The Word Without Mentionable

donghae ff nc

Author : Piesem

Tittle : The Word Without Mentionable

Category : NC21, Oneshoot, Sad, Married life

Cast :

Lee Donghae

Park Sang-Mi

Choi Hye-Jin

Lee Donghyun (Donghae appa)

Oh Hye-Sun (Donghae Eomma)

Donghae, Sang-Mi room’s

Author pov

Oppa aaakkh… pelan-pelan.” lenguh Sang-Mi.

Tapi Donghae tidak mau mendengar dia terus saja mencoba mencumbu istrinya itu. Tidak ada kata ‘pelan-pelan’ dalam otaknya saat ini, yang ada hanya kata ’puas’ karna nafsu yang sudah menggebu dan tidak bisa dikompromi lagi membuatnya harus segera mencari pelampiasan.

“Ngngng… aaaargh” Sang-Mi terperanjat kaget ketika Donghae menggigit puncak payudaranya. Membuatnya merasakan perih. Tangannya mencengkram erat lengan Donghae mencoba memberitahu pada donghae apa yang ia rasakan. ”ouuh.. opp..aaa“ sekarang Donghae membenamkan wajahnya di belahan dada istrinya terus mencium, dan menghirup aroma yang membuatnya semakin dimabuk gairah.

Donghae mengangkat badannya berusaha duduk di atas perut Sang-mi. Membuka kemeja kantornya yang masih melekat dengan tergesa-gesa. Sang-Mi bernapas terengah-engah di bawah kuasa suaminya ia memandang Donghae yang sedang membuka kancing kemejanya satu- persatu kemudia melepaskan dan melemparnya ke sembarang tempat.

Setelah itu Donghae merendahkan wajahnya hendak meraih leher Sang-Mi, namun dengan cepat Sang-Mi menolehkan wajahnya ke samping kiri. Donghae meletakan tangan kirinya di dagu Sang-Mi menegakkan wajahnya kembali agar menghadap Donghae kemudian dia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir istrinya, dan kembali Sang-Mi menolehkan wajahnya ke sisi samping.

Donghae yang melihat hal itu merasa jengah. Nafsu nya yang sudah di puncak ubun-ubun merasa di permainkan oleh istrinya. Ia menegakkan tubuhnya kembali memandang istrinya yang sudah tidak berdaya helaian rambut yang berantakan, kissmark basah dimana-mana dan hanya berbalutkan underwear saja karna ulah nya itu.

Wae?” tanya Donghae mencoba bersabar menghadapi istrinya dan mencoba bersabar pula pada nafsunya.

Sang-Mi menegakkan wajahnya memandang ke arah mata donghae “Opp..pa” panggilnya lirih takut akan apa yang dikatakan nya.

Donghae POV

Aku kembali bertanya “Wae, eoh ?”

Dia hanya terdiam wajahnya tersirat keraguan dan matanya terlihat sendu dia tidak berani memandang wajahku dia berusaha terus mengaalihkan pandangannya tak tentu arah.

Astaga Park Sang-Mi ani Lee Sang-Mi apa sebenarnya yang sedang kau lakukan? Tidak sadarkah kau bahwa aku sudah tak bisa menahan nya?

Dia masih tidak memamndang ku. Emosiku sedikit tersulut, baiklah Lee Sang-Mi aku tidak akan meladeni sikap kekanak-kanakkan mu lagi, aku sudah sangat bergairah sejak tadi.

Aku menyentuh payudara sebelah kirinya mengelusnya dengan lembut menncocokkan dengan genggaman tanganku. Kedua tangan Sang-Mi hendak mencegah nya tapi aku tak kalah cepat, tangan kananku segera menahan kedua tangan nya di atas kepala nya. Kemudian tanganku berpindah menggoda payudara sebelah kanannya, menyentuk puncaknya menariknya kemudian melepaskannya.

“Aaarrgh…..” kembali Sang-Mi mendesah dengan apa yang aku lakukan.

“Aku bertanya padamu sejak tadi Lee Sang-Mi, ada apa?” Dia hanya kembali terdiam.

Belum sempat dia menjawab aku sudah kembali bertanya “wae?”

“Kau tidak mau melakukannya? Kau tidak mau melayani suamimu?” sekarang bukan hanya nafsu ku yang sudah berada di puncak tapi emosi ku pun sudah berasa di puncak nya.

Tanganku beralih ke celana yang masih aku gunakan, membuka ikat pinggang lalu menurunkan celanaku hingga sekarang tidak ada apapun lagi yang menutupi tubuhku. Sang-Mi terlihat ketakutan melihatku yang tergesa melakukannya aku sudah tidak peduli kau istriku dan kau harus melayaniku Lee Sang-Mi.

Dengan tergesa pula aku menarik underwear nya dan menurunkannya hingga ujung telapak kakinya,. Sang-Mi meraih tanganku mencoba menghentikannya, aku memandangnya tajam. Tangan kananku menggemgam kedua tangan Sang-Mi dan tanganku sebelah kiri mengocok junior ku. Lututku berusaha membuka kaki Sang-mi mencoba melebarkan kakinya untuk mempermudah proses selanjutnya prosen yang dinamakan bercinta.

Author pov

Donghae mencoba memassukan ujung juniornya ke dalam vagina Sang-Mi, tangan kanan yang tadi dia gunakan untuk menggenggam kedua tangan Sang-Mi yang mencoba meronta sekarang dia pergunakan untuk membuka lipatan vagina sangmi memperlebar jalan masuk junior nya.

“Appayo oppa… aaaakkkh” tangan Sang-Mi memukul lengan Donghae.

Kepalanya terus menggeleng ke kiri dan ke kanan dari kedua sedut matanya keluar setetes air mati menahan perih di bawah sana.

Donghae terus mencoba memasukkan juniornya wajahnya sudah penuh dengan peluh keringat memerah penuh gairah karna sulitnya proses memasukkan juniornya ke dalam vagina Sang-Mi.

Donghae meraih tangan Sang-Mi mengecupnya menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Sang-Mi sedangkan tubuh bagian bawahnya tetap mencoba mencari selubung kehangatan di dalam vagina Sang-Mi hingga akhirnya juniornya tertanam penuh dalam vagina Sang-Mi yang di iringi jeritan kesakitan dari Sang-Mi.

“Aaaarrrrkkkkhh” jerit Sang-Mi sambil memejamkan matanya.

Donghae mendiamkan juniornya mencoba menetralisirkan napasnya matanya tak pernah beranjak dari wajah Sang-Mi.

“Aku tadi sudah berusaha membuatmu basah agar tidak terlalu terasa sakit, tetapi kau terus menguji kesabaranku dan akhirnya menyulut emosiku Lee Sang-Mi” ucapnya penuh penegasan pada kata terakhirnya kata panggilan pada istrinya bila dia sedang marah.

Kemudian Donghae menggerakkan juniornya perlahan, membuat Sang-Mi menggelinjang di bawah Donghae, mata Donghae tak lepas dari wajah sang mi sedangkan Sang-Mi membenamkan wajahnya pada bantal yang dia tiduri.

“Kau benar-benar….” Donghae menarik wajah Sang-Mi menghadap kembali ke arahnya.

“Buka mata…mu aaahhh” Donghae mengeluarkan desahannya karena dia menambah tempo gerakkannya sehingga menimbulkan rasa yang nikmat pada kejantannnya yang di jepit oleh vagina Sang-Mi.

Sang-Mi perlahan membuka matan yang sudah basah oleh air mata nya, Tangan Donghae kemudian meraba perut Sang-Mi naik ke atas ke payudara Sang-Mi kemudian meremasnya pelan sama seperti tempo genjotannya juniornya di dalam vagina Sang-Mi . Sekarang ini menarik-narik kedua putting payudara Sang-Mi lalu melepasnya menarik lagi dan melepasnya. Mempermaikan dengan senyuman bertengger di bibir Donghae dia senang mendapatkan apa yang dia inginkan sejak tadi.

Sang-Mi terus menggelinjang atas perlakuan Donghae merasa kegelian dengan apa yang dia dapatkan pada tubuh bagian atasnya terlebih pada tubuh bagian bawahnya tepatnya pada vaginanya Donghae menggenjotnya terus dengan tempo yang sama.

“Kenap..aah kau mengeluar..kan air aakh matamu Lee Sang-mi?” Tanya Donghae diantara kegiatannya

“Kau tidak suka bercinta dengan aah suamimu?” Donghae menghentikan kegiatan nya dan kemudian memandang Sang-Mi. Sang-Mi hanya terdiam memandang Donghae dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ngngg..ooouuh” Donghae menghentakkan juniornya dengan tiba-tiba membuat Sang-Mi mengeluarkan suara nya.

“Bagaimana..” Tanya Donghae sambil terus menghimpit tubuh Sang-Mi.

“Kau tau..aaah” perkataan Donghae terpotong.

“Tu..gas seorang istri yang baik.. arrgh a adalah melayani suaminya di atas ranjang, membuatnya puas” kalimat Donghae terdengar terputus-putus bercampur desahan kenikmatannya.

Geumanhe, aah!” pinta Sang-Mi

Oppa,, arrgh” Donghae menambah tempo genjotannya, dia terus mencoba mencari puncak rasa kenikmatan pada kejantanannya. Apa yang di dengarnya sudah tidak dia pedulikan hanya desahan Sang-Mi yang dia anggap bisa dia dengar.

Donghae menghentakkan kejantannannya lagi, dia menariknya hingga pangkal ujung luar vagina Sang-Mi kemudian menghentakan masuk kembali menerobos masuk hingga mengenai dinding rahim sang mi dan setiap donghae melakukannya menimbulkan gesekan pada klitoris Sang-Mi. “Aah..aaahhh”

“Oouuh…ngng..” desah Donghae yang belum juga mendapatkan yang iya cari.

Sang-Mi mencoba menghilangkan suara desahannya dengan menutup mulutnya, melihat hal itu Donghae merasa kesal lalu menarik tangan sangmi yang digunakan untuk menutup mulutnya kemudian tangan yang lainnya dia gunakan untuk mencubit klitoris Sang-Mi.

“Aarrgh” mata Sang-Mi terbuka mencoba melihat apa yang donghae lakukan di bawah sana.

Dengan perlakuan Donghae yang seperti itu Sang-Mi tak kuasa menahan desahannya, Donghae terus saja menggenjot juniornya sambil terus mencubit kecil klitoris Sang-Mi.

*****

Lee Donghyun & Oh Hye-Sun home’s

Author pov

“Pergilah sesekali menengok suamimu di kantor” perkataan Hye-Sun terdengar jelas oleh Sang-Mi .

“..Ne Eomma.” jawabnya sambil tersenyum ke arah wanita yang di panggilnya Eomma.

“Jangan hanya berkata iya tapi kau tidak juga pergi, kau harus tau bagaimana dia bekerja, bagaimana lingkungan pekerjaannya, dan siapa saja teman nya dia di kantor” nasihat Hye-Sun dengan pandangan yang tak lepas pada menantu nya itu.

Sang-Mi hanya menjawabnya lagi dengan senyuman.

“Bagaimana jika sekarang? sebelum pulang ke rumah kau pergi ke kantor Donghae sebentar lagi jam makan siang, temani dia makan siang”

“Mungkin..nanti saja Eomma” mencoba menolak permintaan mertua nya dengan gugup.

Wae?”

“Mungkin Donghae oppa akan pergi makan bersama teman kerjanya yang lain di kantor eomma

“ya tentu saja Sang-Mi dan kau harus menemaninya mengenalkan dirimu sebagai istrinya pada teman-teman dan staff Donghae di kantor” keukeuh Hye-Sun

“Tapi..”

“Kenapa lagi eoh?”

“Aku..a aku takut Donghae oppa ma..mal” perkataan Sang-Mi terpotong

“Berhenti berpikiran seperti itu Sang-Mi~ya kau wanita yang cantik saying, kau juga pintar dan berpendidikan” tangan Hye-Sun membelai wajah Sang-Mi.

“Apa ada yang menghinamu di luar sana, mengatakan yang tidak-tidak tentang menantu Eomma? Siapa eoh? Katakana pada eomma siapa orangnya?” tangannya beralih menggemgam tangan Sang-Mi.

“Ani.. tidak ada eomma

“Lalu kenapa? Kau menantu terbaikku kau sudah ku anggap seperti anak ku sendiri katakan jika ada sesuatu yang mengganjal dihatimu nak”

Sang-Mi melihat guratan kesedihan di mata Hye-Sun. Dia tidak bermaksud menolak keinginan mertua nya itu. Sebetul nya hanya sebuah permintaan kecil. Tapi entah kenapa Sang-Mi berat untuk menuruti nya. Dan melihat hal itu membuat Sang-Mi tidak tega lagi untuk tidak menguikuti keinginan mertua nya itu. Dengan perasaan ragu akhirnya dia menuruti keinginan mertua perempuan nya itu.

“Baikklah eomma sebelum pulang aku akan berkunjung ke kantor Donghae oppa dulu”

Wajah Hye-Sun berubah drastic, guratan antusias tergambar. “Kajja, kajja eomma akan mengatakan pada supir Kim agar kau diantarkan dulu ke kantor Donghae baru setelah itu kau pulang ke rumah” senyuman penuh kebahagian tak lepas dari bibir Hye-Sun mendengar perkataan menantunya.

*****

Di dalam mobil Sang-Mi meremas pergelangan tangannya mencubit-cubit kecil. Kebiasaannya ketika gugup atau gundah itu yang dia lakukan. Banyak hal yang berkecambuk dipikirannya. Apakah Donghae tidak apa-apa jika dia datang ke kantornya? atau lebih baik dia langsung pulang saja? tapi dia teringat perkataan eomma nya tadi, atau mungkin lebih baik dia mengabari Donghae terlebih dahulu? ya sepertinya lebih baik seperti itu.

Sang-Mi membuka tas jinjing yang dia bawa dan mencari handphone nya kemudian memijit speed dial nomor satu. Setelah beberapa saat tersambung, tapi belum ada jawaban. Sang-Mi mencoba menghubungi lagi dan nihil tetap tidak ada jawaban. Mungkin Donghae sedang rapat jadi tidak bisa menjawab teleponnya. Pikir Sang Mi.

“Nyonya muda sudah sampai” Sang-Mi tersadar dari lamunan nya ketika Kim ajusshi mebukakan pintu mobil.

“Oh ne..sudah sampai Kim ajusshi?” Tanya Sang-Mi sambil turun keluar dari dalam mobil.

“Ye nyonya silahkan”

“Terimaksih Kim ajusshi” supir keluarga yang dipanggil Kim ajusshi menutup kembali pintu mobil kemudian masuk kembali ke kursi kemudi.

Sang-Mi memandang ke depan ke bangunan megah yang banyak orang berlalu-lalang dia melirik jam tangannya nya. Ya ini sudah menunjukkan jam makan siang pantas banyak orang berlalu-lalang tidak diam pada tempatnya. Sibuk mencari sesuatu untuk dapat mengenyangkan perutnya.

Dia masuk melalui pintu utama dan berdiri bingung entah harus kemana pikirnya. dimana ruangan tempat Donghae bekerja? Dia kemudian berjalan lebih masuk dengan perlahan shendak mendekati meja di depan lift tetapi tanpa tanpa sengaja dia menubruk bahu seseorang.

Mi..mian” Sang-Mi meminta maaf.

Nan gwenchanayo” jawab lelaki itu singkat sambil membetulkan letak jas nya.

“Oh nyonya Lee” kata pria di depan Sang-Mi sadar setelah mengangkat wajah nya.

“Sekertaris Jung” jawab Sang-Mi terheran

“Ah jwesonghamida nyonya, saya kira bukan nyonya.” sekertaris Jung meminta maaf sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.

Ne… gwenchanayo

“Ada yang bisa saya bantu nyonya? Anda mengunjungi hwajangnim?”

“…” Sang-Mi terdiam lalu mengusap lengannya gugup malu dengan pertanyaan sekertaris Jung

“Ne tadi setelah berkunjung dari rumah Eomma kebetulan Kim ajusshi melewati depan gedung. jadi aku pikir mungkin tak apa untuk berkunjung dan mangajak Donghae oppa makan siang” jawab sangmi malu.

Aigoo Anda istri idaman sekali nyonya mengunjungi suami di kantor dan mengajak makan siang bersama” timpal sekertaris Jung dengan senyuman yang melekat di bibir nya.

“Tapi aku tidak tau ruangan Donghae oppa dimana?”

“Kalau begitu mari saya bantu, saya antarkan nyonya”

Ne, ne gomawo

Mereka berjalan berdua menuju lift terlihat beberapa orang menyapa sekertaris Jung, ya sekertaris jung yang di sapa karna tidak banyak yang tahu bahwa wanita yang berada di samping sekertaris jung  adalah istri atasan mereka istri pemimpin perusahahan tempat mereka bekerja.

Hwajangnim bekerja di lantai 37. Lantai tertinggi di gedung ini, seluruh lantai itu adalah kantor hwajangnim, bersama saya dan beberapa staff lainnya yang membantu hwajangnim bekerja.” ucap sekertaris Jung.

Sang-Mi hanya tersenyum meanggapi perkataan sekertaris Donghae itu.

Cha sudah sampai.” Ucap sekertaris Jung. ketika sekertaris Jung hendak keluar sang-Mi menahan tangan nya.

“Di antar sampai sini saja, sekertaris Jung bis pergi mencari makan siang aku sudah memotong jam makan siang anda.”

Gwenchanseumida nyonya, saya bisa makan dengan cepat Anda tidak usah mengkhawatirkan hal itu”

“Anda tunjukkan saja dimana ruangannya biar aku cari sendiri” kata Sang-Mi sambil tersenyum.

“Baikklah nyonya jika anda ingin memberikan kejutan untuyk hwajangnim” Ucap sekertaris Donghae sambil menggoda.

“Dari keluar lift ini anda masuk pintu besar yang di depan itu nyonya, lalu belok kiri ruangan yang di ujung itu adalah ruanga hwajangnim

“Ooh baikkah gomawo sekertaris Jung”

“Sama-sama nyonya Lee. Sepertinya hwajangnim masih berada di ruangannya ketika tadi saya keluar saya lihat hwajangnim masih memeriksa beberapa dokumen”

“Sekali lagi terimakasih sekertaris Jung”

“Ne jangan terlalu sungkan seperti itu nyonya Lee”

Pintu lift tertutup Sang-Mi berbalik menuju pintu utama yang berda di lantai itu, lalu masuk dan berbelok kiri seperti arahan yang sekertaris Jung katakan dia melihat sebuah ruangan di ujung. Berjalan mendekat, pintunya sedikit terbuka betul itu ruangan Donghae dia bisa melihat Donghae sedang duduk dikursinya dengan tumpukan dokumen di atas meja. Ketika sang-mi hendak mengetuk pintu tangannya terhenti di udar. Dia melihat Donghae tiba-tiba merentangkan tangannya dan seorang perempuan cantik menggunakan dress pas badan sehingga membentuk tubuh indahnya mendekat menghambur ke dalam dekapan dan pelukan Donghae lalu duduk di pangkuan Donghae.

Sang-mi hanya dapat terdiam kaku memandang hal itu kakinya terasa lemas tangannya yang tadinya akan mengetuk pintu terkulai lemas di samping tubuhnya. Matanya tak berkedip melihat hal itu. Ingin rasanya pergi menggerakkan kakinya itu tapi samar-samar dia dapat mendengar pembicraan kedua orang yang ada di ruangan yang hendak iya masuki, ani bukan samar-samar bahkan dapat ia dengar dengan jelas.

Author pov

“Kenapa kau harus cemburu kepadanya?” Tanya Donghae menggoda seorang wanita yang berada di pangkuannya.

“Dia hanya seorang wanita biasa saja, yang tidak berpenampilan menarik, juga tidak cantik seperti dirimu” tangan kiri Donghae melingkar di pinggul wanitanya menahannya di pangkuannya agar tidak jatuh,tangan kirinya dia gunakan untuk membelai pipi merah wanita itu.

“Tapi dia istri oppa, setiap malam dia tidur di kasur yang sama dengan oppa” jawabnya manja sambil membelai rambut Donghae.

Aigoo uri Hye-Jin cemburu eoh?” didekatkannya wajah Donghae ke wajah wanita itu.

“Dengar, dia tidak ada apa- apanya di bandingkan denganmu , dia tidak cantik, pendidikannya jauh dibawahmu, dan dia tidak memiliki orang tua yang hebat, berkuasa dan mempunyai perusahaan besar seperti orang tua mu” wajah Donghae semakin mendekat mengikis jarak diantara mereka.

“…”

“Tapi kenapa oppa masih mempertahankannya di sisi oppa? masih juga mempertahankan pernikahan kalian.” Tanya Hye-Jin sekarang tangan kirinya berpindah membelai halus leher Donghae sedangkan tangan kanannya masih mengusap rambut Donghae.

“…” mulut Donghae tidak mengeluarkan kata-kata terdiam memandang bibir Hye-Jin tapi pikirannya entah menerawang kemana akibat pertanyaan Hye-Jin tadi.

Oppa?” panggil Hye-Jin.

Oppa” panggilnya kemabali. Membuyarkan lamunan Donghae.

Donghae memajukkan wajahnya kembali mengecup bibir merah hye-Jin membuat Hye-Jin terkaget membulatkan matanya lalu dengan manja memukul bahu Donghae.

“Aiiish bukannya menjawab pertanyaanku malah menciumku siapa yang mengijinkan mu mencium bibir ku oppa? Eoh?.”

Donghae hanya tersenyum mendengar perkataan Hye-Jin dia mendekatkan badannya dan memeluk Hye-Jin. Mereka saling terdiam.

“Saranghae” ujar Hye-Jin masih dalam pelukan Donghae

“Sarang…” perkataan Donghae terhenti Donghae tidak melanjutkan perkataannya dia melihat bayangan di balik pintu dan bayangan seorang wanita dari siluet nya dia seperti mengenal wanita itu, ani tidak mungkin pikirnya. Donghae melepaskan pelukannya mencoba menurunkan Hye-Jin dari pangkuannnya. Membuat Hye-Jin terheran memandang Donghae.

Donghae berjalan ke arah bayangan yang tadi dia lihat mendekati pintu masuk. Pintunya seperempat terbuka. Apakah Hye-Jin lupa menutup rapat tadi ketika dia masuk? Pikir Donghae. Donghae membuka pintu menjadi lebih lebar dan betapa kagetnya dia melihat siapa yang ada di depan nya sekarang. Benar bayangan wanita itu dia kenal ya Sang-Mi istrinya.

“Sang-Mi.” Donghae terkaget melihat siapa yang berada di depannya.

“..” tidak ada jawaban dari orang yang Donghae panggil

“Mi..mian oppa” kata-kata nya terputus-putus.

“Aku sudahh mengganggu oppa

“Sang-Mi~ya

Mata Sang-Mi sudah berkaca-kaca Donghae dapat melihat tangan Sang-Mi juga bergetar membuat dada Donghae ikut bergetar melihatnya. Donghae betanya-tanya sejak kapan Sang-Mi ada di sini? apa dia mendengar pembicaraannya bersama Hye-Jin?.

“Aku tadi mencoba menelpon oppa untuk memberi tahu aku akan kemari tapi tidak ada jawaban jadi..” Perkataannya terputus karena tarikan napas dalam.

“Aku langsung datang kemari, tadi.. tadi aku dari rumah eom..mma” perkataannya terputus kembali air di pelupuk matanya sudah mendesak ingin keluar dada nya begitu sesak dan terasa perih sekarang.

Apa yang harus aku katakana? Apa yang harus aku lakukan? Piker Sang-Mi.

Oppa ada apa?” terdengar suara wanita keluar dari ruanagn Donghae meraih lengan Donghae bersandar manja di bahu donghae sambil memandang sang-mi.

“A aku pulang oppa permisi” setelah melihat pemandangan di depan nya hanya kata itu yang terlintas dipikirannya hanya kata pergi dari sini yang ada di dalam otaknya, dia berjalan cepat nyaris berlali kecil. air matanya sudah menetes keluar, dia benar-benar tidak bisa menahannya kemudian masuk ke dalam lift. Mencoba menennangkan dirinya agar air matanya tidak turun dan keluar kembali membasahi pipinya.

Donghae terpaku di tempatnya tubuhnya lemas hati nya masih bergetar menemukan Sang-Mi di depan ruangannya ketika dia sedang bersama Hye-Jin. Kaki nya terasa kaku sulit untuk di gerakan ingin rasanya mengejar Sang-Mi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tapi sepertinya Sang-Mi memang sudah tau apa yang sebenarnya terjadi dan sudah jelas juga apa yang sang-mi lihat dan sang-mi dengar.

Oppa” panggil Hye-Jin yang masih bergelayut manja di lengan Donghae. Donghae melirik ke samping melihat Hye-Jin yang tersenyum kepadanya.

Oppa jangan pernah tinggalkan aku”  Ucapnya dengan tentu saja masih tersenyum kepada Donghae. Senyum yang sangat manis bahkan lebih manis dari biasanya setelah melihat Sang-Mi pergi dengan keadaan yang entah sulit untuk digambarkan.

Kajja kita makan siang oppa! Aku ingin makan lasagna” belum sempat Donghae Menanggapinya Hye-Jin sudah menarik Donghae memasuki lift.

Donghae pov

Aku memaandang keluar menmandang tiap lantai yang aku lewati bersama Hye-Jin. Entah apa yang dibicarakannya sejak tadi aku mendengar Hye-Jin terus berbicara mengenai ini dan itu tapi aku tak konsentrasi menanggapinya hanya aku balas dengan kata ya dan kadang hanya aku balas dengan gumaman saja.

Aku memikirkan Sang-Mi ya gadis bodoh itu entah bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia sudah pulang? Apa dia baik-baik saja?. Aku memikirkan hal itu dan kenapa tadi dia tetap menanggapinya dengan tersenyum?. Ah molla! Memang apa yang harus dia lakukan memukulku hingga mati atau melempar Hye-Jin ke luar gedung?. Tidak Mungkin dia bisa melakukan hal itu.

“hwajangnim” terdengar suara seseorang memanggilku. Menyadarkan ku dari lamunanku. Ternyata sudah sampai lantai bawah.

“…”

“Anda bersama..” tunjuknya pada Hye-Jin dengan mata sedikit membulat dan dahi sedikit berkerut. Memperlihatkan tampang nya yang bodoh.

“Nyonya..tadi…aku” perkatannya terpotong-potong. Aku yang sadar dengan kata ‘nyonya’ dan kebingungan yang ditunjukkan oleh sekertaris Jung  melepas tangan Hye-Jin.

“Tunggu aku di depan ada yang harus aku bicarakan dengan sekertaris Jung”

Hye jin mengangguk meninggalkanku bersama sekertaris Jung. Dan dengan tiba- tiba Hye-Jin mengecup pipi kananku. Sekertaris Jung yang melihatnya menundukkan wajahnya. Kenapa dia harus menundukkan wajahnya aku rasa dia sudah sering melihat Hye-Jin melakukan itu padaku. Dasar bodoh!.

“Ada apa sekertaris Jung”

“Tadi maaf hwajangnim tadi.. aku”

“Bicara yang jelas dan selesaikan tiap kalimatmu”

“Maaf hwajangnim

Wae geureu?”

“tadi aku bertemu nyonya di sini yang kebingungan mencari ruangan anda lalu saya mengantarkannya. Menaikii lift hingga atas sampai pintu utama ruangan anda. Karena nyonya melarang saya mengantar hingga ruangan Anda jadi saya hanya memberikan arah saja dan nyonya pergi sendiri mencari ruangan Anda”

“…”

“A apa nyonya tersasar,aku khawatir nyonya..tapi..”

“Jam berapa kau bertemu dengannya”

“Sekitar pukul 12 lewat hwajangnim

“Aku sudah bertemu dengannya, dia sudah pulang sekarang kau tidak perlu khawatir” aku pergi meninggalkan sekertaris Jung yang masih kebingungan. Berjalan ke depan ke arah Hye-Jin yang sudah menunggu.

Donghae & Sang-Mi house’s 20:00 kst

Author pov

Donghae membuka pintu kamar tidur nya tangan kiri nya menenteng jas yang sudah dia lepas. Sedangkan tangan kanannya mencoba membuka dasi yang masih melilit di lehernya. Kemudian meletakkan jas di atas sofa dekat tempat tidur nya dengan Sang-Mi. Ia melihat Sang-Mi sedang merapihkan lemari baju. Memasukkan kemeja yang sudah Sang-Mi setrika rapi ke dalam lemar. Menggantung satu-persatu celana Donghae di lemari sebelahnya kemudian mengambil baju tidur di dalam lipatan baju yang memang sengaja di lipat tidak di gantung seperti pakaian kantor Donghae.

Donghae tau Sang-Mi menyadari kehadirannya tetapi Sang-Mi lebih memilih untuk terus mondar-mandir membereskan lemari mereka.

“Sang-Mi~ya” panggil Donghae. Sang-Mi tidak menoleh ataupun bergeming barang sedikit saja. Tetap fokus dengan apa yang dia lakukan.

“Lee Sang-Mi” panggil Donghae kembali dengan suara yang sedikit lebih keras.

Sang-Mi menutup lemari membalikkan tubuhnya menghadap Donghae. Mencoba tersenyum hangat seperti biasanya. “Oppa sudah pulang? Aku sudah menyiapkan air panas di dalam kamar mandi setelah ini selesai aku akan menyiapkan makanan” lalu kembali membalikkan tubuhnya menghadap lemari. Tangannya menggapai pegangan lemari entah apa yang Sang-Mi lakukan padahal yang Donghae tau lemarinya sudah Sang-Mi tutup rapat tak ada baju yang harus di bereskan lagi. Donghae melihat tangan Sang-Mi sedikit bergetar. Donghae mendekat ke arah Sang-Mi hendak meraih tangannya, tetapi Sang-Mi langsung menghindar pergi membawa baju tidur yang tadi dia ambil dan meletakkannya di atas kasur.

“Aku akan menyiapkan makan malam dulu oppa, ini pakaian ganti oppa aku simpan di sini” kemudian berjalan melewati Donghae menuju pintu untuk keluar menyiapkan makan malam mereka.

Donghae menyadari bahwa Sang-Mi sedang menutupi kesedihannya terlihat dari matanya yang mencoba bertahan agar tidak berkaca-kaca. Tangannya yang bergetar memperlihatkan dia sedang menahan gejolak kesedihan dalam hatinya.

Ya Donghae hanya mencelos menyadari hal itu, telapak tangan nya mengusap wajahnya yang lelah kepalanya menunduk menatap lantai dibawahnya. Badannya dia senderkan pada tiang ujung belakang kasur mereka. Ada sedikit hal yang mengganjal dalam hati nya melihat Sang-Mi seperti itu. Dia sedikit merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan tadi terhadap istrinya. Kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari mulutnya begitu saja meluncur tanpa memikirkan perasaan Sang-Mi bila sang-Mi mendengarnya.Ya betul hatinya juga merasa ada sebongkah kayu yang mengganjal melihat Sang-Mi seperti itu melihat Sang-Mi yang mencoba menhan kesedihannya dan menutupinya di depan dirinya. Juga yang pasti ketika Sang-Mi menghindarinya terasa sangat jelas bahwa hati nya tidak bisa menerima hal itu.

Sang mi pov

Aku meletakkan potongan buah kesukaan Donghae oppa di meja ruang televisi. Donghae oppa terlihat sedang duduk beristirahat sambil mencari chanel yang di anggap nya menarik. Dan aku beranjak pergi kembali ke dapur.

“Duduklah” terdengar suara Donghae oppa pelan.

“Ne?” tanyaku.

“Duduk, temani aku menonton.” perintahnya sambil menggeser tubuhnya memberikan space kosong di sofa untuk aku duduki. Kemudian aku mendekat dan duduk di sampingnya, sambil menatap televisi.

Donghae oppa mengambil buah potong yang tadi aku bawakan dari atas meja memakannya satu persatu. Aku tau Donghae oppa mencoba mencuri pandang ke arah ku tapi aku tetap memandang lurus ke arah televise. Aku takut bertemu pandang dengan Donghae oppa, aku takut melihat matanya membuat aku teringat sesuatu yang menurutku cukup menyakitkan.

“Kau… tadi pulang bersama Kim ajusshi?” Tanya Donghae oppa mencoba melepas keheningan diantara kami.

“Ne..” jawabku sambil menganggukkan kepala tapi tetap melihat ke tayangan televisi di depan.

Kembali terjadi adegan saling diam diantara kami hanya terdengar suara dari dalam televisi dan suara garpu yang beradu dengan piring tempat aku menempatkan buah-buahan tadi.

“Aku ingin menjelaskan.. hhmmh.. mengenai tadi siang..” Donghae oppa kembali membuka pembicaraan.

Nan gwenchana oppa” ucapku sambil tersenyum memandang ke arah Donghae oppa menahan segala gejolak yang ada pada hatiku.

Nan gwenchana..” ucapku kembali. Sekarang aku tidak berani memandang ke arahnya benar dugaanku ketika aku memandang Donghae oppa hatiku tersa sesak, tidak sanggup berkata apapun. Merasa kembali teringat dengan kejadian tadi siang membuatku membisu. Aku menundukkan wajahku. Aku sedang tidak ingin membahas masalah itu, aku takut entah apa yang aku takutkan? Tapi yang jelas jika ingat masalah itu hatiku tersa sakit entah kenapa aku hanya ingin mencoba melupakaknnya walaupun aku tau tidak akan pernah bisa aku lupakan aku hanya mencoba meminimalkan rasa sakit nya saja dengan tidak membahasnya.

“Sang-Mi~Ya tadi itu” aku berdiri dari sofa yang aku duduki bersama, membuat Donghae oppa secara refleks menghentikan perkataannya.

Mian oppa aku harus membersihkan dapur, permisi” ucapku sambil tersenym lalu beranjak dari tempatku  dengan tergesa, dan meninggalkan Donghae oppa bersama  pembaca berita di televisi yang sedang menyampaikian beritanya.

Donghae & Sang-Mi room’s 23:00 kst

Author pov

“Kau sudah tidur?” tanya Donghae. Tak terdengar suara apapun dari orang yang di tanyanya itu.

“Sang-Mi~Ya?” panggil Donghae pelan. Masih belum ada pergerakan juga. Donghae sudah akan menyerah dia menaikkan selimutnya hendak pergi tidur dan berfikir untuk membicarakan hal ini pagi nanti. Tetapi sebuah pergerakan di sampingnya membuat dia membuka matanya kembali. Sekarang Sang-Mi sudah duduk bangun dari tidurnya. Donghae pun beranjak bangun dan ikut terduduk di hadapan Sang-Mi.

Oppa” panggilnya pelan, sangat pelan bahkan nyaris menghilang bersama keheningan malam itu.

Mian…a aku me..mem..mang seorang yatim piatu yang tak pantas bersanding di samping oppa” terdengar suara Sang-Mi terbata-bata memulai pembicaraan.

“Aku juga bukan wanita yang menarik dan orang tua ku pun tidak memiliki perus..sa…Ani mereka sudah tidak ada kenapa aku membawa-bawa mereka dalam pembicaraan ini?”

“Ah mian oppa” bergetar ya sekarang suara Sang-Mi bergetar terpotong. Juga bingung untuk berbicara seperti apa? Perasaan sesak di dadanya serasa menggumpal dan sebentar lagi terasa akan meledak terlebih menyinggung soal orang tua nya.

Sang-Mi menarik napas dalam mencoba menahan dan terus menahan sesak di dadadnya dan menenangkan degupan jantungnya. “Dan maafkan aku oppa bukannya aku tidak tahu diri, ah ani aku memang tidak tahu diri hanya saja aku tidak bisa meminta perpisahan kepada oppa..”

Pertahanan Sang-Mi runtuk dua bulir air matanya menetes dari kedua matanya, dia terisak lalu dengan segera membalikkan badan memunggungi Donghae. Menyeka air matanya, memukul-mukul pelan dadanya. Dia tidak ingin Donghae melihat air matanya. Tapi nihil sudah, karena tanpa permisi air matanya keluar. Dia mengelap dengan punggung tangannya. Donghae yang melihat hal itu mengulurkan tangan nya hendak meraih bahu Sang-Mi tetapi hal itu urung dia lakukan, entah mengapa tangannya terhenti padahal jaraknya dengan bahu Sang-Mi tinggal sedikit lagi. Dia memandang tangannya, merasa tangannya kaku tidak bisa di gerakan dia teringat dengan kejadian tadi siang kejadian yang membuat Sang-Mi seperti ini padahal dia tau Sang-Mi bukan orang yang dengan mudah meneteskan air matanya dia akan selalu terlihat kuat dan tegar di depan siapapun dia akan selalu tersenyum dan tidak pernah memperlihatkan kesedihannya ya dia tau itu dan tanpa dia sadari dia sudah sedikit banyak mengenal istrinya itu.

Sang-Mi berbalik membuat Donghae menarik tangannya kembali dan tersadar dari lamunannya.

“Mian oppa seharusnya oppa tidak melihat hal seperti ini”

“…..”

“Tetapi…” Sang-Mi terus mencoba menahan agar air matanya tidak keluar lagi karna dia pikir sangat memalukan sekali keadaannya jika harus menangis di depan Donghae.

“Aku tidak akan pergi meninggalkan oppa, aku tidak akan mencampakkan pernikahan ini” sambil mencoba tetap memperlihatkan senyumnya.

“Jika oppa yang meninggalkan aku…oppa yang memberikan surat cerai untukku, aku..aku akan melakukannya untuk oppa. Aku akan manandatanganninya.”

“…” tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Donghae dia hanya melihat Sang-Mi memandangnya tanpa berkedip. Memandang pahit seorang wanita yang dia anggap tangguh, dia anggap hangat ternyata tidak bisa bertahan juga jika memang sudah terlalu dalam sakit yang wanita itu rasakan, sesak yang dia tahan. Setangguh apapun, setegar apapun wanita dan sehangat apapun senyuman yang dia miliki itu sekarang hanya tertundudk bahka mengangkat kepalanya dan memperlihatkan senyum hangatnya saja sekarang dia tidak bisa hanya itu yang ada di pikiran Donghae.

“Jadi apapun yang terjadi aku tak akan pernah pergi meninggalkan oppa terlebih dahulu, sekeras apapun usaha oppa untuk membuat aku pergi dari sisi oppa aku akan tetap bertahan.” kukuh Sang-Mi.

“Tetapi jika oppa yang lebih dulu pergi meninggalkan aku, entah itu maut yang memisahkan kita atau oppa memang suidah tidak menginginkan aku sebagai istri oppa yang berada di samping oppa, aku akan menerimanya.” Tunduk Sang-Mi semakin dalam sambil mengeluarkan tetesan air matanya lagi beranjak pergi turun dari tempat tidur. Pergi ke kamar mandi menutupnya pelan meninggalkan Donghae yang terdiam membisu di tempatnya.

Donghae hanya bisa memandang kepergian Sang-Mi semua perasaan berkecambuk di dadanya. Entah apa yang dia rasakan rasa sedih melihat Sang-Mi dengan keadaan yang seperti itu. Kesal, marah dengan kata-kata Sang-Mi tadi tapi dia bingung kenapa dia harus kesal atau marah bukankah jika dia memang ingin berpisah dengan Sang-Mi dia tinggal memberikan Sang-Mi surat cerai dan pergi meningglakan gadis itu sendiri ya sendiri itu yang ada dipikiran Donghae.

Sang-mi secara tidak langsung barusan mengatakan cara untuk mereka bisa berpisah. Pikir Sang-Mi, Donghae ingin berpisah. Ingin pergi dari pernikahan mereka karena Sang-Mi pikir Donghae tidak menginginkan pernikahan ini dan tidak menginginkan Sang-Mi untuk berada di samping nya. Ya mungkin pada awalnya seperti itu tapi melihat perasaan yang mengganggu Donghae dan kebingungan Donghae sekarang ini sepertinya tidak seperti itu.

Lee Construction 11:30 kst

Author pov

“Hubunganmu dengan istrimu baik-baik saja?”

ne aboji, kami baik-baik saja.” jawab Donghae sambil matanya terus memperhatikan ke arah depan kepada pekerja yang sedang menyelesaikan konstruksi bangunan gedung pencakar langit hasil rancangannya itu.

“Kau harus memperlakukannya dengan baik, dia wanita baik-baik Donghae~ya. Begitu sabar menghadapimu aku bisa melihatnya dari sikapnya selama ini.”

Donghae hanya terdiam mendengar ucapan ayah nya. Dia menundukkan kepalanya ke bawah menggesek-gesekkan sepatunya ke tanah yang penuh pasir.

“Seorang suami itu tumpuan bagi seorang istri, tempat seorang istri menggantungkan hidupnya, walaupun istri kita masih memiliki orang tua tapi tetap saja dia sudah menjadi tanggung jawab kita setelah kita berjanji di depan Tuhan. Terlebih istrimu sudah menjadi yatim piatu Donghae~ya.” Terdengar helaan nafas dari Lee Donghyun lalu kembali melanjutkan kata-katanya.

“Bukan hanya materi dan penghidupan yang layak yang harus kita berikan pada istri kita. Melainkan perasaan aman, perasaan percaya bahwa kita layak untuk diberikan  cinta yang tulus dari hati mereka.”

“Hmmmh” hanya gumaman yang terdengar dari mulut Donghae. Entah dia malas menanggapi perkataann ayahnya atau dia begitu mengahayati apa yang ayahnya katakan tetapi dari hubungan mereka yang terlihat selama ini, bagaimana donghae begitu menghormati ayah nya pastilah pilihan ke dua yang dia rasakan.

Lee Donghyun menepuk punggung anaknya lalu mengusap nya dengan lembut membuat Donghae menegadahkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Memandang wajah ayahnya.

“Jadilah seorang suami sejati, lelaki memang menyukai tantangan kau tau selingkuh memang menantang tapi mencoba setia dengan istri dan anak-anakmu itu lebih manantang adeul~ah

Donghae terdiam kali ini benar-benar terdiam mendengar perkataan ayah nya, terkaget dengan kalimat terakhir yang ayahnya katakan, apakah ayah nya tahu apa yang selama ini dia lakukan di belakang Sang-Mi? bagaimana bisa? Ani tidak mungkin ayahnya tau.

Kajja ini sudah jam makan siang, kita makan siang bersama. Aigoo kalau di ingat-ingat sudah lama kita tidak pergi makan siang bersama, uri adeul” ajakan dari Lee Donghyun membuyarkan lamunan Donghae. Donghae hanya bisa mengatupkan mulutnya yang sejak tadi terbuka dan juga mengedipkan matanya yang sedari tadi sulit berkedip karna benar-benar kaget dengan apa yang sebelumnya ayahnya katakan lalu mengikuti langkah ayahnya sambil mencoba menenangkan degupan jantung nya.

*****

Donghae & Sang-Mi House’s

Sang-Mi pov

Makan malam kami lewati kembali dengan tidak ada satu patah kata pun yang kami keluarkan. Donghae oppa sibuk dengan makanan yang dia makan. Juga sama denganku. Hanya mungkin hal yang sama yang kami pikirkan ya masalah di kantor Donghae oppa kemarin siang juga mungkin perkataanku kemarin malam. Mungkin, mungkin. Aku hanya menebak saja.

Aku memebereskan meja makan. Mencuci piring kotor dan langsung masuk ke kamar setelah itu. Aku melihat Donghae oppa yang masuk ke ruang kerjanya. Biasanya aku akan mengantarkan teh hangat ke ruang kerja Donghe oppa tapi kali ini sepertinya tidak. Aku ingin sebanyak mungkin bisa menghindari pertemuan dengan Donghae oppa. Lebih baik aku langsung ke kamar dan tidur.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari dan aku masih belum bisa meejamkan mata. Suara detik jam yang bergerak masih bisa aku dengar. Aku membalikkan tubuhku ke samping. Tidak ada Donghae oppa di tempatnya. Apa Donghae oppa masih di ruang kerjanya? Apa masih menyelesaikkan pekerjaannya? apa harus aku melihat ke ruangan kerjanya? Pikiranku penuh dengan pertanyaan.

Tak lama suara pintu kamar terbuka sepertinya Donghae oppa. aku segera memejamkan mataku tidak sempat berbalik. Hingga sekarang tidurku menghadap ke arah Donghae oppa.

Author pov

Sang-Mi merasakan kasur yang ditidurinya bergerak. Tanda bahwa Donghae sudah naik ke atas kasur dan berbaring di sebelahnya. Membuat Sang-Mi merasakan ada napas yang berhembus di dekat wajahnya. Terasa sangat dekat.

Sebuah tangan membelai pinggangnya lalu menariknya mendekat. Hembusan napas di wajah Sang-mi semakin terasa. Ingin rasanya Sang-Mi membuka matanya tapi tidak mungkin dia lakukan. Sang-Mi bergerak pelan hendak berbalik tapi tangan yang melingkar di pinggangnya mencegahnya. Menariknya kembali, lebih mendekat.

Tangan kiri Donghae di selipkan di bawah leher Sang-Mi. dijadikan bantalan untuk kepala Sang-Mi. Membuat Sang-Mi tersandar di dada nya. Lalu mengecup puncak kepala Sang-Mi. membelai sayang helaian rambut Sang-Mi lalu mengecupnya kembali.

Dengan mata yang masih tertutup Sang-Mi sedikit bergerak mencoba memberitahu bahwa tidurnya terganggu dengan apa yang Donghae lakukan. Berharap Donghae berhenti dengan apa yang dia lakukan. Tapi bukan menghentikan ‘kegiatannya’ Donghae malah semakin mendekap Sang-Mi dan kembali mencium aroma rambut Sang-Mi, lalu kemudian Menciumnya dalam. Tangan yang tadinya melingkar di pinggang Sang-Mi sekarang menepuk pelan dan membelai punggung Sang-Mi.

Bukannya merasa tenang dengan apa yang Donghae lakukan, Sang-Mi malah merasa sebaliknya. Dadanya berdegup kencang membuat Donghae dapat merasakannya juga. Membuat Donghae menurunkan wajahnya dan sekarang dia mengecup daun telinga sang-Mi. Dadanya terasa semakin sesak dengan apa yang Donghae lakukan ingin rasanya sang-Mi mendorong Donghae menjauh tapi tubuh Sang-Mi berkata lain. Dan tanpa bisa Sang-Mi hindari air matanya perlahan keluar dari pelupuk matanya. Sang-Mi terus mencoba menenangkan dirinya agar air matanya tidak keluar kembali. Namun nihil air matanya terus keluar saling menyusul tetes demi tetes.

“Menangislah, jika ingin menangis. Menangislah di pelukanku. Menangislah di dekapanku” Sang-Mi tidak dapat menjawab hanya isakan yang sekarang terdengar di keheningan malam mereka.

“Jangan pergi ke kamar mandi! Menangis sendiri semalaman dan meredam suara tangisanmu dengan suara air yang keluar dari keran.” Jadi selama ini Donghae tau apa yang dia lakukan? Pikir Sang-Mi.

“Jika marah katakana kau marah, jika kesal katakana kau kesal.”

“Jangan terus menutupinya dengan senyummu.” Donghae menegakkan wajah Sang-Mi menghadapnya.

“Aku tidak akan berjanji semuanya akan baik-baik saja, tidak akan mengajakmu untuk memperbaikinya, atau memulainya dari awal tetapi.” perkataan donghae terhenti dan isakan Sang-Mi semakin menjadi.

“Aku akan mencoba melakukan tantangan yang lebih menarik dan lebih menantang seperti yang aboji katakan untuk mu istriku yang sudah mau mengucapkan janji suci bersamaku dihadapan Tuhan.”

Hanya itu yang bisa Donghae katakan untuk sekarang, dia tau kata maaf belum pernah dia katakan untuk kesalahan yang selama ini dia lakukan dan ada satu kata juga yang belum pernah keluar dari mulutnya untuk Sang-Mi. Ya sebuah kata yang mempunyai sihir. Walaupun bukan datang dari negeri dongeng tapi kata itu mampu membuat hidupnya dengan Sang-Mi berakhir bahagia seperti di negeri dongeng. Nanti suatu saat pasti Donghae akan mengatakannya. Donghae terus mendekap Sang-Mi dan tanpa henti mengecup setiap bagian wajah Sang-Mi.

THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 25/02/2014, in FF, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 34 Comments.

  1. Ff ini keknya da pernah di post nckorean ff kan? Ini baru part 1nya kan? Kok uda end aja? Mian kalo salah

  2. sempet sebel karena sikapnya dong hae yang tega sama sang-mi/ aku sapai nangis pas baca linenya sang-mi. tapi syukurlah, don hae memutuskan untuk setia..

  3. ada lanjutannya kah??
    kalo bisa adain sequelnya

  4. sequel dong wajib sequel ini mah thor …

  5. Donghae udah bisa nerima sangmi atau gmna nih thorr ?? Kok gantung sih ,, ?? Agak bngung jugaa ,,

  6. SQUEL weeehhh >< Kasian SangMi 😥

    Aku Lum twu jelas Awal hbungan Hae sma Slingkuhannya itu -_- Aku juga lum paham betul kenapa SangMi Sllu Menolak jika donghae Mencoba Bersikap Manis Dan Menyentuhnya -_-

    Bgaimana Awal Hae-Mi bertmu sampai Menikah -_- ?

    SQUEL ^^

  7. Aa.. Sweet+nyesek+sebel bercampur jadi satu.. Sangmi nya tegar banget.. Terus, itu si selingkuhan donghae oppa sekarang gimana? Dia gak marah kalo tau donghae oppa kayak gitu? Lanjut deh thor.. Penasaran sama cerita si hae-mi couple.. Hihi.. Keep writing ne!

  8. endingnya agak sedih :’v
    but good , thx

  9. *perasaan pernah baca*
    Ini ada sequel nya kan thor? Seq nya dicari lagi gak ketemu. FF nckorean gak bisa dibuka –“

  10. sialaan adminnya ini!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    sequel nya wajib min jangan bikin nangis lagi!!!!!!

  11. Lho kq udhn ch, kn crty’ lum beres, lum jls,
    npa d awl udh ada Nc, donghae mrah2, tp istrnya tetep ada pnolakn ? Itu knpa ?
    Knpa jg mreka mnikah ?
    Trus knpa donghae slingkuh ?
    Ada apa dgn msa lalu mrka smua ???
    Hrus ada sequel #maksa
    pkoy’ q tnggu ya lnjtny, ,
    tetap smangat thor ! 🙂

  12. HevieanaeE__ELF

    Donghae nappuen,. ;-( bkin squelnya thor.. .:-D

  13. ending ny romntis bgt…tp crta a bkin mewek..

  14. thor! sedih bnget…
    donghae oppa sweet bingit

    daebakk thor

  15. ibgdrgn's xxx

    ceritanya bagus :’)
    ditunggu next ff nya min ~!

  16. Kenapa jadi nangis baca ini :’) eoh?

  17. siaaaaaal ini FF keren banget demi apapun , FF yg bkin gw nangis baru ini . kok nyesek bgt . donghae oppa :” such a badboy :”

  18. Bagusss thorr lanjutt :*

  19. keren, bagus critanya sedih bgt :’) tp untunglah donge mulai sadar. sequell nya thooor 😀

  20. Untuk penulis kalau maksud anda mau membuat pmbaca mrasa sesak anda brhasil, gya bhasa ‘n pnulisan’Ya jg bgs, good job !!!

  21. NC Korean FF kemane sih? Kok kagak bisa kebuka lagi 😦 untung dah temu dimari ni FF.. Tapi 2 sequel nya belom juga di post elah -_-

  22. Udah END lg 😮
    Sequel’a thor, perlu sequel terlanjur bagus meskipun ada Typo juga. 😀

  23. nangis darah, huhu

  24. Sung-Hwa Meka

    Sempet sebel+Nangis pas Ngebaca FF ini_ Ongek kok gitu jahatnya T.T tapi akhirnya sadar juga 😥

  25. itu ceritanya keren thor jd buat cerita berchapter dong.. penasaran lanjutnya gimana.. 😀

  26. Bagus ceritanya ..
    Tapi malah kayak berantakan di part akhir ..

  27. endingnya bahagia…tp apah ad sequel??…apa hae udanh suka ma sangmi?

  28. Keren (y)

  29. sediihh, miris bgd jd sang mi ..
    tp aku suka kutipan kata mutiara dr ff ini, slingkuh emg tntangan tp mncoba utk setia sama pasangan itu suatu tantngan yg lebih lagi ..

  30. . . Nyesek bcanya. . . . #sampe ikutan nangis. . .
    Tp sayang gantung hufht. . .lanjutlah

  31. Jangan mauuuu !!!!!
    Melihat air mata seorang wanita itu membuat pria bukan menjadi iba,melaikan sesuatu sikap ‘bangga’ akan trcipta disana /? wkwk

  32. Sequel pleasee ^^ bagus banget ceritanyaaa 🙂

  33. Aku sudah berkali-kali baca fanfic ini,
    Pertama kali aku baca, aku nangis ga berhenti-henti sampai hidung merah beneran. Aku pikir baca kesekian kaliku ini ga akan nangis, tapi ternyata salah. Aku masih saja menangis 😥
    Donghae napeun namjaya, sang-mi nunmune 😦
    Jahat ihh, but you still my big dream donghae xD
    I love you and will more more and more wks~

  34. Salam kenal,aku readers baru disini.
    Baru pertama kalinya juga’ baca nih cerita.
    Cukup miris sama nasib Sang-Mi.

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: