Lonely Sick (Hate or Love?) Promise You Special Sequel

Games_23

Author : Yo Jin ^^ @rosita325

Tittle : Lonely Sick (Hate or Love?) Promise You Special Sequel

Pg : NC-17

Cast : Cho Kyu-Hyun

       Lee Eun-Ji

Listen please! *cih* Gue agak ragu kalau kalian bakal ngerti sama ff njir ini ya. Soalnya gue juga kagak ngerti apa yang gue tulis *plak* Pokoknya ini tuh butuh perhatian dan pemahaman yang jelas ditambah kebosanan lo lo yang baca sangat kentara. Sekarang gue suka dengan kerumitan dan bikin orang bingung. So… Kalo lo berniat ngomel-ngomelin ff gue ini, meningan jangan baca. Ini gue udah peringati, cuman orang pinter doang yang ngerti *tapi authornya bego*. Gue kagak mau baca, “Bingung, ini maksudnya gimana ya?” “Gak ngerti” Daripda buang2 waktu buat ngoment, meningan jangan baca. Ok all, yang ngerti harus koment. Itu aja *eh gue ngomong apaan sih?”

*

The Story Begin…

*

Ketika sebuah kata harus di lupakan. Ketika kenangan harus di lupakan. Semua hal itu, memang harus dilupakan saat memang sudah berlalu. Tapi… Tidakkah terlalu disayangkan jika dilupakan semuanya?

Munafik. Lee Eun-ji benci akan kata itu. Mengapa kata munafik harus ada dalam kamus bahasa? Mengapa harus ada di dunia ini? Munafik adalah, ketika mata pura-pura fokus ke arah lain, tapi sebenarnya fokus pada satu arah. Berpura-pura orang lain lebih menarik, padahal sebenarnya satu orang itu yang lebih menarik. Munafik.

“Kudengar kasusnya yang kemarin berhasil. Hebat! Dia sudah tampan, pintar, dan berpendidikan, jaksa pula. Apakah dia sudah memiliki seorang kekasih?” Sekilas Eun-Ji mendengarkan gumaman kekaguman dari belakang meja gurunya. Sudah tahun demi tahun terlewati, ia anggap itu sebagai masa lalu. Namun, mata yang di selimuti oleh kaca mata itu mulai terangkat. Menatap televisi yang tertempel di dinding ruang guru paling awal. Seseorang tersenyum dalam layar itu, berbicara dengan suara yang tegas. Rambutnya di potong rapi, tanpa menyisahkan apa pun di dahinya. Matanya masih sama, hidung mancungnya masih sama, dan bibir yang agak keunguan itu masih sama. Laki-laki itu masih sama.

Untuk sekian kalinya, Eun-Ji mendesah. Ia meletakkan buku besar di meja kerjanya, dan membuka kaca mata bacanya.

“Kami sudah memeriksa seluruh uang dan aset yang dimiliki oleh menteri keuangan, belum menyimpulkan itu adalah hasil dari kelicikannya. Untuk saat ini kami tidak tahu adanya dugaan pencucian uang, atau adanya kerja sama dengan menteri yang lainnya. Kami hanya perlu waktu untuk men-tindak lanjuti kasus ini.” Kali ini kasus pencucian uang. Terasa baru kemarin melihat Cho Kyu-Hyun ada di layar televisi menjelaskan tentang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Atas tingkat dua. Siswa lelaki itu diduga memperkosa kekasihnya sendiri, mungkin karena penolakan atau entah apa yang tepat kejadiannya, siswa lelaki itu membunuh kekasihnya dan menguburnya di sebuah lahan kosong. Gila.

Eun-Ji sebenarnya bukan seorang yang memikirkan tentang kasus-kasus mengerikan semacam itu, ia hanya memiliki waktu untuk kembali mempelajari materi tentang sastra Jepang dan kembali menjelaskan kepada murid Sekolah Menengah Atas tingkat satu di sekolah tempatnya mengajar. Setelah lulus dari perguruan tinggi, ia memang tidak langsung bekerja, seperti kebanyakan orang, ia mencari pekerjaan dan akhirnya ada keberuntungan.

Dengan tidak mempunyai bekal pengalaman pengajaran, ia nekat masuk ke kelas pengajaran agar ia bisa berdiri di depan kelas. Sampai tidak terasa, sudah satu tahun ia menjadi guru.

Eun-Ji melihat jam dinding di ruangan guru, sudah pukul dua siang. Ia mengambil buku besar yang ia taruh dan menatap layar televisi lagi.

Ngomong-ngomong, laki-laki itu benar-benar menjadi lelaki yang sukses. Ia terkenal, dan jadi jaksa terkenal. Bukan hanya karena prestasinya membongkar kasus besar, tapi karena wajahnya juga. Eun-Ji dengar dari teman gurunya, Kyu-Hyun pernah di tawarkan oleh salah satu agensi di Korea untuk menjadikannya seorang aktor. Laki-laki itu jadi idola di Korea karena rupanya. Tidak sangka, lelaki yang dulu masa lalunya sekarang bisa di kenal banyak orang.

Tidak mau masuk ke dalam masa lalu yang menyakitkan, Eun-Ji bangun dari bangku guru yang tepatnya paling depan. Kejujurannya, ia bukan gadis yang masih diam dan mengharapkan masa lalunya. Ia tidak pernah memikirkan itu semua, bahkan kadang ia lupa pada Kyu-Hyun, satu-satunya lelaki yang membuatnya bersumpah supaya ia merasakan sakit yang Eun-Ji rasakan dulu. Tapi ternyata doa itu tidak terkabul, Kyu-Hyun menjalani hidupnya dengan baik. Bahagia, tertawa, dan seperti biasanya. Tidak ada luka apa-apa yang terlihat. Mengetahui itu, Eun-Ji merasa jadi gadis yang paling menyedihkan. Sakit sendirian.

Ia berjalan keluar ruangan guru, ini sudah jam pelajarannya, ia harus masuk ke dalam kelas. Di Sekolah Menengah Atas yang cukup baik ini, ada empat kelas bahasa. Satu, kelas bahasa Inggris, dua, kelas bahasa Mandarin, tiga, kelas bahasa Perancis dan terakhir kelas bahasa Jepang. Kelas ini dimana para siswa memilih untuk mau mengambil kelas bahasa yang mana, ini benar-benar sekolah istimewa untuk seorang murid yang penggemar bahasa asing.

Eun-Ji memasuki kelas yang di atas pintu ada papan yang tertulis “Kelas Bahasa Jepang” saat ia sudah masuk ia melihat siswa-siswa yang ikut dalam kelas bahasa ini sudah duduk di bangkunya masing-masing, atau mungkin ada beberapa siswa yang baru masuk dari arah sampingnya.

Konnichiwa! (Selamat siang!)” Eun-Ji menyentak segala murid yang ada di kelas itu. Mereka yang pada awalnya tidak duduk beraturan, kini cepat-cepat duduk dibangkunya masing-masing, dan menunduk membalas sapaan gurunya. “Konnichiwa!”

Kyou wa ii o tenki desu ne? (Cuaca hari ini bagus, bukan?)”

Hai.” Siswa-siswa di kelas itu ada tertawa karena ucapannya sendiri. Eun-Ji mengangguk-ngangguk mengerti. Jika saja ada seorang yang menanyakan bagaimana ia sekarang, ia pasti akan mengatakannya dengan “menyebalkan”. Ia harus memakai kemeja rapi, dengan rok hitam yang panjangnya hanya menutupi lutut, dan rambut yang ia ikat setengah. Sungguh, ini bukan gayanya, melihat dulu gayanya sangat casual dan terkesan biasa, sekarang menjadi wanita biasa dengan pesona kewanitaannya. Sama sekali tidak menyenangkan.

Ia melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat duduknya. Ia menaruh satu buku besar di mejanya dan tersenyum lebar. “Musim panas yang indah, bukan? Apakah nanti liburan musim panas ada yang berniat menikmatinya dengan berjalan-jalan?” Tanyanya berbasa-basi. Menatap murid berpakaian seragam coklat sekolah dan rapi, membuatnya teringat pada masa-masa sekolahnya dulu. Masa-masa yang menyenangkan, ia bahkan lupa bagaimana tawa kencangnya dulu.

“Tidak guru. Aku akan mengambil les tambahan, nilaiku turun.” Seorang gadis dengan rambut yang diikat, mata besar, dan pipi berisinya menjawab pertanyaan Eun-Ji. Eun-Ji tertawa dan mengangguk. Jawaban dari Nam Un-Hyun membuatnya terasa lucu.

“Itu ide yang tidak terlalu buruk. Dan, kuharap kalian siap untuk belajar?”

Hai.”

Ia mengambil buku besar itu dan bangun dari duduknya lalu menghadap ke papan tulis kayu. Ia mengambil kapur di bawah papan tulis, dan menulis materinya hari ini.

“Hei, tadi aku melihat di internet, Kyu-Hyun oppa sedang mengurusi kasus pencucian uang.”

Oppa?

“Wah, hebat. Aku benar-benar menyukainya,”

“Dia sangat tampan. Ia pasti memiliki kekasih, kekasihnya itu beruntung sekali ya?”

“Tentu saja, lelaki tampan pasti akan memilih gadis yang cantik, pintar, dan berpendidikan. Itu hukumnya.” Demi Tuhan! Bisa tidak dunia membiarkannya mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang menyakitkan? Ia bahkan merasa tangan yang sedang memegang kapur dan menulis di papan tulis itu bergetar. Ia tidak tahu kalau tangannya bisa menjadi bergetar seperti, bagaimana ini? Sepertinya tahap ketegarannya tidak bisa di lanjuti. Kenapa saat ada orang yang membicarakan tentang Kyu-Hyun dadanya akan berdetak cepat sekali? Ia tidak mau mendengarnya, tapi bodohnya, ia tetap mendengar. Sialan, ia membenci dirinya tidak bisa mengontrol diri sendiri.

Eun-Ji mendesah, ia memejamkan matanya erat-erat. Ia tidak kuat jika seperti ini. Ia sudah berusaha keras supaya terlihat baik-baik saja, dan menganggap laki-laki itu hanya temannya di masa lalu. Tapi mengapa dunia malah menyuruhnya untuk melihat bagaimana dulu ia di masa lalu dengan Kyu-Hyun. Kyu-Hyun yang sekarang adalah seorang jaksa tampan yang terkenal, tapi bagaimana pun ia adalah lelaki yang pernah ada di hati Eun-Ji dan lelaki yang menyakiti hatinya untuk pertama kalinya.

Sulit. Tidak mudah melupakan semuanya. Tidak mudah. Kau kira, ketika kau diterbangkan tinggi-tinggi ke atas awan dan di hempaskan keras ke tanah, tidak sakit? Sakit, rasanya sakit, hingga ia tidak tahu caranya agar bisa menjerit.

Eun-Ji membalikkan badannya, ia memutuskan memakai topengnya kembali. “Jung Ji-Hyeon, kau bisa membantu guru menuliskan materi ini?”

*

Dari awal kita memang tidak berjodoh. Kebetulan yang tidak pernah ada, yang ada hanya disengaja. Dari awal kita memang tidak berjodoh, pernah berbicara, pernah saling menyukai, tapi dengan satu kesalahan semua itu hilang tidak berbekas. Dari pertama kita bertemu, seharusnya aku memang sudah mengetahui, bahwa kau bukan untukku.

*

Cho Kyu-Hyun kembali melihat lembaran-lembaran kertas di meja kerjanya. Ia mengangkat wajah melihat tiga jaksa yang ada dalam satu ruangannya lalu matanya beralih ke jam dinding, sudah pukul empat sore. Satu jam lagi ia sudah harus pulang. Ada sesuatu yang harus di kerjakan.

“Aku sudah mencari tahu tentang isi rekening itu. Delapan milyar,” seseorang jaksa pembantunya datang memberikan lembaran kertas ke hadapannya. Kyu-Hyun mengangguk, berterima kasih lalu membaca setiap kalimat yang tertulis rapi.

“Cari tahu juga tentang menteri kesehatan yang kudengar ia pernah saling kontak dengan Kim Myun-Ji di ponsel pribadinya,” kata Kyu-Hyun dengan mata yang tidak beralih dari data yang menurutnya cukup penting. Lee Sungmin mengangguk mendengar penuturan jaksa yang sekaligus teman dekatnya itu. Lelaki yang berwajah manis seperti perempuan itu berdehem. “Ada hal yang ingin kukatakan padamu,” katanya langsung. Ia membenarkan letak dasi putihnya yang melilit di kerah kemeja putih yang di selimuti setelan jas hitam.

Kyu-Hyun mengangkat wajahnya. “Ya?”

Sungmin agak ragu ketika harus mengatakan ini, tapi sepertinya ia memang harus mengatakannya. “Kau akan datang ke acara reunian di perguruan tinggi kita besok? Kau bintang utamanya,” empat hari yang lalu Sungmin mendapat kabar dari pihak Perguruan Tinggi tempatnya kuliah. Kalau ada acara kumpul bersama di kampus untuk angkatan Sungmin lulus. Tapi Sungmin tahu niat awalnya karena mereka ingin universitas mereka semakin baik di mata masyarakat, mengingat ada banyak mahasiswa yang lulus di universitas itu menjadi di kenal masyarakat, Kyu-Hyun maksudnya. Dengan kata lain, universitas itu ingin memberi tahu kalau orang yang terkenal sekarang ini adalah lulusan dari universitas itu.

Kyu-Hyun menautkan kedua alisnya. Ia tahu kalau ia diundang secara resmi oleh pihak perguruan tingginya, tapi ia tidak terlalu berniat untuk datang ke acara dadakan itu. “Kau akan datang?” Kyu-Hyun berbalik tanya. Sungmin tersenyum. “Tentu saja. Ada seorang yang ingin aku temui,”

Kyu-Hyun mengerutkan dahinya heran. “Siapa? Melihat orang itu tidak harus datang ke reunian kan?”

Sungmin mengangguk. “Karena aku terlalu pengecut untuk menemuinya di luar, aku ingin melihatnya di acara yang kebetulan. Dia tidak akan curiga, bukan? Aku tidak ingin dia tahu hatiku yang merindukannya,” Sungmin berkata dengan suara yang pelan, dan terdengar dramatis di telinga Kyu-Hyun.

Sebenarnya Kyu-Hyun masih belum menyangka akan melewati waktu yang cukup panjang ini. Ia lulus, menjadi jaksa, dan terkenal. Melihat bagaimana media banyak membicarakannya, selalu membuat dadanya berdetak cepat sekali, dan ia merasa bangga. Tidak salah, karena sifat percaya dirinya, ia bisa menjadi orang yang lebih besar lagi dikemudian hari.

“Kenapa kau harus merindukannya? Merindukan seorang itu adalah sifat dimana kau menjadi bocah berumur lima tahun yang merindukan Ibunya,” Kyu-Hyun mengatakannya sambil terkekeh geli.

“Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah merindukan seseorang. Oh iya, bagaimana semalam? Kau menghabiskan waktumu di sana, kau harus hati-hati jika para wanita itu tidak membocorkan kalau kau sudah meniduri mereka.”

Kyu-Hyun menggeleng-geleng tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya. “Wanita malam sewaan di klub High Class, bukan wanita yang sembrono, mereka tutup mulut Sungmin, aku sudah membayar mahal kepada ketuanya,” sahut Kyu-Hyun.

Laki-laki itu bahkan lupa kalau kemarin ia menghabiskan waktu untuk bermain-main dengan tubuh perempuan, ia juga tidak menyangka dirinya akan menjadi se-brengsek ini.

“Jadi kau datang atau tidak?” Sungmin mengalihkan pembicaraan ke topik awal.

“Kau datang, aku juga akan datang. Kau mau melihat orang yang kau rindukan kan?”

*

Seseorang meletakkan sebuah surat undangan yang berwarna merah maroon dengan pita yang mengikatnya di meja Lee Eun-Ji. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap sesosok lelaki yang memakai kemeja putih polos dan celana bahan hitam. Cukup tampan. Matanya agak sipit, hidungnya mancung, dan memiliki rahang yang tegas.

“Ini apa?” Tanyanya tidak mengerti pada lelaki yang berambut coklat pendek itu. Lee Hyuk-Jae tersenyum, memperlihatkan gusinya. “Reunian? Mungkin itu kata yang tepat,” sahutnya. Ia menduduki meja Eun-Ji lalu matanya menatap ke arah tiga orang guru wanita yang menatap kagum kepadanya.

“Kasian sekali mereka,” gumam Hyuk-Jae menggeleng-geleng.

“Kau akan datang?” Hyuk-Jae mendecak dan mengangkat bahu. “Kelas hukum, kelas sastra, dan kelas teknologi. Hanya itu yang diundang,” Eun-Ji mengambil surat undangan itu dan menghela nafas. Haruskah?

“Kau bukankah sudah tahu? Kenapa bersikap pura-pura tidak tahu?” Tanya Hyuk-Jae. Lee Hyuk-Jae ini juga adalah seorang guru yang mengajar Bahasa Inggris. Hyuk-Jae kuliah di satu universitas dengan Eun-Ji, bahkan yang memberikan pekerjaan ini kepada Eun-Ji adalah Hyuk-Jae. Dulu memang mereka tidak terlalu saling mengenal, dan kini Eun-Ji menganggap kisah kecil ini sebagai takdir, takdir yang memperkenalkannya kepada lelaki sebaik Hyuk-Jae.

Eun-Ji menarik nafas dan membuangnya kasar. Benar, ia sudah tahu kalau hari itu akan terjadi, hari dimana ia akan menginjakkan kakinya ke dunia masa lalu. Bagaimana ini? Bertahun-tahun kuliah disana, itu adalah sebuah penderitaan yang harus di jalani. Lukanya memang satu hari, tapi sakitnya berhari-hari. Tidak ada hal yang membuatnya senang saat hubungannya dengan Kyu-Hyun berakhir. Hanya, melihat lelaki itu dengan gadis lain selama tahun-tahun berlalu. Empat bulan setelah kejadian itu, ia memang sudah bisa tersenyum kembali di hadapan Kyu-Hyun. Benar-benar tersenyum, karena gadis itu menganggap kisahnya sudah berakhir. Dan merasa tidak baik untuk menyimpan kebencian atau dendam. Ia memutuskan melupakan semuanya. Namun, apa benar seperti itu adanya?

“Pada kejujuran, maksudnya, jujur aku takut datang kesana.” Akunya lalu ia terkekeh geli. “Tapi jika aku bersikap seperti itu, ini terlihat seperti kekanakan,” lanjutnya dengan nada suara yang pelan.

Hyuk-Jae tahu semuanya, Eun-Ji yang memberi tahu. Laki-laki yang berada dalam satu marga dengannya itu, sudah menjadi sahabatnya. Sungguh hal yang tidak pernah di pikirkan. Bertemu di bus, saling tanya, dan menjadi akrab. Intinya pertemuan singkat dan bermakna.

“Bukankah itu sebuah luka kecil? Kekasih yang berpaling.” Hyuk-Jae tersenyum sinis. “Itu memang luka kecil, tapi hanya karena kejadian kecil yang tidak terduga, luka itu tidak disangka bisa melebar.” Eun-Ji mengangguk membenarkan. “Takdir menyuruhmu untuk menghadap takdir yang akan segera datang. Setiap orang pasti bertemu, mau yang belum kau kenal, atau agenda masa lalumu, kau akan bertemu dengannya lagi. Itulah hidup.”

Eun-Ji merasakan sesak di dada mendengar perkataan Hyuk-Jae. Itu benar. Eun-Ji menatap Hyuk-Jae lalu menundukkan kepalanya. Tidak ada yang bisa ia katakan lagi ketika tendangan kencang dari mulut Hyuk-Jae menyadarkannya akan kehidupan yang segera datang menghampirinya.

“Eh Eun-Ji ssi,” semuanya terpecahkan akan guru wanita yang berambut panjang dan memiliki wajah panjang. Tiba-tiba Nam Ji-Min datang di susul oleh kedua guru lainnya. Eun-Ji menunduk sopan dan mengerutkan dahinya. Ia memang agak kurang akrab dengan teman gurunya di sekolah, itu dikarenakan mereka bermulut besar. Eun-Ji benci dengan orang yang banyak bicara, apalagi membicarakan omong kosong.

“Kalau tidak salah kau satu universitas dengan Cho Kyu-Hyun jaksa itu ya? Kudengar ada acara reunian di universitasmu. Kau akan datang? Jika kau datang dan bertemu dengan Kyu-Hyun, maukah kau memintakan tanda tangannya padaku?”

*

Dulu aku tidak pernah mau mengenal dengan namanya takdir yang buruk. Tapi, ternyata aku memang harus mengenalnya hingga membuatku tidak bisa tidur dengan nyaman sepanjang malam. Insomnia. Aku merasa aku akan gila, kenapa tiba-tiba aku memiliki penyakit ini? Aku tidak bisa tertidur di jam paling malam. Aku selalu resah, dan tidak nyaman. Ini sudah terjadi sejak hari keputusan dia denganku.

Aku membalikkan tubuhku yang berbaring ke sebelah kanan.

Lee Hyuk-Jae benar, itu hanya luka kecil. Tapi kenapa aku merasa itu sangat besar? Mungkin ini terdengar klise, tapi aku masih belum bisa melupakan semuanya. Kesakitanku.

Aku menarik nafas, dan melirik jam kecil di meja dekat ranjangku. Sudah jam dua malam. Besok malam… Datang tidak ya? Nah jantungnya kembali berdetak mengingat hari esok, dan aku resah. Bagaimana ini? Bagaimana…? Dia datang tidak? Bagaimana jika aku bertemu dengannya? Bagaimana jika aku bertemu dengannya? Bagaimana jika aku ingin terus melihatnya? Bagaimana jika aku sekali lagi? Itu pertanyaan yang sedang aku nantikan jawabannya. Hyuk-Jae bilang kelas hukum juga ada. Aku tidak yakin dia akan datang, tapi juga tidak bisa beranggapan begitu.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku agak menunduk agar bisa membuka laci meja kecil sebelahku yang paling bawah dan mengambil kotak kaca berbentuk tabung yang berisi obat bulat berwarna putih. Mata ini mungkin tidak akan tertutup jika aku tidak menggunakan ini.

Tanganku yang bergetar sejak tadi membuka tutup kotak tabung itu dan mengambil tiga butir obat lalu memasukkannya ke dalam mulut. Aku memejamkan mataku dan membukanya kembali. Aku menaruhnya kembali ke laci meja dan mencari posisi nyaman di ranjang lebarku ini. Oh iya, aku sudah mengganti ranjangku tiga tahun yang lalu saat aku masih kuliah. Ini lebih nyaman, membantuku membuang masa lalu yang nyatanya sama sekali tidak berguna.

Kali ini aku memejamkan mataku lebih erat. Menarik guling dan memeluknya. Rasa kantuk perlahan mulai terasa, dan yang aku sadari sebelum benar-benar terjun ke dalam alam sadar, air mataku terjatuh begitu saja.

*

“Oh… oppa… Kau ahh, eung…” Kyu-Hyun semakin bersemangat mencium payudara milik gadis yang sudah tidak berpakaian di bawahnya. Aah, ia tidak lupa kalau ia juga tidak memakai baju.

“Oppa..” Gadis ini cantik, Kyu-Hyun akui itu. Sayang, gadis cantik ini hanya untuk permainan satu malam dengannya.

Tangan kanannya mulai bergerayang ke bawah, mengusap milik gadis itu hingga jeritannya makin kencang. “Kau sudah siap ternyata,” gumamnya kepada diri sendiri. Ia agak terbangun dan memompa miliknya.

Tidak lama setelah ia merasa sudah siap, ia mulai memasukkannya ke dalam milik gadis itu. “Hei. Oppaaa…”

Setelah miliknya di jepit keras oleh milik gadis ini, ia memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tidak pernah bisa ia bayangkan. Perlahan ia menggenjot miliknya terus-menerus hingga makin lama-makin cepat, dan kenikmatan itu datang. Tubuhnya menggigil dan terkulas lemas di atas wanita malam yang ia pakai malam ini.

Kyu-Hyun membalikkan tubuhnya dan berbaring di sisi gadis ini. Nafas mereka berdua masih belum teratur, bahkan gadis yang ditiduri Kyu-Hyun memejamkan matanya karena kelelahan.

Laki-laki itu mendesah, ia mengambil ponselnya di meja sebelah ranjang hotel yang ia sewa. Pukul dua? Ia menghabiskan waktunya dengan melakukan hal yang sangat berguna untuk hawa nafsunya. Kekasih ada, ada banyak. Kekasih dimatanya adalah hal yang tidak menyenangkan sama sekali. Ketika mempunyai kekasih, ia tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan. Coba lihat sekarang, ia bermain dengan siapa saja, dengan salah satu kekasihnya… Ah salah kekasih satu malamnya.

Besok reunian? Pikirannya kembali melayang ke ucapan Sungmin tadi. Ia akan datang, kesana. Malas, tapi tidak ada salahnya datang dan bertemu dengan teman lama. Lagipula, mungkin ia bisa mendapatkan wanita cantik untuk satu malamnya.

Matanya pelan-pelan mulai tertutup, rasa kantuknya datang begitu saja. Tertidur indah, tanpa memikirkan adanya kesakitan luar biasa yang orang lain rasakan karenanya. Tidak, Kyu-Hyun tentu tidak tahu itu. Karena rasa cinta seseorang adalah sebuah rahasia yang tidak mudah untuk di ketahui, tidak ada yang tahu apakah itu cinta atau bukan. Cinta, hanya disadari satu orang.

*

Hanya karena satu kesakitan, satu kebodohan, orang lain ada yang tidak percaya lagi dengan cinta. Cinta itu bisa begitu buruk saat takdir berkehendak. Jangan menghindarinya atau mungkin kau akan lebih sakit karena ini. Jangan jadi pengecut, hadapilah.

*

This day. Hari ini datang juga, aku juga sudah menulisnya dalam buku agendaku. Menandai untuk hari ini. Aku masih bersikap datar, dan orang lain menganggap bahwa aku adalah seorang yang berbeda. Mereka bilang aku tidak lagi membuka kehidupan pribadiku, dan mereka juga mengatakan aku seseorang yang tidak mudah di baca. Katanya juga, aku bersikap lemah dan merasa kalau aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.

Benarkah begitu? Baiklah, aku juga merasakan jelas bagaimana aku sekarang. Kehidupanku semu, semuanya tampak abu-abu. Demi Tuhan, aku juga merasakannya, dan tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Aku lelah.

“Kenapa dengan matamu?” Suara Hyuk-Jae mengaburkan segala lamunanku. Dia menyodorkan segelas vodka padaku. Mataku memutar ke penjuru ruangan aula perguruan tinggiku, malam ini sepertinya akan menjadi malam yang paling panjang untukku. Jantungku berulah lagi setiap aku memikirkan hari ini, dan aku sulit bernafas. Keringat dingin mulai menghiasi keningku. Kau tahu, aku seperti gadis yang penyakitan dan terlihat seperti phobia ada disekeliling banyak orang. Aku tahu ini aneh, tapi aku selalu merasa takut. Aku takut di sekian banyak orang di mataku, aku akan menemukannnya di sela orang yang berkerumun. Ketakutan itu nyaris membunuhku.

“Hei, Eun-Ji,” aku ingin mengambil segelas vodka dari tangan Hyuk-Jae, tapi tanganku membeku, sulit bergerak. Dan seseorang menepuk keras bahuku dan sontak membuatku terlonjak kaget. “Kim Mu Ri?” Aku menyapa seorang gadis yang memakai dress hitam polos. Rambutnya diikat ke atas, wajahnya yang berbentuk oval, matanya besar, hidungnya kecil dan bibir tipis berwarna merah muda membuatnya tampak menawan malam ini. Dia, adalah teman satu kelasku saat masih di kelas sastra. Oh iya, tadi dia bercerita kalau dia sekarang tinggal di Jepang dan bekerja di perusahaan besar disana. Dia memiliki nasib hidup yang baik. Sekarang dia ada disini katanya untuk berlibur lalu mendengar acara ini.

“Daritadi, saat pertama kau memasuki aula, kau tampak resah. Kau kenapa? Aku jadi tidak konsen berbicara dengan orang lain dan meninggalkanmu,” katanya sambil tersenyum. Aku menghela nafas, mencoba meredakan debaran jantung yang makin kencang terdengar. “Aku hanya lelah,” aku melihat jam di pergelangan tanganku. Sudah pukul delapan malam sejak pembukaan di pukul tujuh malam. Satu jam berlalu, dan orang semakin banyak berdatangan. Sebagian aku mengenali dan sebagian pula aku tidak. Aku yakini tidak semuanya datang ke sini, tidak yakin kalau datang semua.

“Hyuk-Jae,” matanya beralih kepada Hyuk-Jae yang bersikap pendiam dan tidak banyak bicara. Aku suka dia, aku suka kepada orang yang tidak banyak bicara. Seandainya kami bukan satu marga, aku ingin menikah dengannya.

“Ya?” Mu Ri tersenyum lebar. Aku tahu Mu Ri tertarik kepada Hyuk-Jae. Melihat laki-laki itu memakai setelan jas berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam, dia tampak tampan. Aku juga merasa pantas di sebelah Hyuk-Jae, aku memakai gaun pendek berwarna putih dengan rambutku yang menjadi ikal tergerai. Sepatu ber-hak agak tinggi, dan wajah yang diselimuti make up. Aku cantik tidak? Feminim tidak? Aku tidak merasakan perubahan apa-apa dengan tubuhku.

“Kau tahu aku sangat merindukan orang sepertimu, aku berharap bisa bertemu denganmu lagi setelah ini,” Mu Ri adalah seorang gadis yang berbicara terus-terang dan aku benci itu. Hyuk-Jae tersenyum sopan membalasnya. “Tentu,” dia mengalihkan kepalanya kepadaku. “Mau minum?” Aku melihat vodka itu dan aku menggeleng. Tidak, aku tidak ingin minum. Minum itu tidak bisa memberhentikan ke-resahakanku. “Kau tahu, aku tidak baik,” suaraku terdengar pelan bahkan di telingaku sendiri. Hyuk-Jae mengangguk.

Lee Hyuk-Jae kenapa aku hidup seperti ini? Hanya kau yang tahu apa yang terjadi padaku sekarang ini. Aku berharap penyakit ini segera menghilang, aku tertekan Hyuk, aku tertekan menjalani hidup ini dengan kediaman.

Hyuk-Jae mengusap lembut ujung kepalaku. “Tidak apa-apa,” Mu Ri melihatnya, tapi ia hanya tersenyum dan aku melihat ia menarik nafasnya. “Aku dengar kita sebagai perantara untuk menyambut bintang besar.”

Aku mengerutkan dahiku. “Bintang besar? Siapa?”

Mu Ri mengangkat bahu, dia meminum vodka dari gelas yang ia pegang dan menatap pintu masuk dengan mata berkilat. “Cho Kyu-Hyun. Jaksa terkenal,” Mu Ri menunjuk seseorang dengan dagunya. Tepat sekali, setelahnya aku mendengar seruan yang nyaring di aula ini.

Dia, aku telah melihatnya, dan jantungku terasa seperti pukul oleh kayu ribuan kali per detik. Itu Kyu-Hyun, Cho Kyu-Hyun. Lelaki itu menggunakan jas berwarna putih dengan celana yang berwarna senada.

Dia tersenyum.

Aah, ternyata dia seperti itu. Hidungnya seperti itu, matanya juga seperti itu. Aku melihatnya di dunia nyata. Benar-benar di dunia nyata.

Dia sungguh Cho Kyu-Hyun, aku tidak bermimpi, dan aku juga tidak bisa bereaksi sedemikian rupa. Setahuku, setelah melihatnya, aku tidak bisa bergerak.

Dia… Orang itu, tampan sekali. Kali ini rambutnya di tata menjadi terangkat ke atas. Senyumnya melebar sesaat ada orang yang berumur agak tua datang menyambutnya. Ternyata ini alasannya di adakan reunian tidak jelas, alasannya orang terkenal Kyu-Hyun. Orang yang pernah ada di hatiku.

“Itu Cho Kyu-Hyun, kau tidak apa-apa?” Aku menggeleng mendengar suara Hyuk-Jae ditelingaku. Tidak, aku baru sadar kalau aku tidak apa-apa. Tangan dinginku mendadak bergetar kembali, dan aku menggeram tertahan. Kali ini aku bersikap seperti orang yang baru saja membunuh orang lain. Melihat dia, orang yang pernah mengambil segalanya yang ku punya di masa lampau, ternyata mampu mengendalikan seluruh tubuh bahkan otak. Aku seulit bernafas.

Disegala kerumunan orang, aku bisa menemukannya. “Kau pernah berhubungan dengan Cho Kyu-Hyun bukan? Kau tahu sekarang dia menjadi lelaki yang gila akan hawa nafsunya, lelaki brengsek. Aku telah melihatnya, di bar Gangnam dua minggu yang lalu. Gila. Ternyata kata orang-orang benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini.” Nafasku tercekat mendengar gumaman Mu Ri. Kenyataan yang terasa mengikat erat hatiku. Tubuhku bergetar luar biasa, dan kepalaku tiba-tiba panas. Kakiku melemas dan juga terasa panas. Ada apa denganku ini? Apa Tuhan sedang mengujiku agar aku tidak terlalu terkejut jika masuk neraka? Yang ku tahu neraka itu panas, seperti yang kurasakan kah?

*

Cho Kyu-Hyun berjalan memasuki aula besar dan melihat poster besar bertuliskan, “Cinta Adalah Kebersamaan” Kyu-Hyun sempat terkekeh. Bodoh sekali yang membuat itu.

“Oh jaksa Cho Kyu-Hyun kau datang juga?” Ia tersentak saat rektor universitas itu menghampirnya dan menyambutnya hangat. Ia juga merasa teriakan histeris menyeru kepadanya. Semakin baik untuk menikmati dengan wanita malam ini, pikirnya.

“Terima kasih sudah mengundangku,” katanya ramah dan menunduk sopan. Rektor yang bertubuh pendek dan memiliki kepala botak itu tersenyum lebar. “Kami yang seharusnya berterima kasih padamu, kau membuat nama universitas ini menjadi baik dan semakin besar. Terima kasih.” Kyu-Hyun mengangguk dan melirik Sungmin yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu sedang mengedarkan pandangannya ke penjuru aula. Kyu-Hyun mendesah. Memangnya apa pentingnya sebuah kerinduan.

“Ayo ke meja sana, ada banyak makanan yang tersaji untukmu.” Rektor itu menuntun Kyu-Hyun berjalan ke meja yang di selimuti kain merah muda polos. Kyu-Hyun tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Dan benar saja dugaannya, setelah ia berdiri banyak teman-teman lama dan para wanita menghampirinya.

Semuanya mengaguminya. Semua menyukainya. Semuanya memberikan cinta untuknya. Kyu-Hyun sangat bangga akan hal itu.

Ia senang, berbicara dengan teman lama dan menggoda wanita cantik. Ternyata se-menyenangkan ini kembali ke dunia masa lalu, dan itu yang dilihat Kyu-Hyun dari Sungmin. Laki-laki itu kini berdiri di pojok ruangan menghampiri perempuan yang bernama Han Je-In. Ooh, itu rindunya.

Kyu-Hyun meminum vodka dari gelas yang ia pegang, dan matanya melirik kesana-sini mencari hal yang mungkin lebih menarik. Dan…

Mata tajamnya menangkap sosok seorang gadis yang berpenampilan feminim yang khas, dengan di kerumuni dua orang lelaki dan empat orang perempuan. Hanya ada tujuh meter dengan gadis ini di tempatnya berdiri. Gadis itu berdiri dan membiarkan bahunya di rangkul oleh seorang lelaki.

Gadis itu terlihat tersenyum dan mengangkat wajahnya. Inikah yang dinamakan takdir? Bertemu kembali.

Gadis itu juga melihatnya, menatapnya. Kyu-Hyun diam tidak berkata-kata ketika mata mereka saling bertemu. Ia meletakkan gelasnya di meja, dan memfokuskan penglihatannya. Kening gadis itu mengerut menyadari kalau Kyu-Hyun terus melihatnya, dan mungkin karena tidak ingin merasa canggung gadis itu menyunggingkan seulas senyum ramah. Gadis itu tersenyum kepadanya. Melihatnya… Lalu tersenyum.

Di detik ini Kyu-Hyun merasa waktu berhenti. Senyuman sopan untukknya. Apa sekarang gadis itu menganggapnya teman?

Ia menelan ludahnya dan tidak mau mengalihkan pandangannya sama sekali. Entah mengapa ia sulit menelan ludah ketika mata saling beradu.

Dan Eun-Ji yang malah mengalihkan pandangan darinya kepada lelaki ber-jas putih. Kedua alisnya bertaut, dan Eun-Ji mendekatkan telinganya ke bibir Hyuk-Jae. Seolah gadis itu kurang mengerti apa yang dikatakan laki-laki itu sebelumnya. Apa yang mereka bicarakan? Kyu-Hyun tidak pernah melihat Eun-Ji bisa fokus kepada hal lain dan mengabaikan apa yang pertama ia lihat. Inikah yang dinamakan waktu sudah berjalan lama? Ini lima tahun, dan Eun-Ji menjadi sosok berbeda di matanya.

Ada yang aneh, Kyu-Hyun merasakan itu. Eun-Ji aneh. Itu jelas bukan Eun-Ji, kenapa dia terlihat seperti gadis dewasa dengan senyum yang indah. Bukan karena Kyu-Hyun terpaku akan Eun-Ji yang terlihat indah, tapi ia merasa sesuatu telah mengambil segala cara bersikap, gerak tubuh, dan raut wajah. Eun-Ji tampak berbeda.

To Be Continued.

Saat pandangan kita saling bertemu, aku bersikap munafik. Aku berpura-pura orang lain adalah arah fokus ku dan bersikap seolah kau bukan apa-apa di mataku. Aku bodoh, aku tidak bisa menghilangkan harga diriku yang tinggi. Aku lemah, setelah kau meninggalkanku, aku menjadi gadis yang menyedihkan. Aku tidak pernah berpikiran untuk membencimu, tapi rasa sakit ini yang membuatku membencimu. Aku membencimu, sangat. Hatiku mengatakan itu padaku.

 

About rositaadiana

Rosita Adiana, 4 oktober 1998. Big Fans of Super Junior.

Posted on 18/06/2014, in Super Junior, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 64 Comments.

  1. ajahh@…temanya q suka saengi..sebaiknya dlam penulisan itu hrs konsekuen..kalo pake dia y dia trs ia y ia trs
    q suka konflikny disini
    trs penggambaranmu tntng kyu juga q suka…tmbah keren dia jdnya

  2. ngerti kokk ceritanyaa. kata-katanya bagus banget aku sukaa kerennn kerennn :’) lanjut cepet yaa gak sabarr baca kelanjutannya.
    kalo bisa happy ending thor :’) xD

  3. Keren! Suka sama kata-katanya! “Itu memang luka kecil, tapi hanya karena kejadian kecil yang tidak terduga, luka itu tidak disangka bisa melebar.” .. Greget juga ceritanya! Dapet feel deh..
    Oke. Ditunggu part selanjutnya thor! Eunji yg kuat! Oke sipp ^^~

  4. First…??
    Plissss buruannnn next chapt nha…gregetann hahahahaa

  5. Kayaknya si kyu masih ada perasaan cinta deh sama eunji, cuma ia nggak menyadari perasaan tersebut.
    semogah aja mereka bisa bersatu lagi. Tapi thor, bikin kyu menderita dulu, baru bikin mereka balikan…….
    Ditungguh kelanjutannya.

  6. nanggung terlalu pendek.. ok di tunggu

  7. o?????
    bersambung?????
    di tunggu ai

  8. Thorr.. Nyesek banget liat “to be continued” disitu-,-
    Udah seru”nya nih thorr..
    Lanjut thor, jangan lama” 😀 penasaran sihh

  9. Tobias nagma

    Jgan lama2

  10. Wow serrruuu cepet share lagi hahaha !! Kyuhyun bad Boy

  11. Lanjuuutt

  12. Haduh…. Jd msh ad rasa toh….
    Ehm… Semoga dengan adx hyukjae, eunji bisa terhibur dan kyuhyun cemburu ama hyukjae.. Ha”
    lanjut thor….

  13. Kyaaaaaa….
    liat “to be continued” saat bca srius2nya i2 bKin tMbh nyesekkk…
    kerennn..sdh bagus crtanya…
    dtnggu next chapternya yaa..
    lanjuttttt

  14. sak sabar nunggu kelanjutannya

  15. Cinta menggores luka lama, apa kyu masih mempunyai cinta untuk eun ji? Melihat gelagat sedikit cemburu di monolognya. Sudah tak sabar menunggu kelanjutannya..

  16. aigooo… sequelnya, kasian eun ji

  17. aduh..
    ngapain jg tbc mejeng disitu.. /.- #gregetan
    next thor ditunggu cepat..

  18. Kata”nya keren !! Haha . Ga pernah kepikir ada kata sekern itu . Nyambung kok , bagus . Feelnya dpt bgt . Bikin penasaran . Lanjut ya . Ditunggu .

  19. sempat mengira orang yang dirindukan sungmin itu eunji, dan berharap bahwa itu memang eunji, setidaknya berilah perasaan sakit menyengat untuk kyuhyun, *naik darah mode*

  20. Ffnya keren thor, berharap semoga happy ending 😀
    Ditunggu next partnya secepatnya 😉

  21. gue kira di sequel nya eun ji hamil anak kyuhyun,
    dan mungkin kyuhyun makin menyesal menghianati eun ji

    next lart di tunggu thor 😀

  22. Nyesek banget (ಥ_ಥ)

  23. gue kira di sequel nya eun ji hamil anak kyuhyun,
    dan mungkin kyuhyun makin menyesal menghianati eun ji

    next part di tunggu thor 😀

  24. wah suka deh ni ceritanya..
    ayoh buat kyu salah paham dengan ngira eunji pacaran sama hyuk jae..
    dan buat kyu ngelasa kehilangan dan nyesel udah ngebuang eunji gituh ajah,,

  25. Next……….
    penasaran banget dah sm ni cerita, tapi jan lama2 ya

  26. Lanjottttz….mantapppppp

  27. awalx emg rada mikir kyk tlalu lebay gtu sdihx si eun-ji tp stlh msk kyuhyun pov br rada ngerti.. Karakter kyu keren krn pk latar blkg lain dr biasax. Mantap jeng, teruskn part brktx

  28. lanjut lanjut lanjuuuuttttt

  29. bgussss bgt sequelnya…….
    Dilanjut ya……….bkin greget bcanya

  30. kyaa! sebenernya si kyuhyun masih cinta gk sih ama eunji?:/

  31. penasaran…

  32. Siapa bilang ceritanya absurb, authornya aja yg ǥaƙ pedean, ini bagus koq, mudah dpahami

  33. Ok fix! Q suka…. Feel dapet.. Alur pas… Bkin greget dah… *gigitepil /eh?
    Next cpt ya de… Moga eunji bsa bahagia… Semangat! 🙂

  34. huwaaa….lanjut lanjut pko nya harus lanjut cpt thor q penasran bgt…

  35. daebak ,,, hebat bgt eunji bisa mengalihkan perhatiannya ,,, wow ,,
    kyu” ,,, kayaknya sekarang malah kyu deh yang teralihkan dunianya ,,, y meski eunji juga sih ,,,
    kenapa tu mbak TBC nebeng distu ,, ahh ,,, ud penasaran ni

    lanjut ya ,,,, cepet di share ya ,,, kekeke fighting

  36. feel.nya dapet banget author niiim..
    bahasa dan penulisanya juga rapih.
    penggambaran watak tokoh.nya juga jelas.
    keep writing authoor niiim.. ^^

  37. Rein_haruna

    Oh q qra mrka bkrja di t4 yg sma n eunji hlg ingatan n ngelupain kyuhyun.trnyata mrka bnr2 brpisah.q jg mengira sungmin rindu dg eunji.q tnggu lnjtnx y?

  38. ceritanya bagus kok. buruan lanjutttttttt……..

  39. Kerennn thor…ceritanya jga seruu..next

  40. Gak sbar nunggu next part.nya ceritanya menarik

  41. cerita.a keren thor.. next thor..!!ditunggu

  42. Akhir nya sequel nya muncul juga, tpi nemu tbc kesel banget. Next thor jgn lama-lama bikin kyuhyun nya menderita nde 😀

  43. alurnya aku suka di lanjut ya saeng…. ^^

  44. Thor aku suka ceritanya, aku paham ajasih, cuma kadang aku bingung bgn siapa.. Bisa pake POV ga thor?._. Keep writing ya (:

  45. seruuuuuuu…….. ayo thor lanjuttt

  46. Heeemmm trnyata kyu sama sekali gaa ngerasa kehilangan eunji ,, dan yg mnderita slama ini cuma eunji sndiri , ckckckck prah banget si kyu ,, bkin kyui nyesel thor sdh mnyia2kan eunji ,,

  47. feelnya kok aku ngerasa bgt ya. sakit hatinya d tinggal, melihat kesakitan yang menjadi makanan. betapa sakit nd rapuh sesungguhnya eunji

  48. Lanjut thor
    Kira2 reaksi kyuhyun gimana yaa????

  49. sakitnya ngena banget dihati. lanjut ya thor…..

  50. aq suka karakter kyu dsini…… ditunggu next’a

  51. bagus kok thor ff nya
    di tunggu ff selanjutnya

  52. wahhh kerreeeennn .. aku tunggu Part selanjutnyaaaa

  53. wahhh seru seru.. aku cukup mengerti dengan ceritanya.
    kukira ini bakalan one shoot, tenyata masih ada lanjutannya.
    baiklah aku akan menunggu 🙂

  54. Hoaaa bagus. Next part ditunggu yaaa

  55. nah ini dia…
    aku suka jalan ceritanya..
    kyu nakal bgt ya *miris

  56. Kyuhyun oppa,kenapa kau tidak menyapa nya ? Seru banget sequel nya.

  57. Gk sbr buat lanjutannya

  58. lee hyun rae

    ceritanya bagus banget.. kyuhyun pasti menyesal ninggalin eunji… lanjutttt authorr ^^

  59. aku paham kok ceritanya
    aku kan termasuk pintar
    hahaha #plakk

    g sabar liat konfliknya sampai panas
    next

  60. kirain aku di sequel nya eun ji bakalan hamil anak nya kyu..
    penasaran sama next part nya..

  61. Kyuhyun ga’ peka bgt ,, dia tdk tau eunji berubah gara2 luka dan sakit hati yg dia torehkan pada eunji 😦 aku ke next partnya ya authornim ?

  62. Annyeong 😀
    Aku ijin baca yaa, td aku mampir ke wp author tp pas aku mau buka malah gabisa jd baca disini aja ^^
    KyuHyun skrg jdi playboy, dasar laki!
    Sebegitukah sakitnya buat Eun-Ji? Kasian banget
    Ayo Eunji buat Kyupil menyesal 😀

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: