Beautiful Ugly

ff nc ryewook yunho

1. Author:  N/M

2. Title: Beautiful Ugly

3. Type: Straight, Romance, Erotika

4. Casts : Kim Ryeowook (Super Junior), Jung Yunho (DBSK), Park Min Rin (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… N/M di sini. Kali ini kami mau mempersembahkan FF Ryeowook dan Yunho. Dan, kami memakai PoV orang ketiga semua di sini.

Oh, ya, kalau kalian ingin mengetahui prekuel (cerita sebelumnya dari ff ini), silakan baca di hanneloreaubury.wordpress.com 😀

Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Komen kalian selalu kami tunggu. ^^

Minrin berjalan cepat menuju bar sentral dan mewah di kapal pesiar tersebut, yang terletak tak jauh dari auditorium. Ketika ia tiba di konter bar, ia segera memesan segelas vodka lalu meminumnya buru-buru. Sesuai dugaanya, segelas besar vodka dapat membantunya melenyapkan sedikit kegusarannya.

Ia sedang memesan untuk yang kedua kalinya pada saat pemuda bertubuh kecil yang sejak tadi mengikutinya menyetop Minrin dengan menggenggam tangannya.

“Wookie Oppa?” tanya Minrin setelah melihat pemuda itu dengan tatapan heran.

Minrin meletakkan gelasnya dan mencabut tangannya dari genggaman Ryeowook.

“Ada apa denganmu, Minrin-ah?” tanya Ryeowook cemas.

“Aku sedang sedih,” jawab Minrin sekenanya kemudian meminum vodkanya lagi sebelum Ryeowook sempat melarangnya.

Ryeowook melupakan niatnya untuk melarang Minrin minum-minum, tapi malah mengeluarkan pertanyaan yang mengusik pikirannya, “Kau sedih kenapa, Minrin?”

Minrin meminum vodkanya sampai habis, meminta satu lagi pada bartender, kemudian baru menjawab Ryeowook, “Aku ingin dipeluk,” ujarnya.

Ryeowook bengong.

“Aku ingin dipeluk, Wookie Oppa. Ayo peluk aku,” ujar Minrin.

Ryeowook berpikir sebentar, kaku.

“Kau tak mau memelukku, Wookie Oppa?” tanya Minrin.

Ryeowook kemudian bergerak, akhirnya menggenggam satu tangan Minrin dan menaruh tangan satunya di pinggangnya, menarik Minrin mendekat. Mereka berdekapan. Minrin menaruh dagunya di bahu Ryeowook dan ia merasa itu seperti tempat paling sempurna di dunia. Minrin mulai terhanyut, merasa nyaman berada dalam pelukan laki-laki—hal yang ia harap-harapkan sejak lama, mabuk oleh aroma tubuhnya.

Dalam suasana memabukkan seperti itu, dia nyaris tak memperhatikan Ryeowook membenamkan wajah di lehernya. Leher Minrin selalu merupakan daerah paling responsif dan erotis. Dan malam ini tak terkecuali.

Minrin menarik diri dengan lembut, ruangan di sekitarnya masih terlihat kabur, dia menggerakkan kepalanya sampai wajahnya berada di depan wajah Ryeowook, hidung mereka bersentuhan. Tiba-tiba mereka berciuman, mula-mula ragu-ragu, kemudian lebih mendesak.

Bagi Minrin, siapa pria yang diciumnya saat itu tidaklah terlalu penting. Pokoknya nikmat sekali berada jauh dari kesedihannya, dan sekali lagi dibawa kembali ke masa muda yang memabukkan ketika beberapa gelas minuman meninggalkan ciuman di leher dengan siapapun di disko.

Mendadak saja, Minrin melepaskan ciumannya. Minrin mengamati Ryeowook dan mempertimbangkan segala konsekuensinya jika menarik dasi Ryeowook ke kabinnya. Dan ia memutuskan kalau ia tak akan keberatan dan tak terlalu peduli dengan konsekuensi apa pun yang akan dibawa Ryeowook terhadapnya. Dia bukan pembawa masalah, lagipula, pikir Minrin.

Maka ia pun melakukannya, bergegas ia meletakkan beberapa lembar uang di konter bar kemudian menarik dasi Ryeowook, menggiring pria itu ke kabinnya.

Ryeowook menurut saja ketika dasinya ditarik oleh Minrin meninggalkan bar, melintasi lobi, menaiki tangga berlapis karpet merah, dan mencapai koridor lantai dimana kabin Minrin terletak. Baginya, tindakan Minrin itu sangat seksi. Dan ia menyukainya. Ia tetap menyejajarkan langkahnya dengan langkah Minrin yang gontai agar tak ada yang mengamatinya karena telah ditarik dasinya oleh wanita berbusana minim itu.

Koridor menuju kabin Minrin sepi. Dan Ryeowook bisa merasakan jantungnya berdebar-debar keras. Dan ketika Minrin berhenti di sebuah pintu kabin, lalu membukanya dan menariknya masuk, jantung Ryeowook rasanya jatuh ke perut.

Minrin masih menarik dasi Ryeowook ketika ia sudah menginjakkan kaki di kabinnya. Ia kemudian mendorong tubuh Ryeowook ke pintu sekaligus untuk menutup pintu kabin. Gadis yang sudah ia sukai sejak pandangan pertama ini pun menempelkan tubuhnya padanya, menggelisahkannya. Minrin menenggerkan jemari bercat kuku indahnya di pundak Ryeowook, lalu mengarahkan wajah pemuda mungil yang menghindar karena malu itu untuk menghadap wajahnya. Saat ia berhasil melakukan semua itu, dia pun mencium Ryeowook dengan ganas.

Ya, ganas, tentu saja.

Untuk permulaan, Ryeowook  rasa ciuman langsung dengan mulut terbuka dan lidah menggelayut masuk yang dilakukan Minrin padanya itu bisa dikategorikan ganas. Tapi Ryeowook tak kuasa menolak. Ryeowook membiarkan Minrin menginvasi dirinya dengan ciuman liar dan binalnya. Lidahnya bukan lagi menelusup, tapi mengorek, menyapu seluruh rongga mulut Ryeowook. Ryeowook dimabuk dengan cara ciuman itu seketika. Belum pernah ia merasakannya. Dan ia merasa beruntung sekali dapat mencobanya dengan wanita yang ia sukai.

Mereka masih berciuman secara menggila pada saat Minrin membuka jas Ryeowook. Minrin berpindah menciumi leher Ryeowook saat, dengan kasar, gadis itu melepas dasi hitam Ryeowook. Dan ciuman di leher Ryeowook sudah berubah menjadi jilatan ketika dengan bersicepat Minrin membuka satu-persatu kancing kemejanya. Ketika kemeja Ryeowook dikibaskannya, menampakkan dada Ryeowook yang telanjang, Minrin tersenyum. Kemudian ia mencengkeram bahu Ryeowook.

Tak sempat berpikir dia akan berbuat apa, tiba-tiba Ryeowook didorongnya ke ranjang. Kejadiannya begitu cepat, menjadikan Ryeowook sedikit pusing. Ketika Ryeowook ingin bertanya kenapa dirinya buru-buru dilempar ke ranjang, Ryeowook melihat Minrin yang masih berada dekat pintu, tengah melepaskan gaun emasnya di depan Ryeowook. Mendadak otak Ryeowook kosong. Dengan tangan-tangan yang sudah bebas dari perhiasan—ia mungkin sudah melepasnya ketika dirinya terlempar tadi, Minrin membuka ritsleting gaunnya perlahan kemudian memerosotkannya. Gadis itu rupanya tidak memakai bra sehingga segeralah tampak payudara sekal nan besarnya. Di kala Ryeowook masih terpesona dengan keindahan payudaranya, Minrin menurunkan celana dalamnya. Sedetik sesudahnya, Minrin sudah tak memakai apa-apa, berpose di depan Ryeowook.

“Apa kau mau membuka bajumu sendiri atau kau mau aku yang merobeknya?” tanya Minrin dengan tubuh telanjangnya itu.

“A-aku…” Ryeowook tergagap dan memutuskan untuk melepaskan kemejanya yang seluruh kancingnya telah terbuka. Tatkala Ryeowook sudah meluputkan kemeja lalu meletakkan secara perlahan kemejanya di bawah tempat tidur, Minrin melompat pada Ryeowook seperti sedang menerkam mangsa.

Ryeowook terkejut bukan main dan keterkejutannya dihadiahi ciuman bertubi-tubi di seluruh tubuh oleh Minrin.

Oke, Ryeowook tahu ini semua begitu cepat terjadi, namun dia juga tak bisa memikirkan apa-apa saat ini. Kesempatan ini mungkin takkan pernah datang lagi, mengingat Minrin yang selalu nampak tak tertarik padanya. Dirinya tahu dia nampak seperti pecundang sekarang. Dia mau saja bercinta dengan Minrin di saat dia sepertinya hanya sedang butuh teman pemuas seks dan tak menemukan orang lain lagi. Tapi mengapa aku harus mengeluh? Ryeowook berpikir, dia mencintai Minrin. Hal itu membuat ia merasa tak ada salahnya berkorban seperti ini. Barangkali dirinya juga akan mendapatkan kepuasan. Barangkali Minrin akan berpikir ulang untuk mulai mencintai dirinya seperti Ryeowook mencintainya. Dan sekarang, Ryeowook tak bisa mengabaikan fakta kalau Ryeowook sangat terangsang berkat perlakuan Minrin sejak tadi.

Ia pikir ia harus balas serangannya.

Ryeowook baru akan membalas serangannya ketika Minrin sedang melepaskan ritsleting celana Ryeowook dengan mulutnya. Ryeowook bergeser dan membantu Minrin menurunkan celananya dari kaki. Minrin rupanya sudah tak sabar lagi, pikir Ryeowook.

Setelah kakinya terbebas dari celana, Minrin segera menempatkan diri di atas Ryeowook, dan segera memasukkan milik Ryeowook ke dalamnya, Ryeowook ikut mendorong tubuhnya ke atas agar dapat menusuknya lebih dalam.

Tak ada pengadaptasian. Minrin nampaknya sudah terbiasa dengan ini; bercinta cepat-cepat. Oleh karena itulah, kini mereka sudah bergerak-gerak garang di kasur itu. Minrin menggoyang-goyangkan tubuhnya liar. Dan Ryeowook hanya dapat terkesima menatapi kemolekan tubuhnya yang sintal dan kenikmatan yang ia berikan pada dirinya. Kejantanan Ryeowook serasa dihimpit dan rasanya sangat menakjubkan dipermainkan oleh gerakan sensualnya. Dengan bertumpu di dada Ryeowook, Minrin terus bergerak, mencari kepuasannya. Ryeowook membatin bahwa ia tidak keberatan kalau nanti Minrin menyelesaikan permainan mereka sementara Ryeowook belum selesai. Yang penting ia puas, pikir Ryeowook.

Tapi rupanya perkiraan Ryeowook salah, dirinya yang malah rasanya akan mengalami gelombang orgasme lebih dulu. Seluruh tubuh Ryeowook bergetar karena pergerakan penuh gairah ini.

“Ah, Oppa, aku akan orgasme,” ujar Minrin sambil menutup mata erat-erat.

“Aku juga,” ujar Ryeowook, masih diguncang-guncangkan oleh Minrin.

Dan klimaks itu tiba juga. Minrin bergeliat dan bergelinjang di hadapan Ryeowook. Mereka pun mencapai klimaks bersamaan.

Beberapa saat, tubuh berisi Minrin pun jatuh ke tubuh Ryeowook. Milik Ryeowook masih bersemayam di dalamnya.

“Aku mengantuk, Oppa. Biar aku tidur dulu. Nanti kita lanjutkan lagi,” ujar Minrin.

Dan kalimat terakhir Minrin sungguh mengejutkan Ryeowook.

***

Minrin terbangun di kasurnya dan segera menyadari Ryeowook sudah tidak berbaring di bawahnya. Ia bangun tergeragap dan mencari-cari ke sekeliling, mengabaikan kenyataan kalau ia masih bugil. Ia melihat baju Ryeowook pun sudah lenyap. Ia mengecek kamar mandi dan dia juga tak menemukan Ryeowook di sana.

Dia meninggalkanku? Minrin bertanya dalam hati. Kekesalan memuncak di dadanya sekarang. Bahkan lelaki sebaik dan semembosankan Wookie Oppa meninggalkanku dalam keadaan begini?

Perasaan Minrin campur aduk. Sedih, kesal, dan dipecundangi.

Ia tengah menata isi kepalanya dan perasaannya, ketika terdengar ketukan pintu. Sesungguhnya ia sedang tak mau diganggu sekarang. Tapi mendadak pikiran nakalnya membawanya ke pemikiran lain. Justru kalau sekarang ia menyendiri ia akan semakin terlarut dan dia akan kembali menjadi si pecundang jelek yang sama seperti dulu. Ia tak mau itu. Ia tak mau itu terjadi. Dia sudah cantik sekarang. Dan dia harus memanfaatkannya untuk kebahagiaannya sendiri. Maka, ia menuruti pikiran nakalnya untuk menggoda siapapun yang mengetuk pintunya sekarang.

Minrin pun berkaca dulu, mengamati tubuh bugilnya yang masih kelihatan luar biasa elok. Wajahnya juga masih terlihat cantik, meski ia baru bangun tidur. Setelah kepercayaan dirinya lengkap, ia kemudian segera pasang aksi dan membuka pintunya.

Ia membuka pintu, dan menemukan seorang pria.

“Yunho Oppa?”

Yunho tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Matanya mendelik sedemikian rupa. Tapi ia tak mengucapkan apa-apa.

“Kebetulan, aku sudah menunggumu,” ujar Minrin.

Masih dalam keadaan tak percaya, Yunho terpaku.

“Ayo masuk,” Minrin mengajaknya sambil menariknya masuk.

Yunho melangkahkan kaki untuk masuk dan tetap termangu saat ia berada di dalam. Minrin menutup pintunya.

“Kau mau minum apa, Oppa? Biar aku ambilkan,” ujar Minrin sambil mencoba melepas jas Yunho dari belakang untuk ia letakkan di gantungan jas. Yunho memang terbiasa menggantungkan jasnya di gantungan jika sudah di rumah, maka ia pun menurut.

“Gin dan tonik?” tanya Minrin, kali ini berjalan berputar dan berdiri di hadapan Yunho.

Yunho tak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh padat Minrin. Ia merasakan kejantanannya mulai mengeras, entah sejak kapan, barangkali semenjak pintunya terbuka tadi.

Oppa?” tanya Minrin.

“Ah, ya, gin dan tonik boleh,” Yunho menjawab, berusaha mengendalikan dirinya.

Minrin pun tersenyum dan berbalik, memunggunginya. Gadis itu berjalan menuju kulkas tanpa rasa malu sama sekali, seolah-olah ia berpakaian lengkap.

Melihat bokong Minrin yang sangat indah, mengakumulasi rangsangan pada Yunho yang kini sudah berlimpah ruah. Yunho sudah tak tahan lagi. Ia pun segera membuka sendiri kemejanya, celana panjang hitamnya dan celana dalamnya—membebaskan kejantanannya yang melesak gagah.

Yunho merasa ia tak perlu memerah otak lagi. Ini bukan soal membaca pertanda atau apa. Gadis ini berpose telanjang di hadapannya. Sudah terlalu jelas dia ingin seks, pikir Yunho.

Dan dia meminta pada orang yang tepat.

Yunho kemudian menanyai dirinya sendiri, aku sekarang harus apa?

Lalu tiba-tiba ide untuk mengejutkan Minrin terlintas di pikirannya.

Maka, Yunho berjalan menghampiri Minrin. Gadis itu tengah mengaduk-aduk kulkas mencari es batu untuk gin dan tonik, sementara Yunho menghampirinya dari belakang. Setelah menuangkan segelas dan meminumnya, Minrin tak menyadari perlahan-lahan Yunho mengendap-endap di belakangnya, telanjang dan terangsang.

Beberapa detik kemudian, Yunho sudah menyambar tangan Minrin, sehingga botol minuman di tangannya terjatuh di lantai karpet itu. Yunho membimbingnya ke kamar mandi dan menariknya ke bawah pancuran yang langsung Yunho nyalakan sementara gadis itu menjerit-jerit histeris sambil terkikik-kikik riang.

Yunho senang kalau tebakannya benar. Minrin nampak bahagia. Minrin memang mencari seks. Tapi, tak masalah. Yunho merasa tidak keberatan memberikan kenikmatan padanya.

Tubuh kering Minrin langsung basah kena air, dan puncak dadanya yang berwarna cokelat kemerahan tertempa air membuat Yunho terangsang setengah mati. Basah kuyup dengan wajah tersemprot air pancuran, Minrin bersandar ke dinding kamar mandi sementara Yunho mendekatkan diri mereka.

Dalam hitungan detik—Yunho tak mau buang-buang waktu, tangan Yunho sudah beraksi, menggerayang ke atas untuk meremas dada Minrin.

Minrin yang agaknya segera saja terangsang berat melangkah maju dan mengalungkan lengannya ke leher Yunho, menjulurkan kepalanya mencari mulut pria tinggi itu. Yunho langsung membalas, menciumnya dengan penuh hasrat sehingga keduanya terhuyung-huyung dan menabrak-nabrak dinding menuju luar kamar mandi.

Sambil menutup pintu dengan kakinya yang telanjang, Yunho kemudian mengangkat pinggul Minrin. Tangan Yunho meraba area bikini bagian bawahnya dan dengan satu gerakan cepat Yunho menyentak salah satu jari untuk memasuki Minrin. Yunho menggesek-geseknya, maju mundur. Beberapa saat, Minrin pun mulai basah.

Dengan menekankan tubuhnya ke tubuh Minrin, Yunho mulai menciumi Minrin penuh gairah. Tangan Yunho meluputkan serangan pada tiap lekuk tubuh Minrin lalu merabai sisi pinggangnya. Yunho menurunkan rabaannya dan mencopot jarinya sementara dari dalam Minrin.

Yunho merencanakan hal lain. Dan ia segera saja menemukan sasaran dalam rencananya; payudara Minrin.

“Oh, aku sering memimpikan ini,” gumam Yunho sebelum menangkap satu puncak payudara Minrin yang tegang dengan mulut sembari mengusap puncak satunya.

“Aku juga,” bisik Minrin, terdengar risau sekaligus terpenuhi.

Yunho merasakan isi perutnya berubah menjadi bubur ketika Minrin mulai membalas merangsangnya. Jari-jari Minrin menggapai kejantanannya dan meremasnya. Perutnya bergolak. Dan, itu aneh. Baru kali ini dirinya merasakan seks dengan perut bergolak. Apa aku mulai menyukainya? Hanya karena ia penyuka seks sepertiku? Apa mungkin ini pertanda kalau akhirnya aku menemukan pasanganku? Yunho bertanya-tanya.

Ketika Yunho sedang sibuk memikirkan itu, Minrin mendorong bahu Yunho agar menjauh. Gadis itu menurunkan dan membaringkan badan moleknya ke lantai berkarpet itu. Ia pun menarik Yunho ke sampingnya. Yunho menuruti komando tanpa suara Minrin; duduk di lantai berkarpet, lalu merebahkan diri berdampingan dengan gadis yang sudah kepanasan tersebut. Setelah mendapati Yunho benar-benar di sampingnya, Minrin lantas bergerak ke atas Yunho yang terbaring di karpet, seperti sedang menunggangi. Minrin lalu menuntun kejantanan Yunho untuk memasukinya, tersentak sendiri ketika berhasil.

Yunho pun jua tersentak. Namun dalam beberapa saat, Minrin sudah bergerak di atasnya, nyaris kasar, hanya berkonsentrasi pada kenikmatannya sendiri. Persis seperti Yunho selama ini. Mata Minrin terpejam dan ia nampak terhanyut kembali dalam dunia fantasi seks, dengan rakus mengambil apa yang diinginkannya dan tak peduli pada konsekuensinya. Yunho pun mencoba mengimbanginya. Keduanya terus bergerak, bergerak dan bergerak. Cepat dan makin cepat. Yunho pun tak kuasa merasakan nikmatnya.

Hingga akhirnya keduanya dilanda klimaks hampir berbarengan. Minrin lebih dulu. Dengan kepala tersentak ke belakang, Minrin mencapai puncak kenikmatannya lalu terkulai, kelelahan di dada Yunho.

Mereka berdua terbaring di sana semenit atau dua menit, mengumpulkan napas mereka kembali sementara hasrat dan kenikmatan tiada tara yang baru mereka alami segera mereka renungkan.

“Kau tahu, Minrin, ini seks tanpa komitmen yang paling kusukai sepanjang hidupku,” ujar Yunho, mencoba mencari topik pembicaraan. Yunho juga tak tahu mengapa dia bisa sekebingungan ini mencari topik pembicaraan setelah seks. Yunho tak pernah seperti ini.

“Itu juga yang kucari,” sahut Minrin, “aku sedang malas dengan seks berkomitmen. Pria terakhir yang melakukannya denganku, yang nampaknya dapat kuajak berkomitmen, malah pergi begitu saja.”

“Tapi aku kan orang terakhir,” ucap Yunho berkernyit, “benar, bukan?”

Minrin tersenyum. “Ya, tak masalah juga sebetulnya siapa pria terakhirnya. Tidak terlalu penting. Aku juga sebetulnya tidak menyukainya.”

“Lalu apa kau menyukai aku?” tanya Yunho.

Minrin tak menjawab Yunho dan terdengar dengkuran halus darinya. Minrin tertidur rupanya.

Yunho menyeringai. Masih kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya bereaksi aneh. Dan ia mulai bertanya-tanya mengapa ia menyukai ini sangat. Apa karena ini spontan? Apa karena ini tak pernah  ia alami sebelumnya? Apa karena ini dengan Minrin?

Yunho memang menyukai gadis ini. Dia seksi, pintar dan terbuka. Dia menyampaikan apa yang ia mau dan itu kelihatan cerdas bagi Yunho. Dia lembut dan elegan di luar, namun bisa menjadi sangat kuat dan ‘memimpin’ jika mereka hanya berduaan—tipe gadis ideal Yunho. Walaupun Minrin selalu menunjukkan kalau hubungan mereka hanya sebatas teman, selama ini.

Hingga kejadian ini terjadi.

Yunho pun tersenyum mengingat-ingat apa yang baru terjadi; seks liar yang membahagiakan. Dan ia melakukan dengan gadis tipe idealnya yang selalu ia lirik tiap kali ada kesempatan.

Dalam keadaan sumringah sekaligus kalut, Yunho menengok ke arah lantai berkarpet di sebelahnya dan menemukan secarik kain hitam di sana. Tangan Yunho mencapainya. Rupanya sebuah dasi. Ia memperhatikan dasi hitam itu. Namun nampaknya itu hanya dasi hitam biasa.

Yunho baru akan menanyai Minrin yang tertidur di dadanya ketika ia menemukan inisial K.R.W di dasi tersebut.

K.R.W? Siapa K.R.W?  Yunho mengernyitkan keningnya.

 

THE END

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 15/03/2014, in DBSK, OS, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 30 Comments.

  1. ouh….. kenapa minrin kek gitu sih? Wookie juga pakai ninggalin minrin sendiri dikamar…

    • annyeong, cici~
      gomawo udah komen 😉
      kenapa Minrinnya, chingu? 😀
      hehehe, Wookie ninggalin ada alasannya kok.

      • Memang nya Ryeo punya alasan apa, main ninggalin MinRin gitu? Mentang2 sudah di “service” baik2, malah ninggalin gitu saja 😦

        • Alasannya ada di lanjutannya, chingu ^^
          Duuh~ kalau kami ungkap sekarang, nanti ga kejutan dong di lanjutannya hehehe
          Btw, makasih udah komentar, ya, chingu ^^

  2. Ada apa dg minri!?

  3. Loch ada apa dengan wookie? Aaaaish seks tanpa komitmen apa Minrin bisa bertahan????

    • Annyeong, rinie~
      Thanks udah komentar 😉
      Wookie melakukan itu ada alasannya, kok. Barangkali bakal kami ungkap di sekuelnya 😀 juga soal Minrin bisa bertahan atau gaknya 😀
      hehehe

  4. aaah author, ternyata kalian post ini disini juga /\
    dan sekali lagi, intinya aku nunggu lanjutan dari cerita ini.. dan jangan lama lama, oke? lol ;))

    • Annyeeeongg…
      Halo, chinguuu~ ^^/
      Ne, kami juga numpang post di sini, hehehe
      oke, oke, tolong bantu doa ya biar sekuelnya cepet selesai, hehehe

  5. Kok wook ninggalin mirrin sendirian,bknnya wook oppa suka sm mirrin?
    Bikin sequelnya donk

    • Annyeong~
      Wookie ninggalin Minrin ada alasannya, chingu, tapi emang belum diungkap di sini.
      Sip, sekuel dalam pengerjaan ><
      Gomawo udah komentar ya 😀

  6. kukira bakal ada cinta dr minrin unt siapa gitu

    • annyeong, dongrim ^^
      Minrin pasti nanti akan mencintai, tapi sekarang-sekarang emang belum. hehehe
      gomawo udah komen ya 🙂

  7. Oalahhh ,, minrin knapa bgitu yaaa , ?? Wookie juga knapa dia ninggalin minrin , pdahal kyaknya minrin mauu srius tuh sama wookie ,, sekuel thor , minrin nantinya sama siapa ?? Yunho atau wookie ??

    • Annyeong, myeondeong, makasih udah baca ff kami lagi #bow
      Alasan Wookie ninggalin Minrin ada kok, chingum belum keungkap aja.
      Minrin mau serius sama Wookie? Wah, tebakan yang bagus, chingu ^^
      Sekuel sedang digarap. Hehe, dan soal Minrin jadinya sama siapa nanti liat aja ya 😉
      Gomawo sekali lagi, myeondeong 🙂

    • quorralicious

      ini username yg sama kan dgn di yoongexo? hallo.. heheh bnr kan aku berasa pernah liat komentmu, heehee

  8. quorralicious

    bagus fanficnya bnr2 bikin penasarn, itu wookienya kemana dan kenapa???

    • Annyeong, quorralicious,
      Makasih udah komentar ff kami #bow
      hehe, tunggu sekuelnya aja ya, chingu, buat jawabannya 😉
      Makasih sekali lagi

  9. Wokki, jebal dorawa,,!! minrin gidareoseo 🙂

  10. ceritanyaa bagus dan ngebingungin juga sma wookienya. kok pegi tiba tiba. kmana ya dia min? sy penasaran bgt nih sama cerita selanjutnya min. tp gk bisa kebuka. knapa ya min. susah bgt. tolong bantu dong min

    • wah, makasih, chingu ><
      wookie pergi karena suatu alasan, yang jika disebut akan mengungkap chapter-chapter berikutnya, nanti ga surprise lagi, hehehe
      maksud kamu cerita yang di-protect di blog kami yang ga bisa kebuka, ya? 🙂

  11. komen apa ya, kkk..
    aku lebih suka Minrin ama Yunho, menurut aku mereka itu sama, tp samanya mereka itu ga bikin bosen..
    kalo Minrin sama Wookie, Wookie.nya yg kasian, kenapa? karena Minrin seperti itu, hahahaha, tau kan author yg aku maksud..
    kkk,
    beneran deh, kalo udah ketemu Yunho-Minrin couple itu, bawaannya panas, karena mereka tidaklah sepolos couple yg lain..
    hahahaha..

    • daannn,,, kamu baca ini jugaaa, senangnyaaa ><
      huwaaa… dari sekian banyak yang pengen Minrin sama Wookie, akhirnya, ada yang mendukung Yunho. tahukah kamu betapa senangnya kami mendengarnya? hehehe

      btw, kami setuju kalo Yunho-Minrin emang panas banget hahaha #padahalsiapayangbikin
      anyway, sekali lagi makasih ya nan_cho, apresiasimu berarti sekali ^^

  12. iya sama-sama authornim..
    makasih jg udah buat fanfic yg judulnya lucu dan bikin penasaran..
    *maaf masih belom sempet baca fanfic di blog author, ntar malem aku mau baca di blog author*

    perasaan aku orang yg dukung pasangan yg tdk pernah didukung ya..
    hahaha..
    tp beneran aku suka YunMin, mereka sesuatu sekali..
    hahaha.. *eiiii, KyuChan ama ChangChan jg ^^*

    • nan_cho… #hugs

      pasangan mana lagi selain YunMin, yang ga pernah didukung tapi kamu dukung, chingu? ^^

      kami seneng banget kalo kamu suka YunMin. Lebih-lebih KyuChan dan ChangChan ^^
      gomawoyo~

  13. aku baru baca setengah aja hueee=_=
    ff-nya baguss. keep writing ya!

  14. ada lanjutan toh, udah adakah , klo ada ya mau kubaca

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: