Back Seat PART 1

Author : Ana Tay ^^ @rosita325

Tittle : Back Seat

Pg : NC – 21

Cast : Marcus Cho

            Lindsney Carolyn

*

The Story Begin…

*

Kadang menilai orang dengan cara memerhatikannya membuat anggapan yang tidak benar sering memasuki isi otak, karena apa yang kita pikirkan belum tentu benar adanya.

Suara nyaring dari bibinya Evelyn Lord membangunkan aku dari khayalan yang akan berbuntut panjang. Aku menoleh pada Evelyn yang duduk di bangku sampingku, kemudian beralih pada wanita berambut merah terang, dengan senyum memukau yang duduk di depan.

“Kenapa begitu lucu?” Tanyaku.

Wanita itu menggeleng. “Kau bayangkan, pria itu terjatuh di depan umum. Pasti memalukan.” Dan tertawalah kami meskipun aku sendiri tahu bahwa tidak ada yang lucu sama sekali. Ketika orang jatuh di depan umum, mungkin malu, tapi ia yang malu, aku tidak di posisinya jadi tidak tahu sama sekali.

“Linds, Eve, kalian benar ingin turun di sini?” Tanya bibi Evelyn, yang bernama Mona Grave.

“Ya.” Aku menjawab. Mobil pun perlahan berhenti di pinggir jalan.

Aku hendak saja membuka pintu tapi panggilan pria yang memegang kemudi di sebelah Mona, menghentikan kami berdua.

“Ini, untuk membeli sesuatu.” Aku menatap uang berjumlah banyak dengan mengerutkan kening, Eve menatapku, kemudian tersenyum mengambilnya.

“Terima kasih.” Kata Eve.

Lalu kami berdua pun keluar dari mobil.

“Ini.” Eve memberikan sebagian uangnya padaku. Dengan ragu aku mengambilnya dan berterima kasih.

“Baiklah, ini terlihat seperti murahan sekali. Apakah ini sebuah penyuapan?” Aku bersuara sedikit tertawa sedikit mendengus saat kami berjalan sambil melirik ke samping mencari toko kue yang di maksud Mona.

“Maksudmu?” Eve tidak mengerti.

Aku mengangkat bahu. “Yap, seperti kita mengikuti pria beristri yang berselingkuh dengan bibimu. Apakah isterinya tahu kelakuan suaminya begitu? Sejujurnya, aku kasihan. Dia mungkin wanita baik yang menunggu suaminya di rumah dengan sabar.” Kataku.

Eve tertawa. “Mungkin. Jika di pikirkan, memang agak keterlaluan. Baju pria itu selalu rapi, isterinya mungkin selalu menyetrika baju suaminya, dan suaminya memakai baju tersebut untuk pergi dengan wanita lain. Wow, itu menyakitkan.”

Aku mengangguk menyetujui. Mereka para pria pernahkah berpikir bahwa selingkuh dari isteri adalah sebuah kejahatan? Untuk apa dulu mereka membuat komitmen pada seorang wanita dan pada akhirnya menemukan wanita lain untuk di bahagiakan? Hidup itu indah kalau dia membahagiakan isterinya sendiri. Kenapa mereka begitu? Aku tidak pernah habis pikir.

“Mereka pergi ke mana?”

Eve membasahi bibirnya. “Karaoke? Mall? Aku tidak tahu. Setahuku ketika Mona pulang, dia pasti membawa tas bermerek. Sebenarnya, bisakah seks membiayai hidup glamournya yang salah? Shit! Pria itu bisa menyetubuhi isterinya sendiri.”

Aku tertawa. “Bersenang-senang? Pria itu egois, bukan?”

*

Memikirkan sekarang dan entah bagaimana untuk esok.

Itu prinsip yang ku pegang sampai aku bekerja di sebuah bank yang berada di kota New York. Kota besar dengan segara hiruk-pikuk yang melelahkan. Aku menerima gaji perbulan, aku membelanjakannya, well, aku berharap bisa hidup lebih mandiri dengan menyewa apartement yang tidak terlalu mewah. Aku hidup seperti ini, menghidupi segala keperluanku dengan uang gaji, tanpa apa-apa lagi.

“Kau pulang?”

Aku sedikit tersentak sesaat berjalan menuju ruang tamu apartemenku.

Aku menghela, dan tersenyum. “Kau datang?”

Pria jas, dan dasi terbuang dari kemeja yang di pakainya selalu menebarkan jantung. Rambut cokelat yang terpotong rapi, alis yang rapi, hidung mancungnya, dan bibir yang menganggu itu, sejujurnya dia memiliki segalanya yang di butuhkan kaum Adam.

“Kau selalu membalas tanya.” Kata pria yang bertubuh pas dan tinggi ini, Marcus Cho.

Aku berjalan mendekatinya dan memberikan kantung berisi kue yang ku beli tadi.

“Aku membeli kue. Siapa tahu kau mau,” kataku.

Dia tersenyum. “Akan lebih baik kau menaruhnya dulu di piring lalu memberikannya kepadaku.” Sahutnya.

Aku mengangguk, dan melangkahkan kaki menuju dapur apartement. Aku merasa Marcus berjalan mendekatiku, hingga dia berdiri di sampingku.

“Pergi dengan siapa tadi?”

“Evelyn.” Jawabku singkat.

“Naik?”

“Mobil.”

Terdengar desahan. “Sadar tidak kau selalu menjawab pertanyaanku dengan singkat?” Dia berseru mulai tak tahan.

Well, mungkin karena aku malas berbicara.” Balasku.

“Kenapa itu?”

Aku menatapnya. “Karena aku merindukanmu.” Dia tertawa.

Hug me?” Aku mengangguk, dan memeluknya.

“Sudah lima hari tidak bertemu, rasanya seperti setahun tak bertemu. Kenapa begitu?”

Dia menghirup sela leherku. “Karena kau mencintaiku?”

Cinta? Itu benar. Semuanya berawal dari cinta, aku bisa memeluknya sekarang juga karena cinta.

“Kau akan datang ke acara ulang tahun penari itu? Aku yakin kau di undang Linds, karena kau temannya.”

“Kau datang hanya ingin mengatakan itu?”

Marcus menggeleng. Ia berdehem.

“Bagaimana kalau kita menceritakannya di kamar?”

*

“Ya, untuk besok. Apa? Tidak… Ya, kau benar. Hm? Tidak-tidak, terima kasih.”

Lagu klasik yang terdengar lirih di ruangan ber-cat abu-abu itu mengundang nyaman telinga Lindsney. Ia melirik satu gaun hitam dengan tali satu yang terpajang di salah satu monekin yang terdapat di butik yang ia datangi ini.

Dengan tangan kiri yang memegangi ponsel yang menempel di telinga, ia tahu bagaimana pun Eve cerewet, ia selalu dapat mengimbangi.

Ia mengerutkan dahi. Gaun ini memang indah, dengan belahan nyaris panjang di bagian bawah, mungkin bisa menampakkan kaki indahnya.

“Anda akan memilih ini?” Ia menoleh pada pegawai butik dengan pakaian resminya.

Lindsney mengangguk. “Oke Evelyn, aku menemukannya.” Ia menekan tombol matikan lalu menoleh pada pegawai tersebut.

“Aku menyewanya untuk satu malam saja, dan itu besok.”

*

Hidup itu memang banyak pilihan, giliran bagaimana caramu memilih banyak pilihan tersebut. Lindsney merasa ia selalu salah memilih pilihan dalam hidupnya, meskipun ia tahu akan menyesal, namun, pada akhirnya ia tetap memilih pilihan yang merugikannya.

Lindsney datang ke gedung hotel yang menjadi tempat ulang tahun penari broadway yang di kenalnya. Ia datang memakai gaun yang ia lihat pertama kali di butik kemarin. Rambutnya ia buat tergerai indah, memakai make up secukupnya, dan yang paling menonjolnya adalah gaun yang ia kenakan.

Gaun dengan satu tali di sisi kiri, berwarna hitam pekat, dan terbelah lurus menampakkan kaki kanannya begitu memukau. Tangan kirinya memegang dompet kecil bermerek berwarna hitam pula.

Ia masuk ke dalam ruangan besar yang di sewa oleh teman dekatnya itu menjadi acara ulang tahun untuk mereka yang berada di kelas atas. Lindsney tidak pernah menganggap dirinya sosok gadis kaya berlinangan harta, tapi karena cara bergaulnya yang berbeda, lingkungan yang ia hadiri otomatis juga berbeda.

Matanya menelusuri dalam ruangan, benar-benar menakjubkan. Semua yang hadir di dalam pesta menunjukkan betapa indahnya mereka dengan uang. Pakaian yang di kenakan tanpa cela dan berbeda bentuk, seolah mereka membanggakan desainer yang turut membantunya menjadi angsa indah.

Percaya diri, Lindsney berjalan dan masuk mencari lingkungan yang ia kenal.

“Annie Ford!” Suara pertama di keluarkan mulutnya saat menemukan se-sosok perempuan dengan gaun ke-emasan, rambut di sanggul, dan lekukan tubuh yang tanpa cela.

“Hei, Linds. Kau datang?

Annie memeluk Lindsney, kemudian Lindsney memeluk beberapa pria dan wanita yang mengelilingi meja bundar dengan taplak merah maroon.

Well, di mana Rihanna Graver?” Tanya Lindsney.

Annie menelusuri ruangan mencari seseorang.

“Di sana! Mengobrol dengan penari hebat, mungkin, um.. aku kurang mengenalnya.”

Lindsney mengangguk. “Aku malas memanggilnya. Aku akan menunggu dia memanggilku dan datang ke tempatku.” Mereka berdua tertawa.

“Gaun yang bagus,” penilaian sinis seperti biasa yang di lontarkan Annie padanya.

“Kenapa kau selalu sinis? Aku punya tubuh yang bagus, jadi sepertinya layak untuk di umbar.” Annie terkekeh.

“Lindsney Carolyn…” Lindsney tersenyum lebar sesaat seorang wanita bergaun abu-abu pucat, berpotongan rendah, dan renda di bagian pinggang. Wanita bertubuh indah yang menakjubkan.

Rihanna memeluk Lindsney, dan mencium pipi Lindsney bergantian.

“Apa kabar? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Aku selalu berharap kau akan mengunjungiku.” Lindsney mengangkat bahu.

“Selamat ulang tahun.” Kata Lindsney. Ia mengambil sesuatu di dompetnya dan membuat Rihanna memutar mata geli.

“Tidak ada hadiah, Linds. Aku bukan anak SD yang berharap hadiah natal.” Kata Rihanna.

“Tidak, aku sengaja membelikan ini untukmu. Cukup mahal, kau tahu.” Lindsney memberikan kotak kecil biru ber-pita merah.

“Oh, terima kasih atas hadiah mahalnya.” Rihanna mengambil kotak itu lalu memeluk Lindsney kembali.

“Kau datang sendirian?” Pertanyaan Rihanna melunturkan senyum tipis Lindsney.

“Ya, menyedihkan, bukan?” Annie tertawa.

“Untuk seorang gadis yang membuang banyak pria, itu hukumanmu.” Desis Annie.

Lindsney bisa mengenal orang-orang ini karena ia pernah menonton pertunjukkan Broadway bersama Marcus, dan beruntungnya ia masuk backstage. Tidak ada yang sulit bagi Marcus mewujudkannya, walaupun Lindsney menyayangi bahwa ia kurang suka melihat seorang penari.

Ia lebih suka mendengarkan suara Celo dengan gesekannya, atau piano. Ia suka musik instrumental. Entah bagaimana ia bisa menjadi teman mereka semua, seperti Annie pianis terbaik dengan segala perasaan indah yang ia keluarkan jika sedang memainkan piano.

“Aku tidak pernah membuang pria, mereka sendiri yang melarikan diri.” Mereka bertiga tertawa. Tak terkecuali Rihanna yang tertawa terbahak-bahak, seolah itu kata-kata paling lucu.

“Di mana Marcus? Aku yakin sekali sudah mengundangnya.” Gumam Rihanna.

“Marcus? Pria tampan itu hah? Huh, dengan segala koneksi yang dia miliki. Sumber uang untuk acara-acara.” Celetuk Annie.

Linsdney menggaruk tekuknya. “Sebentar lagi dia datang. Oh ya bagaimana pertunjukkan lusa lalu, Rihanna?”

Lalu mereka bertiga larut dalam obrolan, mengobrolkan apa saja. Tak halang Lindsney merasa heran pada diri sendiri karena berdiri di antara lingkungan orang terkenal, semuanya karena Marcus, tanpa koneksi laki-laki itu dan menyuruhnya berjabat tangan dengan orang-orang terkenal menjadikannya masuk tanpa memiliki apa pun. Setidaknya Annie dan Rihanna mau bicara dengannya walaupun ia jauh dari lingkungan mereka, itulah gunanya referensi Marcus.

“Hei, itu Marcus!” Tubuh Lindsney menegang. Rihanna menegakkan tubuh mencari sosok Marcus yang di teriakan oleh Annie.

Seorang pria dengan jas hitam gelap, rambut coklat yang di tata sedikit agak acak-acakkan, tubuh tingginya dan senyuman yang mengalahkan ribuan gadis yang berteriak memujanya.

“Wow, Rihanna, selamat ulang tahun.” Ia datang seolah tidak melihat Lindsney, ia memeluk Rihanna mencium pipi kirinya dan terakhir Annie.

“Akhirnya kau datang juga.”

Marcus menoleh pada Lindsney. “Oh Rihanna, siapa gadis ini? Apakah dia kehilangan Ibunya?”

Lindsney mendecak. “Kau lucu, Marcus.”

Marcus tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Marcus memeluknya dan mencium pipi kanan sekilas.

“Baik.” Lama tidak bertemu?

“Omong-omong di mana…” kata-kata Rihanna terhenti ketika…

“Marcus, aku ingin anggur putih..”

“Ana Salmon?” Annie menujuk wanita berparas cantik, bermata abu-abu pekat, dan wajah tirusnya yang tampak sangat cantik dengan polesan make up.

Ana mengangguk. “Aku pernah datang ke pertunjukkanmu, kau pianis yang luar biasa.”

Annie mengangkat bahu. “Terima kasih.”

“Rihanna, maaf baru datang, tadi agak macet.” Ana mengulurkan tangan dan di balas, dengan senyum sopan ala Rihanna.

“Dan kau…”

“Lindsney Carolyn,” Lindsney terburu-buru menjabat tangan Ana dan tersenyum manis.

Ana mengangguk. “Penari?” Lindsney menggeleng.

“Hanya penonton.” Ana mengangkat alis, kepalanya teralih kembali kepada Marcus.

“Anggur putih, Marcus?” Marcus membasahi bibirnya, menoleh pada Lindsney sebentar kemudian berbalik pada Ana.

“Ya, ayo kita cari. Kami permisi dulu.” Lalu dengan perlahan wanita bergaun indah itu merangkul tangan Marcus kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.

“Pasangan spektakuler. Dunia berkah kalau seluruh pasangan seperti mereka.” Gumam Annie tidak menyangka.

Rihanna mengangguk. “Dia cantik, tinggi, mempunyai sifat yang lumayan sopan, suaminya Marcus, dan dia punya uang tanpa memunculkan karya. Dunia ini adil, tidak sih?”

Tidak. Lindsney menjawab dalam hati. Di dunia ini tidak cukup hanya dengan cinta saja, uang termasuk ke dalam bagian menghancurkan cinta. Ia sadar perih yang mencubit hatinya menyadarkan bahwa ia hanya sekedar penonton kelas bawah yang berharap bisa menjadi kelas atas.

Baginya, ia dan Mona tidak ada bedanya. Mengambil suami orang demi kesenangan sendiri, bedanya, jika Mona karena uang, Lindsney sudah di butakan oleh cinta.

Marcus hanya pria yang ia temui saat Sekolah Menengah Atas, mereka berdua saling menyukai lalu mereka menjadi kekasih, dan berpisah, kemudian bertemu lagi di saat yang tidak mungkin. Marcus memiliki isteri, dan Lindsney menjadi gadis tidak tahu diri yang diam-diam mencuri suami orang.

“Dunia ini… Tidak adil. Kenapa kita tidak bisa membuat pilihan kita sendiri? Kenapa rata-rata hati yang mengatur semuanya, aku tahu, lebih tahu dari siapa pun bahwa kita pasti melakukan tindakan yang salah. Namun anehnya, kita tidak bisa berhenti.”

Annie mengangguk. “Tumben kau benar ketika mengucapkan kata-kata.” Decaknya pada Lindsney.

*

Ia tampak bahagia.

Melirik diam-diam kekasih hati orang dengan tatapan penuh harapan. Lindsney ingin berhenti namun kenapa semuanya menjadi sulit seperti ini? Gadis itu merenung, ia meminum wine-nya perlahan dan mendengus kepada dirinya sendiri.

Pelacur. Dirinya adalah seorang pelacur.

Saat ia menghela nafas dan memutar kepalanya, Marcus sedang melirik ke arahnya. Tujuan pandangan Lindsney tertuju erat pada mata hitam Marcus yang begitu membunuh. Kelopak mata yang bisa membunuhnya secara perlahan.

Hidup ini seperti mimpi buruk. Dan tak mudah mengundang mimpi indah ke dunia nyata dengan segala tetek-bengek cinta yang tak berharga itu. Sebuah cinta tanpa kekuasaan.

“Permisi.” Aku mundur dari kerumunan orang dengan segala obrolan aneh yang keluar dari mulut mereka. Kelakuan tingkat bangsawan.

Marcus membungkuk sedikit kepada kumpulan sejenisnya. Pandangannya tak lepas dari Lindsney yang tak menoleh sama sekali pada Marcus. Tangannya yang bebas mengangkat sedikit gaun yang ia kenakan agar tidak menghalanginya jalan. Ia menaruh gelas wine kepada pelayan yang lewat dan mempercepat jalannya.

Marcus melakukan hal yang sama seperti Lindsney. Gadis itu sama sekali tidak menoleh ke mana-mana selain lurus menuju belakang ruangan pesta. Menyelinap masuk dengan mudahnya ke sebuah gudang penuh barang.

Sebelum ia sempat menutup pintu gudang itu, seseorang segera menahannya dan mengikuti masuk ke dalam gudang nan gelap itu.

“Aku mendapatkanmu!” Marcus menutup pintu gudang itu dan menguncinya dari dalam. Lindsney tidak dapat melihat jelas wajah lelaki dihadapannya namun ia hafal bau parfum itu. Bau parfum yang memabukkan dan mampu membuatnya menyerah dalam erangan lemas.

Marcus mendorong Lindsney pada dinding gudang itu. Tangannya merayap dari atas leher menuju belahan dada dan dengan sensual meremas perut Lindsney. Gadis itu menatap Marcus dengan sorot mata yang lembut.

Tangan gadis itu menyentuh celana Marcus, dengan gerakan lambat ia membuka risleting celana Marcus. Tangan laki-laki itu tak tinggal diam, ia menyentuh wajah Lindsney dan mencium gadis itu penuh nafsu. Ia melumat habis bibir gadis itu tanpa sisa, dengan sebuah lumatan mematikan yang membuat Lindsney mencengkeram celana Marcus kuat-kuat.

Tangan Marcus turun merambat leher hadis itu, lalu turun lagi, dan turun lagi sampai menyentuh dada Lindsney. Laki-laki itu meremas dada Lindsney dengan ritme lembut, penuh perasaan. Lindsney mengerang dalam ciuman, ia menggigit bibir bawah Marcus sehingga laki-laki itu malah menjepit tubuh Lindsney di dinding.

“Hentikan.” Gumam Marcus melepaskan tautan bibir mereka.

Kedua tangan Marcus turun ke bawah, menaikkan gaun Lindsney sehingga ia bisa melihat celana dalam renda yang digunakan Lindsney.

“Oh tidak sayang, kau menegangkan.” Desah Marcus di telinga Lindsney, ia menggigit daun telinga Lindsney hingga gadis itu menggelinjang geli.

“Aku harus melakukan ini.” Kata Marcus tak sabar. Ia menurunkan celana dalam Lindsney, cepat-cepat ia juga melepaskan celananya sampai merosot kebawah. Marcus kembali merapatkan dirinya pada Lindsney.

“Akhh aaah… eh…” desah gadis itu memejamkan mata merasakan sentuhan antar kulit bawah itu.

Marcus merangkul bahu Lindsney, ia mencium bibir gadis itu kuat-kuat dan sekaligus memasukkan miliknya ke dalam milik Lindsney. Seperti dugaannya gadis itu mengerang di dalam mulutnya. Mereka berciuman, beradu lidah sampai saliva mereka terjatuh di bawah dagu.

Marcus melepaskan ciuman itu, ia menjilat saliva dibawah dagu Lindsney dan kembali menciumi gadis itu. Ia lalu meremas payudara Lindsney lagi dan kemudian mulai menggerakan tubuhnya. Ia maju mundur pelan-pelan menikmati.

“Euumm.. ah, ssh ah…” desah Lindsney dalam mulutnya.

Marcus terus melakukan itu. Tangannya semakin kencang meremas payudara Lindsney.

“Ah cepat…” erang Lindsney melepaskan tautan bibir mereka.

Mereka berdua melakukan bersama-sama dengan tempo yang mulai cepat. Gadis itu ikut merasakan kenikmatan milik Marcus dalam dirinya. Dan Marcus sendiri harus meneggak ke atas tak kuasa akan kenikmatan melakukan dengan cara seperti ini.

“Ah ah cepat… ah ah…”

Tempo semakin cepat. Tubuh mereka berdua berguncang keras sampai akhirnya klimaks itu datang dan Marcus ambruk dibahu Lindsney.

“Seks yang luar bisa…” desahnya lemas.

 

To Be Continued…

 

 

 

About rositaadiana

Rosita Adiana, 4 oktober 1998. Big Fans of Super Junior.

Posted on 18/10/2016, in Super Junior and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Hhhmmm selingkuh itu indah…

  2. akhirnya ada ff baru…😊😊

Jangan lupa komennya..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: