DEAT AT HEART

kyuhyun ff nc

Title                       : DEAT AT HEART [NC-21]
Author                  : Ikykyuteuk

Cast                       : Cho Kyuhyun, Yoon Seo-Hwa
Genre                   : Sad, Angst, Drama
Rating                   : NC-21
Length                  : ONESHOOT

Happy Reading^^

Mulutku mengumpat beberapa kali ketika rasa nyeri dipangkal paha kembali menyerang. Pria itu kembali memakaiku malam ini, setelah malam-malam yang lalu ia habiskan berdua bersama dengan kakakku. Aku tersenyum miris membayangkan bagaimana sosokku dimatanya sekarang. Baginya, aku hanyalah seonggok wanita murahan pemuas nafsunya dikala kakakku tidak bisa memuaskannya. Pria itu memang sialan. Tidak puas dengan kakakku sekarang aku yang menjadi incarannya. Dia memaksaku, menyentuh tubuhku sesukanya bahkan telah merenggut keperawananku secara paksa.

Aku marah? Sangat. Rasanya, ingin sekali aku berteriak didepan kakakku jika pria yang sudah menjadi suaminya adalah pria brengsek. Pria yang sudah meniduriku dengan semua ancamannya yang mampu membakar pertahananku. Aku pasrah, ketika jari-jari panjangnya mulai meraba-raba tubuhku. Membuatku berada diatas awan dan dengan sekejap saja membobol keperawananku. Aku menangis? Ya. Bahkan sampai meraung-raung untuk meminta belas kasihnya. Tetapi dia seakan moh dan semakin gencar menarik-ulurkan daerah kewanitaanku dengan kejantanannya. Aku menangis dalam diam menahan kesahitan yang bercampur dengan kenikmatan. Aku berdoa dalam gelap malam, lindungi aku, wanita rapuh dan tak berdaya ini Tuhan.

Kakiku menyentuh lantai marmer dan melangkah memunguti satu persatu pakaian yang berserakan dimana-mana. Aku memakainya dalam diam, tanpa memperdulikan sepasang mata itu masih menatapiku tajam diatas ranjang sana. Aku tidak perduli dan masih sibuk memakai pakaianku sampai suara pria itu terdengar memenuhi rongga pendengaranku.

“Besok, jika tidak ada kelas. Temui aku ditempat biasa,” Aku tidak menggubrisnya dan berjalan sedikit tertatih meraih ganggang pintu. Tetapi, pria itu telah lebih dulu mencekal pergelangan tanganku dan menghimpit tubuhku didinding. Aku memejamkan mata menahan rasa amarah yang semakin lama semakin mengobar dalam jiwa, aku menahannya karena aku masih ingat tempat dimana aku berpijak sekarang.

“Ada apa?” Aku menatap manik matanya yang sedang menatapiku tajam. Oh ayolah, Cho Kyuhyun! Kau selalu menunjukkan tatapan bencimu padaku melampaui batas kesabaranku. Memang apa salahku dimasa lalu hingga kau membuatku jatuh kedalam jurang seperti ini? Kau tau betapa sakitnya aku ketika kau dengan gamblangnya merenggut kesucianku. Tidak cukupkah kakakku? Mengapa harus aku?

“Kau punya mulut kan? Seharusnya kau bisa menjawab pertanyaanku, Seo-Hwa.” Desisnya dengan suara serak. Tangan kirinya ia lingkarkan dipinggangku dan tangan kanannya membelai lembut tengkukku. Sedikit menggeliat ketika lagi-lagi dia menggodaku, aku berani bersumpah jika Cho Kyuhyun mampu menaik turunkan libido dan itu sangat menyiksaku.

“Ya. Besok aku akan menemuimu. Kau puaskan? Jadi lepaskan aku,”

“Jika aku mengatakan tidak?” Aku menggeram kesal ketika wajah pria itu mendekati wajahku. Menggesek hidung kami dan berakhir meremas tengkukku posesif, aku menggeliat dalam diam menahan suara desahan sialan itu meluncur indah keluar dari bibirku.

“Jangan melakukannya lag—hhh” Aku menahannya, menahan banyak sensasi ketika bibir itu menggigit cuping telingaku. Aku mencoba mendorong tubuhnya membuat panutan kami terlepas. Aku mendorong tubuhnya sedikit kebelakang dan segera keluar dari kamar nista itu sebelum dia kembali menyerangku. Aku tidak akan pernah sanggup lagi jika harus memaksakan kehendak untuk melayaninya.

Sedikit mengatur deru napas, aku melangkah menuju dapur mengambil sebotol minuman dari lemari es dan meneguknya. Membiarkan kesegaran air tak berasa itu mengairi tenggorokan. Pikiranku menerawang, membayangkan apa saja yang harus aku lakukan setelah menikmati malam-malam yang begitu mencekam bersamanya. Kadang kala aku memikirkan seberapa banyak dosa yang aku tumpahkan di dunia, dosa tentang percintaan kami yang terlarang dan kebohongan dibelakang kakakku. Sungguh, sejak awal aku tidak ada niatan untuk membohongi kakakku seperti ini. Tapi ancaman yang dibuatnya membuatku merasa tersakiti bahkan terasingkan dalam diam. Aku pasrah, membiarkan bibirnya itu menari-nari membentuk kalimat menjijikkan yang berakhir kebohongan.

“Kau disini, Seo-Hwa? Belum tidur?” Sedikit tersentak, aku membalikkan tubuhku dan mendapati siluet tubuh kakakku yang berdiri tak jauh dariku. Dari sini aku bisa melihat siluet wajah kakakku yang memiliki kulit putih langsat seperti wanita lain pada umumnya. Aku bersumpah jika dia sangatlah cantik layaknya bidadari dari khayangan sana. Sungguh, berbeda sekali dengan aku yang noteband sebagai adiknya.

“Ya? Ne, hanya terbangun sebentar, Kak. Wae?”

“Kau tidak bertemu dengan Kyuhyun Oppa? Aku sedari tadi menungguinya,” Aku tersenyum miris. Menunggu Cho Kyuhyun? Kakak, jika kau tau aku dan pria terkasihmu bermain api dibelakangmu. Apa yang akan kau lakukan kepadaku?

“Ngg—Aniya. Aku tidak melihatnya, Kak.” Aku menghampirinya, menatap mata kosongnya.

Tanganku terulur menyentuh tulang belikatnya, dia pun mendongak menatapku berlawanan, yang aku tau kalau kakakku sebenarnya tidak bisa melihatku, yah.. kakakku buta.

“Oh, aku kira kau melihatnya. Aku akan kembali ke kamarku jika begitu,”

“Apa perlu bantuan?” Aku mengikutinya dari belakang ketika tubuhnya berbalik, takut-takut jika kakakku akan menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya memar dan bisa terjadi luka.

“Tidak perlu. Lanjutkan tidurmu, Hwa.” Jawabnya ketika kami berada diruang keluarga. Sedikit mendesah, aku menghentikan langkahku dan hanya menatapi punggung itu yang berjalan menuju dimana kamarnya bersama pria brengsek itu berada.

Seperti mendapat bogem mentah, ketika aku berbalik ingin kembali kekamar, mataku berpapasan dengan mata kelam itu lagi. Dia menatapiku seperti biasa sebelum melewatiku yang berdiri termangu karena lagi-lagi harus menekan rasa sakit yang kembali melebur dalam dada.

**

“Yoon Seo-Hwa..” Aku menghentikan langkahku dikoridor kampus, menolehkan sedikit kepala dan mendapati siluet tubuh pria yang 3 tahun ini menjadi teman dekatku. Ingat! Hanya sebatas teman dekat tidak lebih.

“Ne. Ada apa, Yi Fan?” Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum yang selalu membuatku tenang, sedikit mengacak poniku dia tertawa setelah bibirku mengerucut dengan kesal. Jujur saja, aku membencinya ketika tangan itu suka sekali mengacak tatanan rambutku.

“Hassh! Kau selalu menjengkelkan, Yi Fan!” Dia tertawa, merangkul pundakku dan kami melanjutkan langkah yang tadi sempat tertunda.

“Siapa suruh kau melamun, hum?”

“Siapa yang melamun?” Aku mencubit pinggangnya kesal, dia pun berteriak sedikit murka dan mengataiku yang tidak-tidak. Damn! Wu Yi Fan. Kau selalu bisa membuatku mati kutu hanya karena celotehmu yang selalu tanpa pikir panjang. Memalukan!

“Kau suka sekali mencubitku, Seo-Hwa!”

“Itu karena kau bajingan, Yi Fan!” Dia tertawa, kembali melanjutkan langkah kami yang sempat tertunda menuju taman belakang kampus. Mata kuliah hari ini tidak terlalu banyak, hanya satu mata pelajaran.

Yi Fan membawaku duduk bawah pohon ek yang sudah menua, musim gugur membuat pohon ini tumbuh tanpa adanya daun. Dia seakan rapuh dan terlihat ringkih. Sama seperti kehidupanku sekarang, aku rapuh dan tidak mempunyai semangat hidup. Sekelibat bayangan tentang pria itu yang merenggut kesucianku beberapa bulan yang lalu terlintas dipikiranku. Nyaliku tiba-tiba ciut saat desiran aneh itu kembali menghantuiku. Desahan. Rintihan. Erangan menjadi satu. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana dia dengan sadisnya merenggut kesucianku, menjadikanku sebagai pemuas nafsu bejatnya.

Kedua tanganku terkepal disisi tubuh membiarkan semua emosi tertahan. Bahkan aku melupakan sosok pria yang duduk disampingku, pria yang selama ini selalu dekat denganku, satu-satunya teman terdekatku, Wu Yi Fan.

“Seo-Hwa, kau melamun, heh?” Aku menggelengkan kepalaku setengah sadar, lalu cepat-cepat menarik sudut bibirku sebelum dia curiga.

“Tidak. Hanya memikirkan beberapa tugas yang membuat kepalaku hampir pecah.”

“Benarkah? Tugas apa?”

“Matematika,” Kedua alisnya bertaut, menatapiku aneh. Dari sinilah yang aku suka darinya, tatapan mata yang sedikit menajam namun menenangkan dan garis wajahnya yang tegas dengan hidung mancung kebanggaannya, pria disampingku ini selalu menunjukkan karismanya sebagai seorang pria. Aku akui, Yi Fan adalah salah satu pria tampan selain Cho Kyuhyun brengsek itu. Damn!

“Bukankah kakak iparmu pernah memenangkan Olimpiade Matematika? Kau kan bisa meminta bantuannya,” Aku termangu, antara ingin menjawab Astaga! Mengapa baru aku pikirkan atau Tidak! Tidak Yi Fan. Selama aku meminta bantuannya sama saja aku memenjarakan diriku dikandang harimau.

“Lagipula, aku dengar dia dosen baru disini?” Aku menelan ludahku gugup. Sial! Mengapa Yi Fan tau jika pria itu bekerja disini?

“Dan dia mengajar mata pelajaran yang sedang aku bingungkan. Ah sudahlah, aku tidak mau membahasnya.” Aku mengibaskan sebelah tanganku. Membenarkan letak dudukku agar senyaman mungkin. Menyandarkan kepalaku dibahunya untuk melepas penat. Wu Yi Fan. Aku sangat menyukai ketika kepalaku bersandar dibahumu. Kau tau rasanya? Nyaman. Benar. Nyaman, sangat-sangat nyaman. Kau adalah satu-satunya orang tempatku untuk bersandar.

Kau yang selalu menjadi pelindungku dulu ketika aku dikucilkan dan tidak dianggap. Kau malaikatku tanpa sayap dan kau… Priaku yang tidak pernah bisa aku raih. Maaf, karenakulah kita tidak bisa bersama sekeras apa-pun kita mencoba. Sungguh. Jika saja hidupku sudah tidak hancur seperti ini, 3 bulan yang lalu aku menerima pinanganmu, karena aku juga mencintaimu.

Tak sadar aku terisak dalam diam. Wu Yi Fan. Seandainya kau lebih cepat dari pria itu mungkin kita akan hidup bahagia. Tapi itu terdengar mustahil dan menyesakkan. Hidupku yang dulu menyenangkan karena adanya kau, kini terlihat suram ketika pria brengsek itu merenggut semuanya. Bahkan hati ini teramat sakit ketika aku menolak pinanganmu. Kau pria baik dan aku mencintaimu tapi… Cho Kyuhyun sialan itu. Menghancurkannya!

“Kau menangis?” Aku tersenyum miris menepuk pahanya pelan dan beralih menyentuh telapak tangannya. Mengaitkan jari-jari kami menjadi satu. Aku menatapinya, menatapi tangan kami yang saling bertaut.

“Ada apa? Jika ada masalah jangan memendamnya sendiri. Kau membuatku takut, kau tau?”

“Jangan mengoceh, Yi Fan. Biarkan aku bersandar dibahumu dan menangisi diriku sendiri yang menolak lamaranmu.”

“Yah. Yah. Yah. Hanya karena itu? Kau ingin aku melamarmu lagi, begitu?” Mataku membulat, kepalaku mendongak, menatapi wajahnya yang dari samping. Aku kira setelah memutuskan tidak menerima lamarannya dulu dia tidak akan mengungkit masalah ini. Wu Yi Fan. Kau membuatku takut.

“Mwo? T—idak,” Dia menolehkan kepalanya, menatapku dalam. “Apa yang membuatmu menolakku? Katakan, Seo-Hwa.” Aku menggeleng dalam diam. Tangan dinginnya menangkup kedua pipiku, menatap mataku dengan tatapan senduhnya.

“Mengapa tidak menjawab?” Bingung dan cemas. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seandainya kau tau tabiat pria itu apa yang akan kau lakukan padanya? Seandainya kau tau jika aku ternodai apa aku masih bisa bersamamu, Yi Fan? Mengapa harus banyak kata seandainya yang membuat hati ini semakin tersakiti, Yi Fan. Mengapa?

“Aku—“ Deringan posel memenuhi indra pendengaranku. Segera. Aku merogoh tasku dan mengambil ponselku melihat siapa yang menghubungiku. Sial! Pria sialan itu lagi. Mengapa harus ada dia yang selalu membuatku semakin tertekan?

Aku menatap Yi Fan dalam, sebelum memutuskan menerima panggilan itu.

“Yeoboseo,”

“Apa yang kau lakukan dengan pria itu disana? Kau lupa kemarin aku menyuruhmu apa, huh? Jika kau tidak segera datang akan ku pastikan berjalan saja kau tidak mampu.” Dia mematikan ponselnya. Aku sedikit termangu mendengar perkataannya. Oh astaga! Semalam pria itu memintaku datang keruangannya. Aku melupakan itu dan aku bersumpah. Aku tau maksud dari perkataannya diakhir tadi.

“Wae? Siapa yang menghubungimu?” Aku menatapnya. Menatap Yi Fan dengan pandangan yang sulit diartikan. “Yi Fan.. A—ku harus pergi segera. Maaf dan jangan mengikutiku,” Aku beranjak, merapikan kotoran yang melekat dicelanaku sebelum berlari meninggalkan pria itu dalam diam. Yi Fan. Maafkan aku, karena lagi-lagi aku mengecewakanmu.

**

Aku memasuki sebuah ruangan minimalis. Ruangan yang hanya dimiliki oleh pria sialan itu sendiri. Ruangan yang didalamnya menyimpan banyak kemewahan yang sengaja dibangun hanya untuk tempat peristirahatan pria sialan itu. Ruangan yang paling berbeda dari ruang staf dan ruang dosen yang ada. Karena ruangan ini adalah ruangan yang khusus dirancang untuk pemilik tempatku kuliah dan sial pemiliknya itu Cho Kyuhyun.

Ketika memasuki ruang tengah yang mirip sekali seperti ruang keluarga, yah. Walau terisi dengan meja kerja. Sialan! Aku pernah bercinta dengan pria laknat itu sekali. Hanya sekali disini.

“Kau hanya ingin menatapi ruanganku penuh kagum, begitu?” Refleks aku meneggelengkan kepalaku. Aku membalikkan badan, dan melihat pria itu sibuk dengan beberapa berkas ditangannya. Dari sini aku bisa melihat matanya yang jeli menelisik salah-satu laporan yang aku tidak tau itu apa. Dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Pria itu terlihat sedikit.. err. Tampan.

“Kau berdiri disana untuk memandangi wajahku, hm?” Kakiku mundur satu langkah ketika dia meletakkan berkas itu dan melepas kacamatanya. Beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiriku dengan tatapan yang masih sama. Tatapan kebencian yang selalu ditunjukannya padaku.

“Kau tau apa kesalahanmu kali ini?” Sedikit menggelengkan kepala. Aku menatapnya takut ketika tubuhnya mendekatiku. Aku mundur sampai tubuhku membentur dinding. Dia masih menatapiku dan menghampiriku, dari jarak yang hanya menyisahkan satu langkah saja tubuhnya sukses menempel ditubuhku. Tapi pria ini masih diam dan sibuk mengamatiku. Aku mendongak memberanikan diri menatap matanya.

“A—ak-“

“Lucuti pakaianmu sekarang juga, atau aku yang akan melucutinya?” Aku menatapnya, apa pria ini gila? Menyuruhku melucuti pakaian ku sendiri didepannya? Oh My!

“A—niya-“

“Jika kau menolak, sama saja kau menjerumuskan dirimu sendiri dalam kubanganku,”

Aku memejamkan mata menahan emosi yang menyeruak dalam dada. Sedikit bergetar, dalam lingkup pengelihatannya tanganku melepas satu persatu kancing kemeja yang ku gunakan dalam diam. Dia diam dan menatapiku. Satu kancing, dua, sampai kancing yang terakhir terbuka aku melepaskan kemeja itu dari tubuhku membiarkannya teronggok tak berdaya dilantai.

Kepalaku menunduk, kini beralih melepas celana jeans yang aku lepaskan dalam diam. Membiarkannya bernasib sama seperti kemejaku yang sudah tanggal dan menyisakan sepasang pakaian dalam berwarna merah yang ku kenakan. “Mengapa hanya itu, aku minta semuanya kau lepas.” Dia memberiku isyarat melepas sisa pakaianku. Aku menatapi dengan banyak rasa dan emosi yang menjadi satu.

Aku melepas sepasang pakaian dalam yang aku kenakan. Menundukkan kepala sedikit menahan malu didepannya. Walau, dia pernah melihatku bertelanjang. Tapi tetap saja, dia membuatku malu dengan apa yang dia perintahkan. Terlebih apa yang kami lakukan adalah hal terlarang yang tak diketahui seberapa besar dosanya.

“A—ku sudah menuruti kemauanmu. A—pa yang kau inginkan sekarang?” Dia menunjukkan smirk-nya. Meraih tanganku dan membawaku di sofa yang berada ditengah-tengah ruangan. Menghempaskan tubuhku sedikit keras dan menindihku. Aku hanya pasrah ketika bibirnya bermain disekitar cuping telingaku, menggigitnya dan sesekali menjilatinya.

“Nghh—“ Dibawahnya aku menggeliat, menyalurkan rasa aneh yang menjalar ditubuh. Ketika tangannya yang beratnya meremas lembut kedua payudaraku. Aku melenguh tertahan, tak ingin mengeluarkan desahan sialan itu keluar dari bibirku.

“hhh—“

“Jangan ditahan aku keluarkan desahanmu, Sayang.” Aku tetap bungkam, menegadahkan kepalaku diatas saat wajahnya mendekati wajahku. Sebisa mungkin aku menghindarinya, namun dia lebih gesit dan tanpa banyak bicara benda lunak itu menempel indah diatas bibirku.

Aku memberontak ketika bibirnya melumat bibirku semakin menggebu, menyelinapkan lidahnya untuk bermain-main dirongga bibirku. Aku memejamkan mata, menahan desiran aneh lagi. Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?

“Hmmpp—“ Aku lelah terus memberontak, membiarkannya kembali menggunakan tubuhku. Menutup mataku rapat-rapat dan sekilas ingatanku tertuju pada kakakku.

Kak, maafkan aku. Aku sangat berdosa membiarkan priamu menyentuhku. Berkali-kali aku sudah menghindar, dan berkali-kali itu pula dia menggunakan kekerasan untuk mendapatkan tubuhku. Maafkan aku, Kak.

Ciumannya turun, setelah bibirku kini beralih dileherku dan membuat banyak tanda disana. Kepalaku menegadah, memberikannya akses menikmati leherku dengan leluasa. “Nghh—“

Dia menghentikan aktifitasnya. Mata kami beradu pandang, sebelum bibirnya mengecup singkat bibirku dan berkata.

“Mendesahlah, Sayang. Jangan menahan desahanmu. Panggil namaku,”

“Ouch.. Oh.. Ahh.. Ky—uhynnh” Aku mejerit ketika sesuatu memasuki lubangku. Sial! Dia memasukkan ketiga jarinya kedalam lubangku, menarik-masukkan dengan cepat membuatku menggeram kesal yang berakhir pada suara desahan. Shit! Aku bisa gila jika begini terus.

“Nghh—Geuman—hh” Dia tak ubahnya sebagai monster yang menakutkan, tidak berhenti disitu. Dia semakin gencar menaik masukkan tangannya. Aku bahkan melenguh hebat sampai gelombang itu datang. Tidak!

“Enghh—Oh—Ohh—Aaahh—“ Tubuhku lunglai, napasku tersenggal-senggal. Orgasme bukan cara yang sulit dilakukan ketika melakukan sex, bahkan mampu membuat libido naik seketika. Aku masih tidur terlentang mengatur napas. Sedangkan pria yang baru saja membuatku orgasme beralih meraup sebelah payudaraku dan mempermainkannya. Sesekali menyusuinya seperti layaknya bayi kehausan.

“ Ngh—Kyu—Pelnhh—“ Ada rasa perih dibagian putingku, mungkin karena efek semalam. Sama seperti sekarang, semalam dia mempermainkan payudaraku sedikit gencar. Aku meremas kepalanya memberikan menahan kembali rasa sensasi itu yang mengubur dalam jiwa. Membiarkannya dengan leluasa mempermainkan tubuhku tanpa adanya penolakan.

Aku pasrah, bahkan ketika aku merasakan daerah vitalnya menggesek kewanitaanku, aku yakin benda tumpul dan panjang itu sudah siap memasukiku. Puas dengan payudaraku, dia melepaskan diri diatasku dan melucuti semua pakaiannya. Kami sama-sama full naked. Dari sini aku bisa melihat benda tumpul itu berdiri tegak dan siap untuk mengoyak kembali daerah kewanitaanku.

Dia melebarkan sedikit pahaku, menggesekkan ujung kejantanannya didaerah kewanitanku dan. Damn! Jangan menggodaku Cho Kyuhyun. Matanya yang menatapku tajam dengan rambut acak-acakan dan keringat yang menempel didahinya membuatku terbakar. Aku memberanikan diri meraih tengkuknya dan melumat bibirnya. Biarlah apa katanya. Sungguh. Melihatnya seperti tadi membuatku mampu meremang diatas awan dan itu sangat menggoda.

Aku melepaskan tautan bibir kami dan berkata lirih. “Pelan-pelan. Vaginaku sedikit sakit akibat semalam,” Dia mengangguk dan memposisikan tubuhku agar senyaman mungkin. Sebelum, memasukiku dia terlebih dulu mengecup bibirku. “Aku akan melakukannya dengan pelan. Asal, jangan biarkan pria selain aku menyentuh sejengkal kulitmu. Kau mengerti?”

Alisku bertaut. Apa katanya? Pria selain dia? Siapa? Aku tidak memiliki teman pria selain Yi Fan? “Yi Fan?”

“Aku tidak mau tau, meskipun dia temanmu atau apalah. Jika aku melihatnya lagi menyentuh milikku, aku tak akan segan-segan membunuhnya. Terutama kau! Jika sekali lagi aku melihatmu menyandarkan kepalamu dibahu pria itu. Akan ku pastikan kau tidak akan beranjak dari ranjangku barang sejengkal pun.”

“Tapi Yi Fan temanku. Kau tidak memiliki hak penuh atas aku.”

“Coba katakan sekali lagi?” Aku menatap matanya. Dia menatapku tajam berbeda sekali dengan beberapa menit yang lalu. Sepertinya aku telah membangunkan harimau dari dalam kandangnya. Oh Tuhan!

“Kau tidak memil—Akh!” Demi yang kudus. Rasanya sangat sakit dan perih dibawah sana. Luka semalam kembali terkoyak, bahkan frekuensi keluar-masuknya melebihi batas.

“Kyuhh—ahh—ahh—ahh” Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan yang bercampur menjadi suatu kenikmatan. Aku melengguh. Mendesah. Bahkan menjerit ketika frekuensinya cepat-lambat. Ku cengkram dengan kuat kedua lengannya yang berada disisi tubuhku.

“Kauhh—Ohh—Smpthh—“ Aku menggelengkan kepalaku. Menahan gelombang itu datang kembali. Kyuhyun semakin cepat menarik-masukkan, dia seakan tau jika gelombang itu kembali mempermainkan libidoku.

“Kyuhh—Akk—“ Aku menjerit tertahan, aku merasakan juniornya juga berkedut didalam sana.

“Kelurghh—ouchh—Akh!!” Hingga pelepasan itu terjadi. Tubuh ku ambruk disusul tubuh Kyuhyun diatasku. Peluh kami menempel dan tubuh kami lengket. Baik aku dan Kyuhyun masih sibuk mengatur napas. Menetralkan detak jantung yang terpacu dengan cepat. Membiarkan rasa hangat cairannya membasahi rahimku.

Dia beranjak diatas tubuhku memunguti satu persatu pakaiannya, lalu segera mengenakannya. “Lekas pakai pakaianmu,” Ujarnya padaku seperti biasa. Dia akan kembali menatapku dengan tatapan benci setelah mendapatkan apa yang sudah dia inginkan. Dia berjalan menuju tempat pakaianku yang berserakan. Mumungutnya, lalu menyerahkan padaku. Tanpa banyak suara, dia beranjak keluar dari ruangan ini.

Aku hanya bisa menatapi punggung itu penuh pesakitan. Cho Kyuhyun! Apa kau tau bagaimana sakitnya aku saat kau sakiti seperti ini? Aku memiliki hak penuh untuk bahagia. Mengapa kau seolah membuatku sulit dengan meraih kesucianku yang benar-benar aku jaga untuk suamiku kelak? Mengapa Kyuhyun? Mengapa?

Untuk waktu yang lama aku terisak, membiarkan rasa menyesakkan ini satu persatu begitu, melegakan. Aku. Sakit dan tak sanggup menjalani hidup lebih baik. Aku sudah hina, bahkan mati. Ingin rasanya menggantungkan diri agar aku bisa tenang. Tapi semua itu terasa mustahil.

Perlahan aku memakai kembali pakaianku, membenarkan tatanan rambut dan menghapus sisa air mata yang masih menempel diwajah, lalu memutuskan meraih tas dan berjalan sedikit tertatih keluar dari ruangan ini.

Sore menjelang malam, suasana dikoridor yang aku lewati sudah tampak sepi. Aku tetap melangkahkan kakiku untuk keluar dari kampus ini. Sampai, satu langkah, dua langkah, mataku melihat dengan jelas siluet seorang pria yang berdiri tak jauh dariku sedang menatapiku tajam. Oh Tuhan! Apa lagi ini? Rahangnya mengeras dan matanya menajam tidak mungkin—jangan—YiFan—Jangan.

“Jadi ini yang membuatmu menolak lamaranku?” Suara dinginnya membuatku hatiku terasa ngilu. Ini menyakitkan, orang yang sangat aku cintai menatapku seolah aku adalah barang yang menjijikkan.

“T—idak. A—ku bisa menjelaskannya, Yi Fan.” Aku menatapnya gamang. Mataku terasa panas menahan lelehan airmata itu kembali menyeruak. Aku takut dia akan menjauh dariku. Tidak Yi Fan. Jangan menjauhiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu.

“ckckck. Aku tidak perlu mendengarnya dari mulut sialanmu itu, karena aku sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.”

“A—andwe, Yi Fan. Dengarkan penjelasanku dulu,” Aku mencoba meraih tangannya, namun dia telah lebih dulu mengibaskan tangannya yang sukses membuatku terduduk dilantai. Mataku benar-benar memanas dan lelehan airmata itu sudah tidak bisa aku tahan.

“Jangan menunjukkan airmata buayamu itu didepanku. Aku sudah muak melihatnya. Kau mengecewakanku, Seo-Hwa.” Perkataannya lebih menyesakkan dari apa yang dilakukan Kyuhyun padaku. Yi Fan. Jebal. Jangan menatapku seolah kau membenciku, Yi Fan. Jebal. Sudah cukup pria itu yang membenciku. Tidak dengan kau. Aku tidak akan sanggup.

“Y-yi F-fan,”

“Mulai detik ini jangan memanggil namaku dan jangan muncul didepanku lagi. Pergilah ke tempat dimana aku tidak bisa melihatmu. Karena kau sudah mengecewakanku,” Aku menangis terisak. Biarlah. Aku bahkan tidak akan sanggup lagi untuk sekedar berdiri. Hanya bisa menatapi punggungnya yang berlalu dari jarak pandangku. Memukuli dadaku yang terasa begitu menyesakkan dijiwa. Bahkan hatiku sedari tadi menjerit memanggil namanya.

Yi Fan. Yi Fan. Maafkan aku. Yi Fan.

**

Ini sudah dua hari semenjak hari itu, aku banyak menghabiskan waktuku didalam kamar. Membiarkan sepihan kesakitan ini hanya aku yang merasakan seorang. Aku tidak mampu menahan semuanya. Tidak ada yang mengharapkanku didunia. Bahkan masa depanku juga sudah hancur. Aku sendiri, walau pada kenyataannya aku masih memiliki seorang kakak. Namun, akan mustahil bagiku jika aku melihat bagaimana perasaan kakakku jika mengetahui hubunganku bersama suami sialannya itu dibelakangnya. Tidak-tidak aku harus mengakhiri semuanya.

Terlebih Yi Fan, pria itu sudah tidak mengharapkanku. Untuk apa aku hidup jika sama sekali tidak ada yang memperdulikanku. Perkataannya tempo lalu masih menghantui pikiranku. Aku menggigit bibir bawahku ketika dengan jelas aku masih mendengar suaranya menyerukan kata yang menyakitiku dan menghancurkanku menjadi keping-keping.

“Jangan menunjukkan airmata buayamu itu didepanku. Aku sudah muak melihatnya. Kau mengecewakanku, Seo-Hwa.”

Mataku yang semula tertutup sontak terbuka. Napasku tersenggal-senggal dan keringat dingin memenuhi dahiku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir bagian bawah. Kepalaku sedikit berdenyut ketika telapak kakiku menyentuh lantai marmer. Aku lebih memilih menatapi beberapa bingkai foto yang didalamnya berisi fotoku dan foto kakak dan satu bingkai lagi yang berisi fotoku bersama Yi Fan.

Haruskah aku mengakhiri semuanya, kak? Aku sudah tidak sanggup hidup lagi setelah ini. Sudah cukup Yi Fan membenciku dan menatapku hina. Aku tidak akan sanggup jika kau juga menatapiku seperti itu. Aku sangat tau, dan benar-benar tau bagaimana kau mencintai suamimu. Aku tidak ingin membiarkan kebahagiaanmu terrenggut karenaku. Bukankah lebih baik aku mengakhiri semuanya sebelum terlambat. Kak? Jaga dirimu. Aku mencintaimu.

Aku memeeluk bingkai fotoku bersama kakakku dan menangis terisak dalam diam. Ini untuk terakhir aku menangis. Tidak akan ada airmata lagi setelah ini, karena aku akan mengakhiri semuanya. Aku sudah lelah menjalani hidup yang begitu menyesakkan dijiwa. Sungguh.

Aku menghapus air mataku, menatap kosong kedepan. Ku letakkan bingkai foto itu diatas ranjang, lalu mengambil sebuah cutter dari dalam nakas. Sedikit terhuyung, karena kepalaku berdenyut hebat. Aku memasuki kamar mandi dan membuka kran shower, membiarkan tubuhku basah dibawanya. Keputusanku kali ini aku anggap benar. Aku memejamkan mata menahan semuanya, sedikit terisak aku membuka cutter yang aku bawa. Membiarkan benda kecil dan tajam itu mengoyak pergelangan tanganku. Bau anyir sangat menyengat. Tubuhku lunglai tak berdaya.

Aku tersenyum dibawah isak tangisku yang memilukan. Maafkan aku untuk semuanya, Kakak, Yi Fan, Abeoji, Eomma. Aku sudah tidak akan sanggup untuk sekedar bernafas dan hidup seperti biasa. Aku akan jauh lebih tenang jika aku memutuskan mengakhiri hidup seperti ini. Maafkan aku membuat kalian kecewa. Aku. Sungguh. Aku mencintai kalian.

END

Thank’s For Reading Guys

Ikmaliaa^^ http://ikmaliafirdausi.wordpress.com

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 14/04/2014, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 47 Comments.

  1. hhhuaa jinja feelnya dapat benget thor!! wajib saquel!!

  2. Aduch kyuhyun bner2 jhat disini,,, harusnya dia mendapat blasan yng stimpalll.

  3. Knapa kyu kaya gitu,
    need sequel

  4. feelnya dapet banget thor, miris bgt seo hwa . kenapa kyupa tega banget sih,dan sebenernya apa yang buat kyu kaya gitu ke seo hwa? jebal thor aku penasaran bgt kasih penjelasan atas semuanya hehe

    keep writinp ne thor! ^^

  5. Sangking terpuruknya, sampai memilih bunuh diri…

  6. sedih banget…. kyaaa knp harus sad ending…. feelnya dapet…. jinjja gue sedih banget

  7. thor keren thor aihhhhhhhhhhhh>.<

  8. Anjir ya nyesek bgt bacanya ngilu parah bagian akhir astaga nyesek thor tp suka bgt sm ceritanya ah daebak

  9. Huwaaa….udh 2 ff yg Q bca malm ini di YFF smuanya sad ending. Knp Kyuppa jhat bgd ?? G tw mslhnya apa knp jd bnci gt sm Seo Hwa, Sequel please !!

  10. Omo kris nya sweet tapi si kyu nya jahat aaaaak daebak tapi bisa banget ngebawa feel si seo hwa nya sedih bgt

  11. Shim Ji Hyun

    Aduh thor ide ceritanya bgus bgt.. Tapi aku ngilu kalo ngebayangin orang bunuh diri.. Takut

  12. Huaa knp disini kyuhyun perannya bejat banget 😭

  13. Demiapa! Keren! :”’)

  14. Huaaaaa T^T masa ending nya mati thor ..
    Please sequelnya buat seo-hwa hidup lagi T_T

  15. Omg Kyu jahat banget T.T

  16. Minta sequelllllllnya thor….. Pleaseeeeeee

  17. Ya ampun,kasian skali seohwa.bagus banget ffnya.feelnya jg dapat,nyesek.two thumbs up..thor.

  18. Hiks.. hiks…huaa…..

  19. Wajib sequel thor.. Masih penasaran alasan kyu kaya gituu..

  20. Astagaaaaa, kyu jahat bgt. Apa mksdny cb gt ke seo hwa?? Apa kurang dy dh pny istri jg? Apa cm mnfaatin tubuh seo hwa sbg pmuas nafsu aj?? Jahanam bgt sih jd cow! G mkirin masa dpn seo hwa ta? Dh gt bs2ny natap seo hwa dg pandangan kyk gt. Ckckckckck.. Jgn smpe mnyesal cho kyuhyun!!

  21. Bener2 nangis aku baca ini. Feelnya dapet baget!

  22. Ya ampun kasian bgt,kenapa seohwa selalu berakhir tragis,aigoo

  23. okee. endingnya mati . itu mengesalkan. squek donk

  24. Raelynn lee

    Feel nya Dapet bnget, alur cerita nya juga seru..

    Bagus banget pokok nya, tpi sayng kyuhyun jahat 😦

  25. sumpah ini kyu bejat bgt!!
    masalahnya blm selesai kan meskipun seohwa nya mati..
    sequel adakah?

  26. keren bgt ya tuhan. sygnya g dijelasin alesan kyu benci seo hwa.

  27. Merinding T.T Feelnya dapet banget!!!!! story nya keren!!!!!!!!!!

  28. oh god kyu oppa sadis banget

  29. Feelnya dapet thor…penulisannya juga bagus tpi masih rada membingungkan ceritanya jadi kalau bisa sequel yahh thor….

  30. dian pertiwi

    ya ampun kyuppa kau jahat sekali.. eonni wajib bkin sequel ditunggi ini keren bgt… annyeong…

  31. Mudah2an ada sequelnya!

  32. Kyuhyun bner2 jahat disini!
    Sbner’a gmn sih awal’a, knp kyu bsa nikahin kakak’a seohwa klo dia ga cinta?
    Trs knp kyu sllu menatap seohwa dgn pandangan bnci, apa ada sesuatu dimasalalu yg bikin kyu bgitu?
    Trs apa ancaman yg diksh kyu ke seohwa, smpe seohwa tertekan gitu?
    Ah bnyk bgt pertanyaan berkelebat dipikiranku.. Aish tlng jebal bikin sequel spy aq ga kepo gini thor ><

  33. Ini keren bgt,ada sequelnya nggak??pnsrn lnjtnnya

  34. Jiaaahh
    kok end , sequel donk thor
    pllease

  35. omg..
    sad ending lagi..
    oke fix..
    jujur aja aku kesel bgt ama itu sifat Kyu tp jg penasaran gimana perasaannya ke Seohwa, kenapa dia natap benci Seohwa dan overprotect..

  36. Gila gila gila , nie ff berhasil bwt gw keselll -_-
    ya ampun kyu sampe segtunya , kasian seohwa 😥
    yi fan km salah faham tau gg , kasian seohwa . dibutuh km 😦
    kyu sadis bgt -_-
    DAEBAKK FF NYA (Y)

  37. Huaaa… Menyedihkan… Buat sequel nya donk, dari sudut pandang siapa kek

  38. dannnnn q dah baca sequelnya…

    yeeeee happy endiiinggg..

  39. ADMIN MINTA SEQUELL JEBALLLLL. ADUH KRISSSS CINTAKUUU

  40. T_T wajib sequel thor,

    keep writing 🙂

  41. aduh lama² jadi gak suka nih sama cho kyuhyun 😦 ganti cast nya dong aaaaaa jibang

  42. waaaaaw keren bgttttt

  43. Aku suka FFnya bisakah ada sequelnya….?? Apa seo wha meninggal…??? Gmna keadaan kyuhyun saat seo wha meninggal…..? Trus kenapa kyuhyun bisa sekejam itu…???

  44. Aku suka FFnya bisakah ada sequelnya….?? Apa seo hwa meninggal…??? Gmna keadaan kyuhyun saat seo wha meninggal…..? Trus kenapa kyuhyun bisa sekejam itu…???

  45. thor sequel dong .
    terbwa suasana sad nih 😥

  46. winda dan agung

    Seqquel ada tp di mn ni kok gk nmu ssh bgt

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: