Prank Phone Calls (MiHyuk Couple)

eunhyuk ff nc

1. Author:  N/M

2. Title: Prank Phone Calls (MiHyuk Couple)

3. Type: Straight, Romance, Erotika (NC)

4. Casts : Lee Hyuk Jae–Eunhyuk (Super Junior), Min Min Mi (OC)

Authors’ Note :
Annyeong, Chingudeul… N/M di sini. Kali ini kami mau mempersembahkan FF Eunhyuk.

Oh, ya, kalau kalian ingin mengetahui prekuel (cerita sebelumnya dari ff ini), silakan baca di hanneloreaubury.wordpress.com 😀

Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Komen kalian selalu kami tunggu. ^^

Eunhyuk’s PoV

Aku terus berjalan tanpa akal, tanpa pikiran sebetikpun. Kini tengah kulakukan hal yang bahkan aku sendiri tidak tahu tujuannya apa. Tangan Minmi masih dalam genggamanku, kutarik menjauh dari pesta yang undangannya kudapatkan dengan susah payah. Langkah terus kuterapkan di tanah, mengarah ke jalan lengang malam itu.

“Eunhyuk Oppa,” Minmi mengeluarkan suara kecilnya, “kita mau ke mana?”

Nah, itu dia pertanyaannya. Kami mau ke mana? Aku tak ada ide bahkan untuk mengarang jawaban demi menenangkannya. Sejenak otakku melompong, seperti beberapa kali kualami. Dan aku mulai mengikuti nasihat orang tuaku untuk menyiasatinya; mengingat hal terakhir yang kulakukan sebelum kepalaku sekosong ini.

Gosip. Kata itu menyeruak ke benakku. Dalam pergerakan kakiku yang melambat, aku mengingat lagi. Polisi. Sebuah kata lain merambat ke pemikiranku. Dan ketika aku benar-benar mengurangi kecepatanku dalam berjalan, satu kata lain, ah, dua kata malah, menghampiriku; penelepon iseng. Maka, seketika, aku berhenti dan berbalik pada Minmi.

Kutemukan gadis pujaanku itu mengernyitkan kening berbintiknya di hadapanku. Lampu jalan di trotoar yang kami jejaki menerangi mata besarnya yang mengecil, hidung mungilnya dan bibir tebal seksinya yang mengerucut. “Kita mau ke mana?” ulangnya, mengingatkanku, kali ini sambil berkacak pinggang.

“A-aku ingin bertanya padamu,” ujarku setelah cukup lama berpikir. Aku tidak tahu tapi Minmi memang satu-satunya wanita yang membuatku berpikir jika sudah berada dalam tatapannya.

“Tanya apa?” kejarnya.

“Apa–” Mendadak aku merasa harus berpikir lagi, kemudian aku terinsaf, “–apa benar gosip mengenai kau yang akan melaporkan seorang penelepon iseng ke polisi?”

Minmi menarik napas keras-keras. Dan tanpa kecurigaan sama sekali, ia mendekat dan berkata, “Oppa tahu dari mana?” Aku baru akan mengangkat suara ketika ia malah menyambung, “Ah, pasti beritanya sudah menyebar, ya? Ya, benar, Oppa, Minmi memang akan melaporkan penelepon iseng yang menelepon Minmi terus-menerus sejak sebulan yang lalu, dan dua hari yang lalu, dia akhirnya mengeluarkan suara. Seperti suara bantingan. Sungrin berpendapat kalau mungkin penelepon iseng itu terobsesi kepada Minmi.”

Kedua ujung bibirku tertarik dengan sendirinya. Itu sebuah tuduhan, tapi aku senang. Itu tandanya hal yang kulakukan selama ini telah ditangkap maksudnya oleh Minmi, maksud kalau memang ada yang terobsesi padanya; aku!

Dan Minmi terus mencerocos, “Oppa tahu, Minmi penasaran siapa yang terobsesi pada Minmi itu, makanya Minmi berpikir untuk menyetujui ide Sungrin agar Minmi melapor pada polisi. Dengan bantuan polisi, Minmi bisa tahu siapa dia.”

“Oh, begitu,” sambutku seraya memperpanjang durasi mode wajah riangku. “Kau sepertinya sangat ingin tahu siapa penelepon jahil yang terobsesi padamu itu?

“Pastinya,” jawab Minmi, “selama ini tak ada yang laki-laki yang seperti itu pada Minmi.”

“Laki-laki?” tanyaku.

Minmi terkikih kecil, menutup mulutnya dengan jemarinya yang menggemaskan, lantas menjawabku, “Sungrin juga keheranan sepertimu ketika aku menyebutkan penelepon iseng itu lelaki, Oppa. Dia bilang mengapa Minmi bisa yakin itu lelaki padahal sang penelepon tak pernah mengeluarkan suaranya. Tapi Minmi tahu,” gadisku itu menyeringai senang, “dia pasti laki-laki. Yang terobsesi pada perempuan pasti laki-laki, bukan?”

“Ya, pastilah,” sambutku semangat. Aku tak terlalu mengerti apa yang ia barusan utarakan tapi aku bahagia sebab tebakannya makin mendekatiku.

“Wah,” Minmi memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya di depan dada, “Minmi sangat mengharapkan kalau sang penelepon iseng itu adalah lelaki yang tampan.”

Alis tipisku naik tanpa kukomando. Hasrat untuk memasang tampang mengendalikan situasi tak bisa kulancarkan lagi. “Aku yakin penelepon terobsesimu itu sangat tampan.”

“Benarkah, Oppa?” Minmi menanya lugas seraya meluruskan tangan cokelatnya yang terbalut sweater putih berjaring-jaring jarang itu,   menggenggam kedua tanganku. Arus kehangatan mengalir di buku-buku jariku, lantas tersalur ke seluruh arah. “Menurutmu begitu?”

Aku mengangguk antusias.

“Ah, Minmi senang Oppa juga berpikir seperti Minmi. Sungrin bilang seharusnya aku waspada, boleh jadi pria ini adalah psikopat,” ucapnya yang kutanggapi dengan gelengan kepala banyak-banyak, lalu ia melanjut, “tapi, apa daya, Minmi tak bisa menolak pembayangan Minmi mengenai pria tampan yang mungkin kenal pada Minmi, yang menggemari Minmi secara rahasia, dan tidak tahu bagaimana caranya mendekati Minmi. Maka dia akhirnya melakukan ini.”

Aku mengangguk-angguk, mengiyakan, karena memang tepat tebakannya. “Sangat tepat se—”

Oppa tahu,” Minmi memotong, “ini sangat romantis.”

“Benarkah?” Hatiku berdegup kencang saat mendengar ucapannya, meski aku bingung maksudnya apa.

“Hal ini, hal pengagum-pengagum rahasia ini, sangat romantis,” tekannya.

“Oh,” aku baru paham maksudnya, dan kesenangan segera melingkupiku karena aksiku dibilangnya romantis, “jadi kau menyukainya?”

“Sangat!” jawabnya. “Oleh karena itu, Minmi sangat penasaran siapa orangnya. Kira-kira siapa, ya, Oppa?” Ia meremas kedua tanganku.

Aku terbahak riang. Ingin sekali aku tampak keren saat mengaku di depannya.Ya, kurasa, aku harus mengakui kebenarannya kalau aku penelepon iseng itu. Meskipun begitu, aku tak bisa mengontrol kebahagiaan yang membuatku ingin tertawa terus. “Kau tak perlu susah-susah mencarinya–”

“Iyakah? Apa Oppa mengenalnya?” tanya Minmi semangat, membesarkan kedua bulatan matanya. “Apa Minmi mengenalnya?”

“Tentu saja,” balasku penuh gaya, “kau–”

“Siapa dia? Siapa dia? Siapa dia?” Minmi mengulang-ulang pertanyaannya dengan intonasi yang semakin tinggi disertai dirinya yang meloncat-loncat kecil berkelanjutan.

“Dia adalah–”

“Apa dia Donghae Oppa?”

Pertanyaannya seketika memalu tubuhku aspal trotoar itu. Mendadak otot-otot tubuhku yang kubanggakan belakangan ini lemas. Tulang-tulangku tak kuat seperti biasanya, melempem, dan rasanya ingin meleleh bersamaan keseluruhan tubuhku. Betapa tidak, selama tiga bulan akhir-akhir ini yang ia tanyakan padaku hanya Donghae, Donghae, dan Donghae. Ia setuju pergi denganku karena ada Donghae, atau karena ingin menanya-nanyaiku mengenai Donghae. Dan yang menjadi alasan mengapa aku meneleponinya secara janggal sebulan ini adalah karena aku ingin mengetahui apakah ia masih memikirkan Donghae atau tidak. Dia sudah menerimaku sebagai pacarnya, wajar kalau aku mengkhawatirkan perasaannya padaku nyata atau tidak, bukan? Aku terus meyakinkan diriku kalau Minmi kini hanya berpusat padaku, mengingat telepon iseng yang selama ini kulaksanakan menjelaskan itu kepadaku. Dia sering membicarakanku dengan teman-temannya selama kegiatan peneleponan misterius yang kulakukan itu tengah berlangsung, sekilas dan tidak sengaja. Hal itulah yang juga menyebabkanku percaya diri untuk mengakui. Aku juga sampai merancang waktu yang tepat, atas bantuan teman-temanku, untuk memberitahunya. Dan perhelatan pesta malam ini inilah yang kupilih sebagai waktunya.

Tapi, rupanya dugaanku salah. Semuanya salah.

Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi pegangan Minmi kuat dan basah. Wajahnya terlihat kebingungan. Ia berkerut kening sebentar, kemudian bertanya, “Apa Minmi salah? Bukan Donghae Oppa, ya?”

Sekejap, otot dan tulangku menyatu dan menguat kembali, segera membentuk tubuhku yang penuh kepercayaan diri seperti sebelumnya, menjadikanku–pastinya–seganteng biasanya.

Aku baru akan melontarkan kebenarannya ketika, lagi-lagi, Minmi menyelanya, “Apa dia Kibum Oppa?”

Sekarang sepertinya tubuhku memecah seperti patung kaca yang dilempar batu. Aku tahu Minmi sejak dulu naksir pada Kibum, si misterius menyebalkan itu. Akan tetapi, tahulah, Kibum, yang selalu berada di dunianya sendiri itu, tak pernah menganggap Minmi ada. Ketika Kibum bepergian ke Amerika beberapa waktu lampau, Minmi akhirnya tidak dipenuhi obsesi-Kibumnya lagi. Aku tak menyangka sekarang ia masih berharap pada Kibum.

Aku mau pingsan saja.

“Apa kali ini Minmi benar?” Riang ia bertanya. Ia lalu melepas tanganku, mengepalkan kedua tangannya di bawah dagunya dan memejamkan mata. Di saat aku ingin membahas mengapa ia berekspresi demikian, Minmi malah melompat-lompat dan berputar, dengan raut muka yang sama, menjauhiku. “Yes! Senangnya kalau Kibum Oppa akhirnya menyukai Minmi!” serunya.

Lututku melemah dan bokongku menghajar jalanan yang kujejaki.

Minmi’s PoV

Terdengar rongrongan, eh, tangisan seseorang. Aku membuka mata. Kutemukan Eunhyuk Oppa duduk di jalanan, mendorong-dorong kedua kaki bersepatu talinya dan meraung-raung tak karuan.

Aku tertegun. Ada apa dengan Eunhyuk Oppa? Bukankah seharusnya dia senang kalau tebakanku benar? Bukannya tadi dia sepikiran terus denganku? Atau tebakanku salah? Tapi, kurasa, dia tak harus menangis keras-keras sedemikian rupa hanya karena aku salah menerka.

Sementara aku terus memeras otak, mencerap apa yang sebenarnya terjadi, Eunhyuk Oppa terus menggeram-geram menyedihkan. Tak tega juga lama-lama melihatnya seperti itu, aku mendekatinya. Duduk bersimpuh di sandingnya, meletakkan tanganku di punggungnya lalu bertanya, “Eunhyuk Oppa kenapa?”

Eunhyuk Oppa mengangkat wajahnya yang tadinya merunduk, memperlihatkan pipi dan sekeliling kedua matanya yang basah. Bibir tipis nan kecilnya menguncup. Sungguh kasihan.

“Eunhyuk Oppa kenapa?” Aku mengulang pertanyaanku.

“Apa…”

“Apa apa, Oppa?” desakku.

“Apa… kau mengakui kalau aku pacarmu, Minmi?” Eunhyuk Oppa menyoal dengan wajah yang mengenaskan.

Aku lantas merespons sambil mengelus punggungnya yang kurus, “Tentu saja, Oppa, kita kan sudah resmi berpacaran.”

Eunhyuk Oppa lantas meratap makin kencang.

“Aduh, kenapa Oppa semakin parah menangisnya?” tanyaku panik. Lantas aku berusaha menenangkannya, “Sudah, ya, cup, cup, cup.”

Tapi, Eunhyuk Oppa tidak tenang-tenangjuga, ia malah melengkingkan tangisannya dan jelas langsung membuatku kerepotan. Aku melihat sekeliling dan bersyukur jalanan di sekitar kami sepi saat itu. Oleh sebab penglihatan tak sengaja itu, aku mendapat ilham untuk menenangkannya. “Oppa, jangan menangis lagi. Nanti kalau ada yang melihat Oppa seperti ini, bagaimana?”

“Aku malu juga, pastinya,” jawab Eunhyuk Oppa, lalu ia berkata lagi sebelum aku menanggapi, “tapi ini sudah sangat menggangguku… Hik… sejak lama. Aku harus… Hik… mengutarakannya.”

“Mengutarakan apa, Oppa?” tanyaku, geregetan.

“Min Minmi…” Eunhyuk Oppa memanggilku.

“Ya, Oppa?”

“Apa kau pernah mencintaiku?” Pertanyaannya, yang rupanya mengejutkan, terkemukakan juga. “Apa kau pernah merasa kau akan memilihku, pacarmu, jika dibandingkan dengan Kibum dan Donghae?”

“Hah?” Aku terperangah.

“Jawab, Minmi,” ujar Eunhyuk Oppa gelisah.

Aku tidak tahu apa jawabannya. Sungguh. Aku harus memikirkannya masak-masak terlebih dahulu. Dan agaknya Eunhyuk Oppa akan memaksaku untuk menjawab.

“Minmi, jawablah,” katanya lagi.

Kelimpungan, aku pun mencoba menjawabnya dengan gelagapan, “A-aku…”

“Ya?”

“Hei, bukankah itu Lee Hyuk Jae?” Suara menggelegar seorang pria menggegaukanku, dan juga mengejutkan Eunhyuk Oppa. “Lee Hyuk Jae-Eunhyuk?”

Sekelompok orang, pria dan wanita, menonton kami sambil menunjuk-nunjuk. Aku tidak melihat jelas wajah-wajah mereka. Nampaknya mereka orang lain, yang tak kami kenal, namun mengenali Eunhyuk Oppa. Ah, sesuai sekarang dugaanku, ada yang melihat kami. Gawat. Ini akan buruk bagi Eunhyuk Oppa. Aku harus melindunginya. Dan saat aku tengah merunduk untuk menutupi wajahnya, Eunhyuk Oppa berdiri dan menarik lenganku.

“Ayo, pergi, Minmi-ah!” ajaknya.

“Hah?” Aku terpegun. Eunhyuk Oppa sudah meninggalkan raut wajah cengengnya begitu saja dan kini yang kutemui adalah wajah tegar dan khawatir.

“Ayo!”

Dan aku sudah ditariknya berlari.

Eunhyuk’s PoV

Derap langkahku tersendat-sendat di ujung jalan tempat kami bercakap-cakap tadi. Kami sudah berlari cukup jauh. Tangan mungil Minmi basah karena kugenggam erat, tapi ia masih menggenggam balik tanganku. Ketika kami sudah tiba di belokan, derap-derap langkah tertangkap telingaku. Aku menoleh ke belakang dan terkejut.

“Astaga. Mereka mengikuti kita, Minmi!” seruku histeris.

“Iyakah?” Minmi menoleh sembari terengah-engah. “Ah, iya, benar, Oppa!”

“Ayo kita bersembunyi!” Aku setengah berteriak, mengejutkan Minmi.

“Di-dimana, Oppa?”

Bercelingak-celinguk, pun aku menemui sebuah pintu dari besi yang terbuka beberapa jengkal di dekat kami. “Di sana saja!” unjukku, dan sebelum Minmi memberi tanggapan, bersicepat aku membawanya masuk ke ruang persembunyian antah berantah itu.

Sesudah kami memasukinya, lalu menyembunyikan diri kami di balik salah satu kardus besar, pintu berdentam di belakang kami. Aku melihat kini pintu itu tertutup, lalu melihat Minmi. “Siapa yang menutupnya?” tanyaku.

“Tidak tahu, Oppa,” gelengnya.

Buru-buru aku bangkit dan mendekati pintu. Dari kaca persegi yang terdapat di pintu aku melihat punggung seorang pria yang berjalan menjauh seraya menenteng kunci. Siapa pria itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Pemikiranku yang menduga-duga siapa pria itu disentakkan oleh bunyi putaran gagang pintu yang menyakitkan gendang telinga.

“Berkarat,” gumamku, namun cukup keras untuk terdengar Minmi yang sedang mencoba memutar kenop pintu itu.

“Tak bisa dibuka,” timpal Minmi muram. “Pria tadi pasti mengunci pintu ini.”

Serempak, kami pun menggedor-gedor pintu besi itu seraya berteriak minta tolong. Tapi tak ada yang mendengar kami. Tak heran, aku memang membawa kami untuk bersembunyi di daerah yang sepi dan jarang didiami orang. Jangan-jangan bapak yang mengunci pintu tadi satu-satunya orang yang berada di sekitar sini.

“Sial,” umpatku geram, menonjok udara kosong di depanku, ketika akhirnya kelelahan berteriak-teriak minta tolong.

Dari sudut pandang mataku, aku melihat Minmi menoleh padaku. Sebelum aku balas menoleh padanya, tangan Minmi mendarat di bahuku, kemudian mengelusnya perlahan. “Jangan marah-marah, Oppa. Kita cuma sedang sial saja,” hiburnya.

Minmi benar. Kenapa aku harus marah?

Kualihkan pandangan. Mataku bertemu dengan matanya yang jernih. Pancaran matanya memulihkanku segera. Jemarinya masih mengusap-usap lenganku yang terlapis jaket. Ketenteraman serta-merta menandangiku.

Aku mengernyit, menelengkan kepala. “Lantas, sekarang bagaimana Minmi-ah? Tak ada yang bisa menolong kita,” ujarku gelisah.

“Ya, sudah, tidak apa-apa, Oppa. Ini karena sudah malam, makanya tak ada yang menolong kita. Daerah ini sepi juga,” kata Minmi, sembari menenggerkan kedua tangannya di sisi-sisi pinggulnya yang indah.

Berkat posenya itu, aku baru menyadari busana Minmi yang menakjubkan. Ia memakai hot pants hitam yang memperlihatkan pahanya yang cokelat licin. Sepatu boots merahnya selutut dan memberikan kesan mengilap. Mataku mengarah ke atas dan menemukan tank top hitamnya yang ketat. Ia melapisi tank top itu dengan sweater rajutan, atau kusebut sebagai kain jaring-jaring, karena pakaian itu penuh bolong dan tidak berfungsi untuk menutupi tubuh, hanya sebagai penghias. Dia kelihatan cantik dan seksi, padahal rambutnya diikat menyamping dengan kunciran imut.

Oppa, apa yang kaupikirkan?” tanyanya, menggegaukanku.

Aku tersadar dan menggeleng cepat. “Ti-tidak,” sahutku. Dan karena Minmi melihatku penasaran, aku menambahkan agar ia tidak curiga, “Aku hanya berpikir bagaimana kita ke luar dari sini.”

“Ah!” serunya. “Minmi juga sedang memikirkan itu. Bagaimana, ya, Oppa?” tanyanya lucu. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, berpose berpikir.

Saat itulah, baju jaring-jaringnya melorot sebelah di bagian bahu. Mataku jelas langsung mengarah ke sana.

Kulitnya benar-benar elok, mulus dan seperti minta dielus. Aku pernah menyentuh kulitnya, kulit tangannya lebih tepatnya, dan memang benar mulus. Aku membayangkan pasti rasanya seru sekali kalau aku bisa mengelus kulitnya di bagian lain.

“Aku tahu!” serunya riang, dan pastinya menanapkanku. “Kita telepon teman-teman kita!”

“Telepon?” Aku bertanya, terdengar seperti menggema di telingaku sendiri.

Minmi menelurkan suara persetujuan dalam mulut terkatupnya.

Mendadak saja, pikiranku penuh akal. Padahal beberapa saat lalu kosong. Aku berpikir kalau ia menelepon seseorang maka kebersamaan kami akan berakhir cepat. Aku tidak mau itu terjadi. Jadi ketika Minmi merogoh kantong hot pants-nya yang sempit untuk mencari ponselnya, aku memberengut sebal.

Cukup lama ia merogoh-rogoh hingga selang beberapa lama ia juga memberengut sepertiku.

“Kenapa?” aku bertanya.

“Minmi tidak membawa ponsel,” sahutnya.

“Tumben,” ujarku, “biasanya kau membawanya.”

“Ya,” Minmi makin merengut, “tadi sedang Minmi pinjamkan pada teman Minmi yang ingin mengirim pesan pada orang tuanya. Lalu Oppa menarik Minmi keluar.”

Mianhae, Minmi,” ucapku memelas.

Minmi terkikik, menertawakanku. “Tidak apa, Oppa,” ujarnya. “Oh, ya!” Serta-merta ia berseru. “Kenapa tidak memakai ponselmu, Oppa?”

“Oke,” ujarku sambil merogoh lantas mengeluarkan ponselku. Kubuka layarnya dan membiarkan Minmi ikut mencermati. “Siapa yang mau kita telepon?”

“Siapa saja yang bisa membantu kita sekarang,” sahut Minmi.

Aku berpikir sambil berbicara, “Umm… yang ada di rumah sekarang. Hankyung hyung, Kibumie…”

“Kibum Oppa saja!” sela Minmi riang, membuatku merasa masygul sejenak.

Namun kemudian, seolah-olah sesuatu mengingatkanku, aku merengut. “Jadi kau sangat tertarik untuk diselamatkan Kibum, Minmi-ah?” tanyaku dengan nada orang yang kalah perang.

“Iya,” sahut Minmi, tanpa dosa, “eh, Oppa kenapa?” Barangkali ia langsung menyadari nadaku yang menyedihkan, atau wajahku yang kutekuk. Ia segera menyibak rambutku yang menutupi wajahku karena aku menundukkannya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” ujarku, “mungkin kau memang tak bisa menjawabnya.” Aku menyengajakan bicara semuram itu. Supaya dia mengerti kalau aku kesal tiap kali dia menyebut Kibum, Donghae atau siapa pun seolah-olah pria itu kekasihnya.

“Pertanyaan yang mana?” Minmi meletakkan tangannya di bahuku saat menanya ini.

“Mengenai kau yang pernah mencintaiku atau tidak,” jawabku.

Seolah-olah disengat, Minmi menarik tangannya. “Eh?”

“Jawab aku, Minmi.”

Minmi’s PoV

Mulai lagi. Aku salah lagi. Rengekan Eunhyuk Oppa muncul kembali. Aduh, aku harus menjawab apa? Yang sejujurnyakah? Tapi, nanti kalau dia menangis lagi bagaimana? Eh, tapi yang sejujurnya itu pun apa? Aku juga tidak tahu.

“Minmi-ah…”

“Minmi tidak tahu, Oppa,” Aku langsung menjawab. Aku putuskan untuk begitu, berpikir itu lebih baik daripada dia merengek lagi. Namun, tak kuduga, karena jawaban itu, Eunhyuk Oppa bermuka sedih seketika. Rasa bersalah langsung muncul di diriku. “Minmi bingung. Minmi senang main bersama Oppa. Eunhyuk Oppa sungguh orang yang menyenangkan, tapi…”

“Tapi?” Eunhyuk Oppa memotongku dengan pertanyaan.

“Tapi… Minmi juga tidak tahu,” bantahku lagi.

“Tidak tahu bagaimana?” tanya Eunhyuk Oppa. Kedengarannya tidak sabar.

“Minmi tidak tahu. Minmi rasa, perasaan Minmi ke Oppa–” belum selesai kubicara, dalam gerakan cepat dan tak kukira, Eunhyuk Oppa menciumku. Ya, pastinya aku jadi tidak bisa bicara lagi karena dibungkam oleh mulut Eunhyuk Oppa. Bagaimana ini? Kenapa Eunhyuk Oppa langsung menyerobot begitu saja? Aku terus memerah otak dan Eunhyuk Oppa mulai membuka mulutnya dan memaksa memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Serta-merta, aku mendorongnya sekuat tenaga. “Oppa apa-apaan, sih?”

Eunhyuk Oppa bengong, menanpilkan wajah melongonya. “Ada apa? Kenapa aku tidak boleh menciummu? Aku kan pacarmu, Minmi-ah!”

Astaga. Dia mengungkit itu lagi. Aku harus mengeluarkan alasan. Tapi apa? Coba kupikirkan dulu.

“Minmi-ah!”

“Ih, Eunhyuk Oppa jangan teriak-teriak!” balasku, rasanya tersungut juga.

Saat tersungut itulah, aku mendapati serangan yang tak terduga. Eunhyuk Oppa meletakkan jemarinya di bahuku, menarik tubuhku mendekat padanya, dan memaksa untuk menciumku lagi. Pada saat yang sama, hal untuk menyetopnya terpikir oleh akalku. Aku menyeru, “Eunhyuk Oppa bau!”

Eunhyuk Oppa berhenti, selaras dengan tujuanku. Tapi, mulutnya tak berhenti bicara, “A-apa maksudmu, Minmi-ah?” Minmi melihat muka Eunhyuk Oppa memerah. “A-aku sudah menyemprotkan penyegar napas dan makan permen karet mint banyak-banyak,” gumamnya, “aku yakin nafasku segar. La-lagipula selama ini tak pernah ada masalah dengan mulut–”

“Bu-bukan itu,” sahutku, tak enak karena menyinggung hal yang salah.

“Lantas apa?” Suara Eunhyuk Oppa keras lagi. Kemudian dia menaikkan alis, seperti terinsaf, “Maksudmu tubuhku? Iya, sih, banyak keluhan begitu. Tapi aku sudah menghabiskan sabun mandi sebotol dan menyemprotkan banyak parfum untuk datang ke pesta ini, untuk menemuimu.”

Aku cuma bisa mencucutkan bibir. Aku tak tega mendengar penjelasannya. Aku tak tega untuk bilang yang sebetulnya terjadi, kalau ia sebenarnya memang tidak beraroma buruk hari ini. Aku tak tega bilang kalau perkataanku tadi yang mengucapkan Eunhyuk Oppa bau hanyalah untuk menyetop tindakannya.

Eunhyuk Oppa menunduk. “Apa karena ini kau makanya lebih menyukai Kibum dan Donghae?” tanyanya.

Aku menggeleng-geleng kuat. “Bukan, Oppa, bukan,” jawabku.

“Lalu apa? Karena kalau masalah ketampanan jelas kami tidak berbeda jauh,” timpalnya.

Aku tak tahan untuk tak terkikik, lalu menepuk bahu Eunhyuk Oppa seperti yang biasa kulakukan kalau dia bercanda. Dan rupanya Eunhyuk Oppa tertawa, menunjukkan kalau dia bergurau.

“Aku serius, Minmi-ah.” Tiba-tiba Eunhyuk Oppa berubah drastis, serius, membuat Minmi mengubah persepsi kalau dia tadi tidak bercanda. Ia memegang tangan Minmi, lantas bertampang murung lagi. “Apa yang membuatmu lebih memilih Donghae dan Kibum daripada aku?”

“Minmi tidak lebih memilih mereka,” jawabku.

“Lalu mengapa kau terus-menerus menyebut-nyebut mereka?”

“Minmi tidak terus-menerus menyebut mereka. Oppa yang menyebut mereka, jadi Minmi ikut menyebut,” aku terus membantah.

“Benarkah?”

Anggukan kulakukan. Sesaat, Eunhyuk Oppa mengelim bibirnya, seperti sedang memeras otak. Lalu, ia berkata lagi, “Lantas mengapa kau tidak pernah mau kucium?”

“Hah?” Aku terkejut. “Tadi kan sudah.”

“Tidak,” sanggah Eunhyuk Oppa, “tiap kita ciuman, kau selalu tampak tidak suka, diam saja, atau malah mendorongku jauh-jauh seperti tadi.”

Aku menggigit bibir. Memang benar, sih, aku selalu melakukan itu pada Eunhyuk Oppa.

“Sebenarnya—”

Oppa mau Minmi cium?” Pertanyaan itu kulontarkan. Mengingat Eunhyuk Oppa benar soal itu. Dan aku sudah tak punya jawaban untuk menenangkannya lagi. Aku mencerap wajahnya. Wajah Eunhyuk Oppa sumringah.

Eunhyuk’s PoV

Oh. Astaga. Ini. Baru. Namanya. Tawaran.

“Tentu saja mau!” jawabku buru-buru, ketakutan kalau Minmi segera mengubah pikirannya.

Mendapati jawabanku, Minmi, yang ternyata tidak main-main dengan tawarannya pun, menutup mata, sedikit memanyunkan mulutnya, menyambut ciumanku. Pastinya aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Segera saja, kukecup dirinya.

Authors’ PoV

Eunhyuk mengecup Minmi, sama perlakuannya seperti sebelumnya. Di lain pihak, Minmi juga tidak bersikap antipati, tidak mendorong atau menghentikan. Minmi hanya diam, takut menyakiti hati Eunhyuk lagi. Kendati demikian, tiadanya perlawanan dari Minmi menciptakan pemikiran lain di benak Eunhyuk. Eunhyuk mengira Minmi menyukai tindakannya. Dia tidak menolak berarti menikmati, pikir Eunhyuk. Oleh karena itulah, Eunhyuk meneruskan aksi ke tahap selanjutnya, menyusupi rongga mulut Minmi dengan lidahnya.

Ketika lidah Eunhyuk mulai mengagresi langit-langit mulutnya, Minmi nanap, mengeluarkan suara seperti tercekik. Gadis itu dilanda serangan kejut. Ia tak pernah merasai French kiss sebelumnya. Namun Minmi tidak melawan, menyetop atau mengeluarkan tindakan apapun. Rasa bersalah menghinggapi Minmi terlalu kuat sehingga ia tak dapat melakukan apa yang ingin ia lakukan terhadap hal yang sama sekali baru ini. Jadi ia terus terpaku ketika lidah Eunhyuk menjelajahi mulutnya dan memainkan lidahnya. Di samping perasaan bersalah, lamat-lamat muncul perasaan lain yang muncul, menguat dan menggelegak di perutnya. Otot perutnya menegang. Dan rasa menggelitik di lidah untuk menyambut permainan Eunhyuk menyamperinya.

Minmi akhirnya melakukan itu. Ia hanyut dalam ciuman panas yang Eunhyuk bawa terhadapnya.

Selang beberapa saat, yang tak dirasa lama oleh kedua sejoli itu, Eunhyuk pun memasuki langkah berikutnya. Kedua tangannya mengusap-usap punggung Minmi, mengeluarkan sebuah desahan tertahan ciuman dari mulut gadis tersebut.

Tak tahan hanya mengelus dan hasrat untuk menyentuh kulit selembut cokelatnya, Eunhyuk berusaha melepaskan sweater rajutan, atau kain jejaring–begitu Eunhyuk menyebutnya. Namun ia tak kunjung berhasil menemukan celah untuk menyingkirkan pakaian pelapis itu. Ia ketakutan Minmi akan menarik jarak lagi, seperti biasanya, kalau ia menghentikan tiba-tiba hanya untuk menanya apakah Minmi mau sweater-nya dibuka. Eunhyuk ingin Minmi menyadari hasratnya sendiri. Namun untuk itu, ia harus menggiring Minmi menemukan hasratnya tanpa adanya jeda. Minmi berkeinginan terhadapnya, Eunhyuk yakin akan hal itu. Tampak dan terasa dari caranya menyambut ciuman Eunhyuk kini.

Kepanasan mulai meningkat. Ciuman itu makin penuh gerak dan membutuhkan konsentrasi tinggi—bagi mereka–sehingga kini tubuh mereka berkeringat. Namun Eunhyuk tidak ingin meluputkan ciumannya. Minmi akan menjauh lagi kalau dia begitu, pikiran itu sangat terpatri di benaknya. Oleh karena itu, mereka mulai terperangkap dalam keadaan penuh peluh dan sesak.

Ketika rasanya sudah mustahil untuk tak menarik napas, Eunhyuk melonggarkan posisi, melepas ciumannya. Kendati begitu, agar Minmi tidak menggelosor pergi, ia mencengkeramkan kedua tangannya lebih kuat di pundak Minmi.

“O-Oppa…” panggil Minmi dengan getaran.

“Aku menginginkanmu, Minmi-ah,” ujar Eunhyuk terengah-engah.

Sebelum Eunhyuk menyodorkan bibirnya lagi, Minmi menahan dadanya. “Da-darimana Oppa dapat kata-kata itu?” tanyanya. “Oppa tak pernah bilang itu sebelumnya.”

“Eh?” Secepat kilat, Eunhyuk teralih. “Dari film.”

“Film apa?” kejar Minmi polos.

“Film… Um… Apa ya? Aku lupa judulnya,” Eunhyuk menjawab dengan wajah meringis.

Minmi cemberut. “Pasti film porno.”

Eunhyuk terkejut. Wajahnya memerah. “Da-darimana kautahu, Minmi-ah?”

“Hah? Ternyata benar?” Minmi bertanya balik dengan intonasi meninggi. “Jadi gosip kalau selama ini Eunhyuk Oppa mesum itu benar?”

Gelagapan, Eunhyuk menjawab, “Ti-tidak. Siapa yang bikin gosip seperti itu? Kau salah paham, Minmi-ah. Menonton belum tentu mesum, kan?”

“Oh, begitu,” drastis, Minmi mengubah ekspresinya menjadi lugu dan tak mengerti, sesuai apa yang ia alami di otaknya, “jadi Oppa tidak mesum?”

“Tentu saja tidak,” sanggah Eunhyuk. Merah di wajahnya makin meluas.

“Kalau begitu,” Minmi bertolak pinggang dan memasang tampang lucu yang tak ia sadari saat berkata, “buktikan pada Minmi sekarang.”

“Buktikan?” Eunhyuk nanap. “Buktikan bagaimana?”

“Tadi Oppa bilang Oppa menginginkan Minmi, kan?”

“I-iya. Lalu?”

“Coba buktikan bagaimana Oppa menginginkan Minmi tanpa berbuat mesum,” ujar Minmi dengan mengencangkan kacak pinggangnya.

Mata Eunhyuk membelalak.

“Ayo, Oppa.”

“Ta-tapi bagaimana cara—”

“Minmi tidak tahu, pokoknya Oppa harus buktikan,” ujar Minmi sambil mengangkat bahu.

Sesaat, keduanya bingung, berputar di pikiran masing-masing, hingga Minmi berkata lagi, “Oppa tadi bilang menonton film porno belum tentu mesum?”

“I-iya, Memangnya kenapa?”

“Lantas, apa Oppa pernah berpikir macam-macam pada Minmi?”

“Tidak pernahlah,” kilah Eunhyuk.

“Benarkah?”

“Tentu saja,” Eunhyuk mulai terpancing kepercayaan dirinya, “aku selalu memikirkan kau cantik. Itu saja. Tidak lebih.”

“Meski pakaian Minmi seksi?”

Eunhyuk mengangguk penuh lagak dengan bibir mencibir. “Meski pakaianmu seksi.”

Minmi menelengkan kepala.

“Apa kau tak percaya, Minmi-ah?”

“Tentu saja tidak percaya. Teman-teman Minmi bilang Oppa suka membeliakkan mata kalau melihat gadis-gadis dengan pakaian minim. Minmi makanya kadang suka takut kalau berpakaian seksi di depan Oppa,” ujar Minmi.

“Lantas mengapa hari ini pakaianmu seksi?”

“Minmi kan tidak tahu kalau Oppa ada di pesta itu. Minmi suka pakai baju seksi, tapi tidak di depan Oppa. Orang-orang bilang Oppa mesum, jadi—”

“Aku tidak mesum, Minmi-ah. Apa karena itu kau menunjukkan kalau kau lebih suka Donghae dan Kibum daripada aku, pacarmu sen—”

“Orang-orang bilang Oppa tidak tahan melihat pakaian seksi—”

“Aku tahan,” sergah Eunhyuk, “aku tahan melihat gadis dalam pakaian seksi. Aku bahkan tahan melihat gadis tidak memakai apa-apa.”

Kali ini, Minmi yang membeliak. “Hah?”

Anggukan yang cukup banyak dilancarkan Eunhyuk. “Apa kau masih tak percaya?” tanyanya beberapa detik kemudian.

Minmi memandangnya dengan alis dan kening berkerut. “Minmi bisa percaya kalau Minmi sudah membuktikannya.”

“Tapi bagaimana membuktikannya?” Eunhyuk mulai buncah dan tak sabar.

Minmi menggenggam ujung sweater rajutannya, kemudian mengangkat kain yang seperti jejaring saja itu ke atas kepalanya, menyingkirkan dari tubuhnya. Ketika sweater itu jatuh ke lantai semen ruangan itu, Eunhyuk menelan ludahnya sendiri dan tak bisa mengindahkan penglihatannya dari tubuh mungil nan seksi Minmi yang dibalut tank top dan hot pants hitam itu.

“Sekarang bagaimana, Oppa?” tanya Minmi sambil melangkah mendekat.

“A-apanya?”

“Apa Oppa masih tidak berpikir mesum?” Minmi melangkahkan kakinya yang satu lagi, membuat sepatu boots merahnya mengentak lantai semen tempat itu.

“Ti-tidak, pastinya,” tolak Eunhyuk, yang gagal memerintahkan matanya untuk tak memandang payudara Minmi yang padat tertutup kain hitam polos itu.

Minmi, tak disangka, dan pastinya menggegaukan Eunhyuk lebih parah, kemudian menaikkan tank top-nya, membebaskan torso–tubuh bagian atasnya dari secarik kain hitam itu melalui kepalanya. Eunhyuk memundurkan diri. “Bagaimana, Oppa?” tanya Minmi.

“A-aku… Minmi-ah, darimana kau belajar hal semacam ini—Astaga!” seru Eunhyuk tepat pada saat Minmi membuka kancing hot pants-nya

“Minmi dapat nasihat dari Changi, kalau kita ingin mengetahui kebenaran, kita harus membuktikannya langsung. Sungrin juga bilang kita harus memaksa namja kita mengakui kebenaran yang mereka simpan,” kata Minmi, menirukan sahabat-sahabatnya, seraya menurunkan ristleting dan, sedetik kemudian, menggelosorkan hot pants-nya melalui kedua paha mengilapnya.

Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan mata. Kini Minmi memakai pakaian dalam saja di depannya; bra hijau-belang-putih rumbai-rumbai dan celana dalam jingga berenda.

Minmi terus mendekat, sampai ia benar-benar yakin Eunhyuk tak dapat mengindahkan pandangan dari tubuhnya yang sudah banyak terekspos. Hingga ia berhenti, dan berkacak pinggang, “Nah, benar kan! Oppa memang berpikir yang macam-macam!”

“Aku…”

“Itu juga yang bikin Minmi illfeel,” kata gadis itu.

“Tapi aku—”

“Eunhyuk Oppa mesum!” sergah Minmi dengan lidah menjulur meledek.

“Bu-bukan begitu, Minmi,” Eunhyuk kalang kabut. Ia menengok ke segala arah dengan wajah linglung lalu bertanya tepat pada waktunya, “Bukankah memandangi lawan jenis itu bagus?”

“Eh?” Minmi secepat kedipan mata mengendorkan ketegangan yang tadi ia tebar, dan memasang wajah tak paham. “Maksudnya?”

Eunhyuk maju selangkah, lega karena Minmi naga-naganya mengubah stereotipnya secepat dirinya. “Kau tahu kan, Minmi-ah, pria memandangi wanita cantik dan seksi itu wajar, bukan? Itu normal, bukankah begitu?”

Minmi menggaruk-garuk kepala. “Benar juga,” gumamnya.

“Nah, itu tandanya aku bukan mesum kalau melihatimu begitu. Tapi normal,” kata Eunhyuk sambil mengerahkan tangannya penuh gaya ke dagunya sendiri.

Minmi sedikit nanap. Gadis bermata bulat itu menengadah dan menemukan kedua mata sipit Eunhyuk. “Oppa tahu itu normal darimana?” tanyanya.

“Dari teman—Ah, tentu saja dari pengetahuanku sendiri, Minmi-ah. Aku kan cerdas,” sahut Eunhyuk. Tangan Eunhyuk yang sudah teralir panas keyakinan dirinya sendiri, bahwa Minmi sedang sibuk berpikir, pun mulai menyentuh kulit pinggul Minmi.

“Minmi juga senang lihat badan namja yang six-pack. Apa itu juga normal?” tanya Minmi kemudian, dengan polosnya.

Eunhyuk manggut-manggut penuh antusiasme. Ia celingak-celinguk seolah mencari sesuatu yang ia juga tidak tahu apa, kemudian seperti disinari ide, Eunhyuk bertindak. Ia membuka jaket hitam-putihnya, kemudian menarik kausnya melewati kepalanya, menampilkan perutnya yang rata. Dengan senyum penuh pamer, ia bertanya, “Apa kau senang dengan pemandangan ini?”

Minmi memandangi, menimbang-nimbang, kemudian mengernyitkan hidung. “Eunhyuk Oppa bau keringat!” Minmi berseru sambil bergerak mundur.

Saat itulah, Eunhyuk menarik tangan Minmi supaya tidak menjauh lebih, entah demi alasan apa. Dan perbuatan itu membuat kedua wajah mereka berhadap-hadapan. Dua-duanya sama-sama kaget karena posisi itu. Satu-dua detik keduanya membiarkan saja keadaan itu berlangsung hingga Eunhyuk mencium Minmi lagi. Lebih kelaparan , kali ini.

Minmi, yang masih buncah atas pemandangan tubuh Eunhyuk yang hanya mengenakan celana panjang hitam, kini terpegun, membiarkan prianya itu menciumnya. Eunhyuk kembali memanaskan kecupan yang sempat terhenti tadi, dengan waktu yang lebih memburu. Hingga tak perlu waktu selama tadi untuk keduanya agar menggapai French Kiss membara. Eunhyuk merabai tubuh belakang Minmi dan terhanyut dalam kehalusan kulitnya. Dan karena itulah, Eunhyuk mulai menggosok-gosok jemarinya.

Bunyi kait terlepas terdengar jelas di telinga Eunhyuk. Bra Minmi telah ia buka kaitannya. Namun, Minmi sepertinya tidak merasa. Dan karena takut Minmi mengeluarkan manuver yang akan menyetop semua lagi, Eunhyuk mendekap Minmi makin erat dan mengusahakan agar bra itu segera lenyap dari pandangan tanpa pemiliknya sadari.

Dan Eunhyuk berhasil. Kecupan penuh hasrat mereka menyelubungi maksudnya. Kini tangannya merambah ke tali samping celana dalam berenda Minmi. Beberapa saat, pun ia mulai melonggarkan tali-temali itu hingga tujuannya tercapai: celana dalam itu melorot ke lantai.

“O-Oppa…” desau Minmi, mulai terangsang, selaras dengan keinginan Eunhyuk.

Ne?” respons Eunhyuk sambil mengeratkan dan menghimpitkan kulit dada telanjang mereka berdua.

Kelekatan antara mereka berdua membuat Minmi mendesah lebih kentara. Eunhyuk mengerahkan jemarinya untuk menjamahi dan meremas bagian-bagian tubuh vital Minmi. Oleh sebab tindakan itu, Minmi pun terbawa suasana untuk melakukan hal yang sama. Kedua tangan mungil gadis itu pun mulai menurunkan ritsleting celana hitam Eunhyuk dan memerdekakan kedua kaki pemuda itu buru-buru. Ketagihan untuk merekatkan kulit dengan kulit lebih optimal, Minmi pun meluputkan celana dalam Eunhyuk juga.

Senyum Eunhyuk mengembang riang. Ia bangga ia bisa menahan kesabarannya sampai detik ini tercapai. Biasanya, ketika ia terlibat dalam hal ini, seperti saat menonton film syur, dia sama sekali tak sabaran dalam mencapai kepuasannya sendiri. Dan kini ketidaksabarannya menggelora kembali. Tangan Eunhyuk mulai tak bisa diam lebih dari satu detik. Dan ketika Minmi mulai menumpukan tubuhnya dengan berpegangan pada kedua bahu Eunhyuk, kehendak untuk menguasai tubuh Minmi sepenuhnya meluap-luap dalam diri Eunhyuk. Maka dari itu, ia mulai berpindah mengecupi, dari bibir menuju leher Minmi.

Minmi membelai belakang bahu Eunhyuk ketika ia merasakan kulit lehernya mulai basah. Belaian lembut Minmi makin merangsang Eunhyuk. Baginya, itu adalah sikap seduktif Minmi dan ia menyukainya. Terlebih ketika Eunhyuk mulai menjilati bawah leher hingga menuju payudara Minmi, gadis itu menggeliat-geliat ceria. Dengan penuh gairah, terangsang berat, dan agresif, Eunhyuk mengintensifkan foreplay-nya.

Cita-cita Eunhyuk dua menit lalu, yaitu untuk menguasai tubuh Minmi tanpa batas, dengan kata lain menikmati tiap inci tubuhnya, tiba-tiba berubah ketika Minmi menjambak rambutnya. Padahal Eunhyuk belum sempat merentas dan merambah lebih banyak lagi, menurutnya. Ia hanya baru menciumi leher dan belahan dada Minmi. Tapi Eunhyuk tidak tahan lagi. Ia merasa jambakan di rambutnya yang dilakukan oleh Minmi itu adalah pertanda, pertanda mereka harus segera masuk ke permainan inti.

Eunhyuk agak mendorong tubuh Minmi agar mundur. Dengan perlahan, ia menggiring Minmi, masih dengan ciuman bertubi-tubi yang ia daratkan di payudaranya, agar mereka mencapai tembok. Minmi menurut. Dan dari suara-suara merintih yang gadis itu keluarkan, Eunhyuk teringat film-film favoritnya, menjadi semakin bersemangat.

Hingga ketika dorongan ia tak bisa dilanjutkan lebih jauh, Eunhyuk sadar punggung Minmi sudah bertemu tembok.

Ini saatnya, ia pikir.

Eunhyuk menarik diri, menatapi Minmi, menemukan mata Minmi yang meredup—yang ia yakini sama dengannya—lalu menjilati bibir gadis itu lagi. Bersamaan dengan itu, Eunhyuk pun menghimpit tubuh Minmi, bergerak, berayun, berusaha memasuki Minmi.

“O-Oppa…” panggil Minmi.

“Y-ya?”

“Minmi belum pernah… sebelumnya…” ucap Minmi, agak terbata.

“Aku juga belum pernah, Minmi-ah,” sahut Eunhyuk.

Tepukan nyaring Minmi memanaskan pundak Eunhyuk. “Jangan bohong, Oppa!” serunya.

“Benar.” Eunhyuk melebar, bermuka sungguh-sungguh, seperti anak kecil polos, namun tetap meneruskan usahanya memasuki Minmi. “Aku sungguh-sungguh.”

“Ah!” Minmi menggeliat dan berteriak, Eunhyuk sudah sedikit memasukinya. “Tapi orang-orang bilang Oppa adalah master dalam hal ini. Ah! Sakit!”

Eunhyuk tidak langsung menjawab karena sibuk menggerakkan pinggulnya untuk memasuki Minmi lebih dalam.

Oppa!” Minmi menampar pundak Eunhyuk lagi.

“Sakitkah?” tanya Eunhyuk.

“Kau belum jawab tuduhanku,” cecar Minmi sambil menyeringai miris, menahan keperihannya.

“Soal apa?”

Minmi mengaduh sakit lagi. Dan gadis itu melihat setitik merah menetes di lantai di bawahnya.

“Oh, soal aku yang master atau tidak?” tanya Eunhyuk, masih memfokuskan pendorongan penuh semangatnya, mengalihkan perhatian Minmi padanya seketika.

Anggukan lemah dikerahkan Minmi.

Di kala Eunhyuk telah memasuki Minmi sepenuhnya, dan Minmi menjerit keras cukup panjang, Eunhyuk akhirnya menjawab, “Itu… omong kosong.”

“Bagaimana bisa… ah… itu omong kosong? Semua orang yang kutemui…. pasti menyampaikan rumor itu… ah… padaku. Ah!”

“Karena aku yang membuat rumor itu,” sahut Eunhyuk sembari mencoba menarik miliknya.

Minmi merintih, namun rintihannya bernada merdu dan penuh kenikmatan. Di saat Eunhyuk mulai menenggelamkan dirinya dalam Minmi lagi, Minmi berusaha mengeluarkan pengusik pikirannya, “Apa maksud… Oppa?”

“Aku yang,” Eunhyuk mulai bergerak menekan lagi, “berkata pada semua orang,” pun menarik lagi, “kalau aku adalah jagoan,” lalu mendorong kembali, “dalam hal seks.”

“Padahal?” Pertanyaan Minmi terdengar penuh sengalan napas.

“Padahal aku hanya jagoan dalam masturbasi…” Eunhyuk mulai mempercepat gerakan pinggulnya, menjadikan Minmi memekik-mekik tajam dan menggeliat penuh kenikmatan.

“Masturbasi itu apa?” tanya Minmi, berupaya menahan napas dan gelegak sesuatu di dalam diringa.

“Entahlah… Pemuasan diri sendiri, kata orang-orang. Tapi aku juga tidak tahu lebih jelasnya. Pokoknya itu istilahnya,” terang Eunhyuk, masih tetap dengan serangan masuk-keluarnya.

Minmi kelihatan tidak paham tapi juga tidak begitu peduli dengan penerangan Eunhyuk dan kembali menggeliat penuh hasrat.

Mereka terus berbenturan demikian, sampai-sampai punggung Minmi menghentak-hentak dinding, karena Eunhyuk terus menohok dan menariknya. Hingga akhirnya, Minmi menggumam, “Oppa, Minmi mau…”

“Ya, aku juga…” balas Eunhyuk sambil terus menekan Minmi.

Dan ucapan tak sempurna mereka berdua pun menyatu menjadi pekikan lama yang cukup bising.

Klimaks pun mereka peroleh.

Mendadak tubuh mereka begitu lemas. Minmi menggeloyor di tembok dan terduduk di lantai. Eunhyuk menumpu berat badannya pada kedua tangannya yang mendorong dinding.

“Minmi capek, Oppa,” keluh Minmi.

Eunhyuk lekas menyusul untuk duduk di sebelah Minmi, bersebelahan dengan kardus di sebelahnya. “Aku juga lelah,” ujarnya.

“Ayo kita tidur saja,” ujar Minmi, masih ngos-ngosan, “kita tunggu sampai besok pagi. Sampai pemilik gudang ini membukakan pintu untuk kita.” Minmi merangkak, beringsut menuju pakaiannya yang berada cukup jauh darinya.

Tapi, Minmi tak pernah sampai pakaiannya.

Eunhyuk telah memeluk salah satu kakinya dan bermuka penuh damba. “Aku mencintaimu, Minmi-ah.”

Minmi menoleh dan mengernyit melihat tingkah Eunhyuk. “Oppa sedang apa?”

“Aku mencintaimu,” Eunhyuk berkata lagi sambil memejamkan mata dan memeluk kaki Minmi, menempelkan betis indah gadis itu dengan pipinya.

Minmi tercengir, meminta Eunhyuk melepas kakinya dengan sentuhan tangan, kemudian kembali menyusul Eunhyuk. “Minmi tahu soal itu, Oppa.”

Eunhyuk menatap Minmi yang kini duduk di hadapannya, tanpa pakaian. “Lalu, apa kau mencintaiku?”

“Minmi rasa,” Minmi menempelkan telunjuknya di bibirnya seperti berpikir, “ya, Oppa. Minmi mencintai Oppa.”

“Benarkah?” tanya Eunhyuk seraya menggenggam kedua tangan Minmi.

“Tapi…”

“Tapi apa?” cecar Eunhyuk.

“Tapi kalau si penelepon iseng itu Donghae Oppa atau Kibum Oppa–”

“Penelepon itu aku,” Eunhyuk mengaku.

Minmi terkesiap.

“Jadi akulah yang terobsesi padamu dan mengagumimu, Minmi-ah…”

Cukup lama, Minmi bengong, meresapi kenyataan yang tak sesuai dugaannya, kemudian tertawa terpingkal-pingkal.

“Ada apa, Minmi-ah?”

“Selama ini Minmi berpikir, kalau Minmi punya pengagum rahasia, Minmi harus berkata apa padanya? Minmi tidak tega mengatakan padanya kalau Minmi pasti takkan bisa membalas perasaannya karena sekarang Minmi sudah punya pacar,” jelas Minmi.

Eunhyuk sumringah.

“Ternyata penelepon isengnya Eunhyuk Oppa. Hahaha. Berarti Minmi tidak usah tega-tegaan bilang itu pada siapa-siapa. Hihihi,” kikik Minmi.

Eunhyuk memeluk Minmi. “Kupikir kau berharap Kibum atau Donghae suka padamu.”

“Minmi berharap itu juga, sih, Oppa.

“Hah?” Eunhyuk melepas pelukannya.

“Jangan takut, Oppa,” Minmi mengayun-ayunkan jemarinya, menenangkan, “meskipun itu terjadi, Minmi tetap akan bilang Minmi takkan balas perasaannya. Karena Minmi sudah punya pacar. Minmi bukan orang yang plin-plan, tahu.”

Eunhyuk mendekap Minmi lagi. “Minmi-ah…”

“Ya, Oppa?” tanya Minmi dengan nada seperti sedang menenangkan bocah kecil. “Oppa mau bilang mencintai Minmi lagi?”

Eunhyuk menggeleng. “Aku mau bilang kalau aku mau lagi, Minmi-ah…” rengeknya manja.

“Mau apa?”

“Mau melakukan lagi yang barusan kita lakukan. Ayo kita lakukan lagiiii…”

Minmi mengerut terkejut.

THE END

Advertisements

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 17/05/2014, in OS, Super Junior and tagged . Bookmark the permalink. 60 Comments.

  1. Gila ngelakuin ditempat umum mana sambil ngobrol lgy 😮
    aigoo kalian berdua sangat polos , cuteeee >._<

  2. Eunhyuk oppa lucu 😀

  3. Run Evil Nur

    Kocak thor

  4. Kim Hae Sung

    hahaha~
    eunhyuk sama minmi lucu dan polos banget xDD~
    kocakk banget thor xDD
    FF ny juga Bagus kko 🙂 😀

    • hahaha…
      ne, mereka polos. serasi bukan? #lah
      makasih banget udah komen ya, chingu
      wah, senangnya kalo kamu suka ff ini ><

  5. Hahaha eunhyuk oppa lucu buangettt sich..?!
    Jdi pngen liat hyuk oppa nangis dijalan kyak anak kecil,,pasti lucu?! Kkkkkkekkk

  6. Pasangan yang aneh apalagi minmi polos bingit

  7. Busettttt dahhh…minmi ne lugu atw polosss sich…hehehehehehehe

  8. Minmi itu kelampau polos atau agak b***h sih????? #Tapi tetep bagus kok ceritanya apalagi karakter lucu yg Eunhyuk oppa.

    • Ahahaha… Minmi cuma agak tulalit, chingu hihihi
      Btw, makasih udah komen ya
      senang kalo kamu suka ceritanya, dan karakter Eunhyuknya 😄

  9. hahahaha..
    mau komen apa juga, mereka couple yang lucu, Hyukkie yg cengeng dan gampang banget putus asa tp mesum jg, terus Minmi ya polosnya setengah mati, jd inget Changi..
    kkk, astaga beneran deh suka author yg bikin judul sama cerita yg diluar ekspetasi alias jarang bgt cerita2 cinta konyol atau bahkan yg biasa dlm kehidupan nyata tp jd luar biasa di sebuah fanfic..
    hehe, maaf kalo salah ucap ^^~

    • Annyeong, nan_cho. Kita ketemu lagi! ^^/
      Kamu inget Changi? Kyaaa… Senangnyaa.. 😄
      Huwaa… Kami senang kalo kamu suka sama ff-ff kami dan judul-judulnya. Kalo kamu berminat, ff kami yang lain ada juga kok di blog ini, dan lebih lengkap di blog kami ^^
      Ga salah ucap kok 😀
      Btw, makasih atas komentarnya ya, nan_cho 😄

  10. Kenap minmi polos baget???
    saking polosnya pengen nae cubit *gemes …. hehehe

  11. Aku suka ceritanya
    Lucu mereka-lebih tepatnya MinMi- polos banget
    Mana pake buka baju atu atu lagi
    Kalau bisa sequel ya
    Mau liat besokannya gitu
    Ditunggu ff yg lainnya

    • Wah, senangnya kalo kamu suka ceritanya.
      Minmi emang polos, chingu.
      Sekuel ya? Mudahan kamu bersedia nunggu. Kami sedang mengusahakannya di blog kami.
      Oh ya ff lain kami banyak kok di yfi, chingu. FF Minmi yang lain juga ada satu lagi 😄
      Btw, makasih udah komentar ya 😀

  12. Thor, disini ceritanya Minmi cewe polos ya?-_- cocok sma hyukjae yg kelewatan polos/?
    Lucu thor critanya^^

    • Sebenernya gak polos-polos banget sih, chingu. Agak kurang pinter tepatnya, hahaha. Hyukjae juga gak polos. Tapi yaa… ga beda jauh juga sih. Hihihi…
      Makasih ya, chingu, atas komentarnya ^^

  13. minmi polos banget yaaahhh lucuuuu
    hyukjae nya bener2 menodai cewek polos ckckckck
    baca ini mlah senyum2 sendiri gara2 kepolosan si minmi hahahaaa

  14. Minminya polos baget! 😄

  15. pasangan yg konyol.. yg cewenya kelewat polos yg lakinye kelewat mesum. astagah! kocak bener2..
    hyuk lebih ganteng dr kibum?! *mikirkeras
    *geleng2 kepala, “sulit di percaya”

    • Annyeong, qyunyuk…
      Hahahaha, senangnya kami kalo kamu menganggap ini kocak >,<
      Hahahaha, kami juga gak percaya fakta satu itu (hyuk lebih ganteng dari kibum) #padahalyangnulis
      Btw, makasih udah komen ya 😉

  16. keterlaluan si Minmi polosnya, ampe ngobrol bedua, gile bener, Hyuk minta lagi

  17. Yaelah si minmi polos banget, sama kaya aku *nahlohLOL* wkwkw

  18. ih lucu ya polos bngett

  19. Annyeong author^^ I’m here…
    Omo Omo.. First night ditempat entah-berantah:D. Aku kira Minmi itu orangnya plin plan tpi udh dijelasin author diakhir, hihi..
    Eunhyuknya cengeng, Minminya polos, Cute Couple>< Overall, good job author '-'d

    • Annyeong, chokyulate…
      Nice to meet you again.
      Ahahaha, udah jelas kan Minmi gimana hahaha
      Wah, senangnya kalo kamu anggep MiHyuk cute,
      Makasih, chingu ^^

  20. Komenku terpotong :”'(

    Buat saran aja nih, ada beberapa kata yg mnurut aku agak tdk sesuai #soktau seperti: terinsaf, terpegun, bersicepat, dll. Aku ngerti sih tpi agak gmn gitu.. Mian banyak ngomong *tabok

    sekali lgi mian klo komenku menyinggung author *bow. Tpi alur ceritanya aku suka bgt>< Overall, good job author '-'d see you at next FF'-'/

    • Wah^^ Makasih atas pemberitauannya ya. #bow
      Kami ambil dari kamus Tesaurus Indonesia kata2 itu, karena kami pikir kata ‘tersadar, terdiam dan buru-buru’ udah terlalu sering, jadi kami ganti itu. Hehehehe…
      Emang kami kurang berpengalaman dalam kata-kata sih, hehehe. Kami bukan anak sastra, chingu. ^^

      Komenmu ga menyinggung kok. Kami justru mendapat pelajaran. Terima kasih ya, chingu 😄
      see you later 😉

  21. Polos bnget ,pasangan yg lucu

  22. yg cerita sebelumnya judulnya apa minn?

  23. kereeennnn cute minminnyaa terlalu polos….. ada sequelnya gak????

    • Wah, makasih atas komentarnya ya, chingu^^
      Minmi kepolosan ya ^^
      Sekuelnya ada di blog kami. Dalam judul The Romantic Carousel ^^

  24. Keren thor 😀 , ini feel nya kerasa?/ !! Aku jadi ngebayanginyg jadi minmi itu aku *apaini* #plakkk

  25. Bikin lg yg kaya gini dong min. Polos bgt mereka berdua. Jadi seru heheheh

  26. ini lol banget sumpah masa gituan sambil ngobrol xD antimainstream :3

  27. bagus ff nya lucu haha 😀
    aku suka :3

  28. aaaaa hahaha keren, polos cute bgt tapi feelnya dpt. thanks for sharing this story author c:

    • Gyaaa… mian baru bales, komenmu, kami baru bisa buka.
      Btw, kami senang kalo kamu suka ff ini. Gomawo udah komen, chingu :*

  29. Lucu
    aneh jg
    tpi seru
    great job thor 😀

  30. kurang hot thor kalau menurut ku,,,tapi jalan ceritanya aku suka bgt
    semangat thor buat next karyanya

  31. mangnya bisa ya yadong mbil dialog gitu ?hehehe…….. lucu bget ngebayangin si unyuk meremgek kyak anak kecil di pnggir jalan wkwkwk… keep writing thor.. hwaiting

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: