SEASON [part 1]

L and Jiyeon FF NC

Author : Ryu Keju

Tittle : SEASON [part 1]

Genre : Romance, PG-13, Chapter

Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Hell-o readers! This’s my really first FF!=D

Karna aku basic-nya bukan FF-maker jadi maaf kalo–mungkin–kalian pikir ini agak terlalu kaku

Buat part 1 ini belom ada NCnya ya hehe, di tunggu komennya:**

DO NOT COPY/CUT! THIS’S ORIGINALY MINE!

HAPPY READING!;;) *bow*

 

***

 

“A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other…Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever”
Dave Matthews Band

Temperatur sudah berangsur-angsur menurun, daun-daun basah bahkan mulai menumpuk di tepian jalan. Mengingat ini minggu awal bulan Oktober, kota seakan mati saat hujan turun. Pikiran negatif semacam ‘lebih baik tidur ketimbang menyentuh permukaan jalan yang lembab’ mulai menjalar keseluruh kota. Meski suasana malam tetap selalu terlihat gemerlap layaknya musim panas, hanya segelintir orang yang terlihat melintas di trotoar.

 

“Sinting!!”

 

Park Jiyeon, seorang gadis beriris cokelat gelap dengan kelopak agak lebar memekik–memaki pengendara motor yang membuat sebagian celananya basah kuyub. Ia mendecak keras dengan masih berusaha membersihkan pasir-pasir kecil yang ikut menempel pada setiap jengkal celana hingga boot besarnya.

 

“Tidak ada gunanya memaki orang bodoh,” desisnya lalu merapatkan syal dan kembali membenahi sisa cipratan tadi.

 

Sebuah bunyi dentingan membuat perhatiannya teralih. Ia kembali tegak berdiri memutar tubuhnya ke arah sederetan pertokoan tua yang disulap gemerlap dengan lampu warna-warni dan beberapa pohon natal kecil di setiap sudut ruangan. Ia menghembuskan nafas, mengutuk dalam hati soal otak bodohnya yang bahkan lupa natal akan segera datang.

 

Angin berhembus menerpa surai cokelatnya membuat Jiyeon mengikat asal lalu kembali berjalan perlahan menyusuri trotoar sambil memperhatikan bola-bola lampu kecil yang berkelip layaknya menari di tengah dingin malam. Ia tersenyum miris, ia tidak benar-benar mengingat kapan terakhir kali ia merasakan kebahagiaan atau hanya sekedar kehangatan natal. Yang ia tahu, semuanya sama, tidak ada yang membaik, tuhan masih tetap mempermainkannya.

 

Ia melepas bootnya, membiarkan telapak kakinya menyentuh langsung tekstur kasar dan dingin jalan. Memejamkan mata dan memutar kembali potret memori dalam otaknya.

 

Ia tidak membenci musim gugur, hanya menyesali segala kenangan di dalamnya.

 

***

 

Waktu itu, musim gugur tepat dua tahun lalu, langit kemerahan menyelimuti kota Seoul membuat iris gadis itu memantulkan warna senada. Ia sedikit kecewa karena tidak ada pelangi yang muncul sesaat setelah hujan, padahal ia sudah menantikannya sejak musim gugur tiba.

 

Ia berjalan santai ke arah taman belakang sekolah, biasanya di sana banyak pemain skate yang sengaja tebar pesona. Iseng, siapa tahu ia bisa mendapat sedikit pencerahan.

 

Baru saja ia merapihkan rambutnya dan hendak lanjut berjalan ke arah kerumunan para pemain skate, perhatiannya teralih pada seorang bocah―dengan wajah jauh dari kata standar―melaju tenang di atas skateboardnya, terlihat jelas bahwa dia bukan bagian pemain-pemain di sana, bocah itu dengan cepat menghilang di balik sebuah pohon besar.

 

Ia penasaran, tentu saja. Mana mungkin bocah itu bisa menghilang tiba-tiba, ia jelas-jelas menapakkan kakinya di atas skate board, itu berarti ia sama sekali bukan hantu. Ia berjalan cepat ke belakang pohon dan mendapati tangga tambang bergantung kokoh di sana. Ia menengadah, dan siapa yang tahu di antara arena bermain yang mulai keropos, di atas sebuah pohon rindang yang mulai ikut menggugurkan daunnya bertengger rumah kayu kecil?

 

“Heh! Apa yang kau lakukan?”

 

Jiyeon masih memasang tampang kebingungan hingga tiba-tiba sebuah suara menyentaknya. Tak ada siapapun disana, apa mungkin ia berhalusinasi? Ia menoleh ke segala arah, nihil.

 

“Aaaaaa!” ia memekik keras ketika bocah yang sempat ia lihat tadi terbang―atau mungkin sebenarnya melompat dari atas pohon―dan sekarang berada tepat di hadapannya.

 

“yak! aku bukan hantu!”

 

“a–haha, tentu saja… kau bukan hantu,” ia sedikit terbata, “–yaampun, kau manusia atau malaikat?” lanjutnya berbisik pada dirinya sendiri.

 

“mwo?” mata bocah itu sedikit membesar.

 

“bukan apa-apa… eh, aku Park Jiyeon,” ia mengulurkan tangannya, sambil  berusaha tersenyum sebiasa mungkin.

 

“Kim Myungsoo,”

 

Begitulah semua berawal. Bulan-bulan terakhir di sekolah sebelum kelulusan akan menyenangkan, begitu pikirnya.

 

***

 

Jiyeon masih bergeming, mengikuti insting kaki telanjangnya yang berjalan tak teratur. Sekarang mungkin dia sudah benar-benar gila. Ia berdiri di hadapan pohon itu―pohon yang menjadi saksi pertemuan awalnya dengan Myungsoo.

 

Mengibas matanya yang mulai memanas. Sungguh bukan waktu yang tepat untuk menangis, mengingat tujuan awalnya menyusuri jalan malam ini adalah untuk bernostalgia. Ia menghembuskan nafas berat. Dalam benaknya ia tahu Myungsoo memang melupakannya, tapi setidaknya ia punya satu pendirian; ketika seseorang pergi memori akan tetap terjaga, ketika memori itu pergi sesuatu terdalam di hatimu tidak akan pernah bohong.

 

Ia meraba tangga tambang yang masih setia bergelantung di sana, lalu berbalik kembali tersenyum miris menatap sebuah bangku panjang di sudut taman. Memejamkan mata dan kejadian-kejadian menyenangkan yang menyesakkan itu kembali terputar di otak kecilnya.

 

Ia tidak membenci musim dingin, hanya menghidari memori hangat di antara tumpukan salju malam natal.

 

***

 

“Myungsoo-ya!”

 

Saat itu malam natal, salju mulai menyelimuti meski tidak begitu tebal. Pohon natal raksasa sudah dipasang megah di pinggiran Sungai Han, dengan bintang putih di pucuknya terlihat jelas berkelip mewah di malam hari. Itu bulan ke dua setelah pertemuan pertama mereka, dan seiring berjalannya waktu pertemanan mereka semakin erat.

 

“bagaimana menurutmu hari ini?” Jiyeon berkata sambil merapatkan sweater violetnya.

 

“kau tahu seberapa aku benci si tua Janie kan? Setiap ada dia, hari terasa suram―kecuali jika ia bisa menyuruhku berdiri di luar kelas selama ia mengajar,” Myungsoo hanya menjawab asal seperti biasa, membuat Jiyeon mendelik ke arahnya.

 

“apa salah ‘si tua’ itu padamu memang, eh? Setidaknya, dia tidak pernah menghukummu untuk membersihkan bagian bawah meja yang penuh dengan bekas permen karet―well, I mean like what she did to me.

 

Jiyeon  berkata dengan kemudian tersenyum miring mendapati telapak tangan Myungsoo di atas kepala. Bukan membelai, Myungsoo menjambak kecil poninya yang terjepit lalu terbahak. Yah, semua orang tahu Janie si guru Bahasa Inggris, nenek-nenek yang lebih sering di sebut Ma’am itu menjengkelkan.

 

“mungkin dia memang dendam padamu! Lihat saja, lulus sekolah nanti paling tidak kau kena jampi-jampi,” suara lantang Myungsoo berhasil mengunci mulut Jiyeon rapat, siapa yang tidak takut jampi-jampi, eh?

 

“kalau aku dijampi-jampi lalu mati misalnya, aku yakin kau akan sangat sedih,” jawabnya membuat Myungsoo memicingkan mata  mencemooh seperti biasanya.

 

Mereka berjalan ke arah sebuah kedai kopi kecil di dekat taman, menghiraukan suasana malam musim dingin yang mencekram.

 

“Jiyeon-ah, tunggu di tempat biasa,” Mungsoo berbicara dengan wajah datar, lalu melepas sarung tangan kulitnya. “Heh gadis gila! Kau mau mati kedinginan atau apa?” lanjut sambil mamasangkannya pada tangan Jiyeon yang sudah memucat.

 

“Ne,” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Jiyeon.

 

Ia berlalu begitu saja ke arah kedai, sedang Jiyeon berlari kecil ke arah bangku taman, ‘tempat biasa’ yang dimaksud Myungsoo tadi. Dalam seminggu mereka bisa berjam-jam melewati malam di sana. Hanya berjanda, tapi tak jarang mereka tertidur dengan saling menumpang bahu.

 

Myungsoo selalu begitu, seenak mulutnya berbicara. Untung ini bukan Amerika, siapa yang senang di panggil gila? Akan tetapi, justru sikapnya yang seperti itu yang membuat semua orang nyaman di dekatnya. Cengengesan, kadang lupa akan sopan-santun, tapi tidak ada yang berniat menjauhinya, sama sekali tidak. Dia pendengar yang baik, kau tidak akan percaya seberapa banyak orang yang mencurahkan isi hatinya di hadapan Myungsoo dan ia bongkar seenaknya pada Jiyeon.

 

Sebagai siswa Myungsoo juga bukan anak yang patuh aturan―meskipun tidak separah Jiyeon yang pernah melempar permen karetnya ke arah kepala yayasan di tahun ketiga sekolah menengah pertama―tapi hal itu juga yang membuat para junior banyak menaruh rasa padanya.

 

Bayangkan, Valentine tahun itu ada 6 cokelat dan 2 surat dengan wangi menyengat yang tersasar ke loker Jiyeon. Ia sudah sempat bangga pada awalnya, tapi tiba-tiba berenggut ketika setiap nama tujuan yang tertera justru ‘Kim Myungsoo’.

 

Di malam natal penuh bintang itu, ketika salju kembali turun dan bocah itu melepaskan jaket kelabunya untuk melindungi Jiyeon, gadis itu baru sadar ada rasa lain yang bergumuruh di dadanya.

 

***

 

Kembali tersadar dari lamunan, Jiyeon mengerjap lalu mengusap lengannya dan kini benar-benar berjalan kearah bangku taman. Tidak ada siapa-siapa disana, bangku taman masih terletak di tempat yang sama, hanya warnanya sekarang sedikit kemerahan―dua tahun lalu warnanya hitam pekat.

 

Dulu, mereka selalu ke tempat ini. Meski pada dasarnya rumah pohon di pinggir taman itu memang milik Myungsoo, tapi bocah itu lebih senang menarik Jiyeon untuk duduk di taman. Ia bilang di sana nyaman, memang jarang ada yang mengusik mereka di sana, selain karena letaknya benar-benar di pojok, pun bangku ini jauh dari jangkauan para pemain skateboard yang usil.

 

Ia menghempaskan tubuhnya, membiarkan bajunya sedikit demi sedikit menyerap air yang tersisa pada permukaan bangku.

 

Biasanya jika mereka di sana setelah hujan, Myungsoo akan mengelapnya permukaan yang basah dengan bajunya. Dan itu mau tak mau akan membuatnya lebih cepat kedinginan, dan pasti masuk angin setelahnya.

 

Saat ini, hal sebenarnya yang paling dia ingat adalah ketika mereka tertangkap basah oleh Lizzy―teman sebangkunya―sedang menghitung bintang-bintang di akhir periode musim dingin. Esoknya gosip aneh mulai bermunculan, puluhan siswa bertanya soal kepastian hubungan mereka. Ia akan akan tersenyum penuh arti setiap menjawabnya, begitu pula Myungsoo. Tak satu pun di antara mereka yang berniat memberi klarifikasi.

 

‘membuat orang-orang menjejalkan wajah penasaran di hadapan kita dan tidak mendapat jawaban yang jelas itu menyenangkan’ begitulah kata Myungsoo.

 

Jiyeon meraba sakunya mengeluarkan sebuah kotak kaleng kecil dan membukanya.

 

Ia tidak benar-benar ingat kapan terakhir kali ia membuka kotak itu. Dua buah foto langsung terpampang jelas. Ia tersenyum lebar sekali di kedua foto itu. Berbeda dengan bocah di sebelahnya, di satu foto Myungsoo memanyunkan bibirnya dan di foto lain tertawa dengan cengiran kalem khasnya.

 

Tangan Jiyeon menyentuh sesuatu yang sengaja ia sembunyikan di balik foto-foto itu. Sebuah kalung dengan liotin bintang kecil. Kali ini ia benar-benar tidak dapat menahan air matanya.

 

Ia menyukai musim semi. Setidaknya ada satu kenangan khusus yang dapat membuatnya bahagia.

 

***

 

“Huaacchii!!”

 

Jiyeon tak sengaja melempar buket bunga yang diberikan Myungsoo padanya. Kali ini siang hari pertengahan musim semi setahun yang lalu, suasana kota menjadi berwarna dimana-mana, wewangian bunga pekarangan bahkan bisa saja menyusupi dapur saat angin berhembus. Mereka sudah menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar teman, sekarang mereka sepasang sahabat.

 

Myungsoo bilang eomanya sedang rajin-rajinnya membuat buket, ia semacam memanen pekarangan rumahnya sendiri.

 

“Aish! ,Jiyeon-ah! Kau sebenarnya perempuan atau bukan?” Mungsoo menjitak kepala Jiyeon setelah memungut kembali buketnya. “kalau eomaku yang mengantarnya kesini tadi, kau pasti sudah di maki-maki,”

 

“Mian!” bentak Jiyeon sambil memukul pundak Myungsoo, “memang kau lupa aku alergi parfum?” lanjutnya berkacak pinggang lalu berjalan mendahului Myungsoo ke arah kamarnya.

 

“kau bedakan mana bau parfum mana bau mawar tidak, hah? Dasar gadis jadi-jadian…” ia menggeleng lalu ikut masuk ke dalam kamar Jiyeon.

 

Ia menimbang-nimbang memperhatikan setiap sudut kamar Jiyeon yang serba putih.

 

“Nah, tarus di sini saja,” ujarnya dengan puas setelah menaruh buket itu di dekat jendela. “Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” lanjutnya lalu merebahkan tubuh di kasur Jiyeon.

 

Jiyeon menggeleng dan berjalan ke arahnya. “Kau duluan, tadi kau bilang juga ingin membicarakan sesuatu kan,”

 

“aku penjunjung ‘lady first’, jadi kau yang harus bercerita lebih dulu!” Myungsoo menjawab angkuh membuat Jiyeon menunjukkan ekspresi jengkelnya dan duduk di tepi ranjang.

 

“hhhmm… kau tahu Sungjong kan?” mulai Jiyeon memutar tubuhnya menghadap Myungsoo.

 

“Lee Sungjong?” Jiyeon mengangguk  menanggapinya, “ada apa dengan bocah itu?” lanjutnya.

 

“mmm,” berdeham sejenak, “dua minggu lalu tiba-tiba ada email yang masuk untukku, isinya agak menjijikkan seperti surat-surat yang biasa kau dapat di locker. Ku pikir itu cuma email salah kirim dari orang, tapi ternyata tiga hari berturut-turut aku tetap dapat email masuk―yah, kau tahu sendiri ponselku jarang sekali seramai itu.

 

Di hari ketiga baru aku sadar nama pengirimnya ternyata Sungjong. Aku tanya pada Lizzy, ternyata tepat sasaran, si Lizzy ingusan itu yang memberikannya pada Sungjong. Akhirnya aku balas email itu, tapi hanya sekedar ‘heh, kau siapa?’ begitu. Tapi lama-kelamaan kami justru  mengobrol asik. Lalu hari minggu kemarin aku pergi ke taman bermain bersama si Sungjong itu, dia ternyata seru dan enak di ajak bercanda.

 

Dan puncaknya semalam, dia bilang mau mengajakku makan mie di pinggir jalan, tapi ternyata di tempat mie itu dia bilang suka padaku, dia memintaku jadi―kau tahu lah,”

 

Jiyeon diam sejenak, berpikir untuk melanjutkan ceritanya atau tidak. Ia memalingkan wajah ke arah jendela sebelum melanjutkan.

 

“dan… tadi pagi, aku menelponnya. Aku jawab ‘ya, aku mau’.”

 

Myungsoo yang dari tadi mendengarkan sambil menatap ponselnya seketika mengangkat wajahnya. Jiyeon kembali menatapnya, sekilas ia melihat raut yang sulit diartikan dari wajah Myungsoo, tapi sesaat kemudian Myungsoo justru tersenyum.

 

Ada sedikit rasa kecewa ketika ia mendapati senyum dari wajah Myungsoo, entah karena apa.

 

“oh…” Myungsoo semacam berseru, tapi lebih mirip desisan. “jadi kau sudah besar ya sekarang?” tawanya meremehkan, “jahat sekali! Kenapa sesudah kau terima baru memberi tahu ku?”

 

“Mianhe… aku takut kau marah,” Jiyeon menunjukkan puppy eyesnya, sejurus kemudian tangan Myugsoo sudah terangkat dan dengan lembut mengusap kepalanya.

 

“buat apa aku marah? Bukannya harusnya aku senang?” ia mencubit hidung Jiyeon kasar, lalu memegang pundaknya erat. “asal kau senang, aku pasti senang!” ia tersenyum, tapi matanya terlihat sendu.

 

“Ah, ya! Sekarang giliran mu!” Jiyeon berseru setelah setengah lega mendengar perkataan sahabatnya.

 

“tidak ada yang penting, aku hanya―” Myungsoo merogoh sakunya, lalu mengulur tangannya seakan dia menggenggam sesuatu.

 

“kau bisa tebak tidak apa yanga ada di tanganku?” tanya Myungsoo.

 

Jiyeon menggeleng cepat, “pasti sebenarnya kosong,” tebaknya asal.

 

Myungsoo menatapnya tajam sebelum membuka telapak tangannya membuat Jiyeon menelan ludah dengan susah payah. Sedetik kemudian bocah itu membuka tangannya. Jiyeon yang melihatnya sedikit ternganga, sebuah kalung perak dengan liontin bintang cantik memantulkan sinar yang masuk lewat sela-sela jendela. Matanya membulat, otaknya bertanya-tanya untuk siapa kalung itu.

 

“yeoputta…” lirihnya ketika otaknya mendapat jawaban pasti Jiyeon menggeleng cepat, mungkin Myungsoo juga punya pacar.

 

Tanpa aba-aba Myungsoo melepas pengaitnya dan memasangkan pada leher jenjang gadis itu. Membuat Jiyeon merasakan desiran yang lebih parah, nafasnya terasa amat sesak.

 

“ini jimat untukmu. Kalau kau sedih kau tinggal meminta pada bintang itu agar mengambil kesedihanmu, saat kau susah kau minta pada bintang itu untuk menolongmu. Dan… Selama bintangmu itu aku, kau akan selalu terjaga.”

 

Ia membisu, hanya bisa mengerjapkan mata mendengarnya.

 

Dan itu kata-kata manis terakhir yang pernah ia dengar dari mulut Mungsoo―pun hal termanis yang pernah ia rasakan di antara 4 musim yang bergulir.

 

***

 

Masih meraba liontin di tangannya, ia tersenyum miris bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes.

 

“kau bilang aku hanya perlu meminta jika aku sedih. Kau bilang kau bintangku. Bagaimana bisa aku meminta ketika bintangku bahkan tidak mengingatku sama sekali? Pabo! Kau bodoh, Kim Myungsoo. Dan aku idiot karena sadar bahwa aku mencintaimu,”

 

Ia tak bisa menahan air matanya lagi, tangisnya pecah. Adalah kesalahan besar bagi orang itu untuk kembali menemuinya, salah besar karena ia kemudian kembali sadar sebagaimana pun ia menangis tidak akan ada bintang yang akan mengambil kesedihannya.

 

“Kim Myungsoo…” desisnya di tengah isakan, “untuk apa kau menjauhiku?” kali ini suaranya bergetar, ia beruntung ini sudah malam dan tidak ada siapapun di taman ini, “apa begitu sulit untuk menjawab pertanyaanku? Untuk apa kau memperlihatkan wajahmu lagi di hadapanku?!” kali ini ia memekik.

 

Ia menarik kakinya menelungkup memeluk lutut, isakkan tak keruan sekarang.

 

“Aku yakin kau tidak amnesia, kau pasti ingat semua tentang kita,” suaranya kembali lirih, wajahnya lalu terangkat, “aku baru tahu kau pengecut! Aku baru tahu kau punya gengsi setinggi itu! Apa artinya waktu singkat kita sejak musim gugur hingga musim semi waktu itu? Apa aku telah melukaimu hingga kau meninggalkanku di musim panas itu?” ia menyeka air matanya dengan punggung tangan.

 

“jebal… beri aku satu alasan. Waktu itu, aku baru sadar aku mencintaimu, bahkan aku sadar aku sama sekali tidak punya rasa pada Sungjong. Jebaalll…” kembali terisak sambil meremas lututnya sendiri. Sakit, sesuatu di dadanya terlalu sakit untuk terus di tahan.

 

Gadis itu menggeram, dari semua musim yang terlihat indah ia benci musim panas. Ia benci sagala yang ada di sana. Ia benci di saat ia sadar tak ada lagi bintang yang berkelip di malam hari, tak ada lagi pelindung yang selalu ia dambakan. Tak akan pernah ada lagi seorang Myungsoo.

 

***

 

Mendekati pertengahan musim panas, matahari seolah tak bosan-bosannya bersinar saat itu. Udara pengap yang bisa membuatmu terus dan terus membasuh muka menyelimuti hingga malam tiba.

 

Juli, adalah bulan terakhirnya di sekolah menengah. Segalanya seharusnya berjalan lancar dan menyenangkan, tapi tidak untuk seorang Park Jiyeon. Memang, ia jauh di atas kata yakin akan lulus dengan nilai sempurna, tapi bukan itu yang membuat suasana musim panas makin suram. Kim Myungsoo mengacaukan semuanya.

 

Pagi itu Lizzy menghampirinya dengan tergesa-gesa, raut wajahnya bercampur panik juga kaget. Menepuk pundak Jiyeon sembari mengatur nafasnya.

 

“yeonie…” nafasnya tersenggal, “Myungsoo…” jeda sebentar mengatur nafas membuat Jiyeon ikut menunjukan wajah panik, “dia akan berangkat sekarang!”

 

Alis Jiyeon berkerut, “apa maksutmu, eh? Berangkat kemana?”

 

“Atlanta! Georgia! Ehm, Amerika!”

 

Lemas. Itu hal pertama yang ia rasakan. Tanpa pikir panjang ia berlari ke luar sekolah meninggalkan Lizzy yang meneriakinya.

 

Ia sama sekali tidak habis pikir, matanya panas. Apa Myungsoo sebegitu pendek akal karena dua hari lalu mereka bertengkar dan memilih untuk meninggalkan Korea?

 

Hanya pertengkaran kecil, bahkan di satu sisi itu bukan pertengkaran sama sekali―ia hanya menanyakan pendapat Myungsoo soal harus kembali pacaran dengan Sungjong atau tidak.

 

Seminggu lalu Sungjong tiba-tiba memintanya untuk menjauh sementara waktu, alasannya simple; masih punya perasaan pada mantan kekasihnya. Ia menceritakan semuanya pada Myungsoo, dan awalnya dengan tatapan malas bocah itu menjawab, “kan, kau terlalu bodoh sampai mau pacaran dengannya,”

 

Jiyeon memukul pundaknya, lalu kembali bertanya apa yang harus ia lakukan, lebih baik kembali atau tidak. Di luar dugaannya, Myungsoo berdiri dari kursi goyang yang ia duduki dan menggebrak meja belajarnya lalu berkata dengan senyum aneh.

 

“kalau kalian masih saling sayang, ya cepat balikan.” Kemudian ia keluar dari kamar Jiyeon.

 

Itu terakhir kalinya ia mendengar suara Myungsoo, kemarin meski sepanjang hari mereka duduk di meja yang sama, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Dan hari ini, masih tanpa berkata apa-apa ia akan pergi.

 

Memberhentikan sebuah taxi dengan cepat. Ia mengambil ponselnya, mencoba menelpon bocah itu. Tapi hanya suara profider yang menyautinya, ponselnya mati itu berarti ia sudah di bandara.

 

Bingung, kesal, sedih, entah apa lagi terus berkecamuk di pikirannya. Apa ‘persahabatan’ mereka selama lebih dari 7 bulan itu tak berarti apa-apa? Tubuhnya bergetar, pipinya basah tanpa aba-aba. Bahkan ketika Sungjong memintanya untuk menjauh waktu itu, tak sedikitpun ia berpikir untuk menangis.

 

Saat itu, ia baru sadar Myungsoo adalah segalanya. Tangisnya pecah ketika sampai di bandara dan mendapati satu-satunya pesawat menuju Atlanta telah take off lebih dari 30 menit sebelumnya.

 

Myungsoo benar-benar meninggalkannya. Ia bahkan baru sadar, persahabatan jauh lebih besar dari sekedar cinta. Karena di sana adalah dimana cinta, kasih, dan segalanya menyatu.

***

“Nan jeongmal… bogoshipo…” ia masih terisak, tapi kini kepalanya ia sandarkan pada pinggiran bangku taman. Lelah. Ia terlalu banyak menangis malam ini, penglihatannya sedikit kabur. Bukan hanya karena tak ada cahaya lampu sedikitpun, tapi juga karena air matanya yang masih menggenang.

 

“Mianhae…” samar ia melihat sosok yang sangat ia kenal, samar ia mendengar suara yang sangat ia rindukan.

 

“aku tahu aku pengecut, aku mengingatmu Jiyeon-ah… sangat mengingatmu,”

 

Suara itu terus bergema hingga ia benar-benar kehilangan kesadarannya. Gelap.

 

Bersama daun maple hijau kekuningan di awal oktober, ia berdoa agar harapannya terkabul―semudah Tuhan memisahkan dedaunan dari tangkainya saat musim gugur.

***

TBC

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 25/02/2014, in FF and tagged , . Bookmark the permalink. 47 Comments.

  1. maiianx honeys

    uuuuuu sungguh nyesek banget 😥
    persahabatan singkat mereka berakhir tragis , hiks hiks mereka berpisah 😦
    myung pura” gg kenal myung pasti ada alesan nya degh , penasaran , kenapa myung gttu ????????
    myung pasti cinta am jiyi degh !!!!!
    ehh hayo kenapa judul nya season ????
    ditunggu next chaptnya ^^

  2. Sad story,, tp keren thor,, gak sabar tunggu lanjutannya thor >_<

  3. vellani junanda

    sad story, feelnya dapet banget :/
    di part selanjutnya gak di PWkan?
    jangan ya, please? :3

    lupa.
    annyeong new member ve imnida, myungyeon shipper ^^

  4. Keren thor, akhrnya da jg ff yg castnya myungyeon
    next

  5. masih bgung,mgkin yg keduax akn lebih jelas.

  6. KEREN!!!
    Persahabatan yg Manisss~~ ditunggu part selanjutnyaaa^^ jangan lama” ya thorr..

  7. hwangtastic

    huaa !!!
    next thor !!

  8. Masih bingung –” tp nyesek amat jadi jiyeon , penyesalan selalu dtng terakhir 😦 sabar ya jiy . Next thor penasaran sama inti ceritanya

  9. myungyeon queen's

    wahh myungyeon jjang
    Aigo nyesek bgd cerita nya
    Knpha myung pura” amnesia di depan jiyi eonni
    Myung oppa jangan tinggalin jiyi eonni jebal
    Myung sbner nya cintakn ma jiyi

    Lanjut thor jgn lma2
    Gx tahan ngliat myungyeon sedih”an pgen nya happy2 ja

  10. nia joe or ljoe

    Sesak..
    Tp ttp johaaaa…
    Myungsoo sudah kembali kah??
    Penyesalan mmg selalu trlambat..
    Next

  11. Aku ngerti knpa jdl’y season,pasti ini tntang musim kn? Musim prtama mreka brtmu,dan musim saat mreka brpisah
    Ff’y kren 😀

  12. Myungsoo sbnrnya knp kok bs pura2 gak kenal jiyeon .aku msh bingung .soalnya inu kebanyakan flashback si .
    Tpi bagys .aku suka

  13. Ifahsiwonest

    Aigooooo ff nyaaa keren
    Hikss hiksss sumpah kenapa Myung jahat ninggalin Jiyeon,
    Myung cinta sama Jiyikan thor ?
    Aigooo penasaran
    Ditunggu kelanjutanyya secepatnya thor hehehehe

  14. emang bener kalau cewek sama cowok itu ngak bisa sahabatan, pasti tetep ada rasa suka yg nyelip.. myung kenapa ninggalin jiyeon. mereka sama-sama belum bilang cinta, makannya masih banyak puzle yg belum tersusun.. semoga mereka bisa ketemu lg dan tau perasaan masing-masing.

  15. Aaahhhh tidakk myungsoo jgn tinggalkan jiyi, huhu kasian bgt sih jiyi, nyesekk thor, next part update soon ^^

  16. Kok myungie gitu sih, persahabatn yg awalnya baaik2 aja berakhir jd perpisahan yg menyesakan 😥

  17. wah cuma satu lanjutkan

  18. Q masih agak bingung ceritanya,,,, hehe,,,, tpi tetep lanjutnya,,, siapa tau di chapter 2 lebih mengerti,,,,,,

  19. myungsoo pra2 gak knal jiyi pasti ada alasan x…..tp kasihan jga jiyi x dia mrasa sdih bngt krna myungsoo mnjauhi x…….next

  20. Awalnya rada bingung sih krna alur ceritanya. Tp pemilihan katanya bagus, keren thor, hiks. Lanjutannya jgn lama2 ya 😄

  21. ♔ 97queeny ♔

    myungsoo ada disatu taman sama tempat dg jiyeon? jiyeon denger suara myungsoo gak??
    nyesek >< kenapa myungsoo pura" amnesia? update soon, nde! 😉

  22. kerenn…
    aaaaahhh….apakah itu myungsoo yang dateng?
    plisss.. bilang kalo itu myungsoo wkwk
    lanjutannya ditunggu jeballlllllll

  23. Kyaknya myungsoo balik lagi dehh k koreaaa dan dia ngeliat jiyeon d tempat kenangan mreka ,, lanjut thor ,,,

  24. unha azhari

    endingnya nggk sad kan,,,,
    jaebal….
    sssuuukkkkaaa
    DAEBAK
    apa alasan myungsoo pergi??
    and,,nugundae??
    d tnggu thor kelanjutannya…..
    jgn lma”yyyyyaaaaa…. 🙂

  25. (Lia Anggraeni)

    cerita’nya sedihh yaa .
    Tapi aku agak masih bingung sama cerita’nya ..
    mungkin di part selanjut’nya akan lebih jelasss .

    Kasian sama jiyi, dia terpukul banget ya karna kehilangan myung .
    Emang knapa yaa myung itu pergi .??
    Penasaran banget deehhh .
    Aku tunggu ya part 2 nya .

  26. Uwoooo ada ff Myungyeon *0* /sujud syukur/?

    Ngga tau kenapa awal baca feelnya udah dapet, hampir mewek ini thor T~T aku yakin myungsoo ninggalin jiyeon karna ada hal lain. Ato nga dia mau nglanjutin sekolahnya keluar negri *sotau*
    Kayaknya myungsoo suka sama jiyeon, cuma jiyeon pas waktu itu belum peka. Pekanya pas udah ga ada ;-;

    Penasaran sama pov nya myungsoo. Apa dia baik baik aja di sana? /?

    Apdet sooon thor! ;*
    Eh tunggu, itu endnya myungsoo balik? Balik lagi ke korea? Dan pas pasan jiyeon pingsan? Aaah kepo everywhere/? Ditunggu ya thor;;)

  27. nurul fitriani

    Huwaa daebakk thor!! Feel nya dapet :’) aku ampe merinding bacanya *menghayati* hehe
    Ditunggut next chapt nya thor 😀

  28. Septian dewi

    Bgus bnget critanya thor. Alur dan bhasanya mrip bnget kyak novel” di luar negri. Pkoknya bgus bnget, di tnggu lnjutannya thor 🙂

  29. jiyeon always

    yahhh kok gini hummm next aja deh ^^

  30. .anyeong naneun ati imnida…
    aku reders baru d.sini mohon bantuannya *lebayy..
    thu si myung napa pura-pura lupa mha jiyeon..kan ksian jiyeon nya jadi mewek gitu
    lanjut thor ditunggu part selanjutnya…
    fighting..myunhyeon jjang jjang…

  31. Keren ff’a. Deskripsi’a bagus. Tapi flashback’a gg begitu bisa dipahami ya bagian mana’a. Tapi ya msih bs dingertiin ko alur’a.

  32. Keren… (y)
    Myungsoo.. kasihan juga ya.. mau meenyatakan cinta malah keduluan sungjong.. hah.. semoga myungyeon bersatu..

  33. keren.. sedih banget ya jadi jiyeon..
    emank myungsoo nya ilang ingatan ya? lanjut doank!

  34. Wah,,
    ini sad bgt ya keadaan jiyeon. Ikut mewek deh, hiks hiks hiks
    tp thor, flashbacknya gak teratur. Jadi rada bingung deh bedain tuh msa sekarang atau lampau, hehe
    slebihnya bgus lah..
    Next chap, jgn LAMA2, ,

  35. Wah,,
    ini sad bgt ya keadaan jiyeon. Ikut mewek deh, hiks hiks hiks
    tp thor, flashbacknya gak teratur. Jadi rada bingung deh bedain tuh msa sekarang atau lampau, hehe
    slebihnya bgus lah..
    Next chap, jgn LAMA2,,

  36. anyeong aku reders baru. ati imnida.
    itu sbenrnya myung itu knpa.pura-pura amnesia.
    prnasaran….Next Part thor Ppali…

  37. kristika park

    hy thor aku readers baru.
    salam knal yah.. 😀

  38. Aaaa sedih bacanya pas inget kalung dri myungsoo nya :(, ini ko gk ada lanjutannya thor?

  39. Seru nih! Next

  40. sad ;-; kata2 gue suka bangett dapet gitu rasanya pas baca

  41. Supah gue suka kata” mu thor enah gitu di baca..gue myungyeon shiper pula xD lanjut dong penasarannn gimana cerita cinta mereka ;-; oh iya next partya udah di post belum?

  42. Aaaaaa nyessss bacanyaa nyeseeeeekkk ToT

  43. Sedih ih…
    Mungkinkah saat Jiyeon bilang ke Myung dia udh jadian itu sebenernya Myung mau nyatain perasaannya ke Jiyi?
    Dan Myung pura” amnesia buat ngejauhin Jiyi..
    Next 🙂

  44. Huwaaaaa…. Sialan! Authornya mana?? Pengen marah-marah, ngena di hati isinya…. Jarang baca ff yang berbobot kayak gini…. Lanjutannya dong thor, jangan lama-lama ya… Hwaiting \(^o^)/

  45. Kreenn.. Bagus ceritanya!! Myungsoo kenapa ninggalin jiyeon yya,.. Trus apa sebenarnya myungsoo cinta yya ama jiyeon

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: