Complicated

Cover

Author : EvilCho12

Tittle : Complicated

Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot

Cast :

Cho Kyuhyun

Park Yora

Other Cast :

Victoria Song

Note: Ini pernah dipublish di wordpress pribadiku, evilcho12.wordpress.com

 

Aku membencimu. Sungguh…

Hentakan pinggulnya semakin cepat. Kenikmatan itu semakin menggila, menyebar ke seluruh tubuhku membuatku merinding. Mulutku sedari tadi tidak berhenti meracau. Cho kyuhyun…kau membuatku gila.

Aku menarik tubuhnya mendekat, disela-sela hentakan tubuh kami yang semakin tak terkendali. Bibirnya menciumi leherku sesekali menjilatinya. Aku bisa mendengar dengusan nafasnya di telingaku. Semakin lama semakin keras. Itu semakin membuatku terangsang. Keserakahan menguasai tubuhku. Aku menginginkan lebih dan lebih lagi. “Cepaaat…lebih cepaaat…ahhhh…”

 

Dia hanya diam, tapi gerakannya semakin cepat. Aku bisa merasakan penisnya menghentak kasar dalam vaginaku.

“aaaahhhh….kyuuuu..hyuuun…ahhhh..”

“aaaaaaahhhhhh…kyuuuuuuuuuuuuuu”

Aku berteriak histeris ketika kenikmatan itu memuncak. Memberikan gelombang orgasme yang dahsyat. Tapi lelaki ini tidak berhenti sama sekali. Malah semakin mempercepat permainannya. Membuatku merasakan ngilu dan nikmat dalam waktu yang bersamaan.

Hentakannya semakin lama semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Tangannya meremas payudaraku kasar. Dipelintirnya nippleku. Wajahnya memerah bahkan sampai ke telinganya. Aku tahu ia akan segera sampai puncak.

Tubuhnya menegang. Dihentikan gerakannya. Kemudian mengeluarkan penisnya yang lengket. Aku bangun dari tidurku, sekarang aku duduk dan dia berlutut dengan penisnya tepat berada di hapanku. Aku meraihnya. Kuciumi sampai ke pangkalnya. Deru nafasnya makin keras. Permukaannya terasa kasar, karena urat-urat telah bermunculan di sepanjang permukaan penisnya.

Kumasukkan ke dalam mulutku, tapi hanya sebatas kepalanya saja. Kemudian kusedot kuat-kuat. Dia merintih. Tangannya menjambak rambutku. Tetap hanya kepalanya, aku memainkannya dengan lidah. Sesekali kugerakkan lidahku memutar kadang kumasukkan ujung lidahku ke lubang penisnya. Jambakan di rambutku semakin kencang.

“hhh…aku su..hhh..dah tak ta..hhh..annn…”

“aahhh….”

Aku mengentikan permainan lidahku. Kukeluarkan penisnya dari mututku. Langsung kukocok dengan tanganku. Cepat. Matanya menatapku sayu. Alisnya bertaut. Ohh Tuhan…dia sangat sexy ketika hampir orgasme.

Gerakan tanganku makin cepat. Sesekali aku meremasnya kencang, membuatnya menggerang nikmat. Sampai akhirnya cairan putih kental itu menyemprot keluar membasahi leherku turun ke dadaku sampai di perut. Tanganku tetap mengocok penisnya, membuat spermanya tetap menyemprot walau dalam frekuensi kecil.

Ia menghentikan gerakan tanganku. Kemudian wajahnya mendekat. Aku menyambut ciuman darinya. Ciuman itu perlahan turun ke leherku. Mengikuti jalur orgasmenya. Dijilati cairannya di tubuhku.

Setelah bersih. Dia merebahkan tubuhnya di sampingku. Nafas kami masih belum beraturan. Aku berbalik menatapnya. Menatap dadanya yang naik turun dengan cepat. Ia balas menatapku. Tapi hanya sebentar.

Di raihnya selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Kemudian ia membalik tubuhnya memunggungiku.

Hahh…selalu seperti itu. Aku menatap punggungnya kesal.

 

‘Aku pergi’

Begitu pesan singkat yang kuterima saat bangun tidur. Pesan itu tertulis rapi pada selembar kertas yang ditaruh di atas bantal di sebelahku. Aku sudah hapal kebiasaannya. Selalu seperti itu. Begitukah caranya memperlakukan wanita yang semalam ditidurinya. Oh…sangat sopan sekali Cho Kyuhyun…

Semalam aku memberikan tubuhku padanya, dan keesokan harinya hanya mendapatkan selembar kertas yang memberitahukan bahwa dia telah pergi. Oh Tuhan…Setidaknya…berikan ciuman selamat pagi untukku, Cho Kyuhyun.

Aku merebahkan tubuhku lagi. Lalu menyamping, memandang ruang kosong yang seharusnya masih menjadi tempatnya terlelap pagi ini. Aroma pria itu masih melekat kuat. Begitu maskulin.

Aku mencintainya. Bahkan seluruh hidupku telah kuserahkan padanya. Tapi, kenapa sepertinya dia tidak membalas perasaanku. Tidak pernah.

 

Aku ingat jelas bagaimana aku bisa bersamanya. Aku sudah mencintainya. Bahkan sudah sejak Senior High School. Aku begitu senang ketika tahu bahwa kami melanjutkan kuliah di tempat yang sama.

Dia begitu pendiam, bahkan terkesan dingin dan acuh. Sehingga tak banyak orang yang mau berteman dengannya. Aku juga tidak pernah melihatnya bersama seorang wanita. Padahal tidak sedikit yang menyukainya, baik yang secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Sepertiku. Tapi seakan ada pakta tak tertulis yang menyatakan larangan kaum hawa untuk mendekatinya. Dia begitu tak tersentuh.

 

Dan entah mendapat keberanian dari mana. Sore itu, aku menyatakan cintaku padanya. Dia hanya menatapku datar, seakan-akan berkata bahwa ia tak peduli pada pernyataan cintaku. Sedangkan aku sudah hampir menangis, kalau saja tidak ingat yang namanya malu. Tapi, aku memang sudah kehilangan rasa maluku. Astaga…aku pasti sudah gila saat itu.

“Aku tidak mencintaimu”

Begitu singkat. Dia bahkan tak merasa perlu merangkai kata yang lebih halus untuk menolakku. Untuk menjaga perasaanku.

Sore itu, adalah sore terburuk sepanjang hidupku. Dia bahkan langsung pergi begitu selesai mengucapkan kata-kata terlaknat itu. Dan aku, adalah wanita paling menyedihkan sepanjang sejarah manusia. Aku hanya bisa diam mematung memandang punggungnya yang kian lama kian menghilang. Sambil menahan tangis. Begitu dia sudah tak terlihat lagi, air mataku mengalir begitu saja. Awalnya hanya isakan-isakan pelan. Tapi kemudian berubah menjadi isakan yang lebih kencang. Aku bahkan hampir menjerit.

Saat itu, aku berharap Tuhan menguburku dalam tanah. Aku begitu malu. Bagaiman jika aku harus bertemu dengannya lagi. Walaupun, aku tahu pasti dia tidak akan meperdulikanku. Tapi rasa malu yang tadinya terkubur, kini meledak-ledak.

Selama seminggu berikutnya, aku nekat tidak mengikuti jam kuliah. Aku malu jika harus bertemu dengannya. Oh Tuhan…tolonglah hambamu ini. Apakan aku harus melakukan operasi plastik. Dengan begitu dia tidak akan mengenaliku lagi. Atau mungkin dengan operasi plastik aku akan menjadi lebih cantik, lalu bisa memikatnya. Astaga…pikiranku malah melantur kemana-mana.

Sudah seminggu, aku tidak mengikuti kuliah. Dan hari ini eomma mengomeliku. Aku harus kuliah, jika tidak mau tiba-tiba tuli mendadak.

Aku bisa bernafas lega. Selama di kampus, aku tidak bertemu dengan pria itu. Tapi hanya sebentar, karena saat di parkir aku mendengar jelas suaranya.

‘Mati aku’. Pikirku kalut. Aku segera mencari tempat bersembunyi. Aku berdiri di belakang sebuah pohon yang cukup besar. Dari sini, aku bisa melihat dan mendengarnya dengan sangat jelas.

“Vic~ah…” eh?Vic?nugu? Dahiku berkerut. Untuk alasan tertentu, aku begitu penasaran.

“Yak! Panggil aku noona…aku lebih tua darimu tau…” wanita itu berbicara ketus. Kyuhyun mendengus pelan kemudian tersenyum. Aku melebarkan mataku. Dia bisa tersenyum setulus itu. Mataku semakin melebar, ketika Kyuhyun malah menggandeng wanita bernama Vic itu santai seakan-akan mereka kekasih.

Aigoooo…baru kemarin aku patah hati. Dan sekarang aku patah hati lagi. Oh…hebat sekali kau Cho Kyuhyun…

Sejak kejadian di parkir itu, aku langsung mencari tahu apa hubungan Kyuhyun dengan wanita bernama Vic. Dan informasi itu membuatku tercengang. Bagaimana tidak?

Wanita itu –namanya Victoria- adalah sunbaeku. Dia satu jurusan dengan Kyuhyun tapi setingkat diatasnya. Dan kabarnya –aku mendapatkan kabar ini dari Kim Ryeowook, teman Kyuhyun. Yang untung saja sangat mudah untuk dikorek informasinya- Kyuhyun menyukai si Victoria, tapi dia ditolak. Karena Victoria sudah punya kekasih dan dia hanya menganggap Kyuhyun sebagai adiknya.

Oh God…Sampai disini, aku hanya menganga kaget. Tentu saja. Cho kyuhyun yang dari luar terlihat tidak peduli itu ternyata nasibnya hampir sama sepertiku. Aku mencintainya, tapi dia menolakku dan malah mencintai Victoria, sedangkan Victoria malah menolaknya karena ia sudah punya kekasih.

Aku iri pada wanita itu. Dia bisa mendapatkan hati dua orang lelaki bahkan tanpa bersusah payah sekalipun. Sedangkan aku…aku bahkan ditolak mentak-mentah oleh salah satu lelaki yang mengejarnya.

Tapi bagaimanapun, Tuhan itu maha adil. Suatu hari, aku mengikuti Kyuhyun dan Victoria yang –sepertinya- kecan di sebuah kafe di sudut kota Seoul. Aku tidak sampai mengikuti mereka ke dalam. Aku hanya menunggu di dalam mobilku. Beberapa saat kemudian, Victoria keluar dari kafe. Dia terlihat menunggu seseorang. Sampai, ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Ia naik.

Lalu Kyuhyun?Aku bertanya-tanya dalam hati. Untuk beberapa waktu yang lama, aku tetap berdiam dalam mobil. Tapi kemudian aku mulai tak sabar. Aku keluar mobil, dan mulai memasuki kafe. Mataku mencari sosoknya.

Kutemukan ia duduk di pojok ruangan. Wajahnya menunduk dalam. Dan aku dengan bodohnya, malah menghampirinya. Aku berdiri di hadpannya dalam diam. Perlahan, ia mendongakkan kepalanya. Matanya memandangku sayu. Wajahnya pucat. Aku langsung tidak tega. Dia terlihat begitu menderita. Tanpa bertanyapun aku tahu kalau dia sedang patah hati. Aku pernah mengalaminya. Aku mengerti. Dan itu semua karena lelaki di hadapanku ini.

“Dia akan segera bertunangan…” suaranya serak. Sumpah demi apapun…aku ingin merengkuh tubuhnya dalam pelukanku, memberinya kekuatan.

“Dia akan meninggalkanku…” dan entah mendapat kekuatan dari mana, aku merengkuh kepalanya. Memendamkannya dalam perutku. Seiring dengan tangannya yang memeluk pinggangku erat. Tanganku mengelus-elus rambutnya. Kami tetap dalam posisi ini untuk waktu yang lama.

“Ayo pacaran…”katanya singkat. Karena pernyataan singkat itulah, aku dan dia menjadi sepasang kekasih sampai sekarang. Bahkan sudah lebih dari tiga tahun sejak pernyataan itu. Kini, kami bukan anak kuliahan lagi. Melainkan seorang pegawai kantor. Aku tahu, aku hanya dijadikan pelariannya saja. Bahkan sampai sekarang, aku merasa dia tetap tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku.

 

Aku hanya menutup telinga dan mata. Berusaha untuk mengabaikan kenyataan itu. Aku, bahkan sampai sekarang tetap berharap bahwa dia akan membuka hatinya untukku dan belajar mencintaiku.

Sudah hampir dua minggu. Aku merindukannya. Sejak percintaan kami dua minggu yang lalu, kami sama sekali tidak bertemu. Malam ini, aku pergi ke apartementnya. Aku langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu. Seperti biasa. Aku mempercepat gerakan mencopot sepatuku saat mendengar suara orang bercakap-cakap. Seketika firasatku tidak enak saat mendengar suara wanita.

 

“Aku telah bercerai”

“….”

“Kumohon kembalilah..”

“….”

“Aku membutuhkanmu…”

“Vic~ah..”

Deg! Aku menghentikan gerakanku. Perlahan, rasa takut menguasai tubuhku. Vic? Victoria? Dia kembali?

“Aku mencintaimu…”

Aku hampir menangis. Andwe kyuhyun~ah..andwe. Kumohon jangan membalasnya. Kumohon…

“Nado…”

Dengan cepat aku memakai sepatuku kembali. Walaupun tangan yang bergetar membuatku kesusahan. Tapi, aku berusaha secepat mungkin keluar dari tempat ini. Aku menutup pintu, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Begitu pintu tertutup, tanganku segera mencari ponsel. Dengan tangan bergetar hebat, aku mengetikkan pesan terakhir untuk Kyuhyun.

‘Ayo berpisah’

Sent…

Begitu pesan telah terkirim, aku mencabut SIM card dan membuangnya. Selamat tinggal Cho Kyuhyun…aku membencimu.
Sehari, 2 hari, 2 minggu, 1 bulan, 2 bulan…begitu seterusnya sampai 6 bulan, aku hidup tanpanya. Hampa. Itulah yang kurasakan tanpanya. Aku seperti zombie. Aku hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melakukan semua hal, karena memang aku harus mengerjakannya, bukan karena aku menginginkannya. Rasanya aneh. Aku tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Aku tidak menyangka, akan semenderita ini berpisah denganmu.
Aku berusaha membuat hidupku senormal mungkin. Setiap malam, aku akan menghabiskan waktuku dengan minum-minum. Tidak sendiri tentu saja, aku bersyukur memiliki teman yang bersedia membantuku menghilangkan sakit hati.

 

Setiap minggu, ada saja lelaki yang kukencani. Tapi, kami akan berakhir bahkan tak lebih dari 2 jam. Aku tidak pernah tertarik dengan lelaki selain dia.

Malam ini, seperti biasa. Aku pulang jam 3 pagi dalam keadaan setengah mabuk. Aku memang selalu membuatnya seperti ini. Berusaha untuk tidak terlalu mabuk, jadi aku bisa pulang tanpa merepotkan siapapun.

Aku masuk ke lift dengan tubuh sempoyongan. Kepalaku pusing sekali. Aku ingin segera melihat bantal. Oh..rasanya pasti nyaman sekali jika aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Aku mendengus kesal karena lift yang menurutku bergerak terlalu pelan. Saat pintu lift terbuka, dengan cepat aku keluar, nyaris berlari. Aku ingin segera masuk apartemenku yang hangat. Tapi, langkah kakiku secara otomatis berhenti melangkah saat melihat seseorang duduk bersandar di depan pintu apartemenku.

Aku hapal siluet tubuhnya. Saat tahu aku berdiri di dekatnya, dia bangkit. “Wasseo..?” tanyanya pelan. “Hmmm..” kubalas dengan gumaman tak jelas.

“Aku menunggumu..” aku menaikkan alisku.

“Wae?”

“….”

Dia hanya diam. Aku juga ikut diam. Kami sama-sama membisu. Entak kenapa ini terasa sangat canggung.

“aku merindukanmu…” katanya pelan, tapi terdengar seperti petir yang menyambar di telingaku. Seketika amarah menguasai tubuhku. Aku berjalan cepat menghampirinya.

PLAK!!

Tamparan itu sukses mendarat di pipinya. Ia menatapku kaget. Tidak menyangka aku akan melakukan ini.

“APA KAU SEDANG MEMPERMAINKANKU?” aku berteriak tepat di depan wajahnya. Tidak perduli ini masih dini hari, dan pasti penghuni apartemen ini masih tertidur. Aku tidak perduli mereka akan terbangun karena terganggu oleh teriakanku.

“BRENGSEK…” aku memukuli dadanya dengan bernafsu. “BRENGSEK….BRENGSEK…BRENGSEK..AKU MEMBENCIMU…” aku berusaha untuk tidak menangis, tapi tidak berhasil. Air mataku jatuh begitu saja.

Masih dengan memukuli dadanya, entah makian apa lagi yang kuteriakkan ke depan wajahnya. Aku tidak perduli. Aku membencinya…aku membencinya. Tangisku semakin kencang. Sampai membuatku kesulitan bernafas dan kesulitan bicara. Makianku kini sudah tidak terdengar jelas. Pukulanku semakin melemah, sampai akhirnya berhenti. Tangannya meraih pergelangan tanganku, kemudian menarik tubuhku untuk masuk ke dalam rengkuhannya.

Aku membenamkan wajahku ke dalam dada bidangnya. Aroma tubuhnya memabukkan. Saat itu aku sadar, betapa aku merindukannya. Aku masih terisak saat merasakan tangan kirinya memeluk pinggangku semakin erat. Sedangkan tangan kanannya membelai rambutku, mencoba meredakan tangisanku. Aku bahkan bisa merasakan bibirnya menciumi puncak kepalaku. Aku terlena. Dia tidak pernah memperlakukanku selembut ini.

“Aku merindukanmu…” bisiknya pelan di telingaku. Nafasnya yang hangat menyapu tengkukku. Membuatku merinding. Aku memejamkan mataku, saat merasakan bibirnya yang lembut mengecup leherku.

“aah…” tanpa sadar aku mendesah.

Aku mendongak, dan mata kami bertemu. Dalam matanya, aku bisa melihat kerinduan yang sangat. Bolehkah aku merasa senang? Tapi, aku juga melihat gairah.

Tanpa sadar, tanganku terangkat untuk merengkuh lehernya. Menarik kepalanya untuk mendekat kepadaku. Saat hidung kami bersentuhan, reflex mata kami terpejam. Membiarkan naluri yang menuntun. Bibir kami bertemu. Lembut. Bibirnya yang lembut, selalu membuatku ketagihan. Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, yang dengan cepat merubah menjadi lumatan pelan.

Aku menghisap bibir atasnya, sedangkan dia menghisap bibir bawahku. Aku mendesah pelan, saat merasakan lidahnya melesak masuk ke dalam rongga mulutku. Aku menghisap lidahnya pelan.

“aaah..” desahnya pelan…terdengar sangat sexy di telingaku. Lidah kami bertemu, saling membelit. Lumatannya pun berubah menjadi kasar dan menuntut. Tanganku mengacak-acak rambut belakangnya. Lumatan kami semakin tidak terkendali. Decakan bibir kami semakin kencang. Bahkan aku merasakan air liur kami menetes.

Saat kebutuhan akan oksigenku semakin mendesak, aku melepas tautan bibir kami. Nafas kami terengah-engah. Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tapi, nafasku kembali tercekat saat dia menjilati leherku.

“uuuh…kyu~ya…” aku mencoba menghentikan tangannya yang mulai meremas dadaku.
“Hmm…”

Aku meraih kepalanya. Menghentikan kegiatan jilat-menjilatnya. Dia menatapku tidak sabar.
“wae?” aku tahu, dia kesal.

“tidak disini eoh?” Aku langsung menariknya ke depan pintu apartemen.

 

Kyuhyun sangat tidak sabar. Dengan cepat, ditindihnya tubuhku. Sebenarnya, aku juga tidak sabar lagi. Kami diburu nafsu. Ia menghentikan ciumannya. Dengan cepat ia melepas kemeja dan celananya. Melihatnya yang sedang melepas pakaiannya, membuatku ikut melepas pakaianku sendiri.

Setelah kami sama-sama telanjang, ia langsung menindihku lagi. Bibirnya menjilati leherku, terkadang membuat kissmark. Aku hanya diam sambil menahan nikmat. Tanganku meremas bahunya, sebagai pelampiasan akan kenikmatan yang diberikan padaku. Bibirnya beralih dari leher ke pipiku. Dikecupnya pelan. Kemudian dia bangkit duduk. Aku ikut duduk berhadapan dengannya. Tangannya membelai lembut pipiku, begitu lembut sampai membuat sarafku meremang.

“Aku merindukanmu…” bisiknya pelan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, yang pasti aku begitu senang dan begitu bernafsu terhadapnya. Aku langsung menciumnya ganas yang dibalas juga dengan ganas. Aku mendorong tubuhnya sampai berbaring di ranjang, kemudian menindihnya.

Kami telanjang. Aku bisa merasakan setiap senti kulitnya yang bersentuhan dengan kulitku, hal itu membuatku semakin terangsang. Aku menatap penisnya yang telah tegang, aku menyentuhnya pelan. Kyuhyun merintih nikmat dibawah tindihanku. Matanya terpejam, dan bibirnya terbuka sexy. Aku sudah tidak tahan, aku ingin segera merasakan penisnya berada dalam tubuhku. Vaginaku telah basah, bahkan tanpa permainan awal aku sudah sangat terangsang.

Dengan perlahan, aku menggesekkan kepala penisnya ke lipatan vaginaku. Uhh…kami sama-sama menggerang. Sudah berapa lama kami tidak melakukan hal ini. Kenikmatan ini…aku terus menggesekkan alat kelamin kami.

“aaah…”

Dia hanya diam, hanya diam dan memandangku bergerak frustasi di atas tubuhnya. Tapi, matanya memancarkan gairah. Dia hanya ingin aku menikmati tubuhnya.

Dengan frustasi, aku segera memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rasanya begitu nikmat. Sedari tadi aku telah merasakan geli divaginaku, dan sekarang setelah penisnya menerobos lubang kenikmatan itu rasanya sungguh lega. Aku bisa merasakan kasarnya permukaan penisnya karena urat-urat yang telah muncul, rasanya begitu kasar tapi begitu nikmat ketika batang itu menggesek dinding vaginaku. Aku juga bisa merasakan kepala penisnya yang seperti jamur itu menghentak di mulut rahimku.

“ohhh…aaah…kyuuuu”

Aku bergoyang di atas tubuhnya, terkadang gerakanku naik turun, yang menyebabkan penisnya semakin menghujam masuk semakin dalam. Atau terkadang aku bergerak memutar, sehingga aku bisa merasakan permukaan penisnya menggesek kasar dindingku. Dia hanya diam sambil menatapku dengan tatapan nafsu. Kemudian aku bisa merasakan dinding rahimku menebal dan semakin sensitive. Ohh tidak..aku masih belum ingin kenikmatan ini berakhir. Aku juga merasakan penisnya semakin menegang, dan berkedut kencang.

“aargh…”dia menggeram, kemudian menghentikan gerakanku dan membalik posisi kami. Aku berada di bawah kuasanya. Dia menggenjot penisnya dengan cepat. Dikeluarkan penisnya itu sampai hanya kepala yang tertinggal di jepitan dinding vaginaku, kemudian dia menghentakkan penisnya masuk dengan kencang, hal ini sangat nikmat membuat mataku menggelap. Kami akan menuju puncak, tapi tak ada tanda-tanda dia akan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sampai kemudian kegelapan menelanku berssama jeritan kenikmatan yang keluar dari mulutku. Vaginaku mencengkeram penisny dengan kencang sehingga membuatnya langsung mengalami orgasme. Untuk pertama kalinya dia menyemburkan spermanya di dalam rahimku. Rasanya sangat basah, hangat, dan geli. Aku sangat bahagia, dalam hati aku berdoa semoga dengan adanya sperma ini dapat membuatku hamil, sehingga dia akan terikat denganku.

 

“Maafkan aku…” bisiknya lirih di telingaku. Aku hanya diam. “Aku mencintaimu…” Aku masih diam. “Maafkan aku karena baru menyadarinya setelah kau pergi, aku sangat menyesal”

Sekarang dia sedang memelukku dari belakang. “berjanjilah…” bisikku lirih. “tidak akan kembali padanya.” Dia mencium leherku pelan “berjanjilah…jangan pernah meninggalkanku” dia mempererat pelukannya.

“Aku berjanji dengan nyawaku, aku mencintaimu Park Yora”

“Aku juga Cho Kyuhyun…” aku berbalik kearahnya, mata kami bertatapan.

“Ayo menikah…”

“….”

Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah lamaran yang paling tidak romantis. Tapi, bagiku…ini merupakan hal paling romantis yang pernah terjadi dalam hidupku.

 

THE END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 14/04/2014, in OS, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. Kyaaaa sweet sweet sweet sekali omooooooo><

  2. Ditunggu squel nya author,,,,,,

  3. lamaran teraneh diseluruh dunia 🙂

  4. So sweet!! Akhirnya kyu bisa menyadari kalau sebenarnya dy mencintai yoora…

  5. knp Other Cast harus si victoria ajhuma2 ganjen sih,klo mau bikin shiper knp gk di blog sendiri aja thor,toh walaupun cuma Other Cast bikin g gerah sendiri dan untuk cerita selanjut berrharap kyu gk di kait2 in lagi sama si mak2 tua

  6. soo swett tidak sia sia semuanya

  7. Akhirnya kyu mencintai yora juga…

  8. happy end

  9. sequelnya thor

  10. wahhh ,,, bingung mau komen apa ???
    keren bnget aku suka 🙂

    sequel

  11. Wahhh….akhirnya pnantian Yoora tdk sia2 bwt dptin hti Kyuhyun. Khlgan itu pst akan trsa saat kau mmg sdh tdk brsmnya dan kau br mnyadari bhwa kau mbtuhkannya.

  12. owwww so swet ya wlau hrus nunggu lama 😥 tp akhirny kyukyun oppa jtuh cinta jg perjuangannya gk sia” deh park yora nya 😀

  13. Keren ffnya.. Ga kecepetan,feelnya dapet and ternyata si ice prince itu luluh… ≥﹏≤ keren bgt ga nyesel bacanya..

  14. romantis kaleeee
    walaupun udah dor duluan

  15. Wah seru bgt,aku suka ncnya,hot dah,daebak,sequel dong

  16. haha enak banget yak ngajakin pacaran sama nikah 😀

  17. Awsoooommmeeeee . . .

  18. Kyaaaaa Happy Ending!!!”
    akhirnya kyu sadar tapi ini butuh sequel author hehehe kalau sempat bikin yaaa SPnyaaa hihihi 😀

  19. Wichh…hot bngt nc nya min…

    oo mian ikutan bca yh min..reader bru nih
    pi nih ff bnr” pns bngt..cho kyu bru sdar stlh kepergian yora wikz

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: