya.

“Baru saja. Kau sedang apa di kamar? Kenapa bisik-bisik sendiri?” Yesung balik bertanya dan mata Youngmin otomatis membesar.

“Kau mendengarnya?!”

“Mendengar apa? Kau hanya berbisik-bisik, apa yang bisa kudengar?!” balas Yesung dengan nada tinggi sambil menggosok kedua telinganya karena teriakan Youngmin.

Youngmin mendesah lega sambil mengelus dadanya. Hah… kalau saja Yesung mendengar semua ocehannya bagaimana dia harus menghadapi pria ini?

“Kau mencariku, ya?” tanya Youngmin.

“Aku hanya mau bilang, hari ini aku lembur. Jadi akan pulang sedikit terlambat.” Yesung membuka dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang pada Youngmin, seperti biasa.

“Jam berapa kau pulang? Kau tahu tidak baik meninggalkan seorang gadis di rumah sebesar ini,” ujar Youngmin dengan wajah serius yang dibuat-buat.

“Heh? Kau gadis? Bukannya kau sudah pernah—”

“STOP!!! Jangan dibahas lagi! Itu memalukan, tahu!!!” jerit Youngmin histeris sambil membekap mulut Yesung.

“Aissh, arraseo!” Yesung menepis tangan Youngmin dari mulutnya dan menatap gadis itu dingin. “Memangnya kenapa? Aku kan bukan ayah atau ibumu.”

“Eh, kau lupa? Aku tinggal di rumahmu karena perjanjian itu, jadi kau bertanggung jawab atas diriku,” kata Youngmin beralasan sambil menggembungkan dirinya.

Yesung memicingkan matanya sinis. “Jangan khawatir, hantu-hantu di sini tidak jahat, kok,” katanya enteng, sedangkan Youngmin terbelalak.

“Maksudmu?!”

“Oh, kau belum tahu, ya? Di sini, terutama di kamarmu, banyak hantunya. Tapi tenang, mereka tidak jahat kok.” Yesung tersenyum lembut, sok baik dan sok manis. Padahal dalam hatinya dia sudah bersorak senang karena berhasil membuat gadis itu ketakutan.

“Ta–ta–tapi… Ah, kau pasti bercanda, kan??” tanya Youngmin dengan wajah pucat.

Yesung hanya menjawabnya dengan menggeleng polos. “Hantunya baik, kok. Tapi… mereka tidak suka kalau ada gadis aneh yang suka berteriak, kekanakan, penakut, dan jelek sepertimu.”

“Aku tidak jelek!!!”

“Nah, kan sudah kubilang tidak boleh berteriak?”

Youngmin buru-buru membekap mulutnya sendiri. Matanya sudah berkaca-kaca membayangkan hantu-hantu yang akan mengganggunya.

“Tapi.. kau akan segera pulang, kan?” tanyanya dengan suara serak. Bersyukurlah Yesung mampu menahan tawanya.

“Ngg… Tergantung. Kalau pekerjaanku sudah selesai aku pasti akan pulang. Yasudah, aku pergi dulu. Annyeong!” ujar Yesung sambil melambaikan tangannya dan berjalan melewati Youngmin.

Diam-diam Youngmin menahan isak tangisnya. Hantu… ia takut hantu. Dan betapa teganya Yesung memberikannya kamar yang penuh dengan hantu. Sedangkan Yesung? Dia hanya tersenyum lebar penuh kemenangan. Nappeun namja!

 

**

 

(Youngmin’s POV)

 

Sialan, sialan, sialan…!!! Kenapa aku harus ditakdirkan untuk bertemu dengan pria mata keranjang seperti Yesung? Kenapa aku harus membuat perjanjian bodoh itu? Dan kenapa aku harus terjebak di rumahnya yang err… berhantu ini?! Kenapa?!!!

Omma, andwae! Aku tidak mau dibunuh hantu-hantu di sini!! Lebih baik Yesung yang dibunuh dan aku bisa terbebas darinya. Hiii…

Ini baru jam empat sore tapi aku sudah bertanya-tanya ke mana si Yesung itu. Bukannya aku rindu padanya, tapi… bagaimana bisa dia meninggalkan seorang gadis manis di rumah berhantu seperti ini?!

Sejak tadi aku tidak bisa fokus pada tayangan di depanku. Mungkin bisa dibilang TV yang menontonku, bukan sebaliknya. Tanganku terus gemetaran, telapak tanganku bahkan sudah dingin dan berkeringat. Sejak tadi pagi aku tidak bisa berpindah tempat dengan leluasa. Aku takut… bagaimana jika tiba-tiba ada penampakan di belakangku? Andwae, jangan sampai!

“KYAAAAA…!!!”

Aku melonjak kaget saat teriakan memekakkan telinga itu terdengar. Kenapa tayangan di TV hari ini banyak film horrornya? Apa mereka tidak tahu kalau aku sedang ketakutan setengah mati, hah? Hampir semua channel yang kuganti semuanya menayangkan film horror. Jika terus seperti ini aku bisa mati ketakutan di ruang TV! Lebih baik aku ke kamar saja.

Tapi baru dua langkah aku meninggalkan ruang TV, tiba-tiba lampu di seluruh rumah ini padam. Ups… aku lupa Yesung pernah bilang kalau kamarku penuh dengan hantu. Hiks, omma… tolong aku.

 

**

 

(Author’s POV)

 

Yesung baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Karena pekerjaan yang menumpuk malam ini dia tidak bisa ke club seperti biasa. Apalagi sejak Youngmin tinggal di rumahnya, ia tidak pernah keluar rumah hanya untuk ke club dan mencari yeoja lain. Untuk apa mencari yeoja lain kalau di rumahnya ada yeoja berparas bidadari?

Untuk refreshing, Yesung membuka browser pada tablet PC nya dan mencari gambar-gambar yeoja seksi di google. Tapi entah kenapa dia tidak bisa fokus sejak tadi. Biasanya dia akan langsung mengagumi tubuh-tubuh molek gadis-gadis itu, tapi sekarang? Dia tidak bisa… kenapa, ya? Yang diingatnya hanya Youngmin. Padahal dia berani bersumpah, yeoja-yeoja di dalam tablet PC nya itu 1000 kali lebih cantik daripada Han Youngmin. Tapi kenapa sekarang seluruh sistem kerja otaknya dipenuhi oleh bayangan Han Youngmin?! Dasar, gadis tengil itu sudah membuat Yesung gila!

Oh iya, gadis itu sedang apa, ya?

Yesung mengambil handphone nya di dalam saku celananya dan melakukan panggilan keluar ke nomor ponsel Youngmin. Cukup lama Yesung menunggu seseorang menyahut di seberang sana, apa gadis itu sudah tidur, ya? Tapi ini kan masih jam tujuh malam. Tidak lama kemudian seseorang menyahut dengan suara bergetar.

Yeobo… seyo?

Yesung mengerutkan dahinya. Gadis itu kenapa? “Ya, kau kenapa?” tanyanya.

Youngmin terisak pelan. Sepertinya gadis itu habis menangis. “Aku… a…aku takut…” jawabnya pelan, membuat Yesung kembali harus menahan tawanya. “Yesung… ka..kau kapan pulang…?”

Waeyo? Kau rindu padaku, ya?”

An… ani…” Youngmin kembali terisak. “Yesung… cepatlah pulang… a..aku benar-benar takut..”

“Aah, bilang saja kau rindu padaku.”

“Yesung… aku… serius…”

Yesung terdiam mendengar Youngmin berbicara dengan penekanan pada setiap katanya. Sepertinya gadis itu benar-benar ketakutan sendirian di rumah. Yah, bercandaan Yesung memang sudah keterlaluan.

Ne, aku pulang sekarang,” ujarnya sebelum mematikan sambungan telepon dan bangkit dari kursinya. Tepat saat ia melangkah menuju pintu, dua orang pria berdiri di sana dengan senyum lebar mereka.

Hyung!” sapa mereka bersemangat.

“Ya! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?! Pulang sana! Sudah malam, tahu!” teriak Yesung sambil mendorong pundak kedua sahabatnya itu. Tapi sayangnya kedua pria itu malah menarik pundaknya untuk kembali.

Hyung, tidak biasanya kau segalak ini,” sungut Eunhyuk dengan poutnya yang menjijikkan.

Ne, kami ke sini untuk menjemputmu, Hyung,” sambung Donghae.

“Menjemputku…?”

“Sudah lama kau tidak ke club, jadi kami sengaja ke sini untuk mengajakmu bersenang-senang. Tidak ada salahnya, kan?” kata Donghae sambil bertos ria bersama Eunhyuk sambil tertawa senang. “Bagaimana?”

“Bagaimana apanya? Aku harus pulang.” Yesung berjalan melewati Eunhyuk dan Donghae, tapi sekali lagi kedua pria itu menahan kedua lengan Yesung. Kali ini mereka menyeret hyung-nya itu dengan paksa.

“YAAAAA!!! LEPASKAN AKU, BODOH!! HEY, MONYET JELEK! IKAN AMIS!! LEPASKAN AKUUU!!!”

 

**

 

Sementara Yesung dipaksa oleh dua manusia labil, Youngmin masih meringkuk ketakutan di ruang TV. Ia sengaja bersandar di belakang sofa sambil memeluk kedua lututnya. Hanya sinar dari ponselnya yang menemaninya. Rasanya ini sudah hampir satu jam sejak ia mengangkat telepon dari Yesung. Katanya Yesung akan segera pulang, tapi mana buktinya? Sampai sekarang hanya Youngmin yang duduk sendirian di ruang TV sambil meringkuk. Ia takut dan kedinginan. Melangkah sedikit untuk mengambil selimut atau bantal sofa pun dia tidak berani, yang ia butuhkan hanya Yesung. Ke mana sih namja itu?!

“Hiks… Omma.. Yesung jahat.”

 

**

 

“Aissshh! Harus berapa kubilang aku harus pulang sekarang!” teriak Yesung, meskipun suaranya hampir tenggelam karena suara musik yang terlalu keras.

“Ck, Hyung. Tenang saja, yeoja itu tidak akan mati kalau kau tidak segera pulang, bersenang-senang saja dulu sebentar di sini,” balas Eunhyuk sambil mengibaskan sebelah tangannya, kemudian tertawa-tawa bersama yeoja di sebelahnya.

Mati? Mungkin saja Youngmin akan mati jika dia tidak segera pulang. Yeoja itu bisa mati ketakutan di rumah yang (katanya) berhantu itu.

“Aish, aku benar-benar harus pulang!” gerutu Yesung sambil bangkit dari sofa di sudut diskotik itu.

Oppa, kenapa buru-buru sekali, eoh?” goda seorang yeoja berpakaian mini yang tiba-tiba menghampiri Yesung. Yesung hanya diam memerhatikan yeoja itu dari atas sampai bawah dengan sinis. Tapi Eunhyuk dan Donghae hanya terkikik geli.

“Aku harus segera pergi,” ujar Yesung ketus.

“Aaah, Oppa… Kenapa harus buru-buru?” rengek yeoja itu sambil memainkan dasi Yesung. Sepertinya akan sulit jika harus digoda seperti ini.

Tapi ajaib! Yesung yang biasanya menyukai yeoja nakal seperti itu, hanya menepis tangan yeoja nakal itu dan pergi begitu saja. Sedangkan di belakangnya yeoja itu berserta Eunhyuk dan Donghae hanya ternganga tak percaya. Benarkah? Yesung yang ‘nakal’ bisa berubah menjadi anak baik seperti tadi?

 

**

 

Yesung mengendap-endap memasuki rumahnya sendiri. Ternyata benar, seluruh lampu di rumahnya mati. Apa Han Youngmin masih hidup di dalam sana?

“Youngmin-ah!” panggil Yesung, tapi tidak ada yang menyahut. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, menjadikan cahaya ponselnya sebagai lampu senter untuk memandu jalannya.

Ia berjalan menuju tangga, namun sebuah suara tangisan menghentikan langkahnya.

“Youngmin?” Yesung berjalan menuju ruang TV yang tidak jauh dari tangga. Ia mencari-cari sosok Youngmin di sana, tapi tidak ada seorangpun selain dirinya di sana. Sampai akhirnya dia menginjak sesuatu. Heh, ponsel?

“Eh?”

“Young—”

“HUWAAAAAAAAAAA!!!!”

“AAAAAAAAAAAAA!!!”

“AAAAAAAA!!!”

“KYAAAAA!!!”

Kedua orang aneh itu berteriak keras seperti baru saja menemukan hantu di depan wajah mereka. Youngmin masih berteriak histeris, sementara Yesung ikut berteriak dengan lampu ponsel yang hanya menyinari wajahnya dari bawah. Persis seperti hantu di TV-TV. Pantas saja Youngmin ketakutan seperti itu.

“Ya! Ya! Ini aku! Yesung!!” bentak Yesung yang langsung menghentikan teriakan Youngmin.

Gadis itu mengerjapkan matanya polos, lalu menghambur ke dalam pelukan Yesung secara tiba-tiba.

“Huwaah! Kukira kau hantu, Yesung-ah! Omo… syukurlah!” seru Youngmin sambil memeluk Yesung tanpa sadar.

Yesung hanya diam merasakan kedua pipinya memanas. Ini pertama kalinya ia merasakan hal aneh ketika diperlakukan seperti ini oleh seorang yeoja. Apa hanya Han Youngmin yang bisa melakukannya? Tidak, tidak! Yesung, sadarlah! Ini bukan waktunya untuk berpikiran seperti itu!

“Sejak kapan kau di sini? Kenapa tidak tunggu saja di kamar, huh?”

“Bagaimana bisa aku menunggumu di kamar, sementara kau bilang di sana banyak hantunya?”

“Jadi kau tidak ke mana-mana sejak tadi?”

Ne… kau bilang akan segera pulang? Kenapa lama sekali? Apa kau mau membunuhku?!”

“Bukan begitu. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak. Maaf.”

“Sejak tadi siang aku ketakutan, tahu!!!”

Yesung diam. Baru kali ini ia mendengar Youngmin berteriak sekeras itu.

“Hiks.. aku benar-benar takut, tahu…” Youngmin kembali terisak sambil menutupi wajahnya, lalu duduk di lantai.

Yesung hanya terdiam, ia merasa bersalah telah membohongi Youngmin hingga seperti ini. Ia tidak memikirkan sampai sejauh ini, ia pikir gadis itu tidak mungkin terjebak di dalam ketakutannya. Tapi ternyata dia benar-benar takut seharian ini.

“Hyunchan juga melakukan hal yang sama…”

Yesung menoleh pada Youngmin, walau hanya cahaya ponsel yang menyinari wajah gadis itu. “Siapa?”

“Hyunchan… dia mantan pacarku..”

Yesung diam, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya ketika Youngmin menyebutkan nama itu. Ia tahu gadis itu pasti masih terus mengingat mantan pacarnya yang telah mencampakkannya.

“Aku pindah ke Seoul hanya untuk dia…” isak Youngmin. Bahunya berguncang menahan isakan yang terus membuat dadanya terasa sesak.

“Lalu?”

“Dia baik, sangat baik. Dia bahkan meyakinkanku bahwa tinggal di Seoul sangat menyenangkan. Awalnya memang sangat menyenangkan, apalagi aku bisa dekat dengannya lebih lama daripada saat aku tinggal di Busan. Tapi kemudian… dia meninggalkanku,” jelas Youngmin, membuat Yesung ingin mendengarkan penjelasannya lebih jauh lagi.

“Kenapa dia bisa.. meninggalkanmu?” tanya Yesung hati-hati. Dia tidak mau Youngmin menangis sehebat tadi.

Youngmin memeluk lututnya. “Orangtuanya menjodohkannya dengan yeoja lain. Huh… seharusnya aku tahu sejak awal kalau orangtuanya tidak pernah bisa menerimaku. Aku tahu, aku ini gadis polos, tidak begitu pintar dan tidak sehebat mereka, dan… aku juga tidak secantik yeoja itu.”

“Kau tidak jelek, kok.”

Mwo?” Youngmin menoleh pada Yesung. Otomatis matanya membulat dan menghentikan tangisannya tanpa ia sadari. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas di dalam gelap. Tapi ia bisa melihat bola mata Yesung yang menatapnya lekat-lekat.

“Kau manis… dan cantik,” ucap Yesung, membuat dada Youngmin terasa berdebar. Seperti ada yang meledak-ledak di dalam dadanya, entah kenapa. Apa karena ucapan Yesung barusan?”

“Ka..kau bercanda kan?” Alis Youngmin bertaut. Ia tidak percaya pujian itu keluar dari bibir Yesung. Biasanya pria itu selalu mengatainya jelek.

“Tidak.”

“Tapi…”

“Itu karena aku su…” Yesung memotong ucapannya sendiri. Matanya membulat mendengarkan ucapannya sendiri. Su? ‘Su’ apa? Suka? Apa benar dia mulai menyukai gadis tengil ini?

Youngmin mengerutkan dahinya melihat Yesung yang sedang sibuk berkutat dengan pikiranya sendiri. “Su? Su apa?” tanyanya, membuat Yesung kalut.

“Su… Su…”

“Su…?”

“A…aku…”

Duh, mau bilang suka saja susah sekali! Kenapa kata itu malah tidak bisa keluar dari mulutnya, sih?! Yesung sampai ingin menjambak rambutnya sendiri. Mengutarakan perasaan ternyata lebih sulit dari yang ia pikirkan.

“Yesung, kau baik-baik saja?” Youngmin menyentuh Yesung dengan hati-hati menggunakan ujung telunjuknya. Ia menekan-nekan pundak Yesung dengan ujung telunjuknya beberapa kali sampai Yesung menarik tangannya dan mengunci tubuhnya di dalam dekapannya yang kelewat erat.

“Ye.. hmph!!”

Yesung mengunci bibir Youngmin dengan bibirnya. Ia melumat bibir mungil itu dengan kasar, menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya tanpa melewatkannya sedikitpun. Youngmin sendiri kewalahan meladeni bibir Yesung yang sedang aktif pada bibirnya. Kedua tangan Youngmin telah berpindah pada kedua pundak Yesung, meremas jasnya hingga berantakan sambil berusaha membalas perlakuan Yesung pada bibirnya.

Perlahan tapi pasti Yesung membuka bibir Youngmin dengan lidahnya. Lidahnya menyelinap dengan perlahan ke dalam mulut gadis itu ketika ia mendesah. Dia menjilati lidah Youngmin, membuatnya mendesah semakin keras. Sementara itu sebelah tangannya membuka resleting dress Youngmin. Jemarinya bermain di punggung halus Youngmin, sedikit menggelitiknya hingga tubuh kecil Youngmin bergerak-gerak pelan. Tak lama kemudian tangan nakal Yesung mulai membuka pengait bra Youngmin.

Tautan bibir mereka terlepas, digantikan dengan Yesung yang mendorong Youngmin hingga ia berbaring di lantai. Yesung mulai memeloroti dress Youngmin beserta branya dengan tak sabar.

Srekk.

“AAAAA!!!!” Youngmin menjerit histeris sambil menutupi dadanya.

Tiba-tiba saja lampu di ruangan itu menyala dan itu mengejutkan Yesung. Apalagi teriakan Youngmin hampir membuat telinganya tuli.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Youngmin. Ia berusaha menyingkirkan Yesung dari atas tubuhnya tapi tetap saja pria itu tidak mau bergerak. Dia bahkan semakin kesulitan bergerak karena sibuk melindungi tubuhnya yang nyaris tanpa busana.

“Kau berisik sekali, Han Youngmin…” desis Yesung tajam. Telinganya semakin berdenging.

“Memang!” sahut Youngmin ketus sambil menggembungkan kedua pipinya.

Imut sekali.. Yesung tidak bisa berpikir jernih jika melihat wajah Youngmin yang seperti itu. Sebenarnya Youngmin itu terbuat dari apa? Kenapa bisa seindah itu?

Sepertinya otak Yesung sudah terkontaminasi oleh Han Youngmin.

Dengan mudah Youngmin dapat menyingkirkan tubuh Yesung dari atas tubuhnya. Ia segera memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Gadis itu berniat pergi ke kamarnya di lantai dua walau tubuhnya hanya ditutupi dengan dressnya yang hampir robek akibat ulah Yesung. Tapi sebelum kaki-kaki halusnya melangkah menaiki anak tangga yang pertama, sebuah tangan mengunci tubuhnya.

“Yesung?”

“Aku menyukaimu, Han Youngmin,” bisik Yesung dari belakang. Dia memeluk Youngmin dengan sangat erat, protektif. Sedangkan Youngmin hanya bisa terdiam dengan kedua matanya yang membulat kaget.

Yesung menyukainya? Yesung, si bad boy ini? Astaga, pasti Youngmin sudah dikutuk!

“Ta..ta..tapi… kita kan…”

“Terlalu cepat?” potong Yesung yang dibenarkan oleh Youngmin. “Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi aku menyukaimu. Aku mohon… jangan pernah menolakku.”

Dia membalikkan tubuh Youngmin yang hanya bisa menurut, lalu menyeringai lebar menatap wajah Youngmin yang sudah sepucat mayat. “Lagipula… bukankah kau milikku? Perjanjian kita waktu itu berlaku seumur hidup, dan kau tidak boleh menolak untuk menjadi kekasihku. Arraseo?” katanya egois, seolah menjadi perintah yang tidak boleh dibantah.

Mata Youngmin seperti mau keluar dari kelopaknya. “Mwoya?

“Kenapa? Kau keberatan?!” bentak Yesung dan reflek saja Youngmin menggelengkan kepalanya.

Hah, dasar bodoh! Kenapa kau menggeleng, Youngmin? Harusnya kau menolaknya!

“Sekarang aku menginginkanmu, Han Youngmin.”

Youngmin rasanya ingin mati saja. Kenapa dia harus terperangkap di kandang buaya? Ya, Yesung si buaya darat!

“Ma..ma…ma..ma..maksudmu?” tanya Youngmin takut. Suaranya bergetar dan terdengar sangat pelan.

Yesung hanya menyeringai lebar. Dia suka saat Youngmin mulai ketakutan.

“Apa kurang jelas? Aku menginginkanmu! A-ku me-ngi-ngin-kan-mu!” kata Yesung yang kembali membuat Youngmin ketakutan setengah mati.

Entah apa yang terjadi, tapi yang Youngmin sadari adalah tubuhnya sudah diangkat oleh Yesung menuju… kamarnya?

TIDAK! Ini pemaksaan namanya!

“Omma, appa!!! Tolong akuuu…!!!!!”

 

**

 

Eunhyuk keluar dari club malam bersama Donghae di belakangnya. Wajah mereka terlihat lesu, tidak seperti biasanya. Mungkin itu karena Yesung yang tiba-tiba berubah menjadi aneh. Tiba-tiba saja Eunhyuk mendapat pencerahan (?). pria berwajah mesum itu (plakk!!) menoleh pada Donghae dan membisikkan sesuatu. Perlahan-lahan senyum mesum yang terlihat aneh tercetak di bibir mereka.

“Ide bagus. Tunggu apa lagi? Ayo kita ke sana!” ujar Donghae semangat sambil bersorak senang setelah mendengar ide bagus dari Eunhyuk.

Mereka langsung meninggalkan club malam itu dan melajukan mobil mereka menuju suatu tempat. Suatu tempat? Ya, untuk melaksanakan ide bagus (mungkin lebih tepatnya licik?) mereka. MUAHAHAHAHA #author mulai gila.

 

**

 

(Youngmin’s POV)

 

“Ye..Yesung… Tapi kita bisa bicara baik-baik,” ujarku menahan dadanya saat Yesung mulai mendekati wajahku. Dia sedang menindihku di atas ranjangnya. Ya, ranjangnya karena sekarang kami berada di kamarnya yang sengaja dikunci rapat-rapat.

Dia mendengus, seperti tidak suka dengan penolakanku. Menolak? Tentu saja aku menolak! Tidak jadi kekasihnya saja sangat menyusahkan apalagi kalau aku jadi kekasihnya? Aku akan menderita seumur hidup! Dan kenapa juga dia tiba-tiba bilang suka padaku? Sepertinya aku sudah dikutuk sejak awal.

“Apa lagi yang harus dibicarakan? Bukankah sudah jelas? Aku menyukaimu, Han Youngmin. Aku menginginkanmu,” katanya egois dan langsung menarik belakang kepalaku untuk menempelkan bibir kami.

Aku masih berusaha menolak. Bibirku kututup rapat-rapat, tapi sepertinya Yesung tidak menerima penolakanku. Dia terus melumat bibirku dengan sedikit kasar, sementara kedua tangannya terus menahan kedua sisi wajahku agar aku tidak bisa melepaskan pagutannya.

“Mmmhh…”

Aku terus memberontak, tapi sepertinya percuma. Yesung terus saja melumat bibirku tanpa merasa terganggu sedikitpun. Dan tiba-tiba saja kurasakan sesuatu meremas bokongku dengan sangat keras membuatku terkejut dan tanpa sengaja membuka mulut. Sialnya kesempatan itu digunakan Yesung untuk menelusupkan lidahnya ke dalam mulutku. Dia mengabsen susunan gigiku dan membelit lidahku kuat-kuat.

Aku merasa tidak tahan. Aku ingin berhenti, tapi sulit sekali menolak pria ini. Yang bisa kulakukan hanya bisa mencengkeram kedua lengannya kuat-kuat.

Tanpa kusadari sebelah tangan Yesung memasuki celana dalamku dan mencoba memasuki daerah kewanitaanku. Ya, Tuhan… apa yang harus kulakukan?

“Eunnghh….”

 

**

 

(Yesung’s POV)

 

“Eunnghh….”

Jari-jariku mencoba memasuki lipatan kewanitaannya yang masih sempit, sedangkan bibirku masih terus menguasai bibir serta lidahnya. Youngmin terus mendesah. Aku tahu dia menolakku, lihat saja daritadi dia terus mencengkeram lenganku kuat-kuat sambil mencoba mendorong tubuhku. Tapi sayangnya tenaganya kalah dengan tenagaku.

Ayolah, Youngmin.. jangan membuang-buang tenagamu dengan percuma. Kau takkan bisa menolakku kali ini.

Suara decakan terus menggema di kamarku yang terkunci ini, jari-jariku pun mulai bergerak-gerak menggodai organ intimnya. Suasana semakin memanas saat tiba-tiba saja…

TING… TONG…!

Aissh, siapa yang mengganggu di saat seperti ini!?

“Si.. siapa itu?” tanya Youngmin saat melepas bibir kami yang menempel secara sepihak.

Aku hanya mendengus tak senang. Bisa-bisanya ada orang yang menggangguku di saat seperti ini.

“Sudah, biarkan saja. Paling-paling itu orang yang tidak penting,” ujarku sambil menarik tubuhnya ke dalam dekapanku dan mencoba mencium bibirnya lagi. Tapi dia mencegahku. Padahal tinggal sedikit lagi dia sudah bisa masuk ke dalam permainanku.

“Tapi tidak sopan kalau kau mengabaikan tamu,” katanya polos.

“Ya, tapi tidak seharusnya seseorang datang dengan tidak diundang seperti ini,” balasku tak peduli.

Kucengkeram kedua pergelangan tangannya agar dia tidak bisa bergerak untuk melawan atau menolak. Kusambar bibirnya yang mungil itu dan melumatnya penuh hasrat. Dia tetap saja menolak dengan menutup bibirnya rapat-rapat. Dengan terpaksa kulepaskan ciumanku.

“Kenapa tidak membalas?” tanyaku ketus. Jujur saja aku tidak suka ditolak.

Dia hanya diam sambil menggembungkan pipinya. Mungkin itu pertanda dia sedang kesal.

“Di luar ada tamu, bodoh,” katanya, membuatku kesal saja.

“Biar saja!” balasku.

Langsung saja kulepaskan jas beserta kemejaku. Youngmin terlihat semakin ketakutan. Dia terus beringsut mundur hingga terpojok di kepala tempat tidur. Seringaiku langsung tercetak sempurna sambil membuka satu persatu kancing bajuku dan merangkak mendekatinya.

“Kau terlihat semakin cantik saja kalau ketakutan begitu,” kataku menggodanya. Dia semakin ketakutan dan hanya bisa membulatkan kedua matanya.

“Ye..Yesung.. kau bercanda, kan?”

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng. Han Youngmin, dia lucu sekali. Aku sangat ingin memilikinya. Berbeda dengan wanita lain yang hanya bisa ku ‘pakai’ tanpa ada hasrat ingin memilikinya.

Dia memekik keras saat aku menyerbu lehernya yang terlihat putih mulus itu. Kuhisap kulit lehernya kuat-kuat, dengan sengaja kutinggalkan bekas kemerahan di sana. Tanda kepemilikanku. Tangan kananku tidak tinggal diam. Kuremas sebelah payudaranya yang terbebas dari kain.

“Angghh…”

Dia terus mendesah sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Aku sudah tidak peduli lagi, aku memang sudah gila. Aku tergila-gila padanya, gadis tengil yang bahkan belum kukenal dengan baik.

“Yesunghh… Aaah..”

Bibirku berpindah pada dadanya. Menghisap gundukan sintal itu beserta nipplenya yang tampak menggoda. Tubuhnya sesekali mengejang menahan hasrat yang memuncak. Youngmin melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya dengan menjambak-jambak kecil rambutku hingga berantakan. Puas dengan payudaranya, aku berpindah pada perutnya yang rata dan halus. Kukecupi permukaan perutnya yang putih mulus itu dengan sesekali menjilatinya.

“Ye..Yesung… Hentikan..”

Jangan menyuruhku berhenti, baby. Kau milikku sekarang.

Drrt… drrtt…

“Yesunghh… pon..ponselmu bergetar… oohh…” ucapnya susah payah.

Kulirik ponselku yang masih berada di saku jas. Aku sudah tidak peduli lagi. Biar sajalah. Paling-paling hanya urusan kantor. Itu bisa diatur besok.

“Biarkan saja,” kataku tak peduli.

Kelihatan sekali Youngmin kesal padaku yang terlihat tak peduli. Apalagi dia kupaksa melakukan ini bersamaku. Tapi aku benar-benar ingin memilikinya. Apa aku salah jika aku menyukainya?

“Ta..tapi…” Youngmin mencoba berbicara tapi ucapannya terputus saat kulepaskan celana dalamnya dan menampakkan daerah kewanitannya yang sedikit basah. Dan itu terlihat sangat menggoda.

Baby, kau sudah basah ternyata, eoh?” Kumasukkan jari tengahku ke dalam lipatan kewanitannya, mengaduk-aduknya perlahan sampai mengenai klitorisnya.

“Akh… sshhh aahh….”

Wajah Youngmin terlihat tersiksa sekali. Tapi aku menyukai wajahnya yang sedang terangsang. Apalagi saat dia mendesah dan menyebutkan namaku, suaranya terdengar sangat indah.

“Ngghhh…. ssshhh ahh..”

“Apa terasa sangat nikmat, Youngmin?” tanyaku sambil mengencangkan tekanan jariku pada klitorisnya.

Dia hanya mengerang keras, menikmati sentuhanku pada kewanitaannya yang mulai mengeluarkan cairan bening. Kuaduk-aduk organ intimnya, tak peduli dia yang terus kelihatan tersiksa. Pinggangnya mulai bergerak-gerak. Dia benar-benar merangsangku.

TING… TONG…!

Beraninya orang asing itu menggangguku!

“Yesunghh… Hentikanhh sajahhh… aahh.”

“Biarkan saja.”

“Tapi … bagaimana kalau… AKH!”

Crot!

Cairannya keluar saat dia mencoba berbicara. Tidak kupedulikan suara bel yang terus berbunyi. Aku hanya sibuk membersihkan organ intimnya dari cairan bening yang keluar. Banyak sekali, sampai-sampai mengalir di paha dan sedikit membasahi spreiku. Sengaja kubuka selangkangannya lebar-lebar supaya mempermudahku membersihkan alat kewanitaannya itu.

“Aaahh… Yesunghh… ssttthhh aaahhh…”

“Ini nikmat, chagi.”

Lidahku sampai masuk ke dalam organ intimnya, menjilati klitoris yang berwarna merah menggoda.

“Aaahh… oohh..”

“Tidak mau menyentuhku?” tanyaku seteleh selesai menggoda titik pusat tubuhnya dengan lidahku.

Kubuka ikat pinggang dan resleting celana kainku, lalu menuntun tangannya masuk ke dalam celanaku dan meremas-remas pusat tubuhku.

“Aahh…”

“Yesung…?”

Youngmin terlihat bingung dan takut. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku terus menuntun tangannya untuk meremas-remas milikku di dalam sana.

“Asshh…”

 

**

 

(Youngmin’s POV)

 

“Asshh…”

Aku bingung. Yesung terus mendesah sementara tanganku dipaksa untuk menyentuh titik pusat tubuhnya. Aku harus bagaimana? Baru saja aku dipaksa menjadi kekasihnya dan kini dia kembali memaksaku untuk melakukan ‘ini’ dengannya. Huwaaa, omma! Kutukan macam apa ini?!

“Aahh… Youngminhh, kocokhh… kocok dia… aahhh..” desahnya lagi.

Aku semakin bingung harus bagaimana. Tapi sepertinya Yesung tidak menerima penolakan apapun. Dia menuntun tanganku untuk mengocok miliknya yang sudah menegang di dalam celananya. Sementara itu ponselnya terus bergetar.

“Yesung, ponselmu bergetar. Mungkin ada hal yang penting?” kataku ragu. Bagaimana pun aku harus menghentikan semua ini. Aku benar-benar tidak mau lagi melakukan ‘ini’ dengannya ahjussi mesum tidak tahu malu ini! ><

“Bi..biarkan saja..” jawabnya dengan susah payah. Dia benar-benar menikmati sentuhanku sepertinya.

Lihat saja. Wajahnya sudah sangat terangsang. Matanya tertutup rapat sementara bibirnya digigit kuat-kuat. Dia terlihat… seksi. Eoh? YAK! Apa yang baru saja kupikirkan?!!

“Sebaiknya kau angkat dulu teleponnya.”

“Tidak usah.. aku sedanghh… menikmatinya.. ahhh…”

“Yesung…”

“Sssttthh ahhh…”

Daripada terus-terusan begini, bel pintu juga terus-terusan berbunyi. Lebih baik aku memilih jalan paling nekad saja.

“YAAAKK, apa yang kau lakukan?” bentaknya tak terima.

Aku tidak mempedulikannya yang terus berteriak tak terima kenikmatan yang dirasakannya kuhentikan begitu saja. Aku segera mengambil ponselnya yang bergetar dan menyodorkannya padanya.

“Jawab dulu. Sepertinya penting,” kataku dengan wajah yang dibuat-buat sepolos mungkin sambil menutupi tubuh depanku dengan selimut tebal.

Yesung terlihat sangat marah dan kesal. Dengan sangat terpaksa dia merampas ponselnya dari tanganku, lalu menjawabnya dengan nada tinggi. Haah… akhirnya raja iblis itu pergi juga, sekarang lebih baik aku kabur sebelum iblis itu datang lagi.

 

**

 

(Author’s POV)

 

Yoboseyo?!” teriak Yesung pada penelepon yang dianggapnya ‘sangat mengganggu’ itu. Yesung duduk di pinggiran kasurnya, membelakangi Youngmin yang sibuk menyelubungi tubuhnya dengan selimut tebal secara diam-diam.

Hyung, nada bicaramu kasar sekali. Kami hanya ingin bertamu,” sahut orang di seberang sana, Yesung bisa menebak itu adalah suara Eunhyuk.

“Bertamu?”

Ne, kami sudah di depan rumahmu.”

Mata Yesung terbelalak lebar. “YAAK, jadi kau yang menggangguku daritadi hah?!”

“Hah? mengganggu?”

“Ya, kau menggangguku. Tidak usah bertamu, kau pergi saja. Aku juga tidak akan membukakanmu pintu sampai besok pagi.”

“Aisssh, Hyung. Jangan bilang kau sedang melakukan ‘itu’ bersama yeoja tengil itu.”

“Kalau iya memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu kan? Pergi sana!”

“Tapi…”

TUT!

Yesung melemparkan ponselnya sembarangan di atas meja. Lalu berbalik dan… dia kaget menyadari tidak ada siapapun di atas ranjangnya.

“HAN YOUNGMIN!!!” teriaknya memanggil Youngmin yang ternyata sudah keluar dari kamarnya saat dia menjawab telepon dari Eunhyuk.

Namja itu… Dasar!” bisik Youngmin pada dirinya sendiri. Dia semakin ketakutan saat mendengar langkah kaki Yesung mendekatinya.

Dia buru-buru berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.

“Fuuuh…” Youngmin menghela nafasnya lega. Setidaknya dia bisa mengelabui raja setan itu kali ini. Hehehe…

TOK! TOK! TOK!

“YA! HAN YOUNGMIN, BUKA PINTUNYA!!!” teriak Yesung dari luar.

Youngmin membulatkan matanya mendengar teriakan Yesung. Pintu kamarnya sepertinya hampir rubuh karena pria itu menggedornya dengan sangat kuat. Sepertinya dia benar-benar marah. Tapi mau bagaimana lagi? Youngmin takut…

“HAN YOUNGMIN!!!”

“TIDAK MAU!” teriak Youngmin. Suaranya terdengar takut. “Aku tidak mau keluar! Kau menakutkan, Yesung!”

“Justru hantu-hantu di dalam sana lebih menakutkan dibanding aku!!”

**

(Youngmin’s POV)

 

“Justru hantu-hantu di dalam sana lebih menakutkan dibanding aku!!”

Mwo? Hantu?! Tidaaakkk!!! Aku baru ingat kalau di sini banyak hantunya. Aku langsung bergegas membuka kunci pintu kamar, tapi kenapa tidak bisa digerakkan?

KLIK!

“AAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

“Youngmin-ah! Kau kenapa?!”

Kudengar Yesung berteriak panik di luar sana. Sepertinya dia khawatir padaku. Eh, khawatir? Apa benar dia khawatir padaku? Dia kan sangat menyebalkan.

“Kau yang mematikan lampunya?!” tanyaku setengah berteriak. Kenapa tiba-tiba lampunya mati lagi? Tidak mungkin Yesung yang mematikannya, karena di luar lampu juga mati.

“Bukan!” jawab Yesung. “Buka pintunya!”

“Tidak bisa, kuncinya macet!”

Astaga, kenapa jadi begini? Di dalam sini gelap dan dingin. Aku takut… Kalau aku terkunci di sini semalaman aku bisa mati di makan hantu. Ya, Tuhan.. aku benar-benar bingung dan takut. Aku dengar ada suara langkah kaki di luar. Apa Yesung pergi meninggalkanku? Dia meninggalkanku di saat seperti ini, jahat sekali…

Semua laki-laki sama saja. Selalu meninggalkanku di saat aku membutuhkan mereka. Hyunchan.. dia juga pergi meninggalkanku. Hanya karena orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami, dia meninggalkanku. Tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa mencegahnya.

Aku sudah tidak tahan. Akhirnya aku duduk bersandar pada dinding sambil menangis. Aku teringat kembali pada Hyunchan. Padahal seminggu ini aku sudah mulai melupakannya. Tapi….

Cklek..

“Youngmin-ah, kau tidak apa-apa?”

Aku menoleh ke arah pintu. Ada Yesung di sana dengan sebuah senter di tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku rasa dia mencemaskanku. Otakku tidak bisa bekerja dengan baik sepertinya. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menghambur memeluknya. Aku benar-benar takut. Tubuhku juga bergetar saat aku bangkit dari lantai.

“Kau menangis?”

“Aku takut, Yesung! Kau ke mana saja?! Kenapa malah pergi hah?!” bentakku sambil terisak keras. Aku benar-benar takut. Aku takut dia mengabaikanku sampai besok pagi. Aku takut dia memperlakukanku seperti Hyunchan. Aku juga takut pada hantu-hantu di sini.

Mianhae, Youngmin-ah. Tadi aku mencari kunci cadangan pintu kamarmu,” jawabnya. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku benar-benar takut dan butuh perlindungan saat ini. Hah… aku jadi ingat bagaimana Hyunchan menenangkanku dulu.

“Seharusnya kau juga tidak pergi dariku, manis.”

Tiba-tiba aku tersentak mendengar kata-kata Yesung. Sepertinya dia kembali menjadi raja iblis. Aku mengangkat wajahku dari dadanya dan mendapati senyum liciknya di tengah kegelapan. Tanpa menunggu lagi dia langsung mengangkat tubuhku yang hanya dibalut selimut tebal.

“Yesung, hentikan! Kau mau membawaku ke mana?!” teriakku sambil memberontak. Tapi percuma, kemungkinan terburuknya aku akan terjatuh dari gendongannya.

“Mau ke mana lagi? Tentu saja ke kamarku,” jawabnya. Lagi-lagi aku tersentak. Namja ini… di saat seperti ini dia masih mau melanjutkan ‘itu’?! Dasar namja!!! “Atau kau mau kita melakukannya di kamarmu yang banyak hantunya ini?”

ANDWAE!!!”

“Kalau begitu ayo kita lakukan di kamarku saja!”

Sepertinya IQ Yesung di atas rata-rata. Di dalam gelap seperti ini dia masih bisa berjalan ke dalam kamarnya. Padahal lampu di seluruh rumah ini mati. Hanya ada cahaya dari luar jendela yang menerangi kamarnya.

Dia menurunkan tubuhku di atas ranjangnya perlahan-lahan, sangat berhati-hati takut aku terluka jika dia kasar sedikit saja. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi aku bisa merasakan tubuhnya mulai merangkak di atas tubuhku. Aku bisa melakukan apa? Aku takut gelap dan sangat takut hantu.

“Ye..Yesung… Kita sudah pernah melakukannya satu kali, apa kau mau melakukannya lagi? Coba dipikir-pikir dulu.”

“Justru karena kita sudah pernah melakukannya aku ingin mengulanginya lagi, Youngmin-ah. Aku ketagihan denganmu, kau sangat…” Wajahnya mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu. “Kau sangat istimewa bagiku.”

Wah, gawat! Namja ini tidak main-main ternyata!

“Yesung, jangan!”

SREK!

Tubuhku terasa dingin saat dia menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhku. Selimut itu sengaja ia jatuhkan di atas lantai, membiarkan cahaya remang-remang memperlihatkan tubuh polosku. Aku malu… tapi sudah terlambat untuk itu.

“Kau lihat? Tubuhmu itu indah. Mungkin mantan kekasihmu terlalu bodoh untuk menyadari itu,” katanya sebelum kembali melumat bibirku.

Aneh.. kali ini aku merasakan ada sensasi aneh di dalam dadaku. Seperti memaksaku untuk membalas perlakuannya. Mungkin itu karena dia menciumku dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Jangan pernah menolakku, Han Youngmin. Jebal…” bisiknya lembut setelah melepaskan pagutannya pada bibirku.

Ah, sial. Aku merasa pipiku memanas saat ini. Dia menatapku penuh arti setelah menciumku dan tadi aku membalas ciumannya. Aku tahu aku tidak bisa menolaknya, tapi tetap saja… aku malu.

“Ssshh oooh, Yesunghh…”

Tiba-tiba Yesung meremas dadaku sementara dadaku yang sebelahnya lagi dikulumnya dengan nikmat. Dihisap-hisapnya nippleku seperti bayi yang sedang kehausan. Lidahnya pun menjilati nippleku yang sudah menegang di dalam mulutnya. Aku hanya bisa mendesah dan terus mendesah. Kepalaku mendongak sambil membuka mulut, mencari oksigen yang terasa tidak cukup untuk mengisi paru-paruku.

“Euunngghh… Yesunghh geli.. ooohh…” desahku yang membuat ulahnya semakin menjadi-jadi.

Jari-jarinya memilin nippleku dengan semakin liar. Mulutnya pun tak kunjung lepas dari payudaraku. Dia malah terus-terusan menghisap nippleku bahkan lebih kencang.

Plop! Tiba-tiba dia melepaskan mulutnya dari payudaraku. Ada apa?

“Kita langsung saja.”

Hah, maksudnya langsung itu apa?

“Maksudmu…?” tanyaku bingung.

Tapi yang dia lakukan hanya membuka celananya hingga telanjang sama sepertiku. Pandanganku langsung terfokus pada satu titik… pusat tubuhnya. Dia sudah menegang ternyata, lihat saja benda itu sudah tegak sekali.

Astaga, apa yang baru saja kupikirkan!?

“Asshh…”

Yesung menempelkan pusat tubuh kami dan mencoba memasukkan miliknya ke dalam tubuhku. Rasanya sedikit nyeri namun nikmat. Ujung miliknya mulai memasuki milikku dan seperti menggelitik tubuhku.

“Aaahh Youngmin.. kau masih basah ternyata?” katanya, tapi tidak kupedulikan. Mataku tertutup merasakan sensasi aneh saat dia menyatukan tubuh kami.

“Aaargghh…”

“Tahanhh… sebentar lagihh…” katanya. Aku hanya bisa menggigit bibirku kuat-kuat sambil memeluk punggungnya erat-erat.

Tubuhku sudah basah oleh keringat, begitu pula punggungnya yang tegap dan mulai terasa licin. Aku baru menyadari dia memiliki tubuh yang indah. Idaman para wanita.

“Euungh…” desahnya lega.

“Sudah masuk?” tanyaku memastikan.

“Sudah.”

Dia mulai menggerakkan tubuhnya dan otomatis tubuhku ikut bergerak berlawanan arah. Pusat tubuhku terasa seperti ditusuk-tusuk, tapi rasanya nikmat. Meski ini bukan yang pertama kali, tapi rasanya seperti pertama kali.

“Hhhh… Youngmin, kau masihh sempiitthhh…” katanya dengan susah payah. Dia terlihat sedikit kesulitan menggerakkan miliknya di dalam tubuhku.

Aku semakin mempercepat gerakanku untuk membantunya bergerak. Dia mendesis seperti ular, sepertinya dia menikmatinya.

“Euunnghhh… Yesungghh… pelanhh pelanh sajahh.. Aakkhh…” pintaku.

“Apa terasa.. sakithhh?”

“Ahhh ani… tapi akuhh… sedanghhh menikmatinyaahh…”

Dia menurut padaku. Gerakannya semakin melambat, namun tusukannya semakin kencang. Aku mengerang beberapa kali karena dia terus menghantamkan tubuhnya pada G-spotku. Rasanya semakin nikmat. Tidak terhitung sudah berapa kali aku mengeluarkan cairanku dan itu membuat alat kelamin kami bergesekan semakin cepat karena daerah kewanitaanku semakin licin.

“Aaahhh…. ssshhhh… fasterhh Yesunghh…” erangku tak tahan. Tubuhku meliuk-liuk merasakan sentuhannya.

Tubuh kami yang menyatu.. tangannya yang menyentuh tubuhku dengan lembut.. dan bibirnya yang mengecup seluruh tubuhku. Semua itu membuatku merasa gila. Aku ingin dia melakukan lebih meski sebenarnya otakku belum bisa bekerja dengan benar.

“Oohhh ohh… aaahh…. mmmhhh….”

Gerakan Yesung semakin liar. Kurasakan benda asing di dalam tubuhku itu bergetar hebat hingga sesuatu yang hangat menyembur ke dalam rahimku bersamaan dengan cairanku yang ikut keluar.

“Hahhh…” Kami sama-sama mendesah lega.

Tapi Yesung belum puas dengan klimaks kami tadi. Dia melepaskan kontak tubuh kami dan menuntun tubuhku untuk berbalik. Aku berpegangan pada kepala ranjang dan tubuhku bertumpu pada lutut. Sementara dia mulai menyentuhkan miliknya yang masih mengeras ke dalam daerah kewanitaanku dari belakang.

“Akh!! Sakit, bodoh!! Lepaskan!!” teriakku sambil menjambak rambutnya.

“Yak! Yak! Yak! Jangan menjambakku! Dasar yeoja tengil!!” balasnya tak kalah galak sambil menepis tanganku dari rambutnya. Dia bahkan mencubit pinggangku keras-keras sebagai balasan.

Appo!!” jeritku.

“Makanya jangan menggangguku!”

Dia ini bodoh atau apa? Di saat seperti ini masih saja bernafsu. Aku tahu dia sedang termakan nafsunya sendiri, tapi apa dia tidak tahu aku sedang kesakitan hah? Rasanya lebih baik menyatuhkan tubuh kami dari depan seperti tadi, daripada seperti ini. Rasanya lebih sakit, tapi sepertinya Yesung tidak merasakan sakit sama sekali.

“Argh!”

“Apa sangat sakit?”

“Tentu saja sakit, pabo!” balasku sambil berteriak.

Tangan Yesung tiba-tiba bergerak menyentuh pipiku. Ternyata ada air mata di sana tanpa kusadari. Mungkin efek dari rasa sakit dan perih pada bagian selangkanganku.

“Hentikan, Yesung. Rasanya sakit,” pintaku. Mungkin terdengar manja, tapi aku benar-benar tidak tahan jika harus menahan rasa sakit ini.

“Tidak apa-apa. Kita lakukan pelan-pelan, ne?” bujuknya. Aku hanya bisa menurut, lagipula memangnya dia bisa menerima penolakanku. Huh, itu mustahil.

“Tapi.. pelan-pelan.”

Arraseo.”

Akhirnya dia menggerakkan tubuhnya maju mundur secara perlahan. Sangat pelan dan lembut, seperti tidak ingin aku merasakan sakit seperti tadi. Walaupun rasanya lebih sakit daripada yang tadi, tapi ada sedikit rasa nikmat saat pusat tubuh kami bergesekan. Sensasi aneh itu datang lagi membuatku ingin merasakan lebih. Hahh… sepertinya otakku memang sudah rusak. Bagaimana mungkin aku melakukan ini dengan Yesung? Seorang Yesung?! Namja licik berwajah malaikat berhati iblis!

“Asshhh….”

“Apa masih sakit?” tanyanya. Pertanyaannya mengembalikan kesadaranku. Ternyata dari tadi dia memerhatikanku dan menjaga gerakannya, ya? Tidak kusangka Yesung bisa memperlakukanku seperti ini. Biasanya dia sedikit kasar padaku, dia juga sering mengataiku jelek. Pokoknya dia terlihat jahat di mataku. Tapi sekarang…

“Youngmin-ah, apa masih terasa sakit? Kita hentikan saja?” tanyanya lagi.

“Tidakhhh… tidak apa-apa… aahh…” jawabku susah payah.

Miliknya di dalam sana mengenai G-spotku. Cairanku pun terus-terusan keluar mengalir di pahaku dan membasahi kasur Yesung. Lama kelamaan gerakan kami semakin cepat. Rasa sakit itu juga tidak terlalu terasa lagi. Desahan dan erangan terus terdengar bersahutan di kamar Yesung. Tidak jarang juga tangannya menyentuh punggung, pinggang, sampai ke dadaku. Tangan-tangan nakalnya terus meremas payudaraku dan memilin nippleku. Membuatku merasakan kenikmatan di dua tempat.

“Euummmhh…”

“Youngminhh… aku hampirrhh sampaiihh… aaakkhh…”

“Akhh.. aku juga…hhhh.”

“Kita keluarkanhh bersamahh, sayanghhh…”

“Hehh..? kau memanggilkuhh apahhh???”

“Oohhh Youngminnhhh aku sampaiiihh…”

Kurasakan milik Yesung semakin membengkak di dalam tubuhku dan terus bergetar hebat. Sebelum menyemburkan suatu cairan hangat yang langsung berlomba-lomba memasuki rahimku. Beberapanya ada yang mengalir ke di paha kami.

Kami sama-sama mendesah lega. Aku langsung berbalik dan merebahkan tubuhku yang lemas di kasur setelah Yesung melepaskan kontak tubuh kami. Mataku langsung tertutup saking lelahnya. Bayangkan saja, Yesung melakukannya dua kali. Dan itu pun secara memaksa. Dasar…

Tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada yang menyentuhku di sebelahku. Lebih tepatnya ada yang memelukku. Itu Yesung dan aku yakin dia juga sudah menyelubungi sebagian tubuh kami dengan selimut tebalnya yang tadi terjatuh di lantai.

“Kau sudah tidur?” tanyanya sambil mengecup belakang kepalaku.

Aku hanya diam, berpura-pura tidur. Aku juga sudah tidak kuasa lagi mengobrol dengannya. Aku sangat lelah.

“Meskipun kau sudah tidur aku hanya ingin bilang… aku sudah tertarik padamu sejak kita pertama kali bertemu. Aku tahu aku bukan pria yang baik. Tapi untukmu aku akan belajar menjadi pria yang baik.”

Aku tidak pernah membayangkan Yesung akan bicara seperti itu. Biasanya dia akan mengejekku, membentakku, bahkan menghinaku. Tapi sekarang.. dia seperti menyatakan perasaannya padaku. Apa aku benar-benar sudah masuk ke alam mimpi?

“Aku menyukaimu, Han Youngmin. Ah, ani. Mungkin aku mencintaimu. Saranghaeyo, Youngmin.. jalja.”

Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya diam. Aku menunggu sampai aku benar-benar tertidur dengan Yesung yang memelukku lembut. Rasanya hangat, bahkan lebih hangat daripada pelukan Hyuncan. Apa… aku juga menyukai Yesung? Molla… Yang aku tahu aku memerlukan Yesung untuk melupakan laki-laki yang sudah meninggalkanku itu.

Yesung… apa kau benar menyukaiku atau kau hanya mempermainkanku? Meski aku membencimu, karena kau menyebalkan. Tapi aku harap pernyataan cintamu itu benar-benar tulus dari hatimu. Gomawo, Kim Jong Woon.

 

**

[Epilog]

{Flashback}

“Aisssh, Hyung. Jangan bilang kau sedang melakukan ‘itu’ bersama yeoja tengil itu.”

“Kalau iya memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu kan? Pergi sana!”

“Tapi…”

TUT!

Eunhyuk mendengus keras menyadari teleponnya di matikan begitu saja oleh Yesung. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dengan kasar, sementara Donghae menatapnya penasaran.

“Yesung hyung sedang sibuk!” semprotnya pada Donghae yang baru saja mau membuka mulut. “Dasar, tidak pernah Yesung hyung seperti ini.”

Donghae mendecak kesal. “Apa mungkin dia benar-benar sudah tergila-gila pada yeoja tengil itu?” tanyanya ragu.

“Yesung hyung? Menyukai wanita? Kukira dia hanya bisa mempermainkan wanita.”

Molla, siapa tahu saja dia benar-benar menyukai yeoja itu.”

Tiba-tiba terlintas ide jahil di kepala Eunhyuk. Namja berwajah mesum itu menjetikkan jarinya dan mengeluarkan ponselnya lagi.

“Mau apa?” tanya Donghae bingung.

“Aku mau menelepon kantor pusat listrik (?).”

“Untuk apa?”

“Sst tenang saja! Aku akan buat rumah Yesung hyung mati lampu sampai besok pagi. Itu balasan untuknya karena mengabaikan kita. Hehehe…”

“Heh… bukannya itu malah membuatnya semakin leluasa melakukan ‘itu’ pada yeoja tengil itu?”

“Biar saja. Mungkin bisa dibilang aku juga akan membantunya.”

 

-END-

 

Author Note: Maaf ya buat yang kecewa Insane 1 nya. Disitu aku memang lagi belajar. Susah banget bikin karakter cewek polos yang melakukan hal ‘itu’ sama bad boy. Hehehehe… Apa di sini Youngmin udah keliatan polos? Jawab di komentar ya. Aku juga lagi belajar nulis yang beginian. Makasih buat yang udah nungguin Insane seri kedua ^^

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 28/12/2013, in FF and tagged . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. love it
    😀
    squel dong

  2. waaaah setelah sekian lama nunggu insane akhir nya update jg … pdhl ini salah satu ff yg aku tunggu2 . tp dipart ini kok jd kurang greget ya thor . rasa nya ada yg kurang … bikin sequel nya ya thor pleaseeeee … keep writing

  3. I like this
    😛

  4. Ayunie CLOUDsweetJewel

    Ini udah bagus koq menurut aku. Karakter polos Youngmin juga dapet. Tapi memang sengaja ya nggak dikasi konflik? Atau konfliknya nanti di chapter 3? *Modus

  5. keren thor.. kasihan bgt eunhae di cuekin hhahahaha
    butuh sequel nih thor

  6. Keren,,,,,,,
    Sequel dong author,jebal.

  7. masih kurang, tambah lagi

  8. Good story..

  9. Eunhyuk ada2 ajjj , trnyata dia yg bkin listrik d rumah yesung matii ,, tp d part ini gaa ad konfliknya yaaaa ,? Gmna klo bikin lanjutannya si hyunchan tba2 mncul dan mnta youngmin buat balik lagi k dia , dan youngmin bngung harus mlih yesung atau hyunchan :p

  10. thor sequel lagi ya..ya..ya ?? please ditunggu kelanjutannya..!!
    tetep semangat ya thor

  11. Need sequel

  12. Ceritanya bagus thor

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: