Perfect!

Title: Perfect!

Author: Haebaragi (haebaragime.wordpress.com)

Casts: Kim Jong Woon (Yesung)
            Lee Myun Hee (OC)

Genre: romance

Rate: NC-17

Length: One – shoot

Warning: Long one-shoot, fail NC

Music: Save You of Simple Plan – Dark Side of Kelly Clarkson

 

Nobody’s a picture perfect

But we’re worth it

Will you love me? Even with my dark side

 

 

Meskipun bukan akhir pekan, namun suasana salah satu pusat perbelanjaan di Dongademun itu masih tetap terlihat ramai. Tidak sedikit pengunjung yang memasuki bangunan tinggi dengan tulisan DOOTA!  berukuran besar yang berada bagian paling atas gedung tersebut. Di antara puluhan orang yang sedang berbelanja, seorang namja dan yeoja terlihat tengah berdiri di depan sebuah rak yang memamerkan berbagai jenis blus.

 

“Myun Hee-ya, kau suka blus ini?” tanya si namja seraya mengangkat sebuah blus sederhana berwarna merah dengan kerah hitam. Namja itu cukup tahu selera yeojanya yang tidak begitu suka pakaian dengan terlalu banyak hiasan atau warna. Yeoja yang bersama namja itu mengerucutkan bibirnya sambil menatap pakaian yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian dia terlihat mengangguk kecil, “nee.”

 

“Cobalah dulu,” pinta namja itu dengan penuh semangat seraya mengangsurkan pakaian tersebut. Dengan patuh Myun Hee mengambil blus itu lalu melangkah menuju kamar pas, sementara namja bernama Jong Woon itu mengikutinya hingga di depan kamar pas.

 

Myun Hee menatap pantulan dirinya di cermin besar yang menempel di dinding kamar pas. Sepasang matanya memandang pantulan tubuhnya seolah sosok yang berada di hadapannya itu adalah orang asing, bukan dirinya sendiri. Kedua tangan yeoja itu sudah berada di bagian bawah kaos berwarna hijau yang ia kenakan, namun gerakannya mendadak terhenti. Ada keraguan yang terlihat jelas dari sepasang matanya. Tanpa sadar yeoja itu mengepalkan tangannya dengan begitu keras.

 

“Myun Hee-ya, kau sudah mengganti pakaianmu?” suara dengan nada tidak sabar yang terdengar dari bagian luar langsung menghentikan lamunan Myun Hee.

 

“N..nee.. sebentar lagi oppa,” jawab Myun Hee sebelum akhirnya dengan cepat yeoja itu melepaskan kaos yang ia kenakan dan menggantinya dengan blus yang dipilihkan Jong Woon. Tanpa melihat penampilannya di cermin, Myun Hee langsung membuka pintu kamar pas dan berdiri di hadapan Jong Woon.

 

“Bagaimana?” tanya Myun Hee sambil merapikan blus berwarna merah tersebut. Segaris senyum puas mulai terbentuk di wajah Jong Woon.

 

“Cantik.” Pujian namja itu yang sontak membuat Myun Hee menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Jong Woon menarik lengan Myun Hee yang hendak masuk kembali ke kamar pas.

 

“Kita keluar dengan pakaian ini saja, nee? Tidak usah diganti,” ujar Jong Woon kemudian.

 

“Nde?” sahut Myun Hee bingung.

 

“Setelah ini kita pergi kencan saja. Bagaimana? Sudah lama kita tidak keluar seperti ini. Sekalian saja kita kencan, eoh?” Myun Hee hampir-hampir tidak bisa menahan tawanya saat melihat suaminya yang terlihat tidak ubahnya anak kecil yang merengek dibelikan mainan.

 

“Myun Hee-ya, kita berkencan saja, nee?” ulang namja itu

Meski merasa sedikit enggan, Myun Hee akhirnya mengangguk setuju. Senyum lebar langsung terlihat di wajah Jong Woon, dan dengan cepat ia menarik tangan Myun Hee menuju kasir untuk membayar blus tersebut.

 

Susasana jalanan di sore hari yang dipenuhi berbagai orang yang berlalu lalang langsung menyambut Myun Hee dan Jong Woon saat mereka keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Senyum lebar tidak kujung hilang dari wajah Jong Woon yang benar-benar menunjukkan perasaan bahagia yang tengah dirasakan namja itu. Sementara yeoja di sampingnya justru hanya bisa tersenyum samar.

Jong Woon dan Myun Hee memang sudah cukup lama tidak keluar sekedar untuk berbelanja dan berkencan seperti ini. Sama seperti Jong Woon, Myun Hee juga merasa senang tapi ada sesuatu yang mengganjalnya saat ini. Sepasang mata milik Myun Hee bergerak ke sana ke mari, mengamati hampir setiap orang yang

berada di sekitarnya.

 

“Myun Hee-ya,” panggil Jong Woon saat namja itu akhirnya menyadari ekspresi tidak nyaman yang sedikit terlihat di wajah yeoja di sampingnya itu.

 

“Myun Hee-ya,” ulang Jong Woon seraya sedikit menggoyangkan tangan Myun Hee yang berada dalam genggamanya.

 

“Nde? Nde?” jawab Myun Hee akhirnya. Yeoja itu menoleh ke arah Jong Woon yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Myun Hee terdiam beberapa saat. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya dari Jong Woon. “Bisakah kita langsung pulang saja?” pinta yeoja itu akhirnya.

 

“Tapi-,”

 

“Jebal, oppa.”

 

Jong Woon mendesah kecewa tapi ia tetap mengangguk, mengiyakan permintaan Myun Hee.

 

Everybody’s got a dark side

Do you love me?

Can you love mine?

 

Jong Woon terdiam beberapa saat di depan pintu kamar tidurnya dan Myun Hee. Istri Jong Woon itu segera masuk ke kamar saat mereka sampai di rumah. Tangan kanan Jong Woon menggenggam erat kenop pintu namun namja itu masih merasa sedikit ragu apakah harus membuka benda di hadapannya itu atau memberikan sedikit waktu pada Myun Hee untuk sendiri. Jong Woon menutup matanya sejenak seraya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mendorong pintu di hadapannya.

 

Sepasang mata sipit milik Jong Woon menyapu setiap bagian kamar tidur, mencoba menemukan Myun Hee. Namja itu akhirnya melangkahkan kaki menuju kamar mandi saat indera pendengarnya menangkap suara air yang mengalir.

 

“Myun Hee-ya, gwenchana?” tanya Jong Woon seraya mengetuk pelan pintu kamar mandi.

 

“Nee, oppa. Gwenchana.” Dahi Jong Woon berkerut dalam. Namja itu tahu betul bahwa Myun Hee tidak baik-baik saja. Suara yeoja itu terdengar sedikit bergetar, menandakan ia tengah menangis di dalam sana atau tengah menahan dirinya untuk tidak menangis.

 

“Myun Hee, buka pintunya,” perintah Jong Woon.

 

“Ani, aku sedang mandi, oppa. Tubuhku rasanya lengket karena keringat.”

 

“Myun Hee, buka pintunya!” seolah tidak perduli dengan alasan yang baru saja diucapkan Myun Hee, Jong Woon kembali mengeluarkan kalimat yang sama. Kali ini dengan suara yang lebih tegas.

 

“Myun Hee, kau tidak mau membukanya?” ucap Jong Woon lagi. Beberapa detik kemudian suara air yang mengalir terhenti dan berselang beberapa saat pintu di hadapan Jong Woon terbuka.

 

“Oppa, ak-“ Tanpa perlu mendengar Myun Hee menyelesaikan kalimatnya, Jong Woon menarik wajah Myun Hee sebelum akhirnya mencium bibir yeoja itu. Meski awalnya mencoba untuk menolak, namun akhirnya Myun Hee pasrah dan membiarkan Jong Woon memperdalam ciuman mereka.

 

Jong Woon mengalungkan lengan Myun Hee di lehernya sebelum akhirnya namja itu membopong Myun Hee tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jong Woon mendudukkan Myun Hee di tepian tempat tidur kemudian melepaskan ciuman mereka. Namja itu akhirnya duduk di lantai, tepat di antara kedua kaki Myun Hee yang terlihat tengah mengambil nafas panjang.

 

“Ada apa?” tanya Jong Woon kemudian.

 

Myun Hee menggeleng pelan, “tidak ada apa-apa, oppa.”

 

Jong Woon menggenggam kedua tangan Myun Hee lalu mengecup singkat punggung tangan yeoja itu, “apa karena aku mengajakmu keluar hari ini? Kau masih belum siap?”

 

Myun Hee menutup kedua matanya erat, mencoba menahan air matanya yang sejak tadi mendesak ingin keluar. Rasanya Myun Hee ingin menertawakan dirinya sendiri. Siapa yang hendak ia bohongi saat ini? Jong Woon? Suaminya sendiri?

Seharusnya yeoja itu tahu bahwa dia tidak akan bisa membohongi Jong Woon.

 

“Myun Hee-ya,” panggil Jong Woon lembut seraya menangkupkan tangannya di wajah Myun Hee yang secara perlahan mulai basah karena air mata. Yeoja yang dipanggil itupun akhirnya menundukkan wajahnya, menatap sepasang mata yang memandangnya cemas.

 

“Mianhe, oppa. Mianhe. Aku benar-benar merasa tidak nyaman saat harus keluar dan melihat yeoja lain di sekitarku. Mianhe, oppa.” Tangisan yeoja itu akhirnya pecah juga tanpa bisa ia tahan lagi. Jong Woon segera duduk di samping Myun Hee dan menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Salah satu tangan Jong Woon mengusap lembut punggung Myun Hee.

 

“Aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak merasa iri pada setiap yeoja yang aku lihat,” Myun Hee berbicara pelan di sela isakannya. “Dan aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak merasa khawatir tentangmu, tentang pernikahan kita.”

 

Jong Woon sedikit melonggarkan pelukannya lalu mengangkat dagu Myun Hee, meminta yeoja itu untuk menatapnya. “Kau takut aku tergoda saat melihat yeoja lain?” tanya Jong Woon dengan alis mengernyit.

 

Myun Hee hanya bisa terdiam tapi Jong Woon bisa menebak apa yang sedang dipikirkan yeoja dalam pelukannya itu. “Harus berapa kali aku katakan padamu agar kau bisa percaya, Lee Myun Hee? Huh? Aku sama sekali tidak berniat untuk meninggalkanmu. Aku mencintaimu. Sangat.” Jong Woon benar-benar merasa frustasi dan putus asa kali ini. Sudah berpuluh-puluh kali rasanya namja itu mengatakan hal yang sama pada istrinya itu, tapi sepertinya sangat susah bagi Myun Hee untuk mempercayainya.

 

“Tapi bukankah semua namja menginginkan hal yang sama dari yeoja? Wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna.” Myun Hee menundukkan kepalanya dalam, “dan aku tidak sempurna lagi,” tambahnya lirih.

 

Jong Woon berdiri dengan tiba-tiba, membuat Myun Hee sedikit terlonjak kaget. Namja itu berdiri membelakangi Myun Hee dengan kedua tangan yang terkepal erat sementara nafasnya terdengan berat dan tersengal-sengal. Jong Woon berusaha keras untuk tidak berteriak di hadapan istrinya saat ini tapi rasanya emosinya benar-benar sudah sampai puncaknya.

 

“Kalau aku hanya ingin melihat tubuh telanjangmu. Ah, ani. Kalau aku hanya ingin menidurimu, untuk apa aku bersusah payah menikahimu, Myun Hee?” ucap Jong Woon dengan suara yang bergetar karena menahan amarahnya. “Kita sudah pernah melakukannya saat masih menjadi sepasang kekasih, bukan? Kalau aku hanya menginginkan tubuhmu, aku tidak akan melamarmu, aku tidak akan menemui kedua orang tuamu untuk meminta restu mereka, aku tidak akan berdiri di depan altar untuk mengikat janji denganmu. Aku tidak akan melakukan itu semua jika yang aku inginkan hanya kesempurnaan tubuhmu.”

 

Cukup lama suara isakan Myun Hee menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan tersebut. Jong Woon masih berdiri mematung membelakangi Myun Hee sementara yeoja itu tidak tahu apa yang harus ia katakan saat ini.

 

Setelah merasa bisa meredam rasa marah dan frustasinya, Jong Woon akhirnya berbalik dan kembali duduk di samping Myun Hee. “Aku mencintaimu. Semua yang ada di dirimu. Apa sebegitu susahnya untuk mempercayai itu?”

 

“Tapi, aku sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang yeoja. Aku sudah kehilangan salah satu bagian yang penting. Aku cacat.” Myun Hee masih menundukkan wajahnya sambil memainkan jemarinya. Yeoja itu sudah tidak menangis lagi, hanya saja ia masih menghindari beradu pandang dengan Jong Woon. Myun Hee sadar betul Jong Woon pasti merasa kecewa padanya saat ini.

 

“Geurae, kalau begitu mari kita cacat bersama-sama,” ucap Jong Woon geram. Dengan langkah cepat Jong Woon keluar dari kamar mereka meninggalkan Myun Hee yang masih menunduk.

 

Sadar suaminya tidak kunjung kembali dalam hitungan menit, Myun Hee akhirnya beranjak dari tempat tidur dan menyusul Jong Woon. Bola mata Myun Hee membulat sempurna saat ia berada di pintu dapur dan mendapati Jong Woon tengah memegang pisau besar di tangannya. Namja itu memegang pisau dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya ia letakkan di atas meja.

 

“Yak, Jong Woon oppa!!” seru Myun Hee sambil berlari ke arah Jong Woon.

Dengan cepat yeoja itu menarik tangan kanan Jong woon yang sudah terayun, seolah hendak memotong tangannya yang berada di atas meja.

 

Suara nyaring pisau yang beradu dengan lantai terdengar memenuhi dapur tempat suami istri itu berada saat ini. Myun Hee menatap nanar ke arah Jong Woon. Tangan yeoja itu masih menggenggam erat pergelangan tangan Jong Woon, seolah yeoja itu merasa takut jika ia lepaskan maka Jong Woon akan berusaha melakukan hal tadi sekali lagi.

 

“Apa yang oppa lakukan?” seru Myun Hee nyaring. Kecemasan terdengar jelas dari suara yeoja itu.

 

“Agar kita sama-sama cacat dan kau berhenti mengatakan dirimu tidak sempurna lagi,” jawab Jong Woon datar seolah apa yang baru saja hendak dilakukannya bukanlah hal yang besar.

 

“Mwo?” Myun Hee membelalakkan matanya.

 

“Jika dengan kehilangan salah satu bagian tubuhku bisa membuatmu percaya, maka aku akan dengan rela menghilangkan salah satu bagian tubuhku.”

 

Myun Hee terpaku menatap namja di hadapannya itu. Ada banyak hal yang melintas di benaknya saat ini sampai-sampai ia tidak tahu apa yang ia pikirkan sebenarnya saat ini. Lidahnya terasa begitu kelu dan ada sesuatu yang seolah mencengkeram erat jantungnya. Myun Hee menggigit bibir bawahnya.

 

“Oppa…..,” panggil Myun Hee akhirnya. Segaris senyum lembut terlihat di wajah Jong Woon, menggantikan wajah datar yang sempat ditunjukkan namja itu, dan sesaat kemudian Myun Hee merasakan tubuhnya berada dalam dekapan erat Jong Woon.

 

“Mianhe, oppa. Aku selalu membuatmu susah,” lirih Myun Hee. Jong Woon mengeratkan lengannya yang mendekap Myun Hee, membuat yeoja itu merasa sedikit sesak tapi ia tidak protes. Myun Hee justru menikmati aliran hangat yang ditimbulkan dari pelukan Jong Woon.

 

“Sakitmu adalah sakitku juga, Myun Hee. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap kau menyusahkan diriku. Aku sama sekali tidak pernah merasa terbebani dengan semua ini. Bukan aku yang mengalami semua rasa sakit itu, tapi kau. Dan aku selalu merasa bersalah saat aku tidak bisa melakukan apapun setiap kali melihatmu menahan sakit. Aku selalu merutuki diriku karena hanya bisa menggenggam tanganmu setiap kali kau merasa kesakitan.”

 

Myun Hee menggeleng dalam pelukan Jong Woon, “ani… ani… apa yang oppa lakukan sudah lebih dari cukup untukku.”

 

Jong Woon melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangannya di bahu Myun Hee. Namja itu menundukkan wajahnya untuk menatap langsung Myun Hee.

“Berhentilah membandingkan dirimu dengan yeoja lain di luar sana. Bagiku, tidak ada yeoja yang lebih sempurna darimu. Arrasso?”

 

Tetesan cairan bening kembali mengukir jalan di wajah Myun Hee tapi seulas senyum justru terlihat di wajah pucatnya. “Arrasso… oppa… arrasso…,” sahut

Myun Hee seraya melingkarkan lengannya di leher Jong Woon kemudian mengecup bibir namja itu. Jong Woon menahan tengkuk Myun Hee dan memperdalam ciuman keduanya. Sepasang bibir itu saling mengecap tanpa henti, seolah ciuman mereka adalah mantera untuk menepis semua keraguan yang selama ini tidak kunjung hilang dari benak Myun Hee. Secara perlahan dan tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Jong Woon mengarahkan Myun Hee menuju kamar tidur.

 

.

 

Sebuah desahan tertahan terdengar saat lidah Jong Woon menyeruak masuk ke dalam mulut Myun Hee dan mulai menyusuri setiap bagian rongga hangat yeoja itu. Tangan Jong Woon mulai membelai lembut seluruh bagian tubuh Myun Hee, membuat darah yeoja itu terasa berdesir dan jantungnya berdegup dengan sangat cepat.

 

Merasa yeoja yang berada di bawahnya mulai kehabisan nafas, Jong Woonpun akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Tapi tangan namja itu masih belum berhenti bergerak. Dengan cepat Jong Woon melepaskan blus merah yang baru beberapa jam lalu dibeli.

 

Myun Hee refleks mengalihkan wajahnya saat merasakan Jong Woon tengah menatap tubuhnya dengan begitu seksama. Yeoja itu bahkan menutup erat kedua matanya. Ingin rasanya ia mengambil selimut yang berada di bawahnya lalu menutupi tubuhnya sekarang juga.

 

Myun Hee menahan nafasnya saat merasakan bibir Jong Woon mulai menciumi lehernya sambil sesekali meninggalkan jejak di sana. Yeoja itu memejamkan matanya semakin erat dan tanpa sadar tangannya mencengkeram seprai ketika ia merasakan ciuman Jong Woon mulai turun ke dadanya.

 

Jong Woon menangkupkan kedua tangannya di wajah Myun Hee dan memaksa yeoja itu untuk menoleh ke arahnya. Jong Woon mengecup kelopak mata Myun Hee yang masih tertutup erat, “buka matamu,” perintahnya kemudian.

Meski ragu, Myun Hee akhirnya membuka kelopak matanya dan berhadapan dengan sepasang iris yang menatapnya dengan lembut. Tatapan yang sama yang ia lihat saat dirinya dilamar dua tahun yang lalu. Tatapan yang ia lihat saat mereka berdiri di depan altar dua tahun yang lalu. Jong Woon memajukan wajahnya kemudian mencium kening Myun Hee cukup lama. Rasanya sudah lama sekali Jong Woon tidak menatapnya selembut ini. Sepasang iris itu seringkali hanya menunjukkan rasa cemas selama dua tahun terakhir ini.

 

“Apa aku membuatmu tidak nyaman?” tanya Jong Woon saat namja itu kembali menatap Myun Hee.

 

“Aniya,” sahut istri Jong Woon itu seraya menggelengkan kepalanya.

 

“Boleh aku lanjutkan?” tanya Jong Woon lagi seolah ingin meyakinkan bahwa Myun Hee benar-benar merasa nyaman dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Sebuah anggukan pelan dan kecupan ringan di pipi Jong Woon sudah lebih dari cukup bagi namja itu untuk melanjutkan apa yang sudah mereka mulai.

 

Myun Hee menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat ketika ia merasakan bibir Jong Woon menyusuri garis memanjang di bagian kanan dan kiri dadanya. Garis yang menjadi bukti nyata bahwa sebelumnya pernah ada bagian tubuhnya di sana namun sekarang sudah tidak ada lagi.

 

That if you fall, sumble down

I’ll pick you up off the ground

If you lose faith in you

I’ll give you strength to pull through

 

Kanker payudara stadium III. Myun Hee merasa dunianya berhenti berputar saat mendengar vonis yang diberikan dokter seminggu sebelum upacara pernikahannya dilangsungkan. Myun Hee sudah pasrah jika Jong Woon membatalkan pernikahan mereka namun namja itu justru berdiri tegap di depan altar saat hari pernikahan tiba. Tanpa terdengar ragu sedikitpun, namja itu menjawab “ya,” dengan lantang pada pendeta di hadapan mereka, sebuah ucapan singkat yang menjadi pengikat suci pernikahan mereka.

 

Tiga hari setelah upacara pernikahan, keduanya tidak berada di pesawat yang akan membawa mereka ke Hawaii namun keduanya justru berada di ruang operasi sebuah rumah sakit di Seoul. Myun Hee harus menjalani operasi pengangkatan payudara sebelah kanannya.

 

Setahun setelah operasi, yeoja itu kembali mendapat informasi bahwa kanker yang dideritanya ternyata sudah menyebar hingga payudara kirinya. Tepat seminggu setelah merayakan anniversary pernikahan mereka yang pertama, Myun Hee kembali harus berada di meja operasi untuk mengangkat payudara kirinya.

 

Tidak ada yang tersisa saat ini kecuali dua garis di dada kanan dan kiri Myun Hee. Dua garis yang membuatnya begitu berbeda dengan yeoja kebanyakan. Dua garis sederhana yang selalu membuatnya malu saat harus berkaca. Dua garis sederhana yang membuatnya sama sekali tidak membiarkan Jong Woon melihat tubuh telanjangnya sekalipun setelah operasi kedua tersebut.

 

Tell me you won’t give up

Cause I’ll be waiting if you fall

You know I’ll be there for you

 

Namun malam ini, Myun Hee memasrahkan semuanya pada Jong Woon.

Rasanya sudah tidak ada lagi alasan yang tersisa untuk tidak mempercayai Jong Woon. Jika Jong Woon bisa menerima Myun Hee dengan segala ketidaksempurnaan yang ia miliki saat ini, maka tidak ada lagi alasan bagi Myun Hee untuk tidak menerima dirinya sendiri.

 

Satu persatu helaian pakaian yang melekat di tubuh sepasang suami istri itu mulai tergeletak begitu saja di lantai, sementara suara desahan dan lenguhan terdengar semakin nyaring memenuhi kamar yang cukup luas tersebut. Jong Woon tersenyum puas saat melihat tubuh ‘polos’ istrinya yang berada tepat di bawahnya.

 

Rambut pendek yeoja itu terlihat berantakan, beberapa helai bahkan menempel di dahinya yang basah dengan peluh. Sepasang bibir merah milik yeoja itu sedikit terbuka saat ia mencoba mengais nafas setelah ciuman panjang mereka beberapa detik yang lalu.

 

“Aku mencintaimu,” ucap Jong Woon dengan begitu lembut, memastikan Myun Hee mendengar setiap kata yang ia ucapkan dan benar-benar menyadari bahwa ucapannya bukanlah sekedar bualan.

 

Myun Hee mengangguk, “aku tahu.” Yeoja itu mendorong tubuh suaminya hingga akhirnya ia berada di atas namja itu. Jong Woon refleks memejamkan matanya saat ia merasakan jemari Myun Hee mulai menyusuri tubuhnya dengan begitu perlahan. Jari telunjuk yeoja itu bergerak menuruni leher Jong Woon, lalu ke dada namja itu dan selama beberapa saat jari lentik itu bermain di sepasang titik sensitive di dada Jong Woon.

 

Seluruh darah di tubuh Jong Woon rasanya mengalir dengan begitu cepat saat namja itu merasakan hembusan udara panas di telinga kananya diiringi suara yang mendesah pelan.

 

“Katakan apa yang kau ingin aku lakukan, oppa?” bisik Myun Hee. Jong Woon membuka matanya dan menatap yeoja yang tengah duduk di atas tubuhnya itu. Rona merah terlihat jelas di wajah yeoja tersebut, membuatnya terlihat begitu seksi di mata Jong Woon. Namja itu mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Myun Hee perlahan sementara sepasang matanya terus menatap lekat wanita yang sudah dinikahinya selama lebih dari dua tahun itu. Jari Jong Woon mulai turun ke bibir Myun Hee, menyentuh perlahan belahan bibir milik yeoja itu.

 

“Kau sudah basah bukan?” tanya Jong Woon yang langsung dijawab dengan anggukan pelan dari Myun Hee.

 

“Then ride me,” perintah Jong Woon. Myun Hee memajukan tubuhnya sekali lagi lalu mengecup bibir namja itu sekilas.

 

“As you wish, baby,” sahut Myun Hee sebelum kembali menautkan bibirnya dengan bibir Jong Woon. Kali ini namja bermarga Kim itu membiarkan istrinya memegang kendali atas kegiatan panas mereka. Jong Woon membiarkan lidah Myun Hee mendominasi pergulatan lidah keduanya sementara kedua tangannya bergerak bebas menyentuh setiap bagian tubuh istrinya itu.

 

Myun Hee dan Jong Woon refleks menghentikan ciuman mereka dan mendesah bersamaan saat milik Jong Woon akhirnya berada di dalam tubuh Myun Hee.

 

Selama beberapa saat keduanya terdiam, membiarkan seluruh perasaan terhubung saat tubuh mereka akhirnya kembali menyatu. Keduanya menyadari malam ini bukan hanya sekedar tentang dua tubuh yang saling mengisi, dua nafsu yang saling beradu tapi malam ini adalah bukti nyata ikrar pernikahan mereka.

Untuk saling bersama dalam suka maupun duka, sehat ataupun sakit. Untuk selalu saling mencintai dan saling mengingatkan.

 

Malam ini keduanya kembali menikah.

 

Myun Hee mulai menggerakkan tubuhnya. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya sementara sepasang matanya terus terarah pada namja yang juga tengah menatapnya. Suara desahan meluncur bergantian dari mulut sepasang suami istri itu, menandakan keduanya menikmati permainan panas mereka malam ini.

 

“Aaah… oppa….,” lenguh Myun Hee saat ia merasakan milik Jong Woon menyentuh titik paling sensitif di dalam tubuhnya. Meski merasa lelah, yeoja itu tidak mengurangi temponya menaik-turunkan tubuhnya sendiri. Seolah tidak mau kalah, Jong Woon ikut menggerakkan tubuhnya seirama dengan gerakan Myun Hee, membuat yeoja itu semakin mendesah tidak karuan.

 

“Oppa… aku.. hampir!” Myun Hee merasakan sesuatu mengumpul di perutnya dan mengancam untuk keluar. Hanya perlu beberapa kali gerakan sebelum akhirnya yeoja itu merasakan cairan hangat yang berasal dari dirinya sendiri mulai memenuhi bagian bawah tubuhnya dan dalam sekejap tubuhnya ambruk di atas tubuh Jong Woon.

 

“Kau lelah?” tanya Jong Woon yang mengkhawatirkan keadaan istrinya. Suara nafas Myun Hee masih terdengar terputus-putus. Yeoja itu mengangkat tubuhnya lalu mengecup bibir Jong Woon sekilas.

 

“I’m still good,” jawabnya dengan seulas senyum terlihat di wajahnya yang bersimbah peluh.

 

“Tapi-“ Myun Hee meletakkan jarinya di bibir Jong Woon.

 

“Lanjutkan saja,” ujar Myun Hee lagi. Jong Woon menatap Myun Hee sejenak sebelum akhirnya namja itu mendorong tubuh Myun Hee dan menempatkan dirinya kembali di atas tubuh istrinya itu.

 

“Kau yang memintanya,” ucap Jong Woon. “Jangan salahkan aku, eoh?”

Myun Hee terkekeh pelan seraya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jong Woon. “Just shut up and show me what you have, baby.” Myun Hee menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai yang entah kenapa justru membuat libido Jong Woon semakin naik. Tanpa ragu namja itu memasukkan miliknya kembali ke dalam tubuh Myun Hee dan dengan cepat ia bergerak menembus tubuh istrinya itu semakin dalam.

 

Myun Hee refleks melengkungkan tubuhnya saat Jong Woon berhasil menyentuh kembali G-spotnya dan kembali membawanya melihat bintang. Kenikmatan yang dirasakan Myun Hee kali ini sepertinya jauh berlipat-lipat dari kenikmatan yang ia rasakan sebelumnya. Setiap tusukan Jong Woon membawa yeoja itu semakin tinggi hingga akhirnya ia merasa sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya.

 

“Ah, oppa… aku… ah… hampir sampai….,” ucap Myun Hee di sela desahannya.

 

“Sebentar!” sahut Jong Woon tanpa mengurangi sedikitpun tempo gerakannya.

 

“Ahhh~~~” lenguh Myun Hee saat akhirnya ia tidak bisa menahan dirinya lagi dan mengeluarkan cairan tubunya sekali lagi. Salah satu tangan Jong Woon meraih tengkuk Myun Hee kemudian melumat bibir yeoja itu dengan cukup kasar, sementara tangannya yang lain menarik pinggang Myun Hee hingga keduanya menempel sempurna.

 

“Jagi~ya!!” ucap Jong Woon saat akhirnya namja itu akhirnya melepaskan cairannya di dalam tubuh Myun Hee hingga menyentuh dinding rahim yeoja tersebut. Jong Woon membiarkan tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Myun Hee. Sesaat kemudian namja itu merasakan sepasang lengan melingkar di bahunya.

 

“Saranghae,” bisik yeoja yang berada di bawah tubuh Jong Woon tersebut.

 

“Apa aku berat?” tanya Jong Woon.

 

“Ani… seperti ini saja dulu. Aku menyukainya,” balas Myun Hee.

 

.

 

Jong Woon memiringkan tubuhnya kemudian memeluk Myun Hee dari belakang.

“Kau sudah tidur?” tanya namja itu sambil sesekali mencium punggung Myun Hee.

 

“Ani,” jawab Myun Hee singkat. Jong Woon menautkan jemarinya dengan jemari Myun Hee seraya mengeratkan pelukannya.

 

“Myun Hee-ya, kau ingin melakukan operasi rekonstruksi payudara?”

Selama beberapa saat, hanya ada hening yang mengisi ruangan tersebut. Jong Woon sampai-sampai mengira istrinya sudah tertidur.

 

“Oppa ingin aku melakukannya?” suara Myun Hee akhirnya kembali terdengar, menunjukkan yeoja itu masih terjaga.

 

“Kau tau aku tidak pernah mempermasalahkan kondisimu, bukan? Tapi jika dengan operasi kau bisa merasa lebih baik dan lebih percaya diri, aku tidak akan melarangmu.”

 

“Apa oppa ingin aku tetap seperti ini?”

 

“Hmm.. seperti ini juga tidak apa-apa.”

Lagi-lagi keduanya diam. Myun Hee memandangi tangan mereka yang saling bertautan dengan sempurna. Yeoja itu kemudian memejamkan matanya, menikmati bagaimana tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh Jong Woon, merasakan degup jantung dirinya yang seolah bersahut-sahutan dengan degup jantung suaminya, dan merasakan udara hangat yang sesekali bertiup di leher atau punggungnya saat Jong Woon menghembuskan nafasnya.

 

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Myun Hee bahwa hidupnya akan menjadi seperti ini. Kanker payudara yang dideritanya sepertinya merenggut banyak hal dari yeoja itu, bukan hanya harapan hidupnya tapi juga kepercayaan dirinya. Myun Hee tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan sampai pada satu titik dimana ia sama sekali tidak ingin berkaca dan melihat tubuhnya sendiri.

 

Tapi rasanya Myun Hee juga harus berterima kasih pada Tuhan karena sudah mengirimkan penyakit ini padanya. Karena pada saat yang bersamaan Ia juga mengirimkan Jong Woon untuknya. Ah, ani, lebih tepatnya karena penyakit ini ia bisa benar-benar melihat perasaan Jong Woon padanya. Myun Hee membuka matanya dan tersenyum.

 

“Geurae, aku ingin seperti ini saja.” Myun Hee membalik tubuhnya agar berhadapan dengan Jong Woon. Yeoja itu kembali menautkan jemari keduanya yang sempat terpisah saat ia bergerak tadi. “Aku ingin anak kita belajar cara mencintai dengan sempurna dari appanya.”

 

Jong Woon terkekeh pelan kemudian mengecup kening Myun Hee. “Kita yang sempurna, bukan hanya aku atau kau. Tapi kita berdua. Geurae, tidak operasi juga tidak apa-apa. Biar anak kita bisa melihat bahwa eomma mereka adalah wanita yang hebat.”

 

“Ah, apa dokter mengatakan kita sudah bisa memiliki anak?” tanya Jong Woon seolah baru tersadar dengan topik pembicaraan mereka kali ini. Ia juga baru ingat kalau Myun Hee membiarkannya mengeluarkan cairannya di dalam tubuh yeoja itu tadi. Sebagai tahap lanjutan dari operasi yang dilakukan Myun Hee, yeoja itu harus menjalani kemoterapi dan radioterapi selama beberapa kali untuk menghilangkan sel kanker yang kemungkinan masih tersisa di tubuh yeoja itu. Karena alasan itu pulalah dokter melarang pasangan itu untuk memiliki anak selama terapi masih dijalankan.

 

“Eum.. begitulah,” sahut Myun Hee dengan senyum lebar di wajahnya. “Dokter mengatakan sesi terapiku sudah selesai dan aku sudah bisa mengandung.”

 

“Jeongmal?” Kedua mata Jong Woon membulat sempurna dan namja itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terlihat jelas di kedua mata sipitnya. Jong Woon menarik tengkuk Myun Hee kemudian mencium yeoja itu dalam.

 

“Myun Hee-ya,” ucap Jong Woon setelah namja itu mengakhiri ciuman mereka. Segaris senyum penuh maksud terlihat di wajah Jong Woon, “bagaimana kalau kita melanjutkan kegiatan tadi, eoh? Kalau-kalau usahaku tadi tidak berhasil.”

Myun Hee berdecak nyaring dan menatap Jong Woon tajam seraya mengacak rambut suaminya itu gemas. “Shireo! Aku benar-benar lelah dan ingin tidur,” sahut yeoja itu sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Jong Woon. “Lagipula aku ingin bangun pagi besok agar bisa bersiap-siap untuk kencan kita.”

 

“Nde? Kencan?” Jong Woon melonggarkan pelukannya dan menarik dagu Myun Hee, membuat yeoja itu menggeram kesal.

 

“Eoh. Kencan. Kita sudah lama tidak kencan bukan? Jadi besok aku ingin kencan dengan suamiku tercinta ini.” Mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Myun Hee, Jong Woon langsung menghujani wajah yeoja itu dengan kecupan-kecupan singkat, membuat Myun Hee tersenyum geli.

 

Sudah lama rasanya mereka tidak berbicara sepanjang ini dan merasa sebahagia ini. Myun Hee mulai merutuki dirinya yang terlalu larut dalam pikiran egoisnya sendiri selama ini. Sepertinya dirinya sendirilah yang selalu berpikiran jelek sampai-sampai ia tidak bisa melihat bahwa suaminya tidak pernah sekalipun mempermasalahkan kekurangan yang ada pada dirinya.

 

“Oppa,” panggil Myun Hee seraya menatap Jong Woon.

 

“Ehm?”

 

“Di kehidupan nanti, kau tetap akan menjadi suamiku, kan? Meskipun mungkin aku akan menderita penyakit lagi nanti dan kembali menyusahkanmu.”

 

Jong Woon tersenyum lembut dan menatap Myun Hee dengan tatapan yang begitu teduh dan menenangkan, “sampai kapanpun, di kehidupan manapun, aku akan tetap memilihmu sebagai istriku.”

 

Myun Hee kembali memeluk Jong Woon erat, “gomawo oppa. Gomawo….. Saranghae.”

 

“Na do, saranghae, uri Myun Hee,” sahut Jong Woon seraya mengecup puncak kepala Myun Hee.

 

Malam itu keduanya terlelap dengan sebaris doa agar di kehidupan berikutnya, mereka dapat kembali bersama. Karena hanya saat bersama keduanya bisa merasa sempurna.

 

Don’t run away

Just tell me that you will stay

Promise me you will stay

 

You won’t understand the real meaning of ‘perfect’ until you find someone who calls you ‘perfect’ even after seeing your flaws and how ‘imperfect’ you are.

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 17/05/2014, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 50 Comments.

  1. y ampun bkin trharu 😥 my misua so sweet bgt
    brhrap ad lelaki yg mmiliki karakter sperti itu :’ sperti judulx
    ini prfect n unik

  2. keren…
    cinta jong woon bener2 tluss…
    apa masih ada ya yang seperti itu d dunia ini??

  3. Thor crtanya so sweet bgt^^
    Pngen dpt suami kya karakter jong woon disni.. jarang dpt crta yg kya gni, sempurna dgn ketidaksempurnaannya^^ ditunggu next storynyaa:)

  4. Thor crtanya so sweet bgt^^
    Pngen dpt suami kya karakter jong woon disni.. jarang dpt crta yg kya gni, sempurna dgn ketidaksempurnaannya^^ ditunggu next storynyaa 🙂

  5. jongwoon is perfect namja… ^^ cintanya tulus bgt …

  6. Ahhh aq kangen bgt ff mu thor 🙂
    sumpah tiap ff mu pasti berkesan bgt dan gg pernah ngecewain , aq suka ff nya ❤
    ini bner" perfect (y)
    salut banget am joongwoon yg bner" mencintai apa adanya , jarang" ada namja kayak gni !!!!!
    pokok.a DAEBAKKKKKK degh ff mu 😀

    • Hahaha.. gomawooo sudah sering baca ff saiia..
      Iyya nih.. nyari namja kayak jong woon dimana ya? Order di kaskus ada ga ya? Kekeke

      Thank you for coming 🙂

  7. Benar2 bkin terharu benar” cinta sejati

  8. Hemmm so sweett bnget thor..jdi terharu liat pengorbanan yng dilakuin joong woon buat istrinya..!?
    cintanya bner2 tulus nggak mandang kekurangan yng ada pda istrinya,,!?sweett bngett.

  9. Kim Hae Sung

    Hikss~ aku terharu thorr~
    andaikan bener² ada cowok kayak gitu yaa ..
    FF nya Daebakk thor … aku suka dehh ..
    Bagus, PERFECT, sempurnaa~^^ xDD~

    • Hahaha.. ada aja sih.
      Tapi buat dapet namja sesempurna jong woon ujiannya berat banget.. myun hee aja sampe perlu kena kanker..

      Gomawooo sudah mampir 🙂

  10. Terharu banget bacanya #Bagus banget FF nya thor.

  11. keren suka dengan jongwoon

  12. ffnya bagus diluar dr NCnya aku suka, ceritanya menyentuh bgt sgt terharu, Jong Won menerima pasangannya apa adanya, mencintainya dgn tulus tanpa mempermasalahkan kekurangan pasangannya, cinta tanpa menuntut balasan… So sweet

    Adakah yg sprt itu di dunia nyata pst ada meski hanya 1:10…

    • Hahaha.. iyya fokus ceritanya emang bukan NCnya..
      Terinspirasi dari cerita penderita kanker payudara.. jadi.. ya..sebenernya ada sih suami macam jong woon. Tapi kayaknya emang susah nemunya.. hahaha

      Thanks for coming 🙂

  13. Run Evil Nur

    Keren thor

  14. Huuaa sedih campur bahagia T T campur aduk antara pengen senyum sama pengen nangis! Daebak

  15. Keren banget
    Ceritanya sad. Adakah laki-laki yg menerima apa adanya seperti yesung? aku berharap ada
    Ditunggu ff yg lainnya

  16. aishhh ini kan klo g salah dri ptotngan dark side yg versi yesung y chingu?? hehehe… kecee emmm aq request klo bisa versi KYUHYUN n DONGHAE buatin jga yg longshootnya ya.. jeball *pandaeyes*

  17. terharu banget.. suka sama karakter yesung dimari.
    pesennya ngena bgt thor, semoga calon jodoh aku sama kya karakter yesung di ff ini.. org yg bersyukur. amin

  18. oh kanker payudara toh,
    sempurna berdua, klo bise tambahin sequel mereka punya anak pasti lebih sempurna

  19. sung soo wook

    huaaa yesung oppa bener2 bikin aku jatuh cinta setiap baca ff yang ada yesung oppa nya pasti selalu bikin iri kapan aku bisa punya pacar+suami kaya oppa -:(
    author keren ♡^-^/

  20. hmmmmmmmmmmmmmm…..annyeong aku ga sengaja nyasar disini (boong bangettt)

    HAHAHAHA kaget ya kok ff ini bisa ada disini. versi asli sama yang nc beda2 tipis tapi setauku judulnya bukan ini hahaha

    duh kalo unni haebaragime (haks) masih suka balesin komen disini ketauan deh akuu sering mampir kesini HAHAHAHAHA…..pissss ^.^v

  21. author nie ver nc’y ya..

  22. Aigo yesung oppa 🙂 bagus thor daebak. Suka sama kata2 yg terakhir. Udah ga tau mau komen apa, trs berkarya thor ^^

  23. oh my god,, gw suka bnget, idenya bnar2 kreatif g prnah kbyang ada ff kyk gini
    Dan gw sma skali g mnemukan cacat di ff ini, baik dri segi diksi atwpun alur
    Perfect job!! Keep writing

  24. isi nya sesuai judul nya PERFECT buat author yg nulis 🙂

  25. So Sweet ;-( terharu deh.

    Keep writing thor, di tunggu ff yg lain 🙂

  26. abellia cho^

    bner2 perfect critnya daebkk bwt author

  27. saranghae…..jong woon……aa……!

  28. Cinta Jong Woon bgtu tulus .. nerima apa adanya… sunggu terharu mmbacanyA

  29. seneng bnget klo pnya suami kya jongwoon oppa#ngarepbanget
    so sweet critanya, ku suka suka suka..
    ditunggu karya lainnya ya..

  30. Thor daebak aku suka. (y)

    So sweet …

  31. hohohooho.. gomawooo 🙂

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: