Take the Gloves Off (YunMin Couple)

yunho tvxq ff nc

1. Author: N/M

2. Title: Take the Gloves Off (YunMin Couple)

3. Type: Straight, Romance, Erotika (NC)

4. Casts: Jung Yunho (DBSK), Park Min Rin (OC)

Authors’ Note : Annyeong, Chingudeul… We’re back again. Kali ini
kita mau mempersembahkan FF Yunho.
Btw, kalau kalian berminat baca cerita kita yang lain, bisa buka
hanneloreaubury.wordpress.com
Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komennya, ya ^^

_____

Riak air di ember plastik yang dibawa oleh Yunho terdengar. Ia
kelihatan mengangkatnya dengan santai, seolah-olah ember itu enteng.
Padahal tidak. Meskipun sebenarnya ia sanggup mengangkat benda yang
lebih berat daripada itu, konsistensi telah membunuhnya pelan-pelan.
Mengangkat ember besar berisi air beberapa liter dan—yang lebih
parah—harus membawanya mengelilingi seluruh penjuru apartemen itu
berulang-ulang, pastinya dapat membuat tangan kekar manapun, seperti
miliknya, nyeri-nyeri. Oleh karena itu, pekerjaan itu sebenarnya tidak
enteng baginya. Akan tetapi, Yunho menampakkan kalau ia
bersenang-senang dengan itu. Ia ingin tampak kuat dan menakjubkan di
depan gadis yang kini jalan bersejajaran dengannya; Minrin.

“Oppa,” panggil Minrin.

Yunho menoleh kepada gadis bermuka bundar dan alis cukup tebal yang
terukir cantik itu. Ia agak merundukkan wajah, sebab Minrin berpostur
sangat rendah jika dibandingkan dengan dirinya. Walaupun tidak tinggi,
bagi Yunho, tubuh Minrin berlekuk dan berbobot sangat ideal. Penuh
lengkung dan padat. Tipe kesukaannya. Ia senang pada gadis yang tiap
inci tubuhnya dapat digenggam secara penuh oleh jemarinya.

“Apa yang kaupikirkan?” tanya Minrin dengan lafal seksi, dan segera
saja menggelisahi Yunho.

Pemuda tinggi dan tegap itu menguasai dirinya kemudian membalas, “Kau,
tentu saja.” Tangannya masih memeluk erat ember besar yang ia bawa
itu.

“Aku tahu,” jawab Minrin, masih dengan intonasi yang sama, “tapi apa
spesifiknya? Kau terlihat memikirkan dengan serius sekali barusan.
Dan, tentu saja, sembari memperhatikanku.”

Yunho tersenyum. “Ya, aku memang memperhatikanmu,” akunya, “tapi aku
tak bisa memberitahumu apa yang kupikirkan.”

Minrin menghentikan langkahnya dan bertolak pinggang, menyebabkan dua
sikat dan dua pasang sarung tangan berbahan karet yang sejak tadi ia
genggam kini berjuntai di dekat pinggulnya. “Kenapa kau tak mau
memberitahuku?” tanyanya.

Yunho makin merekahkan senyumnya. Ia lantas meletakkan ember besar itu
di lantai kayu yang ia injak kemudian melangkah mendekati Minrin.
Tatapan mata hitamnya yang ekstrem memesona segera mengunci pandangan
Minrin kepadanya. Ketika bibir mungil menebal Yunho mau membuka, suara
nyaring membubarkan posisi mereka.

“Yunho-ah!” Terbetik panggilan yang berdengung itu.

“Duh. Sial,” gumam Yunho.

Yunho tahu, itu adalah suara jenderal yang memimpin operasi
bersih-bersih apartemen DBSK hari ini. Dia pasti ingin
memerintahkannya untuk melakukan ini-itu lagi, dan itu akan menghambat
acara berduaannya dengan Minrin. Jadi ketika Minrin mengangkat suara,
dan panggilan itu terdengar lagi, Yunho segera melancarkan pelarian
diri. Tangannya membekap bibir tebal Minrin dan tangan satunya
mendekap bahu empuk Minrin, membawa gadis itu memasuki sebuah ruang
yang lembap.

“Jung Yunho!” Telinga kecil Yunho kedapatan panggilan itu lagi.

Pintu ruangan lembap yang berkeramik licin dan menggemakan tetesan air
kran itu mereka tutup. Yunho menyembunyikan dirinya dan Minrin di
sana.

“Tadi sempat kulihat Yunho hyung ke sini.” Tertangkap suara Changmin.
“Ini embernya.”

“Lantas, kemana dia? Kenapa dia meninggalkan embernya di sini?”

“Entahlah.”

Di dalam Yunho mengangguk-angguk. Pantas saja ia seperti mendengar
derap langkah kaki yang banyak ketika ia memasuki ruangan ini.

Minrin mengeluarkan suara yang tak jelas. Yunho melihat Minrin dan
sadar ia masih membekap kekasihnya itu, lantas melepas bekapannya.
“Siapa sih, Oppa?”

“Jaejoong,” bisik Yunho, “dan Changmin, kurasa.”

“Lantas, kenapa kita harus sembunyi dari mereka? Ayo keluar,” ajak
Minrin sembari menarik lengan Yunho.

Yunho buru-buru menahan lengan halus Minrin. “Jangan, Chagi,” Yunho
mengisik, “Jaejoong, jenderal rumah tangga itu, akan menyuruhku banyak
hal. Lebih-lebih di hari kerja bakti ini. Angkat ini, angkat itu,
seret ini, seret itu. Yoochun dan Junsu pasti sedang sibuk melakukan
sesuatu. Dan dia pastinya lebih memilih aku daripada Changmin
kesayangannya itu untuk melakukan hal yang berat-berat.”

“Wow,” ucap Minrin.

“Wow apa?”

“Itu bisikan terpanjang yang pernah kudengar seumur hidupku,” sahut Minrin.

Yunho mengangkat satu alisnya dan baru akan mengucapkan sesuatu, tepat
di saat Jaejoong berkata, “Ayo kita cari lagi, Changmin. Kalau katamu
dia tadi di sini, pasti dia masih di sekitar sini.”

“Ck,” Changmin mendecak, “kau saja yang cari, Hyung. Aku mau membantu
Junsu dan Yoochun Hyung makan—eh, maksudku membereskan meja makan.”

Yunho dan Minrin saling menatap dan serempak menahan tawa.

Jaejoong mengeluh, “Ah, kau ini. Baiklah, aku ikut kau saja, Changmin.”

“Tidak berpendirian, kau ini, Hyung,” sahut Changmin malas.

Derap langkah menjauh mereka pun terdengar. Lama-kelamaan pun menyayup
lenyap. Yunho mengedipkan sebelah matanya kepada Minrin manakala derap
langkah Jaejoong dan Changmin benar-benar tak terdengar. “Mereka sudah
pergi,” ujar Yunho.

Minrin pun tersenyum. “Sampai dimana kita tadi?” tanyanya dengan senyum kemayu.

“Oh, itu pertanyaan menjebak,” gelak Yunho dalam dan terukur. Ia
kemudian segera mengurung Minrin di antara dua lengan gagahnya. Minrin
tak kelihatan keberatan, malahan tertawa renyah sekaligus
membangkitkan segala jenis rasa menggelitik yang mengingatkan Yunho
kalau kini mereka bebas dan hanya berdua. Dengan wajah yang didekatkan
ke wajah Minrin, Yunho melanjutkan berkata, “Seolah kita tadi sedang
melakukan sesuatu yang—”

Sebuah sarung tangan karet dijejalkan Minrin untuk menahan mulut
Yunho, meski dengan lembut dan sekadarnya. Dan dari bahasa tubuhnya,
ia menunjukkan seakan-akan ia menyetop Yunho agar menggusarkan Yunho
sehingga berniat untuk berbuat lebih. “Kita memang akan melakukan
sesuatu,” ujar Minrin menggoda, membuat Yunho menarik nafas resah,
“yaitu membersihkan kamar mandi ini.”

Serentak saja, setumpuk hasrat yang mengungkungi Yunho beberapa detik
lalu runtuh.

Kendati demikian, Minrin melemparkan senyum penuh arti setelah itu,
memberikan secercah harapan pada Yunho untuk mungkin menunda sejenak
letupan keinginannya. Seolah senyum itu berkata ‘Tahan dulu sebentar.’

Mendapati itu, Yunho mengambil sarung tangan karet yang menempel di
mulutnya itu dengan senyum sembari mundur dua langkah. Ia melirik
seduktif pada Minrin sembari memasukkan tangannya ke dalam sarung
tangan karet itu. Tapi karena sibuk mengamati Minrin dan menampilkan
lirikan memprovokasi sarung tangan itu macet di jari kelingkingnya.

“Bukan begitu cara memakainya,” cicit Minrin sambil terkikik.

Kedua tangan Minrin pun meraih tangan Yunho yang tertahan sarung
tangan itu agar bisa memasangkan dengan benar. Dan mau tak mau, jarak
keduanya jadi kembali dekat. Yunho mencermati buku jarinya yang kini
hanya berjarak beberapa senti dari dada Minrin yang cukup terekspos
dari blus kuning V-Neck kebesarannya itu. Deru nafasnya menjadi tak
beraturan. Minrin menyadarinya dan sengaja memperlambat pemakaian
sarung tangan itu. Ia tampak menyenangi membuat Yunho tersiksa secara
sensual.

Oleh sebab Minrin menyengajakan untuk membenamkan Yunho dalam situasi
teraniaya semacam itu, Yunho pun mencoba menenggelamkan dirinya lebih
dalam dengan mendorong tangannya lebih-lebih. Tindakan itu bersamaan
dengan tarikan Minrin agar tangan Yunho makin condong kepadanya. Aksi
berbarengan itu menyebabkan efek lain, yang kemudian memicu apa yang
mereka sinyalkan sejak tadi; jemari Yunho bersentuhan dengan dada
Minrin.

-Yunho’s PoV-

Oh. Luar biasa. Berahi segera menggelegak, mengaliri seluruh pembuluh
darahku. Dan itu berasal dari salah satu tanganku yang
menyentuh—ralat, tak sengaja menyentuh payudaranya yang indah itu.

Otakku mendadak kosong. Tubuhku tak bisa bergerak. Namun jemariku
masih mendarat di sana, teraliri panas hasrat darinya.

Minrin pun tidak menampakkan penolakan. Dia malah tampak bergairah.
“Oppa,” panggil Minrin pelan, lebih mirip desahan.

Aku terinsaf dan kembali ke pikiranku. Aku tak boleh melewatkan
kesempatan ini. “Lepaskan sarung tangannya,” ucapku.

“Lepas?” tanya Minrin, masih dengan desauan lunak.

Kudekatkan tubuhku hingga aku bisa mendengar nafasnya yang mulai
bertempo cepat. “Ne,” sahutku, “lepaskan.” Aku pun mencoba menciumnya.

Minrin menjauhkan diri namun terkikik geli, sekaligus memberi petunjuk
untuk membujukku untuk bergerak makin dekat. Ia membuka mulut di
sela-sela usaha bibirku untuk kembali mencapai bibirnya. “Hati-hati,
Oppa. Lepaskan sarung tangan itu bisa berarti lain, lho,” ucapnya
genit, “Sunghyo pernah bilang padaku itu bisa berarti sebuah istilah…”

Aku bahkan kini bisa mendengar nafasku yang makin tak terkendali.
“Istilah apa?” tanyaku tak sabar, semili lagi bibir kami bersatu.

“Artinya melepaskan sarung tangan itu adalah,” Minrin menjeda saat
jemariku yang separuh tersarung itu menggelanyar di sekujur dada empuk
nan sintal milik Minrin, “berhenti bersikap tenang,” ia mendesah penuh
damba ketika aku mengusapnya, “dan mulai saling menerjang  dengan cara
apapun.”

“Itu istilah dalam olah raga tinju, Chagi,” timpalku.

“Oh, ya?” Minrin menelengkan kepala, bertanya, namun tampak tak
terlalu peduli. Dia sudah dalam kondisi yang kurang berminat
memikirkan asal istilah yang dia utarakan. Dia dalam kondisi yang
menginginkan agar ia mulai digasak dengan cara apapun. Cara liar,
lebih tepatnya.

Senyumku mengembang. Rupanya keinginan kami sama. Segera kulancarkan
apa yang sejak tadi kutahan. Kulepaskan sarung tangan karet pengganggu
itu sendiri dan langsung kucakup bibirnya dengan bibirku.

-Minrin’s PoV-

Oh. Yes. Akhirnya Yunho Oppa melancarkan apa yang kunanti-nanti dari
tadi. Aku segera menyambutnya dengan pelukan kerinduan. Sentuhan
terjauh kami hanyalah berpelukan mesra di kafe ketika akhirnya kami
menjadi sepasang kekasih beberapa hari lalu. Pelukan hangat tersebut
sebenarnya kurang bagiku. Akan lebih menakjubkan jika ditambah dengan
adegan berciuman. Tapi ciuman tak pernah kudapatkan, meski aku tahu
dia juga menginginkannya. Aku memimpikan ciuman yang tak pernah
kurasakan itu setiap malam dan bertanya-tanya kapan kami akan
melakukannya. Dan hari ini terjadi. Betapa senangnya.

Mulut kami saling berpagutan seolah-olah waktu kami hanya sedikit
untuk melakukan itu. Dalam beberapa saat saja, mulut kami membuka dan
lidah kami berjumpa dengan hangat. Aku memainkan lidahku, mengait lalu
menyapu pangkal lidahnya. Yunho Oppa mengerang erotis, makin
membangkitkanku.

Jemarinya, yang sejak awal kami terpacu berkat masalah sarung tangan
tadi, kembali mengelus-elus salah satu payudaraku. Hal tersebut makin
membuatku melayang. Pun aku berinisiatif agar acara
‘lepas-sarung-tangan’ kami makin panas dan menggiurkan. Kuangkat
tangan Yunho Oppa yang satu lagi ke payudaraku yang satunya. Responnya
begitu tanggap karena ia langsung menangkup gundukan itu dengan
semangat.

Aku merintih penuh kebahagiaan. Ini sesuai sekali dengan harapanku;
bermesraan spontan dengan pria sejantan dan seberpengalaman ini.
Kuharap kami memang benar-benar akan melakukannya.

Kukerahkan kedua tanganku ke belakang kepalanya, meremas rambut hitam
selembut sutranya. Ketika akhirnya ciumannya beralih dari bibirku
menuju dagu lantas leherku, aku memejamkan mata menikmati tiap
detiknya. Bibirnya menyeruput tiap inci leherku perlahan, mengalirkan
energi panas yang menggetarkanku. Oleh karena itu, jenggutan tanganku
terhadap rambutnya yang tebal menjadi makin kuat.

“Oh, Oppa,” desahku.

Yunho Oppa tidak membalasku dengan ucapan, tapi dengan penarikan diri
dan pelucutan blus V-Neck longgarku. Aku membantunya dengan mengangkat
kedua lengan sehingga ia dengan mudah menariknya ke atas lalu
menyingkirkan blus yang saat ini kuanggap penghalang itu. Bra oranyeku
terpampang. Yunho Oppa tersenyum puas memandanginya. Kukira yang
kumiliki sesuai dengan prediksinya selama ini.

Ia menciumku lagi. Kali ini dibarengi dengan pengusapan pada di
sepanjang bra berbahan lembut yang kukenakan. Kami ber-French Kiss
dengan tangannya yang bergerilya merayapi cup, lantas menyelipkan
jari-jemarinya di tali bra, mengurutnya perlahan kemudian
menurunkannya. Ciumannya ia luputkan. Kemudian ia menatapiku yang kini
memakai celana pendek krem dan bra oranye yang kedua talinya turun.
Entah mengapa, aku merasa aku sangat seksi sekarang.

Di kala tangannya bergerak lincah menjamahi ritsleting celana
pendekku, aku menghentikannya. “Nanti dulu, Oppa,” ucapku dengan nada
merayu, “kau tak adil. Kau ingin menelanjangiku dengan pakaian
lengkap?”

Yunho Oppa tercengir, menampilkan gigi-geliginya yang cemerlang dan
memesona itu. Tanpa aba-aba, ia pun segera menarik kaus cokelat tanpa
lengan itu melalui kepalanya. Oh, dia benar-benar menggiurkan. Bahkan
langkahnya menarik kausnya itu saja membuat daerah di antara kedua
pahaku berdenyut-denyut. Lebih-lebih lagi, ketika torsonya nampak di
hadapanku. Otot lengan dan perutnya begitu kencang sempurna. Badannya
tidak terlalu besar, namun jelas berisi dan terlatih. Aku terpaksa
menahan keinginanku untuk mengelusi lekuk tubuhnya karena ia
mendekatkan diri padaku lagi.

French Kiss kami terjalin lagi. Kali ini jauh lebih basah dari sebelumnya.

Dan kali ini kesabaran kami makin berada dekat di ujung tanduk. Sebab,
selain aku yang kini menjeramahi ritsleting celana selututnya, Yunho
Oppa juga buru-buru membongkar celana pendek ketatku agar segera
selesai menghalangi kami. Penyatuan dua kulit tanpa alas apa-apa di
bagian perut dan lengan kami menambah kegerahan dan kelembapan sensual
sampai batas maksimal.

“Oppa,” ucapku, tanpa arti apa-apa, tepat ketika aku mengangkat
kaki-kakiku bergantian—menolongnya menyisihkan celana pendekku.  Aku
berpegangan pada kedua lengan kokohnya ketika kegiatan itu terjadi.

Ia tak terlalu mempedulikan ucapanku itu karena kini, setelah aku
hanya memakai satu set pakaian dalam, kami telah sibuk berpindah fase
untuk melepasi celana selutut Yunho Oppa. Jariku menggamit-gamit nakal
di sepanjang pahanya ketika aku menurunkan celananya itu. Kutangkap
rintihan nikmat yang ia keluarkan dari mulutnya di telingaku. Ketika
kini aku dalam posisi menekuk lutut di depannya, tepat ketika kaki
terakhirnya keluar dari celana jeans selututnya, aku menemuinya
menegak di balik celana dalamnya.

Aku memandangi dirinya yang sudah tegang sempurna dengan takjub.

“Wah, nampaknya dia sedang marah,” ledekku sembari membelainya dengan
teknikku sendiri, teknik memutar yang menggoda.

“Oh, hentikan, Minrin,” Yunho Oppa bersuara juga, namun sengau dan
berat, “kau terlalu banyak menyiksaku sedari tadi.”

“Ini bukan siksaan, Oppa,” kilahku menggoda sembari tetap
memoles-moles miliknya, “ini namanya foreplay.”

Kuamati ia memejamkan mata, menahan sesuatu. Gairah, kurasa. Hingga
ketika usapanku makin menggebu, ia menyentak mundur. Kekagetan
menyamperiku. Aku memandanginya bingung.

Mulutku hampir melontarkan tanya di saat, tanpa kuduga, Yunho Oppa,
menarik lenganku, menempelkanku kembali ke dinding keramik kamar mandi
yang dingin, membuat kami berdiri bersemuka lagi.

“Aku tidak suka basa-basi,” ucapnya serak, “maka itu, aku tidak suka
foreplay. Itu hanya akan menyiksaku.”

Senyumku mengukir, sengaja kulakukan untuk merisaukannya lebih. Akan
tetapi, senyumku tak bertahan lama. Karena Yunho Oppa segera
menghentakku lebih menempel ke dinding namun dengan posisi memeluk
erat. Sedetik kemudian, aku mulai merasai ia menggapai kait bra di
punggung dan melepasnya.

Jantungku berdegup kencang. Kami sungguh akan melakukannya.

Braku lepas dalam sekejap dan ekspresi puas kembali kutemui di
wajahnya, jauh lebih puas daripada yang tadi. Kubusungkan dadaku untuk
semakin memanaskannya. Namun, bukan remasan gila atau isapan dengan
mulutnya di dadaku yang kudapatkan, tapi sepak terjangnya melucuti
satu-satunya kain yang menutupi tubuhku; celana dalamku. Ah, ya, aku
baru ingat, dia baru saja bilang, dia tidak suka foreplay.

Dia ingin langsung ke inti bercinta. Dan dia meraupnya dengan egois
dan cukup kasar. Namun, aku takkan membiarkannya memaksakan
kehendaknya. Aku juga punya kehendak di sini; menganiayanya secara
seksual.

Bersicepat, aku menahannya. “Kau dulu, Oppa,” ujarku.

“Apa maksudmu, Minrin?”

Aku menggigit bibir lantas setengah berjongkok. Lekas-lekas kuturunkan
celana dalamnya, menyentakkan sekaligus kami berdua; aku yang terpukau
dengan miliknya yang sesuai ekspektasiku, dan dirinya yang,
barangkali, tak menduga aku akan bertindak secepat dan seberani ini.

Kuputuskan untuk membuat ia lebih kaget lagi, dan, pastinya
menyiksanya lebih-lebih lagi. Kudekatkan mulutku kepada miliknya yang
menegang itu. Dan kemudian, kukerahkan teknik yang selama ini hanya
kupelajari dari buku-buku pendidikan seks yang kubaca.

Maaf saja, Oppa, tapi aku suka foreplay. Segala sesuatu harus dimulai
dengan pemanasan, bukankah begitu? Maka, akan kubuat kau juga
menyukainya.

-Yunho’s PoV-

Ampun. Minrin benar-benar mengerjaiku. Aku, entahlah, aku
tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia sungguh menguasaiku. Rasa
nikmat di bawah sana betul-betul menyerapku sampai-sampai semua urat
di tubuhku menggelosor pasrah. Sepasrah diriku. Tidak pernah aku
diatur begini sebelumnya. Dia wanita pertama yang melakukannya.

Erangan-erangan yang sekuat tenaga kutahan agar tak menimbulkan
keributan keluar lirih dari mulutku. Minrin sangat ahli. Sungguh
mengejutkan, namun juga menyenangkan. Yang kusesali sekarang adalah
mengapa kami harus melakukannya di kamar mandi, dimana suara sekecil
apapun bisa bergema kencang ke luar sana. Aku sangat berharap mereka
yang di luar sedang sibuk dan tak pernah mendekati kamar mandi ini
sampai kami selesai.

Kelopak mataku yang memberat dengan sendirinya itu mengeridip ke arah
Minrin. Cahaya terang siang yang menyelusup dari ventilasi, menyinari
kamar mandi gelap ini, membuatnya makin kelihatan cantik. Ditambah
dengan peluh yang membasahi tubuh berlekuk moleknya, ia tampak
menggelorakan. Dan aku sudah tak tahan lagi, isapannya yang menggila
di bawah sana harus kuhentikan. Kutarik diri, mengejutkannya.

Ia menatapku penuh maksud. “Kenapa dihentikan, Oppa?” tanyanya,
meresahkanku lagi.

“Saatnya membalasmu,” jawabku.

Dia tersenyum sambil berdiri. Tak kubiarkan dia benar-benar berdiri
sempurna karena secepat kilat, kusambar celana dalamnya untuk segera
kulepaskan.

“Ah, Oppa!” serunya nakal, sembari memukul lenganku lunak. Meskipun
begitu, aku tak acuh dan tetap melanjutkan manuverku merobek lepas
celana dalam tipisnya. Aku tahu dia sama sekali tak keberatan dengan
aksiku ini. Aku bisa merasakan dari geliat tubuhnya kalau ia malah
semakin terangsang.

Ketika, akhirnya, kami berdua benar-benar polos, aku segera
mendekapnya. Kuputuskan untuk mengikuti permainannya dulu sekarang.
Dia suka foreplay, dia baru saja melakukannya—tepatnya, memaksaku
untuk menerimanya—beberapa saat lalu. Jadi, kuberikan saja apa yang ia
mau. Setidaknya, itu sisi romantis yang bisa kuberdayakan dalam
bercinta; memberikan salah satu hal yang kekasihku inginkan.

Maka, aku mencium bibirnya lagi. Panas menggelegak, namun hanya
sejenak. Karena seterusnya aku langsung berpindah ke lehernya, lantas
pundaknya—sedikit menggigit di situ, membuatnya menjerit geli, lalu
dadanya dan berkisar di situ cukup lama.

Minrin begitu menyenanginya. Tangannya memijit-mijit lekuk-lekuk
tubuhku, dari lengan hingga bokong. Gadis ini benar-benar nakal. Tapi
aku suka yang seperti ini. Pun aku membalas semua pijatannya itu ke
tubuhnya juga.

Kami berada dalam keadaan tersebut tak berapa lama. Aku tak bisa
menghitungnya karena aku terlalu sibuk menikmati ini. Sebentar.
Menikmati? Astaga. Apa kini aku juga menyukai foreplay? Oh. Sialan
kau, Minrin.

-Minrin’s PoV-

Yunho Oppa mulai terhanyut dalam pemanasan ini. Dia tersulut
permainanku sekarang. Aku tak tahan untuk tak tertawa riang. Rasanya
menguasai pria itu begitu membahagiakan, terlebih jika pria itu
tergila-gila padaku.

Pergelutan kami tiba-tiba disetop oleh Yunho Oppa di detik entah keberapa.

“Aku sudah tak tahan lagi,” ucapnya terengah-engah.

“Pelan-pelan saja,” gumamku membujuk.

Yunho menyeringai. Dan ia segera menghimpitku ke tembok. Ia
mengarahkan miliknya itu kepadaku kemudian yang segera kusambut dengan
riang. Sejujurnya, aku juga menunggu-nunggu hal ini terjadi. Jadi,
ketika perlahan miliknya itu mencari-cari tempat yang pas, aku
membantunya.

“Pelan-pelan, ya, Oppa,” bisikku genit.

Yunho Oppa tercengir. “Aku tahu kau tak ingin pelan-pelan, Minrin,” sahutnya.

Aku menyernyih. “Kau sok tahu sekali,” timpalku.

“Aku tahu kau mau yang liar, Minrin. Kau sama sepertiku. Sudahlah, tak
perlu menyembunyikannya,” ucapnya. Dan entah kenapa, ia kelihatan
sangat tampan, mengerutkan hidung mancung di antara kedua mata sipit
tajamnya itu.

“Wah, aku harus bilang apa, ya? Dalam percintaan kau tak peka, Oppa,
tapi mengapa dalam seks kau peka sekali?” tanyaku.

“Tak perlu banyak bertanya, kurasa,” jawab Yunho Oppa dengan suara
baritonnya. Ucapannya itu bersamaan dengan tindakannya melesakkan
miliknya ke dalam milikku, yang rupanya telah ia temukan.

“Ah!” jeritku terkejut.

“Tidak usah berpura-pura terkejut, Minrin,” ucap Yunho sambil memulai
menarik dan mendorong tubuhnya kepadaku.

“Aku benar-benar terkejut, Bad Boy,” omelku sambil memelototinya.

Yunho Oppa tertawa. “Baiklah, Bad Girl, kau—”

Serta-merta saja, Yunho Oppa berhenti bicara dan bergerak. Ia
mengalihkan pandangan dari wajahku menuju ke bawah. Kutemukan air muka
kaget yang nyata darinya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Darah?” tanyanya. “Kau belum pernah melakukannya, Minrin?”

-Yunho’s PoV-

Ya ampun. Mengapa aku bisa tak menyadarinya? Minrin masih belum
terjamah oleh siapa-siapa. Barangkali karena sikapnya yang nampak
biasa dengan situasi ini. Lagipula tak ada perawan yang nampak
sebegitu ahli seperti Minrin. Tidak pernah kutemui sebelumnya.

“Menurutmu?” tanyanya.

“Hah?” tanyaku heran.

Kami diam sejenak, saling menatap penuh makna.

“Jangan mendadak memasang tampang bodoh begitu, Oppa. Lanjutkan saja
apa yang harus segera kita lanjutkan,” komandonya.

Aku pun tersimpul dan secara kilat mendapat kepercayaan diriku
kembali. Lantas kembali melajutkan apa yang sempat tertunda barusan.
Kugerakkan milikku masuk-keluar ke miliknya. Awalnya ia diam, tapi
lama-kelamaan kuperoleh dirinya mendesah-desah keenakan. Matanya tak
lepas dari kegiatan tubuh kami di bawah. Dia gadis pertama yang begitu
berani menyaksikan hal yang selama ini dihindari gadis-gadis untuk
dilihat. Kedua pahanya makin lama makin merenggang untuk mendapatkan
tusukan makin dalam. Agaknya ia ingin mengatakan dengan tindakan kalau
dia ingin mengalami semuanya, tanpa ada yang ditahan.

Kami berdua saling menyentak hebat, menggebu-gebu dan penuh erangan
tertahan beberapa waktu kemudian. Hingga kurasakan, gejolak yang
kucintai segera datang membanjiriku.

“Aku akan… orgasme,” ucapnya padaku, penuh dengan helaan nafas.

“Wow,” timpalku, juga dengan nafas tersengal-sengal, “kau sangat jujur
dan brilian dalam seks, Minrin… Chagi. Dan aku juga sangat peka.
Kurasa aku menemukan ceruk yang… menyatukan kita.”

“Ne,” jawabnya kemudian sembari merangkul dengan senang hati
percepatan gerakan yang kulakukan terhadapnya.

Dua detik kemudian, kami sudah mencapai klimaks.

Aku meletakkan dahiku di bahunya yang nyaman.

“Kau kelelahan, Bad Boy?” tanya Minrin.

Aku mengangkat kepalaku, merasa terusik dengan pertanyaannya. “Jangan
meremehkanku. Aku bisa membuatmu kelelahan sampai pingsan kalau aku
mau,” ancamku dengan senyuman merayu.

“Oh,” ia balas menggoda, “aku takut.”

“Benarkah kau takut?” tanyaku sambil mengelus lengannya.

“Apa aku kelihatan tidak takut?” tanyanya dengan mata yang
dipicingkan. Ia sedikit mengedikkan bahunya sehingga payudaranya
kembali menantangku.

Kuangkat alis sembari merekam pemandangan molek di hadapanku itu
terus-menerus. “Jaga sikapmu, Chagi. Kau akan menyesali tiap godaan
yang kaulancarkan padaku nantinya,” ucapku.

“Kenapa aku harus menyesalinya?” Ia memainkan telunjuknya menyentuhi
bahuku. “Itu yang aku cari.”

“Oh, kau merasa yakin kau bisa menanganiku?” tanyaku dengan senyum
penuh maksud. “Apa kau tidak tahu apa yang baru saja kita lakukan
hanya seperempat dari yang biasanya kulakukan?”

“Benarkah?” Minrin tergelak dibuat-buat. “Duh, aku sangat tak sabar
mengetahuimu secara sepenuhnya, Oppa.”

Sesuatu menyenggol jantungku di dalam. Entah apa.

Sepenuhnya, katanya?

Dia ingin mengetahuiku sepenuhnya?

Yah, meskipun bisa saja kalau ucapan itu berorientasi pada seks, tapi
tak pernah ada wanita yang bilang begitu terhadapku. Ucapan itu, entah
mengapa, seolah menyampaikan maksud lain, maksud yang lebih tulus,
yang berkisar pada perasaan, dan, ya, tak pernah kurasakan sebelumnya.

“Hei,” panggilnya lunak, “kenapa bengong?”

“Bengong? Siapa yang bengong?” Aku tidak mau mengaku. “Aku hanya
sedang menikmati pemandangan,” tambahku seraya melihati tubuh eloknya.

Minrin tersenyum manja, mengedikkan kepala sambil memicingkan mata
menggoda. “Jangan bilang kalau kau menginginkan kita melakukannya
sekali lagi,” ucapnya.

“Kau salah. Aku tidak mau melakukannya sekali lagi,” ujarku yang
segera menampilkan wajah kecewanya. “Aku mau melakukannya lebih dari
sekali.”

“Wow,” sergahnya kagum. Seri muka Minrin kembali riang. Tapi ia tidak
mengucapkan apa-apa lagi selain sergahan terkagum itu.

“Kau tidak?” akhirnya aku bertanya.

“Aku mau,” jawabnya, “tapi tidak di sini.” Ia lantas mendekatkan
dirinya, membuat tubuh kami bersinggungan lagi. Ia berjinjit dengan
susah payah, sehingga aku harus merunduk untuk membiarkannya
menenggerkan dagunya di pundakku. Lantas ia berbisik. “Meskipun
kelihatannya standar, tapi gaya misionaris sangat menggugah rasa
penasaranku. Apa lagi jika pria seperkasa dirimu yang melakukannya,”
godanya dengan kisikan.

Kupandangi dia.

Ia begitu menggemaskan saat menggoda atau berlagak genit sampai-sampai
aku tak tahan untuk menariknya ke kamarku, melakukannya sekali lagi,
di tempat yang lebih pantas, sesuai kehendaknya. Tapi, kurasa, kali
ini cukup. Mungkin lain kali.

Kali ini cukup ciuman saja.

Kusentuh lagi bibirnya dengan bibirku. Kurekatkan kembali tubuh kami
lebih rekat daripada sebelumnya. Tentu saja, rasa membara menjalari
kami berdua kembali. Hal ini membuatku berkehendak lebih.

Oh, tidak.

-Minrin’s PoV-

Yunho Oppa menciumku lagi. Ciuman yang jauh lebih hangat daripada
sebelum-sebelumnya. Aku sebenarnya sudah sangat senang karena
harapanku terkabul. Dan aku sudah terpuaskan secara seksualitas. Akan
tetapi, ciumannya yang ini melahirkan sesuatu yang aneh di perutku.
Ciuman hangat yang tak mendesak tapi penuh gairah. Ciuman yang
nampaknya tak hanya memberikan hal berpusar pada seks semata; hal yang
tadinya sama-sama mengisi pikiran kami. Ciuman yang kupikir tidak akan
pernah diberikan oleh seorang Bad Boy semacam dia. Kurasa aku tak bisa
melepaskan diri dari ciuman ini.

Dan darinya.

With Regards,*
*Naz & Mysti.*

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 09/01/2014, in DBSK, OS and tagged . Bookmark the permalink. 56 Comments.

  1. Bahasanya keren n i like this
    😛
    D tunggu karya kren laennya
    😛

  2. so hot! Author jjang!

  3. perawan tp genit dan terlihat berpengalaman (?) oh my god

    • Aneh, kan? #lah hehehe.
      Minrin punya banyak pengalaman selain “inti” sebenarnya. #lol
      anyway, gomawo udah mampir dan berkomen, chingu 😀

  4. kereeeeeeeeenn 🙂

  5. suka… emmm keren karya author sip deh

  6. haii thorr,, msih ingat sm aq… #pengen bgt sih diinget…abaikan thor gga penting….hehehe

    lagi iseng2 buka ini blog. eh ada ff author, lngsng dibuka deh… soalnya lg blm sempet mampir ke blogmu thor….

    wahhh gga yangka ada pasangan bad disini,, karakter yg berbeda dr pasangan ff yg dibuat author seperti pasangan yg keras kepala alias kyuhyun – chang gi…

    ini ff ada rincian ceritanya lg gga diblog… seperti ff sblmnya….

  7. Gk sengaja liat liat ff di google eh klik aja link ini ehh ternyata certinya seru bingitt, Keren lgi(y)
    Di tunggu cerita yg lainnya;)

  8. Suka sama bahasa yg thor tulis. Keren!

  9. thor minta pw part 2 ff ini dong boleh ya kalo blh dm aja di @aprilia_abigail

  10. Woooooow,,, Daaaaaebaaak,,,,
    penulisan dan gaya bahasanya bagus,,
    alurnya bagus,,
    dan yg pasti yadongnya juga bagus,,,
    di tunggu kelanjutannya thor,,,

    boleh minta link blog’nya,, “khamsahamnida,,,

    • Gomawo atas apresiasinya, chingu ^_^
      kami senang kalo kamu menyukai ff ini.
      Alamat blog kami : hanneloreaubury.wordpress.com
      silakan berkunjung. 🙂

  11. dua athor kesayangan kuuuu…. gaya bahasanya manteeepz… jadi menginspirasi buat bikin ff yg bagus he he he… Daebak thor two thumbs deh. adegan bercinta di ff author selalu smooth. tapi tak mengurangi rasa “panas” he he

    • Seochoi, annyeong! Nice to meet you again. Wah, jadi malu #blush
      makasih apresiasinya. Kamu juga keren kok. Gimana My Black Angel-mu? 😀
      anyway, thanks udah komen 😉

  12. suka ah bahasanyaa.. hehe baguss.. aku ujin ubek2 blog mu yah thor,, salam kenal..

  13. Cho Chanchan

    Anyeong, aku reader baru disini.
    Ff nya keren, bahasanya juga kere. Pokoknya keren banget thorr 😀

    gomawo ^^

    • Annyeong, chingu 😀
      gomawoyo~
      kalo barangkali berminat baca ff kami yang lain, silakan berkunjung ke blog kami. #bow

  14. Rita Clouds

    gk nyangka ternyata yg cwek msih perawan hahaha soalnya genit sieh
    aq suka ffnya suka suka suka :-):-):-):-)

  15. kenapa g lanjut lagi,aq mo jalan2 juga ke blog x ya, refreshing hari minggu

    • Prekuel (bagian sebelumnya) ff ini ada di blog kami kok, chingu
      silakan berkunjung ke blog kami.
      Komenmu selalu kami tunggu 😀
      gamsha~

  16. keren chingu 🙂 (y) (y) (y)

  17. Keren bray..aku suka tata cara penulisan nya…
    Dtnggu karya selnjtnya^^

  18. Minri-nya agresif banget yaaa , 🙂 d tunggu ff lainnya 🙂

  19. Ne, Minrin emang begitu, chingu.
    Lol.
    Gomawo udah komen 😀

  20. Bahasa nya keren,,,,,,
    Bad boy bertemu bad gril

  21. daebak thor..

  22. ff nya lucu tp keren..
    dikira polos tp minri bener2 yeoja yg penuh dengan ‘wawasan’ ya…?!
    hihihi

  23. thor… WOW ceritanya,
    hrus ada kelanjutannya ya.
    setia menunggu nih.., hehehe

    • annyeong, chingu. mian baru bales komennya, baru liat ^^;
      makasih banget komentarnya
      kelanjutannya ada kok. tapi di blog kami.
      sekali lagi makasih chingu :*

  24. Nathalie park

    Wow…crita’y seru hot bgt..kekekekkee

    • chingu, mian, baru bales, baru liat komennya. gak ada di notif email #pundung
      btw, makasih banget komentarnya, chingu #deepbow

  25. bahasanya bagus banget♥♥♥
    aku tunggu cerita selanjutnya♥

    • makasih banget chingu atas komentarnya. duh, mian, baru jawab, baru liat komennya ._.
      makasih juga udah nunggu kelanjutannya #bow
      :-*

  26. I can’t believe, yes it’s true *nyanyi ala Jonghyun ama Chen..

    kkk, benar2 nakal, bad boy, bad girl..
    hahahaha..
    hot summer, oh, hot hot summer..
    gara2 sarung tangan karet itu..
    oh ya, kata yg aku dpt dari tiap fanfic author yg aku baca itu ‘french kiss’, kkkk..
    dan tadi senengnya minta ampun ada scene.nya kedua biasku Jaejoong sama Changmin, walau cuma suara mereka yg jd cameo dan yg bikin ngakak waktu Yunho bilang kalo Jae itu Jenderal Rumah Tangga, sumpah pikiranku waktu itu aku kira Yunho lagi di camp militer eh taunya di apartemen dan jadwalnya bersih2 *haha, maafkan pikiran anehku author*

    iya yg aku baca Room of Fume, dan sampe sekarang masih mikirin pintu kamar Minmi, ^^>

    2 cewek yg ga aku suka di sesama agensi mereka siapa ya.. ntar kalo saya sebutin malah saya di bully penggemarnya..
    haaha.. *bener2 anti kalo Kyuhyun atau Changmin atau siapapun bias aku kalo pairing sama mereka berdua* ^^v

    *aku curhat lagi coba*
    kkkk..
    lanjut baca fanfic berikutnya~

    • ahahaha~ seru juga kalo theme song-nya itu ><

      ne, akhirnya kamu menjelajah ke dunia bad couple ini hihihi~
      wah, senangnya kalo kamu menangkap rasa panasnya juga (?)

      gyaaa XD
      kami selalu munculin frase french kiss ya? kayaknya karena kami bercita-cita ke Prancis, chingu #ganyambungbanget hahaha
      kalo gitu, nanti kami ganti frase deh hehehe

      nah, iya, pas banget biasmu nampil di sini.
      oh ya, di blog kami, Jaejoong dan Changmin lebih eksis lagi, chingu ^^
      hahaha, Jaejoong pas jadi Jenderal kan? sengaja pake kata Jenderal, biar lebih terdengar pria #eh

      hahaha, kamu masih kepikiran pintu kamar Mingi rupanya ^^ udah ada lanjutannya kok, chingu 😀

      wah, kayaknya kami tau siapa dua cewek itu deh hihihi

      gapapa, kami juga suka curcol kok hehehe
      makasih udah baca dan komen ff-ff kami chingu #berbinar2airmata

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: