I Treasure You

Author :           Silly Angel

Tittle :              I Treasure You

Type :              Romance

Cast :               Lee Hyukjae

Choi Siwon

Park Jungsoo

Kang Hyaera (OC)

Such a long time after I published my last NC story, hope you like this one and give a great feedback ^^

__________

Setiap orang berhak untuk jatuh cinta sebanyak yang dia inginkan, tapi akan selalu ada satu cinta yang benar-benar tak terlupakan.

Kang Hyaera memutus sambungan telfon dan masuk kedalam kamar dimana keempat temannya berada. Teman-temannya menyambut dengan wajah penasaran dan berondongan pertanyaan yang hanya terdiri dari satu kata:

eottokhae (bagaimana)?” Hyaera memasang ekspresi kecewa di wajahnya, membuat wajah penasaran teman-temannya berubah sedih. Tapi kemudian dia tertawa keras.

“Dia bilang, sayang sekali dia harus berangkat pagi-pagi sekali ke Cina untuk meninjau proyek, jadi dia tidak akan bisa ikut. Kita bisa berpesta sedikit gila malam ini.” Seloroh Hyaera mensyukuri pacarnya yang tidak bisa ikut serta dalam rencana mereka untuk clubbing malam ini. Oh yang benar saja, apa laki-laki itu fikir dia akan kecewa? Tentu saja tidak, malah dia dan teman-temannya akan benar-benar menikmati pesta mereka tanpa harus diikuti ‘bodyguard’.

Kang Hyaera adalah seorang mahasiswi semester 6 sebuah universitas ternama di Korea, walaupun bukan dari kalangan universitas 1% —dikenal dengan S.K.Y University, tiga universitas negeri paling terkenal di Korea Selatan dengan tingkat seleksi paling tinggi dan hanya memungkinkan 1% peserta test yang akan lulus. Hyaera dan keempat temannya memiliki gaya hidup jetset, penggila pesta, fashionista, dan sosialita. Apakah Hyaera merupakan anak konglomerat? Tidak! Ia juga bukan anak dari salah satu pemilik kerajaan bisnis di Korea Selatan. Keluarganya memang tidak bisa dibilang biasa saja, tapi juga bukan golongan kaya raya. Lalu bagaimana dia dan teman-temannya memenuhi gaya hidup kelas atas mereka? Tentu saja dari pacar-pacar mereka. Appa Hyaera adalah seorang CEO di sebuah cabang perusahaan elektronik brand Korea yang cukup terkenal, dan dia akan senang hati menemani appanya menghadiri pesta-pesta yang diselenggarakan perusahaan appanya, karena dari situ dia akan berkenalan dengan pria-pria muda berpenghasilan luar biasa atau dengan anak-anak pemilik perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan appanya.

Satu keuntungan jika kau memiliki pacar yang kaya adalah mereka tidak akan segan-segan memberikan hadiah mahal untuk menyenangkanmu. Seperti pacar Hyaera sekarang. Namanya Choi Siwon, pewaris tunggal dari jaringan supermarket terkenal di Korea yang ditemuinya sekitar setengah tahun yang lalu dalam sebuah gathering perusahaan appanya. Ganteng? Tentu saja dan yang paling penting Choi Siwon sangat royal. Kalau bukan karena larangan appanya, saat ini Hyaera sudah menikmati mobil sport limited edition yang diberikan Siwon padanya. Sebenarnya itu bukan mobil baru, itu adalah mobil yang sudah di pakai oleh Siwon, dan karena dia sudah bosan dia ingin Hyaera saja yang menggunakannya. Hyaera terpaksa menolak hadiah yang menurut appanya terlalu berlebihan itu. Yah, tidak semuanya ia tolak, Hyaera tak perlu menolak hadiah yang tidak diketahui appanyakan, Contohnya sebuah kartu credit unlimited yang diberikan Siwon padanya.

Teman-teman Hyaera tak jauh berbeda. Memacari pria-pria kaya untuk memenuhi gaya hidup menjadi salah satu metode paling baik. Walaupun untuk urusan sejauh mana hubungan mereka dengan pacar-pacar mereka tetap menjadi urusan pribadi.

***

Seperti biasa jumat malam menjadi malam yang ramai di tempat-tempat hiburan malam di Seoul. Saat ini Hyaera dan teman-temannya sedang berada di M2, salah satu club terkenal di kawasan Hongdae. Hyaera memesan dua botol tequilla dengan merk favoritnya, beserta seporsi besar potongan buah-buahan. Memilih sofa besar di area vip yang menjadi tempat favoritnya setiap kali mendatangi tempat itu. Bahkan malam ini area vip cukup ramai. Tak jauh dari meja mereka adalah meja yang diisi oleh pria-pria yang cukup menyegarkan mata. Pria-pria itu memilliki penampilan yang mirip Idol, tapi tak mungkin mereka idol, karena kalau salah satu saja dari mereka adalah Idol, Sunye sahabatnya pasti sudah histeris. Sunye adalah penggemar grup idol, baik yang veteran seperti H.O.T ataupun yang baru saja melakukan debut mereka. Hyaera hanya berharap suatu hari Sunye bisa memiliki pacar seorang idol.

Seorang pelayan datang membawa beberapa gelas martini dengan ceri hijau. Hyaera tak asing dengan pelayan itu, dia selalu bersikap ramah setiap kali hyaera dan teman-temannya datang.

“Permisi agassi (nona), ada kiriman minuman dari meja sebelah sebagai hadiah tawaran perkenalan, semoga kalian menikmatinya.” Pelayan itu menjelaskan sambil meletakkan 4 gelas berkaki tinggi yang dibawanya keatas meja. Hyaera bersama temannya saling bertatapan, ada senyum penuh arti di wajah mereka sebelum menoleh kearah yang ditunjukkan pelayan tersebut.

Ternyata pengirim minuman itu adalah pria-pria yang berpenampilan mirip idol. Mereka menyadari pandangan yang diberikan Hyaera dan teman-temannya, lalu menyapa dengan mengangkat gelas minuman yang sedang mereka pegang. Cukup manarik, fikir Hyaera.

“Apakah ada pesan khusus untuk salah satu dari kami?” Tanya Ok Juin kepada si pengantar hadiah.

“Tidak ada agassi, mereka bilang akan senang sekali kalau kalian mau bergabung dalam acara mereka. Jadi jawaban apa yang harus saya sampaikan kepada mereka?” pelayan itu menjelaskan.

“Hmm… bagaimana kalu katakan pada mereka, kami akan sangat menghargai kalau meraka mau dengan senang hati datang kesini dan memperkenalkan diri!” Kali ini Hyaera yang menjawab sembari memberi tantangan.

algaesemnida agassi. Gerom… (saya mengerti nona, baiklah).” Pelayan itu memjawab mengerti lalu membungkuk sekilas sebelum berbalik.

Hyaera dan teman-temannya memperhatikan si pelayan yang berjalan kembali ke meja pengirimnya. Pelayan tersebut berbicara dengan salah satu pria disana, lalu kemudian pria tersebut menyelipkan lembaran won sebagai upah untuk si pelayan.

Hyaera cukup terkesan ketika salah satu dari pria-pria itu mendatangi meja mereka, megajak kenalan, dan bergabung dengan mejanya. Pria yang mendatangi mereka bernama Lee Sungmin, yang jika dilihat dari penampilannya dia seperti berumur diawal 20-an. Siapa yang menyangka Lee Sungmin berumur 27 tahun. Hyaera memilih duduk disebelah pria bernama Lee Hyukjae, umurnya lebih muda dari Lee Sungmin dan kesan pertama ketika melihatnya adalah dia memiliki selera busana yang bagus.

Mereka bersama-sama menikmati pesta. Saling bersulang. Berbagi lelucon. Tertawa bersama. Pembicaraan terus berlanjut bersamaan dengan dentam musik yang semakin mengundang pendengarnya untuk menari, dan botol-botol minuman yang semakin kosong.

“Ya!” Hyaera sedang menikmati cognagnya ketika dirasakannya Siyong menyentuh pundaknya.

“Eung?” jawab Hyaera menolehkan wajahnya pada temannya yang lain. Siyong sudah duduk disebelahnya.

“Ya apakah kau sadar, kalau yang bernama Lee Hyukjae disebelahmu itu dari tadi memperhatikanmu?” Tanya Siyong penuh arti. Hyaera bisa melihat rona merah diwajah Siyong jelas sekali temannya sudah banyak minum.

“Oh? Jinjja?” Hyaera bertanya balik sambil melirik pada pria yang duduk disebelahnya.

Dangyeonhaji! Daehwareul manhi dwaesseo? Eottae? (Tentu saja. Apa kalian ngobrol banyak. Bagaimana dia)”

Meryeok innen saram. (pria yang menarik)”

Garae (benarkah)? Bagaimana kalau kau mengajaknya menari?” Siyong kembali bertanya

“Kami bicara cukup banyak, tapi aku tak akan pernah mengajaknya menari duluan…” Tolak Hyaera, tapi belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya Siyong sudah mulai bicara lagi.

“Ah tentu saja, peraturan Kang Hyaera nomor kesekian. Perempuan tidak boleh mangajak laki-laki menari duluan, aku lupa kalau kang Hyaera adalah perempuan konservatif.”

Mungkin Lee Hyukjae tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Atau mungkin pria itu memang sengaja mendengarkan apa yang Hyaera dan Siyong bicarakan, karena tak lama kemudian Lee Hyukjae berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya kepada Hyaera sebagai ajakan menari. Hyaera bahkan bisa merasakan tatapan mata Siyong dipunggungnya ketika dirinya menyambut tangan Lee Hyukjae dan sudah pasti akan ada olok-olokan besok. Kang Hyaera merasakan tubuhnya limbung ketika berdiri. Ok, dia memang sudah banyak minum malam ini.

Hyaera mendapati Hyukjae seorang penari yang baik. Bukan, bukan dalam arti penari profesional, hanya saja gerakan tubuhnya yang mengikuti musik, menikmatinya, membuat siapa saja pasti akan terpesona. Mungkin memang seharusnya Lee Hyukjae mengikuti audisi idol. Melihat Hyukjae menari dan ikut menari bersamanya terasa menyenangkan. Keren.

Hyaera, Lee Hyukjae, dan teman-temannya tak ada yang duduk sekarang. Semuanya menari dan bersenang-senang. Minuman juga tak berhenti diedarkan membuat Hyaera yang sudah limbung merasakan tubuhnya mulai panas dan tersenyum dan tertawa lebih banyak dari seharusnya, dia juga menjadi terlalu excited. Manari dengan terlalu bersemangat dan berdiri terlalu dekat dengan Lee Hyukjae. Bahkan Hyaera dengan santainya membiarkan Hyukjae yang berdiri dibelakangnya melingkarkan tangan memeluk ringan pinggangnya. Hyaera bahkan bisa merasakan nafas Hyukjae di tengkuknya, dan anehnya dia menyukai itu. Hyaera merasakan gejolak yang tak pernah dirasakannya sebelumnya mendera diantara pahanya.

Tangan Hyukjae menarik Hyaera lebih dekat lagi. Praktis menghapus jarak antara punggungnya dan dada Lee Hyukjae. Mereka menari bersamaan, atau lebih tepatnya Hyaera hanya mengikuti saja tubuh Hyukjae yang menari. Rasa panas yang menyenangkan menjalar di tubuh Hyaera bersamaan dengan bibir Hyukjae yang menyentuh pundaknya yang terbuka, karena memang atasan yang digunakannya berpotongan tap top. Hyaera menarik nafas dalam menanggapi sentuhan bibir Hyukjae dan tanpa sadar dirinya memiringkan kepala ke arah berlawanan, membuat lehernya lebih terekspos. Tanpa sadar Hyaera menginginkan Hyukjae menyentuhnya lebih jauh.

Semuanya terjadi begitu saja. Mungkin karena Hyaera dan Lee Hyukjae minum terlalu banyak malam itu. Mungkin juga karena tanpa mereka sadari mereka saling tertarik satu sama lain. Atau mungkin hanya sekedar terbawa suasa. Ketika bibir mereka saling bersentuhan, tak ada yang menginginkannya sebagai sebuah ciuman ringan. Hyaera mengalungkan lengannya di leher Hyukjae. Begitu pula Lee Hyukjae yang menarik Hyaera lebih rapat dalam pelukannya. Bibir mereka berpagut. Hanya sesekali melapasnya untuk mengisi paru-paru mereka dengan udara. Hyaera menurut ketika Hyukjae menariknya untuk duduk disudut sofa yang terlindung bayangan, mendudukannya menyamping diatas pangkuan Hyukjae, masih terus berciuman, tapi juga memudahkan tangan Hyukjae menyentuh seluruh bagian tubuhnya.

Kang Hyaera mendesah antara kaget dan nikmat ketika tangan Hyukjae yang semula melingkar dipinggangnya, berpindah dan menyelip dari pinggang hot pantsnya, menyentuh area diantara kedua pangkal pahanya, lalu menekan-nekannya pelan. Dirinya sudah tidak lagi dipangkuan Hyukjae melainkan duduk disebelah pria itu, di dalam dekapannya, saling mencium, dengan tangan Hyukjae yang lain melingkar dipinggangnya. Hyaera bahkan tak peduli jika teman-temannya melihatnya.

Hyaera dengan susah payah berusaha tak mengeluarkan erangannya. Hyukjae terus saja menciuminya dalam. Tangan pria itu juga terus menyiksanya dalam kenikmatan, didalam celana dalamnya, diantara lipatan vaginanya, bermain dengan klitorisnya dan menggoda lubangnya.

“Arrgghhh Lee Hyukjae!!!” Hyaera mengerang kenikmatan ketika rasa puas dan kelegaan yang intens menyerbunya. Membuat tubuhnya bergetar. Kepalanya berat karena alkohol dalam jumlah banyak yang diminumnya, tapi tubuhnya terasa ringan, Hyaera merasa seperti melayang. Hyaera berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin udara berusaha membuat nafasnya kembali normal. Lee Hyukjae menatapnya dalam, tersenyum bahagia, menciumnya lagi sekilas sebelum meraih tissu diatas meja untuk membersihkan tangannya.

“Ikutlah pulang bersamaku!” Pintanya dalam suara dalam yang membuat jantung Hyaera berdebar kencang, dan dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Hyukjae menyatukan lagi bibir mereka menciumnya lembut.

***

Hyaera tak begitu menyadari berapa lama hingga mereka sampai di apartemen Lee Hyukjae. selama perjalanan Hyaera sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menciumi dan membiarkan tangannya menelusuri seluruh bagian tubuh Hyukjae, menyebabkannya menggigit bibirnya terlalu keras. Sesampainya di apartemen, Hyukjae menekan serangkaian angka sebagai kunci kombinasi untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka dirasakannya Lee Hyukjae menarik punggung untuk masuk dengan tidak sabaran, menendang pintu sampai tertutup hingga bunyi ‘klik’ yang menandakan pintu tertutup otomatis, kemudian memutar tubuh Hyaera agar berhadapan dengannya. Hyukjae menyentuhkan bibirnya pada bibir Hyaera. Mencium Hyaera dengan agak kasar dan bernafsu. Hyaera mengalungkan kedua lengannya di leher Hyukjae dan membiarkan pria itu menuntunnya menuju kamarnya tanpa membiarkan bibirnya terlepas, bahkan lidahnya telah menyelip masuk kedalam mulut Hyaera dan menjelajahi isinya.

Lee Hyukjae membaringkankan Hyaera di atas kasurnya, lalu mulai melepas jaketnya, melemparkan sembarangan. Hyukjae melakukan hal yang sama pada sisa pakaiannya, melepaskannya dan membiarkannya berserakan dilantai, hanya menyisakan boxernya. Hyukjae merebahkan tubuhnya diatas tubuh Hyaera, membantu Hyaera melepaskan pakaiannya, membuka kancig dan ziper hot pantsnya meloloskannya dari kedua kaki Hyaera, menyisakan hanya celana dalamnya.

Hyaera mendesah ketika hyukjae kembali menindihnya dan menciumnya kasar dan bernafsu, menyelipkan tangannya kedalam celana dalam Hyaera. Tanpa ragu-ragu Lee Hyukjae mulai memainkan vagina Hyaera dengan jari-jarinya, menyelipkan satu jarinya di lubang Hyaera. Hyaera melengkungkan punggungnya, mengerang diantara ciuman Hyukjae yang bernafsu.

Tepat sebelum Hyaera mencapai klimaksnya Hyukjae menarik tangannya, beralih merengkuh pinggul Hyaera, lalu mulai turun menciumi leher Hyaera dan terus kebawah. Meremas kedua payudara Hyaera yang terpampang pasrah. Hyukjae mencium dan memainkan puncak payudara Hyaera, menghisapnya kencang membuat Hyaera mendesah, meremas rambut halus Hyukjae. Hyukjae juga menghisap kulit Hyaera dibeberapa tempat, meninggalkan jejak-jejak merah gelap.

Hyukjae mulai menarik celana dalam Hyaera, meloloskannya dari kedua kaki Hyaera. Hyukjae menggerayangi kaki Hyaera, menciumi paha dalam Hyaera. Menghisap kulitnya beberapa kali sebelum melebarkan kedua kaki Hyaera, membuat sesuatu yang basah di pangkal pahanya terpampang jelas. Hyukjae memainkan lidahnya di klotoris Hyaera, membuat pemiliknya tak berhenti mendesar dan mengerang.

“Ahh… Lee Hyukjae!!!” erang Hyaera ketika mencapai klimaksnya. Hyaera berusaha bangkit, melihat Hyukjae yang tersenyum padanya dengan ekspresi bangga di wajahnya. Hyaera balas tersenyum, dadanya berdebar kencang, dan ada kebahagiaan liar yang memenuhi hatinya.

Hyukjae melepas boxernya dan menendangnya asal saja. Memanjat naik, mensejajarkan wajahnya dan wajah Hyaera. Kembali mencium Hyaera dengan bernafsu dan sedikit kasar. Hyaera yang belum benar-benar lepas dari sensasi orgasmenya mengerang dibawah Hyukjae. Tangannya dengan sigap mencari dan mencengkram junior Hyukjae yang sudah tidak ditutupi apapun yang menegang dan menggesek-gesek diantara kedua pahanya. Hyukjae terkesiap, mendesah dan tersenyum dalam ciuman mereka.

Hyukjae tak membiarkan Hyaera lama-lama bermain dengan juniornya. Hyukjae menggantikan tangan Hyaera dijuniornya, menempelkan juniornya pada vagina Hyaera, menggesekkannya, membuatnya cukup basah, sebelum memasukkannya.

“Aku menginginkanmu!” desah Hyukjae. Mata Hyukjae menatap Hyaera intens. Hyaera tersenyum dan menjawab,

“aku juga menginginkamu….” akunya pelan, dan Hyukjae mulai mendorong masuk juniornya ke vagina Hyaera. Hyaera terkesiap merasakan perih akibat benda asing yang memaksa masuk di bagian paling pribadi tubuhnya. Hyukjae kembali merebahkan dirinya diatas tubuh Hyaera, menciumnya lembut, mengubah erang kesakitan Hyaera menjadi desahan kenikmatan.

Hyaera merasakan berat tubuh Hyukjae mulai terangkat dari atasnya bersamaan dengan gerakan junior Hyukjae yang mulai lancar divaginanya. Hyukjae menaikkan kedua kaki Hyaera di kedua pundaknya, membuat juniornya bisa meraih lebih dalam vagina Hyaera. Membuat gerakan pinggulnya menjadi lebih leluasa. Hyaera memperhatikan Hyukjae yang sedang menggerakkan pinggulnya dengan penuh nafsu, membuat gerakan keluar masuk juniornya di vagina Hyaera, wajahnya terlihat sangat menikmati, berkeringat tapi juga mengagumkan, hal itu membuat seolah kupu-kupu berterbangan di perutnya. Hyukjae tak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Hyaera, seolah ingin merekam jelas setiap reaksi Hyaera atas perlakuannya. Keduanya mendesah dalam kenikmatan yang diciptakan dengan semakin cepatnya pinggul Hyukjae bergerak.

Hyaera menekankan kepalanya ke bantal seiring dengan perasaan klimaks yang mulai terbangun dalam dirinya. Hyaera melengkungkan pungungnya, serta diangkatnya pinggulnya agar Hyukjae bisa memberikan kenikmatan dengan lebih dalam lagi. Setelah beberapa saat tubuhnya bergetar.

“Lee Hyukjae-ahh…” Erang Hyaera ketika mencapai klimaksnya, menekankan kepalanya kuat-kuat ke bantal dan menutup matanya. Perasaan lega dan kepuasan menyapunya hingga keujung-ujung jari kakinya. Hyukjae memelankan gerakan pinggulnya membiarkan Hyaera menikmati klimaksnya.

Hyaera mengambil inisiatif, mendorong Hyukjae ke samping sehingga posisi mereka tertukar. Hyaera berada diatas Hyukjae sekarang. Gerakannya menukar posisi tanpa melepaskan kontak membuat mereka bertukar erangan kenikmatan.

“Kau akan menikmati ini.” Goda Hyaera manja, meletakkan kedua tangannya di dada Hyukjae, diatas kedua nipplenya yang tegang. Hyukjae tersenyum,

“pasti aku akan menikmatinya.” Jawabnya sambil terus menatap Hyaera. Hyukjae mulai menggigit bibir bawahnya ketika Hyaera mulai menggerakkan pinggulnya cepat. Melihat Hyukjae menggigit bibirnya membuat Hyaera gemas, dia merebahkan tubuhnya diatas Hyukjae dan mulai menghisap kulit disekitar leher Hyukjae, membuatnya berbekas merah. Hyukjae meremas rambut Hyaera dan mendesah, mereka mendesah bersautan seirama dengan gerakan Hyaera. Hyaera merasakan lagi vaginanya mulai berkontraksi bersamaan dengan perasaan hampir klimaks yang lagi-kagi mulai terbangun dalam dirinya.

Hyukjae membalik posisi mereka tanpa peringatan. Kembali menindih Hyaera dan mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan kasar. Kedua tangan Hyukjae menangkap payudara Hyaera, bergantian menghisap kuat masing-masing nipplenya. Hyaera mencengkram kuat punggung Hyukjae dan tak berapa lama kembali menjerit.

“aargghh Lee Hyukjae!!!” Hyaera lagi-lagi mencapai klimaksnya. Hyukjae menunjukkan smirknya dengan puas, tapi kali ini Hyukjae tidak menghentikan gerakannya, malah semakin cepat dan dalam menggerakkan juniornya di vagina Hyaera. Sesaat kemudian, Hyukjae menjeritkan nama Hyaera bersamaan dengan mencapai klimaksnya. Hyukjae memelankan gerakannya menyelesaikan sisa-sisa orgasmenya. Matanya menatap Hyaera dengan tatapan yang sulit diartikan namun membuat Hyaera merasakan kebahagiaan diseluruh tubuhnya dan jantungnya berdebar kencang.

Hyukjae tidak langsung melepaskan miliknya dari Hyaera melainkan membalik lagi tubuh mereka. Membaringkan Hyaera diatas dadanya dan mengusap serta memainkan rambut Hyaera. Hyaera dan Hyukjae berbaring dalam diam menikmati suara debaran jantung mereka sambil berusaha kembali bernafas normal. Hyaera yang kelelahan ditambah pengaruh alkohol yang diminumnya jatuh tertidur diatas dada Lee Hyukjae.

***

Hyaera terbangun dalam kelelahan, kepalanya terasa berat dan berdenyut karena hangover. Ia meregangkan tubuhnya dengan malas, berencana membiarkan tubuhnya lebih lama diatas kasur ketika dirasakannya sesuatu yang hanyat melingkar dipinggangnya menyentuh langsung kulitnya. Hyaera berbalik dan mendapati darahnya membeku dan udara dihisap keluar dari paru-parunya. Seseorang sedang berbaring disisinya bertelanjang dada memeluknya yang juga tidak mengenakan apa-apa. Air mata merebak dan menggenang dimatanya. Ketakutan dan kekecewaan seakan meremas-remas jantungnya, memenuhi dadanya dengan sesuatu yang menyakitkan.

Hyaera dengan cepat turun dari tempat tidur. Memungut semua pakaiannya yang berserakan, menuju ke pintu diseberang tempat tidur yang seperti dugaannya adalah kamar mandi. Tangannya bergetar ketika dirinya memakaikan satu persatu pakaian ditubuhnya.

Hyaera memang menyukai pesta. Dia bahkan belajar minum pertama kali dari appanya. Tapi sebelumnya dia tak pernah berakhir sejauh ini. Bahkan ketika dia datang kepesta bersama pacar-pacarnya. Selama ini alkohol mempengaruhinya sejauh berciuman saja. Bayangan apa yang terjadi kemarin malam berputar-putar dalam ingatan Hyaera, jelas tapi juga berkabut. Ingatan ketika dirinya merasakaan kelegaan saat orgasmenya. Saat dia meneriakkan nama Lee Hyukjae setiap kali pria itu memberikannya kenikmatan yang sulit dikatakan. Perasaan senang ketika Hyukjae juga meneriakkan namanya ketika mereka mencapai kepuasan bersama. Ketika dia berdebar-debar tiap kali Hyukjae menatapnya, tersenyum padanya, memuji permainannya. Tapi ingatan itu membuatnya merasa semakin buruk, dan kotor, dan salah. Bagaimana mungkin dia membiarkan dirinya bercinta dalam keadaan mabuk? Bagaimana mungkin dia menyerahkan keperawanannya dengan orang yang baru dikenalnya beberapa jam saja?

“ohh ireonassaeyo (sudah bangun)?” Suara serak dan mengantuk Hyukjae menyambut Hyaera ketika keluar dari kamar mandi. Hyukjae yang duduk di pinggir tempat tidur beranjak untuk menghampirinya. Terlihat lelah dan mengantuk, namun tersenyum.

naojima!… (jangan mendekat)” Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Hyaera. Hyukjae menghentikan langkahnya dan menatapnya bingung. Hyaera merasakan matanya kembali memanas dan jantungnya kembali seperti diremas-remas, sakit. “naojimayo… jebalyo…!!(aku mohon)” Pinta Hyaera pada pria yang berdiri hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya. Suara Hyaera bergetar. Tubuhnya bergetar. Kedua tangannya meremas mantel panjang yang dipakainya. “annyeongigesseyo! (selamat tinggal)” Ucapnya singkat lalu berlalu begitu saja meninggalkan Hyukjae yang masih menatapnya bingung.

Hyaera berjalan secepat kakinya yang bergetar membawanya keluar dari apartement Hyukjae, meninggalkan bangunan tinggi dan mewah yang berada di salah satu kawasan elit Apgujeong.

Hyaera menyetop asal saja taksi yang melintas. Menyerukan alamatnya, lalu membiarkan dirinya menangis dalam penyesalan dan dalam rutukannya pada diri sendiri.

***

Hyaera memejamkan matanya saat tangan besar dan hangat milik Siwon mengusap lembut kepalanya. Berharap dia bisa meleburkan diri pada ketenangan yang ditawarkan tangan itu. Siwon menemukan Hyaera sedang duduk melamun dalam ruang kelas, kuliahnya telah usai tapi gadis itu tak kuasa untuk beranjak. Seperti biasa Siwon datang dengan senyuman lebar yang mampu meluluhkan hati bahkan dosen killer yang pelit nilai sekalipun, tapi kecupan di kening Hyaeralah yang membuat Hyaera mau tak mau menarik diri dari fikirannya yang kosong.

“Kau sering sekali melamun akhir-akhir ini jagi-ah. (sayang)” Ucap Siwon. Itu bukanlah kata-kata menuduh melainkan kata-kata penuh kekhawatiran.

geurae?” tanya Hyaera singkat. Memandangi Siwon yang sedang membereskan barang-barangnya diatas meja, memasukkan dalam tasnya, lalu dengan tidak canggung membawakan tas itu untuk Hyaera.

wae? Eodi appa? (kenapa, ada yang sakit)” Kali ini tatapan Siwon benar-benar khawatir.

ani! Gwaenchana! (tidak, baik-baik saja)” sangkal Hyaera.

“tidak, kau sedang tidak baik-baik saja. Sudah hampir dua minggu kau selalu terlihat pucat dan tidak fokus. Apakah abeoji (appa) memarahimu? Apakah sedang ada masalah serius dirumah?” Hyaera menghela nafas pelan. Siwon memang tidak mudah untuk dibohongi. Pria ini memang sudah beberapa kali mengeluhkan Hyaera yang terlihat pucat dan lemas, tapi bagaimana mungkin dirinya bisa menjelaskan pada Siwon kalau masalah yang membuatnya seperti ini adalah karena dirinya dengan tolol bercinta dengan lelaki yang baru dikenalnya saat dia mabuk. Bahkan Siwon saja tak pernah ia ijinkan bermimpi untuk menyentuhnya.

jinjja gwaenchana.” Jawab Hyaera lagi mencoba menunjukan tatapan mata meyakinkan. Berharap Siwon akhirnya mengerti.

geurae. Arasso.” Siwon akhirnya mengalah. ”Bagaimana kalau kita sekarang makan sesuatu yang enak, setelah itu kita bersenang-senang ala cewek?”

“bersenang-senang ala cewek?”

ne, bukankah kau pernah bilang, salah satu cara bersenang-senang ala cewek adalah berbelanja. Jadi bagaimana kalau kita belanja hari ini?” Hyaera mengangguk cepat.

call! (setuju)” jawabnya. Mau tidak mau sebuah senyum merekah dibibirnya. Walaupun dia tidak bisa sepenuhnya mengenyahkan bayang tentang kejadian malam itu, setidaknya ajakan Siwon untuk berbelanja menaikkan semangatnya.

Siwon menggenggam erat tangan Hyaera, seperti yang selalu dilakukannya jika mereka berjalan bersama. Mereka baru saja akan meninggalkan kampus menuju tempat Siwon memarkir mobil sport limited edition terbaru miliknya ketika seseorang memanggil Hyaera.

“Kang Hyaera-ah.” Mendengar suara tersebut membuat Hyaera menghentikan langkahnya. Membuatnya sulit bernafas, seolah seluruh udara menghilang dari bumi. Hyaera tak mungkin melupakan suara tersebut, namun bukan berarti ketika mendengarnya lagi membuatnya senang. Hyaera tak ingin menoleh mencari pemilik suara. Ia tak ingin melihat siapa yang memanggilnya. Tidak, ia tak menginginkan itu, apalagi ketika Siwon sedang berada disisisnya. Yang diinginkannya saat ini adalah menghilang sejauh mungkin. Yang diinginkannya saat ini adalah Namsan tower runtuh menimpanya dan menenggelamkannya ke dasar bumi.

Hyaera tak ingin menoleh, tapi dia menoleh. Hyaera tak ingin bertemu, tapi matanya mencari sosok yang memanggil namanya. Dan ketika akhirnya dia menemukan sosok tersebut, jantungnya bertalu-talu memukul tulang rusuknya. Lee Hyukjae berdiri di ujung lorong yang baru saja dilewatinya bersama Siwon. Tubuh kurus berototnya dilapisi jumper yang dipadu dengan jaket kulit yang terlihat mahal, dengan celana jeans yang dirobek artistik. Penampilan yang segar untuk musim gugur yang dingin.

deudieo dasi mannasoyo uri. (akhirnya aku menemukanmu). Banggawoyo! (senang bertemu lagi)” aku Hyukjae sambil menghampiri dirinya dan Siwon. Senyuman khas dengan kerutan di sudut mata Lee Hyukjae terpampang jelas di wajahnya, walaupun ada kilatan aneh dimata Hyukjae ketika melihat tangan Hyaera dan Siwon yang saling terkait.

“Siapa?” Hyaera mendengar Siwon berbisik ditelinganya.

Geunyang aneun saram. (hanya seorang kenalan)” Jawab Hyaera singkat. Tak habis fikir bagaimana Hyukjae bisa menemukannya. Rasanya dia tidak bercerita terlalu detail tentang dirinya malam itu.

Annyeong haseyo, Kang Hyaerae aein, Choi Siwon-imnida. Ceoem buepkesseumida. (hai, aku Choi Siwon, pacar Kang Hyaera, senang berkenalan)” Siwon menyapa ramah ketika dilihatnya tak ada tanda-tanda Hyaera akan bereaksi. Walaupun begitu Hyaera merasakan Siwon mempererat genggaman tangannya.

Lee Hyukjae-imnida. Banggapseumida”. Jawab Lee Hyukjae menanggapi perkenalan Siwon. Lagi-lagi dengan kilatan aneh dimatanya, dan kedutan diujung-ujung bibir seolah berusaha keras menahan apa yang akan diucapkannya.

Hyaera memperhatikan kecanggungan diantara Siwon dan Lee Hyukjae. namun dirinya masih enggan untuk menunjukkan reaksi apapun atas kehadiran Hyukjae. Bagi Hyaera tak ada apapun yang harus diurus lagi antara dirinya dan Lee hyukajae. Kejadian malam itu meski sulit dilupakan setidaknya tidak perlu diperpanjang. Tapi ternyata fikirannya tidak sama dengan apa yang difikirkan Hyukjae. Buktinya sekarang pria ini entah dengan bagaimana caranya menemukannya dan berdiri dihadapannya, menatap lurus matanya dan kembali membuat jantungnya bertalu-talu tanpa bisa dipahaminya.

“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.” Ungkap Hyukjae. “Aku… aku ingin menjelaskan…”

“Tak ada yang perlu dibicarakan dan tak ada yang perlu dijelaskan Lee Hyukjae ssi. Sebaiknya kau kembali saja. Aku sedang buru-buru sekarang.” Jawab Hyaera tak peduli, menolak melihat ekspresi shock Lee Hyukjae maupun tatapan kebingungan Siwon. Dia sudah separuh jalan memutar badannya untuk meninggalkan Hyukjae ketika lelaki itu berseru,

“Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku tahu kau sudah punya pacar, tapi aku juga tahu aku adalah yang pertama.” Hyaera merasakan lututnya kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Air mata jatuh tanpa bisa ditahannya.

***

Setelah berbagai alasan berusaha menyingkirkan Siwon yang penasaran dan menuntut penjelasan serta janji akan memberikan penjelasan setelah berbicara dengan Lee Hyukjae, Hyaera akhirnya duduk di sebuah kedai kopi kecil didekat kampusnya, menatap benci pada Lee Hyukjae dihadapannya. Ingatan tentang kejadian malam itu kembali berputar di kepalanya. Bagaimana dirinya meneriakkan nama Lee Hyukjae. bagaimana mereka saling bertatapan dan tersenyum puas. Bagaimana seolah kupu-kupu berterbangan diperutnya ketika Lee Hyukjae berada diantara dua kakinya, tersenyum dan menggodanya. Bagaimana dengan bodoh jantungnya tak mau berhenti berdebar saat ini.

Lee Hyukjae menatap Hyaera, atau lebih tepatnya berusaha menatap Hyaera. Keadaannya saat ini berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya pada malam pertama kali mereka pertemu. Percaya diri, kharismatik, dan mempesona dengan cara yang sulit dijelaskan. Bahkan tidak seperti beberapa saat yang lalu ketika dirinya dengan berani menghampiri Hyaera dan Siwon. Lee Hyukjae saat ini terlihat begitu salah tingkah. Matanya berusaha menatap mata Hyaera, tapi itu tak berlangsung lama. Dia juga tersenyum canggung. Menggigit bibir bawahnya, atau hanya sekedar menjilatinya agar tidak kering. Hyaera menaikkan sebelah alisnya, menatap Lee Hyukjae sarkastik. Bukankah pria ini bilang akan mengatakan sesuatu? Lalu apa yang dia fikir sedang dilakukannya sengan ekspresi seperti itu.

“Apa kau mau mulai bicara sekarang atau aku harus menunggu lebih lama lagi sampai kau bisa memutuskan ekspresi apa yang akan kau pakai?” Hyaera bertanya tajam pada Hyukjae.

“Ah itu… sebenarnya aku…” Hyukjae lagi-lagi membasahi bibirnya dan memandang kemana saja selain menatap mata Hyaera. Hyaera melipat kedua lengannya keatas meja kecil dihadapannya menumpukan sebagian berat tubuhnya, memasang ekspresi sesebal mungkin untuk Lee Hyukjae. “Aku ingin kau meninggalkan marga Choi itu dan bersamaku!”

MWO??? (apa)” Dari sebanyak mungkin yang bisa didengar Hyaera, dia tak pernah menyangka akan mendengar Hyukjae menyuruhnya meninggalkan Siwon.

Pipi Lee Hyukjae bersemu merah. Dia menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya.

Neo michosso (kau sudah gila)?” Tanya Hyaera dengan ekspresi menyelidik. Dia memang belum bisa melupakan apa yang terjadi antara dia dan Lee Hyukjae dan dia menyalahkan diri sendiri untuk itu. Namun, bagaimanapun Hyaera tak pernah bermimpi untuk melanjutkan apapun diantara mereka. Tak peduli seberapa kuat dadanya berdebar setiap kali mendengar nama atau suara Lee Hyukjae. Tak peduli seberapa besar bayangan dirinya yang meneriakkan nama Lee Hyukjae ketika dia mencapai klimaks membuatnya merasa bahagia.

“Aku memang sudah tertarik padamu dari awal…” Hyukjae memulai. Tersenyum canggung. “Aku tidak ingin berbohong kalau aku sudah pernah melakukannya dengan wanita lain sebelumnya…” Hyukjae melanjutkan. “Tapi… ada yang berbeda ketika aku bersamu Hyaera-ah.” Hyukjae berbicara dengan pelan dan suara yang dalam. Tampak berfikir beberapa kali sebelum mengeluarkan kata-katanya. “Aku tak pernah merasa b-begitu hangat, begitu berdebar-debar, begitu bahagia.” Lagi-lagi Lee Hyukjae menunduk, membasahi lagi bibirnya, sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. “Aku fikir ini hanya perasaan sesaat. Aku hanya bingung, dan aku terus mengingatkan diriku bahwa tak ada cinta pada pandangan pertama, tapi… Sampai aku tak bisa berhenti memikirkan mu beberapa hari ini. Aku merasa seakan tak bisa bernafas ketika teringat bagaimana kau mendesahkan namaku. Dan aku benar-benar merasa ingin melukai diriku sendiri jika mengingat bagaimana kau begitu ketakutan saat meninggalkan apartemenku. Aku… aku…”

Hyukjae menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan kencang, seakan melakukan hal itu dapat membuatnya merasa lebih lega. Membasahi bibirnya. Lalu menatap langsung ke mata Hyaera. Kali ini tatapannya lembut, namun keyakinan terpancar dari sepasang mata itu. “Congmal-lo… saranghae. (aku benar-benar mencintaimu)”

Sebulir air mata jatuh di pipi Hyaera, setelah mendengar pengakuan Hyukjae. Bernafas menjadi sesuatu yang sulit bagi Hyaera saat ini, ketika dadanya begitu bergemuruh. Hatinya tercabik antara kebahagiaan dan ketidakpercayaan. Selama Lee Hyukjae bicara tadi, Hyaera berusaha kuat untuk tidak peduli. Untuk menolak apa yang dirasakannya. Tapi ketika Lee Hyukjae menyatakan perasaannya semuanya tiba-tiba saja menjadi nyata. Jantungnya yang berdebar-debar setiap kali mendengar dan mengingat apapun tentang Lee Hyukjae. Kebahagian yang seakan-akan membuatnya seperti melayang. Kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Semuanya terasa nyata dan benar. Tentang bagaimana dirinya juga telah jatuh cinta pada Lee Hyukjae.

Hyaera mengangguk dan tersenyum.

Hyukjae yang melihat Hyaera mengangguk tersenyum lebar. Matanya bersinar-sinar. Bahkan Lee Hyukjae mulai tertawa malu-malu memperlihatkan lagi kerutan di tepi matanya yang khas setiap kali dia tertawa. Lee hyukjae meraih tangan Kang Hyaera yang di letakkan diatas meja, menggenggamnya erat.

“Aku tak akan membuatmu menyesal. Percayalah!” ucapnya. Kebahagiaan masih begitu terpancar diwajahnya, dan lagi-lagi Hyaera mengangguk.

Geureom Siwon-ssineun? (lalu bagaimana dengan Choi Siwon?)” Tanya Lee Hyukjae memecah kesunyian yang menenangkan diantara mereka yang saling bertatapan. Hyaera mengerjabkan matanya tersadar.

“ahh… itu… akan jadi masalah kita selanjutnya.” Jawab Hyaera dengan wajah bersalah. Anehnya ada perasaan menyenangkan ketika dia menyebut kita untuk menggantikan dirinya dan Hyukjae.

***

Hanya tujuh bulan sejak Kang Hyaera bersama dengan Lee Hyukjae hingga pria itu memutuskan untuk melamarnya secara resmi pada kedua orang tuanya. Walaupun menjawab bersedia, sempat ada perdebatan diantara dirinya dan Hyukjae setiap kali Hyukjae menyinggung tentang ingin secepatnya menikah. Hyaera mencintai Lee Hyukjae, demi Tuhan, tapi menurutnya masih banyak yang harus dipikirkan sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Salah satunya karena kuliah Hyaera yang belum selesai. Namun, tetap saja Hyukjae merasa tak ada yang menjadi masalah kalau mereka menikah, selain Hyaera yang sudah resmi menjadi miliknya seutuhnya dan tak akan bisa lari ke laki-laki lain lagi. Sesuatu yang konyol.

Biasanya, sehabis pulang dari kantornya Lee Hyukjae akan langsung mampir ke rumah Hyaera. Makan malam bersama Hyaera dan keluarganya, lalu menghabiskan beberapa jam bersama Hyaera mengecek semua persiapan pesta pernikahan mereka. Tapi, malam ini Hyukjae tidak datang untuk makan malam langsung dari kantornya melainkan dari rumah dan sudah dalam keadaan rapih. Itu membuat Hyaera tidak tenang.

“Apa yang kau fikirkan eung?” Tanya Hyukjae ketika mereka berdua duduk di ruang keluarga setelah makan malam. Orang tua dan saudara Hyaera berada di ruang duduk menikmati buah-buahan sehabis makan.

“Entahlah, aku hanya merasa tidak tenang dengan ide pesta lajang ini” ungkap Hyaera.

Lee Hyukjae dan beberapa teman dekatnya merancang pesta lajang. Pesta semacam ini memang biasa dilakukan jika ada yang akan menikah, dan mengingat seminggu lagi Hyukjae akan menikah, juga karena Hyukjae adalah yang pertama akan menikah diantara teman-temannya, mereka tak mau melewatkannya.

“Tenanglah, aku sudah memastikan pada mereka bahwa tak boleh ada wanita yang terlibat. Hanya pria dan beberapa botol minuman.” Hyukjae menggenggam tangan Hyaera berusaha menenangkannya.

Geunyang… (hanya saja)” Hyaera menghela nafas. Hyukjae menangkup wajah Hyaera, mencium lembut bibirnya.

“Tenanglah, aku berjanji kau akan mendapatkan mempelai priamu menunggu di altar sabtu nanti, tak kurang satu apapun.” Ucap Hyukjae.

“Berjanjilah kau tak akan mencari perempuan lain saat kau mabuk!” Pinta Hyaera.

“Kang Hyaera-ah kau tau benar aku tergila-gila padamu, kalaupun aku mabuk dan mengiginkan wanita, maka aku akan berakhir dengan menggedor pintu depan rumahmu tengah malam nanti. Geokjeonghajima!”

“Arasso. Bersenang-senanglah!” Hyaera akhirnya mengalah.

“Eung. Saranghae.” Ucap Lee Hyukjae, lalu mencium lagi bibir Hyaera sekilas. “saranghae.” Mengecup lagi bibir Hyaera. “neo bakhae eobseo saranghae, ara? (hanya kau yang kucintai, kau tahu)” Tanya Hyukjae, yang dijawab Hyaera dengan anggukan dan senyuman.

na do saranghae.” Ucap Hyaera dengan sepenuh hatinya. Hyukjae menciumnya sekali lagi sebelum berpamitan dengan kedua orang tua Hyaera.

***

Hyaera terbangun mendengar ketukan dipintu kamarnya dan suara ibunya memanggilnya pelan. Hyaera bangkit dari kasurnya dengan kantuk yang seperti menggelantung di pelupuk matanya, berjalan untuk membuka pintu.

wae eomma? (kenapa, ibu)” tanya Hyaera dengan alis berkerut. Ibunya berdiri di depan pintu kamarnya dengan baju luar dan mantel perjalanan. “eodi ga? (ibu akan pergi)” lanjutnya ketika melihat penampilan eommanya.

eomma Hyukjae tadi menelfon, dia bilang Hyukjae sedang ada dirumah sakit, Lee Hyukjae mengalami kecelakaan.”

Bahkan di musim dingin, Kang Hyaera tak pernah merasa sedingin seperti saat ini.

***

Kang Hyaera berlari menyusuri lorong rumah sakit, neninggalkan orang tunya yang berjalan menyusul di belakang. Hari masih sangat pagi bahkan fajar belum terlihat merekah di langit timur. Dilihatnya kedua orang tua Lee Hyukjae dan Sora eonni, kakak Hyukjae, berdiri di lorong depan ruang operasi. Lampu diruang operasi menyala, menandakan seseorang sedang berjuang untuk hidup di dalam sana. Hyaera merasakan kakinya kehilangan kekuatan, dan dengan cepat dia sudah terduduk di lantai. Eomma Hyukjae dan sora eonni menghampirinya. Hyaera menatap nanar pada keduanya.

eomeoni, eottokhae?” tanya Hyaera tak jelas.

Hyaera duduk di salah satu kursi yang ada di lorong depan ruang operasi. Eommanya dan eomma Hyukjae duduk di sisi kanan dan kirinya dalam diam sibuk dalam fikiran masing-masing, atau mungkin sedang berdoa untuk Lee Hyukjae. Detik demi detik berlalu seakan mata pisau yang mengancam tepat di depan jantung Hyaera. Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana mungkin hanya seminggu sebelum pernikahannya?

Hyaera nyaris melompat berdiri ketika pintu operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter berwajah lelah keluar bersama dua orang perawat. Dokter berdiri di ambang pintu ruang operasi, perlahan melepas masker yang dikenakannya. Dokter itu menatap lurus ke mata appa Hyukjae yang dengan tidak sabar bertanya tentang keadaan anak laki-laki satu-satunya. Dokter itu menggelengkan kepalanya.

jwiseonghamida! (maafkan saya)” ucapnya lirih. Dan satu kata itu menjadi kata yang merenggut semangat hidup Hyaera. Hyaera merasakan kesadaran meninggalkannya lalu semuanya gelap.

***

5 tahun kemudian.

Hyaera duduk di sebuah coffe shop kecil di dekat kampusnya dulu. Hyaera masih sering kesini walaupun dia sudah menyelesaikan kuliahnya. Coffe shop ini tak pernah berubah, walaupun sudah banyak yang berubah dari hidup Hyaera. Hyaera sering menghabiskan waktu duduk sendiri di coffe shop kecil itu, ketika semuanya menjadi tak tertahankan baginya. Ketika kenangan akan Lee Hyukjae bermain-main dikepalanya.

Hyaera masih sangat jelas mengingat bagaimana dia membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk berhenti menangis atas kematian Lee Hyukjae. Kenangan akan setiap waktu yang dihabiskannya dengan Lee Hyukjae seakan meremas-remas jantungnya, membuatnya sulit bernafas dan sulit mempercayai kalau Hyukjae telah pergi untuk selamanya. Setiap hal kecil yang mengingatkannya akan Lee Hyukjae membuatnya tak kuasa menahan air mata. Seolah setiap saat Lee Hyukjae akan berjalan santai memasuki pintu rumahnya, tersenyum khas dengan garis kerutan dipinggir matanya, memeluk Hyaera dan meyatakan kalau dia mencintai Hyaera.

Hyaera membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa menerima kenyataan bahwa Lee Hyukjae tak akan pernah lagi hadir dihadapannya. Tak akan pernah lagi membisikkan kalau dia mencintai Hyaera. Tak akan pernah lagi tersenyum dengan caranya yang membuat Hyaera berdebar-debar. Tak akan perah memenuhi janjinya untuk menunggu Hyaera di depan altar.

Satu yang Hyaera yakini, bahwa meskipun telah melewati bertahun-tahun, Hyaera tak akan bisa menghapus perasaan cintanya pada Lee Hyukjae.

Semua kenangannya akan Lee Hyukjae masih sejelas seakan kejadiannya baru kemarin. Pertemuan pertama mereka. Menari pertama mereka. Ciuman pertama mereka. Malam pertama mereka. Hyukjae yang dengan salah tingkah menyatakan bahwa dia telah jatuh cinta pada Hyaera. Bagaimana mereka berdua menghadapi kekecewaan dan kemarahan Choi Siwon yang menjadi pacar Hyaera saat pertama mereka berkenalan. Dan di hari Hyukjae melamar Hyaera…

Jagi-ah…” suara dan sentuhan tangan seseorang menyadarkan Hyaera dari lamunannya. Hyaera tersenyum melihat lelaki yang menarik kursi dihadapannya lalu mendudukkan diri. “Aku tahu kalau kau tak mengangkat telfonku yang sudah berpuluh-puluh kali kau pasti sedang ada disini. Aku menelfonmu untuk makan malam diluar bersama tapi kau tak mengangkat telfonku…” lelaki yang mendatangi Hyaera adalah Park Jungsoo. Pria yang dinikahi Hyaera empat bulan lalu.

Ah geurae? Andeurosso got gatha, mian! (Benarkah, sepertinya aku tak mendengarnya, maaf)” Jawab Hyaera meraih ponsel di dalam tas yang diletakkannya di kursi disampingnya. Park Jungsoo hanya mengangkat pundaknya memahami.

Park Jungsoo lelaki yang baik dan mencintainya. Park Jungsoo mampu membuat Hyaera akhirnya membuka kembali hatinya dengan kebaikan dan ketulusannya. Membuat Hyaera kembali memiliki kepercayaan diri untuk sebuah pernikahan. Walaupun tentu saja di sudut hatinya, akan selalu ada Lee Hyukjae ditempatnya yang tak akan pernah tergantikan.

Setiap orang berhak untuk jatuh cinta sebanyak yang dia inginkan, tapi akan selalu ada satu cinta yang benar-benar tak terlupakan. Tapi, jika cinta itu tak bisa kau miliki, maka milikilah cinta yang terbaik yang bisa kau dapatkan dan berbahagialah. –Author-

END

About Yadong Fanfic Indo

Fun...Fun.. and Fun...

Posted on 07/11/2014, in OS and tagged , , . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

    Lee Hyuk Jaeeee… Nggak sanggup ngebayangin dia harus berakhir seperti itu😥

  2. duuhhh ni ff sad yg sweet bgt deh…

    tp alurx kecepatan bgt dan kurg jelas deh, pd bgian Hyukjae-Hyaera jadian trus cara mreka mnjelskan k siwon jg tntg keadaan mreka.
    trusss bgian Hyaera nikah ko bkn ma Siwon aja, hrus ad Park Jungsoo sih…. kurang sreeek aj gitu ( jgn marh y, g brmksd mengatr alur ff ni) selbhx trserh author lah orf ni ff punya author jg…. hahahaha

    author fighting!!

  3. o begitukah maksdnya, akhirnya jungsoo yg jd suaminya ,walaupun cinta tak terlupakannya hyukjae

  4. jujur aja aku gk kenal ama cast2 nya. tp aku ttp menikmati alur nya. nyesek😥😥
    kira happy end ama hyukjae. trnyta gk😦

    reader baru🙂

  5. Woww bagus banget ceritanya
    Bikin nyesek, ketika kita sedang sangat mencintai laki-laki tersebut tetapi dia pergi meninggalkan kita selamanya itu membuat kita seperti terjatuh ke dasar jurang yang paling dalam
    Bagus banget thor, syang hyukjae meninggal

  6. Amanatnya dapet bgt

  7. Aduuh tragis bgt ni ending nya huft. Pi feel nya dpt bgt

  8. Inii ff sad ending tapi alurnya romantis..kasian banget siwon oppanya diputusin..
    Ditunggu karya slanjutnya

  9. Sad ending? Tapi keren kok🙂

  10. meskipun happy end tetep aja sedihhhhh

  11. daebak, ff bgus sampai2 kna dihati…
    ada kalimatx yg menyentuh bgt, bikin terharu

  12. huahhhh, knpa eunhyuknya mati??
    ,
    yha ampun kasian bgt

  13. terharu baca.a

  14. Mianhe. CHinggu, lain kali di perhatikan klo mau pake bahasa korea soalny ada beberapa kata dan susunan kalimat yang kurang bener, hanya ingin mengoreksi saja mian, gak bermaksud sok soakn ko cuman mau berbagi ilmu, kaya perkenalan siwon sma hyukjay trus kata ‘appa’ yang di sana di artikan ‘sakit’ seharunya ‘appo’ emang orang kor kebiasaan baca a o tp gk semuanya kya pacar itu bahasa koreanya namjachinggu yang aku pelajari…. mian

  15. akhhh. ko hyukjae nya meninggal sih…
    aq pngen nangis nih.. hihihihii

  16. Keceptan ceritanya, knpa hyuk hrus mati, ksihan hyaera hrus mengalami hal” yg sulit tpi mskpun bgtu dia ttp menikah dg orng yg baik, semngat😀

  17. Ceritanya bagusss

  18. Awal yg manis akhir yg pahitmanis (y)

  19. Nyari2 ff yg cast utamany bang Hyukee…n akhirny nemu ini…
    Tp kok sad ending…😭😭nyesek saya….
    SaLam kenaL thor😊

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: