PETER PAN

yoona  and TOP ff nc

Author : Ame Sora

Tittle    : PETER PAN

Type    : Meloromance (maybe), Romance, NC 17

Cast     : Im Yoona (GG), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Park Bom (2ne1), Lee Seung Gi

(Mungkin ceritanya sedikit bikin pusing, hehe… ditunggu saran dan kritiknya J–btw cerita ini terinspirasi dari lagunya EXO “PETER PAN”)

19 tahun yang lalu.

“itu adalah anak perempuan satu-satunya keluarga ini. Sebenarnya, ibunya yang meninggal karena kecelakaan sedang mengandung adiknya” ujar seorang lelaki paruh baya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam sambil menunjuk kearah gadis kecil—kira-kira berumur tujuh tahun—yang bersandar di tembok, tangannya memeluk dua pigura yang bergambarkan wajah seorang laki-laki, sedangkan pigura yang lain bergambar perempuan. Tatapan gadis itu terlihat sangat kosong, tidak menangis, tidak juga tersenyum.

“Aigooo.. anak yang malang. Dia kehilangan kedua orang tuanya pada saat umurnya masih sangat muda. Dia duduk di sana sudah dua hari.” Jelas lelaki separuh baya itu kepada seorang seorang lelaki berkacamata yang menggandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira umurnya terpaut tiga tahun dari si gadis kecil. Keduanya mengenakan setelan jas berwarna hitam, tanda hormat pada suasana berkabung hari itu.

Lelaki berkacamata dan anaknya masuk ke ruang pemakaman, dan meletakkan bunga krisan putih yang merupakan simbol berduka. Perlahan lelaki berkacamata itu duduk berlutut dan menangis.

“maaf…”

Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut lelaki berkacamata. Sementara anak lekaki yang bersamanya berjalan kearah gadis kecil yang sedang memeluk pigura. Dia menyodorkan sebuah buku bersampul biru muda dengan gambar anak kecil berambut pirang kepada si gadis kecil. kedatangan anak laki-laki itu si gadis mendongakkan kepalanya, meskipun wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi.

“bacalah, ini akan sedikit meghiburmu” ucap anak laki-laki itu. Tangan kecil gadis itu meraih buku yang disodorkan kepadanya.

“Pe-ter-pan” gadis kecil itu mengeja lirih judul buku yang di berikan kepadanya.

***

Yoona duduk di meja sebuah café bernuansa vintage, dia memilih duduk di tepi jendela. Tangannya meraih saku coat hitamnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna keemasan dengan pattern yang memberi kesan classic pada amplop itu. Jelas, ini bukan amplop biasa. Di letakkannya amplop itu di meja.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki mengenakan kemeja berwarna putih berjalan kearahnya dan menarik kursi begitu sampai tepat di meja Yoona. laki-laki itu melihat amplop yang berada di meja. Dia menatap Yoona lekat dengan tatapan tajamnya. Tanpa mengubah ekspresi dan juga tanpa senyuman.

“Bom eonie memberikan itu padaku” ujar Yoona, matanya tak berani membalas tatapan tajam laki-laki di depannya, sesekali dia mengalihkan tatapannya ke amplop yang berada di meja.

“Aku yang menyuruhnya” kata laki-laki itu dengan suara beratnya. Kemudian dia memanggil pelayan café dan memesan secangkir Cappucino tanpa memperdulikan Yoona yang terkejut dengan jawaban singkatnya. Yoona pun kehabisan kata-kata.

“Kenapa? Kau tidak suka Bom yang mengantarkan undangan itu? Kau ingin aku yang mengantarkan langsung kepadamu?” lanjut laki-laki itu yang sepertinya tidak peduli dengan perasaan Yoona.

Pertanyaan yang sulit bagi Yoona. Keduanya sama-sama menyakitkan baginya. Ya, amplop itu bertuliskan nama Choi Seung Hyun dan nama Park Bo Mi. Mereka akan menikah beberapa hari kedepan. Meskipun Yoona tau rencana pernikahan tersebut, tetapi hari pernikahan yang tertera disana sedikit lebih cepat dari yang dia tau.

“Oppa, aku tahu kau mencintaiku. Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku” kata Yoona dengan mata berkaca-kaca. Yoona dan Seung Hyun memang telah saling mengenal sejak kecil, tepatnya saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, mungkin karena terbiasa bersama sehingga mereka saling jatuh cinta, tetapi cinta di antara mereka tidak sesederhana itu. entah mengapa, Yoona merasa tetap ada jarak di antara cinta mereka. Mungkin karena Seung Hyun tidak memberikan cinta itu seutuhnya.

“Apa aku akan mengelola perusahaanku dengan cinta?” Kata Seung Hyun sambil berusaha tetap tenang meskipun dia tau setelah ini, setelah kata-kata ini dan setelah kejadian di tempat ini, dia akan menyakiti wanita di depannya. “Apa yang akan aku dapat jika aku menikah denganmu?”

Mendengar pertanyaan Seung Hyun, tiba-tiba dada Yoona terasa sesak. Sakit. Sedikit demi sedikit air mata Yoona mulai meleleh, tetapi dia berusaha menyeka airmata itu dan bersikap setenang mungkin, kemudian membuang pandangan matanya keluar jendela. Dia tau, dia tidak akan bisa menjawab pertanyaan Seung Hyun.

“Kau tau dari mana kau hidup selama ini, tidakkah itu cukup bagimu?” Lanjut Seung Hyun yang membuat Yoona menoleh ke arahnya. Menatapnya. “Kau juga ingin menikah denganku?”

“Apa kau juga menginginkan perusahanku?” kali ini Seung Hyun tertawa mengejek. Sesekali menyesap Cappucinonya.

Yoona mengepalkan tangannya erat. Kata-kata itu begitu menyakitkan baginya. Dia mengumpulkan kekuatan untuk membalas perkataan Seung Hyun. “Jadi, selama ini kau menganggapku seperti itu? Haruskah aku mengatakan bahwa aku menyesal menerima semua kebaikan yang diberikan mendiang Ayahmu?”

Sejak kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya, seluruh biaya hidup Yoona di tanggung oleh keluarga Seung Hyun. Yoona sendiri juga tidak pernah tau, apa alasan keluarga Seung Hyun repot-repot merawatnya sementara mereka—Keluarga Seung Hyun dan Yoona—tidak memiliki hubungan darah.

“kau mengatakan kau menyesal setelah mendapatkan semua? Bukankah seharusnya kau berterimakasih?” ujar Seung Hyun sambil tertawa sangat keras. Yoona berdiri seketika dari tempat duduknya. Dia merasa geram dengan tingkah laku Seung Hyun.

“Aku tidak mengerti mengapa keluargamu memungutku dan tidak membiarkan saja aku hidup di panti asuhan,” ujar Yoona dengan nada bergetar menahan tangis dan marah. ”aku juga tidak mengerti mengapa kau menciumku dan mengatakan bahwa kau mencintaiku, jika kau akan menikah dengan wanita lain. Aku juga tidak mengerti mengapa kau melarang Seung Gi Oppa menemuiku dan kau malah mengirimnya ke Luar Negri..” Yoona berhenti berbicara ketika melihat Seung Hyun berdiri dan berjalan ke arahnya, menarik lengannya dengan tangan kiri, sedangkan tangan yang lain menarik leher Yoona dan kemudian melumat bibir Yoona.

Yoona masih tidak percaya dengan kejadian singkat ini. Dia tersadar saat Seung Hyun mulai melumat bibir bawah milik Yoona. Dengan keras Yoona segera mendorong Seung Hyun menjauh darinya hingga Seung Hyun hampir saja jatuh kalau dia tidak dapat menjaga keseimbangan. Yoona mengepalkan tangannya erat, dia melihat beberapa pengunjung café melihat kearahnya, ada yang tersenyum melihat adegan ciuman singkat itu, ada juga yang kaget. Sementara Seung Hyun tertawa dan mengelap bibirnya dengan lidahnya.

“Kau tau, aku bisa mencium wanita manapun, jadi jangan salah paham, cinta, bagiku urusan nomer dua” ujar Seung Hyun sambil terkekeh dan kembali duduk ke tempat duduknya. Tanpa berpikir lagi, Yoona segera mengabil tasnya dan pergi dari café itu.

Seung Hyun melihat kepergian Yoona, wajahnya yang semula sedikit tersenyum berubah menjadi serius. Kemudian mengambil Hp dari saku celananya yang sedari tadi bergetar.

“Bawa semuanya ke ruanganku. Katakan pada Seung Gi untuk menemuiku di tempat yang aku sebutkan tadi” kata Seung Hyun, kemudian mematikan sambungan telefonnya.

***

Suara dentuman musik terdengar di seluruh penjuru ruangan sebuah bar, tempat Seung Hyun akan bertemu dengan Seung Gi. Dia berjalan mencari sosok yang dicarinya tersebut, tetapi masih belum juga tampak, yang terlihat malah pasangan yang sedang asyik bercumbu mesra. Tidak sedikit pula wanita yang merayu Seung Hyun untuk sekedar minum. Tetapi Seung Hyun memilih sebuah ruangan VIP dengan kursi merah dan terlihat sangat mewah, ruangan itu sedikit lebih tenang. Beberapa saat kemudian sosok laki-laki mengenakan kemeja hitam datang menghampirinya sambil menyuguhkan senyuman di wajahnya.

“Apa kau sudah lama menungguku?” katanya sambil tersenyum sedikit lebar dari sebelumnya, kemudian duduk tepat di depan Seung Hyun dan memanggil pelayan untuk memesan minuman. “kau mau pesan apa?” tanya Seung Gi, kemudian dia tersadar saat tidak mendapat jawaban dari Seung Hyun. “Ah aku lupa, kau tidak minum. Aku pesan Margarita” ujar Seung Gi. Memang, sudah beberapa tahun terakhir ini Seung Hyun mulai berhenti minum minuman beralkohol, dia di vonis menderita kelainan pada organ heparnya (hati), karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Jika terlalu banyak minum, sebagai gantinyadia akan memuntahkan darah.

Sesaat setelah pelayan itu pergi, Seung Hyun mengeluarkan beberapa koran dan majalah yang terlihat telah usang, beberapa majalah juga tak lagi bersampul sedangkan kertasnya telah berubah warna. Dia meletakkan koran dan majalah tersebut dengan sangat kasar di atas meja. Seung Gi memasang wajah penasaran.

“Aku rasa tuan Jaksa telah menemukan sesuatu” kata Seung Gi sambil melipat tangannya di dada kemudian melihat koran dan majalah itu tanpa menyentuhnya. Seung Hyun, meskipun keluarganya memiliki perusahaan besar, dengan penghasilan yang tanpa di ragukan lagi, entah mengapa dia lebih memilih untuk menjadi jaksa. “Apa kau menyuruhku jauh-jauh datang dari Amerika untuk ini?” ujar Seung Gi tak percaya.

“19 tahun setelah kejadian yang menimpa ibuku, mencari kebenaran semuanya tidaklah mudah” Seung Hyun mulai angkat bicara. “tidak banyak media massa yang memuat berita kecelakaan itu, bagiku ini sangat aneh jika dibandingkan dengan latar belakang ibuku” lanjutnya.

“Terlebih lagi, berita tentang kecelakaan yang menimpa ibu Yoona, aku tidak menemukan sama sekali. Padahal peristiwa itu terjadi di tahun yang sama”

Penjelasan Seung Hyun membuat Seung Gi mengela nafas panjang, dia menyandarkan badannya ke kursi. Wajahnya berubah serius. “ Aku senang kau menepati janjimu” ujar Seung Gi, kini dia mulai menyentuh sebuah koran lama yang di bawa Seung Hyun. Seung Hyun hanya meliriknya sekilas.

“Aku tahu kau akan menepati janjimu, karena itulah, aku menyerah untuk mendapatkan Yoona.” lanjut Seung Gi, tangannya sembari membuka lembaran koran lama tersebut. Dulu, Seung Gi dan Seung Hyun memang sempat perang dingin karena mereka sama-sama menyukai Yoona. Tapi entah mengapa pada akhrinya sepupunya itu menyerah dan merelakan Yoona bersamanya, ini membuat Seung Hyun merasa sedikit bersalah, kalau saja Seung Gi tau bahwa dia akan menikah dengan wanita lain, Seung Gi pasti tidak akan pernah memaafkannya.

Seung Hyun menegakkan badannya untuk menghindari kecanggungan yang tiba-tiba datang setelah nama Yoona disebut. “Kau juga, kau mati-matian menjadi pengacara hanya karena ingin membelanya jika dia ingin membuka kembali kasus ini.”

Saat mereka masih SMA, Yoona pernah datang ke kantor polisi untuk membuka kasus ini, tentu saja itu tidak mudah. Kejadian itu sudah sangat lama, bahkan barang bukti pun mungkin telah lenyap dan anehnya—menurut Seung Hyun—tidak ada informasi sedikitpun tentang kejadian itu. Seperti sebuah angin, kejadian itu ada, tetapi seperti lenyap tanpa informasi. Polisi setempat mengaku tidak pernah menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut.

“Mungkin jika aku menjadi pengacara itu hal yang wajar, karena seluruh keluargaku adalah pengacara” kata Seung Gi. Memang, seluruh keluarga Seung Gi adalah pengacara, ayahnya bekerja sebagai tim pengacara di perusahaan Seung Hyun, tetapi setahun yang lalu ayahnya telah meninggal karena sakit keras. Bisa dikatakan kasus ini tidak ada saksi maupun barang bukti. Semua orang terdahulu—saat kejadian kecelakaan yang menimpa ibu Seung Hyun—telah meninggal. Belum lagi Ayah Seung Hyun yang meninggal terlebih dahulu dari ayah Seung Gi karena penyakit jantung yang di deritanya, ini membuat masalah yang paling ingin dia selidiki tak memiliki ujung. “Sedangkan kau memilih untuk menjadi jaksa, dimana kau seharusnya menjadi CEO perusahaanmu, aku pikir itu bukan hal yang wajar.”

Seung Gi terlihat merogoh saku celananya, di tangannya terdapat secarik kertas, kemudian diletakkannya di atas meja. “itu nama seorang pengacara yang pernah bekerja di perusahaanmu bersama ayahku. Beberapa waktu yang lalu, orangku berhasil menemukannya.” Jelas Seung Gi pada Seung Hyun yang hanya melihat kertas itu. “kedatanganku kembali ke korea sebenarnya untuk menemuinya. Bukan karena kau menyuruhku.”

“Tapi aku pikir aku tidak perlu mencampuri masalah inilagi.” lanjut Seung Gi sambil berdiri. “Jaga Yoona baik-baik” kemudian dia pergi, berjalan menjauh dari ruangan itu.

Seung Hyun hanya melihat kepergian Seung Gi tanpa berkata apapun. Tangannya meraih secarik kertas di meja yang bertuliskan sebuah nama, Kim Min Soo. Mata Seung Hyun kembali melihat kepergian Seung Gi, terlihat Seung Gi berjalan sambil memegang hp di tangannya, sepertinya seseorang telah menelefonnya, jika yang menelefon Seung Gi adalah kaki tangannya, maka beberapa detik setelah telfon itu di tutup, Seung Gi pasti akan mendatangai Seung Hyun lagi. Andai saja Seung Gi tau bahwa dia telah mencampakkan Yoona, dia pasti tidak akan sudi berbagi informasi seperti ini, Seung Hyun juga tidak pernah tau alasan mengapa dia menggambil Yoona dari Seung Gi, padahal jelas-jelas Seung Hyun tau, bahwa Seung Gi benar-benar mencintai Yoona.

Sepertinya dugaan Seung Hyun benar, tanpa menunggu lama, dia melihat Seung Gi berjalan cepat kearahnya kemudian mencengram erat kerah baju Seung Hyun. “Apa ini adalah rencanamu selama ini?” kata Seung Gi pelan menahan amarah. Seung Hyun malah tertawa dan itu membuat Seung Gi semakin geram, dia mengepalkan tangannya erat menahan semua amarahnya yang telah berada di ubun-ubun.

“Menikahlah dengan Yoona, aku akan memberikannya padamu” Kata Seung Hyun sambil tersenyum dan itu benar-benar membuat Seung Gi tak lagi dapat menahan amarahnya. Dia melayangkan pukulan tepat di muka Seung Hyun. Pukulan itu teramat sangat keras sehingga membuat Seung Hyun terjatuh di lantai, darah segar mengalir di sudut bibirnya.

Seung Hyun mengelap darah itu dengan ujung ibu jarinya, dan kembali tersenyum. Dia berusaha untuk berdiri, tetapi Seung Gi mencengkram kembali kerah bajunya. “Kau tahu, salama ini kau menang bukan karena kau hebat, tetapi karena aku membiarkanmu menang.” Ujar Seung Gi tepat di depan wajahnya.

“Kau melakukan ini (akan menikah dengan wanita lain) karena takut menerima kenyataan tentang kebenaran kejadian 19 tahun lalu?” lanjut Seung Gi sambil melepaskan cengkramannya. Dia meraih secarik kertas yang diberikan pada Seung Hyun dan merobeknya. “Aku berbohong padamu tetang ketidaktahuanku tentang kejadian itu, aku juga telah menemui pengacara itu (Kim Min Soo) dan aku juga telah mengetahui semua.” Kali ini suara Seung Gi mulai mengeras. Selama ini, Seung Gi selalu berpura-pura tidak mengetahui apapun, dia berusaha membuat seolah Seung Hyun yang mengetahui semua terlebih dahulu, mungkin inilah yang dia maksud membuat Seung Hyun menang. Dia tahu, ini adalah hal bodoh yang dia lakukan demi kebahagiaan orang lain. Seung Gi berharap Yoona bisa bahagia bersama Seung Hyun. Ah, cinta juga bisa menjadikan orang demikian kan?

“KAU INGIN AKU MEMBERI TAHU KEJADIAN YANG SEBENARNYA?” Seung Gi tak lagi bisa mengontrol emosinya. Teriakannya membuat sebagian orang yang berada diluar ruangan menoleh.

***

Di Apartemen Seung Hyun.

“Kedua orang tua Yoona meninggal karena kecelakaan. Mobilnya bertabrakan dengan mobil ibumu yang mengendarainya sambil mabuk. Kau pasti mulai mengetahui ini karena beberapa bukti mulai memberi tahu kebenarannya, dan ini semakin membuatmu tak mau menerima kenyataan”

Mata Seung Hyun mulai berkunang-kunang, dia tidak mampu melihat sekitar dengan jelas. Otaknya merekam jelas perkataan Seung Gi tadi. Dia mulai menegak minuman beralkohol yang di belinya saat kembali menuju apartemen, kali ini dia tidak peduli dengan penyakit bodohnya itu.

“Kejadian ini tidak begitu terdengar di media massa, juga, tidak banyak orang yang mengetahui ini, karena seperti yang kau duga, seseorang membuatnya seperti itu. Dan dia adalah ayahmu.Dia menghabiskan banyak uang untuk semua ini.”Kata Seung Gi.

Seung Hyun meremas kaleng minuman itu dan membuat isinya keluar. Selama ini dia sangat mengagumi ayahnya, mungkin rasa kecewa inilah yang membuat dia benar-benar marah. Dia mengambil kaleng minuman baru, membukanya dan menegak isinya.

“Ayahmu berselingkuh dengan sekretarisnya dan ibumu mengetahui itu. Pengacara Kim (Kim Min Soo) memberitahu ku bahwa ayahmu sangat menyesal karena kejadian ini. Mungkin itu sebabnya dia membawa Yoona.”

Kali ini Seung Hyun mendongakkan wajahnya. Bagaimana dia bisa berkata hal yang kasar pada Yoona tadi sore. Seung Hyun merasa amat bersalah pada Yoona, pada kejadian yang menimpa hidup Yoona, terlebih lagi semua kejadian itu melibatkan keluarganya. Tetapi rasa bersalah itu, Seung Hyun tak dapat mengendalikannya dengan baik. Dia ingin kejadian itu tidak pernah ada, sehingga mereka bisa hidup sebagai pasangan normal. Tetapi kenyataannya, setiap kali melihat wajah Yoona, itu membuatnya merasa bersalah dan ingin menyingkirkan wajah itu dari hadapannya. Mungkin dia terlalu mencintai Yoona, perasaan itu bercampur dengan rasa bersalahnya yang teramat dalam.

Tangan Seung Hyun meraih hp dan menekan nomor Yoona. Dia menunggu lama, tetapi orang diujung sana belum jg mengangkatnya. Dia tidak putus asa, satu panggilan, dua panggilan….

***

Yoona melihat sebuah buku bersampul biru muda dengan gambar anak laki-laki berambut pirang, tangannya menggandeng seorang anak perempuan menggunakan dress putih, rambutnya ikal sebahu. Keduanya sedang melayang di awan.

“Akhir cerita yang menyedihkan, Wendy pergi meninggalkan Peter Pan untuk kembali kedunianya. Meskipun Wendy selalu menunggu Peter Pan untuk kembali menjemputnya ke Neverland” Yoona mengusap sampul buku itu. Dia melihat sekilas hp nya yang sedari tadi bergetar. Di layar tertuliskan sebuah nama Seung Hyun Oppa. “Kau ingin akhir dari cerita kita seperti ini?” ujarnya sambil melihat hpnya dengan tatapan sedih. Yoona tidak beranjak dari tepat duduknya untuk meraih hp itu.

Beberapa saat kemudian bel rumahnya berbunyi. Yoona meletakkan buku itu dan menuju pintu. “Tuan Han?” Ujar Yoona saat mengetahui pengacara Seung Hyun datang menemuinya. “Ada apa datang kesini larut malam?” tanya Yoona.

“Maafkan aku Yoona-ssi, bisakah anda meninggalkan rumah ini? kami akan memberimu waktu 2 hari”

Yoona mengerutkan kedua alisnya, tanda bahwa dia tidak mengerti, “Maaf Tuan Kim, saya tidak mengerti makhsud anda, mungkin selama ini saya hidup dengan uang pemberian keluarga Seung Hyun Oppa, tetapi saya membeli rumah ini dengan uang pribadi, saya bekerja untuk mencicil rumah ini” jelas Yoona.

“Saya mengerti, tetapi Tuang Seung Hyun telah melunasi rumah ini dan mengambil alih kepemilikan rumah ini”

Yoona berdiri mematung. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia bahkan tidak mendengar saat pengacara Kim berpamitan pergi. Ini seperti sebuah petir yang menyambarnya. Yoona masuk kembali kerumahnya dan segera menyambar hpnya yang sedari tadi bergetar dengan nama penelefon yang sama. Seung Hyun.

“Hei Kau” ujar suara di sebrang sana—mendahuli Yoona—begitu telfon tersambung.

“Bisakah ka-u per-gi dari ha-dapan-ku?” kata suara itu terbata-bata, “aku tidak akan bisa hidup dengan te-nang jika aku ter-us meli-hat-mu” lanjutnya

“Oppa kau mabuk?” kata Yoona, sekilas dia melupakan kemarahannya dan berubah menjadi cemas.

“Per-gilah, jebal”kata suara di sebrang sana tanpa menjawab pertanyaan Yoona.

“Oppa? Kau kenapa? Kau mabuk?”

“Jebal..” tiba-tiba suara itu terputus, berganti dengan suara nada sambung. Yoona bergegas mengambil tas dan jaketnya.

.

.

.

Sesampainya di apertemen Seung Hyun, Yoona segera mencari dimana Seung Hyun berada. Dia memeriksa semua tempat, ruang tamu, ruang kerja, balkon, dan terakhir dia bisa menemukan Seung Hyun berada dikamarnya, membenamkan wajahnya di kedua lutunya dengan posisi duduk dilantai bersandar pada tembok, tangan yang satu memegang kaleng minuman sedang tangan yang lain memegang hp. Dengan cepat Yoona segera membereskan kaleng minuman yang berserakan dilantai, memasukan kedalam kantong plastik, dan membawa beberapa yang masih utuh bersamanya dan berakhir pada tempat sampah yang berada di dapur. Yoona kembali ke kamar itu, kemudian membuka jendela sehingga hembusan angin dingin masuk kedalam ruangan itu.

Seung Hyun mendongakkan kepalanya, dia melihat tingkah Yoona yang sedari tadi sibuk memunguti pakaian yang berserakan di lantai, membersihkan dan merapikan seisi kamarnya. Dia tidak tertarik untuk berbicara dan merogoh saku celananya, mengeluarkan bungkus rokok dan menyulut sebatang rokok dengan api. Tindakannya membuat Yoona menoleh.

“Oppa, sejak kapan kau mulai merokok?” tanya Yoona sambil mengambil batang rokok ditangan Seung Hyun, tak lupa mengambil bungkus rokok, dia menuju kamar mandi dan membasahi rokok-rokok tersebut dengan air. Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Seung Hyun mengunci kamarnya dengan kondisi terhuyung-huyung karena masih dalam kondisi mabuk berat, tidak stabil dan hampir jatuh.

“Oppa, kenapa kau mengunci kamar?” tanya Yoona tak mengerti. Seung Hyun tidak menjawab dia berjalan kearah Yoona, semakin dekat, sedangkan Yoona berjalan mundur hingga dia akhirnya berhenti saat kakinya menyentuh sisi tempat tidur yang berada di kamar itu.

“Bukankah ini yang kau inginkan?” kata Seung Hyun sambil terus mendekat kearah Yoona, tangannya membelai rambut Yoona lembut, kemudian menyuguhkan sebuah senyuman di wajahnya. Tangannya kini beralih ke ke wajah Yoona, mengelus pipinya, kemudian bibir Yoona dan berhenti di dagu Yoona. Seung Hyun mulai mendekatkan wajahnya hingga Yoona dapat merasakan deru nafas Seung Hyun. Tak lama kemudian Seung Hyun mulai melumat bibir Yoona. Sementara Yoona terus berusaha melepaskan diri dari ciuman itu, Seung Hyun tidak menyerah begitu saja, dia segera mengalihkantanganya ke leher Yoona, sehingga Yoona tak dapat mengelak dari ciuman itu, yang dia bisa hanyalah memukuli badan Seung Hyun dengan kedua tangannya, meronta agar badan itu menjauh darinya.

Kini tangan Seung Hyun mulai bergerak, menuju kancing kemeja Yoona sambil terus mencium Yoona. Secara spontan Yoona memegang erat kemejanya dan melepas ciuman Seung Hyun. “Apa yang akan kau lakukan Oppa?” kata Yoona terengah-engah kehabisan nafas dan berjalan cepat menju pintu, tetapi Seung Hyun menarik tangannya dan menjatuhkannya ke tempat tidur. Dia duduk tepat diatas Yoona dan mengunci kaki Yoona seingga dia dapat memastikan tubuh kecil wanita itu tidak dapat bergerak. Tangan kirinya juga mengunci kedua tangan Yoona yang terus meronta ingin melepaskan diri.

Seung Hyun mulai mencium Yoona dan berusaha memasukkan lidahnya kedalam mulut Yoona yang tertutup rapat, butuh perjuangan keras hingga akhirnya dia bisa memasukkan lidahnya ke dalam mulut Yoona, sementara tangan kiri Seung Hyun tak lagi mengunci erat tangan Yoona, Yoona memanfaatkannya dan ketika tangannya bebas, dengan spontan dia menampar keras pipi Seung Hyun hingga ciuman itu terlepas, terlihat pipi Seung Hyun mulai memerah. Seung Hyun tertawa pedih kemudian wajahnya berubah menjadi serius bercampur marah. Kali ini dia berfikir untuk bermain agak kasar, dia mengunci kembali tangan Yoona yang bebas dan mulai menarik kemeja Yoona hingga tiga kancing teratasnya terlepas.

Yoona pun tidak tinggal diam, dia tetap berusaha saat Seung Hyun mulai membuka kancing kemeja yang tersisa, tetapi nihil. Seung Hyun terlalu kuat. Ketika Seung Hyun mulai menanggalkan sedikit demi sedikit kemejanya, dan beralih ke celana jeans yang dia pakai, tiba-tiba saja air mata Yoona mulai mengalir. “Oppa, aku mohon, jangan lakukan ini kepadaku” ujarnya dengan air mata yang mulai berjatuhan dari sudut matanya. Sesaat setelah mengatakan itu, Yoona merasakan beberapa tetes air jatuh ke wajahnya dan dia tau air itu berasal dari Seung Hyun. Seung Hyun menangis. Seketika Yoona berhenti meronta untuk melepaskan diri.

“Aku mencintaimu” kata Seung Hyun membuat Yoona terdiam. Dia merasakan Seung Hyun kembali berusaha menanggalkan semua pakaian yang di pakai Yoona, sehingga hanya tersisa bra dan celana dalamnya. Seung Hyun juga mulai melepas kemejanya hingga terlihat dadanya yang bidang.

Seung Hyun meraih bra Yoona dan melepasnya, kemudian menghisap dada Yoona dan meremas dada yang lain dengan tangannya. Yoona merintih, mengerang lirih. Kini Seung Hyun mulai melepas sisa pakaian yang masih menempel pada tubuhnya hingga dia benar-benar tidak memakai sehelai benang pun. Tangannya mulai melepas celana dalam Yoona dan memasukkan sedikit semi sedikit miliknya yang telah lama menegang kedalam milik Yoona. Yoona hanya menutup matanya dan mengunci mulutnya erat, menahan sakit dan nikmat yang datang bersamaan. Yoona dapat merasakan milik Seung Hyun yang memenuhi miliknya. Seung Hyun sedikit menggoyang tubuhnya, menarik ulur miliknya hingga pada akhirnya Seung Hyun merasakan cairan membasahi miliknya, Yoona telah mencapai puncak kenikmatannya. Seung Hyun menggoyang dan menarik ulur miliknya sedikit lebih keras, hingga pada akhirnya dia dapat merasakan miliknya berkedut dan menumpahkan cairan di dalam milik Yoona.

***

Keesokan harinya, Seung Hyun terbangun. Dia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Apakah sesuatu terjadi selamam? Ujarnya dalam hati ketika dia tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang terjadi setelah pertemuannya dengan Seung Gi di Bar. Seung Hyun melihat sekitar kamarnya hanya ada dia disana. Kamarnya juga tampak rapi dan teratur. Kemudian melihat ke tempat tidurnya, disana terdapat bercak darah, dia menegrutkan keningnya tanda tak mengerti mengapa ada bercak darah di tempat tidurnya.

Seung Hyun mendengar suara piring dan meja bersentuhan, tanda ada seseorang selain dirinya di apartemen itu. Dia berdiri dan berjalan keluar kamarnya menuju dapur. Terlihat sesosok permepuan memakai kemeja yang tak lagi berkancing. Tiga kancing teratas kemeja itu tak lagi ada, sehingga menampakkan bagian dadanya yang tertutup bra.

“YA YOONA, APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?” teriak Seung Hyun saat mengetahui Yoona yang telah menyiapkan makan pagi untuknya. Terlebih lagi penampilannya, apa dia ingin menggodanya? Pikir Seung Hyun.

Yoona menoleh tenang saat mendengar teriakan Seung Hyun sambil meletakkan beberapa piring yang berisi makanan di meja kemudian melepas celemek yang dia kenakan. “Ada beberapa hal yang mengusik pikiran ku” kata Yoona sambil menatap Seung Hyun lekat.

“Kau begitu ingin aku pergi dari kehidupanmu? Karena kau ingin menikah dengan Bom eonni? Bukankah itu sangat tiba-tiba dan tergesa-gesa? Apa kau tidak memiliki alasan lain yang lebih dapat aku terima?” lanjut Yoona dengan pertanyaan beruntun. Seung Hyun tetap tenang, dia berjalan meraih gagang telfon, lalu menekan beberapa nomor.

“Halo, apa ini bagian keamanan? Ada seseorang yang menggangguku, dia berada di apartemenku. Apartemen nomor 3129” ujarnya dan menutup telfon.

Yoona hanya tersenyum melihat tingkah laku Seung Hyun, lebih tepatnya tidak percaya dengan tingkah laku Seung Hyun yang melaporkannya ke bagian keamanan apartemennya. Dia segera berjalan untuk mengambil tasnya yang berada di sofa. “ Kau bahkan mengusirku dari apartemenmu.” Yoona tersenyum pahit sambil meraih tasnya.

“Apartemen ini sangatlah bagus Oppa, aku tidak percaya kau membeli rumahku yang jauh lebih buruk dari ini” lanjut Yoona, kemudian dia mulai meninggalkan apartemen Seung Hyun.

Seung Hyun duduk di sofa sambil memegangi keningnya, berusaha menenangkan diri. Dia juga berusaha dengan kuat mengingat apa yang terjadi semalam setelah dia bertemu dengan Seung Gi. Beberapa memori terlintas di otaknya, meskipun tidak begitu jelas, hingga pada akhirnya memori itu membentuk rangkaian kejadian malam tadi. Seung Hyun menghela nafas panjang, tidak percaya apa yang telah dia lakukan.

***

Dua minggu setelah hari itu, Yoona memutuskan untuk pindah rumah dan menyewa sebuah flat kecil. dia juga tetap bekerja di Ceci sebagai staf Fashion Photographer di sana. Meskipun sebenarnya Yoona juga sedang mencari beberapa lowongan kerja di beberapa kota selain Seoul, menurutnya, tetap tinggal di Seoul hanya akan menimbulkan masalah, jika bukan sekarang, pasti suatu saat masalah itu akan menghadapinya.

Akhir-akhir ini, Yoona sering tidak enak badan, beberapa kali dia bolak-balik ke toilet tempat kerjanya untuk memuntahkan beberapa makanan yang dimakannya hari ini. Selain itu, kepalanya juga terasa sangat pusing, terkadang badannya juga terasa dingin, sekaligus panas. Dia belum sempat ke dokter, karena beberapa pekerjaannya.

“Yoona Sunbaenim, ada seseorang yang mencarimu”kata wanita rekan kerjanya saat melihat Yoona keluar dari toilet. Tangannya menunjuk kearah luar. Mata Yoona mengikuti arah kemana tangan itu menunjuk. Terlihat ada seorang wanita dengan rambut panjang berwarna coklat kemerahan menunggu di luar ruangan Yoona. Wanita itu adalah Bo Mi.

“Bom eonni” sapa Yoona canggung pada Bom yang berdiri di depan ruangannya. Bom tampak cantik dengan coat warna chaki dipadu dengan kemeja berwarna broken white dan rok hitamnya. Tangannya memegang clutch yang berwarna senada dengan coat yang di pakainya.

“Hai” Balas Bom sambil tersenyum. “bisakah kita bicara sebentar. Disana?” katanya sambil menunjuk tempat duduk yang berada di taman yang tak jauh dari kantor Yoona.

“Baiklah” kata Yoona kemudian mengambil tas dan coatnya.

.

.

.

“Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Seung Hyun?” tanya Bom langsung ketika mereka sampai tempat duduk yang berada di taman tersebut. “aku tidak suka kebohongan. Dan aku pikir Seung Hyun menyembunyikan sesuatu.” Kata Bom. Terdengar hp nya bergetar dari clucth yang di bawanya. Dia mengambil hp itu.

“Aku bersamanya” Ujar Bom pada orang yang menelefonnya. Yoona hanya menatap Bom dan mengira-ngira siapa penelefon itu.

“Tak lama lagi dia pasti akan datang kesini” kata Bom sambil mematikan hpnya. Keduanya terdiam, Yoona juga tak kunjung menjawab pertanyaan Bom. Sampai sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat mereka duduk. Mobil Seung Hyun.

Baik Bom maupun Yoona melihat Seung Hyun keluar dari mobil dan berjalan kearah mereka. “bukan kah sudah aku katakan padamu, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya” kata Seung Hyun pada Bom saat dia sudah berada di sana. Seung Hyun dengan spontan duduk di samping Yoona. Bom tak suka itu.

“Kalau begitu apa kau mencintainya?”tanya Bom dengan tatapan tajam pada Seung Hyun.

“Tidak. Aku tidak mencintainya” Kata Seung Hyun. Kata-kata itu membuat Yoona menoleh kearah Seung Hyun. Menatapnya dengan tatapan terluka.

“Bom eonni. Kau ingin tahu apa hubunganku dengan Seung Hyun Oppa?” kata Yoona dengan mata yang masih menatap Seung Hyun. “kami tidur bersama. Apa kau tidak apa-apa jika harus menikah dengan laki-laki yang telah tidur dengan wanita lain?” lanjut Yoona, kali ini Seung Hyun yang menoleh kearah Yoona. Mata mereka bertemu. Tanpa mengatakan apapun Bom langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka.

Sementara Seung Hyun juga tak berniat mengejar Bom. Dia tetap diam di tempat duduknya dan matanyapun masih melekat menatap Yoona. “Apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku bisa terima jika Oppa harus mengusirku, aku juga bisa menerima jika Oppa harus menikah dengan Bom eonni, tapi aku tidak bisa menerima jika Oppa mengatakan bahwa Oppa tidak mencintaiku setelah semua yang kau lakukan padaku” Kata Yoona kemudian berdiri meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian Seung Hyun berjalan cepat dan menarik lengan Yoona dan memasukkannya ke dalam mobil.

***

Seung Hyun menyetir mobilnya dengan sangat cepat, dan berhenti di tepi sungai yang di kelilingi ilalang-ilalang tinggi. Seung Hyun turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu Yoona dan membukanya. “Keluar” ucap Seung Hyun singkat. Yoona menurut keluar, dia berjalan di belakang Seung Hyun, tangan Seung Hyun tampak memegang gulungan kertas-kertas. Mereka berhenti di tepi sungai tersebut. Hari semakin gelap, hanya ada beberapa lampu berwarna kuning dari jalanan dekat sungai itu. tidak banyak orang yang datang ke sungai itu, hanya ada beberapa orang saja.

“APA YANG KAU LAKUKAN??” teriak Seung Hyun pada Yoona. sepertinya selama perjalanan tadi Seung Hyun menahanya dan baru menumpahkannya sekarang. “KAU TAHU HARGA PERNIKAHAN ITU?”

Yoona hanya terdiam. Dia tidak mengatakan apapun, matanya hanya menatap lampu-lampu kuning yang menyinari sungai itu. Seung Hyun melemparkan gulungan kertas yang dibawanya tepat di depan Yoona. Gulungan kertas itu ternyata adalah koran dan majalah usang yang juga pernah di tunjukkannya pada Seung Gi dulu. Yoona melihat koran dan majalah itu, dia tak mengerti mengapa Seung Hyun memberinya kertas-kertas itu.

“Bacalah!” Ujar Seung Hyun. Tetapi Yoona tak berkutik dan itu membuat Seung Hyun kesal, dia mengambil salah satu koran yang di lemparkannya pada Yoona, membukanya pada halaman tertentu dan memberikan dengan kasar pada Yoona. Yoona menerima koran itu dan mulai membacanya.

“Apa maksudnya ini Oppa?” tanya Yoona ketika selesai membaca sebuah artikel tersebut. “Apa ini berita tentang ibumu?”

“Kau mengerti sekarang?” tanya Seung Hyun, tetapi Yoona hanya mengerutkan alisnya tanda tak mengerti.

“Ibuku adalah penyebab meninggalnya orang tuamu.”Jawab Seung Hyun singkat yang membuat Yoona terkejut.

“Ibuku yang mabuk saat itu setelah melihat ayahku yang selingkuh bersikeras mengendarai mobil, kejadian itu tidak di publish di seluruh media massa karena ayahku yang menghentikannya. Dia takut berita itu memiliki imbas pada perusahaan. Bukan hanya media massa, tetapi juga polisi yang ingin menyelidiki kasus itu, juga barang bukti, ayahku menghancurkan semua. Sebagai rasa bersalahnya, dia berjanji akan bertanggung jawab terhadap hidupmu”

Mendengar kata-kata Seung Hyun, Yoona mulai meneteskan air matanya. Bagaimana tidak, selama ini Yoona menganggap keluarga Seung Hyun seperti malaikat baginya. Saat dia duduk sendiri di pemakaman kedua orang tuannya, dia benar-benar tidak tahu harus menjalani hidup seperti apa, bahkan masa depan pun tidak pernah terlintas di pikirannya. Kemudian, ayah Seung Hyun dan Seung Hyun datang, mengulurkan tangan kepadanya, memberi semua yang tidak dia miliki, sampai dapat tetap hidup, itu tidak pernah terbayang oleh Yoona, tetapi di atas semua itu, dia mendapatkan kebahagiaan dengan taruhan nyawa orang tuanya sendiri.

Yoona menangis sambil memeluk koran yang dibacanya. “Oppa terlalu banyak kenangan indah jika harus di tukar dengan cerita seperti ini, bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku Oppa” kata Yoona disela-sela isak tangisnya, dia mengeluarkan sebuah buku berwarna biru muda dengan gambar seorang anak laki-laki yang sedang menggandeng anak perempuan. Buku ini adalah awal kebahagiaan bagi Yoona. Seung Hyun hanya melihat Yoona mengeluarkan buku itu.

“Oppa, bagaimana aku bisa melupakan semua dan mengganti dengan kenyataan ini” ujar Yoona sambil mendekap buku itu. tiba-tiba Seung Hyun mengambil buku itu dari dekapan Yoona.

“kau ingin melupakannya?” tanya Seung Hyun kemudian berjalan lebih mendekat pada tepi sungai dan melempar buku itu ke sungai.

“OPPAAAAAAAAA!! APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Yoona histeris ketika melihat buku itu dilempar kesungai, sementara Seung Hyun tidak peduli dan berjalan ke arah mobilnya, tanpa pikir panjang Yoona segera terjun ke sungai itu. Seung Hyun menoleh dan tidak melihat Yoona disana. Dia segera berlari mendekati tepian sungai, hanya terdapat tas dan coat yang tergeletak di tanah.

.

.

.

Seung Hyun berjalan masuk kesebuah kamar di rumah sakit. Rambut dan bajunya masih basah karena menyelamatkan Yoona. Dia tau dengan jelas bahwa Yonna tidak bisa berenang. Tangan Seung Hyun membawa sebuah bungkusan plastik yang di dalamnya terdapat sebuah buku berwarna biru muda yang telah basah kuyup, diletakkanya bungkusan itu di meja dekat Yoona terbaring lemah.

“Dia baik-baik saja, mungkin beberapa saat lagi akan siuman.” Jelas seorang dokter pada Seung Hyun. “jika anda terlambat sedikit saja, dia akan kehilangan nyawanya.”

Seung Hyun menarik kursi, matanya menatap lekat wanita di depannya. Kemudian mengelus rambutnya yang masih basah karena air. Tanpa terasa Seung Hyun meneteskan air mata, dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Yoona dan itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Tangan Seung Hyun beralih ketangan Yoona. Dia memegang tangan itu erat, berharap tangan itu tak pernah lepas darinya.

***

Lima tahun setelahnya.

Seung Hyun berjalan cepat di koridor rumah sakit dan membaca satu persatu nama-nama yang tertera di pintu kamar rumah sakit itu. Dia berhenti pada sebuah nama. Im Yoona. dia mengetuk pintu kamar itu, tetapi tidak ada jawaban, Seung Hyun memutuskan untuk masuk.

Saat berjalan ke dalam kamar itu, dia melihat Yoona terbaring lemah sambil memandang kearah jendela. Seung Hyun mendekat kearah tempat tidur itu dan membuat Yoona menoleh kearahnya dengan gerakan sangat lambat, terlihat dia tak memiliki tenaga bahkan untuk memutar kepalanya. Yoona berusaha untuk bangkit begitu melihat Seung Hyun datang. Seung Hyun membantu Yoona untuk dapat duduk.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Meskipun Seung Hyun merasa sangat rindu dengan wanita ini, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Ya, lima tahun yang lalu, saat masih dirumah sakit, Yoona tiba-tiba menghilang saat Seung Hyun tertidur pulas, mungkin saat itu Seung Hyun kelelahan karena berhari-hari menjaga Yoona sendirian. Tetapi, Seung Hyun membiarkan Yoona pergi, entah mengapa dia juga tidak berusaha mencari Yoona, hingga pada hari ini dia mendapat kabar bahwa Yoona sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit meningitis yang di deritanya.

“Aku senang kau datang Oppa” kata Yoona lirih memecah keheningan. Seung Hyun hanya diam, tidak membalas dengan satu katapun.

Suasana kembali hening.

“Bagaimana kau bisa menolak oprasi?” kata Seung Hyun yang memutuskan angkat bicara, dia mengetahui berita itu dari seorang dokter yang merawat Yoona.

“Aku tidak ingin membuang-buang uang yang susah payah aku dapatkan”

“Apa untuk berobat itu berarti membuang-buang uang?” tanya Seung Hyun geram. Tiba-tiba emosinya tersulut.

“jika kau bisa menjamin oprasi itu berhasil, aku akan melakukannya”

“Apa kau tidak percaya keajaiban?”

“Keajaiban seperti apa? Seperti di dongeng-dongeng itu? aku tidak lagi percaya pada keajaiban, karena itu tidak pernah terjadi padaku”

Seung Hyun terdiam, dan suasana menjadi kembali hening.

“Saat itu, pernikahanku dengan Bom batal” ujar Seung Hyun berusaha memecah keheningan.

“Apa aku menanyakan hal itu? itu adalah masalalu Oppa, aku bahkan sudah melupakannya” kata Yoona berbohong, bagaimana bisa dia melupakan hal itu. Melihat Seung Hyun saja memori di masalalunya tiba-tiba muncul seperti putaran film.

“Kau pasti bahagia dengan hidupmu yang sekarang” kata Seung Hyun, Yoona hanya tersenyum mendengar kata-kata itu.

Sesaat kemudian pintu kamar itu terbuka, keduanya melihat kearah pintu. Seorang anak laki-laki berusia lima tahun masuk dan berlari kearah Yoona. “Ommaaa” teriaknya riang.

“Ommaaa, lihatlah, aku menggambar Omma yang sedang menggandengku, kami membeli balon dan bermain di taman” jelas anak itu sambil memperlihatkan sebuah kertas putih berukuran A4.

“Wah, Kau hebat” Kata Yoona. “Kau ingin Omma menyimpannya?” tanya Yoona di susul anggukan anak laki-laki itu.

“Omma, siapa Ajusshi ini?” tanyanya sambil menarik ujung baju Seung Hyun, Seung Hyun hanya tersenyum.

“Minho-ah, kau mau membelikan minuman untuk Omma dan Ajusshi ini?” Pinta Yoona dengan mata berkaca-kaca. Minho mengangguk dan pergi setelah menerima uang dari Yoona. Yoona melihat kepergian anak itu dengan tetesan air mata kemudian cepat-cepat menyekanya.

“Apa itu anakmu?” tanya Seung Hyun. Yoona mengangguk. “Dia tidak terlalu mirip denganmu” kata Seung Hyun asal.

“Lalu apa menurutmu dia mirip denganmu?” tanya Yoona. Pertanyaan itu membuat Seung Hyun terdiam, wajahnya berubah menjadi serius. Melihat itu Yoona tertawa, “Tenang saja Oppa, aku hanya bercanda” kata Yoona, kemudian disusul dengan tawa Seung Hyun.

***

Dua hari setelah kunjungan Seung Hyun, dia mendapat kabar bahwa Yoona telah meninggal. Seung Hyun berjalan lemas menuju rumah pemakaman. Banyak orang yang datang dan belalu lalang memakai baju berwarna hitam. Seung Hyun memasuki ruang tersebut dan dia dapat melihat foto Yoona di kelilingi bunga krisan berwarna putih. Dengan langkah berat Seung Hyun mendekati kumpulan bunga itu dan duduk tertunduk. Airmatanya meleleh tanpa dapat dicegah lagi olehnya.

“Ajusshi” seseorang memanggil Seung Hyun dan memegang pundaknya. Seung Hyun menoleh, ternyata anak laki-laki yang dia temui di rumah sakit dulu. Anak Yoona. Anak itu tidak terlihat sedih, juga tidak terlihat bahagia. Seung Hyun menghapus sisa air matanya.

Anak itu menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna putih pada Seung Hyun, “Untukku?” tanyanya. Anak itu mengangguk.

“Omma menyuruhku memberikannya padamu”

“Terimakasih” kata Seung Hyun, kemudian menerima amplop itu dan mulai membukanya. Ternyata sebuah surat dan sebuah buku tabungan.

Oppa, saat kau membaca ini, mungkin kau akan melihat seorang anak kecil duduk sendiri di sebuah pemakaman. Lalu kau akan mendengar beberapa orang mengatakan “Aigooo… Kasihan anak itu, dia hidup sebatang kara diusianya yang sangat muda.”

Lalu kau berniat membawanya dan mengasuhnya karena kau merasa bersalah padaku, dia akan mengaggapmu sebagai malaikat, karena itu, jangan lakukan itu Oppa. Itu hanya akan mengulang cerita yang sama. Aku telah mengumpulkan uang untuk hidupnya, aku juga telah mencari beberapa panti asuhan yang aku yakin dapat menjamin anakku.

Seung Hyun berenti membaca, dia mengusap air matanya yang kembali menetes. anak laki-laki itu teryata masih berada disampingnya, sepertinya anak itu menunggu dan memastikan Seung Hyun membaca surat dari ibunya. Seung Hyun tidak sanggup membaca lanjutan surat itu, dia melihat lembar kedua yang berisi alamat sebuah panti asuhan.

“Ajusshi, apa kau telah selesai membaca suratnya?” tanya anak itu. Seung Hyun mengangguk. “Apa kau mengenal Omma-ku?” tanyanya.

“Iya, aku mengenalnya” jawab Seung Hyun. “Oh iya, siapa namamu?”

“Choi Min Ho” kata anak laki-laki itu, dan jelas itu membuat Seung Hyun terdiam. “Aku tidak mengerti mengapa Omma memberi namaku seperti itu, aku pernah bertanya pada Omma apakah aku mempunyai Appa yang bernama Choi, tetapi Omma hanya tersenyum”

Kali ini Seung Hyun benar-benar terkejut. Otaknya berputar cepat, sedangkan jantungnya berdebar keras. “Apa kau pernah bertemu dengan Appamu?” tanya Seung Hyun. Anak itu menggeleng.

“Apa kau mau tinggal bersama Ajusshi ini?” tanya Seung Hyun lagi

END

 

(Thanks semua yang sudah sudi membaca cerita ga jelas ini J mohon kritik dan sarannya yaaa :*)

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 14/04/2014, in Aktor, Aktris, OS, SNSD, Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 44 Comments.

  1. abigaelyosie

    soooo sad T_T

  2. huuaaa! T_T
    sad ending~ >_<

  3. sad….
    keep writing

  4. aku readers baru di sini chingu….
    ffnya bikun mewek 😦

  5. Bner2 critanya kreenn..nich crita bner2 sad thor,!?

  6. Kim So Eoun

    Aku nanggis bacanya !!
    Sad ending 😥

  7. ceritanya sedih,keep writing banyakin ff yoona yah thor haha

  8. Ha….. Sedih banget thor! Kayaknya seunghyun muali nyadar kalo minho itu anak kandungnya

  9. demi apa kesel jdiny pas bagian yoona pergi itu alurny terlalu cepet.. klo dibuat part pasti keren.. hanya castny aja kurang suka

  10. aat yoonwon

    Sad ending benar2 membuatku ingin menangis

  11. Bacanya bikin nyesek sedih bgt

  12. dhiya nabilah

    keren thor O:’) maaf aku new readers disini

  13. wiwied_chan

    wah… keren banget. kok malah sad ending itu.

  14. Siti maunah

    Sukaa..next y thor

  15. Ige Mwoya ?? Knp endingnya spert ini ?? Bkin mewek dan nangis gaje. Hiks…hiks..aQ nyessekk bgd. Yoona knp dr awal smpe akhir hdpnya g’ prnh bhgia ??
    Author sukses bwt Q mewek malam2, DAEBAK FFnya!!

  16. Kenapa sad ending:-(

  17. Sequel dong thor jebaaaaaaaal

  18. thanks buat semua Commentnyaa~~ :*

  19. kerenn… ceritanya.. campur aduk bacanya 🙂 ditunggu karya yang lainnya 😀

  20. Aaaaa bias akuu T.OOOOOOOOOOOOO/?.P. 😥 !! Aaa keren thor ceritanya :(( keep writing yaa ^^

  21. T.O.P oppa tega isssshhh..sad ending tapi feelnya dapet

  22. LiaHeechul_elf

    Feel awalnya dapat, ujungnya berantakan..
    Berasa banget ngegantungBerasa banget ngegantungBerasa banget ngegantungBerasa banget ngegantungnya

  23. bagus… ^^ feelnya dapet . Cuma diakhir terlalu banyak waktu yg di skip. aneh aja .. tiba2 yoona sakit , senghyun dtg, dan ypona nerima2 aja tanpa ada konflik lain . itu seih menurutku keep writing thor ^^

  24. wae?? Ending ny nyesek..Choi Min ho anak Seung hyun kan,dan seperti ny Dia mulai sadar??dan kenapa Yoona meninggal,aku pikir mereka bakal kembali bersatu…
    Keren ni ff,feel ny dapet.

  25. sadend 😥

  26. I’m so sad…
    kenpa setiap baca ff disini bawaannya sedih, apalagi d sini posisi yoona selalu menyedihkan, i like this couple^^

  27. Sad ending sedihhh bgd…
    Tapi seruuuu….
    Sampe nangis baca nyaaa…T_T

  28. christine junika

    Yah yoona nya meninggal T_T

  29. nyesek bgt bacanya. . .buat ff yoona-TOP lagi dong. . .

  30. Sad ending 😥 ah gila sedih bangettt thor

  31. T_T

    # butuh sequel thor

  32. menyedihkan T_T

    # sequel thor

  33. TopYoon! Aku gak pernah nyangka ada fanfic Indonesia dg pairing Seunghyun Yoona. Beneran deh, ini sgt bgus chingu. Konflikny byk bgt dn kmu bsa mmbuat jd oneshot, penjelasannya bagus, plotny bagus.
    Sedih bgt hidup Yoona, dn kurasa Seunghyun pantes mendptkn karma ditinggl Yoona.
    Brhrp bisa trs ktemu fic TopYoon dg happy end. Keep writing..

  34. Seokyualways

    sedih bangett:'(

  35. septiakarina

    cerita nya berkualitas banget thor good job, FF Yoona-TOP lagi dong. aku tunggu yaa thor

  36. so sad TT

  37. Padahal aku berharap happy ending

  38. Sad ending T.T tapi daebak kok ceritantanya!! Keep writing

  39. keren walaupun akhirnya sad…

  40. Huuuuuu…. sedihnya.. suka sama pairingnya.. 🙂

  41. Ini bnr2 sangat sdih! Tragic ending for YoonA, mngapa takdir mmbiarkanny mncintai namja sperti Choi Seung Hyun? Bnr2 mnyedihkan!
    Spertiny aku harus k warung dlu, bli coklat atau es krim, agar rasa sedih ku krn ff ini bisa hilang!
    Nyesek! Miris!

  42. Kjdyn yg sm jg mnmp putra yoona eonni, jd krn itu seunghyun oppa ksr trhdp yoona eonni, krn mrs brslh?!

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: