Lonely Sick (Hate or Love?) Promise You Special Sequel 4

Author : Yo Jin ^^ @rosita325

Tittle : Lonely Sick (Hate or Love?) Promise You Special Sequel 4

Pg : NC

Cast : Cho Kyu-Hyun

         Lee Eun-Ji

*

The Story Begin…

*

 

“Kau mungkin… Sudah memiliki kekasih?” Ayahnya bertanya kepadanya. Eun-Ji tertawa. “Tidak. Maksudku belum. Kenapa? Ada apa ini?” Ia memandang kedua orang tuanya dengan tatapan was-was.

Ibunya tersenyum penuh arti. “Ibu tahu kau masih mengingat Cho Kyu-Hyun. Kau masih menyukainya kan?” Obrolan ini membuat jantung Eun-Ji melonjak cepat. Perasaannya mulai tidak enak. Keringat dingin pun menghiasi keningnya seperti tadi. Jangan-jangan…

“Keluarga Kyu-Hyun melamarmu kepada kami. Cho Kyu-Hyun ingin menjadikan kau istrinya? Kau mau kan?”

*

Hatiku yang mencintaimu. Mataku yang menatapmu. Masih disini.

“Kalian bercanda kan?” Respon yang diperlihatkan Eun-Ji adalah mencoba tenang. Ia pasti salah dengar. Pasti…

“Tidak. Orang tua datang sendiri kesini untuk melamarmu, katanya Kyu-Hyun yang meminta.” Eun-Ji memejamkan matanya mendengar penjelasan Ibunya yang semakin membuatnya tidak berdaya sekarang. Laki-laki itu benar-benar tidak main-main. Dan kenapa ia juga harus masuk ke dalam jurang mengerikan ini lagi? Ia hanya ingin berhenti tapi kenapa masalahnya memanjang dan semakin berbelit begini. Kyu-Hyun benar-benar. Sebenarnya apa tujuannya?

Eun-Ji menelan ludah dan tersenyum tipis. “Kalau begitu aku tidak menerimanya.”

“Apa?” Seru kedua orang tua Eun-Ji bersamaan. “Tidak… Kenapa? Kenapa kau memutuskan untuk menolak Kyu-Hyun begitu saja?” Tanya Ibunya sambil mengerutkan dahinya tidak mengerti. Eun-Ji mengangkat bahunya acuh. “Kenapa aku harus menerimanya ketika aku sudah tidak mencintainya lagi. Bukankah nantinya kita semua ada di posisi paling sulit?” Eun-Ji berbalik tanya dengan nada suara yang ringan dan tegas. Tolong, ia hanya ingin berhenti sampai sini.

Ayahnya tersenyum lebar. “Eun-Ji, Ayah rasa kau sudah cukup dewasa untuk menikah. Ayah tidak tahu kenapa kau bisa putus dengan Kyu-Hyun dulu, itu masalah kalian. Tapi kalau memang ada harapan, kembalilah dengannya. Kyu-Hyun lelaki yang cukup mapan dan latar belakangnya baik sekali. Teman-teman Ayah di tempat kerja sangat mengharapkan kalau mungkin saja Kyu-Hyun bisa menjadi menantunya,” Eun-Ji tersenyum sinis. “Kalau kau ingin Kyu-Hyun masuk ke dalam lingkungan keluarga kita, kau saja yang menikah, aku tidak mau.” Kata Eun-Ji lagi. Ayah dan Ibunya mendesah menyerah, lagipula mereka tidak berhak memaksa keinginan anaknya.

“Baiklah-baiklah. Kami tidak akan memaksamu, sekarang kau mandi dan istirahatlah. Ibu akan menelepon keluarga Kyu-Hyun untuk mengatakan kalau kau menolaknya,” Eun-Ji mendesah selega-leganya. Ia mengangguk lalu bangkit dari duduknya. “Terima kasih Ibu,” ucapnya sebelum melangkahkan kakinya pergi.

“Sangat disayangkan sekali,” desah Ayahnya sambil terkekeh geli. Ibunya mengangguk setuju. “Bagaimana lagi, kita tidak bisa memutuskan hal yang tidak disetujui Eun-Ji. Tapi, sebenarnya apa penyebab mereka bisa putus?”

“Entahlah.”

*

“Benarkah? Kenapa? Kenapa Eun-Ji menolaknya?” Kyu-Hyun menghentikan permainan PSPnya ketika suara Ibunya masuk ke dalam pendengaran. Ia mendecak. Eun-Ji membuatnya dengan sengaja datang ke rumah orang tuanya dan menunggu jawaban Eun-Ji dari keluarganya. Kyu-Hyun yang berbaring si sofa panjang ruang tamu, cepat-cepat bangun dan menghampiri Ibunya yang sedang menerima telepon berdiri tidak jauh darinya.

“Ooh. Sayang sekali oh? Baiklah, aku akan membicarakan baik-baik dengan Kyu-Hyun. Aku yakin ada masalah besar diantara mereka, tapi tidak apa-apa, aku yakin nanti mereka bisa menyelesaikannya.” Cho Ha-Na Ibu yang mempunyai dua anak itu masih terlihat anggun dengan rambut yang digulung ke atas. Walaupun wajahnya sudah tidak lagi mudah dan kerutan di wajah semakin banyak, namun ia masih saja terlihat cantik.

“Eun-Ji menolaknya?” Tiba-tiba Kyu-Hyun membuka suaranya, nada suaranya terdengar pelan dan tercekat. Ibunya berbalik menghadap Kyu-Hyun dan tersenyum hangat. “Oh, dia telah menolaknya. Sekarang bagaimana? Kita tidak bisa memaksa, ini tentang perasaan,” Kyu-Hyun mendelik malas. “Dia masih menyukaiku, sangat-sangat menyukaiku, kenapa dia bersikap munafik?” Ibunya mengangkat bahu. “Sebenarnya ada masalah apa antara kau dengan Eun-Ji? Kulihat dulu kalian masih baik-baik saja, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Eun-Ji di jalan dan mengatakan kalau kalian sudah berpisah.”

Kyu-Hyun mengibaskan tangannya. “Ibu tidak perlu tahu, dan ini masih belum berakhir. Aku akan menjadikannya istriku, karena dia milikku sejak awal.” Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau jangan egois, ini tentang perasaan kau tidak bisa memaksakan itu,”

“Kadang egois di perlukan untuk cinta, kalau kau tidak egois kau akan kehilangannya. Aku tidak mau itu terjadi.”

*

Aku hanya ingin mengatakan selamat tinggal atas kepergianku yang panjang. Ketika aku mengucapkan selamat tinggal, artinya aku harus benar-benar pergi meninggalkan jejakku di sekelilingmu.

*

Kyu-Hyun memasuki kamarnya yang dulu, masih tidak berubah, masih seperti yang dulu. Dulu Eun-Ji pernah masuk ke dalam kamarnya dan bahkan tertidur di ranjangnya. Gadis itu, terlalu berbekas di hati meski perasaan cinta itu perlahan mengabur. Ia berjalan menuju balkon kamar dan menyenderkan kedua tangan di pembatas. Malam ini mengerikan sekali.

Tiba-tiba Kyu-Hyun merasa ponselnya bergetar di saku celana. Ia merogoh saku celananya dan mengangkat telepon dari seorang yang dikenalnya. “Ya. Kau sudah melakukan yang ku suruh?” Kyu-Hyun mengangguk-ngangguk. “Pastikan besok berita itu sudah muncul di media, dengan itu, dia tidak akan kabur dariku lagi kan?”

*

Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Eun-Ji, gadis itu menatap keluar jendela kamarnya dengan kening yang berkerut samar. Berhenti sampai sini kah? Jantungnya berdetak, dan ia sangat tertekan karena memikirkan hal yang belum ia ketahui jawabannya sampai sekarang.

Ia bukan seorang yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain yang bahkan sudah membuatnya menderita. Kebencian itu makin melebar. Makin terasa, dan tidak bisa di tutupi.

Saat itu bulan April, saat-saat yang paling membuatnya bahagia dalam hidup.

“Kyu-Hyun! Aku punya hadiah untukmu,”

Kyu-Hyun mengerutkan dahinya. “Apa?”

Gadis itu tersenyum dan menunjuk hatinya. “Cinta, hadiahmu dariku adalah cinta. Kau akan menerima cintaku kan?” Kyu-Hyun tersenyum lebar dan mengangguk. “Cintamu pasti akan ku terima, selamanya, selama aku masih memiliki hati untuk menerima segala cintamu. Eun-Ji, suatu hari nanti kau mau kan menikah denganku? Aku akan membuat lamaran yang sangat indah untukmu, untuk gadis yang paling istimewa dalam hidupku.”

Eun-Ji menggelengkan kepala mengingatnya, mengingat itu terasa menyuruhnya berkaca akan kebodohan cintanya terdahulu. Tatapan, pelukan, dan senyuman, hanya untuk Kyu-Hyun. Hari, hidupnya adalah Kyu-Hyun. Tidak ada yang ia lihat selain Kyu-Hyun, hanya Kyu-Hyun arahan pandangan matanya.

Gadis itu menangis, menundukkan kepalanya, menatap kedua kaki yang bergetar dan menangis di dalam isak tangis yang mulai pecah. Kesakitan, keperihan itu menghujam dan terus menghujamnya di setiap waktu. Di setiap mengenang kisah indahnya dulu, terlalu indah sampai rasanya tidak mampu untuk dilupakan.

“Aku… Masih mencintainya.”

*

“Kabar menggembirakan dari Cho Kyu-Hyun jaksa terkenal yang sangat tampan itu kini akan segera melangsungkan pernikahan. Faktanya, beberapa hari yang lalu Cho Kyu-Hyun mengunjungi kekasihnya yang ternyata adalah seorang guru di Sekolah Menengah Atas. Foto-foto mereka bersama juga sudah beredar di media masa, saat Kyu-Hyun merangkul Lee Eun-Ji di area sekolah dan saat mereka masih berpacaran di Perguruan Tinggi. Tidakkah ini seperti cinta sejati yang bertemu kembali? Kembali ke asalnya.”

Suara gelas pecah menutup ucapan sang pembawa acara wanita yang sangat jelas membicarakan masalah percintaan tentang jaksa yang sedang terkenal di Korea. Tangan Eun-Ji bergetar bukan main, bukan karena tumpahan teh panas, tapi karena berita televisi itu.

“Astaga Eun-Ji, tanganmu… Tanganmu,” geraman dahsyat melanjut ke kepala yang terlihat bergetar karena keterkejutan yang nyaris menembak hati yang sudah pecah. Ia rasa ia sudah gila. Ia rasa ia sudah gila!

“Eun-Ji kau kenapa? Kau harus mengobati tanganmu,” suara Ibunya tidak terdengar jelas meskipun tidak ada alunan musik rock yang mengalun di rumah ini. Tapi, anehnya ia benar-benar tidak bisa mendengar.

“Aku pasti sudah gila… Aku,” wajahnya memerah dan air mata untuk sekian kalinya terjatuh lagi di pagi hari. Seharusnya ia sudah keluar rumah dan berjalan riang menuju sekolah, namun kenyataan di pagi hari yang cerah ini menghancurkan segala harapan yang jelas akan di mulai hari ini.

Nafasnya naik turun tidak menentu, dan urat-urat leher terlihat mengencang seperti akan putus dari sambungannya. Jantungnya sudah tidak bisa dikatakan lagi, ia rasa, ia tidak merasa mempunyai jantung lagi sekarang. Jantungnya sudah ada dalam tahap sekarat dan mati-matian ia berusaha menyembuhkannya, tapi dengan detikan nama Kyu-Hyun, jantungnya melengos seperti mati.

Ia berharap ini hanya mimpi di tengah deritanya. Ia berharap…

Kenapa Kyu-Hyun bisa begitu jahat dan semakin memperusak keadaan.

“Eun-Ji,” ia menatap tangannya sendiri yang tersiram air teh panas. Namun samar, ia tidak merasakan apa pun. Yang terasa jelas itu di… Di suatu tempat dalam tubuhnya. Disana seperti sedang melakukan pembunuhan berantai dan Eun-Ji yang merasakan sayatan pedang yang dilakukan pembunuh entah siapa.

“Aku harus bertemu dengannya,” otaknya memang tidak berjalan dengan semestinya. Tapi setidaknya masih berfungsi untuk membicarakan apa yang ia lihat di layar televisi. Ia berlari cepat ke kamarnya untuk mengambil ponsel.

Ia menemukan ponselnya di meja rias, dan menghubungi nomor lelaki itu.

“Iya, kenapa? Kau sudah melihatnya Eun-Ji? Bagaimana ini, kau mungkin tidak bisa melarikan diri lagi dariku.” Eun-Ji memejamkan matanya, mengeluarkan tetesan-tetesan keperihan yang sudah tidak bisa di tahan lagi.

“Ayo kita bertemu di Sungai Han. SEKARANG!”

*

Angin yang terasa dingin di kulitku. Mengeringkan air mata. Dan mengibaskan rambutku. Aku masih menangis, dan masih terus menangis. Dia memudahkan tentang sebuah perasaan cinta yang sudah nyaris akan mengabur. Tapi bagaimana denganku? Aku ingin berakhir, aku tidak ingin melanjutkan walaupun Tuhan menentukan takdirku dengannya.

Aku jujur kalau aku masih mencintainya, tapi bukan berarti pengkhiatan yang dia lakukan bisa aku maafkan dan kami menjalani hidup bahagia seperti layaknya drama pagi yang menjijikan. Aku tidak akan bisa bersamanya, terlalu sulit, karena aku manusia dan aku seorang perempuan. Pengkhiatan bukan suatu yang se-pele kan, kecuali kalau pemeran perempuannya adalah gadis bodoh yang tetap mau menerima dengan senyuman hangat dan pelukan penuh cinta.

Air Sungai Han tampak jernih, disini masih sepi karena masih pagi. Setidaknya aku bisa bernafas setelah sesak nafas itu nyaris menghentikan laju nadiku. Tidakkah dia mengerti? Tidakkah dia tahu bagaimana aku? Tidakkah terlalu jahat? Membayangkan aku mungkin saja hidup dengan lelaki yang setiap malam aku tangisi, rasanya sangat menyedihkan. Aku tidak pernah mau itu terjadi. Tolong Tuhan… Aku ingin ini semua berhenti.

Sesuatu melingkari leherku. Aku tersentak dan tubuhku mendadak menegang. Nafas panas menerpa pelan kulit leherku. Dan anehnya air mata itu meluncur lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhku lemah.

“Kau sudah menunggu lama?” Wajahku tidak menyiratkan apa-apa. Aku tidak bisa lagi mengontrol apa yang harus aku lakukan. Bodoh kan? Benar, aku bodoh sedari dulu.

“Eun-Ji…” Dia memaksaku membuka mulut.

Aku mendesah di sela kerongkongan keringku. “Kau tahu film love story?” Aku bertanya dengan nada suara yang seperti sedang kena flu. Mengerikan, hahaha aku tertawa dalam hati,

“Cinta berarti tidak pernah mengatakan maaf. Kau menyindirku? Karena aku tidak pernah mengatakan maaf padamu,” apa dia sedang mengikuti peran Oliver di Film Love Story yang pertama muncul di hari valentine, pada tahun 1970? Hebat. Aku pikir, iya.

“Sebelum kau mengatakan maaf aku sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku mengijinkanmu masuk ke dalam hidupku dan menghancurkan hari-hariku.” Aku menunduk. Suara isakan terdengar lagi, sulit untuk menahan saat kau ingin menangis. Aku menangis lagi. Sungguh, sebenarnya aku lelah untuk menangis, namun sayangnya tidak bisa berhenti.

“Eun-Ji..”

http://rositaadiana.wordpress.com/2014/07/04/lonely-sick-hate-or-love-promise-you-special-sequel-4/

About rositaadiana

Nama gue Rosita Adiana. Hobi gue dance, nulis ff dan tentunya mantengin TL nungguin berita oppadeul SJ. Gue seorang ELF yang masih berharap buat ketemu mereka. Gue juga masih muda dan bukan orang yang galak. Gue baik kok, makanya gue selalu di sakitin sama orang yang gue sayang *huee* Percaya deh sama gue, orang itu harus jadi jahat aja supaya gak di tindas *apa ini?* mueehehehe.

Posted on 12/07/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Dilanjutyaaaaaaaa^^

  2. Eva Mulyadi

    Lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut *guling2 sambil nyiumin poto abang kyu😀

  3. Lanjut juseyo

  4. menurutku cintanya kyuhyun sebenernya belum pudar. Karena sulitnya melupakannya makanya dia melampiaskannya ke cewek” penghibur itu.
    Tapi itusih menurutku. Soalnya aku sering ngebayangin kelanjutan ni ff. Penasaran banget thor.

    Thor pokoknya aku tetep minta eunji ma kyuhyun. Titik gak pake koma.

    Please. Pasang muka mewek.

    Lagi” maksa abis.;-):-P.

  5. suka banget sama kata-kata yang ini ” Kadang egois di perlukan untuk cinta, kalau kau tidak
    egois kau akan kehilangannya. Aku tidak mau itu
    terjadi.” wahhh, keren kata-kata nya thor^_^
    next part, harapan nya bisa lebih panjang dan semakin bisa mengaduk-aduk emosi para reader ya thor🙂. hwaiting (y)

  6. sumpah keren abisss,,,
    authornya jjang banget, kata-katanya nyentuh banget
    bacanya smpe deg degan
    lanjut thor jgn lama2 hhehe (y)

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: